Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH SEMINAR

BLOK KEGAWAT DARURATAN 1


ASUHAN KEPERAWATAN Nn. M DENGAN SYOK ANAFILAKTIK





Pembimbing :
Ns. Nuri Sukraeni, S.Kep.MNS


Disusun Oleh :
Anik Apriani G2A011008 Hanif Kurnia S G2A011023
Arbella Novantica G2A011009 Herdha Ari C G2A011024
Ardhiyan Lukita S G2A011010 Hilda Amalia G2A011025
Arfyan Andy P G2A011011 Iik Ristiyanto G2A011026
Ayu Rachmawati N G2A011012 Insan Perdana G2A011027



PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Secara harfiah, anafilaksis berasal dari kata ana yang berarti balik dan phylaxis yang
berarti perlindungan. Dalam hal ini respons imun yang seharusnya melindungi
(prophylaxis) justru merusak jaringan, dengan kata lain kebalikan dari pada
melindungi (anti-phylaxis atau anaphylaxis).Seseorang dikatakan syok bila terdapat
ketidakcukupan perfusi oksigen dan zat gizi ke sel-sel tubuh. Kegagalan memperbaiki
perfusi menyebabkan kematian sel yang progresif, gangguan fungsi organ dan
akhirnya kematian penderita. Pada syok anafilaksis yang paling membahayakan ialah
masuknya alergen ke dalam sirkulasi plasma meyebabkan degranulasi Ig E yang
dilepaskan dan masuk ke dalam sirkulasi mediator kimia. Sel mast dapat juga
diaktifkan dengan masuknya antigen ke dalam jaringan. Vasodilatasi perifer yang
menyeluruh menyebabkan terjadinya hiptensi dan syok. Syok anafilaktik
merupakan bentuk terberat dari reaksi obat. Anafilaktis memang jarang dijumpai,Dii
Indonesia, khususnya di Bali, angka kematian dari kasus anafilaksis dilaporkan 2
kasus/10.000 total pasien anafilaksis pada tahun 2005 dan mengalami peningkatan
prevalensi pada tahun 2006 sebesar 4 kasus/10.000 total pasien anafilaksis. Beberapa
sumber menyebutkan bahwa anafilaksis lebih sering terjadi pada perempuan, terutama
perempuan dewasa muda dengan insiden lebih tinggi sekitar 35% dan mempunyai
risiko kira-kira 20 kali lipat lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Berdasarkan umur,
anafilaksis lebih sering pada anak-anak dan dewasa muda, sedangkan pada orang tua
dan bayi anafilaksis jarang terjadi ( Depkes,R.I 2005)

B. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah asuhan keperawatan syok anafilaksis sebagai
berikut :
Tujuan instruksional umum :
1. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan kegawatan syok anafilaksis.
Tujuan instruksional khusus :
1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi pengertian syok anfilaksis.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi dan faktor predisposisi syok anafilaksis.
3. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi syok anafilaksis.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinik syok anafilaksis.
5. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan kegawatan pada syok anafilaksis,
6. Mahasiswa mampu menjelaskan pengakajian fokus secara kasus maupun secara
teori pada syok anafilaksis.
7. Mahasiswa mampu memahami pathways keperawatan pada syok anfilaksis.
8. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan secara kasus maupun
teori.
9. Mahasiswa mampu merumuskan fokus intervensi keperawatan pada syok
anafilaksis.
C. METODE PENULISAN
metode penulisan pada makalah asuhan keperawatan syok anafilaksis, sebagai
berikut:
1. Studi pustaka
Dengan mencarai referensi buku-buku yang terbaru
2. Diskusi kelompok
Mendiskusikan dengan kelompok terkait topik
3. Browsing
Dengan mencari jurnal penelitian atau website yang terpercaya terkait dengan topik
D. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB 1 : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Metode Penulisan
D. Sistematika Penulisan
BAB II : KONSEP DASAR
A. Pengertian
B. Etiologi/predisposisi
C. Patofisiologi
D. Manifestasi klinik
E. Penatalaksanaan Kegawatan
F. Pengkajian Fokus Kegawatan
G. Pathways Keperawatan
H. Fokus Intervensi dan Rasional
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran


























BAB II
KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Anafilaksis adalah suatu respons klinis hipersensitivitas yang akut, berat dan
menyerang berbagai macam organ. Reaksi hipersensitivitas ini merupakan suatu
reaksi hipersensitivitas tipe cepat (reaksi hipersensitivitas tipe I), yaitu reaksi antara
antigen spesifik dan antibodi spesifik (IgE) yang terikat pada sel mast.(Krause.2005)
Anafilaksis merupakan respons klinis terhadap reaksi imunologi cepat
(hipersensitivitas tipe I) antara antigen yang spesifik dan antibodi.( Smeltzer.2000)

KLASIFIKASI
Secara imunopatologik reaksi anafilaksis dan reaksi anafilaktoid dibagi menjadi 4
diantaranya :
1. Reaksi anafilaksis yang diperankan oleh IgE atau IgG.
2. Reaksi anafilaktoid karena lepasnya mediator secara langsung misalnya oleh obat,
makanan, agregasi kompleks imun seperti reaksi terhadap globulin , IgG anti IgA.
3. Reaksi transfusi karena pembentukan antibodi terhadap eritrosit atau leukosit.\
4. Reaksi yang diinduksi prostaglandin oleh pengaruh aspirin atau obat lain.

B. ETILOGI/PRESDIPOSISI
Penyebab Anafilaktik :
1. Makanan
2. Kegiatan jasmani
3. Sengatan tawon
4. Faktor fisis seperti udara yang panas air yang dingin pada kolam renang
bahkan sebagian anafilasis penyebabnya tidak diketahui. (buku ilmu penyakit dalam,
2009)
Menurut Sudoyo (2006) Syok anafilaktik disebabkan oleh respon antigen
antibodi. Hampir semua zat apapun dapat menyebabkan reaksi hypersensitivitas. Zat
ini, dikenal sebagai antigen, dapat diperkenalkan dengan injeksi, konsumsi atau
melalui kulit dan saluran pernapasan. Sejumlah antigen telah diidentifikasi yang
dapat menyebabkan seseorang mengalami rekasi hipersensitivitas.
Daftar ini termasuk makanan, makanan adiktif, agen diagnostik, agen biologis,
agen lingkungan, obat-obatan, dan racun. Dalam lingkungan rumah sakit latexs
merupakan suatu antigen yang sangat bermasalah bagi pasien dan penyedia layanan
kesehatan.
Faktor etiologi syok anafilaktik:

a. Makanan - Telur dan susu
- Ikan dan kerang
- Kacang-kacangan dan biji
- Kacang-kacangan dan sereal
- Kedelai
- Gandum
- Buah jeruk
- Cokelat
- Stroberi
- Tomat
- Alpukat
- Pisang
- Buah kiwi
- Lain-lain
b. Makanan aditif

- Pewarna makanan
- Pengawet
c. Diagnostik agen




- Pewarna kontras iodinasi
- Sulfobromophthalein
- Dehydrocholic
- Asam Iopanoic
d. Agen biologis

- Darah dan komponen darah
- Insulin dan hormon lainnya
- Gamma globulin
- Plasma seminal
- Enzim
- Vaksin dan antitoxins
e. Lingkungan agen





- Serbuk sari, jamur dan spora
- Sinar matahari
- Bulu hewan
- Lateks
f. Obat


- Antibiotik
- Aspirin
- Non-steroid anti
-inflammatory drugs
- Narkotika
- Dekstran
- Vitamin
- Anestesi lokal
- Relaksan otot
- Neuromuskular blocking agen
- Barbiturat
g. venoms


- Lebah, hormets, jaket kuning, dan tawon.
- Ular
- Ubur-ubur
- Laba-laba
- Rusa lalat
- Semut api

C. PATOFISIOLOGI
Sistem kekebalan melepaskan antibodi Jaringan melepaskan histamin dan
zat lainnya. Hal ini menyebabkan penyempitan saluran udara, sehingga terdengar
bunyi mengi (bengek) gangguan pernafasan dan timbul gejala-gejala saluran
pencernaan berupa nyeri perut , kram , muntah dan diare.
Histamin menyebabkan pelebaran pembuluh darah (yang akan menyebabkan
penurunan tekanan darah) dan perembesan cairan dari pembuluh darah ke dalam
jaringan (yang akan menyebabkan penurunan volume darah), sehingga terjadi syok.
Cairan bisa merembes ke dalam kantung udara di paru-paru dan menyebabkan
edema pulmoner. Seringkali terjadi urtikaria dan angioedema.
Angioedema bisa cukup berat sehingga menyebabkan penyumbatan saluran
pernafasan. Anafilaksis yang berlangsung lama bisa menyebabkan aritimia jantung.
Pada kepekaan yang ekstrim, penyuntikan allergen dapat mengakibatkan kematian
atau reaksi subletal dan umumnya reaksi yang berat terjadi secara cepat. Individu
yang terkena merasakan gelisah, diikuti dengan cepat oleh rasa ringan pada kepala
yang mengakibatkan singkop. Rasa gatal di tangan dan di kepala dapat menjadi
urtikaria yang menutupi sebagian besar permukaan kulit. Pembengkakan jaringan
lokal dapat timbul dalam beberapa menit dan khususnya mengubah bentuk kelopak
mata, bibir, lidah, tangan dan genitalia.

D. MANIFESTASI KLINIK
Gambaran kilinis anafilaksis sangat bervariasi, baik cepat dan lamanya reaksi
maupun luas dan beratnya reaksi. Gejala dapat dimulai dengan gejala prodromal baru
menjadi berat. Keluhan yang sering dijumpai pada fase permulaan adalah rasa takut,
perih dalam mulut, gatal pada mata dan kulit, panas dan kesemutan pada tungkai,
sesak, mual, pusing, lemas dan sakit perut.
Adapun Gejala-gejala yang secara umum, bisa pula ditemui pada suatu anafilaksis
adalah:
1. Gatal di seluruh tubuh
2. Hidung tersumbat
3. Kesulitan dalam bernafas
4. Batuk
5. Kulit kebiruan (sianosis), juga bibir dan kuku
6. Pusing, berbicara tidak jelas
7. Denyut nadi yang berubah-ubah
8. Jantung berdebar-debar (palpitasi)
9. Mual, muntah dan kulit kemerahan

E. PENTALAKSANAAN KEGAWATAN
Penatalaksanaan syok anafilaksis dalam tahap pencegahan Hindari alergen
penyebab reaksi alergi. Untuk mencegah anafilaksis akibat alergi obat, kadang
sebelum obat penyebab alergi diberikan, terlebih dahulu diberikan kortikosteroid,
antihistamin atau epinefrin.Serangan serangga atau beberapa jenis binatang lain sudah
dapat dicegah dengan cara desensitisasi yang berupa penyuntikan berulang-ulang dari
dosis rendah sampai dianggap cukup dalam jangka waktu yang cukup lama.

Penatalaksanaan kegawatan yang dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Resusitasi jantung paru
Resusitasi jantung paru (RJP) dilakukan apabila terdapat tanda-tanda kagagalan
sirkulasi dan pernafasan. Untuk itu tindakan RJP yang dilakukan sama seperti pada
umumnya.Bilamana penderita akan dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih baik
fasilitasnya, maka sebaiknya penderita dalam keadaan stabil terlebih dahulu.
Sangatlah tidak bijaksana mengirim penderita syok anafilaksis yang belum stabil
penderita akan dengan mudah jatuh ke keadaan yang lebih buruk bahkan fatal. Saat
evakuasi, sebaiknya penderita dikawal oleh dokter dan perawat yang menguasai
penanganan kasus gawat darurat. Penderita yang tertolong dan telah stabil jangan
terlalu cepat dipulangkan karena kemungkinan terjadinya reaksi lambat anafilaksis.
Sebaiknya penderita tetap dimonitor paling tidak untuk 12-24 jam. Untuk keperluan
monitoring yang kektat dan kontinyu ini sebaiknya penderita dirawat di Unit
Perwatan Intensif.
2. Oksigenasi
Prioritas pertama dalam pertolongan adalah pernafasan. Jalan nafas yang
terbuka dan bebas harus dijamin, kalau perlu lakukan sesuai dengan ABC-nya
resusitasi.Penderita harus mendapatkan oksigenasi yang adekuat. Bila ada tanda-
tanda pre syok/syok, tempatkan penderita pada posisi syok yaitu tidur terlentang
datar dengan kaki ditinggikan 30o 45 agar darah lebih banyak mengalir ke organ-
organ vital. Bebaskan jalan nafas dan berikan oksigen dengan masker. Apabila
terdapat obstruksi laring karena edema laring segera lakukan intubasi endotrakeal
untuk fasilitas ventilasi. Ventilator mekanik diindikasikan bila terdapat spasme
bronkus, apneu atau henti jantung mendadak.
Penatalaksanaan farmakologi pada syok anafilaksis antara lain :
1. Epinefrin
Epinefrin atau adrenalin bekerja sebagai penghambat pelepasan histamine dan
mediator lain yang poten, Mekanisme adrenalin menghambat terjadinya degranulasi
serta pelepasan histamine dan mediator lainnya. Selain itu adrenalin mempunyai
kemampuan memperbaiki kontraktilitas otot jantung, tonus pembuluh darah perifer
dan otot polos bronkus.
2. Obat obat vasopressor
Bila pemberian adrenalin dan cairan infuse yang dirasakan cukup adekwat
tetapi tekanan sistolik tetap belum mencapai 90 mmHg atau syok belum teratasi,
dapat diberikan vasopressor misalnya dopamin dapat diberikan secara infus dengan
dosis awal 0,3mg/KgBB/jam dan dapat ditingkatkan secara bertahap
1,2mg/KgBB/jam untuk mempertahankan tekanan darah yang membaik.
3. Aminofilin
Aminofilin menghambat pelepasan histamine dan mediator lain, Aminofillin
ini diberikan bila spasme bronkus yang terjadi tidak teratasi dengan adrenalin. Jadi
kerja aminofilin memperkuat kerja adrenalin
4. Kortikosteroid
Kortikosteroid digunakan untuk mengatasi spasme bronkus yang tidak dapat
diatasi dengan adrenalin dan mencegah terjadinya reaksi lambat dari anafilaksis.
5. Antihistamin
Bekerja sebagai penghambat sebagian pengaruh histamin terhadap sel target.
Antihistamin diindikasikan pada kasus reaksi yang memanjang atau bila terjadi
edema angioneurotik dan urtikaria.
6. Pemberian cairan intravena
Pemberian cairan intravena dilakukan bila tekanan sistolik belum mencapai
100 mmHg (dewasa) dan 50 mmHg (anak). Cairan yang dapat diberikan adalah
RL/NaCl, Dextran/ Plasma. Pada dewasa sering dibutuhkan cairan sampai 2000ml
dalam jam pertama dan selanjutnya diberikan 2000 3000 ml/m LPB/ 24 jam.

F. PENGKAJIAN KEGAWATAN
Kasus pemicu
Nn. Mawar 25 tahun dibawa ke UGD RS Daerah oleh keluarganya karena sesak
nafas, kesulitan menelan, muntah-muntah, bengkak pada mata timbul bercak
kemerahan pada seluruh tubuh disertai buah. Saat ini kesadaran pasien apatis keluarga
mengatakan pasien sedang sakit dan sudah berobat pagi tadi. Setelah minum obat dari
dokter tidak sembuh malah bertambah keluhan dan semakin parah.
Nama : Nn. Mawar
Usia : 25 th
Keluhan utama : pasien mengalami sesak napas dan kesulitan menelan, muntah-
muntah, bengkak pada mata, timbul bercak kemerahan pada seluruh tubuh disertai
gatal.
Data objektif Data subjektif
1. Pasien mengalami sesak napas
2. Pasien muntah muntah
3. Bengkak pada matanya
4. Ada bercak kemerahan diseluruh
tubuh
5. Kesadaran apatis

1. Pasien mengatakan gatal diseluruh
tubuh
2. Kesulitan menelan
3. Keluarga mengatakan setelah
minum obat dari dokter tidak
sembuh malah bertambah keluhan
dan semakin parah

Menurut Haupt MT dan Carlson RW ( 1989) dalam jurnal Syok dan Penangananya oleh
Cemy ( 2010) menjelaskan penatalaksanaan syok anfilaksis pada primery survey antara
lain:
1. Airway ( jalan nafas) pada jalan napas harus dijaga agar tetap bebas tidak ada
sumbatan . untuk penderita yang tidak sadar, posisi kepala leher diatur agar
lidah tidak jatuh kebelakang menutupi jalan nafas yaitu dengan melakukan
ekstensi kepala, tarik mandibula ke depan, dan buka mulut.
2. Bretahing ( pernapasan) . tindakan yang dapat dilakukan ialah memberikan
bantuan napas bantuan bila tidak ada tanda-tanda bernapas, baik melalui mulut
ke mulut atau mulut ke hidung. Pada syok anafilaktik yang disertai udem
laring, dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan napas. Bantuan yang
dapat diberikan jika penderita menampakkan adanya obstruksi jalan napas
diberikan oksigen. Obat-obatan sampai dengan intubasi endotrakea,
krikotirotomi, atau trakeatomi.
3. Circulation ( peredaran) yaitu bila tidak teraba nadi pada arteri besar misal
arteri karotis atau femoralis, segera lakukan kompresi jantung luar.
Penilaian A, B, C merupakan penilaian terhadap kebutuhan bantuan hidup
dasar yang penatalaksanaanya sesuai dengan protokol resusitasi jantung paru.
Pengkajian secara teori pada syok anafilaksis
1. Aktifitas/ istirahat
Gejala : Merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena adanya rasa
takut,sesak, lemas dan pusing serta gatal/pruritus.
Tanda : Gangguan Pada tungkai (kesemutan), rasa gatal pada kulit tangan dan
kepala.
2. Kardiovaskuler
Gejala : Palpitasi, takikardia, hipotensi, renjatan dan pingsan
Tanda : Pada EKG ditemukan aritmia, T mendatar atau terbalik, fibrilasi ventrikel
sampai asistol.
3. Integritas Ego
Gejala : Perasaan tidak berdaya, putus asa
Tanda : Emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira.
Kesulitan untuk mengekspresikan diri.
4. Makanan/cairan
Gejala : Mual, muntah, sakit perut dan dapat terjadi diare.
5. Neurosensori
Gejala : Sinkope/pusing, kesemutan
Tanda : Tingkat kesadaran; biasanya terjadi koma, disorientasi, halusinasi dan
kejang.
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Sakit kepala (pusing), sakit di bagian perut, gatal pada mata dan kulit.
7. Pernapasan
Gejala : Rinitis, bersin, gatal di hidung, batuk, sesak, suara serak, gawat nafas,
takipnea samoai apnea.
8. Interaksi Sosial
Tanda : Ketidakmampuan untuk berkomunikasi akibat berbagai gangguan pada
tubuh, seperti gatal, sesak, dan rasa takut
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
1) Pasien tampak sesak
2) Kesadaran menurun
3) Sianosis
4) Kulit tampak dalam betuk semburat merah
5) Pucat
b. Auskultasi
1) Penurunan tekanan darah
2) Takikardi
3) Bradikardi

2. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Hematologi : Hitung sel meningkat, Hemokonsentrasi,
trombositopenia, eosinophilia naik/ normal / turun.
2) Kimia: Plasma Histamin meningkat, sereum triptaase meningkat.
Radiologi
b. X foto: Hiperinflasi dengan atau tanpa atelektasis karena mukus, plug.
c. EKG: Gangguan konduksi, atrial dan ventrikular disritmia.

H. PATHWAYS KEPERAWATAN
( terlampir )

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa yang bisa muncul pada kasus tersebut antara lain:
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan spasme otot bronkus .
2. Gangguan perfusi jaringan, berhubungan dengan penurunan curah jantung.
3. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
kapasitas vaskuler.
4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan produksi histamine
dan bradikinin oleh sel mast.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,
muntah.

J. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL

No No Dx Tujuan dan kriteria
hasil
Intervensi Rasional
1 1 Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
3 x 24 jam pasien
mampu
mempertahankan
pola pernapasan
efektif dengan jalan
nafas yang paten.
Kriteria Hasil :
Mempertahankan pola
1. Pastikan tidak
terdapat benda atau
zat tertentu atau gigi
palsu pada mulut
pasien.

2. Letakkan pasien pada
posisi miring,
permukaan datar dan
miringkan kepala
pasien.
Menurunkan
resiko aspirasi
atau masuknya
suatu benda
asing ke faring.

Meningkatkan
aliran sekret,
mencegah lidah
jatuh dan
menyumbat jalan
nafas efektif pasien


3. Lakukan penghisapan
sesuai indikasi.

4. Kolaborasi :
Berikan tambahan oksigen
atau ventilasi manual
sesuai kebutuhan
nafas.

Menurunkan
resiko aspirasi
atau asfiksia.

Untuk menurunkan
hipoksia cerebral.
2 2 Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama 3
x 24 jam perfusi
jaringan pasien
membaik.
Kriteria Hasil :
a. Kulit pasien
hangat.
b. Tanda vital
dalam batas normal.
c. Pasien sadar
atau berorientasi.

1. Selidiki perubahan tiba
tiba atau gangguan
mental kontineu contoh
cemas, bingung letargi,
pingsan.
2. Lihat kulit apakah
pucat, sianosis, belang,
kulit dingin atau
lembab, catat kekuatan
nadi perifer.

3. Pantau pernapasan,
catat kerja pernapasan.

Perfusi serebral
secara langsung
berhubungan
dengan curah
jantung.
Penurunan curah
jantung dibuktikan
oleh penurunan
perfusi kulit dan
penurunan nadi.

Penurunan curah
jantung dapat
mencetuskan stres
pernapasan.

3 3 Tujuan :
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
3 x 24 jam diharapkan
kebutuhan tubuh
pasien terhadap
cairan terpenuhi.
Kriteria Hasil:
1. Catat tanda vital
pasien.

2. Catat peningkatan
suhu dan durasi
demam . berikan
kompres hangat
sesuai indikasi,
pertahankan pakaian
Indikator dari
volume cairan
sirkulasi.
- Meningkatkan
kebutuhan
metabolisme dan
diforesis yang
berlebihan
dihubungkan
Kebutuhan cairan
pasien terpenuhi
tetap kering,
pertahankan
kenyamanan suhu
lingkungan.


3. Ukur haluan urine
dan berat jenis urine.






4. Pantau pemasukan
oral dan memasukan
cairan sediktnya
2500ml/hari.




5. KOLABORASI :
Berikan obat obatan sesuai
indikasi misal:
antipiretik(aceta minofen).
dengan demam
dalam
meningkatkan
kehilangan cairan
yang berlebihan.

Peningkatan berat
jenis
urine/penuruna
haluaran urine
menunjukan
perubaha perfusi
ginjal /volume
sirkulasi.
- Mempertahankan
keseimbangan
cairan, mengurangi
rasa haus,dan
melembabkan
membran mukosa.



Untuk membantu
mengurangi
demam dan respon
metabolisme,
menurunkan cairan
tak kasat mata.
4 4 Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama 3
x 24 jam kerusakan
kulit berkurang dan
1. Kaji kulit setiap hari.
Catat warna
kulit,turgor
kulit,sirkulasi dan
sensasi.
Untuk mengetahui
ada tidaknya
perubahan kulit.


meningkatkan
kesembuhan.
Kriteria Hasil :
Menunjukan
kemajuan pada luka
atau penyembuhan
2. Pertahankan higiene
kulit misalnya
membasuh dan
kemudian
mengeringkan dengan
hati2 dan melakukan
masagge dengan
menggunakan
lotion/cream.
3. Pertahankan
kebersihan lingkungan
pasien seprti seprei
bersih kering dan tidak
berkerut.

4. Sarankan pasien untuk
melakukan ambulasi
beberapa jam sekali
jika memungkinkan.
Gunting kuku secara
teratur.
Mempertahankan
kebersihan karena
kulit tiap kering
dapat menjadi
barier infeksi.
Masase
meningkatkan
sirkulasi kulit dan
kenyamanan.
-

Friksi kulit di
sebabkan oleh kain
yang berkerut dan
basah yang
menebabkan iritasi
dan potensial
terhadap infeksi.
- Menurunkan
tekana pada kulit
dari istirahat lama
di tempat tidur.
- Kuku yang
panjang /kasar
meningkatkan
kerusakan dermal.
5 5 Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan selama 3
x 24 jam terjadi
peningktan intoleransi
aktifitas.
Kriteria Hasil : Pasien
mencapai peningktan
1. Periksa tanda vital
sebelum dan segera
setelah aktivitas.


2. Catat respon
cardiopulmonal
terhadap aktivitas.
Hipotensi dapat
terjadi karena efek
obat, perpindahan
cairan,pengaruh
fungsi jantung.
- Penurunan /
ketidak mampuan
miokardium untuk
toleransi aktivitas
yang dapat di ukur



3. Kaji penyebab
kelemahan.




4. Evaluasi peningkatan
intoleran aktivitas.



5. Berikan bantuan dalam
aktivitas perawatan
mandiri sesuai
indikasi.selingi periode
aktivitas dengan
periode istirahat.

meningkatkan
volume sekuncup
selama aktivitas.
- Kelemahan dapat
disebabkan oleh
efek samping
beberapa
obat,nyeri dan
stres.
- Dapat menunjukan
peningkatan
decompensasi
jantung dari pada
kelebihan aktivitas.
Pemenuhan
kebutuhan
perawatan diri
pasien tanpa
mempengaruhi
strees
miokard/kebutuhan
oksigen











BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Syok anafilaktik adalah suatu respons hipersensitivitas yang diperantarai oleh Ig E yang
ditandai dengan curah jantung dan tekanan arteri yang menurun hebat. Syok anafilaktik
memang jarang dijumpai, tetapi mempunyai angka mortalitas yang sangat tinggi.
Beberapa golongan alergen yang sering menimbulkan reaksi anafilaksis, yaitu
makanan, obat-obatan, dan bisa atau racun serangga. Faktor yang diduga dapat
meningkatkan risiko terjadinya anafilaksis, yaitu sifat alergen, jalur pemberian obat,
riwayat atopi, dan kesinambungan paparan alergen. Anafilaksis dikelompokkan dalam
hipersensitivitas tipe I, terdiri dari fase sensitisasi dan aktivasi yang berujung pada
vasodilatasi pembuluh darah yang mendadak
Penatalaksanaan syok anfilaktik harus cepat dan tepat mulai dari hentikan allergen yang
menyebabkan reaksi anafilaksis; baringkan penderita dengan kaki diangkat lebih tinggi
dari kepala; penilaian A, B, C dari tahapan resusitasi jantung paru; pemberian adrenalin
dan obat-obat yang lain sesuai dosis; monitoring keadaan hemodinamik penderita bila
perlu berikan terapi cairan secara intravena, observasi keadaan penderita bila perlu
rujuk ke rumah sakit.
Pencegahan merupakan langkah terpenting dalam penatalaksanaan syok anafilaktik
terutama yang disebabkan oleh obat-obatan. Apabila ditangani secara cepat dan tepat
sesuai dengan kaidah kegawat daruratan, reaksi anafilaksis jarang menyebabkan
kematian


B. SARAN

1. Dengan mempelajari materi ini mahasiswa keperawatan yang nantinya menjadi
seorang perawat professional agar dapat lebih peka terhadap tanda dan gejala
ketika menemukan pasien yang mengalami syock sehingga dapat melakukan
pertolongan segera.
2. Mahasiswa dapat melakukan tindakan-tindakan emergency untuk melakukan
pertolongan segera kepada pasien yang mengalami syock

DAFTAR PUSTAKA

Alkatri J, dkk, Resusitasi Jantung Paru, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Editor
Soeparman, Jilid I, ed. Ke-2. 2009. Balai Penerbit FKUI:Jakarta
Sudoyo. W Aru, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I Edisi iv. Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran. Jakarta
H. Suyono Slamet. 2001. Buku Ajar, I LMU PENYAKI T DALAM. Jilid II, Edisi
ketiga. Penerbit; Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2001
Sylvia. A. Price. 2005. PATOFI SI OLOGI , Konsep klinis Proses-proses Penyakit.
Volume 1, Edisi 6. Penerbit; EGC. 2005
Marilynn. E. Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Penerbit; EGC
Sandra M. Nettina. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit; EGC. 2001
Krause, Richard. 29 April 2005. Anaphylaxis. eMedicine. Accessed 24 April 2006
Smeltzer, Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Edisi 8. Jakarta : EGC