Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN OBSTRUKSI ILIUS







ANGGOTA KELOMPOK:
Ni Made Eka Dewi Kp.06.13.001
Putu Tiara Anggi Permana Kp.06.13.002
Ni Luh Putu Sofiani Arda Candri Kp.06.13.022






AKPER KESDAM IX/UDAYANA
CONTOH KASUS:
Tn. X, usia 60 tahun, status menikah, dirawat di RS dengan diagnosis medis obstruksi
ilius. Pasien dan istrinya bekerja sebagai petani dengan penghasilan tidak tetap tergantung hasil
panen. Pasien mempunyai 2 orang anak yang sudah tidak tinggal dengan pasien. Sejak 3 bulan
pasien mengeluh BAB bercampur darah, pasien mengeluh sulit BAB tetapi masih bisa buang
angin, dan keras seperti kotoran kambing. BB pasien sekarang 48 Kg, dan TB 163 cm. Data
klinis pasien adalah TD 110/70 mmHg, nadi 88x/menit, RR : 20x/menit, suhu afebris(menurun).
Sebelum sakit, pasien biasa makan nasi 2-3 x/hari, dengan lauk yang sering dikonsumsi telur,
ikan asin, tahu dan tempe. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayuran, hanya 1-2
kali/minggu.
Hasil pemeriksaan biokimia : Hb :9,1 g/dl (N = 13,5 17,5 g/dl), Hematokrit 27 % (N =
40-52 %), Eritrosit 3,32 jl/UL (4,5-6,5 jt/UL), Leukosit 8200 /mm
3
(N = 3800 10600/mm
3
),
trombosit 342.000/mm
3
(N = 150.000-450.000/mm
3
), albumin 2,5 g/dl (N = 3,5-5 g/dl), dan
protein total 4,8 g/dl (N = 6,3-8,2 g/dl). Data klinis pasien adalah TD 110/70 mmHg, nadi
88x/menit, RR : 20x/menit, suhu afebris. Secara fisik pasien tampak kurus, lemah, pucat, bising
usus (+), dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Sebelum sakit, pasien biasa makan nasi 2-3 x/hari, dengan lauk yang sering dikonsumsi
telur, ikan asin, tahu dan tempe. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayuran, hanya 1-2
kali/minggu, meskipun istrinya sudah memasakkan sayur. Setelah sakit, pasien makan lebih
sedikit dari biasanya. Hasil recall 24 jam saat di RS didapatkan energi : 690 kal, Protein : 34
gram, lemak 20 gram, dan KH 67 gram. Standart makanan RS : Energi 1700 kalori, protein 68
gram, lemak 54 gram, dan karbohidrat 52 gram.




Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Obstruksi Ilius
Tanggal masuk RS : 02-06-2014
Dx medis : Ilius Obstruktif
Tanggal Pengkajian : 2 Juni 2014 pukul 10.30 WIB
Pengkaji : Perawat
No. RM : 186759
Ruang : Sandat

1. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. X
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Jl. Soka 107
Status : Menikah
Agama : Hindu
Suku : Bali
Pekerjaan : Petani

2. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluh BAB bercampur darah, pasien mengeluh sulit BAB tetapi masih bisa buang
angin, dan feses keras seperti kotoran kambing,pasien juga mengeluh nyeri pada abdomen.

3. PENGKAJIAN FISIK
KU : Baik, Compos mentis
BB : 48 kg
TB : 163 cm
TD : 110/70 mmHg
RR : 20 x/menit
N : 88 x/menit
S : Afebris (menurun)
4. ANALISA DATA
DS:
Pasien mengatakan nyeri pada abdomen
Pasien mengatakan sulit BAB tetapi masih bisa buang angin
Pasien mengatakan BAB bercampur darah dan feses keras seperti kotoran
kambing
DO:
Wajah klien tampak meringis, saat abdomen ditekan
Inspeksi : pembesaran abdomen.
Palpasi : perut terasa keras, ada impaksi feses.
Perkusi : redup.
Auskultasi : terdengar bising usus

5. PENATALAKSANAAN MEDIS:
1) Paracetamol 1000 mg 3x1 jika perlu ( analgetik/ penghilang rasa sakit)
2) Ceftriaxon iv 1gr 2x1gr ( antibiotic/ membunuh bakteri )
3) Ketorolax iv 3x1 (anti nyeri / penghilang rasa sakit)

6. Diagnose Keperawatan (PES) berdasarkan prioritas :
a. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen.
b.Deficit perawatan diri berhubungan dengan nyeri ditandai dengan klien tidak bisa
beraktivitas sendiri
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilisasi ditandai dengan nyeri saat
beraktivitas.







7. INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx:
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilisasi ditandai dengan nyeri saat
beraktivitas.

NOC:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien akan
menunjukkan penghematan energi dgn KH:
Tingkat pengelolaan energi aktif untuk memulai dan memelihara aktivitas, dg indikator
1-5 (ekstrem, berat, sedang, ringan, tidak ada)
NIC:
1. gunakan teknik komunikasi terapeutik
2. kolaborasi dengan ahli farmakologi dalam pemberian obat Ceftriaxon, Ketorolax dan
parasetamol
3. beri posisi yang nyaman
4. kaji TTV
5. motivasi klien untuk beraktivitas

8. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Melakukan pengkajian nyeri
Respon:
S: pasien mengatakan merasa nyeri di bagian abdomen , skala nyeri 4
S: Pasien mengatakan sudah mengerti tentang penyebab nyerinya
O: pasien tampak lebih tenang setelah tahu penyebab nyeri yang dialami

9. EVALUASI KEPERAWATAN
S : Pasien mengatakan abdomennya sudah tidak nyeri lagi. Dan pasien mengatakan
ketika timbul nyeri pasien sudah melakukan teknik yang diajarkan ( relaksasi)
O : Wajah tampak rileks , Skala nyeri: 0
A : Tujuan tercapai , masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi pasien
OBAT YANG DIBERIKAN

Dari asuhan keperawatan sebelumnya, berikut ini adalah beberapa obat yang
digunakan, yaitu:

1) Ceftriaxon iv 1gr 2x1gr ( antibiotic/membunuh bakteri )
Komposisi :Tiap vial Ceftriaxone mengandung ceftriaxone sodium
setara dengan ceftriaxone 1 gram
Dosis :1x1-2 g sehari
Cara Penggunaan : injeksi intravena dan intramuscular. Ceftriaxon
diberikan secara perlahan, 3-5 menit.
Obat ini diberikan selama 1 kali dalam 24 jam
Obat ini digunakan karena mempunyai spektrum luas dan waktu paruh
eliminasi 8 jam. Ceftriaxone efektif terhadap mikroorganisme gram
positif dan gram negatif. Ceftriaxone juga sangat stabil terhadap enzim
beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri.

2) Ketorolax iv 3x1 (anti nyeri / penghilang rasa sakit)
Komposisi:
a. Ketorolax 10 mg
Tiap ampul (1 ml) mengandung ketorolac tromethamine 10 mg
b. Ketorolax 30 mg
Tiap ampul (1 ml) mengandung ketorolac tromethamine 30 mg
Dosis: dosis awal 10 mg, dilanjutkan 10-30 mg tiap 4-6 jam, maksimal
80 mg dan 2 hari.



Cara penggunaan: Injeksi bolus intravena diberikan dalam waktu
minimal 15 detik. Pemberian intramuskular dilakukan dalam dan
perlahan.Untuk pengobatan intramuskular jangka pendek, diberikan
dosis 30-60 mg, dan kemudian dengan dosis 15-30 mg/6 jam, jika
diperlukan. Dosis maksimum yang diberikan dalam sehari adalah 120
mg. Untuk meringankan rasa sakit derajat sedang pasca-operasi
diberikan dosis 30 mg dan dosis 90 mg dapat diberikan untuk pasien
dengan nyeri berat. Durasi maksimum pengobatan dengan ketorolax
adalah selama 5 hari. .
Obat ini diberikan selama 4 kali dalam 24 jam
Digunakan karena merupakan obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID)
yang digunakan untuk inflamasi akut dalam jangka waktu penggunaan
maksimal selama 5 hari. Ketorolax selain digunakan sebagai anti
inflamasi juga memiliki efek anelgesik yang bisa digunakan sebagai
pengganti morfin pada keadaan pasca operasi ringan dan sedang.


c. Paracetamol tablet 500mg (analgesik/antipiretik)
Komposisi : Setiap tablet mengandung Parasetamol 500 mg.
Dosis : Dewasa dan anak dibawah 12 tahun : 1tablet, 3-4x sehari
Anak-anak 6-12 tahun : 1, tablet 3 4 kali sehari.
Cara Penggunaan : melalui mulut (per oral)
Obat ini diberikan selama 3 kali dalam 24 jam
Obat ini diberikan karena bersifat analgesik ( dapat menghilangkan
rasa nyeri ringan sampai sedang )dan antipiretik. Parasetamol lebih
dapat ditoleransi oleh pasien yang mempunyai riwayat gangguan
pencernaan