Anda di halaman 1dari 6

21/10/2014 KUMPULAN MAKALAH: PENANGANAN LIMBAH CAIR

http://belajarbuatapasaja.blogspot.com/2013/02/penanganan-limbah-cair.html 1/6
PENANGANAN LIMBAH CAIR
PENGERTIAN LIMBAH CAIR
Air merupakan sumber yang penting bagi kehidupan manusia. Namun banyak dijumpai
perairan alami seperti sungai dan danau dijadikan tempat pembuangan sampah. Air menjadi kotor
oleh limbah, tinja, logam berat, pestisida dan sebagainya.
Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu
usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Berdasarkan sumber-sumbernya limbah cair dapat
berasal dari limbah infiltrasi, limbah industri, limbah domestik (rumah tangga).
Limbah infiltrasi adalah limbah yang meresap kedalam tanah dan mengandung bahan-bahan
pencemar. Pada areal perkebunan limbah hujan mencuci daun-daunan yang terkena pestisida
masuk kedalam tanah yang disebut juga sebagai limbah infiltrasi. Limbah industri juga sering
terinfiltrasi kedalam tanah bila air limbah tersebut menggunakan kolam yang terbuat dari tanah.
Limbah cair berasal dari rumah tangga (domestik) maupun Industri.
Air limbah domestik terdiri atas :
a. Tinja ( faeces ),yang mengandung mikroba pathogen
b. Air seni (urine), pada umumnya mengandung nitrogen dan Posfor campuran air seni dan tinja
disebut Excreta.
c. Grey water atau air bekas cucian dapur, mesin cuci dan kamar mandi
Air cucian dari setiap rumah tangga berkumpul dan menyatu pada parit-parit kota mengalir
menuju parit yang lebih besar kemudian ke sungai bercampur dengan segala macam limbah
mulai dari detergen, busa sampho, kaporit dan karbol serta cucian bekas kotoran lainnya.
Kaporit dan larutan karbol serta detergen merupakan racun bagi bakteri pembusuk dalam air
sungai. Apabila konsentrasinya semakin tinggi maka bahan-bahan organik sukar membusuk
sehingga menambah endapan dalam dasar parit dan parit akhirnya cepat tersumbat.
Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan organik maupun anorganik, yaitu :
a. Garam anorganik, seperti magnesium sulfat dan magnesium khlorida yang berasal dari kegiatan
pertambangan atau pabrik pupuk.
b. Asam anorganik, seperti asam sulfat yang berasal dari industri pengolah bijih logam dan bahan
bakar fosil yang mengandung kotoran berupa ikatan belerang.
c. Senyawa organik, seperti pelarut dan zat warna yang berasal dari industri penyamakan kulit
dan industri cat.
d. Logam berat, seperti cadmium, air raksa (merkuri dan krom yang berasal dari industri
pertambangan, cat, zat warna, baterai dan penyepuhan logam.
Zat-zat tersebut jika masuk ke perairan akan menimbulkan pencemaran yang dapat
membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia.Karakteristik limbah cair meliputi sifat
sifat fisika, kimia dan biologi.
Sifat-sifat tersebut dapat dipahami dengan mempelajari konsentrasinya dan sejauh mana
tingkat pencemaran yang dapat ditimbulkan limbah terhadap lingkungan. Pemahaman tentang
karakteristik dapat diketahui melalui pengambilan sampel, misalnya : limbah cair mempunyai
tingkat keasaman, pH= 6 dan mengandung kadar besi 5 mg/l. Konsentrasi yang dikandung
limbah akan menentukan beban limbah terhadap lingkungan.
Ada tiga jenis sifat dalam karakteristik limbah yaitu :
1. Sifat Fisik
Sifat fisik limbah cair meliputi temperatur, bau, warna, kekeruhan dan jumlah padatan
terlarut.
a. Temperatur
21/10/2014 KUMPULAN MAKALAH: PENANGANAN LIMBAH CAIR
http://belajarbuatapasaja.blogspot.com/2013/02/penanganan-limbah-cair.html 2/6
Temperatur menunjukkan derajat atau tingkat panas air limbah. Skala temperatur yang
biasa digunakan adalah Skala Fahrenheit (oF) dan Skala Celcius (oC). Persamaan dari
kedua skala tersebut adalah:
oC = X ( oF-32 )
oF = X ( oC ) + 32
Temperatur yang dikeluarkan suatu limbah cair harus merupakan temperature alami.
Temperatur merupakan yang penting dalam pengoperasian unit pengolahan limbah
karena berpengaruh terhadap aktivitas kimiawi dan biologi. Limbah yang mempunyai
temperatur panas akan mengganggu pertumbuhan biota tertentu dan pengentalan
cairan berkurang serta mengurangi sedimentasi. Tingkat zat oksidasi juga akan lebih
besar pada suhu tinggi dan pembusukan jarang terjadi pada suhu rendah.
b. Bau
Bau merupakan parameter yang subjektif. Sifat bau limbah disebabkan karena zat-zat
organik yang telah terurai dalam limbah dan mengeluarkan gas-gas seperti Sulfida dan
Amoniak yang menimbulkan penciuman tidak enak, misalnya : bau seperti telur busuk
menunjukkan adanya Hidrogen Sulfida yang dihasilkan oleh permukaan zat-zat organik
dalam kondisi Anaerobik. Bau yang tidak enak dapat disebabkan adanya campuran dari
Nitrogen, Sulfur dan Fosfor yang berasal dari pembusukan protein yang dikandung
limbah. Adanya bau yang diakibatkan limbah merupakan suatu indikator bahwa terjadi
proses alamiah, sehingga dengan adanya bau ini akan lebih mudah untuk
menghindarkan tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh limbah dibandingkan dengan
limbah yang tidak menghasilkan bau dikarenakan lebih sulit diketahui.
c. Warna
Warna dalam air disebabkan adanya ion-ion logam besi, mangan, humus, plankton,
tanaman air dan buangan industri. Selain itu warna juga dapat disebabkan zat-zat
terlarut dan zat tersuspensi. Meskipun tidak menimbulkan sifat racun, warna air limbah
menjadikan pemandangan lebih jelek.
d. Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan karena ada partikel koloid yang terdiri dari kwartz, tanah liat,
sisa bahan-bahan, protein dan ganggang yang terdapat dalam limbah, sehingga dapat
dilihat dengan mata secara langsung. Adanya kekeruhan membuat hilang nilai estetika.
e. Padatan
Zat padat dalam limbah dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu padatan terlarut
dan padatan tersuspensi. Jenis padatan terlarut maupun tersuspensi dapat bersifat
organis atau sifat inorganis tergantung dari mana sumber limbah. Padatan tersuspensi
terdiri dari partikel koloid dan partikel biasa. Ada juga padatan yang mengendap
dikarenakan diameter lebih besar sehingga dalam keadaan tenang, padatan tersebut
mengendap sendiri. Pengukuran konsentrasi mokroorganisme dalam limbah diukur
dengan zat padat tersuspensi organik sebagai padatan tersuspensi yang menguap
( Volatile Suspensi Solid ) pada temperatur tertentu.
2. Sifat kimia
Karakter kimia air limbah meliputi :
a. Biochemical Oksigen Demand (BOD) adalah jumlah oksigen terlarut yang dibutuhlan
oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan
didalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya
sisa oksigen terlarut, berarti kandungan polutannya organiknya tinggi.
21/10/2014 KUMPULAN MAKALAH: PENANGANAN LIMBAH CAIR
http://belajarbuatapasaja.blogspot.com/2013/02/penanganan-limbah-cair.html 3/6
b. Chemical Oksigen Demand (COD ) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air, secara kimia.
c. Senyawa Organik dan Anorganik
Senyawa organik terdiri dari karbon dengan unsur O, N, P, S, H. Sedangkan senyawa
anoranik terdiri atas unsur lain yang bukan tersusun dari karbon organik. Unsur-unsur
yang terdapat dalam jumlah banyak akan bersifat toksik dan menghalangi proses-proses
biologis.
d. Keasaman Air (pH).
Keasaman air diukur dengan pH meter. Keasaman ditetapkan berdasarkan tinggi
rendahnya konsentrasi ion hidrogen dalam air. Limbah cair yang mempunyai pH tinggi
atau rendah dapat mempengaruhi organisme dalam air. Air yang mempunyai pH rendah
(pH<7) membuat air menjadi korosif terhadap bahan konstruksi besi yang kontak
dengan air. Limbah cair dengan keasaman tinggi bersumber dari buangan yang
mengandung asam seperti air pembilas pada pabrik kawat atau seng.
e. Alkalinitas (basa) nilai pH tinggi, ph>7
Tinggi rendahnya alkalinitas ditentukan senyawa karbonat, garam-garam hidroksida,
kalsium, magnesium, natrium dalam air. Kesadahan dalam air disebabkan oleh tingginya
kandungan zat-zat tersebut. Semakin tinggi kesadahan suatu air semakin sulit air
berbuih.
f. Oksigen Terlarut
Oksigen telarut berlawanan dengan BOD, semakin tinggi BOD semakin rendah oksigen
terlarut. Kemampuan air untuk mengadakan pemulihan secara alami benyak tergantung
pada tersedianya oksigen terlarut.
3. Sifat Bioligis
Sifat biologis meliputi mikroorganisme yang ada dalam limbah cair. Mikroorganisme ini
memiliki jenis yang bervariasi, hampir dalam semua bentuk air limbah dengan konsentrasi 105 -
108 organisme/ml. Mikroorganisme yang ditemukan banyak dalam bentuk sel tunggal yang bebas
atau berkelompok dan mampu melakukan proses-proses kehidupan. Bahan-bahan organik yang
terdapat dalam air akan diubah oleh mikroorganisme menjadi senyawa kimia yang sederhana,
sehingga dekomposisi zat-zat tersebut dalam jumlah besar akan menimbulkan bau busuk.
Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah merupakan kunci efisiensi proses biologis
dan penting untuk mengevaluasi kualitas air.
PENANGAN LIMBAH CAIR
Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat beragam.
Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses
pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara
keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut
juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial.
21/10/2014 KUMPULAN MAKALAH: PENANGANAN LIMBAH CAIR
http://belajarbuatapasaja.blogspot.com/2013/02/penanganan-limbah-cair.html 4/6
1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara
fisika.
A. Penyaringa (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring.
Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah
untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
B. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang berfungsi
untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini
dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran
limbah sehingga partikel partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan
untuk proses selanjutnya.
C. Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak
pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak
digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan, limbah cair
didiamkan agar partikel partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke
dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan
dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga
metode pengapungan (Floation).
D. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses
pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung-
gelembung udara berukuran kecil ( 30 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa
partikel partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat
disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses
pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut
dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung
polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit
atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses
pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan
melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik.
Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
21/10/2014 KUMPULAN MAKALAH: PENANGANAN LIMBAH CAIR
http://belajarbuatapasaja.blogspot.com/2013/02/penanganan-limbah-cair.html 5/6
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan
metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
A. Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan
tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan
dengan ketebalan 1 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan
dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang
terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar
lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke
tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan
partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan
mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke
lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan
B. Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan
didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi
berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung
udara aerasi (pemberian oksigen).
Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah
disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang
mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter,
limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika
masih dperlukan.
C. Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun
prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-
kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen.
Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan
organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di
kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan
terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau
21/10/2014 KUMPULAN MAKALAH: PENANGANAN LIMBAH CAIR
http://belajarbuatapasaja.blogspot.com/2013/02/penanganan-limbah-cair.html 6/6
diolah lebih lanjut.
3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat
tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan
tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa
dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui
proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat,
fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan
ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang
dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan,
dan osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini
disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi
sehingga tidak ekonomis.
4. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi
mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia,
yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik.
Dalam menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan, yaitu :
Daya racun zat
Waktu kontak yang diperlukan
Efektivitas zat
Kadar dosis yang digunakan
Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
Tahan terhadap air
Biayanya murah
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi),
penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (O).Proses desinfeksi pada limbah cair
biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer,
sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan
menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara
langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah
biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian
disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill),
dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).