Anda di halaman 1dari 95

1

BAB I
Pengantar dan Pengertian Politik Internasional
(6 September 2012)

I. Pengantar
Studi politik internasional sebenarnya adalah merupakan studi kebijakan politik luar
negeri dimana kebjiakan ini didefinisikan sebagai keputusan-keputusan yang merumuskan
tujuan, menentukan presiden atau melakukan tindakan-tindakan tertentu dan tujuan-tujuan
yang diambil untuk mengimplementasikan tujuan-tujuan tersebut. Studi ini memusatkan
perhatian pada usaha-usaha yang menggambarkan kepentingan-kepentingan tindakan,
elemen-elemen atau unsur-unsur kekuasaan negara-negara besar. Tetapi dalam hal apa yang
ada di kebijakan luar negeri menjadi politik internasional menurut Frad E. Sondernpman
dalam bukunya The Lintage Between For Policy and International Politics dan James N.
Rosenau dalam bukunya International Politics and Foreign Policy.
Perbedaan antara dua isttilah tersebut di atas lebih bersifat akademis, tetapi secara
kasarnya merupakan perbedaan antara obyektif atau tujuan dengan tindakan (keputusan atau
kebijakan) negara atau sekelompok negara serta interaksi antar dua negara atau lebih.
Pokok permasalahan pertama pada kuliah ini adalah politik internasional yang hampir
seluruhnya membahas hubungan dari berbagai politik kelompok kepentingan internasional
antar satu dengan yang lain.
Sebagai suatu disiplin ilmu dalam dunia modern politik internasional dianggap mulai
muncul setelah terbitnya karya-karya Moseufelly dan kemudian disusun oleh Sir Belsin
Beiken (abad ke-17), David (abad ke-18), M. Bernard (abad ke-19) dan banyak lagi para
penulis lainnya seperti Hobbs, John Locke, Montesque, Aristoteles dan lain-lain.
Setelah Perang Dunia II di Amerika Serikat muncul lagi penulis-penulis terkenal seperti
Frederich Schumann, William Trvox, Kenneth N. Waltz, Yuan C. Chen, Hans J. Morgenthau
dan lain-lain.
Ilmu politik merupakan suatu disiplin yang lahir sebagai ilmu suatu cabang
pengetahuan ilmu politik membahas hubungan dan berbagai prilaku antara yang satu dengan
yang lain yang dibagi dalam :
1. Fungsinya ke dalam negeri (teori ilmu politik, administrasi negara, hukum negara dan
lain-lain)
2

2. Hubungan geografi ke dalam (pemerintahan daerah, pemerintahan nasional)
3. Hubungan ke luar negeri atau hubungan internasional (hukum internasional, politik
internasional, organisasi, administrasi internasional, politik luar negeri, diplomasi)

II. Pengertian Politik Internasional

Pengertian politik internasional dan hukum internasional, dua istilah ini sering
digunakan silih berganti untuk hal yang sama. Tetapi pendapat para pakar politik
internasional dan hubungan internasional harus dibedakan.
Politik internasional membicarakan keadaan-keadaan politik dimata internasional
dalam arti yang sempit yaitu diplomasi, hubungan antar negara, konflik-konflik yang
menyangkut dengan politik internasional yang dilatar belakangi dengan menunjukkan
hubungan tertentu antara negara-negara yang berdaulat.
Hubungan internasional lebih disesuaikan yang mencakup segala macam hubungan
antar negara, bangsa dengan kelompok bangsa, dengan masyarakat internasional dan
kekuatan-kekuatan, tekanan-tekanan, proses yang menentukan corak hidup dan bertindak dan
berfikir secara manusia.
Oleh karena itu menurut para pakar ilmu politik, kedua ilmu ini dari waktu ke waktu
sering tumpah tindih tergantung pada situasi tempat dan waktu.

III. Apa Itu Politik Internasional?
Definisi :
a. Menurut Yuan C. Chen seorang pakar politik internasional mengatakan bahwa politik
internasional juga dapat disebut politik antar negara yang mencakup interest and
action (kepentingan dan tindakan) dan negara-negara di dunia dalam hubungannya
satu sama lain atau dapat juga disebut sebagai proses interaksi antar negara-negara
dan antar organisasi-organisasi internasional
b. Menurut Hans J. Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nation
mendefinisikan sebagai berikut International politics like of other politics, power is
always the immediate man control over demands and action of other man. Politik
internasional seperti semua politik lainnya, kekuasaan adalah tujuan utamanya,
manusia mengontrol tindakan manusia lainnya
3

c. Menurut Joseph Frankle dalam bukunya International Politics, Conflict and
Harmony mendefinisikan sebagai berikut, politik bertolak dari fakta sosial yang
memperlihatkan bahwa manusia memiliki beberapa keinginan yang tidak mungkin
dilakukan melalui usaha individual, maka manusia mengorganisasikan dirinya ke
dalam berbagai kelompok untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut.
Pengelompokan itu kemudian menimbulkan berbagai pola tingkah laku massa yang
langsung atau tidak langsung dikaitkan dengan kenegaraan, kewenangan, kekuasaan
(power) dan kaidah-kaidahh hukum lainnya. Kelompok-kelompok itu baik dalam
bentuk negara atau bangsa, organisasi-organsasi internasional, mengikat dan
melakukan berbagai tindakan dan beraksi yang membentuk apa yang disebut politik
internasional
d. Menurut Charles P. Schleichr dalam bukunya Introduction to International
Relations mendefinisikasn sebagai berikut, international politics adalah power
politics (macthpoleiea). Power politics dirumuskan oleh Schleichr sebagai the conduct
of relations especially among states, surelly by the use or the treath of force.
Hubungan antar negara dalam mana kekuatan digunakan atau dijadikan ancaman
merupakan obyek power politics.

IV. Gambaran

Gambaran tentang politik internasional merupakan gambaran tentang bagaimana
hubungan antara fenomena-fenomena yang ditemui lalu dimasukkan dalam suatu
pengetahuan yang utuh secara sistematis dan secara logis dapat dipahami. Gambaran inilah
yang merupakan jawaban tentang pertanyaan apakah sebenarnya politik internasional itu.
Dalam suatu tulisan dati seorang pakar A. McClelland yang berjudul What is
International Politics menyatakan karakter dasar dari politik internasional berasal dari
organisasi-organisasi, jaringan-jaringan masyarakat yang terpisah-pisah dan juga berasal dari
hubungan-hubungan yang diakui antara organisasi-organisasi yang terpisah-pisah. Studi
politik internasional dibatasi oleh kepentingan-kepentingan dalam hubungan pertukaran dan
interaksi, oleh karena itu menurut McClelland fakta-fakta politik internasional dapat diseleksi
menurut dua referensi tentang aktor dan interaksi, siapa aktor dipanggung internasional dan
bagaimana interaksi di antara aktor-aktor itu terjadi.

4



V. Hakekat Politik Internasional

Politik internasional menurut Hans J. Morgenthau pada hakekatnya adalah merupakan
a struggle for power. Power sebagaimana dimaksudkan oleh Hans J. Morgenthau diartikan
sebagai berikut : men control over the minds and actions of other men. Power menurut
Morgenthau dapat dibedakan dengan influence (pengaruh) dan force (kekuatan) yaitu power
yang berguna dan power yang tidak berguna. Power juga dapat dibedakan antara legitimate
power (sah) dan illegitimate power (tidak sah). Jika dikaji lebih lanjut arti-arti di atas adalah :
a. Influence
Seseorang yang mempunyai influence belum tentu mempunyai power. Ia baru dapat
dikatakan mempunyai power apabila ia mempunyai upaya yang dapat digunakan
untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain..
b. Force
Force adalah merupakan penggunaan nyata atau wujud nyata dari kekuatan fisik
(actual exercise of physical violence) sedangkan politic for power adalah ancaman
penggunaan kekuasaan fisik yang bisa berbentuk tindakan polisionil, pemenjaraan,
hukuman mati atau perang.
c. Useable Power and Unuseable Power
Tersedianya senjata nuklir mendorong orang membuat perbedaan antara use able
power dengan unuseable power. Walaupun ancaman senjata nuklir dapat digunakan
sebagai instrumen politik luar negeri yang rasional sifatnya atau kegunaannya secara
nyata dari kekuatan tersebut tetap tidak rasional karena kekuatan ancaman tersebut
digunakan bukan untuk tujuan yang sifatnya rasional yaitu menghancurkan pihak lain
dengan menanggung resiko atas kehancurannya sendiri. Senjata nuklir oleh karena itu
merupakan unuseable power.
Sebaliknya kekuatan konvensional karena sifatnya yang hanya membuat kerusakan
yang terbatas dengan resiko yang sepadan bagi dirinya sendiri dapat digunakan sebagai
instrumen untuk mengubah pihak lain. Oleh karena itu senjata konvensional use able
power yang penggunaannya secara moral atau legilitasnya dapat dibenarkan.


5

BAB II
Aliran Teori-Teori dalam Politik Internasional
(13 September 2012)

I. Teori Politik Internasional

And international politic service premirialy to explain internastional political of
comes, with also tells us something about the form politic of state and about the economic
and other interactions. Teori politik internasional menyajikan untuk menerangkan hasil dari
politik internasional dan juga menjelaskan kepada kita mengenai kebijakan luar negeri dari
negara-negara dan mengenai masalah ekonomi dan interaksi lainnya.
Menurut K. J. Holsti dalam bukunya Politic International suatu kerangka analisis
1992 adalah sebagai sebagai studi mengenai tindakan pola negara terhadap lingkungan
eksternal sebagai reaksi atas respons negara lain, selain mencakup unsur power kepentingan
dan tindakan politik internasional juga mencakup perhatian terhadap sistem internasional dan
perilaku para pembuat keputusan dalam suatu konflik politik internasional menggambarkan
hubungan dua arah yaitu reaksi dan respon.
Politik internasional merupakan salah satu wujud dari interaksi dalam hubungan
internasional. Politik internasional membahas keadaan atau soal-soal politik di masyarakat
internasional dalam arti yang lebih sempit yaitu dengan berfokus pada diplomasi dan
hubungan antar negara dan kesatuan-kesatuan politik lainnya. Politik internasional seperti
halnya politik domestik terdiri dari elemen-elemen kerjasama dan konflik, permintaan dan
dukungan, gangguan dan pengaturan. Negara membuat perbedaan antara lawan dan kawan.
Politik internasional memandang tindakan suatu negara sebagi respon atas tindakan suatu
negara lain. Dengan kata lain politik internasional adalah proses interaksi antara dua negara
atau lebih.

II. Teori Elite Politik

Karl W. Deutch dalam bukunya The Analysis of International Politics menyatakan
sebagai berikut : yang dimaksud dengan elite disini adalah sejumlah kecil orang-orang
biasanya kurang dari 0,05% dari jumlah penduduk yang memiliki paling tidak satu nilai dasar
6

dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari para penduduk umumnya. Hal ini tergantung pada
nilai dasar atau sumber daya yang dimiliki atas :
1. Elite politik
yaitu orang-orang yang memiliki kekuasaan jauh lebih banyak daripada orang-
orang biasa (masyarakat biasa) atau massa.
2. Elite Ekonomi
yaitu sejumlah orang yang memiliki kekayaan jauh lebih banyak daripada orang-
orang biasa (orang-orang kaya yang mengontrol ekonomi)
3. Elite Ilmuan
yaitu sekelompok orang yang memiliki ilmu pengetahuan jauh lebih banyak dari
manusia biasa (cendekiawan), ia menguasai ilmu pengetahuan di negara tersebut.
Menurut teoritisi elite politik kebijaksanaan pemerintah mencerminkan kehendak dari
nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan atau yang termaksud
dalam kelompok elite politik. Pendapat menyatakan bahwa kebijaksanaan publik adalah
kehendak rakyat sebenarnya hanya berupa mitos dari kenyataan. Teori ini mengungkapkan
bahwa rakyat itu sebenarnya adalah apatis atau sikap tidak peduli dan tidak banyak tahu
tentang kebijaksanaan pemerintah. Oleh karena itu kebijaksanaan publik yang muncul
sebenarnya adalah kebijaksanaan yang memenuhi keinginan kaum kelompok elite politik.
Kebijaksanaan mengalir dari kelompok elite politik ke massa dan bukan sebaliknya.
Argumentasi teoritis elite politik dapat diringkas sebagai berikut :
1. Masyarakat terbagi dalam dua kelompok yaitu sekelompok orang yang memiliki
kekuasaaan yang disebut kelompok elite dan sekelompok besar orang-orang yang
tidak mempunyai kekuasaan yang disebut massa.
2. Sekelompok elite kecil yang memerintah mempunyai karateristik yang berbeda dan
massa yang memerintahnya. Kaum elite politik sebagian besar berasal dari status
ekonomi sosial, golongan atas dalam masyarakat.
3. Perpindahan dari posisi non elite ke posisi elite politik diatur secara tetap demi
memelihara stabilitas dan mencegah resolusi untuk masuk ke dalam lingkungan elite
politik yang memerintah kaum non elite harus menjunjung tinggi konsensus dasar
yang dianut oleh kaum elite yaitu konsensus tentang nilai-nilai dasar yang menjamin
keberlangsungan sistemnya.
4. Tindakan massa tidak relevan dengan proses pembuatan kebijaksanaan publik artinya
kebijakan pemerintah tidak mencerminkan nilai-nilai tuntutan massa yang
diperintahnya, tetapi lebih mencerminkan keinginan dan nilai-nilai yang dianut oleh
7

kaum elitenya. Perubahan dalam kebijakan pemerintah terjadi sedikit demi sedikit dan
tidak revolusioner.
5. Kaum elite yang memerintah sedikit sekali bisa dipengaruhi secara langsuung oleh
negara yang memang apatis. Kaum elite lebih banyak mempengaruhi opini massa
daripada sebaliknya.

Apa implikasi teori politik dengan politik internasional terhadap analisis politik luar
negeri dan politik internasional? Yang terpenting dari teori ini menegaskan bahwa politik
internasional dan politik luar negeri lebih mencerminkan kepentingaan kaum elite yang
memerintah dari rakyatnya. Oleh karena itu perubahan yang terjadi dalam politik
internasional dan politik luar negeri sebenarnya adalah akibat perubahan pandangan atau
kepentingan kaum elite. Misal, apakah Indonesia perlu berhubungan dengan aktor-aktor
seperti RRC, Jepang, atau IGGI/IMF atau apakah Indonesia perlu menyelesaikan konflik di
Indo Cina, apakah Indonesia harus menyumbang untuk kegiatan internasional seperti
UNESCO. Semuanya itu tidak menjadi pemikiran sehari-hari rakyat Indonesia, tapi secara
langsung menyangkut kepentingan kaum elite Indonesia. Kaum elite itulah yang menentukan
bahwa Indonesia perlu atau tidaknya mempertahankan hubungan baik dengan Amerika
Serikat, China, Jepang atau negara-negara lainnya, apakah perlu memelihara kerjasama
dengan ASEAN atau memenuhi aturan ekonomi internasional yang ditetapkan oleh IMF.

III. Role Theory (Teori Peran)

Role atau peranan adalah perilaku yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang
yang menduduki suatu posisi. Ini adalah perilaku yang dilengkapkan pada suatu posisi atau
kedudukan dari setiap orang yang menduduki suatu posisi, diharapkan sesuai dengan posisi
tersebut. Alan Isaak dalam bukunya Scope and Metodhs of Political Science menyatakan
teori peranan pelaku politik adalah perilaku dalam menjalankan peranan politik. Teori ini
berasumsi bahwa sebagian besar perilaku politik adalah akibat dari tuntutan atau harapan
terhadap peran yang kebetulan dipegang oleh seorang aktor politik, kepribadian dan sikap
seorang menteri akan dipengaruhi keputusan-keputusan yang dibuatnya ketika ia
menjalankan suatu peranan dan fakta-fakta inilah yang menurut teoritis peran yang paling
penting dipraktekkan.
8

Teori peran berasumsi bahwa aktor politik menemukan dirinya dalam berbagai posisi,
mulai dari posisi sebagai presiden, menteri, anggota DPR, atau warga negara biasa, masing-
masing posisi itu memiliki perilaku tersendiri. Seseorang yang menduduki posisi tertentu
diharapkan akan berperilaku tertentu dan harapan dugaan itulah yang membentuk suatu
peran.

IV. Teori Alumni
Selain dari teori elite politik diperkecil ikatannya yaitu menjadi teori ikatan alumni
yang lebih menekankan kepada yang disebut teori ikatan alumni. Pada teori ini yang lebih
diperhatikan bukan pada elite politik, tapi lebih diperhatikan terhadap para anggotanya dan
bekas-bekas alumninya.
Argumen pendekatan teori ini bahwa orang yang berasal dari satu sekolah, satu
pendidikan universitas, satu partai politik, satu bidang profesi, satu kesatuan tentara/angkatan,
dan lain-lain yang serupa dengan itu cenderung memiliki pandangan dan jarang yang berfikir
serupa, sehingga dalam unit birokrasi terdapat banyak orang-orang yang memiliki kesamaan
yaitu yang bekas satu alumni yang mana biasanya diduga bahwa keserasian mudah tercipta
dan inilah juga mengisyaratkan bahwa orang-orang yang berbeda alumni akan mempunyai
pandangan atau cara bekerja yang berbeda pula, oleh karena itu dalam politik sering banyak
terdapat orang-orang dari alumni yang sama.

V. Teori Kelompok Kecil (Small Group Theory)

Teori ini dimulai dalam asumsi dasar yang sama dengan teori peran yaitu bahwa
perilaku aktor politik tidak bisa dipahami tanpa melihat konteks sosialnya, tapi teori ini
berbeda dengan teori peran, teori ini peran cenderung menekankan dampak posisi
institusional terhadap perilaku individu, sedangkan teori kelompok kecil lebih menekankan
dampak dari konteks sosial yang tidak resmi. Teori kelompok kecil tidak bisa diterapkan
untuk segala situasi politik, ia hanya bisa dipakai untuk menjelaskan tipe-tipe situasi
perbuatan tertentu yaitu suatu situasi dalam kelompok kerja (task room).
Yang menjadi perhatian dalam kelompok kecil adalah sejumlah kecil orang-orang
yang bergabung untuk mengerjakan sesuatu, misal untuk menyelesaikan suatu masalah,
membuat keputusan, merancang strategi. Dalam kategori ini dapat disebut pula sebagai
9

kelompok Ad Hoc atau kelompok kerja khusus yang dibentuk untuk menyelesaikan suatu
masalah khusus..
Contoh misalnya dalam proses membuat keputusan suatu pemerintah, banyak dari
kegiatan itu terjadi dalam berbagai kelompok kecil, dari urusan-urusan kecil sampai pada
urusan-urusan besar. Keanggotaan kelompok seperti itu seringkali melintasi batas-batas
organisasi, diikat oleh berbagai macam profesional dan pribadi yang jumlahnya kecil
seringkali tidak hanya sampai lima orang dan paling banyak hanya puluhan. Hal ini dilakukan
umpamanya di Amerika Serikat, National Security Control, di Uni Soviet dulu anggota polit
biro. Di komunisme yang berkuasa adalah orang yang berada di polit biro. Contoh lainnya
seperti umpamanya ketika presiden Amerika Serikat Lindon B. Jonson menjadi presiden
Amerika Serikat terdapat kelompok kecil yang dikenal sebagai Tuesday Lunch Bunch,
karena bertemu setiap hari Selasa pada saat makan siang yang terdiri dari presiden, menteri
luar negeri, menteri pertahanan, direktur CIA, asisten khusus, dan kepala staff gabungan
angkatan bersenjata. Kelompok kecil ini merupakan inner circle atau lingkungan dalam dan
merupakan forum tempat dimana proses pembuatan keputusan yang sesungguhnya dilakukan
oleh team work tersebut (menurut buku Robert Wendzal dalam bukunya International
Relations, A Policy Makers Focus 1997 page 269).











10

BAB III
Ideologi dan Prestise dalam Politik Internasional
(27 September 2012)
I. Pengantar

Salah satu masalah yang penting dalam politik internasional yang berbeda dari pola
klasik zaman dahulu adalah soal manipulasi kepercayaan masyarakat dan pendapat rakyat
oleh para pembuat keputusan. Timbulnya gerakan massa yang besar-besaran telah
mengugurkan monopoli atas politik luar negeri oleh golongan elit yang cerdik saja. Massa
rakyat dan cara berpikir mereka telah dipengaruhi oleh proses politik nasional dan
internasional.
II. Apa Itu Ideologi Politik ?
a. Asal-usul ideologi politik
Filsuf Perancis Antoinio Destutte de Tracy (1754) menciptakan istilah ideologi pada
tahun 1798. De Tracy adalah seorang rasionalistis dari gerakan politik abad ke-18 yang
dikenal sebagai nama abad pencerahan. De Tracy melihat ideologi sebagai suatu ilmu tentang
pemikiran manusia (sama seperti biologi dan zoologi yang merupakan ilmu tentang spesies)
yang mampu menunjukkan jalan yang benar menuju masa depan. De Tracy ingin
merumuskan kemajuan dengan memperbaiki manusia untuk menunjukkan mana gagasan
yang salah dan mengembangkan suatu sistem pendidikan sekuler (having no connection with
religion) tidak ada hubungannya dengan agama yang dapat menghasilkan manusia lebih baik
(abad ke-19 merupakan masa kemajuan yang besar bagi pendidikan umum barat).
Dengan penyederhanaan atas sejumlah besar pendekatan yang sifatnya luas, kegunaan
ideologi dapat dibagi ke dalam :
1. Ideologi sebagai pemikiran politik
2. Ideologi sebagai norma dan keyakinan
3. Ideologi sebagai bahasa, simbol dan mitos
4. Ideologi sebagai kekuasaan golongan elit
Keempat pendekatan ini tidak seluruhnya bersifat eksklusif (doesnt belong to one
group only). Ada suatu kecenderungan yang kuat terutama diantara pendekatan dua dan tiga
dalam penerapan kekuasaan. Sungguhpun demikian keempat kategori tersebut menunjukkan
bidang kajian utama yang berbeda-beda. Yang pertama secara khusus berhubungan dengan
11

liberalisme dengan para pemikirnya John Stuart Mill (1806-1873). Pendekatan pertama ini
cenderung memusatkan perhatiannya pada batas-batas kebebasan apakah ada kontradiksi
antara penekanan liberalisme mengenai otonomi individu dan rasionalitas serta keterbatasan
dari pasar kapitalistis. Faktor kedua berhubungan dengan kumpulan pandangan yang dianut
masyarakat biasa yaitu pemikiran yang cenderung kurang sistematis, misalnya banyak
masyarakat barat yakin bahwa kita membutuhkan pendapatan yang tinggi yang secara relatif
berbeda bagi tiap orang. Pendapat yang ketiga kelihatannya lebih banyak, misalnya di Barat
dikenal istilah pasar bebas atau prinsip-prinsip demokrasi yaitu kebebasan, persamaan hak
dan persaudaraan. Pendapat keempat lebih berhubungan dengan cara dimana para kaum elit
berusaha untuk memastikan konformitas dan dukungan. Kalau pada masa lalu konformitas
dan dukungan terpusat pada tekanan-tekanan politik, tetapi dewasa ini diusahakan oleh
kekuatan media atau sistem pendidikan nasional.

b. Ideologi politik
Definisi singkat dari ideologi politik menurut pakar Michael Feriiden dalam bukunya
Ideology and Political Theory dari Oxford Pres 1978 menyatakan ideologi politik adalah
seperangkat keyakinan dan pemikiran yang normatif, yang berpusat pada masalah-masalah
hakekat manusia, proses sejarah dan susunan sosial politik. Ideologi politik biasanya
dihubungkan dengan suatu program kepedulian jangka pendek tertentu. Ideologi merupakan
bentuk pemikiran politik yang menyediakan akses langsung yang penting untuk memahami
pembentukan dan hakekat teori politik, kekayaannya, keanekaragamannya dan seluk
beluknya.

III. Liberalisme
Mempelajari reformasi liberalisme dari ideologi kepada suatu ideologi yang menurut
dugaan pada suatu yang mampu menerapkan aturan-aturan dasar bagi semua pertentangan
ideologi yang legitimate. Definisi liberalisme adalah tujuan manusia yang didikte oleh rasio
dan yang disarankan oleh keinginan-keinginan adalah perkembangan yang paling tinggi dan
paling harmonis dari kekuasaannya ke arah suatu tujuan yang secara menyeluruh dan yang
lengkap. Dan bahwa dengan demikian obyek yang ke arah setiap manusia harus tak henti-
hentinya mengarahkan segala usahanya adalah individualitas kekusaan dan perkembangan
yang mana untuk ini ada dua syarat yang dituntut yaitu kebebasan dari keragaman situasi dan
bahwa persekutuan (kebebasan dan keragaman situasi) melahirkan sebuah kekuatan
12

individual dan macam-macam keanekaragaman yang menggabungkan dirinya sendiri di
dalam regionalitas.
Liberalisme muncul dari kenyataan bahwa nilai liberal membentuk dan
mencerminkan karakter negara-negara modern serta sistem sosial ekonomi Eropa Barat.
Kekuasaan liberalisme adalah sebagai ideologi yang dominan di Eropa Barat untuk tujuan
analistis menyangkut tiga komponen ideologi liberal yang masing-masing selalu
berhubungan yaitu :
1. Filsafat
2. Sosial
3. Politik
Yang diturunkan dari dua aspek utama tadi kita akan mengkaji hanya dari aspek
politik saja yaitu politik liberal. Komponen dasar dari politik liberal mulai ditetapkan setelah
revolusi-revolusi yang berturut-turut di Inggris tahun 1688, di Amerika Serikat tahun 1776
dan di Perancis tahun 1789. Diantaranya yang utama adalah prinsip aturan hukum yang
memberitahukan berbagai pernyataan hak-hak asasi manusia (bill of rights) dan konstitusi
yang dirancang untuk menetapkan ideologi baru yang muncul dari peristiwa tersebut di atas.
Ada 2 kriteria yang menjadi pedoman dalam dokumen-dokumen tersebut yaitu :
1. Hukum harus diterapkan secara tidak memihak dan berlaku untuk umum. Tidak
ada pengecualian khusus bagi kelompok-kelompok tertentu seperti kaum yang
berkuasa, kaum ningrat, seperti yang terjadi pada masa lalu.
2. Hukum adalah untuk menjamin sebesar mungkin hak-hak yang sama bagi setiap
individu dalam mencapai rencana hidup dirinya sendiri.
Bagi kebanyakan kaum liberal pada dasarnya hak-hak yang paling mendasar yang
sehubungan dengan ini adalah hak kepemilikan pribadi dan hak kebebasan beragama. Hak-
hak ini merupakan pemahaman mereka atas kebijakan toleransi dan mekanisme pasar yang
mereka anggap sebagai penjelmaan sebuah pemikiran yang baru.

IV. Ideologi dan Politik Dunia
Ideologi dan politik dunia berbeda dengan jaman dahulu, manusia pada jaman
sekarang tidak dipengaruhi banyak oleh aliran-aliran kepercayaan atau sistem paham untuk
menjelaskan realita hidup. Pada abad ke-18 manusia bersifat idealis semata sedangkan pada
abad ke-19 manusia condong bersifat sosiolistik. Dalam hal ini manusia hanya percaya pada
kebenaran yang dicarinya melalui sistem kepercayaan yang sistematik dan komperensif. Hal
13

ini juga mencakup masalah politik internasional karena tidak sanggup menanggulangi dilema
yang dihadapi maka manusia meninggalkan realitas hidup membatasi rumusan ideologi dari
misi dunianya, sehingga terjadilah ketegangan, bahaya dan kemungkinan meledaknya
permusuhan-permusuhan yang tidak ada taranya dalam sejarah.
Pendekatan ideologi dalam masalah politik dunia mempunyai karateristik sebagai
berikut :
1. Ideologi cenderung untuk merumuskan masalah-masalah secara moral
sehingga konflik internasional akan merupakan bentrok antara yang jahat dan
yang baik. Dengan kata lain pemusnahan secara ketat.
2. Pertentangan ideologi (yang tidak memungkinkan adanya kontrol antara
negara yang ketat sistem kepercayaannya) tidak mungkin dikompromikan,
karena ideologi melarang bersepakat dengan negara yang jahat.
3. Kebijakan yang mengorientasikan ideologi tidak akan pernah berhasil seperti
halnya keberhasilan yang dicapai oleh kalkulasi strategi. Negara tidak dapat
membunuh cita-cita melainkan manusia saja. Mitos akan tetap relevan sampai
perubahan lingkungan merombak struktur kelembagaannya.
Peranan ideologi dalam politik internasional atau tingkat pengaruh ideologi pada
perumusan ideologi politik luar negeri serta segala akibatnya bagi politik internasional dan
semakin penting artinya. Hal ini diperjelas dengan dilakukannya rumusan ideologi dalam
politik dunia. Tapi apabila ideologi masuk dalam situsional dan pola tindakan negara, maka
ilmu kenegaraan dalam arti klasik tidak berguna lagi.
Masalah penting yang sering dihadapi oleh pemerintahan suatu negara dalam
merumuskan politik luar negerinya adalah saling betopang tindihnya perumusan-perumusan
disatu segi perumusan bertolak dari paham ideologi domestik atau menurut tradisional pada
perkiraan realistis melalui situasi yang tadi. Dalam parameter serupa ini, kadang-kadang
ideologi hanya memegang peranan kecil saja. Ideologi akan semakin menjadi obyektif
apabila ada peluang untuk memilih tindakan-tindakan alternatif yaitu apabila aspirasi-aspirasi
ini berakar dalam dinamika sosial rakyatnya dan apabila pemerintah lebih mementingkan
taktik sehingga sukses politik luar negeri akan dapat dicapai.
Masyarakat di kehidupan sehari-hari selalu melahirkan mitos (dongeng, cerita yang
dibuat-buat) untuk melindungi dirinya dalam realitas kehidupan sosial. Masyarakat politik
juga dikendalikan oleh mitos bahkan Thomas Hobbes dan John Locke sebagai ahli teori pun
mengemukakan desakan-desakan politik sebagai tindakan manusia rasional dan hukum alam.
Manusia menahami bahwa hidup ini selalu mempunyai tujuan yang tidak dapat diukur,
14

sehingga masuknya mitos pada masyarakat politik dapat menjadi ukuran dari kegagalan atau
keberhasilan.

V. Perumusan Ideologi Dalam Politik Dunia
Pada zaman sesudah Perang Dunia II, banyak mengubah kriteria dan konsep-konsep
sistem internasional klasik. Rumusan-rumusan baru telah muncul dan pengaruhnya meluas ke
negara-negara non tradisional. Pada tahun 1950an ada tiga macam ideologi yang telah tampil
mempengaruhi dunia dalam politik sesudah Perang Dunia II.
Yang pertama adalah komunisme yang menjadi opini dunia dengan cita-cita menuju
masyarakat dunia yang tidak berkelas, tidak bernegara, dimana manusia hidup satu sama lain
sebagai saudara. Dengan keyakinan bahwa pandangan ini bersifat ilmiah kaum komunis
berpendapat bahwa cita-cita ini akan dapat tercapai, layak dan malahan tak terhindarkan.
Ideologi kedua adalah yg dipahami oleh Amerika Serikat, doktrinnya menggambarkan
bahwa dunia yang tertib hukum akan melahirkan masyarakat negara yang damai dan
harmonis dimana kewajiban perorangan atau kelompok terhadap masyarakat memberikan
batas-batas terhadap kebebasan negara. Hal ini merupakan penjelmaan dari falsafah politik
domestik Amerika Serikat ke dalam politik internasional. Secara ideologi Amerika Serikat
bertekad memperjuangkan kebebasan bernegara (free will) dan tanggung jawab perorangan
atas tindakan yang dilakukannya, namun Amerika Serikat tidak mampu meramalkan
keberhasilan realisasi impian mereka itu dan hanya dapat memperkirakan kemungkinan saja.
Ideologi ketiga adalah revolusinisme nasionalisme dari kelompok dunia anti kolonial
yang banyak bentuknya. Bentuk pertama berasal dari India yang merdeka, impiannya adalah
dunia yang politis dimana peradaban antar negara tidak diperhitungkan dan berusaha
membentuk kerjasama dunia untuk menghapus kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.
Ideologi ini dapat juga disebut ideologi nasionalisme yang anti kolonial dan yang menentang
kolonialisme.
Bagi ketiga ideologi ini tidak terdapat syarat minimum bagi komunis syaratnya
mencegah gabungan atau perhimpunan yang membahayakan sistem komunis dan
membiarkan ketidakstabilan serta kegagalan yang melanda dunia non komunis untuk
memungkinkan perluasan pengaruh dan kekuatan komunis. Singkatnya ada kekacauan non
komunis dapat menambah kekuatan komunis.
15

Bagi bangsa Amerika syaratnya adalah mencakup stabilitas dunia untuk memberi
kesempatan kepada mekanisme organisasi-organisasi dunia yang ada agar bisa terus
berfungsi dan tumbuh berkembang dan sekaligus mempertahankan posisi Amerika Serikat.
Sedangkan anti kolonial bersyarat agak lebih banyak mulai dari penghapusan
kolonialisme sampai kepada pembatasan kekuasaan negara-negara besar oleh mekanisme
internasional.

VI. Pendekatan Wajah Komunisme
Pendekatan negara-negara komunis terhadap dunia sejak tahun 1917 berdasarkan teori
komunis orthodox (Uni Soviet dulu) beranggapan bahwa dirinya adalah kekuatan
revolusioner yang bertekad untuk menghancurkan lembaga-lembaga dan pola-pola lama
untuk kemudian membentuk orde baru. Ini berarti bahwa semua organisasi yang ada di dunia
ini hanya bersifat sementara karena nanti akan diganti yang sesuai dengan cita-cita
komunisme. Saling pengertian atau persetujuan dengan negara-negara non komunis hanya
dimaksudkan untuk tujuan strategi jangka panjang, artinya konflik harus dibiarkan berlarut-
larut sampai apa yang dicita-citakan menjadi kenyataan atau dengan kata lain konflik yang
diciptakan itu merupakan sarana atau alat untuk rnencapai tujuan.

VII. Pendekatan Wajah Demokrasi
Pendekatan Amerika Serikat terhadap dunia merupakan kelanjutan dari tradisi dimasa
lampau dalam konsep strategi Amerika mengenai politik internasional terdapat tiga unsur
utama yaitu :
1. Teori heroik (kepahlawanan) Amerika dalam hubungan internasional
2. Kesadaran baru mengenai misi dan kepentingan nasional Amerika Serikat setelah
tercapainya kemenangan pada Perang Dunia II dan serangan kepemimpinan yg
terpaksa dipegang Amerika Serikat
3. Tingkatan yang lebih tinggi tentang pengertian realistik tentang sistem
internasional pada abad ke-20
Masing-masing konsep ini menyumbang penyusunan strategi Amerika Serikat
mengenai hubungan internasional, mengijinkan adanya sistem yang damai, tertib dalam versi
universal, yang terkendali dan dapat diubah oleh etika serta moralitas. Unsur kedua dalam
penanganan Amerika lahir berdasarkan pengalaman sejarah Amerika sampai pada Peramg
Dunia II Amerika Serikat mengambil alih sebagai pengamat yang cenderung tidak memihak
16

atau tidak terjun langsung ke dalam proses politik internasional. Kalaupun Amerika Serikat
terlibat dalam pertempuran-pertempuran maka hal itu terjadi dalam batas-batas kecil saja.
Misi bangsa Amerika di dunia tadinya hanyalah sebagai teladan moral, sebagai penengah dan
membantu menegaskan perombakan-perombakan yang kemudian menarik diri dari politik
internasional. Tetapi kesemuanya itu telah berubah setelah Perang Dunia II, setelah lahirnya
abad nuklir dan setelah terjadinya perang dingin.
Unsur ketiga adalah semacam realistiknya cara berfikir Amerika Serikat mengenai
masalah dunia. Unsur-unsur penting dalam realisme baru ini antara lain adalah :
1. Amerika Serikat dalam tahun 1980an kurang bergairah untuk memecahkan
masalah-masalah dengan tegas seperti yang dilaksanakannya dalam tahun 1940an
2. Bangsa Amerika Serikat menganggap sikap moralitas negara tidak lagi relevan
3. Amerika Serikat kurang menerima kegiatan penanggulangan krisis melainkan
berusaha mencari tindakan-tindaka tegas (seolah-olah krisis itu dibiarkan bahkan
sengaja dipelihara) kemudian konsep kemanusiaan Amerika pun berubah menjadi
gagasan yang lebih rasional demi kepentingan Amerika untuk tujuan kekuasaan.
Strategi yang dipakai adalah pembentukan suatu ikatan dunia yang damai, tertib
dan stabil. Hal mana merupakan perluasan mitos nasional Amerika meskipun
tampaknya Amerika membela hak-hak asasi manusia di seluruh dunia namun
dalam kenyataannya hal itu lebih merupakan semboyan yang digunakan untuk
medukung strategi praktisnya saja.

VIII. Pendekatan Non Barat : Revolusionisme atau Nasionalisme
Definisi negara kebangsaan mencakup kumpulan kepercayaan dan nilai yang
dipersatukan kepercayaan rakyatnya untuk mencapai persetujuan ini terjadilah revolusi
berbagai negara-negara baru dan timbulnya revolusi jadi suatu ideologi yang memberikan
dasar bagi perubahan. Dewasa ini banyak negara-negara besar dan kecil yang ikut dalam
percaturan politik dunia yang sama-sama dengan meningkatnya peran serta kaum borjuis dan
politik dan sesudah runtuhnya kaum feodal. Sikap kaum negara-negara non barat menentang
bahwa apa yang berlangsung di dunia ini harus tetap begitu adanya sehingga meskipun
revolusi itu berbeda bentuknya satu sama lain tidak mungkin untuk menetapkan satu pola
revolusi dunia tetapi ada persamaannya, namun hal ini terdapat persamaan-persamaan dunia.
Tema mereka adalah nasionalistik, anti hirarki dan nasionalistik agar nasionalisme
berbeda tingkatannya dari perpecahan yang timbul tidak semua orang revolusioner
17

mempunyai pandangan yang sama tentang nasionalisme, sasaran mereka pun berbeda-beda.
Ada yg melihat nasionalisme sebagai cara untuk menghidupkan kembali kebudayaan yang
lama. Jadi nasionalisme disatu pihak banyak didukung oleh faktor-faktor sejarah sedangkan
dipihak lain banyak memperhatikan masalah-masalah kini dan akan datang dalam
membangun masyarakat modern.
Program kaum sosialis adalah melakukan pengawalan ketat seperti yang pernah
dilakukan oleh kaum penjajah dahulu. Pandangan kaum revolusionis mengenai sistem politik
internasional berbeda dengan sistem operasi Amerika dan komunisme karena mereka selalu
menjadi gelanggang negara berkuasa Amerika Serikat dengan Rusia. Sikap mereka terhadap
politik internasional adalah mencari identitas kebebasan dan peranan yang di dunia, namun
dalam kenyataannya terjepit oleh dua kekuatan besar (Amerika Serikat dan Rusia) mereka
menganggap peran nuklir sebagai ancaman umat manusia oleh karena itu mereka berusaha
untuk tidak memihak satu blok dan meredam ketegangan internasional. Dari sikap dasar ini
mereka mempunyai keyakinan terhadap organisasi-organisasi internasional. Mereka
berpendapat bahwa PBB harus memperlihatkan pengaruhnya yang kuat dalam melerai
persengketaan di dunia. Mereka menolak struktur sistem internasional dewasa ini dengan
mengambil sikap non-Alignment dan sekaligus anti kolonialisme. Sikap yang merupakan
sumber intelektual dan operasional dalam politik internasional kaum revolusioner tadi dapat
disebabkan sebagai berikut :
1. Bahwa neo-kolonialisme merupakan ancaman pertama bagi kelangsungan hidup
mereka
2. Bahwa konfortasi antara Amerika Serikat dengan Rusia atau China hanya
merupakan perjuangan kekuatan dan dominasi atas negara-negara kecil
3. Bahwa sistem bipolar tidak memberi tempat bagi kepentingan dan sasaran mereka
4. Mereka telah terbiasa menyesuaikan diri terhadap kondisi buruk sistem
internasional menurut cara mereka sendiri
Ada fungsi yang diharapkan dari sikap non-Alignment yaitu :
1. Penyatuan antara kepentingan internasional dengan persyaratan keamanan
2. Harmonisasi antara kemerdakaan politik dengan ketergantungan ekonomi
3. Memelihara dan mewujudkan solidaritas nasional
4. Memperbanyak alternatif ke luar negeri dan kekuatan dalam politik internasional
5. Pembentukan suatu peran bebas dan kepribadian bebas dalam politik dunia

18

IX. Perlombaan Prestise
Prestise semakin penting artinya dalam dunia politik dan semakin banyak mengalami
perubahan terutama dalam kehidup politik internasional. Negara-negara di dunia biasanya
ingin memperoleh prestise yang tinggi apabila kekuatan memaksa dari kapabilitas negara
berkurang maka semakin pentinglah arti kekuasaan tanpa pengaruh kekerasan yang
merupakan bidang khusus dari prestise tadi. Dari sini timbul pertanyaan apa sebenarnya arti
dari prestise itu?
Karena tidak mengandung artian yang jelas maka pengertian prestise harus dijabarkan
agar bisa menilai prestise suatu negara berdasarkan sifatnya. Dalam hal ini ada yang mencari
prestise melalui kekuatan militer atau melalui kecakapan berdiplomasi atau melalui tingkat
kehidupan yang tinggi, tingkat kebudayaan atau melalui teknologi yang maju atau melalui
kesehjahteraan dasar-dasar yang abstrak seperti kebebasan dan keadilan.
Tidak hanya dirinya sendiri yang memiliki nilai-nilai tinggi yang tadi tapi dapat
meminta negara lain mencapai kepentingan yang sama. Cara mencapainya adalah dengan
sikap dan kegiatan tujuan-tujuan ingin dihormati, ditakuti, dipuji, disenangi atau dibenci.
Perlombaan untuk memperoleh prestise telah berjalan di dunia internasional dari negara-
negara besar yang terlibat dalam perlombaan tadi secara besar-besaran. Tidak saja negara-
negara barat, negara non barat juga berusaha memperoleh penghormatan yang layak. Negara-
negara tua di Eropa meskipun sibuk dengan urusan dalam negeri mereka juga harus
memikirkan prestite Eropa dalam bidang sosial politik, psikologi, ekonomi dan kebudayaan.
Perlombaan prestise dalam perilaku politik dunia sekurang-kurangnya mengandung
komplikasi dari dua segi yaitu :
1. Bahwa perubahan prestise dengan kepastian dimana pencapaian prestise adalah
untuk mempertinggi martabat suatu bangsa dimata dunia dengan cara
mengalahkan lawan-lawannya sebagai contoh konfrontasi Amerika Serikat
dengan Uni Soviet atau Rusia dimana orang Amerika berkeyakinan bahwa sifat
kemenangan yang mereka tercapai atas Uni Soviet merupakan pukulan bagi
negara itu dan akan memperbaiki citra Amerika Serikat dimata dunia.
2. Bahwa perubahan prestise memberikan sikap ketidakpastian dalam hal ini
hubungan antara prestise tinggi dan kapabilitas negara untuk meraih cita-cita yang
dituntutnya masih kabur oleh karena ketidakjelasan pengaruh yang nyata dari
unsur prestise kesenjangan, kesanksian yang timbul juga disebabkan oleh karena
prestasi internasional yang dicari itu berpangkal dari motivasi-motivasi internal.
19

BAB IV
Sasaran Negara-Negara dalam Politik Internasional
East-West and South-North Conflict
(4 Oktober 2012)
I. Sasaran Negara-Negara
Sasaran Negara-negara didalam kebijakan politik internasional atau politik luar negeri
pada dasarnya mempunyai landasan yang sama, yaitu mencari kekuatan yang sesuai dengan
logika kedaulatan masing-masing. Secara konseptual sedikitnya ada 6 jenis sasaran politik
dengan ketentuan bahwa masing-masing negara mengartikan setiap kategori menurut
seleranya sendiri-sendiri sesuai dengan kepentingannya.
Keenam kategori sasaran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pertahanan diri dianggap sebagai sasaran dari semua negara yang sebagai sasaran
utama dan tertinggi dalam politik luar negerinya.
2. Setiap negara harus mengatur dirinya sendiri hubungannnya dengan dunia
demikian rupa supaya dapat menyusun kelangsungan hidupnya.
3. Sasaran ketiga adalah kesejahteraan yaitu memperbaiki kondisi kehidupan warga
negaranya. Kesejahteraan untuk semua dan bukan untuk perorangan. Unit
kalkulasinya adalah perekonomian serta ukuran kesejahteraan, adalah konsep
makro ekonomi dan Gross national Program (GNP) dan laju pertumbuhannya.
4. Sasaran keempat adalah prestise atau kehormatan masyarakat. Negara-negara
biasanya berpindah untuk memperoleh perhatian negara-negara lain supaya
dihormati. Prestise yang memuaskan adalah untuk memudahkan kebijakan politik
luar negerinya
5. Sasaran kelima adalah mempertahankan dan melindungi ideology negaranya,
kemutlakan peranan sistem kepercayaan, dianggap perlindungan ideologi sebagai
unsure penting dalam memperjuangkan ideology pada percaturan politik
internasional.
6. Sasaran terakhir adalah kekuatan negara, karena kekuatan atau power termasuk
bidang yang diakui dalam kebijakan berpolitik dalam politik internasional.

20

II. East-West and North-South Conflict
Konflik Utara-Selatan asal mulanya terdiri dari fakta-fakta :
a. Negara-negara kaya didunai terletak dibagian utara dari bola dunia (Northern
Hemisphere)
b. Negara-negara miskin letaknya dibagian selatan dari bola dunia (Southern
hemisphere)
Negara-negara Northern Hemisphere adalah Amerika Serikat, Kanada, negara-negara
Eropa Barat, Rusia, Jepang, termasuk Australia dan New Zealand termasuk sekutu mereka
dan selebihnya kurang lebih 110 negara yang terletak dibagian selatan Hemisphere.
Negara-negara dibagian selatan dunia disebut dengan berbagai macam nama yaitu The
Third World (negara dunia ketiga), developing countries, and less develop countries (LDCs).
Ciri-ciri negara-negara selatan adalah :
1. Negara-negara yang bekas dijajah negara-negara barat
2. Negara-negara ini umumnya miskin
Beberapa negara dari dunia ketiga menganut atau berhaluan untuk menjadikan
negaranya Western Style Democracy (demokrasi barat), umpamanya India menyatakan
bahwa negaranyalah yang menganut aliran demokrasi terbesar di dunia. Negara-negara dunia
ke-tiga lainnya menganut aliran dictatorship (diktator) seperti Idi Amin dari Uganda, Jean
Bokassa dari Central African Empire, selain dari itu juga ada beberapa yang menganut
monarki (kerajaan) yang termasuk The Third World State.
Sejarah penghidupan sosial beberapa negara dunia ketiga mengikuti sejak
penghidupan barat seperti Iran dibawah Syakhiran, tetapi banyak lagi negara-negara lainnya
yang masih mempertahankan dan melindungi nilai-nilai tradisional local dan kebiasaan adat
istiadatnya (To Protect Traditional Local Values and Customs), seperti india, Srilanka,
Burma, dan lain-lainnya. Negara-negara lainnya dari developing countries sudah banyak
menuju kepada negara-negara industrial baru (yang sekarang dinamakan New Industrialized
Countries atau NICs) seperti : Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Singapore,
Brazil, dan beberapa negara-negara Timur Tengah dan RRC.
21

Beberapa analis berargumentasi bahwa konsep dunia ketiga harus ditambah dengan
konsep The Fourth World, kalau perlu malahan ditambah dengan The Fifth World itu adalah
menurut Brezenske dalam Meet the Press pada tanggal 28 Mei 1978, menurutnya yang
termasuk The Third World adalah Brazil, Argentina, South Korea, Saudi Arabia, Taiwan
karena mereka mempunyai cukup sumber-sumber pembangunan ekonomi infrastruktur
(Develop Economic Infrastructure), keahlian (skill), dan penduduk mereka dengan mudah
bisa menjadi industrialized country (the fourth world) yaitu negara-negara yang mungkin
tidak mempunyai potensi economic development (kemajuan ekonomi) seperti negara-negara
Nigeria, Bolivia, Nepal, Chad, Burma, dan lain-lainnya.
The Fifth World terdiri dari negara-negara yang mempunyai sedikit harapan untuk
mempunyai economic development karena tidak mempunyai Competence of Infrastructures
atau tidak ada mempunyai kesanggupan untuk infrastruktur, resources sumber-sumber
economi and skill (keahlian), and capital (modal) untuk ditanamkan untuk aktivitas ekonomi
seperti transport dan bangunan-bangunan lain-lainnya. Yang termasuk dalam The Fifth
World ini adalah negara-negara Nigeria, Nepal, Chad, Somalia, Bangladesh, dan lain-lainnya.

III. Evolusi Negara-Negara Dunia Ketiga
Sebagaimana kita ketahui setelah Perang Dunia II negara-negara penjajah dari Eropa
Barat telah terpisah dari negara-negara koloninya yang berada di Asia, Afrika, dan Latin
Amerika (Amerika Selatan). Angola, Mozambic, dan Macau adalah negara-negara koloni
yang terakhir dilepas oleh penjajah portugis pada tahun 1975.
Ada bermacam-macam sejarah mengenai negara-negara yang dijajah melepaskan
dirinya dari belenggu negara-negara penjajah setelah Perang Dunia II umpamanya:
1. Negara-negara bekas jajahan Inggris melepaskan negaranya yang dijajah dengan
mempersiapkan administrasi pemerintahannya lalu menerima kemerdekaannya
dari Inggris seperti India, Pakistan, Burma, Malaysiaatau Singapura, Ghana, dan
beberapa negara-negara jajahan Inggris di benua Afrika.
2. Perancis tidak mau melepaskan Indochina, Aljazair, Tunisia (Indochina terdiri dari
Kamboja-Laos-Vietnam) dan mereka harus berjuang sendiri untuk mendapatkan
kemerdekaannya.
22

3. Demikian pula Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad, tidak mau
melepaskan Indonesia dari penjajahannya sehingga indonesia harus berjuang
untuk mendapatkan kemerdekaannya. Fakta-fakta atau.. dari penjajahan negara-
negara Eropa tidak dapat dibanggakan karena mereka pada umunya harus
menguras apa yg ada di negara-negara yang dijajahnya oleh karena itu dunia
ketiga atau the third world (yang pada umunya dijajah oleh negara-negara Eropa)
merasa bermusuhan terhadap nengara-negara musuh nya dan merupakan suatu
major force (suatu kekerasan) dalam arena politik internasional.
Oleh karena itu negara-negara yang kurang maju bejumpa diantara mereka untuk
membicarakan masalah-masalah mereka. Pertemuan yang paling berkesan dan pertama
kalinya diadakan dari negara-negara dunia ketiga adalah yang dinamakan Bandung
Conference yang diadakan di Bandung pada bulan April 1955 yang dihadiri oleh 29 negara
Asia-Afrika yang bertemu untuk mengutuk kolonialisme dan kejahatan-kejahatan ini harus
dihentikan. Bandung conference mengadopsi Five Principles Co-Existance yang bunyinya
adalah sebagai berikut :
1. Build world respect for territorial integrity and sovereignity (saling menghargai
atas integritas dan kedaulatan teritorial).
2. Non-agreciant (tidak saling menyerang).
3. Non-interference in the internal affairs of others (tidak ikut mencampuri urusan
dalam negeri dari yang lain).
4. Equality and mutual benefit (sederajat dan keuntungan bersama).
5. Peacefull existence (saling membantu secara damai).
Konferensi bandung dari negara-negara dunia ketiga telah banyak mengadakan
konferensi-konferensi yang menuju kepada Non-aligned (tidak menggabung dengan negara-
negara lain). Di PBB negara-negara dunia ketiga membuat suara mereka didengar. Suara
mereka efektif sekali di sidang General Assembly (sidang umum) apalagi mengenai masalah-
masalah kolonialisme dan imperialisme, dan dalam memobilisasi The UN Specialized Agency
untuk kepentingan-kepentingan negara-negara dunia ketiga. Salah satu koalisi yang paling
kuat di PBB adalah terkenalnya Group 77 yang dibentuk pada tahun 1965 yang anggotanya
terdiri dari negara-negara dunia ketiga.
Sungguhpun pada tahun 1982 dan sampai sekarang anggotanya telah lebih dari 100
negara tapi masih saja mempertahankan nama tersebut. Perkembangan Group 77 adalah
23

penting sekali karena dapat memenangkan voting (pemungutan suara) setiap action apabila
dikehendaki mereka di General Assembly, oleh kerena itu secara tidak tersirat PBB menjadi
forum dari North and South Conflict atau menjadi forum East and West Conclift yang banyak
terlibat semasa tahun 1970 sampai sekarang.
Dunia ketiga juga menggunakan PBB untuk mendorong sejumlah konferensi-
konferensi internasional untuk membicarakan special specifis issues mengenai environment
(lingkungan hidup), Population (kependudukan), Food (pangan), The law of the Sea (hukum
laut), Disarmament (pelucutan senjata), Woman (wanita), Industrialization (industrialisasi),
transfer of technology (alih teknologi), Rular development (memajukan pengembangan
pedesaan/daerah), Education (pendidikan), Health (kesehatan), the rule of science and
technology development (peranan science dan teknologi), dan lain-lainnya yang termasuk
vital dalam negara dunia ketiga yang harus dibantu oleh negara-negara kaya melalui PBB.
Salah satu konferensi yang disponsori oleh PBB yang berhasil sungguhpun memakan
waktu yang cukup lama karena AS menolak untuk menyetujuinya dan menandatangani
perjanjian yaitu hukum laut yg dinamakan The United Nation Conference on the law of the
seas (UNCLOS).
Negara-negara dunia ketiga juga telah mengakui masing-masing organisasi regional
seperti IGOs (International Regional Organization) sebagai suatu badan untuk memajukan
masalah-masalah mereka yaitu seperti :
1. The Organization of African United (OAU)
2. The Association of South-East Asian Nation (ASEAN)
3. The Latin American Free Trade Association (LAFTA)
4. The Arab League
5. The Economic Community of West African State
Ini semuanya adalah hanya sebagian dari IGOs negara2 dunia ketiga bagaimanapun
juga suatu perasaan community telah berkembang dari negara-negara selatan untuk merubah
dan mencapai masa depan yang sejahtera.
IV. Obyectivitas (Tujuan) Negara-Negara Dunia Ketiga
24

Secara umum negara-negara selatan bersama-sama menuju pada sasarannya yaitu
political economic independence (kemerdekaan politik ekonomi), political military non-
aligment (political militer yang tidak bersekutu), dan political modernization.
Beberapa pemerintahan dunia ketiga menjalin atau mencoba atau mencari political
economic integration menyatu atau paduan dengan negara-negara dunia pertama atau kedua
seperti Vietnam menggabungkan dirinya dengan Uni Soviet sekarang Rusia dan lainnya
mencari Political Military Unity dengan kumpulan negara-negara lainnya seperti Kuba
dengan Rusia, Australia, New Zealand, Singapura, Malaysia, Filiphina menggabungkan
Political Economic Military dengan Amerika Serikat yaitu South East Asia Treaty
Organization (SEATO).
Political economic independence and non-aligment and organization dalam banyak
hal interilated saling kait-mengait prinsip non-aligment mungkin saja dapat diiringi dengan
modernization.
Jadi dalam segala aspek pandangan dari international affairs, interelationship exist,
hal-hal dalam negeri yang berkaitan dengan interelationship. The key point atau kunci
utamanya sebagai general rule adalah :
A. Political Economic Independence
Sungguhpun telah mendapat banyak negara-negara dunia ketiga masih saja secara
politik dan ekonomi bergantung pada kolonial masternya yang dulu maka dari sudut pandang
ini negara-negara dunia ketiga bergantung ekonominya dilakukan dengan political services
tidak dapat dihindarkan jadi negara-negara dunia ketiga yang termasuk dalam kategori ini
yaitu masih saja menggantungkan dirinya kepada bekas negara kolonalnya dulu, sungguhpun
telah berusaha untuk To establish is on political economical independence. Hubungan
negara-negara ketiga ini dengan negara-negara jajahannya terdahulu disebut Neokolonialism
oleh karena itulah negara-negara dunia ketiga yang termasuk dalam kategori ini dianjurkan
agar keluar dari lingkungan neocolonialism dan bergabung dengan negara-negara selatan
lainnya yang dinamakan non-aligment countries agar jangan terus-menerus terikat pada
political economic independence yang selalu akan mendapatkan keadaan yang sulit.
B. Political Military Non-Aligment
25

Keinginan dari negara-negara dunia ketiga untuk tetap pada lingkungan non-aligmnet
dalam konflik East dan West non-aligment movement berasal dari suara Bandung Conference
1955 semenjak itu The Aligment Movement establist berdiri telah diakui dan menyebar ke
seluruh dunia dalam dunia kontemporer. Ada 4 juru bicara yang sangat menonjol untuk non-
aligment movement..yaitu :
1. Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India)
2. Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
3. Joseph Brostitto (Presiden Yugoslavia)
4. M. Nasser (Perdana Menteri Mesir yang membimbing non-aligment movement
pada waktu itu agar tidak terlibat dalam east-west conflict).

C. Economic-Social Modernization
Negara-negara dunia ketiga umunya dilanda oleh kemiskinan yang masih
menggantungkan diri kepada negara-negara industri kaya dan akibatnya di ekspolitasi oleh
negara-negara bekas colonial dalam international trade, pricing, dan mekanisme pertukaran
atau pemasaran akhirnya negara-negara selatan mencari bantuan atau pinjaman dari negara-
negara kaya (utara) tersebut dan meminta akan restruksi ekonomi internasional yaitu yang
dinamakan New International Economic Order. Asal mulanya new economic order waktu
diadakannya UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) dunia ketiga
membentuk Group 77 dan mengajukan keberatannya terhadap trade (perdagangan) dan
mengajukan New International Economic Order.








26

BAB V
Kekuatan Politik Negara Nasional dalam Politik Internasional
(11 Oktober 2012)

I. Pendahuluan
Apakah yg dimaksud dengan kekuatan dan kekuasaan politik? Politik adalah
merupakan perjuangan menuju kekuasaan, tujuan akhir dari politik adalah kekuatan nasional.
Pemimpin negara dan rakyatnya akhirnya dari kemerdekaan, keamanan, kemakmuran atau
kekuasaan. Cita-cita ini akan terwujud melalui keuatan batin melaui campur tangan atau
melalui petkembangan yang wajar dalam praktek kehidupan. Juga bisa dicoba untuk
melanjutkan pelaksanaannya tidak melalui cara politik. Seperti umpamanya kerjasama,
teknik, dengan bangsa-bangsa lain atau organisasi internasional. Tapi bagaimanapun juga
mereka berusaha untuk mewujudkan tujuan mereka melalui politik internasional. Dan mereka
berbuat ini semuanya adalah untuk meencapai kekuasaan. Woodrow Wilson, Presiden
Amerika Serikat berusaha untuk membuat dunia menjalankan paham demokrasi sedangkan
Hitler Nazi dari Jerman berusaha untuk membuka daerah Eropa Timur untuk dijadikan koloni
jerman untuk mrnguasai seluruh Eropa dan menjadi penguasa seluruh dunia. Apalbila hendak
memiliki kekuasaan sebagai tujuan akhir haruslah berperan di arena politik internasional. Dua
ketentuan dlm politik internasional adalah :
1. Tidak semua perbuatan suatu bangsa yang berhubungan dengan bangsa lain adalah
bersifat politik. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan tanpa kepentingan akan
kekuasaan. Juga mereka tidak senang akan keuasaan bangsa lain. Kegiatan yang
mereka lakukan antara lain dalam bidang ekonomi, kemanusiaan, dan kebudayaan
misalnya kerjasama antara bangsa-bangsa lain di dalam memberikan bantuan untuk
bencana alam dan usaha untuk membantu melancarkan penyebaran kebudayaan
seluruh dunia sehingga kesukaran dari suatu bangsa dalam politik internasional adalah
bagaimana mengukir kegiatan-kegiatan yang banyak coraknya di arena internasional.
2. Tidak semua bangsa-bangsa mengalami problema yang sama misalnya dalam politik
internasional, misalnya Amerika Serikat dan Rusia mengalami problema yang
terbesar, sedangkan kesukaran yang kecil ditemui di beberapa negara seperti Swiss,
Luxemburg, Venezuela dan sebagainya.
27

Spanyol abad ke 16 dan 17 adalah suatu negara yang aktif ikut ambil bagian dalam
perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan di arena internasional. Sedangkan pada
kesempatan lain bangsa-bangsa seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China sekarang lebih
banyak mengalami perjuangan kekusaan. Pendek kata hubungan antar negara dalam politik
internasional selalu mempunyai bobot dan yang selalu berubah-ubah. Perubahan untuk
mendapat kekuasaan mendorong suatu negara menuju ke garis depan atau juga mengahalang-
halangi kemamapuan suatu bangsa dalam partisipasinya yang aktif di bidang kekuasaan dan
juga dapat diubah melalui jalur perdagangan. Faktor apa yang dikatakan kekuatan bagi suatu
bangsa? Bagian apakah yamg kita sebut kekuatan atau power? Jika ingin menentukan
kekuatan suatu bangsa faktor-faktor apa yang diperlukan? Ada beberapa kelompok yang
relatif tetap dan juga selalu berubah-ubah yaitu faktor-faktor sebagai berikut :

II. Unsur-Unsur Kekuatan Nasional
a. Penduduk
Penduduk adalah faktor material dan yang dibentuk dari unsur material dan manusia
semata-mata yang menentukan kekuatan negara, maka harus dibedakan komponen kuantitaif
dan kualitatif. Dalam komponen kualitatif termasuk sifat nasioanl, moral nasional dan
kualitas diplomasi serta pemerintah pada umumnya.
Sudah tentu tidak akan mengatakan bahwa sebagian besar penduduk maka akan
semakin besar pula kekuatan negaranya, sebab jika diperhitungkan secara perseorangan
antara besarnya penduduk dan kekuatan nasional, maka China dengan penduduknya yang
diperkirakan lebih dari 1 milyar manusia akan menjadi negara yang paling kuat di dunia,
diikuti oleh India dengan penduduknya kira-kira lebih dari 800 juta, Uni Soviet (Rusia)
dengan kira-kira 220 juta dan Amerika Serikat dengan 384 juta, masing-masing ketiga dan
keempat. Meskipun tidak dibenarkan untuk menganggap bahwa suatu negara kuat karena
penduduknya lebih besar dibandingkan dengan penduduk negara lainnya masih dianggap
benar bahwa tidak ada negara yang dapat tetap atau menjadi kekuatan tingkat I yang tidak
tergolong dalam negara yang mempunyai penduduk lebih banyak di dunia. Dampak
penduduk yang banyak tidak mungkin mendirikan dan terus menjalankan pabrik-pabrik
industri yang diperlukan untuk melaksanakan era modern yang berakhir untuk mengirimkan
ke medan perang sejumlah besar kelompok tempur untuk berjuang di darat dan laut dan untuk
mengisi kader-kader pasukan yang jumlahnya jauh melebihi pasukan tempur harus
28

menyediakan pangan, alat transportasi, komunikasi, amunisi dan senjata yang diperlukan
untuk kekuataan suatu negara.

b. Geografis
Faktor utama kekuatan suatu bangsa tergantung pada keadaan geografis. Contoh
wilayah benua Amerika Serikat dipisahkan 3000 mil ke timur dan lebih dari 6000 mil ke
barat adalah faktor tetap. Perkembangan transportasi dan komunikasi faktor ini membuat
kedudukan Amerika Serikat kuat yaitu terpisah dari benua eropa dan asia. Demikian juga
dengan semenanjung Itali yang terpisah dengan Eropa karena terpisahkan oleh pegunungan
Alpen. Keadaan geografis seperti ini adalah penting dalam perkembangan politik dan militer
dalam Perang Dunia II faktor geografi sangat menentukan strategi bagi politik dan militer.
Keadaan geografi memberikan keuntungan bagi negara-negara yg letaknya strategis contoh
seperti Amerika Serikat dan Itali. Selain dari itu faktor geografi juga menguntungkan faktor
ekonomi seperti umpamanya Singapura, Hongkong, Taiwan dan lain-lain.

c. Sumber Alam
Sumber alam adalah faktor-faktor lain yang juga penting harus diperhatikan adalah
sumber-sumber alam yang meliputi :
1. bahan pangan
Suatu negara harus dapat mencukupi atau swasembada pangan dalam merencanakan
upaya pertahanan harus memperhatikan 3 hal yg penting yaitu :
- menghindari perang yang lama dan segera memenangkannya sebelum cadangan
makanan habis
- dengan kemenangan maka negara yang kalah akan bisa menjadikan daerah
pensuplai kebutuhan pangan
- memotong jalan jalur logistik lawan
swasembada dalam pangan berarti suatu potensi, tapi sebaliknya kekurangan pangan
adalah sumber kelemahan yang pokok khususnya dalam politik internasional. Yang paling
dasar dari sumber daya ini yaitu pangan yang berswasembada mempunyai keuntungan besar
atas negara dibandingkan dengan negara-negara yang harus mengimport bahan-bahan
pangannya yang tidak bisa dihasilkanya sendiri sebagai contoh umpamanya Singapura yang
tidak dapat memberikan pangan yang cukup untuk rakyatnya, kalau tidak mengimportnya
dari negara-negara tetangganya demikian juga Hongkong kalau tidak ada suplai dari negara-
negara tentangganya maka akan megalami kelaparan. Jadi kekurangan pangan yg dihasilkan
29

sendiri di dalam negeri akan menjadi kekuatan bagi negaranya. Sebaliknya negara-negara
yang menikmati swasembada pangan seperti Amerika Serikat, Rusia dan beberapa negara di
Asia dan Amerika Latin tidak perlu mengalihkan energi nasionalnya dalam politik luar
negerinya dari tujuan utamanya supaya penduduknya tidak akan menderita kelaparan, oleh
karena itu negara-negara seperti ini dapat menempuh politik yang lebih keras atau kuat untuk
terus menuju sasarannya. Jadi swasembada pangan selalu menjadi sumber kekuatan nasional
yang paling utama.

2. Bahan Mentah
bahan mentah adalah sumber daya alam penting bagi produksi industri. Sumber daya
alam dalam bentuk bahan mentah adalah merupakan sesuatu keuatan bagi suatu negara, yaitu
kekuatan nasional semakin bergantung pada pengendalian bahan mentah diwaktu damai dan
perang. Suatu negara yang mempunyai atau kaya dengan Sumber Daya Aalam seperti
batubara, minyak, besi, tembaga, timah, mangan, belerang, seng, aluminum, nikel, dan
lainnya merupakan suatu kelebihan suatu keuatan nasional.
Setengah abad sebelumnya batubara dipakai jauh lebih besar sebagai sumber energi
dan tidak dari minyak seperti sekarang ini. Oleh karena itu batubara dan besi merupakan satu-
satunya kekuatan besar di abad ke 19.
Pengaruh pengendalian bahan mentah atas kekutan nasional dan pergeseran yang
dapat ditimbulkannya dalam pembagian kekuasaan dewasa ini diperlihatkan dengan
menonjol sekali oleh karena kasus uranium yang dipergunakan untuk jaman nuklir atau
energi atom yang merupakan energi potensial bagi kekuatan suatu negara. Negara-negara
yang mempunyai endapan uranium seperti Kanada, Cekoslocakia, Rusia, Afrika Selatan, dan
Amerika Serikat telah memberikan kekuatan nasional mereka.

3. Kekuatan Minyak
Minyak sebagai sumber energi telah menjadi semakin penting untuk keperluan
industri, tarnsportasi dan alat perang. Sebagian besar dari senjata perang, kendaraan,
tarnsportasi (mobil, kapal, pesawat terbang) dan mesin-mesin yg digunakan pabrik-pabrik
industri digerakkan dengan minyak akibatnya negara-negara yang banyak memiliki endapan
minyak memperoleh kekautan dalam urusan dunia internasional. Munculnya minyak sebagai
bahan mentah yang mutlak diperlukan telah meimbulkan pergeseran dalam kekuatan
nasional, relatif negara yang secara politis seperti Saudi Arabia, Kuwait, dan negara-negara
lainnya di Timur Tengah termaskud Libya, China, Rusia, Amerika Serikat, dan Indonesia
30

membuat mereka kuat sejak negara-negara tersebut berswasembada minyak, sedangkan
Jepang, Thailand, dan negara-negara Eropa (selain dari Norwegia dan Inggris) menjadi lemah
karena tidak mempunyai endapan minyak dan menggantungkan dirinya terhadap negara-
negara yang mempunyai endapan minyak.
Maka karena alasan inilah negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Inggris
(sungguhpun mereka juga menghasilkan minyak atau endapan minyak sendiri tapi tidak
mencukupi untuk konsumsi didalam negerinya) dan Perancis, Jerman, dan negara-negara
Eropa lainnya (selain dari Norwegia) menjalankan politik di Timur Tengah yang terkenal
disebut dengan oil diplomacy atau diplomasi minyak yaitu pembentukan lingkungan
pengaruh yang memberi mereka akses pada cadangan minyak di daerah tersebut.
Maka dengan demikian negara seperti jepang salah satu negara industri yang paling
terkemuka dan kaya di dunia dan berpotensi kekuatan yang besar sama sekali tergantung
pada pemasokan minyak dari luar. Demikian juga Amerika Serikat yang hanya dapat
menghasilkan 40% minyak untuk konsumsi dalam negerinya dan 60% lagi harus
mengimportnya dari luar. Demikian juga negara adidaya lainnya seperti Inggris, Perancis,
Jerman dan negara-negara Eropa lainnya mereka harus menggantungkan diri dari negara-
negara Timur Tengah yaitu India, dan negara-negara lainnya yang mempunyai minyak.
Negara-negara adidaya ini tidak segan-segan melakukan dengan cara apapun (membujuk atau
menindas dan membunuh) bahkan mereka dapat pemasokan minyak dari negara-negara di
Timur Tengah dan Libya. Oil diplomacy yang dijalankan negara-negara adi kuasa selain dari
perang adalah dengan cara lain mencekik atau menghancurkan yaitu dengan memperlemah
posisi negara-negara penghasil minyak dan memperkuat posisi negara-negara konsumen
minyak, agar mereka negara-negara adikuasa dapat mengkontrol pasokan minyak dunia. Hal
ini sangat diperlukan karena menyangkut kekuatan nasional mereka.

3. Kemampuan Industri
Kepemilikan uranium sebagai suatu faktor ekonomi adalah penting untuk kekuatan
nasional suatu negara yaitu untuk kemampuan industri. Negara Kongo mempunyai banyak
endapan uranium yang berkadar tinggi. Fakta ini menambah nilai negara tersebut dari segi
pandangan sudut milliter dan keuatan nasionalnya dalam berhubungan dengan negara-negara
yang tidak mempunyai endapan uranium tersebut. Tapi nyatanya tidak demikian karena
Kongo tidak mempunyai perlengkapan (pabrik), industri yang dpt menjadi endapan uranium
itu berguna untuk keperluan industri dan militernya, sebaliknya untuk Inggris, Kanada dan
Amerika Serikat serta Uni Soviet (Rusia) kepemilikan uranium berarti sekali bagi
31

peningkatan keuasaan yang besar sekali. Di negara-negara ini perlengkapan indsutri dapat
dibangun karena uranium dapat diubah menjadi energi untuk dipakai dimasa damai dan masa
perang. Keadaan yang sama adalah dengan batubara dan besi, Amerika Serikat dan Rusia
banyak sekali mendapatkan kekuatan nasional mereka dari kepemilikan batubara dan besi
yang sangat banyak dari kedua bahan mentah tersebut dan mereka memiliki pabrik-pabrik
industri yang dapat merubah menjadi produk industri.
Jadi dapat kita lihat dalam berlimpahnya beberapa dari bahan baku pokok, adalah satu
unsur yang ikut menjadikan sebagai kekuatan nasional yang mempunyai potensi untuk
kekuatan yang besar. Dari faktor-faktor inilah yaitu mempunyai kapasitas industri yang besar
merupakan salah satu yang penting karena teknologi, transportasi, dan komunikasi era
modern, industri berat sebagai sumber mutlak kekuatan nasional. Yang membedakan negara-
negara adi kuasa dengan semua negara-negara lainnya terlepas dari kemampuan mereka
untuk melakukan perang nuklir ialah swasembada industri mereka yang nyata dan kapasitas
teknologi mereka. Kekuatan negara-negara terikat bawah (negara-negara yang kurang maju)
tergantung dari kekuatan uang untuk membli alat militer dari negara-negara maju dan atas
kesediaan negara-negara adikuasa memasok dengan senjata modern dan alat komnuikasi serta
dalam transportasi modern. Tanpa pemasokan ini banyak diantara mereka tidak akan berdaya
kalau berhadapan dengan musuh yang menerima pemasokan tersebut.

4. Kualitas Pemerintah
Perlu dipahami tanpa pemerintah yang baik kebijaksanaan yang jitu materi yang
melimpah dan akal manusia akan mengalami kegagalan. Pemerintahan yang baik tidak
dipandang sebagai suatu syarat dari kekuatan nasional yang menunjukkan 3 hal. Pada suatu
sisi keseimbangan diantara materi dan akal manusia tentang apa yang dapat diperbuat untuk
keuatan nasional ; dan pada sisi lain kebijaksanaan luar negeri yang diikuti keseimbangan
diantara sumber-sumber dan dukungan masyarakat untuk kebijaksanaan-kebijaksanaannya.
Kualitas pemerintah jelas merupakan sumber kekuatan atau kelemahan yang mana
kekuatan nasional terutama sekali tegantung pada pengaruh pemerintah menggiatkan Sumber
Daya Alam, kapasitas indusrti, dan pembenahan militer. Demi kualitas moral nasional,
kualitas pemerintah sangat menentukan sekali mengingat pemerintah mengoperasionalkan
unsur-unsur dari kekuatan nasional dan mengendalikan kegiatan-kegiatan manusia, oleh
karena itu perbaikan kualitas poemerintah akan merupakan barometer.

5. Kualitas Diplomasi
32

Dari semua faktor-faktor yang mendatangkan kekuatan suatu negara atau bangsa,
kualitas diplomasi juga adalah merupakan faktor yang sangat penting walaupun sifatnya tidak
stabil. Kualitas diplomasi dari suatu negara atau bangsa mengkombinasikan semua faktor-
faktor yang mendatangkan kekuatan tersebut ke dalam satu kesatuan dan mengarahkan
sehingga menjadi berbobot dan mebangkitkan kemampuan untuk memberikan nafas kekuatan
suatu bangsa. Sikap suatu politik luae negeri dari suatu bangsa yang dilaksanakan oleh para
diplomatnya adalah keuatan nasional di masa damai atau masa perang, taktik dan strategi
militer yang dibuat pemimpinnya adalah kekuatan nasional. Hal ini dilakukan oleh para
dilpomat suatu negara merupakan seni membawa kekuatan unsur-unsur nasionalnya
semaksimal mungkin di dalam situasi internasional.
Diplomasi adalah otak dari kekuatan nasional sedangkan moral nasional adalah
jiwanya. Jika daya pandangannya kabur, kekuasannya tidak sempurna dan penggulatan
tekadnya lemah semua keuntungan letak geografis swasembada pangan, bahan-bahan mentah
dari hasil industri pembenahan suatu keuatan militer tidak dimainkan atau didiplomasikan
secara tepat maka diplomasi akan mengalami kegagalan dan tentunya menurunkan derajat
negara tersebut di mata dunia internasional. Diplomasi yang berkulaitas tinggi akan
membawa tujuan-tujuan dan cara-cara kebijaksanaan luar negeri ke dalam keharmonisan
dengan sumber-sumber kekuatan nasional yang tersedia. Diplomasi akan membuka jalan bagi
sumber-sumber kekuatan nasioanal yang terpendam dan mengolah sepenuhnya ke dalam
kenyataan politik.

6. Kesiagaan Militer
Kesiagaan militer menuntut suatu pembangunan militer yang berkemampuan untuk
mendukung kebijaksanaan luar negeri yang telah digariskan. Kemampuan tersebu berasal
dari sejumlah faktor yang sangat penting yaitu pembaruan-pembaruan teknologi,
kepemimpinannya, kualitas dan kuantitas dari kekuatan bersenjata. Nasib suatu bangsa dan
masyarakatnya ditentukan oleh teknologi peperangan, Eropa pada jaman ekspansinya antara
abad ke 15 19 telah menggunakan kekuatannya pada sarana teknologi yang lebih tinggi ke
Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Pada abad ke 20 mengalami perubahan yang lebih besar di
dalam taktik perang.
a. Kapal selam yang digunakan jerman untuk pertama kalinya dalam Perang Dunia I
melawan kapal-kapal Inggris yang mnmpu menenggelamkan iring-iringan atau
konvoi Inggrs yang menjadikan suatu kekalahan besar bagi Inggris
33

b. Sebaliknya tank-tank yang digunakan Inggris pada Perang Dunia I membuat negara-
negara sekutu (negara-ngara yang berperang melawan Jerman) menjadi suatu modal
yang kuat untuk keamanan perang.
c. Koordiansi staretgis dan taktis dari Angkatan Udara dan Angkatan Darat
memperbesar superioritas perang jerman dan jepang pada awal Perang Dunia II.
Contoh Pealr Harbour pernah menaklukkan Inggris, Singapura, dan Malaysia,
Belanda, Indonesia dengan mudah dikalahkan Jepang pada tahun 1941 dan 1942.
Akhirnya bangsa-bangsa yang memiliki yang dewasa ini yang mempunyai
persenjataan nuklir mempunyai kekuatan revolusi dan nilai plus pada percaturan
dalam arena politik internasional.

7. Kepemimpinan
Disamping kekuatan dan pembaharuan teknologi kepemimpinan sipil dan militer dari
suatu negara memberikan pengaruh yang besar dalam menentukan kekuatan nasional sebagai
contoh Hitler dari Jerman, Jenderal Frangko dari Spanyol, Napoleon dari Perancis, Soekarno
dan Soeharto dari Indonesia dan lain lain. Perlu dipahami bahwa tanpa pemerintahan yang
baik, bersih dan kuat (tidak korupsi), kebijkasaan dalam negari dan luar negeri yang jitu,
kelimpahan materi, dan akal manusia akan mengalami kagagalan. Pemerintahan yang baik
dan bersih bila dipandang sebagai suatu syarat sebagai kekuatan nasional akan menujukkan
dua hal yaitu pada satu sisi keseimbangan diantara materi dan akal manusia dengan apa yang
dapat diperbuat untuk kekuatan nasional. Pada sisi lain kebijaksanaan luar negeri yang diikuti
keseimbangan diantara sumber-sumber alam dan dukungan maysrakat untuk kebijaksanaan
luar negeri yang jitu.

8. Pemerintahan Dalam Negeri Dan Kebijakan Luar Negeri
Suatu pemerintahan harus menyesuaikan dengan pendapat umum secara nasional atas
kebijaksanaan luar negerinya. Menjalankan kebijaksanaan luar negeri dewasa ini tidak hanya
dengan kecanggihan persenjataan tapi juga dengan diplomasi, propaganda, intrik-intrik, show
of force, dan lain-lain yang dapat membuat negara-negara lain menjadi atau mempunayi
respect atau tidak menganggap enteng dan untuk memperoleh supremasi militer dan
koordinasi politik.
Yang perlu diperhatikan mengenai kebijaksanaan luar negeri dan domestik yang
sempurna yaitu kebijakan dalam negeri yang aman, damai, hukum berjalan dengan lancar hak
asasi manusia tidak bermasalah, kekuasaan trias politika berjalan dengan lancar, maka
34

semuanya akan membuat negara-negara lain menjadi segan karena itulah dapat dikatakan
keadaan domestik dapat mendukung posisi luar negeri di arena dunia politik internasional.


















35

BAB VI
Interaksi Antara Negara-Negara, Konflik, Krisis Resolusi dan
Kolaborasi
(18 Oktober 2012)

Pengantar
Semua hubungan antar negara selalu berisikan konflik karena semua dalam kerjasama
antar pemerintah akan timbul beberapa perselisihan pendapat. Gambaran dan krisis dapat
dilihat dalam buku
1. Quiney dalam bukunya The Study
2. Leuris Richardson dalam bukunya Statistic of Deathly for
Sumber konflik terletak dalam hubungan antar negara yang dilandasi dengan
hubungan etnosentrisme yakni aspirasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan
serta kedudukan suatu negara daya. Hubungannya dengan negara lain. Bila suatu negara
terlalu berpegangan dengan kukuh terhadap perlakuan universal atas kemerdekaan dan
kebebasan memilih serta bertindak,
Kebijakan politik suatu negara selalu merupakan pencerminan dari prioritas akan
sasaran dan kepentingan-kepentingan yang telah ditetapkan oleh pemerintahnya.
Ketergantungan negara satu sama lain dalam politik internasional disebabkan karena
ketidakmampuan mereka dalam menyelesaikan antagonisme (permusuhan) diantara mereka
sendiri. Karena masing-masing mengalami kesulitan untuk mengadakan konsolidasi
(penggabungan suatu bentuk). Sifat utama dari kepentingan dan sasaran-sasaran yang mutlak
mencakup dalam kebijakan nasional dalam setiap negara cenderung menimbulkan konflik.
Beberapa contoh sasaran mutlak adalah peningkatan sosial, penyebar luasan ideologi yang
dapat memunculkan oposisi antar negara. Ada beberapa macam konflik seperti konflik
kekerasan dalam politik internasional dan konflik tanpa kekerasan. Masing-masing masih
bisa dibagi dalam beberapa macam konflik.

36

Karakteristik konflik
Konflik biasanya menimbulkan kekerasan yang terorganisir. Muncuil dari suatu
kombinasi khusus dari beberapa pihak yaitu beberapa pandangan yang berlawanan mengenai
suatu isu atau masalah, sikap permusuhan dan ikut tindakan diplomatik atau militer dari satu
atau beberapa negara. Pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik internasional biasanya
tetapi tidak mutlak, adalah pemerintah negara bangsa.
Konflik terjadi biasanya apabila beberapa pihak berusaha untuk mencapai tujuan
tertentu seperti umpamanya :
1. Untuk mendapatkan wilayah tambahan
2. Untuk mendapatkan wilayah yang lebih besar
3. Untuk mendapatkan keamanan
4. Untuk mendapatkan wilayah akses menuju pasar
5. Untuk menadapatkan prestise
6. Untuk mendapatkan persekutuan
7. Penggulingan suatu pemerintahan yang tidak bersahabat
8. Revolusi dunia
9. Memperjuangkan perubahan proedur PBB
10. Dan lain-lain.
Untuk mendapatkan atau dalam usaha mencapai tujuan tersebut tuntutan dan tindakan
negara tersebut akan berlawanan dengan kepentingan dan tujuan pihak lain. Bidang-bidang
yang tradisional dengan ketegangan yang menjurus kepada konflik adalah budaya aktual
dalam konflik internasional. Sebagai contoh umpamanya : Irak Kuwait, Pulau Spreadley,
Sipadan Ligitan, suatu pulau karang yang terletak antara Jepang, Timor-Timur, Taiwan-
China, Shakalin, dan tentunya antara Israel dan Palestina dan Syiria dan tentunya Goland
Hindt.
Ketegangan mengacu kepada serangkaian sikap dan kecenderungan menjadi
ketidakpercayaan dan kecurigaan yang dimiliki oleh penduduk dan para pembuat keputusan
atau pemerintah terhadap pihak lain. Pemerintah Israel dan Syiria memperlihatkan
ketidakpercayaan dan kecurigaan mengenai isu Dataran Tinggi Goland. Maka dengan
perkataan lain antagonisme (permusuhan, ketidak percayaan) merupakan kondisi bagi
terjadinya konflik atau krisis
37

Akhirnya konflik mengakibatkan action attu tindakan yaitu berupa ancaman dan
hukuman yang bersifat diplomatik, propaganda dan tindakan militer. Ketegangan merupakan
satu dari konflik. Lalu apa itu yang disebut krisis. Krisis adalah suatu tahap konflik, ciri-ciri
perbedaannya adalah meliputi suatu ledakan peristiwa yang tidak diharapkan secara tiba-tiba
yangg disebabkan oleh konflik sebelumnya. Konflik adalah seperti pemisahan Tembok Berlin
atau kedaulatan atas Taiwan yang dapat berlangsung bertahun-tahun tetapi kadang-kadang
permusuhan tersebut tiba-tiba atau tidak diharapkan oleh suatu pihak menambah ketegangan
dan ancaman menjadi paksa. Untuk memiliki alternatif yang ekstrim termasuk melakukan
perang atau menyerang. Dari sudut pandangan para pembuat kebijakan tanda-tanda krisis
adalah sebagai berikut :
1. Tindakan militer yang tidak di antispasi oleh lawan
2. Persepsi ancaman besar
3. Persepsi waktu yang terbatas untuk mengambil suatu keputusan
4. Pesepsi mengenai konsekuensi tidak dari suatu tindakan (dikutip dari Charles F.
Hearmnd : dalam bukunya International Raises as a Situational Variable in
International Politics and War Policy)

Timbulnya Konflik Internasional
Salah satu studi dari Insitute Conflict International mengenai data insiden dan
karakteristik utama dalam konflik internasional pada abad ke-20 menemukan 638 konfrontasi
antara dua negara atau lebih yang mengancam atau menggunakan kekuatan dalam bentuk
tulisan, tanpa kematian (misalnya blokade) atau menggunakan kekuatan untuk perang. Perang
didefinisikan sebagai suatu konflik yang mengakibatkan paling sedikit 1000 kematian.
Menurut J. David Singer M. Malvin Small dalam bukunya the Weight of War
menyatakan bahwa penemuan pertama dari insiden konflik internasional telah meningkat
setelah berlakunya akhir Perang Dunia II. Jika kita merinci angka-angka menurut tipe para
pihak yang terlibat dalam konflik apakah itu negara besar ataupun negara kecil muncul
angka-angka yang sangat menarik. Kebanyakan negara kecil telah terjadi di negara-negara
yang sudah berkembang yaitu suatu kawasan yang ditandai oleh berbagai pertikaian, wilayah
dan pertentangan ideologis. Studi Singer and David menyatakan bahwa negara-negara besar
jauh cenderung kepada perang dari pada negara-neegara kecil. Kelebihan negara-negara besar
38

adalah kemampuan mereka untuk melakukan intervensi secara militer di negara-negara yang
jauh, yang mana hal tersebut tidak mampu atau tidak mungkin dilakukan oleh negara-negara
kecil.

Bidang-Bidang Isu dalam Konflik Internasional
Menurut K. J Holsti dalam bukunya Resolving International Conflict menyatakan
sekurang-kurangnya yang sering terjadi dapat disebutkan 6 tipe utama dari sumber-sumber
konflik yaitu :
1. Konflik wilayah perbatasan. Suatu wilayah yang dilibati suatu negara di atau dekat
wilayah negara lain. Usaha untuk memperoleh perbatasan yang lebih aman seperti
menaklukkan Israel atas dataran tinggi Goland dan semenanjung Sinai pada tahun
1967 (perang YONKIPUR), serangan Irak terhadap Iran pada tahun 1960 atas terusan
Al-Arab, yang mempunyai arti penting secara komersil yang membagi kedua negara
tersebut.
2. Konflik yang berkaitan dengan oposisi persaingan pemerintah menjatuhkan suatu
Rezim dan sebagai gantinya mendirikan suatu pemerintahan yang cenderung lebih
menguntungkan pihak yang melakukan intervensi. Contoh usahan Amerika Serikat
untuk mengganggu stabilitas sistem sosialis di Chili 1950-1973.
3. Konflik timbul untuk mempersatukan suatu negara yang terpisah. Contoh Vietnam,
Korea Selatan, Korea Utara yaitu suatu bangsa yang terpisah karena politik. Jerman
Timur dan Jerman Barat.
4. Konflik pembebasan atau perang revolusioner yang dilakukan oleh suatu negara untuk
membebaskan rakyat dari negara lain biasanya karena alsan etnis dan ideologis.
5. Konflik imperialisme regional dimana suatu pemerintah berusaha menganjurkan
kemerdekaan negara lain biasanya demi tujuan ideologis, keamanan dan perdagangan.
6. Konflik kehormatan nasional yaitu seperti konflik-konflik lainnya yang bersifat
tindakan suatu negara yang mempermalukan negara lainnya seperti masalah Sipadan
dan Ligitan.
Tindakan Konflik Antar dua Negara
Berbagai penyelidikan adanya sikap permusuhan kurang kepercayaan, dan konflik-
konflik lainnya sejumlah studi menjelaskan mengapa kekuatan militer sering merupakan
39

tindakan yang pada akhirnya diambil dalam suatu krisis, meskipun tindakan lain dapat
mendahului penggunaan kekuatan tersebut.
Pada tahap-tahap awal konflik atau krisis penolakan, penyangkalan, klaim,
peringatan, tuduhan, ancaman dan tindakan-tindakan simbolis mungkin terjadi, sedangkan
perundingan formal lebih baik diselesaikan dalam tahap penyelesaian krisis atau konflik.
Menurut Charles A. Mc Clelland dalam bukunya The Quantity And Ferraity Of
Events In International Relations 1968 menyatakan bentuk-bentuk tindakan yang umum
biasanya dilakukan dalam konflik suatu negara dalam negara lain adalah sebagai berikut :
1. Nota broadcast
2. Penyangkalan dan tuduhan
3. Memanggil pulang duta besar yang ditempatkan di negara tersebut untuk konsultasi
4. Penarikan duta besar yang ditugaskan di negara lawan konflik tersebut
5. Ancaman konsekuensi serius jika tindakan tertentu lawan tidak diakui
6. Ancaman boikot atau embargo ekonomi secara terbatas atau secara kekal
7. Pengaduan resmi, propaganda di dalam dan luar negeri.
8. Pemutusan resmi hubungan diplomatik
9. Tindakan show of force berupa latihan militer, pembatalan cuti dari anggota
militer, mobilisasi sebagian atau penuh. Dan akhirnya
10. Gangguan atau penutupan perjalanan dan komunikasi antara warga negara yang
bermusuhan
11. Blokade formal atau total
12. Penggunaan kekuatan terbatas sebagai pembalasan
13. Perang
Suatu konflik atau krisis melibatkan salah satu tindakan tersebut diatas dan banyak
dilakukan secara serentak. Beberapa petunjuk tentang timbulnya berbagai tingkat penggunaan
kebangsaan dan kekerasan dalam konflik internasional menyatakan yang digunakan dalam
setiap konflik adalah anncaman, paksaan dengan menggunakan kekuatan power dan
kemungkinan adalah :
1. Ancaman lisan
2. Demonstrasi kekuatan misalnya siaga militer, show of force, penangguhan cuti militer
dan sipil dan latihan militer
40

3. Penggunaan kekuatan tanpa korban jiwa misalnya blokade
4. Penggunaan kekuatan yang menyebabkan 1000 jam
5. Perang yang menyebabkan kematian
Hasil yang Mungkin Timbul atau Dicapai dari Konflik Intenasional
Suatu konflik dapat diselesaikan melalui diplomasi untuk mencapai hasil penyelesaian
konflik dengan mengadakan perundingan-perundingan atau negosiasi.
Suatu kompromi hanya merupakan suatu dari penyelesaian konflik yang dapat
dicapai, dan lima penyelesaian lain adalah :
1. Penarikan diri secara suka rela
2. Menaklukkan dengan kata
3. Penundukan paksa atau menangkal
4. Penyelesaian secara fasif yang efektif (menurut Kenneth E. Boulding dalam bukunya
Conflict and Events : New York 1992
Penyelesaian konflik atau konmproni dapat diserahkan pada pihak ketiga (third part)
yang mungkin lebih mudah dari pada menarik diri dihadapan musuh, mengindar atau tidak
menghadapi musuh Face to face. Peran dan tugas mediator kadang-kadang sangat rumit yang
menjadi prakarsa suatu perundingan yang sangat bereaksi dari kasus-kasus tersebut. Peran
mediator pihak ke-3 meneruskan pesan-pesan kedua pihak yang bertikai dengan cara tidak
memihak dan berusaha menekan kedua belah pihak yang bertikai untuk menerima usul-usul
perdamaian yang telah dirumuskan oleh mediator itu sendiri.
Orange Young dalam bukunya The Intermedialies mengungkapkan beberapa peran
dan fungsi yang mungkin dimainkan oleh para mediator (pihak ke-3) dalam membantu
menyelesaikan krisis dan konflik yaitu sebagai berikut :
1. Tindakan yang diambil untuk membantu kedua pihak yang bertikai memulai atau
memutuskan secara bilateral untuk melaksanakan persetujuan. Disini mediator tidak
berpihak atau netral dalam perundingan pokok.
2. jasa-jasa baik, dalam hal ini pihak ke-3 atau mediator bertindak sebagai saluran
komuniasi atau bertindak menyampaikan pesan-pesan antara yang bertikai. disamping
itu mediator dapat menyusulkan tempat untuk membicarakan diplomatik dan
mendesak agar memulai pembicaraan resmi.
41

3. Sumber data. Pihak ke-3 meminta data yang bertikai mengajukan data-data pertikaian
sebagai bahan untuk dikemukaan dalam pembicaraan informasi dan fakta-fakta sangat
penting untuk diungkapkan dalam pembicaraan atau perundingan.
4. Interposisi atau Pengawasan. Setelah perundingan dapat dicapai umpannya sebagai
contoh pengirimian dengan cepat pasukan keamanan PBB UNTEAH yg terjadi di :
a. Perang Timur Tengah Arab Israel 1675
b. Pengembalian Irian Barat terhadap Indonesia 1973
c. Timor Timur dikembalikan kepada rakyatnya tahun 1979

5. Persuasi yaitu pihak ketiga yang terus menerus melakukan negosiasi dan membujuk
para pihak yang bertikai untuk melakukan langkah maju dalam perundingan.
Misalnya Sekjen PBB sering menyediakan diri dan tempat untuk menyelesaikan
konflik.
6. Elaborasi dan Inisiasi. Dalam hal ini mediator pihak ke-3 menjadi lebih terlibat untuk
membantu merumuskan hal-hal untuk kepentingan kedua belah pihak, mengajukan
prakarsa, usul-susl substantif (isi pokok) untuk menyelesaikan konflik.
Ini adalah bebrapa peran dan tugas yang dapat dilakukan oleh pihak mediator dalam
situasi konflik. Sejauh mana mediator dapat menembus konflik tersebut tergantung pada
banyak variabel. Sikap tidak memihak harus dapat dirasakan oleh para aktor-aktor yang
bertikai, selain dari pada sikap netral, prestise diplomatik dan ketersediaan sarana jasa,
merupakan persyaratan penting bagi usaha mediasi.








42

BAB VII
Diplomasi dalam Politik Internasional
(8 November 2012)
I. Sejarah
Sejarah diplomasi dimulai dengan karya-karya dari para ahli sejarah zaman kuno
seperti Polytius, juga Machiavelli, dan para diplomat lainnya dari zaman renaissance, telah
menulis tentang diplomasi. Tetapi sebagai sauau disiplin subyek ini lahir bersamaan dengan
penerbitan sistematis dari koleksi-koleksi perjanjian dan korespondensi diplomatk yang
dimulai dengan karya-karya Leivints, Codex, dan lain-lain pada akhir abad ke 17 M. Dalam
abad 18 disusul dengan karya-karya dari Liamer, Dumont, Garden dan Martens. Dalam abad
19 pemerintah mulai menertbitkan korespondensi secara lengkap juga dapat dibaca laporan-
laporan dari korespondensi-koresponensi internasional, yang penting disamping memories,
para diplomat yang pertama kali.
Sejarah diplomasi cenderung untuk menitik beratkan pada soal-soal formalitas, strategi,
dan taktik para negarawan dan para diplomat. Tetapi sejarah diplomasi merupakan dasar atau
basis dari pembahasan khusus tentang praktik diplomasi yang juga mengambil bahan-bahan
perpustakaan dari hukum internasional dan pelaksanaan poltik luar negeri dan pengetahuan
tentang sifat-sifat manusia yang diperoleh dari pengalaman perorangan. Pembahasan-
[embahasan yang terkenal dari Foster dan Shatow tergolong dalam tipe atau serupa.
Kepustakaan tentang seni diplomasi (kemahiran, kecakapan, art of diplomacy ) sama halnya
dengan seni perang (art of war).

II. Kegiatan-Kegiatan Diplomasi
Dalam praktek hubungan antar negara atau bangsa diperlukan taktik dan prosedur
tertentu untuk mencapai tujuan dan kecapaian nasional dari suatu negara. Kepentingan
nasional dapat diperkenalkan pada bangsa-bangsa lain dengan menjalankan diplomasi. Dalam
arti luas diplomasi meliputi seluruh kegiatan-kegaiatan politik luar negeri dari suatu negara
dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain.
Diplomasi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
43

1. Menentukan tujuan dan menentukan semua daya dan upaya untuk mencapai tujuan
tersebut.
2. Menyesuaikan kepentingan dari bangsa-bangsa lain dengan kepentingan nasional
sendiri sesuai dengaan upaya dan tenaga yang ada
3. Menentukan apakah tujuan nasional sejalan atau berbeda dengan kepentingan bangsa
atau negara lain
4. Mempergunakan semua sarana dan kesempatan-kesempatan yang ada sebaik-baiknya.
Kegagalan dalam melaksanakan diplomasi dapat mengakibatkan peperangan. Dan
dengan demikian tentunya membahayakan perdamaian dunia. Suatu bangsa harus berhati-hati
dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan diplomasi dalam usaha untuk mencapai tujuan
nasionalnya. Dalam politik internasional modern suatu negara berusaha keras menghindari
peperangan. Kekurangan akan keterampillan dalam diplomasi akan mengundang konflik
antar bangsa dan perdamaian dunia.
III. Definisi Diplomasi
Dalam praktek diplomasi terdapat beberapa cara untuk mencapai tujuannya yaitu :
1. Berupa ajakan
2. Kompromi
3. Mempergunakan kekerasan dan ancaman.
Tidak ada diplomasi yang mempergunakan cara ancaman kekerasan dapat dikatakan
cerdas dalam mencari perdamaian demikian pula tidak ada diplomasi yang mendasarkan diri
pada ajakan dan kompromi saja, tanpa adanya ancaman dan kekerasan yang dapat dikatakan
cerdas. Pada dasarnya seorang diplomat yang mewakili negaranya mempergunakan 3
kegiatan tersebut diatas secara bersamaan yaitu melakukan atau mengajak, mengadakan
kompromi dan sekaligus menunjukkan ancaman dan kekuatan dalam mencapai tujuan negara
yang diwakilinya. Seni diplomasi yang baik adalah menggunakan peluang yang ada pada saat
yang tepat dengan memakai ketiga sarana yang kita sebutkan tadi.
Sir Earnest Shatow dalam bukunya Guide to Diplomacy Practice mendefiniskan
diplomasi sebagai berikut : the application of intellegence and task to conduct of official
relations between goverments of independent state yang dapat diartikan penerapan
kecerdasan dan tugas dari pejabat-pejabat yang berhubungan antar pemerintah dari negara-
negara berdaulat atau merdeka
44

J. R. Child mendefinisikan diplomasi dalam bukunya American War and Services
harus membedakan antara politik luar negeri dan diplomasi yang dinyatakan sebagai berikut :
the war policy of state is the subtance of war relations, where as diplomacy is the procress
by which policy is caring of yang dapat diartikan politik luar negeri dari suatu negara
adalah isi pokok dari hubungan luar negerinya sedangkan diplomasi adalah proses
pelaksanaan politik tersebut.

IV. Teori
Teori menurut Krisna Murti judulnya diplomasi. Teori-teori diplomatik berkembang
terus dan terdapat diantaranya dua teori utama diplomatik yang dua coraknya saling
bertentangan satu sama lain.
1. Teori diplomatik dari golongan sistem feodal dan militer yaitu : The Warrior Of
Heroic Theory (teori prajurit atau pahlawan). Teori ini cenderung condong pada
politik kekuatan dan sangat sensitif yang menyangkut gengsi nasional, dan merasa
mempunyai hak-hak yang lebih tinggi dan kemegahan. Kebijakan-kebijakannya
diatur dan disusun dari segi militer. Dasar pokok teori ini adalah percaya akan
negosiasi untuk mencapai kemenangan, tetapi apabila kemenangannya dipungkiri
berarti kekalahan. Strategi negosiasi adalah untuk menghancurkan pihak lawan,
menduduki posisi yang dianggap strategis, melemahkan musuh agar tidak dapat
menyerang dan menghindari setiap kesempatan untuk bersatu dengan sekutunya.
2. Sebagai lawan dari The Warrior Of Heroic Theory adalah yang dinamakan teori
The Mercentile Or Shop-Keeper Theory (teori jual beli atau teori pemilik toko).
jika The Warrior Or Heroic Theory menganggap diplomasi untuk mencapai
tujuannya dengan kekerasan untuk kekuasaan maka teori ini menganggap dan
menggunakan diplomasi untuk mencapai tujuan kesepakatan dan perdamaian.
Teori ini menekankan kepada negosiasi untuk menyelesaikan pertentangan yang
lebih menguntungkan dan bukanlah suatu perjuangan untuk memajukan musuh,
akan tetapi untuk mencapai konsensi bersama dan suatu pengertian bersama yang
lebih terpengaruh kepada ketentraman, perdamaian kompromi dan kepercayaan.
Tetapi tidak dapat disangkal ada kalangan dari suatu waktu dan suatu keadaan tertentu
kedua teori ini saling tindih menindih (over lapping).
45

V. Instrumen Pelaksanaan Diplomasi
Yang umum ada dua yaitu departemen luar negeri yang biasa berkedudukan di
ibukota suatu negara, yang kedua perwakilan diplomatik atau kedutaan besar (embassy) yang
ditentukan oleh negara pengirim dan ditempatkan di negara yang menerima.
Departemen luar negeri merupakan kontak politik luar negeri dan disitulah bahan-
bahan dari semua sumber serta merumuskan langkah-langkah yang dilakukan setelah menilai
data-data yang ada. Dilain pihak perwakilan diplomatik atau kedutaan besar merupakan
panca indera dan penyambung lidah dari negara yang diwakilinya. Petugas-petugas yang
bertugas di kedutaan besar atau di perwakilan luar negeri mewakili negaranya dinamakan
diplomat. Para diplomat mempunyai sekurang-kurangnya 3 fungsi dasar dalam mewakili
negaranya dan bangsanya yaitu :
1. Sebagai lambang dari negaranya
Sebagai lambang dari negaranya berarti diiwakili yaitu menghadiri upacara-
upacara dalam mewakili negaranya.
2. Sebagai wakil yuridis yang sah menurut hukum dalam Hubungan Internasional
Sebagai perwakilan yuridis yang resmi dari pemerintahnya membuat dan
menandatangani perjanjian-perjanjian yang mengikat secara hukum dan
mempunyai wewenang untuk meratifikasi dokumen serta mengumumkan
dokumen yang telah di sahkan oleh negaranya.
3. Sebagai perwakilan diplomatik.
Meneruskan semua keinginan negaranya. Kewajibannya harus melaporkan semua
keadaan-keadaan mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya dan militer di negara
dimana dia di akreditasi (ditempatkan) kepada negaranya.
Seorang diplomat dalam melaksanakan tugasnya sedapat mungkin dapat
menggunakan semua cara yang ada seperti media dan tempat lainnya yang dapat memberikan
diplomasi dan keuntungan negaranya baik secara resmi maupun secara rahasia.
VI. Perkembangan Diplomasi
Diplomasi pada abad ke-20 adanya sukses yang dicapai dibeberapa bidang tetapi jika
diteliti lebih mendalam banyak mengalami kegagalan yang fatal yaitu sebagai contoh yang
46

nyata sampai terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) dan
banyak lagi peperangan kecil sesudah Perang Dunia II diantaranya yang menonjol :
1. Perang Korea (1950-1953)
2. Perang Vietnam (1965-75)
3. Perang antara Israel dengan negara-negara arab 1948, 1955, 1967, 1973
4. Perang Irak-Iran
5. Perang Amerika Seriat, Inggris dan sekutunya melawan Irak
Menurut perjalanan dari sejarah, diplomasi hidup kembali jika ada tanda-tanda
keinginan untuk mencari perdamaianan untuk menghindarkan diri dari perentang fisik seperti
perang :
1. Perundingan untuk mengukuhkan kembali diplomatik antara Amerika Serikat dan
RRC 1971 (the Pimpong Diplomacy)
2. Perundingan Amerika Serikat dengan Vietnam
3. Perundingan Iran-Irak untuk mengakhiri perang 1952
4. Perundingan berkali-kali antara Israel dan Palestina sampai sekarang.
Yang sangat membahayakan dewasa ini adalah negara-negara yang memiliki senjata
nuklir karena jika sampai terjadi peperangan diantara mereka atau diantara dua negara yang
mempunyai senjata nuklir maka berarti umat manusia akan punah di atas dunia.
Dalam hal pengadaan ideologi semenjak hancurnya Uni Soviet dan negara-negara
sekutunya sudah dapat diredakan, sungguh pun beberapa negara seperti RRC, Korea Utara,
Vietnam dan Kuba masih menganut paham komunisme. Kecurigaan antara penganut paham
liberal kapitalisme dan paham nasional sudah tidak menonjol lagi dan tidak dipersoalkan lagi,
nyatanya pada akhir-akhir ini kelihatannya RRC telah merubah secara total sikap orthodox
komnunisme nya ke arah nasionalisme modern yang menitik beratkan kepada program
pembangunan ekonomi melalui kerjasama dengan dunia barat (liberal dan kapitalisme). tidak
saja akan dibidang ekonomi akan tetapi dibidang politik internasional.
Cara membuka diri dalam hal ekonomi dan cara membolehkan negara-negara
kapitalis menanamkan modalnya di RRC dan dengan susah payah untuk masuk menjadi
anggota WTO (World Trade Organitation), RRC kelihatannya sekarang lebih cenderung pada
penyesuaian dapat dengan negara-negara liberal kapitalisme tanpa membuang paham
sosialisme komunisme.
47

Diplomasi akan mencapai sukses apabila antara kedua negara terdapat persamaan
paham dan penyesuaian pendapat yang luas atau antara kedua negara terdapat perbedaan
kekuatan yang besar. dalam kegiataan yang serupa ini bagaimana baiknya diplomat dan
politik negaranya tidak cukup untuk menjamin tercapainya keberhasilan dalam menangani
konflik-konflik dan tantangan lainnya yang ada.
Tetapi sungguh pun demikian tidak berarti bahwa diplomasi harus dihentikan sama
sekali dan segala sesuatu hanya diserahkan kepada kekuasaan dan kekuatan masing-masing
negara seperti pemboikotan, sanksi ekonomi dan komunikasi, proteksionisme, penutupan
jalur-jalur lintas perdagangan dan lain-lain dan bahkan bila perlu penggunaan senjata.
Betapapun besarnya perbedaan dan pertentangan, diplomasi tetap dapat dicoba. Apabila
perbedaan-perbedaan tidak dapat dipecahkan dan berapa banyak negara-negara tidak dapat
dikuasakan menurut kehendaknya dalam diplomasi tetapi mereka harus hidup berdampingan
secara damai jika mereka tidak ingin masuk dalam kancah peperangan.
Gaya dan corak diplomasi suatu negara biasanya berlainan dengan gaya dan model
diplomasi negara lainnya umpamanya sebagai berikut :
1. Ada yang ingin menunjukkan pengertian terhadap pendirian pihak lawan walaupun
tidak segera mengalah
2. Adalagi yang ingin menunjukkan berdamai dan berkompromi
3. Ada yang bengis dan sifatnya menantang dan menganggap diplomasi itu hanya adalah
perinitis dari peperangan
4. Ada juga sifatnya yang angkuh.
Hal serupa ini dapat dilihat dari kata-kata atau kalimat yang digunakan, ada yang
sopan tetapi tajam ada yang ngotot tetapi kurang sopan tergantung pada situasi dan waktu.
VII. Perundingan, Perjanjian, Persetujuan
a. Perundingan melalui kongres dan konferensi
Diplomasi modern berusaha untuk menyelesaikan perundingan dengan jalan
mengadakan perjanjian (treates) dan persetujuan (agreement). Hal tersebut adalah suatu
bentuk hukum internasional. Suatu perjanjian bilateral adalah suatu persetujuan sukarela
dimana masing-masing negara untuk mentaatinya. Hanya dengan good will bersama atau
melalui kekuatan dari salah satu peserta yang lebih kuat maka perjanjian (treaty) akan
dijamin tetap ditaati. Hal yang sama dapat pula terjadi apabila ada perjanijan multilateral
48

yaitu yang ditanda tangani oleh suatu kelompok negara, tetapi bagaimanapun juga perjanjian-
perjanjian internasional sering tidak ditaati. Contoh perjanjian multilateral LBB dilanggar
oleh Jerman, Italia dan Jepang sehingga terjadi Perang Dunia II dan perjanjian bilateral antara
Belgia dan Jerman akan menghormati integritas teritorial. Akan tetapi sewaktu Jerman
menyerang Inggis dan Perancis sebelum Perang Dunia I Belgia dipakai untuk mencapai
Perancis dan menjatuhkan Inggris.
b. Kongres dan Konferensis Internasional
Adalah suatu pertemuan dimana wakil-wakil resmi dari negara-negara bertemu untuk
waktu tertentu dan untuk tujuan tertentu. Contoh konferensi int Asia Afrika di bandung yang
dihadiri 24 negara asia afrika dengan tujuan:
1. Menentang kolonialisme dan imperialisme
2. International coorperation
3. Universal treaty
4. Perwujudan senjata nuklir
5. Dan lain-lain

c. Perjanjian, Traktat dan Persetujuan
Perjanjian internasional adalah suatu persetuan yang dinyatakan secara formal antara
dua atau lebih negara mengenai penetapan, ketentuan, syarat timbal balik tentang hak dan
kewajiban masing-masing pihak. Kemudian pihak-pihak yang menyatakan secara sukarela
dan didasarkan atas dasar persamaan keudukan dan kepentingan bersama baik dimasa damai
maupun dimasa perang. Pada umumnya traktat ditaati oleh semua pihak karena adanya
persetujuan diantara negara-negara harus dihormati.

VIII. Istilah-Istilah dalam Diplomasi
1. Traktat
Bersifat umum dan aneka ragam permasalahannya misalnya traktat perdamaian,
perdagangan, dan lain-lain
2. Pacta
49

Umumnya berisi materi politis seperti pakta pertahanan, pakta non agresi dan
sebagainya.
3. Agreement
persetujuan antar pemerintah tetapi tidak perlu diratifikasi oleh parlemen
4. Konvensi
Dalam bidang khusus misalnya konvensi karantina, batas negara, dan lain-lain.
5. Exchange of notes (tukar menukar nota)
Dilakukan persiapan sebelum terjadinya suatu agreement dalam bentuk teks tertulis
6. Deklarasi
Pernyataan bersama mengenai suatu masalah dalam bidang politik, ekonomi dan
hukum
7. Protokol
Adalah berita acara mengenai hal suatu kongres atau konferensi yang ditanda tangani
oleh para peserta
8. Statuta
Mempunyai sifat yang menentukan ketentuan hukum internasional
9. Kompromis
Tambahan dari persetujuan yang telah ada.
10. Modus Vivendi
Persetujuan persiapan sementara yang kemudian diganti dalam bentuk lain.









50

BAB VIII
Klasifikasi Negara Maju dan Negara Terbelakang
(22 November 2012)

Klasifikasi Negara-Negara Maju dan Negara-Negara Terkebelakang dan Negara-
Negara Besar yang Mempunyai Kekuatan dan Pengaruh dalam Politik Internasional

I. Negara-Negara Maju (Developed Countries/Adikuasa)

Tipologi atau tipe negara-negara maju mengungkapkan kepada tiga tipe yang dapat
membantu untuk memaparkan analisis tentang tipe negara yaitu [\pada Perang atau kekuatan
ekonomi dan militer dari suatu negara. Negara maju atau negara adikuasa yang ada dewasa
ini adalah Amerika Serikat, Republik Federasi Rusia, Republik Rakyat China dan negara-
negara maju di Eropa Barat. Kondisi-kondisi ekonomi dan militer negara maju adalah sebagai
berikut :
1. GNP (Gross National Product) perkapita yang relatif tinggi
2. Kapasitas produksi industri yang lebih bervariasi dengan satu spesialisasi di bidang
manufaktur
3. Angkatan bersenjata ataupun perang yang terlatih baik dan memainkan peran
signifikan dalam politik luar negeri yang juga bisa digunakan untuk memelihara
stabilitas dalam negeri
4. Dapat dilihat dalam perdagangan internasional.
Negara negara adikuasa memiliki kemampuan ekonomi dan militer dan memiiliki
arsenal nuklir yang cukup besar, termasuk kemampuan untuk meluncurkan senjata nuklirnya
ke seluruh dunia, di tambah dengan keterlibatan ekonomi dan militer yang ekstensif di
beberapa kawasan di luar batas-batas wilayah negara mereka sendiri. negara-negara maju
sebagian besar berada di Eropa dan Amerika Utara yaitu negara-negara yang letaknya di
Utara khatulistiwa.

51

II. Negara-Negara Terkebelakang/Berkembang (Developing Countries)

Negara-negara terbelakang kondisi ekonomi dan militernya biasanya dicirikan adalah
sebagai berikut :
1. GNP (Gross National Product) yang rendah terhadap spesialisasi dalam produksi
bahan mentah dan produk pertanian.
2. Ekonominya bergantung pada negara-negara lain dalam hal produk manufaktur,
modal dan pasar.
3. Kesulitan dalam neraca pembayaran karena kurangnya eksport untuk menutupi
permintaan konsumen dan investasi.
4. Angkatan bersenjata yang tidak terlatih dengan baik dan bergantung kepada
dukungan negara-negara luar negeri yang tujuan utamanya adalah untuk menjaga
stabilitas dalam negeri.
Secara militer Negara-negara terbelakang tidak dapat diandalkan atau tidak akan
mampu menghancurkan negara lain terkecuali apabila negara tersebut secara geografis sangat
strategis, tidak adanya pasukan yang terlatih, kurangnya mobilitas karena mereka tidak
mampu saling menjangkau. Secara ekonomis Negara-negara terkebelakang bukan merupakan
mitra dagang yang baik karena negara-negara itu biasanya tidak banyak memproduksi
barang-barang untuk diekspor.
Baik secara militer maupun ekonomis secara potensial lebih saling bergantung pada
Negara-negara terkebelakang, persenjataan yang canggih dan sistem transportasi yang sangat
efisien memungkinkan koordinasi militer yang kuat serta pembagian kerja militer yang
efektif pada jaringan aliansi atau sekutunya seperti pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Secara ekonomis negara-negara maju setiap tahun cenderung meningkatkan hubungan-
hubungan dagang dan finansialnya spesialisasi produk manufaktur yang beranekaragam
membuat perdagangan sangat esensial bagi standar mereka, akibatnya tindakan-tindakan
yang sifatnya bermusuhan serta kerjasama dibidang ekonomi membawa dampak penting
terhadap hubungan diantara negara-negara maju.



52

III. Negara Terbelakang atau Berkembang Versus Negara-Negara Maju

Faktor penting dalam hubungan antara negara-negara terbelakang dan negara-negara
maju adalah mobilitas negara maju yang memberikan keuntungan strategis. Konflik-konflik
militer di antara kedua kelompok ini selalu terjadi dalam wilayah negara-negara terbelakang.
Kemampuan teknologi dan militer dari bangsa-bangsa negara-negara maju memungkinkan
produksi masal dan penggunaan sistem logistik yang besar dan kompleks. Jadi negara-negara
maju memiliki mobilitas yang diperlukan untuk menghancurkan negara-negara terbelakang
secara tepat dan tuntas atau mereka kebal dan tahan terhadap serangan balasan. Negara-
negara maju dapat menekan negara kurang maju atau terbelakang dengan ancaman tidak
memberikan pasaran bagi produk-produk negara terbelakang, menolak penepatan perjanjian
investasi atau secara fisik memboikot atau memblokade negara-negara terbelakang, tidak atau
memberhentikan memberi senjata vital, modal, bidang tehnik serta bantuan di bidang security
militer.
Namun kita tidak boleh menyimpulkan bahwa negara-negara terbelakang sama sekali
tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan atau melawan dalam hubungannya dengan
negara-negara maju. Yaitu :
1. Produk yang di suply ke negera maju mungkin merupakan urat nadi ekonomi negara
tersebut. Sebagai contoh pemboikotan minyak yang dilakukan oleh negara-negara
Timur Tengah sangat mempengaruhi perekonomian negara-negara maju (Amerika
Serikat, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya) yaitu dengan melakukan
pemboikotan minyak.
2. Investasi swasta tehadap negara maju menciptakan suatu tingkat kerawanan bagi
negara-negara maju karena adanya ancaman nasionalisasi yang mana hal itu
membawa pengaruh besar terhadap negara-negara maju untuk tidak menggunakan
alat-alat ekonomi dan militernya terhadap negara terbelakang.
3. Negara-negara maju membutuhkan negara-negara terbelakang sebagai sekutu itu
alasan-alasan logistik dan transportasi militer dan non militer bisa di mudahkan atau
di rintangi oleh negara-negara terbelakang yang letaknya strategis. Hal ini terutama
berlaku apabila negara tersebut menguasai suatu jalur laut yang vital seperti Sues
Kanal, Panama Kanal, Selat Malaka atau berbatasan dengan dimana negara maju
53

memiliki kepentingan militer yang vital (Amerika Serikat untuk membom Irak
memerlukan pangkalan udara Turki).
4. Negara-negara terbelakang tidak perlu menjadi korban dari serangan atau kedudukan
militer. Selama beberapa dekade yang lalu taktik gerilya yang digunakan oleh negara
terbelakang mengalahkan negara yang lebih kuat sebagai contoh Vietnam
mengalahkan AS.
Neo-Kolonialisme
Neo Kolonialisme adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk melukiskan
hubungan negara maju dengan negara terbelakang dewasa ini yang banyak dilandasi oleh
keunggulan negara maju dibidang ekonomi dan militer.
Dalam Bidang Ekonomi :
Neraca pembayaran negara terbelakang yang tidak sehat membuat mereka bergantung
pada penanganan modal negara serta swasta dari negara maju. Selain dari itu banyak warga
negara dari negara maju yang memiliki dan menjalankan perusahaan-perusahaan di negara
belakang dan keuntungannya dibawa keluar dari negara tersebut.
Dalam Bidang Militer :
Bantuan yang diterima oleh negara terbelakang membuat mereka rawan terutama
pada massa perang. Selain dari pada itu penasehat-penasehat militer yang dikirim ke negara
terbelakang untuk membantu mereka dalam masalah tehnik militer sering melakukan
tekanan-tekanan politik umum. Misalnya para penasehat negara-negara Perancis di Amerika
Serikat dan Asia.
Kesimpulan :
Negara terbelakang hampir tidak bisa menghancurkan atau membantu satu sama lain
baik dalam bidang ekonomi maupun militer kecuali geografisnnya berdektatan. Negara-
negara maju memiliki kemampuan untuk memanipulasi ekonomi negara terbelakang. Negara
terbelakang memiliki kapasitas yang besar untuk mmempertahankan Tanah Air-nya dengan
menggunakan taktik brilian dan memboikot negara maju. Selain itu negara-negara
terbelakang bisa merusak ekonomi negara-negara maju dengan menasionalisasi kekayaan
nasional negara-negara maju.
54

IV. Negara-Negara Besar Atau Maju Yang Mempunyai Kekuatan Dan Pengaruh
Dalam Politik Internasional :
Dipandang dari segi kekuatan dan pengaruh dari segi internasional negara yang
mempunyai pengaruh kekuatan dalam hal tersebut adalah dapat dipastoikan sekurang-
kurangnya 4 negara yaitu AS, Rusia, China, Neggara2 Eropa yang dapat ,engancam stabilitas
perdamaian dan ekonomi global dalam
1. Amerika Serikat
Hasil dari pemilihan umum untuk presiden AS sangat penting bagi arah politik luar
negeri AS, selain dari pandangan politik luar negeri masing-masing calon presiden yang
bersaing, yang sangat penting ialah factor kualitas kepemimpinan presiden yang terpilih,
yaitu apakah ia mampu membina suatu kesamaan pendapat dari rakyat AS tentang peranan
AS di dunia atau ia harus mengalah dan tunduk kepada kemauan dari rakyat melalui wakil-
wakilnya di kongres.
Amerika Serikat adalah suatu negara yang menganut aliran demokrasi-liberal, tetapi
meskipun demikian kualitas kepemimpinan dan kepribadian presiden terpilih tetap
menentukan baik dalam menggalang kesamaan pendapat dalam negeri dan terutama dalam
keadaan gawat.
Terdapat perbedaan dalam negeri antara kaum isolasionis, multilateralis, dan
unilateralis. Golongan isolasionis menginginkan AS tidak terlibat dalam konflik-konflik
internasional, Amerika harus mengamankan AS saja tetapi jika betul-betul terpaksa AS harus
sangat selektif kapan dan dimana harus melibatkan diri. Bantuan terhadap negara-negara
berkembang juga harus dihentikan atau dikurangi seminimal mungkin. Pendapat dari kaum
multilateralis, kaum ini hanya bersedia bertindak di luar negeri hanya dalam hubungan koalisi
multilateral yaitu umpamanya memperbantukan tentara AS kepada PBB untuk operasi-
operasi perdamaian dunia. Golongan unilateralis, golongan ini menhendaki AS memimpin
dan jika perlu sendirian bukan mengikuti PBB karena AS tidak mungkin memperoleh
motivasi atau dorongan dari consensus internasional tetapi justru harus membentuk consensus
internasional, namun terlepas dari pebedaan-perbedaan tersebut di atas AS tidak bisa
melepaskan diri dari peranan dunianya oleh karena :
1. Karena kepentingannnya tidak lagi terbatas pada wilayah dimana ia berada
(western hemisphere) tetapi meliputi seluruh dunia.
55

2. Kedudukan geografisnya terlibat diantara dua samudera yaitu Samudera Atlantik
disebelah Timur yang berpantaikan ke arah Eropa dan Samudra Pasifik di sebelah
Barat yang berpantaikan kearah Asia Pasifik. Kedudukan dengan demikian
dengan sendirinya melibatkannya dalam dinamika geopolitik dan geo ekonomi
dari Eropa dan Asia Pasifik yaitu wilayah-wilayah yang sangat penting di dunia.
Maka dengan demikian AS adalah negara Atlantik yang berkaitan dengan Eropa dan
sekaligus negara Asia Pasifik yang berkaitan juga dengan Asia Timur dan Timur Tengah.
Oleh karena itu destiny/tujuan akhir ialah akan atau harus tetap berada dan terlibat dlm politik
dunia atau politik internasional.

2. Republik Federasi Russia
Hasil pemilihan presiden di Rebublik Federasi Rusia akan menentukan politik dalam
dan luar negerinya untuk mampu menjalankan peranan politik yang lebih mantap dan tegas
dan bagaimana memainkannya. Negara ini sejak hancurnya Uni Soviet mesipun sudah
merosot dalam segala bidang namun masih merupakan suatu kekuatan yg perlu
diperhitungkan dalam kekuataan dan politiknya dalam hubungan internasional.
Negara ini sebagai pewaris yang terbesar dari Uni Soviet memiliki senjata nuklir yang
paling besar jumlahnya. Dengan sistem pemerintahan yang sangat goyah dan kemerosotan
kualitas mengenai angkatan militernya tetapi kemampuan pengendalian secara efektif atas
senjata nuklirnya masih menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan, karena lebih dari 2 juta
pound uranium masih bertebaran diseluruh Rusia, tumpukan-tumpukan stok ini cukup untuk
membuat puluhan ribu senjata nuklir yg dikhawatirkan dapat menjadi dan memperjual
belikan kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, bahwa kemungkinan itu bukanlah
suatu khayalan karena dapat dilihat dari laporan Kementerian Pertahanan Rusia tentang
terjadinya 4 ribu kasus pencurian.
Rusia berada dalam kesulitan-kesulitan politik, ekonomi dan sosial yang sangat besar,
merosotnya pamornya di dunia internasional sebagai mantan negara adidaya telah
menimbulkan rasa frustasi yang mendalam, hal ini dapat terlihat dari angka kematian yang
melonjak tinggi dan tingkat kelahiran turun secara drastis.
Tetapi siapapun yang terpilih menjadi presiden Rusia, politik luar negeri Rusia akan
tetap nasionalistik yaitu lebih menonjolkan identitas yang sangat berbeda dengan dunia barat,
negara ini pada waktu ini telah menjadi unpredictable karena selain dari kemerosotan
disegala bidang ditambah lagi dengan masalah cassnya negara bagian yang ingin
56

memisahkan diri spirit negara-negara lainnya pecahan Uni Soviet. Rusia tidak akan
melepaskan cassnya karena negara bagian ini sangat kaya akan sumber minyak bumi.

3. Republik Rakyat Cina (RRC)
Dilihat dari ukuran negaranya wilayahnya dan penduduknya serta sejarahnya sangat
kuat, RRC sangat mengesankan ditambah lagi sebagai statusnya sebagai negara nuklir,
keanggotaan tetap dengan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB, kinerja ekonominya yang
melonjak sejak dasawarsa terakhir yang mengagumkan serta modernisasi angkatan perangya
tidaklah ragu lagi satu-satunya negara raksasa komunis yang masih tersisa di dunia ini
merupakan pusat kekuatan yang masih harus diperhitungkan di dunia ini. RRC yang dulunya
dianggap sebagai raksasa yang masih tidur tapi dewasa ini sudah mulai bangun biasanya
disebut dengan The Sleeping Giant.
Klaim tuntutannya atas seluruh Kepulauan Spretly dan Kepulauan Marshal dan
sebagian besar Laut China Selatan, Kepulauan Senkaku di Lautan Hindia Timur, Taiwan
percobaan nuklirnya yang tetap diteruskannya sedangkan negara-negara nuklir lainnya telah
menghentikan percobaan nuklir, maka sasaran politiknya dalam jangka waktu panjang
merupakan suatu pertanyaan yg dpt dilontarkan, apakah ia akan menguasai seluruh Lautan
China dan terus menerus di Asia Tenggara siapapun tidak dapat menghentikannya tapi
kemugkinan tersebut bisa saja terjadi apabila ia terdesak untuk memberi makan rakyatnya
yang semakin lama semakin meningkat.
Was-was dan kekhawatiran itu diperdalam lagi oleh beberapa indikasi bahwa RRC
sedang membangun suatu kemampuan memproyeksikan kekuatan militernya, banyak
pengamat memperkirakan bahwa China berambisi untuk menjadi kekuatan terbesar di Asia
dalam 10 tahun mendatang dan kekuatan dominan di dunia suatu generasi setelah itu.
Tetapi ada satu hal yang mencekam adalah China pasca Dengxioping mengalami
stabilitas yang luas yang dapat menimbulkan disintegrasi China beberapa diantaranya adalah
sebagai berikut :
1. Negara ini selalu mengalami persatuan dan perpecahan silih berganti dan keadaan
keutuhan China kadang-kadang tidak jelas, diseluruh negara rasa kedaerahan
meningkat.
2. Wibawa partai komunis yang memerintah semakin menurun, ideology komunis
semakin hilang ditelan oleh pragmatism ekonomi. Kemajuan-kemajuan di China
menimbulkan kesenjangan sosial, korupsi semakin merajalela, kriminalitas
meningkat dan gaya hidup dikota-kota besar berubah.
57

3. Jurang perbedaan pendapatan antar daerah semakin terbuka lebar antara daerah-
daerah yang kaya dan daerah-daerah yang miskin. Daerah-daerah yang kaya tidak
bersedia diperas terus-menerus untuk menyumbang pendapatan daerah-daerah
miskin dan daerah-daerah pusat.
4. Pengaruh militer semakin nasionalistik meningkat dalam penyerbuan politik luar
negerinya terutama mengenai Taiwan dan terhadap AS.
5. Terlihat adanya revalitas dari berbagai kelompok yaitu :
a. Kelompok Beijing menganggap mereka sebagai arsitek pembaharuan nasional,
mereka bangga berhasil memperoleh konsensi, kemudahan-kemudahan atau
kelonggaran-kelonggaran ekonomi dari Jepang. Visi mereka adalah gabungan
kewirausahaan yang professional dengan ajaran Konghucu termasuk peranan
paternalistic yaitu dari pemerintahan
b. Kelompok wirausaha dari China Selatan menganggap mereka adalah inti dari
China Raya dengan memanfaatkan talent atau bakat dan kekayaan dari jaring
luas hoakiau (kopertis chines)
c. Kelompok Huangdong, kelompok ini menggangap diri mereka sebagai
ibukota dari China modern
d. Kelompok daerah Timur Laut merasa bangga dengan mengalirnya investasi
Jepang ke daerahnya tapi rakyat China lainnya menganggap hal tersebut
sebagai menjual diri
Setelah Mao Tse Tung dan Deng Xiao Ping dan jaringan Yak Zimin, ideology partai
komunis digantikan nasionalisme China yaitu partai komunis adalah China. Mencintai partai
adalah mencintai Negara China. Para pemimpin negara ini menyalakan api nasionalisme
dengan membangkitkan kesadaran penderitaan rakyat. Para pemimpin China meneriakan
demokrasi dan HAM akan membawa perpecahan dan kekacauan yang akan membuka pintu
agresi dari luar.
Nasionalisme cinta tanah air yang berlebihan dewasa ini merupakan suatu instrument
yang efektif dalam ideology partai komunis China. Sampai tingkat tertentu rakyat China
mendukung suatu politik luar negeri yang lebih agresif, mayoritas rakyat China mendukung
kebijakan pembebasan Taiwan secara militer dan suatu sikap agresif yang tidak mau
mengalah terhadap AS.
Maka untuk masa waktu kedepan dapat dilihat sebagai berikut :
1. Bahwa China untuk masa depan akan meneruskan kebijakan kebijaksanaan
politiknya seperti yang telah dilakukan selama ini
58

2. Bahwa China tidak akan mengalami disintegrasi karena kekuatan yang mampu
mencegah China seperti regionalisme, militer, cenderung saling menetralisir.

4. Negara-Negara Eropa Barat
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Eropa Barat terutama NATO sudah bukan
faktor penting lagi dalam masalah-masalah dunia, dikatakan bahwa Eropa menguasai abad
ke-19, AS menguasai abad ke-20, sedangkan Asia Pasifik memiliki abad ke-20 dan 21.
Negara-negara Eropa terlalu obsesi dengan merealisasikan negara sejahtera/welfare state
daripada menjalankan peran dunia yang konstruktif. Eropa adalah kekuatan geopolitik masa
silam, oleh karena itu AS meninggalkan Eropa dan menggalang hubungan-hubungan dengan
negara-negara di wilayah Asia Pasifik atau AS jalan sendiri.
Pendapat ini sebagian ada benarnya, dua perang dunia dicetuskan dan berkecamuk di
Eropa yang mana telah menyedot energy bangsa-bangsa Eropa, Perang Dunia I
menyingkirkan hampir semua monarki absolute yang merupakan sistem politik dari sejarah
Eropa. Perang Dunia II menghapuskan negara-negara yang dijajah oleh negara-negara Eropa.
Tanpa bantuan Marshal Plan dan kepemimpinan politik keamanan AS, Eropa
mungkin sudah tenggelam oleh karena itu rakyat Eropa sewaktu keluar dari Perang Dunia II
hanya memikirkan diri negara masing-masing. Setelah mengalami pengalaman yang pahit
Inggris dan Perancis tidak lagi bersaing berat. Perancis dan Jerman tidak lagi merupakan
musuh bebuyutan bahkan sudah bermitra dalam masalah ekonomi dan lain-lainnya. Eropa
Barat sudah mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa di masing-masing negaranya.
Juga kebijakan-kebijakan politik luar negeri dan pertahanan telah meliputi diselaraskan
seperti MEE, BENELUX dan NATO dan Uni Eropa. Keberhasilan tersebut telah
meningkatkan pamor Eropa Barat bekas Republik Eropa Tengah dan Timur (pecahan dari
Uni Eropa) akhirnya ingin diterima sebagai anggota Uni Eropa. Terutama sekali Polandia,
Hungaria, Rumania, Cekoslavia karena mereka khawatir kemungkinan terhisap kembali ke
dalam objek pengaruh Republik Federasi Rusia.






59

BAB IX
Manusia dan Kekuatan Alam, Nuklir dan Perjanjian Nuklir
Internasional
(30 November 2012)
I. Pendahuluan
Dewasa ini manusia hidup dalam zaman tekhnologi. Usaha-usaha manusia untuk
mengungkapkan rahasia-rahasia alam telah menghasilkan berbagai penemuan dalam hal
seperti pengungkapan-pengungkapan berbagai-bagai masalah yang timbul.
II. Masalah Masalah Yang Timbul
Masalah-masalah yg timbul di dalam sekuarang-kurangnyanya sebagai berikut :
a. Energi Nuklir
Energi nuklir disamping berkekuatan yang tingginya luar biasa untuk memusnahkan
alam manusia, nuklir juga dapat dipergunakan untuk penyesuaian dan lain-lainnya sebagai
tenaga pembangkit sehingga terjadi pula revolusi energi dibidang industri. Seperti diketahui,
pemecahan atom menimbulkan sumber energi yang tidak terbatas. Dengan munculnya tenaga
nuklir maka dapat dikatakan telah terjadi revolusi industri. Negara-negara yang dulunya sama
sekali tidak mempunyai industri dewasa ini dapat langsung memakai tenaga nuklir tanpa
mengurangi penggunaan batubara. Sedangkan negara-negara yang sudah memiliki industri
yang menggunakan nuklir merasa beruntung karena dapat lebih memanfaatkan kaum ilmuan,
tekhnisi dan tenaga ahli industri yang telah mereka miliki. Penggunaan nuklir untuk
keperluan berbeda telah menjadi faktor poenyebab perpecahan dan pertikaian serta
meningkatkan persaingan dan ketegangan-ketegangan antar bangsa-bangsa. Sedangkan kerja
sama internasional dalam menggunakan nuklir untuk tujuan damai merupakan perkembangan
yang wajar dengan beberapa alasan sebagai berikut :
i. Karena pelaksanaan atau berjalan lebih mudah daripada dilakukan tanpa
kerjasama mengingat penyelidikan ilmiah dan tekhnologi nuklir amat sukar
dan mahal
60

ii. Supaya berjalan dengan efektif, kerja sama nuklir harus dilakukan pada skala
yang luas dan memerlukan pemerintah untuk mengadakan usaha-usaha
kerjasama dengan pemerintah-pemerintah lainnya.
Oleh karena itu hampir seluruh bagian dunia sudah diserap oleh kemudahan untuk
memperoleh energi di masa depan dengan menggunakan tenaga atau energi nuklir.
b. Penaklukan Ruang Angkasa
Kelahiran zaman luar angkasa telah memungkinnya adanya kerjasama yang intensif
antara berbagai pakar teknologi seperti para pakar fisika, biologi, metereologi, fisiologi
kimia, dan lain-lainnya dan banyak lagi jenis keahlian lainnya yang memberikan sumbangan
yang besar. Dua hal yang penting di zaman luar angkasa adalah penemuan roket yang sangat
besar tenaganya dan tolaknya serta penemuan logam yang memungkinkan diciptakannya alat
kendaraan luar angkasa yang mampu melawan tekanan udara ketika menuju keatas dan
kembali ke bumi dengan sangat cepatnya.
Beberapa kemajuan dalam zaman luar angkasa ini dapat dicatat seperti peluncuran
satelit pertama Sputniki oleh Uni Soviet pada tahun 1967, penggunaan satelit bumi untuk
alat komunikasi pada tahun 1960 kemudian pemotretan bulan yang belum pernah dilihat oleh
manusia dan kemudian pendaratan manusia di bulan dan seterusnya silih berganti antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet. Maka dengan demikian kesemuanya ini merupakan
perlombaan di ruang angkasa karena masing-masing pihak ingin lebih unggul dari pihak
lainnya.
c. Ledakan Penduduk sebagai akibat kemajuan teknologi, tetapi
sebenarnya bukan masalah baru
Dewasa ini jumlah penduduk dunia semakin meningkat dan padat, hal ini
mengakibatkan banyaknya masalah sebagai tambahan dapat diterapkan bahwa sepertiga
jumlah manusia diseluruh muka dunia ini masih hidup dibawah standar kehidupan yang tidak
layak. Tingginya angka kelahiran maupun kematian dewasa ini terdapat di negara-negara
yang berkembang (dunia ketiga) tetapi dengan lahirnya modernisasi terutama dibidang
perawatan kesehatan, perbaikan lingkungan hidup dan sanitasi serta pengobatan kesehatan
pada abad2-abad ini, maka kematian dapat dikatakan semakin menurun, sedangkan angka
kelahiran semakin meningkat. Tentu saja semuanya ini membawa akibat politis, sosial, dan
ekonomi. Setiap negara harus membuat rencana pembangunan jangka panjang dan stabilisasi
61

sosial, yang tentunya bukan suatu hal yang mudah karena ledakan penduduk yang semakin
banyak jumlahnya itu tentu saja akan menuntut perbaikan-perbaikan kondisi hidup mereka
yang berarti harus diadakan langkah-langkah untuk memperbaiki kehidupan ekonomi
mereka.
d. Komunikasi Massa
Komunikasi massa juga merupakan bentuk dari kemajuan teknologi yang telah
banyak mengubah kehidupan manusia pada abad terakhir ini. Dewasa ini orang dapat
berhubungan dengan orang lain yang berada ditempat jangkauannya. Kemampuan sistem
komunikasi massa ini jelas membawa akibat tersendiri bagi kehidupan sosial manusia secara
sosial dimana-mana.
Hiburan, informasi, pendidikan, propaganda dan lain-lainnya yang bersifat
komunikasi semuanya dapat disalurkan melalui penggunaan komunikasi massa atau massa
media. Dengan demikian massa media dapat digunakan secara destruktif (menghancurkan)
atupun secara konstruktif (membangun) tergantung pada maksud orang yang
menggunakannya. Ia akan destruktif bila dipergunakan untuk membangkitkan pengertian
nasional dari bangsa yang satu terhadap bangsa yang lain dan akan bersifat konstruktif
apabila dipakai untuk mencapai konsensus supra-nasional khususnya penggunaan yang
berkonsensus mudah dilakukan karena majunya tekhnologi.
e. Pola baru dalam Produksi, Konsumsi, Distribusi
Kemajuan produksi ditandai oleh adanya otomatisasi alat produksi yang mengubah
pola distribusi dan konsumsi bahkan mesin-mesin yang tidak otomatis harus diperbaharui
sehingga mesin-mesin buatan tahun 1985 sudah dianggap kuno. Akibatnya ialah peningkatan
kemampuan potensi pada segala jenis barang.
Demi kepentingan nasional maka diperlukan pengembangan usaha di sektor
perekonomian, sektor pertahanan dan pembentukan modal. Sedangkan secara ekonomi
sesungguhnya hanya dapat dicapai dalam sistem yang mengutamakan persatuan dan ikatan
kerjasama. Masalah ekonomi dewasa ini tidak dapat dipecahkan oleh satu negara saja tetapi
oleh beberapa negara yang mempunyai sumber cadangan kekayaan alam yang besar. Maka
oleh karena itu pada negarawan diharapkan akan mnemukan cara-cara pendekatan kerjasama
antara negara-negara yang memungkinkan struktur-struktur baru demi kepentingan
kesejahteraan umat manusia.
62

III. Pengaruh Nuklir Terhadap Sistem Pertahanan Negara
Dengan hadirnya nuklir dalam sistem pertahanan dan keamanan suatu negara,
timbulah gejala-gelaja baru dalam sistem polinter. Kehadiarn nuklir ini dalam sistem politik
internasional juga telah mengurangi kemungkinan perang antar negara sebagai mana Perang
Dunia I dan Perang Dunia II yang menghancurkan peradaban manusia di Eropa dan Asia
Pasifik. Dewasa ini dengan kehadiran bahaya bom nuklir apabila sungguh-sungguh
digunakan dalam suatu peperangan, akan membuat negara agresor sangat sulit untuk
menentukan suatu kemenangan yang pasti terhadap dirinya sendiri karena ia sendiri juga akan
dibalas yang juga tau menghancurkan negaranya sendiri. maka oleh karena itu akan
membawa pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik yang terbuka bermusuhan untuk
mencari jalan guna menyelesaikan benturan-benturan kepentingan mereka dengan melalui
meja perundingan, diplomasi, propaganda, persuasi, atau mungkin juga dengan subkersi
(gerakan bawah tanah) dengan menumbangkan pemerintahan yang agresif tersebut.
Peranan senjata nuklir bukan menunggu mempertimbangkan dari segi militer belaka
tetapi juga dalam konteks politik bangsa-bangsa yang bersangkutan. Pertimbangan politik
berarti bahwa kebijakan nuklir ini bukan saja untuk menghancurkan kekuatan lawan, tetapi
juga dipergunakan sebagai alat untuk menunjang Barganning Position dalam perundingan-
perundingan antar negara, dalam usaha untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Oleh
karena itulah juga nuklir merupakan instrumen politik guna meregangkan ketegangan dan
dapat mempertinggi jaminan keamanan bagi negara-negara di dunia. Persetujuan-persetujuan
nuklir yang dilakukan di antaranya adalah persetujuan-persetujuan di perang dingin antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet mengenai pembatasan persenjataan konfensif (penyerahan)
yang akan menentukan banyaknya sistem persenjataan nuklir yang boleh dimiliki oleh
negara-negara pemilik senjata nuklir. Persetujuan pertama adalah yang dilakukan antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet yaitu melalui :
a. SALT-I (Strategic Arms LimitationTalks) / pembicaraan pembatasan senjata yang
strategis
Untuk pertama kalinya dipersetujui oleh kedua pihak pada tanggal 26 mei
1972 antara Presiden Richard Nixon dan Sekjen Partai Komunis Leonid Brechnev
persetujuan ini mengenai pembatasan terhadap sistem pertahanan anti peluru kendali
(anty balistic while missilles ABM)
b. SALT-II (Multiple Indenpendently Targetable Re-entry Vihicle) MIRV
63

Kemudian dilanjutkan dengan persetujuan pembatasan persenjataan strategis,
munculnya SALT-II merupakan langkah maju yaitu mengenai persenjataan yang
menggunakan peluru pengganti yang berkepala nuklir yang ditujukan kepada target
militer lawan yang dinamakan multiple

IV. Mengapa Negara-Negara Menerapkan Teknologi Pertahanan Nuklir
Didalam Kehidupan Militer, Politik dan Ekonomi.

a. Segi Militer
Hans J Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nations bahwa khususnya dalam
politik internasional kekuatan militer sebagai suatu potensi (Power Politics) suatu bangsa
dimana hubungan-hubungan psikologis ditonjolkan didalam interaksi antar negara-negara.
Maksudnya jelas bahwa kekuatan militer lebih sering digunakan sebagai pendukung
kekuatan-kekuatan yang akan di capai tanpa harus benar-benar menggunakannya dalam
memaksa penyelesaian sengketa atau konflik.
Hal ini telah dilakukan atau dibuktikan oleh negara-negara adikuasa atau negara-
negara yang memiliki atau yang telah berhasil mengembangkan senjata nuklirnya.
Kepemilikan sistem senjata nuklir dipandang akan mampu mencegah negara lain untuk
melancarkan serangan. Dengan memiliki senjata nuklir ada anggapan kalau suatu negara
nuklir menyerang maka penyerangan itu harus diperhitungkan masak-masak karena
kemungkinan akan diserang kembali maka terjadilah perang nuklir yang sangat dihindari oleh
negara-negara di dunia.
b. Politik
Bila ditinjau dari segi politik, penggunaan nuklir dalam sistem kebijakan suatu negara
maka dapat dikatakan bahwa persenjataan nuklir dianggap dapat memberikan sumbangan
bagi terjaminnya kemerdekaan suatu negara bangsa dari intervensi pihak negara lainnya.
Karena kalau suatu negara lain berani mencoba mengganggu kemerdekan dan integritas suatu
negara yang memiliki persenjataan nuklir maka konsekuensinya akan berbahaya sekali, maka
dengan demikian nuklir dianggap memberikan jaminan tertinggi bagi kemerdekaan dan
prestise suatu negara. Kepemilikan senjata nuklir dianggap sebagai syarat bahwa negara
tersebut tidak mau ditempatkan sebagai negara kelas dua dari negara-negara yang lebih kuat.
64

Kepemilikan senjata nuklir oleh suatu negara akan meningkatkan prestisenya dalam
suatu dunia internasional karena negara tersebut telah memiliki kemampuan tekhnologi yang
tinggi baik dalam lingkungan regional maupun di mata dunia internasional, karena dewasa ini
prestise suatu bangsa diukur oleh perkembangan industrinya, kemampuan ilmiahnya serta
teknologinya. Hal ini telah mencapai perkembangan industri, IPTEK yang lebih tinggi dari
negara-negara lainnya. Kemampuan untuk memiliki nuiklir tidak lepas dari perkembangan
teknologi tinggi yang dimiliki oleh suatu negara. Dengan sendirinya kemampuan nuklir selalu
dimiliki oleh mereka yang telah mampu mengembangkan sistem teknologi mutakhir.
Singkatnya dari segi politik dapat dikatakan bahwa kapasitas nuklir disamping
bermanfaat bagi negara-negara nuklir itu sendiri bermanfaat juga bagi negara-negara sekutu
dan simptisannya. Dengan demikian dapat dikatakan untuk sementara bahwa senjata nuklir
dapat dijadikan penghalang untuk terjadinya Perang Dunia III karena akan timbul perang
nuklir dan sama-sama takut memulainya.
Sejak Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis dan Republik Rakyat China dan
sekarang ditambah dengan India, Pakistan dan Korea Utara kemungkinan terdapat dorongan
bagi negara-negara yang belum memilikinya untuk mampu juga membuat senjata nuklir yang
dianggap akan memberi keuntungan politik dan ekonominya.
c. Segi Ekonomi
Tidak disaksikan lagi negara-negara yang telah mampu membuat senjata nuklir
sendiri berarti juga mempunyai kemampuan teknologi yang cukup tinggi dan juga dalam
usaha-usaha pembangunan. Dalam jangka panjang kemampuan teknologi ini akan
memperdekat dasar-dasar bagi pertumbuhan dan mengubah nuklir dari maksud damai
menjadi tujuan-tujuan militer tidaklah terlalu rumit. Ditinjau dari sudut ekonomi membuat
beberapa senjata nuklir akan menghemat anggaran belanja militer. Kemudian nuklir tidak
saja dapat digunakan di bidang militer sebagai penunjang pertahanan militer atau kekuatan
nasional akan tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai penunjang strategi politik global serta
menunjang perekonomian. Pemanfaatan nuklir sebagai penunjang perekonomian
dikembangkan oleh negara-negara maju untuk membangkit tenaga listrik dengan tenaga
nuklir. Perkembangan PLTN sebagai penunjang perekonomian di banyak negara dimana
PLTN sudah dapat bersaing dengan yang mempergunakan minyak. Hal ini menunjukkan
betapa besarnya kemungkinan pemanfaatan nuklir untuk dijadikan sebagai penunjang utama
sistem perekonomian dari suatu negara.
65

V. Beberapa Perjanjian Internasional Mengenai Senjata Nuklir
Untuk membatasi pengembangan dan penggunaan senjata nuklir sebagai langkah
untuk menguranginya agar supaya jangan timbul malapetaka maka diusahakanlah
perundingan-perundingan untuk mmenciptakan kesepakatan persetujuan kemufakatan atau
perjanjian. Untuk itu selama ini sekurang-kurangnya telah diadakan 6 konferensi, protokol,
treaty atau perjanian internasional yang berusaha untuk membatasi persenjataan pemusnah
masal tersebut yaitu :
a. The Antartica Treaty (Perjanjian Antartika)
Perjanjian antartika ditandatangani di Jenewa pada tanggal 1 des 1959 dan dikatakan
mulai berlaku mulai 21 juni 1961. Naskahnya disimpan oleh Amerika Serikat Dalam
perjanjian tersebut sehubungan dengan senjata nuklir dinyatakan bahwa :
i. Antartika hanya digunakan untuk tujuan atau maksud damai atau hanya untuk
kesejahteran manusia.
ii. Di antartika dilarang mengadakan percobaan senjata nuklir, dilarang pula
menggunakan tempat itu sebagai tempat pembuangan ampas bahan radio aktif.
iii. Antartika tidak boleh digunakan sebagai tempat peluncuran dan penyimpanan
senjata nuklir dan sebagai tempat manuver militer atau manuver bentuk
pertikaian lainnya
b. Treaty Banning Nuclear Test (Perjanjian Larangan Terbatas Percobaan Nuklir)
Perjanjian larangan terbatas percobaan nuklir disebut demikian karena belum berupa
larangan yang menyeluruh terhadap percobaan persenjataan nuklir. Perjanjian ini dibuat
bersama oleh Amerika Seikat, Inggris dan Uni Soviet pada tanggal 1 Agustus 1946 dan mulai
untuk ditanda tangani oleh negara lain. Naskahnya disimpan di Moscow, London dan
Washington. Dalam perjanjian ini dinyatakan bahwa para perserta bersepakat untuk melarang
dan mencegah dan tidak akan melakukan suatu ledakan percobaan suatu senjata nuklir atau
nuklir lainnya di suatu tempat di wilayah hukumnya atau yang menjadi daerah
pengawasannya yang meliputi atmosfer, ruang angkasa dan di bawah air termasuk daerah
perairan atau lautan atau tempat lainnya yang memugkinkan jatuhnya radio aktif disuatu
tempat di luar batas wilayah hukum atau wilayah kekuasaannya. Setiap peserta tidak boleh
pula ikut serta atau mendorong mengajukan atau membantu negara atau pihak lain melakukan
percobaan yang dapat berakibat seperti diatas.
66

Pemerintah Indonesia telah turun menandatanganinya dan meratifikasi nya masing-
masing naskah perjanjian yang berada di London, Moscow dan Washington. Penanda
tanganan serentak dilakukan di ketiga tempat tersebut pada tanggal 23 Agustus 1967
sedangkan ratifikasinya 8 mei 1968, 20 jan 1994
c. Treaty of Exploring and Use of Outer Space (Perjanjian Penggunaan Angkasa
Luar)
Perjanjian dasar-dasar pengaturan kegiatan negara-negara dalam eksplorasi dan
penggunaan angkasa luar mencakup bulan dan benda-benda angkasa lainnya singkatnya
disebut perjanjian angkasa luar. Perjanjian ini memuat ketentuan-ketentuan pengaturan
kegiatan-kegiatan di angkasa luar yang berhubungan dengan senjata nuklir yang menekankan
bahwa :
i. Eksplorasi penggunaan angkasa luar hanya untuk mementingkan pemeliharaan
perdamaian dan keamanan dunia dan hanya untuk kesejahteraan manusia
seperti hal mengembangkan ekonomi dan ilmu pengetahuan.
ii. Peserta perjanjian bersepakat untuk tidak atau menempatkan pada orbit bumi
suatu alat yang membawa senjata nuklir atau senjata pemusnah lainnya. Juga
tidak akan menempatkan di sebuah benda angkasa seperti bulan dan benda
angkasa lainnya di ruang angkasa suatu senjata pemusnah masal dan alat
pembawa atau peluncurannya. Perjanjian ini terbuka ditandatangani mulai 27
jan 1967 dan masing-masing naskah disimpan di London, Moscow dan
Washington dan dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 10 Oktober 1967.
Indonesia menandatangani perjanjian tersebut yang terdapat di kota tersebut
pada tanggal 20 Januari 1968 dan telah di ratifikasi oleh DPR.
d. Treaty of Tlatelolco (Perjanjian Tlatelolco)
Perjanjian larangan senjata nuklir di Amerika Latin. Singkatnya perjanjian ini disebut
Perjanjian Tlatelolco, terbuka di tandatangani di Meksiko pada tanggal 14 Februari 1976,
peserta perjanjian sepakat untuk menggunakan tenaga nuklir diwilayah ini untuk maksud
damai dan dilarang untuk percobaan penggunaan pembuatan atau kepemilikan suatu senjata
nuklir baik secara langsung maupun tidak langsung atas nama siapapun atau dengan cara
apapun. Dilarang untuk menyimpan menerima menempatkan atau bentuk kepemilikan
lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Para peserta harus mencegah dan
67

menahan diri untuk tidak terlibat dalam percobaan penggunaan, pembuatan serta kepemilikan
suatu senjata nuklitr di kawasan ini.
e. Treaty on The Non-Prolifaration of Nuclear Weapons (Perjanjian Non-
Proliferasi Senjata Nuklir)
Perjanjian ini terbuka untuk ditandatangani pada tanggal 1 Juli 1968 dan naskahnya di
simpan di London, Moscow dan Washington. Perjanjian ini menyatakan bahwa peserta
berjanji sepakat untuk :
i. Dengan cara apapun tidak akan mentransfer kepada pihak manapun senjata
nuklir atau peledak nuklir lainnya baik langsung maupun tidak langsung. Juga
tidak akan langsung mendorong atau mempengaruhi negara-negara non nuklir
dengan cara apapun untuk membuat senjata nuklir atau peledak lainnya.
ii. Negara-negara non nuklir juga sepakat untuk tidak menerima bantuan senjata
lainnya atau alat peledak nuklir lainnya dari suatu negara pemberii serta tidak
akan membuat atau memilikinya dengan cara apapun. Begitu juga pihak ini
dilarang mencari menerima bantuan dalam pembuatan senjata nuklir atau alat
peledak nuklir lainnya.
Suatu hal yang mencolok dari perjanjian ini bahwa negara-negara non nuklir dilarang
untuk membuat atau memiliki senjata nuklir. Sedangkan bagi negara-negara nuklir tidak ada
larangan untuk membuat mengembangkan bahkan menggunakan senjata nuklirnya. Hal ini
dapat menimbulkan kotroversi dari banyak negara yang tidak mau menanda tanganinya,
Perancis, RRC, India, Pakistan dan Korea Utara tidak ikut atau menolak perjanjian ini karena
dianggap tidak adil.
f. Treaty Of The Seabed On Ocean Floor (Perjanjian Dasar Laut)
Dalam perjanjian ini dinyatakan bahwa negara-negara sepakat untuk tidak menaruh
atau menempatkan di dasar lautan di bawah dasarnya suatu senjata nuklir atau senjata
pemusnah lainnya. Termasuk bangunan dan instralasi peluncur atau fasilitas lainnya yang
dimaksudkan untuk menyimpan, mencoba atau menggunakan senjata-senjata tersebut. Para
peserta juga sepakat untuk tidak berusaha membantu atau mempengaruhi pihak-pihak lain
untuk melakukan kekuatan yang dilarang tersebut. Isi perjainian tersebut menunjukkan akan
adanya sikap kebersamaan dengan penandatanganan perjanjian untuk menerima kenyataan
bahwa perkembangan senjata nuklir pada abad ini menunjukkan ke arah bahaya seputar bagi
68

kehidupan umat manusia sehingga dirasakan perlu untuk diciptakan suatu bentuk perjanjian
terhadap situasi diatas dengan maksud untuk menciptakan kedamaian hidup umat manusia di
dunia.






















69

BAB X
Tipe-Tipe Dan Isu-Isu Sistem Politik Internasional Yang
Mempengaruhi Dewasa Ini
(6 Desember 2012)
I. Klasifikasi Sistem Politik Modern
Dewasa ini orang membuat pembagian dengan perbedaan antara rezim-rezim
pluralistik atau demokratis dan rezim-rezim unitarian atau otokratis. Rezim pluralistik
terkenal sebagai rezim-rezim yang liberal dimana kebebasan umum diakui yang
memungkinkan setiap orang dapat mengucapkan pendapatnya secara lisan maupun tertulis
melalui keangotaan di dalam partai politik atau melalui partisipasinya dalam demonstrasi
umum. Aktivitas-aktivitas kelompok kepentingan yang berusaha mempengaruhi kekuasaan
dilakukan secara tidak langsung kadang-kadang bersifat rahasia. Dalam rezim-rezim
pluralistik atau demokratis terdapat paling kurang dua partai politik. Perjuangan bersifat
publik dan terbuka bagi pers dan media lainnya. Disini pergolakan politik terjadi secara
terbuka dan bebas dalam kepentunga umum.
Sedangkan dalam rezim-rezim unitarian konflik politik secara resmi tidak terjadi
kecuali perjuangan individu untuk memperoleh restu dari penguasa, dan sang penguasa ini
tidak ditentang. Disini kekuasaan tertinggi berada di tangan satu orang yang berada di atas
pergolakan politik. Maka dengan demikian, kekuasaan itu tidak ditentang. Meskipun
demikian penguasa yang paling absolut sekalipun tentu saja bisa dipengaruhi oleh orang-
orang yang terdekat dengannya.
Diantara dua konfigurasi (bentuk atau susunan), rezim yang besar ini yaitu pluralistik
dan unitarian dapat dibuat sub-sub klasifikasi.
Yang termasuk dalam rezim unitarian adalah monarki warisan turun temurun dan
kediktatoran yang berasal dari kemenangan dari suatu upaya perebutan kekuasaan. Yang
lebih realistik, dan kurang formal adalah pemerintahan otokrasi moderat yaitu orang yang
mengizinkan oposisi dan perbedaan pendapat dalam batas-batas tertentu , dan otokrasi
totaliter yang tidak mengizinkan adanya oposisi dan menghancurkan kaum pembangkang.
Para pembangkang akhirnya hanya bisa beroprasi secara gelap.
70

Sedangkan yang termasuk dalam demokrasi pluralistik yaitu dengan dua partai politik
atau banyak jumlahnya partai-partai politik adalah :
1. Rezim-rezim presidensial, apakah dua partai seperti di Amerika Serikat atau dengan
banyak partai seperti di Amerika Latin dan Indonesia.
2. Rezim-rezim parlementer dengan sistem dua partai seperti Inggris, Australia dan lain-
lain.
3. Rezim-rezim parlementer dengan berisi banyak partai ala Eropa Continental
Dalam sistem dua partai, satu partai politik memegang dana melaksanakan kekuasaan
karena mendapat dukungan mayoritas warganegaranya. Ini adalah sesuai dengan kesepakatan
demokratis. Oleh karena itu, sistem ini diharapakan dilumpuhkan oleh pertikaian-pertikaian
interen. Dengan kata lain, sistem ini lebih stabil daripada multipartai. Di dalam sistem
multipartai, tidak ada partai yang pemegang mandat mayoritas. Oleh karena itu, beberapa
partai harus membentuk koalisi untuk memegang dan menjalankan kekuasaan pemerintah
dan mayoritas yang diperoleh dalam sistem serupa ini menjadi tidak stabil, ini terjadi di
Indonesia. Konflik politik yang terjadi pada sistem dua partai berbeda dengan yang terjadi
pada sistem multipartai.
Maka dengan demikian, kita dapat membuat perbedaan antara demokrasi langsung
dengan demokrasi tidak langsung. Dalam demokrasi langsung, para pemilih langsung
memilih kepala pemerintahan dan dalam demokrasi tidak langsung, para pemilih tidak
langsung memilih kepala pemerintahan, mereka hanya memilih orang-orang dan wakil-wakil
yang akan dipilih dalam pemerintahan (parlemen). Di dunia barat, perbedaan ini cenderung
sangat mendasar.
Dalam kehidupan negara-negara modern kontemporer, pejabat eksekutif merupakan
titik pusat kekuasaan. Sedangkan para pejabat legislatif hanya memainkan peranan sebagai
pengontrol. Karena sistem pemilihan pemerintahan secara langsung sangat peting artinya di
dalam kenyataan sistem demokrasi tidak langsung membuat rakyat tidak terlibat dalam
proses pengangkatan seseorang yang akan menjadi kepala pemerintahan atau kepala negara
mereka. Singkatnya, dalam suatu demokrasi langsung, patisipasi rakyat dalam proses politik
lebih mendasar dan dilakukan secara sadar.


71

II. Dua Sistem Politik yang Paling Berpengaruh
Terminologi demokrasi dan totalitarianisme tidak dapat diterapkan pada semua rezim
yang terdapat di dunia dewasa ini. Namun keduanya dikenal sebagai rezim dari bangsa-rezim
yang paling berkuasa pada masa zaman modern. Pada abad ke-20 kita menyaksikan
tampilnya dua super power yaitu Amerika Serikat yang demokratis dan mantan Uni Soviet
yang totaliter (dewasa ini Republik Rakyat China). Setelah lahir Uni Soviet, Amerika Serikat
bercokol sendirian di atas singga sana kesuperpowerannya dan di Asia terdapat dua negara
besar yaitu India yang demokratis dan China yang sampai sekarang masih totaliter, yang
sebenarnya saling bersaing untuk mengincar posisi superpower di Asia Tenggara atau Asia
pada umumnya. Apakah mereka akan berhasil? Proses waktulah yang akan menjeaskannya,
tetapi apakah dunia membutuhkan negara super power ala Amerika Seikat dan ala Uni
Soviet.
Karena kedua tipe rezim atau sistem politik tersebut menentukan gerak hidupnya di
zaman modern kontemporer maka selanjutnya dapat kita bahas rezim-rezim tersebut.
Terlebih dahulu kita akan membahas demokrasi dan totalitarianisme sebagai berikut :
a. Demokrasi
Edward Shils adalah pakar politik, mengindentifikasikan tiga identitas politik, yaitu
pemerintahan sipil, institusi representatif (lembaga perwakilan) dan kebebasan publik.
Demokrasi mencakup pemerintahan sipil paling tidak dalam dua pengertian yaitu :
1. Setiap warga negara memiliki hak untuk mencari dan memegang jabatan politik,
mereka berhak berpartisipasi dalam kehidupan partai politik melalui aktivitas-
aktivitas seperti pemungutan suara, terlibat dalam organisasi politik, dan
kelompok kepentingan, dan jabatan politik yang terbaik. Hak-hak macam itu
merupakan hak pribadi bagai siapa saja, tidak hanya bagi suatu elite aristokratis
dan kelas-kelas profesional yang melayani kepentingan-kepentingan publik.
2. Keputusan-keputusan politik harus dijustifikasikan secara publik soalnya
pemerintah demokratis itu didasarkan pada rakyat dari negara yang diperintah
bukan pada penggunaan ancaman kekuaatan seperti pemerintahan polisi atau
militer.
72

Demokrasi mencakup institusi representatif, yaitu bahwa otoritas untuk memerintah
berasal dari pemilihan oleh rakyat. Dalam masyarakat yang kompleks demokrasi
diekspresikan dalam perjuangan kompetitif antara para pemegang jabatan atau yang akan
memegang jabatan. Setiap orang harus berusaha menemukan dan memelihara dukungan
sekurang-kurangnya dengan memperjuangkan kepentingan-kepentingan para pendukung
mereka. Jadi, keputusan-keputusan yang mereka buat dan kebijakan-kebijakan yang mereka
terapkan harus mencerminkan aspirasi rakyat yang mendukung mereka.
Demokrasi mencakup pemeliharaan kebebasan publik
Dalam arti setiap warganegara memiliki hak-hak tertentu seperti hak berkomunikasi
secara bebas, hak untuk berkumpul dan berserikat secara bebas yang harus dihormati oleh
negara. Negara memiliki kekuasaan yang terbatas yang didasarkan pada kesepakatan-
kesepakatan yang tidak dipaksakan. Kekejaman, intimidasi dan penipuan pada prinsipnya
dikutuk. Hak minoritas pada dasarnya dijamin. Hanya pada situasi tertentu, seperti ketika
adanya ancaman serius atas kemanan eksternal atau internal atau dalam keadaan perang, hak-
hak tersebut dapat ditiadakan. Meskipun demikian, negara sering kali mendapat kecaman bila
dalam kondisi rersebut hak-hak rakyat diabaikan.
Terkait dengan demokrasi politik adalah demokrasi sosial, suatu masyarakat
demokratis adalah tipe masyarakat yang kulturnya dominan dan struktur sosialnya secara
langsung atau tidak langsung mendukung sistem politik yang demokratis. Analisis yang
paling terkenal tentang hubungan antar nengara di Amerika Serikat dibuat oleh sarjana-
sarjana Perancis bernama Alexis Tocqueville pada tahun 1835. Dalam tulisannya yang
berjudul democrazy in Amerika, dia berargumentasi bahwa rezim demokratis dirawat
bukan hanya melalui struktur-struktur konstitusionalnya melainkan juga melalui kemakmuran
ekonominya, tata kelakukannya adat kebiasaannya dan kepercayaannya tentang religius
orang-orang Amerika Serikat.
b. Totalitarianisme
Ciri paling utama dari pemerintaahan totaliter diawali oleh kata total, dibawah
totalitarianisme semua institusi sosial dikontrol oleh negara. Kontrol itu mencakup ekonomi
politik pendidikan agama dan bahkan keluarga. Negara dijalankan oleh satu partai tunggal.
Oleh karena negara atau partai yang mendominasi semua dimensi kehidupan sosial, maka ia
pun secara total mendominasi kehidupan individual. Pekerjaan yang dilakukan seseorang
73

harus sesuai dengan yang ditugaskan partai atau yang berguna bagi partai. Pendidikan
mencakup pengetahuan, keterampilan-keterampilan serta sikap-sikap yang berguna bagi
negara ; agama akhirnya merupakan loyalitas terhadap negara dan kehidupan keluargapun
berpusat pada aktivitas-aktivitas yang mendukung negara.
Karl J. Fruderich dan Zbigniew Brizinki menyebutkan enam ciri totalitarianisme
politik yaitu :
1. Adanya ideologi yang terperinci, ideologi merupakan ideologi resmi yang
terperinci idaman anggota masyarakat diharapakan menjalankan hidup mereka.
2. Adanya satu paratai tunggal yang biasanya diorganisasikan dengan baik
3. Adanya sistem teror yang luar yang dijalankan oleh partai atau oleh polisi
rahasianya.
4. Adanya kontrol pemerintahan dan partai atas sarana komunikasi massa seperti
pers, radio, dan film.
5. Dikondisikan secara ekologis dan adanya kontrol yang tetap melalui militer.
6. Adanya kontrol negara atas seluruh sektor ekonomi
Dalam dunia modern, totalitarianisme memiliki dua bentuk yaitu komunisme dan
fasisme. Komunisme jelas berbeda bagai bangsa yang berbeda di tempat yang berbeda dan
pada masa yang berbeda. Di bangsa-bangsa yang sedang berkembang, komunisme seringkali
dikaitkan dengan revolusi terhadap pemerinatahan kolonial. Bagi para pekerja di beberapa
bangsa Eropa Barat seperti Perancis dan Italia istilah komunisme mengacu pada pembelaan
bagi kepentingan-kepentingan masyarakat kelas bawah. Bagi banyak politisi konservatif di
Amerika Serikat komunisme berarti suatu konspirasi internasional yang bermaskud
mendominasi dunia. Sedangkan bagi para warganegara negeri-negeri sosialis, istilah
komunisme mengacu pada pengertian yang sangat berarti bagi masyarakat yang harus
dicapai.
Meskipun terdapat beragam penafsiran, komunisme dapat didefinisikan sebagai suatu
sistem politik dimana instrumen utama dari ..ini, distribusi dan pertukaran merupakan hak
milik bersama daripada hak milik pribadi. Edward Shils yang dikuti oleh Mc. Deerecee
dalam bukunya Sosiology Beyond 1980. Pada prinsipnya tanggung jawab tertinggi dari
mereka yang melakukan aktivitas-aktivitas ekonomis dalam komunitas adalah bagi penduduk
dari bangsa yang bersangkutan, bukan bagi kepentingan pribadi atau kelompok sendiri. Itulah
sebabnya alasan mengapa komunisme itu bertentangan dengan kapitalisme dan rezim
74

demokratis borjuis yang mendukung suatu sistem produksi yang bertujuan untuk mencapai
suatu keuntungan bagi kelompok kecil kelas pemilik modal daripada memenuhi kebutuhan-
kebutuhan kaum mayoritas.
III. Fasisme
Fasisme muncul di Eropa 1950-an dan 1960-an, istilah fasisme dipakai terutama
untuk mendefinisikan sistem politik di Italia dari tahun 1942-1945 di bawah kediktatoran
Benito Mussolini dan di Jerman dari tahun 1933-1945 dibawah Nazi Jerman yang dipimpin
oleh Adolf Hitler.
Mendefinikan fasisme bukanlah mudah, namun beberapa rezim fasis memiliki ciri
sebagai berikut :
1. Rezim-rezim fasis sangat nasionalistik, prinsip utama pemerintahan adalah
memelihara hukum dan tertib domestik yaitu seringkali dengan mengandalkan
kekuataan dan teror.
2. Rezim-rezim fasis sangat anti komunis, mereka mendukung kekayaan pribadi dan
supremasi kepada ahli atas para politikus.
3. Rezim fasis biasanya diperintah oleh partai tunggal yang dipimpin oleh seorang
dikator. Partai yang bersangkutan dengan semua organisasi bawahnya
memepengaruhi semua aspek masyarakat mulai dari pendidikan, selogan-selogan dan
ideolgi rezim bagi anak-anak hingga aktivitas budaya dan olahraga, sistem hukum dan
bahkan persoalan-persoalan individual seperti pekerjaan.
4. Rezim-rezim fasis mengontrol semua aspek fianasial, komersial, dan organisasi di
dalam negara yang bersangkutan.

IV. Tipe-Tipe sistem politik di negara-negara Berkembang
Setelah mempelajarai berbagai tipe-tipe atau rezim politik maka kita akan membahas
tentang tipe-tipe sistem politik di negara-negara berkembang, Edward Shils dan kawan-
kawan dalam bukunya Modernisasi 1991 meneliti politik terpenting di negara-negara
berkembang, demokrasi terimpin, demokrasi.. tradisional. Penjelasan ringkas tentang ciri-ciri
demokrasi politik tersebut adalah sebagai berikut :
a. Demokrasi Politik
75

Demokrasi politik merupakan sitem politik dimana terdapat badan-badan legislatis,
eksekutif, dan yudikatif. Badan-badan tersebut berfungsi dan memilki otonom yang bebas.
Kekuasaan legislatif dipilih secara periodik dalam pemilihan umum yang bebas dengan suatu
mekanisme pergantian kekuasaan secara teratur. Badan-badan ini mengontrol kekuasaan
eksekutif. Selain dari itu terdapat bermacam-macam kelompok dengan kepentingan yang
sama dan otonom. Ada partai-partai politik dan sarana-sarana yang bebas bagi pembentukan
pendapat.
b. Demokrasi Terpimpin
Struktur formal sistem ini boleh dikatakan sama dengan demokrasi politik. Karena
sistem demokrasi yang lengkap sukar dilaksanakan maka diperlukan pengamanan-
pengamanan dalam struktur-struktur formal dan prakteknya. Oleh karena itu diperlukan agar
pemerintah dapat berjalan secara aktif. Perbedaan demokrasi terpimpin dengan demokrasi
politik terdapat pada fakta kekuasaan dalam demokrasi terpimpin lebih terkonsentrasi pada
tangan aparat eksekutif. Aparat eksekutif lebih berkuasa daripada aparat legislatif. Disampign
itu ikatan kekuasaan eksekutif dari pada pemerintah lebih kuat dan lebih berpengaruh bagi
oposisi terbatas. Pendapat umum didominasi oleh pemerintah, contoh demokrasi terpimpin
Republik Indonesia Ir. Soekarno.
c. Oligarki Pembagunan
Adalah pemerintah oleh kelompok orang kecil. Sistem ini digunakan untuk
mempercepat proses demokrasi dan modernisasi. Kekuasaan dan pemerintahan yang
dianggap sebagai syarat untuk perwujudan persatuan dan demi kecepatan proses
pembangnan. Dalam proses ini kekuasaan ada di tangan militer atau di tangan para sipil yang
didukung oleh elite yang baik organisasinya dan besar jumlahnya. Dalam sistem ini parlemen
tidak mempunyai kekuasaan, fungsi parlemen hanyalah untuk menerima persetujuan atau
paling tidak hanya memberikan nasehat mengenai rencana peraturan. Tidak ada tempat untuk
oposisi. Untuk melaksanakan kebijaksanaannya oligarki tersebut tergantung pada birokrasi
yang ada. Kekuasaan yudikatif tidak memiliki kebebasan kekuasaan tersebut. Diperlukan
aparat polisi dan militer yang kuat unutk menumpas gerakan-gerakan oposisi sampainya yang
di pimpin dari pusat digunakan untuk mobilitas penduduk guna memperkuat persatuan
nasional dan melaksanakan proyek-proyek pembangunan.

76

V. Isu-Isu Globalisasi Kontemporer
Ada bebrapa faktor yang menjadika suatu iu menjasi isu global yaitu :
1. Isu yang menjadi perhatian dan merebut para elite pembuat kebijakan dari berbagai
negara dan negara-negara terlibat dalam perdebatan tersebut
2. Isu tersebut secara terus-menerus terliput oleh media massa dunia
3. Isu tersebut secara terus menerus menjadi objek studi penelitian dan perdebatan
para ilmuan profesional dan para pakar masyarakat internasional
4. Isu tersebut muncul sebagai agenda dalam organisasi internasional
Adanya isu global yang ditandai dengan meningkatanya hubungan dan saling
ketergantungan negara-negara hal ini karena adanya suatu kesadaran bahwa kegagalan dalam
mengatasi isu global dapat memepengaruhi kehidupan nasional secara keseluruhan. Ada isu
global secara keseluruhan yang meliputi isu global tentang globalisasi, tetorisme
internasional, perdagangan bebas WTO, lingkungan hidup, migrasi internasional, dan Hak
Asasi Manusia dalam hubungan internasional.
VI. Globalisasi dan Nasionalisme
Pertanyaan lebih dahulu disini adalah apakah kedua ini dapat berjalan beriringan.
Dewasa ini kehidupan internasional mengalami dua perkembangan yang sering kali
mengalami pertentangan. perkembanagan pertama adalah globalisasi dan perkembangan
kedua adalah sering kali disebut sebagai mengemukakannya semangat domestik. Globalisasi
dapat didefinisikan sebagai The Ekstention Of Social Relation Over The Globe. terlalu
memunculkan kecenderungan, persamaan dan informalitas daripada individu, kelompok dan
sistem sosial yang melewati atau menghapus batas-batas tradisional negara (finishing
traditional borders). Baik secara sosial, ekonomi maupun politik, globalisasi memungkinkan
pergeseran penduduk nasional ke dalam keterkaitan global. Disisi lain globalisasi juga dapat
memicu pergeserasi entitas nasional ke dalam .. seperti budaya agama dan etnis. Dalam
konteks di atas nasionalisme dan globalisasi sering kali tidak dapat berjalan secara harmonis
sehingga mempersulit posisi negara-negara terutama pada negara-negara bangsa yang terdiri
dari masyarakat majemuk.


77

VII. Terorisme Internasional
Pengakjian mengenai terorisme menarik perhatian internasional setelah kejadian 11
September 2001 yaitu tiga pesawat penerbangan Amerika Serikat dibajak, dua diantaranya
ditabrakkan ke Menara Kembar WTC dan Gedung Pentagon (Departemen Perrtahan Amerika
Serikat). Peristiwa ini dikenal masyarakat internasional sebagai tragedi 0911, kejadian 9.11
ini pulalah yang menjadi starting point masyarakat dunia yang dipimpin Amerika Serikat
untuk mendeklarasikan perang global melawan terorisme atau Globe War Against Terorism.
Kegiatan terorisme dapat menjadi berskala internasional apabila :
1. Diarahnkan pada warga negara asing atau target luar negeri.
2. Dilakukan bersama-sama oleh pemerintahan atau lebih dari atu negara.
3. Diarahkan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah asing.
Setiap aksi terorisme memiliki motivasi yang berbeda-beda tergantung pada kondisi
masing-masing. Tindakan terorisme dapat dilandasi pada dua motif umum yaitu :
1. Objective Driven Act
Berkaitan dengan tindakan terorisme yag diakibatkan terhadap beberapa pemerintahan
yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Cara yang biasa diugunakan adalah melalui
penyanderaan dengan bentuk ini memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk
bernegosiasi atau mengubah kebijaksanaannya
2. Terror Driven Act
Didasarkan pada tindakan balas dendam atau juga digunakan sebagai peringatan atau
ancaman kekerasan yang akan terjadi jika pemerintah tidak merubah kebijakannya. Motif lain
yang dewasa ini sedang banyak terjadi adalah didasarkan pada isu etnis, agama, kesenjangan
sosial, ekonomi dan perbedaan ideologi yang terjadi dalam suatu masyarakat.
Sedangkan bentuk terorisme internasional dapat berupa :
1. State Sponsored Terorism
Yaitu tindakan terorisme yang dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai
tujuannnya misalnya Amerika Serikat mengidentifikasikan beberapa negara untuk hal ini
seperti Kuba, Irak, Iran ,Libya, Korea Utara, dan Syiria.
78

2. Privatly Based Terorism
Yaitu tindakan terorisme yang dilakukan oleh terorisme privat seperti Al Qaeda dan
lainnya.
Pada dasarnya tindakan terorisme dalam menentukan targetnya memilih target-target
yang potensial untuk menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran orang banyak. Sifat
terorisme modern adalah siapa saja dapat menjadi korban, tindakan terorisme dilakukan agar
mendapat perhatian orang banyak bahkan perhatian internasional dan memberikan reaksi dari
masyarakat internasional.

VIII. Lingkungan hidup
Hubungan politik internasional konternporer tidak hanya memeprhatikan hubungan
politik antar negara saja tetapi juga sejumlah subjek lainnya seperti interdependensi ekonomi,
hak asasi manusia, perubahan transnasional, organisasi internasional, rezim-rezim
internasional, lingkungan hidup dan seterusnya.
Isu lingkungan hidup pertama kali di angkat sebagai agenda dalam hubungan
internasional pada tahun 1970-an. Hal ini ditandai dengan diselenggarakannya konferensi
LBB tentang lingkungan hihup pada 1972 di Stockhols, Swedia dan kemudian dei Rio de
Jenerio pd 1992 yang sebelumnya diawali dengan konferensi PBB menegenai perubahan
iklim dunia di Monterial, Canada pada tahun 1990.
Dalam konteks hubungan internasional dikenal adanya konsep international Politics
Of Environment yaitu suatu proses dimana persetujuan anatar negara menjadi isu lingkungan
hidup di orgnaisasikan apakah dengan cara diciptakan rezim maupun dengan cara
menciptakan institusi internasional yang diperlukan. Lebih lanjut proses International
Politics Of Environment meliputi :
1. Adanya proses perjanjian atau negosiasi mengenai lingkungan hidup yang dilakukan
oleh negara-negara atau institusi.
2. Adanya peraturan atau rezim yang dibuat untuk bekerjasama di bidang ligkungan
hidup.
3. Adanya konflik dari kekuatan politik yang penyelesaiannya tergantung dari
keberhasilan interaksi, peran aktor dalam lingkungan hidup
79

Kerjasama internasional dalam menangani isu lingkungan hidup global diharapkan
untuk mencapai kesepakatan, ukuran-ukuran, patokan-patokan dan norma-norma
internasional yang sah serta cara penerapannya. Pembuatan patokan atauran dan norma-
norma standart ini digunakan untuk mendefenisikan untuk umum, penanganan politik dan
membuat aturan secara proses aturan yang tetap pembentukan rezim internasional dalam
dimensi lingkungan hidup


















80

BAB XI
Hukum Internasional dan Pelaksanaan Keputusan
(13 Desember 2012)
I. Politik Hukum Internasional
Para ahli hukum masih memperdebatkan apakah hukum internasional itu merupakan
hukum murni. Secara abstrak hukum itu menunjukkan adanya hubungan diantara atau di
kalangan kesatuan tertentu. Menurut subjeknya ada dua macam hukum yaitu hukum alam dan
hukum manusia.
Hukum Alam
Hukum alam adalah hukum sebab akibat alami yang berkenaan dengan manusia
ataupun non manusia. Dan tidak mengandung unsur kemanusiaan itu sendiri. tetapi dalam
hubungan dengan manusia kemauan itu sendiri adil.
Hukum Manusia
Adapun hukum manusia meliputi hubungan antara perorangan atau kelompok yang
diatur oleh peraturan perundang-undangan yang disetujui dan disepakati oleh subjek hukum
itu untuk ditaati.
Hukum Internasional
Cabang dari hukum manusia dan merupakan produk dari berkerjanya sistem
internasional, pertumbuhannya dapat dikatakan insidensial, karena tidak berdasarkan
perencanaan, melainkan berkembang secara difusi dan timbul dari praktek-praktek
internasional. Inspirasi terbesar bagi berlangsungnya pertumbuhan sejarah hukum
internasional mungkin bersumber dari tuntutan-tuntutan negara-negara mengenai reciprosical
(ketimbal balikan) hubungan, keseragaman dan persamaan prilaku.
Dimensi hukum intenasional yang banyak itu dapat lagi diperkcil menjadi 3 bidang
umum yaitu :
a. Hukum Kenegaraan
81

Yaitu peraturan dan prosedur pergaulan internasional di masa damai, dan prosedur
atau hukum perang. Hukum kenegaraan mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban negara.
Peraturan dan prosedur pergaulan internasional pada masa damai mencakup hukum-hukum
diplomasi, hukum perjanjian dan hukum penyelesaian secara damai bagi sengketa
internasional.
b. Hukum perjanjian
Menentukan metode-metode perundingan, pengujian validitas, pengaturan intrepretasi
dan proses penghentian suatu perjanjian.
c. Hukum perang
Pada mulanya mengurusi masalah-masalah konsep-konsep permusuhan dan ke-
netralan. dalam hukum perang tradisonal di jelaskan bahwa permusuhan itu memberikan hak-
hak hukum yang tidak dimiliki di masa damai. Cara melakukan peperangan dan harus ditaati
oleh negara. Netralitas atau kenetralan memberikan hak-hak istimewa kepada negara-negara
yang netral tetapi sebaliknya juga memberikan kewajiban-kewajiban tertentu, seperti
menjauhi tindakan tidak ke-netralan dan harus bersikap tidak memihak sama sekali.
Demikian juga diatur tentang perlakuan terhadap rakyat dan kawanan perang. Larangan
memproduksi senjata tertentu dan lain sebagainya.
Menurut konsep hukum internasioanl, hukum dan lembaga-lembaga politik
mencerminkan tertib ideologi dan normatif masyarakat. Hukum hanya dapat berlaku didalam
masyarakat dan tindakan dapat di berlakukan tanpa norma-norma. Hukum dapat selektif
dalam suatu masayarakat apabila hukum positif-nya sesuai dengan kehidupan seperti adat
istiadat, tradisi, kebiasaan dan pengalaman. Hukum internasional berfungsi sebagai
mekanisme pengatur dan pembatas dalam politik internasional, tetapi hanya berlaku sekali
saja atau sebagian-sebagian saja. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat tertentu dari hukum
internasional sebagai suatu sistem. Beberapa sifat tertentu dari hukum internasional adalah
sebagai berikut :
1. Setiap negara bisa menafsirkan menurut pandangan yang menguntungkan pihaknya
sendiri.
2. Hukum internasional tidak berlaku secara paksa seperti hukum nasional.
3. Kepatuhan kepada hukum secara teroritik adalah sukarela, karena kalau dipaksakan
maka hal itu akan merusak kedaulatan negara.
82

4. Hukum internasional merupakan sistem yang belum lengkap karena banyak aspek-
aspek kehidupan antar negara masih belum tercakup didalamnya.
Tetapi sungguhpun masih banyak kekurangannya sebagian besar dari kehidupan
hubungan internasional dan antar pemerintah berjalan dalam kerangka kerja dari dasar-dasar
hukum internasional sebagai contoh misalnya ialah adanya hak dan kewajiban negara-negara,
pelaksanaan diplomasi, perundingan-perundingan, ratifikasi, dan pelaksanaan perjanjian-
perjanjian, yang ke semuanya itu di berlakukan berdasarkan hukum internasional yang
berlaku.
Sementara itu memang terdapat penyimpangan-penyimpangan dari hukum
internasional oleh beberapa negara-negara non barat. Misalnya hukum laut, banyak negara-
negara non barat yang menolak doktin tradisional mengenai garis bata 3 mil laut sebagai
wilayah perairan negara, yaitu doktrin yang masih di patuhi negara-negara barat. Dalam
konferensi Genewa tahun 1958 dan tahun 1960 mengenai hukum laut banyak negara-negara
non barat termasuk Uni Soviet berusaha untuk tidak mengakui lagi batas 3 mil laut. Tetapi
kemudian banyak hukum laut yang baru yaitu batas mil laut adalah 8 mil dan zona ekonomi
nya adalah 20 mil laut.
Kecenderungan-kecenderungan dalam hukum internasional yang ada dewasa ini
menunjukkan adanya kaitan yang lebih erat dengan politik internasional. Telah terbukti
bahwa tidak mungkin untuk menyesuaikan kehidupan dengan hukum sehingga tekanan yang
bisa di berikan adalah penyesuaian hukum pada kehidupan.
Hukum internasional pada abad ke-19 dan di dalam abad-abad sebelumnya mengakui
kedaulatan negara-negara dan dipeliharanya keseimbangan atau keseimbangan kekuatan.
Hukum internasional pada abad ke-20 menetapkan sasarannya untuk menjaga keseimbangan
keadilan dan mempergunakan atau memanfaatkan saling ketergantungan antara negara-
negara serta mengintegrasikan kekuatan-kekuatan.
Revolusi tekhnologi telah melahirkan beberapa akibat yang positif dan negatif
terhadap hukum internasional. Berkembangnya pandangan kaum positivis yang memuja
kekuatan, amat membantu usaha-usaha menundukkan untuk tertib hukum dan juga telah
mensokulerkan (menerapkan) saluran konsep hukum internasional. Didalam masyarakat yang
mengutamakan aspek kekuatan, hukum mereka menghormati supremasi kekuatan dan hirarki
yang berlandaskan kekuatan dan hirarki yang berlandaskan kekuatan.
83

Hukum internasional pada dewasa ini merupakan perumusan dari tuntutan-tuntutan
yang berdasarkan pada keadilan. Hubungan antara hukum internasional dan dinamika sistem
politik internasional semakin erat, lebih erat dari masa lampau. Hukum menghasilkan
batasan-batasan terhadap stuktur, fungsi dan ke-efektifan sistem sosial. Suatu hubungan
antara negara akan lebih efektif fungsinya dan lebih legal antara ketergantungan an tara
negara-negara di dunia semakin meningkat.

II. Kebijakan Politik Status Quo
Dari suatu konssep tujuan dan menegaskan perihal kepuasan dan pelestarian
melahirkan orientasi kebijakan yang kita sebut politik status quo. Politik status quo yang di
cari suatu negara adalah untuk mempertahankan statusnya di antara negara-negara lain.
Kebijakan ini dalam orientasi strateginya adalah sikap pertahanan meskipun sering bersifat
konfensif (menyerang) dalam taktiknya. Kepentingan nasionalnya terkandung dalam istilah-
istilah seperti : Pertahanan, pelestarian dan netralisasi ; Bukannya dalam istilah, perubahan,
serangan dan keuntungan. kebijakan status quo ini mencapai stabilisasi hubungan dengan
negara-negara lain dan bukanlah merubah dukungan.
Negara-negara yang mengikuti kebijakan status quo, menganggap konflik sebagai
suatu kondisi kehidupan dan jarang memulai konflilk. Apabila mereka terlibat dalam suatu
konflik, mereka akan berusaha untuk menghindari konflik tersebut dan mencari pemecahan
persengkataan dengan mencari ketegangan minimal. Adalah suatu axioman (tidak dapat
dibantah) bahwan negara yang mengikuti paham status quo tidak akan memulai perang secara
operasional kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk perubahan situasi dan dengan
cepat membentuk respond yang jitu terhadapnya. Apabila kebijakan status quo ini berlaku
dalam suatu politik internasional maka keadaan pada umumnya akan tenang dan ketegangan-
ketegangan akan berkurang, perubahan-perubahan terjadi perlahan-lahan dengan bersifat
evolusioner dan terbatas.
III. Kebijakan Politik
Kebijakan luar negeri yang berasal dari penolakan status dan peran suatu negara
disebut revisonisme. Konsepnya ialah merupakan kebalikan dari kebijakan status quo.
Kebijakan revisonisme dalam strateginya ialah konvensif (menyerang) kepentingan
84

nasionalnya bisa jadi perubahan-perubahan besar didalam lingkungan demi keuntungan
negara dan kebijakan ditunjukkan kearah penemuan atau penciptaan dan pemanfaatan
sepenuhnya segala kesempatan untuk melakukan tindakan infektif. Hubungannya tidak akan
stabil kecuali bila mana ia memperoleh apa yang dikehendakinya. Oleh karena itu lah negara-
negara revosionis tidak tertarik pada unsur-unsur untuk pengorganisasian politik internasional
yang dianggapnya dapat menghambat kebebasan bertindak.
Negara-negara revosionis tidak hanya akan menerima konflik bahkan mencapai
konflik selama itu dapat memberi harapan secara rasional suatu sasaran. Bilamana terjadi
konflik antara negara-negara status quo dengan negara revosionis, biasanya negara-negara
revosionis lah yang mendahului konflik tersebut dan menentukan kehendaknya. Bila mana
terjadi persengketaan semacam itu tanpa peperangan, biasanya negara revo juga yang
menentukan sampai berapa lamanya persengketaan tadi berlangsung. Perang-perang besar
umunya dimulai oleh negara revo.
Kebijakan revo mempunyai ciri-ciri keberanian dalam konsepsi, kalkulasi optimis
dalam faktor biaya dan tahan menanggung beban berat sebagai resikonya. Kekuatan terletak
pada pengakuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan situasi atau berusaaha keras
kearah itu dan karena itulah maka dalam kurun waktu sejarah yang didominasi oleh kebijakan
revosionis ditandai dengan ketegangan tinggi dalam politik dan perubahan yang cepat yang
kian meluas.
IV. Pelaksanaan Keputusan-Keputusan
Bilamana suatu negara memutuskan untuk bertindak, maka sifat dari sistem negara
akan dapat memilih satu dari empat cara penggunaan kekuatan yang berkaitan dengan politik
internasional. Cara tekhnik yang pertama bersifat politis dengan menggunakan sarana-sarana
diplomasi. Cara teknik kedua bersifat ekonomis yang banyak macamnya dan rumit
strateginya. Cara ketiga adalah teknik psikologis yang menggunakanamn propaganda sebagai
staut cara. Dan cara yang terakhir adalah teknik militer tanpa melakukan tindakan kekerasan
sampai perang terbuka.
A. Teknik Politik : Diplomasi
Semua teknik kebjakan luar negeri bersifat politis, meskipun perkataan politis lebih
banyak digunakan secara lebih sempit dalam hubungan antar pemerintah. Hubungan antar
pemerintah dan cara pendahuluaannnya lazim disebut diplomasi. Sebagai teknik tindakan
85

negara, diplomasi afalah proses komunikasi dari suatu pemerintah yang langsungn menuju ke
alat pembuat keputusan dari negara atau pemerintah lain. Diplomasi adalah suatu teknik
langsung tindakan negara. Negara adapat bertindak diplomatis dalam rangka politik murni
dengan hanya menggunakan metode dan sumber dari alat diplomatisnya saja. Atau
menggunakan alat ekonomi, sosiologis atau bahkan militer dalam manuver diplomasinya.
Prosedur diplomatik mulai dari nota (aides memoires) dan communicate sampai kepada
perbincangan informal sepintas lalu.
Diplomasi mempunyai beberapa kunci :
i. Diplomasi dapat berfungsi sebagai tehnik pemaksaan. Pemaksaan ini dapat
dilakukan dalam suatu konferensi atau dalam suatu perundingan dengan
memberi ultimatum yang disertai batas waktu. Zaman dahulu paksaan
diplomatik dilakukan dengan cara psikologis yaitu dengan melanggar tata cara
atau sopan santun tradisis diplomasi.
ii. Diplomasi dapat berfungsi sebagai teknik persuasi yaitu membujuk atau
mengajak, mendesak dan meyakinkan, karena fungsi inilah diplomasi menjadi
sarana yang paling banyak dipakai untuk mempengaruhi kapabilitas negara
lain.
iii. Diplomasi merupakan fungsi sebagai prosedur penyesuaian, dalam gal mana
dua negara mengubah pendiriannya mengenai suatu masalah untuk mencapai
hubungan yang stabil. Namun fungsi penyesuaian dari diplomasi akan efektif
apabila kedua belah pihak bersedia verunding dan mengubah kebijaksanannya.
Akhirnya diplomasi adalah tehnik untuk pencapaian kesepakatan. Persepakatan dapat
dicapai dengan paksaan, persuasi atau penyesuaian. Meskipun demikan persepakatan itu
hanya dapat dicapai bilamana kedua belah pihak memang menghendakinya. Persepakatan
yang terbaik dalah berbentuk persetujuan tertulis karena dapat mengkiat secara internasional.
Diplomasi dapat gagal atau sukses sehingga menimbi=ulkan pertanyaan diplomasi yang baik
itu bagaimana bentuknya ? secara vringkas persyaratan untuk suatu diplomasi yang baik
adalah sebagi berikut :
1. Diplomasi harus emmahami dnegan jelas situasi dimana ia bertugas.
2. Diplomnasi harus mwnyadari sepenuhnua akan kapabilitas tidakan secara nyata.
3. Diplomasi yang baik dalam cara pendekatannya
86

4. Diplomasi harus bergairah untuk berkompromi setiap kali hal ini diberlakukan
atau di perlukan.
Empat macam perumusan diplomasi seperti diatas banyak sekali dilanggar pada
zaman setelah perang dunia berakhir. Situasi ini terlalu sering dianaliss dari segi ideologik
dan nasionalistik dan jarang secara realistik. Pihak negara lawan jarang di beri hak opini
apalagi dipertimbangkan pendapatnya. Faktor-faktor kapabilitas hanya disalah tafsirkan
terutama dalam bidang kemiliteran. Keluwesan menjadi hilang karena desakan ideologik atau
nasionalistik dan mengadakan kompromi yang di anggap sebagai suatu dosa. Dengan cara
begitu diplomasi tidak akan berkembang dengan baik. Praktek sekarang ini lebih
mengutamakan pemaksaan serta propaganda saja.
B. Taktik Ekonomi : Bantuan dan Pukulan
Taktik ekonomi berusaha sangat kuat dengan sistem negara itu sendiri, tetapi telah
berkembang dnegan sangat pesat sejak revolusi industri. Metode ekonomik mempunyai
banyak macam ragam dan cara. Karena setiap aspek kehidupan ekonomi dapat dijadikan alat
tindakan negara. Secara garis besar, dapat dijelaskan beberapa pemikiran mengenai metode
ekonomik dalam kebijakan luar negeri bahwa :
1. Teknik ekonomi bersifat tidak langsung, berbeda dengan diplomasi yang dilaksanakan
secara langsung. Sarsaran langsungnya bukan alat pembuat keputusan dari negara
lain, tetapi totalitas masyarakat negara sehingga rakyat akan melakukan tekanan2
internal.
2. Teknik ekonomi berbentuk dua macam yaitu dapat bersifat memaksa atau persuasif
dalam pelaksanaannnya. Tindakan ekonomi yang memaksa ialah mengancam negara
lawan untuk mengurangi hasil perekonomiannya, supaya bergantung kepada negara
pengancam semata-mata. Tindkakan ekonomi yang persuasif adalh tindakan yang
menyodorkan tawaran hadiah ekonomi atau memebrrikan keuntungan apabila negara
tersebut merubah sikapnya.
3. Teknik ekonomi bersifat khusus untuk situasi tertentu. Dan kefektifannya bergantung
pada sifat hubungan ekonomi antar negara yang bersangkutan. Negara yang tidak
bergantung pada ngara yang mengancam akan mengabaikan ancaman bahkan
mungkin tidak memberlakukannya.
4. Teknik ekonomi akan mudah menimbulkan perlawanan dan pembalasan dari negara
lawan. Tindakan pemaksaan ekonomi dapat menimbulkan permusuihan. Bahkan
87

tindakan ekonomi persuasif pun tidak jarang dapat menimbulkan permusuhan di pihak
negara sasaran karena didasrakan sebagai kekerasan atau gangguann terhadap
statusnya.
5. Akibatnya teknik ekonomi mempunyai lebih banyak keterbatasan.
Karena itu pada waktu sekarang teknik ekonomi tidak lagoi dilakukan secara
tersendiri mmelinkan disertai dengan tindakan lain seperti propaganda dan diplomasi.
Sedangkan pemaksaan di sertai dengan diplomasi keras dan tindakan militer.
C. Tindakan Psikologis : Propaganda dan Kebudayaan
Teknik psikologi yang dinjukkan kepada masyarakat banyak merupakan teknik tidak
lansgsung dengan majunya sistem komunikasi maka propaganda kebudayaan menjadi unsur
penting dalam menganalisa kapabilitas negara yang merupakan kegiatan penting dalam
kegiatan polirik.
Propaganda betramneka ragam definisinya. tetapi secara operasional dapat
didefinisikan sebagai ntindkan yang terdiri dari pusat-pusat tertentu. Ini berarti bahwa pusat-
pusat tersebut dimaksudkan untuk mengilhami penerimanya atau masyarakatnya agar
melakukan tindakan-tindakan tertentu. sasarannya ada dua kategori yaitu :
1. Memperluas pengaruh pendukung
2. Mengarahkan masyarakat untuk bertindak sebagaimana di harpkan
Pentingnya propaganda sebagai alat kebujakan luar negeri dapat dilihat dari segi
funhsinya bagi emnapt macam masyarakat yaitu :
1. Adalah masyarakat propaganda itu sendiri yang harus dipelihara semangatnya dan
dedikikasinya dengan informasi, inspirasi dan indoktrineer.
2. Adalah masyarakat negara2 sahabat.
3. Adalah masyarakat dari negara yang bersikap netral terhadap politik propaganda yang
dilancarkan.
4. Adalah masyarakat dari negara lawan.
Subversi yang diartikan sebagi suatu usaha untuk menggulinhkan atau memperlemah
negara lain dengan abitasi di negerinya. Juga termasuk dalam teknik dengan tujuan akhir
menggantikan pemerintah yang ada dan menggantikannya dengan kelompok revolisuioner.
Dalam teori, subversi adalah teknik revolusi dengan tujuan akhir menggulingkan pemerndtah
88

ada dengan menggantikan dnegan kelompok revolisuiner sebagai teknik politik luar negeri.
Subversi dapat mempertajam perpecahan masyartakat dan mengganggu integritas
pemerintahan yang ada.
D. Teknik Militer : Perang dan Perkiraannya
` Istilah teknik militer menyangkut isttilah penggunaaan milter dengan melibatkan
kemungkinan terjadinya perang . para negarawan telah lama memmperhatikan masalah
kebijakan dalam menghadapi ancama perang. Melalui perang, melaksanakan perang atau
menghindarkan perang. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan kekuatan militer adalah cara
untuk mencapai tujuaj politik dan buykan tujuan akhir. Artinya kemenanganm adalah
keberhasilan teknik yang tidak otomatis menjamin tercapainya tujuan yang diinginkan
Pada dasranya penggunaan teknik militer sebagai kebijakan yang dapat melahirtkan
perang menuntut adanya penyesuaian serta menuntut adanya keseimbangan dengan ukuran
dan sifat perlawanan yang mungkin harus dihadapi. Biaya perang adalah sangat tinggi
mnegingat banyaknya jiwa manusia yang menjadi korvan dan kalau gagal harga perang
sangat mahal sekali, lebih tinggi dari usaha-usaha politik lainnya. Sejarah telah membuktikan
bahwa perang telah menjadi semakin sulit dalam ilmu kenegaraan. Hal ini disebabkan oleh
dua macam kemajuan sejarah yaitu :
1. Teknologi yang melahirkan senjata dengan daya musnah yang dahsyat
2. Adalah timbulnya nasionalisme modern yang makuin melibatkan rakyat.
Akibatnya teknologi dan nasionalisme telah mengubah perang menjadi perjuangan
antara rakyat dengan rakyat dan bukan lagi hanya antara pemerintah. Dengan demikian dunia
telah memasuki zaman perang total yang merupakan malapetaka dan kehancuran dalam
proses polinter yaitu terutama dengan adanya ancaman perang nuklir. Oleh karena itu perang
bukan lagi merupakan acara relevan dalam melakukan tindakan politik antara bangsa. Semua
sasaran politik menjadi kecil artinya bila di akibatkan dnegan akibat perang demi mencapai
sasarannya. Meskipun demikian perang masih mungkin akan terjadi karena lhirnya
kemampuan menyerang lebih dahulu terhadap musuh yang tidak berdaya melancarkan
pembalasan. Sementara itu perang konfersional dapat terus berlangsung tanpa menggunakan
senjata nukliur seperti yang terjadi di Vietnam, Korea, Irak, dan lainnya.

89

BAB XII
Kondisi Politik Internasional Masa Kini
(3 Januari 2013)

I. Pengantar
Sistem politik internasional yang penuh gagasan dan pola-pola yang telah kita bahas,
dewasa ini telah diwarnai dengan kemajuan-kemajuan teknologi di bidang-bidang
transportasi, komunikasi, energi, produksi, persenjataan dan luar angkasa yang kesemuanya
memberikan pengaruh terhadap hubungan internasional atau antar negara. Dengan perkataan
lain negara-negara di dunia dewasa ini saling erat kaitannya satu sama lain, sehingga apapun
yang terjadi di bidang politik ekonomi sosial disatu bagian dunia pasti akan mempengaruhi
bagian dunia lainnya.

II. Negara-Negara di Dunia
Suatu dimensi baru dalam politik internasional ialah perubahan besar dalam jumlah
yang sifat-sifat negara yang ada dewasa ini. Jumlah negara-negara telah bertambah dua
sampai tiga kali lipat sejak berakhirnya Perang Dunia II (1945). Dari 75 negara-negara
anggota PBB yang baru merdeka setelah Perang Dunia II, lebih dari 60 negara adalah bekas
negara-negara jajahan yang baru merdeka. Kalau pada mulanya sistem politik internasional
hanya berpola kepada kebudayaan barat, dewasa ini setelah banyak dimasuki oleh negara-
negara anggota non barat tampak pula berbagai pola kebudayaan lain. Hal ini membawa
akibat-akibat sebagai berikut :
a. Sukarnya diperoleh konsesus untuk berbagai masalah, padahal sebelumnya lebih
mudah karena negara-negara penting banyak yang mempunyai persamaan moral dan
orientasi sejarah
b. Lahirnya kekuatan-kekuatan baru, yaitu nasionalisme non barat yang bersifat
dekolonial dan memegang peranan penting dalam kehidupan politik
c. Lahirnya kesadaran politik dikalangan rakyat yang tadinya bodoh, yang menimbulkan
revolusi peledakan harapan dengan menekan pemerintah agar melakukan tindakan-
tindakan internasional untuk memperjuangkan kepentingan mereka
d. Negara-negara anggota yang lebih besar dan lebih maju terpaksa memperluas
cakrawala politiknya untuk lebih memperhatikan kondisi-kondisi baru dalam
kehidupan internasional. mereka tidak hanya harus memperhatikan daerah-daerah
90

yang tadinya tidak mendapat perhatian sama sekali, tetapi juga masalah-masalah baru
yang lebih luas sifatnya seperti pembangunan ekonomi dan hak-hak asasi manusia
yang tidak pernah mendapatkan perhatian dalam politik internasional sebelumnya.

Tertib politik dunia dewasa ini berasal dari sistem negara-negara di Eropa yang
muncul setelah feodalisme runtuh. Pada jaman reinansance dan reformasi telah merubah
kondisi politik di jaman abad pertengahan menjadi situasi yang memungkinkan pembangunan
negara-negara kebangsaan Eropa modern. Dalam jaman reinaissance memberi landasan bagi
sekulalisasi pemikiran Eropa, maka reformasi menggerakan nasionalisme yang tadinya
bersifat merusak. Pada tahun 1900 konsep-konsep yang berasal dari lembaga-lembaga Eropa
dari abad ke-15 telah menjadi sistem global yang meliputi nilai-nilai politik dan struktur
politik negara-negara Eropa.
Dimensi baru dari polinter telah merubah secara drastis pola-pola distribusi kekuatan
tradisional serta menimbulkan situasi baru dengan tiga kecenderungan sebagai berikut :
1. Jumlah pelaku nasional dalam politik internasional telah meningkat, karena yang
merdeka yang semula ada 60 negara, dewasa ini menjadi kurang lebih 216. Negara-
negara kecil dalam tahun 1945 berjumlah 40, bertambah menjadi tiga kali lipat dan
negara-negara sedang berkembang menjadi dua kali lipat
2. Jumlah pelaku nasional inti justru menurun selama Perang Dunia II berlangsung
terdapat 8 negara (negara-negara besar) yaitu AS, Uni Soviet, Inggris, Perancis, Itali,
Jerman, China dan Jepang. Dewasa ini hanya tinggal AS dan Uni Soviet (Rusia)
sedangkan negara-negara yang kurang inti adalah Inggris, Perancis dan yang sedang
menjadi calon inti adalah India, China dan Jepang
3. Perbedaan kategori ini dari pelaku-pelaku nasional menjadi semakin besar karena
perbedaan dalam kondisi industri, politik dan militer yang disebabkan oleh aspek
teknologi

III. Nasionalisme Baru dan Lama
Nasionalisme adalah jiwa bersama atau perasaan solidaritas yang merubah manusia
menjadi satu bangsa dan menampilkan diri dengan suatu sikap yang menghargai kegiatan
politik sebagai yang tertinggi urutannya dari nilai sosial. Nasionalisme mengubah negara
menjadi negara kebangsaan yang melupakan struktur politik yang mencerminkan layaknya
sebagai suatu bangsa. Nasionalisme adalah salah satu masalah penggerak politik dunia
91

dewasa ini, seperti ketika jaman revolusi AS dan Perancis. Nasionalisme timbul dari berbagai
sumber seperti persamaan bahasa, latar belakang sejarah, tradisi kebudayaan dan latar
belakang kesukuan bangsa.
Dengan nasionalisme negara-negara menjadi milik seluruh lapisan rakyat bukan lagi
milik raja atau kaum bangsawan tetapi milik rakyat keseluruhan. Rakyat dalam hubungan ini
menjadi bangsa atau nation oleh karena itu nasionalisme dapat dipandang sebagai landasan
ideal dari satu negara nasional.
Professor Frederich Hertz dalam bukunya Nationality in History and Politics
mengatakan ada rapat macam cita-cita nasionalisme yaitu :
1. Perjuangan untuk mewujudkan persatuan nasional yang meliputi persatuan dalam
bidang politik ekonomi sosial keagamaan kebudayaan dan persekutuan serta adanya
solidaritas
2. Perjuangan untuk mewujudkan kebangsaan nasional yang meliputi kebebasan dari
penguasaan asing atau campur tangan dunia luar dan kebebasan dari kekuatan intern
yang tidak bersifat nasional atau yang hendak menyampingkan bangsa dan negara
3. Perjuangan untuk mewujudkan kesendirian (separatisme), pembedaan, identitas,
keaslian atau originarity atau keistimewaan
4. Perjuangan untuk mewujudkan pembedaan diantara bangsa-bangsa yang meliputi
perjuangan untuk memperoleh kehormatan, kewibawaan, gengsi dan pengaruh

Menurut Professor Herzt nasionalisme adalah sebagai suatu kesadaran nasional yang
juga terwujud dalam sejarah masing-masing bangsa.
Nasionalisme modern di negara-negara Asia dan Afrika mempunyai kesamaan
dengan nasionalisme Eropa Kuno yaitu bangsa merupakan titik akhir bagi tindakan-tindakan
dan loyalitas politik. Nasionalisme Eropa pada mulanya bertujuan satu bangsa dalam satu
negara. Pada abad ke-20 nasionalisme barat yang dikenal sebagai integrated nasionalism
merupakan titik tolak dari satu misi universal untuk penyebaran nilai-nilai dengan sasaran
akhir yang mencakup seluruh dunia. Universalisme nasionalisitik ini mengklaim hak suatu
bangsa agar nilai-nilai dan pranata bangsanya sendiri dapat menyebar kepada bangsa-bangsa
lainnya yang menuruti kehendaknya. Negara-negara non barat secara sekaligus ingin
membuang ketidaksenonohan yang ada dalam kebudayaan barat, sambil tetap ingin segi-segi
yang baik daripadanya dan mengubah dunia menurut citra spiritual mereka sendiri.
Nasionalisme di semua negara yang baru merdeka banyak merupakan ekspresi sikap
terhadap kehidupan dan kebudayaan daripada sebagai suatu sistem kepercayaan yang bisa
92

menjadi dasar bagi tindakan pemerintah. Meskipun demikian, nasionalisme non barat
membangkitkan solidaritas sosial yang menunjang pembentukan masyarakat yang bersatu
dari manusia yang berbeda-beda satu sama lain dalam rasa kesetiakawanan. Nasionalisme
non barat membangkitkan harga diri yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam jaman
kolonial. Kaum elite dari berbagai gerakan nasionalisme adalah hasil modernisasi dan
pendidikan yang berfungsi sebagai perantara golongan tua dan muda.

IV. Resolusi Teknologi
Gejala lain yang melanda kondisi politik internasional dewasa ini adalah revolusi
teknologi dan munculnya berbagai lembaga baru dalam politik internasional. Di samping
revolusi produksi, revolusi teknologi juga melahirkan revolusi persenjataan, penerbangan luar
angkasa maupun perubahan manusia. Revolusi dalam metode produksi telah memberikan
pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, seperti otomatisasi dengan mesin-mesin
komputer yang memproduksi barang-barang atau jasa-jasa telah membawa pengaruh politik
yang terjadi di Eropa Barat terhadap kehidupan manusia.
Sejak tahun 1945 (sesudah Perang Dunia II) Eropa Barat harus membangun negara
masing-masing dari puing-puing sisa peperangan. Dewasa ini mereka telah memiliki
perindustrian baru yang telah memiliki teori dan teknik yang mutakhir dalam bidang produksi
sehingga mampu menyaingi AS. Hal yang sama akan terjadi juga apabila di negara-negara
non barat dilancarkan industrialisasi modern yang membawa serta revolusi teknologi, metode
berproduksi dan pendistribusiannya.
Revolusi berenergi akan memungkinkan didirikannya pabrik-pabrik yang lebih kecil
di negara-negara baru, yang jelas akan membawa pengaruh terhadap politik internasional.
Demikian pula halnya dengan revolusi persenjataan yang melahirkan peluru-peluru kendali
antar benua yang anti balistik serta revolusi dalam penerbangan luar angkasa yang
mempunyai pengaruh tersendiri dalam kehidupan politik internasional. Teknologi luar
angkasa sudah jelas mempercepat pula hubungan antara negara dan antara manusia. Tetapi
sejauh mana pengaruhnya dimasa mendatang terhadap politik internasional masih belum
dapat diperkirakan.
Mengenai revolusi manusia bagi makhluk biologis dapat ditinjau dari riset-riset
pengobatan dan teknik kesehatan masyarakat yang masuk ke dalam kehidupan manusia.
Bermacam-macam jenis penyakit telah dapat dijinakkan seperti penyakit TBC, malaria,
jantung dan kanker dan berbagai penyakit yang menyebabkan kematian. Manusia menjadi
93

semakin kebal terhadap penyakit-penyakit tersebut dan dapat mencapai usia yang lebih
panjang.
Sistem negara ternyata dewasa ini dipengaruhi oleh teknologi yang menghasilkan
berbagai modernisasi, sementara senjata nuklir mengancam kelangsungan hidup sistem
negara karena lahirnya Balance of Terror

V. Lembaga-Lembaga Baru Dalam Politik Internasional
Biasanya lembaga timbul sebagai respons atas dasar kebutuhan masyarakat. Oleh
karrna kebutuhan masyarakat semakin bertambah maka sejalan dengan itu timbulah berbagai
macam lembaga-lembaga baru dalam politik internasional yang berfungsi untuk mengatasi
masalah-masalah regional sehingga negara-negara cenderung bergerak secara multilateral.
Pada pelaku multilateral ini dapat didedikasikan sebagai blok, organisasi universal dan
organisasi regional. Adapun yang disebut aktor atau pelaku multilateral ialah negara-negara
yang strukturnya, komposisinya dan kepentingan-kepentingannya melewati kapal batas
internasional dan keanggotaannya terdiri dari para aktor internasional sehingga mereka
masing-masing disebut sebagai pelaku atau aktor regional dan pelaku atau aktor universal.
Para pelaku blok adalah kelompok negara yang mempunyai kepentingan keamanan
dan politik yang sama dan biasanya sasaran orientasi politik lainnya pun sama pula.
Sedangkan pelaku universal tergantung strukturnya terdiri dari semua negara anggota sistem
internasional yang membentuk suatu organisasi internasional yang umum atau khusus. Yang
dimaksud dengan organisasi umum ialah organisasi yang mencakup semua bidang kehidupan
internasional sedangkan yang dimaksud dengan organisasi khusus hanya terdapat berbagai
bidang saja. Para pelaku regional adalah perhimpunan negara-negara yang mempunyai
kepentingan bersama yang lebih erat dan kepentingan politik dari keamanan blok, tetapi
bidang-bidang cakupannya tidak seluas organisasi universal.
Contoh dari pelaku blok adalah blok Asia-Afrika dengan sub-sub blok seperti blok
Afrika, blok Asia Selatan dan sebagainya. Kemudian adapula blok komunis dan blok barat,
blok universal contohnya adalah LBB dan PBB, sedangkan pelaku regional ada yang bersifat
umum dan adapula yang bersifat khusus. Para pelaku regional umum yang kini telah
melembaga seperti organisasi formal ialah organisasi persatuan Afrika (OAU) dan Organisasi
negara-negara Amerika (OAS). Perhimpunan-perhimpunan seperti persemakmuran bangsa
dan masyarakat Perancis tidak mempunyai nilai atau struktur sebagai organisasi formal tetapi
lebih memilih seperti pelaku blok. Pelaku regional khusus mempunyai kepentingan di bidang
94

khusus seperti teknik dan kerjasama ekonomi sebagai contoh organisasi kerjasama ekonomi
dan pembangunan (Organization Economic Cooperation and Development) yang terdiri dari
17 negara Eropa Barat, Canada dan AS. Kemudian dewan atau bantuan ekonomi timbal balik
(CEMA) yang terdiri dari Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya. Selain daripada itu
di Asia Tenggara terdapat ASEAN yang beranggotakan 10 negara Southeast Asia; Indonesia,
Malaysia, Thailand, Singapur, Filipina, Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Burma dan
Vietnam.


















95

DAFTAR PUSTAKA

Holsti K.J., Azhari M. Tahir : Politik Internasional, Jilid I, II. Penerbit Erlangga. Jakarta,
1998.
Morgenthau Hans J. : Politic Among Nations, Yayasan Obor. Jakarta, 1990.
Morgenthau Hans J. : A Political Theory of Foreign Aid. American Political Science
Review, 1963.
Lasswell, Harold : Politics who gets what, When and How, Median Books. New York,
1961.
Frankel, Joseph : International Politics, Conflict and Harmony, Harmondsworth, 1973.
Schuman, Frederick L : International Politics, KogakushaCo. L+d. Tokyo, 1958.
Knorr, Klaus : Contending Approaches to International Politics, Princeton University
Press. New York, 1969.
Cantor, Louis J. : international Politics of Regions, Englewood Cliffs, Prentice Hall. New
Jersey, 1970.
Morgenthau Hans J : Teori Realisme, suatu Analisis dan Kritik, Sebelas Maret University
Press.
Macridis, Roy C. : Foreign Policy in World Politics, Prentice Hall, Inc. New Jersey, 1970.
Badan Pengembangan dan Penelitian : J urnal Luar Negeri, Deplu R.I.
Issaak, alan C. : Scope and Methods of Political Science, The Dorsey Press. Illinois.
Hopkins, Raymond F. & Mansbach : Structure and Process in International Politics,
Harper and Row. New York.
Art, Robert J. & Jevis, Robert : International Politics, Enduring, Concept and
Contemporary Issues, Harper Collins Publishers. New York, 1992.
Waltz, Kenneth N. : Theory of International Politics, Random House. New York, 1979.