Anda di halaman 1dari 4

Konsep Ideal Pengembangan Biogas di Kawasan Agro Banten

Written by Teguh Kurniawan


Saturday, 26 June 2010 21:01 - Last Updated Saturday, 26 June 2010 21:04
PENDAHULUAN
Biogas adalah energi terbarukan bewujud gas dengan komposisi sebagian besar metana
(50-70% CH4) dan karbondioksida (30-40 % CO2) sebagai hasil fermentasi bahan-bahan
organik dalam keadaan tanpa oksigen. Ada tiga tahapan proses penguraian bahan-bahan
organik menjadi biogas. Tahap pertama disebut hidrolisis. Bahan-bahan organik yang terdiri
dari berbagai senyawa komplek seperti karbohidrat, lemak, protein, dan selulosa mengalami
proses hidrolisis sehingga terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana berupa
monomer-monomer senyawa komplek. Tahap kedua disebut asidogenesis. Monomer-monomer
akan diubah oleh bakteri asidogen menjadi asam asetat dan hidrogen. Tahap ketiga disebut
metanogenesis. Pada tahap akhir ini bakteri metanogen akan memfermentasi asam asetat dan
hidrogen menjadi gas metana dan karbondioksida. Selain gas dihasilkan pula bahan-bahan
organik yang sudah terurai untuk digunakan sebagai pupuk organik bagi tanaman pertanian
atau perkebunan setempat.
Sejarah mencatat pemanfaatan biogas telah dilakukan lebih dari seabad yang lalu di India
dengan memanfaatkan biomassa berupa kotoran sapi. Saat ini, beberapa daerah di Indonesia
sudah berhasil mengolah biomassa peternakan menjadi biogas. Beberapa peternakan di
Banten juga sudah ada yang mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas baik mandiri
maupun melalui program pemerintah. Pemanfaatan biogas dari limbah organik pabrik juga telah
dilakukan oleh beberapa industri besar di kawasan industri kota Cilegon sejak beberapa tahun
silam. Tentunya berita-berita tersebut merupakan kabar yang menggembirakan sebagai usaha
untuk mengawali pemanfaatan biogas di daerah Banten.
URGENSI
Upaya untuk meningkatkan pemanfaatan biogas dari bahan organik khususnya biomassa,
seperti kotoran ternak dan limbah pertanian/perkebunan perlu dilakukan dengan empat
pertimbangan sebagai berikut.
Pertama, ketersediaan bahan bakar fosil yang semakin menipis dari waktu ke waktu. Jika tidak
ditemukan cadangan baru, para ahli memperkirakan produksi minyak dunia akan mencapai
puncaknya antara tahun 2015 s.d. 2030 setelah itu akan mengalami penurunan produksi
minyak. Produksi gas alam dunia diperkirakan akan mencapai puncaknya antara tahun 2020
s.d. 2050. Situasi produksi minyak di Indonesia lebih memprihatinkan lagi, sejak tahun 1995
produksi minyak nasional terus merosot. Tak heran pada tahun 2003 Indonesia telah menjadi
net importir minyak bumi. Tambahan pula, Indonesia sudah keluar dari organisasi negara
pengekspor minyak OPEC pada tahun 2008.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan ancaman yang cukup serius terhadap kemandirian bangsa di
sektor energi. Perlu dilakukan upaya-upaya pemanfaatan sumber-sumber daya energi
terbarukan.
Kedua, isu pemanasan global sebagai akibat dari meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah
kaca utamanya gas karbondioksida dari emisi kendaraan dan gas buang pabrik. Selain
karbondioksida, gas metana hasil fermentasi bahan-bahan organik ternyata memberikan andil
cukup besar dalam pemanasan global. Berdasarkan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate
1 / 4
Konsep Ideal Pengembangan Biogas di Kawasan Agro Banten
Written by Teguh Kurniawan
Saturday, 26 June 2010 21:01 - Last Updated Saturday, 26 June 2010 21:04
Change) diketahui secara molekuler efek rumah kaca metana 20 kali lebih kuat daripada
karbondioksida. Situasinya sekarang, konsentrasi gas metana terus meningkat dari tahun ke
tahun. Sumber gas metana 60% berasal dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia
seperti eksploitasi bahan bakar fosil, aktivitas peternakan, pertanian, pembakaran biomassa
dan sampah organik rumah tangga. Sisanya berasal dari sumber-sumber alamiah, contohnya
pembusukan bahan-bahan organik di rawa-rawa, danau, sungai. Dengan pemakaian biogas
sebagai bahan bakar berarti mengonversi metana menjadi karbondioksida yang lebih rendah
efeknya terhadap pemanasan global. Secara teoritis dampak pemanasan global berkurang
sebesar 87% dengan pembakaran gas metana.
Ketiga, kebutuhan petani terhadap pupuk organik semakin meningkat seiring dengan sadarnya
petani dengan berbagai keunggulan pupuk organik. Peluang ini haruslah ditangkap dengan
membuat petani mandiri dalam memproduksi pupuk organik dari biomassa hasil fermentasi
anaerob dalam reaktor biogas. Biomassa setelah mengalami proses fermentasi anaerob dalam
produksi biogas telah matang dan siap digunakan sebagai pupuk organik. Kandungan
rata-rata nutrien dalam kotoran ternak hasil fermentasi anaerob untuk nitrogen, pospor (P2O5),
dan kalium (K2O) masing-masing adalah 1,60 %; 1,55 %; dan 1,00% (FAO,1996). Kandungan
nutrien tanaman hasil fermentasi anaerob lebih tinggi 50-100% daripada pengomposan secara
aerob. Selain itu, fermentasi anaerob juga akan mematikan benih-benih gulma dan penyakit
yang ada dalam kotoran ternak atau biomassa lainnya. Penggunaan pupuk organik dan pupuk
sintetis dengan takaran yang tepat akan melipatgandakan hasil pertanian.
Keempat, sistem fermentasi anaerob merupakan sistem tertutup dan bertemperatur pada
rentang 25 37 oC. Dengan sistem demikian sanitasi lingkungan akan tercipta lebih baik dan
bakteri patogen yang ada di dalam kotoran akan jauh berkurang. Biomassa hasil fermentasi
anaerob yang telah sempurna terfementrasi tidak akan menimbulkan bau dan tidak akan
menarik lalat untuk datang. Selain itu juga biomassa bisa dicampur dengan berbagai sampah
organik untuk menjadi starter dalam pembuatan kompos dengan sistem aerob. Satu bagian
biomassa keluaran reaktor biogas bisa dicampur dengan empat bagian sampah organik. Bau
kotoran atau sampah akan berkurang, sehingga suasana lingkungan akan terasa lebih nyaman.
Berbagai penyakit yang disebabkan oleh serangga vektor pun akan menurun. Pada akhirnya
kesehatan para peternak/petani dan lingkungan sekitar akan lebih terpelihara.
TEKNOLOGI
Teknologi pemrosesan biomassa kotoran ternak menjadi biogas sudah berkembang baik.
Berbagai tipe digester atau tempat berlangsungnya fermentasi telah dikembangkan dan
diterapkan oleh berbagai negara dengan berbagai volume, mulai dari 10 m3 hingga yang
berukuran seluas lapangan bola kali tinggi 4 meter dilengkapi dengan instrumentasi dan kontrol
yang canggih. Tipe teknologi digester mana yang cocok untuk diterapkan di kawasan
pertanian/perkebunan-peternakan wilayah Banten?. Haruslah diperhatikan suatu teknologi yang
mudah untuk dipelajari, dirawat, dan dikembangkan oleh para petani namun tetap
memperhatikan efisiensi proses. Untuk itu teknologi yang wajar diadopsi adalah teknologi pada
tingkatan madya. Alhamdulillah kita hidup di zaman teknologi Informasi, jadi informasi
merupakan barang yang berlimpah ruah.Penjelasan mengenai teknologi madya biogas dapat
diperoleh di berbagai situs seperti http://www.fao.org/docrep/008/ae897e/ae897e00.HTM.
2 / 4
Konsep Ideal Pengembangan Biogas di Kawasan Agro Banten
Written by Teguh Kurniawan
Saturday, 26 June 2010 21:01 - Last Updated Saturday, 26 June 2010 21:04
Untuk lebih detail, tentunya melalui dinas-dinas terkait, universitas atau lembaga penelitian
yang mengembangkan teknologi digester.
POTENSI AGRO
Peta kawasan pertanian di daerah banten meliputi 22,65 % lahan sawah seluas 195.176 Ha,
dan 77,35 % lahan kering seluas 666.680 Ha. Produktivitas padi dari lahan persawahan saat ini
sebesar 4.6 ton/Ha. Angka produktivitas padi masih dapat ditingkatkan hingga 8 ton/Ha dengan
menggunakan pola penanaman SRI (system of rice intensification). Artinya potensi produksi
padi per tahunnya untuk areal persawahan bisa mencapai 3.122.816 Ton. Lahan kering
merupakan areal pertanian paling luas, jika mampu dimanfaatkan untuk budidaya padi maka
akan memberikan efek yang luar biasa bagi ketahanan pangan Banten.
Untuk areal lahan kering, selain sawah tadah hujan masayarakat peladang dapat memilih
komoditas tanaman palawija unggulan, seperti jagung,ubi kayu, ubi jalar, kedelai (kecipir:
tanaman potensial pengganti kedelai). Komoditas yang menjadi unggulan di provinsi Banten
tidak harus banyak, cukuplah satu atau dua komoditas saja, agar segala daya upaya terfokus
ke arah sana. Program jagung 20 ribu hektar yang akan dilaksanakan di Kabupaten
Pandeglang menjadi kabar yang menggembirakan. Dukungan dari berbagai pihak untuk
mensukseskan komoditas unggulan ini perlu diberikan. Mulai dari teknologi, jaminan harga
yang menguntungkan petani, pemodalan, penyederhanaan birokrasi, infrastruktur, hingga
pemasaran yang amat penting. Pola seperti itu telah sukses diterapkan oleh Pemerintah
Provinsi Gorontalo (baca: Reinventing local government karya Fadel Muhammad ).
Untuk areal perkebunan pun konsepnya serupa dengan pertanian. Masyarakat pekebun
menanam beberapa komoditas unggulan banten seperti, sawit, kakao atau karet. Di masa yang
akan datang, komoditas perkebunan yang menjadi bahan baku industri akan semakin diminati
oleh konsumen, mengingat harga minyak bumi yang menjadi cikal bakal berbagai produk
turunan seperti polimer semakin tinggi dan jumlahnya terbatas.
Kawasan ternak di daerah Banten tersebar di seluruh kabupaten/kota, mulai dari yang
terbanyak hingga paling sedikit sbb: Lebak, Pandeglang, Serang, Tangerang. Total ternak
kerbau sebanyak kurang lebih 154.000 ekor (Distanak Banten, tahun 2006). Jumlah ternak
kerbau dan sapi masih sangat terbuka untuk dapat ditingkatkan lagi mengingat potensi lahan
dan pakan dari pertanian baik sawah maupun kering masih luas.
Seluruh sistem pertanian/perkebunan tadi mesti dilakukan secara terpadu dengan peternakan.
Peternakan yang dipilih bisa kerbau dan atau sapi. Dengan teknologi yang ada saat ini jerami
padi bisa difermentasi untuk meningkatkan daya cerna ternak. Sisa pertanian jagung, ubi jalar,
serta tanaman palawija lainnya bisa dijadikan pakan ternak. Areal perkebunan yang luas bisa
dijadikan sebagai tempat penggembalaan ternak. Berbagai limbah industri kecil seperti pabrik
tahu berupa ampas tahu, pabrik tepung kanji berupa ampas tapioka, industri minyak VCO
berupa ampas kelapa, penggilingan padi berupa dedak padi, pengolahan ikan berupa ikan-ikan
busuk, rumah pemotongan hewan berupa tepung tulang bisa diberikan sebagai konsentrat bagi
ternak. Kotoran ternak yang dihasilkan kemudian sudah semestinya diolah melalui fermentasi
anaerob untuk memperoleh manfaat energi biogas. Sedangkan produk samping produksi
3 / 4
Konsep Ideal Pengembangan Biogas di Kawasan Agro Banten
Written by Teguh Kurniawan
Saturday, 26 June 2010 21:01 - Last Updated Saturday, 26 June 2010 21:04
biogas berupa kotoran ternak yang telah terfermentasi digunakan sebagai pupuk organik untuk
tanaman.
POTENSI BIOGAS
Hitung-hitungan potensi biogas yang dapat dihasilkan dari skema ideal integrasi
pertanian/perkebunan-peternakan adalah sbb: populasi kerbau yang ada saat ini kurang lebih
sebanyak 154.000 ekor. Jika berhasil memenuhi kecukupan daging Provinsi Banten maka
minimal jumlah ternak kerbau dan sapi sebanyak 500.000 ekor. Potensi produksi biogas bisa
mencapai 225.000 m3/hari. Satu m3 biogas memiliki nilai kalor 20 24 MJ/m3 sedangkan
minyak tanah memiliki nilai kalor 35-37 MJ/liter. Dengan demikian produksi biogas pada kondisi
kamar setara dengan 112.500 liter minyak tanah. Jumlah itu cukup memenuhi kebutuhan
rumah tangga petani lebih dari 56.000 KK dengan asumsi pemakaian 2 liter minyak tanah per
hari.
Dengan skema pertanian/perkebunan-peternakan terpadu dan terfokus pada komoditas
unggulan, potensi ternak sapi dan kerbau masih bisa ditingkatkan lagi untuk memenuhi
sebagian kebutuhan DKI Jakarta dan atau Provinsi Jawa Barat. Potensi biogas pun dengan
sendirinya akan meningkat.
PENUTUP
Sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui. Dengan skema pertanian/perkebunan-peternakan
terpadu, berbagai keuntungan bisa diperoleh sekaligus. Pertama, kemandirian energi untuk
rumah tangga petani. Kedua, reduksi gas-gas rumah kaca. Ketiga, swasembada bahkan
surplus pangan. Di atas itu semua yang terpenting adalah meningkatnya kesejahteraan para
petani.
Daftar Pustaka:
1. FAO. Biogas Technology: A Training Manual For Extension. CMSN (P),Ltd. Nepal, 1996.
2. http://www.deptan.go.id/daerah_new/distanak_banten/index.htm
3. http://www.ipcc.ch
4. Muhammad,Fadel ., Reinventing local government. Elex Media Komputindo, 2008.
4 / 4