Anda di halaman 1dari 10

REFERAT

Disusun Oleh :
Rayhana Fahlewi Batubara
Dokter Pembimbing :
dr.H. Dindin BR, Sp.KK



PROGRAM STUDI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PENDAHULUAN
Pedikulosis ialah Infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculosis
(dari family Pediculidae) dan yang menyerang manusia adalah Pediculus humanus yang
bersifat parasit obligat (di dasar rambut) yang artinya harus menghisap darah manusia untuk
mempertahankan hidup. Pedikulosis juga sangat mudah untuk menular dan dapat menularkan
tifus endemik dan gatal kambuhan.
Ada beberapa klasifikasi pedikulosis, yaitu Pediculus humanus var. Capitis yang
menyebabkan pedikulosis kapitis, Pediculus humanus var. Corporis yang menyebabkan
pedikulus korporis dan Phthirus pubis yang menyebabkan pedikulus pubis yang dulu disebut
Pediculus pubis.
Pedikulosis kapitis adalah suatu infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh
Pediculus humanus var. capitis. Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia tanpa adanya
batasan umur, jenis kelamin, ras, status ekonomi & status sosial. Gejala utama yang sering
ditemukan adalah gatal pada kulit kepala terutama pada bagian belakang telinga dan
tengkuk. Pedikulosis kapitis disebut juga kutu kepala atau head lice.
Diperkirakan sekitar 15% anak Indonesia mengalami masalah kutu rambut, serangga
kecil tanpa sayap yang mengisap darah manusia lewat kulit kepala. Meskipun kutu rambut
tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, keberadaannya bisa sangat mengganggu dan
menjengkelkan karena menimbulkan gatal terus-menerus di kepala. Faktor-faktor resiko
untuk infestasi yang disebarkan kutu yaitu berbagi sisir, topi, dan sikat yang terinfestasi,
sebagaimana juga setiap kontak antar kepala (kutu kepala), Pakaian atau tempat tidur yang
terinfestasi (kutu badan, kutu kepala jika terjadi kontak dengan kepala). Kontak fisik yang
dekat, terutama seksual (kutu pubis, kutu kepala jika terjadi kontak dengan kepala).









DEFINISI
Pedikulosis kapitis adalah Infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan Pediculus
humanus var. capitis.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini lebih menyerang anak-anak yaitu 3 - 11 tahun tetapi dapat terjadi pada semua
umur. anak perempuan lebih sering dibandingkan anak laki-laki. dan cepat meluas di
lingkungan yang padat seperti asrama dan panti asuhan. Ditambah lagi jika kondisi hygiene
tidak baik (misalnya jarang membersihkan rambut). Cara penularannya melalui peratntara,
misalnya sisir, kasur, topi, dan bantal. Di Amerika Serikat, lebih umum dalam putih dari kulit
hitam. Kutu dapat bertahan dari kulit kepala sampai 55 tahun.
Insidensi Paling umum pediculosis. Memperkirakan bahwa 6-12000000 orang di Amerika
Serikat adalah penuh setiap tahun. Bordeaux, Perancis: sampai 49% dari anak-anak sekolah.
Jerusalem, Israel: 20% pada tahun 1991. Bristol, UK: 25% pada tahun 1998. Ilorin, Nigeria:
3,7% pada tahun 1987.

ETIOLOGI
Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi kemerahan
jika telah menghisap darah. Betina mempunyai ukuran yang lebih besar (panjang 1,2 - 3,2
mm lebar lebih kurang setengah panjangnya) daripada yang jantan (sekaligus jumlahnya
lebih sedikit). Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Telur (nits)
diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut (makin ke ujung terdapat
telur yang lebih panjang).
Satu kutu kepala betina dapat hidup selama 16 hari dan menghasilkan 50 150 telur. Telur
berbentuk oval dan umumnya berwarna putih atau kuning.
Siklus Hidup
Sikulus hidup kutu rambut terdiri dari 3 tahap : telur, nimpa, dan dewasa.
Telur : telur kutu rambut berukuran 0,8 0,3 mm dan berbentuk oval. Telur diletakkan oleh
betina dewasa pada pangkal rambut yang terdekat dengan kulit kepala. Telur membutuhkan
waktu sekitar 1 minggu untuk menetas (6 9 hari).
Nimpa : telur yang menetas akan berubah menjadi nimpa. Nimpa terlihat seperti kutu dewasa
tetapi berukuran lebih kecil. Nimpa akan menjadi matang setelah 3 kali berubah dan menjadi
dewasa dalam waktu 7 hari setelah menetas.
Dewasa : Kutu dewasa berukuran kira kira sebesar biji wijen, memiliki 6 buah kaki.
Dewasa betina biasanya berukuran lebih besar dari jantan dan dapat mengeluarkan 8 telur
setiap hari. Untuk dapat bertahan hidup, kutu dewasa harus menghisap darah beberapa kali
sehari. Tanpa darah, kutu dewasa akan mati dalam waktu 1 2 hari.


PATOGENESIS
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk rmenghilangkan rasa gatal.
Sepanjang siklus kehidupannya, larva dan kutu dewasa menyimpan kotorannya di kulit
kepala, yang akan menyebabkan timbulnya rasa gatal. Selain itu gatal juga ditimbulkan oleh
liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit waktu menghisap darah. Garukan
yang dilakukan untuk menghilangkan gatal akan menyebabkan terjadinya erosi dan
ekskoriasi sehingga memudahkan terjadinya infeksi sekunder.

GEJALA KLINIS
Gejala yang dominan yaitu rasa gatal (terutama di daerah oksipital dan temporal). Karena ada
garukan, maka terjadi erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder (ada pus dan krusta). Bila
infeksi sekunder berat, rambut akan menggumpal karena banyaknya pus dan krusta
(plikapelonika) dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan
retroaurikular). Dalam keadaan ini menimbulkan bau busuk.



PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis, Pemeriksaan mikroskop dapat mengkonfirmasi diagnosis. Dengan
pemeriksaan mikroskop dapat terlihat kutu dewasa dengan 6 kaki, yang tebalnya 1-4
mm, tidak bersayap, berwarna abu-abu berkilat sampai merah jika menghisap darah.
Pemeriksaan dengan lampu wood pada daerah yang terinfestasi memperlihatkan
fluoresensi kuning-hijau dari kutu dan telur



DIAGNOSIS
Diagnosis dari kutu rambut dapat ditegakkan dengan menemukan nimpa hidup atau kutu
dewasa pada kulit kepala atau rambut seseorang. Nimpa hidup atau kutu dewasa sangat sulit
ditemukan. Hal ini disebabkan ukurannya yang kecil, cepat berpindah tempat, dan sering
menghindari cahaya.
Apabila nimpa atau kutu dewasa tidak ditemukan, dugaan terhadap kutu rambut dapat
dipikirkan apabila menemukan telur yang menempel kurang dari 1 cm dari pangkal rambut.
Telur lebih mudah untuk ditemukan, terutama di daerah leher atau belakang telinga. Telur
harus dibedakan dengan ketombe sebab telur lebih sulit dilepaskan akibat menempel karena
perekat yang dihasilkan oleh kutu rambut.
Apabila pada kulit kepala tidak ditemukan nimpa atau kutu dewasa, dan telur ditemukan
lebih dari 1 cm dari kulit kepala, maka kemungkinannya adalah akibat infestasi terdahulu dan
sudah tidak aktif, sehingga tidak memerlukan pengobatan.

DIAGNOSIS BANDING
a. Dermatitis seboroika
Dermatitis seboroik memberikan gambaran klinis berupa daerah eritema dan skuama pada
daerah kepala dan terasa gatal oleh penderita. Dapat dibedakan dengan pedikulosis kapitis
dengan tidak ditemukannya telur atau kutu pada daerah kepala yang gatal.19,20
b. Impetigo krustosa
Impetigo krustosa disebabkan oleh Staphylococcus B hemolyticus ditandai dengan eritema
dan vesikel yang cepat memecah sehingga jika penderita datang berobat yang terlihat adalah
krusta tebal berwarna kuning seperti madu.
C. Tinea kapitis
Tinea kapitis adalah dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala dimana terdapat kelainan
berupa lesi bersisik, kemerahan, kerion, dan gatal. Pada pemeriksaan dengan KOH, akan
didapatkan spora dan hifa yang merupakan elemen jamur yang merupakan penyebab tinea
kapitis.

PENATALAKSANAAN
Umum
- Hindari kontak dengan semua barang atau alat mungkin terkontaminasi seperti topi,
headset, pakaian pelapis, handuk, sisir, sikat rambut, tempat tidur
- Desinfeksi semua perhiasan kepala, syal, mantel, handuk, dan seprei dengan mesin
cuci dalam air panas, kemudian keringkan dengan menggunakan panas.
- Sisir dan sikat harus direndam dalam air panas selama 5-10 menit, atau Sisir dan
sikat harus direndam dalam alkohol atau larutan Lysol 2% untuk 1 jam.
- Anggota keluarga dan teman sekolah juga harus diobati.
- Beritahu para guru sekolah bila ditemukan kasus
- Memangkas rambut, Bagi anak laki-laki yang memiliki masalah kutu rambut parah,
cara termudah untuk menghilangkannya adalah memangkas rambut sampai plontos.
Pencukuran sebaiknya dilakukan di rumah, bukan di tempat pangkas rambut untuk
menghindari kemungkinan penularan ke orang lain, bagi anak perempuan rambut
dipotong pendek jika kutu dan telur terlalu banyak juga dapat dilakukan pemotongan
rambut sampai plontos/ botak.
- Membuang telur untuk mencegah penyebaran setelah pengobatan pedikulisid tidak
diperlukan, karena hanya kutu hidup yang dapat menyebarkan penyakit. Pedikulosida
tidak dapat menghilangkan 100%, oleh karena itu, telur dapat dihilangkan
menggunakan sisir khusus / serit (terutama 1 cm dari kulit kepala).
Khusus
- Malathion
Obat malathion organophosphate adalah suatu penghambat cholinesterase dan telah
digunakan selama 20 tahun untuk pengobatan kutu kepala. Malathion 0,5% atau 1%
yang digunakan dalam bentuk losio atau spray. Caranya : malam sebelum tidur
rambut dicuci dengan sabun kemudian dipakai losio malathion, lalu kepala ditutup
dengan kain. Keesokan harinya rambut dicuci lagi dengan sabun lalu disisir dengan
sisir yang halus dan rapat (serit). Pengobatan ini dapat diulang lagi seminggu
kemudian, jika masih terdapat kutu atau telur.
- Gameksan 1 %
Yang mudah didapat di Indonesia adalah krim gama benzene heksaklorida
(gameksan) 1%. Cara pemakaian: setelah dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian
dicuci dan disisir agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih ada telur, pengobatan
diulang secara berkala.
- Benzil benzoat 25%.
Obat lainnya adalah emulsi benzil benzoat 25%, dipakai dengan cara setelah
dioleskan lalu didiamkan 12 jam, kemudian dicuci dan disisir agar semua kutu dan
telur terlepas. Jika masih ada telur, pengobatan diulang secara berkala.
- Untuk infeksi sekunder, sebaiknya rambut dicukur dan diobati dengan antibiotika
sistemik dan/atau topical, lalu disusul dengan obat yang telah disebutkan sebelumnya
dalam bentuk shampoo. Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi residif.

Kegagalan terapi adalah disebabkan Kesalah pahaman instruksi, ketidak patuhan, instruksi
yang tidak tepat dari produk-kutu kepala atau dari profesional kesehatan, biaya tinggi
produk, misdiagnosis, gatal psikogenik, telur hidup tidak dihapus atau di ambil setelah
menghilangkan kutu.

PENCEGAHAN
Kutu rambut akan mati dalam 1 2 hari setelah jatuh dari kepala manusia. Kutu rambut
umumnya menyebar melalui kontak langsung antara kepala dengan kepala (rambut dengan
rambut). Untuk mencegah penyebaran dari kutu rambut maka hal yang dapat dilakukan
adalah :
o Hindari kontak langsung rambut dengan rambut sewaktu bermain atau saat aktifitas di
sekolah dan di rumah.
o Jangan saling meminjam topi, skarf, mantel, seragam olahraga, jaket, bandana atau
topi baret .
o Jangan saling meminjam handuk, sisir , sikat. Cucilah menggunakan air panas
(minimal 71
0
C selama 5 10 menit) sisir atau sikat yang digunakan oleh seseorang
dengan kutu rambut.
o Jangan berbaring di kasur, sofa, bantal, karpet atau pada binatang berbulu yang
kontak dengan seseorang dengan kutu rambut.
o Bersihkan lantai dan perabotan menggunakan vakum, terutama pada tempat dimana
orang dengan kutu rambut duduk atau berbaring. Namun tidak perlu menghabiskan
banyak uang dan waktu untuk membersihkan rumah.
o Cucilah baju, sprei, dan barang lain yang digunakan oleh sejak 2 hari sebelum
pengobatan dimulai menggunakan air panas (54
0
C). Baju dan pakaian yang tidak
dapar dicuci dapat dicuci kering ATAU dirapatkan dalam kantong plastik dan
disimpan selama 2 minggu.
o Jangan mencuci rambut dahulu selama 1-2 hari setelah pengobatan dengan obat kutu
rambut. Jangan gunakan sampo dengan kondisioner sebelum pengobatan.
o Jangan gunakan semprotan fumigasi atau pengasapan; hal tersebut tidak dapat
mematikan kutu rambut dan dapat bersifat racun apabila terhirup atau diserap melalui
kulit.

KOMPLIKASI
Beberapa orang akan berkembang menjadi suatu infeksi sekunder akibat garukan. Adanya
infeksi sekunder yang berat menyebabkan terbentuknya pustul dan abses.

PROGNOSIS
Baik bila hygiene diperhatikan dan tidak kontak dengan pasien yang pedikukosis..





















DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, 2009, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi kelima,Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 119-121
Fitzpatriks. Dermatology in General Medicine Volume Three. Seventh Edition. Mc
GrawHill. USA;2008
Siregar, R.S., 1996, Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 195-196
http://www.emedicine.com