Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Corporate Social Responsibility (CSR)

CSR adalah sebuah konsep yang tidak hadir secara instan. CSR merupakan hasil
dari proses panjang dimana konsep dan aplikasi dari konsep CSR pada saat sekarang ini telah
mengalami banyak perkembangan dan perubahan dari konsep-konsep terdahulunya.
Perkembangan CSR secara konseptual baru dikemas sejak tahun 1980-an yang dipicu
sedikitnya oleh 5 hal berikut:
1) Maraknya fenomena take over antar korporasi yang kerap dipicu oleh keterampilan
rekayasa finansial.
2) Runtuhnya tembok Berlin yang merupakan simbol tumbangnya paham komunis dan semakin
kokohnya imperium kapitalisme secara global.
3) Meluasnya operasi perusahaan multinasional di negaranegara berkembang, sehingga di
tuntut supaya memperhatikan: HAM, kondisi sosial dan perlakukan yang adil terhadap buruh.
4) Globalisasi dan menciutnya peran sektor publik (pemerintah) hampir di seluruh dunia telah
menyebabkan tumbuhnya LSM (termasuk asosiasi profesi) yang memusatkan perhatian mulai
dari isu kemiskinan sampai pada kekuatiran akan punahnya berbagai spesies baik hewan
maupun tumbuhan sehingga ekosistem semakin labil.
5) Adanya kesadaran dari perusahaan akan arti penting merk dan reputasi perusahaan dalam
membawa perusahaan menuju bisnis berkelanjutan.
Pada tahun 1990-an muncul istilah corporate social reponsibility(CSR). Pemikiran
yang melandasi CSR yang sering dianggap inti dari etika bisnis adalah bahwa perusahaan
tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomi dan legal (artinya kepada pemegang
saham atau shareholder) tetapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang
berkepentingan (stakeholder) yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban di atas.
Tanggung jawab sosial dari perusahaan terjadi antara sebuah perusahaan dengan semua
stakeholder, termasuk di dalamnya adalah pelanggan atau customer, pegawai, komunitas,
pemilik atau investor, pemerintah, supplier bahkan juga kompetitor. Perkembangan CSR saat
ini juga dipengaruhi oleh perubahaan orientasi CSR dari suatu kegiatan bersifat sukarela
untuk memenuhi kewajiban perusahaan yang tidak memiliki kaitan dengan strategi dan
pencapaian tujuan jangka panjang, menjadi suatu kegiatan strategis yang memiliki
keterkaitan dengan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang.
Di Indonesia wacana mengenai CSR mulai mengemuka pada tahun 2001, namun
sebelum wacana ini mengemuka telah banyak perusahaan yang menjalankan CSR dan sangat
sedikit yang mengungkapkannya dalam sebuah laporan. Hal ini terjadi mungkin karena kita
belum mempunyai sarana pendukung seperti: standar pelaporan, tenaga terampil (baik
penyusun laporan maupun auditornya). Di samping itu sektor pasar modal Indonesia juga
kurang mendukung dengan belum adanya penerapan indeks yang memasukkan kategori
saham-saham perusahaan yang telah mempraktikkan CSR. Sebagai contoh, New York Stock
Exchange memiliki Dow Jones Sustainability Index (DJSI) bagi saham-saham perusahaan
yang dikategorikan memiliki nilai corporate sustainability dengan salah satu kriterianya
adalah praktik CSR. Begitu pula London Stock Exchange yang memiliki Socially
Responsible Investment (SRI) Index dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang
memiliki FTSE 4Good sejak 2001.
CSR bukan saja sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebuah kewajiban. CSR adalah
suatu peran bisnis dan harus menjadi bagian dari kebijakan bisnis. Maka,bisnis tidak hanya
mengurus permasalahan laba , tapi juga sebagai sebuah institusi pembelajaran. Bisnis harus
mengandung kesadaran sosial terhadap lingkungan sekitar.
Ada enam kecenderungan utama, yang semakin menegaskan arti penting CSR, yaitu :
1) Meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin;
2) Posisi negara yang semakin berjarak pada rakyatnya;
3) Makin mengemukanya arti kesinambungan;
4) Makin gencar sorotan kritis dan resistensi publik, bahkan bersifat anti perusahaan.
5) Tren ke arah transparansi;
6) Harapan terwujudnya kehidupan lebih baik dan manusiawi pada era millennium baru.
Tak heran, CSR telah menjadi isu bisnis yang terus menguat. Isu ini sering
diperdebatkan dengan pendekatan nilai-nilai etika, dan memberi tekanan yang semakin besar
pada kalangan bisnis untuk berperan dalam masalah-masalah sosial, yang akan terus tumbuh.
Isu CSR sendiri juga sering diangkat oleh kalangan bisnis, manakala pemerintahan nasional
di berbagai negara telah gagal menawarkan solusi terhadap berbagai masalah kemasyarakatan
Namun, upaya penerapan CSR sendiri bukannya tanpa hambatan. Dari kalangan
ekonom sendiri juga muncul reaksi sinis. Ekonom Milton Friedman, misalnya, mengritik
konsep CSR, dengan argumen bahwa tujuan utama perusahaan pada hakikatnya adalah
memaksimalkan keuntungan (returns) bagi pemilik saham, dengan mengorbankan hal-hal
lain. Ada juga kalangan yang beranggapan, satu-satunya alasan mengapa perusahaan mau
melakukan proyek-proyek yang bersifat sosial adalah karena memang ada keuntungan
komersial di baliknya. Agar mengangkat reputasi perusahaan di mata publik atau pemerintah.
Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus menunjukkan bukti nyata bahwa komitmen mereka
untuk melaksanakan CSR bukanlah main-main. Manfaat dari CSR itu sendiri terhadap pelaku
bisnis juga bervariasi, tergantung pada sifat (nature) perusahaan bersangkutan, dan sulit
diukur secara kuantitatif.





















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)
Walaupun konsep CSR dewasa ini sangat popular, namun belum dijumpai
keseragaman dalam mendefinisikan konsep CSR. Istilah CSR sendiri diperkenalkan pertama
kali dalam tulisan Social Responsibility of the Businessman tahun 1953. CSR digagas
Howard Rothmann Browen untuk mengeleminasi keresahan dunia bisnis. CSR adalah sebuah
pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis
mereka. CSR bisa dikatakan komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis, untuk
berperilaku secara etis dan memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi, seraya
meningkatkan kualitas kehidupan dari karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan
masyarakat luas pada umumnya. Dalam interaksi dengan para pemangku kepentingan
(stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.
Dibawah ini diberikan beberapa definisi yang dikutip dari beberapa ahli dan juga dari
buku Membedah Konsep dan Aplikasi CSR karangan Yusuf Wibisono (2007),
buku Corporate Social Responsibility dari A.B. Susanto (2007), dan beberapa buku lainnya.
a) The World Business Council for Sustainable Development mendefinisikan CSR sebagai
Continuing commitment by business to behave athically and contribute to economic
development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as
of the local community and society at large.[Komitmen bisnis untuk secara terus-menerus
berperilaku etis dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi serta meningkatkan kualitas
hidup karyawan dan keluarganya, masyrakat local, serta masyarakat luas pada umumnya.]
b) EU Green Paper on CSR memberikan definisi CSR sebagai a concept whereb companies
intergrate social and environmentalconcerns in their business operations and it their
interaction with their stakeholders on a voluntary basis. [Suatu konsep dimana perusahaan
menginterasikan perhatian pada masyarakat dan lingkungan dalm operasi bisnisnya serta
dalam interkasinya dengan para pemangku kepentingan secara sukarela.]
c) Magnan dan Ferrel mendefinisikan CSR sebagai a business acts in a socially responsible
manner when its decision and account for and balance diverse stakeholder interest. [Suatu
bisnis dikatakan telah melaksanakan tanggungjawab sosialnya jika keputusan-keputusan yang
diambil telah mempertimbangkan keseimbangan antar berbagai pemangku kepentingan yang
berbeda-beda.]
d) A.B. Susanto mendefinisikan CSR sebagai tanggungjawab perusahaan baik ke dalam
maupun ke luar perusahaan. Tanggungjawab ke dalam diarahkan kepada pemegang saham
dan karyawan dalam wujud profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan, sedangkan
tanggungjawab ke luar dikaitkan dengan peran perusahaan sebagai pembayar pajak dan
penyedia lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi masyarakat, serta
memelihara lingkungan bagi generasi mendatang.
e) Elkington mengemukakan bahwa tanggaungjawab social perusahaan mencakup tiga dimensi,
yang lebih popular dengan singkatan 3P, yaitu: mencapai keuntungan (profit) bagi
perusahaan, memberdayakan masyarakat (people), dan memelihara kelestarian alam (planet).
f) Kotler dan Nancy CSR didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk
meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan
mengkontribusikan sebagian sumber daya perusahaan
g) CSR Forum, CSR didefinisikan sebagai bisnis yang dilakukan secara transparan dan
terbuka serta berdasarkan pada nilai-nilai moral dan menjunjung tinggi rasa hormat
kepada karyawan, komunitas dan lingkungan.
Jika dilihat dari beberapa definisi CSR diatas, tampak bahwa secara umum
CSR adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai
kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap
sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggungjawab
itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak
tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk
desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak,
khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate
Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang
mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya.
Berdasarkan dari konsep 3P yang dikemukakan Elkington, konsep CSR
sebenarnya ingin memadukan tiga fungsi perusahaan secara seimbang, yaitu :
a) Fungsi Ekonomis. Fungsi ini merupakan fungsi tradisonal perusahaan, yaitu untuk
memperoleh keuntungan(profit) bagi perusahaan.
b) Fungsi Sosial. Perusahaan menjalankan fungsi ini melalui pemberdayaan manusianya, yaitu
para pemangku kepentingan(people) baik pemangku kepentingan primer maupun pemangku
ke[entingan sekunder. Selain itu, melalui fungsi ni perusahaan berperan menjaga keadilan
ndalam membagi manfaat dan menanggung beban yang ditimbulkan dari aktivitas
perusahaan.
c) Fungsi Alamiah. Perusahaan berperan dalam menjaga kelestarian alam(planet). Perusahaan
hanya merupakan salah satu elemen dalam system kehidupan di bumi ini. Bila bumi ini
dirusak maka seluruh bentuk kehidupan di bumi akan terancam musnah. Bila tidak ada
kehidupan, bagaimana mungkin akan ada perudahaan yang masih bertahan hidup?
Menurut Philip Kotler, ada enam program CSR yang mungkin untuk dijalankan
sebuah perusahaan:
1) Cause Promotion. Perusahaan menyediakan dana atau menyediakan resources lainya seperti
tenaga sukarela atau mendukung kegiatan pengumpulan dana untuk membiayai suatu
program CSR. Contoh, Body Shop mendukung kampanye untuk anti pengunaan binatang
sebagai percobaan untuk produk-produk kosmetik.
2) Cause-Related Marketing. Peresahaan mendukung suatu program CSR tertentu dengan
cara menyumbangkan dana dari hasil penjualan produk perusahaan, biasanya dilakukan untuk
jenis produk tertentu dan untuk periode tertentu saja.Contoh,Avon and The Avon Foundation
mendukung program kampanye kanker payudara tentang penyebab dan penangulangannya
3) Corporate Social Marketing. Perusahaan mendukung program CSR yang sifatnya
kampanye perubahan perilaku yang tidak baik menjadi baik atau lebih baik seperti,
peningkatan kesehatan masyrakat, keselamatan kerja, kerusakan lingkungan dan lain-lain.
Bisa dilakukan sendiri atau mencarimitra yang mempunyai kepedulian yang terhadap isu
yang sama. Contoh, The Home Depot mengkampanyekan dan memberikan petunjuk
mengenai bagaimana menghemat pengunaan air melalui brosur,pelatihan dan lain-lain.
4) Corporate Philanthropy. Program CSR ini dilakukan dengan cara memberikan bantuan
langsung, baik dana maupun tenaga terhadap isu sosial tertentu.Contoh, Microsoft
memberikan bantuan uang tunai dan software gratis kepada sekolah-sekolah
5) Community Voluntering. Perusahaan memberikan bantuan untuk isu tertentu dengan cara
memberikan bantuan tenaga sukarela yang diperlukan dalam program CSR tersebut. Contoh,
IBM memberikan bantuan dengan cara memberikan pelatihan tentang komputer kepada
siswa.
6) Social Responsible Business Practice. Program CSR ini dilakukan dengan melakukan
untuk tujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan cara memilih cara-cara operasi
yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Pemilihan cara-cara oeprasi yangs esuai dengan etika
dan moral yang berkembang dimasyarakat.Contoh, Kraft Food bekerja sama dengan
Wellness Advisory Council mencantumkan label nutrisi dalam setiap kemasan produknya.
Berkaitan dengan implementasi CSR perusahaan dapat dikelompokan kedalam
beberapa kategori untuk menggambarkan komitmen dan kemampuan perusahaan dalam
menjalankan CSR. Dengan menggunakan dua pendekatan, sedikitnya ada delapan kategori
perusahaan. Perusahaan yang ideal memiliki kategori reformis dan progresif. Dalam
kenyataan, kategori ini bisa saling bertautan.
1. Berdasarkan proporsi keuntungan perusahaan dan besarnya anggaran CSR, ada empat
kategori yaitu;
Perusahaan Minimalis. Perusahaan yang memiliki profit dan anggaran CSR yang rendah.
Perusahaan kecil dan lemah biasanya termasuk dalam kategori ini.
Perusahaan Ekonomis. Perusahaan yang memiliki keuntungan tinggi, namun anggran CSR-
nya rendah seperti perusahaan besar namun pelit.
Perusahaan Humanis. Meskipun profitnya perusahaan rendah, proporsi anggaran CSR-nya
relatif tinggi. Layak disebut perusahaan dermawan atau baik hati.
Perusahaan Reformis. Perusahaan yang memiliki profit dan anggran CSR yang tinggi.
Perusahaan yang sudah menempatkan CSR pada strategi bisnisnya, memandang CSR bukan
sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk maju.
2. Berdasarkan tujuan perusahaan dalam implementasi CSR, ada empat kategori yaitu;
Perusahaan Pasif. Perusahaan yang menerapkan CSR tanpa tujuan jelas, sekedar melakukan
kegiatan karitatif. Perusahaan seperti ini melihat promosi dan CSR sebagai hal kurang
bermanfaat bagi perusahaan.
Perusahaan Impresif. Perusahaan yang menggunakan CSR untuk promosi alias tebar pesona
daripada untuk pemberdayaan.
Perusahaan Agresif. CSR lebih ditujukan untuk pemberdayaan ketimbang promosi.
Perusahaan seperti ini lebih mementingkan karya nyata ketimbang tebar pesona.
Perusahaan Progresif. Perusahaan menerapkan CSR untuk tujuan pemberdayaan dan
sekaligus promosi. Promosi dan CSR dipandang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan
menunjang satu sama lain bagi kemajuan perusahaan.

B. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)
CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka
panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability. Manfaat bagi masyarakat dan
keuntungan bagi perusahaan Manfaat bagi masyarakat dan perusahaan itu sangat bagus
dengan adanya CSR ini. Karena di dalam CSR ini terdapat point-point seperti :
Pengembangan Ekonomi misalnya kegiatan di bidan pertanian, peternakan,koperasi dan
Usaha Kecil Menengah (UKM).
Kesehatan dan Gizi Masyarakat misalnya penyuluhan, pengobatan, pemberian gizibagi
balita, program sanitasi masyarakat dan sebagainya.
Pengelolaan Lingkungan misalnya penanganan limbah, pengelolaan sampah rumah tangga,
reklamasi dan penanganan dampak lingkungan lainnya.
Pendidikan, Ketrampilan dan Pelatihan misalnya pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi
dan siswa tidak mampu, magang atau job training, studi banding,peningkatan ketrampilan,
pelatihan dan pemberian sarana pendidikan.
Sosial, Budaya, Agama dan Infrastruktur misalnya kegiatan bakti sosial, budayadan
keagamaan serta perbaikan infrastruktur di wilayah masyarakat setempat.
Dari point-point tersebut jadi bisa diambil kesimpulannya bawa manfaat CSR bagi
masyarakat itu ialah
Masyarakat jadi lebih mudah dalam mendapatkan hak nya sesuai dengan sila-4,
Dapat membantu masyarakat apabila ingin melakukan kegiataan perekonomian,
Meningkatkan tingkat kesehatan,
Mengurangi tingkat penggangguran dan
Mengurangi tingkat putus sekolah masyarakat.


Kemudian manfaat bagi perusahan adalah
Perusahaan lebih mudah mengalokasikan dana yang mengendap melalui kegiatan pemberian
kredit bagi masyarakat yang ingin melakukan kegiatan ekonomi seperti (KUR)
Dapat meningkatkan penghasilan perusahaan juga sebab apabila taraf hidup masyarakat
maju maka daya beli masyarakat juga akan bertambah hal ini yang akan menjadi
bertambahnya penghasilan bagi perusahaan.
Mempertahankan dan mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan;
Mendapatkan lisensi untuk beroprasi secara sosial;
Mereduksi risiko bisnis perusahaan;
Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha;
Membuka peluang pasar yang lebih luas;
Mereduksi biaya misalnya terkait dampak lingkungan;
Memperbaiki hubungan dengan stakeholders;
Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan;
peluang mendapatkan penghargaan
Lalu jika dikelompokkan, sedikitnya ada empat manfaat CSR terhadap perusahaan
(Wikipedia, 2008) :
Brand differentiation. Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif, CSR bisa
memberikan citra perusahaan yang khas, baik dan etis di mata publik yang pada gilirannya
menciptakan customer loyalty. The Body Shop dan BP (dengan bendera Beyond
Petroleum-nya), sering dianggap sebagai memiliki image unik terkait isu lingkungan.
Human resources. Program CSR dapat membantu dalam perekrutan karyawan baru,
terutama yang memiliki kualifikasi tinggi. Saat interview, calon karyawan yang memiliki
pendidikan dan pengalaman tinggi sering bertanya tentang CSR dan etika bisnis perusahaan,
sebelum mereka memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama, CSR juga dapat
meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja.
License to operate. Perusahaan yang menjalankan CSR dapat mendorong pemerintah
dan publik memberi ijin atau restu bisnis. Karena dianggap telah memenuhi standar
operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas.
Risk management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan.
Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal
korupsi, kecelakaan karyawan atau kerusakan lingkungan. Membangun budaya doing the
right thing berguna bagi perusahaan dalam mengelola resiko-resiko bisnis.

C. Tingkat/Lingkup Keterlibatan dalam CSR

Walaupun sudah banyak perusahaan yang menyadari pentingnya untuk menajalankan
CSR, namun masih ada juga yang keberatan untuk menjalankannya. Bahkan di antara mereka
yang setuju agar perusahaannya menjalankan CSR, masih terdapat perbedaan dalam
memaknai tingkat keterlibatan perusahaan dalam menjalankan program CSR. Pada akhirnya,
keberhasilan CSR dan cakupan program CSR yang dijalankan akan ditentukan olehtingkat
kesadaran para pelaku bisnis dan para pemangku kepentingan terkait lainnya. Ada tiga
tingkat kesadaran yang dimiliki oleh seseorang yaitu, tingkat kesadaran hewani, tingkat
kesadaran manusiawi, dan tingkat kesadaran transedental. Mereka yang masih berkeberatan
dengan program CSR ini dapat dikatakan bahwa mereka masih mempunyai tingkat kesadaran
hewani,dan masih menganut teori etika egoisme. Program CSR akan berjalan efektif bila para
pihak yang terkait dalam bisnis (oknum pengelola, pemerintah, dan masyarakat) sudah
mempunyai tingkat kesadaran manusiawi atau transedental, serta menganutteori-teori etika
dalam koridor utilitarianisme, deontologi, keutamaan, dan teonom.
Lawrence, Weber, dan Post (2005) melukiskan tingkat kesadaran ini dalam bentuk
tingkat keterlibatan bisnis dengan para pemangku kepentingan dalam beberapa tingkatan
hubungan, yaitu : inactive, reactive, proactive, dan interactive.
1. Perusahaan yang inactive sama sekali mengabaikan apa yang menjadi perhatian pihak
pemangku kepentingan.
2. Perusahaan yang reactive hanya bereaksi bila ada ancaman atau tekanan yang diperkirakan
akan mengganggu perusahaan dari pihak pemangku kepentingan tertentu.
3. Perusahaan yang proactive akan selalu mengantisipasi apasaja yang menjadi kepedulian para
pemangku kepentingan, sedangkan
4. Perusahaan yang interactive selalu membuka diri dan mengajak para pemangku kepentingan
untuk berdialog setiap saat atas dasar saling menghormati, saling memercayai, dansaling
menguntungkan.

Berdasarkan tingkap/lingkup keterlibatan ini, Lawrence, Weber, dan Post (2005)
membedakan dua prinsip CSR, yaitu: prinsip amal (charity principles) dan prinsip pelayanan
(stewardship principles). Perbedaan kedua prinsip ini terletak pada perbedaan kesadaran dan
ruang lingkup keterlibatan. Berikut cirri-ciri yang membedakannya.

Ciri-ciri Prinsip Amal Prinsip Pelayanan
Definisi Bisnis seharusnya memberikan
bantuan sukarela kepada orang
atau kelompok yang memerlukan
Sebagai agen publik, tindakan bisnis
seharusnya mempertimbangkan semua
kelompok pemagku kepentingan yang
dipengaruhi oleh keputusan dan
kebijakan perusahaan.
Tipe Aktivitas Filantropi korporasi : tindakan
sukarela untuk menunjang cita
perusahaan
Mengakui adanya saling
ketergantungan perusahaan dengan
masyarakat; Menyeimbangkan
kepentingan dan kebutuhan semua
ragam kelompok di masyarakat.
Contoh Mendirikan yayasan amal,
berinisiatif untuk menanggulangi
masalah social, bekerja sama
dengan kelompok masyarakat
yang memerlukan
Pribadi yang tercerahkan, memenuhi
ketentuan hukum, menggunakan
pendekatan stakeholders dalam
perencanaan strategis perusahaan.

D. Teori Pendukung CSR
Menurut Parsons (1961) teori CSR dan pendekatan terkait difokuskan pada salah satu
aspek berikut realitas sosial: ekonomi, politik, integrasi sosial dan etika yang dapat diamati
dalam sistem sosial.
1. Teori Instrumental. Teori ini mengasumsikan bahwa korporasi merupakan instrumen untuk
penciptaan kekayaan dan bahwa ini adalah tanggung jawab sosialnya. Hanya aspek ekonomi dari
interaksi antara bisnis dan masyarakat dianggap. Jadi setiap kegiatan sosial yang seharusnya
diterima jika, dan hanya jika, itu konsisten dengan penciptaan kekayaan. Teori ini disebut Teori
berperan karena mereka memahami CSR sebagai sarana hanya untuk akhir keuntungan.

2. Teori Politik. Teori kedua yang kekuatan sosial perusahaan ditekankan, khususnya dalam
hubungannya dengan masyarakat dan tanggung jawab dalam arena politik terkait dengan
kekuasaan ini. Hal ini menyebabkan perusahaan untuk menerima tugas sosial dan hak atau
berpartisipasi dalam kerjasama sosial tertentu.
3. Teori Integratif. Teori ini menganggap bahwa bisnis harus mengintegrasikan tuntutan sosial.
Mereka biasanya berpendapat bahwa bisnis tergantung pada masyarakat untuk kelangsungan
dan pertumbuhan dan bahkan untuk keberadaan bisnis itu sendiri. Tuntutan sosial umumnya
dianggap sebagai cara di mana masyarakat berinteraksi dengan bisnis dan memberikan suatu
legitimasi dan prestise tertentu. Akibatnya, manajemen perusahaan harus memperhitungkan
tuntutan sosial, dan mengintegrasikan mereka sedemikian rupa bahwa bisnis beroperasi sesuai
dengan nilai-nilai sosial. Jadi, isi dari tanggung jawab bisnis terbatas pada ruang dan waktu dari
setiap situasi tergantung pada nilai-nilai masyarakat pada saat itu, dan datang melalui peran
fungsional perusahaan (Preston dan Post, 1975). Dengan kata lain, tidak ada tindakan khusus
yang manajemen bertanggung jawab untuk melakukan seluruh waktu dan dalam setiap industri.
4. Teori Etis. Teori keempat memahami bahwa hubungan antara bisnis dan masyarakat tertanam
dengan nilai-nilai etika. Hal ini menyebabkan visi CSR dari perspektif etika dan sebagai
konsekuensinya, perusahaan harus menerima tanggung jawab sosial sebagai kewajiban etis atas
pertimbangan lainnya.
E. Pro dan Kontra terhadap CSR
Sebagimana telah diungkap sebelumnya, masih banyak pihak yang menentang
implementasi CSR walaupun telah banyak pelaku bisnis dan pemangku kepentingan terkait
yang menyadari dan menyetujui pentingnya perusahaan untuk melaksanakan program CSR.
Proses lahirnya Undang-undang Perseroan Terbatas di Indonesia-yang dalam salah satu
pasalnya (Pasal 74) mewajibkan perusahaan untuk menjalankan tanggung jawab social dan
lingkungan-telah menimbulkan kontroversi pro dan kontra. Ini menunjukkan bahwa para
pelaku bisnis-khususnya di Indonesia- belum banyak yang mendukung program CSR ini.
Tidak sulit memperoleh fakta untuk mendukung fenomena ini. Lihat saja misalnya kasus
Lumpur Lapindo Brantas di Sidoarjo,kasusu Freeport di Papua, kerusakan hutan lumpuhnya
bandara Internasional Soekarno-Hatta dan akses jalan tol ke bandara karena banjir dan,
sebagainya. Semua ini ada hubungannya dengan aktivitas bisnis yang tidak peduli dengan
lingkungan social dan alam sekitar. Ketersendatan pelaksanaan CSR ini tidak saja terjadi di
Indonesia, tetapi juga hamper di semua Negara termasuk Negara-negara maju.
Pada konferensi tentang pemanasan global yang dihadiri oleh hamper semua Negara
di dunia pada akhir tahun 2007 di Bali, semua Negara menyadari dan sepakat bahwa
pemanasan global yang terjadi dewasa ini disebabkan oleh kelalaian umat manusia pada
umunya dan masyarakat bisnis pada khususnya dalam menjaga kelestarian alam. Namun
memasuki sesi perundingan mengenai bagaimana mengatasi filantropi pemanasan global ini,
timbullah perdebatan sengit dan berlarut-larut yang justru hambatannya dating dari Negara-
negara maju yang dipelopori oleh Amerika Serikat. Hal ini tidk mengherankan karena bila
membicarakan program CSR, berarti membawa konsekuensi biaya yang harus dipikul dalam
menanggulangi kerusakan lingkungan. Akhirnya disini muncul kermbali egoism Negara atau
egoism kelompok usahawan besar yang kurang menyadari pentingnya tindakan bersama
dalam menyelamatkan lingkungan hidup.
Sonny Keraf (1998) telah mencoba menginvetarisasi alasan-alasan bagi yang
mendukung dan menentang perlunya perusahaan menjalankan program CSR.
1. Alasan-alasan yang menentang antara lain :
a) Perusahaan adalah lembaga ekonomi yang tujuan pokoknya mencari keuntungan, bukan
merupakan lembaga social.
b) Perhatian manajemen perusahaan akan terpecah dan akan membingungkan mereka bila
perusahaan dibebani banyak tujuan.
c) Biaya kegiatan social akan meningkatkan biaya produk yang akan ditambhakan pada harga
produk sehingga pada gilirannya akan merugikan konsumen/masyarakat itu sendiri.
d) Tidak semua perusahaan mempunyai tenaga yang terampil dalam menjalankan kegiatan
social.
2. Alasan-alasan yang mendukung CSR yaitu :
a) Kesadaran yang meningkat dan masyarakat yang semakin kritis terhadap dampak negatif dari
tindakan perusahaan yang merusak alam serta merugikan masyarakat sekitarnya.
b) Sumber daya alam yang semakin terbatas.
c) Menciptakan lingkungan social yang lebih baik.
d) Perimbangan yang lebih adil dalam memikul tanggung jawab dan kekuasaan dalam memikul
beban social dan lingkungan antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat.
e) Bisnis sebenarnya mempunyai sumber daya yang berguna
f) Menciptakan keuntungan jangka panjang

F. CSR dan Hukum Perseroan di Indonesia

Kegiatan perusahaan (perseroan) di Indonesia didasarkan atas paying hokum Undang-
Undang Nomor 1 tahun 1995 tentan gperseroan terbatas. Namun Undang-Undang ini
kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007. Sebagimana
diatur dalam Pasal 1 ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 2007, yang dimaksud dengan perseroan
adalah badan hokum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,
melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan
pelaksanaannya.
Dalam penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007,
dikatakan alas an pencabutan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1995 untuk diganti dengan
Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007. pertimbangan tersebut antar alain karena adanya
perubahan dan perkembangan yang cepat berkaitan dengan teknologi, ekonomi, harapan
masyarakat tentang perlunya peningkatan pelayanan dan kepastian hokum, kesadaran social
dan lingkungan, serta tuntutan pengelolaan usaha yang sesuai dengan prinsip-prinsip
pengelolaan perusahaan yang baik.
Dan untuk CSR sendiri jelas ditegaskan dalam 2 Undang-undang, yakni UU No.40
tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) pasal 74 & UU No.25 tahun 2007 tentang
Penanaman Modal pasal 15,17 & 34.

1. UU PT No.40 tahun 2007 pasal 74, berisi :
Ayat (1) : Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan
sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Ayat (2) : Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
kewajiban perseroan yang dianggarkan & diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan & kewajaran.
Ayat (3) : Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai
sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Ayat (4) : Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial & lingkungan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
2. UU No.25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 15,17 & 34, berisi :
Pasal 15
Setiap penanam modal berkewajiban:
a. menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik;
b. melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;
c. membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan
Koordinasi Penanaman Modal;
d. menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal; dan
e. mematuhi semua ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 17
Penanam modal yang mengusahakan sumber daya alam yang tidak terbarukan wajib
mengalokasikan dana secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar
kelayakan lingkungan hidup, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 34
1) Badan usaha atau usaha perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 yang tidak
memenuhi kewajiban sebagaimana ditentukan dalam Pasal 15 dapat dikenai sanksi
administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pembatasan kegiatan usaha;
c. pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal; atau
d. pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.
2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh instansi atau
lembaga yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
3) Selain dikenai sanksi administratif, badan usaha atau usaha perseorangan dapat dikenai
sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

G. CSR dan Implikasinya pada Iklim Penanaman Modal di Indonesia

Penanaman modal dalam UUPM No. 25 Tahun 2007, Pasal 1 angka 1 dinyatakan bahwa
Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal
dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik
Indonesia.
Kehadiran UUPM NO. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal diharapkan, mampu
memberikan angin segar kepada investor dan memberikan iklim investasi yang menggairahkan.
Kenyamanan dan ketertarikan investor asing terutama apabila terciptanya sebuah kepastian
hukum dan jaminan adanya keselamatan dan kenyamanan terhadap modal yang ditanamkan.
Secara garis besar tujuan dari dikeluarkannya UU PM tentunya disamping memberikan
kepastian hukum juga adanya transparansi dan tidak membeda-bedakan serta memberikan
perlakuan yang sama kepada investor dalam dan luar negeri.
Dengan adanya kepastian hukum dan jaminan kenyamanan serta keamanan terhadap
investor, tentunya akan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global yang merosot sejak
terjadinya krisis moneter. Berkaitan dengan hal tersebut, penanaman modal harus menjadi
bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk
menigkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan
pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi
nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan kesejahteraan
masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing.
Tujuan penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai apabila faktor
penunjang yang menghambat iklim investasi dapat diatasi, antara lain melalui perbaikan
koordinasi antarinstansi Pemerintah Pusat dan Daerah, penciptaan birokrasi yang efisien,
kepastian hukum di bidang penanaman modal, biaya ekonomi yang berdaya saing tinggi, serta
iklim usaha yang kondusif di bidang ketenagakerjaan dan keamanan berusaha. Dengan
perbaikan faktor tersebut, diharapkan realisasi penanaman modal akan membaik secara
signifikan.
Suasana kebatinan yang diharapkan oleh pembentuk UU PM, didasarkan pada semangat
ingin menciptakan iklim penanaman modal yang kondusif yang salah satu aturannya mengatur
tentang kewajiban untuk menjalankan CSR. Bagi pelaku usaha (pemodal baik dalam maupun
asing) memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan CSR baik dalam aspek lingkungan, sosial
maupun budaya.
Penerapan kewajiban CSR sebabagaimana diatur dalam UU No. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal , Pasal 15 huruf b menyebutkan Setiap penanam modal berkewajiban
melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Jika tidak dilakukan maka dapat diberikan
sanksi administrasi berupa peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan, hingga
pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal (Pasal 34 ayat (1) UU No. 25
Tahun 2007). Sedangkan yang dimaksud tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung
jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan
hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya
masyarakat setempat.
Ilustrasi yang menggambarkan keinginan dari berbagai anggota dewan pada waktu itu
adalah kewajiban CSR terpaksa dilakukan lantaran banyak perusahaan multinasional yang
beroperasi di Indonesia, lepas dari tanggung jawabnya dalam mengelola lingkungan.
Pengalaman menunjukkan, bahwa banyak sekali perusahaan yang hanya melakukan kegiatan
operasional tetapi kurang sekali memberikan perhatian terhadap kepentingan sosial. Beberapa
contoh kasus , seperti : lumpur Lapindo di Porong, lalu konflik masyarakat Papua dengan PT.
Freeport Indonesia, konflik masyarakat Aceh dengan Exxon Mobile yang mengelola gas bumi di
Arun, pencemaran oleh Newmont di Teluk Buyat dan sebagainya.
Alasan lainnya adalah kewajiban CSR juga sudah diterapkan pada perusahaan BUMN.
Perusahaan-perusahaan pelat merah telah lama menerapkan CSR dengan cara memberikan
bantuan kepada pihak ketiga dalam bentuk pembangunan fisik. Kewajiban itu diatur dalam
Keputusan Menteri BUMN maupun Menteri Keuangan sejak tahun 1997. oleh karena itu,
perusahaan yang ada di Indonesia sudah waktunya turut serta memikirkan hal-hal yang
berkaitan dengan lingkungan dimana perusahaan itu berada.
Tren globalisasi menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan sudah menjadi
hal yang mendesak bagi kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Lingkungan hidup yang
sehat merupakan bagian dari hak azasi manusia. Di Inggris dan Belanda misalnya, CSR menjadi
sebuah penilaian hukum oleh otoritas pasar modal, disamping penilaian dari publik sendiri.
Kalau perusahaan itu tidak pernah melakukan CSR justru kinerja saham di bursa saham kurang
bagus.
CSR dalam konteks penanaman modal harus dimaknai sebagai instrumen untuk
mengurangi praktek bisnis yang tidak etis. Oleh karena itu harus dibantah pendapat yang
menyatakan CSR identik dengan kegiatan sukarela, dan menghambat iklim investasi. CSR
merupakan sarana untuk meminimalisir dampak negatif dari proses produksi bisnis terhadap
publik, khususnya dengan para stakeholdernya. Maka dari itu, sangat tepat apabila CSR
diberlakukan sebagai kewajiban yang sifatnya mandatory dan harus dijalankan oleh pihak
perseroan selama masih beroperasi. Demikian pula pemerintah sebagai agen yang mewakili
kepentingan publik. Sudah sepatutnya mereka (pemerintah) memiliki otoritas untuk melakukan
penataan atau meregulasi CSR.
Dengan demikian, keberadaan perusahaan akan menjadi sangat bermanfaat, sehingga
dapat menjalankan misinya untuk meraih optimalisasi profit, sekaligus dapat menjalankan misi
sosialnya untuk kepentingan masyarakat. Pengaturan mengenai tanggung jawab penanam modal
diperlukan untuk mendorong iklim persaingan usaha yang sehat, memperbesar tanggung jawab
lingkungan dan pemenuhan hak dan kewajiban serta upaya mendorong ketaatan penanam
modal terhadap peraturan perundang-undangan.
Pelaksanaan CSR secara konsisten oleh perusahaan akan mampu menciptakan iklim
investasi (penanaman modal). Anggapan yang mengatakan bahwa CSR akan menghambat iklim
investasi patut ditolak. Ada kewajiban bagi setiap penanam modal yang datang ke Indonesia
wajib mentaati aturan atau hukum yang berlaku di Indonesia, apapun bentuknya. Indonesia
masih menjanjikan bagi investor dalam maupun asing. Sumber daya alam masih merupakan
daya tarik tersendiri dibandingkan negara-negara sesama ASEAN dalam posisi Sumber Daya
Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Kondisi tersebut dapat terwujud apabila
diimbangi dengan manfaat dari kesiapan peningkatan mutu infrastrukturt, manusia,
pengetahuan dan fisik.
UU PM memberikan jaminan kepada seluruh investor, baik asing maupun lokal,
berdasarkan asas kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, perlakuan yang sama dan tidak
membedakan asal negara, kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, dan keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
CSR dalam UUPM dapat terlaksana jika dibarengi dengan lembaga yang kuat dalam
menegakkan aturan dan proses yang benar. Sebagaimana dikatakan oleh Mochtar
Kusumaatmadja, pengertian hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu
sebagai suatu perangkat kaidah dan azas-azas yang mengatur kehidupan manusia dalam
masyarakat, tapi harus pula mencakup lembaga (institutions) dan proses (processes) yang
diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.

H. CSR Dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Menurut Edi Suharto (2008), peraturan tentang CSR yang relatif lebih terperinci
adalah UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN. UU ini kemudian dijabarkan lebih jauh oleh
Peraturan Menteri Negara BUMN No.:Per-05/MBU/2007 yang mengatur mulai dari besaran
dana hingga tatacara pelaksanaan CSR. Seperti diketahui, CSR milik BUMN adalah Program
Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dalam UU BUMN dinyatakan bahwa selain
mencari keuntungan, peran BUMN adalah juga memberikan bimbingan bantuan secara aktif
kepada pengusaha golongan lemah, koperasi dan masyarakat. Selanjutnya, Permeneg BUMN
menjelaskan bahwa sumber dana PKBL berasal dari penyisihan laba bersih perusahaan
sebesar maksimal 2 persen yang dapat digunakan untuk Program Kemitraan ataupun Bina
Lingkungan.
Peraturan ini juga menegaskan bahwa pihak-pihak yang berhak mendapat pinjaman
adalah pengusaha beraset bersih maksimal Rp 200 juta atau beromset paling banyak Rp 1
miliar per tahun. Namun, UU ini pun masih menyisakan pertanyaan. Selain hanya mengatur
BUMN, Program Kemitraan perlu dikritisi sebelum disebut sebagai kegiatan CSR. Menurut
Sribugo Suratmo (2008), kegiatan Kemitraan mirip dengan sebuah aktivitas sosial dari
perusahaan namun di sini masih ada unsur bisnisnya (profit motive). Masing-masing pihak
harus memperoleh keuntungan.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dalam kedudukannya memiliki posisi yang
sangat strategis. Selaku unit bisnis/entitas usaha, BUMN yang berbentuk Perseroan Terbatas
(PT) tunduk sepenuhnya pada Undang-Undang Perseroan Terbatas No.40/2007. Sedangkan
dalam kedudukan selaku entitas usaha yang dimiliki oleh Negara, maka BUMN tunduk pada
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Dalam kaitannya dengan
pelaksanaan PKBL sebagaimana diamanatkan UU No.19/2003 dan kewajiban pelaksanaan
CSR sebagai amanat UU No.40/2007 dapat dijabarkan sebagai berikut :
Untuk pelaksanaan PKBL di BUMN, diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 88 UU No.
19/2003 tentang BUMN sebagai berikut:
a. Pasal 2 ayat (1) huruf e. Salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif
memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi,
dan masyarakat.
b. Pasal 88 ayat (1). BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan
pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.
c. Pasal 88 ayat (2). Ketentuan lebih lanjut mengenai penyisihan dan penggunaan laba
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.
Selanjutnya dalam butir 5 Pasal 1 UU No.19/2003 tersebut dinyatakan "Menteri
adalah menteri yang ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili pemerintah selaku
pemegang saham negara pada Persero dan pemilik modal pada Perum dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan PKBL yang diatur oleh Menteri Negara BUMN dalam Peraturan No.:Per-
05/MBU/2007 tentang PKBL adalah dalam kedudukan Menteri Negara BUMN selaku
pemegang saham di BUMN.
Terbitnya UU No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas yang antara lain mengatur
kewajiban pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi Perseroan Terbatas di satu
pihak dan berlakunya kewajiban BUMN melaksanakan PKBL di lain pihak menimbulkan
penafsiran yang berbeda-beda karena pada dasarnya kedua hal tersebut mengatur tentang
tanggung jawab Perseroan. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian mengenai hal tersebut
agar tidak menimbulkan kerancuan dalam implementasinya bagi perusahaan BUMN di masa
datang.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
CSR merupakan kewajiban mutlak perusahaan sebagai suatu bentuk tanggung jawab
sosial perusahaan berupa kepedulian dan perhatian pada komunitas sekitarnya. Pandangan
perusahaan terhadap kewajiban tersebut berbeda-beda. Mulai dari anggapan sekedar basa-
basi atau suatu keterpaksaan, hanya untuk pemenuhan kewajiban, hingga pelaksanaan
berdasarkan asas kesukarelaan. Bentuk-bentuk CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaan
dapat diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan yang penerapannya harus disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat penerima CSR.
CSR memberikan manfaat yang sangat besar dalam menyejarterakan masyarakat dan
melestarikan lingkungan sekitarnya, serta bentuk investasi bagi perusahaan pelakunya.
Investasi bagi perusahaan dapat berupa jaminan keberlanjutan operasi perusahaan dan
pembentukan citra positif perusahaan. Manfaat ini dapat diperoleh apabila perusahaan
menerapkan CSR atas dasar kesukarelaan, sehingga akan timbul hubungan timbal balik
antara pihak perusahaan dengan masyarakat sekitar. Masyarakat akan secara sukarela
membela keberlanjutan perusahaan tersebut dan memberikan persepsi yang baik pada
perusahaan. Dengan begitu citra positif perusahaan akan terbentuk dengan sendirinya.
B. SARAN
Berdasarkan pada pembahasan CSR di makalah ini, maka :
Sebaiknya perusahaan memandang dan melaksanakan CSR secara sukarela sebagai bentuk
kearifan moral perusahaan
Dalam pelaksanaan dan penerapan CSR, sebaiknya tujuan dan fokus utamanya adalah
kesejahteraan masyarakat dan upaya pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab
sosial perusahaan
Perusahaan sebaiknya menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan komunitas
sekitar, agar penerapan CSR tepat pada sasaran yang diharapkan

DAFTAR PUSTAKA


1. http://www.scribd.com/doc/39325003/Makalah-CSR
2. http://wayangputra.blogspot.com/2012/11/pengertian-corporate-social.html
3. http://www.mediaqitafoundation.org/CSR.html
4. http://achmadsaerozi.wordpress.com/2011/10/17/corporate-social-responsibility-csr/
5. http://bisnisgroup.wordpress.com/2008/10/10/tindakan-dari-corporate-social-responsibility-
yang-dilakukan-oleh-perusahaan-indosat/
6. http://sumurung.wordpress.com/2009/02/24/csr-dan-undang-undang-no40-tahun-2007-
tentang-perseroan-terbatas/
7. http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/hukum-bisnis/84-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-
corporate-social-responsibility-dan-iklim-penanaman-modal.html
8. http://blognyamitra.wordpress.com/2012/04/05/csr-tanggung-jawab-sosial-diatur-oleh-
undang-undang/
9. http://www.csrbusinessindonesia.com/2009/08/corporate-social-responsibility_05.html
10. http://biola22.wordpress.com/category/makalah-csr/