Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Limbah adalah sisa dari suatu usaha atau kegiatan. Limbah berbahaya dan beracun
adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun
yang karena sifat, konsentrasi, dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan, merusak lingkungan hidup, atau membahayakan
lingkungan hidup manusia serta makhluk hidup
Limbah cair adalah bahan-bahan pencemar berbentuk cair. Air limbah adalah air yang
membawa sampah (limbah) dari rumah tinggal, bisnis, dan industri yaitu campuran air
dan padatan terlarut atau tersuspensi dapat juga merupakan air buangan dari hasil
proses yang dibuang ke dalam lingkungan. Berdasarkan sifat fisiknya limbah dapat
dikategorikan atas limbah padat, cair, dan gas.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian
lingkungan. Berbagai teknik pengolahan air limbah untuk menyisihkan bahan
polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air
buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga
metode pengolahan, yaitu pengolahan secara fisika, pengolahan secara kimia, dan
pengolahan secara biologi. Pada makalah ini akan membahas mengenai penolahan
limbah cair secara kimia.

B. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :
- Untuk mengetahui prinsip pengolahan limbah cair secara kimia.
- Untuk membahas mengenai macam-macam proses pengolahan limbah cair secara
kimia.
C. Rumusan Masalah
- Bagaimanakah prinsip pengolahan limbah cair secara kimia ?
- Apa saja macam-macam pengolahan limbah secara kimia ?


2



BAB II
PEMBAHASAN


A. Prinsip
Prinsip yang digunakan untuk mengolah limbah cair secara kimia adalah
menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat bahan pencemar yang
dikandung air limbah, kemudian memisahkannya (mengendapkan atau mengapungkan).
Kekeruhan dalam air limbah dapat dihilangkan melalui penambahan atau pembubuhan
sejenis bahan kimia yang disebut flokulan. Pada umumnya bahan seperti aluminium sulfat
(tawas), fero sulfat, poli amonium khlorida atau poli elektrolit organik dapat digunakan
sebagai flokulan. Untuk menentukan dosis yang optimal, flokulan yang sesuai dan pH
yang akan digunakan dalam proses pengolahan air limbah, secara sederhana dapat
dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan test yang merupakan model
sederhana dari proses koagulasi. Dalam pengolahan limbah cara ini, hal yang penting
harus diketahui adalah jenis dan jumlah polutan yang dihasilkan dari proses produksi.
Umumnya zat pencemar industri kain terdiri dari tiga jenis yaitu padatan terlarut, padatan
koloidal, dan padatan tersuspensi.
Terdapat 3 (tiga) tahapan penting yang diperlukan dalam proses koagulasi yaitu :
tahap pembentukan inti endapan, tahap flokulasi, dan tahap pemisahan flok dengan
cairan.
a. Tahap Pembentukan Inti Endapan
Pada tahap ini diperlukan zat koagulan yang berfungsi untuk penggabungan antara
koagulan dengan polutan yang ada dalam air limbah. Agar penggabungan dapat
berlangsung diperlukan pengadukan dan pengaturan pH limbah. Pengadukan
dilakukan pada kecepatan 60-100 rpm selama 1-3 menit; pengaturan pH tergantug
dari jenis koagunlan yang digunakan, misalnya untuk : Alum pH 6- 8, Fero Sulfat pH
8-11, Feri Sulfat pH 5-9, dan PAC pH 6-9,3.

3



b. Tahap Flokulasi
Pada tahap ini terjadi penggabungan inti inti endapan sehingga menjadi molekul yang
lebih besar, pada tahap ini dilakukan pengadukan lambat dengan kecepatan 40-50 rpm
selama 15-30 menit. Untuk mempercepat terbentuknya flok dapat ditambahkan
flokulan misalnya polielektrolit. Polielektrolit digunakan secara luas, baik untuk
pengolahan air proses maupun untuk pengolahan air limbah industri. Polielektrolit
dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu nonionik, kationik dan anionik; biasanya bersifat
larut air. Sifat yang menguntungkan dari penggunaan polielektrolit adalah : volume
lumpur yang terbentuk relatif lebih kecil, mempunyai kemampuan untuk
menghilangkan warna, dan efisien untuk proses pemisahan air dari lumpur( d e w a t e
r i n g ) .

c. Tahap Pemisahan Flok dengan Cairan Flok
Tahap Pemisahan Flok dengan Cairan Flok yang terbentuk selanjutnya harus dipisahkan
dengan cairannya, yaitu dengan cara pengendapan atau pengapungan. Bila flok yang
terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan, maka dapat digunakan alat klarifier,
sedangkan bila flok yang terjadi diapungkan dengan menggunakan gelembung udara,
maka flok dapat diambil dengan menggunakan skimmer. Image Klarifier berfungsi
sebagai tempat pemisahan flok dari cairannya. Dalam klarifier diharapkan lumpur benar-
benar dapat diendapkan sehingga tidak terbawa oleh aliran air limbah yang keluar dari
klarifier, untuk itu diperlukan perencanaan pembuatan klarifier yang akurat. Kedalaman
klarifier dipengaruhi oleh diameter klarifier yang bersangkutan. Misalkan dibuat klarifier
dengan diameter lebih kecil dari 12m, diperlukan kedalaman air dalam klarifirer minimal
sebesar 3,0 m.



4

Proses pengolahan kimia digunakan dalam instalasi air bersih dan IPAL. Pengolahan
secara kimia pada IPAL biasanya digunakan untuk netralisasi limbah asam maupun basa,
memperbaiki proses pemisahan lumpur, memisahkan padatan yang tak terlarut, mengurangi
konsentrasi minyak dan lemak, meningkatkan efisiensi instalasi flotasi dan filtrasi, serta
mengoksidasi warna dan racun.
Beberapa kelebihan proses pengolahan kimia antara lain dapat menangani hampir
seluruh polutan anorganik, tidak terpengaruh oleh polutan yang beracun atau toksik, dan tidak
tergantung pada perubahan konsentrasi. Namun, pengolahan kimia dapat meningkatkan
jumlah garam pada effluent dan meningkatkan jumlah lumpur.

Tujuan pengolahan air secara kimia :
Menetralisasi efluen
Miningkatkan kerja separasi solid dan penghilangan bahan-bahan organik
Memflokulasi zat-zat anorganik terlarut
Menghilangkan konsentrasi sisa lemak dan minyak
Meningkatkan kinerja proses flokulasi dan filtrasi
Mengoksidasi zat-zat pewarnaan atau bahan beracun yang tidak dapat mengurai.





B. MACAM-MACAM PENGOLAHAN AIR SECARA KIMIA
Pengolahan secara kimia (chemical treatment) melibatkan beberapa proses
kimia, yaitu
a. Netralisasi dengan basa atau asam
Limbah cair dari industri pada umumnya bersifat alkali atau asam sehingga
diperlukan proses kimia netralisasi limbah cair. Limbah cair yang bersifat basa, maka proses
netralisasi dilakukan dengan penambahan HCl, atau asam sulfat, atau gas CO
2
sehingga
dicapai nilai pH antara 6,50-8,50. Jika gas karbondioksida tidak tersedia, maka netralisasi
dilakukan dengan menggunakan asam sulfat karena harganya jauh lebih murah jika
dibandingkan dengan asam asam khlorida. Reaksi kimia netralisasi berlangsung cepat,
diperlukan pengadukan, dilengkapi dengan sensor nilai pH, dan alat pengendali penambahan
5

asam. Limbah cair yang bersifat asam dinetralkan dengan penambahan bahan kimia air kapur
atau Ca(OH)
2
, kostik soda atau NaOH, soda abu atau Na
2
CO
3
.
Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan air dan garam. Dalam
pengolahan air limbah, pH diatur antara 6,0 9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air limbah
akan bersifat racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri.
Jenis bahan kimia yang ditambahkan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah serta
kondisi lingkungan setempat. Netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat menambahkan
Ca(OH)
2
atau NaOH, sedangkan bersifat basa dapat menambahkan H
2
SO
4
, HCl, HNO
3
,
H
3
PO
4
, atau CO
2
yang bersumber dari flue gas.
Netralisasi dapat dilakukan dengan dua system, yaitu: batch atau continue, tergantung
pada aliran air limbah. Netralsasi system batch biasanya digunakan jika aliran sedikit dan
kualitas air buangan cukup tinggi. Netralisasi system continue digunakan jika laju aliran
besar sehingga perlu dilengkapi dengan alat kontrol otomatis.
Adapun macam-macam dari proses netralisasi adalah :
a.Mengalirkan air limbah yang bersifat asam pada media batu kapur
Ini merupakan sistem aliran ke bawah atau ke atas. Dimana maximum kecepatan
hydrolik untuk sistem aliran ke bawah adalah 1 gal / (min, ft2) (4,07.10
-2
m
3
/min, m
2
).
Konsentrasi asam dibatasi hingga 0,6 % H
2
SO
4
jika H
2
SO
4
ada dan melapisi butiran
kapur dengan bahan CaSO
4
& CO
2.
Kecepatan hydrolik loading dapat bertambah dengan
sistem aliran ke atas karena hasil dari reaksi dijaga sebelum adanya pengendapan. Sistem
ini dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut :







Gambar 2.1 Sistem Aliran Pada Bangunan Netralisasi
b. Mencampur air limbah yang bersifat asam dengan bahan-bahan yang bersifat
basa
6

Jenis netralisasi ini tergantung dari macam-macam bahan basa yang digunakan
Magnesium adalah bahan basa yang sangat reaktif dalam asam kuat dan digunakan pada
pH di bawah 4,2.
Netralisasi dengan menggunakan bahan basa dapat didefinisikan berdasarkan
faktor titrasi dalam 1 gram sampel dengan HCl yang dididihkan selama 15 menit
kemudian dititrasi lagi dengan 0,5 N NaOH dengan menggunakan phenolpthalen sebagai
buffer. Mencampurkan bahan-bahan basa dapat dilakukan dengan pemanasan maupun
pengadukan secara fisik. Untuk bahan yang sangat reaktif, reaksi terjadi secara lengkap
selama 10 menit. Bahan-bahan basa lainya yang dapat digunakan sebagai netralisasi
adalah NaOH, Na
2
CO
3
atau NH
4
OH.

c.Air limbah yang bersifat basa
Banyak bahan asam kuat yang efektif digunakan untuk menetralkan air limbah
yang bersifat basa, biasanya yang digunakan adalah sulfaric atau hydrochloric acid. Asap
gas yang terdri dari 14 % CO
2
dapat digunakan untuk netralisasi dengan melewatkan
gelembung-gelembung gas melalui air limbah CO
2
ini terbentuk dari carbonik acid yang
mana dapat bereaksi dengan basa. Reaksi ini lambat tapi cukup untuk mendapatkan pH
antara 7 hingga 8. Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan spray
tower.
Adapun beberapa sistem yang digunakan untuk bangunan netralisasi ini adalah :
- Sistem Batch, yang digunakan untuk aliran air limbah hingga 380 m
3
/hari
- Sistem continouse, dengan pH control dimana dibutuhkan udara untuk
pengadukan dengan minimum aliran air 1-3 ft
3
/mm, ft
2
atau 0,3-0,9 m
3
/mm,
m
2
pada kedalaman 9 ft (2,7 m)
Sistem pengadukan mekanis, dimana daya yang digunakan 0,2-0,4 hp/thausand gal ( 0,04 -
0,08 kW/m
3
)








7


b. . Presipitasi
Presipitasi adalah pengurangan bahan-bahan terlarut dengan cara penambahan bahan -
bahan kimia terlarut yang menyebabkan terbentuknya padatan padatan. Dalam pengolahan
air limbah, presipitasi digunakan untuk menghilangkan logam berat, sufat, fluoride, dan
fosfat. Senyawa kimia yang biasa digunakan adalah lime, dikombinasikan dengan kalsium
klorida, magnesium klorida, alumunium klorida, dan garam - garam besi.
Adanya complexing agent, misalnya NTA (Nitrilo Triacetic Acid) atau EDTA (Ethylene
Diamine Tetraacetic Acid), menyebabkan presipitasi tidak dapat terjadi. Oleh karena itu,
kedua senyawa tersebut harus dihancurkan sebelum proses presipitasi akhir dari seluruh
aliran, dengan penambahan garam besi dan polimer khusus atau gugus sulfida yang memiliki
karakteristik pengendapan yang baik
Pengendapan fosfat, terutama pada limbah domestik, dilakukan untuk mencegah
eutrophication dari permukaan. Presipitasi fosfat dari sewage dapat dilakukan dengan
beberapa metode, yaitu penambahan slaked lime, garam besi, atau garam alumunium.

Metode presipitasi (pengendapan) merupakan salah satu metode pengolahan limbah
yang banyak digunakan untuk memisahkan logam berat dari limbah cair. Dalam metode
presipitasi kimia dilakukan penambahan sejumlah zat kimia tertentu untuk mengubah
senyawa yang mudah larut ke bentuk padatan yang tak larut.
Presipitasi kimiawi dapat dipakai untuk mengolah limbah encer yang mengandung
bahan beracun, yang dapat diubah menjadi bentuk tak larut, misalnya limbah yang
mengandung arsen, cadmium, chrom, cuprum, plumbum, hidrargyrum, nikel, argentum, dan
zink.
Proses presipitasi tidak hanya melibatkan proses kimia saja , tetapi juga melibatkan
proses fisik . proses fisik yang ada antara lain adalah perubahan bentuk padatan terlarut yang
relatif berukuran kecil menjadi padatan tersuspensi yang relatif berukuran besar sehingga
mudah diendapkan. Faktor fisik lainya adalah pengadukan untuk mempercepat proses
presipitasi kimia .
Prinsip presipitasi kimia adalah mengubah senyawa Calcium H atau Magnesium H
dalam kondisi terlarut (nilai kelarutan besar) menjadi senyawa Calcium Carbonat dan
Magnesium Hidroksida yang terendapkan atau memiliki nilai kelarutan kecil. Oleh karena
itu, pemahaman terhadap nilai kelarutan senyawa dalam air menjadi faktor penting.
8

Prinsip reaksi pada presipitasi kimia adalah reaksi oksidasi-reduksi yang
membutuhkan kondisi lingkungan (pH, waktu, temperatur, konsentrasi) tertentu. Reaksi yang
terjadi antara konstituen dalam air dengan bahan kimia yang ditambahkan menghasilkan
presipitat yang mudah diendapkan. Diagram alur dari proses presipitasi kimia dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.


c. Koagulasi dan flokulasi
Koagulasi adalah proses destabilisasi partikel senyawa koloid dalam limbah cair.
Proses pengendapan dengan menambahkan bahan koagulan ke dalam limbah cair
sehingga terjadi endapan pada dasar tangki pengendapan. Flokulasi adalah proses
pengendapan pencemar dalam limbah cair dengan penambahan bahan koagulan utama
dan koagulan pendukung sehingga terjadi gumpalan sebelum mencapai dasar tangki
pengendap. Flokulasi dikenal pula sebagai pencampuran (mixing), namun kecepatan
pencampuran sangat lambat, dan tangki flokulasi dilengkapi dengan pengaduk bentuk
pedal, dan baffle atau sirip di dinding tangki flokulasi. Limbah cair yang diberi koagulan
dengan dosis tertentu diaduk dalam tangki flokulasi kemudian pengaduk dimatikan dan
didiamkan, maka akan terbentuk endapan di bagian bawah. Nilai pH untuk koagulasi
harus diperhatikan, misal garam-garam besi bekerja pada nilai pH antara 4,50 sampai
5,50. Sebaliknya, garam alumunium bekerja pada nilai pH antara 5,50 sampai 6,30.
Limbah cair pada perlakuan primer terdiri atas senyawa organik dalam bentuk suspensi
dan senyawa organik terlarut kemudian mengalir masuk ke dalam tangkisedimentasi dan
didiamkan selama 2 sampai 3 jam sehingga terbentuk air limbah relatif bersih dengan
campuran padatan dan limbah cair atau lumpur primer (primary sludge).

9

Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari polutan-polutan yang
tersuspensi koloid yang sangat halus didalam air limbah, menjadi gumpalan-gumpalan
yang dapat diendapkan, disaring, atau diapungkan.
Air baku dari air permukaan sering mengandung bahan-bahan yang tersusun oleh
partikel koloid yang tidak bisa diendapkan secara alamiah dalam waktu singkat. Partikel-
partikel koloid dibedakan berdasarkan ukuran. Jarak ukurannya antara 0,001 mikron (10-
6 mm) sampai 1 mikron (10-3 mm). Partikel yang ditemukan dalam kisaran ini meliputi
(1) partikel anorganik, seperti serat asbes, tanah liat, dan lanau/silt, (2) presipitat
koagulan, dan (3) partikel organik, seperti zat humat, virus, bakteri, dan plankton.
Dispersi koloid mempunyai sifat memendarkan cahaya. Sifat pemendaran cahaya ini
terukur sebagai satuan kekeruhan. Koloid merupakan partikel yang tidak dapat
mengendap secara alami karena adanya stabilitas suspensi koloid. Stabilitas koloid
terjadi karena gaya tarik van der Waal's dan gaya tolak/repulsive elektrostatik serta gerak
brown. Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan proses koagulasi (proses destabilisasi)
melalui penambahan bahan kimia dengan muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada
partikel menyebabkan antar partikel yang berlawanan cenderung bergabung membentuk
inti flok.
Untuk penghilangan zat-zat berbahaya dari air, salah satu cara yang dapat dilakukan
adalah proses koagulasi dan flokulasi. Koagulasi dan flokulasi merupakan proses yang
terjadi secara berurutan untuk mentidakstabilkan partikel tersuspensi, menyebabkan
tumbukan partikel dan tumbuh menjadi flok.
Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok
atau flok kecil menjadi flok yang berukuran besar. Tahap awal dimulai dengan proses
koagulasi, koagulasi melibatkan netralisasi dari muatan partikel dengan penambahan
elektrolit. Dalam hal ini bahan yang ditambahkan biasanya disebut sebagai koagulan atau
dengan jalan mengubah pH yang dapat menghasilkan agregat/kumpulan partikel yang dapat
dipisahkan. Hal ini dapat terjadi karena elektrolit atau konsentrasi ion yang ditambahkan
cukup untuk mengurangi tekanan elektrostatis di antara kedua partikel. Agregat yang
terbentuk akan saling menempel dan menyebabkan terbentuknya partikel yang lebih
besar yang dinamakan mikroflok, dimana mikroflok ini tidak dapat dilihat oleh mata
telanjang. Pengadukan cepat untuk mendispersikan koagulan dalam larutan dan
mendorong terjadinya tumbukan partikel sangat diperlukan untuk memperoleh proses
koagulasi yang bagus. Biasanya proses koagulasi ini membutuhkan waktu sekitar 1-3 menit.
10

Tahap selanjutnya dari proses koagulasi adalah proses flokulasi. Flokulasi disebabkan
oleh adanya penambahan sejumlah kecil bahan kimia yang disebut sebagai flokulan
(Rath & Singh, 1997). Mikroflok yang terbentuk pada saat proses koagulasi sebagai
akibat penetralan muatan, akan saling bertumbukan dengan adanya pengadukan lambat.
Tumbukan tersebut akan menyebabkan mikroflok berikatan dan menghasilkan flok yang
lebih besar. Pertumbuhan ukuran flok akan terus berlanjut dengan penambahan flokulan
atau polimer dengan bobot molekul tinggi. Polimer tersebut menyebabkan terbentuknya
jembatan, mengikat flok, memperkuat ikatannya serta menambah berat flok sehingga
meningkatkan rate pengendapan flok. Waktu yang dibutuhkan untuk proses flokulasi
berkisar antara 15-20 menit hingga 1 jam.
Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat,
(seperti terlihat pada gambar 1.3) . Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia
(disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan
dapat tercampur secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi
pembentukan flok yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak
sedimentasi.


















Gambar Proses Koagulasi-Flokulasi
11

Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah aluminium sulfat
atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit
dibutuhkan untuk memproduksi flok yang cepat mengendap. Faktor utama yang
mempengaruhi koagulasi dan flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi,
temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan tingkat agitasi
selama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan-pembantu.
Beberapa jenis koagulan beserta sifatnya dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Pemilihan koagulan dan kadarnya membutuhkan studi laboratorium atau pilot plant
(menggunakan jar test apparatus) untuk mendapatkan kondisi optimum.
Reaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah:

Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan alum, maka
perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida

















2.3.1. Tahapan Pada Proses Koagulasi dan Flokulasi

Tabel 5.1 Beberapa Jenis Koagulan dalam praktek
pengolahan Air
12

Proses koagulasi-flokulasi dijelaskan secara ringkas pada Gambar 1.4, dengan
penjelasan sebagai berikut:
1. Partikel koloid tidak bisa mengendap karena bersifat stabil.
2. Kestabilan koloid dapat diganggu dengan penambahan koagulan dan
pengadukan cepat.
3. Partikel yang tidak stabil cenderung untuk saling berinteraksi dan bergabung
membentuk flok yang berukuran besar.


c. Adsorpsi

Adsorpsi adalah salah satu dari sifat koloid yang merupakan proses penyerapan
suatu partikel zat baik berupa ion, atom, atau molekul pada permukaan zat lain. Adsorpsi
terjadi karena adanya gaya tarik yang tidak seimbang pada partikel zat yang berada pada
permukaan absorben.

Gambar 1.4
13



Gambar ilustrasi proses terjadinya adsorpsi dengan menggunakan karbon aktif.


Dalam sistem koloid, partikel-partikel fase terdispersi tersebar merata dalam
medium pendispersinya sebagai molekul-molekul yang sangat halus. Setiap partikel-
pertikel koloid mempunyei permukaan yang berbatasan dengan mediumnya. Permukaan
partikel ini mempunyai kemampuan adsorpsi sangat besar.
Apabila partikel koloid mengadsorpsi ion-ion yang ada di dalam medium
pendispersi, maka partikel-partikel koloid menjadi bermuatan listrik. Adsorpsi
mengakibatkan partikel-partikel koloid menjadi bermuatan sejenis. Oleh karena itu,
partikel-partikel koloid saling berjauhan sehingga tidak terjadi penggumpalan. Hal inilah
yang membuat kolid stabil.
Atas dasar fenomena kejadiannya, adsorpsi juga dibedakan menjadi tiga macam.
Yang pertama disebut chemisorption, terjadi karena ikatan kimia (chemical bonding)
antara molekul zat terlarut (solute) dengan molekul adsorban. Adsorpsi ini bersifat sangat
eksotermis dan tidak dapat berbalik (irreversible). Yang kedua, adsorpsi fisika (physical
adsorption, terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya van der Waals dan yang ketiga
disebut ion exchange (pertukaran ion), terjadi karena gaya elektrostatis.

Proses adsorpsi dengan menggunakan adsorben digunakan untuk memisahkan
senyawa pencemar dalam limbah cair. Proses adsorpsi adalah kumpulan senyawa kimia
dipermukaan adsorben, padat sebaliknya absorpsi adalah penetrasi kumpulan senyawa
kimia ke dalam senyawa padat. Jika kedua peristiwa terjadi simultan maka peristiwa ini
disebut adsorpsi. Karbon aktif digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan
14

kontaminan. Karbon aktif terbuat dari kayu, batu bara, lignit, tempurung kepala, dan
tulang ternak serta limbah sayuran kemudian dipanaskan tanpa adanya oksigen sehingga
terbentuk arang utuh.


Pengolahan air secara adsorpsi merupakan proses pemisahan air dari pengotornya
dengan cara penyerapan pengotor seperti partikel-partikel halus, kation-kation terlarut
atau bau yang terkandung dalam air. Media adsorpsi yang umum digunakan dalam
pengolahan air adalah karbon aktif atau mineral zeolit. Karbon aktif ataupun zeolit
memiliki sifat sebagai adsorben sehingga mampu menyerap partikel atau kation-kation
dan bau yang terlarut atau tercampur dalam air.
Skematika pengolahan air dengan mekanisme penyerapan atau adsorpsi dapat dilihat
pada gambar di bawah. Instalasi pengolahan terdiri dari dua tangki dengan ukuran yang
disesuaikan dengan kebutuhan. Tangki pertama merupakan tangki utama pengolahan.
Tangki ini diisi oleh adsorben sebagai media pengolah air. Tangki kedua merupakan
tangki untuk tempat menyimpan air hasil pengolahan, tempat air bersih.










Mekanisme Adsorpsi
Adsorpsi ialah pengumpulan zat terlarut di permukaan media dan merupakan
jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau zat cair yang kontak dengan zat lainnya.
Proses ini menghasilkan akumulasi konsentrasi zat tertentu di permukaan media
setelah terjadi kontak antarmuka atau bidang batas (paras, interface) cairan dengan
cairan, cairan dengan gas atau cairan dengan padatan dalam waktu tertentu.
Contohnya antara lain dehumidifikasi, yaitu pengeringan udara dengan desiccant
(penyerap), pemisahan zat yang tidak diinginkan dari udara atau air menggunakan
15

karbon aktif, ion exchanger untuk zat terlarut di dalam larutan dengan ion dari media
exchanger. Artinya, pengolahan air minum dengan karbon aktif hanyalah salah satu
dari terapan adsorpsi.
Ahli pengolahan air membagi adsorpsi menjadi tiga langkah, yaitu
(1)makrotransport: perpindahan zat pencemar, disebut juga adsorbat (zat yang
diadsorpsi), di dalam air menuju permukaan adsorban; (2)mikrotransport:
perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban; (3)sorpsi: pelekatan zat
adsorbat ke dinding pori-pori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis.


d. Penukar Ion
Prinsip pertukaran ion adalah selektifitas, artinya ion yang mempunyai koefisien
selektifitas besar mampu menggantikan ion lain di resin yang koefisien selektifitasnya
lebih kecil.
Pertukaran ion dalam reaksi kimia dapat
ditulis: nR-A
+
+ Bn
+
Rn-Bn
+
+ nA
+







16


Tipe resin yang digunakan dalam pertukaran ion :
Resin pertukaran kation (mengandung kation yang dapat dipertukarkan)
Resin pertukaran asam kuat
Resin pertukaran asam lemah


Resin pertukaran anion (mengandung anion yang dapat dipertukarkan)
Resin pertukaran basa kuat
Resin pertukaran basa lemah



e. Dialisis
Proses membran adalah proses pemisahan senyawa dari larutan yang berisi senyawa dengan
menggunakan membran permiabel selektif. Proses membran terdiri atas proses dialisis,
elektrodialisis, dan reverse osmosis. Dialisis adalah proses pemisahan solute dari berbagai
ionik atau ukuran molekul dalam larutan oleh membran permiabel selektif.



17

e. Perpindahan oksigen dan pencampuran
Pada perlakuan lumpur aktif, lagon teraerasi, dan proses digesi diperlukan adanya oksigen
dalam proses aerobik dan proses pencampuran dengan hasil padatan tersuspensi. Perpindahan
oksigen dan proses pencampuran dilakukan dengan aerasi dari alat kompresor. Sistem
aerobik menggunakan bak terbuka yang berisi limbah cair kemudian dipasok oksigen dalam
udara untuk proses metabolisme sehingga mampu mendegradasi senyawa organik dalam
limbah cair dengan nilai BOD yang tidak terlalu tinggi.

f. Ozonisasi
Pendekatan bioteknologi ramah lingkungan terhadap limbah pestisida dan limbah senyawa
organik lainnya merupakan pendekatan yang sangat dianjurkan untuk diterapkan meskipun
proses ozonisasi lebih lama jika dibandingkan dengan proses kimia. Ozonisasi adalah salah
satu pendekatan proses kimia untuk mendegradasi limbah pestisida dalam limbah cair dan
limbah senyawa organik meskipun limbah pestisida merupakan residu yang permanen.
Residu pestisida organofosfor sangat sensitif terhadap ozonisasi misalnya parathion,
malathion, fosalon, dimefox, dan lain-lain. Tujuan ozonisasi adalah mengeliminasi bakteri
patogen dalam air maupun limbah cair.


g. Khlorin dioksida
Metode penambahan khlorin ke limbah cair untuk mengoksidasi senyawa ammonia menjadi
gas nitrogen dipengaruhi oleh: waktu kontak reaksi, suhu reaksi, dan nilai pH reaksi.
Kerugian dengan melakukan metode ini adalah:

larutan NaOH dan
khlorin cukup besar dan mahal serta merupakan bahan berbahaya dan
beracun (B-3).



ammonia-nitrogen sampai konsentrasi 0,10 mg/L.



18


h. Penghilangan ammonia
Ammonia dihasilkan oleh dekomposisi senyawa organik terdapat dalam limbah cair yang
harus dihilangkan sebab ammonia bersifat toksik atau beracun terhadap kehidupan ikan air
tawar jika konsentrasi ammonia dalam air lebih dari 3 mg/L dan senyawa ammonia akan
dioksidasi oleh mikroba menjadi nitrat dengan menggunakan oksigen.




























19

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
- Prinsip yang digunakan untuk mengolah limbah cair secara kimia adalah
menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat bahan pencemar
yang dikandung air limbah, kemudian memisahkannya (mengendapkan atau
mengapungkan).
- Macam-macam pengolahan air secara kimia dapat dilakukan dengan :
netralisasi dengan basa atau asam, presipitasi , koagulasi dan flokulasi,
adsorpsi, penukaran ion, dialisis, perpindahan oksigen dan
pencampuran,ozonisasi,khlorin dioksida, dan penghilangan ammonia.














20

DAFTAR PUSTAKA
Suprihatin (2002), Mengamankan Air Minum Isi Ulang, Institut Pertanian Bogor.

Kusnaedi (2010), Mengolah Air Kotor untuk Air Minum, Penebar Swadaya, Cetakan I,
Jakarta
Taboada, Peter. 2002. Water Treatment System for Dialysis. Spain: Millarada, 68-Villar de
Infesta.
Hammer Mark, J. Water and Wastewater Technologi. John Wiley & Sons, 1977. Chapter
11
Metcalf & Eddy. Wastewater Treatment and Reuse, Fourth Edition. Mc-Graw Hill Higher
Education, 2003. Chapter 5.
Sugiharto. Dasar dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta : UI Press, 1987.