Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

TINJAUAN TEORI


1.1 Tinjauan Medis
1.1.1 Definisi
CKD (Cronik Kidney Disease) adalah kelainan ginjal berupa kelainan struktural atau
fungsional yang di manifestasikan oleh kelainan patologi atau petanda kerusakan ginjal secara
laboratorik atau kelainan pada pemeriksaan radiologi dengan atau tanpa penurunan fungsi ginjal
yang berlangsung > 3 bulan.
CKD adalah kelainan penurunan LFG < 60 ml/menit per 1.73 m
2
luas permukaan tubuh
selama > 3 bulan tanpa atau dengan kerusakan ginjal
GGK merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat biasanya
berlangsung dalam beberapa tahun ( Lorainne M. Willson, 1999 : 812)
GGK adalah kerusakan pada ginjal yang terus berlangsung dan tidak dapat diperbaiki
yang disebabkan oleh sejumlah kondisi dan akan menimbulkan gangguan multi sistem ( Kep.
Medikal Bedah : Charlene J Reeves, Salemba Merdeka. Jakarta. 2001 ).

1.1.2 Manifestasi Klinis
1) Gangguan pengecapan
2) Tidak nafsu makan
3) Mual mual dan muntah
4) Berat badan turun dan lesu
5) Gatal gatal
6) Gangguan tidur
7) Hipertensi dan vena leher membesar
8) Sesak nafas
9) Perubahan jumlah dan frekuensi urine
10) Nyeri daerah pinggang
11) Pembengkakan kaki dan pergelangan tangan

1.1.3 Etiologi
1) Riwayat diabetes
2) Riwayat hepertensi
3) Kelalinan parenkim ginjal
4) Penyakit ginjal obstruktif

1.1.4 Patofisiologi




1.1.5 Klasifikasi
Klasifikasi berdasarkan test clearents creatinins dan dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
1) 100 76 ml/mnt disebut ginjal berkurang
2) 75 26 ml/mnt disebut insufisiensi ginjal kronik
3) 25 5 ml/mnt disebut gagal ginjal kronik
4) < 5 ml/mnt disebut gagal ginjal terminal

1.1.6 Komplikasi
1) Hipertensi
2) Infeksi traktus urinarius
3) Obstruksi traktus urinarius
4) Gangguan elektrolit
5) Gangguan perfusi ke ginjal


1.1.7 Pemeriksaan Penunjang
1) Radiologi
2) Foto polos abdomen
3) IVP
4) USG
5) EKG
6) Pemeriksaan laboratorium

1.1.8 Penatalaksanaan
1) Tentukan dan tatalaksana terhadap penyebab
2) Obtimalisasi dan pertahankan keseimbangan garam dan cairan
3) Diet tinggi kalori dan rendah protein
4) Kendalikan hipertensi
5) Jaga keseimbangan elektrolit
6) Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK
7) Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal
8) Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi
9) Persiapan program hemodialisis
10) Transplantasi ginjal

1.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1 Pengkajian
1) Breathing
Tachipnea, dispnea, peninggkatan frekuensi dan kedalaman pernafasan (kussmaul), nafas
amonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda (edema paru)
2) Blood
Hipotensi/hipertensi, disritmia jantung, nadi lemah/halus, hipotensi orthostatik (hipovolemia),
hipervolemia (nadi kuat), oedema jaringgan umum, pucat, kecenderungan perdarahan
3) Brain
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, gangguan status mental, penurunan lapang
perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilanggan memori, kacau, penurunan tingkat
kesadaran (azotemia, ketidakseimbanggan elektrolit/asam/basa), kejang, aktivitas kejang
4) Bladder
Perubahan warna urine menjadi lebih pekat/gelap, merah, coklat, berawan, Oliguria ( bisanya 12-
21 hari); poliuria (2-6 l/hari), Perubahan pola kemih : peninggkatan frekuensi, poliuria
(kegagalan dini) atau penurunan frekuensi/oliguria (fase akhir), disuria, ragu-ragu berkemih,
dorongan kurang, kemih tidak lampias, retensi (inflamasi/obstruksi, infeksi),
5) Bowel
Adanya keluhan dari pasien mengenai mual, muntah, anoreksia, abdomen kembung, diare atau
konstipasi
6) Bone
Kulit berwarna pucat, Ekimosis, Urea frost, Bekas-bekas guratan karena gatal

1.2.2 Diagnosa Asuhan Keperawatan
1) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual yang dirasakan oleh pasien.
Tujuan : Nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat
Kriteria hasil :
(1) Pasien mengatakan tidak mual
(2) Pasien menghabiskan porsi makan
(3) Pasien tidak lemas
Rencana Asuha Keperawatan :
(1) Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering
R/ Makan sedikit sedikit memberikan kesempatan pada lambung utuk mengosongkan sehingga
tidak terjadi perasaan penuh pada lambung.
(2) Jauhkan benda benda berbau yang dapat merusak selera makan pasien
R/ Benda yang berbau menyengat bisa mempengaruhi selera makan pasien yang berakibat pasien
malas untuk makan.
(3) Berikan penjelasan pada pasien tentang pentingnya nutrisi bagi kesembuhan
R/ Pasien dapat lebih termotivasi untuk segera sembuh seingga pasien akan kooperatif dalam
perawatan
(4) Libatkan pasien dalam menentukan makanan yang disenangi yang sesuai dengan diet
R/ Memilih makanan yang disenangi membuat pasien merasa memiliki semangat untuk makan
tetapi dalam batas diet yang ditentukan
(5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti mual
R/ Obat anti mual bekerja di hipotalamus yang akan menahan keluarnya faktor mual.

2) Resiko cidera berhubungan dengan kelemahan otot.
Tujuan :
Tidak terjadi cidera selama dalam proses perawatan
Kriteria hasil :
(1) Pasien dapat sembuh tepat waktu
(2) Pasien tidak mengalami cidera selama dalam proses perawatan
Rencana Asuhan Keperawatan
(1) Berikan batas penghalang pada tempat tidur pasien
R/ Batas penghalang akan menghalalangi pasien ketika pasien tidak sadar dari kecelakaan, misl
terjatuh dari tempat tidur
(2) Anjurkan keluarga untuk selalu menmai pasien
R/ Keluarga adalah orang yang dicintai pasein sehingga pasien akan merasa aman dan tidak akan
mendapat cidera
(3) Berikan semua pemenuhan ADL pasien
R/ Pemenuhan semua kebutuhan pasien akan membuat pasien merasa diperhatikan dan tidak
akan mecoba untuk melakukan tindakan sendiri.
(4) Observasi tingkat kesadaran pasien
R/ Observasi berguna dalam memberi penilaian terhadap respon pasien sehingga dapat
digunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

3) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan beban jantung
Tujuan
Pasien tidak merasa sesak
Kriteria Hasil
(1) Pasien mengungkapkan rasa tidak sesak
(2) Tidak terjadi pernafasan cuping hidung
(3) Pasien dapat bernafas tanpa dibatu oksigen
Recana Asuhan Keperawatan
(1) Bantu / latih pasien dalam menggunakan latihan nafas dalam
R/ Menggunakan teknik nafas dalam dapat membuat pasien merasa rilek dan dapat bernafas
dengan efektif dan tenang
(2) Berikan oksigen selama pasien tidak bisa bernafas mandiri, kurangi secara perlahan
R/ Oksigen bantuan akan dapat membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan tubuh akan
oksigen sehingga mencegah terjadinya syok
(3) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pelega pernafasan
R/ Obat pengencer dahak dapat berguna untuk melancarkan jalan nafas karena adanya akumulasi
cairan pada tenggorokan
(4) Berikan pasien posisi semi fowler
R/ Posisi semifowler meningkatkan ekspansi dada sehingga pengembangan paru dalam
mengambil oksigen tidak terlalu berat
(5) Jauhkan dari bau yang menyengat
R/ Bau yang menyengat akan dapat mengganggu pernafasan pasien karena mengganggu pusat
cemas yang akan meningkatkan kerja jantung dan beban paru
(6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik
R/ Obat diuretik akan bekerja dengan jala meningkatkan sekresi air untuk dibuang keluar
sehingga menurunkan kerja jantung.
(7) Batasi minum pasien
R/ Kondisi oedema akan dapat lebih parah jika intake cairan pasien tidak sembang dengan
output pasien terutama pasien dalam kondisi oedema

4) Risiko kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan tekanan osmotik plasma
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan volume cairan stabil
Kriteria hasil :
1) tidak ada odema
2) tidak sesak
3) intake output seimbang
4) nilai pemeriksaan darah dalam batas normal
Intervensi keperawatan
1. Kolaborasi dalam pemasangan catheter
R : pemasangan cateter yang menetap memudahkan dalam melakukan pengukuran intake output
secara tepat
2. Ukur intake dan output
R : Mengetahui status sirkulasi cairan secara adekuat dan mengidentifikasi balance cairan di dalam
tubuh
3. Observasi tekanan darah tiap 4 jam sekali
R : tekanan darah yang meningkat berhubungan dengan kelebihan cairan dan berguna untuk
mengontrol pemberian anti diuretik
4. Pantau derajat oedema
R : Perpindahan cairan pada jaringan akibat dari retensi natrium dan air
5. Anjurkan pasien untuk membatasi intake cairan
R : Meminimalkan retensi cairan dalam area ekstravaskular. Pembatasan cairan untuk memperbaiki
pengenceran hiponatremia
6. Kolaborasi dalam terapi diuretik
R : diuretik dapat mengontrol odema / megeluarkan cairan dari dalam tubuh sehingga mengurangi
sesak akibat kelebihan cairan

5) Konstipasi berhubungan dengan perubahan motilitas usus.
Tujuan
Pasien dapat melakukan defekasi secara adekuat
Kriteria Hasil
(1) Pasien mengungkapkan BAB lancar
(2) Pasien tidak merasa nyeri perut
Rencana Asuhan Keperawatan
(1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
R/Obat yang diberikan bekerja dengan menghancurkan pengerasan feses dan peningkatan
motilitas usus
(2) Lakukan enema bila memungkinkan
R/ Enema dapat melunakan feses sehingga mudah untuk keluar
(3) Anjurkan pasien untuk makan makanan tinggi serat
R/ makan makanan yang berserat meningkatkan motilitas usus
(4) Anjurkan pasien untuk makan makanan dengan sayur
R/ Makanan kering hanya akan menambah penumpukan feses karena kurangnya cairan yang
melunakan feses

1.2.3 Evaluasi
1) Nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat
2) Pasien tidak mengalami cidera selama proses perawatan
3) Pasien dapat melakukan aktifitas tanpa sesak
4) setelah diberikan tindakan keperawatan volume cairan stabil
5) Pasien dapat melakukan aktivitas BAB dengan lancar





DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Evelyn C.pearce (1999), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.
Gallo, J.J (1998). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James Veldman. EGC. Jakarta
Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta : EGC
Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta
Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. (1996). Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes.
Tuti Pahria, dkk, (1993). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan, Jakarta,
EGC.