Anda di halaman 1dari 5

A.

MENGEMBANGKAN EMOSI DASAR


POSITIF

Emosi adalah gerakan atau ungkapan perasan yang keluar dari dalam diri
seseorang. Dalam Kamus Konseling (Drs. Sudarsono, SH, 1996), emosi digambarkan
sebagai suatu keadaan yang komplek dari organisme perasaan yang disertai dengan
perubahan-perubahan dalam organ tubuh yang sifatnya luas, biasanya ditandai oleh
perasaan yang kuat yang mengarah ke suatu bentuk perilaku tertentu, erat kaitannya
dengan kondisi tubuh, denyut jantung, sirkulasi dan pernafasan.

Dari pengertian tersebut, emosi merupakan sebuah reaksi kita ketika berelasi dengan diri
sendiri, orang lain dan lingkungan hidup kita. Reaksi tersebut disadari atau tidak
mempunyai efek entah bersifat membangun entah merusak. Bisa dikatakan bahwa emosi
sebenarnya bukan cuma sebagai reaksi terhadap keadaan pada diri maupun luar diri kita,
tetapi juga merupakan upaya pencapaian ke arah pembentukan diri menuju hidup yang
transendental (spiritual).

Secara umum emosi dikategorikan menjadi dua jenis yaitu emosi dasar positif dan emosi
dasar negatif.Emosi dasar positif adalah perasaan berupa sukacita (joy), yakin/ percaya
(trust/ faith), pengharapan (hope), syukur (praise), berbela rasa (compassion), mau
mengerti dan menerima (willingness to understand and to accept). Emosi dasar positif ini
sering disebut sebagai kekuatan biofilik, (cinta kehidupan, pro vita).

Sedangkan emosi dasar negatif adalah perasaan berupa dengki, dendam, iri, kejam,
menolak dan tak mau mengerti. Emosi jenis ini merupakan kekuatan nekrofilik karena
dapat menjadi kekuatan yang bersifat merugikan dan mematikan.

Individu yang mau bertumbuh kembang dan bertransformasi diri seyogiyanya


mengembangkan emosi dasar positif dan melawan emosi dasar negatif. Pengembangan
perasaan sukacita, yakin/ percaya, pengharapan, syukur, berbela rasa dan mau mengerti
serta menerima, harus mempunyai dasar dan sungguh-sungguh sesuai dengan prinsip-
prinsip dan nilai-nilai yang kita yakini. Artinya emosi dasar positif harus dikembangkan
secara riil, sadar, responsif dan rasional.

Agar kita dapat bertumbuh kembang menuju pribadi utuh, kita seyogiyanya memiliki
komitmen dan tanggung jawab dalam menyadari dan menumbuhkan emosi dasar positif
ini. Dengan demikian, perbaikan kecil yang terus menerus dapat berlangsung karena
didukung oleh emosi dasar positif yang pro kehidupan
B. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan,


serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi,
kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan
kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan
kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa,
untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan
konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Ketrampilan ini dapat
diajarkan kepada anak-anak. Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang
memiliki kendali diri, menderita kekurangmampuan pengendalian moral.

Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari
hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana
hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat
emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial
serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan
emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri,
ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan,
serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat
menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana
hati.

Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional


adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan
kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi
menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan
orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi
dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan


emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan
emosi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan
lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan
dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan
lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. Menurut Harmoko (2005) Kecerdasan
emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan
dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta
membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang indiovidu mempunyai
kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta
mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.
Sedangkan menurut Dio (2003), dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan
emosi adalah kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat
untuk menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan disini bisa meliputi atasan,
rekan sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu
tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara memuaskan.
Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang
lain yang berinteraksi dengan kita. Akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dan konflik
antar pribadi.

Berbeda dengan pemahaman negatif masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada
emosionalitas sebaiknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih
mengarah pada kemampuan yang bersifat positif. Didukung pendapat yang dikemukakan
oleh Cooper (1999) bahwa kecerdasan emosi memungkinkan individu untuk dapat
merasakan dan memahami dengan benar, selanjutnya mampu menggunakan daya dan
kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh yang manusiawi. Sebaliknya
bila individu tida memiliki kematangan emosi maka akan sulit mengelola emosinya
secara baik dalam bekerja. Disamping itu individu akan menjadi pekerja yang tidak
mampu beradaptasi terhadap perubahan, tidak mampu bersikap terbuka dalam menerima
perbedaan pendapat , kurang gigih dan sulit berkembang.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut
diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan
untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam
kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri
dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu
hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki
pada orang lain).

rujukan buku :
Atkinson, R. L. dkk. 1987. Pengantar Psikologi I. Jakarta : Penerbit Erlangga.
TUGAS BP/BK
KARYA TULIS
TENTANG EMOSI

NAMA : FITRIANI CAHYA NINGSIH


KELAS : X.7

SMAN 4 TANGERANG