Anda di halaman 1dari 17

i

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


OTONOMI DAERAH DALAM KERANGKA NKRI





DISUSUN OLEH : KELOMPOK 7
1. Wafa Arif
2. Bintang Ramadhan
3. Triyani
4. Yuliana Astrid
5. Jesica Elsi
6.
7.
8.
9.


FAKULTAS TEKNIK
UNVERSITAS TANJUNGPURA
TAHUN 2014

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, Karena berkat
rahmat serta hidayah-Nya penulis berhasil menyelesaikan makalah yang judul " Otonomi
Daerah dalam Kerangka NKRI". Adapun Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata
kuliah Pendidikan Kewarganearaan.
Tak lupa penulis mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Penulis yakin Makalah ini masih jauh dari nilai kesempurnaan, oleh karena itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis demi menjadikan makalah ini
bisa lebih baik lagi.
Semoga makalah "Otonomi Daerah dalam Kerangka NKRI" memberikan informasi yang
berguna bagi masyarakat serta bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan
ilmu pengetahuan bagi kita semua.





Pontianak, 30 April 2014





Penyusun










iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................................................. iii
BAB I ........................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
Latar Belakang Masalah ...................................................................................................................... 1
BAB II ....................................................................................................................................................... 3
ISI ............................................................................................................................................................. 3
Hakikat Otonomi Daerah .................................................................................................................... 3
Visi Otonomi Daerah ........................................................................................................................... 4
Sejarah Otonomi Daerah di Indonesia ................................................................................................ 5
Prinsip-prinsip Pelaksanaan Otonomi Daerah .................................................................................... 6
Pembagian Kekuasaan dalam Kerangka Otonomi Daerah ................................................................. 6
Pemilihan, Penetapan, dan Kewenanangan Kepala Daerah ............................................................... 7
Kesalahpahaman terhadap Otonomi Daerah ..................................................................................... 8
Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah...................................................................................... 9
Otonomi Daerah dan Pilkada Langsung ............................................................................................ 10
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 12
KESIMPULAN ................................................................................................................................... 12
SARAN .............................................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 13










iv
















1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kebi j akan ot onomi daer ah l ahi r di t engah gej ol ak t unt ut an ber bagai
daer ah t er hadap ber ba gai kewenanga n s el ama 20 t ahun pemer i nat ahn
Or de Bar u menjalankan mesin sentralistiknya. UU No. 5 tahun 1974 tentang
pemerintahan daerah yang kemudian disusul dengan UU No. 5 tahun 1979 tentang
pemerintahan desa menjaditiang utama tegaknya sentralisasi kekuasaan OB. Semua
mesin partisipasi dan prakarsa yang sebelumnya tumbuh sebelum OB berkuasa,
secara perlahan dilumpuhkan dibawah kontrol kekuasaan. Stabilitas politik demi
kelangsungan investasi ekonomi (pertumbuhan) menjadi alasan pertama bagi OB untuk
mematahkan setiap gerak prakarsa yang tumbuh dari rakyat.
Otonomi daerah muncul sebagai bentuk veta comply terhadap sentralisasi yang
s angat kuat di mas a or de bar u. Ber pul uh t ahun s ent r al i s as i pada or de
bar u t i dak membawa perubahan dalam pengembangan kreativitas daerah, baik pemerintah
maupun masyarakat daerah.
Ket er gant ungan pemer i nt a h daer ah kepada pe mer i nt ah pus at
s angat t i nggi sehingga sama sekali tidak ada kemandi rian perencanaan
pemerintah daerah saat itu. Di masa orde baru semuanya bergantung ke Jakarta dan
diharuskan semua meminta uang ke Jakarta. Tidak ada perencanaan murni dari daerah karena
Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak mencukupi.
Ket i ka I ndones i a di hant am kr i s i s ekonomi t ahun 1997 dan t i dak
bi s a cepat bangkit, menunjukan sistem pemerintahan nasional Indonesia gagal dalam
mengatasi berbagai persoalan yang ada. Ini dikarenakan aparat pemerintah pusat semua sibuk
mengur us i daer ah s ec ar a ber l ebi h- l ebi han. Semua pej abat J akar t a s i buk
mel akukan perjalanan dan mengurusi proyek di daerah.
Dari proyek yang ada ketika itu, ada arus balik antara 10 sampai 20 persen uang
kembali ke Jakarta dalam bentuk komisi, sogokan, penanganan proyek yang keuntungan i tu
dinikmati ke Jakart a lagi . Terjadi penggerogot an uang ke dalam dan diikuti
dengan kebijakan untuk mengambil hutang secara t erus menerus. Akibat
2

peril aku buruk aparat pemerintah pusat ini, disinyalir terjadi kebocoran 20 sampai 30
persen dari APBN.
Aki bat l ebi h j auh dar i t er l al u s i buk mengur us i pr oyek di daer ah,
membuat pejabat di pemerintahan nasional tidak ada waktu untuk belajar tentang situasi
global, tentang international relation, international economy dan international
finance. Merekat er l al u s i buk menggunaka n wakt u dan ene r gi nya unt uk
mengur us mas al ah- mas al ah domestik yang seharusnya bisa diurus pemerintah
daerah. Akibatnya mereka tidak bisa mengatasi masalah ketika krisis ekonomi datang
dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Sentralisasi yang sangat kuat telah berdampak pada ketiadaan kreativitas daerah
karena keti adaan kewenangan dan uang yang cukup. Semua dipusat kan di
Jakart a unt uk diurus. Kebijakan ini telah mematikan kemampuan prakarsa dan daya
kreativitas daerah, baik pemerintah maupun masyarakatnya. Akibat lebih lanjut, adalah
adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat yang sangat besar.
Bi s a di kat akan s ent r al i s as i i s abs ol ut el y bad. Dan ot onomi daer ah
adal ah jawaban terhadap persoalan sentralisasi yang terlalu kuat di masa orde baru. Caranya
adal ah mengal i hkan kewe nangan ke daer ah. I ni ber das ar kan par adi gma,
haki kat nya daerah sudah ada sebelum Republik Indonesia (RI) berdiri. Jadi ketika RI
dibentuk tidak ada kevakuman pemerintah daerah.
Kar ena i t u, ket i ka RI di umumkan di J akar t a, daer ah- daer ah
mengumumkan persetujuan dan dukungannya. Misalnya pemerintahan di Jakarta,
sulawesi, sumatera dan Kal i mant an mendukung. I t u menj adi bukt i bahwa
pemer i nt ahan daer ah s udah ada sebelumnya. Prinsipnya, daerah itu bukan
bentukan pemerintah pusat, tapi sudah ada sebelum RI berdiri.









3

BAB II
ISI

Hakikat Otonomi Daerah

Otonomi berasal dari kata autonomos atau autonomia (yunani) yang berarti keputusan
sendiri (self ruling).Otonomi yaitu hak untuk memerintah dan menentukan nasibnya
sendiri.Sedangkan Desentralisasi adalah pelimbahan kewenangan dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah.
Ada beberapa alasan mengapaIndonesia perlu desentralisasi. Pertama, kehidupan
berbangsa dan bernegara hanya terpusat di Jakarta. Kedua, pembagian kekayaan tidak
merata dan tidak adil. Ketiga, Kesenjangan sosial antar satu daerah dengan daerah lain sangat
mencolok.
Pelaksanaan desentralisasi haruslah dilandasi argumentasi yang kuat. Di antara
argumentasi dalam memilih desentralisasi-otonomi daerah adalah :


a. Untuk terciptanya efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan
Untuk terciptanya pemerintahan yang efisien dan efektif, pemerintah memiliki
beberapa fungsi,diantaranya adalah pertama, fungsi distributif yaitu fungsi distributif,
pemerintah mengelola dimensi kehidupan, seperti bidang ekonomi, sosial,politik,dll.
Kedua, fungsi regulatif menyangkut penyediaan barang dan jasa.Ketiga, fungsi
ekstraktif yaitu memobilisasi sumber daya keuangan. Keempat, fungsi universal,
menjaga keutuhan negara-bangsa, mempertahankan diri dari serangan lain.

b. Sebagai Sarana pendidikan politik
Pemerintah daerah merupakan kancah pelatihan dan pengembangan demokrasi
dalam sebuah negara. Menurut Filsuf Alexis de Tocqueville, pemda merupakan
tempat kebebasan, dan tempat orang diajari bagaimana kebebasan digunakan serta
bagaimana menikmatinya. Menurut John Stuart Mill, pemda memberikan kesempatan
masyarakat untuk berpartisipasi politik, baik dalam rangka dipilih maupun memilih
dalam suatu jabatan politik.

4

c. Pemerintah daerah sebagai persiapan untuk karir politik lanjutan.
Pemerintah daerah merupakan wahana pnggodokan calon-calon pemimpin
nasional, setelah melalui karir di daerahnya.Proses kaderasi para pemimpin nasional
berlangsung secara akuntabel dan rasional sehingga masyarakat luas dapat
mendudukijabatan baik di pemerintah maupun lembaga perwakilan dan juga dapat
menghapus bahkan menghilangkan tradisi politik yang bertumpu pada garis
keturunan.

d. Stabilitas politik
Menurut Sharpe, stabilitas nasional mestinya berawal dari stabilitas nasional
pada tingkat lokal. Beberapa peristiwa karena ketidakstabilan politik diantaranya, di
Indonesia terjadi pergolakan daerah seperti PRRI dan PERMESTA karena kekuasaan
pemerintah Jakarta lebih dominan. Di Filipina dan Thailand, minoritas muslim
berjuang melepaskan diri dari ketidakadilan ekonomi yang berakibat lahirnya gejolak
disintegrasi yang dilakukan pemerintah pusat di Manila dan Bangkok.

e. Kesetaraan politik
Kesetaraan yang baik akibat kebijakan desentralisasi-otonomi daerah yang baik.
Melalui desentralisasi, akan tercipta kesetaraan politik antara daerah dan pusat.

f. Akuntabilitas politik
Melalui penyelenggaraan pemerintah di daerahakan lebih akuntabel dan
profesional, sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam politik.

Jadi, Hakikat Otonomi adalah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah
untuk kreatif dan inovatif dalam rangka memperkuat NKRI dengan berlandaskan norma
kepatutan dan kewajaran dalam tata kehidupan bernegara.

Visi Otonomi Daerah

Visi otonomi daerah dirumuskan dalam tiga ruang lingkup utama yaitu politik,
ekonomi, sosial dan budaya. Di bidang politik, untuk melahirkan pemerintah daerah yang
dipilih secara demokrasi, penyelenggaraan pemerintah yang yang responsif terhadap
5

masyarakat luas, dan lain-lain. Di bidang ekonomi, menjamin lancarnya pelaksanaan
ekonomi nasional di daerah, pemerintah daerah dapat mengembangkan kebijakan lokal
kedaerahan untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi di daerahnya, lahirnya
prakarsa pemerintah daerah untuk menawarkan fasilitas investasi,memudahkan perizinan
usah dan lain-lain. Di bidang sosial dan budaya, memelihara dan mengembangkan nilai,
tradisi, karya seni, karya cipta, bahasa, dan karya sastra lokal untuk merespon positif
dinamika kehidupan disekitarnya dan kehidupan global.

Sejarah Otonomi Daerah di Indonesia

Peraturan perundang-undangan pertama yang mengatur pemerintahan daearh pasca
proklamasi kemerdekaan adalah UU No. 1 tahun 1945. Undang-undang ini menekankan
aspek cita-cita kedaulatan rakyat melalui pengaturan pembentukan Badan Perwakilan Rakyat
Daerah. Dalam undang-undang ini ditetapkan tiga daerah otonom yaitu karesidenan,
kabupaten dan kota. UU ini kemudian diganti dengan UU No. 22 tahun 1948.
UU ini mengatur tentang susunan pemerintah daerah yang demokratis. Dalam UU ini
ditetapkan dua jenis daerah otonom, yaitu daerah otonomi biasa dan daearh istimewa, serata
tiga tingkatan daearh otonom, yaitu provinsi, kabupaten, dan kota.Pasca UU ini, muncul
beberapa UU tentang pemerintah daerah, yaitu UU No 1 tahun 1957, UU No 18 Tahun 1965
dan UU No. 5 Tahun 1974 prinsip yang dipakai dalam pemberian otonomi kepada daerah
adalah nyata dan bertanggung jawab. UU ini paling lama, yaitu 25 tahun, dan baru diganti
dengan UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No.25 Tahun 1999.
Kehadiran UU No.22 Tahun 1999 pada masa lengsernya orde baru dan munculnya
kehendak rakyat untuk melakukan reformasi dalam segala aspek kehidupan. Berdasarkan
kehendak reformasi itu, ditetapkan Ketetapan MPR No. XV / MPR / 1998 tentang
penyelenggaraan otonomi daerah; pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya
nasional, yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dalam
kerangka NKRI. Tiga tahun setelah implementasi UU No.22 Tahun 1999, dilakukan
peninjauan dan revisi terhadap UU yang berakhir pada lahirnya UU No.32 Tahun 2004 juga
mengatur tentang pemerintah daerah.

6

Prinsip-prinsip Pelaksanaan Otonomi Daerah

Prinsip-prinsip pelaksanaan otonomi daerah yang dijadikan penyelenggaraan
pemerintahan daerah adalah sebagai berikut :
1. Memperhatikan aspek demokrasi, keadilan pemerataan, serta potensi dan
keanekaragaman budaya
2. Didasarkan otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab.
3. Otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada kabupaten dan kota, pada provinsi
merupakan otonomi terbatas.
4. Harus sesuai dengan konstitusi Negara.
5. Harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom.
6. Harus meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah ( fungsi anggaran,
pengawasan dan legislasi ).
7. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi untuk melaksanaan
kewenangan pemerintah tertentu yang dilimpahkan kepada gubernur.
8. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari pemerintah kepada
daerah, tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa.

Pembagian Kekuasaan dalam Kerangka Otonomi Daerah

Pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah dilakukan berdasarkan prinsip negara
kesatuan tetapi dengan semangat federalisme.Otonomi daerah bersifat luas, nyata, dan
bertanggung jawab. Disebut luas karena kewenangan sisa justru berada pada pemerintah
pusat, disebut nyata karena kewenangan yang diselenggarakn itu menyangkut yang
diperlukan, tumbuh dan hidup dan berkembang di daerah. Disebut bertanggung jawab karena
kewenangan yang diserahkan itu harus diselenggarakan demi pencapaian tujuan otonomi
darah, yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik,
pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, dan pemerataan, serta pemeliharaan
hubungan yang serasi antar pusatdan derah dan antar daerah.
Kewenangan yang diserahkan kepada daerah otonom provinsi dalam rangka
desentralisasi mencakup :

7

a. Kewenangan yang besifat lintas-kabupaten dan kota, seperti kewenangan dalam bidang
pekerjaan umum,perhubungan , kehutanan dan perkebunan.
b. Perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro, pelatihan bidang
alokasi sumber daya manusia potensial, penelitian yang mencakup wilayah provinsi,
pengelolaan pelabuhan regional, pengendalian lingkungan hidup, promosi dagang dan
budaya, penanganan penyakit menular, dan penataan tata ruang provinsi.
c. Kewenangan kelautan.
d. Kewenangan yang tidak atau belum dapat ditangani daerah kabupaten dan daerah kota
diserahkan kepada provinsi dengan pernyataan dari daerah otonom kabupaten atau kota
tersebut.

Pemerintah pusat memiliki kewenangan mengawasi daerah otonom, tetapi pengawasan
ini diimbangi dengan kewenangan daerah otonom yang lebih besar atau sebaliknya, sehingga
terjadi keseimbangan kekuasaan.Keseimbangan yang dimaksud adalah pengawasan tidak lagi
dilakukan secara struktural, yaitu bupati dan gubernur bertindak sebagai wakil pemerintah
pusat sekaligus kepala daerah otonom, dan tidak lagi secara preventif perundang-undangan,
yaitu setiap perda memerlukan persetujuan pusat untuk dapat berlaku.

Pemilihan, Penetapan, dan Kewenanangan Kepala Daerah

Menurut UU No. 22 Thun 1999, Bupati dan Wali kotadipilih dan diberhentikan oleh
DPRD, tetapi secara administratif di lakukan oleh presiden. Sedangkan UU No. 32 Tahun
2004, kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui pilkada langsung.
Pengawasan pemerintah pusat terhadap daerah otonom menurut UU baru ini dilakukan
berdasarkan supremasi hukum.Artinya, setiap perda yang dibuat DPRD dan Kepala Daerah
langsung dapat berlaku tanpa persetujuan pemerintah pusat.Tetapi pemerintah pusat bisa
menunda atau membatalkannya bila perda dinilai bertentangan dengan konstitusi, UU, dan
kepentingan umum. Sebelas kewenangan wajib diserahkan kepada daerah otonom kabupaten
dan daerah otonom kota, yaitu : pertanahan, pertanian, pendidikan dan kebudayaan, tenaga
kerja, kesehatan, lingkungan hidup, pekerjaan umum, perhubungan, perdagangan dan
industri, penanaman modal, dan koperasi.
8

Kewenangan yang dapat diselenggarakan oleh daerah otonom kabupaten dan kota yaitu
diberi kewenangan kelautan seluas 1/3 dan luas kewenangan provinsi 12 mil.Kewenangan
pilihan, yaitu kewenangan yang tidak di tangani pusat dan provinsi.
Penyerahan kesebelas kewenagan ini kepada daerah otonom kabupaten dan kota
dilandasi pertimbangan sebagai berikut : pertama,makin dekat produsen dan distributor
pelayanan publik dengan warga masyarakat yang dilayani, semakin cepat sasaran, merata,
berkualitas dan terjangkau. Kedua, penyerahan 11 jenis kewenangan itu kepada daerah
otonom kabupaten dan kota akan membuka kesempatan bagi aktor politik lokal dan sumber
daya manusia yang berkualitas di daerah untuk mengajukan prakarsa, berkreativitas, dan
melakukan inovasi. Hal ini berarti unsur-unsur budaya lokal berupa pengetahuan, keahlian
dan kearifan lokal akan dapat didayagunakan secara maksimal. Ketiga, karena distribusi
SDM yang berkualitas tidak merata.Keempat, pengangguran dan kemiskinan sudah menjadi
masalah yang tidak saja hanya ditanggung kepada pemerintah pusat semata.

Kesalahpahaman terhadap Otonomi Daerah

Otonomi daerah diharapkan dapat mencegah desintegrasi nasional. Otonomi daerah
dilakukan untuk memperkuat ikatan semangat kebangsaan, serta persatuan dan kesatuan antar
warga negara, mengembalikan harkat dan martabat masyarakat di daerah, memberikan
pendidikan politik untuk meningkatkan kualitas demokrasi di daerah, meningkatkan efisiensi
pelayanan publik di daerah, mempercepat pembangunan daearh,dan pada akhirnya
diharapkan mampu menciptakan cara pemerintahan yang baik. Namun dalam praktiknya
kebijakan otda banyak menimbulkan kesalahpahaman dari berbagai kelompok masyarakat,
diantaranya :
Pertama, otonomi dikaitkan semata-mata dengan uang.Otonomi diguanakan untuk
memenuhi dan mencakupi kehidupannya sendiri.
Kedua, daerah belum siap dan belum mampu.Hal ini keliru, karena pemerintah daerah
sudah terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam waktu yang sudah sangat lama
dan berpengalaman dalam administrasi pemerintahan.
Ketiga, Pemerintah pusat akan melepaskan tanggung jawabnya untuk membantu dan
membina daerah. Pendapat ini salah, pemerintah pusat tetap bertanggung jawab memberi
dukungan dan bantuan kepada daerah, baik dukungan keuangan maupun penyelenggaraan
9

pemerintah. Setiap pemberian kewenangan dari pusat ke daerah harus diserati dana yang jelas
dan cukup,apakah berbentuk Dana Alokasi Umum atau Dana Alokasi Khusus.
Keempat, Daerah dapat melakukan apa saja. Daerah dapat menempuh segala bentuk
kebijakan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan hukum dan UU yang berlaku
secara nasional.Disamping itu, kepentingan masyarakat merupakan landasan paling utama
dalam mengambil kebijakan.
Kelima, Otonomi daerahakan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan
korupsi kedaerah.Hal ini benar, jika pemerintah daerah menempatkan diri dalam kerangka
sistem politik orde baru. Untuk menghindari hal tersebut, pilar-pilar penegakan demokrasi
dan masyarakat madani.

Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah

Otonomi daerah diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan dan pembangunan
daerah.Kebijakan sentralisasi pada masa lalu dampaknya sudah diketahui, yaitu adanya
ketimpangan antar daerah.
Terdapat faktor-faktor prakondisi yang diharapkan pemerintah daerah, antara lain :
1. Fasilitas
Pemerintah berfungsi memfasilitasi segala kegiatan di daerah terutama dalam
bidang perekonomian.Segala bentuk perizinan sebaiknya dipermudah dan fasilitas
perpajakan yang merangsang penanaman modal.Hal ini merupakan langkah tepat
untuk menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pengangguran dapat berkurang.
2. Pemda harus kreatif
Kreatif disini salah satunya mencari sumber dana ( dari DAU atau dari
Pendapatan Asli Daerah ) dan mengalokasikannya secara cepat, adil dan profesional.
Menciptakan keunggulan komparatif bagi daerahnya, sehingga pemilik modal tertarik
untuk menanamkan modalnya. Menarik DAK dari pemerintah pusat .
3. Politik lokal yang stabil
Untuk menciptakan ini harus melalui transparansi dalam pembuatan kebijakan
publik dan akuntabel dalam pelaksanaannya.


4. Pemda harus menjamin kesinambungan berusaha
10

Kalangan pengusaha asing dan domestik sering kali terganggu dengan sikap
kalangan politisi dan birokrasi daerah yang mencoba mengubah apa yang sudah
disepakati sebelumnya. Hal itu berdampak dunia usaha merasa tidak
terlindungi dalam kesinambungan usahanya.
5. Pemda harus komunikatif dengan LSM / NGO, terutama dalam bidang
perburuhan dan lingkungan hidup
Pemda dituntut memahami semua aspirasi yang berkembang di kalangan
perburuhan. Pemda hendaknya menjadi jembatan antar kepentingan dunia usaha
dengan aspirasi buruh.Pemda juga harus sensitif dengan isu-isu lingkungan hidup.

Otonomi Daerah dan Pilkada Langsung

Pilkada yaitu pemilihan kepala daerah dan wakilnya yaitu pemilihan Gubernur dan
wakilnya maupun pemilihan Bupati dan wakilnya yang merupakan perwujudan
pengembalian hak-hak rakyat dalam memilih pemimpin di daerah.Pilkada langsung
merupakan instrumen politik dari rakyat dalam kerangka kepemimpinan kepala daerah.
Legistimasi adalah komitmen untuk mewujudkan nilai-nilai dan norma-norma yang
berdimensi hukum, moral, dan sosial. Seorang kepala daerah yang memiliki legitimasi adalah
kepala daerah yang terpilihdengan prosedur yang sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan serta melalui proses kampanye dan pemilihan yang demokratis dan sesuai dengan
norma-norma sosial dan didukung suara terbanyak.
Penyelenggara pilkada harus memenuhi beberapa kriteria :

1. Langsung
Rakyat mempunyai hak memberikan suaranya secara langsung dengan hati
nuraninya, tanpa perantara.
2. Umum
Pemilihan berlaku bagi semua warga negara, tanpa deskriminasi suku, ras,
agama, golongan,kedaerahan,pekerjaan,dll
3. Bebas
Warga negara bebas menentukan pilihannnya tanpa tekanan dari siapapun.
4. Rahasia
11

Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin pilihannya tidak akan diketahui
orang lain dengan cara apapun.
5. Jujur
Setiap penyelenggara pilkada, aparat pemerintah,calon / peserta
pilkada,pengawas, pemantau, pemilih serta semua pihak yang terkait harus bersikap
dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
6. Adil
Setiap pemilih dan peserta pilkada mendapat perlakuan yang sama, serta bebas
dari kecurangan pihak manapun.

Dari beberapa penilitian ditemukan hubungan antara prakondisi demokrasi dan
efektivitas pemilihan langsung yang terbentuk tidak bersifat linear melainkan hubungan
timbal balik.Jika prakondisi demokrasi buruk, pemilihan langsung kepala daerah kurang
efektifdalam peningkatan demokrasi, begitu juga sebaliknya.














12

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Sejak proklamasi kemerdekaan hingga sekarang system pemerintahan daera
hyang berlaku di Negara RI mengalami beberapa kali perubahan karena Undang-
Undang yang mengaturnya itu berbeda-beda dan bersumber pada Undang-Undang
Dasar tidak me n g a n u t a z a s ya n g s a ma . Se l a i n i t u j u g a s ys t e m
p e me r i n t a h a n d a e r a h s e b e l u m proklamasi kemerdekaan sudah dikenal orang pada
zaman penjajahan Hindia-Belandadan Jepang.Arti penting Otonomi Daerah.
1. Untuk terciptanya efisiensi-efektifitas penyelenggraan pemerinntahan
2. Sebagai sarana pendidikan politik
3. Pemerintahan daerah sebagai persiapan untuk karir politik lanjutan
4. Stabilitas politik
5. Kesetaraan politik
6. Akuntabilitas publik.

SARAN

Dalam rangka melancarkan pelaksanaan pembangunan yang tersebar di
seluruh pelosok Negara, dan dalam membina kestabilan politik serta kesatuan bangsa maka
hubungan yang serasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah atas dasar keutuhan Otonomi
Daer ah yang nyat a dan ber t anggung j awab yang dapat menj ami n
per kembangan dan pembangunan daerah dan dilaksanakan bersama-sama dengan
dekonsentrasi.








13

DAFTAR PUSTAKA

Google:http//www.otonomidaerah.com. latar belakang munculnya otonomi daerah.
Google: http//www.otonomidaerah.com. senralisasi dan desentralisasi dalam otonomi
daerah.
Rozak A, Ubaedillah A. 2008. Demokerasi, & Hak Asasi Manusia Masyarakat Madani:
Edisi Ke-3. ICCE UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai