Anda di halaman 1dari 22

Memiliki bayi baru adalah suatu kebahagian tersendiri.

Rasanya ingin yang terbaik untuk


bayi baru lahir kita. Ingin memproteksinya dari segala sesuatu yang dapat
membahayakannya. Bukan sebuah hal yang berlebihan jika anda melakukan hal tersebut,
mengingat bayi baru lahir memang masih dalam kondisi yang rentan. Teori 2/3
mengemukakan bahwa hampir 2/3 kematian bayi terjadi pada masa neonatal (0-28 hari) dan
2/3 dari kematian neonatal terjadi di minggu pertama ( 0-7 hari). Hal ini tentunya membuat
kita sebagai orang tua harus ebih ekstra dalam memperhatikan kondisi kesehatan bayi kita.
Berikut berapa tanda yang perlu anda perhatikan dalam mengenali kegawatan pada bayi baru
(neonatus) :
1. Bayi tidak mau menyusu
Anda harus merasa curiga jika bayi anda tidak mau menyusu. Seperti yang kita ketahui
bersama, ASI adalah makanan pokok bagi bayi, jika bayi tidak mau menyusu maka asupan
nutrisinya kan berkyrang dan ini akan berefek pada kondisi tubuhnya. Biasanya bayi tidak
mau menyusu ketika sudah dalam kondisi lemah, dan mungkin justru dalam kondisi dehidrasi
berat.
2. kejang
Kejang pada bayi memang terkadang terjadi. Yang perlu anda perhatikan adalah bagaimana
kondisi pemicu kejang. Apakah kejang terjadi saat bayi demam. Jika ya kemungkinan kejang
dipicu dari demamnya, selalu sediakan obat penurun panas sesuai dengan dosis anjuran
dokter. Jika bayi anda kejang namun tidak dalam kondisi demam, maka curigai ada masalah
lain. Perhatikan freksuensi dan lamanya kejang, konsultasikan pada dokter.
3. lemah
Jika bayi anda terlihat tidak seaktif biasanya, maka waspadalah. Jangan biarkan kondisi ini
berlanjut. Kondisi lemah bisa dipicu dari diare, muntah yang berlebihan ataupun infeksi
berat.
4. sesak nafas
Frekuensi nafas bayi pada umumnya lebih cepat dari manusia dewasa yaitu sekitar 30-60 kali
per menit. Jika bayi bernafas kurang dari 30 kali per menit atau lebih dari 60 kali per menit
maka anda wajib waspada. Lihat dinding dadanya, ada tarikan atau tidak.
5. merintih
Bayi belum dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ketika bayi kita merintih terus
menerus kendati sudah diberi ASI atau sudah dihapuk-hapuk, maka konsultasikan hal ini
pada dokter. Bisa jadi ada ketidaknyamanan lain yang bayi rasakan.
6. pusar kemerahan
Tali pusat yang berwarna kemerahan menunjukkan adanya tanda infeksi. Yang harus anda
perhatikan saat merawat tali pusat adalah jaga tali pusat bayi tetap kering dan bersih.
Bersihkan dengan air hangat dan biarkan kering. Betadin dan alcohol boleh diberikan tapi
tidak untuk dikompreskan. Artinya hanya dioleskan saja saat sudah kering baru anda tutup
dengan kassa steril yang bisa anda beli di apotik.
7. demam atau tubuh merasa dingin
Suhu normal bayi berkisar antara 36,5
0
C 37,5
0
C. Jika kurang atau lebih perhatikan kondisi
sekitar bayi. Apakah kondisi di sekitar membuat bayi anda kehilangan panas tubuh seperti
ruangan yang dingin atau pakaian yang basah.
8. mata bernanah banyak
Nanah yang berlebihan pada mata bayi menunjukkan adanya infeksi yang berasal dari proses
persalinan. Bersihkan mata bayi dengan kapas dan air hangat lalu konsultasikan pada dokter
atau bidan.
9. kulit terlihat kuning
Nanah yang berlebihan pada mata bayi menunjukkan adanya infeksi yang berasal dari proses
persalinan. Bersihkan mata bayi dengan kapas dan air hangat lalu konsultasikan pada dokter
atau bidan.
















KEBIDANAN
Minggu, 26 Februari 2012
KEGAWATDARURATAN NEONATUS

KEGAWATDARURATAN NEONATUS

A. PENANGANAN HI POGLUKEMI
a. Bila gadar gula darah < 25 mg
Pasang jalur IV bila belum terpasang
Beri glukosa 10% 2 ml IV bolus pelan dalam 5 menit
Kalau Jalur IV tidak cepat, berikan melaui NGT dengan dosis sama
Infuse glukosa 10%
Cek kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus, kemudian per 3 jam
Lanjutkan infus
b. Bila kadar darah 25-45 mg
Lanjutkan infuse
Cek glukosa dalam per 3 jam hingga 45 mg/dl atau lebih
c. Kadar gula darah 45 mg
Jika bayi mendapat cairan IV : cek per 12 jam
Jika bayi tidak mendapat cairan IV cek per 12 jam, 2x
- Jika turun : tangani
- Jika normal : hentikan pengukuran

B. KLASI FI KASI SUHU TUBUH ABNORMAL DAN GEJ ALANYA
a. Hipotermi sedang : dimana suhu BBL 36-36
4 0
C
Gejala :
Suhu 36-36
4 0
C
Akral dingin
Gerakan bayi kurang normal
Kemampuan menghisap lemah
Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata)
Tangisan lemah
Aktivitas berkurang latarghi
Penanganan :
Ganti pakaian dingin dan basah dengan pakaian hangat
Bila ada ibu/pengganti ibu, KMC/perawatan bayi lekat bila tidak ada ibu
Hangatkan dengan alat pemancar panas/incubator
Cek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, berikan ASI peras
Hindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisi
ASI lebih sering
Minta ibu mengenalai kegawatan dan segera cari pertolongan bila ada
b. Hipotermi berat : dimana suhu BBL < 36
0
C
Gelaja :
Suhu < 36
0
C
Seluruh tubuh teraba dingin
Mengantuk/letargis
Sklerema (ada bagian tubuh yang mengeras dan berwarna merah)
Bibir dan kuku kebiruan
Pernapasan lambat
Pernapasan tidak teratur
Bunyi jantung lemah/lambat
Mungkin timbul hipoglukemia dan asidosis metabolik
Penanganan :
Hangatkan tubuh bayi
Jika 1 jam suhu tidak naik, rujuk segera
Pertahankan kadar gula darah
Anjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan rujukan
Lakukan rujukan segera
c. Hipertermi : dimana suhu bayi > 37
5 0
C
Gejala :
Suhu > 37
5 0
C
Terdapat tanda-tanda dehidrasi
- Elastisitas kulit menurun
- Mata dan ubun-ubun besar cekung
- Lidah dan membrane mukosa kering
- BB menurun
- Banyaknya air berkemih berkurang
Malas minum
RR > 60 x/menit
Letarghi
Irritable
Penanganan :
Bayi dipindahkan keruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar 26-28
0
C
Tubuh bayi di seka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normal

C. HI PERTERMI KARENA PAPARAN PANAS DAN BUKAN PAPARAN PANAS
Karena paparan panas
Letakkan pada suhu ruangan (25-28
0
C)
Lepaskan sebagian/seluruh pakaian
Cek suhu aksila /jam
Bila > 39
0
C kompres/mandikan dalam air yang suhunya 4
0
C lebih rendah dari tubuh bayi
Jangan gunakan air dingin
Turunkan suhu penghangat
Buka inkubator sampai dengan suhu normal
Lepaskan sebagian /seluruh pakaian dalam 10 menit
Cek suhu/jam sampai dengan normal
Cek suhu inkubator /jam sampai dengan normal
Bukan kerena paparan panas
Tepai untuk suspect sepsis
Letakkan pada suhu ruangan (25-28
0
C)
Lepaskan sebagian seluruh pakaian
Cek suhu aksila/jam

D. PENANGANAN HI POTERMI SEDANG DAN BERAT
Penanganan hipotermi sedang
Ganti pakaian dingin dan basah dengan pakaian hangat
Bila ada ibu/penggati ibu, KMC/perawatan bayi lekat
Bila tidak ada ibu
Hangatkan dengan alat pemancar panas/inkubator
Cek suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI peras
Hindari paparan panas yang berlebihan dan sering ubah posisi
ASI lebih sering
Minta ibu mengenali kegawatan dan segera cari pertolongan bila ada
Penanganan hipotermi berat
Hangatkan tubuh bayi
Bila 1 jam suhu tubuh tidak naik, segera rujuk
Pertahankan kadar gula darah
Anjurkan ibu menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan rujukan
Lakukan rujukan segera

E. CARA MENGHANGATKAN BAYI
Kontak kulit dengan kulit
KMC/kangaroo mother care
Pemancar panas
Inkubator
Ruangan yang hangat
Tempatkan bayi diruangan yang hangat, jangan ber AC
Menyusui juga bisa membuat si kecil merasa hangat
Gunakan tutup kepala karena 25% panas hilang pada bayi baru lahir melalui kepala
Dekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke suatu sisi
Metode ini dapat dilakukan pada ibu, bapak/anggota keluaraga dewasa lainnya
(Sudoyo, Ari. W dkk, )
Kontak Kulit dengan kulit
Kontak kulit bayi dengan ibu dapat mempertahankan suhu bayi dan mencegah bayi kedinginan. Keuntungan selain bisa
memberikan kehangatan bayi juga akan lebih sering menetek, banyak tidur, tidak rewel dan kenaikan BB lebih cepat.


KMC (perawatan bayi lekat/PBL)
- Kontak kulit ibu-bayi secara dini terus menerus dikombinasi ASI ekslusif
- Untuk menstabilkan bayi hingga BB 2500 gr
- Tidak untuk ibu yang memiliki penyakit berat
- Tidak untuk bayi sehat (sepsis atau gangguan napas berat)
- Dirokemndasikan pada bayi dengan BB < 1800 gr
Pemancar panas
Untuk bayi sakit dengan BB 1500 gr
Untuk pemeriksaan awal bayi
Selama dilakukan tindakan
Menghangatkan kembali bayi hipotermi
Suhu ruangan minimal 22
0
C
Atur suhu (36-37
0
C)
Inkubator
Penghangatan berkelanjutan dengan BB < 1500 gr
Untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan nafas berat)
Ruangan Yang Hangat
Untuk merawat bayi dengan BB < 2500 gr yang tidak memerlukan tindakan diagnostic/prosedur pengobatan
Tidak untuk bayi sakit berat
Paling rendah 26
o
C
BBl 1500 1000 suhu ruangan 28 30
o
C
BBl> 2000 suhu ruangan 26 28
o
C

F. I KTERUS FI SI OLOGI S DAN PATOLOGI S
Ikterus Fisiologis
Ikterus yang timbul pada hari ke 2 dan ke 3
Tidak mempunyai dasar patologis
Keadaannya tidak melampaui kadar kadar yang membahayakan
Tidak mempunyai potensi menjadi Kern Ikterus
Tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi
Umumnya terjadi pada BBL, kadar Bilirubin tak terkonjugasi pada minggu pertama > 2 mg/dl. Pada bayi cukup bulan yang
mendapat susu formula kadar bilirubin akan mencapai puncak sekitar 6 -8 mg/dl pada hari ke 3, kemudian akan menurun cepat
selama 2 3 hari diikuti dengan penurunan yang lambat sebesar 1 mg/dl selama 1 2 Minggu. Pada bayi cukup bulan yang
mendapat ASI kadar Bilirubin akan mencapai kadar yang lebih tinggi (7 14 MS/dl) dan penurunan terjadi lebih lambat. Bisa
terjadi dalam waktu 2 4 Minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu.
Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam
Setiap peningkatan kadar Bilirubin serum yang memerlukan Fototweraphy
Peningkatan kadar Bilirubin total serum 0,5 mg/dl/jam
Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi (muntah, lerargis, malas menetek, penurunan BB yang cepat, apnea,
Takipnea/suhu yang tidak stabil)
Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan/setelah 14 hari pada bayi kurang bulan
Ikterus disertai BB < 2000 gr, massa sestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom yang pernafasan, infeksi.
Ikterus Patologis
Ikterus yang mempunyai dasar Patologis
Kadar Bilirubinnya mencapai nilai hiperbilirubinemia

MACAM-MACAM I KTERUS
a. Ikterus Hemolitik
b. Ikterus Berkepanjangan
c. Ikterus Prematuritas
d. Kern Ikterus

I KTERUS HEMOLI TI K DAN PENANGANANNYA
Ikterus Hemolitik : Ikterus ikterus yang timbul saat Bayi Baru Lahir yang timbul < 24 jam
Tanda-tandanya
Pucat saat lahir
HB< 13 g/dl
Test Comb (-)
Penanganan
Terapi sinar bila kadar Bilirubin sesuai indikasi
Rujuk untuk transfusi tukar
Hindari obat Antimalaria, golongan sulfa, Aspirin untuk mencegah krisis hemolisis
Transfusi darah bila HB < 12 g/dl
Setelah terapi sinar dihentikan
Observasi 24 jam, cek kadar bilirubin
Bila ikterus lagi, lihat kadar bilirubin apakah perlu terapi sinar lagi
Ulangi terus sampai kadar bilirubin normal
Bila kencing gelap, feces pucat tangani sebagai prolonged jaundice
Follow up cek Hb/mg selama 4 mgg
Bila Hb < 19 gr beri transfusi darah

PROLONGED J AUNDI CE DAN PENANGANANNYA
Prolonged Jaundice : Jika > 2 minggu masih Ikterus/terus berlanjut
Tanda-tandanya
Aterm 2 minggu masih Ikterus
Urobilin : urin yang pekat Bilirubin
Feses pucat
Bilirubin Direct
Penanganan
Hentikan terapi sinar
Bila feses pucat, kencing kuning gelap, rujuk ke RS rujukan tingkat III atau dengan fasilitas pelayanan specialis untuk pemantauan
selanjutnya
Bila ibu dengan tes sifilis (+) berikan terapi pada bayi untuk sifilis congenital

KERN I KTERUS DAN PENANGANANNYA
Kern Ikterus : Suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin indirek pada otak. Kern Ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan
pada neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg %) dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada
autopsyditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern Ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf spatis yang terjadi secara kronik.

Usia bayi (jam) Pertimbangan
terapi sinar
Terapi sinar Transfuse tukar
bila terapi sinar
intensif gagal
Transfuse tukar
dan terapi sinar
intensif
Kadar Bilirubin Indirek
serum
Mg/dl
< 24
25 48 > 9 > 12 > 20 > 25
49 72 > 12 > 15 > 25 > 30
> 72 > 15 > 17 > 25 > 30

Bayi lahir kurang bulan perlu fototerapi jika :
Usia (Jam) Berat lahir < 1500 g
kadar bilirubin
BL 1500 2000 g kadar
bilirubin
BL > 2000 g kadar
bilirubin
< 24 > 4 > 4 > 5
25 48 > 5 > 7 > 8
49 72 > 7 > 8 > 10
> 72 > 8 > 9 > 12



Tanda-tandanya
Tidak mau menghisap
Letarghi
Mata berputar
Gerakan tidak menentu (involuntary movements)
Kejang
Tonus otot meninggi
Leher kaku dan akhirnya opistotonus
Penanganan
Tangani kejang
Lanjutkan terapi sinar sampai dengan kadar Bilirubin Normal dengan menggunakan lampu, tidak lebih 500 jam (untuk
menghindari turunnya energy yang dihasilkan lampu.
Tekniknya Dalam Melakukan Fototeraphy
Buka pakaian bayi agar seluruh bagian tubuh bayi kena sinar
Tutup kedua mata dan gonad dengan penutup yang memantulkan cahaya
Jarak bayi dengan lampu + 40 cm
Ubah posisi tiap 6 jam
Periksa kadar bilirubin tiap 8 jam/min 1 x 24 jam
Lakukan cek Hb berkala
Lakukan observasi dan catat lama Fototeraphy
Sediakan lampu 20 watt (8 10 bulan) di susun paralel
Beri cukup ASI demngan mengeluarkan dari tempat dan membuka tutup mata, serta observasi ada tidaknya iritasi
Pemeriksaan tonus otot atau tingkat kesadaran
I KTERUS PREMATUS DAN PENANGANANNYA
Ikterus Prematur : Ikterus yang timbul pada hari ke 2 5 yang terjadi pada bayi kecil < 2500 gr dengan UK < 37 Mingu
Penanganan
Terapi sinar bila kadar bilirubin sesuai
Bila usia < 3 hari saat terapi sinar dihentikan, pantau Ikterus selama 24 jam berikutnya
Bila> 3 minggu, kencing gelap, feses pucat tangani sebagai prolonged jaundice
G. TRANSFUSI TUKAR
Transfusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan dengan pengambilan darah dari donor
dalam jumlah yang sama yang dilakukan berulang-ulang sampai sebagian besar darah penderita tertukar
Pada hiperbilirubinemia, tindakan ini bertujuan mencegah, terjadinya ensefalopati bilirubin dengan cara mengeluarkan bilirubin
indirek dan sirkulasi. Pada bayi dengan isoimunisasi, transfuse tukar memiliki manfaat tambahan karena membantu mengeluarkan
antibody maternal dari sirkulasi karena membantu mengeluarkan antibodi maternal dan sirkulasi bayi sehingga mencegah hemolisis
lebih lanjut dan memperbaiki anemia.
Teknik Transfusi Tukar
Simple Double volume push pull Tehnique jarum infus dipasang melalui kateter vena umbilikalis/vena saphena magna. Darah
dikeluarkan dan dimasukkan bergantian
Isovolumetric : Darah secara bersamaan dan simultan dikeluarkan melalui arteri umbilikalis dan dimasukkkan melalui vena
umbilikalis dalam jumlah yang sama
Partial Exchange Transfusion : Transfusi Tukar sebagian, dilakukan biasanya pada bayi dengan polisitemia di Indonesia. Untuk
kedaruratan, Transfusi Tukar pertama menggunakan golongan darah orhesus positif. (Sukardi, Abdurrahman dkk. 2000)
Transfusi Tukar harus dihentikan apabila :
Emboli (emboli, bekuan darah), Trombosis
Hiperkalemia, Hipernatremia, hipokalsemik, Asidosis, Hipoglikemia
Gangguan pembekuan karena pemakaian Heparin
Perforasi pembuluh darah
Komplikasi Transfusi Tukar
Vaskular : Emboli udara/Trombus, Trombosis
Kelainan jantung : aritmia, overload, henti jantung
Gangguan Elektrolit : Hipo/Hiperkalsemia, Hipernatrem dan Asidosis
Koagulasi : Trombositopenia, hepatinisasi berlebih
(Sukardi, Abdurrahman dkk. 2000)
H. MASALAH YANG DI HADAPI PADA BAYI LETARGHI
Iri Table mudah terangsang, sering menangis tanpa seba
Mengantuk
Aktivitas berkurang
Tidak sadar : Tidur yang dalam tidak merespons stimuli, tidak bereaksi terhadap rangsangan sakit
LETARGHI KARENA SEPSI S
Beri cairan IV
Puasakan 12 jam
Ambil sample darah lab. Kultur dan Hb
Bila kejang dan ubun-ubun besar menonjol
- Lumbal pungsi : lab. Tx meningitis
Bila Hb < 10 gr%, Hematokrit < 30%
- Tranfusi
Beri antibiotic yang sesuai
Beri ASI setelah 12 jam/mulai membaik
Obs. 24 jam, bila membaik pulang
Ulang bila masih ada tanda inf
Cek Hb dan Hematokrit 2xselama perawatan dan akan pulang
LETARGHI KARENA ASFI KSI A
Anamnesisi : - Resusitasi waktu lahir/tidak ada nafas spontan paling tidak menit setelah terakir
- Riwayat ibu infeksi intia uteri, demam curiga infeksi berat/KP
- Malas minum/tidak mau minum


Pemeriksaan : - Bayi tampak sakit
- Mengantuk/aktivitas menurun
- Iritable/gelisah
- Latergi/rapuh
- Gemetar
- Tiba-tiba kondisi memburuk
- Tanda-tanda progresif (suhu labil dan atau apnea)
I. MANAGEJ EMENT UMUM LATERGHI KARENA OBAT
Bila RR < 30 x/menit, beri O2
Bila bayi tidak bernapas/megap-megap CER < 20 x/menit lakukan resusitasi dengan balon dan sungkup)
Bila masih letarghi setelah 6 jam, tangani sesuai dengan dugaan sepsis/asfiksia
Managejement umum laterghi
Ambil sampel darah, cek kadar glukosa darah, bila < 45 g/dl (2,6 mol/l) tangani untuk hipoglukemia
Beri dukungan pada ibu untuk menyusui
Nilai tonus dan aktivitas bayi minimal 1x/hari
Bila tampak layuh/letarghi, hari-hari saat mengangkat dan mangubah posisi bayi, tahan seluruh tubuh, terutama kepala
Tentukan kemungkinan diagnosis
Letarghi : keadaan lemah badan dan tidak ada dorongan untuk melakukan kegiatan nafsu tidur berlebihan (apabila dibangunkan langsung tertidur
kembali, muncul pada penderita penyakit otak/keracunan (Surasmin, 2003).
Management umum letarghi karena suspect sepsis
Beri cairan IV
Puasakan 12 jam
Ambil sample darah : lab. Kultur dan Hb
Bila kejang dan ubun-ubun besar menonjol : lumbal pungsi : lab Tx meningitis
Bila Hb < 10 gr % Hematokrit < 30 % : tranfusi

Management umum letarghi karena hipoglukemi
Beri antibiotik yang sesuai
Beri ASI setelah 12 jam/mulai membaik
Observasi 24 jam, membaik pulang
Ulangi bila masih ada tanda infeksi
Cek Hb dan Hematokrit selama perawatan dan akan pulang
penanganan dehidrasi berat pada bayi usia <12 bulan, jika jarak ke RS 1 jam, bidan punya NGT.
Beri rehidrasi dengan orait melalui NGT 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg BB)
Periksa tiap 1-2 jam
Bila muntah terus dan perut semakin kembung, beri cairan leboh lambat
Jika dalam 3 jam tidak membaik, rujuk untuk pengobatan intravena
Periksa bayi setelah 6 jam/anak setelah 3 jam, klasifikasi lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi
J. VENA SECTI ON
Suatu prosedur untuk mendapatkan akses memasukkan cairan infuse melalui intravena. Apabila dengan pemasangan infuse
intravena yang langsung mengalami kegagalan/membutuhkan waktu yang lama. Maka salah satu alternatifnya adalah dengan vena
section (Ilmu Kesehatan Anak).
Bagaimana penanganan dehidrasi berat
a. Bila dapat memberikan cairan IV
Beri cairan IV secepatnya (100 ml/kg BB ; RL/NaCl)
usia
< 12 bulan


1-5 tahun
1 jam
(30 tetes mikro/menit)

30 menit
5 jam
(5 tetes makro/menit)
(14 tetes mikro/menit)
2,5 jam
Ulangi bila belum membaik
Beri oralit bila masih bisa minum
Periksa tiap 1-2 jam
Jika belum membaik beri tetesan cairan IV lebih cepat hingga nadi lebih kuat
Beri oralit 5 ml/kg BB segera setelah anak mau minum
Bayi : 3-4 jam
Anak : 1-2 jam
Periksa bayi setelah 6 jam/ anak setelah 3 jam, klasifikasikan lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi
Membaik/tidak lakukan rujukan segera
Bila tidak dapat memberikan cairan IV
b. Apakah ada fasilitas pemberian cairan IV terdekat? (30 menit)
Ya
Rujuk segera untuk mendapatkan cairan IV
Jika anak masih bisa minum bekali oralit untuk diminum selama dalam perjalanan
Bila tidak ada fasilitas pemberian cairan terdekat
c. Apakah anda terlatih memasang pipa NGT?
Ya (dan anak bisa minum)
Beri rehidrasi dengan oralit melalui NGT 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg BB)
Periksa tiap 1-2 jam
Bila muntah terus dan perut semakin kembung, berarti cairan lebih lambat
Jika dalam 3 jam tidak membaik, rujuk untuk pengobatan intravena
Periksa bayi setelah 6 jam/anak setelah 3 jam
Klasifikasi lagi derajat dehidrasi, pilih rencana terapi
Komplikasi Dehidrasi Berat
Hipernatremia
Hiponatremia
Demam
Oedem
Asidosis
Hipokalemia
Kejang
Mal absorbsi dan intoleransi laktosa
Mal absorbsi glukosa
Muntah
Gagl ginjal akut (GGA)
Tanda-tanda dehidrasi berat
Gelisah, bingung/mengantuk
Mulut, kulit dan membran lendir yang sangat kering
Tidak/kurang berkeringat
Sedikit/tidak berkemih dan urin yang keluar berwarna gelap
Mata cekung
Kulit kering dan berkurang kekenyalannya
Pada bayi ubun-ubunnya bila diraba akan terasa cekung
Tekanan darah rendah
Detak jantung cepat
Demam
Terjadi hilangnya kesadaran
(Khosim, M. Sholeh, dkk, 2008).





mujahidatul musfiroh
ambil yang baik
Home

About
ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN
KONDISI-KONDISI YANG MENYEBABKAN KEGAWATDARURATAN
NEONATUS
Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 36
0
C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.
Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low
reading termometer) sampai 25
0
C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan
awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya
metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen
dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat
ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis, kondisi
neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat setelah
kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.
Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan
hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis
hipotermia:
a. Hipotermia sedang (suhu tubuh 32
0
C <36
0
C ), tanda-tandanya antara lain : kaki teraba
dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau
disebut kutis marmorata.
b. Hipotermia berat (suhu tubuh < 32
0
C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan
hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung
lambat, terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
c. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan
berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul
edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)
2. Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia
terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan
panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan
membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi
akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang mempunyai
panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak terkendali dan
menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi negative obat jarang
terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna yang
merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran
pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-
tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan
serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal
ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia
dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan jantung.
Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengakibatkan
kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban,
terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal,
ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.
3. Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam plasma
darah berlebihan.
Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia biasanya
disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada sel. Kadar
insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan tubuh
mengkonversi glukosa menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak mungkin
untuk menghilangkan kelebihan glukosa dari darah.
Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri
(sering buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi
penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang,
kussmaul hiperventilasi, arrhythmia, pingsan, koma.
4. Tetanus neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan
karena basil klostridium tetani.
Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu
seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang
disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut,
alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan : bersihkan jalan napas, longgarkan atau buka p akaian
bayi, masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi, ciptakan
lingkungan yang tenang dan berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil
Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus,
kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi
abnormal dari vili khorialis).
Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre eklampsi,
eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat implantasi),
plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks), insertio
velamentosa, ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).
Submit Comment





































BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap bayi baru lahir akan mengalami bahaya jiwa saat proses kelahirannya. Ancaman jiwa
berupa kamatian tidak dapat diduga secara pasti walaupun denagn bantuan alat-alat medis modern
sekalipun,sering kali memberikan gambaran berbeda tergadap kondisi bayi saat lahir.
Oleh karena itu kemauan dan keterampilan tenaga medis yang menangani kelahiran bayi
mutlak sangat dibutuhkan, tetapi tadak semua tenaga medis memiliki kemampuan dan keterampilan
standart, dalam melakukan resusitasi pada bayi baru lahir yang dapat dihandalkan, walaupun
mereka itu memiliki latar belakang pendidikan sebagai profesional ahli.
Salah satu penyebab kedawat daruratan pada bayi baru lahir adalah sbb:
1. Hipotermia.
2. Hipertermia.
3. Hiperglikemia.
4. Tetanus Neonaturum.
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penyebab kegawatdaruratan pada neonatus?
2. Bagaimana kondisi-kondisi yang menyebabkan kegawatdaruratan pada neonatus?
3. Bagaimana penanganan kegawatdaruratan pada neonatus?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab kegawatdaruratan pada neonatus.
2. Untuk mengetahui kondisi-kondisi yang menyebabkan kegawatdaruratan pada neonatus.
3. Untuk mengetahui penanganan kegawatdaruratan pada neonatus.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Neonatus
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim. Pada masa
ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system. Neonatus bukanlah miniatur orang
dewasa, bahkan bukan pula miniatur anak. Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan
didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri.
Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Transisi ini hampir meliputi
semua sistem organ tapi yang terpenting bagi anestesi adalah system pernafasan sirkulasi, ginjal dan
hepar. Maka dari itu sangatlah diperlukan penataan dan persiapan yang matang untuk melakukan
suatu tindakan anestesi terhadap neonatus.

B. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kegawatdaruratan pada Neonatus
1. Faktor Kehamilan
a. Kehamilan kurang bulan.
b. Kehamilan dengan penyakit DM.
c. Kehamilan dengan gawat janin.
d. Kehamilan dengan penyakit kronis ibu.
e. Kehamilan dengan pertumbuhan janin terhambat.
f. Kehamilan lebih bulan.
g. Infertilitas
2. Faktor pada Partus
a. Partus dengan infeksi intrapartum.
b. Partus dengan penggunaan obat sedatif
3. Faktor pada Bayi
a. Skor apgar yang rendah.
b. BBLR.
c. Bayi kurang bulan.
d. Berat lahir lebih dari 4000gr.
e. Cacat bawaan.
f. Frekuensi pernafasan dengan 2x observasi lebih dari 60/menit

C. Kondisi-Kondisi Yang Menyebabkan Kegawatdaruratan Neonatus
1. Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 36
0
C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.
Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low
reading termometer) sampai 25
0
C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan
awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya
metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen
dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat
ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis, kondisi
neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat setelah
kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.
Penanganan hipotermia ditujukan pada:
a. Mencegah hipotermia,
b. Mengenal bayi dengan hipotermia,
c. Mengenal resiko hipotermia,
d. Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis hipotermia:
1) Hipotermia sedang (suhu tubuh 32
0
C - <36
0
C ), tanda-tandanya antara lain : kaki teraba dingin,
kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis
marmorata.
2) Hipotermia berat (suhu tubuh < 32
0
C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan hipotermia
sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung lambat, terkadang
disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
3) Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan berwarna
merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada
punggung, kaki dan tangan (sklerema).
2. Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia
terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan panas.
Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan membutuhkan
perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi
akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang mempunyai
panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak terkendali dan
menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi negative obat jarang
terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna yang merupakan
komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran
pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-tanda
dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan serangan panas
dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal ini dapat
menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia dan tachypnea
dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan jantung. Penurunan tekanan darah
dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-
biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban, terutama anak-anak kecil,
mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal, ketidaksadaran dan koma akan
menghasilkan.
3. Hiperglikemia
Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam plasma
darah berlebihan.
Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia biasanya
disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada sel. Kadar insulin
rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan tubuh mengkonversi glukosa
menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak mungkin untuk menghilangkan
kelebihan glukosa dari darah.
Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri (sering
buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi penyembuhan
luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang, kussmaul hiperventilasi,
arrhythmia, pingsan, koma.
4. Tetanus neonaturum
Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan
karena basil klostridium tetani.
Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu
seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang disertai
sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut, alis mata
terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan :
a. bersihkan jalan napas,
b. longgarkan atau buka pakaian bayi,
c. masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut
bayi,
d. ciptakan lingkungan yang tenang dan
e. berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil
Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus,
kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi abnormal
dari vili khorialis).
Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre eklampsi,
eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat implantasi),
plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks), insertio velamentosa,
ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).
6. Sindrom Gawat Nafas Neonatus
a. Definisi
Sindrom gawat nafas neonatus merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau
hiperapnea dengan frekuensi pernafasan lebih dari 60 kali per menit, sianosis, merintih, waktu
ekspirasi dan retraksi di daerah epigastrium, interkostal pada saat inspirasi Penyakit Membran Hialin
(PMH).
Penyebab kelainan ini adalah kekurangan suatu zat aktif pada alveoli yang mencegah kolaps
paru. PMH sering kali mengenai bayi prematur, karena produksi surfaktan yang di mulai sejak
kehamilan minggu ke 22, baru mencapai jumlah cukup menjelang cukup bulan.

b. Patofisiologi
Penyebab PMH adalah surfaktan paru. Surfaktan paru adalah zat yang memegang peranan
dalam pengembangan paru dan merupakan suatu kompleks yang terdiri dari protein, karbohidrat,
dan lemak. Senyawa utama zat tersebut adalah lesitin. Zat ini mulai di bentuk pada kehamilan 22-24
minggu dan mencapai maksimum pada minggu ke 35. Fungsi surfaktan adalah untuk merendahkan
tegangan permukaan alveolus akan kembali kolaps setiap akhir ekspirasi, sehingga untuk bernafas
berikutnya di butuhkan tekanan negatif intrathoraks yang lebih besar dan di sertai usaha inspiarsi
yang lebih kuat. Kolaps paru ini menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia,
retensi CO2. dan oksidosis.
c. Prognosis
Prognosis bayi dengan PMH terutama ditentukan oleh prematuritas serta beratnya penyakit.
Bayi yang sembuh mempunyai kesempatan tumbuh dan kembang sama dengan bayi prematur lain
yang tidak menderita PMH.
d. Gambaran Klinis
PMH umumnya terjadi pada bayi prematur dengan berat badan 1000-2000 gram. Atau masa
generasi 30-36 minggu. Gangguan pernafasan mulai tampak dalam 6-8 jam pertama setelah lahir
dan gejala yang karakteritis mulai terlihat pada umur 24-72 jam.
e. Pemeriksaan Diaknostik
Foto thorak
Atas dasar adanya gangguan pernafasan yang dapat di sebabkan oleh berbagai penyebab
dan untuk melihat keadaan paru, maka bayi perlu dilakukan pemeriksaan foto thoraks.
Pemeriksaan darah : perlu pemeriksaan darah lengkap, analisis gas darah dan elektrolit.
f. Penatalaksanaan
Tindakan yang perlu dilakukan :
1) Memberikan lingkungan yang optimal, suhu tubuh bayi harus dalam batas normal (36.5-37oc) dan
meletakkan bayi dalam inkubator.
2) Pemberian oksigen dilakukan dengan hati-hati karena terpengaruh kompleks terhadap bayi
prematur, pemberian oksigen terlalu banyak menimbulkan komplikasi fibrosis paru, kerusakan retina
dan lain-lain.
3) Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk mempertahankan hemeostasis dan
menghindarkan dehidrasi. Permulaan diberikan glukosa 5-10 % dengan jumlah 60-125 ML/ Kg BB/
hari.
4) Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Penisilin dengan dosis 50.000-10.000 untuk
/ kg BB / hari / ampisilin 100 mg / kg BB/ hari dengan atau tanpa gentasimin 3-5 mg / kg BB / hari.
5) Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian surfaktan ekstrogen ( surfaktan
dari luar).
Keperawatan
Pada umumnya dengan BB lahir 1000-2000 gr dan masa kehamilan kurang dari 36 minggu.
1) Bahaya kedinginan
Bayi PMH adalah bayi prematur sehingga kulitnya sangat tipis, jaringan lemak belum berbentuk
dan pusat pengatur suhu belum sempurna. Akibatnya bayi dapat jatuh dalam keadaan cold injury,
sianosis, dispnea, kemudian apnea. Untuk mencegah harus dirawat dalam inkubator yang dapat
mempertahankan suhu bayi 36.5-37oc
2) Resiko terjadi gangguan pernafasan
Gejala pertama biasanya timbul dalam 4 jam setelah lahir. Tata laksana perawatan bayi
prematur adalah
a) Dirawat dalam inkubator dengan suhu optimum.
b) Bila bayi mulai terlihat sianosis, dispnea / hiperapsnea segera berikan oksigen.
3) Kesukaran dalam pemberian makanan
Untuk memenuhi kebutuhan kalori maka dipasang infus dengan cairan glukosa 5-10 %. Makanan
bayi yang terbaik adalah asi. Karena itu selama bayi belum diberi asi harus tetap pertahankan
dengan memompa payudara ibu setiap 3 jam.
4) Resiko mendapat infeksi
Untuk mencegah infeksi, perawat harus bekerja secara aseptik dan inkubator harus aseptik pula.
Ruangan tempat merawat bayi terpisah, bersih, dan tidak di benarkan banyak orang memasuki
ruangan tersebut kecuali petugas, semua alat yang diperlukan harus steril.
5) Kebutuhan rasa nyaman
Gangguan rasa nyaman dapat terjadi akibat tindakan medis, misalnya penghisapan lendir,
pemasangan infus dll. Untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya selain sikap yang lembut setiap
menolong bayi dalam memberi pasi harus di pangku.
D. Penanganan Kegawatdaruratan pada Bayi Baru Lahir
Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organ-organ
vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang
adekwat (Rilantono, 1999). Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi
kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler. kegawatdaruratan
pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat (sekitar 4 6
menit).
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya
untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Resusitasi pada anak yang mengalami gawat
nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus
dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan
pengetahuan dan keterampilan kebidanan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya
untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997).
Apakah bayi baru lahir memerlukan resusitasi? Kira-kira 10 % bayi baru lahir memerlukan
bantuan untuk memulai pernafasan saat lahir,dan sekitar 1 %saja yang memerlukan resusitasi
lengkap mulai dari pembersihan jalan nafas hingga pemberian obat obatan darurat.
Untuk praktisnya, setiap menolong bayi baru lahir ada 5 pertanyaan yang menentukan
apakah resusitasi dibutuhkan:
1. Apakah bersih dari mekonium?
2. Apakah bernafas atau menangis?
3. Apakah tonus otot baik?
4. Apakah warna kulit kemerahan?
5. Apakah cukup bulan? Jika salah satu dari 5 pertanyaan tersebut jawabannya tidak,maka perlu
dilakukan resusitasi.
Mengapa diberikan resusitasi?
Tindakan resusitasi diberikan untuk mencegah kematian akibat asphiksia. Dan bila pada bayi
asphiksia berat yang tidak dilakukan tindakan resusitasi secara benar akan meninggal atau
mengalami gangguan system saraf pusat,misalnya cerebral palsy, kelainan jantung misalnya tidak
menutupnya ductus arteriosus.
Kapan Bayi perlu resusitasi?
Tiga hal penting dalam resusitasi
1. Pernafasan
Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya pernafasan selama 1 menit. Nafas
tersengal sengal berarti nafas tidak efektif dan perlu tindakan misalnya apneu. Jika pernafasan
telah efektif yaitu pada bayi normal biasanya 30 50 x / menit dan menangis, kita melangkah ke
penilaian selanjutnya.
2. Frekuensi Jantung
Frekuensi denyut jantung harus > 100 per menit. Cara yang termudah dan cepat adalah dengan
menggunakan stetoskop atau meraba denyut tali pusat. Meraba arteria mempunyai keuntungan
karena dapat memantau frekuensi denyut jantung secara terus menerus, dihitung selama 6 detik
(hasilnya dikalikan 10 = Frekuensi denjut jantung selama 1 menit)
Hasil penilaian :
Apabila frekeunsi. > 100 x / menit dan bayi bernafas spontan, dilanjutkan dengan menilai warna
kulit.
Apabila frekuensi < 100 x / menit walaupun bayi bernafas spontan menjadi indikasi untuk dilakukan
VTP (Ventilasi Tekanan Positif).
3. Warna Kulit :
Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya kulit menjadi kemerahan. Jika masih
ada sianosis central, oksigen tetap diberikan. Bila terdapat sianosis perifer, oksigen tidak perlu
diberikan, disebabkan karena peredaran darah yang masih lamban, antara lain karena suhu ruang
bersalin yang dingin.

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim.
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kegawatdaruratan pada Neonatus :
1. Faktor Kehamilan
2. Faktor pada Partus
3. Faktor pada Bayi
Kondisi-Kondisi Yang Menyebabkan Kegawatdaruratan Neonatus :
1. Hipotermia
2. Hipertermia
3. Hiperglikemia
4. Tetanus neonaturum
5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil
6. Sindrom Gawat Nafas Neonatus
Penanganan Kegawatdaruratan pada Bayi Baru Lahir adalah Resusitasi merupakan sebuah upaya
menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang
meliputi pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang adekwat. Tindakan ini merupakan tindakan
kritis yang dilakukan pada saat terjadi kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan
sistem kardiovaskuler. kegawatdaruratan pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian
dalam waktu yang singkat (sekitar 4 6 menit).