Anda di halaman 1dari 16

Keluarga Sakinah

KELOMPOK VI :- DWIKY ERLANGGA (062.13.006)


- IRFAN RUSYDI T. (062.13.013)
- ANDIKA KURNIA W. (062.13.015)
Pendahuluan
Hidup berumah tangga merupakan cita-cita dan fitrah semua
manusia dan juga merupakan sunnah yang ditetapkan kepada para
rasul sebagaimana dalam firman Allah SWT :

dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa rasul
sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka istri
-istri dan keturunan (Q.S Ar-Radu(13):38
Rasullullah SAW membenci orang yang hidup membujang sementara
ia mampu, dan karena itu beliau memerintahkan setiap pemuda yang
mampu untuk menika, sebagaimana dalam hadits :

dari Abdullah bin mas;ud RA, berkata : bersabda Rasullullah
SAW,Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang
telah mampu untuk menikah, maka menikahlah karena dengan
menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih
menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu,
maka hendaklah dia berpuasa, karenasesungguhnya puasa itu
bisa menjadi perisai baginya (perdam pandangan dan
kemaluannya).
Dalam kesempatan lain Rasullullah SAW mengatakan bahwa pernikahan
adalah sunnahku, siapa yang tidak mengikuti sunahku tidak termasuk
golonganku.
Pembentukan Keluarga
Definisi Keluarga

1. Kumpulan individu yang terjalin ikatan perkawinan (suami dan
istri) dan hubungan darah (orang tua dan anak).
2. Tinggal dalam satu tempat tinggal (rumah)
3. Ada jalinan interaksi antarindividu menyangkut peran-peran;sebagai
suami istri, ayah, ibu, anak, cucu, dan saudara-saudari.
4. Hidup bersama di bawah satu keyakinan

Urgensi Keluarga dalam Islam
Hamdah Rajih mengungkapkan urgensi keluarga dalam islam atas 3 dasar
alasan yaitu :

Perkawinan dalam islam merupakan sarana yang sesuai dengan
kodrat kemanusiaan sebagaimana petunjuk al-quran dan sunnah
Nabi SAW.
Perhatian islam terhadap keluarga adalah diharuskan pasangan
suami-istri untuk selalu berjalan pada garis petunjuk ajaran islam dalam
kehidupan keluarga.
Keluarga merupakan wahana tempat hidup,tempat saling
memberikan pendidikan dan tempat interaksi antara anggota,maka
islam memberikan hak kepemimpinan kepada laki-laki berdasarkan
firman Allah SWT.


Definisi Pernikahan/Perkwinan
Kata nikah berasal dari bahasa arab yang didalam bahasa
Indonesia sering diterjemahkan dengan perkawinan

Dengan demikian Pernikahan atau perkawinan dapat didefinisikan
sebagai ikatan batin antara seorang pria dan seorang wanita
dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dunia
dan akhirat serta diikat dengan sebuah perjanjian yang kuat dan
suci yang dengan dihalalkan bagi keduanya hal-hal yang
sebelumnya diharamkan.
Hukum Nikah dalam Islam
Pertama : Mubah / Jaiz (diperbolehkan). Bila seseorang tidak ingin
untuk menikah, baik karena factor kesehatan, usia, dll.
Kedua : Sunnah, apabila seseorang sudah dewasa, sehat, punya
nafkah dan kemauan serta khawatir akan terjerumus ke dalam
perbuatan haram dan maksiat.
Ketiga : Wajib, apabila unsur-unsur dalam hokum sunnah telah
terpenuhi.
Keempat : Makruh, manakala dilakukan oleh orang-orang yang
belum dewasa, berpenyakit, dan belum mampu memberi nafkah
lahir dan batin
Kelima : Haram, ketika seseorang menikah dengan maksud
menelantarkan dan menyakitisalah satu pihak suami, istri atau
mertua.
Rukun Nikah
1. Calon mempelai pria dan wanita .
2. Wali dan calon mempelai wanita
3. Dua orang saksi laki-laki.
4. Adanya ijab, yaitu ucapan penyerahan calon
mempelai wanita dari walinya kepada calon mempelai
pria untuk dinikahi. Dan qabul, yaitu lafadz yang
diucapkan oleh calon suami.

Tujuan Hidup Berkeluarga dalam
Islam
1. Membentuk dan membina keluarga sakinah, mawaddah dan
rohmah.
2. Melanjutkan dan memlihara keturunan umat manusia.
3. Membentengi diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan tercela
lainnya.
4. Menjaga diri dari berbagai fitnah.
5. Menjaga fitrah anak-anak agar tidak melakukan penyimpangan-
penyimpangan.
6. Membina dan membangun keluargaan serta mempererat tali
silaturahmu antar keluarga.
7. Membentuk dan membangun keluarga Islami.
8. Melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah SWT dalam segala
permasalahan rumah tangga.

Fungsi Keluarga dalam Islam
1. Tempat dan sarana mencurahkan perasaan hati dan
pikiran anggota keluarga.
2. Tempat berlindung dan memecahkan masalah yang
muncul dalam keluarga.
3. Tempat pendidikan dan pembinaan anggota keluarga.
4. Tempat melatih diri untuk mengatur, memerhatikan,
mengurus, dan melaksanakan hak-hak anggota
keluarga, sabar terhadap akhlak mereka.


Pembinaan Keluarga Sakinah
5 kriteria membina keluarga sakinah :
1. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan ilmu-ilmu
agama.
2. Mempunyai akhlak mulia, kasih saying dan sopan
santun.
3. Harmonis dalam keluarga, tenang, dan aman.
4. Hemat dan hidup sederhana.
5. Menyadari kesalahan sendiri dan segera
memperbaikinya

Poligami
Islam memandang masalah poligami dari 2 sudut pandang :
1. Secara syarI, dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 3 disebutkan
bahwa bolehnya seorang laki-laki menikahi wanita lebih dari satu
dengan syarat mampu dapat berlaku adil, dengan maksud agar
dapat menjaga pandangan, kemaluan, kesucian, memperbanyak
keturunan dan melindungi kehormatan seorang wanita.
2. Dalam sudut pandang sosial, secara kuantitas jumlah wanita lebih
banyak daripada pria oleh karena itu poligami bias dijadikan salah
satu pertimbangan dalam mengatasi masalah-masalah sosial.
Thalak

Thalak adalah cerai yang dijatuhkan oleh suami terhadap
istrinya. Sehingga perkawinan mereka menjadi putus.
Jenis-jenis Talak :
Talak Raj'i
Talak Battah
Talak Bain
Talak Sunni
Talak Bid'i
Nikah Beda Agama
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita
musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan
orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik,
walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka. sedang Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran."( Q.S Al-Baqarah [2]: 221)

Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan)
Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan
(dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga
kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan
perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang
yang diberi kitab sebelum kamu , apabila kamu membayar mas kawin mereka
untuk menikahinya , tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk
menjadikan perempuan piaraan. Barang siapa yang kafir setelah beriman
maka sungguh, sia-sia amalan mereka dan di hari kiamat dia termasuk orang-
orang yang rugi. (Q.S Al-Maidah[5]:5)
Nikah Beda Agama
Perkawinan antara Pria (NON-MUSLIM) dengan Wanita (MUSLIM)
telah disepakati hukumnya berdasarkan Al-Quran, Hadist, dan oleh
para ahli Fiqh Islam dari semua madzhab, yaitu HARAM (tidak sah).
Sedangkan, perkawinan Pria (MUSLIM) dan Wanita musryikah
(seperti Budha, Hindu, Konghuchu dan lainnya) adalah haram.
Yang diperselisihkan para ulama ialah: Bolehkah laki-laki Muslim
menikah dengan wanita Ahli Kitab (yaitu Yahudi dan Nasrani:
Katolik/Protestan)? Ada yang mengatakan boleh, dengan
bersandarkan kepada firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 5.
Ada pula yang mengatakan tidak boleh.