Anda di halaman 1dari 5

Waterstop adalah suatu elemen dari

sebuah beton struktur, dimaksudkan untuk


mencegah bagian cairan (seperti air) ketika
tertanam di dalam dan berjalan terus-
menerus melalui sendi beton.Waterstops
sering dibuat dari ekstrusi plastik polivinil
klorida seperti yang
fleksibel PVC , polietilen (PE)
atau termoplastik vulkanisat karet (TPV);
logam terbentuk seperti stainless
steel , tembaga , atau baja karbon; atau
diekstrusi termoset seperti karet
alam, stirena-butadiena karet,
atau neoprena karet.
Hidrofobik Polimer waterstops seperti
PVC, PE, TPV, atau karet dipasok ke
lokasi pembangunan dalam gulungan
(biasanya 50 meter lineal panjang), dan
umumnya di mana saja dari 4 inci sampai
12 inci lebar dalam berbagai profil yang
dirancang untuk secara bersamaan
memberikan interlock dengan beton
mereka dipasang di dan untuk
menyediakan jumlah terbatas gerakan di
dalam sendi. PVC, PE dan waterstops TPV
dibuat terus menerus untuk panjang dari
sendi beton dengan pengelasan panas,
menggunakan peralatan las sederhana
termoplastik.
[1]
karet termoset dan
waterstops logam lebih sulit untuk
mengarang untuk panjang kontinu dan
ditetapkan jauh lebih sering oleh arsitek
dan insinyur.
PE dan TPV waterstops umumnya
dipasang di sendi struktur bendungan
sekunder untuk mencegah bagian cairan
berbahaya selain air seperti minyak bahan
bakar, asam, atau bahan kimia proses.
[2]

Hidrofilik atau "air-mencintai" waterstops
adalah strip dari karet, dimodifikasi
dengan agen hidrofilik (seperti bentonit)
sehingga mereka membengkak di hadapan
kelembaban efektif segel sendi konstruksi
beton. Waterstops jalur hidrofilik
diterapkan tidak boleh digunakan dalam
sendi kontraksi atau konstruksi sesuai
petunjuk produsen komersial yang
paling. Waterstops hidrofilik hanya dapat
efektif jika mereka diizinkan untuk
membengkak, karena itu, sumber air harus
ada untuk mengaktifkan agen
hidrofilik. Awal bocor adalah mungkin
sampai Waterstop mengembang untuk
menutup sendi.
Waterstop selalu digunakan pada
konstruksi beton yang berfungsi sebagai
bangunan penahan air dan bangunan lain
yang selalu berhubungan dengan kondisi
lembab, misalnya: bangunan-bangunan
industri,
channel & tunnel
watertank, treatment and sewerage plants,
bridges and supporting wall,
etc
Di pasaran, waterstop diberi code sesuai
dengan bentuk dan ukurannya, misalnya
D15, A20, dsb. Huruf D dan A merupakan
code bentuk, sedangkan angka 15 dan 20
menyatakan lebarnya. Code-code yang lain
adalah DO, S, AO, HD. Di sini saya hanya
membahas code D dan A karena kedua
macam waterstop tersebut yang paling
sering digunakan.
Pemilihan Bentuk
Code D, mempunyai bentuk bulb di
tengah, digunakan pada expansion joints di
mana tidak ada rebar yang lewat pada
sambungan itu.
Code A, tidak mempunyai bentuk bulb di
tengah, digunakan pada construction dan
contraction joints.
Pemilihan Ukuran
Di pasaran, masing-masing jenis
ditawarkan dalam beberapa ukuran sesuai
dengan tingkat kebutuhannya.
Code D
Ukuran Spesifikasi
D15
Above ground construction, low
waterpressure, practical
movement 1 cm, low shearing
movement
D20
All construction, moderate
waterpressure, practical
movement up to 2 cm, moderate
shearing movement
D22
All construction, moderate
waterpressure, practical
movement up to 2.5 cm,
moderate shearing movement
D24
Specially for underground
construction, high
waterpressure, practical
movement up to 3 cm, moderate
shearing movement
D30
Specially for underground
construction, high
waterpressure, practical
movement up to 4 cm, high
shearing movement
D35
Specially for underground
construction, very high
waterpressure, practical
movement up to 5 cm, high
shearing movement
Code A
Ukuran Spesifikasi
A15
Concrete construction with
thickness less than 20 cm,
moderate waterpressure
A20
General construction below and
above ground, moderate
waterpressure
A24
Pretentions constructions, high
waterpressure
A32
Specially for waterretaining
constructions, very high
waterpressure


Waterproofing
Waterproofing adalah bahan yang
dipergunakan untuk melindungi bagian
bawah suatu permukaan untuk meolak atau
menahan rembesan dari bahan cair
terhadap struktur yang dilapisi. Dalam
pelaksanaannya material yang digunakan
untuk melindungi struktur akan dilapisi
dengan lembaran logam, membran ,
coating dan flash band self adhisive.
Bagian struktur yang sering dilakukan
adalah pemasangan waterproofing
terhadap atap, palt beton dan dinding
beton.
Jenis Waterproofing :
1. Sistim Membran . Adalah
perlindungan dengan meggunakan
membran atau lembaran yang terbuat
dari karet terhadap permukaan
struktur . Biasanya dipergunakan
untuk struktur dak atau atap beton.
Lembaran membran di susun sesuai
dengan keperluan seluruh permukaan
struktur yang dilindungi.
Waterproofing dengan jenis membran
terbuat dari bahan monomer kimia,
etilena, propilena yang dicampur
dengan bahan karet. Sehingga
campuran ini akan membentuk
senyawa yang kuat dan padan dimana
akan tahan terhadap perubahan cuaca
dari panas matahari dan hujan.
Dengan pemasangan yang sempurna
maka permukaan akan tahan terhadap
rembesan air dan juga tahan untuk
menahan genangan air.
2. Sistim Coating . Adalah
perlindungan rembesan dengan
menggunakan bahan polimer
berbentuk bahan cat untuk menutup
permukaan struktur yang dilindungi.
Umumnya digunakan untuk
perlindungan dinding, bak, tanki dan
juga dapat dipergunakan untuk
perlindungan terhadap permukaan
kayu. Untuk permukaan luas dan
perlindungan yang lebih kuat dapat
menggabungkan dengan bahan
polyester pada permukaan yang
dilindungi.
3. Sistim Flashband Self Addhisive.
Adalah perlindungan rembesan
dengan menggunakan lembaran
flashband yang berbentuk lembaran di
rekatkan pada bagian permukaan
struktur yang akan dilindungi.
Lembaran ini terdiri dari beberapa
lapisan yang terdiri dari lapisan
lembaran karet, membran polyester,
aluminium foil dan lapisan cat
penutup. Biasanya digunakan untuk
pelindung permukaan atap, beton,
lantai dan lainnya.
4. Sistim Pasta Logam. Perlindungan
rembesan dilakukan dengan
menggunakan bahan logam yang
dibuat dalam bentuk pasta , dimana
pasta ini di oleskan terhadap
permukaan yang akan dilindungi .
Bahan dibuat dari biji baja galvanis
sehingga pasta tidak mudah
berkarat . Biasanya digunakan pada
permukaan yang ditujukan untuk
menutupi celah permukaan.


Teknologi Additive dan Admixture
Februari 2, 2008 oleh sasonov
Chemical Admixture (Additive) :
Bahan-bahan admixture yang dapat larut
dalam air digolongkan sebagai chemical
admixture
Mineral Admixture :
Bahan-bahan admixture yang tidak dapat
larut dalam air digolongkan sebagai
mineral admixture
Ada 4 jenis bahan additive, yaitu:
1. Air-Entraining (AEA)
Penerapan:
Untuk meningkatkan
ketahanan beku/cair
Untuk meningkatkan
workabilitas
Pengaruh:
Menghasilkan butiran-butiran
udara kecil yang banyak dalam
beton
Keterangan:
Efisiensi semakin berkurang seiring
dengan meningkatnya suhu, kadar
semen tinggi dan kehadiran fly ash
2. Water-Reducing
Penerapan:
Untuk meningkatkan
workabilitas
Untuk meningkatkan kekuatan
pada tingkat workabilitas yang
sama
Untuk memperbaiki sifat beton
yang menggunakan agregat
bergradasi jelek
Pengaruh:
Memisahkan partikel-partikel
semen dan meningkatkan
fluiditas beton
Mengurangi kebutuhan air
pencampur
Dapat mempengaruhi waktu
setting beton
Keterangan:
Kandungan klorida harus dibatasi,
overdosis lignosulphonates dapat
menyebabkan penundaan pengerasan
yang berlarut-larut. Selanjutnya hal
ini dapat mempengaruhi kekuatan dan
porositas beton.
3. High Range water Reducer
Superplasticizers (HRWR)
Penerapan:
Untuk memfasilitasi
penempatan dan pemadatan
(contoh pada elemen beton
bertulang yang ditulangi dalam
jumlah banyak)
Untuk meningkatkan kekuatan
Untuk menghasilkan bentuk
permukaan yang berkualitas
tinggi
Untuk memfasilitasi pumping
Pengaruh:
Meningkatkan fluiditas beton
dengan pengaruh yang kecil pada
waktu setting
Keterangan:
Kecocokan dengan zat tambahan lain
dalam campuran harus diperiksa,
penambahan kembali air pada beton
lebih dari sekali untuk
mengembalikan slump dapat
menyebabkan reduksi kekuatan
ultimate.
4. Permeability Reducing
Penerapan:
Untuk mengurangi
perpindahan uap air
Pengaruh:
Mengisi pori-pori dengan
bahan-bahan yang reaktif, atau
bahan penolak air (water-
repellent)
Keterangan:
Tidak akan mengubah beton kualitas
rendah menjadi beton kedap air.
Pengurangan permeabilitas
disebabkan oleh meningkatnya
workabilitas dan pengerjaan yang
lebih baik
Sebenarnya masih ada tipe additive-
additive lain, tapi pemanfaatannya sendiri
untuk industri readymix di Indonesia
belum maksimal. Additive-additive yang
saya maksud yaitu:
1. VMA (viscosity-modifying
admixtures)
2. SRA (shrinkage reducing
admixture)
3. AWA (anti washout agent)

Tipe-tipe Mineral Admixture yaitu:
1. Material cementitious
Dapat bereaksi langsung dengan air.
Bahan ini mengandung silikat dan
kalsium aluminosilikat. Contoh: Blast
Furnace Slag, yaitu bahan buangan
industri baja yang menggunakan tanur
pijar.
2. Material pozzolanic
Material yang dapat bereaksi dengan
kapur bebas (Ca(OH)2) plus air.
Komposisinya didominasi oleh
siliceous dan aluminous. Contoh:
Abu Terbang kelas F, yaitu sisa
buangan Industri Pembangkit Listrik
yang menggunakan batubara jenis
bituminous atau anthracite. Selain itu,
silica fume (hasil sampingan produksi
elemen silicon), juga bahan
pozzolanic. Komposisinya didominasi
oleh unsur amorphous silica.
3. Material pozzolanic dan
cementitious
Material ini dapat bereaksi dengan air
saja atau dengan kapur bebas
(Ca(OH)2) plus air. Komposisinya
didominasi oleh siliceous, aluminous
dan kapur. Contoh: Abu Terbang
kelas C, yaitu sisa buangan Industri
PLTU yang menggunakan barubara
jenis lignite atau subbituminous.
4. Material inert
Material ini tidak bereaksi secara
kimiawi dengan unsur-unsur semen.
Contoh: bahan buangan pabrik batu
marmer, bahan kuarsa yang sudah
dihaluskan dan lain-lain.