Anda di halaman 1dari 85

Distribusi Dalam Ekonomi Islam

Pendahuluan
Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi.
Salah satu tujuannya adalah untuk mewujudkan keadilan dalam pendistribusian harta, baik dalam
kehidupan bermasyarakat maupun individu. Keadilan dan kesejahteraan masyarakat tergantung
pada sistem ekonomi yang dianut. Pembahasan mengenai pengertian distribusi pendapatan, tidak
terlepas dari pembahasan mengenai konsep moral ekonomi yang dianut juga model instrumen
yang diterapkan individu maupun negara dalam menentukan sumber-sumber maupun cara-cara
pendistribusian pendapatannya.1[1]

Dasar karakteristik pendistribusian adalah adil dan jujur, karena dalam Islam sekecil
apapun perbuatan yang kita lakukan, semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Pelaksanaan distribusi bertujuan untuk saling memberi manfaat dan menguntungkan satu sama
lain. Secara umum, Islam mengarahkan mekanisme muamalah antara produsen dan konsumen
agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Apabila terjadi ketidakseimbangan distribusi
kekayaan, maka hal ini akan memicu timbulnya konflik individu maupun sosial.
Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengakhiri kesengsaraan dimuka bumi ini adalah
dengan menerapkan keadilan ekonomi. Kebahagiaan akan mudah dicapai dengan penerapan
perekonomian yang mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan individu. Islam
menegaskan untuk para penguasa, agar meminimalkan kesenjangan dan ketidakseimbangan
distribusi. Pajak yang diterapkan atas kekayaan seseorang bertujuan untuk membantu yang
miskin. Sementara dalam Islam Allah mensyariatkan zakat. Jika hal ini dijadikan konsep
distribusi pendapatan, InsyaAllah sistem perekonomianpun akan berjalan lancar dan masyarakat
akan sejahtera.

Definisi Distribusi
Distribusi adalah suatu proses penyampaian barang atau jasa dari produsen ke konsumen
dan para pemakai. Pembahasan mengenai pengertian dan makna distribusi tidak lepas dari
konsep moral ekonomi yang dianut. Apabila konsep dasar yang diterapkan adalah sistem
kapitalis, maka permasalahan distribusi yang akan timbul adalah adanya perbedaan yang
mencolok pada kepemilikan, pendapatan dan harta peninggalan. Jika asas yang mereka anut
adalah sosialisme, maka sistem ini lebih melihat kepada kerja sebagai basic dari distribusi
pendapatan. Hasil yang akan diperoleh tergantung pada usaha mereka. Oleh karena itu
kapabilitas dan bakat seseorang sangatlah berpengaruh pada distribusi pendapatan. Untuk
mewujudkan kebersamaan, alokasi produksi dan cara pendistribusian kekayaan alam serta
sumber-sumber ekonomi lainnya diatur oleh negara.
Interaksi yang baik antara produsen dan konsumen sangat berpengaruh pada pendapatan. Konsep
moral ekonomi yang berkaitan dengan kepemilikan dan kekayaan harus dipahami untuk tujuan
menjaga persamaan ataupun mengikis kesenjangan sosial. Idealisme ini harus disepakati agar
tercapainya standar hidup secara umum dan pencegahan eksploitasi kelompok kaya dan
kelompok miskin.



Saluran distribusi adalah suatu jalur perantara pemasaran dalam berbagai aspek barang atau jasa
dari tangan produsen ke konsumen. Antara pihak produsen dan konsumen terdapat perantara
pemasaran, yaitu wholesaler (distributor atau agen) yang melayani pembeli.

Jenis Distribusi
Dalam penyaluran hasil produksi, produsen dapat menggunakan beberapa sistem distribusi,
seperti:
Distribusi langsung
Distribusi semi langsung
Distribusi tidak langsung
Distribusi langsung terjadi apabila produsen menyalurkan hasil produksinya secara langsung
kepada konsumen. Bentuk saluran distribusi ini adalah yang paling pendek dan paling sederhana.
Saluran distribusi ini tidak menggunakan perantara, dikarenakan produsen dapat menjual
barangnya langsung kepada konsumen. Oleh karena itulah saluran ini disebut saluran distribusi
langsung. Contohnya: Penjual bakso keliling, hasil panen anggur langsung dijual kepada
konsumen, tanpa melalui agen atau perantara pemasaran
Distribusi semi langsung, dimana penyaluran barang hasil produksi dari produsen ke konsumen
melalui badan perantara (toko) milik produsen itu sendiri. Contohnya: Hasil produksi tas dijual
kepada konsumen melalui toko-toko milik pabrik tas itu sendiri.
Distribusi tidak langsung, pada sistem ini, produsen tidak langsung menjual hasil produksinya,
baik itu barang atau jasa kepada pemakainya melainkan melalui perantara. Contohnya: Petani
menjual hasil pertaniannya kepada Koperasi Unit Desa (KUD) yang membelinya dengan harga
dasar sesuai harga pasar, agar petani terlindung dari praktek tengkulak.

Mekanisme Distribusi Pendapatan
Islam memiliki asas-asas pemikiran distribusi pendapatan yaitu:
Manusia itu terdiri dari ruh dan jasad.2[2]
Perbedaan teori konvensional dan Islam adalah prinsip materialistiknya. Akan tetapi Islam
memandang manusia terdiri dari dua unsur yaitu: jasad dan ruh, sebagaimana firman Allah:
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu,
dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (QS. Al-Qashas: 77)

Manusia itu mempunyai kebutuhan individual dan sosial
Setiap manusia mempunyai karakteristik yang berbeda-beda satu dan yang lainnya. Seperti
firman Allah: Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi,
perbedaan bahasamu, dan kulitmu. (QS. Ar-Rum: 22)
Sesungguhnya perbedaan warna dan bahasa adalah suatu indikasi perbedaan kepribadian, sifat
dan kebutuhan setiap insan. Manusia adalah sebagai makhluk sosial sehingga tidak mungkin
hidup sendirian tanpa membutuhkan pertolongan sesamanya. Manusia dapat berkembang sesuai
dengan tabiat lingkungannya masing-masing. Dari sini kita dapat memahami bahwasanya kedua
asas tadi menuntut kita untuk lebih memperhatikan seluruh kebutuhan manusia baik dari segi
spiritual maupun material.



Mekanisme distribusi pendapatan dalam Islam harus berdasarkan kerja atau usaha dan
kebutuhan. Maka dalam distribusi harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain:
Peran kerja dalam distribusi
Allah mewajibkan setiap muslim untuk bekerja. Ia diberikan hak untuk menggunakan waktunya
dalam melakukan usaha dan memiliki hasil usahanya. Dengan demikian kepemilikan berasas
pada dasar hasil usaha. Allah berfirman: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang
dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena)
bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita
(pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa: 32)
Peran kebutuhan dalam distribusi pendapatan
Untuk menjaga proses distribusi pendapatan, kita harus melihat realita strata sosial, yaitu;
golongan yang mempunyai kemampuan memenuhi setiap kebutuhan, yang telah diberikan Allah
kekuatan badan dan kemampuan akal, sehingga dapat mencapai kehidupan tinggi. Sebagian
golongan tersebut adalah: pertama golongan ini hanya mendapatkan apa yang ia usahakan dari
distribusi pendapatan dan investasi. Kedua golongan yang tidak mampu karena kelemahan fisik
dan akal yang menghambat aktifitas mereka, maka standar kehidupan mereka berdasarkan
kemanusiaan dan kasih saying. Ketiga golongan yang mampu untuk menutupi kebutuhan primer,
meskipun tidak mencapai golongan pertama. Golongan ini hanya mendapatkan yang ia usahakan
dalam batas minimum. Maka bagi pemerintah harus memperhatikan mereka dengan memberikan
subsidi.
Peran hak milik dalam distribusi pendapatan
Islam memberikan hak kepada manusia untuk memperoleh segala sesuatu berdasarkan hasil
usaha yang ia miliki. Sebagaimana membolehkan pengembangan kekayaan dalam batasan-
batasan syariat Islam.

Permasalahan Dalam Distribusi
Distribusi adalah hal penting yang harus kita ketahui, karena distribusi merupakan sebuah
keharusan yang merupakan proses simbiosis yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagaimana kita ketahui distribusi adalah suatu proses penyampaian barang atau jasa dari
produsen ke konsumen, namun dalam prakteknya terdapat kerancuan-kerancuan yang
menimbulkan permasalahan dari dunia distribusi, beberapa di antaranya adalah:
Inflasi
Nilai mata uang amat erat sekali dengan pendapatan nasional, maka ia membutuhkan
kestabilan yang harus di backing penuh dengan produktifitas negara yang harus terus menerus
ditingkatkan.
Pengertian Inflasi
Dalam ilmu ekonomi Inflasi adalah proses meningkatnya harga harga secara umum dan terus
menerus (continue), dengan kata lain inflansi adalah menurunnya nilai mata uang yang
mengakibatkan terjadinya kenaikan harga harga umum barang secara terus menerus. Kenaikan
harga yang terjadi pada berbagai macam barang tidaklah harus bersamaan. Demikian pula
persentase kenaikannya mungkin berbeda beda untuk berbagai barang yang berlainan.3[3]



Kesan inflansi dalam ilmu ekonomi kadang akan menimbulakan hal yang positif dan adakalanya
juga menimbulkan hal yang negatif, beberapa hal yang dapat mengakibatkan inflasi ini terjadi
seperti ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dengan jumlah penawaran barang dalam
sebuah Negara dalam masa tertentu, adanya ketidaklancaran distribusi disebabkan oleh
meningkatnya harga barang dari luar Negara sehingga terhambat distribusi barang kepada
konsumen karna barang terlalu mahal.
b. Dampak Inflasi
Dampak inflasi amat banyak diantaranya adalah dampak terhadap distribusi pendapatan (equity
effect). Dampak ini bisa merugikan sebahagian pihak dan ada pula yang menguntungkan pihak
lainya.
Misalnya seorang yang memperoleh pendapatan tetap Rp 10.000.000,- pertahun. Jika laju inflasi
yang terjadi sebesar 10%, maka orang tersebut akan menderita kerugian sebesar penurunan
pendapatan riil yaitu sebesar:
10% x 10.000.000,- = 1.000 000
Adapun mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan denagn persentase lebih besar dari laju
inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang bagi pihak yang di rugikan inflasi
seolah-olah pajak bagi mereka, sedangkan bagi pihak yang diuntungkan inflasi seolah-olah
subsidi bagi mereka.
Penambahan pendapatan setiap orang akibat terjadinya inflasi akan menyebabkan
perubahan permintaan terhadap berbagai jenis barang, sebagian jenis barang akan mengalami
perubahan pola permintaan terhadap berbagai jenis barang akan mendorong terjadinya perubahan
dalam produksi beberapa barang tertentu. Terjadinya inflasi mungkin juga akan menyebabkan
terjadinya kenaikan produksi. Dalam keadaan inflasi, biasanya kenaikan harga barang
mendahului kenaikan upah sehingga keuntungan pengusaha naik lalu mendorong kenaikan
produksi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Ini berbeda dengan
hyperinflation4[4]
c.Mengatasi Inflasi
Dalam konsep konvensional, banyak sekali cara-cara menanggulangi inflasi yang
berakibat fatal. Tanpa disadari banyak merugikan masyarakat menegah kebawah, setelah kita
sebutkan beberapa penyebab inflasi di atas, sekarang bagaimana cara kita mengatasi agar inflasi
ini tidak terjadi agar tidak merugikan semua pihak, ada beberapa cara mengatasi inflasi yaitu
1. kebijakan moneter5[5]. Segala kebijakan pemerintah di bidang moneter dengan tujuan
menjaga kestabialan moneter dalam menjaga kesejahteraan rakyat
2. kebijakan fiscal, dapat dilakukan dengan cara menaikan tarif pajak, mengatur penerimaan dan
pengeluaran pemerintah, dan mengadakan pinjaman pemerintah minsalnya pemerintah
memotong gaji pegawai.
3.kebijakan non moneter dapat dilakukan dengan cara menaikan hasil produksi, pemerintah
memberikan subsidi kepada industri untuk lebih produktif dan menghasilkan output yang lebih
banyak sehingga harga akan menjadi turun, kebijakan upah, pemerintah menghimbau kepada
buruh agar tidak meminta penaikan upah pada masa inflasi, dan pengawasan harga yaitu
pemerintah mempunyai kebijakan untuk menentukan harga kepada barang barang tertentu.





Cara lain adalah politik pasar terbuka (jual beli surat berharga) dengan jalan menjual surat
berharga bank sentral dapat menekan perkembangan jumlah uang yang beredar sehingga laju
inflasi lebih rendah. Cara yang demikian jelas-jelas tidak ada dalam konsep islam, karna
memepermainkan bunga bank yang diharamkan oleh Islam.
Dari sini kita ketahui betapa bunga bank (yang diharamkan islam) itu mempengaruhi
perekonomian Negara. Bila dilihat sekilas, nampaknya alternatif bunga amat menguntungkan
dan tak berefek apa apa. Walhasil, jurang pemisah antara yang kaya dan miskin akan terus
mendalam.dalam kebijakan moneter islam selalu menawarkan beberapa konsep yang sederhana.
Seperti yang telah kita singgung di atas bahwa inflasi adalah akibat dari ketidak-seimbangan
nilai mata uang yang memiliki standar yang labil. Tentunya juga diakibatkan dari penurunnya
pendapatan Negara, ditambah lagi dengan factor-faktor lainnya.

Kemiskinan
Salah satu masalah besar yang di hadapi suatu negara yang sedang berkembang adalah disparitas
(ketimpangan) distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya ketimpangan
pendapatan menyebabkan awal dari munculnya kemiskinan. Membiarkan kedua masalah
tersebut berlarut-larut akan semakin mempersulit keadaan, dan tidak memungkinkan akan terjadi
konsekuensi negatif yang menyangkut masalah sosial dan politik.
Masalah kesenjangan pendapatan dan kemiskinan tidak hanya terjadi di Negara yang sedang
berkembang bahkan di Negara maju sekalipun masih terjadi, namun karena sistem
pendistribusian yang di terapkan di negara maju benar-benar di jalankan secara adil dan merata
juga dengan pengelolaannya yang baik membuat orang-orang miskin di Negara tersebut bisa
memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, sebut saja britania bayangkan saja pemrintah
mereka memberikan dana bantuan sebesar 100-200 dolar perorang yang masuk dalam kategori
miskin. Dan sistem ini di lakukan dengan adil dan merata, inilah yang terkadang membuat saya
salut dengan Negara-negara maju tersebut, karna justru merekalah yang menerapkan keadilan
sebagaimana perintah Allah yang seharusnya di tegakkan di ngara-negara yang memang sudah
bebasiskan islam.
Jauh hari coba kita lihat bagaimana sahabat Umar bin Khotab yang mana beliau sangat cerdas
dalam mengatur kepemimpinannya dan sangat respon untuk maslahah rakyatnya, juga siang dan
malam selalu memperhatikan rakyatnya, dalam kisahnya yang sudah tidak asing lagi di telinga
kita, ketika beliau berjalan keliling malam beliau mendengar isak tangis dari keluarga miskin
yang anak-anaknya minta makan,oleh sang ibu karena tidak ada beras atau gandum yang mau di
makan akhirnya, ibu dari kedua anak itu berusaha untuk membuat sang anak senang dengan
mengatakan ya nak.. tunggu sebentar lagi mau masak, sampai kedua anak tersebut tertidur,
tangisan itulah yang di dengar umar dan ketika itu umar langsung mnghampiri rumah keluarga
malang itu, setelah umar mengetahui masalah yang di hadapi keluarga tersebut. Pada malam itu
juga umar langsung pulang dan mengambil sekarung gandum untuk di berikan kepada keluarga
tersebut. Begitulah khalifah umar ketika menjabat sebagai pemimpin ketika itu6[6].
Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan pemerintah, dan dari penelitian-penelitian akademik
menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi. Data BPS bulan Maret
tahun 2007 menunjukkan angka 37.168.300 orang berada di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini



sebagian besar bertempat tinggal di perdesaan (20,37%), tetapi ada pula kemiskinan di perkotaan
(12,52%).
Coba bayangkan begitu banyak saudara-saudara kita yang masih berada dalam garis kemiskinan
yang kaya semakin kaya dan yang miskin pun semakin melarat lalu siapa yang akan membantu
mereka dalam masalah financial dan kebutuhan hidup mereka sehari-hari, mungkin dengan
sistem pemerintah yang seperti ini sampai kapanpun itu tidak akan pernah selesai.
Lalu sebagai mahasiswa dan mahasiswi apa yang bisa kita lakukan untuk menanggulagi itu
semua? Menurut saya cara yang bisa kita lakukan sementara adalah melihat status kita sebagai
sebagai mahasiswa-mahasiswi penuntut ilmu agama. Dalam hal ini kita bisa menyampaikan
dakwah dan memberikan pelajaran yang berhubungan dengan islam ke masyarakat kita, baik
yang kaya maupun yang miskin, yang miskin agar terus berusaha dan berdoa dan yang kaya agar
menunaikan kewajibannnya sebagai orang yang memiliki harta, sebagaimana firman Allah

dan di dalam harta kamu ada hak peminta-minta7[7]
saya yakin jika smua orang kaya yang ada di sekeliling kita melaksanakan kewajiban mereka
untuk megeluarkan zakat dari pada hartanya insya Allah tidak akan ada lagi pengemis di
jalanan, tidak ada lagi orang-orang miskin yang tidak makan, semuanya hidup dengan tenang,
wajah kitapun berseri dan senang apalagi yang kita harapkan kecuali bersyukur dengan apa yang
telah Allah berikan, bahkan mahasiswa dan mahasiswipun sekalian tidak lagi harus antrian untuk
ambil bantuan karena biaya kehidupan sudah di siapkan, maka Allah pun berfirman:

Maka nikmat Allah yang mana lagi yang kamu dustakan8[8]

Dan ini sudah mulai di terapkan di ngeri jiran Malaysia dan brunai Darussalam sebagian besar
dari pelajar mereka mendapatkan harta zakat yang di berikan oleh kerajaan lagi-lagi karena
pengelolaan yang diterapkan oleh mereka benar-benar di laksanakan seperti ajaran islam,
sehingga mereka datang ke negeri ini benar-benar untuk belajar dan mendalami agama islam
bahkan tidak hanya itu pelajar mereka sebagian juga belajar ilmu kedokteran, namun masih
banyak juga yang masih blajar malas-malasan, maka nikmat tuhan yang mana lagi yang kamu
dustakan??
Lalu bagaimana dengan Negara kita indoanesia bagaimana dan dengan sistem ekonominya??
Kegiatan perekonomian yang diharapkan akan bergairah dengan munculnya rezim pernerintahan
baru ternyata tidak terbukti, keadaan perekonomian yang rnemburuk pada saat bersamaan
dengan negara-negara lain seperti, Malaysia, Thailand, Korea, Brazil, dan lain-lain tidak dapat
ditingkatkan, di lain pihak perekonomian dunia, bahkan negara-negara tetangga seperti yang
disebutkan di atas telah mampu keluar dari kemelut krisis moneter namun di pihak Indonesia hal
tersebut tidak semakin membaik namun para elit dan kelompok partai-partai politik terus saja
berpacu dan bergelut dengan perebutan kekuasaan sehingga lupa pada apa yang berhubungan
dengan kondisi perekonomian masyarakat yang semakin menimbulkan gejolak sosial,
pengangguran semakin bertambah, tingkat kemiskinan semakin besar, keluarnya investor-
investor asing, pencucian uang, tingkat korupsi semakin merajalela mulai dari tingkat desa





sampai ke pemerintah pusat tidak terkecuali para anggota legislatif yang dikenal dengan money
politiknya semakin tidak dapat dibendung sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara
paling korup nomor 3 (tiga) di dunia dan nomor 1 (satu) di Asia.
Penerapan Distribusi Perdagangan
Distribusi dapat kaitkan dengan pemasaran, dimana distributor sebagai alat yang
memasarkan sebuah produk atau barang kepada konsumen. Pemasaran (Inggris:Marketing)
adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk
memberikan informasi mengenai barangatau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan
kebutuhan dan keinginan manusia.
Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh
menjadi keinginan manusia. Contohnya, seorang manusia membutuhkan air dalam memenuhi
kebutuhan dahaganya. Jika ada segelas air maka kebutuhan dahaganya akan terpenuhi. Namun
manusia tidak hanya ingin memenuhi kebutuhannya namun juga ingin memenuhi keinginannya
yaitu misalnya segelas air merek Aqua yang bersih dan mudah dibawa. Maka manusia ini
memilih Aqua botol yang sesuai dengan kebutuhan dalam dahaga dan sesuai dengan
keinginannya yang juga mudah dibawa.
Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep
pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang
(place), dan mempromosikan barang (promotion). Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran
disebut pemasar. Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip
pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
manusia terutama pihak konsumen yang dituju.
Sebagai contohnya adalah pemasaran internasional merupakan penerapan konsep, prinsip,
aktifitas, dan proses manajemen pemasaran dalam rangka penyaluran ide, barang atau jasa
perusahaan kepada konsumen di berbagai Negara.9[9]
Pasar internasional adalah pasar yang membeli dan menjual produk dari beberapa negara. Pasar
internasional melampaui ekspor pemasar dan menjadi lebih terlibat dalam lingkungan pemasaran
di negara-negara di mana suatu organisasi melakukan bisnis.10[10]
Bauran pemasaran adalah empat komponen dalam pemasaran yang terdiri dari 4P yakni
* ''Product'' (produk)
* ''Price'' (harga)
* ''Place'' (tempat), termasuk juga (distribusi)
* ''Promotion'' (promosi)
Karena pemasaran bukanlah ilmu pasti seperti [[keuangan]], teori bauran pemasaran juga terus
berkembang. Pemasaran lebih dipandang sebagai seni daripada ilmu, maka seorang ahli
pemasaran tergantung pada lebih banyak pada ketrampilan pertimbangan dalam membuat
kebijakan daripada berorientasi pada ilmu tertentu. Pandangan ahli ekonomi terhadap pemasaran
adalah dalam menciptakan waktu, tempat dimana produk diperlukan atau diinginkan lalu
menyerahkan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen (konsep
pemasaran).Metode pemasaran klasik seperti 4P di atas berlaku juga untuk [[pemasaran





internet]], meskipun di internet pemasaran dilakukan dengan banyak metode lain yang sangat
sulit diimplementasikan diluar dunia internet. 11[11]
Sebagian contoh kecil dalam pemasaran lewat internet adalah yang kerap sekali kita jumpai,
pemasaran butik dalam penjualan pakaian, jilbab, dan sebagainya. Ada juga sebagian restorant-
restorant yang mempublikasikan makanannya lewat via internet. Inilah adalah salah satu contoh
factor pendukung dalam pemasaran, karena mereka memanfaatkan peluang bisnis menjadi uang.
Dimana seorang distributor menawarkan barang-barangnya kepada konsumen, melalui teknologi
internet yang kerap manusia jumpai. Justru dengan cara inilah, seorang konsumtor dapat tertarik,
dan tidak perlu mengunjungi toko pakaian tersebut, hanya sekedar untuk memilih-milih.
Inilah sebuah kemajuan tekknologi di zaman era serba maju.
Strategi pemasaran merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan dimana strategi
pemasaran merupakan suatu cara mencapai tujuan dari sebuah perusahaan. Hal ini juga didukung
oleh pendapat Swastha Strategi adalah serangkaian rancangan besar yang menggambarkan
bagaimana sebuah perusahaan harus beroperasi untuk mencapai tujuannya.12[12]

Sehingga
dalam menjalankan usaha kecil khususnya diperlukan adanya pengembangan melalui strategi
pemasarannya. Karena pada saat kondisi kritis justru usaha kecillah yang mampu memberikan
pertumbuhan terhadap pendapatan masyarakat.
Pemasaran menurut W. Y. Stanton pemasaran adalah sesuatu yang meliputi seluruh sistem yang
berhubungan dengan tujuan untuk merencanakan dan menentukan harga sampai dengan
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang bisa memuaskan kebutuhan pembeli
aktual maupun potensial.13[13] Berdasarkan definisi di atas, proses pemasaran dimulai dari
menemukan apa yang diinginkan oleh konsumen. Yang akhirnya pemasaran memiliki tujuan
yaitu :
Konsumen potensial mengetahui secara detail produk yang kita hasilkan dan perusahaan dapat
menyediakan semua permintaan mereka atas produk yang dihasilkan.
Perusahaan dapat menjelaskan secara detail semua kegiatan yang berhubungan dengan
pemasaran. Kegiatan pemasaran ini meliputi berbagai kegiatan, mulai dari penjelasan mengenai
produk, desain produk, promosi produk, pengiklanan produk, komunikasi kepada konsumen,
sampai pengiriman produk agar sampai ke tangan konsumen secara cepat.
Mengenal dan memahami konsumen sedemikian rupa sehingga produk cocok dengannya dan
dapat terjual dengan sendirinya.
Pada umumnya kegiatan pemasaran berkaitan dengan koordinasi beberapa kegiatan bisnis.
Strategi pemasaran ini dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
Faktor mikro, yaitu perantara pemasaran, pemasok, pesaing dan masyarakat
Faktor makro, yaitu demografi/ekonomi, politik/hukum, teknologi/fisik dan sosial/budaya.
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk pemasaran : Dari sudut pandang
penjual :
Tempat yang strategis (place),







Produk yang bermutu (product),
Harga yang kompetitif (price), dan
Promosi yang gencar (promotion).
Dari sudut pandang konsumen :
Kebutuhan dan keinginan konsumen (customer needs and wants),
Biaya konsumen (cost to the customer),
Kenyamanan (convenience), dan
Komunikasi (comunication).
Dari apa yang sudah dibahas di atas ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, bahwa pembuatan
produk atau jasa yang diinginkan oleh konsumen harus menjadi fokus kegiatan operasional
maupun perencanaan suatu perusahaan. Pemasaran yang berkesinambungan harus adanya
koordinasi yang baik dengan berbagai departemen (tidak hanya di bagian pemasaran saja),
sehingga dapat menciptakan sinergi di dalam upaya melakukan kegiatan pemasaran.

Tujuan Distribusi
Menyampaikan suatu barang atau jasa dari produsen kepada konsumen,
Mempercepat sampainya hasil produsen kepada konsumen
Tercapainya pemerataan produksi
Menjadi kesinambungan produksi
Memperbesar dan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi
Meningkatnya nilai guna atau jasa.


Sistem dan Jenis Saluran Distribusi
Macam-macam sistem distribusi dapat dibedakan menjadi tiga macam:
Sistem distribusi langsung.
Sistem distribusi langsung yaitu denagn menjual atau menyalurkan hasil produksi barang atau
jasa langsung kepada konsumen, jadi posisi produsen disini langsung berhubungan dengan
pembeli atau konsumen.
Sistem distribusi semi langsung.
Dengan melalui sistem distribusi semi langsung ini produsen menyalurkan atau menjual barang
hasil produksinya melalui took milik produsen sendiri.
Sistem distribusi tidak langsung.
Yaitu produsen menyalurkan jasa atau menjual barang hasil produksinya kepada konsumen
dengan melalui lembaga atau pedagang perantara.
Jenis saluran distribusi barang konsumsi dan jasa:
Saluran distribusi barang konsumsi dan jasa.
Dengan melalui produsen kepada konsumen: jenis penyaluran distribusi seperti ini merupakan
penyaluran yang paling pendek dan sederhana, dan tanpa melalui perantara agen, bias juga
dengan melalui pos atau langsung, disebut juga jenis penyaluran distribusi barang konsimsi
secara langsung.

Melalui produsen, pengecer, kemudian kepada konsumen: disini pengecer besar melakukan
pembelian barang kepada produsen dan menyalurkannya kepada konsumen.


Melalui produsen, pedagang besar, pengecer, dan kepada konsumen: pedagang besar melakukan
pembelian barang kepada produsen, dan produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah yang
besar atau distribusi tradisional, dan tidak melakukan penjualan kepada pengecer dan pengecer
membeli barang dari pedagang besar yang akan disalurjannya kepada konsumen.

Melalui produsen, agen, pengecer, kemudian kepada konsumen: agen membeli barang dari
produsen kemudian disalurkan kepada pengecer kemudian kepada konsumen.


Melalui produsen, agen, pedagang besar, pengecer, konsumen: dalam saluran distribusi sering
menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan barang kepada pedagang besar yang
disalurkannya kepada pengecer.

Melalui produsen, distributor industry, kemudian kepada pemakai industry. Contohnya: barang
bangunan, alat bangunan.

Melalui produsen, agen, pemakai industry: saluran distribusi ini dipakai oleh produsen yang tida
memiliki departemen pemasaran, juga untuk perusahaan yang ingin memperkenalkan barang
baru atau memasuki daerah pemasaran yang baru yaitu melalui agen kemudian disalurkan
kepada pemakai industry.

Hubungan antara konsumsi, produksi dan distribusi
Perbedaan kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi dapat dilihat sebagai berikut:
Produksi (pelaku produsen)
Menghasilkan barang dan jasa
Menciptakan suatu barang dan jasa
Menambah manfaat atau kegunaan barang dan jasa
Distribusi (pelaku distributor)
Menyalurkan atau menyebarkan barang dan jasa
Membantu mendekatkan produsen dengan konsumen
Tujuannya mencari laba
Konsumsi (pelaku konsumen)
Pengguna barang dan jasa
Dan tujuannya untuk memenuhi kebutuhan

Penutup
Manusia di dunia tidak akan mampu untuk hidup dengan sendirinya, karena antara satu
makhluk dengan yang lainnya saling membutuhkan. Begitulah Islam mengajarkan kita untuk
saling menolong dalam kebaikan. Melalui distribusilah kita mampu menghasilkan sesuatu yang
kita butuhkan, seperti keperluan rumah tangga, maupun jasa. Hubungan antara produsen,
distributor, dan konsumen, satu sama lain tidak dapat dipisahkan.
Kesenjangan dan kelaparan semakin kita rasakan, dikarenakan kurang meratanya sistem
distribusi yang kita anut, banyaknya ketimpangan pendapatan yang kurang merata. Sebaiknya
kita mulai menjalankan suatu sistem distribusi dengan adil dan merata, serta mengelolanya
dengan baik. Agar dari sistem inilah kita mampu menghapus kemiskinan yang telah meraja lela.
Kita sebagai generasi Islam hendaknya bersatu dan bangkit untuk membungkus eksploitasi
dengan kemakmuran. Kesenjangan dan kelaparan ditutup rapat-rapat, pembagian distribusi yang
didapatkan selarasnya dijalankan dengan seadil-adilnya.
Demikian dengan berakhirnya tulisan kami yang sangat sederhana ini. Semoga kita dapat
memetik pelajaran dan hikmah, serta dapat dijadikan modal awal untuk memperdalam
pembahasan akan distribusi. Wallahu alam bis showab.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemahannya. Departemen Agama Republik Indonesia
Edwin Musthafa nasution dkk, pengenalan eksklusif ekonomi islam, kencana , Jakarta, 2010.
Prof. Dr. husein syahadat, Produk-produk investasi bank islam teori dan praktek, Pusat Kajian
Ekonomi Islam (Pakeis), Kairo Egypt, cet 1113, 2005
Wahbah Zuhaili Mausuah al- Fiqh al-Islam wa al-Qadhaya al- Muasharah, Vol. IV, Dar al-
Fikr. Damaskus, 2008

Prop. Dr. Syahadat Husein, Produk-Produk Investasi Bank Islam Teori dan Praktek, Pusat Kajian
Ekonomi Islam (PAKEIS), Cairo Egypt, cet. III, 2005

Joshi, rakesh mohan, (2005) international marketing, oxford university press, new delhi and new
York ISBN 0-19-567123-6.

Onkvisit, sak (2004) " process of international marketing" international marketing: analysis and
strategy (edisi ke 4 th). Diakses pada 24 juni 2011.

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemasaran&action=edit&section=1
William J. Stanton, Prinsip Pemasaran, Alih Bahasa Wilhelmus W. Bokowatun, Erlangga,
Jakarta, 1991

http://www.midas-solusi.com/knowledge-space,en,detail,33,strategi-pemasaran (13 Juni 2009)





14[1] Mustafa Edwin Nasution, et. al, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Kencana, Jakarta, 2010, hal. 119

15[2] Prof. Dr. Husein Syahatah, Produk-Produk Investasi Bank Islam Teori Dan Praktek, Pusat
Kajian Ekonomi Islam (Pakeis), Kairo, cet. III, 2005, hal. 40





16[3] Ibid. hal 34
17[4] Hyperinflation adalah penurunan output atau produk yang dihasilkan oleh produsen
18[5] Kebijaan moneter dapat diartikan sebgai suatu kebijakan pemerintah yang bertujuan untu
memepengaruhi jalannya perekonomian dengan cara menambah dan mengurangi jumlah uang
yang beredar di masyarakat.
19[6] Wahbah Zuhaili Mausuah al- Fiqh al-Islam wa al-Qadhaya al- Muasharah, Vol. IV, Dar
al- Fikr. Damaskus, 2008, hal 37
20[7] Surat Al-Dzariyat: 19
21[8] Surat Al-Rahman : 13
22[9] Joshi, Rakesh Mohan, (2005) International Marketing, Oxford University Press, New Delhi and New York ISBN
0-19-567123-6
23[10] Onkvisit, Sak (2004). "Process of international marketing". International marketing: analysis and
strategy (edisi ke-4th). hlm. 3. Diakses pada 24 Juni 2011.





















Posted by Budi Wahyono
Income distribution (distribusi pendapatan), dalam ekonomi Islam menduduki posisi yang
penting karena pembahasan distribusi pendapatan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi
akan tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial dan aspek politik. Dan sebenarnya konsep
ekonomi islam tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi, dimana ukuran berdasarkan atas
jumalh harta kepemilikan, akan tetatpi bagaimana bisa mendistribusikan penggunaan potensi
kemanusiaan, berupa penghargaan hak hidup dalam kehidupan. Distribusi harta tidak akan

mempunyai dampak yang signifikan kalau tidak ada kesadaran antara sesama manusia akan
kesamaan hak hidup.

Oleh karena itu dalam distribusi pendapatan berhubungan dengan beberapa masalah, bagaimana
mengatur distribusi pendapatan dan penyalurannya kepada masyarakat?. Dalam Islam telah
dianjurka untuk melaksanakan zakat, infak dan shadaqah dan lian sebagainya. Kemudian baitul
mal membagikan kepada orang-orang yang membutuhkan untuk meringankan beban hidup,
dengan cara memberi bantuan langhsung ataupun tidak langsung. Isalm tidak mengarahkan
distribusi pendapatan yang sama rata, letak pemerataan dalam Islam adalah keadilan atas dasar
maslahah; dimana di antara satu orang dengan orang lain dalam kedudukan sama atau berbeda,
mampu atau tidak mampu bisa saling menyantuni, maenghargai dan menghormati peran masing-
masing. Semua keadaan di atas akan terealisasi apabila masing-masing individu sadar terhadap
eksistensinya di hadapan Allah SWT.

Konsep Moral Islam Dalam Sistem Distribusi Pendapatan
Islam menyadari bahwa pengakuan akan kepemilikan adalah hal yang sangat penting. Setiap
hasil ekonomi seorang muslim dapat menjadi hak miliknya karena hal itu menjadi motivasi dasar
atas setiap aktivitasnya, dimana motivasi ini membimbing manusia untuk terus berkompetisi
dalam menggapai kepemilikanya. Tetapi kepemilikan manusia hanya diberi hak kepemilikan
terbatas yaitu hanya berwenang untuk memanfaatkan sedangkan pemilik yang hakiki dan
absolute hanyalah Allah SWT seperti dalam firman-Nya:
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha perkasa atas segala sesuatu,
(Ali Imran :189)

Sabda Nabi Muhammad SAW
suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabatnya : Kepada siapakah di
antara kamu harta milik ahli warisnya lebih berharga daripada miliknya sendiri ? Mereka
menjawab : setiap orang menganggap harta miliknya sendiri lebih berharga daripada milik ahli
warisnya. Kemudian nabi bersabda : Hartamu adalah apa yang kamu gunakan dan harta ahli
warismu adalah yang tidak kamu gunakan. (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)

Kepemilikan dalam ekonomi Islam dibagi menjadi:
1. Kepemilikan Umum (al milkiyyah al ammah / collective property) - Kepemilikan umum
meliputi semua sumber, baik yang keras, cair maupun gas, minyak bumi, besi, tembaga,
emas, dan temasuk yang tersimpan di perut bumi dan semua bentuk energi, juga industri
berat yang menjadikan energi sebagai komponen utamanya.
2. Kepemilikan Negara (state property) - Kepemilikan Negara meliputi semua kekayaan
yang diambil Negara seperti pajak dengan segala bentuknya serta perdagangan, industri,
dan pertanian yang diupayakan Negara diluar kepemilikan umum, yang semuanya
dibiayai oleh Negara sesuai dengan kepentingan Negara.

3. Kepemilikan Individu - Kepemilikan ini dapat dikelola oleh setiap individu atau setiap
orang sesuai dengan hukum atau norma syariat
Distribusi Pendapatan
Kebutuhan menjadi alasan untuk mencapai pendapartan minimum. Sedangkan kecukupan dalam
standar hidup yang baik adalah hal yang mendasari system distribusi-redistribusi pendapatan
baru dikaitkan dengan kerja dan kepemilikan pribadi.

Proses redistribusi pendapatan dalam islam mengamini banyak hal yang berkaitan dengan moral
endogeneity (factor dari dalam), signifikansi dan batasan-batasan tertentu, di antaranya:
1. Sebagaimana utilitanrianisme, mempromosikan greatest good for greteast number of
people, dengan good dan utility diharmonisasikan dengan pengertian halal-haram,
peruntungan manusia dan peningkatan utility manusia adalah tujuan utama dari
tujuanpembangunan ekonomi.
2. Liberitarian dan Marxism, pertobatan dan penebusan dosa adalah salah satu hal yang
mendasari diterapkanya proses redistribusi pendapatan. Dalam aturan main syariah akan
ditemukan sejumlah instrument yag mewajibkan seseorang muslim untuk
mendistribusikan kekayaannya sebagai akibat melakukan kesalahan (dosa).
3. Sistem redistribusi diarahkan untuk berlaku sebagai faktor pengurang dari adanya pihak
yang merasa dalam keadaan merugi atau gagal. Kondisi seperti ini hamper bisa
dipastikan berlaku setiap komunitas.
4. Mekanisme redistribusi berlaku secara istimewa, walaupun pada realitasnya distribusi
adalah proses transfer kekayaan searah, namun pada hakekatnya tidak demikian. Di sini
pun terjadi mekanisme pertukaran, hanya saja objek yang menjadi alat tukardari
kekayaan yang ditransfer berlaku di akhirat nanti (pahala). Dengan demikian, logikanya
memberikan pengertian bahwa dengan berbuat baik sekarang dan bertobat karena
melakukan dosa, kemudian mentransfer sebagian harta, maka senagai alat penukar
pengganti adalah pahala di di akhirat. Ini tentunya bukanlah mekanisme dari market
exchanes akan tetapi pertukaran yang ter jadi anatara orang yang beriman dengan
Tuhannya
Distribusi Pendapatan Dalam Konteks Rumah Tangga (Household)
Distribusi pendapatan dalam konteks rumah tangga tidak terlepas dari terminolgi shadaqah.
Pengertian shadaqah di sini bukan berarti sedekah dalam konteks pengertian bahasa Indonesia.
Karena shadaqah dalam kontek terminology Al quran dapat dipahami dalam dua aspek, yaitu:
pertama: shodaqah wajibah yang berarti bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang
berkaitan dengan instrument distribusi pendapatan berbasis kewajiban. Untuk kategori ini bisa
berarti kewajiban personal seseorang sebagai muslim, seperti warisan dan bisa juga berarti
kewajiban seorang muslim dengan muslim lainnya. Kedua: shadaqah nafilah (sunnah) yang
berarti bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang berkaitan dengan instrumen distribusi
pendapatan berbasis amal karikatif, seperti:

1. Shadaqah Wajibah (wajib dan khusus dikenakan bagi orang muslim) yaitu: a) Nafaqah,
b) Zakat, c) Udhiyah, d) Warisan, e) Musaadah, f) Jiwar, g) Diyafah.
2. Shadaqah Nafilah (sunnah dan khusus dikenakan bagiorang muslim) yaitu: a) Infak, b)
Aqiqah, c) Wakaf, d) Wasiat.
Kemudian distribusi pendapatan dalam konteks rumah tangga juga berkaitan dengan terminology
had/hudud atau pertaubatan dalam perbuatan dosa. Dengan berwujud kafarat dan dam
(diyat).kedua hal tersebut merupakan satu bentuk hukuman yang bernuansa distribusi-redistribusi
pendapatan. Dalam hal ini nampak jelas Islam memberikan pelajaran kepada kita bahwa dengan
memberi dan menolong orang lain berarti seseorang telah memberi dan menolong dirinya
sendiri.

Selain itu, distribusi pendapatan juga dapat di lakukan dengan melakukan transaksi pinjam-
meminjam, sewa-menyewa, upah, dan jual beli. Dalam ajaran Islam mendistribusikan
pendapatan rumah tangga ada skala prioritas yang ketat. Dari kepemilikan asset yang dimiliki
pertama yang harus dikeluarkan atau didistribusikan adalah (1) membayar utang, (2) membayar
zakat, ketika asset tersebut sudah memenuhi syarat barang yang wajib dizakati, baik nisab
maupun haul. Sedangkan pendistribusian lain seperti: infaq, udhiyah, wakaf dan wakaf dilakukan
setelah terpenuhinya kewajiban zakat. Pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan kepada
keleluasaan setiap muslim, pemerintah tidak berperan dalm hal ini. Dalam hal
warisan,dilaksanakan setelah pemilik aset atau harta meninggal dunia

Distribusi Pendapatan Dalam Konsep Negara
Prisnsip-prinsip ekonomi yang dibangun di atas nilai moral islam mencanangkan kepentingan
distribusi pendpatan secara adil.pada sarjana muslim banyak membicarakan objektivitas
perekonomian berbasis Islampada level Negara terkait dengan,penjaminan level minimum
kehidupan bangsa bagi mereka yang berpendapatan di bawah kemampuan pemenuhan kebutuhan
dasar, Negara wajib bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan materi bagi lingkungan social
maupun individu dengan memaksimalkan pemanfaatan atas sumber daya yang tersedia. Karena
itu Negara wajib mengeluarkan kebijakanyang mengupayakan stabilitas ekonomi, kesetaraan,
ketenaga kerjaan pembangunan social ekonomi dan lain sebagainya. Negara juga bertanggung
jawab atas manejemen.kepemilikan publikyang pemanfaatannya diarahkan untuk seluruhanggota
social, menahbiskan yang baik dan mencegah yang buruk bagimasyarakat secara umum,
memproteksi dan mereservasimoral komitmen seluruh bangsa.

Startegi pembangunan berbasis islam menyajikan 3 sistem: 1) sistem penyaringan atau filter,
yang terdiri dari maslahah syariyyah dan mekanisme harga di pasar. 2) mendorong para agen
ekonomi untuk melakukan pemuasan kebutuhan tanpa merusak dan membahayakan lingkungan.
3) rekontruksi terhahadap sosioekonomi, dengan tujuan pemerataan kesejahteraan, menghindari
perbuatan ria, dan mereformasi sistem keuangan untuk mendukung terwujudnya dua tujuan di
atas. Untuk menciptakan nuansa pasar yang terbuka, berkaitan dengan struktur produksi dan

dinamika tenaga kerja, harus diadakan pengoptimalan sumber daya (alam dan manusia).
Kemudian dilanjutkan dengan model ekonomi politik dalam pengambilan keputusan dan
kebijakan pemerintahan yang berdampak secara langsung dan tidak langsung kepada distribusi
pendapatan.

Pengelolaan Sumber Daya
Dalam pengelolaan sumber daya, Negara harus mampu mendistribusikan sumber daya yang ada
dengan baik dan maksimal. Kebijakan distribusi menganut kesamaan dalam kesempatan kerja,
pemerataan kesejahteraan dan pemanfaatan lahan yang menjadi sector publik

Ajaran islam memberikan otoritas kepada pemerintah dalam menentukan penggunaan lahan
untuk kepentingan public dan Negara, distribusi tanah kepada sector swasta, penarikan pajak,
subsidi, dan keistimewaannon monetarylainnya yang unsur legalitasnya dikembalikan kepada
aturan syariah.semua keistimewaan tersebut harus diarahkan untuk memenuhi kepentingan
publik dan pembebasan kemiskinan.

Kompetisi Pasar dan Redistribusi Sistem
Perspektif teori ekonomi menyatakan bahwa pasar adalah salah satu mekanisme yang bisa
dijalankan manusia untuk mengatasi problem ekonomi yang terdiri atas : produksi, konsumsi dan
distribusi. Kepentingan Negara (pemerintah) dalam pendistribusian pendapatan di pasar adalah
bagaimana pemerintah dapat menjamin pendapatan seluruh bangsanya (baik muslim maupun non
musilm)

Model Ekonomi Politik
Kebijakan ekonomi politik diarahkan untuk melayani kepentingan individu dan umum secara
sekaligus. Model ini menfokuskan kepada keimbangan, harmonisasi dan permanen dari kedua
kepentingan tersebut. Kebijakan ekonomi politk islam juga melayani kesejahteraanmateri dan
kebutuhan spiritual. Kebijakan ini memperhatikan setiap aktivitas ekonomi individu,selama
aktivitas itu berada dalam perencanaan dan orientasi hanya kepada Allah. Allah SWT berfirman:
.Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu
(QS. Al Hasyr :7)

Aspek ekonomi politik Islam yang dilakukan oleh para khalifah adalah dalam rangka mengurusi
dan melayani umat. Ada dua hal penting yng harus diperhatikan oleh umat islamuntuk
memperoleh kesuksesan system islam dalam distrubusi pendapatan, yaitu;perilaku konsumsi
(mustahik menjadi muzaki) dan pengembangan intermediary system untuk lebih
menyelengggarakan instrument-instrumen kebijakan fiskal dalam islam yang khusus
diproyeksikan untuk distribusi pendapatan.
- See more at: http://www.pendidikanekonomi.com/2012/11/distribusi-pendapatan-dalam-
islam.html#sthash.GJXXlbGu.dpuf






A. MAKNA DISTRIBUSI
a. Makna Distribusi dan Urgensinya
Terdapat perbedaan dalam system ekonomi tentang makna distribusi. Kapitalisme memberikan
kebebasan kepemilikan khusus dan memperbolehkan pemindaan kekayaan dengan cara
pewarisan atau hibah, dan tidak meletakan kaidah-kaidah untuk penentuan hal tersebut.
Sementara ekonomi social mengabaikan kepemilikan khusus bagi unsur-unsur produksi, dan
menilai pekerjaan sebagai satu-satunya unsur bagi produksi. Karena itu sistem distribusinya
berdasarkan pada prinsip setiap individu sesuai tingkat kemampuannya, dan setiap individu
sesuai tingkat kebutuhannya, dan berdasarkan pada khurafat perealisasian keadilan pembagian
pemasukan bagi tingkatan pekerja yang berlandaskan pada pilar-pilar sosial.
Pada sisi lain, ekonomi kapitalisme memfokuskan pembagian pemasukan Negara di
antara unsur-unsur produksi, kemudian memperhatikan penyelesaian factor-faktor yang
menentukan harga (bagian) unsur-unsur produksi dari pemasukan Negara. Karena itu kapitalisme
memutlakan system distribusi dengan terminologi teori harga unsure produksi. Sedangkan
distribusi individu, yakni distribusi income di antara individu masyarakat dan kelompoknya,
tidak mendapat perhatian kapitalisme kecuali dimasa belakangan ini, dan dengan tingkata yang
terbatas.
Sedangkan makna distribusi dalam ekonomi Islam jauh lebih luas lagi, yaitu mencakup
pengaturan kepemilikan unsure-unsur produksi dan sumber-sumber kekayaan. Yang mana Islam
memperbolehkan kepemilikan umum dan kepemilikan khusus, dan meletakan bagi masing-
masing dari keduanya dari kaidah-kaidah untuk mendapatkannya dan mempergunakannya, dan
kaidah-kaidah untuk warisan, hibah dan wasiat. Sebagaimana ekonomi Islam juga memiliki
polotik dalam distribusi pemasukan, baik antara unsure-unsur produksi maupun antara individu
masyarakat dan kelompok-kelompoknya, disamping pengembalian distribusi dalam system
jaminan social yang disampaikan adalam ajaran Islam.
Distribusi dalam ekonomi Islam berbeda dengan system konvensional dari sisi
tujuannya, asas ideology, moral dan sosialnya yang tidak dapat dibandingkan dengan system
ekonomi konvensional.
1. konsep moral Islam dalam system distribusi pendapatan
secara umum, Islam mengarahkan mekanisme berbasis moral, spiritual dalam pemeliharaan
keadilan social pada setiap aktivitas ekonomi. Latar belakangnya karena ketidak seimbangan
distribusi kekayaan adalah hal yang mendasari hamper semua konflik individu maupun social.
Upaya pencapaian manusia akan kebahagiaan membimbing manusia untuk menerapkan keadilan
ekonomi yang dapat menyudahi kesengsaraan. Hal tersebut akan sulit dicapai tanpa adanya
keyakinan pada prinsip moral dan sekaligus kedisiplinan dalam mengimplementasikan konsep

moral tersebut. Ini merupakan fungsi dari menerjemahkan konsep moral sebagai factor endogen
dalam perekonomian, sehingga etika ekonomi menjadi hal yang sangat membuming untk dapat
mengalahkan setiap kepentingan pribadi.
Untuk itu, dalam merespon laju perkembangan pemikiran ini, yang harus dilakukan
adalah:
v mengubah pola pikir (mind sets) dan pembelajaran mengenai nilai Islam, dari yang focus
perhatiannya bertujuan materialistis kepada tujuan yangmengarahkan kesejahteraan umum
berbasis pembagian sumber daya dan resiko yang berkeadilan, untuk mencapai kemanfaatan
yang lebih besar bagi komunitas social.
v keluar dari ketergantungan kepada pihak lain. Hidup diatas kemampuan pribadi sebagai
personal maupun bangsa, melaksanakan kewajiban financial sebagaimana yang titunjukan oleh
ajaran Islam dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa dunia saat ini bukanlah akhir cerita
kita. Akan ada kehidupan beru setelah kehidupan di dunia fana ini.
Sesungguhnya sistem ekonomi kapitalis telah gagal dalam merealisasikan keadilan distribusi
yang berdampak pada penderitaan masyarakat yang menjadi kapitalisme sebagai pedoman dalam
kehidupan ekonominya. Bahkan kapitalisme mulai menderita krisis yang mendekatkan kepada
kehancurannya, dimana dunia mulai mendengar jeritan yang memilukan yang keluar dari ibu
kota kapitalisme tentang keharusan menempatkan jalan ketiga sebagai ganti kapitalisme yang
telah nampak tidak mampu menghadapi krisis besar yang diderita oleh dunia di bawah bayang-
bayang kapitalisme.
Sedangkan ekonomi sosialis tidak bisa mewujudkan keadilan bagi tingkatan kerja seperti
didalihkan, bahkan justru memiskinkan masyarakat dalam semua tingkatan dan kelompoknya,
sehingga sistem ini semakin terpuruk, kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir di
tanah airnya sendiri, karena dia kontradiksi dengan fitrah manusia, dan berjalan di dalam arus
balik kehidupan sehingga menyeretnya ke bak sampah sejarah.
Sedangkan Islam sendiri mengutamakan tema distribusi dengan perhatian besar yang nampak
dalam beberapa fenomena, dimana yang terpenting diantaranya adalah sebagai berikut:
1. banyaknya nash al-quran dan hadis Nabawi yang mencakup tema distribusi dengan
menjelaskn sistem manajemennya, himbauan komitmen kepada cara-cara yang terbaik, dan
memperingatkan penyimpangan dari sistem yang benar. Bahkan nash-nash tersebut
mengkorelasikan antara merealisasikan jaminan sosial yang merupakan cara yang mendasar
untuk pengembalian distribusi dan masuk surga, dan mengkaitkan antara keburukan distribusi
dengan masuk neraka. Diamana yang demikian itu merupakan metode terkuat dalam
memberikan himbauan dan peringatan.
2. Syariat Islam tidak hanya menetapkan prinsip-prinsip umum bagi distribusi dan
pengembalian distribusi, namun juga merincikan dengan jelas dan lugas, diantaranya dengan
menjelaskan cara pendistribusian harta dan sumber-sumbernya yang terpenting. Sebagai
contohnya, bahwa al-Quran menentukan cara pembagian zakat dengan mendetail, penentuan
pembagian ganimmah dan faiq, kewajiban nafkah kerabat yang membutuhkan dalam harta
kerabat mereka yang kaya, dll.

3. Banyak dan konperhensifnya sistem dan cara distribusi yang ditegakan dalam Islam, baik
dengan cara penghalusan (wajib) maupun yang secara suka rela (sunnah). Bahwa zakat yang
merupakan cara terpenting yang membantu terealisasinya keadilan distribusi dan keadilan sosial
didalam Islam mendapat tempat besar didalam Islam, yaitu sebagai rukun ketiga dari lima rukun
Islam, dan penolakan melaksanakannya merupakan sebab terpenting dalam memeranginnya Abu
Bakar r.a terhadap orang-orang yang murtad.
4. Al-Quran menyebutkan secara tekstual dan eksplisit tentang tujuan peringanan perbedaan
di dalam kekayaan, dan mengantisipasi pemusatan harta dalam kalangan minoritas, setelah Allah
menjelaskan pembagian fai, dimana tujuan tersebut dijelaskan dengan firmannya. agar harta
tidak hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu.
5. Dalam fiqih ekonomi, Umar r.a tema distribusi mendapat porsi besar yang akan dijelaskan
di dalam pasal ini, dan perhatian Umar terhadap tema distribusi tampak jelas dalam beberapa hal
sebagai berikut,
a. diantara wasiat beliau untuk umat adalah berlaku adil dalam distribusi, dimana beliau
berkata, sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian akan selalu
dalam kebaikan selama kalian komitmen kepada keduanya, yaitu adil dalam hukum dan adil
dalam pendistribusian.
b. Banyaknya sikap dan ijtihad Umar r.a dalam hal-hal yang berkaitan dengan distribusi,
bahkan beliau menangani sendiri proses distribusi.

B. TUJUAN DISTRIBUSI DALAM EKONOMI ISLAM
Ekonomi Islam mempunyai sistem distribusi yang merealisasikan beragam tujuan yang
mencakup berbagai bidang kehidupan dimana distribusi tersebut dikelompokan menjadi empat
bagian,antara lain
a. Tujuan dakwah`
Yang dimaksud dakwah disini adalah dakwah kepada Islam dan menyatukan hati
kepada Allah. Contohnya; bagian muallaf di dalam zakat.dimana muallaf itu adakalanya orang
kafir yang diharapkan keIslamannya.
b. Tujuan pendidikan
Secara umum bahwa distribusi dalam perspektif ekonomi Islam dalam mewujudkan
beberapa tujuan pendidikan.
Pendidikan terhadap akhlak terpuji, seperti suka memberi, berderma dan mengutamakan
orang lain.
Mensucikan dari akhlak tercela, seperti pelit, egois dll.
c. Tujuan sosial
Tujuan sosial terpenting bagi distribusi adalah :
Memenuhi kebutuhan kelompok yang membutuhkan, dan menghidupkan prinsip solidaritas di
dalam masyarakat muslim.
Menguatkan ikatan cinta dan kasih sayang di antara individu dan kelompok di dalam
masyarakat.

Mengikis sebab-sebab kebencian dalam masyarakat, yang akan berdampak pada
terealisasinya keamanan dan ketentraman masyarakat.
Keadilan dalam distribusi yang mencakup pendistribusian sumber-sumber kekayaan
d. Tujuan ekonomi
Pengembangan harta dan pembersihannya, karena pemilik harta ketika menginfakan sebagian
hartanya kepada orang lain, baik infak wajib maupun sunnah, maka demikian itu akan
mendorongnya untuk menginvestasikan hartanya sehingga tidakakan habis karena zakat
Memberdayakan sumber daya manusia yang menganggur dengan terpenuhi kebutuhannya
tentang harta atau persiapan yang lazim untuk melaksanakannya dengan melakukan kegiatan
ekonomi.
Andil dalam merealisasikan kesejahteraan ekonomi, dimana tingkat kesejahteraan ekonomi
berkaitan dengan tingkat konsumsi . sedangkan tingkat konsumsi tidak hanya berkaitan dengan
bentuk pemasukan saja, namun juga berkaitan dengan cara pendistribusiannya diantara individu
masyarakat.
Penggunaan terbaik terhadap sumber ekonomi, contohnya : ketika sebagian harta orang kaya
diberikan untuk kemaslahatan orang-orang miskin, maka kemanfaatan total bagi pemasukan
umat bertambah. Sebab pemanfaatan orang-orang miskin terhadap harta tersebut akan menjadi
pada umumnya lebih besar daripada kemanfaatan harta tersebut masih berada di tangan orang
yang kaya.

C. DISTRIBUSI PENDAPATAN DALAM ISLAM
Distribusi menjadi posisi penting dari teori ekonomi mikro Islam karena pembahasan distribusi
berkaitan bukan saja berhubungn dengan aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan aspek
politik. Maka distribusi dalam ekonomi Islam menjadi perhatian bagi aliran pemikir ekonomi
Islam dan konvensional sampai saat ini. Di lain pihak, keadaan ini berkaitan dengan visi
ekonomi Islam di tengah-tengah umat manusia lebih sering mengedepankan adanya jaminan
pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih baik.
Dan hal itu memang tidak bisa disangkal berbagai aspek normatif yang berkaitan dengan firman
Allah dan asbda Rasulullah S.AW merupakan bagian penting dari misi dakwanya. Sebenarnya
konsep Islam tidak hanyamengedepankan aspek ekonomi dimana ukuran berdasarkan jumlah
harta kepemilikan, tetapi bagaimana bisa terdistribusi menggunakan potensi kemanusiaannya,
yang berupa penghargaan hak hidup dalam kehidupan. Distribusi harta tidak akan mempunyai
dampak yang signifikan kalau tidak ada kesadaran antara sesama manusia akan kesamaan hak
hidup.
Oleh karena itu dalam distribusi pendapatan berhubungan dengan beberapa masalah:
1. Bagaimana mengatur adanya distribusi pendapatan.
2. Apakah distribusi pendapatan yang dilakukan harus mengarah pada pembentukan
masyarakat yang mempunyai pendapat yang sama.
3. Siapa yang menjamin adanya distribusi pendapatan ini di masyarakat.
24[11] http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemasaran&action=edit&section=1
25[12] William J. Stanton, Prinsip Pemasaran, Alih Bahasa Wilhelmus W. Bokowatun, Erlangga, Jakarta, 1991, hlm.
5c
26[13] http://www.midas-solusi.com/knowledge-space,en,detail,33,strategi-pemasaran (13 Juni 2009)



By: Wida Robiatul, Elsadila Dhini, Fauziah, Rina


Perbedaan Distribusi Pendapatan dan Kekayaan; Ekonomi Konvensional dan Ekonomi
Islam

Untuk menjawab masalah ini Islam telah menganjurkan untuk mengerjakan zakat, infak,
sodaqah. Kemudian baitul mal membagikan kepada orang yang membutuhkan untuk
meringankan masalah hidup orang lain dengan cara memberi bantuan langsung ataupun tidak
langsung, Islam tidak mengarahkan distribusi pendapatan yang sama rata, retak pemerataan
dalam Islam adalah keadilan atas dasar maslahah, dimana antara satu orang dan orang lain dalam
kedudukan sama atau berbeda, maupun atau tidak mampu saling bisa menyantuni, menghargai
dan menghormati peran masing-masing. Semua keadaan di atas akan terealisasi bila masing-
masing individu sadar terhadap eksistensinya di hadapan Allah.




















Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan distribusi dalam ekonomi kapitalis terfokus pada pasca
produksi, yaitu pada konsekuensi proses produksi bagi setiap proyek dalam bentuk uang ataupun
nilai, lalu hasil tersebut didistribusikan pada komponen-komponen produksi yang berandil dalam
memproduksinya, yaitu empat komponen berikut[1]:
1) Upah, yaitu upah bagi para pekerja, dan sering kali dalam hal upah, para pekerja diperalat
desakan kebutuhannya dan diberi upah di bawah standar.
2) Bunga, yaitu bunga sebagai imbalan dari uang modal (interest on capital) yang diharuskan
pada pemilik proyek.
3) Ongkos, yaitu ongkos untuk sewa tanah yang dipakai untuk proyek; dan
4) Keuntungan, yaitu keuntungan (profit) bagi pengelola yang menjalankan praktek pengelolaan
proyek dan manajemen proyek, dan ia bertanggung jawab sepenuhnya.
Akibat dari perbedaan komposisi andil dalam produksi yang dimiliki oleh masing-masing
individu, berbeda-beda pula pendapatan yang didapat oleh masing-masing individu. Islam
menolak butir kedua dari empat unsur tersebut di atas, yaitu unsur bunga. Para ulama Islam telah
sepakat dan lembaga-lembaga fiqih termasuk MUI juga telah mengeluarkan fatwa bahwa
setiap bentuk bunga adalah riba yang diharamkan.[2] Adapun ketiga unsur yang lain, Islam
membolehkannya jika terpenuhi syarat-syaratnya dan terealisasi prinsip dan batasan-batasannya.
Sedangkan dalam ekonomi sosialis, produksi berada dalam kekuasaan pemerintah dan mengikuti
perencanaan pusat. Semua sumber produksi adalah milik negara.[3] Semua pekerja berada dalam
kekuasaan dan rezim negara. Prinsip dalam distribusi pendapatan dan kekayaan adalah sesuai
apa yang ditetapkan oleh rakyat yang diwakili oleh negara dan tidak ditentukan oleh pasar.
Negara adalah yang merencanakan produksi nasional. Negara pula yang meletakkan kebijakan
umum distribusi dengan segala macamnya baik berupa upah, gaji, bunga, maupun ongkos sewa.
Kaum sosialis mengecam masyarakat kapitalis karena di dalam masyarakat kapitalis kekayaan
dan kemewahan hanya dikuasai oleh sekelompok orang, sedangkan mayoritas masyarakat adalah
kaum miskin. Mereka menaruh perhatian pada produksi barang-barang perelengkapan dan
barang-barang mewah yang merealisasikan kaum kaya dengan keuntungan yang tinggi bagi para
pemilik modal, produksi prabotan mewah, alat-alat kecantikan, dan berbagai macam barang
kemewahan tanpa menaruh perhatian pada pemenuhan kebutuhan masyarakat luas yang
kebanyakan dari kaum fakir. Kadang kala mereka memproduksi barang-barang yang bermanfaat
seperti gandum, susu dan lainnya tetapi jika harganya anjlok, maka mereka spontan tidak segan-
segan memusnahkannya dengan melemparkannya ke laut atau membakarnya agar harganya tetap
mahal seperti yang diinginkannya.
Dalam kekuasaan sistem kapitalis barlangsung praktek-praktek monopoli yang sangat besar dan
mengerikan. Kadang kala menjadi perusahaan yang bergerak dalam berbagai macam jenis usaha
samapai sebagian perusahaan tersebut menjadi sebuah negara dalam negara, yang tidak tunduk
pada pemeintahan setempat. Bahkan memaksa pemerintahan setempat tunduk kepada kemauan
dan kepentingan mereka dengan melakukan penyuapan secara jelas dan memuaskan. Dengan
demikian tidak seorang pun yang dapat memaksa mereka membuat suatu jenis produksi dan
menentukkan jumlah keuntungan karena mereka sendiri yang mengatur dan menentukkan
produksi dan harga.
Kritik kaum sosialis terhadap kaum kapitalis tersebut memang benar. Tetapi, mereka memerangi
kebatilan dengan hal yang lebih batil darinya. Mereka berlindung di bawah kekuasaan sosialisme
dari monopoli kapitalisme kepada monopoli yang lebih buruk dan lebih parah, yaitu monopoli
negara yang menguasai semua sarana produksi seperti tanah, pabrik, dan ladang-ladang
penambangan. Negara menguasai keuntungan dan tidak dikembalikan seperti pengakuan mereka
kepada para buruh (pekerja) yang memimpikan surga yang dijanjikan untuk mereka dalam
bayang-bayang sistem sosialisme.[4]
Sosialisme tidak dapat menghapuskan jurang perbedaan yang dikenal di dalam kapitalisme.
Bahkan, di dalam sosialisme terdapat perbedaan yang mengerikan dalam soal upah antara dua
batas; maksimum dan minimum mencapai perbandingan (1-50) yaitu gaji tertinggi sama dengan
lima puluh kali lipat dari gaji kecil.
Ekonomi Islam terbebas dari kedua kedhaliman kapitalisme dan sosialisme. Islam membangun
filosofi dan sistemnya di atas pilar-pilar yang lain, yang menekankan pada distribusi para
produksi, yaitu pada distribusi sumber-sumber produksi, di tangan siapa kepemilikannya? Apa
hak-hak, dan kewajiban-kewajiban atas kepelikan? Hal ini bukan berarti Islam tidak menaruh
perhatian kepada kompensasi produksi. Ia memperlihatkannya juga sebagaimana kita lihat dalam
perhatiannya terhadap pemenuhan hak-hak pra pekerja dan upah mereka yang adil setimpal
dengan kewajiban yang telah mereka tunaikan. Distribusi dalam ekonomi Islam didasarkan pada
dua nilai manusiawi yang sangat mendasar dan penting yaitu: nilai kebebasan dan nilai keadilan.
F. Analisis dan Kesimpulan:
1. Distribusi pendapatan dan kekayaan di antara berbagai faktor produksi terdiri dari; Pertama,
pembayaran sewa tidak bertentangan dengan jiwa Islam Kedua, perbedaan upah akibat bakat dan
kesanggupan diakui oleh Islam. Syarat pokoknya adalah majikan tidak mengisap para pekerja
dan mereka harus membayar haknya. Ketiga, terdapat kontroversi antara riba dan bunga. Tapi
bila arti riba dipandang dalam perspektif sejarahnya tampaknya tidak terdapat perbedaan antara
riba dan bunga. Keempat, Islam membolehkan laba biasa bukan laba monopoli atau laba yang
timbul dari spekulasi.
2. Dalam ekonomi sosialis, produksi berada dalam kekuasaan pemerintah dan mengikuti
perencanaan pusat. Semua sumber produksi adalah milik negara. Semua pekerja berada dalam
kekuasaan dan rezim negara. Prinsip dalam distribusi pendapatan dan kekayaan adalah sesuai
apa yang ditetapkan oleh rakyat yang diwakili oleh negara dan tidak ditentukan oleh pasar.
Negara adalah yang merencanakan produksi nasional. Negara pula yang meletakkan kebijakan
umum distribusi dengan segala macamnya baik berupa upah, gaji, bungan, maupun ongkos sewa.
3. Sedangkan dalam ekonomi kapitalis kekayaan dan kemewahan hanya dikuasai oleh
sekelompok orang, sedangkan mayoritas masyarakat adalah kaum miskin. Mereka menaruh
perhatian pada produksi barang-barang perelengkapan dan barang-barang mewah yang
merealisasikan kaum kaya dengan keuntungan yang tinggi bagi para pemilik modal, produksi
prabotan mewah, alat-alat kecantikan, dan berbagai macam barang kemewahan tanpa menaruh
perhatian pada pemenuhan kebutuhan masyarakat luas yang kebanyakan dari kaum fakir.
Lain hanya, dalam ekonomi Islam menolak butir kedua dari empat unsur (upah, sewa, bunga,
keuntungan), yaitu unsur bunga. ketiga unsur yang lain, Islam membolehkannya jika terpenuhi
syarat-syaratnya dan terealisasi prinsip dan batasan-batasannya. Ekonomi Islam terbebas dari
kedua kedhaliman kapitalisme dan sosialisme. Islam membangun filosofi dan sistemnya di atas
pilar-pilar yang lain, yang menekankan pada distribusi para produksi, yaitu pada distribusi
sumber-sumber produksi, di tangan siapa kepemilikannya. memperlihatkannya juga sebagaimana
kita lihat dalam perhatiannya terhadap pemenuhan hak-hak pra pekerja dan upah mereka yang
adil setimpal dengan kewajiban yang telah mereka tunaikan. Distribusi dalam ekonomi Islam
didasarkan pada dua nilai manusiawi yang sangat mendasar dan penting yaitu: nilai kebebasan
dan nilai keadilan
Secara ringkas perbandingan antara sistem ekonomi Islam dalam masalah bisnis adalah sebagai
berikut:
Paham
Ekonomi
Insentif Kepemilikan Mekanisme ,
Informasi &
Koordinasi
Pengambilan
Keputusan
Kapitalisme
(pure
capitalism)
Material Mutlak
Individual
Mekanisme
Pasar
Desentralistik
Kapitalisme
Negara(state
capitalism)
Material &
Norma Sosial
Individual atas
pengawasan
negara
Mekanisme
pasar dan
negara
Sentralistik
dan
Desentralistik
Kapitalisme
campuran
(mixed
capitalism)
Material dan
norma sosial
Mutlak
individual
Mekanisme
pasar dan
negara
Sentralistik
dan
Desentralistik
Sosialisme
(pure
socialism)
Norma Sosial Mutlak Negara Negara Sentralistik
Pasar
Sosialisme
(market
socialism)
Material dan
norma sosial
Mutlak negara
atau komunitas
Mekanisme
pasar dan
negara
Sentralistik
Islam Mashlahah
(dunia&
akhirat)
Individual,
sosial & negara
atas dasar
mashlahah
Mekanisme
pasar yang adil
Musyawarah
berbasis
mashlalah

[1] Yusuf Qardhawi, Peran nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, (Penerjemahan: Didin
Hafiduddin et.al.) (Jakarta:Robbani Press, 2001), h. 347
[2] Yusuf Qardhawi, Fawaid al-bunuk hiya ar-Riba al-Muharram, (Mesir: Dar al-wafa), h. 80
[3]Karl Marx, Das Kapital, (Chicago, Heny Regnery Company,tt), h. 13
[4] Qardhawi, Peran nilai, h. 349



PRODUKSI, KONSUMSI DAN DISTRIBUSI
DALAM ISLAM
A. PRODUKSI DALAM ISLAM
1. Pendahuluan
Produksi merupakan sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi ini semenjak manusia
menghuni planet ini. Menurut Dr. Muhammad Rawwas Qalahji kata produksi dalam bahasa
Arab dengan kata al-Intaj yang secara harfiah dimaknai dengan ijadu silatin (mewjudkan atau
mengadakan sesuatu) atau khidmatu muayyanatin bi istikhdami muzayyajin min anashir alintaj
dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya
bantuan pengabungan unsurnsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas).
Produksi menurut Kahf mendefenisikan kegiatan produksi dalam prespektif Islam sebagai
usaha manusia untuk memperbaiki tidak hanya kondisi fisik materialnya, tetapi juga moralitas,
sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana digariskan dalam agama Islam, yaitu
kebahagian di dunia dan akhirat.
Dari dua pengertian di atas produksi adalah setiap bentuk aktivitas yang dilakukan mansia
dengan cara mengeksplorasi sumber-sumber ekonomi yang disediakan Allah Swt untuk
mewujudkan suatu barang dan jasa yang digunakan tidak hanya untuk kebutuhan fisik tetapi juga
untuk memenuhi kebutuhan non fisik, dalam artian yang lain produksi dimaksudkan untuk
mencapai maslahah bukan hanya menciptakan materi.
[1]

Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi.
Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusia dengan alam.
[2]
Kegiatan
produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksilah yang
menghasikan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi maka
kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan barang dan jasa
kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi. Fungsi produksi menggambarkan
hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode
tertentu.
[3]
Dalam teori produksi memberikan penjelasan tentang perilaku produsen tentang
perilaku produsen dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan efisiensi
produksinya. Dimana Islam mengakui pemilikian pribadi dalam batas-batas tertentu termasuk
[4]

pemilikan alat produksi, akan tetapi hak tersebut tidak mutlak.
2. Prinsip-prinsip Produksi
Beberapa prinsip yang diperhatikan dalam prduksi, antara lain dikemukakan Muhammad al-
Mubarak, sebagai berikut:[5]
1. Dilarang memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang tercela karena bertentangan
dengan syariah.
2. Di larang melakukan kegiatan produksi yang mengarah kepada kedzaliman.
3. Larangan melakukan ikhtikar (penimbunan barang).
4. Memelihara lingkungan
Di bawah ini ada beberapa implikasi mendasar bagi kegiatan produksi dan perekonomian
secara keseluruhan, antara lain :
1. Seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami[6]
2. Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan
3. Permasalahan ekonomi muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks.[7]
3. Ayat Al-Quran dan Hadits tentang Prinsip Produksi
Salah satu ayat tentang produksi yaitu Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Tanah
dalam Surat As-Sajdah : 2
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang
mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang
daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak
memperhatikan?
Ayat diatas menjelaskan tentang tanah yang berfungsi sebagai penyerap air hujan dan
akhirnya tumbuh tanaman-tanaman yang terdiri dari beragam jenis. Tanaman itu dapat
dimanfaatkan manusia sebagai faktor produksi alam, dari tanaman tersebut juga dikonsumsi oleh
hewan ternak yang pada akhirnya juga hewan ternak tersebut diambil manfaatnya (diproduksi)
dengan berbgai bentuk seperti diambil dagingnya, susunya dan lain sebagaiya yang ada pada
hewan ternak tersebut.
Ayat ini juga memberikan kepada kita untuk berfikir dalam pemanfaatan sumber daya alam
dan proses terjadinya hujan. Jelas sekali menunjukkan adanya suatu siklus produksi dari proses
turunnya hujan, tumbuh tanaman, menghasilkan dedunan dan buah-buahan yang segar setelah di
disiram dengan air hujan dan pada akhirnya diakan oleh manusia dan hewan untuk konsumsi.
Siklus rantai makanan yang berkesinambungan agaknya telah dijelskan secara baik dalam ayat
ini. Tentunya puila harus disertai dengan prinsip efisiensi
[8]
dalam memanfaatkan seluruh batas
kemungkinan produksinya. Sedangkan di dalam hadit, salah satunya sebagai berikut:
HR Bukhari Nabi mengatakan, Seseorang yang mempunyai sebidang tanah harus menggarap
tanahnya sendiri, dan jangan membiarkannya. Jika tidak digarap, dia harus memberikannya
kepada orang lain untuk mengerjakannya. Tetapi bila kedua-duanya tidak dia lakukan tidak
digarap, tidak pula diberikan kepada orang lain untuk mengerjakannya maka hendaknya
dipelihara/dijaga sendiri. Namun kami tidak menyukai hal ini.
Hadits tersebut memberikan penjelasn tentang pemanfaatan faktor produksi berupa tanah
yang merupakan faktor penting dalam produksi . Tanah yang dibiarkan begitu saja tanpa diolah
dan dimanfaatkan tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW karena tidak bermanfaat bagi
sekelilingnya. Hendaklah tanah itu digarap untuk dapat ditanami tumbuhan dan tanaman yang
dapat dipetik hasilnya ketika panen dan untuk pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan,
penggarapan bisa dilakukan oleh si empunya tanah atau diserahkan kepada orang lain.
4. Tujuan Produksi[9]
Menurut Nejatullah ash-Shiddiqi, tujuan produksi sebagai berikut:
1. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu secara wajar
2. Pemenuhan kebtuhan keluarga
3. Bekal untuk generasi mendatang
4. Bantuan kepada masyarakat dalam rangka beribadah kepada Allah.
Menurut Ibnu Khaldun dan beberapa ulama lainnya berpendapat, kebutuhan manusia dapat
digologkan kepada tiga kategori, yaitu dharuriyah, hajjiyat, tahsiniyat.
5. Faktor-faktor Produksi[10]
1. Tanah dan segala potensi ekonomi di anjurkan al-Quran untuk di olah dan tidak dapat
dipisahkan dari proses produksi.
2. Tenaga kerja terkait langsung dengan tuntutan hak milik melalui produksi.
3. Modal, manajemen dan tekhnologi.
6. Etika dalam Produksi
Etika dalam berproduksi yaitu sebagai berikut[11]:
1. Peringatan Allah akan kekayaan alam.[12]
2. Berproduksi dalam lingkaran yang Halal. Sendi utamanya dalam berproduksi adalah bekerja,
berusaha bahkan dalam proses yang memproduk barang dan jasa yang toyyib, termasuk dalam
menentukan target yang harus dihasilkan dalam berproduksi.
3. Etika mengelola sumber daya alam dalam berproduksi dimaknai sebagai proses menciptakan
kekayaan dengan memanfaatkan sumber daya alam harus bersandarkan visi penciptaan alam ini
dan seiring dengan visi penciptaan manusia yaitu sebagai rahmat bagi seluruh alam.
4. Etika dalam berproduksi memanfaatkan kekayaan alam juga sangat tergantung dari nilai-nilai
sikap manusia, nilai pengetahuan, dan keterampilan. Dan bekerja sebagai sendi utama produksi
yang harus dilandasi dengan ilmu dan syariah islam.
5. Khalifah di muka bumi tidak hanya berdasarkan pada aktivitas menghasilkan daya guna suatu
barang saja melainkan Bekerja dilakukan dengan motif kemaslahatan untuk mencari keridhaan
Allah Swt.
Namun secara umum etika dalam islam tentang muamalah Islam, maka tampak jelas
dihadapan kita empat nilai utama, yaitu rabbaniyah, akhlak, kemanusiaan dan pertengahan.
Nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan (keunikan) yang utama bagi ekonomi Islam, bahkan
dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang tampak jelas pada
segala sesuatu yang berlandaskan ajaran Islam. Makna dan nilai-nilai pokok yang empat ini
memiliki cabang, buah, dan dampak bagi seluruh segi ekonomi dan muamalah Islamiah di
bidang harta berupa produksi, konsumsi, sirkulasi, dan distribusi.
B. KONSUMSI DALAM ISLAM
1. Pengertian dan Tujuan Konsumsi dalam Islam
Salah satu persoalan penting dalam kajian ekonomi Islam ialah masalah konsumsi.
Konsumsi berperan sebagai pilar dalam kegiatan ekonomi seseorang (individu), perusahaan
maupun negara. konsumsi secara umum diformulasikan dengan : Pemakaian dan penggunaan
barang barang dan jasa, seperti pakaian, makanan, minuman, rumah, peralatan rumah tangga,
kenderaan, alat-alat hiburan, media cetak dan elektronik, jasa telephon, jasa konsultasi hukum,
belajar/ kursus, dsb.
Berangkat dari pengertian ini, maka dapat dipahami bahwa konsumsi sebenarnya tidak
identik dengan makan dan minum dalam istilah teknis sehari-hari; akan tetapi juga meliputi
pemanfaatan atau pendayagunaan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Namun, karena yang
paling penting dan umum dikenal masyarakat luas tentang aktivitas konsumsi adalah makan dan
minum, maka tidaklah mengherankan jika konsumsi sering diidentikkan dengan makan dan
minum.
Tujuan konsumsi dalam Islam adalah untuk mewujudkan maslahah duniawi dan ukhrawi.
Maslahah duniawi ialah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, minuman,
pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan (akal). Kemaslahatan akhirat ialah terlaksanaya
kewajiban agama seperti shalat dan haji. Artinya, manusia makan dan minum agar bisa
beribadah kepada Allah. Manusia berpakaian untuk menutup aurat agar bisa shalat, haji, bergaul
sosial dan terhindar dari perbuatan mesum (nasab)
Sebagaimana disebut di atas, banyak ayat dan hadits yang berbicara tentang konsumsi, di
antaranya Surat al Araf ayat 31[13]. Ayat ini tidak saja membicarakan konsumsi makanan dan
minuman, tetapi juga pakaian. Bahkan pada ayat selanjutnya (ayat 33) dibicarakan tentang
perhiasan.



2. Prinsip-prinsip Konsumsi[14]
Menurut Abdul Mannan bahwa perintah Islam mengenai konsumsi dikendalikan oleh lima
prinsip, yaitu:
a. Prinsip Keadilan
b. Prinsip Kebersihan
c. Prinsip Kesederhanaan
d. Prinsip Kemurahan Hati
e. Prinsip Moralitas.
3. Etika Konsumsi[15]
Etika konsumsi menurut Naqvi adalah sebagai berikut:
a. Tauhid (Unity/ Kesatuan)
Karakteristik utama dan pokok dalam Islam adalah tauhid yang menurut Qardhawi dibagi
menjadi dua kriteria, yaitu rubaniyyah gayah (tujuan) dan wijhah (sudut pandang).
Kriteria pertama menunjukkan maksud bahwa tujuan akhir dan sasaran Islam adalah
menjaga hubungan baik dan mencapai ridha-Nya. Sehingga pengabdian kepada Allah merupakan
tujuan akhir, sasaran, puncak cita-cita, usaha dan kerja keras manusia dalam kehidupan yang
fana ini. Kriteria kedua adalah rabbani yang masdar (sumber hukum) dan manhaj (sistem).
Kriteria ini merupakan suatu sistem yang ditetapkan untuk mencapai sasaran dan tujuan puncak
(kriteria pertama) yang bersumber al-Quran dan Hadits Rasul.
b. Adil (Equilibrium/ Keadilan)
Khursid Ahmad mengatakan, kata adl dapat diartikan seimbang (balance) dan setimbang
(equlibrium). Atas sebab dasar itu ia menyebutkan konsep al-adl dalam prespektif Islam adalah
keadilan Ilahi.
Salah satu manifestasi keadilan menurut al-Quran adalah kesejahteraan. Keadilan akan
mengantarkan manusia kepada ketaqwaan, dan ketaqwaan akan menghasilkan kesejahteraan bagi
manusia itu sendiri.
c. Free Will (Kehendak Bebas)
Manusia merupakan makhluk yang berkehendak bebas namun kebebasan ini tidaklah berarti
bahwa manusia terlepas dari qadha dan qadar yang merupakan hukum sebab-akibat yang
didasarkan pada pengetahuan dan kehendak Tuhan.
d. Amanah (Responsibility/ Pertanggungjawaban)
Etika dari kehendak bebas adalah pertanggungjawaban. Dengan kata lain, setelah manusia
melakukan perbuatan maka ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan demikian
prinsip tanggung jawab merupakan suatu hubungan logis dengan adanya prinsip kehendak bebas.
e. Halal
Kehalalan adalah salah satu kendala untuk memperoleh maksimalisasi kegunaan konsumsi
salam kerangka Ekonomi Islam. Kehalalan suatu barang konsumsi merupakan antisipasi dari
adanya keburukan yang ditimbulkan oleh barang tersebut.
f. Sederhana
Sederhana dalam konsumsi mempunyai arti jalan tengah dalam berkomunikasi. Diantara dua
cara hidup yang ekstrim antara paham materilialistis dan zuhud. Ajaran al-Quran menegaskan
bahwa dalam berkonsumsi manusia dianjurkan untuk tidak boros dan tidak kikir.
C. DISTRIBUSI DALAM ISLAM
System ekonomi yang berbasis Islam menghandaki bahwa dalam hal pendistribusian harus
berdasarkan dua sendi, yaitu sendi kebebasan dan keadilan kepemilikan. Kebebasan disini adalah
kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-nilai agama dan keadilan tidak seperti
pemahaman kaum kapitalis yang menyatakannya sebagai tindakan membebaskan manusia untuk
berbuat dan bertindak tanpa campur tangan pihak mana pun, tetapi sebagai keseimbangan antara
individu dengan unsur materi dan spiritual yang dimilikinya, keseimbangan antara individu dan
masyarakat serta antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
Keberadilan dalam pendistribusian ini tercermin dari larangan dalam al-quran agar supaya
harta kekayaan tidak diperbolehkan menjadi barang dagangan yang hanya beredar diantara
orang-orang kaya saja, akan tetapi diharapkan dapat memberi kontribusi kepada kesejahteraan
masyarakat sebagai suatu keseluruhan (59:7)[16].
Dalam system ekonomi kapitalis bahwa kemiskinan dapat diselesaikan dengan cara
menaikkan tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan nasional (national income) adalah
teori yang tidak dapat dibenarkan dan bahkan kemiskinan menjadi salah satu produk dari sistem
ekonomi kapitalistik yang melahirkan pola distribusi kekayaan secara tidak adil Fakta empirik
menunjukkan, bahwa bukan karena tidak ada makanan yang membuat rakyat menderita
kelaparan melainkan buruknya distribusi makanan (Ismail Yusanto). Mustafa E Nasution pun
menjelaskan bahwa berbagai krisis yang melanda perekonomian dunia yang menyangkut sistem
ekonomi kapitalis dewasa ini telah memperburuk tingkat kemiskinan serta pola pembagian
pendapatan di dalam perekonomian negara-negara yang ada, lebih-lebih lagi keadaan
perekonomian di negara-negara Islam.


1. Urgensi dan Tujuan Distribusi[17]
Islam sangat mendukung pertukaran barang dan menganggapnya produktif dan mendukung
para pedangang yangg berjaln di muka bumi mencari sebagian dari karunia Allah, dan
membolehkan orang memiliki modal untuk berdagang, tapi ia tetap berusaha agar pertukaran
barang itu berjalan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Tetap mengumpulkan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.
b. Antara dua penyelenggara muamalat tetap ada keadilan dan harus tetap ada kebebasan ijab kabul
dalam akad-akad.
c. Tetap berpengaruhnya rasa cinta dan lemah lembut.
d. Jelas dan jauh dari perselisihan.
2. Tujuan Distribusi dalam Ekonomi Islam[18]
a. Tujuan Dakwah, yakni dakwah kepada Islam dan menyatukan hati kepadanya.
b. Tujuan Pendidikan, tujuan pendidikan dalam distribusi adalah seperti dalam surah at-Taubah
ayat 103[19] yang bermaksud menjadikan insan yang berakhlak karimah.
c. Tujuan sosial, yakni memenuhi kebutuhan masyarakat serta keadilan dalam distribusi sehingga
tidak terjadi kerusuhan dan perkelahian.
d. Tujuan Ekonomi, yakni pengembangan harta dan pembersihannya, memberdayakan SDM,
kesejahteraan ekonomi dan penggunaan terbaik dalam menempatkan sesuatu.
3. Etika Distribusi
a. Selalu menghiasi amal dengan niat ibadah dan ikhlas.
b. Transfaran, dan barangnya halal serta tidak membahayakan.
c. Adil, dan tidak mengerjakan hal-hal yang dilarang di dalam Islam.
d. Tolong menolong, toleransi dan sedekah.
e. Tidak melakukan pameran barang yang menimbulkan persepsi.
f. Tidak pernah lalai ibadah karena kegiatan distribusi.[20]
g. Larangan Ikhtikar, ikhtikar dilarang karena akan menyebabkan kenaikan harga.
h. Mencari keuntungan yang wajar. Maksudnya kita dilarang mencari keuntungan yang
semaksimal mugkin yang biasanya hanya mementingkan pribadi sendiri tanpa memikirkan orang
lain.
i. Distribusi kekayaan yang meluas, Islam mencegah penumpukan kekayaan pada kelompok kecil
dan menganjurkan distribusi kekayaan kepada seluruh lapisan masyarakat.
j. Kesamaan Sosial, maksudnya dalam pendistribusian tidak ada diskriminasi atau berkasta-kasta,
semuanya sama dalam mendapatkan ekonomi.[21]
4. Jaminan Sosial (Takaful Ijtima)
Setiap individu mempunyai hak untuk hidup dalam sebuah negara, dan setiap warga negara
dijamin untuk memperoleh kebutuhan pokoknya masing-masing. Dan terdapat persamaan
sepenuhnya diantara warga negara apabila kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi.[22]
Menurut Syekh Mahmud Syaltut, bahwa jaminan sosial adalah suatu keharusan diantara
keharusan-keharusan persaudaraan, bahkan suatu yang paling utama, yaitu perasaan tanggung
jawab dari yang satu terhadap yang lain, dimana setiap orang turut memikul beban saudaranya,
dan dipikul bebannya oleh saudaranya, dan selanjutnya ia harus bertanggung jawab terhadap
dirinya dan bertanggung jawab terhadap saudaranya.[23]
Jaminan sosial dapat memberikan standar hidup yang layak, termasuk penyediaan pangan,
pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya kepada setiap anggota
masyarakat.[24]
























KESIMPULAN
Dengan penjelasan di atas bahwa semua kegiatan baik produksi, konsumsi dan distribusi
harus sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yaitu prinsip tauhid, prinsip keadilan, prinsip
kebebasan dan prinsip pertanggungjawaban. Manusia dalam berproduksi, konsumsi dan
distribusi harus sesuai dengan etika islam yang menjadikan kemakmuran dan ketentraman dalam
bermasyarakat.
Etika dalam berproduksi yaitu sebagai berikut:
a. Peringatan Allah akan kekayaan alam.
b. Berproduksi dalam lingkaran yang Halal.
c. Etika mengelola sumber daya alam
d. Etika dalam berproduksi harus dilandasi dengan ilmu dan syariah islam.
e. Sebagai Khalifah di muka.
Etika Konsumsi menurut Islam, antara lain:
a. Tauhid (Unity/ Kesatuan)
b. Adil (Equilibrium/ Keadilan)
c. Free Will (Kehendak Bebas)
d. Amanah (Responsibility/ Pertanggungjawaban)
e. Halal
f. Sederhana
Etika Distribusi menurut Islam, antara lain:
a. Larangan Ikhtikar.
b. Mencari keuntungan yang wajar.
c. Distribusi kekayaan yang meluas.
d. Kesamaan Sosial.






REFERENSI
1. Ahmad al-haritsi, fikih ekonomi umar.
2. Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007)
3. Metwally, Teori dan Model Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Bangkit Daya Insana, 1995)
4. Mawardi, M.Si, Ekonomi Islam, (Pekanbaru: Alaf Riau: 2007)
5. Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, (Yogyakarta: Jalasutra, 2003)
6. Prof. Dr. Akhmad Mujahidin, M.Ag, ekonomi islam 2, (Pekanbaru, Mujtahadah Press: 2010)
7. Sofyan S. Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam (Jakarta: Salemba Empat: 2011)



[1] Ahmad al-haritsi, fikih ekonomi umar, hlm. 37
[2] Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada), 2007,
hal.102
[3] A production function dewscribes the relationship between the quantity of output obtainable
per period on time, lihat di Arthur Thompson and John, Formby, Economics of the Firm : Theory
and practice, (New Jersey : Prentice Hall, 1993)
[4] Metwally, Teori dan Model Ekonomi Islam, (Jakarta : PT. Bangkit Daya Insana), 1995, hal. 4
[5] Mawardi, M.Si, Ekonomi Islam, (Pekanbaru: Alaf Riau: 2007), hlm 65-67
[6] Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, (Yogyakarta : Jalasutra), 2003, hal. 156
[7] Ibid., hal. 157-158
[8] Konsep efisiensi dapat dirasakan secara intuitif. Contoh keadaan tidak efisien adalah
masyarakat yang tidk memanfaatkan sepenuhnya batas kemungkinan produksinya. Misalnya
orang membawa hasil produksinya ke pasar untuk ditukarkan dengan barang orang lain, setiap
kali terjadi pertukaran maka nilai guna barang kedua pihak akan naik, bila semua kemungkinan
pertukaran yang menguntungkan telah habis sehingga tidak ada lagi kenaikan nilai guna, maka
dapat dikatakan bahwa keadaan telah mencapai efisien.
[9] Mawardi, M.Si, op.cit. hlm. 67-68
[10] Ibid, hlm 69-72
[11] http://sakir-88.blogspot.com/2011/11/makalah-investasi-islam-di-bidang-riil.html
[12] QS. al-Qashash ayat 77. dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
[13]
/j_4:4C 4E1-47 W-7O 74-4[C)e
ELgN ]7 lO4` W-OU4
W-O+4O'=-4 4 W-EO)O;O _
+O^^) OUg47 4-g)O;O^- ^@
31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.
[14] Drs. H. Muh. Said HM, MA, MM, Pengantar Ekonomi Islam (Pekanbaru: Suska Press,
2008), hlm. 81
[15] Mawardi, M.Si, op.cit. hlm 82-86
[16]
.E` 47. +.- _O>4N g).Oc4O
;}g` u- O4O^- *+ OcOUg4
Og~).4 _O.O^- _OE4-41^-4
-=OE^-4 ^-4
O):OO- O. 4pO74C .1 4u-4
g7.41g4^N- 7Lg` _ .4`4
N7>-47 NOcO- +7ONC 4`4
7Og4+ +Ou44N W-O_4^ _
W-OE>-4 -.- W Ep) -.- CgE-
g^- ^_
7. apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang
berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan
beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu,
Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.
[17] Drs. H. Muh. Said HM, MA, MM, op.cit, hlm. 91
[18] Ibid, hlm. 93-94
[19]
'O ;}g` g)4O^` LO~E=
-NO)-_C> jgOg4O>4 Ogj
]=4 )_^OU4 W Ep) El>_OU=
E}Ec += +.-4 77OgEc v1)U4
^@
103. ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
[20] Sofyan S. Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam (Jakarta: Salemba Empat: 2011),
hlm. 140
[21] Prof. Dr. Akhmad Mujahidin, M.Ag, ekonomi islam 2, (Pekanbaru, Mujtahadah Press: 2010),
hlm. 21
[22] Ibid, hlm 21-22
[23] Drs. H. Muh. Said HM, MA, MM, op.cit, hlm 98
[24] Ibid, 99


PRINSIP MORAL EKONOMI ISLAM DALAM PRODUKSI, KONSUMSI
DAN DISTRIBUSI

PRINSIP MORAL EKONOMI ISLAM DALAM PRODUKSI, KONSUMSI DAN
DISTRIBUSI

Teori Produksi dalam Islam
Produksi menurut bahasa arab, seperti yang diungkapkan Dr. Muhammad Rawwas
Qallahji adalah Al-Intaj yang secara harfiah dimaknai dengan Ijadu Silatin yaitu mewujudkan
(mengadakan) sesuatu
Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang maupun
jasa. Contoh : pabrik batre yang memproduksi batu baterai, tukang mie ayam yang membuat mie
ayam..
Bagi Islam secara khas menekankan bahwa setiap kegiatan produksi harus pula
mewujudkan fungsi social. Agar mampu mengemban fungsi social seoptimal mungkin, kegiatan
produksi harus melampaui surplus untuk mencukupi keperluan konsumtif dan meraih
keuntungan financial, sehingga bisa berkontribusi kehidupan social.
Melalui konsep inilah, kegiatan produksi harus bergerak diatas dua garis optimalisasi.
Tingkatan optimal pertama adalah mengupayakan berfungsinya sumber daya insani kearah
pencapaian kondisi full employment, dimana setiap orang bekerja dan menghasilkan suatu karya
kecuali mereka yang udzur syari seperti sakit dan lumpuh.
Pada prinsipnya islam juga lebih menekankan berproduksi untuk memenuhi kebutuhan
orang banyak, bukan sekedar memenuhi segelintir orang yang memiliki uang. Apalah artinya
produk yang menggunung jika hanya bisa didistribusikan untuk segelintir orang yang memiliki
uang banyak.
Produksi berprinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi.
Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksilah
yang menghasikan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi
maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya.

Prinsip Produksi dalam Pandangan Islam
Al quran dan Hadis Rasulullah SAW. Memberikan arahan mengenai prinsip-prinsip
produksi sebagai berikut:
1. Tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah adalah memakmurkan bumi dengan ilmu
dan amalnya.
2. Islam selalu mendorong kemajuan dibidang produksi.
3. Teknik Produksi diserahkan kepada keinginan dan kemampuan manusia.
4. Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama islam menyukai kemudahan,
menghindari kemudharatan dan memaksimalkan manfaat.
Adapun kaidah-kaidah dalam berproduksi adalah:
1. Memperoleh barang dan jasa yang halal pada setiap tahapan produksi.
2. Mencegah kerusakan di muka bumi, termasuk membatasi polusi, memelihara keserasian, dan
ketersediaan sumber daya alam.
3. Produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat serta mencapai
kemakmuran.
4. Produksi dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari tujuan kemandirian umat.
5. meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik kualitas spiritual maupun mental dan fisik.
Pada prinsipnya kegiatan produksi terkait seluruhnya dengan syariat Islam, dimana seluruh
kegiatan produksi harus sejalan dengan tujuan dari konsumsi itu sendiri. Konsumsi seorang
muslim dilakukan untuk mencari falah (kebahagiaan) demiian pula produksi dilakukan untuk
menyediakan barang dan jasa guna falah tersebut. Di bawah ini ada beberapa implikasi mendasar
bagi kegiatan produksi dan perekonomian secara keseluruhan, antara lain :
1. Seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami
2. Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan
3. Permasalahan ekonomi muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks.
Kegiatan produksi dalam perspektif Islam bersifat alturistik sehingga produsen tidak hanya
mengejar keuntungan maksimum saja. Produsen harus mengejar tujuan yang lebih luas
sebagaimana tujuan ajaran Islam yaitu falah didunia dan akhirat. Kegiatan produksi juga harus
berpedoman kepada nilai-nilai keadilan dan kebajikan bagi masyarakat.

Ayat Al-Quran tentang Prinsip Produksi
Ada beberapa ayat yang terkandung dalam al-Quran yang berkaitan dengan factor
produksi. Dalam surah as-Sajadah ditunjukkan adanya siklus produksi dari proses turunnya
hujan dan siklus rantai makanan
Selain tentang siklus dan cara produksi Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Modal
juga terdapat dalam Surat Al-Baqarah : 272
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang
memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik
yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah
kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta
yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang
kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).
Modal sangat penting dalam kegiatan produksi baik yang bersifat tangible asset maupun
intangible asset. Kata apa saja harta yang baik menunjukkan bahwa manusia diberi modal yang
cukup oleh Allah untuk dapat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhannya secara materi.
Modal dapat pula memberikan makna segala sesuatu yang digunakan dan tidak habis, untuk
diputarkan secara ekonomi dengan harapan dari modal tersebut menghasilkan hasil yang lebih,
dari hasil yang lebih tersebut terus diputar sampai pada pencapaian keuntungan yang maksimal
(profit) dari modal yang kita miliki yang pada akhirnya tercapailah suatu optimalisasi dari modal
tersebut.

Teori dan Prinsip Konsumsi dalam Islam
Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu produk barang atau
jasa yang dihasilkan oleh para produsen. Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan
konsumsi disebut konsumen. Contoh konsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari seperti membeli
jamu tolak angin di toko jamu, pergi ke dokter hewan ketika iguana kita sakit keras, makan di mc
d, main dingdong, dan sebagainya.
Menurut Islam, anugerah-anugerah Allah adalah milik semua manusia. Suasana yang
menyebabkan sebagian diantara anugerah-augerah itu berada di tangan orang-orang tertentu
tidak berarti bahwa mereka dapat memanfaatkan anugerah-anugerah itu untuk mereka sendiri.
Orang lain masih berhak atas anugerah-anugerah tersebut walaupun mereka tidak
memperolehnya. Dalam Al-Quran Allah SWT mengutuk dan membatalkan argumen yang
dikemukakan oleh orang kaya yang kikir karena ketidaksediaan mereka memberikan bagian atau
miliknya ini (Kahf, 1995; 27)

Bila dikatakan kepada mereka, Belanjakanlah sebagian rizqi Allah yang diberikan-Nya
kepadamu,orang-orang kafir itu berkata,Apakah kami harus memberi makan orang-orang
yang jika Allah menghendaki akan diberi-Nya makan ? Sebenarnya kamu benar-benar
tersesat.(QS 36:37)

Perbuatan untuk memanfaatkan atau mengonsumsi barang-barang yang baik itu sendiri
dianggap sebagai kebaikan dalam Islam. Sebab kenikmatan yang diciptakan oleh Allah untuk
manusia adalah ketaatan kepada-Nya yang berfirman kepada nenek moyang manusia, yaitu
Adam dan Hawa, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran (QS 2:35);

..dan makanlah barang-barang yang penuh nikmat didalamnya (surga) sesuai dengan
kehendakmu.,

Dalam ekonomi Islam konsumsi dikendalikan oleh 5 prinsip dasar sebagai berikut :
A. Prinsip Keadilan
Syarat ini mengandung arti ganda yang penting mengenai mencari rezeki secara halal dan
tidak dilarang hukum. Dalam soal makanan dan minuman, ada hal yang terlarang dicantumkan
dalam Al-Quran Larangan terakhir berkaitan langsung dengan membahayakannya moral dan
spiritual, Kelonggaran diberikan bagi orang-orang yang terpaksa, dan bagi orang yang pada
suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh makan makanan yang terlarang
itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.
B. Prinsip Kebersihan
Syarat yang kedua ini tercantum dalam kitab suci Al-Quran maupun Sunnah tentang
makanan. Harus baik atau cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga
merusak selera. Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam
semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan
bermanfaat.
C. Prinsip kesederhanaan
Prinsip ini mengatur perilaku manusia mengenai makanan dan minuman adalah sikap
tidak berlebih-lebihan, yang berarti janganlah makan secara berlebih.
Dalam Al-Quran dikatakan :

..makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS : Al-Araaf (7):31)

Arti penting ayat-ayat ini adalah kenyataan bahwa kurang makan dapat mempengaruhi
pembangunan jiwa dan tubuh, demikian pula bila perut diisi secara berlebih-lebihan tentu akan
ada pengaruhnya pada perut. Praktik memantangkan jenis makanan tertentu dengan tegas tidak
dibolehkan dalam Islam.
D. Prinsip Kemurahan Hati
Dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan dan
meminum makanan halal yang disediakan Tuhan karena kemurahan hati-Nya. Selama
maksudnya adalah untuk kelangsungan hidup dan kesehatan yang lebih baik dengan tujuan
menunaikan perintah Tuhan dengan keimanan yang kuat dalam tuntunan-Nya, dan perbuatan adil
sesuai dengan itu, yang menjamin persesuaian bagi semua perintah-Nya.
E. Prinsip Moralitas
Bukan hanya mengenai makan dan minuman tetapi untuk peningkatan atau kemajuan
nilai-nilai moral dan spiritual. Seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum
makan dan menyatakan terima kasih kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan
merasakan kehadiran Ilahi pada waktu memenuhi keinginan-keinginan fisiknya.

Prinsip dan Teori Distribusi dalam Islam
Distribusi adalah kegiatan menyalurkan atau menyebarkan produk barang atau jasa dari
produsen kepada konsumen pemakai. Perusahaan atau perseorangan yang menyalurkan barang
disebut distributor.Contoh distribusi: menyalurkan sembako,menyalurkan barang.
Secara lebih eksplisit dalam dalam al-Quran telah dijelaskan apa yang dimaksud dengan
distribusi, yaitu sebagaimana firman Allah berikut ini :

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (al-Baqarah : 3)
Distribusi di tinjau dari segi kebahasaan berarti proses penyimpanan dan penyaluran
produk kepada pelanggan, diantaranya sering kali melalui perantara. (Collins, 1994 : 162)
Definisi yang dikemukakan Collins di atas, memiliki pemahaman yang sempit apabila dikaitkan
dengan topik kajian di bahas. Hal ini disebabkan karena definisi tersebut cenderung mengarah
pada prilaku ekonomi yang bersifat individual. Namun dari definisi di atas dapat di tarik suatu
pemahaman, di mana dalam distribusi terdapat sebuah proses pendapatan dan pengeluaran dari
sumber daya yang dimiliki oleh negara (mencakup prinsip take and give).
Adapun prinsip utama dalam konsep distribusi menurut pandangan Islam ialah
peningkatan dan pembagian bagi hasil kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan,
sehingga kekayaan yang ada dapat melimpah dengan merata dan tidak hanya beredar di antara
golongan tertentu saja. (Rahman, 1995 : 93)
Dalam distribusi Islam pendistribusian harus berdasarkan dua sendi, yaitu sendi kebebasan
dan keadilan kepemilikan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dalam bertindak yang di
bingkai oleh nilai-nilai agama dan keadilan tidak seperti pemahaman kaum kapitalis yang
menyatakannya sebagai tindakan membebaskan manusia untuk berbuat dan bertindak tanpa
campur tangan pihak manapun. Keberadilan dalam pendistribusian tercermin dari larangan
dalam Al- Quran agar supaya harta kekayaan tidak diperbolehkan menjadi barang dagangan
yang hanya beredar diantara orang-orang kaya saja, akan tetapi diharapakan dapat memberi
kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.


DAFTAR BACAAN

Muhammad Rawwas Qalahji, Mabahis Fi Al-Iqtishad Al-Islami Min Ushulihi Al Fiqhiyah, www.
pkes.org
Budi Setyanto,(et al).,Pengenalan Eksklusif:Ekonomi Islam,Cet.1;Jakarta:Kencana Prenada Media
Group,2006.h.107
Eko Suprayitno.,Ekonomi Islam.Cet.1;Yogyakarta:Graha Ilmu,2005.h.92.




Definisi Ekonomi Konvensional
Ilmu yang mempelajari prilaku manusia dalam memenuhi
kebutuhannya yang tak terbatas menggunakan faktor-faktor
produksi yang terbatas.
M Ma as sa al la ah h u ut ta am ma a e ek ko on no om mi i a ad da al la ah h k ke el la an ng gk ka aa an n ( (s sc ca ar rc ci it ty y) ) d da an n p pi il li ih ha an n
( (c ch ho oi ic ce es s) )
D De ef fi in ni is si i E Ek ko on no om mi i D Da al la am m I Is sl la am m
D Da an n A Ak ku u t ti id da ak k m me en nc ci ip pt ta ak ka an n j ji in n d da an n m ma an nu us si ia a m me el la ai in nk ka an n s su up pa ay ya a
m me er re ek ka a m me en ny ye em mb ba ah h- -K Ku u ( (A Ad dz z D Dz za ar ri iy ya aa at t: : 5 56 6) )
E Ek ko on no om mi i d da al la am m I Is sl la am m a ad da al la ah h i il lm mu u y ya an ng g m me em mp pe el la aj ja ar ri i s se eg ga al la a p pr ri il la ak ku u
m ma an nu us si ia a d da al la am m m me em me en nu uh hi i k ke eb bu ut tu uh ha an n h hi id du up pn ny ya a d de en ng ga an n t tu uj ju ua an n
m me em mp pe er ro ol le eh h f fa al la ah h ( (k ke ed da am ma ai ia an n & & k ke es se ej ja ah ht te er ra aa an n d du un ni ia a- -a ak kh hi ir ra at t) ). .
P Pr ri il la ak ku u m ma an nu us si ia a d di is si in ni i b be er rk ka ai it ta an n d de en ng ga an n l la an nd da as sa an n- -l la an nd da as sa an n s sy ya ar ri ia at t
s se eb ba ag ga ai i r ru uj ju uk ka an n b be er rp pr ri il la ak ku u d da an n k ke ec ce en nd de er ru un ng ga an n- -k ke ec ce en nd de er ru un ng ga an n d da ar ri i
f fi it tr ra ah h m ma an nu us si ia a. . D Da an n d da al la am m e ek ko on no om mi i I Is sl la am m, , k ke ed du ua a h ha al l t te er rs se eb bu ut t
b be er ri in nt te er ra ak ks si i d de en ng ga an n p po or rs si in ny ya a m ma as si in ng g- -m ma as si in ng g h hi in ng gg ga a t te er rb be en nt tu uk kl la ah h
s se eb bu ua ah h m me ek ka an ni is sm me e e ek ko on no om mi i y ya an ng g k kh ha as s d de en ng ga an n d da as sa ar r- -d da as sa ar r n ni il la ai i
I Il la ah hi iy ya ah h. .
S Si is st te em m e ek ko on no om mi i I Is sl la am m m me ey ya ak ki in ni i b ba ah hw wa a A Al ll la ah h S SW WT T m me en nc ci ip pt ta ak ka an n
a al la am m r ra ay ya a, , t te er rm ma as su uk k b bu um mi i b be es se er rt ta a i is si in ny ya a, , c cu uk ku up p u un nt tu uk k m me em me en nu uh hi i
k ke eb bu ut tu uh ha an n s se el lu ur ru uh h u um ma at t m ma an nu us si ia a. . S Se eh hi in ng gg ga a k ke el la an ng gk ka aa an n p pa ad da a
d da as sa ar rn ny ya a t ti id da ak k m me en nj ja ad di i m ma as sa al la ah h d da al la am m p pe er rs sp pe ek kt ti if f e ek ko on no om mi i I Is sl la am m. .


N Ne ee ed ds s, , W Wa an nt ts s & & F Fa ac ct to or r o of f P Pr ro od du uc ct ti io on ns s
T Ti id da ak kk ka ah h k ka am mu u p pe er rh ha at ti ik ka an n s se es su un ng gg gu uh hn ny ya a A Al ll la ah h t te el la ah h m me en nu un nd du uk kk ka an n
u un nt tu uk k ( (k ke ep pe en nt ti in ng ga an n) )m mu u a ap pa a y ya an ng g d di i l la an ng gi it t d da an n a ap pa a y ya an ng g d di i b bu um mi i
d da an n m me en ny ye em mp pu ur rn na ak ka an n u un nt tu uk km mu u n ni ik km ma at t- -N Ny ya a l la ah hi ir r d da an n b ba at th hi in n. .
( (L Lu uk km ma an n: : 2 20 0) )
D Da an n D Di ia a t te el la ah h m me en nc ci ip pt ta ak ka an n b bi in na at ta an ng g t te er rn na ak k u un nt tu uk k k ka am mu u; ; p pa ad da an ny ya a
a ad da a ( (b bu ul lu u) ) y ya an ng g m me en ng gh ha an ng ga at tk ka an n d da an n b be er rb ba ag ga ai i- -b ba ag ga ai i m ma an nf fa aa at t, , d da an n
s se eb ba ag gi ia an nn ny ya a k ka am mu u m ma ak ka an n. .
( (A An n N Na ah hl l: : 5 5) )
D Di ia a m me en nu um mb bu uh hk ka an n b ba ag gi i k ka am mu u d de en ng ga an n a ai ir r h hu uj ja an n i it tu u t ta an na am m- -
t ta an na am ma an n; ; z za ai it tu un n, , k ku ur rm ma a, , a an ng gg gu ur r d da an n s se eg ga al la a m ma ac ca am m b bu ua ah h- -b bu ua ah ha an n
( (A An n N Na ah hl l: : 1 11 1) )
D Da an n b ba ah hw wa as sa an ny ya a D Di ia a y ya an ng g m me em mb be er ri ik ka an n k ke ek ka ay ya aa an n d da an n k ke ec cu uk ku up pa an n. .
( (A An n N Na aj jm m: : 4 48 8) )


P Pr ri in ns si ip p2 2 E Ek ko on no om mi i I Is sl la am m


D Da ap pa at t d di is si im mp pu ul lk ka an n a ad da a e em mp pa at t p pr ri in ns si ip p u ut ta am ma a d da al la am m s si is st te em m e ek ko on no om mi i
I Is sl la am m y ya an ng g d di ii is sy ya ar ra at tk ka an n d da al la am m A Al l Q Qu ur r a an n: :
H Hi id du up p h he em ma at t d da an n t ti id da ak k b be er r- -m me ew wa ah h2 2 ( (a ab bs st ta ai in n f fr ro om m w wa as st te ef fu ul l a an nd d
l lu ux xu ur ri iu us s l li iv vi in ng g) ), , b be er rm ma ak kn na a j ju ug ga a b ba ah hw wa a t ti in nd da ak ka an n- -t ti in nd da ak ka an n
e ek ko on no om mi i h ha an ny ya al la ah h s se ek ke ed da ar r u un nt tu uk k m me em me en nu uh hi i k ke eb bu ut tu uh ha an n ( (n ne ee ed ds s) )
b bu uk ka an n m me em mu ua as sk ka an n k ke ei in ng gi in na an n ( (w wa an nt ts s) ). .
I Im mp pl le em me en nt ta as si i Z Za ak ka at t ( (i im mp pl le em me en nt ta at ti io on n o of f z za ak ka at t) ); ; p pa ad da a t ti in ng gk ka at t n ne eg ga ar ra a
m me ek ka an ni is sm me e z za ak ka at t a ad da al la ah h o ob bl li ig ga at to or ry y z za ak ka at t s sy ys st te em m b bu uk ka an n v vo ol lu un nt ta ar ry y
z za ak ka at t s sy ys st te em m. . D Di is sa am mp pi in ng g i it tu u a ad da a j ju ug ga a i in ns st tr ru um me en n s se ej je en ni is s y ya an ng g
b be er rs si if fa at t s su uk ka ar re el la a ( (v vo ol lu un nt ta ar ry y) ) y ya ai it tu u i in nf fa ak k, , s sh ha ad da aq qa ah h, , w wa ak ka af f, , d da an n
h ha ad di ia ah h. .
P Pe en ng gh ha ap pu us sa an n/ /p pe el la ar ra an ng ga an n R Ri ib ba a ( (p pr ro oh hi ib bi it ti io on n o of f r ri ib ba a) ), , G Gh ha ar ra ar r d da an n
M Ma ai is si ir r; ; m me en nj ja ad di ik ka an n s sy ys st te em m b ba ag gi i h ha as si il l ( (p pr ro of fi it t- -l lo os ss s s sh ha ar ri in ng g) ) d de en ng ga an n
i in ns st tr ru um me en n m mu ud dh ha ar ra ab ba ah h d da an n m mu us sh ha ar ra ak ka ah h s se eb ba ag ga ai i p pe en ng gg ga an nt ti i s sy ys st te em m
k kr re ed di it t ( (c cr re ed di it t s sy ys st te em m) ) b be er ri ik ku ut t i in ns st tr ru um me en n b bu un ng ga an ny ya a ( (i in nt te er re es st t r ra at te e) )
d da an n m me em mb be er rs si ih hk ka an n e ek ko on no om mi i d da ar ri i s se eg ga al la a p pr ri il la ak ku u b bu ur ru uk k y ya an ng g m me er ru us sa ak k
s sy ys st te em m, , s se ep pe er rt ti i p pr ri il la ak ku u m me en ni ip pu u d da an n j ju ud di i. .
M Me en nj ja al la an nk ka an n u us sa ah ha a- -u us sa ah ha a y ya an ng g h ha al la al l ( (p pe er rm mi is ss si ib bl le e c co on nd du uc ct t) ); ; d da ar ri i
p pr ro od du uk k a at ta au u k ko om mo od di it ti i, , m ma an na aj je em me en n, , p pr ro os se es s p pr ro od du uk ks si i h hi in ng gg ga a p pr ro os se es s
s si ir rk ku ul la as si i a at ta au u d di is st tr ri ib bu us si i h ha ar ru us sl la ah h a ad da a d da al la am m k ke er ra an ng gk ka a h ha al la al l. . U Us sa ah ha a- -
u us sa ah ha a t ta ad di i t ti id da ak k b bo ol le eh h b be er rs se en nt tu uh ha an n d de en ng ga an n j ju ud di i ( (m ma ai is si ir r) ) d da an n
s sp pe ek ku ul la as si i a at ta au u t ti in nd da ak ka an n- -t ti id da ak ka an n l la ai in nn ny ya a y ya an ng g d di il la ar ra an ng g s se ec ca ar ra a
s sy ya ar ri ia ah h. .M Me es sk ki ip pu un n b be eg gi it tu u a ad da a k ka ai id da ah h h hu uk ku um m ( (f fi ik ki ih h) ) d da al la am m I Is sl la am m y ya an ng g
c cu uk ku up p m me en nj ja ad di i r ru uj ju uk ka an n d da al la am m b be er ra ak kt ti if fi it ta as s e ek ko on no om mi i, , y ya ai it tu u p pa ad da a
d da as sa ar rn ny ya a a ak kt ti if fi it ta as s a ap pa ap pu un n h hu uk ku um mn ny ya a b bo ol le eh h s sa am mp pa ai i a ad da a d da al li il l y ya an ng g
m me el la ar ra an ng g a ak kt ti if fi it ta as s i it tu u s se ec ca ar ra a s sy ya ar ri ia ah h. .


PRODUKSI


S Su ua at tu u p pr ro os se es s a at ta au u s si ik kl lu us s k ke eg gi ia at ta an n e ek ko on no om mi i u un nt tu uk k m me en ng gh ha as si il lk ka an n
b ba ar ra an ng g a at ta au u j ja as sa a t te er rt te en nt tu u d de en ng ga an n m me em ma an nf fa aa at tk ka an n s se ek kt to or r- -s se ek kt to or r
p pr ro od du uk ks si i d da al la am m w wa ak kt tu u t te er rt te en nt tu u, , d de en ng ga an n c ci ir ri i u ut ta am ma a: :
K Ke eg gi ia at ta an n y ya an ng g m me en nc ci ip pt ta ak ka an n m ma an nf fa aa at t ( (u ut ti il li it ty y) )n nt tu uk k
m me em ma ak ks si im mu um mk ka an n k ke eu un nt tu un ng ga an n d da al la am m p pr ro od du uk ks si i
p pe er ru us sa ah ha aa an n s se el la al lu u d di ia as su um ms si ik ka an n u un nt tu uk k m me em ma ak ks si im mu um mk ka an n
k ke eu un nt tu un ng ga an n d da al la am m p pr ro od du uk ks si i
P Pe en ne ek ka an na an n p pa ad da a m ma as sl la ah ha ah h d da al la am m k ke eg gi ia at ta an n e ek ko on no om mi i
P Pe er ru us sa ah ha aa an n t ti id da ak k h ha an ny ya a m me em me en nt ti in ng gk ka an n k ke ep pe en nt ti in ng ga an n p pr ri ib ba ad di i
d da an n p pe er ru us sa ah ha aa an n j ju ug ga a k ke em ma as sl la ah ha at ta an n b ba ag gi i m ma as sy ya ar ra ak ka at t. .
K Ke eg gi ia at ta an n p pr ro od du uk ks si i m me er ru up pa ak ka an n i ib ba ad da ah h

Prinsip-prinsip produksi dalam Islam


K Ke eg gi ia at ta an n p pr ro od du uk ks si i h ha ar ru us s d di il la an nd da as si i n ni il la a- -n ni il la ai i I Is sl la am mi i, , s se es su ua ai i
d de en ng ga an n m ma aq qa as sh hi id d s sy ya ar ri ia ah h. . T Ti id da ak k m me em mp pr ro od du uk ks si i b ba ar ra an ng g y ya an ng g
b be er rt te en nt ta an ng ga an n d de en ng ga an n m ma aq qa as sh hi id d s sy ya ar ri ia ah h y ya ai it tu u m me en nj ja ag ga a i im ma an n, ,
k ke et tu ur ru un na an n, , j ji iw wa a, , a ak ka al l d da an n h ha ar rt ta a. .
P Pr ri io or ri it ta as s p pr ro od du uk ks si i h ha ar ru us s s se es su ua ai i d de en ng ga an n p pr ri io or ri it ta as s k ke eb bu ut tu uh ha an n
y ya ai it tu u: : D Dh ha ar ru ur ri iy ya ah h, , H Ha aj jj ji iy ya ah h d da an n T Ta ah hs si in ni iy ya ah h. .
K Ke eg gi ia at ta an n p pr ro od du uk ks si i h ha ar ru us s m me em mp pe er rh ha at ti ik ka an n k ke ea ad di il la an n, , a as sp pe ek k s so os si ia al l
k ke em ma as sy ya ar ra ak ka at ta an n, , m me em me en nu uh hi i k ke ew wa aj ji ib ba an n z za ak ka at t, , s se ed de ek ka ah h, , i in nf fa ak k
d dn n w wa ak ka af f. .
M Me en ng ge el lo ol la a s su um mb be er rd da ay ya a a al la am m s se ec ca ar ra a o op pt ti im ma al l, , t ti id da ak k b bo or ro os s, ,
b be er rl le eb bi ih ha an n d da an n m me er ru us sa ak k l li in ng gk ku un ng ga an n. .
D Di is st tr ri ib bu us si i k ke eu un nt tu un ng ga an n y ya an ng g a ad di il l a an nt ta a p pe em mi il li ik k, , p pe en ng ge el lo ol la a, ,
m ma an na aj je em me en n d da an n b bu ur ru uh h. .


P Pr ri il la ak ku u P Pr ro od du uk ks si i
Barang & Jasa yang Diproduksi


F Fa ak kt to or r- -f fa ak kt to or r P Pr ro od du uk ks si i : :
Alam
Tenaga Kerja
Keahlian
modal
P Pe en ng ge er rt ti ia an n K Ko on ns su um ms si i s se ec ca ar ra a u um mu um m d di if fo or rm mu ul la as si ik ka an n d de en ng ga an n: :
P Pe em ma ak ka ai ia an n d da an n p pe en ng gg gu un na aa an n b ba ar ra an ng g- -b ba ar ra an ng g d da an n j ja as sa a, , s se ep pe er rt ti i
p pa ak ka ai ia an n, , a al la at t- -a al la at t h hi ib bu ur ra an n, , m me ed di ia a i in nf fo or rm ma as si i d dl ll l. .


TUJUAN
M Me em me en nu uh hi i k ke eb bu ut tu uh ha an n b ba ai ik k j ja as sm ma an ni i m ma au up pu un n r ru uh ha an ni i s se eh hi in ng gg ga a m ma am mp pu u
m me em ma ak ks si im ma al lk ka an n f fu un ng gs si i k ke em ma an nu us si ia aa an nn ny ya a s se eb ba ag ga ai i h ha am mb ba a A Al ll la ah h S SW WT T
u un nt tu uk k m me en nd da ap pa at tk ka an n k ke eb ba ah ha ag gi ia aa an n d du un ni ia a d da an n a ak kh hi ir ra at t ( (f fa al la ah h) ). .


P Pr ri il la ak ku u K Ko on ns su um ms si i ( (D Dr r. . Y Yu us su uf f Q Qa ar rd dh ha aw wi i) )
Z Za ak ka at t d da an n s se ed de ek ka ah h m me er ru up pa ak ka an n b ba ag gi ia an n d da ar ri i k ko on ns su um ms si i d da al la am m I Is sl la am m. .
P Pe en nd de ek ka at ta an n p pe en nd da ap pa at ta an n d da al la am m I Is sl la am m d da ap pa at t d di ir ru um mu us sk ka an n: :
Y Y= = ( (C C + + Z Za ak ka at t) ) + + S S
K Ke ek ka ay ya aa an n a at ta au u h ha ar rt ta a d da al la am m I Is sl la am m m me er ru up pa ak ka an n a am ma an na ah h A Al ll la ah h, , y ya an ng g
h ha ar ru us s d di ib be el la an nj ja ak ka an n s se ec ca ar ra a b be en na ar r, , y ya ai it tu u s se ei im mb ba an ng g d da an n a ad di il l, , t ti id da ak k
b bo or ro os s, , t ti id da ak k k ki ik ki ir r, , d da an n t ti id da ak k p pu ul la a m mu ub ba az zi ir r. . H Ha ar rt ta a y ya an ng g d di im mi il li ik ki i t ti id da ak k
s se em ma at ta a- -m ma at ta a u un nt tu uk k d di ik ko on ns su um ms si i, , t te et ta ap pi i j ju ug ga a u un nt tu uk k k ke eg gi ia at ta an n s so os si ia al l
s se ep pe er rt ti i z za ak ka at t, , i in nf fa aq q d da an n s se ed de ek ka ah h. .
I Is sl la am m m me en ng gg ga ar ri is sk ka an n t tu uj ju ua an n k ko on ns su um ms si i b bu uk ka an n s se em ma at ta a- -m ma at ta a
m me em me en nu uh hi i k ke ep pu ua as sa an n t te er rh ha ad da ap p b ba ar ra an ng g ( (u ut ti il li it ta as s) ). . N Na am mu un n y ya an ng g l le eb bi ih h
u ut ta am ma a a ad da al la ah h s sa ar ra an na a u un nt tu uk k m me en nc ca ap pa ai i k ke ep pu ua as sa an n s se ej ja at ti i y ya an ng g u ut tu uh h
d da an n k ko om mp pr re eh he en ns si if f y ya ai it tu u k ke ep pu ua as sa an n d du un ni ia a d da an n a ak kh hi ir ra at t. . K Ke ep pu ua as sa an n
t ti id da ak k s sa aj ja a d di ik ka ai it tk ka an n d de en ng ga an n k ke eb be en nd da aa an n t te et ta ap pi ij ju ug ga a d de en ng ga an n r ru uh hi iy ya ah h. .
J Ja ad di i t tu uj ju ua an n k ko on ns su um me en n m mu us sl li im m b bu uk ka an nl la ah h m ma am ma ak ks si im mu um mk ka an n u ut ti il li it ty y, ,
t te et ta ap pi i m me em ma ak ks si im mu um mk ka an n m ma as sl la ah ha ah h. .


DISTRIBUSI


P Pe en ny ye eb ba ar ra an n a at ta au u p pe er rp pu ut ta ar ra an n e ek ko on no om mi i, , d da al la am m s se ek ka al la a n ne eg ga ar ra a
s se er ri in ng gk ka al li i d di it te er rj je em ma ah hk ka an n m me en nj ja ad di i p pe em me er ra at ta an n k ke es se ej ja ah ht te er ra aa an n w wa ar rg ga a
n ne eg ga ar ra a
H Ha ar rt ta a
Y Ya an ng g j ju ug ga a m me en no on nj jo ol l d da al la am m p pe er rb be ed da aa an n a an nt ta ar ra a e ek ko on no om mi i I Is sl la am m d da an n
k ko on nv ve en ns si io on na al l a ad da al la ah h c ca ar ra a k ke ed du ua an ny ya a m me en ny yi ik ka ap pi i h ha ar rt ta a. . H Ha al l i in ni i t te en nt tu u
d di id da as sa ar ri i c ca ar ra a p pa an nd da an ng g k ke ed du ua a p pe er re ek ko on no om mi ia an n m me el li ih ha at t h ha ar rt ta a. . D Da al la am m
I Is sl la am m s su ud da ah h b be eg gi it tu u j je el la as s c ca ar ra a p pa an nd da an ng gn ny ya a s se es su ua ai i d de en ng ga an n d de ef fi in ni is si i
f fu un ng gs si i h ha ar rt ta a y ya an ng g d di ib be er ri ik ka an n A Al ll la ah h S SW WT T d di i d da al la am m a ay ya at t A Al l Q Qu ur r a an n, ,
y ya ai it tu u s se eb ba ag ga ai i p po ok ko ok k k ke eh hi id du up pa an n. .
D Da an n j ja an ng ga an nl la ah h k ka am mu u s se er ra ah hk ka an n k ke ep pa ad da a o or ra an ng g- -o or ra an ng g y ya an ng g b be el lu um m
s se em mp pu ur rn na a a ak ka al ln ny ya a, , h ha ar rt ta a y ya an ng g d di ij ja ad di ik ka an n A Al ll la ah h s se eb ba ag ga ai i p po ok ko ok k
k ke eh hi id du up pa an n ( (Q QS S. . 4 4: :5 5) )
H Ha al l i in ni i s se ej ja al la an n d de en ng ga an n c co or ra ak k p pe er re ek ko on no om mi ia an n y ya an ng g m me em me en nt ti in ng gk ka an n
k ke eb be er rs sa am ma aa an n ( (a al lt tr ru ui is sm me e) ) d da an n k ke ey ya ak ki in na an n b ba ah hw wa a h hi id du up p h ha an ny ya al la ah h
p pe er rj ja al la an na an n s se em me en nt ta ar ra a, , s se eh hi in ng gg ga a h ha ar rt ta a s se eb ba ag ga ai i a al la at t u un nt tu uk k h hi id du up p
d di ik ko on ns su um ms si i s se ec cu uk ku up pn ny ya a s sa aj ja a. .
P Pa an nd da an ng ga an n k ko on nv ve en ns si io on na al l, , m me el li ih ha at t h ha ar rt ta a s se eb ba ag ga ai i s se eb bu ua ah h a as se et t y ya an ng g
d di ip pe er rg gu un na ak ka an n u un nt tu uk k t te er ru us s d di ip pe er rb ba an ny ya ak k b be er rd da as sa ar rk ka an n t tu uj ju ua an n
k ke ep pu ua as sa an n i in nd di iv vi id du u ( (u ut ti il li it ta ar ri ia an n i in nd di iv vi id du ua al li is sm m) ). . M Me es sk ki ip pu un n I Is sl la am m d da an n
k ko on nv ve en ns si io on na al l s sa am ma a2 2 m me en ng ga ak ku ui i h ha ak k2 2 k ke ep pe em mi il li ik ka an n t ta ap pi i n ni il la ai i2 2 m mo or ra al l
I Is sl la am ml la ah h y ya an ng g k ke em mu ud di ia an n m me em mb bu ua at t p pe en ny yi ik ka ap pa an n k ke ed du ua an ny ya a p pa ad da a h ha ar rt ta a
m me en nj ja ad di i b be er rb be ed da a. . I Is sl la am m m me em ma an nd da an ng g s se eg ga al la a a ap pa a y ya an ng g a ad da a d di i d du un ni ia a
t te er rm ma as su uk k h ha ar rt ta a h ha ak ki ik ka at tn ny ya a m mi il li ik k A Al ll la ah h S SW WT T, , s se eh hi in ng gg ga a a ap pa a y ya an ng g a ad da a
p pa ad da a m ma an nu us si ia a m me er ru up pa ak ka an n a am ma an na ah h. .
D Di is st tr ri ib bu us si i H Ha ar rt ta a
D Da al la am m e ek ko on no om mi i I Is sl la am m m me ek ka an ni is sm me e d di is st tr ri ib bu us si i h ha ar rt ta a b be er rk ka ai it ta an n e er ra at t
d de en ng ga an n n ni il la ai i m mo or ra al l I Is sl la am m s se eb ba ag ga ai i a al la at t u un nt tu uk k m me en ng gh ha an nt ta ar rk ka an n
m ma an nu us si ia a p pa ad da a k ke es se ej ja ah ht te er ra aa an n a ak kh hi ir ra at t. . B Ba ah hw wa a k ke ew wa aj ji ib ba an n h ha am mb ba a
k ke ep pa ad da a T Tu uh ha an nn ny ya a m me er ru up pa ak ka an n p pr ri io or ri it ta as s u ut ta am ma a d da ar ri i s se eg ga al la a t ti in nd da ak ka an n
m ma an nu us si ia a m me en nj ja ad di ik ka an n m me ek ka an ni is sm me e d di is st tr ri ib bu us si i k ke ek ka ay ya aa an n y ya an ng g
b be er rt tu uj ju ua an n p pa ad da a p pe em me er ra at ta aa an n m me en nj ja ad di i s sa an ng ga at t u ur rg ge en nt t d da al la am m
p pe er re ek ko on no om mi ia an n I Is sl la am m, , k ka ar re en na a d di ih ha ar ra ap pk ka an n s se et ti ia ap p m ma an nu us si ia a d da ap pa at t
m me en nj ja al la an nk ka an n k ke ew wa aj ji ib ba an nn ny ya a s se eb ba ag ga ai i h ha am mb ba a A Al ll la ah h S SW WT T t ta an np pa a h ha ar ru us s
d di ih ha al la an ng gi i o ol le eh h h ha am mb ba at ta an n y ya an ng g w wu uj ju ud d d di il lu ua ar r k ke em ma am mp pu ua an nn ny ya a. .
O Ol le eh h s se eb ba ab b i it tu ul la ah h f fu un ng gs si i u ut ta am ma a d da an n p pe er rt ta am ma a d da ar ri i n ne eg ga ar ra a a ad da al la ah h
m me em ma as st ti ik ka an n t te er rp pe en nu uh hi in ny ya a k ke eb bu ut tu uh ha an n m mi in ni im ma al l s se el lu ur ru uh h r ra ak ky ya at t n ne eg ga ar ra a
t te er rs se eb bu ut t. .
B Be er ri ik ka an nl la ah h h ha ak k k ke er ra ab ba at t, , f fa ak ki ir r m mi is sk ki in n, , d da an n o or ra an ng g y ya an ng g t te er rl la an nt ta ar r
d da al la am m p pe er rj ja al la an na an n. . Y Ya an ng g d de em mi ik ki ia an n i it tu u l le eb bi ih h b ba ai ik k b ba ag gi i m me er re ek ka a y ya an ng g
m me en nc ca ar ri i w wa aj ja ah h A Al ll la ah h d da an n m me er re ek ka al la ah h y ya an ng g a ak ka an n b be er rj ja ay ya a. . D Da an n u ua an ng g
y ya an ng g k ka al li ia an n b be er ri ik ka an n u un nt tu uk k d di ip pe er rb bu un ng ga ak ka an n s se eh hi in ng gg ga a m me en nd da ap pa at t
t ta am mb ba ah ha an n d da ar ri i h ha ar rt ta a o or ra an ng g l la ai in n, , t ti id da ak kl la ah h m me en nd da ap pa at t b bu un ng ga a d da ar ri i
A Al ll la ah h. . T Te et ta ap pi i y ya an ng g k ka al li ia an n b be er ri ik ka an n b be er ru up pa a z za ak ka at t u un nt tu uk k m me en nc ca ar ri i w wa aj ja ah h
A Al ll la ah h, , i it tu ul la ah h y ya an ng g m me en nd da ap pa at t b bu un ng ga a. . M Me er re ek ka a y ya an ng g b be er rb bu ua at t
d de em mi ik ki ia an nl la ah h y ya an ng g b be er ro ol le eh h p pa ah ha al la a y ya an ng g b be er rl li ip pa at t g ga an nd da a. . ( (A Ar r R Ru um m: :
3 38 8- -3 39 9) )
D Di is st tr ri ib bu us si i m me el la al lu ui i z za ak ka at t m me en nd do or ro on ng g p pe en ni in ng gk ka at ta an n a ag gr re eg ga at t
p pe er rm mi in nt ta aa an n d da an n m me en nj ja am mi in n p pe er re ek ko on no om mi ia an n b be er rp pu ut ta ar r p pa ad da a t ti in ng gk ka at t
m mi in ni im mu um m s se eh hi in ng gg ga a p pe er rt tu um mb bu uh ha an n e ek ko on no om mi i b bu uk ka an n s sa aj ja a a ad da a d da al la am m
k ko on nd di is si i p pe er rt tu um mb bu uh ha an n y ya an ng g s st ta ab bi il l t ta ap pi i j ju ug ga a t te er rd do or ro on ng g u un nt tu uk k t te er ru us s
m me en ni in ng gk ka at t. .


PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN


Pengertian Manajemen


A Al li i M Mu uh ha am mm ma ad d T Ta au uf fi iq q: :
M Ma an na aj je em me en n a ad da al la ah h m me en ng gi in nv ve es st ta as si ik ka an n m ma an nu us si ia a u un nt tu uk k
m me en ng ge er rj ja ak ka an n k ke eb ba ai ik ka an n, , a at ta au u m me en ng ge er rj ja ak ka an n p pe er rb bu ua at ta an n y ya an ng g
b be er rm ma an nf fa aa at t m me el la al lu ui i p pe er ra an nt ta ar ra a m ma an nu us si ia a . .


Perbedaan dengan Manajemen Konvensional


M Ma an na aj je em me en n k ko on nv ve en ns si io on na al l b be er rs si if fa at t b be eb ba as s n ni il la ai i d da an n h ha an ny ya a b be er ro or ri ie en nt ta as si i
p pa ad da a p pe en nc ca ap pa ai ia an n m ma an nf fa aa at t d du un ni ia a s se em ma at ta a
M Ma an na aj je em me en n d da al la am m I Is sl la am m b be er rs sa an nd da ar r p pa ad da a i ij jt ti ih ha ad d p pe em mi im mp pi in n d da an n
u um ma at tn ny ya a. . D De en ng ga an n c ca at ta at ta an n t ti id da ak k b bi il le eh h b be er rt te en nt ta an ng ga an n d de en ng ga an n k ko on ns se ep p
d da as sa ar r d da an n p pr ri in ns si ip p h hu uk ku um m y ya an ng g b be er rs su um mb be er r d da ar ri i A Al l Q Qu ur ra an n d da an n H Ha ad di is st t. .


Prinsip-prinsip Manajemen Islami


P Pe er ri il la ak ku u
S St tr ru uk kt tu ur r O Or rg ga an ni is sa as si i
S Si is st te em m


Perencanaan Dalam Perusahaan


D Da al la am m k ko on ns se ep p m ma an nj je em me en n I Is sl la am m d di ij je el la as sk ka an n b ba ah hw wa a s se et ti ia ap p m ma an nu us si ia a
a at ta au u o or rg ga an ni is sa as si i m me em mp pe er rh ha at ti ik ka an n a ap pa a y ya an ng g t te el la ah h d di ip pe er rb bu ua at t p pa ad da a
m ma as sa a l la al lu u u un nt tu uk k m me er re en nc ca an na ak ka an n h ha ar ri i e es so ok k. .
Q QS S A Al l H Ha as sy y a ay ya at t 1 18 8: : h ha ai i o or ra an ng g- -o or ra an ng g y ya an ng g b be er ri im ma an n, , b be er rt ta ak kw wa al la ah h
k ke ep pa ad da a A Al ll la ah h d da an n h he en nd dk kl la ah h s se et ti ia ap p d di ir ri i m me em mp pe er rh ha at ti ik ka an n a ap pa a y ya an ng g
t te el la ah h d di ip pe er rb bu ua at tn ny ya a u un nt tu uk k h ha ar ri i e es so ok k ( (a ak kh hi ir ra at t) ), , d da an n b be er rt ta ak kw wa al la ah h
k ke ep pa ad d A Al ll la ah h, , s se es su un ng gg gu uh hn ny ya a A Al ll la ah h M Ma ah ha a M Me en ng ge et ta ah hu ui i a ap pa a y ya an ng g k ka am mu u
k ke er rj ja ak ka an n . .


Pengawasan Dalam Perusahaan


P Pe en ng ga aw wa as sa an n I In nt te er rn na al l
P Pe en ng ga aw wa as ss sa an n E Ek ks st te er rn na al l


Pengorganisasian Dalam Perusahaan


H Ha ak k a at ta au u k ke eb be en na ar ra an n y ya an ng g t ti id da ak k t te er ro or rg ga an ni is si ir r d de en ng ga an n r ra ap pi i, , b bi is sa a
d di ik ka al la ah hk ka an n o ol le eh h k ke eb ba at ti il la an n y ya an ng g l le eb bi ih h t te er ro or rg ga an ni is si ir r d de en ng ga an n r ra ap pi i . . A Al li i
b bi in n A Ab bi i T Th ha al li ib b
K KO ON NT TR RA AK K B BI IS SN NI IS S M ME EN NU UR RU UT T I IS SL LA AM M
A Ak ka ad d
H Hu ub bu un ng ga an n a an nt ta ar ra a I Ij ja ab b d da an n q qa ab bu ul l s se es su ua ai i d de en ng ga an n k ke eh he en nd da ak k s sy ya ar ri ia at t
y ya an ng g m me en ne et ta ap pk ka an n a ad da an ny ya a p pe en ng ga ar ru uh h ( (a ak ki ib ba at t) ) h hu uk ku um m p pa ad da a o ob bj je ek k
p pe er ri ik ka at ta an n


P Pe er rb be ed da aa an n A Ak ka ad d/ /P Pe er rj ja an nj ji ia an n


Asas-asas Kontrak
A Al l H Hu ur rr ri iy ya ah h ( (K Ke eb be eb ba as sa an n) )
A Al l M Mu us sa aw wa ah h ( (P Pe er rs sa am ma aa an n a at ta au u K Ke es se et ta ar ra aa an n) )
A Al l A Ad da al la ah h ( (k ke ea ad di il la an n) )
A Al l R Ri id dh ha a ( (K Ke er re el la aa an n) )
A As s S Sh hi id dq q ( (K Ke ej ju uj ju ur ra an n) )
A Al l K Ki it ta ab ba ah h ( (T Te er rt tu ul li is s) )


Rukun dan Syarat Akad
I Ij ja ab b d da an n Q Qa ab bu ul l
P Pe el la ak ku u K Ko on nt tr ra ak k
O Ob by ye ek k A Ak ka ad d
A Ak ki ib ba at t H Hu uk ku um m K Ko on nt tr ra ak k


Hal-hal yang Merusak Kontrak
K Ke et te er rp pa ak ks sa aa an n
K Ke ek ke el li ir ru ua an n ( (g gh ha al la at th h) )
P Pe en ny ya am ma ar ra an n c ca ac ca at t o ob by ye ek k
T Ti id da ak k a ad da an ny ya a k ke es se ei im mb ba an ng ga an n o ob by ye ek k d da an n h ha ar rg ga a


Contoh Perjanjian dalam Operasional Perbankan Syariah


Wadiah, , t ti it ti ip pa an n m mu ur rn ni i n na as sa ab ba ah h y ya an ng g h ha ar ru us s d di ij ja ag ga a d da an n
d di ik ke em mb ba al li ik ka an n k ka ap pa an n s sa aj ja a m me en ng gh he en nd da ak ki in ny ya a. . A Ap pl li ik ka as si in ny ya a w wa ad di i a ah h i in ni i
b be en nt tu uk k p pr ro od du uk k u un nt tu uk k m me en ng gh hi im mp pu un n d da an na a d da al la am m b be en nt tu uk k g gi ir ro o. .


Mudharabah, , a ak ka ad d k ke er rj ja as sa am ma a a an nt ta ar ra a p pe em mi il li ik k d da an na a ( (s sh ha ah hi ib bu ul l m ma aa al l) )
d de en ng ga an n p pe en ng gu us sa ah ha a ( (m mu ud dh ha ar ri ib b) ) u un nt tu uk k m me el la ak ku uk ka an n s su ua at tu u u us sa ah ha a
b be er rs sa am ma a. . D Da al la am m p pe er rb ba an nk ka an n d di ig gu un na ak ka an n u un nt tu uk k m me en ne er ri im ma a s si im mp pa an na an n
n na as sa ab ba ah h d da al la am m b be en nt tu uk k t ta ab bu un ng ga an n a at ta au u d de ep po os si it to o d da an n p pe em mb bi ia ay ya aa an n. .


M Mu ur ra ab ba ah ha ah h, , d da al la am m i is st ti il la ah h f fi iq qi ih h a ad da al la ah h a ak ka ad d j ju ua al l b be el li i a at ta as s b ba ar ra an ng g
t te er rt te en nt tu u. . D Da al la am m t tr ra an ns sa ak ks si i j ju ua al l b be el li i t te er rs se eb bu ut t p pe en nj ju ua al l m me en ny ye eb bu ut tk ka an n
d de en ng ga an n j je el la as s b ba ar ra an ng g y ya an ng g d di ip pe er rj ju ua al lb be el li ik ka an n t te er rm ma as su uk k h ha ar rg ga a
p pe em mb be el li ia an n d da an n k ke eu un nt tu un ng ga an n y ya an ng g d di ia am mb bi il l. . D Da al la am m p pe er rb ba an nk ka an n a ad da al la ah h
a ak ka ad d j ju ua al l b be el li i a an nt ta ar ra a b ba an nk k s se el la ak ku u p pe en ny ye ed di ia a b ba ar ra an ng g d de en ng ga an n n na as sa ab ba ah h
y ya an ng g m me em me es sa an n u un nt tu uk k m me em mb be el li i b ba ar ra an ng g. .

AKAD

Akad Tabarru
M Me er ru up pa ak ka an n j je en ni is s a ak ka ad d d da al la am m t tr ra an ns sa ak ks si i p pe er rj ja an nj ji ia an n a an nt ta ar ra a d du ua a o or ra an ng g
a at ta au u l le eb bi ih h y ya an ng g t ti id da ak k b be er ro or ri ie en nt ta as si i p pr ro of fi it t


Akad Tijarah
M Me er ru up pa ak ka an n j je en ni is s a ak ka ad d d da al la am m t tr ra an ns sa ak ks si i p pe er rj ja an nj ji ia an n a an nt ta ar ra a d du ua a o or ra an ng g
a at ta au u l le eb bi ih h y ya an ng g b be er ro or ri ie en nt ta as si i p pr ro of fi it t. .




Sumber referensi ini dari presentasi oleh Amri Fathonah dalam acara Kuliah Informal
Sharia Economic Forum.
Demikian penulisan ini bukan bertujuan untuk komersil. Semoga dapat bermanfaat
bagi anda dalam memahami PRINSIP KONSUMSI, PRODUKSI DAN DISTRIBUSI
DALAM PERSPEKTIF ISLAM. Kurang lebihnya saya mohon maaf dan terima kasih.
Wassalammualaikum wr. wb.

PENDAHULUAN

Dalam beberapa abad sistem ekonomi konvensional telah melayani manusia dalam memenuhi
kebutuhan dan kepuasan mereka. Dalam sistem ekonomi konvensional ada berbagai macam cara
bagaimana memuaskan keinginan manusia, selama mereka memiliki kemampuan mengelola
sumber daya ekonomi.

Fenomena ini tentu membantah hasil-hasil pembangunan ekonomi yang diklaim selama ini.
Dengan demikian tak berlebihan jika disimpulkan bahwa yang terjadi adalah kekacauan ekonomi
bukan pembangunan ekonomi, karena jika yang terjadi pembangunan sepatutnya hasil
pembangunan adalah sosio-ekonomi yang tertata, dan pemenuhan kebutuhan yang merata.
Akhirnya tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata dalam beberapa abad ekonomi konvensional
mengambil alih sistem ekonomi manusia yang hanya menghasilkan manusia-manusia ekonomi
yang meterialistik, individualistik, dan konsumeristik.

Dalam prinsip ekonomi Islam yang diharuskan adalah menjadi tidak hidup bermewah-mewahan,
tidak bekerja pada pekerjaan yang dilarang, membayar zakat dan menjauhi riba, merupakan
rangkuman dari akidah, akhlak, dan syariah Islam yang menjadi rujukan dalam membangun
sistem ekonomi Islam, sebagaimana keterangan dalam ayat Al-Quran dibawah ini:

(.

-
)
Artinya: Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian kepada fakir
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang
mencari keridhaan Allah dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan sesuatu riba
(tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, tidaklah mendapat
bunga dari Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
mencapai keridhaan Allah, maka itulah yang mendapat bunga, mereka yang demikianlah yang
memperoleh pahala yang berlipat ganda. (QS. Ar Rum: 37-38)


Dalam ekonomi Islam mekanisme alokasi dan distribusi pendapatan dan kekayaan berkaitan
erat dengan nilai moral Islam sebagai alat untuk menghantarkan manusia pada kesejahteraan
duania akhirat. Bahwa kewajiban hamba kepada tuhannya merupakan prioritas utama dari segala
tindakan manusia, yang menjadikan mekanisme distribusi pendapatan dan kekayaan yang
bertujuan pada pemerataan menjadi sangat urgent dalam perekonomian Islam, karena diharapkan
setiap manusia dapat menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT tanpa harus
dihalangi oleh hambatan yang diluar kemampuannya.


Distribusi

Islam telah membolehkan adanya kepemilikan pribadi (privat property), Islam juga menentukan
bagaimna cara memilikinya dan mengizinkan individu untuk mengelola harta yang dimilikinya,
namun Islam mengatur bagaimana mengelola harta tersebut. Islam telah menggariskan bahwa di
dalam harta orang kaya terdapat hak-hak orang miskin yang harus diberikan kepadanya.
Suatu perekonomian akan dikatakan telah mencapai efisiensi optimum apabila mampu
menggunakan seluruh SDA dan SDM sehingga arus barang dan jasa dapat diproduksi dalam
jumalah yang cukup yang mana akan memicu perekonomian yang stabil dan laju pertumbuhan
ekonomi akan berjalan secara berkesinambungan. Tidak diragukan lagi bahwa kekayaan atau
pendapatan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, akan tetapi yang juga
sangat penting adalah proses distribusi harta kekayaan sebagai instrumen pemerataan ekonomi.

Kata distribusi sendiri berasal dari bahasa inggris yaitu distibute yang mena mempunyai arti
pembagian atau penyaluran. Secara terminologi distribusi berarti penyaluran, pembagian atau
pengiriman kepada beberapa orang atau tempat.

Menurut Afzalur Rahman yang dimaksud dengan distribusi adalah suatu cara di mana kekayaan
disalurkan atau dibagikan ke beberapa faktor produksi yang memberikan konstribusi kepada
individu- individu, masyarakat maupun negara.

Dalam perekonomian modern saat ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sektor distribusi
merupakan sektor yang terpenting dalam aktifitas perekonomian. Distribusi ini termasuk
distribusi pendapatan dan distribusi kekayaan, baik yang sifatnya melalui kegiatan-kegiatan
ekonomi maupun yang sifatnya sosial (yang memang distribusi jenis ini begitu kental dalam
perekonomian Islam).

Muhammad Anas Zarqa (1995) mengungkapkan ada beberapa faktor yang menjadi dasar
distribusi atau redistribusi, yaitu yang berbentuk tukar menukar (exchange), kebutuhan (need),
kekuasaan (power), sistem sosial dan nilai etika (social sistem and etichal values). Muhammad
Anas Zarqa juga melihat begitu pentingnya memelihara kelancaran distribusi ini agar tercipta
sebuah perekonomian yang dinamis, adil, dan produktif. Contoh yang sangat jelas dari urgensi
distribusi dalam Islam adalah dengan adanya mekanisme zakat dalam ekonomi. Dalam Islam
peminjaman kelancaran distribusi ini sudah disistemkan melalui prinsip-prinsip atau ketentuan-
ketentuan syariah, misalnya dengan menjalankan mekanisme zakat dan mekanisme jual-beli
yang diatur oleh syariah.

Dari persepektif lain dalam dunia usaha (ekonomi riil) kegiatan distribusi dapat juga diartikan
sebagai usaha melancarkan penyebaran sumber daya sehingga kesejahteraan dapat dengan
merata dirasakan. Artinya distribusi terjadi karena aktifitas ekonomi, seperti kegiatan jual-beli
dan dunia kerja (reward and effort). Bahkan pelaku distribusi kini telah menjadi pelaku ekonomi
dominan disamping konsumen dan produsen. Sehingga menjadi penting tentunya konsep
ekonomi Islam melihat posisi sektor ini dalam mekanisme perekonomian menggunakan
persepektif Islam.

Mekanisme harga tidak selalu bisa menjamin dipecahkannya masalah FOR WHOM secara
adil, sebab ada pihak yang semakin dirugikan dan diinjak-injak oleh pihak lain. Hal ini terkait
dengan pola kepemilikan yang terjadi di masyarakat, dimana terjadi kesenjangan pendapatan di
masyarakat yang memerlukan suatu mekanisme agar tercipta suatu keadilan, dan hal ini kurang
dapat dilakukan oleh mekanisme harga. Sebab pola mekanisme harga yang sepenuhnya
ditentukan oleh tarikan supply dan demand di pasar. Apabila hal ini sepenuhnya dilepas menurut
mekanisme harga yang terjadi maka akan dapat menyebabkan pemusatan kekayaan kepada
segelintir kelompok tertentu yang memiliki akses modal lebih besar dan merugikan kelompok
masyarakat lain yang lemah yang kurang memiliki akses modal, sehingga pemerataan kekayaan
tidak akan dapat ditemukan dan tugas negara adalah untuk memastikan tidak adanya kesenjangan
pendapatan di masyarakat.

Distribusi menjadi posisi penting dari teori ekonomi mikro Islam karena pembahasan distribusi
berkaitan bukan saja berhubungan dengan aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan aspek
politik. Maka distribusi dalam ekonomi Islam menjadi perhatian bagi akiran pemikir ekonomi
Islam dan konvensional sampai saat ini. Di lain pihak, keadaan ini berkaitan dengan visi
ekonomi Islam di tengah-tengah umat manusia yang lebih sering mengedepankan adanya
jaminan pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih baik. Distribusi harta tidak akan mempunyai
dampak yang signifikan kalau tidak ada kesadaran antara sesama manusia akan kesamaan hak
hidup.

Oleh karena itu dalam distribusi pendapatan berhubungan dengan beberapa masalah:
- Bagaimana mengatur adanya distribusi pendapatan
- Apakah distribusi pendapatan yang dilakukan harus mengarah pada pembentukan masyarakat
yang mempunyai pendapatan yang sama
- Siapa yang menjamin adanya distribusi pendapatan ini di masyarakat

Untuk menjawab masalah ini, Islam telah menganjurkan untuk mengerjakan zakat, infaq, dan
shadaqah. Kemudian baitul mal membagikan kepada orang yang membutuhkan untuk
meringankan masalah hidup orang lain dengan cara memberi bantuan langsung ataupun tidak
langsung. Islam tidak mengarahkan distribusi pendapatan yang sama rata, letak pemerataan
dalam Islam adalah keadilan atas dasar maslahah; dimana antara satu orang dengan orang yang
lain dalam kedudukan sama atau berbeda, mampu atau tidak mampu saling bisa menyantuni,
menghargai dan menghormati peran masing-masing individu sadar terhadap eksistensinya di
hadapan Allah.

Landasan Hukum Distribusi

Banyak sekali perintah yang menyuruh untuk tidak menahan harta kekayaan, dan bagi orang-
orang yang memiliki kelebihan harta untuk mendistribusikannya kepada orang yang
membutuhkan, sebagaimana diterangkan dalam al-Quran maupun al-Hadits berikut:

... :(....

)
Artinya: ..Janganlah kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara
yang batil, kesuali dengan jalan yang perdagangan yang didasari suka sama suka. (QS. an-
Nisa: 29)

.... :(.......

)
Artinya : Jika mereka menyusukan (anak-anak)-mu untukmu maja berikanlah upah kepada
mereka.(QS. ath-Thariq: 6)

:(......

)
Artinya : Ambilah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan menyucikan jiwa mereka. (QS. at-Taubah: 103)

.... :(....

)
Artinya : ..Kami telah meniggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain..(QS. az-Zukhruf : 32)

Dan salah satu dari beberapa hadits yang menerangkan pentingnya distribusi adalah sebagai
berikut:

:

(.

)
Artinya: Dari mamar ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda: barang siapa yang menimbun
barang, maka ia telah berdosa. (HR. Muslim)


(.......

)
Artinya: Dari Harits bin Wahab ia berkata saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
bersedekahlah kamu sebab akan datang suatu masa di mana seorang membawa sedekahnya,
tetapi tidak ada orang yang menerimanya..........(HR. Bukhari)

Perinsip Distribusi

Distribusi harta kekayaan merupakan masalah yang sangat urgen dalam mewujudkan
pemerataan ekonomi masyarakat. Pentingnya distribusi harta kekayaan dalam ekonomi Islam
tidak berarti tidak memperhatikan keuntungan yang di peroleh dari produksi. Maka dalam
distribusi, Islam telah membuat beberapa prinsip dasarnya, yaitu sebagai berikut:

a. Prinsip keadilan atau pemerataan

Keadilan dalam Islam merupakan prinsip pokok dalam setiap aspek kehidupan termasuk juga
dalam aspek ekonomi. Keadilan dalam distribusi ialah penilaian yang tepat terhadap faktor-
faktor produksi dan kebijaksanaan harga, agar hasilnya sesuai takaran yang wajar dan ukuran
yang tepat. Yang mana keadilan dalam distribusi berarti kebebasan yang berakhlak Islam. Sebab
kebebasan yang tidak terbatas akan mengakibatkan ketidakserasian antara pertumbuhan produksi
dengan hak-hak bagi segolongan kecil, mempertajam pertentangan antara si kaya dan si miskin
yang pada akhirnya akan menghancurkan tatana sosial.

Dalam prinsip keadilan dalam distribusi mengandung dua maksud. Pertama, kekayaan tidak
boleh dipusatkan pada sekelompok orang saja, tetapi harus menyebar kepada seluruh
masyarakat. Kedua, macam-macam faktor produksi yang bersumber dari kekayaan nasional
harus di bagi secara adil. Islam menginginkann persamaan kesempatan dalam meraih harta
kekayaan, terlepas dari tingkatan sosial, kepercayaan dan warna kulit. Di samping itu Islam tidak
mengizinkan tumbuhnya harta kekayaan yang meliputi batas-batas yang wajar. Untuk
mengetahui pertumbuhan dan pemusatan, Islam melarang pengumpulan harta kekayaan dan
memerintahkan untuk membelanjakannya demi kesejahtraan masyarakat. Islam akan mengambil
langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan sirkulasi harta kekayaan dalam
masyarakat agar tidak terpusat pada orang-orang tertentu. Islam menjamin akan tersebarnya
harta kekayaan di masyarakat dengan adanya distribusi yang adil.

b. Prinsip persaudaraan atau kasih sayang

Konsep ukhuwah islamiah yang mana menggambarkan adanya solidaritas individu dan sosial
dalam masyarakat islam, bentuk nyata dari konsep ini tercermin pada pola hubungan sesama
muslim. Rasa persaudaraan sejati yang tidak akan terpecah-belah oleh kekuatan-kekuatan
duniawi inilah yang mempersatukan individu kedalam masyarakat. Dengan ciri ini pula
peradaban manusia mencapai tingkat universalitas yang sesungguhnya, yaitu adanya saling
bersandar, saling membutuhkan yang dihayati oleh seorang muslim maupun masyarakat islam
yang akan memperkokoh solidaritas seluruh anggota masyarakat dalam aspek kehidupan yang
termasuk juga aspek ekonomi.

c. Prinsip jaminan sosial

Prinsip jaminan sosial merupakan salah satu prinsip pokok dalam distribusi harta kekayaan.
Islam menghimbau adanya jaminan sosial, ia tidak menggambarkannya sebagai prinsip semata,
melainkan menggariskan dan menentukannya dalam sistem yang sempurna seperti zakat,
sedekah, dll. Yang mana prinsip itu memuat beberapa elemen dasar, yaitu: pertama, bahwa SDA
harus dinikmati oleh semua makhluk Allah, kedua, adanya perhatian terhadap fakir miskin
terutama oleh orang yang punya uang, ketiga, kekayaan tidak boleh dinikmati dan hanya
berputar pada kalangan orang kaya saja, keempat, printah untuk berbuat baik kepada orang lain,
kelima, orang islam yang tidak punya kekayaan harus mampu dan mau menyumbangkan
tenaganya untuk kegiatan sosial, keenam, larangan berbuat baik karena ingin dipuji orang (riya),
ketujuh, jaminan sosial itu harus diberikan kepada mereka yang telah disebutkan dalam al-
Quran sebagai pihak yang berhak atas jaminan sosial itu.

Tujuan Distribusi

Distribusi sama dengan produksi dan konsumsi yang mana mempunyai tujuan, diantara tujuan-
tujuan itu adalah:

a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat

Menjamin kebutuhan dasar masyarakat merupakan faktor yang sangat penting dalam tujuan
distribusi. Moral yang paling penting dan efektif yang Allah perintahkan adalah untuk
menyebarkan kesejahteraan nasional melalui prinsip anfak al-afw.
Kata al-afw berarti kekayaan yagn melebihi kebutuhan yang tersisa setelah semua kebutuhan
terpenuhi, orang islam diperintahkan untuk memberikan hartanya sampai kebutuhan fakir miskin
terpenuhi.

b. Mengurangi ketidak-samaan pendapatan dan kekayaan dalam masyarakat

Tujuan yang kedua adalah untuk mengurangi ketidak samaan pendapatan dan kekayaan dalam
masyarakat. Apabila terjadi perbedaan ekonomi yang mencolok antara yang kaya dan miskin
akan mengakibatkan adanya sifat saling benci yang pada akhirnya melahirkan sikap permusuhan
dan perpecahan dalam masyarakat.

.....

:(......

)
Artinya: Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.
(QS. Al-Hasyr: 7)

c. Untuk mensucikan jiwa dan harta

Bagian yang ini juga sangat penting adalah untuk mensucikan jiwa dan harta orang yang
melekukan derma (amal). Sebagaimana dalam al-Quran:

:(......

)
Artinya: Ambilah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan menyucikan jiwa mereka. (QS. at-Taubah: 103)

Orang yang mampu mendistribusikan hartanya akan terhindar dari sifat kikir, dan akan
menguatkan tali persaudaraan antar sesama manusia.

d. Untuk membangun generasi yang unggul

Distribusi juga bertujuan untuk membangun generasi penerus yang unggul, khususnya dalam
bidang ekonomi, karena generasi muda merupakan penerus dalam sebuah kepemimpinan suatu
bangsa.

(....

: )
Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. (QS. An-Nisa: 9)
e. Untuk mengembangkan harta

Maksud pengembangan ini dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi spritual, berdasarkan firman
Allah dalam al-Quran (Allah hendak memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah). Kedua, sisi
ekonomi, dengan adanya distribusi harta kekayaan mak akan mendorong terciptanya
produktifitas, daya beli dalam masyarakat akan meningkat.

Kesimpulan

Dalam ekonomi Islam mekanisme alokasi dan distribusi pendapatan dan kekayaan berkaitan erat
dengan nilai moral Islam sebagai alat untuk menghantarkan manusia pada kesejahteraan duania
akhirat. Bahwa kewajiban hamba kepada tuhannya merupakan prioritas utama dari segala
tindakan manusia, yang menjadikan mekanisme distribusi pendapatan dan kekayaan yang
bertujuan pada pemerataan menjadi sangat urgent dalam perekonomian Islam, karena diharapkan
setiap manusia dapat menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT tanpa harus
dihalangi oleh hambatan yang diluar kemampuannya. Mungkin dengan begitu kesejahteraan
diantara masyarakat akan tercipta dengan baik dan kesetaraanpun akan tercapai dan dapat
ditemukan dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Sakti, Ali, Analisis Teoritis Ekonomi: Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Modern, (Jakarta:
Paradigma dan Aqsa Publishing, 2007)
Mannan, Muhammad Abdul, Teori Dan Praktek ekonomi Islam, (Yogyakarta: PT. DANA
BAHKTI PRIMA JASA, 1997)
Karim, Adiwarman, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Komtemporer, (Jakarta: Gema Insani Press,
2001)
Karim, Adiwarman, Ekonomi Makro Islam, (Jakarta: KBC, 2006)
Sudarsono, Heri, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar, (Yogyakarta: EKONISIA, cet.
kelima, 2007)
Rahman, Afzalur, Muhammad Seorang Pedagang, (Jakarta: Yayasan Swarna Bhumi, 1997)



Dengan komitmen Islam yang khas dan begitu kuat terhadap persaudaraan manusia juga keadilan
social dan ekonomi, maka ketidakadilan pendapatan dan kekayaan bertentangan dengan
semangat Islam. Ketidakadilan dalam hal itu bukannya membangun namun akan menghancurkan
rasa persaudaraan yang ingin ditumbuhkan oleh Islam. Selain itu, karena berdasarkan Al Qur`an
semua sumber daya adalah anugerah dari Allah bagi umat manusia
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu [QS Al Baqarah(2):29]
maka tidak ada alasan kekayaan sumber daya tersebut tetap terkonsentrasi pada beberapa pihak
saja. Oleh karena itu, Islam menekankan keadilan distributif dan menerapkan dalam sistem
ekonominya program untuk redistribusi pendapatan dan kekayaan sehingga setiap individu
mendapatkan jaminan standar kehidupan yang manusiawi dan terhormat. Hal inipun selaras
dengan perhatian Islam terhadap martabat manusia yang melekat dalam ajaran Islam yaitu
sebagai khalifah atau wakil Allah dimuka bumi.
Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi [QS Al Baqarah(2):30]
Masyarakat Muslim yang gagal untuk memberikan jaminan standar kehidupan yang manusiawi
tidaklah pantas mendapatkan nama `masyarakat Muslim`, sebagaimana Rasulullah menyatakan
`Bukanlah seorang Muslim yang makan hingga kenyang sementara tetangga sebelahnya
kelaparan`[1]
`Umar, khalifah kedua, dalam salah satu pidatonya menjelaskan keadilan sistem redistribusi
dalam Islam bahwa semua orang memiliki hak yang sama dalam kekayaan yang dimiliki
masyarakat, sehingga tidak seorang pun, termasuk Beliau, bisa menikmati hak yang lebih
dibandingkan orang lain. Dan seandainya `Umar hidup lebih lama maka ia akan menyaksikan hal
tersebut dimana seorang penggembala di bukit San`a sekalipun mendapat bagian
kekayaannya.[2] Khalifah `Ali diriwayatkan telah menekankan dalam perkataannya `Allah telah
mewajibkan bagi orang-orang yang kaya untuk memberi kepada orang miskin apa yang
mencukupi bagi mereka. Apabila orang miskin kelaparan atau tak memiliki pakaian, atau
mengalami masalah, maka hal ini terjadi karena orang-orang kaya telah mengambil hak mereka,
dan Allah akan membuat perhitungan akan hal tersebut dan menghukum mereka.[3]Para ahli
hukum Islam hampir seluruhnya sepakat bahwa adalah tugas dari semua anggota masyarakat
Muslim secara umum dan secara khusus orang-orang kaya diantara mereka untuk memenuhi
kebutuhan dasar orang-orang miskin. Dan Apabila orang-orang yang kaya tidak memenuhi
amanah ini, padahal mereka memiliki kemampuan untuk itu, maka pemerintah dapat bahkan
harus memaksa mereka untuk melaksanakan tanggung jawab mereka.[4]
Program Islam untuk redistribusi kekayaan terdiri dari tiga bagian. Pertama, sebagaimana
dibahas sebelumnya, ajaran Islam mengarahkan untuk memberikan pembelajaran atau
pemberdayaan kepada para penganggur untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa memberi
penghidupan bagi mereka, serta untuk memberikan upah yang adil bagi orang-orang yang sudah
bekerja. Kedua, ajaran Islam menekankan pembayaran zakat untuk redistribusi pendapatan dari
orang kaya kepada orang miskin[5] yang karena ketidakmampuan atau cacat (secara fisik atau
mental, atau faktor eksternal yang diluar kemampuan mereka, misalnya pengangguran), tak
mampu untuk memperoleh kehidupan standar yang terhormat dengan tangan mereka sendiri.
Dengan redistribusi ini maka akan tercapai kondisi sebagaimana disebutkan oleh Al Qur`an
supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. [Q Al
Hasyr(59):7]
Ketiga, pembagian harta warisan dari orang yang telah meninggal kepada beberapa orang sesuai
aturan Islam sehingga menguatkankan dan mempercepat distribusi kekayaan dalam masyarakat.
Konsep Islam tentang keadilan distribusi pendapatan dan kekayaan, juga konsep keadilan
ekonomi tidak mengharuskan semua orang mendapat upah dalam jumlah yang sama tanpa
memperdulikan kontribusinya bagi masyarakat. Islam mentoleransi adanya perbedaan dalam
pendapatan karena setiap orang tidak memiliki karakter, kemampuan dan pelayanan kepada
masyarakat yang sama.
Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia menginggikan
sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa
yang diberikan-Nya kepadamu. [QS Al An`aam(6):165]
Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki [QS An
Nahl(16):165]
Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan
Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar
sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhhanmu lebih
baik dari apa yang mereka kumpulkan. [QS Az Zukhruf(43):32]
Oleh karena itu, keadilan distributif dalam masyarakat Islami membolehkan adanya perbedaan
dalam pendapatan yang sesuai dengan nilai kontribusi atau layanan yang diberikan dimana setiap
individu memperoleh pendapatan sesuai dengan nilai social dari layanan yang ia berikan kepada
masyarakat. Namun perlu dicatat bahwa jaminan terhadap standar hidup yang manusiawi bagi
semua anggota masyarakat melalui pengaturan zakat.
Penekanan ajaran Islam terhadap keadilan distributif begitu tegas sehingga telah ada sebagian
Muslim yang meyakini konsep persamaan kekayaan secara absolut. Abu Dzar, seorang sahabat
Rasulullah, berpendapat bahwa tidak halal bagi seorang Muslim untuk memiliki kekayaan
melebihi kebutuhan dasar keluarganya. Namun, kebanyakan sahabat Rasulullah tidak sepakat
dengan pandangan ekstrimnya ini bahkan mencoba untuk membujuk Abu Dzar untuk merubah
pandangannya.[6] Namun Abu Dzar sekalipun tidak memihak kepada konsep nilai penghasilan
yang sama namun Beliau berpendapat tentang kesamaan akumulasi kekayaan. Tentang itu, Abu
Dzar pun menegaskan bahwa kesamaan akumulasi kekayaan bisa diraih bila semua kelebihan
pendapatan atas kebutuhan mendasar (al-`afwa) dikeluarkan oleh orang tersebut untuk menolong
nasib saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Meskipun Islam sangat menekankan
pentingnya keadilan distributif, namun para ulama Islam sepakat bahwa bila seorang Muslim
meraih kekayaannya dengan cara yang benar, dan dari pendapatan dan kekayaannya itu ia telah
memenuhi kewajibannya berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dengan membayar zakat
dan kontribusi lainnya, maka tidak masalah meskipun ia memiliki kekayaan melebihi saudara
Muslim lainnya.[7] Pada kenyataannya, apabila ajaran Islam mengenai halal dan haram dalam
memperoleh kekayaan diikuti, prinsip keadilan bagi pekerja dan konsumen diterapkan,
pengawasan terhadap redistribusi pendapatan dan kekayaan serta hukum Islam tentang harta
waris ditegakkan, maka tidak akan terdapat ketidakadilan dalam pendapatan dan kekayaan dalam
masyarakat Muslim.

[1] Bukhari, h.52:112
[2] Haykal, al-Faaruq `Umar, Kairo
[3] Abu Ubayd, Kitab al-amwaal, Kair0, 1353 A.D., h.595: 1909; untuk kutipan dengan kalimat
sedikit berbeda, lihat Nahj al-Balaaghah, Kairo n.d, v.3, h.231.
[4] Untuk penjelasan lebih detail, lihat Siddiqi, Islam ka Nazariyya-e Milkiiyat, Lahore, 1968,
h.272-279.
[5] Rasulullah ketika menugaskan Muadz sebagai Gubernur Yaman, memberinya sederetan
tugas. Salah satunya adalah `untuk mengajarkan masyarakat bahwa Allah telah mewajibkan
mereka untuk membayar zakat yang dikumpulkan dari orang kaya dan didistribusikan kepada
orang miskin dikalangan mereka`. ( Bukhari, v.2, h.124; Tirmidzi, v.3, h.21: 625, dan Nasaa`I,
v.5, h.3 dan 41).
[6] Lihat tafsir QS At Taubah(9) ayat 43 dalam Tafsir Ibn Katsir, v.2, h.352, dan Jassas, Ahkaam
al-Qur`an, Kairo, 1957, v.3, h.130.
[7] Lihat tafsir Ibnu Katsir, v.2, h.350-353.

*Bagian dari Buku `Objectives of the Islamic Economic Order` oleh Dr.M.U Chapra. Bagian
berjudul `Equitable distribution of Income`. Alih bahasa oleh MIDORI-ISC.


NILAI DAN MORAL DALAM DISTRIBUSI

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Matakuliah ETIKA BISNIS ISLAM

Dosen Pengampu :
Ali Samsuri, M.EI



Disusun oleh:

Amaliyah Dewi. P 931307509

JURUSAN SYARIAH PRODI EKONOMI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2011


NILAI DAN MORAL DALAM DISTRIBUSI
PENDAHULUAN
Islam sebagai sistem hidup (way of life) dan merupakan agama yang universal sebab memuat
segala aspek kehidupan baik yang terkait dengan aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya.
Seiring dengan maju pesatnya kajian tentang ekonomi islam dengan menggunakan pendekatan
filsafat dan sebagainya mendorong kepada terbentuknya suatu ilmu ekonomi berbasis keislaman
yang terfokus untuk mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai
Islam.
Adapun bidang kajian yang terpenting dalam perekonomian adalah bidang distribusi.
Distribusi menjadi posisi penting dari teori ekonomi mikro baik dalam sistem ekonomi Islam,
sosialis maupun kapitalis sebab pembahasan dalam bidang distribusi ini tidak hanya berkaitan
dengan aspek ekonomi belaka tetapi juga aspek sosial dan politik sehingga menjadi perhatian
bagi aliran pemikir ekonomi Islam dan konvensional sampai saat ini[1].
Distribusi dalam ekonomi kapitalis terfokus pada pasca produksi, yaitu pada konsekuensi
proses produksi bagi setiap proyek dalam bentuk uang ataupun nilai, lalu hasil tersebut
didistribusikan pada komponen-komponen produksi yang berandil dalam memproduksinya, yaitu
empat komponen berikut ini:
1. Upah. Upah (wages) bagi para pekerja, dan seringkali dalam hal upah, para pekerja diperalat
desakan kebutuhannya dan diberi dibawah standar.
2. Bunga. Bunga sebagai imbalan dari uang modal (interest on capital) yang diharuskan pada
pemilik proyek.
3. Ongkos. Ongkos (cost) untuk sewa tanah yang dipakai proyek
4. Keuntungan. Keuntungan (profit) bagi pengelola yang menjalankan praktek pengelolaan proyek
dan manajemen proyek, dan ia bertanggung jawab sepenuhnya.
Akibat dari perbedaan komposisi andil dalam produksi yang dimiliki oleh masing-masing
individu, berbeda-beda pula pendapatan yang di dapat oleh masing-masing individu.
Sedangkan dalam ekonomi sosialis, produksi berada dalam kekuasaan pemerintah dan
mengikuti perencanaan pusat. Semua sumber produksi adalah milik negara. Semua pekerja
berada dalam kekuasaan dan rezim negara. Prinsip dalam distribusi (pembagian) pendapatan
adalah sesuai apa yang ditetapkan oleh rakyat yang di wakili oleh negara dan tidak ditentukan
oleh pasar. Negara adalah yang merencanakan produksi nasional. Negara pula yang meletakkan

[1] Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam (Suatu Pengantar), (Yogyakarta: Ekonisia UII,
2004), hlm. 234
kebijakan umum distribusi dengan segala macamnya baik berupa upah, gaji, bunga, maupun
ongkos sewa. Kaum sosialis mengecam masyarakat kapitalis karena didalam masyarakat
kapitalis kekayaan dan kemewahan hanya dikuasai oleh sekelompok orang.
Ekonomi islam terbebas dari kedua kedzaliman kapitalisme dan sosialisme. Islam
membangun filosofi dan sistemnya diatas pilar-pilar yang lain, yang menekan pada distribusi pra
produksi, yaitu pada distribusi sumber-sumber produksi, ditangan siapa kepemilikannya? Apa
hak-hak dan kewajiban kepemilikan ini. Distribusi dalam ekonomi islam didasarkan pada dua
nilai manusiawi yang sangat mendasar dan penting yaitu, nilai kebebasan dan nilai keadilan.
Masing-masing dari kedua nilai ini akan kami bahas secara detail dalam pembahasan berikut.
PEMBAHASAN
A. Makna Distribusi dan Urgensinya
Distribusi adalah penyebaran atau perputaran ekonomi, dalam skala negara seringkali
diterjemahkan menjadi pemeratan kesejahteraan warga negara.
Adapun makna distribusi dalam ekonomi islam sangatlah luas, yaitu mencakup pengaturan
kepemilikan unsur-unsur produksi dan sumber-sumber kekayaan. Dimana islam
memperbolehkan kepemilikan umum dan kepemilikan khusus, dan meletakkan masing-
masingnya kaidah-kaidah untuk mendapatkan dan mempergunakannya, dan kaidah-kaidah untuk
warisan, hibah dan wasiat.
Karena memperhatikan bahayanya pendistribusian harta yang bukan pada haknya dan
terjadinya penyelewengan dalam distribusi, maka islam mengutamakan tema distribusi dengan
perhatian besar yang nampak dalam beberapa fenomena, dimana yang terpenting adalah sebagai
berikut :
1. Banyaknya nash Al Quran dan hadist Nabawi yang mencakup tema distribusi dengan
menjelaskan sistem manajemennya, himbauan komitmen dan cara-caranya yang terbaik dan
memperingatkan penyimpangan dari sistem yang benar.
2. Syariat islam tidak hanya menetapkan prinsip-prinsip umum bagi distribusi dan pengembalian
distribusi, namun juga merincikan dengan jelas dan lugas cara pendistribusian harta dan sumber-
sumbernya.
3. Banyak dan komperhensifnya sistem dan cara distribusi yang ditegakkan dalam islam, baik
dengan cara pengharusan (wajib) maupun yang secara suka rela (sunnah)
4. Al Quran menyebutkan secara tekstual dan eksplisit tentang tujuan peringatan perbedaan di
dalam kekayaan, dan mengantisipasi pemusatan harta dalam kalangan minoritas.

B. Nilai dan Moral Dalam Distribusi
Sistem ekonomi yang berbasis Islam menghendaki bahwa dalam hal pendistribusian
harus berdasarkan pada dua nilai, yaitu nilai kebebasan dan nilai keadilan.
1. Nilai Kebebasan.
Nilai pertama dalam bidang distribusi adalah nilai kebebasan. Kebebasan disini adalah
kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-nilai agama. Hal ini berdasarkan pada dua
hal persoalan. Pertama, keimanannya kepada Allah dan Mentauhidkan-Nya, kedua, keyakinan-
Nya kepada manusia
Pertama: keimanannya kepada Allah dan mentauhidkan-Nya
Esensi iman kepada Allah dalam islam adalah tauhid. Aqidah dan prinsip-prinsipnya
tersimpul dalam laa ilaaha illallah. Sesungguhnya hakikat tauhid adalah mengesakan Allah
dalam beribadah dan memohon pertolongan. Beribadah kepada Allah berarti mentaati perintah-
Nya, mengikuti hukum-Nya dan tunduk pada kekuasaan dan syarah-Nya. Tauhid ini tidak ada
jika manusia masih menjadikan selain Allah sebagai Tuhan, mengambil selain Allah sebagai
penolong. Kemudian islam datang untuk membebaskan manusia dari setiap penyembahan
kepada selain Allah. Ia datang dengan mengemukakan bahwa semua manusia adalah sama rata.
Dengan demikian tidak boleh satu sama lain saling menzalimi dan saling menindas.
Kedua: keyakinan-Nya kepada manusia
Sistem islam telah mengakui kebebasan karena islam percaya kepada Allah dan juga
percaya kepada manusia, percaya dengan fitrahnya yang telah Allah ciptakan padanya, dan
mempercayai kemuliaan dan kemampuannya yang membuatnya berhak untuk menjadi khalifah
di bumi. Allah telah menciptakan manusia dan mempersiapkannya dengan kekuatan material dan
spiritual yang memadai untuk mengemban kewenangan khilafah ini dan untuk memakmurkan
bumi.
2. Nilai Keadilan
Keadilan adalah lawan dari dholim yaitu meletakan sesuatu bukan pada tempatnya jadi
keadilan itu meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Keadilan tidak seperti pemahaman
kaum kapitalis yang menyatakannya sebagai tindakan membebaskan manusia untuk berbuat dan
bertindak tanpa campur tangan pihak mana pun, tetapi sebagai keseimbangan antara individu
dengan unsur materi dan spiritual yang dimilikinya, keseimbangan antara individu dan
masyarakat serta antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Keberadilan dalam
pendistribusian ini tercermin dari larangan dalam Al-Quran agar supaya harta kekayaan tidak
diperbolehkan menjadi barang dagangan yang hanya beredar diantara orang-orang kaya saja,
akan tetapi diharapkan dapat memberi kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat sebagai suatu
keseluruhan.[2]
Nilai keadilan distribusi dalam ekonomi islam itu tercermin dalam beberapa aspek antara lain:
1. Perbedaan pendapatan.
Ketidak samaan yang adil ini tidak diragukan lagi akan mengakibatkan perbedaan dalam
pendapatan. Ia merupakan aksioma yang telah diungkapkan oleh Al-Quran dalam sejumlah ayat
seperti firman-Nya: Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal
rizqi (An-Nahl:71). Mungkin ayat yang paling mudah dapat diterima oleh akal disini adalah
firman-Nya: kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain (Az-Zukhruf: 32). Suatu hal
yang bisa di catat disini, bahwa pelebihan ini bukan berarti tidak memberikan kepada sebagian
orang sama sekali, dan memberikan segala sesuatu kepada orang yang lain. Sesungguhnya
pelebihan in seperti telah diketahui adalah ke ikut sertaan dua orang dalam satu hal. Kemudian
tidaklah mengapa jika ada kelebihan salah satu dari keduanya dalam hal tersebut, selama dasar
pelebihan ini adalah apa yang telah kami sebutkan diatas yaitu ilmu, kerja dan penunaian tugas
secara baik. Bukan sembarang pelebihan seperti persepsi orang-orang bodoh selama ini. Ia
berdasarkan pada sunnatullah (hukum Allah) pada alam dan syarah-Nya.
2. Pemerataan Kesempatan. Semua anggota masyarakat harus sama dalam mendapatkan hak untuk
hidup, memiliki, belajar, bekerja, berobat, kelayakan hidup dan jaminan keamanan dari bencana
alam. Karena hal ini merupakan hak-hak kemanusiaan yang berhak mereka peroleh, sebagai
manusia semata-mata dan bukan sebagai anak-anak kelas khusus atau keluarga tertentu, juga
bukan sebagai individu-individu yang memiliki keahlian kusus. Selama semua orang sama
dalam arti kemanusiaan,maka pembedaan antara satu individu dengan individu yang lain atau

[2] Zainuddin Ahmad, Al-Quran: Kemiskinan dan Pemerataan Pendapatan, (Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 7
satu kelompok dengan kelompok yang lain adalah suatu kedzaliman yang tidak beralasan sama
sekali karena hal itu berarti pemberian antara dua pihak yang sama dalam semua segi.
3. Memenuhi hak para pekerja. Diantara nilai-nilai yang dituntut disini adalah memenuhi hak
pekerja atau buruh. Tidak boleh dalam keadilan islam seorang buruh mencurahkan jerih payah
dan keringatnya sementara ia tidak mendapatkan upah atau gajinya,dikurangi atau di tunda-
tunda. Dalam perihal penjualan jika mereka telah menyerahkan barang maka mereka mengambil
harganya pada saat penyerahan barang.seorang buruh yang telah menunaikan pekerjaannya ialah
lebih berhak dan lebih pantas mendapatkan upahnya dengan segera karena upahnya adalah harga
kerjannya bukan harga barang dagangannya.
4. Takaful (kesetiakawanan sosial yang m enyeluruh). Hal ini dapat terlaksana melalui jaminan
sosial bagi kaum lemah dan tidak mampu,tingkat pemenuhan kebutuhan yang cukup, sumber-
sumber dana dan jaminan sosial.
Keadilan tidak selalu berarti persamaan
Keadilan adalah tawazun (keseimbangan) antara berbagai potensi individu baik moral
ataupun material. Ia adlah tawazun antara individu dan komunitas (masyarakat). Kemudian
antara satu komunitas dengan komunitas yang lain dan tidak ada jalan menuju tawazun ini
kecuali dengan berhukum kepada syaiah Allah. Keadilan tidak berarti kesamaan secara mutlak
karena menyamakan antara dua hal yang berbeda seperti membedakan antara dua hal yang sama.
Kedua tindakan ini tidak bisa dikatakan keadilan sama sekali, apalagi persamaan secara mutlak
adalah suatu hal yang mustahil karena bertentangan dengan tabiat manusia dan tabiat segala
sesuatu.
Keadilan adalah menyamakan dua hal yang sama sesuai batas-batas persamaan dan
kemiripan kondisi antar keduanya. Atau membedakan antara dua hal yang berbeda sesuai batas-
batas perbedaan dan keterpautan kondisi antar keduanya.
Ustadz Abbas Al-Aqqad berkata, persamaan yang ideal adalah keadilan yang tidak ada
kezaliman terhadap seorang pun di dalamnya. Oleh karena itu para pakar definisi bahasa tidak
dapat menjadikan persamaan yang ideal sebagai suatu persamaan dalam kewajiban karena
persamaan dalam kewajiban dengan adanya perbedaan kemampuan untuk melaksanakannya
adalah suatu kezaliman yang buruk
mereka juga tidak dapat menjadikan keadilan sebagai suatu persamaan dalam hak, karena
persamaan dalam hak dengan adanya perbedaan dalam kewajiban adalah kezaliman yang lebih
buruk, ia merupakan perampasan yang tidak dapat diterima oleh akal dan sangat
membahayakan kepentingan umum sebagaimana membahayakan kepentingan tiap individu yang
memiliki berbagai hak dan kewajiban
Jadi yang benar adalah persamaan dalam kesempatan dan sarana. Oleh sebab itu, tidak boleh
ada seorang pun yang tidak mendapatkan kesempatannya untuk mengembangkan kemampuan
yang memungkinkannya untuk melaksanakan salah satu kewajibannya. Juga tidak boleh ada
seorangpun yang tidak mendapatkan sarananya yang akan dipergunakan untuk mencapai
kesempatan tersebut.
Keadilan dalam islam adalah fondasi
Sesungguhnya pilar penyangga kebebasan ekonomi yang berdiri diatas pemuliaan fitrah
dan harkat manusia disempurnakan dan ditentukan oleh pilar penyangga yang lain yaitu
keadilan. Keadilan dalam islam bukanlah prinsip yang sekunder. Ia adalah cikal bakal dan
fondasi kokoh yang memasuki semua ajaran dan hukum islam berupa aqidah, syarah dan akhlak
(moral).
Allah mengutus para rasul agar manusia menegakkan keadilan, oleh sebab itu manusia
berkewajiban menegakkan keadilan atas diri mereka sendiri, sedangkan para rasul-dengan kitab
yang diturunkan Allah kepada mereka-tidak ada kewajiban atas mereka kecuali menjelaskan
rambu-rambu kebenaran dan keadilan, menghilangkan ketidak jelasan dan kesalah pahaman.[3]
Beberapa aturan dalam ekonomi islam terkait dengan kebebasan dan keadilan adalah sebagai
berikut :
1. Segala sesuatunya adalah milik Allah, manusia diberi hak untuk memanfaatkan segala sesuatu
yang ada di muka bumi ini sebagai khalifah atau pengemban amanat Allah, untuk mengambil
keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya dari barang-barang
ciptaan Allah.
2. Allah telah menetapkan batas-batas tertentu terhadap prilaku manusia sehingga menguntungkan
individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya.
3. Semua manusia tergantung pada Allah, sehingga setiap orang bertanggung jawab atas
pengembangan masyarakat dan atas lenyapnya kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

[3] Yusuf Qardhawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, (Jakarta Robbani Press
, 2004) 347- 417
4. Status kekalifahan berlaku umum untuk setiap manusia, namun tidak berarti selalu punya hak
yang sama dalam mendapatkan keuntungan. Kesamaan hanya dalam kesempatan, dan setiap
individu dapat menikmati keuntungan itu sesuai dengan kemampuannya.
5. Individu-individu memiliki kesamaan dalam harga dirinya sebagai manusia. Hak dan kewajiban
ekonomi individu disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dan dengan
peranan-peranan normatif masing-masing dalam struktur sosial.
6. Dalam Islam, bekerja dinilai sebagai kebaikan dan kemalasan dinilai sebagai kejahatan. Ibadah
yang paling baik adalah bekerja dan pada saat yang sama bekerja merupakan hak dan sekaligus
kewajiban.
7. Kehidupan adalah proses dinamis menuju peningkatan. Allah menyukai orang yang bila dia
mengerjakan sesuatu melakukannya dengan cara yang sangat baik.
8. Jangan membikin mudarat dan jangan ada mudarat.
9. Suatu kebaikan dalam peringkat kecil secara jelas dirumuskan. Setiap muslim dihimbau oleh
sistem etika (akhlak) Islam untuk bergerak melampaui peringkat minim dalam beramal saleh.[4]
KESIMPULAN
1. Distribusi adalah penyebaran atau perputaran ekonomi, dalam skala negara seringkali
diterjemahkan menjadi pemeratan kesejahteraan warga negara yang mencakup pengaturan
kepemilikan unsur-unsur produksi dan sumber-sumber kekayaan.
2. Sistem ekonomi yang berbasis Islam menghendaki bahwa dalam hal pendistribusian harus
berdasarkan pada dua nilai, yaitu nilai kebebasan dan nilai keadilan.
3. Nilai Kebebasan. Kebebasan disini adalah kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-
nilai agama. Hal ini berdasarkan pada dua hal persoalan. Pertama, keimanannya kepada Allah
dan Mentauhidkan-Nya, kedua, keyakinan-Nya kepada manusia.
4. Nilai Keadilan. Keadilan adalah lawan dari dholim yaitu meletakan sesuatu bukan pada
tempatnya jadi keadilan itu meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
5. Nilai keadilan distribusi dalam ekonomi islam itu tercermin dalam beberapa aspek antara lain:
perbedaan pendapatan, pemerataan kesempatan, pemenuhan hak pekerja, takaful
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Zainuddin. Al-Quran: Kemiskinan dan Pemerataan Pendapatan. Yogyakarta: Dana Bhakti
Prima Yasa, 1998

[4] http://www.prinsip-prinsipekonomiislam.com, diakses tgl 23 november 2011
Http://www.prinsip-prinsipekonomiislam.com
Qardhawi,Yusuf. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Jakarta Robbani Press, 2004
Sudarsono, Heri. Konsep Ekonomi Islam (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Ekonisia UII, 2004




Distribusi Dalam Ekonomi Islam (Sebuah Kritik Terhadap Ekonomi Kapitalis)
oleh : Muhammad Sofyan KS. SE
MSI-UII.Net - 4/3/2008
Penulis adalah Mahasiswa MSI UII Konsentrasi Ekonomi Islam

A. Pendahuluan

Islam sebagai system hidup (way of life) dan merupakan agama yang universal sebab memuat
segala aspek kehidupan baik yang terkait dengan aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya.
Seiring dengan maju pesatnya kajian tentang ekonomi islam dengan menggunakan pendekatan
filsafat dan sebagainya mendorong kepada terbentuknya suatu ilmu ekonomi berbasis keislaman
yang terfokus untuk mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai
Islam.

Adapun bidang kajian yang terpenting dalam perekonomian adalah bidang distribusi. Distribusi
menjadi posisi penting dari teori ekonomi mikro baik dalam system ekonomi Islam maupun
kapitalis sebab pembahasan dalam bidang distribusi ini tidak hanya berkaitan dengan aspek
ekonomi belaka tetapi juga aspek social dan politik sehingga menjadi perhatian bagi aliran
pemikir ekonomi Islam dan konvensional sampai saat ini.[1]

Pada saat ini realita yang nampak adalah telah terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam
pendistribusian pendapatan dan kekayaan baik di negara maju maupun di negara-negara
berkembang yang memepergunakan system kapitalis sebagai system ekonomi negaranya,
sehingga menciptakan kemiskinan dimana-mana. Menanggapi kenyataan tersebut islam sebagai
agama yang universal diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan sekaligus
menjadi sistem perekonomian suatu negara. Dalam makalah ini memfokuskan pembahasan pada
bagaimana gambaran singkat dari system ekonomi kapitalis dan islam serta konsep dari masing-
masing tentang distribusi (distribusi Pendapatan dan kekayaan)? Dengan mempergunakan
pendekatan filsafat ekonomi islam agar mendapat gambaran yang jelas tentang keunggulan
system ekonomi islam.

B. Pembahasan
Kapitalisme tumbuh dan berkembang dari Inggris pada abad ke-18, kemudian menyebar ke
Eropa Barat dan Amerika Utara sebagai akibat dari perlawanan terhadap ajaran gereja yang pada
akhirnya aliran ini merambah ke segala bidang termasuk bidang ekonomi. Dasar filosofis
pemikiran ekonomi Kapitalis bersumber dari tulisan Adam Smith pada tahun 1776 dalam
bukunya yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Pada
dasarnya isi buku tersebut sarat dengan pemikiran-pemikiran tingkah laku ekonomi masyarakat.
Dari dasar filosofi tersebut kemudian menjadi sistem ekonomi dan pada akhirnya mengakar
menjadi ideologi yang mencerminkan suatu gaya hidup (way of life).[2]

Landasan atau system nilai (value based) yang membentuk kapitalisme adalah sekulerisme dan
materialisme, yang mana sekulerisme berusaha untuk memisakan ilmu pengetahuan dari agama
dan bahkan mengabaikan dimensi normatif atau moral yang berdampak kepada hilangnya
kesakralan koektif (yang diperankan oleh agama) yang dapat digunakan untuk menjamin
penerimaan keputusan ekonomi social. Sedangkan paham materialisme cendrung mendorong
orang untuk memiliki pemahaman yang parsial tentang kehidupan dengan menganggap materi
adalah segalahnya baginya.[3]

System ekonomi yang berkembang dikalangan kaum kapitalis adalah implementasi dari nilai-
nilai sekularisme yang mendasari ideology mereka. Sekularisme merupakan asas ideologi ini,
sekaligus menjadi kaidah berpikir dan kepemimpinan berpikir. Demi keutuhan dan kelanjutan
sekularisme, maka dalam ideologi kapitalisme harus menjamin dan mempertahankan kebebasan
individu, yaitu kebebasan beraqidah, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan dan
kebebasan perilaku. Di bawah nilai-nilai kebebasan kepemilikan inilah, dibangun pemikiran
cabang sistem ekonomi kapitalis, artinya kapitalisme telah memandang bahwasanya manusia
hidup di dunia ini bebas untuk mengatur kehidupannya dan tidak boleh dicampuri oleh agama.
Agama hanya boleh hidup di gereja atau di masjid-masjid saja[4]

Dengan demikian, segala aturan kehidupan masyarakat, termasuk di bidang ekonomi, tidaklah
diambil dari agama tetapi sepenuhnya diserahkan kepada manusia, apa yang dipandang
memberikan manfaat. Dengan azas manfaat (nafiyyah) ini, yang baik adalah yang memberikan
kemanfaatan material sebesar-besarnya kepada manusia dan yang buruk adalah yang sebaliknya.
Sehingga kebahagiaan di dunia ini tidak lain adalah terpenuhinya segala kebutuhan yang bersifat
materi, baik itu materi yang dapat diindera dan dirasakan (barang) maupun yang tidak dapat
diindera tetapi dapat dirasakan (jasa).

Berkaitan dengan masalah distribusi, system kapitalisme menggunakan asas bahwa penyelesaian
kemiskinan dan kekurangan dalam suatu negara dengan cara meningkatkan produksi dalam
negeri dan memberikan kebebasan bagi penduduk untuk mengambil hasil produksi (kekayaan)
sebanyak yang mereka produksi untuk negara. Dengan terpecahkannya kemiskinan dalam negeri,
maka terpecah pula masalah kemiskinan individu sebab perhatian mereka pada produksi yang
dapat memecah masalah kemiskinan pada mereka. Maka solusi yang terbaik untuk
menyelesaikan permasalahan masyarakat adalah dengan meningkatkan produksi.[5]

Dengan demikian ekonomi hanya difokuskan pada penyediaan alat yang memuaskan kebutuhan
masyarakat secara makro dengan cara menaikkan tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan
nasional (national income), sebab dengan banyaknya pendapatan nasional maka seketika itu
terjadilah pendistribusian pendapatan dengan cara membertikan kebebasan memiliki dan
kebebasan berusaha bagi semua individu masyarakat sehingga setiap individu dibiarkan bebas
memperoleh kekayaan sejumlah yang dia mampu sesuai dengan faktor-faktor produksi yang
dimilikinya dan memberikan kekayaannya kepada para ahli waris secara mutlak apabila mereka
meninggal dunia.

Asas distribusi yang diterapkan oleh sistem kapitalis ini pada akhirnya berdampak pada realita
bahwa yang menjadi penguasa sebenarnya adalah para kapitalis (pemilik modal dan
konglomerat), oleh karena itu hal yang wajar kalau kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah selalu berpihak kepada para pemilik modal atau konglomerat dan selalu
mengorbankan kepentingan rakyat sehingga terjadilah ketimpangan (ketidakadilan)
pendistribusian pendapatan dan kakayaan.

Berbeda dengan ilmu ekonomi kapitalis, ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan
sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam.
Dr. Muhammad bin Abdullah al-Arabi mendefinisikan ekonomi islam sebagai kumpulan prinsip-
prinsip umum tentang ekonomi yang kita ambil dari al-quran, sunnah dan pondasi ekonomi
yang kita bangun atas dasar pokok-pokok itu dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan
waktu.[6]Jadi sangat jelas bahwa ekonomi islam terkait dan mempunya hubungan yang erat
dengan agama yang membedakannya dari sistem ekonomi kapitalis.

Ilmu ekonomi islam berkembang secara bertahap sebagai suatu bidang ilmu interdisipliner yang
menjadi bahan kajian para fuqaha, mufassir, sosiolog dan politikus, diantaranya Abu Yusuf,
Yahya bin Umar, Ibnu Khaldun dan lainnya. Konsep ekonomi para cendikiawan muslim
tersebutberakar pada hukum islam yang bersumber dari al-quran dan hadits sehingga ia sebagai
hasil interpretasi dari berbagai ajaran islam yang bersifat abadi dan universal, mengandung
sejumlah perintah serta mendorong umatnya untuk mempergunakan kekuatan akal pikirannya.[7]

Islam memandang pemahaman bahwa materi adalah segalahnya bagi kehidupan sebagaimana
menurut kaum kapitalisme adalah merupakan pemahaman yang salah, sebab manusia selain
memiliki dimensi material juga memiliki dimensi non material (spiritual). Dalam realitanya
tampak sekali bahwa paham materialisme membawa kehidupan manusia kepada kekayaan,
kesenangan dan kenikmatan fisik belaka dengan mengabaikan dimensi non materi.

Dalam ekonomi yang berbasis islam kedua dimensi tersebut (material dan non material) terkaper
didalamnya sebagaimana tercermin dari nilai dasar (value based) yang dimilikinya, yaitu
ketuhidan, keseimbangan, kebebasan kehendak dan betanggung jawab (menurut syed Nawab
Heidar Naqvy).[8] Ketauhidan berfungsi untuk membedakan sang khaliq dan makhluknya yang
diikuti dengan penyerahan tanpa syarat oleh setiap makhluk terhadap kehendak-Nya serta
memberikan suatu perspektif yang pasti yang menjamin proses pencarian kebenaran oleh
manusia yang pasti tercapai sepanjang menggunakan petunjuk Allah. Keseimbangan merupakan
dimensi horisontal dari islam yang dalam perspektif yang lebih praktis meliputi keseimbangan
jasmani-ruhani, material-non material, individu dan social. Sedangkan yang dimaksud dengan
kebebasan kehendak disini adalah kebebasan yang dibingkai dengan tauhid, artinya manusia
bebas tidak sebebas-bebasnya tetapi terikat dengan batasan-batasan yang diberikan oleh Allah.
Dan tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari adanya kebebasan yang tidak hanya
mencakup seluruh perbuatan di dunia dan akhirat saja tetapi juga terhadap lingkungan di
sekitarnya.[9]

Berkenaan dengan teori distribusi, dalam ekonomi kapitalis dilakukan dengan cara memberikan
kebebasan memiliki dan kebebasan berusaha bagi semua individu masyarakat, sehingga setiap
individu masyarakat bebas memperoleh kekayaan sejumlah yang ia mampu dan sesuai dengan
factor produksi yang dimilikinya dengan tidak memperhatikan apakah pendistribusian tersebut
merata dirasakan oleh semua individu masyarakat atau hanya bagi sebagian saja.[10] Teori yang
diterapkan oleh system kapitalis ini adalah salah dan dalam pandangan ekonomi islam adalah
dzalim sebab apabila teori tersebut diterapkan maka berimplikasi pada penumpukan kekayaan
pada sebagian pihak dan ketidakmampuan di pihak yang lain.

System ekonomi yang berbasis Islam menghandaki bahwa dalam hal pendistribusian harus
berdasarkan dua sendi, yaitu sendi kebebasan dan keadilan kepemilikan.[11] Kebebasan disini
adalah kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-nilai agama dan keadilan tidak
seperti pemahaman kaum kapitalis yang menyatakannya sebagai tindakan membebaskan
manusia untuk berbuat dan bertindak tanpa campur tangan pihak mana pun, tetapi sebagai
keseimbangan antara individu dengan unsur materi dan spiritual yang dimilikinya, keseimbangan
antara individu dan masyarakat serta antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
Keberadilan dalam pendistribusian ini tercermin dari larangan dalam al-quran agar supaya harta
kekayaan tidak diperbolehkan menjadi barang dagangan yang hanya beredar diantara orang-
orang kaya saja, akan tetapi diharapkan dapat memberi kontribusi kepada kesejahteraan
masyarakat sebagai suatu keseluruhan (59:7).[12]

Dalam system ekonomi kapitalis bahwa kemiskinan dapat diselesaikan dengan cara menaikkan
tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan nasional (national income) adalah teori yang
tidak dapat dibenarkan dan bahkan kemiskinan menjadi salah satu produk dari sistem ekonomi
kapitalistik yang melahirkan pola distribusi kekayaan secara tidak adil Fakta empirik
menunjukkan, bahwa bukan karena tidak ada makanan yang membuat rakyat menderita
kelaparan melainkan buruknya distribusi makanan (Ismail Yusanto). Mustafa E Nasution pun
menjelaskan bahwa berbagai krisis yang melanda perekonomian dunia yang menyangkut sistem
ekonomi kapitalis dewasa ini telah memperburuk tingkat kemiskinan serta pola pembagian
pendapatan di dalam perekonomian negara-negara yang ada, lebih-lebih lagi keadaan
perekonomian di negara-negara Islam.[13]

Ketidakadilan tersebut juga tergambar dalam pemanfaatan kemajuan teknik yang dicapai oleh
ilmu pengetahuan hanya bisa dinikmati oleh masyarakat yang relatif kaya, yang pendapatannya
melebihi batas pendapatan untuk hidup sehari-hari sedangkan mereka yang hidup sekedar cukup
untuk makan sehari-hari terpaksa harus tetap menderita kemiskinan abadi, karena hanya dengan
mengurangi konsumsi hari ini ia dapat menyediakan hasil yang kian bertambah bagi hari esok,
dan kita tidak bisa berbuat demikian kecuali bila pendapatan kita sekarang ini bersisa sedikit di
atas keperluan hidup sehari-hari.

Sistem ekonomi islam sangat melindungi kepentingan setiap warganya baik yang kaya maupun
yang miskin dengan memberikan tanggung jawab moral terhadap si kaya untuk memperhatikan
si miskin. Islam mengakui sistem hak milik pribadi secara terbatas, setiap usaha apa saja yang
mengarah ke penumpukan kekayaan yang tidak layak dalam tangan segelintir orang dikutuk. Al-
Quran menyatakan agar si kaya mengeluarkan sebagian dari rezekinya untuk kesejahteraan
masyarakat, baik dengan jalan zakat, sadaqaah, hibah, wasiat dan sebagainya, sebab kekayaan
harus tersebar dengan baik.


C. Kesimpulan
System pendistribusian dalam system ekonomi kapitalis mendorong ketidakadilan dan
ketimpangan pendapatan dalam masyarakat menimbulkan konflik dan menciptakan kemiskinan
yang permanen bagi warga masyarakat. Dengan kebobrokan tersebut maka sudah seharusnya
untuk ditinggalkan dan diganti dengan system ekonomi islam yang mengedepankan nilai
kebebasan dalam bertindak dan berbuat dengan dilandasi oleh ajaran agama serta nilai keadilan
dalam kepemilikan.

BAHAN BACAAN
Azwar Karim, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2004
Ahmad, Zainuddin, Al-Quran: Kemiskinan dan Pemerataan Pendapatan, Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998
Anto, M.B. Hendrie, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, Yogyakarta : Ekonisia UII, 2003.
Azwar Karim, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2004
Eldine, Achyar, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, dikutip dari http://www.uika-
bogor.ac.id/jur07.htm
Indrakusumah, Iman, Zakat dan Sistem Ekonomi Islam dikutip dari
www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=179342&kat_id=105&kat_id1=147
&kat_id2=291 26 Nopember 2004
Al-Maliki, Abdurrahman, Politik Ekonomi Islam, alih bahasa: Ibnu Sholah, Bangil : Al-Izzah,
2001
Nawab Haider Naqvi, Syed, Ethics and Economics An Islamic Synthesis, London: The Islamic
Foundation, 1981
Qardhawi, Yusuf, Norma dan Etika Ekonomi Islam, alih bahasa: Zainal Arifin, Lc dan Dra.
Dahlia Husin, Jakarta: Gema Insani Press, 2001
Sudarsono, Heri, Konsep Ekonomi Islam (Suatu Pengantar), Yogyakarta: Ekonisia UII, 2004
Saputro, Rizki S., Sekelumit tentang Kapitalisme Global, Permasalahan dan Solusi, dikutip
dari
http://72.14.235.104:gemapembebasan.or.id/%3Fpilih%3Dlihat%26id%3D241+sistem+distribus
i+kekayaan+dalam+kapitalis&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=10 28 Juli 2006
At-Tariqi, Abdullah Abdul Husain, Ekonomi Islam (Prinsif, Dasar dan Tujuan), alih bahasa: M.
Irfan Syofwani, Yogyakarta: Magistra Insania Press, 2004
--------------------------------------------------------------------------------

[1] Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam (Suatu Pengantar), (Yogyakarta: Ekonisia UII,
2004), hlm. 234

[2] Achyar Eldine, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, dikutip dari http://www.uika-
bogor.ac.id/jur07.htm

[3] M.B. Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, (Yogyakarta : Ekonisia UII, 2003),
hlm. 34

[4] Rizki S. Saputro, Sekelumit tentang Kapitalisme Global, Permasalahan dan Solusi, dikutip
dari http://72.14.235.104:gemapembebasan.or.id/%3Fpilih%3Dlihat%26id%3D241+sistem

distribusi+kekayaan+dalam+kapitalis&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=10 28 Juli 2006

[5] Abdurrahman Al-Maliki, Politik Ekonomi Islam, alih bahasa: Ibnu Sholah, (Bangil : Al-
Izzah, 2001), hlm. 12

[6] Abdullah Abdul Husain At-Tariqi, Ekonomi Islam (Prinsif, Dasar dan Tujuan), alih bahasa:
M. Irfan Syofwani, (Yogyakarta: Magistra Insania Press, 2004), hlm. 14

[7] Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2004),
hlm. VI

[8] Syed Nawab Haider Naqvi, Ethics and Economics An Islamic Synthesis, (London: The
Islamic Foundation, 1981), hlm. 21

[9] M.B. Hendrie Anto, Op. Cit, hlm. 34

[10] Abdurrahman Al-Maliki, Op. Cit, hlm. 14

[11] Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, alih bahasa: Zainal Arifin, Lc dan Dra.
Dahlia Husin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001)

[12] Zainuddin Ahmad, Al-Quran: Kemiskinan dan Pemerataan Pendapatan, (Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 7

[13] M Iman Indrakusumah, Zakat dan Sistem Ekonomi Islam dikutip dari
www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=179342&kat_id=105&kat_id1=147
&kat_id2=291 26 Nopember 2004


konsep distribusi dalam islam

Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Islam sebagai system hidup (way of life) dan merupakan agama yang universal sebab
memuat segala aspek kehidupan baik yang terkait dengan aspek ekonomi, sosial, politik dan
budaya. Seiring dengan maju pesatnya kajian tentang ekonomi islam dengan menggunakan
pendekatan filsafat dan sebagainya mendorong kepada terbentuknya suatu ilmu ekonomi
berbasis keislaman yang terfokus untuk mempelajari masalah-
masalah.ekonomi.rakyat.yang.dilhami.oleh.nilai-nilai.Islam.
Adapun bidang kajian yang terpenting dalam perekonomian adalah bidang distribusi.
Distribusi menjadi posisi penting dari teori ekonomi mikro baik dalam system ekonomi Islam
maupun kapitalis sebab pembahasan dalam bidang distribusi ini tidak hanya berkaitan dengan
aspek ekonomi belaka tetapi juga aspek social dan politik sehingga menjadi perhatian bagi aliran
pemikir ekonomi Islam dan konvensional sampai saat,ini.
Pada saat ini realita yang nampak adalah telah terjadi ketidakadilan dan ketimpangan
dalam pendistribusian pendapatan dan kekayaan baik di negara maju maupun di negara-negara
berkembang yang memepergunakan system kapitalis sebagai system ekonomi negaranya,
sehingga menciptakan kemiskinan dimana-mana. Menanggapi kenyataan tersebut islam sebagai
agama yang universal diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan sekaligus
menjadi sistem perekonomian suatu negara.
Dari permasalahan di atas kami ingin membahas tentang distribusi dalam makalah ini
dengan di lihat dalam perspektif islam dengan melalui hadits-hadit rasullulah sebagai
pendukung,oleh karena itu kami sepakat memberikan judul makalah ini yaitu:Distribusi Dalam
Perspektif Islam.sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya.
2.1 Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul di atas,maka penulis memberikan rumusan masalah sebagai berikut
ini:
Bagaimanakah Pemerataan distribusi Pendapatan?
Bagaimanakah distribusi dalam islam?
2.3 Tujuan Penulisan Makalah
Dalam penyusunan makalah ini penulis ini mempunyai beberapa tujuan antara lain sebagai
berikut:
Ingin mengetahui pemerataan distribusi Pendapatan.
Ingin mengetahui Bagaimanakah distribusi dalam islam.
\
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pemerataan Distribusi Pendapatan
Distribusi adalah suatu proses pembagian (sebagaian hasil penjualan produk) kepada
factor-faktor produksi yang ikut menentukan pendapatan.distribusi pendapatan merupakan
permasalahan yang sangat rumit hingga saat ini masih sering dijadikan bahan perdebatan antara
ahli ekonomi karena tidaksamanya persepsi distribusi antara perekonomian kapitalis,sosialis
yang hingga saat ini belum bisa memberikan solusi yang adil dan merata terhadap masalah
pendistribusian pendapatan dalam masyarakat.untuk itu islam datang memberikan prinsip dasar
distribusi kekayaan dan pendapatan.
Pendapatan diartikan sebagai suatu aliran uang atau daya beli yang dihasilkan dari
penggunaan sumber daya properti manusia. Menurut Winardi (1989), pendapatan (income),
secara teori ekonomi adalah hasil berupa uang atau hasil material lainnya yang dicapai dari
penggunaan kekayaan atau jasa-jasa manusia bebas. Dalam pengertian pembukuan pendapatan
diartikan sebagai pendapatan sebuah perusahaan atau individu.
Sementara kekayaan (wealth) diartikan oleh Winardi (1989) sebagai segala sesuatu yang
berguna dan digunakan oleh manusia. Istilah ini juga digunakan dalam arti khusus seperti
kekayaan nasional. Sloan dan Zurcher mengartikan kekayaan sebagai obyek-obyek material,
yang ekstern bagi manusia yang bersifat : berguna, dapat dicapai dan langka. Kebanyakan ahli
ekonomi tidak menggolongkan dalam istilah kekayaan hak milik atas harta kekayaan, misalnya
saham, obligasi, surat hipotik karena dokumen-dokumen tersebut dianggap sebagai bukti hak
milik atas kekayaan, jadi bukan kekayaan itu sendiri.
Distribusi di tinjau dari segi kebahasaan berarti proses penyimpanan dan penyaluran
produk kepada pelanggan, diantaranya sering kali melalui perantara. (Collins, 1994 : 162)
Definisi yang dikemukakan Collins di atas, memiliki pemahaman yang sempit apabila dikaitkan
dengan topik kajian di bahas. Hal ini disebabkan karena definisi tersebut cenderung mengarah
pada prilaku ekonomi yang bersifat individual. Namun dari definisi di atas dapat di tarik suatu
pemahaman, di mana dalam distribusi terdapat sebuah proses pendapatan dan pengeluaran dari
sumber daya yang dimiliki oleh negara (mencakup prinsip take and give).
Adapun prinsip utama dalam konsep distribusi menurut pandangan Islam ialah peningkatan
dan pembagian bagi hasil kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan, sehingga
kekayaan yang ada dapat melimpah dengan merata dan tidak hanya beredar di antara golongan
tertentu saja. (Rahman, 1995 : 93)
Selain itu, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa posisi distribusi dalam aktifitas
ekonomi suatu pemerintahan amatlah penting, hal ini dikarenakan distribusi itu sendiri menjadi
tujuan dari kebijakan fiskal dalam suatu pemerintahan (selain fungsi alokasi). Adapun distribusi,
seringkali diaplikasikan dalam bentuk pungutan pajak (baik pajak yang bersifat individu maupun
pajak perusahaan). Akan tetapi masyarakat juga dapat melaksanakan swadaya melalui
pelembagaan ZIS, di mana dalam hal ini pemerintah tidak terlibat langsung dalam mobilisasi
pengelolaan pendapatan ZIS yang diterima. (Karim, 1992 : 89-90)
Sementara Anas Zarqa mengemukakan bahwa definisi distribusi itu sebagai suatu transfer
dari pendapatan kekayaan antara individu dengan cara pertukaran (melalui Pasar) atau dengan
cara lain, seperti warisan, shadaqah, wakaf dan zakat. (Zarqa, 1995 : 181)
Dari definisi yang dikemukakan oleh Anas Zarqa di atas, dapat diketahui bahwa pada
dasarnya ketika kita berbicara tentang aktifitas ekonomi di bidang distribusi, maka kita akan
berbicara pula tentang konsep ekonomi yang ditawarkan oleh Islam. Hal ini lebih melihat pada
bagaimana Islam mengenalkan konsep pemerataan pembagian hasil kekayaan negara melalui
distribusi tersebut, yang tentunya pendapatan negara tidak terlepas dari konsep-konsep Islam,
seperti zakat, wakaf, warisan dan lain sebagainya.
2.2 Distribusi Dalam Islam
Zakat
Salah satu perhatian pokok ilmu ekonomi islam adalah mewujudkan keadilan
distributife.Karena itu,semua keadaan ekonomi yang didasarkan pada ketidakseimbangan (zulm)
harus diganti dengan keadaan-keadaan yang memenuhi tuntutan keseimbangan.dengan kata
lain,ekonomi islam akan berusaha memaksimalkan kesejahteraan total.Tindakan social harus
digerakkan secara langsung untuk perbaikan kesejahteraan kalangan yang kurang beruntung
dalam masyarakat melalui zakat,infaq serta sodaqoh.
Warisan
*



Artinya:
saya lebih utama dengan mukmin,barang siapa yang mati dan ia punya hutang,tidak
meninggalkan apapun maka saya membayarnya,barang siapa meninggalkan harta maka ahli
warisnya(H.R Imam Bukhori)
Hukum waris merupakan suatu aturan yang sangat penting dalam mengurangi
ketidakadilan distribusi kekayaan.Hukum waris merupakan alat penimbang yang sangat kuat dan
efektif untuk mencegah pengumpulan kekayaan dikalangan tertentu dan pengembangannya
dalam kelompok-kelompok besar dalam masyarakat.Tokoh-tokoh ekonomi seperti
Keynes,Taussig dan irfing fisher menyetujui bahwa pembagian warisan yang tidak merata
merupakan penyebab utama dari ketidak adilan masyarakat,Menurut Taussig,warisan
mempunyai dampak yang sangat besar dalm masyarakat.
Menurut hokum waris islam,harta milik orang lain yang telah meninggal dibagi pada
keluarga terdekat,yaitu anak laki-laki/perempuan,saudara,ibu/bapak,suami/istri dan lain-lain.Jika
seseorang tidak mempunyai keluarga dekat sama sekali,maka harta bendanya diambil alih oleh
Negara.Dengan demikian waris bertujuan untuk menyebarkanluaskan pembagian kekayaan dan
mencegah penimbunan harta dalam bentuk apapun.
Larangan Penimbunan
Di dalam islam melarang penimbunan atau hal-hal yang menghambat pendistribusian
barang sampai ke konsumen.menimbun adalah membeli barang dalam jumlah yang banyak
kemudian menyimpannya dengan maksud untuk menjualnya dengan harga tinggi.Penimbunan
dilarang dalam islam hal ini dikarenakan agar supaya harta tidak hanya beredar di kalangan
orang-orang tertentu.
Seperti dalam sebuah hadits:
:

Artinya: siapa saja yang melakukan penimbunan untuk mendapatkan harga yang paling
tinggi,dengan tujuan mengecoh orang islam maka termasuk perbuatan yang salah(H.R Ahmad)
Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa perbuatan yang salah yaitu menyimpang dari
peraturan jual-beli atau perdagangan dalam system ekonomi islam yang berdasarkan al-quran
dan hadits.Dalam hadits itu tidak ditentukan jenis barang yang dilarang ditimbun.Akan tetapi
hadits lain yang segaris menyatakan bahwa barang yang dilarang ditimbun adalah
makanan.muncul pebedaan pendapat dikalangan ulama tentang jenis barang yang dilarang
ditimbun.menurut al-syafiiyah dan Hanabilah,barang yang dilarang ditimbun adalah kebutuhan
primer.Abu yusuf berpendapat bahwa barang yang dilarang ditimbun adalah semua barang yang
dapat menyebabkan kemadaratan orang lain,termasuk emas dan perak.
Para ulama fiqh berpendapat bahwa penimbunan diharamkan apabila:
1. Barang yang ditimbun melebihi kebutuhannya
2. Barang yang ditimbun dalam usaha menunggu saat naiknya harga,misalnya
emas dan perak
3. Penimbunan dilakukan disaat masyarakat membutuhkan,misalnya bahan bakar
minyak dll.
Adapun mengenai waktu penimbunan tidak terbatas,dalam waktu pendek maupun panjang
jika dapat menimbulkan dampak ataupun 3 syarat tersebut diatas terpenuhi maka haram
hukumnya.
Rasullulah bersabda dalam sebuah hadits sohih yaitu:



Artinya: Dari ibnu umar dari nabi:Barang siapa Menimbun makanan 40 malam maka ia
terbebas dari rahmad Allah,dan Allah bebas darinya.Barang siapa yang keluar rumah pagi-pagi
dan dari kalangan mereka ada yang dalam keadaan lapar maka tanggungan Allah juga lepas dari
mereka.
Pada dasarnya nabi melarang menimbun barang pangan selama 40 hari,biasanya pasar
akan mengalami fluktuasi jika sampai 40 hari barang tidak ada dipasar karena ditimbun,padahal
masyarakat sangat membutuhkannya.bila penimbunan dilakukan beberapa hari saja sebagai
proses pendistribusian barang dari produsen ke konsumen,maka belum di anggap sebagai sesuatu
yang membahayakan.Namun bila bertujuan menungu saatnya naik harga sekalipun hanya satu
hari maka termasuk penimbunan yang membahayakan dan tentu saja diharamkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Distribusi adalah suatu proses pembagian (sebagaian hasil penjualan produk) kepada
factor-faktor produksi yang ikut menentukan pendapatan.distribusi pendapatan merupakan
permasalahan yang sangat rumit hingga saat ini masih sering dijadikan bahan perdebatan antara
ahli ekonomi karena tidaksamanya persepsi distribusi antara perekonomian kapitalis,sosialis
yang hingga saat ini belum bisa memberikan solusi yang adil dan merata terhadap masalah
pendistribusian pendapatan dalam masyarakat.untuk itu islam datang memberikan prinsip dasar
distribusi kekayaan dan pendapatan.
Pendapatan diartikan sebagai suatu aliran uang atau daya beli yang dihasilkan dari
penggunaan sumber daya properti manusia. Menurut Winardi (1989), pendapatan (income),
secara teori ekonomi adalah hasil berupa uang atau hasil material lainnya yang dicapai dari
penggunaan kekayaan atau jasa-jasa manusia bebas. Dalam pengertian pembukuan pendapatan
diartikan sebagai pendapatan sebuah perusahaan atau individu.
Zakat,infaq sodaqoh merupakan contoh distribusi dalam islam.

DAFTAR PUSTAKA
Diana,ilfi Nur m.si,2008.Hadits-hadits ekonomi.malang:uin press
Afzalur rahman,Doktrin Ekonomi Islam Jilid II.yogyakarta.PT dana bakti
waqof


Dengan komitmen Islam yang khas dan mendalam terhadap persaudaraan umat manusia dan
keadilan ekonomi sosial, maka ketidak-adilan dalam hal pendapatan dan kekayaan tentu saja
bertentangan dengan semangat Islam. Ketidak-adilan seperti itu hanya akan merusak rasa
persaudaraan yang hendak diciptakan Islam.
Disamping itu, karena seluruh sumber daya, menurut Quran adalah amanat Allah kepada
seluruh umat manusia (QS. 2:29), maka tak dibenarkan sama sekali apabila sumberdaya-
sumberdaya tersebut dikuasai oleh sekelompok kecil manusia saja (monopoli).
Jadi, Islam menekankan distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, hingga setiap individu
memperoleh jaminan serta tingkat hidup yang manusiawi dan terhormat, sesuai dengan harkat
manusia yang inheren dalam ajaran-ajaran Islam, yaitu sebagai khalifah (wakil) Allah di muka
bumi (QS. 2:30).
Suatu masyarakat Islam yang gagal memberikan jaminan serta tingkat hidup yang manusiawi
tidaklah layak disebut masyarakat Islam, seperti dinyatakan oleh Nabi saw: Bukanlah seorang
Muslim yang tidur dalam keadaan kenyang sedang tetangganya lapar (HR. Bukhari, dalam
Shahih-nya, 1:52).
Umar bin Khathab, Khalifah kedua, ketika menerangkan tentang redistribusi keadilan dalam
Islam, beliau menekankan dalam salah satu pidato umumnya bahwa setiap orang mempunyai hak
yang sama dalam kekayaan masyarakat, bahwa tak seorang pun, termasuk dirinya sendiri, yang
memiliki hak yang lebih besar dari yang lain. Bahkan seandainya ia dapat hidup lebih lama, ia
akan berusaha agar seorang gembala yang hidup di atas gunung Shana menerima bagian dari
kekayaannya.
Khalifah Ali bin Abi Thalib diriwayatkan juga telah menekankan bahwa Allah telah
mewajibkan orang-orang kaya untuk menyediakan kebutuhan orang-orang miskin dengan
selayaknya. Apabila orang-orang miskin tersebut kelaparan, tak punya pakaian atau dalam
kesusahan hidup, maka itu adalah karena orang-orang kaya telah merampas hak-hak mereka, dan
patutlah bagi Allah untuk membuat perhitungan bagi mereka dan menghukum mereka.
Para ahli hukum sepakat bahwa adalah kewajiban bagi masyarakat Islam secara keseluruhan,
khususnya kelompok yang kaya, untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan pokok kaum
miskin, dan bila mereka tak mau memenuhi tanggung jawab ini, padahal mereka mampu, maka
negara dapat bahkan harus memaksa mereka untuk memenuhinya.
Program Islam dalam redistribusi kemakmuran terdiri dari tiga bagian:
Pertama, seperti telah diuraikan terlebih dahulu, ajaran-ajaran Islam mencakup pemberian
bantuan bagi kaum penganggur dan pencari pekerjaan supaya mereka memperoleh pekerjaan
yang baik, dan pemberian upah yang adil bagi mereka yang bekerja.
Kedua, Islam menekankan pembayaran zakat untuk redistribusi pendapatan dari kelompok kaya
kepada kelompok miskin, yang -karena ketidakmampuan atau rintangan-rintangan pribadi
(kondisi-kondisi fisik atau mental yang bersifat eksternal, misalnya ketiadaan kesempatan kerja)-
tidak mampu mencapai tingkat hidup yang terhormat dengan usaha sendiri. Hal ini dimaksudkan
agar kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya diantaramu saja (QS. 59:7).
Ketiga, pembagian warisan tanah/kebun dari seseorang yang meninggal, sesuai dengan patokan
yang telah ditentukan diantara sejumlah individu-individu untuk mengintensifkan dan
mempercepat distribusi kekayaan di masyarakat.
Akan tetapi, konsep keadilan Islam dalam distribusi pendapatan dan kekayaan dan konsepsinya
tentang keadilan ekonomi ini tidaklah berarti menuntut bahwa semua orang harus menerima
upah yang sama, tanpa memandang kontribusinya kepada masyarakat.
Islam mentolerir ketidak-samaan pendapatan sampai tingkat tertentu, karena setiap orang
tidaklah sama sifat, kemampuan, dan pelayanannya kepada masyarakat (QS. 6:165; 16:71;
43:32).
Karena itu, keadilan distributif dalam masyarakat Islam, setelah memberi jaminan tingkat hidup
yang manusiawi kepada seluruh warganya melalui pelembagaan zakat, mengijinkan perbedaan
pendapatan yang sesuai dengan perbedaan nilai kontribusi atau pelayanan yang diberikan,
masing-masing orang menerima pendapatan yang sepadan dengan nilai sosial dari pelayanan
yang diberikannya kepada masyarakat.
Penekanan Islam terhadap keadilan distributif adalah demikian keras, hingga ada beberapa orang
dari kaum Muslimin yang percaya akan persamaan kekayaan yang mutlak. Abu Dzar, salah
seorang sahabat dekat Nabi, berpendapat bahwa tidaklah halal bagi seorang Muslim untuk
memiliki kekayaan diluar kebutuhan pokok keluarganya. Tetapi sebagian besar sahabat Nabi
tidak setuju dengan pendapat ekstrim ini dan mencoba mempengaruhinya untuk merubah
pendapatnya. (lihat: Tafsir Ibnu Katsir, tentang QS.9:34).
Tapi Abu Dzar sendiri juga tidak mendukung persamaan pendapatan. Ia mendukung persamaan
dalam simpanan kekayaan (stock). Ini, katanya, bisa dicapai apabila seluruh kelebihan dari
pendapatan yang telah dipakai untuk keperluan-keperluan pokok (al-afw) dipergunakan untuk
meningkatkan taraf hidup orang-orang miskin.
Akan tetapi konsensus para ulama Islam adalah bahwa walaupun mereka sangat mendukung
keadilan distributif, namun mereka berpendapat bahwa apabila seorang Muslim memperoleh
penghasilan dengan cara-cara yang halal dan memenuhi kewajibannya terhadap kesejahteraan
masyarakat dengan membayarkan zakat pendapatan dan kekayaannya, maka tidak ada salahnya
ia memiliki kekayaan lebih dari orang-orang Muslim yang lain.
Akan tetapi, dalam kenyataan, apabila ajaran-ajaran Islam tentang halal dan haram dalam
pencarian kekayaan ditaati, norma-norma keadilan terhadap kaum buruh dan konsumen
diterapkan, pedoman-pedoman redistribusi pendapatan dan kekayaan dilaksanakan, dan hukum
Islam dalam masalah pembagian warisan diberlakukan, maka tidak akan ada perbedaan besar
dalam pendapatan dan kekayaan dalam masyarakat Islam.
4. Kemerdekaan Individu dalam Konteks Kesejahteraan Sosial
Dasar iman yang paling penting dalam Islam adalah kepercayaan bahwa manusia diciptakan oleh
Allah, karena itu hanya boleh bersikap menghamba kepada-Nya saja (QS. 13:36 dan 31:32). Ini
adalah intisari, piagam Islam tentang kemerdekaan dari segala jenis perbudakan.
Dalam hal ini Al-Quran mengatakan bahwa salah satu tugas Nabi Muhammad saw adalah untuk
membebaskan umat manusia dari beban dan belenggu yang mengikat mereka (QS. 7:157).
Semangat kemerdekaan atau kebebasan inilah yang mendorong Umar, Khalifah kedua, untuk
mengatakan: Sejak kapankah engkau memperbudak manusia yang dilahirkan oleh ibunya dalam
keadaan merdeka?.
Imam Syafii, pendiri madzhab fiqh Syafii, mengungkapkan semangat yang sama ketika ia
mengatakan: Allah telah menciptakanmu dalam keadaan merdeka, karena itu selalulah
merdeka.
Karena manusia dilahirkan merdeka, maka tak seorang pun, walau negara sekalipun, berhak
untuk merampas kemerdekaannya dan membuat hidupnya tunduk pada berbagai cara dan aturan.
Ulama-ulama fiqh sepakat bahwa pembatasan-pembatasan tak dapat dikenakan kepada seorang
yang merdeka, dewasa, dan sehat akal fikirannya, bahkan meskipun ia berbuat merugikan dirinya
sendiri, dengan, misalnya, membelanjakan uangnya secara boros tanpa faedah.
Alasan yang dikemukakannya untuk itu adalah bahwa merampas kemerdekaan atau kebebasan
menentukan pilihan adalah sama dengan merendahkan kemanusiaannya dan memperlakukannya
seperti hewan yang tak berakal. Kemadharatan/ kerugian yang ditimbulkan oleh tindakan ini
adalah lebih besar daripada kerusakan yang timbul karena keborosannya. Bahaya yang lebih
besar tak boleh dikenakan untuk menghindari bahaya yang lebih kecil.
Akan tetapi perbedaan pendapat ini -tentang pembatasan kemerdekaan orang yang berlaku
boros- hanya menyangkut seorang yang merugikan kepentingan dirinya sendiri tanpa, tentu saja,
melanggar batas-batas norma Islam.
Apabila seseorang merugikan kepentingan orang lain, maka tak ada perbedaan pendapat bahwa
pembatasan boleh dan bahkan harus dikenakan terhadapnya. Semua ahli hukum Islam
berpendapat boleh dikenakan pembatasan apabila pembatasan itu dapat mencegah timbulnya
kerugian di pihak orang lain atau menyelamatkan kepentingan umum; karena, seperti kata Abu
Hanifah, kontrol adalah perlu bagi seorang dokter yang tidak berpengalaman, atau seorang
hakim yang tidak hati-hati, atau seorang majikan yang bangkrut; karena kontrol seperti itu berarti
mengenakan kerugian yang lebih kecil terhadap seseorang untuk menghindari bahaya yang lebih
besar.
Kesejahteraan sosial memiliki tempat yang mutlak penting dalam Islam, dan kebebasan individu,
walaupun sangat penting, tidak boleh mengabaikan implikasi sosialnya.
Untuk menempatkan hak-hak seorang individu vis-a-vis individu-individu lain dalam
masyarakat, maka ulama-ulama fiqh telah menyepakati prinsip-prinsip dasar berikut ini:
1. Kepentingan yang lebih besar dari masyarakat harus lebih diutamakan daripada kepentingan
individu.
2. Walaupun menghindarkan kerugian dan meningkatkan keuntungan kedua-duanya adalah
tujuan utama syariah, namun yang pertama lebih diutamakan daripada yang kedua.
3. Suatu kerugian yang lebih besar tak dapat dikenakan untuk menghindari kerugian yang lebih
kecil; atau suatu keuntungan yang lebih besar tak dapat dikorbankan demi keuntungan yang lebih
kecil. Sebaliknya, kerugian yang lebih kecil dapat dikenakan untuk menghindari kerugian yang
lebih besar; atau suatu keuntungan yang lebih kecil dapat dikorbankan demi keuntungan yang
lebih besar.
Kebebasan individu, dalam batas-batas etika Islam, hanya dianggap sah selama tidak
bertentangan dengan kepentingan masyarakat yang lebih besar, atau selama individu yang
bersangkutan tidak melanggar hak-hak orang lain.
Sifat Sistem Ekonomi Islam
Pembahasan tentang tujuan-tujuan sistem ekonomi Islam di atas menunjukkan bahwa
kesejahteraan material yang berdasarkan nilai-nilai spiritual yang kokoh merupakan dasar yang
sangat perlu dari filsafat ekonomi Islam.
Karena dasar sistem Islam sendiri berbeda dari sosialisme dan kapitalisme, yang keduanya
terikat pada keduniaan dan tak berorientasi pada nilai-nilai spiritual, maka suprastrukturnya juga
mesti berbeda. Usaha apapun untuk memperlihatkan persamaan Islam dengan kapitalisme atau
sosialisme hanyalah akan memperlihatkan kekurang-pengertian tentang ciri-ciri dasar dari ketiga
sistem tersebut.
Disamping itu, sistem Islam betul-betul diabdikan kepada persaudaraan umat manusia yang
disertai keadilan ekonomi dan sosial serta distribusi pendapatan yang adil, dan kepada
kemerdekaan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.
Dan perlu dinyatakan disini, bahwa pengabdian ini berorientasi spiritual dan terjalin erat dengan
keseluruhan jalinan nilai-nilai ekonomi dan sosialnya. Berlawanan dengan ini, orientasi
kapitalisme modern pada keadilan ekonomi dan sosial dan distribusi pendapatan yang adil
hanyalah bersifat parsial saja, dan merupakan akibat desakan-desakan kelompok masyarakat,
bukannya merupakan dorongan dari tujuan spiritual untuk menciptakan persaudaraan umat
manusia, dan tidak merupakan bagian integral dari keseluruhan filsafatnya.
Sedang orientasi sosialisme, walaupun dinyatakan sebagai hasil dari filsafat dasarnya, tidaklah
benar-benar berarti, karena tiadanya pengabdian kepada cita persaudaraan umat manusia dan
kriteria keadilan dan persamaan yang adil berdasarkan spiritual di satu pihak, dan di pihak lain
karena hilangnya kehormatan dan identitas individu yang disebabkan karena tidak diakuinya
kemerdekaan individu, yang merupakan kebutuhan dasar manusia.
Komitmen Islam terhadap kemerdekaan individu dengan jelas membedakannya dari sosialisme
atau sistem apapun yang menghapuskan kebebasan individu. Saling rela tak terpaksa antara
penjual dan pembeli, menurut semua ahli hukum Islam, adalah merupakan syarat sahnya
transaksi dagang. Persaratan ini bersumber dari ayat Al-Quran: Wahai orang-orang beriman!
Janganlah kamu memakan harta salah seorang diantaramu dengan jalan yang tidak benar;
dapatkanlah harta dengan melalui jual beli dan saling merelakan (QS. 4:29).
Satu-satunya sistem yang sesuai dengan semangat kebebasan dalam way of life Islam ini adalah
sistem dimana pelaksanaan sebagian besar proses produksi dan distribusi barang-barang serta
jasa diserahkan kepada individu-individu atau kelompok-kelompok yang dibentuk dengan
sukarela, dan dimana setiap orang diijinkan untuk menjual kepada, dan membeli dari siapapun
yang dikehendakinya dengan harga yang disetujui oleh kedua belah pihak.
Kebebasan berusaha, berlawanan dengan sosialisme, memberikan kemungkinan untuk hal itu
dan diakui oleh Islam bersama-sama dengan unsur-unsur yang mendampinginya, yaitu
pelembagaan hak milik pribadi.
Al-Quran, As-Sunnah, dan literatur fiqh penuh dengan pembahasan yang terperinci tentang
norma-norma yang menyangkut pencarian dan pembelanjaan harta benda pribadi dan
perdagangan, dan jual beli barang-barang dagangan, disamping pelembagaan zakat dan warisan.
Yang pasti tidak akan dibahas dengan demikian terperinci seandainya pelembagaan hak milik
pribadi atas sebagian besar sumber-sumber daya yang produktif tidak diakui oleh Islam. Karena
itu, peniadaan hak milik pribadi ini tidak dapat dipandang sesuai dengan ajaran Islam.
Mekanisme pasar juga dapat dipandang sebagai bagian integral dari sistem ekonomi Islam,
karena di satu pihak pelembagaan hak milik pribadi tidak akan dapat berfungsi tanpa pasar.
Dan dilain pihak, pasar memberikan kesempatan kepada para konsumen untuk mengungkapkan
keinginannya terhadap produk barang atau jasa yang mereka senangi diiringi kesediaan mereka
untuk membayar harganya, dan juga memberikan kepada para pemilik sumber daya (produsen)
kesempatan untuk menjual produk barang atau jasanya sesuai dengan keinginan bebas mereka.
Motif mencari keuntungan, yang mendasari keberhasilan pelaksanaan sistem yang dijiwai
kebebasan berusaha, juga diakui oleh Islam. Hal ini dikarenakan keuntungan memberikan
insentif yang perlu bagi efisiensi pemakaian sumberdaya yang telah dianugerahkan Allah kepada
umat manusia.
Efisiensi dalam alokasi sumber daya ini merupakan unsur yang perlu dalam kehidupan
masyarakat yang sehat dan dinamis. Tetapi karena adalah mungkin untuk menjadikan
keuntungan sebagai tujuan utama, dan dengan demikian membawa kepada berbagai penyakit
ekonomi dan sosial, maka Islam menempatkan pembatasan-pembatasan moral tertentu atas motif
mencari keuntungan, sehingga motif tersebut menunjang kepentingan individu dalam konteks
sosial dan tidak melanggar tujuan-tujuan Islam dalam keadilan ekonomi dan sosial serta
distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil.
Pengakuan Islam atas kebebasan berusaha bersama dengan pelembagaan hak milik pribadi dan
motif mencari keuntungan, tidaklah menjadikan sistem Islam mirip dengan kapitalisme yang
berdasarkan kebebasan berusaha. Perbedaan antara kedua hal itu perlu difahami dikarenakan
oleh dua alasan penting:
Pertama, dalam sistem Islam, walaupun pemilikan harta benda secara pribadi diizinkan, namun
ia harus dipandang sebagai amanat dari Allah, karena segala sesuatu yang ada di langit dan di
bumi sebenarnya adalah milik Allah, dan manusia sebagai wakil (khalifah) Allah hanya
mempunyai hak untuk memilikinya dengan status amanat. Quran berkata:
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan dibumi (QS. 2:84).
Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi dan apa yang ada di dalamnya, kalau kamu semua tahu?
Pasti mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Kalau demikian, maukah kamu semua
berfikir? (QS. 23:84-85).
Dan berilah (bantulah) mereka dari kekayaan Allah yang telah diberikan Allah kepadamu (QS.
24:33).
Kedua, karena manusia adalah wakil Allah di bumi, dan harta benda yang dimilikinya adalah
amanat dari-Nya, maka manusia terikat oleh syarat-syarat amanat, atau lebih khusus lagi, oleh
nilai-nilai moral Islam, terutama nilai-nilai halal dan haram, persaudaraan, keadilan sosial dan
ekonomi, distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, dan menunjang kesejahteraan
masyarakat umum.
Harta benda haruslah dicari dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, dan harus
dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang menjadi tujuan penciptaannya.
asulullah saw bersabda:
Harta benda memang hijau dan manis (mempesona); barangsiapa yang mencarinya dengan cara
yang halal, maka harta itu akan menjadi pembantunya yang sangat baik, sedangkan barangsiapa
yang mencarinya dengan cara yang tidak benar, maka ia akan seperti seseorang yang makan tapi
tak pernah kenyang (HR. Muslim, dalam Shahih-nya, 2:728). Wallahu alam bish-shawab.