Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keterampilan mendengar secara aktif merupakan hal mendasar yang herus
diterapkan dalam proses konseling. Untuk mempraktikannya, perlu latihan dan
waktu praktik yang rutin. Selain itu, konselor perlu banyak membaca uraian
yang membahas tentang bagaimana mengembangkan tekhnik mendengarkan
secara aktif dan efektif. Teruslah mengasah keterampilan tersebut dan
keterampilan yang lain untuk menolong konseli yang datang kepada anda.
Dengan demikian, keterampilan yang dimiliki akan semakin luas.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang harus diketahui yaitu:
1. Pengertian Mendengar Aktif ?
2. Refleksi Isi Pada Mendengar Aktif ?
3. Refleksi Perasaan Mendengar Aktif ?
4. Keterampilan bertanya Mendengar Aktif ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penyelesaian pembuatan makalah ini adalah sebagai syarat dalam mata
kuliah agar mahasiswa mampu menjelaskan mengenai.
1. Pengertian Mendengar Aktif .
2. Refleksi Isi Pada Mendengar Aktif.
3. Refleksi Perasaan Mendengar Aktif.
4. Keterampilan bertanya Mendengar Aktif.



D. Manfaat Penulisan
Sebagai bahan pembelajaran dan pengetahuan bagi mahasiswa dalam
menerapkan pada praktik kebidanan.



























BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN MENDENGAR AKTIF
Mendengar aktif adalah ketika anda melakukan usaha secara sadar untuk
mendengarkan bukan hanya kata-kata yang diucapkan orang lain, tetapi yang
lebih penting ialah berusaha memahami pesanyang disampaikan secara
menyeluruh.
1. Keterampilan Mendengar
Dalam komunikasi interpersonal dan konseling (KIP/K) terdapat 4 bentuk
mendengarkan yang bisa kita gunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi, yaitu:
a. Mendengar pasif (diam)
Dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya: berbicara
tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan kesal atau sedeh. Selain
itu bila berhenti sejenak, konselor dapat mendengar pasif untuk memberikan
kesempatan menenangkan diri.
b. Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal
Dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa yang
terjadi pada dirinya. Selain diam, konselor mendengarkan dengan memberikan
ungkapan kata verbal untuk menyemangati klien berbicara. Seperti: Hmm,
yaa.., lalu,.. oh.., begitu.., terus.., atau sesekali menganguk.
c. Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi dilakukan bila
konselor ingin mendalami apa yang diucapkan/diceritakan klien.
Misalnya: bagaimana hubungan ibu dengan saudara-saudara suami ? apakah
maksud ibu dengan perbuatan yang tidak layak itu ?
d. Mendengar aktif
Yaitu dengan memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan perasaan
klien. Melakukan refleks yang tepat dan menghargai perasaan klien merupakan
hal yang perlu dan penting dalam proses konseling. Sebelum klein siap dan mau
mengatakan situasinya, mendengarkan pilihan-pilihan, dan mengambil
keputusan yang tepat berdasarkan informasi, klien terlebih dahulu harus percaya
bahwa konselor mendengaran dan mengerti akan perasaannya, kepentingan
klien dan keprihatinannya.
1. Manfaat refleksi adalah:
a. Mendorong seseorang menyadari bahwa anda telah dan sedang
mendengarkannya dan memahami apa yang telah dikatakannya.
b. Memungkinkan seseorang lebih memahami perasaan emosional
dan isi pembicaraannya.
c. Mendorong seseorang melanjutkan pembicaraannya.
2. Refleksi isi atau paraphrasing
Adalah menyatakan kembali ucapan klien dengan kata-kata lainnya,
memberi masukan kepada klien tentang inti ucapan yang baru dikatakan
klien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan klien.
Contoh , Klien : Tiap hari saya selalu disibukan dengan pekerjaan rumah,
mengurus anak, dalam keadaan hamil seperti ini saya ingin minta bantuan
suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi apakah suami saya mau.
Karena suami saya sering mengatakan bahwa pekerjaan rumah adalah
pekerjaan perempuan, padahal semestinya tidak begitu. Kan, Bu? Namanya
berumah tangga harus sama-sama, apalagi saya sedang hamil begini, ya kan
Bu?. Bidan : Ibu minta bantuan suami mengerjakan pekerjaan rumah
angga yang terasa berat dalam keadaan hamil seperti sekarang ini, tapi tidak
yakin suami mau?
3. Refleksi perasaan
Refleksi dalah mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh konselor
dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien walaupun dari hal-hal
yang bersifat dari kata-kata verbal klien.
Contoh : Klien : tiap hari saya selalu disibukan dengan pekerjaan
rumah, mengurus anak, dalam keadaan hamil seperti ini saya ingin minta
bantuan suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi apakh suami
saya mau. Karena suami saya sering mengatakan bahwa pekerjaan rumah
adalah pekerjaan perempuan, padahal semestinya tidak begitu kan, Bu?
Namanya berumahtanggakan harus sama-sama, apalagi saya sedang hamil
begini, ya kan Bu?Bidan : ibu merasa kesal dengan sikap suami yang tidak
membantu ibu dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dalam keadaan
hamil seperti sekarang ini!
a. Refleks perasaan mencakup tiga tujuan:
1) Klien berpikir mengenai bagaimana perasaanya
2) Konselor mengetahui apakah klien mengalami kebingungan.
3) Jika mengalami kebingungan, klien dan konselor akan meluruskannya
melalui diskusi.
Persamaan dan perbedaan merangkum dengan refleks isi : merangkum
hampir sama dengan refleks isi, namun berbeda, perbedaanya adalah:
a) Merangkum dilakukan setelah beberapa waktu yang lebih lama dengan
mencakup beberapa informasi yang diucapkan klien.
b) Merangkum digunakan di awal dan diakhir dari percakapan
c) Untuk transisi (peralihan) antar topik
d) Memberi penjelasan panjang terhadap masalah klien yang rumit
Hal-hal yang perlu diperhatikan atau tips dalam mendengarkan aktif
meliputi:
a) Terima klien apa adanya. Hargai klien sebagai individu yang berbeda
dari individu yang lainnya.
b) Dengarkan apa yang dikatakan klien dan bagaimana ia mengatakan hal
itu. Perhatikan intonasi suara, pemilihan kata, ekspresi wajah, dan
gerakan-gerakan tubuh.
c) Tempatkan diri pada posisi klien selama mendengarkan
d) Kadang-kadang lakukan mendengar aktif (diam). Beriwaktu pada klien
untuk berpikir, beratnya dan berbicara. Sesuaikan dengan kecepatan
klien.
e) Dengarkan klien dengan seksama, jangan berpikir apa yang anda
katakana selanjutnya.
f) Lakukan pengulangan (refleks) apa yang anda dengar, sehingga anda dan
klien tau bahwa anda telah paham.
g) Duduk menghadap klien dengan nyaman, hindari gerakan yang
menggangu, tatap dan perhatikan klien ketika berbicara.
h) Tunjukan tanda perhatian verbal (hmmm, yaaa, lalu, terus, oh begitu) dan
verbal (sesekali mengangguk).
4. Keterampilan bertanya
a. tujuan mendengarkan dan bertanya adalah :
1) mendorong klien untuk berbicara.
2) menunjukkan minat dan perhatian kita terhadap klien.
3) menigkatkan kesadaran kita terhadap perasaan klien.
4) memperoleh informasi.
5) memberikan suatu arahan percakapan terhadap klien
b. Jenis pertanyaan
Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi pertanyaan
tertutup dan terbuka.
1. Pertanyaan tertutup
a) Menghasilkan jawaban ya atau tidak yang berguna untuk
mengumpulkan informasi yang faktual (biasanya dilakukan pada
awal-awal percakapan).
b) Bila menginginkan jawaban yang pendek dan khusus.
c) Kegunaan untuk menanyakan riwayat kesehatan, data diri.
2. Pertanyaan terbuka
a) Jenis pertanyaan biasanya memakai kata Tanya bagaimana atau
apa.
b) Kegunaan untuk mempelajari perasaan, kepercayaan, dan
pengetahuan klien.
c) Memberi kebebasan atau kesempatan kepada klien dalam
menjawab yang memungkinkan partisipasi aktif dalam percakapan.
d) Merupakan cara yang efektif untuk menggali informasi
menggunakan intonasi suara yang menunjukkan minta dan
perhatian.
e) Mendorong untuk mengembangkan jawaban, melanjutkan
pembicaraan, dan mengarahkan pada masalah terpenting, sehingga
dapat muncul informasi-informasi yang tidak diduga dari
jawabannya klien.
Contoh : bagaimana perasaan ibu dengan kehamilan anak ketiga
ini? bagaimana perasaan dan pendapat suami dengan kehamilan
ibu yang ketiga ini?
c. Bertanya efektif
Bertanya yang efektif kepada klien penting, karena :
1) Dapat menilai kebutuhan klien
Contoh pertanyaan:
Apa yang dapat saya bantu?
Apa masalah ibu sehingga ibu datang ke klinik?
2) Dapat menilai pemahaman dan pengalaman klien berkaitan dengan
kehamilan dan persalinan.
Contoh pertanyaan:
Menurut ibu, apa yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut?
Apa yang bu lakukan ketika melihat tanda-tanda perdarahan?
Apakah ada perbedaan yang ibu rasakan antara kehamilan anak yang
pertama dan anak yang kedua?
3) Dapat menghemat waktu bidan dan klien dengan tidak mengulang
informasi yang sudah klien ketahu
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam bertanya efektif :
1. Gunakan intonasi suara yang menunjukan perhatian, minat dan
keakaban.
2. Gunakan kata-kata yang dipahami klien.
3. Ajukan pertanyaan satu-persatu. Tunggu jawaban dengan penuh
minat, jangan memotong.
4. Gunakan kata-kata yang mendoron klien untuk tetap berbicara seperti
: Dan, Bagaimana?, lalu?, Maksudnya?
5. Bila menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi, jelaskan mengapa hal
tersebut ditanyakan.
6. Hinddari penggunaan kata Tanya Mengapa. Karena kemungkinan
klien dapat merasa disalahkan.
7. Anjurkan pertanyaan yang sama dengan berbagai cara bila klien
belum paham.
8. Hindari pertanyaan yang mengarahkan.
9. Gunakan pertanyaan terbuka karena lebih efektif dari pada
pertanyaan tertutup






















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam komunikasi sangat
penting untuk memahami dan mengetahui tentang mendengar aktif, karena
materi ini merupakan salah satu poin terpenting yang diterapkan dalam praktik
kebidanan.



















DAFTAR PUSTAKA

Diah Wulandari, SST. 2012. Komunikasi dan Konseling dalam Praktek
Kebidanan. Nuha Medika: Yogjakarta.
Modul Komunikasi Efektif . Depkes.
http://uher1.files.wordpress.com/2010/09/mendengar_secara_aktif.pdf