Anda di halaman 1dari 8

DRY SOCKET (ALVEOLAR OSTEITIS)

Definisi
Dry socket merupakan salah satu komplikasi yang sering ditemukan pasca
pencabutan gigi permanen. Tingkat insidensi dry socket dilaporkan mencapai
0,5% hingga 5% pada pencabutan gigi dan dapat bervariasi dari 1% hingga 37,5%
pada pencabutan gigi molar ketiga mandibula. Pencabutan gigi secara bedah juga
dilaporkan dapat meningkatkan insidensi dry socket 10 kali lebih tinggi.
Setelah pencabutan gigi terbentuk bekuan darah di tempat pencabutan, di
mana bekuan ini terbentuk oleh jaringan granulasi, dan akhirnya terjadi
pembentukan tulang secara perlahan-lahan. Bila bekuan darah ini rusak maka
pemulihan akan terhambat dan menyebabkan sindroma klinis yg disebut alveolar
osteitis (dry socket). Alveolar osteitis ini terjadi karena adanya perubahan
plasminogen menjadi plasmin yang menyebabkan fibrinolisis pada bekuan darah
di soket bekas pencabutan. Ini adalah sakit pasca operasi pada atau di sekitar soket
gigi yang dapat meningkat tiap waktu antara hari pertama dan hari ketiga setelah
pencabutan yang ditandai dengan hilangnya bekuan darah pada soket alveolar
serta dengan atau tanpa halitosis.

Etiologi
Beberapa faktor lokal dan sistemik diketahui memiliki kontribusi pada terjadinya
dry socket, antara lain:
a. Trauma Bedah dan Kesulitan dalam Bedah
Hal ini karena lebih banyak pembebasan second direct tissue activator
pada inflamasi bone marrow yang dapat terjadi jika pencabutan gigi lebih
sulit dan traumatik. Pencabutan gigi secara bedah 10 kali lipat dapat
meningkatkan insidensi dry socket dibandingkan dengan pencabutan gigi
secara non bedah.
b. Kurangnya Pengalaman Operator
Larsen mengemukakan bahwa operator yang kurang berpengalaman dapat
menyebabkan trauma yang lebih besar selama pencabutan gigi, khususnya
pencabutan gigi molar ketiga mandibula secara bedah.

c. Molar Ketiga Mandibula
Dry socket lebih banyak ditemukan pada pencabutan gigi molar ketiga
mandibula. Hal ini berkaitan dengan kepadatan tulang yang meningkat,
vaskularisasi menurun dan berkurangnya kapasitas produksi jaringan
granulasi yang bertanggung jawab khusus pada daerah tersebut.

d. Penyakit Sistemik
Beberapa penelitian mengemukakan bahwa terdapat asosiasi antara
penyakit sistemik dengan dry socket. Pasien dengan immunocompromised
atau diabetes cenderung untuk mengalami dry socket karena dapat
mengubah proses penyembuhan luka.


e. Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral merupakan satu-satunya medikasi yang memiliki asosiasi
dengan insidensi dry socket. Selain itu, ditemukan bahwa peningkatan
insidensi dry socket memiliki korelasi dengan penggunaan kontrasepsi
oral. Estrogen dikatakan memiliki peran yang signifikan dalam proses
fibrinolisis. Estrogen dipercaya mengaktifkan sistem fibrinolitik
(meningkatkan faktor II, VII, VIII, X dan plasminogen) secara tidak
langsung dan kemudian menyebabkan peningkatan lisis bekuan darah.


f. Jenis Kelamin
Banyak penulis mengklaim bahwa jenis kelamin perempuan tanpa
memperhatikan penggunaan kontrasepsi oral merupakan predisposisi
terjadinya dry socket. Namun, dikemukakan juga bahwa tidak ada
perbedaan dalam insidensi dry socket yang berasosiasi dengan jenis
kelamin.

g. Merokok
Beberapa studi mengemukakan terdapat hubungan antara merokok dengan
dry socket. Mekanisme sistemik atau pengaruh lokal secara langsung
(panas atau isapan rokok) pada daerah pencabutan gigi yang menyebabkan
peningkatan insidensi dry socket juga belum diketahui secara pasti.
Dipertimbangkan bahwa fenomena ini berkaitan dengan paparan substansi
asing yang dapat bertindak sebagai kontaminan pada daerah pencabutan
gigi.

h. Infeksi bakteri
Banyak studi yang mendukung bahwa infeksi bakteri merupakan faktor
utama terjadinya dry socket. Penelitian mengenai asosiasi antara
Actinomyces viscosus dan Streptococcus mutans pada dry socket
menunjukkan penyembuhan luka yang lambat dari daerah bekas
pencabutan gigi setelah inokulasi mikroorganisme ini pada model hewan.

Terdapat aktivitas fibrinolitik pada kultur Treponema denticola, yaitu
mikroorganisme yang terdapat pada penyakit periodontal.


i. Irigasi yang Berlebihan atau Kuretase Alveolus
Irigasi yang berlebihan secara berulang-ulang pada alveolus dapat
mengganggu pembentukan bekuan darah, sedangkan kuretase secara keras
dapat melukai tulang alveolar.


j. Umur
Semakin tua umur pasien, resiko untuk mengalami dry socket juga
semakin tinggi. Dikemukakan juga bahwa pengangkatan gigi molar ketiga
mandibula sebaiknya dilakukan sebelum umur 24 tahun.
k. Anestesi Lokal dengan Vasokonstriktor
Penggunaan anestesi lokal dengan vasokonstriktor dapat meningkatkan
insidensi dry socket. Dikemukakan bahwa frekuensi dry socket meningkat
dengan anestesi infiltrasi. Karena, ischemia temporer dapat menyebabkan
suplai darah berkurang.

l. Terdapat Sisa Fragmen Tulang/Akar pada Luka
Fragmen sisa tulang atau akar dan debris dapat menyebabkan
terganggunya penyembuhan dan memiliki kontribusi dalam insidensi dry
socket.


Patogenesis
Lisis total atau partial dan hancurnya bekuan darah disebabkan oleh
pelepasan mediator selama inflamasi oleh aktivasi plasminogen direct atau
indirect ke dalam darah. Ketika mediator dilepaskan oleh sel-sel pada tulang
alveolar pasca trauma, plasminogen akan berubah menjadi plasmin yang
menyebabkan pecahnya bekuan darah oleh disintegrasi fibrin. Perubahan ini
terjadi oleh adanya proaktivator selular atau plasmatik dan aktivator lainnya.
Aktivator-aktivator tersebut diklasifikasikan menjadi direct (fisiologik) dan
indirect (nonfisiologik) aktivator dan juga telah dibagi ke dalam subklasifikasi
berdasarkan sumbernya, yaitu aktivator intrinsik dan ekstrinsik.
Aktivator intrinsik berasal dari komponen plasma, seperti aktivator factor
XII-dependent atau factor-Hageman-dependent dan urokinase. Direct aktivator
intrinsik berasal dari luar plasma dan termasuk aktivator jaringan dan
plasminogen endothelial. Aktivator jaringan plasminogen paling banyak
ditemukan pada mamalia, termasuk pada tulang alveolar. Indirect aktivator
termasuk streptokinase dan stafilokinase. Substansi-substansinya dihasilkan dari
interaksi antara bakteri dengan plasminogen dan bentuk aktivator kompleks
tersebut yang mengubah plasminogen menjadi plasmin.
Rasa sakit yang khas pada dry socket berhubungan dengan pembentukan
senyawa kinin di dalam alveolus. Kinin mengaktifkan terminal nervus primer
afferen yang peka terhadap mediator inflamasi dan susbtansi allogenik lainnya
yang pada konsentrasi 1ng/ml dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat. Plasmin
juga menyebabkan perubahan kallikrein menjadi kinin di dalam sumsum tulang
alveolar. Sehingga, adanya plasmin dapat menjelaskan kemungkinan terjadinya
dry socket dari berbagai aspek (seperti neuralgia dan disintegrasi bekuan darah)
Treponema denticola diketahui berkembang biak dan menghancurkan
bekuan darah tanpa menghasilkan gejala klinis yang khas pada infeksi, seperti
kemerahan, bengkak atau terbentuknya pus dan sebelumnya telah diisolasi dari
dry socket. Treponema denticola adalah bakteri anaerob yang berimplikasi pada
penyakit periodontal dan dapat menghasilkan bau busuk yang khas dari dry socket.
Treponema denticola menunjukkan aktivitas fibrinolitik seperti plasmin,
sedangkan bakteri rongga mulut lainnya pada umumnya hanya memiliki aktivitas
yang minim. Treponema denticola merupakan koloni yang belakangan ditemukan
pada rongga mulut dan berimplikasi lebih lanjut karena dry socket jarang
ditemukan pada anak-anak.


Klasifikasi
Hermesch et al dalam jurnal Clinical Concepts of Dry socket
mengklasifikasikan komplikasi ini ke dalam tiga tipe, yaitu:
a. Superficial alveolitis marginal
Pada marginal alveolitis, mukosa perialveolar menjadi terinflamasi dan
sebagiannya tertutupi oleh jaringan granulomatosa serta terasa sakit selama
mastikasi.
b. Suppurative alveolitis
Pada alveolitis supuratif, bekuan darah terinfeksi dan tertutupi oleh membran
berwarna hijau keabu-abuan serta dapat mengandung fragmen dental atau
tulang yang sequester. Hal ini menyebabkan rasa sakit yang cukup hebat dan
kadang-kadang disertai demam.
c. Dry socket
Pada dry socket, dinding tulang alveolar terbuka, hilangnya bekuan darah
secara total atau parsial, berwarna agak gelap dan bau yang busuk. Rasa sakit
yang hebat dan terus-menerus yang tidak dapat reda dengan pemberian
analgesik. Hyperthermia lokal dan lymphadenopathy juga dapat mumcul pada
tipe alveolitis ini.
Selain itu, Oikarinen dalam jurnal Clinical Concepts of Dry socket
mengklasifikasikan komplikasi ini menjadi dua, yaitu:
a. Real alveolitis, menghasilkan gejala yang khas dari dry socket dan
memerlukan follow up secara profesional.
b. Nonspecific alveolitis, terjadi pada hari ketiga hingga keempat pasca
pencabutan gigi. Tipe ini lebih sering ditemukan dan tidak memerlukan
perawatan profesional meskipun terdapat gejala rasa sakit.

Diagnosis
Gejala dry socket adalah:
a. Rasa Sakit
Pasien biasanya merasakan sakit pada hari ke 2 sampai dengan hari ke 5
setelah pencabutan dengan keluhan sakit yang hebat pada daerah bekas
pencabutan dan rasa sakitnya dapat menjalar sampai ke telinga pada sisi yang
sama atau bagian yang lain dari wajah tetapi tidak dengan tanda-tanda gejala
dari infeksi seperti demam, pembengkakan dan erithema. Kadang-kadang
dijumpai lymphadenitis regional, rasa sakit dirasakan berdenyut dan
kadangkala juga rasa sakit tidak hilang dengan obat-obatan analgesik.
b. Halitosis dan rasa tidak enak
Sisa-sisa makanan yang dapat menumpuk di dalam socket dapat menghasilkan
rasa yang tidak enak dan bau mulut.
Secara keseluruhan gejalanya timbul pada hari ke 3 sampai dengan hari ke 5
setelah pencabutan gigi dan apabila tidak ditangani gejalanya akan berlanjut
sampai dengan hari ke 7 atau sampai hari ke 14. Tanda klinis yang dapat dilihat
seperti Bare Bone dan margin ginggiva.
a. Bare Bone
Pada pemeriksaan Probe Test dengan menggunakan sonde lurus, tanda yang
sangat khas sekali adalah rasa sakit sekali apabila sonde menyentuh Bare
Bone.Dimana awalnya terdapat gambaran bekuan darah yang berwarna abu
abu kehitaman dan ketika bekuan darahnya hilang akhirnya terdapat jaringan
granulasi dari Bone Bare yang berwarna kuning keabu-abuan.






Gambar 1. Probe Test
b. Margin Ginggiva
Biasanya margin ginggiva pada daerah sekitar socket agak bengkak dan
berwarna merah tua.
Diagnosis dry socket ditetapkan dengan memriksa gusi apakah tulang alveolar
terekspos. Soket juga dapat diuji apakah sensitif terhadap sentuhan. Foto
panoramik dan interdental dapat dilakukan untuk menentukan apakah terdapat
fragmne gigi atau tulang dalam soket.
Penatalaksanaan
Beberapa cara yang dapat diupayakan untuk mencegah dry socket adalah:
1. Langkah sebelum operasi:
1.1. Gunakan obat kumur antiseptik sebelum melakukan pencabutan.
1.2. Gunakan antibiotik profilaksis.
2. Langkah sewaktu operasi:
2.1. Perhatikan tindakan asepsis.
2.2. Trauma jaringan lunak dan keras yang seminimal mungkin.
2.3. Perhatikan kondisi tulang yang ada setelah dilakukan pencabutan, apakah
ada serpihan tulang, bagian tulang yang ekspose atau bagian tulang yang
tajam.
2.4. Irigasi dengan laurtan garam dan kuretase setelah dilakukan pencabutan.
2.5. Apabila mungkin dilakukan penjahitan mukosa.
3. Langkah setelah tindakan:
3.1. Instruksikan pasien untuk mengigit tampon dengan betadine kurang lebih
1 jam, jangan berkumur-kumur, atau menghisap-hisap darah operasi,
hindari merokok.
3.2. Menjaga kebersihan mulut dan menjaga luka dari iritasi mekanik seperti
mengunyah pada daerah sisi yang lain.
3.3. Pemakaian obat kumur chlorhexidine 0,12% segera setelah pencabutan
dan 7 hari paska pencabutan
3.4. Intake yang cukup, cairan, kalori dan protein.
Tujuan perawatan dry socket adalah untuk mengurangi rasa sakit yang
dirasakan oleh pasien selama proses penyembuhan yang tertunda. Hal ini biasanya
diselesaikan dengan irigasi pada soket, debridemen secara mekanik dan
penempatan dressing yang mengandung eugenol. Irigasi soket dengan
menggunakan larutan saline hangat untuk menghilangkan debris. Lalu lakukan
pemberian antiseptik dressing untuk menutupi tulang yang terekspos. Antiseptik
dressing yang digunakan adalah pasta zinc oxide / eugenol yang diletakan di
bagian korona dari soket gigi untuk menutup tulang. Keuntungan Zn oxide /
eugenol adalah selain dapat meredakan rasa sakit, dapat juga merupakan
antimikroba yang luas. Ini juga memproteksi bare bone dari iritasi seperti sisa
makanan, saliva dan mencegah sisa makanan berkumpul di dalam soket. Dressing
perlu untuk diganti setiap hari selama beberapa hari dan kemudian berkurang
frekuensinya. Rasa sakit biasanya hilang dalam 3 sampai 5 hari, meskipun dapat
mencapai 10 sampai 14 hari pada beberapa pasien.