Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mata adalah suatu panca indera yang sangat penting dalam
kehidupan manusia untuk melihat. Dengan mata manusia dapat
menikmati keindahan alam dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar
dengan baik. Jika mata mengalami gangguan atau penyakit mata, maka
akan berakibat sangat fatal bagi kehidupan manusia. Jadi sudah
semestinya mata merupakan anggota tubuh yang perlu dijaga dalam
kesehatan sehari-hari (Hamdani, 2010).
Upaya penyembuhan penyakit mata di tanah air terkendala
minimnya jumlah dokter dan sistem pengobatan yang dinilai tidak
terorganisasi. Nila F.Moeloek, Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata
Indonesia (Perdami), menuturkan saat ini satu dokter mata harus merawat
sekitar 250.000 penderita penyakit mata. Angka kebutaan di Indonesia
mencapai 1,5% dari total penduduk dan menjadikannya sebagai negara
dengan angka kebutaan yang tertinggi di Asia Tenggara. Berdasarkan data
nasional, jumlah penderita buta katarak di Indonesia diperkirakan
mencapai 1,8 juta penduduk. Jumlah tersebut akan terus bertambah
sekitar 240.000 orang per tahun (kabar24.com, 13 Oktober 2012).
Upaya penyembuhan penyakit mata di tempuh dengan berbagai
cara untuk dapat mengoptimalkan kembali ketajaman penglihatan
seseorang yang mengalami gangguan pada mata. Salah satu
penatalaksanaan yang akan dilakukan untuk gangguan mata yang berat
dapat dilakukan dengan cara pembedahan. Berdasarkan penjelasan di atas,
kami mengangkat asuhan keperawatan perioperatif pada mata yang
bertujuan untuk mengetahui, memahami, melakukan rencana dan
tindakan yang akan dilakukan pada klien yang akan melakukan pre op
dan post op pada mata.

1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana anatomi fisiologi pada mata?
1.2.2 Bagaimana proses asuhan keperawatan perioperatif pada mata ?

1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan anatomi fisiologi dan proses asuhan keperawatan
perioperatif pada mata.


2

1.3.2 Tujuan Khusus
1. Agar mampu membuat pengkajian pada tindakan perioperatif pada
mata.
2. Untuk membuat diagnosa yang terjadi pada pasien pre op dan post
op mata.
3. Untuk membuat intervensi pada pasien pre op dan post op mata.
4. Untuk melakukan tindakan selanjutnya kepada pasien pre op dan
post op mata.

1.4. Manfaat
1.4.1 Mahasiswa mampu memahami konsep dan proses keperawatan pada
pasien perioperatif pada mata.
1.4.2 Mahasiswa mampu memberikan intervensi kepada pasien perioperatif
pada mata dan melakukan tindakan selanjutnya.

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi
Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan
warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi
termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata
berada), kelopak, dan bulu mata.
Secara konstan mata menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk,
memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh serta menghasilkan
gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak.

2.2 Anatomi fisiologi Mata
Indera pengelihatan yang terletak pada mata (organ visus) terdiri dari
organ okuli assesoria (alat bantu mata) dan oculus (bola mata).

OKULI ASSESORIA

A. Kavum Orbita
Merupakan rongga mata yang bentuknya seperti kerucut dengan
puncaknya mengarah ke depan, dank e dalam.
Dinding rongga mata dibentuk oleh tulang:
1. Os frontalis
2. Os zigomatikum
3. Os slenoidal
4. Os etmoidal
5. Os palatum
6. Os lakrimal
Rongga mata mempunyai beberapa celah yang menghubungkan
rongga mata dengan rongga otak, rongga hitung, rongga etmoidalis dan
sebagainya.
Rongga bola mata ini berisi jaringan lemak, otot, fasia, saraf,
pembuluh darah dan aparatus lakrimalis.

B. Alis
Dua potong kulit tebal yang melengkung ditumbuhi oleh rambut
pendek yang berfungsi sebagai pelindung mata dari sinar matahari yang
sangat terik dan sebagai alat kecantikan.

C. Kelopak Mata (Palpebra)
4

Kelopak atau palpebra terdiri dari 2 bagian kelopak mata atas dan
kelopak mata bawah, mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan
kornea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk
melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan bola
mata.
Kelopak mata dapat membuka diri untuk memberi jalan masuk sinar
kedalam bola mata yang dibutuhkan untuk penglihatan.
Pembasahan dan pelicinan seluruh permukaan bola mata terjadi
karena pemerataan air mata dan sekresi berbagai kelenjar sebagai akibat
gerakan buka tutup kelopak mata. Kedipan kelopak mata sekaligus
menyingkirkan debu yang masuk.
Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang
di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva
tarsal.
Gangguan penutupan kelopak akan mengakibatkan keringnya
permukaan mata sehingga terjadi keratitis et lagoftalmos.
Pada kelopak terdapat bagian-bagian :
a. Kelenjar seperti : kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar
keringat, kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom
pada tarsus.
b. Otot seperti : M. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam
kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. Pada
dekat tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli yang disebut
sebagai M. Rioland. M. orbikularis berfungsi menutup bola mata yang
dipersarafi N. Facial. M. levator palpebra, yang berorigo pada anulus
foramen orbita dan berinsersi pada tarsus atas dengan sebagian
menembus M. orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian tengah.
Bagian kulit tempat insersi M. levator palpebra terlihat sebagai sulkus
(lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh n. III, yang berfungsi untuk
mengangkat kelopak mata atau membuka mata.
c. Di dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan
kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada
margo palpebra.
d. Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima
orbita merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
e. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada
seluruh lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus (terdiri atas
jaringan ikat yang merupakan jaringan penyokong kelopak dengan
kelenjar Meibom (40 bush di kelopak atas dan 20 pada kelopak
bawah).
f. Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. palpebra.
5

g. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal
N.V, sedang kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V.
Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat
dilihat dengan melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui
forniks menutup bulbus okuli. Konjungtiva merupakan membran mukosa
yang mempunyai sel Goblet yang menghasilkan musin.
D. Otot Mata (Muskulus Okuli)
Gerakan mata dikontrol oleh enam otot okuler yang dipersarafi oleh
saraf kranial III, IV, dan VI.
Merupakan otot ekstrinsik mata terdiri dari 7 buah otot, 6 buah otot
diantaranya melekat dengan os kavum orbitalis, 1 buah mengangkat
kelopak mata ke atas.
1. Muskulus levator palpebralis superior inferior, fungsinya mengangkat
kelopak mata.
2. Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, fungsinya untuk menutup
mata
3. Muskulus rektus okuli inferior ( otot sekitar mata ) fungsinya untuk
menutup mata.
4. muskulus rektus okuli medial (otot sekitar mata) fungsinya
menggerakkan mata dalam ( bola mata)
5. Muskulus obliques okuli inferior, fungsinya menggerakkan bola mata
ke bawah dan ke dalam.
6. Muskulus obliques okuli superior, fungsinya memutar mata ke atas, ke
bawah dan keluar.
7. Muskulus rektus okuli berorigo pada anulus tendineus komunis, yang
merupakan sarung fibrosus yang menyelubungi nervus optikus.
8. Strabismus (juling) disebabkan tidak seimbangnya atau paralisa
kelumpuhan fungsi dari salah satu otot mata.

E. Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak
bagian belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui
konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan
oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.
Selaput ini mencegah benda-benda asing di dalam mata seperti bulu mata
atau lensa
kontak (contact lens), agar tidak tergelincir ke belakang mata.
Bersama-sama dengan kelenjar lacrimal yang memproduksi air mata,
selaput ini turut menjaga agar cornea tidak kering.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :
1. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar
digerakkan dari tarsus.
6

2. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di
bawahnya.
3. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat
peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
4. Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar
dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.
OKULUS (MATA)

Meliputi bola mata (bulbus okuli). Nervus: optikus saraf otak II,
merupakan saraf otak yang menghubungkan bulbus okuli dengan otak dan
merupakan bagian penting dari pada organ visus.
Bola mata terdiri atas :
a. Dinding bola mata
b. Isi bola mata.
Dinding bola mata terdiri atas :
a. Sklera
b. Kornea.
Isi bola mata terdiri atas uvea, retina, badan kaca dan lensa.

1. Sklera
Pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar, jaringan ini pada
dan berwarna putihserta bersambung dengan kornea di sebelah anterior
dan dura mater nervus optikus di belakang. Beberapa lembar jaringan
sclera berjalan melintang bagian anterior nervus optikus disebut lamina
cribrosa. Permukaan luar sclera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan
tipis dari jaringan elastic halus apisklera yang mengandung banyak
pembuluh darah yang memasok sclera.
SkleraBagian putih bola mata yang bersama-sama dengan kornea
merupakan pembungkus dan pelindung isi bola mata. Sklera berjalan dari
papil saraf optik sampai kornea.Sklera sebagai dinding bola mata
merupakan jaringan yang kuat, tidak bening, tidak kenyal dan tebalnya
kira-kira 1 mm.
Sklera anterior ditutupi oleh 3 lapis jaringan ikat vaskular. Sklera
mempunyai kekakuan tertentu sehingga mempengaruhi pengukuran
tekanan bola mata. Dibagian belakang saraf optik menembus sklera dan
tempat tersebut disebut kribosa. Bagian luar sklera berwarna putih dan
halus dilapisi oleh kapsul Tenon dan dibagian depan oleh konjungtiva.
Diantara stroma sklera dan kapsul Tenon terdapat episklera. Bagian
dalamnya berwarna coklat dan kasar dan dihubungkan dengan koroid oleh
filamen-filamen jaringan ikat yang berpigmen, yang merupakan dinding
luar ruangan suprakoroid.
7

Kekakuan sklera dapat meninggi pada pasien diabetes melitus, atau
merendah pada eksoftalmos goiter, miotika, dan meminum air banyak.

2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular.
Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah
dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut
perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan
koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat
mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator
dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar di
persarafi oleh parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar
mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi.
IRIS adalah perpanjangan korpus siliare ke anterior. Iris terletak
bersambungan dengan permukaan anterior lensa yang memisahkan kamera
anterior dan kamera posterior yang berisi humor aquaes. Iris berwarna
karena mengandung pigmen. Pasok darah ke iris adalah dari circulus
major iris. Persarafan iris adalah dari serat-serat di dalam nervi siliares. Di
bagian tengah iris terdapat bagian berlubang yang disebut pupil. Iris
berfungsi untuk mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam
mata. Ukuran pupil pada prinsipnya ditentukan oleh keseimbangan antara
kontriksi akibat aktivitas parasimpatis yang dihantarkan melalui nervus
kranialis III dan dilatasi yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatik.
KORPUS SILARIS secara kasar berbentuk segitiga pada potongan
melintang. Membentang ke depan dari ujung anterior khoroid ke pangkal
iris, terdiri dari suatu zona anterior yang berombak-ombak, pars plikata,
dan zona posterior yang datar, pars plana. Musculus siliaris tersusun dari
gabungan serat longitudinal, sirkuler, dan radial. Fungsi serat serat
sirkuler adalah untuk mengerutkan dan relaksasi serat serat zonula yang
beorigo di lembah lembah diantara processus siliaris. Pembuluh
pembuluh darah yang mendarahi korpus siliare berasal dari lingkaran
utama iris. Saraf sensorik iris adalah melalui saraf saraf siliaris.
Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik
mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak
pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.

3. Retina
Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan
mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis
membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan
pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial
antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang
disebut ablasi retina.
8

Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin
yang hanya menempel pupil saraf optik, makula dan pars plans. Bila
terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada
retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina.
Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya
pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peranan
pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di
daerah makula lutea.
Terdapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal
yang terletak di daerah temporal atas di dalam rongga orbita.

4. Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan
hampir transparan sempurna.di belakang iris lensa digantung oleh zonula
yang menghubungkan dengan korpus siliare. Di sebelah anterior terdapat
humor aquaeus dan di sebelah posterior terdapat vitreus. Kapsul lensa
adalah suatu membrane yang semi permiabel yang akan memperbolehkan
air dan elektrolit masuk. Lensa ditahan di temaptnya oleh ligamentum
yang dikenal dengan zonula ( zonula Zinnii ) ke badan siliare. Lensa mata
berfungsi untuk membiaskan cahaya.

5. Humor Aquaeus
Humor aquaeus diproduksi oleh korpus siliare, setelah memasuki
kamera posterior humor aquaeus melalui pupil dan masuk ke kamera
anterior. Humor aquaeus adalah suatu cairan jernih yang mengisi kamera
anterior dan posterior mata. Tekanan intraocular ditentukan oleh kecepatan
pembentukan humor aquaeus.

6. Vitreus
Vitreus adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskuler yang
membentuk duapertiga dari volume dan berat mata. Vitreus mengisi
ruangan yang yang dibatasi oleh lensa, retina, dan diskus optikus.

FUNGSI MATA
Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di retina mengalami
pembiasan lima kali yaitu waktu melalui konjungtiva, kornea, aqueus humor,
lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di kornea. Bagi mata
normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning, yaitu bagian yang
paling peka terhadap sinar.
Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan
sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang
berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar,
9

terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen
pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari
sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna,
makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah
bintik kuning hanya ada sel konus saja.
Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu suatu
senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari,
maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan
kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali
memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap (disebut juga adaptasi
rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat.
Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang
merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu
sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel
konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu
sel konus akan menyebabkan buta warna.
Jarak terdekat yang dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat
(punctum proximum). Jarak terjauh saat benda tampak jelas tanpa kontraksi
disebut titik jauh (punctum remotum). Jika kita sangat dekat dengan obyek
maka cahaya yang masuk ke mata tampak seperti kerucut, sedangkan jika kita
sangat jauh dari obyek, maka sudut kerucut cahaya yang masuk sangat kecil
sehingga sinar tampak paralel. Baik sinar dari obyek yang jauh maupun yang
dekat harus direfraksikan (dibiaskan) untuk menghasilkan titik yang tajam pada
retina agar obyek terlihat jelas. Pembiasan cahaya untuk menghasilkan
penglihatan yang jelas disebut pemfokusan.
Cahaya dibiaskan jika melewati konjungtiva kornea. Cahaya dari obyek
yang dekat membutuhkan lebih banyak pembiasan untuk pemfokusan
dibandingkan obyek yang jauh. Mata mamalia mampu mengubah derajat
pembiasan dengan cara mengubah bentuk lensa. Cahaya dari obyek yang jauh
difokuskan oleh lensa tipis panjang, sedangkan cahaya dari obyek yang dekat
difokuskan dengan lensa yang tebal dan pendek. Perubahan bentuk lensa ini
akibat kerja otot siliari. Saat melihat dekat, otot siliari berkontraksi sehingga
memendekkan apertura yang mengelilingi lensa. Sebagai akibatnya lensa
menebal dan pendek. Saat melihat jauh, otot siliari relaksasi sehingga apertura
yang mengelilingi lensa membesar dan tegangan ligamen suspensor bertambah.
Sebagai akibatnya ligamen suspensor mendorong lensa sehingga lensa
memanjang dan pipih.Proses pemfokusan obyek pada jarak yang berbeda-
berda disebut daya akomodasi. Cara kerja mata manusia pada dasarnya sama
dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa.



10

KELAINAN PADA MATA
Pada anak-anak, titik dekat mata bisa sangat pendek, kira-kira 9 cm
untuk anak umur 11 tahun. Makin tua, jarak titik dekat makin panjang. Sekitar
umur 40 tahun 50 tahun terjadi perubahan yang menyolok, yaitu titik dekat
mata sampai 50 cm, oleh karena itu memerlukan pertolongan kaca mata untuk
membaca berupa kaca mata cembung (positif). Cacat mata seperti ini disebut
presbiopi atau mata tua karena proses penuaan. Hal ini disebabkan karena
elastisitas lensa berkurang. Penderita presbiopi dapat dibantu dengan lensa
rangkap. Mata jauh dapat terjadi pada anak-anak; disebabkan bola mata terlalu
pendek sehingga bayang-bayang jatuh di belakang retina. Cacat mata pada
anak-anak seperti ini disebut hipermetropi.
Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang disebabkan oleh bola
mata terlalu panjang sehingga bayang-bayang dari benda yang jaraknya jauh
akan jatuh di depan retina. Pada mata dekat ini orang tidak dapat melihat benda
yang jauh, mereka hanya dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Untuk
cacat seperti ini orang dapat ditolong dengan lensa cekung (negatif). Miopi
biasa terjadi pada anak-anak.
Astigmatisma merupakan kelainan yang disebabkan bola mata atau
permukaan lensa mata mempunyai kelengkungan yang tidak sama, sehingga
fokusnya tidak sama, akibatnya bayang-bayang jatuh tidak pada tempat yang
sama. Untuk menolong orang yang cacat seperti ini dibuat lensa silindris, yaitu
yang mempunyai beberapa fokus.

SUDUT KAMERA ANTERIOR
Sudut kamera anterior terletak pada persambungan kornea perifer dan
akar iris. Cirri cirri utama sudut ini adalah garis Schwalbe yaitu jalinan
trabekula yang terletak di atas kanalis Schlemn. Yang berfungsi sebagai tempat
pengaliran humor aquaeus melalui kanal Schlemn.

2.3 Proses pembedahan mata

Pencegahan utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan mata
dan menghindari faktor-faktor yang mempercepat kebutaan pada mata.
Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari
bisa mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata. Berhenti
merokok bisa mengurangi resiko terjadinya kebutaan salah satu pengobatan
pada mata yaitu adalah pembedahan.
Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat melihat dengan baik
dengan bantuan kaca mata untuk melakukan kegiatannya sehari-hari.
Beberapa penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya
dengan mengganti kaca matanya, menggunakan kaca mata bifokus yang lebih
kuat atau menggunakan lensa pembesar.
11

Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun
sedemikian rupa, sehingga mengganggu pekerjaan sehari hari atau bila telah
menimbulkan penyulit seperti; glaukoma dan uveitis.
Komplikasi yang mungkin timbul akibat operasi adalah glaukoma,
ablasio retina, perdarahan vitreus, infeksi, atau pertumbuhan epitel ke kamera
okuli anterior.
Pembedahan terdiri dari pengangkatan lensa dan menggantinya dengan
lensa buatan.
1. Pengangkatan lensa
Ada 2 macam pembedahan yang bisa digunakan untuk mengangkat lensa:
a. Pembedahan ekstrakapsuler : lensa diangkat dengan meninggalkan
kapsulnya.
Untuk memperlunak lensa sehingga mempermudah pengambilan lensa
melalui sayatan yang kecil, digunakan gelombang suara berfrekuensi
tinggi (fakoemulsifikasi).
b. Pembedahan intrakapsuler : lensa beserta kapsulnya diangkat. Pada
saat ini pembedahan intrakapsuler sudah jarang dilakukan.
2. Penggantian lensa
Penderita yang telah menjalani pembedahan biasanya akan mendapatkan
lensa buatan sebagai pengganti lensa yang telah diangkat.
Lensa buatan ini merupakan lempengan plastik yang disebut lensa
intraokuler, biasanya lensa intraokuler dimasukkan ke dalam kapsul lensa
di dalam mata.
Indikasi Operasi :
- Pada bayi (<1 tahun), Jika fundus tidak terlihat
- Pada usia lanjut
- Indikasi klinis : jika timbul komplikasi glaucoma atau uveitis,
meskipun visus masih baik untuk bekerja. Operasi dilakukan setelah
keadaan tenang.
- Indikasi sosial : Karena pekerjaan.

Perawatan Pasien Pre Operasi :

a. Fungsi retina harus baik yang diperiksa dengan tes proyeksi sinar
b. Tidak ada oleh ada infeksi pada mata atau jaringan sekitar
c. Tidak boleh ada glaukoma. Pada keadaan glaukoma pembuluh darah
retina telah menyesuaikan diri dengan TIO yang tinggi. Jika dilakukan
operrasi, pada waktu kornea dipotong, TIO m enurun, pembuluh darah
pecah danmenimbulkan perdarahan hebat. Juga dapat menyebabkan
prolap dari isi bulbus okuli seperti iris, badan kaca dan lensa.
d. Periksa visus.
12

e. Keadaan umum harus baik : tidak ada hipertensi, tidak ada diabetes
militus ( kadar gula darah < 150 mg/dl), tidak ada batuk menahun dan
penyakit jantung, seperti dekompensasi kordis.
f. Anjurkan pasien mandi dan keramas sebelum operasi, untuk mengurangi
resiko infeksi.
g. Berikan obat-obat premedikasi, dan cukur buli mata sesuai advis dokter.
Operasi sering dilakukan dan biasanya aman. Setelah pembedahan jarang
sekali terjadi infeksi atau perdarahan pada mata yang bisa menyebabkan
gangguan penglihatan yang serius. Untuk mencegah infeksi, mengurangi
peradangan dan mempercepat penyembuhan, selama beberapa minggu
setelah pembedahan diberikan tetes mata atau salep. Untuk melindungi
mata dari cedera, penderita sebaiknya menggunakan kaca mata atau
pelindung mata yang terbuat dari logam sampai luka pembedahan benar-
benar sembuh.

Perawatan Pasca Operasi :

a. Batasi pasien untuk melakukan tindakan yang dapat meningkatkan TIO,
diantaranya : batuk, membungkuk, mengejan, bersin, mengangkat benda
berat > 7,5 kg, tidur berbaring disisi yang dioperasi.
b. Anjurkan pasien memakai kaca mata pada siang hari dan memakai
pelindung mata pada malam hari
c. Berikan obat-obat tetes mata/salep mata sesuai advis dokter.
d. Observasi adanya peningkatan TIO yang ditandai dengan : Nyeri hebat,
mual, muntah.
e. Obserrvasi adanya tanda-tanda infeksi, dan anjurkan pasien untuk tidak
menggosok mata untuk mencgah terjadinya infeksi. Anjurkan paien
mencuci tangan sebelum memberikan salep/obat tetes mata.
f. Observasi adanta tanda-tanda perdarahan ruang mata anterior yang
ditandai dengan perubahan pandangan
g. Observassi adanya tanda Retinal detachment, yang ditandai dengan
tampaknya titik hitam, peningkatan jumlah floaters atau sinar dan
hilangnya sebagian/seluruh lapang pandang.

13

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian oftlamik merupakan komponen system neurovisual
pemeriksaan sensoris. Pengkajian oftalmik harus berisi tinjauan ringkas
sebagai komponen pemeriksaan fisik umum atau sebagai pemeriksaan teliti dan
selektif pada bagian mata itu sendiri. Derajat potensial keterlibatan oftalmik
menentukan kapan diperlukan evaluasi khusus atau hanya singkat saja. Ada
tiga bidang pengkajian oftalmik yaitu: pengkajian riwayat, pemeriksaan fisik,
serta diagnostic khusus oftalmik.

a. Identitas klien
Identitas klien meliputi meliputi identitas pribadi dan identitas sosial
pasien.Identitas pribadi yaitu identitas yang melekat pada pribadi pasien (
termasuk ciri-cirinya) misalnya Nama,Tanggal Lahir/Umur,Jenis
Kelamin,Alamat, Status Perkawinan dan lain-lain termasuk No.RM yang
diberikan kepadanya dan nama orang tua.Sedangkan identitas sosial
meliputi identitas yang menjelaskan tentang sosial,ekonomi dan budaya
pasien misalnya, agama, pendidikan,pekerjaan,identitas orang tua,identitas
penanggung jawab pembayaran dan lain-lain.
Pengkajian ini perlu dilakukan agar tidak terjadi duplikasi nama
pasien. Umur pasien sangat penting untuk diketahui guna melihat kondisi
pada berbagai jenis pembedahan. Selain itu juga diperlukan untuk
memperkuat identitas pasien. Perawat peripoperatif harus mengetahui
bahwa faktor usia, baik anak-anak dan lansia, dapat meningkatkan resiko
pembedahan. Pengetahuan tersebut akan membantu perawat perioperatif
untuk menentukan tindakan pencegahan mana yang penting untuk
dimasukkan ke dalam rencan asuhan keperawatan.

1. Keluhan Utama
Keluhan utama yaitu kronologi peristiwa yang dialami klien dari
gejala awal yang klien rasakan hingga ia memutuskan untuk
memperoleh pelayanan kesehatan

2. Riwayat Penyakit
- Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan pengembangan atau keluhan lanjut yang mendukung
dari keluhan utama
- Riwayat Penyakit dahulu
Pengalaman bedah sebelumnya dapat mempengaruhi respons fisik
dan psikologis pasien terhadap prosedur pembedahan. jenis
14

pembedahan sebelumnya , tingkat rasa, ketidaknyamanan,
besarnya ketidakmampuan yang ditimbulkan, dan seluruh tingkat
perawatan yang pernah diberikan adalah factor-faktor yang
mungkin akan diingat oleh pasien. Perawat mengkaji semua
komplikasi yang pernah dialami pasien
- Riwayat Psikospritual
Berbagai dampak psikologis yang dapat muncul adalah adanya
ketidaktahuan akan pengalaman pembedahan yang dapat
mengakibatkan kecemasan yang terkespresi dalam berbagai bentuk
seperti marah, menolak, atau apatis terhadap kegiatan keperawatan.
Pasien yang cemas sering mengalami ketakutan atau perasaan tidak
tenang . berbagai bentuk ketakutan muncul seperti ketakutan akan
hal yang tidak diketahui, misalnya terhadap pembedahan, anestesi,
masa depan, keuangan, dan tanggung jawab keluarga, ketakutan
akan nyeri, kematian, atau ketakutan akan perubahan citra diri dan
konsepp diri. Kecemasan dapat menimbulkan adanya perubahan
secara fisik maupun psikologis yang akhirnya megaktifkan saraf
otonom simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung,
peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi napas, dan
secara umum mengurangi tingkat energy pada pasien, dan akhirnya
dapat merugikan individu itu snediri
Kepercayaan spiritual memainkan peranan penting dalam
menghadapi ketakutan dan ansietas. Tanpa memandang agama
yang dianut pasien, kepercayaan spiritual dapat menjadi medikasi
terapeutik. Segala upaya harus dilakukan untuk membantu pasien
mendapat bantuan spiritual yang diinginkan . keyakinan
mempunyai kekuatan yang sangat besar , oleh karena itu
kepercayaan yang dimiliki oleh setiap pasien harus dihargai dan
didukung. Menghormati nilai budaya dan kepercayaan pasien dapat
mendukung terciptanya hubungan dan saling percaya. Kemampuan
yang paling berguna bagi perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan adalah kemampuan untuk mendengarkan pasien,
terutama saat mengumpulkan riwayat kesehatan pasien. Melalui
keterlibatan dalam percakapan dan menggunakan prinsip-prinsip
komunikasi mewawancara, perawat dapat mengumpulkan
informasi dan wawasan yang sangat berharga . perawat yang
tenang memperhatikan, dan pengertian akan menimbulkan rasa
percaya pasien.
- Riwayat Alergi
Perawat harus mewaspadai adanya alergi terhadap berbagai obat
yang mungkin diberikan selama fase intraoperatif. Apabila pasien
mempunyai riwayat alergi satu atau lebih, maka pasien perlu
15

mendapat pita identifikasi alergi yang dipakai pada pergelangan
tangan sebelum menjalani pembedahan atau penulisan symbol
alergi yang tertulis jelas pada status rekam medis sesuai dengan
kebijakan institusi . perawat juga harus memastikan bagian depan
lembar pencatatan pasien berisi daftar alergi yang dideritanya.

3. Pemeriksaan TTV
Pemeriksaan TTV meliputi pengukuran suhu , nadi, tekanan
darah, dan frekuensi pernapasan. Sebgai indicator dari status kesehatan
, ukuran-ukuran ini menandakan keefektifan sirkulasi =, respirasi, serta
fungsi neurologis dan endokrin tubuh . karena sangat penting, maka
disebut dengan vital. Banyak factor seperti suhu lingkungan, latihan
fisik, dan efek sakit yang menyebabkan perubahan tanda vital hingga
kadang-kadang diluar batas normal. Pengukuran tanda vital member
data untuk menentukan status kesehatan pasien yang lazim (data
dasar), seperti respons terhadap stress fisik dan psikologis . perubahan
pada tanda vital menandakan kebutuhan dilakukannya intervensi
keperawatan dan medis praoperatif.

4. Pemeriksaan fisik mata
- Inspeksi
Struktur yang di inspeksi meliputi alis, kelopak mata, bulu mata,
apparatus lakrimalis, konjungtiva, kornea, kamera anterior, iris,
dan pupil.
- Palpasi
Palpasi dilakukan untuk menentukan adanya tumor, nyeri tekan
dan keadaan TIO. Mulai dari palpasi ringan pada kelopak mata
terhadap adanya pembengkakkan dan kelemahan. Untuk
pemeriksaan TIO, anjurkan pasien untuk duduk dan minta pasien
melihat kebawah tanpa munutup matanya. Dengan hati-hati,
tekankan kedua jari telunjuk kedua tangan secara bergantian pada
kelopak atas. Dan cara ini di ulangi pada mata yang sehat
kemudian bandingkan hasilnya. Palpasi sakus alis dengan
menekankan jari telunjuk pada kantus medialis, observasi
punktum terhadap adanya regurgitasi material purulen yang
abnormal atau air mata berlebihan yang merupakan indikasi
hambatan duktus nasolakrimalis (Vaughan, 1999).

5. Pemeriksaan ketajaman mata
a. Uji tajam penglihatan mengukur penglihatan jauh dan dekat.
Snellen chart, adalah salah satu alat sederhana yang digunakan oleh
peraawat untuk mencatat penglihatan jauh. Ketajaman penglihatan
16

diekspresikan dalam rasio yang membandingkan bagaimana
seseorang dengan penglihatan normal melihat dari jarak 20 dengan
yang dilihat pasien dari jarak yang sama. Batas kebutaan legal,
yaitu 20/200, menunjukkan bahwa pasien dapat melihat dari 20
kaki sedangkan mata normal dapat melihatnya pada jarak 200 kaki.
Pasien sperti ini biasanya hanya dapat membaca dengan akurat
huruf yang ada di barisan paling atas kartu Snellen (Vaughan,
1999).
b. Uji lapang pandang. Pengkajiannya dengan uji konfrontasi, uji ini
hanya memberikan perkiraan kasar dari lapang pandang seseorang
dan digunakan untuk mendeteksi kelainan lapang pandang yang
lebih besar seperti hemianopia (kebutaan pada lapangan dari
pandangan pada satu atau kedua mata), kuadrantanopia (kebutaan
pada lapangan dari pandangan), dan skotoma ()adanya titik buta
pada lapang pandang) (Talley, 1993).

6. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan Diagnostik
- Uji laboratorium
- Slitlamp
Slitlamp merupakan alat yang memungkinkan pemeriksaan struktur
anterior mata dalam gambaran mikroskopik. Teknik ini
memungkinkan pemeriksa mengetahui letak abnormalitas pada
kornea, lensa, atau vitreous humor anterior (Vaughan, 1999).
- Tonometri
Tonometri adalah cara pengukuran TIO dengan memakai alat-alat
terkalibrasi yang melekukkan atau meratakan apeks kornea. Makin
tegang mata, makin besar gaya yang diperlukan untuk
mengakibatkan lekukan (Vaughan, 1999).
- Oftalmoskopi
Oftalmoskopi alat untuk melihat bagian mata dalam, meliputi
retina, diskus optikus, makula, dan pembuluh darah retina.
(Smeltzer, 2002).

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Pre Operasi
1. Gangguan sensori perseptual; penglihatan yang berhubungan dengan
gangguan penerimaan sensori/status organ indra
2. Takut / cemas yang berhubungan dengan penurunan penglihatan, jadwal
operasi, ketidakmampuan mengembalikan penglihatan
3. Resiko tinggi terhadap cidera yang berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/status organ indra
17

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan yang
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi

Diagnosa Keperawatan Post Op
1. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan penglihatan
perifer sementara dan kedalaman persepsi sekunder terhadap pembedahan
mata.
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan pembedahan mata.
3. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah
b.d Kurang pengetahuan tentang perawatan diri saat pulang,
ketidakadekutan sistem pendukung.