Anda di halaman 1dari 30

Abses Tuba Ovarium

Latar Belakang

Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia
luar dengan perantaraan traktus genetalis. Radang alat
kandungan mungkin lebih sering terjadi di negara tropis karena
organ kewanitaan menjadi mudah sekali lembab karena udara
yang panas sehingga menyebabkan sering berkeringat sedangkan
personal hygiene masih kurang terjaga, infeksi veneris belum
terkendali, serta perawatan persalinan dan abortus yang belum
memenuhi syarat-syarat.
Tetapi dengan adanya antibiotika pada umumnya infeksi alat
kandungan berkurang. Infeksi alat kandungan dapat menentukan
fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu
kehidupan sex.

Pengertian

a. Tuba adalah saluran (kamus kedokteran).
Tuba uterina / fallopii adalah saluran telur, berjalan disebelah kiri
dan sebelah kanan sebuah dari sudut uterus ke samping, di tepi
atas ligamen lebar ke arah sisi pelvis.

b. Ovarial adalah indung telur.
Ovarial / ovarium adalah alat kelamin wanita yang berbentuk biji
kenali, terletak di kanan dan kiri uterus di bawah tuba uterina dan
terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uteri.

c. Abces adalah rongga yang terjadi karena kerusakan jaringan /
bengkak.
Tuba ovarial abces adalah pembekakan pada tuba ovarium yang
disebabkan oleh infeksi.

Patofisiologi/Etiologi

Dengan adanya penyebaran bakteri dari vagina ke tuerus
lalu ke tuba dan atau parametrium, terjadilah salpingitis dengan
atau tanpa ooforitis, keadaan ini bisa terjadi pada pasca abortus,
pasca persalinan atau setelah tindakan genekologik sebelumnya.
Mekanisme pembentukan ATO yang pasti sukar
ditentukan, tergantung sampai dimana keterlibatan tuba infeksinya
sendiri. Pada permulaan proses penyakit, lumen tuba masih
terbuka mengeluarkan eksudat yang purulent dari febriae dan
menyebabkan peritonitis, ovarium sebagaimana struktur lain
dalam pelvis mengalami keradangan, tempat ovulasi dapat
sebagai tempat masuk infeksi. Abses masih bisa terbatas
mengenai tempat masuk infeksi. Abses masih bisa terbatas
mengenai tuba dan ovarium saja, dapat pula melibatkan struktur
pelvis yang lain seperti usus besar, buli-buli atau adneksa yang
lain.
Proses peradangan dapat mereda spontan atau sebagai
respon pengobatan, keadaan ini biasanya memberi perubahan
anatomi disertai perlekatan fibrin terhadap organ terdekatnya.
Apabila prosesnya menhebat dapat terjadi pecahnya abses.

Penatalaksanaan

a. Curiga ATO utuh tanpa gejala
- Antibotika dengan masih dipertimbangkan pemakaian
golongan : doksiklin 2x / 100 mg / hari selama 1 minggu atau
ampisilin 4 x 500 mg / hari, selama 1 minggu.
- Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam 14 hari
atau mungkin membesar adalah indikasi untuk penanganan lebih
lanjut dengan kemungkinan untuk laparatomi
b. ATO utuh dengan gejala :
- Masuk rumah sakit, tirah baring posisi semi fowler, observasi
ketat tanda vital dan produksi urine, perksa lingkar abdmen, jika
perlu pasang infuse P2
- Antibiotika massif (bila mungkin gol beta lactar) minimal 48-72
jam
Gol ampisilin 4 x 1-2 gram selama / hari, IV 5-7 hari dan
gentamisin 5 mg / kg BB / hari, IV/im terbagi dalam 2x1 hari
selama 5-7 hari dan metronida xole 1 gr reksup 2x / hari atau
kloramfinekol 50 mg / kb BB / hari, IV selama 5 hari metronidzal
atau sefaloosporin generasi III 2-3 x /1 gr / sehari dan
metronidazol 2 x1 gr selama 5-7 hari
- Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi
- Jika perlu dilanjutkan laparatomi, SO unilateral, atau
pengangkatan seluruh organ genetalia interna
c. ATO yang pecah, merupakan kasus darurat : dilakukan
laporatomi pasang drain kultur nanah
- Setelah dilakukan laparatomi, diberikan sefalosporin generasi
III dan metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari (1 minggu)


LAPARATOMI

1. Pengertian

Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
a. Midline incision
b. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm),
panjang (12,5 cm).
c. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian
atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di
bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada
operasi appendictomy.

2. Indikasi

a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
b. Peritonitis
c. Perdarahan saluran pencernaan.
d. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
e. Masa pada abdomen

3. Komplikasi

a. Ventilasi paru tidak adekuat
b. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
c. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
d. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan

4. Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki,
menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari
tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.









BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konseling 2.1.1 Pengertian Konseling
Secara etiomologi, konseling berasal dari bahasa Latin
Consilium artinya dengan atau bersama yang dirangkai
dengan menerima atau memahami sedangkan dalam bahasa
Angglo Saxon istilah konseling berasal dari Sellan yang
berarti menyerahkan atau menyampaikan.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, konseling berarti pemberian
bimbingan oleh orang yang ahli kepada seseorang. Dalam situs
Wikipedia bahasa Indonesia, konseling adalah proses pemberian
bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (konselor) kepada
individu yang mengalami sesuatu masalah yang berakhir pada
teratasinya masalah yang dihadapi klien. Bantuan yang
diberikan kepada individu yang sedang mengalami hambatan,
memecahkan sesuatu melalui pemahaman terhadap
fakta,harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien (Sagala,
2011).
Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan
lengkap, dengan panduan keterampilan interpersonal, bertujuan
untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini,
masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar atau
upaya untuk mengatasi masalah tersebut (Sulastri, 2009). 2.1.2
Tujuan Konseling
Konseling KB bertujuan membantu klien dalam hal:
1. Menyampaikan informasi dan pilihan pola reproduksi
2. Memilih metode KB yang diyakini

Universitas Sumatera Utara
c. Menggunakan metode KB yang dipilih secara aman dan
efektif
d. Memulai dan melanjutkan KB
e. Mempelajari tujuan, ketidakjelasan informasi tentang
metode KB yang tersedia.
2.1.3 Fungsi Konseling
a. Konseling dengan fungsi pencegahan merupakan upaya
mencegah timbulnya masalah kesehatan. b. Konseling dengan
fungsi penyesuaian dalam hal ini merupakan upaya untuk
membantu klien mengalami perubahan biologis, psikologis,
social, cultural, dan lingkungan yang berkaitan dengan
kesehatan.
c. Konseling dengan fungsi perbaikan dilaksanakan ketika
terjadi penyimpangan perilaku klien atau pelayanan kesehatan
dan lingkungan yang menyebabkan terjadi masalah kesehatan
sehingga diperlukan upaya perbaikan dengan konseling. d.
Konseling dengan fungsi pengembangan ditujukan untuk
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan
derajat kesehatan masyarakat dengan upaya peningkatan peran
serta masyarakat.
2.1.4 Langkah-Langkah Konseling KB
Dalam memberikan konseling, khususnya bagi calon klien KB
yang baru hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang
sudah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan satu
tuju tersebut tidak perlu dilakukan secara berulang- ulang karena
konselor harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien. Kata
kunci SATU TUJU adalah sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
SA : SApa dan SAlam kepada klien secara terbuka dan sopan.
Berikan perhatian sepenuhnya kepada mereka dan berbicara di
tempatyang nyamanserta terjamin privasinya. Tanyakan kepada
klien apa yang perlu dibantu serta jelaskan pelayanan apa yang
diperoleh.
T : Tanyakan kepada klien informasi tentang dirinya. Bantu
klien untuk berbicara mengalami pengalaman Keluarga
Berencana. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan oleh klien.
Coba tempatkan diri kita didalam hati klien. U : Uraian kepada
klien mengenai dan pilihannya dan diberi tahu apa pilihan
kontrasepsi, bantu klien pada jenis kontrasepsi yang diingini.
TU : banTUlah klien menentukan pilihannya. Bantulah klien
berpikir mengenai apa yang paling sesuai dengan keadaan dan
kebutuhannya. Doronglah klien untuk menunjukkan
keinginannya dan mengajukan pertanyaan. J : Jelaskan secara
lengkap bagaiman menggunakan kontrasepsi pilihannya.
U Perlunya dilakukan kunjungan Ulang. Bicarakan dan buatlah
perjanjian kapan klien akan kembali untuk melakukan
pemeriksaaan lanjutan atau permintaan kontrasepsi jika
dibutuhkan (Saifuddin, 2006). 2.2. Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata Kontra yang berarti mencegah/
menghalangi dan Konsepsi yang berarti pembuahan atau
pertemuan antara sel telur dengan sperma. Jadi kontrasepsi
dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mencegah terjadinya
kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan
sperma (Fertitest, 2010).
Universitas Sumatera Utara
Kontrasepsi Menurut (Kapita Selekta Kedokteran 2001) adalah
upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun
menetap dan dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara
mekanis, menggunakan obat/alat atau dengan operasi.
Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi
sederhana dan cara kontrasepsi modern.
1. Kontrasepsi sederhana Kontrasepsi sederhana terbagi atas
kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat.
Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan
senggama terputus, pantang berkala, metode suhu badan
basal, dan metode kalender. Sedangkan kontrasepsi
sederhana dengan alat/obat dapat dilakukan dengan
kondom, diafragma, kap serviks, dan spermisid.
2. Kontrasepsi Modern Kontrasepsi modern dibedakan atas
3 yaitu: 1) kontrasepsi hormonal, yang terdiri dari pil,
suntik, implant/AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit). 2)
IUD/AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). 3)
Kontrasepsi mantap yaitu dengan operasi tubektomi
(sterilisasi pada wanita) dan vasektomi (sterilisasi pada
pria) (Hartanto, 2003).
2.3. Intra Uterine Devices (IUD)/ Alat Kontrasepsi Dalam
Rahim (AKDR) 2.3.1 Pengertian
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam
rahim terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah
terjadinya konsepsi atau kehamilan
Universitas Sumatera Utara
2.3.2 Jenis IUD
Adapun jenis-jenis dari IUD yaitu:
1. Cooper-T Berbentuk T terbuat dari bahan polyetheleb
dimana bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga
halus. Lilitan ini mempunyai efek anti fertilasi (anti
pembuahan) yang cukup baik.
2. Cooper-7 Berbentuk angkat 7 dengan maksud untuk
memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran
diameter batang vertical 32 mm, ditambahkan gulungan
tembaga yang fungsinya sama seperti lilitan tembaga halus
pada jenis Cooper-T.
3. Multi Load Terbuat dari plastik atau polyethelen dengan
dua tangan, kiri dan kanan terbentuk sayap yang fleksibel.
Batangnya diberi gulungan kawat tembaga untuk
menambah efekt ifitas.
4. Lippes Loop Terbuat dari polyethelen, berbentuk spiral
atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol
benang pada ekornya. Lippes Loop mempunyai angka
kegagalan yang rendah (Lalik, 2010).
Universitas Sumatera Utara

2.3.3 Efektifitas IUD
Gambar 2.1 Jenis-jenis IUD
AKDR/IUD efektif mencegah kehamilan dari 98% hingga
mencapai hampir 100%, yang bergantung pada alatnya. AKDR
terbaru, seperti T 380A, memiliki angka kegagalan yang jauh
lebih rendah pada semua tahap pemakaian tanpa ada kehamilan
setelah 8 tahun pemakaian (Everett, 2007).
Cupper T-380 A primadona BKKBN. Pertimbangan mengapa
BKKBN memilih Cupper T-380 sebagai primadona:
1. Teknik pemasangan mudah, tidak sakit
2. Efektifitas tinggi
3. Kejadian ekspulsi rendah
4. Tidak mudah menimbulkan perforasi
5. Tidak banyak menimbulkan komplikasi
6. Tidak banyak menimbulkan trauma
7. Kembalinya kesuburan berjalan lancar (Manuaba, 2001).
Universitas Sumatera Utara
2.3.4 Mekanisme Kerja IUD
Mekanisme Kerja IUD adalah sebagai berikut:
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba
falopii
2. Mempengaruhi fertilitasasi sebelum ovum mencapai
kavum uteri
3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum
bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk
ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
kemampuan sperma untuk fertilisasi
4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam
uterus (Saifuddin,
2006).
2.3.5 Keuntungan IUD
Keuntungan dari IUD ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
2. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
3. Metode jangka panjang
4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual


Gambar 2.2 Mekanisme Kerja
Universitas Sumatera Utara
6. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu
takut untuk hamil
7. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
8. Tidak efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-
380A)
9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah
abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
10. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih
setelah haid terakhir)
11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat
12. Membantu mencegah kehamilan ektopik
2.3.6 Kerugian IUD
1. Efek samping yang umum terjadi:
- Perubahan pada siklus haid (umumnya pada
3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3
bulan)
- Haid lebih lama dan banyak
- Perdarahan (spotting) antarmenstruasi
- Saat haid lebih sakit
2. Komplikasi lain:
- Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai
5 hari setelah pemasangan.
- Perdarahan berat pada waktu haid atau
diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia
- Perforasi dinding uterus (sangat jarang
apabila pemasangannya benar)
3. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
4. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau
perempuan yang sering berganti pasangan
Universitas Sumatera Utara
5. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan
dengan IMS memakai AKDR, Penyakit radang panggul
dapat memicu infertilitas
6. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari
waktu ke waktu.
7. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri
8. Sedikit nyeri dan perdarahan terjadi setelah pemasangan
AKDR (Saifuddin, 2006)
2.3.7 Indikasi IUD
1. Usia reproduktif
2. Keadaan nulipara
3. Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
4. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
6. Risiko rendah dari IMS
7. Tidak menghendaki metode hormonal
8. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya
infeksi
9. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap
hari
Pada umumnya ibu dapat menggunakan AKDR Cu dengan
aman dan efektif. AKDR dapat digunakan pada ibu dalam
segala kemungkinan keadaan misalnya:
1. Perokok
2. Sedang menyusui
3. Gemuk ataupun yang kurus
4. Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak
terlihat adanya infeksi
Universitas Sumatera Utara
5. Sedang memakai antibiotika atau anti kejang Begitu juga
Ibu dalam keadaan seperti dibawah ini dapat menggunakan
AKDR:
1. Penderita tumor jinak payudara, kanker payudara
2. Tekanan darah tinggi
3. Pusing-pusing, sakit kepala
4. Varises di tungkai atau di vulva
5. Penderita penyakit jantung
6. Pernah menderita stroke
7. Penderita diabetes dan penyakit hati atau empedu
8. Epilepsi
9. Setelah pembedahan pelvic
10. Penyakit tiroid
11. Setelah kehamilan ektopik (saifuddin, 2006)
2.3.8 Kontraindikasi IUD
Yang tidak boleh menggunakan AKDR secara mutlak, apabila:
1. Kehamilan
2. Perdarahan saluran genital yang tidak terdiagnosis; bila
penyebab didiagnosis dan diobati, AKDR dapat dipasang.
3. Kelainan pada uterus missal uterus bikornu
4. Alergi terhadap komponen AKDR mis, tembaga.
5. HIV/AIDS karena penurunan sistem imun dan
peningkatan risiko infeksi
6. Infeksi panggul atau vagina; bila telah diobati, AKDR
dapat dipasng.
Universitas Sumatera Utara
Yang tidak boleh menggunakan AKDR secara relatif, apabila:
1. Riwayat infeksi panggul
2. Dismenorea dan/atau menoragi
3. Fibroid dan endometriosis
4. Terapi penisilamin dapat mengurangi keefektivan tembaga
(Everett, 2008)
2.3.9 Waktu Penggunaan IUD
1. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
2. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan
klien tidak hamil
3. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau
setelah 4 minggu pascapersalinan; setelah 6 bulan
apabila menggunakan metode amonorea laktasi (MAL).
4. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7
hari) apabila tidak ada gejala infeksi
5. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak
dilindungi (Saifuddin, 2006).
2.3.10 Pemeriksaan Ulang IUD
Setelah pemasangan IUD perlu dilakukan control medis dengan
jadwal:
a. Setelah pemasangan kalau dipandang perlu diberikan
antibiotika profilaksis.
b. Jadwal pemeriksaan ulang:
1. Dua minggu setelah pemasangan
2. Satu bulan setelah pemeriksaan pertama
3. Tiga bulan setelah pemeriksaan kedua
4. Setiap enam bulan sampai satu tahun
Universitas Sumatera Utara
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dapat dibuka sebelum
waktunya bila dijumpai:
1. 2. 3. 4. 5.
2.4 2.4.1
Ingin hamil kembali Leokorea, sulit diobati dan peserta
menjadi kurus. Terjadi infeksi Terjadi perdarahan Terjadi
kehamilan mengandung bahan aktif dengan AKDR (Manuaba,
2001). Pengetahuan dan Sikap PUS (Pasangan Usia
Subur) Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan merupakan
hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Menurut
tim kerja dari WHO, Pengetahuan diperoleh dari pengalaman
sendiri atau pengalaman orang lain.
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi
proses yang berurutan, yakni:
1. Awareness (Kesadaran) yakni orang tersebut menyadari
dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
2. Interest yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evalution (menimbang-nimbang baik dan tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap
responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, yakni orang telah mulai mencoba perilaku baru.
Universitas Sumatera Utara
5. Adoption, subjek telah berperilaku baru selesai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai
6 tingkatan.
1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu
materi yang telah dipelajari sebelumnya atau mengingat
kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari/rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan
sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi secara benar.
3. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai
kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan
untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam
komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu
kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.
Universitas Sumatera Utara
6. Evaluasi (Evaluation) Berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria
yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-kriteria yang
telah ada (Notoadmodjo, 2003). Pengukuran pengetahuan
dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari
subjek penelitian atau responden. 2.4.2 Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara
nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap
stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan
reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Dengan
kata lain, sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas,
akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.
Sikap itu masih reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka
atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan
untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai
suatu penghayatan terhadap objek. Beberapa tingkatan sikap
antara lain yaitu:
1. Menerima Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau
dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek

1.
2. Merespon Memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
3. Menghargai Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah.
4. Bertanggung Jawab Bertanggung jawab atas semua jawaban
yang dipilihnyadengan segala resiko (Notoadmodjo,
2003). Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap
adalah : Pengalaman Pribadi
Sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk
dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.
Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.
Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang
harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek
psikologis.
Kebudayaan Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
Apabila kita hidup dalam budaya yang mempunyai norma
longgar bagi pergaulan heteroseksual, sangat mungkin kita akan
mempunyai sikap yang mendukung terhadap masalah kebebasan
pergaulan heteroseksual. Apabila kita hidup dalam budaya sosial
yang sangat mengutamakan kehidupan kelompok, akan sangat
mungkin kita akan mempunyai
2.
Universitas Sumatera Utara
3.
sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang sangat
mengutamakan kepentingan perorangan.
Orang yang dianggap penting Orang lain di sekitar kita
merupakan salah satu diantaranya komponen sosial yang ikut
mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting,
seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak
dan tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita
kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita, akan
banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap
sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi
individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih
tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau
suami dan lain-lain.
Media massa Media massa sebagai sarana komunikasi.
Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar,
majalah dll, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan
opini dan kepercayaan orang. Penyampian informasi sebagai
tugas pokoknya. Media massa membawa pula pesan-pesan yang
berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya
informasi baru sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru
bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
Institusi/Lembaga pendidikan dan lembaga agama Lembaga
pendidikan serta lembaga agama sebagai salah satu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena
meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri
individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis
pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh
dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan
serta ajaran-ajarannya.
Faktor emosi dalam diri individu Bentuk sikap tidak semuanya
ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi
seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan
pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai
semacam penyalur frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme
pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang
sementara dan serta berlalu begitu frustasi telah hilang akan
tetapi dapat pula merupakan sikap yang mempengaruhi
pembentukan sikap, menurut Walgito (2003) dalam Azwar
adalah faktor pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil dari
tahu, dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu, individu mempunyai dorongan
untuk mengerti, dengan pengalamannya untuk memperoleh
pengetahuan. Sikap seseorang terhadap objek menunjukan
pengetahuan tersebut mengenai objek yang bersangkutan

Pasangan Usia Subur (PUS)
2.5
Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami isteri yang
isterinya berusia 15-49 tahun. Ini dibedakan dengan perempun
usia subur yang berstatus janda atau cerai.


































A. Kontrasepsi
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra
berarti melawan atau mencegah, sedangkan konsepsi adalah
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang
mengakibatkan kehamilan. Jadi, kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma
(Suratun,dkk. 2008. hal.27).
Secara umum, menurut cara penatalaksanaannya kontrasepsi
dibagi menjadi dua, yaitu:
3. Cara temporer (spacing), yaitu menjarangkan kelahiran
selama beberapa tahun sebelum menjadi hamil lagi.
4. Cara permanen (kontrasepsi mantap), yaitu mengakhiri
kesuburan dangan cara mencegah kehamilan secara
permanen.
Adapun syarat-syarat alat kontrasepsi yaitu:
f. Aman pemakaiannya dan dipercaya
g. Tidak ada efek samping yang merugikan
h. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
i. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan
j. Tidak memerlukan bantuan medis atau kontrol yang ketat
selama pemakaiannya
k. Cara penggunaannya sederhana atau tidak rumit
l. Harga murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat
m. Dapat diterima oleh pasangan suami istri
(Proverawati,dkk. 2010. hal.1-2).
B. Kontrasepsi Suntik
Terdapat dua jenis kontrasepsi hormon suntikan KB.
1. Suntikan progestin
Kontrasepsi suntikan berdaya kerja lama yang hanya
mengandung progestin dan banyak di pakai sekarang ini adalah:
3. DMPA (Depo Medroxyprogesterone Asetat) atau Depo
provera, diberikan sekali setiap 3 bulan dengan dosis 150
mg. Disuntikkan secara intramuscular di daerah bokong.
4. NET-EN (Norethindrone enanthare) atau Noristerat:
Diberikan dalam dosis 200 mg sekali setiap 8 minggu atau
setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama (= 3 kali suntikan
pertama), kemudian selanjutnya sekali setiap 12 minggu
(Pinem, 2009. hal.269).
a. Cara Kerja:
5. Mencegah ovulasi
6. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan
kemampuan penetrasi sperma.
7. Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi sehingga
kurang baik untuk implantasi ovum yang telah dibuahi.
8. Menghambat transportasi gamet oleh tuba (Speroff &
Darney, 2005. Hal. 184).
b. Keuntungan Kontrasepsi ini adalah :
8. Efektifitasnya tinggi.
9. Sederhana pemakaiannya.
10. Cukup menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya
dilakukan 4x setahun).
4. Reversibel.
5. Cocok untuk ibu-ibu yang menyusui anaknya (Prawirohardjo,
2008. hal.551).
c. Efek Samping :
5. Adanya gangguan haid, berupa:
a) Siklus haid memenjang atau memendek.
b) Perdarahan bayak atau sedikit.
c) Perdarahan tidak teratur ataupun perdarahan bercak.
d) Tidak haid sama sekali.
6. Pada penggunaan jangka panjang akan terjadi defisiensi
estrogen sehingga dapat menyebabkan kekeringan vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, jerawat,
dan meningkatnya resiko osteoporosis (Meilani,dkk. 2010.
hal.108).
7. Amenorea (tidak terjadi perdarahan),
perdarahan/perdarahan bercak (spotting),
meningkat/menurunnya berat badan (Saifuddin, 2006).
d. Waktu Pemberian dan Dosis
Depo provera sangat cocok untuk program post partum oleh
karena tidak mengganggu laktasi, dan terjadinya amenorea
setelah suntikan. Suntikan Depo provera tidak akan
mengganggu ibu-ibu yang menyusui anaknya dalam masa post
partum, karena dalam masa ini terjadi amenorea laktasi. Untuk
program post partum Depo proverawati disuntikkan sebelum ibu
meninggalkan Rumah sakit; sebaiknya sesudah air susu ibu
terbentuk, yaitu kira-kira hari ke-3 s/d hari ke-5. Depo
proverawati disuntikkan dalam dosis 150 mg/cc sekali 3 bulan.
Suntikan harus intramuskular dalam (Proverawati, 2008.
hal.37).
2. Suntikan Kombinasi
Suntikan kombinasi yang beredar di pasaran Indonesia adalah
kombinasi antara 25 mg medroksiprogesteron asetat dan 5 mg
estradiol sipinoat yang diberikan secara injeksi intramuskular
sebulan sekali (Cyclofem). Cara kerja kombinasi ini pada
prinsipnya sama dengan kerja pil kombinasi. Yang membedakan
adalah lebih secara teknis karena isi dari kontrasepsi suntik ini
tidak mengandung etinilestradiol maka resiko terhadap
hipertensi dan vaskularisasi yang disebabkan oleh hormone ini
praktis tidak terjadi. Maka kontrasepsi suntik ini lebih aman di
pakai untuk perempuan yang hipertensi. Demikian juga pada
perempuan yang mempunyai migrain juga lebih aman
menggunakan kontrasepsi ini (Meilani,dkk. 2010. hal.106).
a. Cara Kerja:
6. Menekan ovulasi.
7. Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi
sperma terganggu.
8. Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi
terganggu.
9. Menghambat transportasi gamet oleh tuba (Saifuddin,
2006).
b. Keuntungan Kontrasepsi:
13. Sangat efektif, (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan)
selama tahun pertama.
14. Resiko terhadap kesehatan kecil, efek samping sangat
kecil.
15. Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri.
16. Tidak perlu dilakukan periksa dalam.
17. Jangka panjang.
18. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik (Pinem, 2009.
hal.276).
c. Efek Samping Yang Sering Terjadi:
5. Efek samping yang timbul sama dengan efek samping
kontrasepsi oral kombinasi. Perdarahan tidak teratur,
terjadi terutama selama tiga bulan pertama, dan sebagian
besar klien mengalami siklus menstruasi teratur setelah
tiga bulan.
6. Efek samping lain yang sering muncul adalah nyeri tekan
payudara, peningkatan tekanan darah, timbul jerawat, dan
peningkatan berat badan (Varney,dkk. 2007. hal.484).
7. Amenorea, mual/pusing/muntah, perdarahan/perdarahan
bercak (spotting), perubahan suasana hati, penurunan
libido (Pinem, 2009. hal.280).
C. Kontrasepsi Pil
Pil KB memberikan keuntungan yaitu tetap membuat menstruasi
teratur, mengurangi kram atau sakit saat menstruasi. Kesuburan
juga dapat kembali pulih dengan cara menghentikan pemakaian
pil ini. Cara kerja pil KB adalah dengan mencegah pelepasan sel
telur. Pil ini mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi (99%)
bila digunakan dengan tepat dan secara teratur.
1. Pil Kombinasi
Pil kombinasi atau combination oral contraceptive pil adalah pil
KB yang mengandung kombinasi derivate estrogen (contoh:
etinil estradiol) dan derivate progestin (contoh: levonorgestrel)
dalam dosis kecil (Proverawati,dkk. 2010. hal.40).
a. Jenis Pil Kombinasi:
9. Monofasik Monofasik adalah pil yang tersedia dalam
kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan
progestin dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif.
10. Bifasik Bifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan
21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progestin
dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 teblet tanpa
hormon aktif.
11. Trifasik Trifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan
21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progestin
dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif (Glasier & Geiebb, 2006. hal.38-39 ).
10. Cara Kerja:
Menekan ovulasi
Mencegah implantasi
Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh
sperma
Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi
telur dengan sendirinya akan terganggu pula
(Saifuddin, 2006).
11. Keuntungan:
Efektivitasnya dapat dipercaya (daya guna teoritis
hampir 100%, daya guna pemakaian 95-98%.
Frekuensi koitus tidak perlu di atur.
Siklus haid jadi teratur.
4. Keluhan-keluhan disminorea yang primer menjadi berkurang
atau hilang sama sekali (Prawirohardjo, 2008. hal.549).
d. Kelemahan:
5. Pil harus diminum setiap hari
6. Dapat mengurangi produksi ASI (karena terdapat hormone
estrogen)
7. Kenaikan metabolisme sehingga sebagian akseptor akan
menjadi lebih gemuk
8. Dapat meningkatkan tekanan darah (pada kontrasepsi yang
menggunakan turunan estrogen yang jenisnya
etinilestradiol)
9. Tidak mencegah infeksi menular seksual (PMS)
(Meilani,dkk. 2010. hal.93).
c. Efek Samping:
Efek samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan pil
kombinasi ini antara lain :
12. Peningkatan resiko thrombosis vena, emboli paru,
serangan jantung, stroke dan kanker leher rahim.
13. Peningkatan tekanan darah dan retensi cairan.
14. Pada kasus-kasus tertentu dapat menimbulkan depresi,
perubahan suasana hati dan penurunan libido.
15. Mual (terjadi pada 3 bulan pertama).
16. Kembung.
17. Perdarahan bercak atau spotting (terjadi 3 bulan pertama).
18. Pusing.
19. Amenorea
20. Nyeri payudara.
10. Kenaikan berat badan (Proverawati,dkk. 2010.
hal.44). 11.Perdarahan tidak teratur, mual, pusing, nyeri
payudara, berat badan sedikit naik, berhenti haid, jerawat, dapat
meningkatkan tekanan darah, Pada sebagian kecil perempuan
dapat menimbulkan depresi dan perubahan suasana hati,
sehingga keinginan untuk melakukan hubunagn
seksual berkurang (Sulistiawati, 2011. hal.69).
2. Mini Pil
Mini pil hanya mengandung progestin saja (contoh: nerotindron,
norgestrel, atau linestrenol) dalam dosis rendah. Oleh karena itu,
mini pil cocok untuk ibu menyusui karena tidak mengandung
derivat estrogen sehingga tidak mempengaruhi produksi ASI.
Dosis progestin yang digunakan adalah 0,03-0,05 mg per tablet.
Contoh mini pil yang beredar di pasaran adalah exluton dan
mini pil (Proverawati,dkk. 2010. hal.48).
a. Ada 2 jenis mini pil, yaitu:
7. Kemasan dengan isi 35 pil. Pil ini mengandung 300 mg
levonogestrel atau 350 mg noretindron.
8. Kemasan dengan isi 28 pil. Pil ini mengandung 75 mg
desogestrel (Saifuddin, 2006).
b. Cara Kerja Mini Pil:
5. Mencegah terjadinya ovulasi pada beberapa siklus
6. Perubahan pada motilitas tuba sehingga transportasi
sperma terganggu
7. Perubahan dalam fungsi korpus luteum
8. Mengentalkan lender serviks yang mengganggu penetrasi
atau daya hidup spermatozoa
5. Endometrium berubah sehingga menghalangi implantasi
ovum yang telah dibuahi (Pinem, 2009. hal.263).
c. Keuntungan:
6. Cocok sebagai alat kontrasepsi untuk perempuan yang
sedang menyusui.
7. Sangat efektif pada masa laktasi.
8. Dosis gestagen rendah.
9. Tidak menurunkan produksin ASI.
10. Tidak mengganggu hubungan seksual.
11. Kesuburan cepat kembali.
12. Tidak memberikan efek samping estrogen.
13. Tidak ada bukti peningkatan resiko penyakit
kardiovaskuler, resiko tromoemboli vena dan resiko
hipertensi.
14. Cocok untuk perempuan yang menderita diabetes mellitus
dan migraine.
15. Cocok untuk perempuan yang tidak bisa mengkonsumsi
estrogen.
16. Dapat mengurangi disminorea (Meilani,dkk. 2010.
hal.101)
d. Efek Samping:
c. Perdarahan tidak teratur/terganggunya pola haid (spotting,
amenorhea).
d. Nyeri payudara.
e. Fluktuasi berat badan.
f. Mual.
g. Kembung.
h. Depresi (Meilani, 2010. hal.102)