Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014

|
1
PELAKSANAAN
MANDAT
GENERAL
ASSEMBLY
MEETING
INFID 2008
LAPORAN
DEWAN PENGURUS PERIODE
2009 - 2014
2
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
1
PELAKSANAAN MANDAT
GENERAL ASSEMBLY MEETING
INFID 2008
LAPORAN
DEWAN PENGURUS PERIODE
2009 - 2014
2
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
KATA PENGANTAR
Laporan ini menyajikan perjalanan dan kegiatan-
kegiatan INFID selama enam tahun sejak tahun 2009
hingga tahun 2014. Selama periode itu, pasang surut
dan pasang naik telah terjadi. Namun demikian, secara
umum dapatlah dinyatakan dengan pasti bahwa telah
banyak yang dicapai oleh INFID. Setidaknya tiga hal
penting dicatat dengan baik.
Pertama, INFID telah terlibat dan memberi kontribusi
penting dalam tema-tema advokasi besar yang
memang sedang mendunia seperti advokasi
anti ketimpangan, advokasi penyusunan agenda
pembangunan paska MDGs (post 2015).
Kedua, diperluasnya jaringan kerja internasional
INFID sesuai dengan fokusnya seperti terlibat dalam
kampanye advokasi penyusunan kesepakatan
agenda pembangunan post 2015 (Beyond2015, Asia
Development Alliance-ADA), jaringan kerja HAM dan
demokrasi di Asia (Asia Democracy Network) dan
jaringan forum NGO Internasional (IFP).
Ketiga, dilakukannya perbaikan-
perbaikan kelembagaan baik secara internal dan
eksternal untuk meningkatkan manajemen sekretariat,
keuangan, dan keberlanjutan INFID. Seiring dengan
perbaikan dan ketersediaan dana, sekretariat telah
melengkapi diri dengan tambahan tenaga dan staf.
Dalam rentang waktu itu, dua konteks patut dicatat
yaitu menurunya dukungan pendanaan dari berbagai
lembaga donor kepada kerja-kerja NGO Indonesia
terutama yang bergerak di bidang demokrasi
dan HAM. Berubahnya arena advokasi kebijakan
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
3
internasional seiring dengan krisis ekonomi dunia
2008/2009. Contohnya semakin kuatnya isu perpajakan
internasional, dan semakin kuatnya forum G20 sebagai
bentuk pengaturan baru
Sampai hari ini, lingkungan yang mendukung (enabling
environment) bagi tumbuh suburnya masyarakat sipil
yang kuat di Indonesia masih belum terjadi. Belum ada
sumbangan dan peran pemerintah yang nyata seperti
layaknya yang terjadi di Negara-negara maju dan
Negara menengah. Sampai hari ini, belum ada dukungan
kebijakan dan pendanaan bagi CSO di Indonesia.
Ke depan, saya berharap INFID lebih kuat berupaya
mengatasi masalah ini. Sebaga payung NGO di
Indonesia, INFID-lah yang memiliki mandat untuk
memperjuangkan ruang yang lebih mendukung
partisipasi dan kerelawanan warga. Hal ini kiranya bukan
mustahil karena pemerintahan baru Jokowi-JK sangat
menekankan dan mengutamakan partisipasi warga.
Akhirnya, saya menyampaikan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada tim sekretariat yang telah bekerja
bersama anggota Board untuk menyiapkan laporan ini.
Jakarta, 10 Oktober 2014
Danang Widoyoko,
Ketua Badan Pengurus
4
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
INTERNATIONAL NGO FORUM
ON INDONESIAN DEVELOPMENT
(INFID)
DEWAN PENGURUS:
Chair: J. Danang Widoyoko
Vice Chair: Antarini Pratiwi Arna
Treasurer: Farah Sofa
Member: Titus Odong Kusumajati, Josef P. Widyatmadja,
Suryati Simanjuntak, Faisal Hadi, Sartiah Yusran,
Septer Manufandu
PELAKSANA HARIAN:
Executive Director: Sugeng Bahagijo
Program Manager: Beka Ulung Hapsara
Program Ofcer G-20 & Inequality: Siti Khoirun Nimah
Program Ofcer MDGs & Post 2015: Hamong Santono
Program Ofcer Human Rights & Democracy: Hilman Handoni
Program Assistant: Jeckson Robinson
Finance & Accounting Manager: Misnawati
Finance & Accounting Ofcer: Ima Desiyanthi
Finance /Budgeting Ofcer: Nidia Viska
Ofce & Human Resource Manager: Florence
IT Ofcer: Suwarno Joyomenggolo
Operational Ofcer: Sabarno
Operational Assistant: Wasiton
Foto-foto: @dokumentasi INFID
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
5
DAFTAR ISI
05 DAFTAR ISI
07 RINGKASAN
08 Pendahuluan
08 Pengantar
08 Peran INFID di dalam Pembangunan
12 Analisa Situasi Nasional dan
Internasional
16 Mandat GAM dan Pelaksanaannya
16 Mandat GAM
17 Pelaksanaan Mandat GAM
17 Capaian Program
17 Penurunan Kemiskinan dan
Ketimpangan
19 MDGs dan Agenda Pembangunan
Pasca-2015
20 Hak Asasi Manusia (HAM) dan
Demokrasi
21 Penguatan Kelembagaan INFID
23 Kegiatan INFID
23 Penelitian dan Publikasi
24 Dialog Kebijakan, Kampanye dan
Penguatan Jaringan
25 Kelembagaan INFID
30 Keuangan INFID
32 Tantangan dan Pembelajaran
33 DAFTAR PUSTAKA
35 LAMPIRAN-LAMPIRAN
58 DAFTAR , TABEL DAN GRAFIK
6
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014 6
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
7
Laporan ini disusun sebagai pertanggungjawaban
pengurus terhadap anggota INFID. Laporan
mencoba menggambarkan capaian INFID selama
hampir enam tahun mulai 2009 sampai Juli 2014.
Selain capaian, laporan juga menggambarkan
beragam kegiatan yang dilakukan berupa
penelitian, dialog kebijakan, kampanye, penelitian
dan lain sebagainya terkait dengan advokasi INFID.
Metode yang digunakan adalah kronologis dari
yang terkini ditarik ke belakang dan disusun ke
dalam tiga bagian yaitu ringkasan, mandat GAM
dan pelaksanaanya, dan lampiran.
INFID mencatat demokrasi di Indonesia telah
meraih beragam kemajuan di bidang ekonomi,
sosial, budaya dan politik seperti berlangsungnya
pemiihan umum anggota legislatif dan presiden
di tahun ini yang berlangsung aman dan damai.
Namun pembangunan nasional menghadapi
tantangan yang tidak mudah. Tantangan tersebut
meliputi terabaikannya pemenuhan hak asasi
manusia oleh negara terhadap warganya,
meningkatnya kemiskinan dan ketimpangan, dan
kelembagaan yang korup dan tidak demokratis.
Di tingkat internasional, krisis ekonomi yang
berkepanjangan mempengaruhi eskalasi global
dan menyebabkan pergeseran kekuatan serta
melahirkan kekuatan baru seperti BRICS hingga
menguatnya regionalisme. Dalam konteks inilah,
keberlanjutan masyarakat sipil menjadi penting.
INFID dalam GAM di tahun 2008 menetapkan
tujuh mandat yang menjadi tugas pengurus dan
sekretariat. Ketujuh mandat tersebut diterjemahkan
sekretariat ke dalam empat program yaitu
Penurunan Kemiskinan dan Ketimpangan, Agenda
Pembangunan MDGs dan Pasca-2015, Hak
Asasi Manusia dan Demokrasi, serta Penguatan
Kelembagaan INFID. Empat program diwujudkan
ke dalam kegiatan-kegiatan terdiri atas penelitian
dan publikasi; dialog kebijakan, kampanye, dan
penguatan jaringan; serta kelembagaan. Secara
umum, advokasi kebijakan yang dijalankan INFID
RINGKASAN
ada yang berhasil, ada yang masih dalam proses
untuk terus diadvokasikan, namun juga ada yang
masih butuh kerja keras.
Contoh advokasi yang berhasil yaitu masuknya
ketimpangan di dalam debat politik pemilu pada
tahun 2014, diadopsinya usulan INFID untuk
memperkuat aturan perpajakan sebagai upaya
penguatan skal, diadopsinya usulan INFID
untuk diadakanya audit terhadap proyek utang
luar negeri, diadopsinya usulan INFID untuk
pengalihan utang bilateral ke kesehatan seperti
yang dilakukan pemerintah Jerman dengan debt
Swap untuk penanggulangan penyakit TBC dan
AIDS, diakuinya masyarakat sipil sebagai aktor
pembangunan sebagai bagian dari advokasi
INFID terkait dengan Efektivitas Pembangunan.
Sementara itu advokasi INFID juga masih
menyisahkan pekerjaan rumah dan membutuhkan
upaya yang lebih keras seperti efektivitas program-
program penanggulangan kemiskinan dengan
sumber pendanaan dari APBN; pemenuhan hak
asasi manusia seluruh warga negara termasuk
hak asasi perempuan, kelompok minoritas, dan
terpinggirkan; serta tersedianya lingkungan yang
mendukung bagi masyarakat sipil
Pada bagian akhir, laporan mencatat tantangan
dan pembelajaran ke depan. Ada tiga tantangan
yaitu menurunnya pendanaan bagi masyarakat sipil
akibat krisis ekonomi, adanya ancaman terhadap
masyarakat sipil oleh kelompok-kelompok
fundamentalis, dan terhambatnya proses kaderisasi
di dalam organisasi masyarakat sipil sendiri. Tiga
pembelajaran juga dicatata di dalam laporan
ini meliputi pentingnya inovasi dari masyarakat
sipil guna merespond situasi internasional
yang cepat berubah, adanya kebutuhan untuk
melakukan advokasi bagi terciptanya lingkungan
yang mendukung masyarakat sipil, dan adanya
kebutuhan mengenai penguatan dan keberlanjutan
masyarakat sipil dari dalam seperti pendidikan dan
proses kaderisasi yang tepat.
8
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
INFID
DALAM
ANGKA
TAHUN
BERDIRI
JUMLAH ANGGOTA
JUMLAH STAFF (2014)
ORGANISASI
ORANG
1985
70
14
SPESIAL KONSULTATIF
STATUS EKOSOB DI PBB 2004
TABEL 1
PENDAHULUAN
kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam skala besar.
Metode penulisan laporan menggunakan pola
kronologis yaitu perkembangan terkini ditarik mundur
ke tahun-tahun sebelumnya. Harapannya dengan
metode ini, pembaca akan mudah memahami situasi
yang paling dekat atau situasi saat ini ke situasi
sebelumnya.
Laporan dibagi ke dalam dua bagian yaitu (i)
ringkasan; bagian (ii) isi laporan meliputi pengantar
mandat GAM INFID dan implementasinya, tantangan
dan pembelajaran; (iii) lampiran-lampiran.
2. Peran INFID di dalam Pembangunan
INFID berdiri di bulan Juni 1985 yang awalnya
sebagai Forum Masyarakat Sipil Internasional yang
bekerja untuk isu pembangunan di Indonesia.
Sebelum menjadi INFID, nama yang digunakan
1. Pengantar
Laporan ini disusun setelah enam tahun sidang umum
INFID diselenggarakan pada tahun 2008. Selama
enam tahun masa kepengurusan tersebut, telah
banyak peristiwa baik nasional dan internasional,
termasuk juga dinamika di sekretariat INFID, yang
mewarnai advokasi INFID.
Selama enam tahun tersebut, telah dilakukan
berbagai kegiatan dalam rangka mencapai tujuan
yang diharapkan. Oleh karena itu, laporan ini akan
mencoba menjabarkan penggalan-penggalan
peristiwa dan juga capaian yang telah diraih INFID
dalam periode kepengurusan 2009 - 2014.
Mengingat waktu pelaporan cukup lama yaitu enam
tahun, tidak semua peristiwa akan diulas secara detail.
Demikian halnya dengan pelaksanaan kegiatan yang
tidak mungkin bisa diulas semua di dalam laporan ini.
Sehingga laporan lebih banyak mengulas capaian dan
8
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
9 9
PUBLIKASI
(BUKU, JURNAL, DLL)
ORANG
9
27
JUMLAH
PENGURUS
JUMLAH
PUBLIKASI
Jumlah hits di
Google dengan
kata kunci INFID
(dengan tambahan
tahun yg berbeda),
sampai 1-9-2014
2011:
123.000 hits
2012:
126.000 hits
2013:
229.000 hits
RP 7,1
MILIAR
RP 6,3
MILIAR
200
KEGIATAN
JUMLAH
ANGGARAN
(2014)
JUMLAH
LEMBAGA MITRA
RATA-RATA
DANA YANG
DIKELOLA
PERTAHUN
JUMLAH
KEGIATAN
2009-2014
LEMBAGA
DONOR,
LEMBAGA
ADVOKASI
5
6
INGI atau Inter-NGO Conference on IGGI Matters.
IGGI sendiri adalah forum donor yang memberikan
bantuan untuk Indonesia yang dikoordinir oleh
Menteri Pembangunan Belanda. Pada tahun 1992,
IGGI dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia dan
digantikan dengan forum baru bernama CGI
(Consultative Group on Indonesia) yang kemudian
dibubarkan di tahun 2007 oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono.
Saat ini INFID merupakan organisasi berbentuk
perkumpulan dengan anggota sebagian besar
organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Anggota
INFID terdiri atas berbagai organisasi yang bekerja di
berbagai isu seperti Hak Asasi Manusia, perempuan,
lingkungan hidup, kemiskinan, dan lain-lain. Anggota
INFID tersebar di berbagai daerah mulai dari Aceh
hingga Papua. Sementara anggota INFID dari luar
negeri tetap menjadi jaringan INFID dan menjadi
Dewan Penasehat INFID.
Peran INFID sesuai dengan visinya adalah
mewujudkan demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial
dan perdamaian serta terjamin dan terpenuhinya Hak
Asasi Manusia di tingkat nasional (Indonesia) dan
di tingkat global. Untuk mewujudkan visi tersebut,
misi yang diemban INFID yaitu 1) menumbuhkan
kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai Hak Asasi
Manusia, demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial dan
perdamaian melalui pendidikan publik; 2) Melakukan
penelitian dan kajian kebijakan, 3) melakukan dialog
kebijakan untuk mendorong terciptanya kebijakan
yang berpihak dan menjamin terpenuhinya Hak
Asasi Manusia bagi seluruh masyarakat terutama
kelompok miskin dan marjinal berdasarkan nilai-
nilai demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial dan
perdamaian; 4) bekerja sama dan melakukan jejaring
kerja membangun solidaritas sosial di tingkat nasional
dan internasional.
Program INFID dirumuskan di dalam mekanisme
tertinggi organisasi yaitu General Assembly Meeting
(GAM) yang dilaksanakan selama tiga tahun sekali.
Dalam melaksanakan program-programnya, Dewan
Pengurus (Board) dibantu oleh sekretariat. Peran
Sekretariat sendiri selain melaksanakan program
yang menjadi mandat dari GAM, juga melaksanakan
program yang menjadi hambatan dalam pencapaian
program anggota dan melakukan kampanye terhadap
isu yang anggota sulit untuk melaksanakannya sendiri.
10
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
INFID
TAHUN
6
LINTASAN
(2009-2014)
TABEL 2
JUNI
Diskusi publik
Prospek
Ekonomi
Indonesia
sebagai
Anggota G20
dan Dampaknya
Bagi Ekonomi
Riil
AGUSTUS
Menerbitkan
buku
Changing
Lives
Stories from
Indonesia
2009 2010 2011
MEI
JUNI
Seminar
Kepemimpinan
Indonesia di
ASEAN dalam
Penyelesaian
Konik Perbatan
Thailand-
Kamboja dan
Pelambana
Proses
Demokratisasi di
Burma
Konferensi
Masyarakat Sipil
Asia Pasik dengan
tema Akar Masalah
dan Dampak Krisis
MEI-JULI
Konsultasi
dengan anggota
INFID di lima
wilayah yaitu
Makassar, Medan,
Solo, Denpasar,
Pontianak, dan
Jakarta
MEI
Forum Terbuka
Masyarakat Sipil
untuk Efektivitas
Pembangunan di
Yogyakarta
MEI
Menerbitkan
Buku MDGs
as My
Development
Goals,
kerjasama
INFID
Indonesia
Berdikari -
INNINAWA
Workshop
Nasional Peta
Jalan Menuju
Busan: Peran
Masyarakat
Sipil dalam
Efektivitas
Pembangunan
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
11
2012 2013 2014
JULI
JANUARI
FEBRUARI
MARET
MEI-JUNI
AGUSTUS
NOVEMBER
Seminar PNPM dan
Efektivitas Program
Penanggulangan
Kemiskinan dihadiri
dua pembicara
internasional, Tania
Li dari Universitas
Toronto dan Toby
Carrol dari Center on
Asia and Globalization
Lee Kuan Yew of
Public Policy
Menerbitkan buku
Pembangunan
Pasca Modernis
Evaluasi dan
Lokakarya
Penyusunan
Strategi INFID
Periode 2013 -
2016
Konsultasi
Nasional
Masyarakat Sipil
untuk Agenda
Pembangunan
Pasca-2015
MARET-AGUSTUS
MARET
NOVEMBER
MOU INFID-
UNDP, DFID, ICCO
dan OXFAM/
European Union
Penyelenggara
Global CSOS
Forum and CSOs
Interface Meeting
with HLP Members
di Bali
Konferensi INFID
Pembangunan untuk
Semua
Pelatihan
Advokasi, dihadiri
25 organisasi
anggota INFID
Seminar Publik
dan publikasi
laporan penelitian
Partai Politik,
Pemilihan Umum
dan Ketimpangan
Sosial dan
Ekonomi di
Indonesia,
kerjasama INFID-
LIPI
MOU INFID-
TIFA dan
FORD
Menerbitkan
buku
Ketimpangan
Pembangunan
Indonesia
dari Berbagai
Aspek
12
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
dan budaya seperti perlindungan warga minoritas
dari ancaman belum sepenuhnya terpenuhi.
b. Meningkatnya ketimpangan. Berdasarkan
data yang ada, meskipun kemiskinan cenderung
menurun tiap tahunnya namun ketimpangan semakin
meningkat. Jika sepuluh tahun sebelumnya angka
kemiskinan mencapai 16,66% dan menurun di tahun
2014 menjadi 11,47, namun dalam dekade yang
sama ketimpangan justru meningkat tajam. Jika di
tahun 2003 rasio gini di angka 0,36, pada tahun 2013
menjadi 0,42.
c. Kelembagaan yang korup dan tidak demokratis.
Kompas (2014) mencatat selama tahun 2013,
mayoritas pemberitaan media diisi dengan berita
korupsi. Dari 180 tulisan sepanjang tahun, terdapat
43 berita yang mengulas mengenai korupsi. Mulai
dari pengungkapan kasus lama seperti Hambalang,
Bank Century, suap impor daging sapi, sampai kasus
korupsi di tahun 2014 antara lain kasus suap yang
melibatkan Ketua SKK Migas (Satuan Kerja Khusus
Minyak dan Gas), Rudi Rubiandini, dan tangkap
tangan KPK terhadap Ketua MK Akil Mochtar.
Situasi tersebut terjadi karena minimnya peran negara
di dalam pemenuhan has asasi manusia, penurunan
kemiskinan dan ketimpangan, dan penguatan
kelembagaan yang demokratis dan akuntabel.
Bisa dikatakan negara tidak hadir dalam pelayanan
kebutuhan dasar, karena selama ini bertumpu pada
pendekatan pasar (you get what you pay) ketimbang
pendekatan hak (you get what you need). Sementara
jika negara hadir dalam bentuk program-program
pemerintah, masih banyak kelemahan dalam operasi
dan kelembagaannya yang menyebabkan program
pemerintah tidak sampai, tidak tepat sasaran, atau
terlalu lemah untuk meringankan dan menolong
warga yang sedang membutuhkan.
1. Analisa Nasional
Setelah 16 tahun reformasi, demokrasi selain telah
menciptakan berbagai kemajuan namun juga
menghadapi tantangan yang tidak ringan. Terdapat
sederet kemajuan telah dicatat dalam demokrasi
di Indonesia, seperti terpilihnya Jokowi-JK sebagai
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia
2014 -2019 melalui pemilu yang aman dan damai,
adanya kebebasan berorganisasi dan menyampaikan
pendapat disertai terjaminnya kebebasan pers;
pemerintah semakin terbuka seperti anggaran
yang bisa diakses publik. Demikian halnya dalam
pembangunan ekonomi, Indonesia telah disejajarkan
dengan negara-negara emerging seperti China,
Brazil dan Rusia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia
selama sepuluh tahun terakhir rata-rata di atas 5%,
lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan global yang
berkisar 3%. Ekonomi Indonesia juga relatif stabil
dibandingkan negara-negara lain yang tengah
bergulat dengan krisis.
Namun situasi tersebut menyisahkan ironi tersendiri
manakalah indeks pembangunan Indonesia berada
pada posisi 121 dari 186 negara di dunia. Di antara
anggota ASEAN, Indonesia berada di bawah Thailand
dan Malaysia. Bahkan Indonesia berada di bawah
Palestina, sebuah negara yang tengah berkonik.
Lebih dari itu, kemajuan demokrasi dan ekonomi
menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tiga pilar
demokrasi yaitu kesetaraan, kedaulatan atau kontrol
atas sumber daya, dan inklusitas dalam berbagai
aspek pembangunan (Bethan et. al, 1994) menjadi
ujian yang sesungguhnya bagi perjalanan demokrasi
di Indonesia. Tantangan tersebut terwujud dalam tiga
aspek yaitu:
a. Terabaikannya pemenuhan hak asasi manusia
warga masyarakat oleh negara.. Berdasarkan catatan
INFID (2014), hak ekonomi seperti jaminan akan
pekerjaan yang layak bagi seluruh warga, hak sosial
ANALISA SITUASI NASIONAL
DAN INTERNASIONAL
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
13
2. Analisa Situasi Internasional
Krisis ekonomi dan keuangan yang terjadi di Amerika
Serikat di tahun 2008 dan di kawasan Uni Eropa di
tahun 2010 telah merubah tatanan ekonomi dan
politik internasional. Krisis yang hingga kini masih
berlangsung memiliki dampak yang besar bagi
tatanan ekonomi dan politik global. Selain krisis
keuangan dan ekonomi, dunia juga mengalami
beragam krisis yang tidak kalah rumitnya seperti
krisis keamanan, lingkungan, energi dan pangan.
Situasi tersebut memunculkan berbagai tantangan
yang relevan dikaji terkait dengan pembangunan di
Indonesia. Tantangan tersebut meliputi:
1. Pergeseran kekuatan dari Utara ke Selatan.
Pembentukan Bank Pembangunan dengan cadangan
dana sebesar USD 100 miliar oleh negara-negara
BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan)
yang merupakan hasil pertemuan BRICS di Fortaleza,
Brazil tahun ini menunjukkan negara-negara Selatan
muncul sebagai kekuatan baru dalam tata ekonomi
politik global. Meskipun muncul kekhawatiran
pembentukan bank baru ini akan menerapkan sistem
yang sama yang digunakan bank-bank pembangunan
sebelumnya seperti Bank Dunia dan ADB, namun
14
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
sebagian kalangan meyatakan pembentukan bank
baru sedikit banyak akan mengurangi dominasi AS
dan Uni Eropa.
Pergeseran kekuatan ini juga ditandai dengan
bergesernya G8 sebagai kekuatan dominan ke G20
yang termasuk di dalamnya negara-negera emerging
seperti Indonesia. Munculnya G20 karena negara-
negara yang tergabung di dalam G8 tidak sanggup
mengatasi krisis yang sedang melanda AS dan Uni
Eropa. Maka negara-negara G20 dilibatkan untuk
mengatasi krisis yang menjadikan G20 sebagai
kekuatan baru menggantikan G8.
Namun pergeseran ini juga menimbulkan tantangan
yang tidak mudah bagi advokasi masyarakat sipil.
Pertama, menguatnya negara-negara selatan
terutama BRICS belum diikuti dengan menguatnya
komitmen penegakan hak asasi manusia. Kedua,
negara-negara yang tergabung di BRICS belum
menunjukkan komitmen yang kuat untuk mengatasi
penyebab krisis tersebut terutama yang bersumber
dari aksi korporasi.
2. Menguatnya peran swasta di dalam
pembangunan.
Agenda Pembangunan Pasca-2015 yang saat ini
sedang dibahas PBB sejak awal mengusulkan skema
kerjasama pemerintah dan swasta (Public Private
Partnership) sebagai salah satu skema pembiayaan
pembangunan. Demikian halnya dengan G20 yang di
dalam pertemuannya tahun ini (2014), menetapkan
penciptaan lingkungan yang mendukung bagi swasta
sebagai salah satu agenda pembahasan di G20.
Menguatnya peran swasta terjadi karena krisis
ekonomi di AS dan Uni Eropa menimbulkan kerugian
yang sangat besar hingga mencapai 15,5 triliun
USD, melebihi total pendapatan AS di di tahun
2009 sebesar 13,8 triliun USD (Global Issues, 2009).
Begitu besarnya kerugian yang harus ditanggung
akibat krisis, negara-negara maju beralasan untuk
tidak memenuhi komitmen bantuannya (Ofcial
Development Assistance) dan mendorong pendanaan
yang bersumber dari sektor swasta.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena
menguatnya peran swasta jika tidak diimbangi
dengan komimen pemenuhan hak asasi manusia
baik hak sipol maupun ekosob, akan merugikan
pembangunan itu sendiri. Apalagi jika negara
menyerahkan tanggung jawabnya kepada swasta
yang nyata-nyata sebagai penyebab krisis itu sendiri.
Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah terus
mendorong negara untuk memperkuat perannya
terkait dengan pembiayaan pembangunan dan juga
memenuhi kewajibannya untuk pemenuhan hak
asasi manusia, serta mendorong komitmen swasta
terhadap pemenuhan Hak Asasi Manusia
3. Menurunnya pembiayaan pembangunan yang
bersumber dari pemerintah.
Krisis ekonomi telah merubah trend pembiayaan
untuk pembangunan. Krisis menyebabkan negara-
negara maju mengurangi komitmennya berdasarkan
Konsensus Monterrey yaitu 0,7% dari total GDP.
Berdasarkan laporan PBB (2012) hanya lima negara
yang menjalankan komitmennya yaitu Swedia,
Norwegia, Luxemburg, Denmark, dan Belanda.
Sementara sebagian besar tidak mencapai target
yang diharapkan. Secara total, ODA ditahun 2011
sebesar 0,31% dari GDP, jauh di bawah Konsensus
Monterrey sebesar 0,7% dari total GDP. Kondisi ini
menyebabkan advokasi pembiayaan pembangunan
yang bersumber dari sumber daya domestik terutama
pajak menjadi relevan.
4. Menguatnya politik kawasan.
Krisis juga menjadikan kerjasama regional
sebagai kerjasama yang strategis. Desakan untuk
meningkatkan kerjasama kawasan termasuk ASEAN
menguat seiring dengan tidak menentunya situasi
ekonomi dan politik internasional. Kerjasama yang
diharapkan bukan hanya kerjasama ekonomi dan
politik, melainkan juga sosial dan budaya. Meskipun
kerjasama ASEAN masih menghadapi banyak
tantangan seperti perebutan pengaruh antara negara
maju terhadap ASEAN, namun kerjasama kawasan
dapat memperkuat ekonomi politik di dalam negeri
jika dikelola dengan tepat dan benar.
Meskipun begitu, kerjasama kawasan menimbulkan
tantangan yang tidak mudah terutama bagi
Indonesia. Dalam beberapa kajian, Indonesia masih
tertinggal dari negara-negara lain di ASEAN. Laporan
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
15
Pembangunan Manusia tahun 2013 menyebutkan
Indonesia berada pada urutan 121, di bawah negara
ASEAN lainnya seperti Singapura (18), Malaysia (64),
dan Thailand (103). Dalam hal kemajuan tekhnologi,
Indonesia berada di bawah Malaysia, Thailand, dan
Philipina.
Di sisi lain, ASEAN juga menghadapi kendala dalam
hal penyatuan geopolitik yang hingga kini masih
terfragmentasi oleh pengaruh kekuatan di luar
ASEAN seperti China, Uni Eropa dan AS. Hal ini bisa
dilihat dari sikap negara-negara ASEAN yang tidak
sama terhadap konik di Laut Tiongkok Selatan.
Negara-negara ASEAN juga masih belum memiliki
pandangan yang sama terkait dengan pergeseran-
pergeseran kekuatan ekonomi politik global. Situasi
tersebut menjadi tantangan yang tidak mudah bagi
Indonesia terutama peran Indonesia di ASEAN.
3. Peran Masyarakat Sipil
Di dalam dunia yang multipolar ditandai dengan
menguatnya negara-negara Selatan termasuk
Indonesia, peran masyarakat sipil semakin vital.
Terutama untuk memastikan pergeseran kekuatan
dari Utara ke Selatan diimbangi dengan komitmen
pemenuhan Hak Asasi Manusia dan adanya
akuntabilitas sosial yang memadai.
Tuntutan akan pentingnya peran masyarakat sipi
seiring tuntutan dari dunia internasional terhadap
negara-negara Selatan terkait dengan pentingnya
negara-negara emerging mengambil peran di
regional dan internasional. Peran yang paling penting
dalam pandangan masyarakat sipil adalah bagaimana
negara-negara emerging mempromosikan
pemenuhan Hak Asasi Manusia di berbagai fora
internasional termasuk juga terlibat aktif di dalam
perundingan-perundingan yang berkaitan dengan
upaya bersama untuk menurunkan kemiskinan dan
ketimpangan, keberlanjutan lingkungan hidup,
dan perlindungan terhadap kelompok-kelompok
marginal dan terpinggirkan seperti perempuan,
diffable, minoritas, dan lainnya. Dalam konteks inilah,
masyarakat sipil memiliki peran yang signikan baik di
tingkat nasional maupun di internasional.
Beberapa kemenangan diraih masyarakat sipil
di internasional seperti menguatnya legistimasi
masyarakat sipil di berbagai fora-fora penting
seperti diakuinya masyarakat sipil sebagai aktor
pembangunan (tertuang di dokumen Accra Agenda
for Action/AAA), dilibatkannya masyarakat sipil di
dalam perumusan Agenda Pembangunan Pasca-2015
oleh PBB, adanya Civil20 di forum G20. Demikian
halnya di tingkat nasional, kekuatan masyarakat sipil
semakin diperhitungkan seiring dengan kualitas
demokrasi yang semakin membaik.
Namun, keberlangsungan masyarakat sipil juga
menghadapi tantangan yang tidak mudah terutama
terkait dengan lingkungan yang mendukung bagi
masyarakat sipil. Hal ini bisa dilihat dari dua hal yaitu:
1. Regulasi yang membatasi masyarakat sipil
Meskipun kualitas demokrasi yang semakin membaik,
namun aktivitas masyarakat sipil semakin dibatasi
dengan adanya UU Organisasi Massa. Laporan
CIVICUS di tahun 2013 menyebutkan masyarakat
sipil di berbagai negara menghadapi pembatasan
mulai dari kebijakan pemerintah, penodaan politik,
hingga mengalami kesulitan yang dilakukan oleh
lembaga donor (CSOs in many countries are
witnessing restrictions in their space to undertake their
work as independent development actors, resulting
from constraining government policies, regulations
and political harassment, and the impact of onerous
conditions attached to ofcial donor aid). Situasi ini
menjadi tantangan yang tidak mudah di tengah
kondisi ekonomi politik global yang tidak menentu.
2. Pendanaan
Masyarakat sipil menghadapi situasi pendanaan yang
tidak mudah karena dihadapkan pada pendanaan
yang terus menurun. Terdapat tiga hal yang menjadi
penyebab menurunnya pendanaan ini yaitu krisis
ekonomi yang hingga kini masih melanda AS dan
Uni Eropa, diakui sektor swasta sebagai aktor
pembangunan yang menyebabkan sebagian
alokasi pendanaan dilarikan ke sektor swasta, dan
perekonomian Indonesia yang dianggap sudah lebih
baik dengan menjadi negara emerging.
16
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
MANDAT GAM DAN
PELAKSANAANNYA
1. Mandat GAM
GAM yang diselenggarakan pada tahun 2008
memutuskan tujuh hal penting yang menjadi
mandat INFID untuk dilaksanakan sampai periode
kepengurusan berikutnya. Adapun ketujuh hal
tersebut meliputi:
1. INFID mendesak pemerintah baik di tingkat
nasional dan lokal untuk pemenuhan Hak Asasi
Manusia dan menggunakan seluruh mekanisme
internasional Konvensi Internasional Hak Politik
dan Konvensi Internasional Hak Ekonomi Sosial
Budaya serta memfasilitasi dan mendukung
upaya advokasi anggota dalam kerangka
instrumen HAM yang sudah diratikasi oleh
Indonesia sesuai dengan wilayah kerja anggota.
2. Mendorong komitmen global, pemerintah
nasional, dan lokal untuk mencapai tujuan
Millenium Development Goals (MDGs). Melawan
proses pemiskinan yang dilakukan oleh kekuatan
modal yang terlembagakan dalam Lembaga
Keuangan Internasional, Organisasi Internasional,
forum-forum Internasional (antara lain G7 dan G8)
dan mekanisme pasar, melalui politik utang luar
negeri dan konsensus global.
3. Menuntut terwujudnya keadilan global dalam
wujud tata ekonomi dunia yang adil.
4. Mengawal proses reformasi dan terwujudnya
kedaulatan rakyat yang hakiki, penegakan Hak
Asasi Manusia serta mewujudkan supremasi sipil.
5. Mendorong berbagai prakarsa dan upaya menuju
perubahan fundamental Politik Ekonomi ke arah
kemandirian ekonomi dengan:
Menggalang solidaritas di tingkat
internasional, regional, dan nasional untuk
melahirkan tata ekonomi alternatif dari tata
ekonomi yang saat ini berlangsung.
Memfasilitasi anggota INFID untuk
membangun gerakan masyarakat sipil guna
menumbuhkan inisiatif-inisiatif ekonomi
kerakyatan berbasis lokal.
Membangun kesadaran masyarakat terhadap
dampak negatif globalisasi ekonomi bagi
kehidupan rakyat sehari-sehari, keberlanjutan
generasi, dan kelestarian lingkungan.
6. Mendorong tanggung jawab negara dalam
pemenuhan HAM dan penyediaan layanan publik
serta melakukan upaya-upaya menghentikan
proses pelemahan negara melalui praktik-praktik
sistematis untuk mengalihkan tanggung jawab
dan kewenangan negara kepada pihak swasta
dan pasar.
7. Peningkatan kapasitas untuk mendukung
tercapainya 6 (enam) agenda advokasi di atas
dan memperkuat legitimasi produk-produk
INFID, antara lain dengan melakukan pelatihan
penelitian dan pelatihan-pelatihan lainnya.
Masih merujuk hasil GAM, ke-tujuh mandat tersebut
diselenggarakan dengan menggunakan pendekatan
dan strategi sebagai berikut:
1. Sebagai organisasi yang dibentuk untuk
mendorong model pembangunan yang
pro rakyat, INFID harus lebih strategis untuk
mengkerangkakan advokasinya dan fokus pada
advokasi model pembangunan terutama dari
sisi pembiayaan untuk pembangunan, institusi,
serta aktor yang berpengaruh dalam adopsi
model pembangunan yang tidak pro rakyat.
2. Dalam advokasinya, INFID harus menjunjung
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
17
tinggi kebhinekaan Indonesia dan kepentingan
rakyat.
3. Tentang global justice INFID perlu mendorong
kerja sama anggotanya untuk menanggapi isu-
isu yang terkait dengan kapitalisme global dan
menjadi bagian dari gerakan sosial.
4. Advokasi INFID hendaknya mencerminkan
keterlibatan anggota dalam advokasi di tingkat
lokal, nasional, regional, dan internasional.
Membangun dialog-dialog dan kerja sama, antara
lain melalui penyelenggaraan pertemuan reguler.
5. Bekerja dengan jejaring internasional dan NGO
di berbagai negara lain untuk kepentingan
advokasi. Dalam tiga tahun ke depan INFID
menambah dan memperluas jumlah anggota
(organisasi dan individu) internasional.
6. INFID membuat pilihan strategis terhadap isu
nasional dan memperkuat advokasi nasional dan
internasional untuk meningkatkan prol advokasi.
7. INFID merumuskan nilai dan budaya, dengan
mengacu nilai yang telah dirumuskan dalam
Anggaran Dasar (AD), dalam bekerja sama antara
anggota dan kerja sama dengan jejaring kerja.
Beranjak dari ketujuh mandat dan strategi yang
dijabarkan oleh pengurus INFID dan juga adanya
dinamika nasional dan internasional, INFID
menetapkan empat program yaitu Penurunan
Kemiskinan dan Ketimpangan, Agenda Pembangunan
MDGs dan Pasca-2015, Hak Asasi Manusia dan
Demokrasi, serta Penguatan Kelembagaan INFID.
Empat program inilah yang akan diurai mengenai
sejauh mana program-program tersebut mencapai
tujuannya sesuai dengan mandat dan strategi yang
ditetapkan di GAM.
2. Pelaksanaan Mandat GAM
a. Capaian Program
1. Penurunan Kemiskinan dan Ketimpangan
Program Penurunan Kemiskinan dan Ketimpangan
bertujuan untuk mendorong lahirnya kebijakan
baik peraturan maupun program pemerintah yang
sanggup dan mampu menurunkan kemiskinan
dan ketimpangan. Fokus Program ada dua yaitu 1)
pembiayaan untuk pembangunan dan 2) penurunan
kemiskinan dan ketimpangan.
Advokasi isu pertama yaitu pembiayaan untuk
pembangunan dilakukan dengan dua pendekatan
dengan capaian sebagai berikut:
a. Advokasi Kebijakan Perpajakan
Tujuannya advokasi perpajakan yaitu mendorong
sistem perpajakan yang adil, bukan saja adil bagi
si miskin tapi juga bagi si kaya, termasuk adil
bagi negara miskin. Menurut INFID, advokasi
pajak menjadi penting selain karena 75% sumber
pendanaan pembangunan berasal dari pajak,
juga Indonesia menghadapi berbagai hambatan
akibat sistem perpajakan internasional yang
tidak berpihak terhadap negara miskin dan
berkembang.
Contohnya, aturan perpajakan internasional
yang menggunakan dasar yaitu berbasis
asal perusahaan bukan berdasarkan domisili
perusahaan. Hal ini merugikan negara-negara
miskin dan berkembang karena sebagian besar
perusahaan internasional yang beroperasi
di Indonesia berasal (tercatat) di negara asal,
sehingga kewajiban pembayaran pajak bukan
di negara tempat beroperasinya perusahaan
tersebut tetapi di negara di mana perusahaan
tersebut berasal. Belum lagi potensi penerimaan
negara yang hilang akibat pelarian pajak. Advokasi
selain dilakukan di nasional terkait dengan
kebijakan perpajakan nasional juga dilakukan di
internasional melalui forum G20.
Di forum G20, INFID mendorong penerapan
prinsip-prinsip keadilan bagi negara miskin di
dalam kerjasama perpajakan. Terdapat dua usulan
kebijakan pajak yang dihasilkan INFID bekerja
sama dengan jaringan INFID yaitu peningkatan
transparansi perpajakan global termasuk dengan
memperkuat peran Indonesia dalam penindakan
praktik transfer pricing dan kerjasama dalam
pelarian pajak. Usulan ini telah disampaikan
kepada pemerintah dan juga di forum G20.
18
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
Hasil dari advokasi INFID yang dilakukan bersama
dengan anggota jaringan, saat ini isu pajak
menguat dan menjadi salah satu prioritas presiden
Joko Widodo. Pemerintah sedang mengkaji usulan
INFID beserta jaringannya seperti kenaikan pajak
orang kaya dengan penghasilan di atas Rp 500
juta per tahun, perbaikan struktur pajak, dan lain-
lain.
b. Advokasi utang luar negeri
Advokasi INFID terkait utang luar negeri bertujuan
untuk penghapusan utang tidak sah (illegitimate
debt) melalui mekanisme audit utang (debt
audit), pembatalan utang (debt cancellation),
dan pengalihan utang (debt swap). Utang yang
diadvokasi ada yang bersumber dari utang
bilateral seperti utang kapal perang bekas dari
pemerintah Jerman di tahun 1994, utang untuk
pembelian alat pemantau laut (seawatch) dan
pembangkit listrik tenaga ombak (Sea Wave
Power Plant) dari pemerintah Norwegia. Advokasi
tersebut dilakukan dengan berbagai pendekatan
mulai dari melakukan kajian terkait dengan
proyek-proyek yang dibiayai utang, kampanye luas
dengan seminar dan lain-lain, hingga melakukan
dialog langsung dengan pengambil kebijakan
seperti kementerian terkait dan anggota DPR RI.
Hasil dari advokasi utang, usulan audit utang
luar negeri diadopsi pemerintah di mana Badan
Pengawas Keuangan (BPK) telah memulai
melakukan audit utang di tahun 2010. Pemerintah
Jerman setuju melakukan debt swap sebesar USD
75 juta untuk pencapaian MDGs di Indonesia.
Pemerintah Norwegia yang setuju dengan usulan
INFID untuk mengaudit proyek-proyek yang
bersumber dari pinjaman pemerintah Norwegia.
Sementara untuk advokasi terhadap utang dari
lembaga keuangan multilateral yaitu Bank Dunia
dan Asian Development Bank (ADB), selain
dengan pendekatan proyek seperti advokasi
terhadap Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) dari Bank Dunia, juga
melakukan advokasi terhadap utang-utang yang
bertujuan untuk perubahan kebijakan terutama
utang untuk perubahan iklim. Advokasi INFID yang
dilakukan bersama anggota dan jaringan berhasil
mendorong pemerintah untuk tidak menggunakan
dana utang untuk pembiayaan perubahan iklim.
Selain itu, keberhasilan advokasi INFID terkait
dengan lembaga keuangan multilateral yaitu
lembaga-lembaga ini setuju dan menjadi bagian
di dalam efektivitas bantuan untuk pembangunan
seperti kepemilikan negara yang demokratis
(democratic country ownership) di mana negara
penerima utang luar negeri menjadi penentu
bagaimana dan untuk apa utang luar negeri akan
digunakan tanpa ada persyaratan (conditionality).
Sementara capaian advokasi terkait dengan upaya
penurunan kemiskinan dan ketimpangan di nasional
dan internasional meliputi:
a. Advokasi penurunan kemiskinan berfokus pada
PNPM dan mendorong penguatan ekonomi
rakyat. Advokasi bertujuan untuk meningkatkan
anggaran untuk penanggulangan kemiskinan
dari skal dan mengurangi sumber pembiayaan
dari utang luar negeri, juga meningkatkan
efektivitas program-program penanggulangan
kemiskinan. Capaian advokasi INFID terkait
dengan PNPM meliputi skema akuntabilitas sosial
di mana masyarakat ikut berpartisipasi dalam
pengawasan program diadopsi oleh pemerintah,
namun tuntutan INFID terkait dengan sumber
pembiayaan program penurunan kemiskinan dari
dalam negeri dan PNPM benar-benar bertujuan
untuk pemberdayaan masyarakat ketimbang
pembangunan infrastruktur tidak berhasil.
Advokasi dilakukan bersama anggota dan
jaringan dengan membuat studi-studi mengenai
PNPM sebagai bagian dari akuntabilitas sosial
dan untuk mendorong efektivitas program
penanggulangan kemiskinan yang partisipatif.
Penguatan ekonomi rakyat merupakan mandat
dari GAM dan juga hasil sekretariat INFID ke
anggotanya di tahun 2009. Advokasi INFID menitik
beratkan pada peran investasi dan perbankan
dalam mendukung ekonomi rakyat. Advokasi
didukung penelitian mengenai studi tentang
INCO di Sulawesi Tengah yang meneliti manfaat
investasi swasta bagi penguatan ekonomi rakyat
di kawasan sekitar investasi dan peluang serta
tantangan pembangunan ekonomi oleh kelompok
perempuan di Jawa Timur.
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
19
b. Advokasi ketimpangan dilakukan mulai tahun
2013 dengan tujuan adanya kebijakan baik
di nasional dan internasional yang sanggup
menurunkan ketimpangan pendapatan dan
kesempatan. Di tingkat nasional, advokasi
dilakukan dengan mengadakan rangkaian
dialog dengan berbagai pihak seperti dialog
dengan anggota dan jaringan INFID, akademisi,
pemerintah, dan parlemen untuk menjadikan
masalah ketimpangan sebagai masalah yang
harus dipecahkan terutama oleh pengambil
kebijakan. INFID juga ambil bagian dalam proses
penyusunan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 20142019 melalui
upaya sistematis dengan memasukkan usulan-
usulan kebijakan terkait dengan penurunan
ketimpangan.
Selain itu, INFID bekerja sama Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga membedah
peran partai politik dalam ketimpangan dengan
menerbitkan buku berjudul Partai Politik dan
Ketimpangan di Indonesia. Advokasi ketimpangan
selain ditujukan kepada pemerintah terutama
kementerian terkait juga kepada partai politik.
Di tingkat internasional, ada dua fora yang
dipengaruhi INFID terkait dengan masalah
ketimpangan yaitu G20 dan Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB). Untuk G20, selain INFID bekerja
sama dengan anggota dan jaringan di nasional,
juga bekerja sama dengan jaringan internasional
terutama untuk mendesak masuknya prinsip
inklusif dalam kerangka G20 dan juga dalam
penyusunan agenda ekonomi global.
Capaian advokasinya, di tingkat nasional, tema
ketimpangan telah menjadi debat terbuka
bahkan dibahas dalam debat pemilihan presiden
yang baru berlangsung, sementara capaian di
internasional, isu ketimpangan sudah menjadi
salah satu agenda pembahasan di pembangunan
pasca-2015.
2. MDGs dan Agenda Pembangunan Pasca-2015
MDGs tinggal satu tahun lagi (2015). Sementara dunia
global menghadapi masalah pembangunan yang
kian berat. Meskipun kemiskinan ekstrem telah diatasi
dengan menurunkan setengah dari total penduduk
miskin, namun ketimpangan meningkat tajam.
Bukan hanya ketimpangan di dalam negara, juga
ketimpangan antar negara.
Belum lagi masalah-masalah lain seperti bencana
akibat perubahan iklim, pengangguran karena
krisis ekonomi, hingga makin terpinggirkannya
kelompok-kelompok minoritas akibat konik politik,
ekonomi, sosial dan budaya. Guna melanjutkan
komitmen global untuk mengatasi masalah-
masalah pembangunan, PBB menyusun agenda
pembangunan pasca-2015.
Berkaitan dengan situasi tersebut, INFID melakukan
advokasi terkait dengan pencapaian MDGs dan
penyusunan agenda pembangunan pasca MDGs.
Advokasi bertujuan untuk mendorong pencapaian
MDGs dan memastikan agenda pembangunan
pasca-MDGs lebih baik dalam menjawab masalah
pembangunan. Advokasi MDGs dan Agenda
Pembangunan Pasca-MDGs fokus pada 1)
mendorong komitmen global dan pemerintah
nasional untuk mencapai tujuan MDGs, 2) mengawal
proses penyusunan agenda pembangunan
pasca-2015 untuk memastikan usulan masyarakat sipil
diadopsi di dalam agenda tersebut.
a. Advokasi INFID terkait dengan MDGs yaitu
mendorong komitmen global dan pemerintah
nasional untuk mencapai tujuan MDGs.
Sampai tinggal satu tahun lagi MDGs
dilaksanakan, Indonesia masih harus bekerja
keras untuk tujuan penurunan kematian ibu
melahirkan, penurunan laju penggundulan hutan,
dan penyediaan sanitasi yang layak. Sementara
pemerintah mengklaim tujuan pembangunan
lainnya telah tercapai. Dalam rangka mendorong
pemerintah untuk kerja keras mencapai MDGs,
advokasi INFID dilakukan dengan pengumpulan
bukti-bukti di lapangan. Bukti-bukti tersebut
tertuang dalam publikasi INFID berjudul Mari
Bicara Fakta: Catatan Masyarakat Sipil atas Satu
Dekade Pelaksanaa MDGs di Indonesiayang
diterbitkan tahun 2012. Selain itu, INFID juga
melakukan investigasi mengenai penyebab
tingginya angka kematian ibu.
20
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
Bukti-bukti tersebut menjadi basis advokasi
untuk menunjukkan pekerjaan rumah yang harus
dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai
tujuan MDGs. Selain itu, INFID juga terus menerus
menyuarakan komitmen global terkait dengan
bantuan dari negara-negara maju ke negara-
negara miskin dan berkembang sebesar 0,7%
dari total GDP. Namun sebagaimana laporan PBB,
kerjasama global di dalam tujuan ke-delapan tidak
dilaksanakan sesuai janjinya. Hanya beberapa
negara yang menjalankan komitmen tersebut,
sementara sebagian besar belum memenuhi
janjinya.
b. Advokasi kedua terkait dengan MDGs yaitu
mengawal usulan masyarakat sipil dalam proses
penyusunan agenda pembangunan pasca MDGs
padai tahun 2015. Advokasi ini bertujuan untuk
mendorong model pembangunan yang inklusif
dan berkelanjutan dengan memastikan usulan
masyarakat sipil ada di dalamnya. Advokasi ini
telah dimulai sejak wacana model pembangunan
pasca MDGs dibahas terutama di tingkat
internasional.
Dalam hal ini, INFID terlibat aktif di forum-
forum internasional seperti hadir di Regional
Conference on New Development Models yang
berlangsung di Bangkok tahun 2011. Juga
terlibat aktif di nasional untuk mendiskusikan
mengenai agenda Konferensi Pembangunan
Berkelanjutan di Rio pada tahun 2012 atau dikenal
dengan Rio+20. Pada saat yang sama INFID juga
melakukan identikasi mengenai model-model
pembangunan yang berhasil di mata masyarakat
melalui penerbitan buku My Development Goals.
Selain itu, INFID ambil bagian di dalam konsultasi
yang diselenggarakan oleh PBB di mana pada
tahun 2013, INFID menjadi penyelenggara
dalam konsultasi masyarakat sipil global
yang dilaksanakan di Bali bersamaan dengan
diselenggarakannya Pertemuan Panel Tingkat
Tinggi PBB untuk Agenda Pembangunan
Pasca-2015.
INFID juga menjadi bagian dari advokasi
masyarakat sipil global yaitu Beyond2015. Saat ini
INFID duduk sebagai anggota Steering Committee
dari Beyond2015 untuk Asia Pasik. Adapun
usulan INFID di dalam agenda pembangunan
pasca-2015 yaitu 1) penurunan ketimpangan
sebagai tujuan tersendiri, bukan cross-cutting
issue, 2) keadilan terutama di mata hukum bagi
seluruh warga dunia, dan 3) pemerintahan
yang terbuka sebagai mekanisme akuntabilitas
pelaksanaan agenda pembangunan pasca-2015.
3. Hak Asasi Manusia (HAM) dan Demokrasi
Selain mandat GAM yang secara jelas meminta INFID
mendesak pemerintah untuk pemenuhan Hak Asasi
Manusia dan menggunakan seluruh mekanisme
internasional Konvensi Internasional Hak Politik dan
Konvensi Internasional Hak Ekonomi Sosial Budaya,
juga karena demokrasi yang ada belum sepenuhnya
menjawab pemenuhan hak asasi manusia.
Adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok
minoritas seperti pembiaran yang dilakukan negara
terhadap perusakan tempat ibadah kelompok-
kelompok minoritas, hilangnya tempat tinggal karena
kemiskinan yang ekstrim, buruknya kualitas layanan
kesehatan yang diterima masyarakat, hingga anak-
anak putus sekolah karena tiadanya biaya sekolah.
Advokasi terkait dengan pemenuhan HAM dan
Demokrasi INFID bertujuan untuk mendorong
pemenuhan hak sipol dan ekosob negara kepada
warganya. Program dibagi ke dalam empat isu yaitu
1) mendorong pemenuhan HAM baik sipil politik
(sipol) dan ekonomi, sosial dan budaya (ekosob)
dengan menggunakan seluruh mekanisme konvensi
internasional, 2) mendorong reformasi sektor
keamanan (security sector reform), 3) mendorong
pelaksanaan HAM di ASEAN, 4) memperkuat
kapasitas masyarakat dalam pemenuhan HAM melalui
penguatan akuntabilitas sosial. Di luar empat isu
tersebut, INFID juga aktif mendorong supremasi sipil
di pemilu 2014 dengan mengeluarkan pernyataan
sikap menolak calon presiden pelanggar HAM
bersama anggota dan jaringan INFID. Capaian
program HAM dan Demokrasi meliputi:
a. Advokasi mendorong pemenuhan HAM baik
sipol maupun ekosob dilakukan bersama-sama
oleh INFID dengan anggota dan jaringan.
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
21
INFID yang memiliki special status on ecosob di
PBB menggunakan status Ekosob INFID untuk
advokasi langsung di PBB. Sementara advokasi
yang sifatnya sektoral di nasional dilakukan oleh
anggota dan jaringan INFID. INFID berhasil
menyusun laporan pelaksanaan hak ekosob yang
disampaikan di dalam Sidang Umum PBB pada
tahun 2014 bekerja sama dengan anggota dan
jaringan INFID.
Dalam laporan tersebut, INFID memberikan
perhatian terhadap pemenuhan hak-hak ekosob
seperti perlindungan terhadap minoritas, hak
kesehatan, hak atas pekerjaan, dan hak ekosob
lainnya. Selain itu, INFID juga melakukan studi
mengenai kelaparan di Yahukimo, Papua pada
tahun 2009. Studi yang merupakan kerjasama
antara INFID dengan Fokker LSM Papua mencoba
mengungkap bencana kelaparan di Yahukimo
dan mengadvokasi pemenuhan hak ekosob
masyarakat Yahukimo.
INFID dalam tiga tahun terakhir juga memberikan
perhatian terhadap pemenuhan hak sipol dan
ekosob kelompok-kelompok menoritas dan
mendorong pengakuan dan perlindungan
kelompok minoritas di dalam agenda-agenda
pembangunan nasional dan internasional.
b. Reformasi sektor keamanan diprioritaskan pada
reformasi kepolisian dan akuntabilitas Tentara
Nasional Indonesia (TNI). Advokasi INFID telah
berhasil mendorong lahirnya Peraturan Kapolri
No 8 Tahun 2009 mengenai Implementasi Prinsip
dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas
Kepolisian Republik Indonesia yang diterbitkan
pada 22 Juni 2009. Terkait dengan hal ini, usulan
INFID yaitu panduan bagi personel kepolisian
untuk pelaksanaan prinsip dan standar HAM
di dalam penyelenggaraan tugas Kepolisian
Republik Indonesia berhasil terintegrasi ke
dalam peraturan tersebut. Selain itu, diterimanya
usulan INFID mengenai pola sosialisasi dan
implementasi Perkab HAM serta peran masyarakat
sipil dalam mengawasi pelaksanaan Perkab No
8 tahun 2009. Khusus untuk akuntabilitas TNI,
INFID bersama anggota dan jaringan mendorong
adanya keterbukaan dan akuntabilitas TNI di
bidang penganggaran dan pertanggungjawaban
keuangan, termasuk mendorong terwujudnya
pengalihan bisnis militer dan penghentian
berbagai bentuk bisnis illegal.
c. Advokasi dalam rangka memperkuat
pemenuhan HAM di ASEAN dilakukan dengan
dua pendekatan. Pendekatan pertama yaitu
INFID mendorong optimalisasi peran ASEAN
Intergovernmental Comission on Human Rights
(AICHR) agar mekanisme pengawasan HAM
di ASEAN berjalan maksimal. Hal ini dilakukan
dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, dalam
periode tiga tahun sebelumnya fokus advokasi
INFID terkait dengan ASEAN yaitu adanya
kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan
untuk kawasan. Advokasi ini dilakukan dengan
bersama IGJ mengajukan gugatan ASEAN Charter
ke Mahkamah Konstitusi (MK) di tahun 2011,
bertepatan dengan posisi Indonesia sebagai ketua
ASEAN. Dasar gugatannya adalah ASEAN Charter
tidak memberikan keuntungan ekonomi bagi
Indonesia. Namun gugatan ini ditolak oleh MK.
d. Penguatan masyarakat untuk pemenuhan HAM
melalui melalui metode akuntabilitas sosial
betujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat
dalam memastikan pemenuhan hak mayarakat
terkait dengan program-program pembangunan
di daerah. Media untuk membangun akuntabilitas
yaitu melalui forum warga. Forum ini merupakan
media untuk menagih janji program-program yang
terkait langsung dengan kepentingan masyarakat
seperti pendidikan dan kesehatan.
Advokasi dilakukan di empat kabupaten yaitu
Jember (Jawa Timur), Morowali (Sulawesi Tengah),
Pangkep (Sulawesi Selatan), dan Lebak (Banten).
Advokasi dilakukan bersama-sama anggota
seperti Yayasan Tanah Merdeka Sulawesi Tengah,
Cakrawala Timur untuk Jawa Timur dan jaringan
INFID yaitu BAITS untuk Banten dan AcSI untuk
Sulawesi Selatan.
4. Penguatan Kelembagaan INFID
Program keempat INFID berkaitan dengan mandat
GAM yaitu INFID melakukan peningkatan kapasitas
untuk mendukung tercapainya agenda advokasi
22
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
TABEL 3. GARIS BESAR USULAN KEBIJAKAN INFID 2012-2014
Program Usulan Kebijakan Lap/Publikasi/Pernyataan
HAM dan Demokrasi Cetak Biru Kota dan Kab Ramah Ham di
Indonesia (Human Rights Cities)
Perkuat Tindakan dan Kebijakan Negara
mencegah Intoleransi
Mengusulkan Calon Presiden Bukan Pelanggar
HAM
Keadaan Kebebasan
beragama di Indonesia
Release Koalisi
Masyarakat Sipil
Melawan Lupa, 25 April
2014
Ketimpangan Penurunan Ketimpangan sebagai indikator
keberhasilan pembangunan dalam RPJM
Perubahan kebijakan Pajak Pajak untuk
Superkaya (PPh).
Penurunan/Penghentian Pelarian Dana Pajak ke
LN (Transfer Pricing)
Partai Politik perlu memiliki agenda menurunkan
Ketimpangan
Analisis INFIDNo
2: Ketimpangan
Pembangunan di segala
aspek Pembangunan
MDGs Penurunan Ketimpangan di Indonesia
Penurunan Angka Kematian Ibu
Pemenuhan dan Jaminan Hak-Hak Disabilitas
Jaminan sosial untuk semua
Pemerintahan Terbuka (Open Government)
terlembaga (transparansi, antikorupsi dan
akuntabel)
Penurunan Pelarian Pajak ke LN sebagai target
dan indikator pembangunan
Analisis INFID No 2:
Pajak untuk Superkaya
Jalan Berliku Menurunkan
AKI
Keberlanjutan CSO Dukungan dana dari anggaran APBN krn
Indonesia negara Middle Income
Pembentukan Kantor/Unit kerja untuk Partisisapsi
dan CSO
Presentasi INFID di New
York Sept 2013
dan memperkuat legitimasi produk-produk INFID.
Secara khusus, mandat ini didasarkan pada kondisi di
mana INFID sebagai perkumpulan dalam melakukan
advokasi hendaknya mencerminkan keterlibatan
anggota sehingga advokasi bisa efektif. Selain itu,
INFID juga diharapkan melakukan advokasi yang
mendukung penguatan kapasitas masyarakat sipil di
dalam pembangunan.
Mandat GAM tersebut dilaksanakan dengan fokus di
dua area yaitu 1) penguatan partisipasi anggota, 2)
mendorong lingkungan yang mendukung (enabling
environment) bagi masyarakat sipil. Adapun capaian
dari dua fokus tersebut meliputi:
a. Penguatan partisipasi anggota telah menjadi
komitmen bersama. Namun pelaksanaannya
tidaklah mudah.Pada tahun 2013, sekretariat
menyelenggarakan konsultasi nasional dengan
tujuan untuk mendapatkan masukan dari anggota
INFID terkait dengan advokasi penurunan
ketimpangan. Dari e-survei yang diselenggarakan,
hanya 26 anggota INFID yang merespon dan
mengembalikan kuisioner. Meskipun begitu
berbagai strategi-strategi dilakukan sekretariat
seperti: 1) mengumpulkan masukan dari anggota
INFID dengan mengadakan konsultasi di enam
wilayah yaitu Makassar untuk anggota INFID di
Sulawesi, Papua, dan Kalimantan; Medan untuk
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
23
anggota INFID di Sumatera; Solo untuk anggota
INFID di Jawa kecuali Jabodetabek (Jakarta-Bogor-
Tangerang-Bekasi); Pontianak untuk anggota
INFID di Kalimantan, dan Jakarta untuk anggota
INFID di Jabodetabek. Konsultasi tersebut
dilaksanakan tahun 2009.
Konsultasi kedua dilaksanakan di tahun 2013
berkaitan dengan rencana advokasi INFID untuk
penurunan ketimpangan dengan menggunakan
metode campuran seperti survei, wawancara
langsung dan diskusi terarah. 2) mengadakan
pelatihan advokasi di Yogyakarta pada tahun 2014
dihadiri oleh 25 anggota INFID dari berbagai
daerah. 3) Sharing informasi terkait dengan
kegiatan advokasi INFID. Dan yang paling penting
diupayakan INFID adalah dengan melibatkan
anggota INFID di dalam kegiatan advokasi.
Termasuk mengirim anggota ke berbagai
pertemuan baik nasional maupun internasional
terkait dengan advokasi yang INFID sedang
kerjakan.
Selain itu, pasca 2012 sekretariat telah dokumen
Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk
meningkatkan kualitas advokasi kebijakan dan
kelembagaan. Terdiri atas (1) SOP Penelitian dan
Advokasi Kebijakan,(2) Akuntabilitas Kelembagaan
dan Kode Etik, (3) SOP Keuangan.
b. Advokasi kedua terkait dengan mendorong
lingkungan yang mendukung bagi masyarakat
sipil. Advokasi ini dilakukan sebagai bentuk
tanggung jawab INFID untuk memastikan adanya
dukungan negara terhadap masyarakat sipil.
Lingkungan yang mendukung tersebut meliputi:
(1) adanya regulasi yang tidak membatasi
kegiatan masyarakat sipil, (2) adanya dukungan
pendanaan dari negara, (3) adanya perlindungan
terhadap masyarakat sipil dari ancaman
kelompok-kelompok yang anti demokrasi, dan
(4) adanya dukungan peningkatan kapasitas
dari negara. Namun sayangnya, advokasi INFID
belum berhasil karena aturan yang ada yaitu UU
Ormas malah membatasi ruang gerak masyarakat
sipil, tidak adanya dukungan pendanaan karena
UU Keuangan tidak memungkinkan negara
memberikan dukungan keuangan langsung
ke masyarakat sipil, adanya masyarakat sipil
yang mendapatkan ancaman karena kegiatan
advokasinya, juga tiadanya dukungan peningkatan
kapasitas dari negara.
Advokasi terkait dengan lingkungan yang
mendukung bagi masyarakat sipil berangkat dari
advokasi INFID mengenai efektivitas yang mulai
dilakukan pada tahun 2008. Advokasi tersebut
berangkat dari dokumen berjudul Accra Agenda
for Action (AAA) yang memberi pengakuan
masyarakat sipil sebagai aktor pembangunan.
Oleh karena itu negara memiliki kewajiban untuk
menciptakan lingkungan yang mendukung bagi
masyarakat sipil. Pada tingkat nasional, terkait
dengan pendanaan telah dihasilkan Peraturan
Presiden No 80 tahun 2011 mengenai Dana
Perwalian. Dalam Perpres tersebut, masyarakat
sipil berhak menerima pendanaan dari negara,
namun dengan catatan harus melalui kementerian
terkait. Perpres ini tidak maksimal untuk dijalankan
karena UU Keuangan no. 17 tahun 2003 secara
jelas menyebutkan pengelola keuangan adalah
pemerintah.
B. Kegiatan INFID
Guna mendukung pencapaian advokasi INFID
seperti yang diuraikan sebelumnya, INFID melakukan
beragam kegiatan. Secara garis besar, kegiatan dibagi
menjadi tiga yaitu:
1. Penelitian dan Publikasi
Penelitian INFID berfokus di tiga tema yaitu
penurunan kemiskinan dan ketimpangan, pencapaian
MDGs dan agenda pembangunan pasca-2015,
Pemenuhan HAM dan Demokrasi. Contoh penelitian
INFID seperti trend dan kebijakan terkait dengan
ketimpangan di Indonesia, pencapaian MDGs
terutama tujuan menurunkan angka kematian ibu,
situasi kebebasan beribadah dan beragama di
Indonesia dalam kurun 2010-2013.
INFID telah menerbitkan 26 publikasi baik dalam
bentuk buku, laporan penelitian, hingga jurnal analisis
dari 2008 sampai 2014. Pada tahun 2014 sampai
di bulan Juni 2014, INFID menerbitkan delapan
publikasi. Lima di antaranya mengenai ketimpangan
24
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
berkaitan dengan G20, kebijakan pajak, dan partai
politik. Dua publikasi lainnya mengenai kebebasan
beragama di Indonesia dan laporan dari advokasi
INFID mengenai akuntabilitas sebagai bentuk
implementasi HAM. Dan satu mengenai laporan
masyarakat sipil berkaitan dengan pelaksanaan hak
Ekosob.
Pada tahun 2013, terdapat lima publikasi yang tiga di
antaranya berkaitan dengan agenda pembangunan
pasca-2015, dan dua lainnya terkait dengan G20. Dua
tahun berturut-turut mulai dari 2012 hingga 2011,
setiap tahun INFID mengeluarkan empat publikasi.
Publikasi paling sedikit di tahun 2009 yang hanya
ada satu publikasi mengenai utang tidak sah dari
pemerintah Norwegia kepada Indonesia.
2. Dialog Kebijakan, Kampanye dan Penguatan
Jaringan
Lebih dari 200 kegiatan dilaksanakan selama enam
tahun terakhir untuk mencapai target advokasi.
Kegiatan yang diselenggarakan bermacam-macam
seperti seminar, lokakarya, diskusi terbatas, dan
lain-lain. Dari serangkaian kegiatan tersebut, INFID
menyelenggarakan enam kegiatan besar yaitu
kegiatan yang membutuhkan sumber daya besar
baik sumber dana maupun sumber daya manusia
karena prosesnya yang panjang, melibatkan berbagai
pihak, dan cakupan kegiatannya luas (daftar kegiatan
terlampir). Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:
a. Seminar publik mengenai partai politik, pemilihan
umum, dan ketimpangan sosial dan ekonomi di
Indonesia dilaksanakan pada tanggal 27 Maret
2014. Kegiatan terselenggara atas kerjasama
INFID dengan LIPI yang selama beberapa
bulan sebelumnya melakukan penelitian
mengenai partai politik dan komitmennya
terhadap penurunan ketimpangan. Kegiatan
diselenggarakan dengan tujuan untuk
menyampaikan ke publik hasil penelitian sekaligus
mendapatkan masukan untuk penyempurnaan
penelitian.
PUBLIKASI
INFID
GRAFK 1.
1
5 5
8
4 4
2009 2012 2011 2013 2010 2014
26
= 1 PUBLIKASI
KETERANGAN
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
25
b. Tahun 2013 diisi dengan tiga kegiatan besar
yang kesemuanya berkaitan dengan MDGs
dan Agenda Pembangunan Pasca-2015. (i)
Konferensi INFID dengan tema Pembangunan
untuk Semua diselenggarakan pada November
2013. Konferensi yang berlangsung dua hari
menghadirkan narasumber dari berbagai
kalangan mulai dari pemerintah, swasta,
universitas, dan masyarakat sipil. (ii) Forum
Masyarakat Sipil Global mengenai Agenda
Pembangunan Pasca-2015 di Bali pada tanggal
24 sampai 25 Maret 2013. Kegiatan yang dihadiri
lebih dari 300 peserta dari berbagai negara di
Indonesia bertujuan untuk merumuskan usulan
masyarakat sipil terkait dengan pertemuan Panel
Tingkat Tinggi Agenda Pembangunan Pasca-2015.
(iii) Konsultasi Masyarakat Sipil untuk Agenda
Pembangunan Pasca-2015 yang dihadiri lebih dari
100 organisasi masyarakat sipil se-Indonesia.
c. Seminar mengenai PNPM pada bulan Juli
2012 merupakan rangkaian dari advokasi
INFID terkait dengan efektivitas program-
program penanggulangan kemiskinan. Seminar
dilaksanakan setelah INFID bersama anggota
seperti KSPPM, YTM dan YAO Kupang beserta
jaringan seperti FPPD, FIK Ornop Makassar,
Konsepsi NTB. Seminar menyampaikan hasil-
hasil kajian yang ada dan menghadirkan dua
narasumber dari Kanada dan Singapura yaitu Tania
Li dan Toby Carrol.
d. Pada bulan Mei 2010, INFID bekerja sama dengan
jaringan mengadakan forum terbuka mengenai
efektivitas pembangunan. Acara digelar di
Yogyakarta dihadiri oleh anggota dan jaringan
dari berbagai daerah di Indonesia. Forum ini
merupakan bagian dari advokasi INFID terkait
dengan utang luar negeri.
Sementara itu, berkaitan dengan pernyataan sikap
yang dikeluarkan INFID. Secara kuantitas, INFID
mengalami fase naik turun dalam enam tahun ini. Ini
bisa dilihat dari grak di bawah. Selama enam tahun,
jumlah pernyataan sikap paling banyak dikeluarkan
di tahun 2009 sebanyak 16 pernyataan. Sementara
periode paling rendah terjadi pada tahun 2011
dan 2012 ketika hanya ada dua pernyataan yang
dikeluarkan INFID. Setelah fase tersebut, terjadi fase
kenaikan meskipun berlahan.
Dari sisi materi yang disampaikan, pernyataan
sikap INFID mencerminkan advokasi yang
sedang dikerjakan. Semisal di tahun 2014, INFID
mengeluarkan pernyataan sikap mengenai
ketimpangan bertepatan dengan saat-saat pemilu.
Sementara itu, pada tahun 2013 lima pernyataan
sikap yang dikeluarkan semuanya membahas Agenda
Pembangunan Pasca-2015. INFID juga beberapa
kali mengeluarkan pernyataan sikap terkait dengan
upaya penghapusan utang. Sementara itu, dari 42
pernyataan sikap yang dikeluarkan antara tahun 2009
sampai 2014, pernyataan sikap INFID mengenai
bantuan langsung tunai mendapat perhatian paling
tinggi dari media.
C. Kelembagaan INFID
Berikut gambaran mengenai perkembangan
kelembagaan dan penguatan kapasitas INFID.
1. Struktur sekretariat INFID saat ini dengan jumlah
staf sekretariat sebanyak 13 orang. Staf terdiri atas
7 staf program dan 6 staf administrasi dengan
komposisi 5 orang perempuan dan 8 orang laki-
laki.
2. Pada bulan Juni 2012 terjadi pergantian
Direktur Eksekutif dari Sdr. Don K. Marut ke Sdr.
Sugeng Bahagijo. Pergantian ini tidak serta merta
mengubah arah advokasi INFID karena basis
advokasi berdasarkan mandat anggota melalui
GAM juga masukan dari Dewan Pengurus.
3. Berkaitan dengan reposisi tersebut, pada
Januari 2013 diselenggarakan evaluasi kinerja
INFID. Evaluasi dilakukan karena ada beberapa
kelemahan dalam advokasi INFID seperti desain
program yang tidak mempertimbangkan sumber
daya internal, fokus advokasi yang melebar yang
bukan saja di nasional dan internasional, tapi
melakukan advokasi di daerah. Hasil evaluasi
digunakan untuk memperkuat kinerja advokasi
INFID berikutnya.
4. Pertemuan pengurus dilakukan secara reguler.
Pertemuan pengurus harian dilakukan sedikitnya
26
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
2009 2010 2011 2012 2013 2014
16
JUMLAH
11
2 3
5
6
GRAFIK 2. JUMLAH PERNYATAAN SIKAP INFID PER TAHUN
KETERANGAN:
TABEL 4. EVALUASI KINERJA DAN INDIKATOR KINERJA INFID
CATATAN
EVALUASI
KINERJA
INFID, 2013
INDIKATOR
KINERJA
INFID
Perlunya memperkuat relasi INFID dengan jaringan
internasional
Adanya kebutuhan untuk meningkatkan reputasi, legitimasi
dan kredibilitas INFID
Harus adaptif terhadap perubahan terutama setelah
dibubarkannya CGI di tahun 2007, 2009 dengan Jakarta
Commitment, 2008 dengan G20 Summit di Washington
dimana INFID perlu mencerminkan adanya perubahan
tersebut
Perlunya pendalaman pengetahuan dan peningkatan
komunikasi gagasan INFID dengan publik dan anggota INFID
Diperlukan standar minimal advokasi INFID
Terpublikasikannya empat kajian berbagai topik setiap tahun
Teralokasikannya 30% Anggaran tahunan lembaga untuk
kegiatan riset/kajian
Meningkatnya kapasitas riset diantara staff INFID, mitra kerja
dan anggota INFID
Tersusunnya SOP riset/kajian INFID yang terus diperbaharui
sesuai kebutuhan
Tersusunnya baseline data tentang ketimpangan pendapatan,
HAM (Hak Sipil Politik dan Ekonomi Sosial Budaya) di
Indonesia setiap tahunnya
Tersusunnya kertas posisi INFID untuk isu-isu dalam G20, Post
2015 Development Agenda, ASEAN, pendanaan CSO, dan
lain-lain
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
27
sekali dalam dua bulan. Sementara pertemuan
pengurus secara keseluruhan (full board
meeting) dilakukan dua kali. Pertemuan pertama
berlangsung di Jakarta pada Juni 2010 membahas
perkembangan advokasi INFID dan rencana
program INFID periode 2010-2012. Pertemuan
kedua juga berlangsung di Jakarta bersamaan
dengan Konferensi INFID di tahun 2013.
Pertemuan membahas perkembangan advokasi
INFID.
5. Selain itu, selama periode 2012-2014, Sekretariat
juga melaksanakan penguatan kelembagaan,
mulai dengan pembuatan dokumen SOP hingga
pelaksanaan rapat tahunan untuk perencanaan,
dan perbaikan-perbaikan manajemen keuangan.
(lihat Tabel 5)
6. Sekretariat juga terus berupaya meningkatkan
kualitas staf dengan mengirim ke pelatihan-
pelatihan terkait. Seperti pelatihan mengenai
kebijakan pembangunan dan perempuan yang
diadakan di Seoul, Korea Selatan pada tahun
2011 diikuti oleh Siti Khoirun Nimah; pelatihan
mengenai Bisnis dan Hak Asasi Manusia yang
diikuti oleh Hilman Handonipada bulan Juni 2014,
juga pelatihan-pelatihan lainnya.
7. Anggota INFID saat ini berjumlah 70 lembaga
tersebar di 17 propinsi di Indonesia dan 7
perseorangan. Sebagian besar anggota berada
di Jawa khususnya di Jakarta. Sebagian anggota
INFID yang ada di Jakarta merupakan representasi
organisasi nasional yang memiliki anggota di
berbagai daerah seperti Koalisi Perempuan
Indonesia dan WALHI. Secara kuantatitas, belum
ada penambahan anggota INFID sejak GAM
tahun 2008. Berikut peta persebaran anggota
INFID tahun 2014.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan sekretariat
INFID, dari 70 lembaga terdapat enam organisasi
yang sudah tidak aktif yaitu SAMAK-Aceh,
Kelompok Pelita Sejahtera (KPS)-Medan, SPJB-
Jawa Barat, PKBHB Bengkulu, Lapera-Yogyakarta,
Yayasan Buruh Membangun (YBM)-Jakarta. Hal ini
terjadi karena berbagai sebab seperti perubahan
orientasi pengurus yang beralih ke profesi lain
seperti profesi pengacara, tiadanya program kerja,
dan tiadanya kantor untuk beraktivitas.
Dokumen Baru/
Pemutakhiran
Perubahan-perubahan Tata
Kerja
Penguatan Manajemen
Keuangan
SOP Kelembagan dan Kode Etik
Internal (2013)
Laporan bulanan Direktur
Eksekutif Pengurus
Penambahan Personalia- menjadi
3 orang dari 2 orang.
SOP Penelitian Kebijakan dan
Advokasi Kebijakan (2013)
Rapat 2-3 bulanan antara DE
dengan Pengurus di Jakarta
Penggunanaan sistem transaksi
online
SOP Keuangan (2013) Rapat Tahunan StafINFID
(Januari2014)
Penyederhanaan sistem
SOP Monev Program
dan Kelembagaan INFID
(rencana.2014)
Rapat Mingguan/Bulanan Staf
INFID
Perbaikan-perbaikan sistem
dibantu oleh konsultan keuangan
TABEL 5. REKAP LANGKAH PENGUATAN KELEMBAGAAN
28
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
PETA PERSEBARAN ANGGOTA INFID 2014
ACEH
1. Forum LSM
2. Flower
3. Koalisi NGO
4.Samak
5.Sahara Aceh
SUMATERA UTARA
1.KSPPM - Parapat
2.Bakumsu - Medan
3.KPS - Medan
SUMATERA BARAT
1. Scedei - Padang
2. P3SD - Padang
LAMPUNG
KOAK - Padang
BENGKULU
PKBHB
JABOTABEK
31 anggota
tingkat nasional
JAWA BARAT
1. Akatiga - Bandung
2. SPJB - Tasikmalaya
JAWA TENGAH
1. YBKS - Solo
2. Lappera - Klaten
3. Gita Pertiwi - Solo
YOGYAKARTA
1. IDEA
2. Yasanti
3. Forum LSM
4. Samin
5. Cindelaras
JAWA TIMUR
1. Cakrawala
Timur -
Surabaya
2. Rumpun -
Malang
3. Swagiri - Tuban
BALI
Bali Fokus -
Denpasar
KALIMANTAN
BARAT
1. LBBT -
Pontianak
2. Institute
Dayakology -
Pontianak
SUMATERA 12 JABOTABEK 31 JAWA BARAT 2 JAWA TENGAH 3 YOGYA 5
JUMLAH ANGGOTA INFID
DI BERBAGAI WILAYAH
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
29
NTB
LPMP - Dompu
NTT
1. Alfa Omega - Kupang
2. PIAR - Kupang
Yapsel -
Merauke
PAPUA
1. YPMD - Jayapura
2. Fokker - Papua
SULAWESI UTARA
Suara Nurani -
Manado
SULAWESI TENGAH
YTM - Palu
SULAWESI
SELATAN
1. YLK Sulsel -
Makasar
2. FPMPS -
Makasar
TOTAL 69 JAWA TIMUR 3 NTT - NTB BALI 4 PAPUA 3 KALIMANTAN 2 SULAWESI 4
JUMLAH
ANGGOTA
INFID
2014
31,48%
2,3%
3,4%
4,6%
9,14%
3,5%
JABODETABEK
SUMATERA
JAWA BARAT
KALIMANTAN
JAWA TENGAH
YOGYA
NTT - NTB - BALI
SULAWESI
JAWA TIMUR
PAPUA
30
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
Pembangunan Pasca-2015 juga mencapai rekor
tertinggi dari program-program lainnya karena
adanya kegiatan konsultasi di tingkat nasional di
tahun yang sama.
5. Berdasarkan jenis kegiatan, alokasi pembiayaan
terbesar untuk penyelenggaraan konsultasi dan
pertemuan masyarakat sipil global untuk agenda
pembangunan pasca-2015 mencapai 34%. Diikuti
dengan kegiatan advokasi sebesar 25% dan biaya
personel 19%. Berikut grak alokasi pembiayaan
INFID selama periode 2012-2013.
6. Sementara untuk tahun 2012, pembiayaan
program tertinggi adalah HAM dan Demokrasi
yang digunakan untuk advokasi akuntabilitas
sosial sebagai aktualisasi hak asasi manusia di
empat wilayah di Indonesia.
7. Pada tahun 2008, program lainnya yaitu
Pengembangan Kelembangan menjadi
pembiayaan tertinggi karena pada saat itu
dilaksanakan Konferensi dan GAM, kemudian
diikutitahun 2009 untuk kegiatan konsultasi di
enam wilayah di Indonesia.
d. Keuangan INFID
Penerimaan keuangan INFID mengalami grak turun
naik.
1. Tahun 2010 merupakan tahun yang cukup berat
karena dari sisi keuangan, terjadi penurunan
keuangan secara signikan dari Rp 3,6 miliar di
tahun 2009 menjadi Rp 1,8 miliar di tahun 2010.
2. Namun tren ini mulai membaik pada tahun 2012
yang mengalami peningkatan, dan kemudian
mencapai angka tertinggi di tahun 2013 sebesar
Rp 9,5 miliar.
3. Sumber penerimaan INFID terbesar berasal dari
Ford Foundation yang mencapai Rp 3,4 miliar
untuk periode 2008 sampai Juli 2014. Diikuti oleh
DnP Canada, Uni Eropa, OXFAM, ICCO, TIFA, dan
diikuti oleh donor-donor lainnya.
4. Pembiayaan program tertinggi pada tahun 2013
untuk kegiatan MDGs dan Agenda Pembangunan
Pasca-2015 yaitu dengan menyelenggarakan
forum masyarakat sipil global di Bali pada
bulan Maret 2013 yang total pembiayaan untuk
kegiatan mencapai Rp 3,2 miliar. Di tahun yang
sama, pembiayaan program MDGs dan Agenda
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
31
3%
7%
12%
19%
25%
34%
GRAFIK 4. ALOKASI PEMBIAYAAN INFID, 2012-2013
Proyek
Khusus
Biaya
Overhead
Pengembangan
Kapasitas
Penelitian
dan Publikasi
Biaya
Personal
Dialog Kebijakan,
Kampanye dan
Penguatan Jaringan

GRAFIK 3. SUMBER PENERIMAAN INFID (2008-JULI 2014)
32
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
Berangkat situasi nasional dan internasional serta
peran INFID, terdapat tiga tantangan dan empat
pembelajaran, meliputi:
1. Seperti telah diulas sebelumnya, tantangan yang
dihadapi masyarakat sipil akibat krisis ekonomi
dan juga keberadaan Indonesia sebagai negara
emerging adalah menurunnya dukungan
pendanaan. Belum lagi, pendanaan resmi yang
bersumber dari pemerintah juga diberikan
kepada swasta yang sama-sama diakui sebagai
aktor pembangunan.
2. Tantangan lainnya terkait dengan situasi nasional
adalah adanya undang-undang yang membatasi
aktivitas masyarakat sipil, juga adanya ancaman
terhadap masyarakat sipil dari kelompok-
kelompok fundamentalis. Seperti masyarakat sipil
yang memperjuangkan keberagaman diserang
oleh kelompok fundamentalis. Masyarakat sipil
di daerah juga mengalami hal serupa seperti
ancaman, penyerangan bahkan pembunuhan.
Bahkan hingga saat ini otak pelaku pembunuhan
Munir belum diadili.
3. Tantangan ketiga berasal dari masyarakat sipil
sendiri terutama terkait dengan akuntabilitas
dan keberlanjutan masyarakat sipil. Banyak
organisasi masyarakat sipil yang kesulitan
dalam hal regenerasi karena proses pendidikan
dan pelatihan belum berjalan seperti yang
diharapkan.
Selain tiga tantangan tersebut, selama enam tahun
diambil pembelajaran yang penting meliputi:
1. Masyarakat sipil diharapkan dinamis dan
inovatif dalam membaca perkembangan situasi
nasional dan internasional yang demikian cepat.
Termasuk juga, inovasi-inovasi baru perlu terus
dikembangkan agar bisa menjawab sekian
perubahan tersebut. Demikian halnya dalam
pendanaan, inovasi diperlukan selain untuk
memaksimalkan pendanaan dari luar negeri juga
dari dalam negeri.
2. Adanya kebutuhan untuk melakukan advokasi
terkait dengan keberlangsungan masyarakat sipil
baik di tingkat nasional maupun internasional.
Masyarakat sipil hendaknya mendorong lahirnya
regulasi yang memberikan kemudahan serta
dukungan yang memadai seperti perlindungan
dari ancaman kelompok fundamentalis dan
juga dukungan pendanaan dari negara untuk
masyarakat sipil.
3. Masyarakat sipil sendiri dituntut untuk
memperkuat kelembagaan dan keberlanjutan
organisasi melalui pendidikan dan pelatihan yang
reguler; penguatan jaringan antar masyarakat
sipil dan berjejaring dengan stakeholder
lainnya seperti universitas, swasta, dan lainnya;
dan terakhir adalah adanya sistem kaderisasi
yang tepat sehingga lahir kualitas sumber
daya manusia yang mumpuni yang ke depan
akan memajukan organisasi masyarakat sipil di
Indonesia.
4. Partisipasi anggota perlu di tingkatkan.
Berdasarkan survey yang dilakukan INFID di
tahun 2013, dari 70 anggota hanya 26 anggota
yang mengisi survey yang sekretariat kirimkan.
Sehingga ke depan diharapkan ada peningkatan
partisipasi guna memperkuat advokasi INFID.
TANTANGAN DAN PEMBELAJARAN
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
33
Baker, Gideon (2002). Civil Society and Democratic Theory, Alternative Voices. London: Routledge
CIVICUS (2013). State of Civil Society 2013: Creating An Enabling Environment.
INFID (2014). Alternative Report of INFID to the United Nations Committee on Economic, Social and Cultural
Rights in Relation to the Initial Report on the Implementation of the International Covenant on Economic, Social
and Cultural Rights by Indonesia. INFID
Kompas (2014). Buku Pintar Kompas 2013. Gramedia, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
34
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014 34
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
35
LAMPIRAN
No Nama Lembaga Kota
Lembaga
1. Forum LSM Aceh Aceh
2. Yayasan Flower Aceh
3. Koalisi NGO HAM Aceh
4. SAMAK Aceh
5. SAHARA Aceh
6. KSPPM Parapat Medan
7. BAKUMSU Medan
8. KPS Medan
9. SCEDEI Padang
10. P3SD Padang
11. PKBHB Bengkulu
12. Koalisi Anti Korupsi (KOAK) Lampung
13. Yayasan Bina Desa Jakarta
14. Kalyanamitra Jakarta
15. WALHI Jakarta
16. PBHI Jakarta
17. Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS) Jakarta
18. YLKI Jakarta
19. Solidaritas Perempuan Jakarta
20. Pusat Pengkajian Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta
21. YLBHI Jakarta
22. Yayasan Buruh Membangun (YBM) Jakarta
23. Bina Swadaya Jakarta
24. Yakoma PGI Jakarta
1. DAFTAR ANGGOTA INFID
36
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
No Nama Lembaga Kota
Lembaga
25. ELSAM Jakarta
26. Pasticide Action NetworK (PAN) Indonesia Jakarta
27. LP3ES Jakarta
28. JKLPK Jakarta
29. Urban Poor Consortium (UPC) Jakarta
30. Indonesia Institute for Democracy Education (IDE) Jakarta
31. BISMI Jakarta
32. Urban Alternative Development Strategy (UADS) Jakarta
33. Imparsial Jakarta
34. KONTRAS Jakarta
35. FAKTA Jakarta
36. Koalisi Perempuan Indonesia Jakarta
37. YPHA Jakarta
38. Diakonia PGI Jakarta
39. ICW Jakarta
40. LBH Pers Jakarta
41. LSAF Jakarta
42. AMAN Indonesia Jakarta
43. AKATIGA Bandung
45. Serikat Petani Jawa Barat (SPJB) Tasikmalaya
46. YBKS Solo
47. Lapera Klaten
48. Gita Pertiwi Solo
49. IDEA Yogyakarta
50. YASANTI Yogyakarta
51. Forum LSM Yogyakarta
52. SAMIN Yogyakarta
53. Cindelaras Yogyakarta
54. Cakrawala Timur Surabaya
55. Rumpun Malang
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
37
No Nama Lembaga Kota
Lembaga
56. Swagiri Tuban
57. Bali Fokus Denpasar
58. LPMP Dompu
59. Alfa Omega Kupang
60. PIAR Kupang
61. LBBT Pontianak
62. Institut Dayakologi Pontianak
63. Yayasan Tanah Merdeka Palu
64. Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Makassar
65. FPMPS Makassar
66. Suara Nurani Manado
67. YPMD Jayapura
68. Foker Papua Papua
69. Yapsel Merauke
70. NINDJA Jepang
Perorangan
71. Budi Wahyuni Yogyakarta
72. Rizal Malik Yogyakarta
73. Pius Rengka Kupang
74. James Van Riker, Mr. Amerika Serikat
75. Matthew Easton, Mr. Amerika Serikat
76. Bob Muntz Australia
77. Filomena Sta. Ana III, Mr. Philipina
38
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
2. DAFTAR KEGIATAN INFID
NO TANGGAL KEGIATAN TEMPAT
2014
1. 2014-01-29 Perencanaan Tahunan 2014 Pengembangan kapasitas Bogor
2. 2014-02-10 Dialog Kebijakan dan Pelatihan Advokasi Yogyakarta
3. 2014-02-21 INFID talkshow dengan Radio 68H. KBR 68H
4. 2014-02-26
Lokakarya Penelitian Mengenai Ketimpangan di
Indonesia: Tren dan Penyebab Ketimpangan
Griya Patria
5. 2014-02-27
INFID Talkshow , Reorientasi Kebijakan Bisnis Sawit
Indonesia Menghambat Laju Ekspansi Skala Besar
Sebagai Solusi Mengatasi Ketimpangan Pembangunan
Kerjasama INFID, Oxfam Indonesia dan Europian Union
KBR 68H
6. 2014-03-06 INFID talkshow dengan Radio 68H KBR 68H
7. 2014-03-18
Media Gathering Pembangunan Manusia dan
Ketimpangan di Indonesia
Malang
8. 2014-03-19
Talkshow & Seminar Pembangunan Manusia dan
Ketimpangan di Indonesia
Malang
9. 2014-03-20
Advisory Group Meeting & Koordinasi Program
Malang
10. 2014-03-27
Seminar Publik Partai Politik, Pemilihan Umum dan
Ketimpangan Sosial dan Ekonomi di Indonesia
Hotel Aryaduta
11. 2014-04-01 Workshop penulisan laporan di Jakarta Hotel Sahati
12. 2014-04-23
Diskusi dengan tema G20 dan Jebakan Negara
Berpendapatan Menengah
Hotel Ibis Tamarin
13. 2014-05-07 Diskusi update perkembangan G20 INFID
14. Diskusi update Working Group on Anti corruption di G20 INFID
15. 2014-05-30
Dialog kebijakan: mengulas perkembangan G20 dari
Perspektif Pemerintah dan Masyarakat Sipil
Hotel Cemara
16. 2014-06-24 Post-event Feedback C20 Summit INFID
17. 2014-06-25 Workshop advokasi Bersama John Ruthrauff
Hotel Royal
Kuningan
2013
18. 2013-01-09
Lokakarya dan Penyusunan Strategi INFID untuk periode
2013 - 2016
Griya Patria
19. 2013-01-22
Konsultasi Masyarakat Sipil untuk Agenda Pembangunan
Pasca 2015
Hotel Aryaduta
20. 2013-03-07
Global CSO Committee Meeting for Global CSOs Forum
and CSOs Interface Meeting with HLP Member on Post
2015 Development Agenda
Bali
21. 2013-03-11
Diplomat Brieng: For the Level Panel Meeting on
the Post-2015 Development Agenda The Voice of
CSOs and Communities In Indonesia on The Post-2015
Development Agenda
CEMARA Hotel
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
39
NO TANGGAL KEGIATAN TEMPAT
22. 2013-03-18
Semiloka Masyarakat Sipil dan Dialog Kebijakan:
Bagaimana G20 Menjawab Masalah kemiskinan dan
Ketimpangan?
Hotel Morrissey
23. 2013-05-03 Seminar Debt Swap Hotel Morrissey
24. 2013-05-14 Pembahasan RUU Desa Sahati Hotel
25. 2013-05-15
Seminar Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat
Kerjasama INFID dan Bappenas
Hotel Grand Sahid
Jaya
26. 2013-05-22
Workshop Pemetaan Ketimpangan di Indonesia
dan RTD Pembangunan Infrastruktur dan G20
Hotel IBIS Tamarin
27. 2013-05-23
Rountable Discussion Pembangunan Infrastruktur di
Indonesia dan Peran G20
Hotel IBIS Tamarin
28. 2013-06-04
Konferensi Pers Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia
Paska-2015, Menyikapi hasil Laporan HLPEP untuk
Agenda Pembangunan Pasca -2015
Kedai TEMPO
29. 2013-06-12
Diplomat Brieng INFID & Prakarsa Response to the Post-
2015 HLPEP Report
Hotel IBIS Tamarin
30. 2013-06-20
Dialog dengan Kementerian Luar Negeri dan Lanjutan
Advokasi Pasca-2015
Hotel IBIS Tamarin
31. 2013-07-30
Negara & Pengelolaan Pangan: Upaya Bersama
Mendorong Penguatan Pangan Nasional
Hotel Akmani,
32. 2013-08-22
Dialog Kebijakan Para Pihak Kemajuan dan Tantangan
Perundingan G20 Bagi Kepentingan Nasional
JS Luansa Hotel
33. 2013-09-19 Pertemuan Para Ahli Mengenai Deklarasi HAM ASEAN Griya Patriya
34. 2013-11-26 Konferensi INFID 26-27 November 2013
Hotel Royal Park
Kuningan
35. 2013-11-27 Konferensi INFID 26-27 November 2013
Hotel Royal Park
Kuningan
36. 2013-12-18
FGD Ketimpangan dan Strategi Advokasi Masyarakat
Sipil
Hotel Morissey
2012
37. 2012-04-07 Seminar Peran Represetasi dalam FungsiLegislasi DPR RI AKMANI
38. 2012-03-28 RTD G20 dan Indonesia AKMANI
39. 2012-05-09 RTD tentang PNPM WISMA PGI
40. 2012-05-10 Konfereni pers: supremasi sipil BUMBU DESA
41. 2012-05-28 Media breng Hotel Akmani
42. 2012-05-30 Diplomat meeting Hotel Akmani
43. 2012-05-31 Audensi ke Sherpa
Kementerian
Keuangan
44. 2012-06-18 Konferensi pers respon RIO + 20 BUMBU DESA
45. 2012-07-04 Seminar PNPM Toby Carol Tania Li AKMANI HOTEL
46. 2012-07-18 Diskusi RUU ormas BUMBU DESA
47. 2012-09-10 Seminar G20 CEMARA
40
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
NO TANGGAL KEGIATAN TEMPAT
48. 2012-09-18 Diskusi US Foreign Corruption Practice Act Hotel Sari Pan Pacic
49. 2012-09-18
Diskusi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Bagi
Perempuan
Hotel Cemara
50. 2012-09-21
Roundtable Discussion Menyambut Peran Indonesia
dalam Kekeuatan Kelompok Kerja Pembangunan G20
Hotel IBIS Tamarin
51. 2012-10-06 Seminar program EU di Lebak oleh Baist Lebak - Banten
52. 2012-10-22 Pertemuan dengan Menkeu ttg G20 Hotel Lumire
53. 2012-10-23
Roundtable Discussion: Kemiskinan dan Pembangunan
Inklusif
Hotel Ibis Tamarin
2011
54. 2011-01-13
Workshop Evaluasi dan Perencanaan Program Tahunan
2011
55. 2011-01-18
Pertemuan dengan Menko Perekonomian: Debt Swap
Italia
Menko
Perekonomian
56. 2011-02-04
Diskusi dengan tema Dinamika Politik Mesir dalam
Konstalasi Politik Kontemporer Timur Tengah
INFID
57. 2011-02-08
Memperingati 100 hari meninggalnya Asmara Nababan
bersama DEMOS, ELSAM, INFID, KontraS, dan Komnas
HAM
Taman Ismail Marzuk
58. 2011-03-22 Diskusi Terbatas: Persiapan Indonesian People Summit
59. 2011-03-28
Roundtable Discussion dan Workshop Membangun
Ownership Indonesia di G20: Penguatan Pangan yang
Berkelanjutan?
Hotel Cemara
60. 2011-05-03
The 3rd Open Forum Asian Regional Synthesis Workshop
on Development Effectiveness
Hotel Atlet Century
61. 2011-05-09 Pertemuan BAPPERA di Malang Universitas Brawijaya
62. 2011-05-13 Diskusi terbatas: Krisis NGO: Inovasi atau Mati
63. 2011-01-13
Seminar Kepemimpinan Indonesia Di ASEAN dalam
Penyelesaian Konik Perbatasan Thailand-Kamboja dan
Pelambanan Proses Demokratisasi di Burma
64. 2011-01-18
Masukan Terbuka Masyarakat Sipil Indonesia
Untuk Rapat Komisi HAM ASEAN (AICHR) Ke-6
28 Juni-2 Juli 2011 Vientiane, Laos
65. 2011-02-04
Workshop Nasional: Peta Jalan Menuju Busan: Peran
Masyarakat Sipil dalam Efektivitas Pembangunan
66. 2011-02-08
Siaran Pers bersama Koalisi Advokasi RUU Intelijen
Negara
2010
67. 2010-01-27
Konferensi Pers bersama antara INFID dengan ICW
mengenai 100 hari Pemerintahan SBY Boediono.
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
41
NO TANGGAL KEGIATAN TEMPAT
68. 2010-05-03
INFID bersama YAKKUM, INDIES dan AGRA mengadakan
Forum Terbuka Masyarakat Sipil untuk Efektitas
Pembangunan (Open Forum on CSO Development
Effectiveness)
Yogyakarta
69. 2010-06-
Konferensi pers bersama antara INFID dengan ICW,
Walhi dan Prakarsa mengenai utang kebijakan untuk
perubahan iklim
70. 2010-06
Hearing dengan Fraksi PDIP dan Ketua DNPI terkait
dengan utang untuk perubahan iklim
71. 2010-06-22
Menyelenggarakan diskusi dengan tema Prospek
Ekonomi Indonesia sebagai anggota G20 dan
Dampaknya bagi Ekonomi Riil.
72. 2010-06-25
Konferensi pers bersama antara INFID dengan IGJ, KAU,
KIARA, Walhi, SPI, KRUHA dan Migrant Care
73. 2010-06-30
Menyelenggarakan diskusi dengan tema Peran CSO
dalam A4DES dan Efektitas Pembangunan. Diskusi
bertujuan sharing pendapat mengenai peran CSO di
A4DES
74. 2010-07-14
INFID bersama A4DES mengadakan dialog
multistakeholder dan workshop CSOs bertemakan
Efektitas Pembangunan untuk CSOs Indonesia.
Pertemuan ini selain mensosialisasikan hasil Yogya, juga
mendorong partisipasi CSO dalam proses efektitas
pembangunan
75. 2010-Juli-Des
INFID bersama A4DES dan Kemitraan mengadakan
sosialisasi Jakarta Commitment dan Dialog Pencapaian
Agenda Jakarta Commitment
Yogyakarta,
Denpasar, Surabaya
76. 2010-11-30
Diskusi publik dengan tema: Indonesia, G20, dan
Komitmen Pemberantasan Korupsi
77. 2010-12-20
Diskusi Publik: Indonesia dan Implementasi Agenda
Pembangunan G20 Pasca KTT Seoul
2009
78. 2009
Workshop Perencanaan Penyusunan Laporan
Implementasi Konvensi Internasional Hak Ekonomi Sosial
dan Budaya, kerjasama INFID-ELSAM
79. 2009-02-09
Diskusi dengan tema Dominasi Modal dan
Pembangunan Ekonomi Kerakyatan menghadirkan
Bapak Dawam Rahardjo sebagai pembicara utama
80. 2009-03-14 Konsultasi dengan anggota INFID Makassar
81. 2009-03-24 Konsultasi dengan anggota INFID Medan
82. 2009-04-15
Seminar dan Workshop dengan tema Pertahanan dan
Keamanan Kelautan Indonesia dan Pengadaan Kapal
Perang melalui Utang Luar Negeri
42
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
NO TANGGAL KEGIATAN TEMPAT
83. 2009-04-21 Konsultasi dengan Anggota INFID Solo
84. 2009-05-05
Conference Asia Pasic Forum on Economic and Financial
Crisis dengan tema root causes and its impact of the
crisis.
Bali
85. 2009-06-01
Diskusi mengenai Ekonomi, Politik dan Pembangunan
Bangsa di Indonesia
86. 2009-06-02 Konsultasi dengan anggota INFID Pontianak
87. 2009-06-08 Sosialisasi RUU Rahasia Negara
Kantor Foker LSM
Papua
88. 2009-07-01 Konsultasi dengan anggota INFID Kupang
89. 2009-07-30 Konsultasi dengan anggota INFID Jakarta
90. 2009-10-11 Pelatihan peneliti untuk anggota dan jaringan INFID Makassar
91. 2009-10-25
Seminar tentang Kemiskinan, Utang dan Dampak Proyek
Utang, dilaksanakan bertepatan dengan Global Week
Action against Poverty
Makassar
92. 2009-12-08
Rembug Rakyat Tapal Kuda Dalam Menyikapi Konik
Agraria Dan Perubahan Iklim, diikuti oleh 125 orang dari
kelompok petani dan nelayan se wilayah Tapal Kuda atau
6 Kabupaten yang terdiri dari Kabupaten Banyuwangi,
Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, dan
Probolinggo
Desa Pasru
Jambe Kec. Pasru
Jambe Kabupaten
Lumajang
93. 2009-12-09
Kampanye bersama KOMPAK mendukung pemerintahan
bersih
94. 2009-12-16
Seminar lapran hasil riset investigasi jurnalistik tentang
kelaparan di Yahukimo, Papua bekerja sama dengan
Fokker LSM Papua
Jakarta Media
Center
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
43
3. DAFTAR PERNYATAAN SIKAP INFID
NO TANGGAL JUDUL PERNYATAAN SIKAP
2014
1. 2014-04-03 Siaran Pers INFID Tentang Ketimpangan: Ketimpangan Harus Menjadi Agenda
Utama Capres Indonesia
2. 2014-07-23 Terpilihnya Jokowi Memberi Harapan untuk Pemerintahan Terbuka
3. 2014-04-29 Pernyataan INFID MenyambutPertemuan Konsultasi Regional Komisi HAMASEAN
(AICHR)Dengan CSO Mengenai Review ToR AICHR
4. 2014-04-29 INFID Statement to Welcome AICHR Consultation with CSOs
5. 2014-02-07 Indonesia Statement on Promoting Equality inclusing Social Equity, Gender
Equality, and Womens Empowerment
2013
6. 2013-02-12 Siaran Pers - Presiden SBY Harus Serius Pada Komitmen Agenda Pembangunan
Pasca-2015
7. 2013-01-23 Deklarasi Masyarakat Sipil Untuk Agenda Pasca 2015
8. 2013-01-23 Declaration of Indonesias Civil Society on Post-2015 Development Agenda
9. 2013-06-04 Siaran Pers Pasca MDGs: Rakyat Tanpa Wajah dan Tanpa Wilayah
10. 2013-06-04 Pers release: Post MDGs: Neglecting Diversity of People and Territories
2012
11. 2012-06-18 Masyarakat Sipil Indonesia: Menuntut Implementasi Komitmen Global MDGs.
12. 2012-02-03 Statement Koalisi Masyarakat Sipil untuk Hak Buruh: Menolak Keterlibatan TNI
dan POLRI dalam Sengketa Perburuhan
13. 2012-09-12 Human Rights Council 21st Session, September 2012-09-12
2011
14. 2011-02-06 Statement INFID Menyikapi Pembiaran Negara terhadap Kekerasan yang dialami
Warga Ahmadiyah Indonesia: Negara Gagal dalam Melindungi Warga Negara
dalam Beragama dan Berkeyakinan
15. 2011-11-02 Statement Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi: Kehadiran Presiden
SBY di Forum G20 akan Sia-sia jika hanya Menghasilkan Utang Baru dan Tidak
Mampu Memperjuangkan Kepentingan Rakyat Indonesia
2010
16. 2010-01-27 Statement INFID untuk program 100 hari SBY-Boediono: 100 Hari Pemerintahan
SBY-Boediono- Melanjutkan Kegagalan Negara Menjamin Kesejahteraan Rakyat
Indonesia
17. 2010-04-15 Pernyataan Sikap Bersama: Bubarkan SATPOL PP Musuh Rakyat!
18. 2010-05-30 Tolak Hutang untuk Perubahan Iklim
19. 2010-06-25 Pernyataan Sikap Bersama: Keterlibatan Indonesia di G-20 Tidak
Membanggakan, Tetapi Menyengsarakan Rakyat Indonesia !
20. 2010-07-20 Indonesia Harus Memiliki Diplomasi Pengurangan dan Penghapusan Utang yang
Komprehensif
44
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
NO TANGGAL JUDUL PERNYATAAN SIKAP
21. 2010-08-10 Pernyataan ADB Soal Utang Indonesia: Adalah Jebakan dan Sarat Dengan
Kepentingan
22. 2010-08-12 Ironi 65 Tahun Indonesia Merdeka: Kedaulatan dalam Ancaman Intervensi Donor
23. 2010-08-16 65 Tahun Indonesia Merdeka: Masih Terus Berkubang Kemiskinan dan Berada
dalam Jebakan Utang
24. 2010-08-20 Pernyataan Sikap Bersama : Pemerintah RI Harus Serius Memperjuangkan
Pembebasan terhadap 2 WNI Yang Di Vonis Hukuman Gantung Di Malaysia serta
Pembelaan Terhadap Ratusan WNI Yang Terancam Hukuman Mati
25. 2010-10-19 Memperingati 1 Tahun Pemerintahan SBY-Boediono: Setahun Berkuasa,
Pemerintahan SBY-Boediono Kecanduan Utang!
26. 2010-11-11 Menyambut G20 Summit 11 12 November 2010 di Seoul Korea : Indonesia
tidak Memiliki Agenda yang Matang untuk diperjuangkan dalam G20 Summit
2009
27. 2009-01-30 The Jakarta Commitment: A Reincarnation Of CGI And A Commitment To
Dependency
28. 2009-02-05 Potensi Pelanggaran Pemilu Dalam Pelaksanaan Program Penanggulangan
Kemiskinan Dan Stimulus Fiscal Antisipasi Krisis Finansial
29. 2009-03-06 Pelibatan Tentara Dalam Program Keluarga berencana Adalah Pengulangan
Kesalahan Di Masa Lalu
30. 2009-03-31 G20 Bukan Jawaban Atas Krisis Ekonomi Dunia: Dibutuhkan Tata Ekonomi-
Politik Dunia Yang Adil
31. 2009-04-08 Bank Dunia Harus Ikut Bertanggung Jawab Atas Terjadinya Bencana Situ
Gintung
32. 2009-04-16 Pemerintah Indonesia Didesak Untuk Mengambil Langkah Proaktif Untuk
Penyelesaian Utang Untuk Pembelian 39 Kapal Perang Bekas Jerman Timur
33. 2009-05-09 Kritik terhadap kebijakan penambahan Modal Pada ADB
34. 2009-05-27 Pemeliharaan Alutsista Tua Harus Dihentikan
35. 2009-06-12 Bantuan Langsung Tunai Didesain Oleh Bank Dunia Dan Dibiayai Dengan Utang
36. 2009-08-03 Pidato RUU APBN 2010 Presiden RI- Konsolidasi Sumberdaya Dalam Negeri
Harus Diutamakan
37. 2009-07-01 Konperensi pers bersama tentang Implementasi HAM bagi Kepolisian Reeksi
Reformasi Srktor Keamanan dalam rangka Hari Bayangkara
38. 2009-07-18 Konperensi Pers bersama tentang keprihatinan terhadap Pembebasan Muhdi Pr
dalam Kasus Munir,
39. 2009-07-01 Konperensi pers bersama tentang RUU peradilan militer
40. 2009 Statement tentang Kritik terhadap penanggulangan Krisis (Kasus Bail Out dan
pemberian stimulus scal )
41. 2009 Statement INFID terhadap Titik Rawan pencapaian MDG
42. 2009-10-17 Statement terkait dengan pelaksanaan Global Week Action
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
45
4. DAFTAR PUBLIKASI INFID
NO PUBLIKASI
2014
1. Kertas Posisi Masyarakat Sipil Indonesia: G20 dan Menjawab Masalah Ketimpangan, Pengangguran
dan Pendanaan: Rangkuman dari Berbagai Usulan Masyarakat Sipil Indonesia oleh Nikmah dan
Yustinus Prastowo
2. Analisis INFID No-2 Tahun 2014 Tentang Ketimpangan oleh Sugeng Bahagijo, AriefAnshoryYusuf,
Hamong Santono, DwiRubyKhalifah, YanuarNugroho, Nikmah
3. Analisis INFID No-1 Tahun 2014 Tentang Pajak oleh Sugeng Bahagijo, Mickael B Hoelman,, J.Prastowo,
Setyo Budiantoro dan Hamong Santono
4. Laporan Penelitian No.3 -2014: Partai Politik, Pemilihan Umum dan Ketimpangan Sosial dan Ekonomi di
Indonesia oleh Irine Gayatri, Pandu. Kerjasama INFID dengan LIPI
5. Laporan Penelitian No.3 -2014: Kebebasan Keragama Di Indonesia 20102012 oleh Hilman. Kerjasama
INFID dengan TIFA
6. Apakabar pembangunan manusia Indonesia: Catatan dari empat daerah oleh Nurhady Sirimorok
7. Alternative Report of INFID to the United Nations Committee on Economic, Social and Cultural Rights
In relation to the Initial Report on the Implementation of the International Covenant on Economic,
Social and Cultural Rights by Indonesia
8. Nota Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan: Trend, Permasalahan, dan Rekomendasi oleh Sugeng
Bahagijo
2013
9. Laporan Penelitian INFID No. 1/2013: Jalan Terjal Menurunkan AKI oleh Irawan Saptono, Helena Rea,
Wiratmo Probo. Kerjasama INFID TIFA - ISAI
10 SNO INFID 2013: MDGs dan Agenda Pembangunan Pasca-2015
11. Pembangunan Infrastruktur di Indonesia dan Peran G20 oleh Makmur Keliat, Asra Virgianita, Fina
Astriana. Kerjasama INFID UI
12. Mengukur Efektivitas G20 oleh Ah Maftuchan, Herjuno Ndaru Kinasih, Irhas Rahmadi. Kerjasama INFID
OXFAM Indonesia
13. Injustice, GAP and Inequality oleh Agung Wasono, Yenny Sucipto, Wahyu Susilo, Tejo Wahyu, Dian Kartika
Sari, dkk. Kerjasama INFID Partnership
2012
14. Pembangunan Pascamodernis oleh Dawam Raharjo. Kerjasama INFID - INSIST
15. Audit social PNPM antara Retorika dan Realita: Zulkii, Bornie Kurniawan, Siswan, Wendy Bullan.
Kerjasama INFID TIFA
16. Ekonomi Politik Indepensi Bank Indonesia: Studi kasus bank century oleh Makmur keliat, Rangga
aditya, Ratu ayu asih, Geradi yudhistira, Keshia Narindra. Kerjasama INFID PACIVIS UI
17. Report Research INCO oleh Lian Gogali. Kerjasama INFID - DnP
2011
18. MDGs as My Development Goals - versi Indonesia oleh Anwar Jimpe, Ishak Salim, Em Ali, Wendy
Bullan. Kerjamasa INFID Trocaire
46
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
NO PUBLIKASI
19. Can Indonesia exit from AID? Oleh Don K. Marut. INFID
20. Asmara Nababan; Oase bagi setiap kegelisahan oleh Ade Rosita, Albert hasibuhan, Patra Zen, Arief
Budiman, HS Dillon, Eliakim Sitorus, Sugeng Bahagijo, Stanly. Kerjasama Komnas HAM, Demos, INFID,
Elsam, Kontras, Hivos
21. Petambak Garam Indonesia oleh Anwar Jimpe Ranchman, M imron, Sunardi hawi, Habibie, Risky
Amalia. Kerjasama INFID Indonesia Berdikari - INNINAWA
2010
22. Buku Trocaire Changing Lives - Stories from Indonesia oleh Anwar Jimpe Rahman, EM Ali, Natalis.
Kerjasama INFID TROCAIRE
23. Buku Trocaire Changing Lives - Cerita-Cerita Dari Indonesia oleh Anwar Jimpe Rahman, EM Ali, Natalis.
Kerjasama INFID TROCAIRE
24. Laporan Riset Ciliwung oleh Nikmah
25. Laporan Studi Riset tentang PNPMoleh George Junus Aditjondro, Wendy Bulan, Milita Utami, Delima
silalahi
26. Keterlibatan Militer dalam Praktek Bisnis Ilegal di Perbatasan Indo Malaya: Studi Kasus Pembalakan Liar
di Kalimantan timur. Kerjasama INFID-CEACOS
2009
27. Riset Utang Indonesia pada Norwegia oleh Nikmah, Magnus Flacke. Kerjasama INFID SLUG
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
47
5. LAPORAN KEUANGAN
1. LAPORAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN INFID
2. NERACA KEUANGAN INFID
48
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
3. OPINI AUDIT INDEPENDEN
OPINI 2014
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
49
OPINI 2013
50
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
OPINI 2012
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
51
52
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
OPINI 2011
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
53
54
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
OPINI 2010
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
55
56
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
OPINI 2009
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
57
58
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
Tabel 1. INFID Dalam Angka
Tabel 2. Lintasan Enam Tahun INFID (2009-2014)
Tabel 3. Garis Besar Usulan Kebijakan INFID 2012-2014
Tabel 4. Evaluasi Kinerja dan Indikator Kinerja INFID
Tabel 5. Rekap Langkah Penguatan Kelembagaan
Grak 1. Publikasi INFID
Grak 2. Jumlah Pernyataan Sikap INFID Per Tahun
Grak 3. Sumber Penerimaan INFID (2008-Juli 2014)
Grak 4. Alokasi Pembiayaan INFID 2012-2013
Peta Persebaran Anggota INFID
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
|
59
60
|
LAPORAN DEWAN PENGURUS PERIODE 2009 - 2014
Jl. Jati Padang Raya Kav.3 No.105, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540 - Indonesia
Phone: (62-21) 781 9734, 781 9735, 7884 0497
Fax: (62-21) 7884 4703
E-mail: ind@ind.org
www.ind.org