Anda di halaman 1dari 24

1

NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014


ind
NEWSLETTER
@indjkt Ind Jakarta ind@ind.org
NO. 01 OKTOBER 2014 | WWW.INFID.ORG
Perkembangan dan Data
Kemiskinan
I
ndonesia tergolong negara ke-
las menengah (middle income)
yang kantong kaum miskin-
nya terbesar, baik dibanding-
kan dengan rata-rata negara
menengah maupun dibandingkan
dengan negara-negara dengan kue
pembangunan (PDB) terbesar di
dunia anggota G20.
Di samping pertumbuhan
ekonomi yang positif selama 10 ta-
hun terakhir dan rata-rata penda-
patan per kapita 3.500 USD, disisi
lain, pemerintah baru juga diwar-
isi oleh angka ketimpangan yang
meni ngkat drastik dari level 0.35
tahun 2005, menjadi 0.41 (Indeks
Gini) pada tahun 2013, yang ter-
tinggi dalam sejarah Indonesia.
Jumlah penduduk atau warga
miskin makin menurun tiap tahun,
setidaknya dari data dan klaim
pemerintah. Tahun 2014, jumlah
penduduk miskin berjumlah 28
juta jiwa. Tetapi, jumlah ini masih
sangat besar. Lebih besar dari to-
tal penduduk Malaysia (22 juta),
lebih dari 2,5 kali penduduk DKI
Jakarta (9 juta) dan hampir 10 kali
penduduk Propinsi Sulawesi Selat-
an (3 juta).
Jumlah penduduk miskin perlu
dilihat dalam dua konteks: jum-
lah penduduk dan jumlah angka-
tan kerja dan angka pengangguran
NOTA KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN (PK):
TREN, PERMASALAHAN, DAN REKOMENDASI
Oleh: Sugeng Bahagijo
Direktur Eksekutif INFID
2 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
N
ewsletter edisi Oktober 2014 ini
menitikberatkan pada advokasi
INFID terkait dengan penurunan
kemiskinan dan ketimpangan. Be-
ragam tulisan yang ada mencoba
merangkum upaya INFID baik di nasional
maupun internasional dalam mendorong pe-
nurunan kemiskinan dan ketimpangan. Di
tingkat nasional, INFID memberikan masukan
kepada Jokowi mengenai kebijakan penanggu-
langan kemiskinan yang menjadi berita utama
dalam newsletter. Sementara di internasional,
INFID memaksimalkan ruang-ruang advokasi
di forum G20 melalui Civil20 untuk memberi-
kan masukan mengenai pentingnya G20 mem-
perhatian masalah ketimpangan yang kian meningkat.
Kemiskinan dan ketimpangan merupakan tantangan yang
harus menjadi prioritas pemerintahan mendatang. Berbagai data
menunjukkan kemiskinan turun namun pada saat yang sama
ketimpangan semakin meningkat. Berdasarkan data Biro Pusat
Statistik (BPS), rasio gini Indonesia meningkat dari 0,33 menjadi
0,41 antara tahun 1990 an 2013. Ketimpangan ini merupakan tert-
inggi dalam sejarah Indonesia. Tren yang sama terjadi di seluruh
daerah perkotaan dan pedesaan serta di seluruh pulai baik di Jawa
maupun di luar Jawa.
Dalam rangka mendorong adanya kebijakan yang sanggup dan
mampu menurunkan kemiskinan dan ketimpangan, INFID men-
gumpulkan beragam bukti-bukti lapangan terangkum dalam buku
yang diterbitkan INFID dengan judul Ketimpangan Pembangunan
Indonesia dari Berbagai Aspek.
Di tingkat internasional, INFID mendorong forum G20 me-
miliki komitmen yang sama. Ada beberapa kebijakan yang INFID
usulkan, salah satunya pentingnya G20 merumuskan kebijakan
yang adil terkait dengan pajak. Mengingat banyak negara-negara
maju yang menjadi surga pajak dan menjadi tujuan penghindaran
pajak dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Adanya
kebijakan pajak akan memiliki kontribusi yang signifkan dalam
menurunkan gap terutama antara negara maju dengan negara
berkembang.
Semoga newsletter ini memberikan informasi yang memadai
mengenai upaya-upaya bersama dalam rangka mendorong negara
meningkatkan tanggungjawabnya dalam mengatasi kemiskinan
dan ketimpangan. Selamat membaca. n
EDITORIAL
Penyusun Newsletter
Penanggungjawab:
Sugeng Bahagijo,
Direktur Eksekutif INFID
Dewan Redaksi:
Beka Ulung Hapsara,
Siti Khoirun Nimah,
Febrina Andriasari
Layout:
Galih Gerryaldy, Suwarno
3
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
telah mengembangkan dan memi-
liki data penduduk miskin yang
sama (unifed data base), yang digu-
nakan oleh semua kementrian dan
lembaga pemerintah, sebagai ruju-
kan agar program diselenggarakan
secara tepat sasaran. Data yang
tunggal ini akan memudahkan per-
ancangan dan evaluasi program-
program pemerintah.
Pemerintah telah mengem-
bangkan berbagai macam program
pengurangan kemiskinan mulai
dari PKH, PNPM, KUR, BOS dan
Raskin, Jampersal dan sebagainya.
Cakupan wilayah dan penerima
manfaat dari masing-masing pro-
gram bervariasi. PNPM memi-
liki cakupan yang luas. Demikian
juga dengan Raskin dan Bos dan
Jampersal. Sementara PKH memi-
liki cakupan wilayah dan penerima
manfaat lebih sempit dan terbatas.
Tidak mengejutkan bila capaian
dan hasil dari masing-masing pro-
gram berbeda-beda.
Besaran anggaran untuk selu-
ruh program-program penanggu-
langan kemiskinan diperkirakan
antara 50-80 Triliun. Dalam APBN
2014, terdapat pos Belanja Sosial
sebesar Rp.73, 2 Triliun. Sebelumn-
ya, tahun 2013, sebesar Rp. 93 Trili-
un. Angka persisnya barangkali
masih dapat diperdebatkan, namun
jelas bahwa secara nominal, dana
untuk PK tiap tahun terus menin-
gkat, sejalan dengan membesarnya
volume APBN. Namun demikian,
dibandingkan dengan volume be-
lanja subsidi BBM dan belanja ba-
rang, maka tren yang terlihat nyata
dan jelas adalah belanja sosial se-
lalu lebih kecil (lihat tabel 2 dan 3).
Kebijakan dan Program-
program Kemiskinan
Kemiskinan dapat diatasi mel-
alui setidaknya dua jalur utama.
(i) Melalui pasar kerja; antara lain
melalui ketersediaan lapangan
kerja dan upah layak dan luas
sempitnya kapasitas industrial-
isasi dan pertanian dalam meny-
erap angkatan kerja; (ii) Intervensi
pemerintah melalui (a) Kebijakan
Fiskal dan Moneter; (b) Sistem Ja-
minan Sosial; (c) Program-program
pemerintah; termasuk didalamnya
subsidi pertanian dan penyediaan
air bersih dan sanitasi.
Pemerintah dapat memen-
garuhi jalur pertama secara tidak
langsung baik melalui kebijakan
upah minimum maupun melalui in-
vestasi dalam negeri dan FDI. Se-
baliknya, pemerintah dapat me-
nenetukan atau mengendalikan
secara langsung melalui jalur ked-
ua yaitu melalui kebijakan fskal,
sistim jaminan sosial, dan pro-
gram-program PK yang diseleng-
garakannya.
Secara skematis, maka kedudu-
kan atau porsi dari program-pro-
gram PK pemerintah paling jauh
akan memiliki bobot separuh dalam
menurunkan kemiskinan. Sisanya
akan harus dilakukan melalui ke-
bijakan makro ekonomi melalui ke-
bijakan fskal (pajak, subsidi) dan
moneter (suku bungan, infasi).
Keberhasilan program-
program PK dapat diukur dari
setidaknya dua kriteria dan dimen-
si. Yaitu (a) Efsiensi dan efektivitas,
dalam arti kebijakan dan program
telah mencapai dengan biaya dan
BERITA UTAMA
terbuka. Pada tahun 2014, jumlah
penduduk Indonesia adalah 252,3
juta jiwa (proyeksi), jumlah angka-
tan kerja berjumlah 1,48 juta orang,
dan jumlah pengangguran terbuka
berjumlah 6.9 juta orang.
Meski secara umum kemiskinan
ditandai oleh kurangnya pendapa-
tan, aset dan pekerjaan (jobholder
vs jobless), namun sebab-sebab
kemiskinan berbeda beda di perko-
taan dan pedesaan. Pemulung di
kota Jakarta memiliki pendapatan
yang tetap, meski hidup di kolong
jembatan dan tidak mampu mem-
biayai pendidikan anak-anaknya.
Sebaliknya, kemiskinan di
pedesaan ditandai oleh ketiadaan
lahan, modal yang lemah dan
kekurangan pendapatan, meski me-
miliki rumah. Kemiskinan di pede-
saan ditandai juga oleh lemahnya
kesempatan menikmati barang dan
jasa layanan pemerintah seperti
pelayanan pendidikan, kesehatan,
lapangan kerja.
Sebab lain kemiskinan keti-
adaan jaminan sosial karena pen-
duduk terpapar resiko hidup (men-
jadi tua, meninggal) dan resiko
sosial (PHK, menganggur, perce-
raian, sakit) tanpa dilindungi oleh
sistem jaminan sosial modern. Ka-
rena sistem jaminan sosial publik
Indonesia (kesehatan dan ketena-
gakerjaan) belum berjalan atau
melindungi semua warganegara
(universal), dan hanya melindungi
sebagian kecil lapisan penduduk
(PNS, TNI dan kelompok swasta
profesional). JKN dan Jaminan Ke-
tenagakerjaan masih sedang diban-
gun.
Pemerintah melalui TNP2K
4 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
2005
2008
2010
2011
2012
2013
2014
24.9
104 223
57.7
68.6
140 255 306 332 364*
71.7
75.6
92.3
73.2
2004 2008 2010 2011 2013 2014
36.1 35 31 29.9 28.6 27*
JUTA JUTA JUTA JUTA JUTA JUTA
TABEL 1. JUMLAH PENDUDUK MISKIN (*PROYEKSI)
TABEL 2. BELANJA SOSIAL VS SUBSIDI BBM (*PROYEKSI)
TABEL 3. DUA JALUR PENANGGULANGAN KEMISKINAN
BELANJA SOSIAL
SUBSIDI BBM
TAHUN
DALAM TRILIUN RUPIAH
JALUR PASAR
(Pemerintah Mempengaruhi)
Pembukaan Lapangan Kerja
Upah yang Payak
Suku bunga Perbankan
Jumlah investasi
Informasi Pasar Kerja
PERAN PEMERINTAH
(Pemerintah Mengendalikan)
Jaminan Kesehatan (Kartu Indonesia
Sehat/JKN)
Pelayanan Pendidikan (Kartu Indonesia
Pintar)
Program-Program PK (PNPM, PKH,
Raskin, BOS, BLT, BLSM, dll)
Pelayanan Perumahan (Rumah Deret),
Air Minum dan Sanitasi, Perlindungan
Aset warga (Rumah, Tanah, Tabungan)
Kebijakan Alokasi APBN dan APBD
Kebijakan Pajak (PPh, PPn)
Kinerja Kementrian Tenaga Kerja,
Pertanian, Kesehatan dan Pendidikan
BERITA UTAMA
5
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
kelembagaan yang ada. Kriteria ini
penting dalam menilai sejauh mana
operasi dan teknis kelembagaanya
efektif dan efsien dalam menye-
diakan jasa dan barang layanan itu
sampai ke tangan pengguna/war-
ganegara dengan tepat waktu dan
dalam mutu yang dapat diterima.
Selain itu, kebijakan juga da-
pat diukur dari sejauh mana (b)
dampak program tersebut kepada
pemecahan masalah kemiskinan.
Hal ini antara lain dapat dilihat
dari berbagai indikator yang rel-
evan seperti jumlah peneriman-
ya, jumlah lapangan kerja, angka
pengangguran, jumlah penurunan
angka putus sekolah, jumlah pe-
nurunan angka kematian ibu, dan
seterusnya.
Selama 10 tahun terakhir, ke-
bijakan dan program-program
pemerintah PK dapat digolongkan
kepada beberapa upaya, antara lain
(i) penyediaan sarana dan prasa-
rana di pedesaan, di wilayah yang
kekurangan sarana dan prasarana
seperti jalan, jembatan, pasar dan
sebagainya; (ii) penyediaan modal
kerja dengan bunga rendah sep-
erti KUR (Kredit untuk rakyat)
yang disalurkan melalui perbankan
seperti BRI; dan (iii) penyediaan
pelayanan kesehatan seperti Jam-
kesmas dan Jampersal; (iv) penye-
diaan dana bantuan untuk sekolah
seperti Bos.
Kendala dan
Permasalahan
Dilihat dari Nawa Cita dan
Negara Hadir serta Kemandi-
rian Ekonomi, yang menjadi visi-
misi Jokowi JK, maka kebijakan
dan program-program PK 10 tahun
terakhir dapat dikatakan sebagai
(i) negara tidak hadir karena pelay-
anan kebutuhan dasar ditumpukan
dan diandalkan pada pendekatan
pasar (you get what you pay) ketim-
bang pendekatan hak (you get what
you need).
(ii) Jika negara hadir, dalam
bentuk berbagai program-program
pemerintah, maka terdapat ban-
yak kelemahan dalam operasi dan
kelembagaannya. Sehingga barang
dan jasa dari pemerintah tidak
sampai, terlambat diterima, dan
atau terlalu lemah untuk untuk
meringankan dan menolong warga
yang sedang membutuhkannya (ke-
matian ibu, balita kurang gizi).
Diperiksa dari pendekatan
kualitas manusia dan keunggulan
ekonomi, maka program kebijakan
dan program-program PK terutama
pada bidang kesehatan dan pendid-
ikan lebih banyak menundukkan
diri pada kebutuhan jangka pendek
ketimbang kebutuhan jangka pan-
jang. Kebutuhan jangka panjang
artinya memenuhi kekurangan dan
defsit yang selama dialami Indone-
sia, defsit dokter, insinyur, ahli hu-
kum ekonomi, peneliti biotek, dll.
Secara teknis operasi dan
kelembagaan, kendala dan per-
Nama Program Jenis/Tipe Cakupan
PNPM
Prasarana pedesaan. Pembangunan Sarana dan
Prasarana desa. Jenis proyek ditentukan oleh partisi-
pasi warga, sesuai kebutuhan. Termasuk kelompok
simpan pinjam. Didampingi oleh fasilitator.
Seluruh Indonesia
PKH
Pendapatan. Pemberian Dana Tunai Bersyarat kepada
warga miskin (Orang tua wajib menyekolahkan anak
dan Kaum ibu wajib memeriksakan kesehatan di Posy-
andu dan Puskesmas setempat).
Khusus untuk keluarga miskin di
beberapa propinsi
Raskin
Pangan. Pemberian beras dengan harga dibawah
harga pasar (bersubsidi) untuk Gakin (keluarga miskin)
Keluarga Miskin di seluruh Indonesia
Jampersal
Kesehatan. Pelayanan Kesehatan gratis untuk ibu
bersalin yang memerlukan (universal, tidak hanya yang
miskin)
Untuk semua warga di seluruh
Indonesia
BOS
Pendidikan.Bantuan untuk sekolah termasuk untuk
pembangunan sarana dan prasarana sekolah
Seluruh Indonesia
TABEL 4. JENIS DAN TIPE PROGRAM PK
6 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
masalahan dapat diringkas ke
dalam satu frasa Kelemahan
Teknis dan kelembagaan. Artinya,
kelemahan pelaksanaan, penga-
wasan, pendataan dan sebagainya.
Berikut ini, beberapa kendala dan
permasalahan yang apabila diatasi
akan dapat meningkatkan kualitas
dan dampak program-program PK
pemerintah di tahun-tahun 2015-
2019 mendatang.
1. Pengukuran dan Data
Kemiskinan.
Pemerintah belum atau tidak
memiliki data angka kemiskinan
sebelum dan sesudah intervensi
program-program pemerintah di-
jalankan, yang ada adalah data ta-
hunan angka kemiskinan. Hal ini
tentu menyulitkan untuk bisa me-
nilai sejauh mana hasil dan keber-
hasilan seluruh program-program
PK pemerintah.
2. Pendekatan Kebijakan.
Kebijakan dan program PK
selama ini hanya memusatkan diri
pada pengurangan KEMISKINAN,
dan tidak sekaligus pengurangan
KESENJANGAN. Di RPJM dan
RKP serta Nota APBN pemerin-
tah, ukuran keberhasilan pem-
bangunan tidak/belum diukur
dengan penurunan kesenjangan/
ketimpangan (penurunan Gini Ra-
sio). Implikasinya, pemerintah han-
ya menggunakan pendekatan tar-
geted, dan melupakan pendekatan
universal(untuk semua warga).
3. Pendekatan Program.
Program-program PK pemer-
intah masih bertumpu pada pen-
dekatan the needy (untuk yang
miskin saja) yaitu pendekatan
targeted. Sementara banyak bidang
memerlukan pendekatan yang uni-
versal (untuk semua), seperti dalam
hal jaminan kesehatan, pelayanan
pendidikan dan pelayanan ketena-
gakerjaan.
4 Penganggaran.
Program-program PK banyak
tetapi kualitas dan dampaknya
sangat beragam mulai minimal
hingga berdampak penting. Alokasi
terbesar untuk program-program
PK adalah PNPM dengan dana 11 T.
Sementara program lainnya hanya
berkisar 1-3 T per tahun.
5. Cakupan dan skala program
minimal.
Beberapa program pemerintah
terlalu kecil dalam hal cakupan
wilayah dan penerimanya, dengan
dana yang minimal. Yang berakibat
besaran manfaat yang diterimanya
juga tidak signifkan. Akibatnya,
manfaat dan dampak program-
program PK sulit diukur secara
nasional dan agregat dalam menu-
runkan kemiskinan. Misalnya saja
PKH. Cakupan PKH tidak bersifat
nasional dan dengan alokasi dana
program yang kecil.
6. Metode Penyaluran Subsidi
yang keliru.
Subsidi pupuk, benih (subsidi
Pertanian) memainkan peran pent-
ing secara konsep. Dengan jumlah
dana yang dialokasikan cukup be-
sar. Pada tahun 2013 jumlahnya 17
Triliun. Metode penyaluran subsidi
selama lebih berupa subsidi ke-
pada produsen ketimbang subsidi
pengguna atau petani. Hal ini yang
berakibat salah sasaran dan man-
faatnya atau dana subsidi itu diba-
jak atau dikorupsi melalui kerjasa-
ma elit politik dan penerima dana
subsidi (Pusri, BUMN Pertanian,
dll). Akibatnya manfaatnya tidak
dirasakan (negara tidak hadir).
Padahal pemerintah bisa memberi-
kan subsidi langsung tunai kepada
para petani dan nelayan dan mem-
bebaskan mereka untuk membel-
anjakannya
7. Kendala Pusat dan Daerah.
Ditinjau dari aspek anggaran,
selama ini peran pemerintah daeh
(kota dan Kab) sangat minimal.
Sebagian besar pemerintah daerah
hanya mengalokasikan kurang dari
5 persen APBD untuk kesehatan
dan pendidikan, Sementara pemer-
intah Kota dan Kab mengalokasi-
kan lebih dari 60 persen untuk be-
lanja eksekutif dan DPRD.
8. Program PK terlalu banyak
ragamnya.
Dari program PNPM hingga
BOS, dari PKH hingga Raskin,
secara manajemen dan kelemba-
gaan, pemerintah menjebakkan diri
pada rentang tugas yang rumit dan
tanpa koordinasi. Pemerintah juga
tidak memiliki standar teknis ca-
paian dan akuntabilitas pada tiap
program-program karena masing-
masing dikerahkan kepada ke-
mentrian dan lembaga yang men-
gelolanya (PNPM di Kemendagri,
PKH di Kemensos, Bos di Kemen-
trian Pendidikan, dll).
BERITA UTAMA
7
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
9. Kualitas kelembagaan yang buruk.
Penyaluran berbagai program
seringkali juga tidak efektif karena
kinerja dan kelemahan birokrasi di
kementrian dan lembaga pemerin-
tah pusat: (i) keterlambatan, hingga
tahunan bukan saja hari, minggu
atau bulan.; misalnya saja penyalu-
ran untuk siswa kelas 2 SMP, yang
ternyata hanya diterima ketika dia
sudah kelas 2 SMA, (ii) kegiatan
yang tidak dilakukan, misalnya pe-
nyediaan dan distribusi obat-obat
untuk rumah sakit rumah sakit
pemerintah daerah oleh kemenkes.
UKP4 memiliki data tentang kin-
erja berbagai program, termasuk
keterlibatan dan berbagai kendala
lain, sebagai hasil pemantauan
langsung ke lapangan melalui uji
petik di beberapa kab dan kota.
10. Silo-silo birokrasi dan
kelembagaan:
Program-program PK dikelo-
la oleh berbagai lembaga, tanpa
kordinasi yang baik dan terukut.
PNPM oleh Kemendagri, BOS oleh
Kementrian Pendidikan, dan PKH
oleh Kemensos, Subsidi Pertanian
oleh kementrian Pertanian, dan
seterusnya, dan masing bergerak
dengan egonya masing masing (si-
lo-silo). Upaya memiliki data base
keluarga miskin patut dipuji akan
tetapi masih banyak hal dan aspek
yang belum dapat disatukan atau
dikoordinasi.
Rekomendasi-
Rekomendasi
Rekomendasi Umum
1. Ujian politik dan teknis bagi
pemerintah Jokowi adalah mer-
evisi APBN, bagaimana mel-
akukan perubahan APBN un-
tuk menciptakan ruang fskal
yang memadai untuk menda-
nai program-program prioritas
Jokowi JK sebagaimana dijan-
jikan
2. Pemerintah Jokowi JK per-
lu menciptakan ruang fskal,
2-3% PDB atau sekitar 100-
300 T, untuk mendanai ber-
bagai intervensi atau program-
program prioritas pemerintah
Jokowi JK, dengan 3 cara (i)
mengalihkan sebagian dana
subsidi BBM dan Energi un-
tuk program-program PK; (ii)
penghematan belanja barang
birokrasi (honor, perjalanan
dinas, dll); (iii) Menaikkan ta-
rif PPH orang pribadi untuk
menyasar kelompok superkaya
yang berpendapatan diatas 1
milyar dan 5 Milyar per tahun
dengan tarif 40-45%.
3. Kebijakan PK harus sekali-
gus menurunkan ketimpangan.
Oleh karena itu, pemerintah
juga harus memfokuskan diri
pada pelaksanaan jaminan kes-
ehatan (Kartu Indonesia Sehat)
dan jaminan ketenagakerjaan.
Pemerintah Jokowi JK perlu
mengukur keberhasilan pem-
bangunan dengan indikator (a)
penurunan Ketimpangan (pen-
urunan Gini Rasio), disamping
(b) penurunan angka kemiski-
nan dan (c) angka penganggu-
ran.
4. Pemerintah menempuh dua
jalur PK: Jalur Pasar dan
Jalur Pemerintah. Dalam
Jalur pemerintah, tiga inter-
vensi yang harus diutamakan:
dukungan fskal (belanja so-
sial), jaminan sosial dan ban-
tuan sosial. Untuk kebijakan
fskal, pemerintah perlu men-
gubah kebijakan pajak PPH
orang pribadi perlu diubah
untuk mencerminkan keadilan.
Batas atas pendapatan pajak
(PPh p[ribadi superkaya) perlu
diubah dari Rp500 juta dengan
tarif 35 persen perlu ditambah
dengan (a) lapisan pendapatan
Rp1 milyar ke atas, (b) penda-
patan Rp5 milyar ke atas dan
(c) lapisan Rp10 Miliar perta-
hun ke atas dengan tarif berk-
isar antara 40-45 persen, sesuai
dengan standar Uni Eropa.
5. Pemerintah Jokowi perlu me-
nyelaraskan anggaran pemer-
intah daerah (kota dan kabu-
paten) melalui politik fskal
yaitu dengan cara : (a) mema-
tok batas atas/maksimum bagi
belanja eksekutif, DPRD dan
Belanja pegawai tidak lebih
dari 50% APBD . (b) mematok
batas bawah/minimum untuk
belanja pendidikan dan kes-
ehatan tidak kurang dari 30%
APBD (untuk pendidikan dan
kesehatan. Kemenkeu tidak
akan mencairkan dana pusat
ke pemerintah kota dan kab
(APBD) jika rencana APBD
tidak mematuhi kaidah fskal
tersebut diatas.
Rekomendasi Khusus
1. Subsidi Pertanian (Pupuk,
Benih dll) diubah dari subsidi
produsen kepada subsidi kon-
sumen kepada petani secara
8 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
langsung. Subsidi dapat di-
berikan secara tunai kepada
kelompok petani dan nelayan
untuk membeli bibit, pupuk,
modal kerja, kapal nelayan, dan
sebagainya.
2. Berbagai program-program
PK perlu dimerger ke dalam
4-5 program besar dengan tu-
juan menciptakan cakupan
dan dampak yang lebih besar
dan memudahkan pengelolaan,
pelaporan dan akuntabilitas,
serta didanai secara memadai
(well-fnance) untuk wilayah
yang luas yang menjadi sasa-
ran:
Kartu Indonesia Sehat
(Blok Kesehatan: Jamper-
sal, Jamkesmas, dll)
Kartu Indonesia Pintar
(Blok Pendidikan: BOS, dll)
Jaminan Tunai (Blok Ban-
tuan Sosial: Raskin, PKH,
dll)
Kartu Indonesia Mandiri
(Blok Jaminan Ketenagek-
erjaan)
Program Pemberdayaan
Masyarakat (Blok Pember-
dayaan: PNPM, dll)
3. Pemerintah perlu mengalokasi-
kan dana tambahan APBN un-
tuk premi Jaminan Kesehatan
bagi kelompok yang ditang-
gung pemerintah (PBI) sesuai
premi yang dipatok oleh Ke-
menkes: dari Rp19 T ke Rp30 T
pada APBN 2015.
4. Pemerintah perlu meminta BPS
dan Bappenas memproduksi
dan mengadakan data-data
kemiskinan baru untuk memu-
dahkan pemantauan dan pen-
gukuran hasil program-pro-
gram pemerintah: data sebelum
intervensi pemerintah dan
sesudah intervensi pemerintah.
5. Perlu dipikirkan badan
tersendiri untuk PK yang lang-
sung mengawasi dan mengkoor-
dinasi semua program-program
PK, yang didukung oleh unit
pemantauan program dan unit
teknis analisa kebijakan.
6. UKP4 dan BPKP perlu diperl-
uas wewenang tidak hanya me-
mantau penyerapan anggaran
dan realisasi rencana, tetapi
juga menilai kinerja dan kuali-
tas implementasinya. Artinya,
kedua lembaga itu juga diberi
wewenang untuk mengusulkan
pendekatan kebijakan dan de-
sain dan metode teknis pelak-
sanaan. n
TABEL 5. LAMPIRAN PERINCIAN RENCANA AKSI KEMISKINAN
MENDESAK
100
HARI
TAHUN
l CETAK BIRU KARTU INDONESIA SEHAT
(JKN)
l ALOKASI DANA UNTUK PREMI PBI JAMINAN
KESEHATAN (JKN)
l CETAK BIRU KARTU INDONESIA PINTAR
l CETAK BIRU PERCEPATAN JAMINAN
KETENAGAKERJAAN (KARTU INDONESIA
MANDIRI)
l PEPRES PENYATUAN/MERGER BERBAGAI
PROGRAM PK
l CETAK BIRU PERBAIKAN PERUMAHAN
PERKOTAAN (RUMAH DERET)
1
l PENGADAAN DATA KEMISKINAN BARU
l STUDI KELAYAKAN DANA 1 JUTA UNTUK
KELUARGA MISKIN/JAMINAN TUNAI
l PERPRES PENYELASARAN APBD SESUAI
PRIORITAS JOKOWI JK
l PEMBENTUKAN BADAN
PENANGGULANGAN KEMISKINAN
l STUDI KELAYAKAN TUNJANGAN
PENGANGGURAN (UNEMPLOYMENT
BENEFITS)
l CETAK BIRU JAMINAN TUNAI INDONESIA
BERITA UTAMA
9
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
PERS RELEASE
MASALAH KETIMPANGAN HARUS
DIPECAHKAN OLEH PEMERINTAHAN BARU
JAKARTA, 21 AGUSTUS 2014
Tahun 2012, tercatat rasio gini mencapai 0,41,
merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Re-
publik Indonesia. Kenyataan tersebut tidak hanya
terjadi antar kabupaten atau propinsi tapi terja-
di merata di Indonesia. Bahkan INFID mencatat
dalam sepuluh tahun terakhir terjadi percepatan
ketimpangan di Indonesia.
Dalam rangka mengumpulkan bukti-bukti
mengenai masalah ketimpangan, INFID mener-
bitkan buku berjudul Ketimpangan Pembangunan
Indonesia dari Berbagai Aspek. Buku ini merupa-
kan buku pertama di Indonesia yang mengulas
mengenai ketimpangan di Indonesia dalam dua
dekade terakhir disertai dengai berbagai ulasan
mengenai bentuk-bentuk ketimpangan di berba-
gai sektor. Seperti perbankan, perkebunan, perpa-
jakan, pendidikan dan kesehatan, juga mengkaji
efektivitas program penanggulangan kemiskinan.
Buku juga menampilkan beragam usulan kebija-
kan terkait dengan penurunan ketimpangan.
Menurut Prastowo, salah seorang penulis
buku menyebutkan, ketimpangan sungguh men-
jadi problem serius dan menjadi isu keadilan. Hal
ini nampak dalam berbagai aspek yang diulas di
dalam buku seperti sulitnya pelaku ekonomi kecil
mendapatkan kredit karena perbankan tidak ber-
pihak terhadap mereka. Sementara pemerintah
yang berupaya menurunkan ketimpangan dengan
fokus pada kemiskinan, terbukti program-pro-
gramnya belum efektif menjawab masalah terse-
but. Demikian halnya dengan kebijakan pajak
yang belum mendukung paradigma kesetaraan.
Sugeng Bahagijo, Direktur Eksekutif INFID
menyatakan saat ini merupakan saat yang tepat
bagi pemerintah baru untuk merumuskan agenda
dan kebijakan yang mampu menurunkan ketim-
pangan. Berkaitan dengan hal tersebut, INFID
memberi usulan terkait dengan upaya penurunan
ketimpangan kepada pemerintahan baru meliputi:
Penurunan ketimpangan dari indeks gini 0,41
menjadi 0,35 dalam lima tahun mendatang men-
jadi indikator keberhasilan pembangunan yang
tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah 2014 2019
Memperbaiki kebijakan dan perolehan pajak
antara 19% higga 24%, terutama memacu per-
olehan pada pajak penghasilan (PPh) kelompok
superkaya dengan tarif pajak (PPh) baru hingga
45% untuk memastikan sumbangan kelompok su-
perkaya
Realokasi subsidi BBM untuk universalisasi
manfaat jaminan sosial, seperti jaminan keseha-
tan sosial dan jaminan ketenagakerjaan untuk se-
mua warga
Reformasi kelembagaan untuk memperkuat
pemerintahan yang terbuka dan bersih dari ko-
rupsi.
Hormat Kami,
Sugeng Bahagijo
Direktur Eksekutif
Kontak person:
Siti Khoirun Nimah
Tlp: 08588 1305 213 atau nikmah@infd.org
KEGIATAN INFID
10 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
KEGIATAN INFID
S
ampul muka majalah
The Economist edisi
Februari 2014 berjudul
The parable of Argen-
tina what other coun-
tries can learn from a century of
decline menggambarkan sebuah
negara yaitu Argentina yang me-
miliki kekuatan ekonomi lebih
baik dibanding Amerika Serikat di
tahun 1914. Pendapatan perkapit-
anya di atas Jerman, Perancis dan
Italia. Argentina menjadi negara
dari sepuluh negara terkaya di du-
nia setelah Australia, Inggris dan
Amerika Serikat. Namun gambaran
sebaliknya dan jauh berbeda yang
saat ini terjadi atas perekonomian
Argentina. The Economist menye-
but perekonomian Argentina telah
menurun. Bahkan menjadi pusat
dari krisis negara-negara emerging.
Menurut the Economist, ada tiga
sebab yang menjadikan perekono-
mian Argentina seperti itu yaitu
tidak berkembangkan industri, ke-
bijakan perdagangan yang cender-
ung tertutup, dan lemahnya insti-
tusi dalam mendorong kebijakan
jangka panjang.
Pertanyaannya, bagaimana
dengan Indonesia?Indonesia yang
telah masuk dalam negara yang se-
dang tumbuh (emerging country)
memiliki masalah yang tidak jauh
berbeda. Meskipun saat ini pertum-
buhan ekonomi Indonesia cukup
tinggi dibanding negara-negara
lain, namun industri nasional be-
lum berkembang sebagaimana mes-
tinya. Sebagian besar perekonomi-
an masih disumbang bahan mentah
dari komoditas perkebunan dan ke-
hutanan, sementara industri olahan
belum seperti yang diharapkan.
Belum lagi institusi pemerintahan
yang terus digerogoti penyakit ko-
rupsi, juga tiadanya strategi jangka
panjang untuk menjadikan pereko-
nomian Indonesia lebih tangguh di
masa mendatang. Pertanyaan inilah
yang coba dibahas di diskusi den-
gan tema G20 dan Jebakan Negara
Berpendapatan Menengah.
Diskusi menghadirkan dua
pembicara yaitu Dr. Yulius Purwa-
di dari Universitas Parahiyangan
Bandung dan Prof Erani Yustika
dari Universitas Brawijaya Malang.
Seyogyanya diskusi menghadirkan
Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian, namun pihak dari
kementerian tidak hadir. Peserta
diskusi dari berbagai organisasi
masyarakat sipil, organisasi buruh
dan mahasiswa, pemerintah dari
kementerian keuangan dan kemen-
terian perdagangan, Komisi Anti
Korupsi (KPK), Bank Dunia, dan
media massa.
Dr. Yulius Purwadi memapar-
kan perkembangan pembahasan di
G20. Menurutnya pendekatan yang
digunakan Australia fokus pada
pertumbuhan ekonomi melalui
DISKUSI
G20 DAN JEBAKAN NEGARA
BERPENDAPATAN MENENGAH
JAKARTA, 23 APRIL 2014

11
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
dua prioritas yaitu meningkatkan
investasi swasta dan membangun
ekonomi global yang tangguh.
Dari sepuluh prioritas keketu-
aan Australia, menurut masyarakat
sipil, pemerintah Indonesia mem-
berikan perhatian besar ke agen-
da investasi untuk infrastruktur.
Indonesia yang dikeketuaan Ru-
sia menjadi ketua kelompok studi
pembiyaan jangka panjang untuk
investasi bersama Jerman, men-
ganggap agenda investasi untuk
infrastruktur penting dalam men-
dukung perekonomian nasional.
Menurut Prof Erani Yustika,
pembahasan di G20 belum me-
miliki relevansi dalam menjawab
problem perekonomian Indonesia
terutama menjawab tantangan In-
donesia keluar dari jebakan ne-
gara berpendapatan menengah.
Menurutnya defnisi jebakan ne-
gara pendapatan menengah dike-
luarkan Bank Dunia dengan dua
alasan. Pertama, negara yang tidak
mampu keluar dari pendapatan
menengah memiliki potensi menja-
di negara otoritarian. Kedua, guna
menjadi negara yang tangguh ter-
hadap hantaman krisis dibutuhkan
tingkat pendapatan berkisar USD
6.000 USD 7.000. Oleh karena itu,
negara-negara emerging seperti In-
donesia harus keluar dari jebakan
negara berpendapatan menengah
dan mencapai tingkat pendapatan
USD 6.000 USD 7.000. Alasannya
ada potensi tabungan baik ekonomi
skala rumah tangga maupun dalam
skala yang lebih besar. Sementara
pendapatan perkapita penduduk
Indonesia saat ini dikisaran USD
4.000, masih jauh dari yang dihara-
pkan.
Oleh karena itu, masalah ter-
penting bagi Indonesia bukanlah
meningkatkan pendapatan per ka-
pita secara cepat seperti yang di-
targetkan G20. Namun perlunya
Indonesia menyusun dasar-dasar
ekonomi yang kokoh melalui for-
masi aset yang merata, penciptaan
lapangan kerja, peningkatan kual-
itas pendidikan dan kesehatan,
serta meningkatkan kemampuan
inovasi dan penguasaan tekhnologi.
Hal minimal yang perlu dilaku-
kan Pemerintah Indonesia di G20
yaitu menggunakan ruang-ruang
perundingan di G20 untuk men-
ingkatkan ruang pelaku ekonomi
kecil yang saat ini semakin terp-
inggirkan melalui berbagai kebi-
jakan yang mendukung penguatan
ekonomi kecil.
Berbeda dengan Prof Erani
Yustika, menurut Maria Mon-
ica Wihardja dari Bank Dunia
setidaknya ada tujuh agenda di G20
yang bisa digunakan Indonesia un-
tuk meningkatkan perekonomian
nasional yaitu investasi untuk in-
frastruktur dimana Indonesia saat
ini sedang gencar meningkatkan
pembangunan infrastruktur namun
terkendala dengan pembiayaan.
Sehingga pembahasan di G20 di-
harapkan membantu memecahkan
masalah pembiayaan melalui dua
skema penerbitan surat utang in-
frastruktur (infrastructure bond)
dan pembentukan kelembagaan
pembiayaan infrastruktur (insti-
tutional investor). Agenda lainnya
meliputi perdagangan dan investa-
si, reformasi struktural, stabilitas
makro-ekonomi, ketenagakerjaan,
ketahanan pangan dan energi, dan
stabilitas sosial dan politik ter-
masuk mengatasi masalah ketim-
pangan. n

Table 1. Agenda G20 di bawah Keketuaan Australia
12 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
RESENSI BUKU
S
aat ini, Indonesia sedang
dalam kondisi kritis.
Dimana pembangunan
yang dilakukan malah
menjadi sebuah panasea,
terutama terhadap kemiskinan dan
ketertinggalan rakyatnya. Juga ter-
jadi dalam sektor pertanian, disini
terdapat sebuah ironi sebuah ne-
gara agraris yang petaninya tidak
mendapatkan perlindungan negara
dan akhirnya petani beralih ke pro-
fesi lain.
Buku ini mengulas panjang
berbagai ketimpangan pembangu-
nan yang terjadi di Indonesia. Ban-
yaknya penulis yang terlibat pe-
nulisan buku ini merupakan salah
satu keunggulannya. Sehingga
pembaca bisa mendapatkan ban-
yak informasi yang objektif dilihat
berbagai sisi. Para penulis ini me-
miliki latar belakang yang berbeda
yang Yustinus Prabowo memiliki
background perpajakan, Tursia
yang adalah seorang aktivis per-
empuan, Sugeng Bahagijo mema-
hami dunia hukum dan demokrasi,
Ah Maftuchan seorang peneliti dan
trainer dalam tema pembangunan
sosial,Arief Anshory Yusuf berla-
tarbelakang ekonomi, Firdaus me-
miliki keahlian memiliki keahlian
dibidang pengorganisasian, Her-
juno Ndaru Kinasih seorang pe-
neliti sosial untuk isu-isu ekonomi
dan pembangunan, Irhash Ahmady
penggiat lingkungan, dan terakhir
Mike Verawati Tangka yang memi-
liki pemahaman yang dalam untuk
isu kebijakan konstitusional dan
keadilan gender.
Buku ini berusaha memberikan
usulan melalui satu pendekatan
yang dapat menjadi penawar kele-
lahan rivalitas negara dan pasar :
penciptaan kapabilitas yang dito-
pang partisipasi luas civil society.
Pembangunan harus ditanam kem-
bali ke tata nilai dan gugus kebutu-
han manusia sebagai subjek. Melal-
ui penetapan capaian-capaian yang
berkualitas dan terukur, strategi
yang tepat, dan ruang partisipasi
publik yang luas, isu ketimpangan
dan kemiskinan dapat dijadikan ti-
tik awal untuk menafsirkan ulang
dan menata visi pembangunan yang
ada. Pembangunan harus memberi-
kan ruang kebebasan, kesetaraan
kesempatan, dan keberpihakan
pada mereka yang telah dirugikan
dan dipinggirkan.
Buku ini juga bisa dijadikan
rujukan, acuan dalam perumusan
ulang kebijakan publik. Decompos-
ing dan melakukan recomposing
pada kebijakan dan strategi pem-
bangunan. Meluputkan inti gaga-
san buku ini sama artinya dengan
mengabaikan ikhtiar memperbaiki
dan memajukan Indonesia.
n
KETIMPANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA
DARI BERBAGAI ASPEK
13
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
T
ahun 2014 merupakan ta-
hun ke-6 pertemuan G20
digelar setelah G20 men-
jadi pertemuan tingkat
tinggi yang dihadiri para
kepala negara dari 20 anggota. Per-
temuan tingkat tinggi pertama ber-
langsung di Washington DC tahun
2008 yang diprakarsai oleh Pres-
iden George W. Bush dengan agenda
memperkuat konsolidasi global un-
tuk mengatasi krisis keuangan yang
terjadi di Amerika Serikat (AS).
Pertemuan tersebut berhasil meng-
galang dana dengan adanya kes-
epakatan pemberian stimulus fskal
untuk bersama-sama mengatasi
krisis di AS. Pertemuan tersebut
sekaligus menjadikan G20 sebagai
the primier forum for international
economic cooperation atau seba-
gai forum utama yang membahas
kerjasama ekonomi internasional,
menggantikan G8 yang sebelumnya
menjadi penentu kebijakan ekono-
mi global.
Namun seiring berjalannya
waktu, harapan untuk menjadikan
G20 sebagai forum utama kian re-
dup. G20 tidak mengambil banyak
peran ketika krisis keuangan mu-
lai melanda Uni Eropa di tahun
2009. Pertemuan G20 di Meksiko
tahun 2012 tidak menghasilkan
kesepakatan mengenai penyelesa-
ian krisis di Uni Eropa karena Uni
Eropa memutuskan untuk menye-
lesaikan sendiri krisis yang sedang
mereka alami. Berikutnya adalah
tidak terjadinya koordinasi kebi-
jakan antar anggota G20 seperti
yang diharapkan ketika AS secara
KERTAS POSISI MASYARAKAT SIPIL INDONESIA
G20 DAN MENJAWAB MASALAH KETIMPANGAN, PENGANGGURAN DAN PENDANAAN:
RANGKUMAN DARI BERBAGAI USULAN MASYARAKAT SIPIL INDONESIA
ANALISIS UTAMA
14 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
unilateral mengeluarkan kebijakan
pengurangan stimulus, yang men-
gakibatkan negara-negara emerg-
ing termasuk Indonesia menghada-
pi pelarian modal dan menjadikan
nilai rupiah terhadap dollar turun
tajam. Ketika beberapa negara
seperti Turki dan India menyeru-
kan pentingnya koordinasi terkait
dengan kebijakan tersebut sebelum
berlangsungnya pertemuan G20 di
St Petersburg, Rusia, namun dalam
pertemuan puncak, koordinasi ke-
bijkaan tidak dibahas. Belum lagi
sikap AS yang tidak mendukung
reformasi International Monetary
Fund (IMF) yang telah menjadi
komitmen G20.
Di tengah-tengah kegamangan
akan efektivitas dan juga soliditas
G20, pemerintah Australia telah
menetapkan pertumbuhan yang
kuat sebagai prioritas pemba-
hasan di G20. Merujuk pada ko-
munike pertemuan para Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank
Sentral di Sydney yang berlang-
sung pada tanggal 22-23 Februari
2014, ditargetkan perekonomian
akan tumbuh 2% dalam lima tahun.
Pertumbuhan diharapkan akan di-
topang oleh peningkatan investasi
swasta khususnya infrastruktur
agar dapat menyerap tenaga kerja
dan mendorong perdagangan. Per-
tumbuhan juga diharapkan tang-
guh terhadap goncangan sehingga
perlu diperkuat aspek pembiayaan
khususnya yang bersumber dari pa-
jak. Diharapkan prioritas tersebut
menjawab masalah keuangan dan
ekonomi global dan juga menjawab
efektivitas G20 sebagai forum ker-
jasama ekonomi global.
Pertanyaannya, apakah capa-
ian tersebut sesuai yang diharap-
kan masyarakat sipil?Apa usulan
masyarakat sipil terhadap delegasi
pemerintah Indonesia yang hadir
dalam pertemuan-pertemuan G20?
Masyarakat sipil Indonesia
mencatat tiga tantangan pemban-
gunan yang dihadapi baik oleh In-
donesia maupun negara lain, meli-
puti tingginya angka ketimpangan,
tingginya angka pengangguran, dan
juga rendahnya mobilisasi sum-
ber daya domestik. Tiga tantangan
inilah yang diharapkan dapat diba-
has dipertemuan G20.
1. Pertumbuhan versus
ketimpangan
Salah satu sasaran utama Ren-
cana Pembangunan Jangka Menen-
gah Nasional (RPJMN) 2015 2019
yang sedang disusun Kementerian
Perencanaan Pembangunan Na-
sional (BAPPENAS) adalah per-
tumbuhan ekonomi rata-rata 6%
sampai 8% per tahun. Diharap-
kan dengan angka pertumbuhan
tersebut, produk domestik bruto
(PDB) Indonesia mencapai USD
7.000 pada tahun 2019. Pertum-
buhan ekonomi juga menjadi tu-
juan utama G20 melalui kerangka
strong, sustainable and balance
growth. Bahkan tahun ini di bawah
kepemimpinan Australia, G20 me-
netapkan target pertumbuhan 2%
dalam kurun lima tahun ke depan
dan fokus pada pertumbuhan yang
kuat.
Pada saat yang sama, Indone-
sia tengah menghadapi problem
ketimpangan yang kian meningkat.
Rasio gini koefsien mencapai 0,42
ditahun 2013, sebuah angka tert-

Tabel 1. Gini Koesien di Indonesia berdasarkan desa dan kota
Sumber: Arief Anshory Yusuf, diolah dari Susenas (2013)
ANALISIS UTAMA
15
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
inggi sepanjang sejarah Indonesia.
Kajian INFID juga menunjukkan,
terjadi percepatan ketimpangan
selama dekade terakhir. Hampir
semua wilayah seperti desa dengan
kota, Jawa dengan luar Jawa, na-
sional maupun propinsi mengalami
percepatan ketimpangan.
Berbagai kebijakan di ting-
kat nasional yang mendorong
melebarnya ketimpangan telah
diidentifkasi masyarakat sipil sep-
erti kebijakan perkebunan teruta-
ma perkebunan kelapa sawit yang
memberikan dukungan yang minim
bagi petani skala kecil dibanding-
kan petani skala besar atau bahkan
korporasi telah mendorong ketim-
pangan semakin lebar. Demikian
halnya dengan kebijakan perban-
kan yang menerapkan penjaminan
bagi pemberian kredit, sementara
pemerintah tidak memberikan
dukungan yang cukup bagi pelaku
usaha kecil mengakibatkan sek-
tor mikro kesulitan mendapatkan
akses kredit.
Menurut catatan OXFAM
(2014), dalam tiga dekade terakhir
ketimpangan global juga kian leb-
ar. Jumlah kekayaan 1% penduduk
dunia paling kaya sebesar USD 110
triliun atau 65 kali total kekayaan
setengah dari jumlah penduduk
dunia. Sementara setengah dari
jumlah penduduk dunia memiliki
kekayaan sama dengan 85 orang
paling kaya di dunia.
2. Investasi dan
Penyediaan Lapangan
Kerja
G20 menetapkan investasi
swasta terutama untuk pemban-
gunan infrastruktur sebagai salah
satu penggerak pertumbuhan. In-
vestasi swasta diharapkan dapat
mendorong penciptaan lapangan
kerja melalui kerjasama pemerin-
tah dengan swasta (Public Private
Partnership). Indonesia yang saat
ini menjadi Ketua Kelompok Kerja
untuk Investasi dan Infrastruktur
di G20, telah menjadi pengagas
utama mengenai pentingnya in-
frastruktur menjadi agenda G20.
Sumber: Arief Anshory Yusuf, diolah dari Susenas (2013)

Tabel 2. Gini koesien berdasarkan Jawa dan Luar Jawa
16 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
Indonesia berharap dengan mas-
uknya agenda infrastruktur dapat
menjawab problem pembangunan
infrastruktur di dalam negeri.
Sementara itu, data di bawah ini
menunjukkan investasi belum mak-
simal dalam menyerap angkatan
kerja. Hal ini bisa dilihat dari tabel
di bawah ini di mana perkembangan
investasi terhadap PDB Indonesia
yang berkisar 30% dalam tiga tahun
terakhir belum menjamin menin-
gkatnya lapangan kerja. Penyera-
pan lapangan kerja hanya sebesar
1,14 juta orang ditahun 2012, terus
menurun dari tahun sebelumnya
dan berbanding terbalik dengan in-
vestasi yang kian meningkat.
Khusus untuk investasi as-
ing langsung (foreign direct invest-
ment), selain kontribusinya ter-
hadap penyediaan lapangan kerja
yang tidak sesuai harapan, investasi
asing malah memberi keuntungan
yang tinggi bagi investor. Data yang
diambil dari Eurodad, sebuah lem-
baga masyarakat sipil di Eropa yang
membidani isu pembiayaan untuk
pembangunan, mencatat investasi
asing langsung di negara-negara
berkembang yang keluar dalam
bentuk selisih keuntungan lebih be-
sar dibanding investasi yang masuk.
3. Mobilisasi Sumber
Daya Domestik
Pembiayaan pembangunan
merupakan salah satu tantangan
yang perlu mendapat perhatian
baik G20 maupun pemerintah. Kri-
sis yang melanda Uni Eropa men-
dorong pengetatan fskal, meski-
pun langkah sebaliknya dilakukan
AS dan Jepang dengan melakukan
pelonggaran moneter. Namun bagi
emerging countries termasuk Indo-
nesia, pembiayaan pembangunan
terutama untuk program-program
sosial dan belanja infrastruktur
merupakan salah satu persoalan
yang perlu dipecahkan.
Salah satu usulan G20 dalam
meningkatkan kapasitas fskal ang-
gota G20 adalah melalui kerjasama
mendukung realisasi agenda aksi
Base Erosian and Proft Shifting
(BEPS) yang dirintis. Ini merupa-
kan agenda aksi berupa kerjasama
multilateral yang lebih luas untuk
menangkal upaya-upaya peng-
hindaran pajak melalui pengalihan
keuntungan yang masif. Pencega-
han hanya bisa dilakukan melalui
kerjasama perpajakan yang konk-
ret, mengikat, dan terukur.
Indonesia sebagai salah satu
negara berkembang dan tujuan in-
vestasi utama juga mengalami per-
soalan dengan penerimaan pajak.
Jika diukur dengan tax ratio atau
perbandingan penerimaan pajak
terhadap PDB, tax ratio Indone-
sia adalah 13,3%. Angka ini jauh
di bawah rata-rata tax ratio low-
er middle-income countries yang
mencapai 17.7%. Artinya, secara
teoretik defsit penerimaan pajak
Indonesia adalah 4.4% dari PDB
atau sekitar Rp 375 trilyun.
Rendahnya tax ratio Indonesia
dipengaruhi beberapa hal, antara
lain (i) masih rendahnya kapasitas
otoritas pajak memungut pajak, (ii)
tingginya pengaruh sektor informal
economy yang belum terintegrasi
dalam sistem perpajakan nasional,

Sumber: Erani Yustika, diolah dari BI 2014

Tabel 3: Perbandingan perkembangan investasi dengan penyerapan tenaga kerja
ANALISIS UTAMA
17
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
Grafik Struktur Penerimaan Pajak 2006 2012
0.00
200.00
400.00
600.00
800.00
1,000.00
1,200.00
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Penerimaan Pajak
PPh
PPh 21
PPh 25/ 29 OP
PPh Badan
PPN

PERBANDINGAN TAX RATIO INDONESIA DENGAN NEGARA-NEGARA LAIN
PERBANDINGAN TAX RATIO INDONESIA DENGAN NEGARA NEGARA LAIN
Keterangan: *Hasil kalkulasi Perkumpulan Prakarsa dengan Pendekatan Tax Ratio dalam
arti luas
Sumber: IMF 2011 (diolah)
GRAFIK STRUKTUR PENERIMAAN PAJAK 2006-2012
(iii) tingginya tax avoidance (peng-
hindaran pajak).
Struktur penerimaan pajak In-
donesia juga masih memprihatin-
kan. Sebagaimana tampak dalam
tabel, penerimaan pajak masih di-
dominasi oleh penerimaan PPh dan
PPN. PPh Badan masih mendomi-
nasi dan jauh di atas penerimaan
PPh Pasal 21 dan PPh Orang Prib-
adi. Ini menunjukkan belum terpe-
nuhinya keadilan pajak yang di-
dasarkan pada prinsip kemampuan
membayar (ability to pay). Indone-
sia masih bergantung pada pajak
tidak langsung (PPN) dan belum
optimalnya kontribusi wajib pajak
badan dan orang pribadi dalam
membayar pajak. Struktur peneri-
maan pajak yang adil seharusnya
terdiri dari penerimaan PPh Orang
Pribadi yang paling besar, lalu PPN,
dan PPh Badan.
Indikasi ini dapat dilihat
pada tax ratio sektoral di bawah,
yang menunjukkan tax ratio sek-
tor perkebunan/kehutanan adalah
yang terendah, lalu konstruksi dan
pertambangan. Tidak dimungkiri,
tiga sektor ini merupakan sektor
yang kompleks dan umumnya meli-
batkan struktur bisnis lintas-batas
(multinasional).
Dengan demikian mobilisasi
sumber pendanaan domestik yang
bertumpu pada penerimaan pajak
membutuhkan dukungan yang be-
sar dan konkret dari berbagai pihak.
Selain peningkatan kapasitas otori-
tas pemungut pajak, kerjasama in-
ternasional yang lebih konkret dan
efektif dibutuhkan untuk menang-
18 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
kal praktik penghindaran pajak
lintas-batas melalui skema transfer
pricing, hybrid mismatch arrange-
ment, dan digital economy. Forum
G20 adalah forum yang tepat dan
strategis untuk mendorong realisasi
kerjasama perpajakan internasional
yang lebih baik.
4. Usulan Masyarakat
Sipil
Tiga tantangan tersebut dihara-
pkan menjadi prioritas G20. Sebab
bagi masyarakat sipil, pertumbu-
han yang kuat tidak akan berarti
apa-apa jika menyisahkan masalah
ketimpangan, pengangguran, dan
juga keterbatasan pendanaan. Per-
tumbuhan yang kuat membutuhkan
syarat yaitu menjawab tiga tan-
tangan tersebut. Oleh karena itu,
menurut masyarakat sipil tiga tan-
tangan tersebut harus dijawab den-
gan kebijakan sebagai berikut:
1. Mendorong pembangunan yang
inklusif melalui:
Memberi prioritas kebijakan
ekonomi bagi pelaku usaha
kecil terutama perempuan dan
anak muda yang bergerak di
sektor informal (UMKM) dan
juga petani skala kecil agar
berdaya secara ekonomi.
Meningkatkan peran sek-
tor keuangan pada penguatan
ekonomi riil.
Meningkatkan investasi pada
pembangunan sosial dengan
meningkatkan belanja untuk
pendidikan dan kesehatan.
Meningkatkan partisipasi per-
empuan dalam pembangunan
ekonomi.
2. Investasi yang menyerap
angkatan kerja
Memastikan investasi memberi
nilai tambah bagi penguatan
industri di dalam negeri dan
penciptaan lapangan kerja
yang layak.
Investasi tidak hanya didasar-
kan pada value for money tapi
juga mempertimbangkan aspek
ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Memberi prioritas pembangu-
nan infrastruktur dasar seperti
fasilitas pendidikan, kesehatan,
dan sanitasi.
3. Mendorong peningkatan
kerjasama perpajakan
Pertukaran informasi (ex-
change of information) tanpa
syarat. Pembentukan forum
perpajakan multinasional dan
regional.
Revisi terhadap Panduan
Transfer Pricing dan Tax Treaty
Model.
n
Klasikasi Lapangan Usaha
Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
Pertanian, Perkebunan, Kehutanan 1.8 1.7 1.4 1.3 1.2
Pertambangan dan Penggalian 12.6 5.7 8.1 8.1 6.3
Industri Pengolahan 9.7 10.8 11.2 12.5 12.6
Listrik, Gas dan Air Bersih 15.5 14.0 19.1 20.0 13.5
Konstruksi 4.3 3.6 3.5 3.8 3.2
Perdagangan, Hotel dan Restoran 9.7 9.5 9.6 10.4 10.3
Pengangkutan dan Komunikasi 10.6 8.4 7.9 7.5 7.1
Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan 19.4 19.7 19.8 18.3 18.0
Jasa-jasa 5.4 5.3 4.5 4.5 4.2
Table 9. Tax Ratio Sektoral 2008-2012
Sumber: Ditjen Pajak dan BKF Kemenkeu (diolah)
ANALISIS UTAMA
19
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
B
akground Paper ada-
lah informasi awal
untuk memberikan
gambaran mengenai
posisi diskursus pem-
biayaan pembangunan saat ini.
Dalam agenda pembangunan pas-
ka-2015 dan rencana konferensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
mengenai pembiayaan pemban-
gunan yang akan digelar di tahun
2015 atau 2016, terdapat dua area
hal yang diulas dalam paper ini
yaitu sumber-sumber pembiayaan
di luar Official Development As-
sitance (ODA) dan peran lembaga
keuangan yang berkaitan dengan
sumber-sumber pembiayaan terse-
but.
Terjadi perdebatan mengenai
bagaimana agenda pembangunan
setelah berakhirnya Millenium
Development Goals (MDGs) telah
dimulai sejak tahun 2012 saat PBB
mengadakan Konferensi Pemban-
gunan yang Berkelanjutan di Brazil
atau dikenal dengan Rio+20 Sum-
mit. Sejak saat itu, berbagai forum
diselenggarakan dengan melibat-
kan beragam multi-stakeholder
global dengan tujuan untuk men-
dapatkan masukan mengenai agen-
da pembangunan ke depan.
Pada saat yang sama, terjadi
pergeseran peta politik dan ekono-
mi global akibat krisis berkepan-
jangan yang dialami negara-negara
maju dan juga tumbuhnya negara-
negara emerging seperti China, In-
dia, Rusia, Brazil dan juga Indone-
sia. Pergeseran ini juga membawa
perubahan terhadap komitmen ne-
gara-negara maju untuk memberi-
kan bantuan berupa pinjaman luar
negeri ke negara-negara miskin
dan berkembang. ODA yang sela-
ma ini diandalkan sebagai sumber
pembiayaan pembangunan teruta-
ma untuk tercapaianya MDGs kian
berkurang dan tidak signifkan
dibanding sumber-sumber pembi-
ayaan lainnya.
ODA dan Perjalanan
panjang pembiayaan
pembangunan
MDGs menetapkan pembiayaan
untuk pembangunan menjadi agen-
da bersama yang tertuang dalam
tujuan kedelapan yaitu kerjasa-
ma global. Di dalam goal delapan
tersebut, terdapat empat indikator
kerjasama global yaitu bantuan
dari negara-negara maju ke nega-
ra-negara miskin dan berkembang
dalam bentuk ODA atau pinjaman
luar negeri, perdagangan terutama
terkait dengan akses pasar, keber-
lanjutan pinjaman luar negeri, dan
kerjasama farmasi untuk pemenu-
han obat dasar bagi negara miskin
dan berkembang.
Dua tahun setelah MDGs
disepakati menjadi komitmen glob-
al (2002), diadakan konferensi yang
berlangsung di Monterrey, Meksiko,
dengan agenda membahas pembi-
ayaan untuk pembangunan. Tujuan
utama dari konferensi tersebut
yaitu untuk mobilisasi pendan-
aan untuk mencapai target MDGs.
Konferensi tersebut kemudian
menghasilkan konsensus di antara
negara-negara maju berupa komit-
men bantuan dalam bentuk ODA
kepada negara-negara miskin sebe-
sar 0,7% dari produk domestik bru-
to. Komitmen ini kemudian dikenal
dengan Monterrey Concencus.
Tiga tahun berikutnya (2005),
OECD (Organization of Economic
Cooperation and Development)
mengadakan pertemuan di Paris
yang bertujuan untuk melakukan
harmonisasi di antara negara-ne-
gara maju dalam rangka mening-
katkan efektivitas bantuan. Per-
temuan Paris menghasilkan lima
poin kerjasama terdiri atas own-
ership (kepemilikan), alignment
(keterpaduan), harmonisation (har-
monisasi), result-based oriented
(berdasarkan pada hasil), dan mu-
tual accountability (akuntabilitas
timbal balik). Lima pilar ini ke-
mudian dikenal dengan Deklarasi
Paris yang hingga saat ini diguna-
kan sebagai acuan dalam kerjasa-
ma bantuan berupa pinjaman luar
negeri.
Beragam pertemuan yang di-
adakan tersebut untuk memasti-
kan efektivitas bantuan agar dapat
BACKGROUND PAPER
PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN
20 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
mendukung tujuan pembangunan
millenium. Namun berdasarkan
laporan PBB di tahun 2012 (tiga
tahun sebelum berakhirnya MDGs),
hanya lima negara yang menjalan-
kan komitmennya yaitu Swedia,
Norwegia, Luxemburg, Denmark,
dan Belanda. Sementara sebagian
besar tidak mencapai target yang
diharapkan. Secara total, ODA di-
tahun 2011 sebesar 0,31% dari GDP,
jauh di bawah konsensus Mon-
terrey. Meskipun ODA dianggap
tidak mampu memenuhi harapan
global terkait dengan pembiayaan
pembangunan, namun bagi nega-
ra-negara miskin (least developed
countries/LDCs) menganggap ODA
masih diperlukan guna mendukung
pembangunan di negara mereka.

Potensi Sumber
Pembiayaan untuk
Pembangunan
High level Panel of Eminent
Person on Post-2015 Development
Agenda (HLPEP) yang dibentuk
Sekjend PBB, Ban Ki Moon, dengan
mandat menyusun agenda pemban-
gunan paska-2015 menekankan
dua sumber pembiayaan yaitu per-
tama, ODA dengan komitmen yang
sama 0,7% dari GDP dan 0,15%
sampai 0,20% dari total GDP ne-
gara-negara maju untuk LDCs, dan
kedua, mengurangi pelarian modal
dan pajak termasuk mengemba-
likan aset yang dicuri. Dua sumber
tersebut menggambarkan sumber
pembiayaan diharapkan selain dari
bantuan luar negeri, juga didapat
dari mobilisasi sumber daya do-
mestik.
Dokumen HLPEP meng-
gambarkan pergeseran kekuatan
ekonomi global akibat krisis yang
terjadi di Uni Eropa dan Amerika
Serikat. Krisis yang mulai terjadi di
tahun 2008 dan hingga kini masih
belum pulih menyebabkan negara-
negara maju mengurangi ODA dan
mendorong pencarian sumber-sum-
ber pembiayaan baru. Dua sumber
pembiayaan baru yang diharapkan
yaitu partisipasi sektor swasta dan
sumber pembiayaan dari negara-
negara emerging.
Terdapat beberapa usulan yang
mengemuka di berbagai forum in-
ternasional seperti G20, APEC, dan
PBB mengenai pembiayaan pem-
bangunan, mulai dari kerjasama
perpajakan, meningkatkan investa-
si khususnya FDI (Foreign Direct
Investment), transparansi industri
ekstraktif, hingga meningkatkan
public private partnership (PPP).
Pembiayaan
Pembangunan Sektor
Swasta
Hal lainnya yang menarik dia-
mati akibat krisis ekonomi di AS
dan Uni Eropa tahun 2008 adalah
meningkatnya peran swasta dalam
pembiayaan pembangunan baik
sebagai sumber pembiayaan teru-
tama PPP juga sebagai penerima
ODA. Konferensi mengenai efek-
tivitas bantuan yang berlangsung
di Busan tahun 2012 menetapkan
swasta sebagai aktor pembangu-
nan. Hal ini berimplikasi terhadap
sektor swasta dimana swasta me-
miliki hak untuk menerima ODA
di luar pemerintah dan masyarakat
sipil.
Sebagai sumber pembiayaan,
Bank Dunia dalam dokumen Fi-
nancing for Development Post-2015
(2013) mengidentifkasi beberapa
sumber pembiayaan dari sektor
swasta meliputi FDI, pinjaman
dari perbankan (bank loans), surat
utang berharga (bond issues), in-
stitutional investor, dan remitansi
(private transfer). Secara keseluru-
han tabel di bawah ini menggam-
barkan besarnya dana yang menga-
lir ke negara-negara berkembang
dimana paling besar dana dari FDI
sebesar 60%.
Sumber: OECD
Tabel 1. Gap komitmen ODA dan implementasinya

ANALISIS UTAMA
21
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
Tabel di atas juga menggam-
barkan besarnya potensi pendan-
aan dari sektor swasta diband-
ingkan ODA yang hanya 14% dari
total pendanaan yang ada.
Peran Lembaga Keuangan
Internasional
Mulai tahun 2000-an, bantuan
Bank Dunia ditujukan pada pe-
rubahan kebijakan pembangunan
yang tertuang dalam pinjaman De-
velopment Policy Loan (DPL). DPL
inilah yang mengarahkan kebijakan
di Indonesia termasuk juga dalam
hal pembiayaan pembangunan sep-
erti pajak, PPP, inklusi keuangan,
juga remitansi. Selain kebijakan,
DPL juga mendorong pembentukan
kelembagaan seperti pembentukan
Indonesia Infrastructure Fund dan
lain sebagainya.
Ditingkat regional, Asia De-
velopment Bank (ADB) lebih men-
dorong regional integrity khu-
susnya di kawasan Asia termasuk
ASEAN melalui paket-paket pin-
jamannya. ADB juga melalui DPL,
sama dengan Bank Dunia, men-
dorong perubahan kebijakan dan
juga pembentukan kelembagaan
terkait dengan area-area pembi-
yaan pembangunan seperti PPP.
Jadi dapat dikatakan, lembaga
keuangan internasional khususnya
Bank Dunia dan ADB masih memi-
liki peranan besar terkait dengan
pembiayaan pembangunan. n
Sumber: Bank Dunia, 2013
Tabel 2. Aliran dana ke negara-negara berkembang, 2012 (Dalam USD miliar, dan % dari total)
600.1
60%
14.1, 1%
7.1 , 1%
44.4, 4%
71.5, 7%
126.7,
13%
143.3,
14%
FDI INFLOWS
ODA & OOF
OTHER PRIVATE
PORTFOLIO
EQUITY INFLOWS
BANKS
SHORT-TERM
DEBT FLOWS
BONDS
22 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
ANALISIS UTAMA
G
20 dibentuk di tahun
1999, setelah krisis
ekonomi dan keuangan
yang terjadi di Asia di ta-
hun 1997. Agenda utama
G20 pada saat itu yaitu mencegah
krisis ekonomi dan keuangan kem-
bali berulang dan mengurangi
resiko sistemik jika terjadi krisis
di kemudian hari. Pertemuan per-
tama diadakan di Berlin pada De-
sember 1999 yang dihadiri Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank Sen-
tral dari 20 negara anggota. Perte-
muan pertama menghasilkan kese-
pakatan meliputi G20 akan bekerja
dalam kerangka institusi Bretton
Woods seperti Bank Dunia, Inter-
national Monetary Fund (IMF), dan
World Trade Organization (WTO).
Ini menegaskan keberadaan G20
tidak bermaksud menggantikan
peran dari lembaga Bretton Woods
tetapi menjadi forum yang akan
mencari kesepakatan bersama jika
tidak bisa dicapai di tiga lembaga
tersebut; dan G20 akan bekerja
sama di tiga bidang yaitu investasi,
keuangan dan perdagangan.
Sampai pada tahun 2008, G20
masih sebagai forum tingkat men-
teri dan gubernur bank sentral.
Namun saat Amerika Serikat (AS)
mengalami krisis keuangan di awal
tahun 2007, Presiden Amerika Seri-
kat, George W. Bush, mengusulkan
pertemuan G20 menjadi pertemuan
kepala negara. Ini dimaksudkan
agar pertemuan menghasilkan
keputusan politik yang langsung
diambil dari kepala negara. Maka
pada bulan November 2008, ber-
langsung pertemuan pertama G20
di Washington, AS yang dihadiri
para kepala negara dari 20 negara
anggota. Pertemuan menghasil-
kan kesepakatan mengenai peng-
gelontoran stimulus fskal dari 20
negara dalam upaya membantu AS
agar tidak terjebak ke dalam krisis
yang lebih dalam. Indonesia sendiri
mengeluarkan paket stimulus fskal
sebesar Rp 74 triliun yang sebagian
besar untuk keringanan pajak dan
pembangunan infrastruktur.
Pertemuan di AS tersebut men-
jadi awal pergeseran kekuatan
ekonomi dan politik global dari se-
belumnya dikuasai G8 menjadi G20
yang di dalamnya negara-negara
emerging seperti India, China, Bra-
zil, dan Indonesia. Pergeseran ini
juga menandai perubahan peran
G20 DAN
ADVOKASI
MASYARAKAT
SIPIL
Oleh: Siti Khoirun Nimah
23
NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
G20 yang sebelumnya hanya fo-
rum setingkat Menteri Keuangan
dan Gubernur Bank Sentral men-
jadi pertemuan Kepala Negara dan
menegaskan perannya sebagai fo-
rum kerjasama ekonomi dunia (the
primier forum for international eco-
nomic cooperation).
Tanggapan Masyarakat
Sipil Global
Menanggapi situasi tersebut,
masyarakat sipil global dihadap-
kan pada dua pilihan. Pertama, me-
nolak G20 karena tidak selayaknya
agenda global ditentukan hanya
oleh 20 negara. Forum yang tepat
untuk membahas krisis keuangan
dan ekonomi global adalah Pers-
erikatan Bangsa-Bangsa. Sikap ini
menguat terutama di dua tahun
pertama G20 menjadi forum kepala
negara. Dalam berbagai pertemuan
puncak G20, pada masa itu, selalu
diwarnai dengan aksi demonstrasi
menolak G20. Masyarakat sipil dari
berbagai negara bekumpul untuk
menyerukan pembubaran G20 dan
mendorong kekuatan alternatif un-
tuk mengurangi dominasi negara-
negara maju yang ada di G20.
Namun seiring dengan mas-
uknya agenda pembangunan yang
dimulai tahun 2010, di masa keket-
uaan Presiden Korea Selatan, dan
juga realitas politik global di mana
kesepakatan G20 memiliki damp-
ak global dan tidak bisa dibiar-
kan begitu saja, maka masyarakat
sipil mulai mengusulkan agenda
yang dimasukkan di pertemuan-
pertemuan pendahuluan. Hal
inilah yang mendorong adanya si-
kap kedua yaitu masuk dalam pe-
rundingan G20 untuk mengusul-
kan agenda-agenda yang menjadi
perhatian masyarakat sipil global.
Agenda-agenda tersebut meliputi
reformasi lembaga keuangan in-
ternasional yaitu IMF, regulasi di
sektor keuangan sehingga sektor
keuangan dapat mendukung sek-
tor riil, komitmen G20 untuk men-
gurangi kesenjangan baik di dalam
negeri anggota G20 maupun anta-
ra kesenjangan di tingkat global
antara negara-negara yang terga-
bung di G20 dengan negara-negara
miskin dan berkembang, juga ker-
jasama perpajakan untuk menga-
tasi pelarian modal terutama dari
negara-negara miskin ke negara-
negara maju.
Berangkat dari situasi tersebut,
masyarakat sipil global mulai mel-
akukan koordinasi terutama den-
gan masyarakat sipil di 20 negara
untuk masuk dalam perundingan
formal. Dimulai pada tahun 2010,
ketika Pemerintah Korea Sela-
tan mengundang masyarakat sipil
untuk berdialog langsung dengan
Sherpa dari 20 negara. Berikutnya
di Meksiko, secara resmi Pemerin-
tah Meksiko menyusun mekanisme
outreach dengan masyarakat sipil.
Mekanisme ini dilakukan dengan
mengadakan beberapa kali per-
temuan antara Pemerintah Mek-
siko dengan masyarakat sipil dari
berbagai negara untuk menda-
patkan masukan dari masyarakat
sipil. Pada tahun 2012, ketika Ru-
sia menjadi ketua G20 dibentuk
sekretariat masyarakat sipil yang
dikenal dengan Civil20 (C20). C20
mengadakan pertemuan pendahu-
luan (C20 Summit) sebelum G20
Summit digelar. Usulan yang di-
hasilkan dari C20 Summit disam-
paikan langsung ke Presiden Ru-
sia selaku Ketua G20. Pada tahun
ini, Pemerintah Australia menjadi
Ketua G20. Mengikuti mekanisme
yang telah dibuat Pemerintah Rusia
sebelumnya, dalam keketuaan G20
saat ini dibuatlah C20 yang telah
mengadakan pertemuan (C20 Sum-
mit) di Melbourne pada bulan Juni
2014, sebelum diadakan G20 Sum-
mit di bulan November di tahun
yang sama.
Mengikuti mekanisme G20
24 NEWSLETTER INFID NO. 01 OKTOBER 2014
Summit di mana agenda prioritas
G20 ditentukan oleh Ketua G20
pada saat itu, demikian halnya den-
gan masyarakat sipil global. Priori-
tas agenda masyarakat sipil juga
mengikuti prioritas keketuaan G20.
Seperti ketika di tahun 2012, salah
satu prioritas Rusia yaitu kerjasa-
ma energi, maka pada kesempatan
tersebut masyarakat sipil juga me-
masukkan agenda keberlanjutan
energi. Termasuk tahun ini di mana
salah satu prioritas Australia yaitu
pertumbuhan yang kuat melalui
peningkatan investasi swasta teru-
tama untuk infrastruktur. Maka
pada tahun ini salah satu usulan
yaitu investasi dan infrastruktur.
Relevansi Advokasi G20
dengan Pembangunan
Nasional
Indonesia sejak awal terben-
tuknya G20 telah menjadi anggota
G20. Indonesia juga secara aktif
terlibat di berbagai agenda strat-
egis seperti reformasi IMF dengan
mendorong adanya kuota yang
lebih besar untuk negara-negara
miskin dan berkembang. Indonesia
juga aktif di Kelompok Kerja Pem-
bangunan. Bahkan di tahun 2013,
Indonesia menjadi Ketua Kelom-
pok Kerja Pembangunan. Sebelum
itu, Indonesia juga menjadi Ketua
Kelompok Kerja Anti Korupsi. Se-
lain aktif di berbagai kelompok
kerja, Indonesia termasuk yang
mengusulkan pembentukan FSB
(Financial Stability Board) yang
sebelumnya berbentuk FSF (Finan-
cial Stabillity Forum) yang bertu-
juan untuk menyusun kerangka
regulasi bagi sistem keuangan
global agar tahan terhadap kri-
sis. Terakhir, Indonesia aktif men-
dorong masuknya infrastruktur di
dalam pembahasan tersendiri dari
sebelumnya ada di agenda pemban-
gunan.
Melihat kiprah Indonesia di
G20, Indonesia bisa dikatakan
cukup aktif dan berada di agenda-
agenda yang strategis. Namun ini
belum cukup bagi negara sebesar
Indonesia. Ada beberapa agenda
yang bisa dilakukan Indonesia agar
kehadiran Indonesia di G20 mem-
beri manfaat bagi pembangunan di
dalam negeri dan bagi negara-ne-
gara miskin dan berkembang lain-
nya, antara lain melalui: Pertama,
Indonesia dapat mendorong G20
merumuskan agenda-agenda yang
bertujuan pada pengurangan kes-
enjangan baik antara negara maju
dengan negara miskin, maupun
penurunan kesenjangan di dalam
negeri. Salah satu sebab krisis
adalah terlalu dominannya sektor
keuangan terhadap sektor riil. Se-
mentara negara-negara miskin dan
berkembang menghadapi hambat-
an dalam pengembangan industri
manufaktur. Indonesia bisa men-
dorong G20 untuk meningkatkan
kerjasama di sektor manufaktur
sehingga pembangunan tidak lagi
bertumpu pada sektor keuangan.
Seumber-sumber keuangan yang
berada di negara maju, dapat diar-
ahkan untuk mendukung pemban-
gunan di negara-negara miskin dan
berkembang melalui penguatan
industri manufaktur. Keberhasilan
dalam mengembangkan sektor riil
dapat mendorong terciptanya lapa-
ngan kerja yang itu berarti mengu-
rangi kesenjangan akibat pengang-
guran.
Kedua, Indonesia dapat men-
dorong peningkatan kerjasama per-
pajakan terutama terkait dengan
penghindaran pajak. Selama ini In-
donesia menghadapi kesulitan ke-
tika berhadapan dengan Singapura
yang menjadi tujuan penghindaran
pajak. Melalui kerjasama perpa-
jakan, Indonesia dapat menarik
kembali uang yang ada di luar neg-
eri untuk pembangunan di dalam
negeri. Pengalaman yang sama juga
terjadi di negara-negara miskin
lainnya yang mengalami pelarian
pajak. Ketiga, Indonesia bisa me-
manfaatkan G20 untuk mengatasi
korupsi berkaitan dengan peru-
sahaan-perusahaan multinasion-
al. Adanya kesepakatan bersama
terkait dengan suap dari korporasi
akan membantu upaya penindakan
korupsi di dalam negeri.
Ketiga hal tersebut adalah
contoh pada area mana Indonesia
bisa mengambil manfaat dari ke-
hadirannya di G20. Megingat pada
dasarnya ada banyak agenda yang
bisa didesakkan di G20 terkait
dengan kepentingan nasional dan
juga bagi negara-negara miskin
dan berkembang. Maka, meskipun
kekuatan alternatif tetap diperlu-
kan untuk mengurangi dominasi
negara-negara maju terhadap ta-
tanan ekonomi dan politik global,
advokasi masyarakat sipil ter-
hadap G20 tetaplah relevan untuk
memastikan G20 tidak merugikan
kepentingan nasional termasuk
kepentingan negara-negara miskin
dan berkembang. n
ANALISIS UTAMA