Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Akuntansi ISSN 2302-0164

Pascasarjana Universitas Syiah Kuala 15 Pages pp. 15- 29



15 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012


PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)
DAN DANA PERIMBANGAN
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH
KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI ACEH
Ebit Julitawati
1
, Darwanis
2
, Jalaluddin
3
1)
Magister Akuntansi Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
2,3)
Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala


Abstract: The purpose of this study to examine the effect of local revenue (PAD) and the Fund Balance
of the financial performance of the district / city in Aceh province. The population in this study are 23
districts / municipalities in Aceh province that already has a data realization Revenue Budget
Expenditure (Budget) in the period 2009-2011. This study uses census. To test the effect of local revenue
(PAD) and the Fund Balance of the financial performance of government used multiple linear
regression models. The results showed that the local revenue (PAD) and the Fund Balance and
simultaneous partial effect on the financial performance of the district / city in Aceh province.
Keyword: Local Revenue (PAD), Intergovermental Transfer, Government Financial Performance


Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk menguji pengaruh Pendapatan Asli daerah (PAD) dan Dana
Perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Populasi dalam
penelitian ini yaitu 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang telah memiliki data realisasi Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) periode 2009-2011. Penelitian ini menggunakan metode sensus.
Untuk menguji pengaruh Pendapatan Asli daerah (PAD) dan Dana Perimbangan terhadap kinerja
keuangan pemerintah digunakan model regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Pendapatan Asli daerah (PAD) dan Dana Perimbangan secara simultan dan parsial berpengaruh
terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
Kata Kunci : Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Perimbangan, Kinerja Keuangan Pemerintah
.
PENDAHULUAN
Provinsi Aceh merupakan salah satu
provinsi yang telah menerapkan otonomi
daerah dengan landasan Undang-Undang
Nomor 44 Tahun 1999 dan prinsip-prinsip
pemberian Otonomi Daerah dalam
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
yaitu Penyelengaraan Otonomi Daerah
yang kemudian digantikan oleh Undang-
Undang Otonomi Daerah No. 32 tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah.
Pengelolaan dan pertanggungjawaban
keuangan daerah telah ditetapkan pada
Peraturan Pemerintah Pasal 4 No.105
Tahun 2000 yang menegaskan bahwa
pengelolaan keuangan daerah harus
dilakukan secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku, efisien,
efektif, transparan, dan bertanggung jawab
dengan memperhatikan atas keadilan dan
kepatuhan. Apabila pengelolaan keuangan
daerah dilakukan dengan baik sesuai
dengan peraturan yang telah ditetapkan,
maka tentunya akan meningkatkan kinerja
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 16

pemerintah daerah itu sendiri.
Namun pada kenyataannya,
berdasarkan kutipan dari media waspada
online menyebutkan bahwa kinerja
pengelolaan keuangan daerah Provinsi
Aceh masih buruk, sebagaimana yang
dirilis oleh Menteri Dalam Negeri,
mencerminkan lemahnya aparatur
pemerintahan Aceh dalam mekanisme
pengelolaan keuangan daerah. Cerminan
lemahnya keuangan daerah juga menjadi
indikator besarnya potensi terjadinya
korupsi dalam proses pengelolaannya.
Tidak hanya pengelolaan keuangan
yang buruk, hingga saat ini Pemerintah
Aceh belum pernah mendapatkan predikat
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI
dalam aspek pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan daerah,
tentunya hal ini mencerminkan bahwa
system manajamen pengelolaan keuangan
Aceh masih buruk. Selanjutnya,
berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
Semester II BPK-RI Tahun 2010,
ditemukan bukti di Provinsi Aceh bahwa,
belanja bantuan keuangan kepada
pemerintah kabupaten/kota Tahun Ajaran
2009 senilai Rp 86,02 miliar belum
dipertanggungjawabkan dan berpotensi
disalahgunakan oleh penerima bantuan.
Berdasarkan temuan bukti-bukti
tersebut, jelas terlihat bahwa kinerja
keuangan pemerintah daerah masih buruk
dan dapat dinilai belum baik. Salah satu
instrumen untuk menilai kinerja
Pemerintah Daerah dalam mengelola
keuangan daerah adalah dengan melakukan
analisa rasio keuangan terhadap APBD
yang telah ditetapkan dan disahkan.
Dalam rangka menjalankan fungsi dan
kewenangan pemerintah daerah dalam
bentuk pelaksanaan kewenangan fiskal,
daerah harus dapat mengenali potensi dan
mengidentifikasi sumber-sumber daya
yang dimilikinya. Pemerintah daerah
diharapkan lebih mampu menggali
sumber-sumber keuangan khususnya untuk
memenuhi kebutuhan pembiayaan
pemerintahan dan pembangunan di
daerahnya melalui Pendapatan Asli daerah
(PAD). Tuntutan peningkatan PAD
semakin besar seiring dengan semakin
banyaknya kewenangan pemerintahan
yang dilimpahkan kepada daerah disertai
pengalihan personil, peralatan, pembiayaan
dan dokumentasi (P3D) ke daerah dalam
jumlah besar.
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
merupakan tulang punggung pembiayaan
daerah. Karena itu, kemampuan suatu
daerah menggali PAD akan mempengaruhi
perkembangan dan pembangunan daerah
tersebut. Di samping itu semakin besar
kontribusi PAD terhadap APBD, maka
akan semakin kecil pula ketergantungan
terhadap bantuan pemerintah pusat.
Sumber keuangan yang berasal dari PAD
lebih penting dibanding dengan sumber
yang berasal dari luar PAD. Hal ini karena
PAD dapat dipergunakan sesuai dengan
kehendak dan inisiatif pemerintah daerah

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

17 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

demi kelancaran penyelenggaraan urusan
daerahnya.
Selain PAD, Dana Perimbangan juga
merupakan salah satu sumber penerimaan
daerah yang memiliki kontribusi besar
terhadap sturktur APBD. Dalam UU
No.33/ 2004 disebutkan Dana
Perimbangan adalah dana yang bersumber
dari pendapatan APBN yang dialokasikan
kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan
Daerah dalam rangka pelaksanaan
Desentralisasi. Perimbangan keuangan
antara Pemerintah dan Pemerintahan
Daerah adalah suatu sistem pembagian
keuangan yang adil, proporsional,
demokratis, transparan, dan efisien dalam
rangka pendanaan penyelenggaraan
Desentralisasi, dengan memper-
timbangkan potensi, kondisi, dan
kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan
penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan.
PAD dan Dana Perimbangan memiliki
peranan yang besar sebagai sumber
pembiayaan pembangunan dan pada
akhirnya mampu mendorong pertumbuhan
ekonomi di daerah. Penurunan kegiatan
ekonomi diberbagai daerah juga
menyebabkan penurunan PAD daerah
sehingga menghambat pelaksanaan
kegiatan pemerintah, pembangunan, dan
pelayanan masyarakat oleh pemerintah
daerah secara otonom. Begitu juga
sebaliknya peningkatan kegiatan ekonomi
diberbagai daerah akan meningkatkan PAD
daerah sehingga pelaksanaan kegiatan
pemerintah, pembangunan, dan pelayanan
masyarakat oleh pemerintah tidak
terhambat.

Perumusan Masalah
Apakah Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dan Dana Perimbangan
berpengaruh secara bersama maupun
terpisah terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Aceh.

Tujuan Penelitian
Untuk menguji pengaruh Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dan Dana perimbangan
secara bersama maupun terpisah terhadap
kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota
di Provinsi Aceh.

KAJIAN KEPUSTAKAAN
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Menurut Undang-Undang Nomor 17
tahun 2003, pendapatan daerah adalah hak
pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih. (Yuwono,
2005:107) menyatakan bahwa pendapatan
daerah adalah semua penerimaan kas yang
menjadi hak daerah dan diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih dalam
satu tahun anggaran dan tidak perlu
dibayar kembali oleh pemerintah.
Yang dimaksud sumber pendapatan
asli Daerah Provinsi Aceh yaitu :
a. Pajak Daerah;
b. Retribusi Daerah;
c. Zakat;
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 18

d. Hasil perusahaan milik Daerah dan
hasil pengelolaan kekayaan daerah
lainnya yang dipisahkan; dan
e. Lain-lain pendapatan Daerah yang
sah.
Berdasarkan pasal 79 Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dapat disimpulkan
PAD adalah sesuatu yang diperoleh
Pemerintah Daerah yang dapat diukur
dengan uang karena kewenangan (otoritas)
yang diberikan masyarakat dapat berupa
hasil pajak daerah dan retribusi daerah,
hasil perusahaan milik daerah dan
pengelolaan kekayaan daerah serta lain-
lain pendapatan daerah yang sah. Dari
beberapa komponen PAD tersebut, maka
yang perlu mendapatkan perhatian adalah
pajak dan retribusi daerah, karena kedua
jenis PAD ini baik secara langsung
maupun tidak langsung akan membebeani
rakyat.

Dana Perimbangan
Menurut Permendagri No.32 Tahun
2008, dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi, kepada daerah diberikan
Dana Perimbangan melalui APBN yang
bersifat transfer dengan prinsip money
follows function. Salah satu tujuan
pemberian Dana Perimbangan tersebut
adalah untuk mengurangi kesenjangan
fiskal antara pemerintah dengan daerah
dan antar daerah, serta meningkatkan
kapasitas daerah dalam menggali potensi
ekonomi daerah.
Pada aspek hubungan pemerintahan
pusat dan daerah ini (Elmi, 2002:55)
mengungkapkan bahwa dengan adanya
kebijakan tersebut diharapkan akan terjadi
pembagian keuangan yang adil dan
rasional. Artinya bagi daerah-daerah yang
memiliki kekayaan sumber daya alam akan
memperoleh bagian pendapatan yang
jumlahnya lebih besar sedangkan daerah-
daerah lainnya akan mengutamakan bagian
dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana
Alokasi Khusus (DAK).
UU No.33 Tahun 2004 pada Pasal 1
ayat 19, menjelaskan Dana Perimbangan
adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan
kepada daerah untuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi. Dan Pasal 10 ayat 1
menjelaskan dana perimbangan terdiri atas:
Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum,
dan Dana Alokasi Khusus.

Kinerja Keuangan Pemerintah
Kinerja merupakan gambaran
pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan
dalam mencapai tujuan, visi dan misi suatu
organisasi (Bastian, 2006:117).
Pengukuran kinerja keuangan pemerintah
daerah dapat diukur dengan menilai
efisiensi atas realisasi dari alokasi yang
dilakukan pemerintah terhadap suatu
anggaran. Rasio efisiensi adalah rasio yang
menggambarkan perbandingan antara
output dan input atau realisasi pengeluaran
dengan alokasi yang dianggarkan oleh

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

19 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

pemerintah daerah. Semakin kecil rasio ini,
maka semakin efisien, begitu pula
sebaliknya. Suatu kegiatan dikatakan
efisien jika pelaksanaan pekerjaan tersebut
telah mencapai hasil (output) maksimal
dengan menggunakan biaya (input) yang
terendah atau dengan biaya minimal
diperoleh hasil yang diinginkan.
Dengan mengetahui hasil
perbandingan antara realisasi pengeluaran
dan alokasi penganggaran dengan
menggunakan ukuran efisiensi tersebut,
maka penilaian kinerja keuangan dapat
ditentukan (Medi, 1966 dalam Budiarto,
2007). Apabila kinerja keuangan diatas
100% ke atas dapat dikatakan tidak efisien,
90% - 100% adalah kurang efisien, 80% -
90% adalah cukup efisien, 60% - 80%
adalah efisien dan dibawah dari 60%
adalah sangat efisien.
Penelitian Nasution (2010) terhadap
kinerja keuangan pemerintah daerah
memberikan hasil bahwa secara simultan
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
berpengaruh signifikan terhadap kinerja
keuangan pemerintah Kabupaten dan Kota
di Propinsi Sumatera Utara. Hal ini
dikarenakan pengukuran kinerja yang
digunakan adalah dengan rasio upaya
fiskal, yaitu Total Pendapatan Asli Daerah
dibagi Total Anggaran Pendapatan Asli
Daerah, yang mengindikasikan daerah-
daerah tersebut terkadang tidak bisa
mencapai Anggaran Pendapatan Asli
Daerah yang telah ditetapkan dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD). Hal ini bisa terjadi, daerah
tersebut tidak secara rasional dalam
menyusun Anggaran PAD.
METODE PENELITIAN
Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh,
yang berjumlah 23 kabupaten/kota, terdiri
dari 18 Kabupaten dan 5 Kota. Penelitian
ini memiliki rentang waktu 3 tahun yaitu
mulai dari tahun 2009-2011.
Dengan demikian jumlah amatan yang
diteliti berjumlah 23 kabupaten/kota x 3
tahun = 69 populasi. Pemilihan populasi
dengan kriteria kabupaten/kota tersebut
telah menyediakan data lengkap dalam
laporan APBK serta laporan realisasi
APBD.

Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan
terdiri dari :
1. Penelitian lapangan, yaitu data yang
diperoleh dengan menggunakan data
sekunder yang diperoleh dari
pengumpulan data APBK dan data
realisasi APBD. Data penelitian untuk
laporan APBK diperoleh dari Dinas
Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan
Aceh (DPPKA), data laporan realisasi
APBD diperoleh dari situs Direktorat
Jendral Keuangan Daerah
Departemen Dalam
Negeri.(www.djkd.depdagri.go.id).
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 20

2. Penelitian kepustakaan, merupakan
data sekunder yang dikumpulkan
berupa data-data teoritis yang
mendukung penelitian ini, termasuk
hasil penelitian terdahulu yang
berkaitan dengan penelitian ini.

Metode Analisis
Data Penelitian dianalisis dengan
menggunakan model analisis regresi linear
berganda yaitu menggunakan pooled data
mulai dari tahun 2009 sampai dengan
tahun 2011. Data diolah dengan
menggunakan program bantuan SPSS
(Statistical Package for Social Sciences)
Versi 17.0.

Uji Parsial
Uji statistik t pada dasarnya
menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel penjelas atau independen secara
individual dalam menerangkan variasi
variabel dependen. Uji ini dilakukan untuk
melihat Pengaruh Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dan dana perimbangan secara
parsial terhadap kinerja keuangan
pemerintah. Uji ini dilakukan dengan
melihat masing-masing nilai koefisien
regresi. H
A
diterima jika i 0, dan
sebaliknya H
0
diterima jika i = 0.
Uji Simultan
Uji F statistik digunakan untuk
menguji keberartian pengaruh dari seluruh
variabel bebas secara bersama-sama
(serentak) terhadap variabel tidak bebas.
Uji F dimaksudkan untuk melihat
kemampuan menyeluruh dari variabel
bebas yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dan dana perimbangan terhadap kinerja
keuangan. Uji ini dilakukan dengan
melihat nilai koefisien determinasi (R
2
).

Rancangan Pengujian Hipotesis
Tehnik analisis data pada pengujian
hipotesis menggunakan pengujian analisis
regresi linier berganda yang merupakan
tehnik statistik yang digunakan untuk
menguji pengaruh antara dua atau lebih
variabel dan untuk melihat pengaruh
secara parsial dan simultan. Rancangan
pengujian hipotesis berdasarkan kerangka
pemikiran adalah sebagai berikut :





Gambar 1. Rancangan Tehnik Analisis Data

Keterangan :
Y = Kinerja Keuangan Pemerintah
X
1
= Pendapatan Asli Daerah (PAD)
X
2
= Dana Perimbangan

Adapun persamaan model regresi
berganda dalam penelitian ini dapat
diformulasikan sebagai berikut:
Y =
0
+
1
x
1
+
2
x
2
+ ....................... (1)

Keterangan:
Y = Kinerja Keuangan
Pemerintah
X
1
= Pendapatan Asli Daerah
(PAD)
X
2
= Dana Perimbangan
Y
X
1
X
2

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

21 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

0
,
1
,
2
= Konstanta dan koefisien
regresi

= Variabel gangguan yang


tidak dimasukkan dalam
model penelitian ini.
HASIL PEMBAHASAN
Gambaran Umum Observasi Penelitian
Penelitian ini mengambil populasi
pada seluruh kabupaten/kota di Provinsi
Aceh sebanyak 23 Kabupaten/kota, dengan
periode waktu dari tahun 2009 hingga
tahun 2011. Kriteria yang dijadikan
pemilihan populasi adalah kabupaten/kota
yang telah memiliki laporan APBD.

Deskripsi Data Penelitian
Statistik deskriptif yang digunakan
dalam penelitian ini adalah minimum,
maksimum dan mean. Hasil statistik
deskriptif berdasarkan data APBD terhadap
23 kabupaten/kota dapat dilihat pada Tabel
1 sebagai berikut:

Tabel 1. Descriptive Statistics

N Min Max Mean
Std.
Deviation
PAD 69 3.27 88.52 24.2163 15.77624
DAPER 69 221.69 827.45 4.0077E2 113.84852
KINERJA 69 .00 4.00 .1739 .59301
Valid N
(listwise)
69

Sumber : Olah data tahun 2012

Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis dengan
menggunakan regresi berganda dari
pengaruh PAD dan Dana Perimbangan
terhadap kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Coefficients
a

Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B
Std.
Error Beta
1 (Constant) 2.319 .343 6.757 .000
X
1
.122 .072 .195 1.679 .098
X
2
.304 .092 .384 3.309 .001
a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan Tabel hasil pengujian
hipotesis, dan pengujian baik secara
simultan dan parsial, maka diperoleh
persamaan regresi berganda sebagai
berikut:

Y = 0,889 + 0,025 X
1
0,003 X
2
+ .... (2)

Dari persamaan tersebut dapat
diketahui hasil-hasil sebagai berikut:
a. Koefisien Korelasi (R) sebesar 0,353
menunjukkan bahwa derajat
hubungan (korelasi) antara variabel
independen dengan variabel dependen
sebesar 35,3%. Artinya PAD dan
Dana Perimbangan mempunyai
hubungan terhadap kinerja keuangan
pemerintah sebesar 35,3%.
b. Koefisien Determinasi (R
2
) sebesar
0,125, atau 12,5%. Artinya, variabel
independen yang meliputi PAD dan
Dana Perimbangan mempengaruhi
variabel dependen yaitu kinerja
keuangan pemerintah sebesar 12,5%.
Sisanya sebesar 87,5% dipengaruhi
oleh faktor lain yang tidak
dimasukkan dalam peneilitian ini.
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 22

c. Konstanta sebesar 0,889 menunjukkan
bahwa apabila variabel independent
(PAD dan Dana Perimbangan) sama
dengan nol atau dianggap konstan
maka kinerja keuangan pemerintah
sebesar 0,889.
d. Koefisien regresi (
1
) sebesar 0,025
menunjukkan bahwa setiap
penerimaan PAD sebesar 1% maka
akan diikuti oleh kenaikan kinerja
keuangan pemerintah sebesar 2,5%.
Dengan asumsi variabel independent
lainnya tetap (konstan).
e. Koefisien regresi (
2
) sebesar -0,003
menunjukkan bahwa setiap
penerimaan Dana Perimbangan
sebesar 1% maka akan diikuti oleh
penurunan kinerja keuangan sebesar
0,3%. Dengan asumsi variabel
independent lainnya tetap (konstan).

Hasil Pengujian Secara Simultan
Pengaruh secara simultan dapat
dilakukan dengan melihat nilai koefisien
determinasi (R
2
). berdasarkan hasil
pengujian pengaruh PAD dan Dana
Perimbangan terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota secara simultan
diperoleh nilai koefisien determinasi (R
2
)

sebesar 0,125. Dengan demikian variabel
independen yang meliputi PAD dan Dana
Perimbangan secara simultan berpengaruh
terhadap variabel dependen yaitu kinerja
keuangan pemerintah kabupaten/kota.
Hasil penelitian ini mendukung hipotesis
yang pertama yaitu Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan
berpengaruh terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Aceh.
Hasil tersebut konsisten dengan
penelitian Florida (2006), hasil hipotesis
secara simultan menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh PAD secara simultan
terhadap kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.
Artinya, keseluruhan komponen PAD
sangat mempengaruhi kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Sumatera Utara sesuai dengan prinsip-
prinsip otonomi daerah.
Namun penelitian Rahim (2008)
menunjukkan hasil bahwa Dana
Perimbangan pusat yang diterima oleh
pemerintah daerah dari pemerintah pusat
tidak berpengaruh signifikan terhadap
peningkatan kinerja keuangan pemerintah
daerah. Dana Perimbangan yang diterima
melalui DAU dan DAK tidak memberikan
dampak positive terhadap kinerja keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar.

Hasil Pengujian Secara Parsial
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Terhadap Kinerja Keuangan
Pemerintah
Hasil pengujian statistik secara parsial
mengenai pengaruh PAD terhadap kinerja
keuangan pemerintah menunjukkan nilai
koefisien regresi (
1
)

0 yaitu (0,025),
berdasarkan hipotesis yang telah
ditetapkan maka ditarik kesimpulan bahwa

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

23 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

PAD berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pemerintah. Apabila terjadi
perubahan variabel PAD sebesar 1% akan
meningkatkan kinerja keuangan
pemerintah sebesar 2,5%. Setiap kenaikan
PAD akan diikuti oleh peningkatan kinerja
keuangan pemerintah dan sebaliknya
penurunan PAD akan mengakibatkan
penurunan kinerja keuangan pemerintah.
Pendapatan Asli Daerah dapat
diartikan sebagai pendapatan yang
bersumber dari pungutan-pungutan yang
dilaksanakan oleh daerah berdasarkan
peraturan-peraturan yang berlaku yang
dapat dikenakan kepada setiap orang atau
badan usaha baik milik pemerintah
maupun swasta karena perolehan jasa yang
diberikan pemerintah daerah tersebut. Oleh
sebab itu daerah dapat melaksanakan
pungutan dalam bentuk penerimaan pajak,
retribusi dan penerimaan lainnya yang sah
yang diatur dalam undang-undang.
Peningkatan PAD akan mengakibatkan
peningkatan kinerja keuangan pemerintah.
Hal ini dapat terjadi karena Pemerintah
Kabupaten/kota di Provinsi Aceh
menekankan hasil atas PAD mereka
berasal dari berbagai sumber yang dikelola
oleh daerah dalam bentuk penerimaan
pajak, retribusi dan penerimaan lainnya
yang sah yang diatur dalam Undang-
Undang.
Hasil penelitian ini sesuai atau
konsisten dengan hasil penelitian Florida
(2006), yang menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh PAD secara parsial terhadap
kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.
Artinya, keseluruhan komponen PAD
sangat mempengaruhi kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Sumatera Utara sesuai dengan prinsip-
prinsip otonomi daerah.

Pengaruh Dana Perimbangan Terhadap
Kinerja Keuangan Pemerintah
Hasil pengujian secara parsial,
diperoleh nilai koefisien regresi (
2
) 0
yaitu -0,003, berdasarkan hipotesis yang
telah ditetapkan maka ditarik kesimpulan
bahwa Dana Perimbangan berpengaruh
negatif terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota. Artinya setiap
1% perubahan variabel Dana Perimbangan
maka secara relatif akan mempengaruhi
penurunan kinerja keuangan pemerintah
sebesar 0,3%.
Dana Perimbangan yang meliputi
Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
serta DAU dan DAK merupakan dana
transfer dari pemerintah pusat kepada
pemeritah daerah dengan tujuan untuk
membiayai kelebihan belanja daerah.
Apabila realisasi belanja daerah lebih
tinggi daripada pendapatan daerah maka
akan terjadinya defisit. Oleh karena itu
untuk menutup kekurangan belanja daerah
maka pemerintah pusat mentransfer dana
dalam bentuk Dana Perimbangan kepada
pemerintah daerah. Semakin besar transfer
Dana Perimbangan yang diterima dari
pemerintah pusat akan memperlihatkan
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 24

semakin kuat pemerintah daerah
bergantung kepada pemerintah pusat untuk
memenuhi kebutuhan daerahnya. Sehingga
akan membuat kinerja keuangan
pemerintah daerah menurun.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rahim
(2008). Hasil penelitian Rahim
menyebutkan bahwa Dana Perimbangan
yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten
Takalar melalui DAU dan DAK tidak
memberikan dampak positif terhadap
kinerja keuangan daerah Kabupaten
Takalar. Hasil penelitian Rahim juga
membuktikan bahwa Dana Perimbangan
dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah
daerah Kabupaten Takalar juga tidak
berpengaruh signifikan terhadap
peningkatan kinerja keuangan Pemerintah
Kabupaten Takalar.

Tabel 3. Coefficients
a

Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B
Std.
Error Beta
1 (Constant) 2.319 .343 6.757 .000
X1 .122 .072 .195 1.679 .098
X2 .304 .092 .384 3.309 .001
a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan Tabel hasil pengujian
hipotesis, dan pengujian baik secara
simultan dan parsial, maka diperoleh
persamaan regresi berganda sebagai
berikut:
Y = 0,889 + 0,025 X
1
0,003 X
2
+ .... (3)
Dari persamaan tersebut dapat
diketahui hasil-hasil sebagai berikut:
a. Koefisien Korelasi (R) sebesar 0,353
menunjukkan bahwa derajat
hubungan (korelasi) antara variabel
independen dengan variabel dependen
sebesar 35,3%. Artinya PAD dan
Dana Perimbangan mempunyai
hubungan terhadap kinerja keuangan
pemerintah sebesar 35,3%.
b. Koefisien Determinasi (R
2
) sebesar
0,125, atau 12,5%. Artinya, variabel
independen yang meliputi PAD dan
Dana Perimbangan mempengaruhi
variabel dependen yaitu kinerja
keuangan pemerintah sebesar 12,5%.
Sisanya sebesar 87,5% dipengaruhi
oleh faktor lain yang tidak
dimasukkan dalam peneilitian ini.
c. Konstanta sebesar 0,889 menunjukkan
bahwa apabila variabel independent
(PAD dan Dana Perimbangan) sama
dengan nol atau dianggap konstan
maka kinerja keuangan pemerintah
sebesar 0,889.
d. Koefisien regresi (
1
) sebesar 0,025
menunjukkan bahwa setiap
penerimaan PAD sebesar 1% maka
akan diikuti oleh kenaikan kinerja
keuangan pemerintah sebesar 2,5%.
Dengan asumsi variabel independent
lainnya tetap (konstan).
e. Koefisien regresi (
2
) sebesar -0,003
menunjukkan bahwa setiap
penerimaan Dana Perimbangan
sebesar 1% maka akan diikuti oleh

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

25 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

penurunan kinerja keuangan sebesar
0,3%. Dengan asumsi variabel
independent lainnya tetap (konstan).

Hasil Pengujian Secara Simultan
Pengaruh secara simultan dapat
dilakukan dengan melihat nilai koefisien
determinasi (R
2
). berdasarkan hasil
pengujian pengaruh PAD dan Dana
Perimbangan terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota secara simultan
diperoleh nilai koefisien determinasi (R
2
)

sebesar 0,125. Dengan demikian variabel
independen yang meliputi PAD dan Dana
Perimbangan secara simultan berpengaruh
terhadap variabel dependen yaitu kinerja
keuangan pemerintah kabupaten/kota.
Hasil penelitian ini mendukung hipotesis
yang pertama yaitu Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan
berpengaruh terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Aceh.
Hasil tersebut konsisten dengan
penelitian Florida (2006), hasil hipotesis
secara simultan menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh PAD secara simultan
terhadap kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.
Artinya, keseluruhan komponen PAD
sangat mempengaruhi kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Sumatera Utara sesuai dengan prinsip-
prinsip otonomi daerah.
Namun penelitian Rahim (2008)
menunjukkan hasil bahwa Dana
Perimbangan pusat yang diterima oleh
pemerintah daerah dari pemerintah pusat
tidak berpengaruh signifikan terhadap
peningkatan kinerja keuangan pemerintah
daerah. Dana Perimbangan yang diterima
melalui DAU dan DAK tidak memberikan
dampak positive terhadap kinerja keuangan
Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar.

Hasil Pengujian Secara Parsial
Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah
Hasil pengujian statistik secara parsial
mengenai pengaruh PAD terhadap kinerja
keuangan pemerintah menunjukkan nilai
koefisien regresi (
1
)

0 yaitu (0,025),
berdasarkan hipotesis yang telah
ditetapkan maka ditarik kesimpulan bahwa
PAD berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pemerintah. Apabila terjadi
perubahan variabel PAD sebesar 1% akan
meningkatkan kinerja keuangan
pemerintah sebesar 2,5%. Setiap kenaikan
PAD akan diikuti oleh peningkatan kinerja
keuangan pemerintah dan sebaliknya
penurunan PAD akan mengakibatkan
penurunan kinerja keuangan pemerintah.
Pendapatan Asli Daerah dapat
diartikan sebagai pendapatan yang
bersumber dari pungutan-pungutan yang
dilaksanakan oleh daerah berdasarkan
peraturan-peraturan yang berlaku yang
dapat dikenakan kepada setiap orang atau
badan usaha baik milik pemerintah
maupun swasta karena perolehan jasa yang
diberikan pemerintah daerah tersebut. Oleh
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 26

sebab itu daerah dapat melaksanakan
pungutan dalam bentuk penerimaan pajak,
retribusi dan penerimaan lainnya yang sah
yang diatur dalam undang-undang.
Peningkatan PAD akan mengakibatkan
peningkatan kinerja keuangan pemerintah.
Hal ini dapat terjadi karena Pemerintah
Kabupaten/kota di Provinsi Aceh
menekankan hasil atas PAD mereka
berasal dari berbagai sumber yang dikelola
oleh daerah dalam bentuk penerimaan
pajak, retribusi dan penerimaan lainnya
yang sah yang diatur dalam Undang-
Undang.
Hasil penelitian ini sesuai atau
konsisten dengan hasil penelitian Florida
(2006), yang menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh PAD secara parsial terhadap
kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.
Artinya, keseluruhan komponen PAD
sangat mempengaruhi kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota di Provinsi
Sumatera Utara sesuai dengan prinsip-
prinsip otonomi daerah.

Pengaruh Dana Perimbangan Terhadap
Kinerja Keuangan Pemerintah
Hasil pengujian secara parsial,
diperoleh nilai koefisien regresi (
2
) 0
yaitu -0,003, berdasarkan hipotesis yang
telah ditetapkan maka ditarik kesimpulan
bahwa Dana Perimbangan berpengaruh
negatif terhadap kinerja keuangan
pemerintah kabupaten/kota. Artinya setiap
1% perubahan variabel Dana Perimbangan
maka secara relatif akan mempengaruhi
penurunan kinerja keuangan pemerintah
sebesar 0,3%.
Dana Perimbangan yang meliputi
Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
serta DAU dan DAK merupakan dana
transfer dari pemerintah pusat kepada
pemeritah daerah dengan tujuan untuk
membiayai kelebihan belanja daerah.
Apabila realisasi belanja daerah lebih
tinggi daripada pendapatan daerah maka
akan terjadinya defisit. Oleh karena itu
untuk menutup kekurangan belanja daerah
maka pemerintah pusat mentransfer dana
dalam bentuk Dana Perimbangan kepada
pemerintah daerah. Semakin besar transfer
Dana Perimbangan yang diterima dari
pemerintah pusat akan memperlihatkan
semakin kuat pemerintah daerah
bergantung kepada pemerintah pusat untuk
memenuhi kebutuhan daerahnya. Sehingga
akan membuat kinerja keuangan
pemerintah daerah menurun.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rahim
(2008). Hasil penelitian Rahim
menyebutkan bahwa Dana Perimbangan
yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten
Takalar melalui DAU dan DAK tidak
memberikan dampak positif terhadap
kinerja keuangan daerah Kabupaten
Takalar. Hasil penelitian Rahim juga
membuktikan bahwa Dana Perimbangan
dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah
daerah Kabupaten Takalar juga tidak
berpengaruh signifikan terhadap

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

27 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

peningkatan kinerja keuangan Pemerintah
Kabupaten Takalar.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah dilakukan pengujian dan
analisis data dalam penelitian ini, maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan sesuai
dengan hipotesis yang telah dirumuskan
sebelumnya.
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan
Dana Perimbangan berpengaruh
terhadap kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pemerintah kabupaten/kota
di Provinsi Aceh.
3. Dana Perimbangan berpengaruh
terhadap kinerja keuangan pemerintah
kabupaten/kota di Provinsi Aceh.

Saran
Saran yang dapat diberikan dari
penelitian ini dapat disimpulkan dalam
beberapa hal yaitu:
1. Untuk peneliti selanjutnya, melihat
pengaruh yang dihasilkan variabel
independen terhadap variabel
dependen masih kecil, maka saran
yang dapat diberikan untuk
menambahkan variabel lainnya seperti
Dana Lain-lain Pendapatan Daerah
yang Sah, yang juga termasuk
pendapatan suatu daerah selain PAD
dan Dana Perimbangan.
2. Untuk mengukur kinerja keuangan
pemerintah daerah dapat diganti
dengan menggunakan pengukuran
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah,
Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal,
Rasio Indeks Kemampuan Rutin dan
Rasio Keserasian.
3. Untuk pemerintah daerah
kabupaten/kota agar dapat
meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) dengan tujuan agar
dapat membiayai belanja daerahnya
sendiri sehingga mengurangi transfer
Dana Perimbangan dari pemerintah
pusat sebagai wujud kemandirian
daerah dalam membiayai belanjanya.
Kemampuan untuk memenuhi belanja
daerah membuktikan bahwa
pemerintah daerah telah melakukan
efisiensi terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah kabupaten/kota itu
sendiri.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Anonim 1, 2008. Laporan Hasil Pemeriksaan
atas Kepatuhan Terhadap Perundang-
undangan Dalam Kerangka
Pemeriksaan Laporan Keuangan Kota
Banda Aceh Tahun Anggaran 2007
Nomor 1.C/LHP/ XVIII.BAC/ 5/ 2008
tanggal 13 Mei 2008.
Anonim 2, 2009. Laporan Hasil Pemeriksaan
atas Kepatuhan Terhadap Perundang-
undangan Dalam Kerangka
Pemeriksaan Laporan Keuangan Kota
Banda Aceh Tahun Anggaran 2008
Nomor 171.C/S/XVIII.BAC/07/2009
Tanggal 23 Juli.
Aramana, D., 2011. Pengaruh Pendapatan
Asli Daerah, Dana Perimbangan Dan
Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Volume 1, No.1 Agustus 2012 - 28

Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang
Sah Terhadap Belanja Daerah Dengan
Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Sebagai Variabel Moderating Pada
Propinsi Sumatera Utara. Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara Medan.
Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No 1
Tahun 2007 tentang Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara.
Bastian, I., 2006. Akuntansi Sektor Publik:
Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga
Davey, K., 1989. Keuangan Pemerintah
Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit
Universitas Indonesia (UI-Press).
Detisa, D., 2010. Analisis Kinerja Keuangan
Pemerintah Daerah Dalam Era
Otonomi Khusus Pada Pemerintahan
Nanggroe Aceh Darussalam. Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Devas N., Brian B., Anne B. Kenneth, D. dan
Roy, K. 1989. Keuangan Pemerintah
Daerah di Indonesia. Penerjemah Masri
Maris. Jakarta: Universitas Indonesia
(UI-Press).
Elmi, B., 2002. Keuangan Pemerintah Daerah
Otonom di Indonesia. Jakarta: UI- Press.
Florida, A., 2007. Analisis Pengaruh
Pendapatan Asli Darah (PAD) Terhadap
Kinerja Keuangan Pada Pemerintah
Kabupaten Dan Kota Di Provinsi
Sumatera Utara. Tesis. Akuntansi,
Fakultas Ekonomi Sumatera Utara,
Medan.
Halim, A., 2007. Akuntansi Sektor Publik. Edisi
3. Penerbit Salemba Empat.
Kesit, B. P. 2004. Analisis Pengaruh Dana
Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Terhadap Prediksi
Belanja Daerah. JAAI. Vol. 8 No. 2.
Koswara, E. 2001. Otonomi Daerah: Untuk
Demokrasi dan Kemandirian Rakyat.
Jakarta: Yayasan Pariba.
Mankiw, N. G., 2006. Makroekonomi. Erlangga.
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen
Keuangan Daerah. Yogyakarta.
Nasution, N. A., 2010. Analisis Pengaruh
Desentralisasi Fiskal Dan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Terhadap Kinerja
Keuangan Pemerintah Kabupaten Dan
Kota Di Provinsi Sumatera Utara.
Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara Medan.
Rahim, S., 2008. Analisis Strategi Pengelolaan
Keuangan Terhadap Kinerja Keuangan
Daerah Kabupaten Takalar.
Isjd.pdii.lipi.go.id/admin/ jurnal/
3206701711.pdf
Redjo, S. I., 1998. Keuangan Pusat dan
Daerah. BKU Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ekonomi Pascasarjana
Kerjasama Universitas Padjajaran.
Bandung.
Republik Indonesia. 2003. Undang- undang
Nomor 17 Tahun 2003 Tentang
Keuangan Negara.
Republik Indonesia. 1999. Undang-undang RI
No. 22 Tahun 1999 Tentang
Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat Dan Daerah.
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang RI
No. 33 Tahun 2004 Tentang
Perimbangan Keuangan antara
pemerintah Pusat dengan Pemerintah
Daerah
Republik Indonesia. 2000. Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 34 Tahun
2000 Tentang Perubahan Atas Undang-
undang Republik Indonesia Nomor 18
Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi
Daerah.
Republik Indonesia.1999. Undang-undang
Nomor 25 Tahun 1999 Tentang
Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah, Jakarta
1999.
Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang RI
No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah
Daerah.
Sekaran, U., 2007. Research Methods for
Business. Metodologi Penelitian untuk
Bisnis. Penerbit Salemba.
Sidik, M., 2002. Format Hubungan Keuangan
Pemerintah Pusat dan Daerah yang
Mengacu Pada Pencapaian Tujuan
Nasional. Makalah Seminar Nasional,
Public Sector Scorecard. Jakarta.
Simanjuntak, D., 2006. Analisis Pengaruh
Pendapatan Asli Daerah Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Di Kabupaten
Labuhan Batu. Tesis. Program
Pascasarjana Ekonomi USU, Medan.
Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian.
Bandung. Penerbit: CV. Alfabeta.
Sukirno, S., 2004, Makroekonomi Teori
Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Sumitro, R. 1987. Azas dan Dasar Perpajakan.
Bandung: Eresco.
Syamsi, I., 1994. Dasar-Dasar Kebijaksanaan
Keuangan Negara. Jakarta: Rineka
Cipta.
Yani, A., 2008. Hubungan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah di
Indonesia. Jakarta: Rajagrafindo

Jurnal Akuntansi
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

29 - Volume 1, No. 1, Agustus 2012

Persada.
Yuwono, S. dkk., 2005. Penganggaran Sektor
Publik. Surabaya: Bayumedia
Publishing.
www.aceh.bps.go.id
www.bandaacehkota.go.id
www.bapeeda.acehprov.go.id
www.bisnis.com
www.djkd.depdagri.go.id
www.regional.kompas.com




www.tempo.com