Anda di halaman 1dari 17

PROBLEMATIKA PERADABAN PADA KEHIDUPAN MANUSIA

A. Pengertian Peradaban
Secara umum peradaban dapat diartikan sebegai perkembangan budaya yang menjadi
ciri khas dan milik suatu masyarakat. Peradaban juga diartikan sebagai sebuah tahapan
tertinggi dari kemajuan budaya (Evolusi Budaya) yang membedakan manusia yang
beradab dengan manusia yang tidak beradab/ biadab.
Beberapa ahli juga menterjemahkan pengertian peradaban menurut pendapat mereka
masing-masing, ada beberapa tokoh yang mengemukakan pendapat mereka:
1. Ibnu Kaldun
Peradaban sebagai keseluruhan kompleksitas produk pikiran kelompok
manusia yang mengatasi peredaan negara, ras, atau agama yang
membedakanya dari yang lain, tetapi tidak monolitik dengan sendirinya.
2. Huntington
Peradaban tidak selalu bersifat nyata, peradaban juga dapat dibayangkan
(imagined)
3. Benedict Andreson
Peradaban adalah masyarakat yang merasa sebagai bagian dari kesatuan
peradaban.
Peradaban berhubungan erat dengan norma. Norma adalah tingkah laku yang
dianggap wajar, yang diterima dan sekaligus diharapkan oleh banyak orang. Dimana
norma merupakan hasil dari peradaban yang berkembang yang dapat bergeser seiring
perkembangan peradaban.
B. Peradaban sebagai hasil kebudayaan
Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran dari budi dan daya. Seluruh apa
yang di fikir, dirasa, dan direnung diamalkan dalam bentukdaya menghasilkan kehidupan.
Budaya adalah suatu cara hidup sekelompok orang yang mendiami suatu daerah
tertentu yang di buat oleh masyarakat tersebut.
Peradaban merupakan hasil tertinggi dari sebuah kebudayaan. Artinya kebudayaan
belum tentu merupakan sebuah peradaban, namun peradaban pasti mengandung unsur
kebudayaan.
Peradaban juga menjadi faktor penentu apakah seseorang berbudaya atau tidaknya.
C. Problematika peradaban
Semakin berkembangnya teknologi terutama pada teknologi komunikasi membuat
cakrawala/ ilmu pengetahuan masyarakat semakin terbukaluas. Teknologi yang
seharusnya menjadi penunjang manusia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya,
malah menjadi pengganggu dalam kehidupan manusia yang justru membelenggu perilaku
dan gaya hidup manusia itu sendiri.
Dengan semakin cepatnya kemajuan teknologi dan ditopang oleh system social yang
kuat membuat teknologi menjadi pengarah bagi kehidupan manusia, yang berakibat bagi
orang-orang yang rendah kemampuan teknologinya menjadi ketergantungan dan hanya
mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan kemajuan teknologi.
Dampak dari mudahnya akses informasi ini adalah masuknya kebudayaan luar yang
selama ini tidak diketahui masyarakat yang membuat pergeseran norma di masyarakat
dan menyebabkan terjadinya kompromisme sosial yang membuat hal-hal baru yang
masuk dalam masyarakat diterima karna perubahan norma.
D. Problematika Peradaban pada Kehidupan manusia
Perbedaan mencolok dari peradaban yang dianut oleh manusia terletak pada tingkat
intelektual, perasaan keindahan, penguasaan teknologi, dan tingkat spiritual yang
dianutnya.
Bentuk kebudayaan masyarakat modern zaman sekarang cendrung meniru
kebudayaan barat, baik pola kehidupan, cara berpikir, ideologi, dan politiknya. Hal ini
membuat perkembangan dan perkembangan mereka meninggalkan konsep masyarakat
tradisional.
Meskipun struktur masyarakat modern yang cendrung kebarata ini sangat rapuh bila
dibandingkan dengan masyarakat tradisional, namun mereka menguasai sektor-sektor
penting dan strategis dalam kehidupan.
Mereka mempunyai misi untuk menyatukan antara masyarakat modern dan
masyarakat tradisional dengan cara menaarik masyarakat tradisional menjadi masyarakat
modern.
Oleh karena itu terjadilah perlawanan-perlawanan dari usaha ini. Dimana masyarakat
modern cendrung bersifat agresif dan otoriter dalam menghadapi masyarakat tradisional.
Masyarakat modern cendrung menggunakan alternative cara barat untuk
menyelesaikan suatu masalah, daripada kembali kepada pandangan hidup masyarakat
tradisional.
Namun demikian cara-cara tersebut tidak dapat pula mengubah pandangan hidup
masyarakat tradisional dalam keimanan,perasaan nasionalisme, kemerdekaan, dan
kehormatan.


r 2012
Problematika peradaban bagi kehidupan Manusia karena kemajuan IPTEK

Tugas UNP033
Ilmu Sosial dan Budaya Dasar
Tentang
Problematika peradaban bagi kehidupan Manusia karena kemajuan IPTEK




Diusulkan Oleh :
Kelompok 5
Lathif Arafat .A 2011/1102309
Ghea Qodri Ramadhani 2011/1102725
Munawira Khuzaifah 2008/01011
M.Khadafi 2011/1102252
Gusneli 2011/1102284
Rahmat Nuryanto .P 2010/10634
Zalmon Firdaus 2011/1102771
Aldi Chandra 2011/1102932
Rusli 2011/1102

UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012

KATA PENGANTAR

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, salawat dan salam pada junjungan
Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah dengan izin dan petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan
penyusunan Makalah mata kuliah umum Ilmu sosial dan dasar budaya yang berjudul Problematika
peradaban bagi kehidupan Manusia
Berbagai bantuan baik moril maupun materil telah penulis terima dari berbagai pihak dalam
penulisan makalah ini, maka dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya atas segala dukungan, bimbingan dan bantuan yang sangat berarti selama
penulisan makalah ini hingga dapat diselesaikan. Izinkanlah penulis mengucapkan terimakasih dan
penghargaan kepada :
1. Bpk Zulasri selaku Dosen Pembina mata kuliah umum Ilmu sosial dan dasar budaya yang telah
memberikan ilmu pengetahuan,bimbingan, dorongan, motivasi serta petunjuk yang sangat berharga
bagi penulis dalam menyelesaikan makalah ini
2. Rekan-rekan Mahasisiwa/i UNP yang telah berbagi pendapat,referensi dalam hal ini.
Akhir kata, penulis memohon maaf jika ada penulisan yang salah karena penulis adalah
manusia yang masih belajar.

Padang,Februari 2012

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar......................................................................................... 2
Daftar Isi.................................................................................................... 3
Bab I Pendahuluan..................................................................................... 4
Latar Belakang ................................................................................. 5
Rumusan Masalah............................................................................ 5
Tujuan.............................................................................................. 5
Bab II Pembahasan
Kemajuan Media Komunikasi Bagi Adab dan Peradaban Manusia .. 5
Kemajuan IPTEK Bagi Adab dan Peradaban Manusia. 6
Pertumbuhan dan Perkembangan Demografi Terhadap Adab dan Peradaban Manusia..7
Bab III Penutup
Kesimpulan........................................................................................ 14
Saran................................................................................................... 14
Daftar Pustaka.............................................................................................. 15







Bab I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Peradaban adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau
unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah dan maju. Konsep kebudayaan adalah perkembagan
kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang tercermin dalam tingkat intelektual,
keindahan, teknologi, spiritual yang terlihat pada masyarakatnya. Kebudayaan bersifat dinamis. Oleh
sebab itu ia dapat mengalami perubahan atau pergeseran. Faktor utama dalam perubahan ini adalah
adanya globalisasi.
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus
dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi
informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi
menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan
permasalahan baruyang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk
kepentingan kehidupan. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara
mendasar.
Problematika peradaban di Indonesia yang timbul akibat globalisasi diantaranya dapat
dilihat dalam bidang bahasa, kesenian, juga yang terpenting- kehidupan sosial. Akibat
perkembangan teknologi yang begitu pesat, terjadi transkultur dalam kesenian tradisional Indonesia.
Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian
kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang
perlu dijaga kelestariannya. Dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita
disuguhi banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih
menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan televisi, masyarakat bisa
menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan
bumi. Hal ini menyebabkan terpinggirkannya kesenian asli Indonesia.
Problematika peradaban yang penting lainnya adalah adanya kemungkinan punahnya suatu
bahasa di daerah tertentu disebabkan penutur bahasanya telah terkontaminasi oleh pengaruh
globalisasi. Contoh kasusnya ialah seperti yang terjadi di Sumatera Barat. Di daerah ini sering kali kita
temukan percampuran bahasa (code mixing) yang biasanya dituturkan oleh anak muda di Sumater
Barat, seperti pencampuran Bahasa Betawi dan Minang dalam percakapan sehari-hari (kama lu?, gak
tau gua do, dan lain-lain). Hal ini jelas mengancam eksistensi bahasa di suatu daerah.

b. Rumusan Masalah
Mengamati dan mengkritisi dinamika peradaban global serta problematikanya pada kehidupan
manusia
c. Tujuan
Mengetahui permasalahan evolusi peradaban manusia yang menghasilkan masalah yang fatal
dan bisa mengatasinya

Bab II PEMBAHASAN
I. Kemajuan Media Komunikasi Bagi Adab dan Peradaban Manusia
Muncul dan berkembangnya media baru dalam dunia komunikasi membawa dampak besar
bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Para ahli pun mengemukakan berbagai teori yang dapat
mengakomodasi dan menjelaskan dampak yang terjadi akibat perkembangan media baru tersebut.
Teori Uses and Gratification telah mencoba menjelaskan penggunaan media elektronik bagi
komunikasi interpersonal. Sejumlah studi yang sama dicoba untuk diterapkan pada skala organisasi,
di mana jaringan komputer digunakan sebagai jaringan komunikasi elektronik, yang kemudian
disebut sebagai computer mediated communication. Dalam studi ini disertakan pula alat-alat baik
yang berhubungan langsung maupun tidak berhubungan secara langsung dengan komputer.
Sebuah hal terpenting yang diperhatikan di sini adalah konsep kehadiran (presence), di mana
sesuatu yang maya dirasakan seolah sebagai objek yang benar/nyata adanya. Sedangkan social
presence di sini diartikan sebagai pengalaman yang dirasakan oleh seseorang melalui isyarat atau
tanda-tanda yang ada pada berbagai media komunikasi.
Email dikatakan memiliki tingkat presensi yang rendah, karena hanya digunakan untuk
bertukat informasi searah, feedback dari penerima email tidak langsung diberikan saat itu juga atau
sering ditunda. Sedangkan videoconferences dikatakan memiliki tingkat presensi sosial yang tinggi,
karena proses komunikasi berlangsung dua arah, dan kedua komunikator mampu merasakan
kehadiran komunikator yang lain dengan melihat mimik wajah, gesture, notasi suara, dsb.
Dampak Media Komputer
Selama ini, penyebaran internet telah mengubah perhatian masyarakat terhadap pengaruh
media baru. Salah satunya mengubah persepsi masyarakat tentang media-media baru. Lahirlah
beberapa studi yang meneliti mengenai dampak penggunaan media baru ini, hingga pada akhirnya
disimpulkan beberapa dampak yang dibawa oleh kemajuan teknologi komunikasi.

o Perilaku Antisosial (Antisocial Behavior)
Perkembangan komunikasi bermediakan komputer berjalan seiring dengan tumbuh
suburnya nilai-nilai menyimpang yang dihasilkan oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab.
Sejauh ini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa kekerasan pada games di komputer memiliki
pengaruh yang sama kuatnya dengan tayangan kekerasan di televisi. Bahkan studi tertentu
mengatakan bahwa video games mempunyai kemampuan lebih kuat untuk mempengaruhi anak-
anak jika dibandingkan dengan tayangan TV atau tindakan kekerasan yang sebenarnya disaksikan
oleh anak-anak.
Selain itu, pornografi yang marak di internet juga ikut meracuni otak anak-anak. Pelakunya
dengan sengaja memberi link dari situs-situs yang biasanya dikunjungi oleh anak-anak ke situs-situs
yang seharusnya tak pantas dikunjungi anak-anak dibawah umur. Sedangkan pada orang dewasa,
pornografi tidak menunjukkan hasil penyimpangan yang signifikan seperti pada anak-anak apabila
dilihat dari sisi agresivitas dan perilakunya.
o Kecemasan Berlebih Terhadap Komputer (Computer Anxiety)
Hal ini biasa disebut sebagai cyberphobia atau computerphobia, yakni rasa takut, cemas,
khawatir pada saat menggunakan komputer. Biasanya ditunjukkan dengan gejala-gejala mual,
pusing, dan keringat dingin pada saat menggunakan komputer. Si pengguna biasanya merasa takut
untuk menggunakan komputer atau alat-alat canggih lain karena takut salah menekan tombol, takut
terjadi hal-hal yang tidak dinginkan jika salah mengoperasikan suatu alat, dsb.
Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang umumnya tidak memiliki bekal pengetahuan
yang cukup tentang alat tertentu, atau pada orang-orang yang kemampuan perhitungannya kurang
baik.
Orang-orang semacam ini akan menggunakan komputer dengan porsi sesedikit mungkin.
Murid yang jarang memakai komputer di kelas atau pekerja yang menghindari pekerjaan yang
berhubungan dengan komputer mungkin merupakan tanda-tanda dari computerphobia.
Berbeda halnya dengan computerphobia, internet self-efficacy adalah mereka yang sudah
merasa mantap menggunakan teknologi yang ada dan lebih banyak berinteraksi dengan komputer
dalam penyelsaian pekerjaannya.
o Ketagihan (Addicted)
Media komputer memiliki kualitas interaksi yang mampu merespon tiap gerak
penggunanya. Kadang kala, komputer mampu mewujudkan apa yang menjadi harapan
penggunanya, namun kadang tidak, hasilnya pun bervariasi pada tiap pengguna.
Kemampuan ini yang akhirnya menuntut kita untuk datang lagi dan merasakan hal yang
berbeda - prinsip ketagihan yang sama seperti pada judi.
Yang menjadi bahan diskusi di antara para orang tua adalah anak-anak mereka yang
kecanduan untuk terus bermain di depan layar komputer tanpa henti. Brenner dalam bukunya
mengatakan bahwa heavy internet user menunjukkan gejala-gejala yang mengarah pada ketagihan,
antara lain kecanduan dan menarik diri dari lingkungan sosial.
Hal yang sama juga terjadi pada orang dewasa. Bahkan yang lebih parah, mereka merelakan
sejumlah uang yang keluar untuk bermain game di komputer atau di internet. Mereka rela
menghabiskan uang untuk gambling, fantasy sport league, dan permainan virtual lainnya.
Menurut seorang psikolog, Sherry Turkle, kekuatan komputer bukan datang dari hal-hal di
luarnya/eksternal layaknya pada obat-obatan, tapi dari apa yang ada pada orang-orang yang
menggunakan, dari apa yang mereka pelajari tentang ketergila-gilaan mereka pada komputer.
Suatu hal yang menarik adalah kemampuan komputer untuk mendorong / memprovokasi
pencerminan diri penggunanya serta memperluas pikiran ke dalam dunia maya yang seakan-akan
sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Dalam hal ini, kebiasaan pengguna komputer disamakan
dengan kemampuan mereka untuk mengontrol dunia di dalam komputer, mereka merasakan
hubungan yang sangat erat dan keterkaitan dengan komputer. Orang-orang ini juga ingin
mengekspresikan diri mereka melalui komputer dan menciptakan gaya sesuai dengan kepribadian
masing-masing.
Tumbuh kembang internet di dunia di dukung oleh beberapa faktor, hal pertama adalah
karena karena internet menyediakan layanan yang familiar dan bersifat memudahkan penggunanya.
Selain itu, pertimbangan waktu yang digunakan untuk mencari informasi lewat internet dari
berbagai belahan bumi lebih efisien daripada jika kita mencari informasi lewat media cetak atau
media lainnya. Lewat internet kita bisa mencari data dalam berbagai bentuk, mulai dari sekedar
tulisan, sampai video klip yang bergerak.
Bagaimanapun, perkembangan media informasi memiliki dua sisi yang mutlak ada, yakni segi
positif dan negatif. Di atas, para psikolog menguraikan dampak-dampak negatif yang diusung oleh
media baru. Di sisi lain, media baru membuka mata negara-negara berkembang untuk memandang
ekonomi global dari sebuah alat bernama komputer.
Internet juga memiliki peran dalam bidang ekonomi, hal ini terlihat dari adanya e-commerce
atau e-business. Internet berperan sebagai infrastruktur yang membantu transaksi perdagangan dari
penjual pada pembeli. Internet juga bisa disebut sebagai pasar belanja terbesar dengan jaringan
informasi dan komunikasi terluas.
II. Kemajuan IPTEK Bagi Adab dan Peradaban Manusia
Dari zaman ke zaman, perubahan yang terjadi di dunia ini amatlah sangat pesat, apalagi dari
segi Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Bila kita ingat zaman dahulu, banyak para ilmuwan
menemukan berbagai hasil percobaannya, dan kemudian diluncurkan lalu dipakai untuk kebutuhan
sehari-hari, seperti adanya ilmu fisika, ilmu matematika, ilmu kimia, ilmu biologi, juga ilmu sosial.
Semua ilmu itupun masih diterapkan hingga saat ini oleh kita semua.
Tak dapat kita bayangkan apabila para ilmuwan tidak menemukan berbagai penemuan luar
biasa untuk peradaban manusia, kita bahkan mungkin tak dapat untuk bertahan hidup, karena kita
akui bahwa kita sangatlah butuh akan keberadaan ilmu pengetahuan dunia untuk menjalankan
kehidupan di dunia fana ini.
Namun, di balik semua itu kita patut, wajib, dan haruslah untuk bersyukur kepada Tuhan
Yang Maha Esa, karena keagungan-Nya lah ilmu pengetahuan itu dapat kita rasakan dan manfaatkan
selama kita hidup. Setelah itu, kita patut untuk menjaga dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan
tersebut sampai saat nanti untuk masa depan dan peradaban manusia.
IPTEK di satu sisi sungguh sangat membantu kita selaku manusia dalam mengerjakan
berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
1. Mengetik laporan kerja dengan komputer
2. Menelepon orang lain dengan handphone
3. Mendengarkan musik dengan mp3 player
4. Mengetahui berita dengan televisi
5. Mengetahui waktu dengan jam
6. Bepergian ke manapun dengan sepeda motor, mobil, dan kendaraan lainnya
7. Mendinginkan ruangan dengan ac
8. Dan masih banyak lagi contohnya
Bahkan saat ini telah diciptakan robot menyerupai manusia yang bertujuan untuk
menggantikan manusia dalam mengerjakan tugas sehari-sehari. Kita jadi sangat tertolong dengan
adanya teknologi yang kian lama kian maju.
Namun, di sisi lainnya, kita jadi dimanjakan oleh teknologi. Manusia jadi malas, bahkan
sangat tergantung oleh teknologi yang membantu mengerjakan pekerjaan sehari-hari kita selaku
manusia. Jadinya, manusia tidak ada usaha sekuat tenaga untuk mengerjakan pekerjaannya dengan
tangan sendiri. Padahal sungguh bangganya kita bila suatu pekerjaan dapat dilakukan dan
diusahakan sendiri.
Kemajuan IPTEK menunjukkan kemampuan intelektual (intelligence) manusia juga
berkembang. Jadi teknologi selalu membutuhkan manusia supaya dapat diciptakan untuk peradaban
manusia. Tetapi manusia tidak sepenuhnya selalu membutuhkan adanya teknologi untuk
kehidupannya, karena manusia memiliki intelektual, sedangkan teknologi tidak memiliki intelektual.
Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada
atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri
dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan
teknologi, yaitu teknologi sederhana.
Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu
perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan
masalah. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Technology is the art of utilizing scientific
knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang
definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan
bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih
ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia.
Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari
adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional
mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Seseorang menggunakan teknologi, karena menusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar
dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih mudah, lebih aman, dan lebih-lebih yang lain.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk
menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat
pakar teknologi dunia terhadap pengembangan teknologi. Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada
delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi
industri, yaitu : (1) pesawat terbang, (2) maritim dan perkapalan, (3) alat transportasi, (4)
elektronika dan komunikasi, (5) energi, (6) rekayasa , (7) alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan
(8) pertahanan dan keamanan.
Pada satu sisi, perkembangan dunia iptek yang demikian mengagumkan itu memang telah
membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang
sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh
perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia
dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Begitupun dengan telah ditemukannya
formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi
kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Ringkas kata,
kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan
banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, pada sisi lain, pesatnya
kemajuan iptek ternyata juga cukup banyak membawa pengaruh negatif. Semakin kuatnya gejala
dehumanisasi, tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan dewasa ini, merupakan salah satu oleh-oleh
yang dibawa kemajuan iptek tersebut. Bahkan, sampai tataran tertentu, dampak negatif dari
peradaban yang tinggi itu dapat melahirkan kecenderungan pengingkaran manusia sebagai homo-
religousus atau makhluk teomorfis.
Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek
dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai
liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan
memberi umat manusia kesehatan, kebahagian dan imortalitas.
Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri.
Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka
dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia
terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia.
Perbudakan dan penjajahan di North America, Asia dan Afrika hanya memungkinkan melalui
dukungan iptek. Perkembangan iptek di Eropa Barat membuahkan revolusi industri yang menindas
kelas pekerja dan yang melahirkan komunisme. Produksi weapons of mass destruction, baik kimia,
biologi ataupun nuklir tentu saja tidak bisa dipisahkan dari iptek; belum lagi menyebut kerusakan
ekosistem alam akibat dari kemajuan iptek.
Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti
iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran
yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula
unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan,oleh karena itu iptek tidak
pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.
Dari segala dampak terburuk dari perkembangan iptek adalah dampak terhadap perilaku
dari manusia penciptanya. Iptek telah membuat sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence
dan superioritas tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya.
Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat) terhadap pihak yang lemah
(negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.
III. Pertumbuhan dan Perkembangan Demografi Terhadap Adab dan Peradaban Manusia
Johan Sussmilch (1762): Demografi mempelajari hukum Tuhan yang berhubungan dengan
perubahan-perubahan pada umat manusia yang terlihat pada kelahiran, kematian, dan
pertumbuhannya.
Achille Guillard (1855): Demografi sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu dari
keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur yaitu meliputi perubahan secara umum, fisik,
peradaban, intelektualitas, dan kondisi moral.
David V. Glass (1953): Demografi terbatas pada studi penduduk sebagai akibat pengaruh
dari proses demografi, yaitu: fertilitas, mortalitas, dan migrasi.
UN (1958); IUSSP (1982): Demografi adalah studi ilmiah mengenai masalah penduduk yang
berkaitan dengan jumlah, struktur, serta pertumbuhannya. Masalah demografi lebih ditekankan
pada segi kuantitatif dari berbagaifaktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, yaitu:
fertilitas, mortalitas dan migrasi.
Donald J. Bogue (1973): Demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistik dan
matematik tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk dan perubahan-perubahannya
sepanjang perubahan masa melalui bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas),
kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
Bapak demografi: John Graunt menganalisis data kelahiran dan kematian yang diperoleh dari
catatan kematian (bills of mortality) yang setiap minggu diterbitkan oleh petugas gereja-gereja. John
Graunt mencetuskan hukum-hukum tentang pertumbuhan penduduk.
Demografi (Kependudukan) adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan
manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah
penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis
kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang
didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
Problematik demiografi dalam meningkatkan kesejahteraan sudah berada di wilayah
terapan ilmu demografi. Pertanyaan mendasarnya adalah upaya mencari keseimbangan struktur
penduduk di wilayah tertentu pada periode tertentu dan kesejahteraan optimal yang dapat dicapai.
Contoh kasus, pemerintah RRC melarang pasangan suami isteri memiliki lebih dari satu anak
sejak akhir 1970-an (1978 atau 1979). Alasannya untuk mengurangi angka pertumbuhan penduduk
sehingga beban sosial ekonomi berkurang. Implikasi kebijakan ini sangat banyak, antara lain budaya
Cina yang menginginkan anak laki-laki tidak jarang memicu aborsi ketika bayi dalam kandungan
diketahui berkelamin perempuan. Cina berhasil mencegah kelahiran 400 juta bayi selama 1978-
2008, 30 tahun. Namun, bersamaan dengan peningkatan keseejahteraan Cina, akan sering terjadi
beban sepasang suami-isteri adalah empat orang tua yang panjang umur dan satu anak hasil
perkawinan.
Kasus Indonesia, sejak reformasi 1998, intensitas program Keluarga Berencana tampak
menurun. (Coba perhatikan semakin banyak pasangan suami-isteri di sekeliling kita memiliki lebih
dari dua anak antara 1998-2008). Belakangan Kepala BKKBN mengingatkan akan terjadi ledakan
jumlah penduduk dan segala implikasinya di Indonesia jika program KB ditinggalkan. Kampanye KB
pun dimulai lagi, namun belum seintensif di masa Presiden Soeharto.
Sejak tumbangnya Orde Baru, perkembangan masyarakat di Indonesia ditandai oleh
perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini menjurus kepada ketidakserasian bangsa. Dampak dari rasa
muak terhadap friksi yang tidak berkesudahan, mulai muncul di kalangan awam kerinduan atas
keadaan masa lalu yang dianggap relatif stabil, aman, dan mudah mencari makan.
Konflik yang berkepanjangan tidak perlu terjadi apabila kekuatan politik yang ada
memahami keadaan dan perkembangan struktur demografi Indonesia. Secara demografis, konflik di
Indonesia sebenarnya dapat dijelaskan dari sisi perbedaan antargenerasi (inter-generational gap).
Struktur penduduk sebenarnya menggambarkan pengalaman anggota masyarakat di mana setiap
orang yang ada di dalamnya telah melalui siklus kehidupan, dari sejak lahir, bayi, anak, akil balik,
dewasa, tua dan akhirnya mati. Perjalanan kehidupan setiap orang dengan latar belakang yang
mempengaruhi tata kehidupannya ini akan membentuk sikap, pandangan dan perilaku.
Dinamika penduduk akan melahirkan push and pull theory, yaitu Pertumbuhan penduduk
merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan
mengurangi. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun selalu bertambah.
Perubahan jumlah penduduk ini disebut sebaagi pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk
adalah bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk di suatu daerah atau negara dalam kurun
waktu tertentu. Tingkat pertumbuhan penduduk di negara kita masih termasuk tinggi.
Idealnya, struktur penduduk membentuk urutan generasi yang teratur. Kenyataannya,
keberhasilan usaha menurunkan kelahiran dan kematian selama ini telah membentuk struktur
penduduk Indonesia di mana generasi yang dilahirkan tahun-tahun 1980-an dan 1990-an jatuh
berhimpitan di antara generasi-generasi yang dilahirkan di tahun-tahun sebelumnya.
Generasi 1920-1930
Akibat dari perkembangan status ekonomi dan teknologi kesehatan yang lebih baik
menyebabkan generasi kelompok lanjut usia (generasi 1920-30) masih signifikan dalam struktur
penduduk Indonesia. Keberadaan mereka dalam masyarakat mulai mendorong permintaan pada
sarana dan pelayanan geriatri. Mereka adalah kelompok yang mampu melalui Perang Dunia II dan
depresi ekonomi di tahun 30-an dan perlu diperhitungkan keberadaan mereka. Latar belakang
kehidupan mereka membentuk kepribadian konservatif, dan hemat. Oleh karena mereka merasa
ikut menanamkan dasar kebangsaan di masa remaja, mereka mengharapkan generasi selanjutnya
menjadi kuat, loyal, hemat, dan mempertahankan kekerabatan dalam arti luas. Penolakan terhadap
pandangan generasi ini dianggap sebagai penolakan dari generasi muda dalam melestarikan tata
nilai moral.
Generasi 1940-1950
Generasi ini dilatarbelakangi oleh kehidupan yang serba kurang akibat lemahnya ekonomi
Indonesia. Latar belakang keras dengan suasana perang kemerdekaan dan pemberontakan
membentuk sikap dan kepribadian yang hampir sama dengan generasi sebelumnya yaitu sederhana
dan kerja keras. Mereka mendambakan kehidupan yang aman, nyaman dan damai. Kecenderungan
dari elite generasi ini adalah pekerja keras untuk menghadapi persaingan akibat dari mobilitas sosial
yang dibuka untuk semua warga. Memasuki usia tua, mereka cenderung membentuk kepribadian
yang konservatif.
Generasi 1960-1970
Generasi dewasa muda mengalami masa pertumbuhan di saat kondisi perekonomian
Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cepat. Pengaruh dari keadaan yang
penuh dengan kemudahan menyebabkan terbentuknya kepribadian kurang peka dengan lingkungan
mereka. Secara umum, tata nilai generasi ini bermuara pada diri mereka sendiri sebagai pusat
keberhasilan. Ambisius. Mereka yang kurang peka dengan pentingnya keluarga besar (extended
family). Mereka tidak bersedia kehilangan kenyamanan yang mereka peroleh pada waktu mereka
tumbuh dalam keluarga. Sukses ditandai oleh gaya hidup kosmopolitan. Elite dari generasi ini
menghasilkan sub-kultur yuppies dengan pola pengeluaran boros. Krisis yang berkepanjangan dapat
menumbuhkan perasaan pahit terhadap mereka yang menyebabkannya kesejahteraan mereka
terganggu. Jumlah mereka secara absolut sangat besar dan dapat membentuk kekuatan politik yang
perlu dipertimbangkan. Ketidakpekaan pada kepentingan mereka dapat mengganggu efektivitas
kerja pemimpin di masa mendatang.
Generasi 1980-1990
Anggota yang paling muda dalam masyarakat Indonesia tidak membentuk kesamaan
pandangan. Generasi 1980 tumbuh dalam masa yang terbaik dalam kemakmuran ekonomi.
Pengaruh dari orang tua mereka pada pekerjaan yang semakin kompetitif mendorong permintaan
pada sarana pendidikan yang lebih baik agar mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Sebagai anak
muda, mereka penuh dengan idealisme dan aktif. Seperti yang lainnya, mereka adalah kelompok
yang dapat dikatakan radikal daripada generasi yang di atasnya. Namun, dengan krisis ekonomi yang
berkepanjangan, hal ini dapat mengubah kepribadian yang liberal menjadi ultra-konservatif di saat
mereka memasuki ke usia lanjut usia.










































Bab III PENUTUP
A.Kesimpulan
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena
kemajuan teknologi akan berjalan sesuai ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang
sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan
manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas
manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyatakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa
oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun manusia tidak bisa
menipu diri sendiri kenyataan bahwa teknologi mendatangkan efek negatif bagi manusia.
B.Saran
Agar bisa mengatasi permasalahan dari efek negatif dari peradaban kemajuan teknologi bagi
manusia sebaiknya sebagai manusia mempunyai Intelgensi dan Qalbu, agar bisa medapatkan hal
teserbut harus banyak generasi bangsa belajar dan berpendidikan untuk terus menggali ilmu
pengetahuan dan teknologi serta informasi tanpa menghilangkan jati diri Indonesia melalui
pelestarian nilai-nilai dan moral bangsa Indonesia agar bisa Indonesia yang maju melestarikan
warisan budaya dan bangsa dan di pihak lain membangun kebudayaan nasional yang modern.








Daftar Pustaka
Alisyahbana, Iskandar. 1980. Teknologi dan Perkembangan. Jakarta: Yayasan Idayu.
Anglin, Gary J. 1991. Instructional Technology: Past, Present and Future.
Englewood: Libraries Unlimited.
Mirabito, M.A.M & Morgenstern, B.L, New Communication Technology: Applications, Policy, and
Impact, Fifth Edition, UK: Local Press, 2004. hlmn. 231-246.
Straubhaar, Joseph & La Rose, Robert. Media Now: Communications Media in the Information Age.
Wadsworth, 2004. Chapter 13.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Sutjipto. 2005. Kurikulum Pendidikan Teknologi suatu Kebutuhan yang Tidak Pernah Terlambat.
Jakarta: Kompas.
http://one.indoskripsi.com/artikel-skripsi-tentang/problematika-peradaban