Anda di halaman 1dari 19

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan kitin dan kitosan dengan berbagai perlakuan dapat dilihat pada Tabel
1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kitin dan Kitosan.
Kel Perlakuan
Rendemen
Kitin I
Rendemen
Kitin II
Rendemen
Kitosan
D1
Kulit udang + HCl 0,75 N +
NaOH 3,5%+NaOH 40%
31,750% 14,730% 22,273%
D2
Kulit udang + HCl 0,75 N +
NaOH 3,5%+ NaOH 40%
34,750% 12,353% 21,100%
D3
Kulit udang + HCl 1 N
+NaOH 3,5%+ NaOH 50%
30,250% 21,000% 10,090%
D4
Kulit udang + HCl 1 N
+NaOH 3,5%+ NaOH 50%
32,625% 12,171% 8,528%
D5
Kulit udang + HCl 1,25 N +
NaOH 3,5% + NaOH 60%
29,000% 32,138% 29,125%
D6
Kulit udang + HCl 1,25 N +
NaOH 3,5% + NaOH 60%
5,625% 42,634% 13,547%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pemberian penambahan HCL dan NaOH dengan
konsentrasi berbeda akan menghasilkan hasil rendemen yang berbeda-beda. Untuk
kelompok D1 dan D2 diberikan penambahan HCL 0,75 N dan penambahan NaOH
dengan konsentrasi 3,5% dan 40%. Kelompok D3 dan D4 diberikan penambahan HCl 1
N dan penambahan NaOH dengan konsentrasi 3,5% dan 50%. Pada kelompok D5 dan
D6 diberikan penambahan HCl 1,25 N dan penambahan NaOH dengan konsentrasi
3,5% dan 60%. Pada kelompok D1 didapatkan rendemen kitin I, rendemen kitin II, dan
rendemen kitosan secara berturut-turut sebesar 31,750%, 14,730% dan 22,273%. Pada
kelompok D2 didapatkan rendemen kitin I, rendemen kitin II, dan rendemen kitosan
secara berturut-turut sebesar 34,750%, 12,353% dan 21,100%. Pada kelompok D3
didapatkan rendemen kitin I, rendemen kitin II, dan rendemen kitosan secara berturut-
turut sebesar 30,250%, 21,000% dan 10,090%. Pada kelompok D4 didapatkan
rendemen kitin I, rendemen kitin II, dan rendemen kitosan secara berturut-turut sebesar
32,625%, 12,171% dan 8,528%. Pada kelompok D5 didapatkan rendemen kitin I,
rendemen kitin II, dan rendemen kitosan secara berturut-turut sebesar 29,000%,
32,138% dan 29,125%. Pada kelompok D6 didapatkan rendemen kitin I, rendemen kitin
II, dan rendemen kitosan secara berturut-turut sebesar 5,625%, 42,634% dan 13,547%.
Dari semua perlakuan, rendemen kitin I terbesar dimiliki oleh kelompok D2 yaitu
2

sebesar 34,750%, sedangkan yang terkecil dimiliki oleh kelompok D6 yaitu sebesar
5,625%. Untuk rendemen kitin II yang paling besar dimiliki oleh kelompok D6 yaitu
sebesar 42,634%, sedangkan yang terkecil dimiliki oleh kelompok D4 yaitu sebesar
12,171%. Untuk rendemen kitosan yang paling banyak dimiliki oleh kelompok D5,
yaitu sebesar 29,125% , sedangkan yang terkecil dimiliki oelh kelompok D4 yaitu
sebesar 8,528%.
3

2. PEMBAHASAN

Industri pengolahan udang menghasilkan cair yang tidak dapat dimanfaatkan kembali
dan dapat diatasi dengan dengan melakukan waste water treatment sebelum dibuang ke
lingkungan. Disamping menghasilkan limbah cair yang tidak bermanfaat, dihasilkan
juga limbah padat yang berupa kulit dan kepala udang. Tidak seperti limbah cair,
limbah padat ini dapat diolah menjadi produk seperti tepung pakan ternak, dijadikan
bahan dasar flavor udang, dan beberapa produk olahan lainnya yang memiliki nilai
ekonomi (Purwaningsih,1995).

Berdasarkan jenis dan tempat hidupnya, kulit udang dapat mengandung protein sebesar
25-40 %, kalium karbonat sebesar 45-50%, dan cukup tinggi akan kitin, yaitu berkisar
antara 15-20% kandungan kitinnya. Karena kandungan kitinnya cukup tinggi dan juga
mudah didapatkan, kulit udang merupakan sumber potensial pembuatan kitin dan
kitosan. Kitin kitosan bersifat biomaterial dan cukup fleksibel. Kitosan adalah polimer
bioaktif lebih berguna dan menarik. Meskipun biodegradable, kitosan mempunyai
banyak gugus amino yang aktif dan dapat mengikat logam. Manfaat kitin dan kitosan di
berbagai bidang industri modern cukup banyak, diantaranya dalam industri farmasi,
biokimia, bioteknologi, biomedikal, pangan, gizi, kertas, tekstil, pertanian, kosmetik,
membran dan kesehatan. Disamping itu, kitin dan kitosan mempunyai sifat sebagai
bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi (Dutta et al,. 2004).

Kitin merupakan biopolimer yang paling banyak jumlahnya di alam setelah selulosa.
Kitin dapat ditemukan di kutikula serangga, dinding sel jamur, yeast atau alga hijau.
Jamur adalah sumber kitin terbesar yang ada di tanah. Kitin juga banyak terdapat pada
cangkang kepiting dan udang. (Arbia et al., 2013). Berikut ini adalah gambar tabel yang
berisi kandungan kitin yang ada diberbagai jenis organisme.
4


Gambar 1. Tabel kandungan kitin pada berbagai organisme
(Arbia et al., 2013)

Kitin memiliki warna putih, keras, tidak elastik, dan merupakan polisakarida yang kaya
dengan nitrogen. Strukturnya kitin mirip dengan selulosa. Kitin merupakan polisakarida
linier yang tersusun atas - (14)-yang tersambung dengan unit 2-acetamido-2-deoxy-
D-glucose. Berikut ini adalah gambar struktur dari kitin.


Gambar 2. Struktur Kitin
(Dutta et al., 2004)

Kitin kurang larut dibandingkan dengan selulosa dan merupakan N-glukosamin yang
terdeasetilasi sedikit, sedangkan kitosan adalah kitin yang terdeasetilasi sebanyak
mungkin. Karena kitin sangat sukar larut dalam air, menyebakan penggunaannya
5

menjadi terbatas (Roberts, 1992). Oleh karena itu, kitin dapat dimodifikasi struktur
kimianya sehingga sifat kimianya menjadi lebih baik. Karena dimodifikasi,
dihasilkanlah turunan kitin yang sering disebtu kitosan (Dunn et al., 1997). Kitosan
adalah polisakarida alami yang terdiri dari kopolimer glukosamin dan N-
asetilglukosamin yang diperoleh dari deasetilasi kitin dengan menggunakan larutan
alkali atau basa. kitosan juga dapat dihasilkan dengan deasetilasi kitin secara enzimatik.
Kitosan adalah polimer alami paling banyak kedua setelah selulosa. Kitosan dapat
digolongkan berdasarkan derajat deasetilasinya, berat molekul dan distribusinya, residu
protein, dan lain sebagainya. Namun parameter terpenting dalam penggolongan kitosan
adalah derajat deasetilasinya (Jana et al., 2013 dan Mukhopadhyay et al., 2013).
Derajat deasetilasi akan mempengaruhi karakteristik fisik, kimia, dan biologi dari
kitosan, seperti karakteristik asam basa, elektrostatik, biodegradability, self
aggregation, dan kemampuan untuk mengikat logam. Dan sebagai tambahan, derajat
deasetilasi dapat menggambarkan kandungan asam amino bebas dalam polisakarida (Li
et al., 1992)

Karakteristik kimia yang dimiliki kitosan adalah poliamina linier, gugus amino reaktif,
reaktif terhadap gugus hidroksil, dan merupakan pengkelat bagi banyak ion logam
transisi. Kitosan juga memiliki karakteristik biologi seperti biodegradable, polimer
alami, aman dan tidak beracun, mempercepat pembentukan osteoblast yang
bertanggung jawab pada formasi tulang, hemostatik, fungistatik, spermcidal, antitumor,
anticholesterimic. (Dutta et al., 2004)

Pada praktikum pembuatan kitin dan kitosan ini, ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan, seperti demineralisasi, deproteinasi, dan diasetilasi. Menurut Darmawan et
al. (2007), proses demineralisasi bertujuan untuk menghilangkan garam-garam
inorganik atau kandungan mineral yang ada pada kitin terutama kalsium karbonat
(CaCO
3
). Senyawa mineral akan bereaksi dengan asam klorida yang larut dalam air, dan
dihilangkan. Protein, lemak, fosfor, magnesium, dan besi juga akan ikut terbuang. Pada
tahap ini metode yang dilakukan adalah mencuci kepala, kulit, dan juga kaki udang
dengan air mengalir dan dikeringkan. Proses pencucian dilakukan dengan air mengalir,
hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada kulit udang.
6

Kemudian dicuci dengan air panas sebanyak dua kali dan dikeringkan kembali.
Pencucian dengan air panas, hal ini bertujuan sebagai perlakuan blanching untuk
mematikan mikroba yang ada pada limbah udang (kepala dan kulit) karena bagian
kepala merupakan sumber bakteri pembusukan dan enzim-enzim pencernaan
(Moeljanto, 1992). Setelah dicuci untuk kedua kalinya, dilakukan pengeringan. Tahapan
pengeringan yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan kadar air pada limbah udang
sehingga menekan pertumbuhan mikroorganisme. Limbah udang yang telah kering
tersebut kemudian dihancurkan menjadi serbuk untuk mengurangi kadar airnya dan
diayak dengan ayakan berukuran 40 60 mesh. Penghancuran limbah udang kering
menjadi serbuk ini dimaksudkan untuk mendegradasi protein pada limbah udang yang
berikatan secara fisik dengan kitin. Menurut Peter (1995), protein yang terikat secara
fisik dalam limbah udang didegradasi dengan perlakuan fisik, seperti pengecilan ukuran
dan pencucian dengan air. Muzzarelli & Peter (1997) menambahkan bahwa dengan
melakukan penghancuran sampel menjadi serbuk, dapat mempercepat dan
mengoptimalkan proses pencampuran dengan larutan, karena semakin kecil dan halus
sampelnya, akan semakin banyak luas permukaan sampel yang dapat kontak dengan
larutan.

Tahap selanjutnya, tepung udang dicampur dengan HCl dengan perbandingan 10:1
(HCl:serbuk limbah udang) dengan larutan HCl 0,75 N (kelompok D1 dan D2), larutan
HCl 1 N (kelompok D3 dan D4), dan larutan HCl 1,25 N (kelompok D5 dan D6).
Penggunaan larutan HCl pada tahap demineralisasi ini dikarenakan komposisi utama
kulit udang adalah kalsium karbonat, kalsium fosfat, serta 30-50% mineral dari berat
keringnya (Suhardi, 1993 dan Macklin, 2008). Mineral tersebut harus dipisahkan
terlebih dahulu sebelum ekstraksi kitin dilakukan. Komponen mineral dapat larut
dengan adanya penambahan asam encer, seperti asam klorida, asam sulfat, atau asam
laktat (Bastaman,1989). Oleh karena itu, dalam tahap demineralisasi ini dilakukan
penambahan larutan HCl untuk mengikat senyawa mineral pada kulit udang.

Setelah itu, larutan serbuk udang dan HCl dipanaskan pada suhu 90C sambil diaduk
selama 1 jam. Pemanasan pada tahap ini dilakukan untuk membantu pengikatan
senyawa mineral oleh larutan HCl. Pada saat pemanasan, kalsium karbonat (CaCO
3
)
7

akan bereaksi dengan larutan HCl membentuk kalsium klorida (CaCl
2
), CO
2
, dan H
2
O
seperti pada persamaan reaksi berikut:
CaCO
3
+ 2HCl CaCl
2
+ CO
2
+ H
2
O.
Sedangkan pengadukan dilakukan untuk menghomogenkan larutan HCl dengan
senyawa mineral agar proses pengikatannya lebih cepat (Astawan & Astawan, 1988).
Puspawati & Simpen. (2010) juga menambahkan bahwa dengan melakukan
pengadukan, dapat mencegah terbentuknya gelembung udara akibat proses pemisahan
mineral.

Setelah itu, larutan didinginkan hingga mengendap lalu disaring, dan residu yang
dihasilkan dicuci dengan air hingga pH netral dibawah air mengalir. Penyaringan dan
pencucian dengan air hingga pH netral ini bertujuan untuk melarutkan sisa-sisa senyawa
yang berikatan dengan larutan HCl (CaCl
2
), dimana senyawa-senyawa tersebut bersifat
larut air sehingga residu tidak larut air yang tertinggal merupakan senyawa kitin yang
masih mengandung protein (Bastaman 1989). Penggunaan air mengalir dalam
pencucian lebih dilakukan agar mineral tidak lagi menempel pada sampel dan ikut
mengalir terbawa air. Kemudian, residu dikeringkan pada suhu 80C selama 24 jam
dengan oven. Hal ini bertujuan untuk menurunkan kadar air pada residu agar menjadi
tepung udang (Muzzarelli & Peter, 1997).

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa dari semua perlakuan, rendemen kitin I terbesar
dimiliki oleh kelompok D2 yaitu sebesar 34,750%, sedangkan yang terkecil dimiliki
oleh kelompok D6 yaitu sebesar 5,625%. Dari hasil pengamatan tersebut dapat dilihat
bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan HCl, maka semakin sedikit rendemen yang
dihasilkan. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada, dimana proses demineralisasi
bertujuan menghilangkan garam-garam anorganik atau kandungan mineral yang ada
pada kitin terutama kalsium karbonat (CaCO
3
). Seharusnya, semakin besar konsentrasi
HCl maka kadar penghilangan garam-garam mineral pada kitin akan semakin besar pula
(Hargono & Djaeni, 2003). Pendapat tersebut juga didukung oleh Johnson & Peterson
(1974) yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentarsi HCL, akan semakin mudah
serbuk udang melepaskan mineral yang menyebabkan semakin banyak rendemen yang
dihasilkan.
8


Tahapan kedua dari pembuatan kitin dan kitosan adalah deproteinasi. Pada tahap ini,
hasil dari tahap demineralisasi dicampur dengan larutan NaOH 3,5% untuk seluruh
kelompok. Perbandingan larutan NaOH dengan tepung udang yang dihasilkan dari
proses demineralisasi yaitu 6:1. Menurut Puspawati & Simpen (2010), penambahan
basa berperan untuk menghilangkan protein. Campuran tepung dengan NaOH tersebut
kemudian dipanaskan pada suhu 90
o
C sambil diaduk selama 1 jam. Adanya proses
pemanasan juga dapat menguapkan air dan mengkonsentrasikan NaOH, sehingga hasil
kitin yang didapatkan lebih optimal. Deproteinasi dilakukan untuk memutuskan ikatan
antara protein dan kitin, dengan penambahan natrium hidroksida. Setelah disaring dan
didinginkan, residu dicuci dengan air hingga pH netral di mana menurut Haqiqi (2008),
kadar keasaman suatu larutan dikatakan netral apabila bernilai 7. Penyaringan dan
pencucian dengan air hingga pH netral ini bertujuan untuk melarutkan sisa-sisa senyawa
yang berikatan dengan larutan NaOH, dimana senyawa-senyawa tersebut bersifat larut
air sehingga residu tidak larut air yang tertinggal merupakan senyawa kitin (Bastaman
1989). Menurut Rogers (1986), larutan NaOH akan terionisasi dalam air membentuk ion
natrium dan ion hidroksida. Jika larutan NaOH ditambahkan ke larutan asam, maka
setiap ion hidroksida akan bereaksi dengan ion hidrogen membentuk molekul air.
Selama ion hidrogen tetap tertinggal dalam larutan, larutan akan bersifat asam. Ketika
jumlah ion hidroksida yang ditambahkan sama dengan jumlah ion hidrogen maka
larutan menjadi netral, tetapi jika ion hidroksida ditambahkan lebih banyak maka
larutan akan bersifat basa (Muzzarelli & Peter, 1997). Kemudian setelah pencucian
residu dikeringkan pada suhu 80
o
C selama 24 jam untuk menurunkan kadar air pada
residu udang sehingga dihasilkan kitin (Macklin, 2008).

Pada tahapan deproteinasi ini, didapatkan rendemen kitin II yang paling besar dimiliki
oleh kelompok D6 yaitu sebesar 42,634%, sedangkan yang terkecil dimiliki oleh
kelompok D4 yaitu sebesar 12,171%. Hasil rendemen kitin II untuk kelompok D1
sebesar 14,730%, kelompok D2 sebesar 12,353%, kelompok D3 21,000%, dan D5
sebesar 32,138%. Meskipun konsentrasi NaOH yang dipakai tiap kelompok sama yaitu
3,5 % namun hasil rendemen yang didapatkan berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena
konsentrasi HCl yang berbeda-beda pada tahap sebelumnya mempengaruhi hasil
9

rendemen pada tahap deproteinasi. Hal ini dikarenakan penimbangan berat basah
endapan masih banyak mengandung air dan selama proses pencucian untuk
mendapatkan pH normal banyak kitin yang terbuang, sehingga hasil pengukuran tidak
akurat pada masing-masing kelompok.

Tahap selanjutnya adalah proses deasetilasi. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan
kitosan. Hussain et al. (2013) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kitosan, perlu
dilakukan deasetilasi kitin. Proses ini dilakukan dengan cara hidrolisis gugus
asetoamida dengan penambahan basa kuat yaitu NaOH dengan konsentrasi yang
berbeda untuk setiap kelompok. Prosesnya sebagai berikut, kitin yang dihasilkan
dicampur dengan larutan NaOH, perbandingan larutan NaOH dengan kitin yaitu 20:1.
Dimana konsentrasi yang digunakan berbeda-beda yaitu kelompok D1 dan D2
menggunakan larutan NaOH 40%, kelompok D3 dan D4 menggunakan larutan NaOH
50%, sedangkan kelompok D5 dan D6 menggunakan larutan NaOH 60%. Campuran
tersebut dipanaskan pada suhu 90
o
C sambil diaduk selama 1 jam, kemudian didiamkan
dan didinginkan selama 30 menit. Hal ini sesuai dengan teori seperti di atas, di mana
menurut Puspawati & Simpen (2010), suhu berpengaruh terhadap derajat deasetilasi
kitosan. Semakin meningkat suhu, maka derajat deasetilasi yang diperoleh akan
meningkat. Kitin memiliki struktur sel yang tebal, serta ikatan hidrogen antara atom
hidrogen pada gugus amin dan atom oksigen pada gugus karbonil sangat kuat. Dengan
penambahan basa kuat dan perlakuan pemanasan, akan menyebabkan hilangnya gugus
asetil pada kitin melalui pemutusan ikatan antara karbon pada gugus asetil dengan
nitrogen pada gugus amina. Sedangkan proses pengadukan bertujuan untuk
menghindari meluapnya sampel akibat gelembung-gelembung udara yang dihasilkan
karena pemisahan mineral selama proses demineralisasi.

Setelah dilakukan pendinginan kemudian dilakukan pencucian, residu dicuci dengan air
hingga pH netral. Dalam proses dilakukan pencucian dengan air hingga pH netral. Pada
tahap pencucian ini dilakukan berulang-ulang karena pada kondisi basa di cuci dengan
air sehingga basa menurun menjadi normal. Menurut Rogers (1986), ketika jumlah ion
hidroksida yang ditambahkan sama dengan jumlah ion hidrogen maka larutan menjadi
netral, jika ion hidroksida ditambahkan lebih banyak maka larutan akan bersifat basa.
10

Jadi pencucian untuk menetralkan larutan. Kemudian dikeringkan dalam oven pada
suhu 70
o
C selama 24 jam hingga dihasilkan kitosan. Dari proses diasetilasi ini
dihasilkan kitosan dengan warna putih kekuningan. Hal ini sesuai dengan Dutta et al.
(2004), bahwa kitosan yang dihasilkan berwarna putih kekuningan.

Dari hasil pengamatan rendemen kitosan, rendemen yang paling banyak dimiliki oleh
kelompok D5 yang mendapat perlakuan penambahan NaOH 60%, yaitu sebesar
29,125% , sedangkan yang terkecil dimiliki oleh kelompok D4 yang diberi perlakuan
penambahan NaOH senanyak 50%, yaitu sebesar 8,528%. Hasil yang didapatkan ini
sudah cukup sesuai dengan pernyataan Puspawati & Simpen (2010), yang menyatakan
bahwa seharusnya konsentrasi basa kuat atau larutan NaOH yang lebih tinggi akan
memberi hasil akhir kitosan dengan nilai rendemen yang juga lebih tinggi. Penggunaan
basa kuat yang konsentrasinya lebih tinggi, akan lebih efektif melakukan proses
diasetilasi. Gugus asetil dapat lebih banyak dihilangkan melalui pemutusan ikatan
antara karbon pada gugus asetil dengan nitrogen pada gugus amin. Namun bila
dibandingkan dengan kelompok D1 dan D2 yang menambahkan NaOH lebih sedikit
daripada kelompok D3, dan D4 namun memiliki rendemen kitosan yang lebih banyak.
Ketidaksesuaian ini dapat terjadi akibat pada tahap pencucian ada sebagian sampel yang
masi tersisa pada kain saring tidak ikut tertimbang atau ada sebagain sampel yang ikut
terbawa air saat proses pencucian dilakukan.

Aplikasi pemanfaatan kitin dan kitosan yang dijelaskan dalam artiekl berjudul Chitin
and chitosan: chemistry, properties and applications karya Dutta et al. (2004) dalam
pengolahan pangan adalah penggunaan microcrystalline chitin (MCC) yang
menunjukkan sifat emulsifikasi yang baik, agen pengental yang sangat baik, dan gelling
agent untuk menstabilkan makanan. Kitosan juga digunakan sebagai dietary fiber dalam
makanan yang dipanggang. Kitin mempunyai peran yang istimewa dalam pembuatan
roti yang difortifikasi dengan protein, walaupun tanpa menggunakan bahan seperti
emulsifier dan mentega. Kitin dan kitosan berperan sebagai pendukung penuh dalam
entrapment sel mikroorganisme, hewan dan juga tumbuhan yang diimobilisasi. Kitin
juga digunakan dalam imobilisasi enzim. Kitin dan kitosan dapat digunakan sebagai
wadah yang non-absorbable bagi bahan makanan dengan konsentrasi tinggi seperti
11

pewarna makanan. Di dalam artikel berjudul Chitin Extraction from Crustacean Shells
Using Biological Methods A Review karya Arbia et al. (2013) juga disebutkan
beberapa kegunaan kitin dan kitosan pada bidang pangan, seperti makanan dan sumber
nutrisi, pengawet makanan, food wrapping, filtrasi dan penjernihan jus buah, slimming
agent, antioksidan, penyerap senyawa fenolik, iron extract (membantu dalam
penvegahan munculnya bau tidak sedap pada daging yang dimasak). Ada pula artikel
karya Zhao et al. (2011) berjudul Preparation and Application of Chitosan
Nanoparticles and Nanovibers yang meneliti tentang struktur nano kitosan dan
aplikasinya untuk enkapsulasi dan imobilisasi komponen bioaktif. Dari penetilian
tersebut diketahui bahwa chitosan dengan struktur mikro atau nano dapat digunakan
untuk carrier atau wadah pembawa bahan komponen bioaktif.

Selain digunakan dalam industri pangan, kitin juga digunakan dalam industri farmasi.
Dalam artikel Puvvada et al. yang berjudul Extraction of chitin from chitosan from
exoskeleton of shrimp for application in the pharmaceutical industry dijelaskan bahwa
industri farmasi membutuhkan tipe kitosan yang berbeda di pasar dimana kitosan
tersebut lebih murni dan memenuhi standar. Kitosan yang digunakan untuk mengobati
luka dan scaffolds haruslah dalam bentuk oligomer yang memiliki berat molekul yang
rendah untuk struktur proliferasi dan berberat molekul tinggi untuk mpembentukan
jaringan. Dibutuhkan banyak sekali tipe kitosan yang berbeda untuk memenuhi
kebutuhan yang ada. Namun, syarat minumun dari kitosan untuk industri farmasi adalah
tidak toksik, biocompatible, dan biodegradable.

Hussain et al. (2013) dalam artikelnya yang berjudul Determination of Degree of
Deacetylation of Chitosan and Their effect on the Release Behavior of Essential Oil
from Chitosan and Chitosan Gelatin Complex Microcapsules meneliti tentang derajat
deasetilasi kitosan dan bagaimana pengaruhnya terhadap sifat minyak esensial dari
kitosan. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa derajat deasetilasi (DDA) dapat
mempengaruhi karakteristik fisik, kimia, dan biologi dari kitosan, seperti karakteistik
asam basa, elektostatik, biodegradability, self aggregation, sorption properties, dan
kemampuan membuat ion logam melekat. Derajat deasetilasi juga dapat digunakan
untuk mengukur atau menentukan kandungan gugus asam amino bebas di dalam
12

polisakarida. Semakin tinggi perlakuan alkali, akan semakin tinggi derajat deasetilasi
dan berat molekul akan semakin rendah. Kandungan minyak, efisiensi enkapsulasi dan
kecepatan pelepasan tergantung pada derajat deasetilasi dan crosslinking. Semakin
tinggi derajat deasetilasi dan juga crosslinking , maka akan semakin rendah kecepatan
pelepasan minyak.pembengkakan dan kelicinan permukaan mikrokapsul bergantung
pada derajat deasetilasi dan juga crosslinking. Semakin tinggi derajat deasetilasi akan
menghasilkan pembengkakan disebabkan keberadaan gugus amina yang semakin
bertambah banyak yang dihasilkan selama prose deasetilasi. Sebaliknya, semakin
rendahnya derajat deasetilasi akan menghasilkan permukaan mikrokapsul yang
semakin licin.

Di dalam artikel berjudul Chitin Extraction from Crustacean Shells Using Biological
Methods A Review karya Arbia et al. (2013) juga dijelaskan bahwa perolehan
kembali atau recovery kitin dengan metode kimia menggunakan konsentrat asam dan
basa dalam deproteinasi dan demineralisasi pada suhu tinggi dapat merusak
karakteristik fisikokimia dari biopolimer. Saat ini, metode baru dengan menggunakan
bakteri asam laktat dan atau bakteri proteolitik untuk ekstraksi kitin lebih menghasilkan
kitin berkualitas baik, pigmen terutama asthaxhantin, serta dihasilkan juga fraksi cairan
yang kaya akan protein yang dapat dimanfaatkan manusia dan pakan ternak.
Penggunaan metode biologi dalam pembuatan kitin juga didukung oleh Meja-Sauls et
al.(2006) yang dalam artikel berjudul The Use of Crude Shrimp Shell Powder for
Chitinase Production bySerratia marcescens WF menggunakan beberapa spesies
bakteri seperti Bacillus pabuli, Bacillus licheniformis, dan utamanya Serratia
marcescens menunjukkan kemampuan untuk memproduksi kitin. Dari artikel tersebut
diketahui bahwa dilaporkan bahwa banyaknya kulit udang (CSS), pH dan suhu
memiliki pengaruh pada aktivitas kitinolitik yang diinduksi atau dihasilkan oleh
Serratia marcescens WF. CSS yang optimal digunakan untuk produksi kitinase yang
tinggi adalah sebanayk 6% pada suhu 28C, pH 6,5 dan waktu fermentasi 72 jam.


13

3. KESIMPULAN

Kitin dan kitosan dapat dibuat dari kulit udang.
Kitin adalah polisakarida alami yang berwarna putih, tidak bersa, tidak berbau, dan
tidak dapat larut dalam air, namun larut dalam asam mineral pekat.
Kitosan merupakan senyawa turunan dari kitin dengan rumus kimia poli (2-amino-
2-dioksi--D-Glukosa).
Perubahan kitin menjadi kitosan dilakukan dengan proses menghilangkan gugus
asetil pada kitin menjadi amina pada kitosan.
Pencucian dengan air panas bertujuan sebagai perlakuan blanching untuk
mematikan mikroba yang ada pada limbah udang (kepala dan kulit)
Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air pada limbah udang sehingga
menekan pertumbuhan mikroorganisme.
Pemanasan dilakukan untuk membantu pengikatan senyawa mineral oleh larutan
HCl.
Pengadukan dilakukan untuk meratakan proses pemanasan yang berlangsung
Penyaringan dan pencucian dengan air hingga pH netral ini bertujuan untuk
melarutkan sisa-sisa senyawa yang berikatan dengan larutan HCl (CaCl
2
)
Tahap pembuatan kitosan dari limbah udang terdiri dari demineralisasi,
deproteinasi, dan diasetilasi.
Pada tahap demineralisasi dilakukan penambahan larutan HCl untuk mengikat
senyawa mineral pada kulit udang
Tahap deproteinasi dilakukan untuk memutuskan ikatan antara protein dan kitin,
dengan penambahan NaOH.
Penambahan basa kuat dan perlakuan pemanasan dilakukan untuk menghilangkan
gugus asetil pada kitin melalui pemutusan ikatan antara karbon pada gugus asetil
dengan nitrogen pada gugus amina.
Konsentrasi basa kuat (NaOH) yang lebih tinggi memberi hasil akhir kitosan
dengan nilai rendemen yang juga lebih rendah.
Semakin banyak gugus asetil yang dapat dihilangkan maka semakin tinggi nilai
derajat deasetilasinya.
14

Hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembuatan kitosan antara lain jenis
bahan baku, proses ekstraksi kitin (deproteinasi dan demineralisasi), dan proses
diasetilasi (pembuatan kitosan) yang meliputi suhu, waktu dan konsentrasi alkali.
Semakin tinggi konsentrasi NaOH saat deasetilasi, akan mengasilkan rendemen
yang semakin banyak.
Aplikasi kitin dan kitosan dalam industry pangan adalah sebagai sumber makanan
dan sumber nutrisi, pengawet makanan, food wrapping, filtrasi dan penjernihan jus
buah, slimming agent, antioksidan, penyerap senyawa fenolik, iron extract
(membantu dalam penvegahan munculnya bau tidak sedap pada daging yang
dimasak).


Semarang, 20 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen :
- Stella Gunawan


Buddy Kristianto
12.70.0175

15

4. DAFTAR PUSTAKA

Arbia, Wassila; Leila Arbia; Lydia Adour; and Abdeltif Amrane. Chitin Extraction
from Crustacean Shells Using Biological Methods A Review. Food Technol.
Biotechnol. 51 (1) 1225

Astawan, M. & M. W. Astawan. (1988). Teknologi Pengolahan Pangan Hewani Tepat
Guna. Akademika Pressindo. Bogor. AVI Publishing Co., Inc., Connecticut

Bastaman S. (1989). Studies on degradation and extraction pf chitin and chitosan from
Prawn shells. Dept Mechanical Manufacturing, Aeronautical and Chemical
Engineering. Queens Univ. Belfast

Darmawan, E., Sri Mulyaningsih., & Feris Firdaus. (2007). Karakteristik Khitosan
yang Dihasilkan dari Limbah Kulit Udang dan Daya Hambatnya Terhadap
Pertumbuhan Candida Albicans. Logika, Vol. 4, No. 2

Dunn, E.T.; E.W. Grandmaison & M.F.A. Goosen. (1997). Application and Properties
of Chitosan. Technomic Pub, Basel, p 3-30.

Dutta, Pradip Kumar; Joydeep Dutta; and V.S. Tripathi. (2004). Chitin and Chitosan:
Chemistry, properties and applicatons. Journal of Scientific & Industrial Research
Vol. 63 pp 20-31.

Haqiqi. (2008). pH Meter Elektroda. Malang.

Hargono & Djaeni, M. (2003). Utilization of Chitosan Prepared from Shrimp Shell as
Fat Diluent. Journal of Coastal Development Volume 7: 31-37

Hussain, Md Rabiul, Murshid Iman and Tarun K. Maji. (2013). Determination of
Degree of Deacetylation of Chitosan and Their effect on the Release Behavior of
Essential Oil from Chitosan and Chitosan Gelatin Complex Microcapsules.
International Journal of Advanced Engineering Applications, Vol.6, Iss.4, pp.4-12
interpenetrating polymeric network microparticles, Colloids and Surfaces B:
Biointerfaces, 105 (1), 303309, 2013

Jana, S., Saha, A., Nayak, A. K., Sen, K. K., Basu, S. K. (2013). Aceclofenac-
loaded chitosan-tamarind seed polysaccharide interpenetrating polymeric network
microparticles, Colloids and Surfaces B: Biointerfaces, 105 (1), 303309
Johnson, A.H. dan M.S. Peterson. (1974). Encyclopedia of Food Technolgy Vol. II.
The AVI PublishingCo., Inc., Connecticut.

16

Li, Q., Dunn, E. T., Grandmaison, E. W., Goosen, M. F. A. (1992). Applications and
properties of chitosan, Journal of Bioactive and Compatible Polymers. 7 (4), 370-
397

Macklin, B. (2008). Limbah Cangkang Udang Menjadi Kitosan. http://onlinebuku.com/
2008/12/21/limbah-cangkang-udang-menjadi-kitosan/ (diakses tanggal 20 Oktober
2014 pukul 20.12)

Meja-Sauls, Jess E.; Krzysztof N. Waliszewski; Miguel A. Garcia; and Ramon
Cruz-Camarillo. (2006). The Use of Crude Shrimp Shell Powder for Chitinase
Production bySerratia marcescens WF. Food Technol. Biotechnol. 44(1) 95100

Moeljanto. (1992). Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Mukhopadhyay, P., Sarkar, K., Soam, S., Kundu, P. P. (2013). Formulation of pH-
responsive carboxymethyl chitosan and alginate beads for the oral delivery of
insulin, Journal of Applied Polymer Science, 129 (2), 835845

Mukhopadhyay, P., Sarkar, K., Soam, S., Kundu, P. P. (2013). Formulation of pH-
responsive carboxymethyl chitosan and alginate beads for the oral delivery of
insulin. Journal of Applied Polymer Science, 129 (2), 835845

Muzzarelli, & M. G. Peter . (1997). Chitin Handbook. European Chitin Society. Italy.

Peter, M. G. (1995). Application and Environmental Aspects of Chitin and Chitosan.
Journal of Pure and Appl. Chem. Marcel Dekker, Inc., Germany. Hlm. 629-639.

Purwaningsih, S. (1995). Teknologi Pembekuan Udang. Penebar Swadaya. Jakarta.

Puspawati, N.M & I N. Simpen. (2010). Optimasi Deasetilasi Khitin Dari Kulit Udang
dan Cangkang Kepiting Limbah Restoran Seafood Menjadi Khitosan Melalui
Variasi Variasi Konsentrasi NaOH. Jurnal Kimia 4 (1),: 79-90.

Puvvada, Yateendra Shanmukha; Saikishore Vankayalapati; Sudheshnababu
Sukhavasi. (2012). Extraction of chitin from chitosan from exoskeleton of shrimp
for application in the pharmaceutical industry.International Current Pharmaceutical
Journal, 1(9): 258-263

Robert, G.A.F. (1992). Chitin Chemistry. The Macmillan Press Ltd., London.

Rogers, E.P. (1986). Fundamental of Chemistry. Books/Cole Publishing Company.
California
17

Zhao, Li-Ming; Lu-E Shi; Zhi-Liang Zhang; Jian-Min Chen; Dong-Dong Shi; Jie
Yang; and Zhen-Xing Tang. (2011). Preparation and Application of Chitosan
Nanoparticles and Nanovibers. Brazilian Journal of Chemical Engineering Vol. 28,
No. 03, pp. 353 362
18

5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan

Rumus :













Kelompok D1



Kelompok D2
Rendemen Kitin I =


Rendemen kitin II =


Rendemen kitin III =



Kelompok D3



Kelompok D4




19

Kelompok D5



Kelompok D6
Rendemen Kitin I

x 100% 5,625 %
Rendemen Kitin II

x 100% 42,635%
Rendemen Kitosan

x 100% 13,547%



5.2. Laporan Sementara
5.3. Diagram Alir
5.4. Hasil Viper