Anda di halaman 1dari 8

BAB I

Hakikat Manajemen Strategis



Dua hal yang paling penting dalam hakikat manajemen strategis adalah pertimbangan global (melihat
dan menghargai dunia dari perspektif orang lain) dan lingkungan hidup. Gagasan manajemen strategis adalah
mencapai dan mempertahankan keunggulan kompetitif.
Definisi Manajemen Strategis
Seni dan pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan dan mengevaluasi keputusan-
keputusan lintas fungsional yang memampukan sebuah organisasi mencapai tujuannya. Istilah manajemen
strategis biasanya disamakan dengan perencanan strategis. Namun, paa kenyataannya perencanaan strategis
hanya berfokus pada perumusan strategi.
Tujuan manajemen strategis adaah untuk mengeksploitasi serta menciptakan berbagai peluang baru
dan berbeda untuk esok. Berbeda dengan perencanaan jangka panjang yang berusaha mengoptimalkan tren-
tren saat ini dan esok.
Tahap-Tahap Manajemen Strategis
Proses manajemen strategis terdiri dari 3 tahap:
1. Perumusan
Mencakup pengembangan visi dan misi, identifikasi peluang dan ancaman eksternalsuatu organisasi,
kesadaran akan kekuatan dan kelemahan internal, penetapan tujuan jangka panjang, pencarian strategi-
strategi alternatif, dan pemilihan strategi tertentu untuk mencapai tujuan.
2. Penerapan
Sering kali disebut tahap aksi. Artinya memobilisasi karyawan dan manajer untuk melaksankan strategi
yang telah dirumuskan. Ketrampilan interpersonal sangat dibutuhkan.
3. Penilaian
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen strategis untuk mengetahui berjalan atau tidaknya suatu
strategi karena adanya faktor internal dan eksternal untuk dapat dimodifikasi di masa yang akan datang.
Tiga aktifitas penilaian strategi yang mendasar:
Peninjauan ulang faktor internal dan eksternal
Pengukuran kinerja
Pengambilan langkah korektif
Ketiga aktifitas tersebut terjadi di tiga level hierarki dalam organisasi besar: korporat, divisional/ unit bisnis
strategis, dan fungsional. Peter drucker (pakar dan icon bisnis) berpendapat bahwa tugas utama manajemen
strategis adalah mempertimbangkan dan menimbang misi suatu bisnis.
Mengintegrasikan Intuisi dan Analisis
Proses manajemen dideskripsikan sebagai sebuah pendekatan yang objektif, logis, dan sistematis
untuk membuat keputusan-keputusan besar dalam organisasi. Namun, manajemen strategis bukanlah
pendekatan yang nyaman, rapi dan jelas. Oleh karena itu diperukan intuisi dan analisis. Yaitu berdasarkan
pengalaman, penilaian dan perasaan masa lalu. Tapi setelah manajemen mau melihat fakta-fakta yang ada,
bukan blind opinion.
Mengadaptasi Perubahan
Untuk bertahan, organisasi harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan baik internal maupun
eksternal, terutama perubahan jangka panjang. Contohnya: perdagangan maya dan globalisasi.
Istilah-Istilah Kunci dalam Manajemen
1. Keunggulan Kompetitif
Segala sesuatu yang dapat dilakukan dengan jauh lebih baik oleh suatu perusahaan jika disbanding
perusahaan lain. Cara meraih keuanggulan kompetitif yang berkelanjutan:
Terus menerus beradaptasi pada perubahan;
Efektif merumuskan, menerapkan, dan menilai berbagai strategi.
2. Penyusun Strategi
Individu-individu yang paling bertanggung jawab bagi keberhasilan atau kegagalan sebuah organisasi.
3. Pernyataan Visi dan Misi
Pernyataan visi adalah gambaran akan menjadi seperti apa sebuah perusahaan. Pernyataan misi adalah
pernyataan tujuan yang secara jelas membedakan satu bisnis dari perusahaan-perusahaan lain yang
sejenis.
4. Peluang dan Ancaman Eksternal
Berbagai tren dan kejadian ekonomi, social, budaya, demografis, lingkungan hidup, politik, huku,
pemerintahan, teknologi, dan kompetitif yang dapat secara signifikan menguntungkan atau merugikan suatu
organisasi di masa yang akan datang. Perusahaan biasanya melakukan pemindaian lingkungan atau
analisis industri, yaitu proses riset dan pengumpulan serta asimilasi informasi eksternal.
5. Kekuatan dan Kelemahan Internal
Aktivitas terkontrol suatu organisasi yang mampu dijalankan dengan sangat baik dengan cara
memaksimalkan kekuatan dan meminimalkan kelemahan. Factor-faktor internal dapat ditentukan
diantaranya dengan menghitung rasio, mengukur kinerja, dan membandingkan dengan pencapaian masa
lalu dan rata-rata industri, serta survei.
6. Tujuan Jangka Panjang
Hasil-hasil spesifik yang ingin diraih oleh suatu organisasi terkait misi dasarnya lebih dari satu tahun. Sifat
tujuan sebaiknya menantang, terstruktur, konsisten, masuk akal serta jelas.
7. Strategi
Sarana bersama dengan tujuan jangka panjang yang akan dicapai. Contoh: ekspansi geografis,
diversifikasi, akuisisi, divestasi, dll. Strategi mempunyai knsekuensi multidivisional.
8. Tujuan Tahunan
Tonggak jangka pendek yang harus dicapai organisasi untuk meraih tujuan jangka panjangnya (penerapan
strategi, bukan perumusan). Sifatnya: terukur, kuantitatif, menantang, realistis, konsisten dan terprioritas.
9. Kebijakan
Sarana untuk mencapai tujuan tahunan. Meliputi pedoman, aturan, dan prosedur yang ditetapkan untuk
mendukung upaya pencapaian tujuan.


Model Manajemen Strategis

Manfaat-manfaat Manajemen Strategis
Manajemen strategis memungkinkan sebuah organisasi untuk lebih proaktif, yaitu memungkinkan suatu
organisasi untuk tidak sekadar merespons berbagai aktivitas, tetapi langsung mengarahkan dan
memengaruhinya, sehingga organisasi tersebut dapat menentukan masa depannya sendiri. Secara historis,
manfaat utama dari manajemen strategis adalah untuk membantu organisasi merumuskan strategi yang lebih
baik melalui penggunaan pendekatan terhadap pilihan strategi yang lebih sistematis, logis, dan rasional. Namun,
berbagai kajian riset saat ini menunjukkan bahwa proses, alih-alih keputusan atau dokumen, merupakan
kontribusi yang lebih penting dari manajemen strategis. Komunikasi adalah kunci bagi manajemen strategis yang
berhasil.
Salah satu tujuan utama dari manajemen strategis adalah proses untuk mencapai pemahaman dan
komitmen dari semua manajer dan karyawan. Jika para manajer dan karyawan memahami apa yang sedang
dilakukan oleh organisasi dan mengapa organisasi melakukan hal tersebut, mereka akan merasa sebagai
bagian dari perusahaan dan akan membantu dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, salah satu manfaat
utama dari manajemen strategis adalah pemberdayaan individu. Pemberdayaan adalah tindakan meningkatkan
efektivitas karyawan dengan mendorong mereka untuk berpartisipasi di dalam pembuatan keputusan serta
memberikan penghargaan kepada mereka karena telah melakukannya.
Pada saat ini, sudah semakin banyak organisasi yang mendesentralisasikan proses manajemen
strategis mereka karena menyadari bahwa perencanaan seharusnya melibatkan manajer level bawah dan
karyawan. Proses tersebut merupakan aktivitas pembelajaran, asistensi, pendidikan, dan pemberian dukungan,
bukan hanya sekadar diskusi tanpa praktik di antara para eksekutif puncak. Dialog manajemen strategis lebih
penting daripada dokumen manajemen strategis yang terjilid rapi. Hal terburuk yang dapat dilakukan oleh para
penyusun strategi adalah mengembangkan rencana strategi sendirian dan kemudian mempresentasikannya
kepada manajer operasi untuk dijalankan. Membuat keputusan-keputusan strategis yang baik memang
merupakan tanggung jawab utama dari pejabat eksekutif suatu organisasi, tapi manajer dan karyawan juga
harus dilibatkan dalam aktiviitas perumusan, penerapan, dan penilaian strategi. Partisipasi merupakan kunci
untuk mendapatkan komitmen terhadap perubahan yang perlu dibuat. Dengan terlibat dalam prosesnya, para
manajer lini menjadi pemilik strategi. Rasa memiliki oleh orang yang harus menjalankan suatu strategi
merupakan sebuah kunci menuju kesuksesan dan dapat menjamin agar strategi yang telah ditetapkan tidak
dijalankan secara serampangan.
Keuntungan Keuangan
Riset menunjukkan bahwa organisasi yang menggunakan konsep-konsep manajemen strategis lebih
berhasil daripada yang organisasi yang tidak menggunakannya. Dalam organisasi tersebut, terdapat perbaikan
yang signifikan dalam penjualan, profitabilitas, dan produktivitas karena mereka cenderung membuat
perencanaan sistematis untuk mempersiapkan diri menghadapi fluktuasi pada lingkungan internal dan eksternal
mereka di masa depan, baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang. Di sisi lain, perusahaan yang
kinerjanya buruk biasanya terlalu fokus dalam berbagai aktivitas jangka pendek, seperti hal-hal yang bersifat
administratif, dan meremehkan kekuatan pesaing, serta menganggap terlalu tinggi kekuatan perusahaan
mereka. Mereka sering kali mengatakan bahwa kinerja mereka yang buruk tersebut disebabkan oleh beragam
faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti ekonomi yang lesu, perubahan teknologi, atau persaingan dari
perusahaan asing.
Keuntungan Non-keuangan
Selain membantu perusahaan menghindari bencana keuangan, manajemen strategis menawarkan
keuntungan-keuntungan lainnya. Greenley menyatakan bahwa manajemen strategis menawarkan keuntungan-
keuntungan berikut.
1. Memungkinkan identifikasi, pemprioritasan, dan pemanfaatan peluang yang muncul.
2. Menyediakan pandangan yang objektif tentang persoalan-persoalan manajemen.
3. Merepresentasikan kerangka kerja untuk aktivitas koordinasi dan kontrol yang lebih baik.
4. Meminimalkan efek-efek dari kondisi dan perubahan yang tidak menguntungkan.
5. Memungkinkan keputusan-keputusan besar yang mampu mendukung tujuan yang telah ditetapkan secara
lebih baik.
6. Memungkinkan pengalokasian waktu dan sumber daya dengan lebih efektif untuk mengejar peluang yang
telah diidentifikasi.
7. Memungkinkan pengalokasian sumber daya yang lebih sedikit untuk memperbaiki kesalahan atau
membuat berbagai keputusan ad hoc.
8. Menciptakan kerangka kerja bagi komunikasi internal antar personil.
9. Membantu mengintegrasikan perilaku individual menjadi upaya bersama.
10. Menyediakan landasan untuk mengklarifikasi tanggung jawab individual.
11. Mendorong hadirnya pemikiran ke depan.
12. Menyediakan pendekatan yang kooperatif, terintegrasi, dan antusias untuk menangani persoalan dan
peluang.
13. Mendorong perilaku yang positif terhadap perubahan.
14. Menciptakan kedisiplinan dan formalitas pada manajemen bisnis.
Penyebab Perusahaan Tidak Melakukan Perencanaan Strategis dengan Baik
Beberapa perusahaan memang sama sekali tidak melakukan perencanaan strategis, sedangkan
beberapa perusahaan yang lain menjalankannya, tetapi tidak mendapatkan dukungan dari para manajer dan
karyawan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa perusahaan tidak melaksanakan perencanaan strategis
yang baik.
1. Kurangnya pengetahuan atau pengalaman dalam perencanaan strategis.
2. Struktur penghargaan yang buruk, yaitu ketika organisasi mengalami kesuksesan, ia tidak memberikan
penghargaan yang pantas kepada para pegawai atas keberhasilan tersebut, tetapi ketika terjadi kegagalan,
hukuman dari organisasi sangatlah berat. Hal ini menyebabkan pegawai untuk enggan melakukan sesuatu
karena tidak adanya penghargaan dan untuk menghindari hukuman jika terjadi kegagalan.
3. Dalam pergulatan untuk bertahan, yaitu terdapat krisis manajemen yang sangat buruk dan organisasi
berjuang keras untuk mengatasinya. Akibatnya, organisasi tidak memiliki waktu untuk menyusun rencana.
4. Menyia-nyiakan waktu, yaitu beberapa perusahaan menganggap bahwa perencanaan strategis hanyalah
sebuah kegiatan yang membuang-buang waktu.
5. Terlalu mahal, yaitu secara kultural, beberapa organisasi terlalu pelit dan tidak mau mengeluarkan sumber
daya untuk melaksanakan perencanaan strategis.
6. Kemalasan, yaitu para manajer enggan mengerahkan usaha untuk merumuskan rencana.
7. Puas dengan keberhasilan, yaitu ketika sebuah perusahaan berhasil, mereka merasa puas atas
keberhasilan tersebut dan merasa bahwa tidak perlu melakukan perencanaan karena pada saat ini mereka
sudah berhasil. Padahal keberhasilan saat ini tidak dapat menjamin keberhasilan di masa depan.
8. Takut gagal, yaitu dengan tidak mengambil tindakan, hanya ada sedikit risiko kegagalan kecuali bila
persoalan yang dihadapi penting dan mendesak.
9. Kepercayaan diri yang berlebihan, yaitu dengan semakin banyaknya pengalaman, orang mungkin merasa
lebih bergantung pada rencana yang tidak terlalu formal. Namun, terlalu mengandalkan pengalaman bisa
menjadi bumerang.
10. Pengalaman buruk masa lalu, yaitu orang bisa jadi memiliki pengalaman yang buruk dengan perencanaan,
terutama jika rencana tersebut tidak praktis dan tidak fleksibel.
11. Kepentingan pribadi, yaitu rencana yang baru sering dianggap dapat mengancam posisi atau keuntungan
yang diperoleh seseorang dari sistem yang lama.
12. Ketakutan akan sesuatu yang belum jelas, yaitu orang kadang merasa tidak yakin akan kemampuan
mereka untuk beradaptasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
13. Perbedaan pendapat, yaitu orang yang berbeda sering kali memiliki persepsi yang berbeda atas suatu
situasi sehingga tidak semua orang menyetujui suatu rencana.
14. Kecurigaan, yaitu karyawan tidak mempercayai manajemen atau sebaliknya.
Lubang Perangkap dalam Manajemen Strategis
Perencanaan strategis merupakan sebuah proses yang kompleks dan tidak menyediakan resep siap
pakai untuk meraih keberhasilan, tetapi membawa organisasi ke dalam sebuah petualangan dan menawarkan
kerangka kerja untuk menghadapi pertanyaan dan memecahkan persoalan. Beberapa lubang perangkap yang
harus dihindari dalam perencanaan strategis adalah sebagai berikut.
1. Menggunakan perencanaan strategis untuk meraih kontrol atas keputusan dan sumber daya.
2. Melakukan perencanaan strategis hanya untuk memuaskan persyaratan akreditasi atau regulatif.
3. Terlalu tergesa-gesa beralih dari pengembangan misi ke perumusan strategi.
4. Gagal mengomunikasikan rencana kepada para karyawan, yang pada akhirnya terus bekerja dalam
keragu-raguan dan ketidakpastian.
5. Manajer puncak banyak membuat keputusan yang bersifat intuitif yang berlawanan dengan rencana formal.
6. Manajer puncak tidak mendukung proses perencanaan strategis secara aktif.
7. Gagal menggunakan rencana sebagai standar untuk mengukur kinerja.
8. Mendelegasikan perencanaan kepada perencana dan tidak melibatkan semua manajer.
9. Gagal untuk melibatkan semua karyawan kunci dalam seluruh fase perencanaan.
10. Gagal untuk menciptakan iklim kolaboratif yang mendukung perubahan.
11. Menganggap perencanaan tidak penting atau tidak perlu.
12. Menjadi terpaku pada persoalan-persoalan yang dihadapi saat ini, sehingga tidak mampu membuat
persiapan yang memadai.
13. Bersikap terlalu formal dalam perencanaan, sehingga fleksibilitas dan kreativitas terhambat.
Panduan untuk Manajemen Strategis yang Efektif
Kegagalan untuk mengikuti panduan khusus dalam menjalankan manajemen strategis dapat
menciptakan persoalan bagi organisasi. Suatu bagian integral dari penilaian strategi merupakan evaluasi atas
kualitas proses manajemen tersebut. Bahkan, rencana strategi yang sangat baik secara teknis tidak akan
berguna jika tidak diimplementasikan. Perubahan berlangsung melalui implementasi dan evaluasi, bukan melalui
rencana. Sebuah rencana yang tidak sempurna secara teknis, namun diimplementasikan dengan baik akan lebih
berhasil daripada rencana sempurna yang tidak pernah dipraktikkan.
Manajemen strategis tidak boleh menjadi sebuah mekanisme birokratis untuk memperjuangkan dan
melanggengkan kepentingan pribadi. Namun, ia harus menjadi sebuah proses reflektif yang membuat para
manajer dan karyawan di dalam organisasi lebih familiar dengan isu-isu strategi kunci dan alternatif yang masuk
akal untuk menyelesaikan beragam persoalan tersebut. Manajemen strategis tidak boleh menjadi ritualistik, tidak
terjangkau, terpaku, terlalu formal, atau kaku. Perkataan harus didukung dengan angka dan merepresentasikan
medium untuk menjelaskan berbagai isu strategis dan tanggapan organisasional. Salah satu peran utama
penyusun strategi adalah memfasilitasi proses pembelajaran dan perubahan organisasional secara terus
menerus.
R. T. Lenz menawarkan beberapa panduan penting untuk manajemen strategis yang efektif, yaitu
sebagai berikut. Buatlah proses manajemen strategis sesederhana dan se-non-rutin mungkin. Buang jargon dan
bahasa perencanaan yang basi. Ingat, manajemen strategis merupakan sebuah proses untuk mendorong
pembelajaran dan aksi, bukan semata-mata sebuah sistem formal untuk melanggengkan kontrol. Untuk
menghindari perilaku yang terutinkan, buatlah tugas, tim, format pertemuan, dan kalender perencanaan
bervariasi. Prosesnya tidak boleh sepenuhnya tertebak, dan latarnya harus diubah-ubah untuk merangsang
kreativitas. Tekankan rencana yang berorientasi pada kata dengan angka sebagai materi pendukung. Jika
manajer tidak dapat mengungkapkan strategi mereka dalam paragraf, mereka entah memang tidak mampu atau
tidak memahaminya. Rangsanglah pemikiran dan aksi yang menantang serta mempertanyakan berbagai asumsi
yang mendasari strategi yang dijalankan perusahaan saat ini. Terbukalah pada kabar buruk. Jika strategi tidak
berjalan dengan baik, manajer harus mengetahuinya. Lebih jauh, tidak boleh ada informasi relevan yang ditolak
semata-mata karena informasi tersebut tidak dapat dikuantifikasi. Bangunlah sebuah budaya perusahaan
dengan peran manajemen strategis dan tujuannya yang esensial dapat dipahami. Jangan biarkan para teknisi
mengambil alih prosesnya. Proses tersebut pada intinya merupakan proses pembelajaran dan aksi. Sampaikan
hal tersebut dalam pengertian ini. Bukalah diri untuk dimensi-dimensi psikologis, sosial, dan politis, serta
infrastruktur informasi dan prosedur administratif yang mendukungnya.
Sebuah panduan penting untuk manajemen strategis yang efektif adalah keterbukaan. Kesediaan dan
keinginan untuk mempertimbangkan informasi baru, sudut pandang baru, gagasan baru, dan kemungkinan baru
adalah hal yang penting; semua anggota organisasi harus memiliki semangat untuk mencari dan belajar. Para
penyusun strategi, harus menyediakan diri untuk mendengarkan dan memahami posisi manajer agar mampu
menyatakan ulang posisi-posisi tersebut dengan cara seperti yang diinginkan pada manajer. Selain itu, para
manajer dan karyawan harus mampu mendeskripsikan posisi para penyusun strategi sebagaimana dimaksudkan
oleh mereka. Disiplin seperti ini akan mendorong munculnya pemahaman dan pembelajaran.
Tidak ada organisasi yang memiliki sumber daya tak terbatas. Karenanya, tidak ada organisasi yang
dapat menjalankan semua strategi yang berpotensial mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Keputusan
strategis selalu harus dibuat untuk mengeliminasi beberapa pilihan aksi dan untuk mengalokasi sumber daya
organisasional di antara beberapa pilihan yang lain. Manajer akan membuat kesalahan besar jika ia
memutuskan untuk menjalankan terlalu banyak strategi sekaligus, karena dengan demikian ia terpaksa
menyebar sumber daya perusahaan secara sangat sedikit ke tiap-tiap strategi yang jumlahnya terlalu banyak,
sehingga pada akhirnya semua strategi justru menjadi gagal karena kurangnya sumber daya yang digunakan.
Keputusan strategi harus memilih antara pertimbangan jangka panjang versus jangka pendek atau
memaksimalkan keuntungan versus meningkatkan kekayaan pemegang saham. Selain itu, juga terdapat isu-isu
etika. Pemilihan strategi semacam ini melibatkan penilaian dan preferensi subjektif. Dalam banyak kasus,
kurangnya objektivitas di dalam perumusan strategi mengakibatkan hilangnya keunggulan kompetitif dan
profitabilitas. Kebanyakan organisasi saat ini menyadari bahwa berbagai konsep dan teknik manajemen strategis
dapat meningkatkan efektivitas keputusan. Faktor-faktor subjektif seperti sikap terhadap risiko, konsen pada
tanggung jawab sosial, dan budaya organisasional akan selalu memengaruhi keputusan perumusan strategi,
tetapi organisasi perlu seobjektif mungkin dalam mempertimbangkan berbagai faktor kualitatif.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa berikut adalah panduan-panduan penting untuk
manajemen strategi yang efektif.
1. Harus lebih menekankan pada proses manusia daripada proses kertas.
2. Harus menjadi proses pembelajaran yang mencakup seluruh manajer dan pegawai.
3. Harus terdiri dari kata-kata yang didukung dengan angka, bukan angka yang didukung dengan kata-kata.
4. Harus bersifat sederhana dan tidak rutin.
5. Harus memvariasikan tugas-tugas, keanggotaan tim, format pertemuan, dan kalendar perencanaan.
6. Harus menantang dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang digunakan dalam strategi perusahaan saat
ini.
7. Harus siap terhadap kabar buruk.
8. Harus bersifat terbuka dan memiliki kemauan untuk terus belajar dan mencari tahu.
9. Tidak boleh memiliki mekanisme birokrasi.
10. Tidak boleh bersifat ritualistik, tidak terjangkau, atau terpaku.
11. Tidak boleh bersifat terlalu formal, dapat diprediksi, atau kaku.
12. Tidak boleh mengandung jargon atau bahasa perencanaan yang bersifat rahasia.
13. Tidak boleh dijadikan sebagai sistem formal untuk mendapatkan kontrol.
14. Tidak boleh mengabaikan informasi yang bersifat kualitatif.
15. Tidak boleh dikendalikan oleh para teknisi.
16. Tidak boleh mengimplementasikan terlalu banyak strategi pada saat yang bersamaan.
17. Harus terus menerapkan kebijakan bisnis yang baik adalah bisnis yang memiliki etika.
Membandingkan Strategi Bisnis dengan Strategi Militer
Warisan militer yang kuat mendasari kajian manajemen strategis. Kata strategi berasal dari bahasa
Yunani strategos, yang merujuk pada jenderal militer dan menyatukan stratos (pasukan) dan ago (memimpin).
Sejarah perencanaan strategis bermula di militer. Tujuan utama dari strategi bisnis maupun militer adalah untuk
memperoleh keunggulan kompetitif. Baik organisasi bisnis maupun militer berusaha memanfaatkan kekuatan
mereka untuk mengeksploitasi kelemahan lawan. Keberhasilan adalah produk dari kepekaan terus-menerus
pada kondisi eksternal dan internal yang terus berubah serta perumusan dan penerapan adaptasi yang cerdas
atas berbagai kondisi ini.
Satu perbedaan mendasar antara strategi militer dan bisnis adalah bahwa strategi bisnis dirumuskan,
diterapkan, dan dinilai dengan asumsi kompetisi, sementara strategi militer didasarkan atas asumsi konflik.
Namun demikian, konflik militer dan persaingan bisnis sangat mirip sehingga banyak teknik manajemen strategis
yang dapat diterapkan untuk keduanya. Contoh yang paling umum adalah menarik kemiripan yang terdapat
pada tulisan-tulisan Sun Tzu ke dalam praktik perumusan dan penerapan strategi di area persaingan bisnis saat
ini.