Anda di halaman 1dari 19

UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA

ESAI
ANALISIS TEORI PERANG DALAM PERANG TELUK I



TUGAS INDIVIDU
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat dan Teori Perang (Philosophy and Theory of War)




NOVIA FARADILA
120140203025





FAKULTAS MANAJEMEN PERTAHANAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN BENCANA
SENTUL
2014
1


Analisis Teori Perang dalam Perang Teluk I
Oleh: Novia Faradila

Tulisan ini membahas dan menganalisis tentang teori perang pada Perang Teluk I
(Gulf War) antara Irak dan Amerika Serikat bersama koalisinya. Perang ini juga dikenal
dengan sebutan Perang Teluk Persia, Perang Kuwait, atau Perang Irak I. Secara khusus,
tulisan ini berisi: (1) deskripsi singkat tentang Perang Teluk I yang terjadi pada 17 Januari
1991 hingga 28 Februari 1991, (2) analisis pelaksanaan perang teluk dengan teori Sun Tzu
The Art of War (2500 SM) dan (3) teori OODA (Observe, Orient, Decide, Act), serta
beberapa teori perang pendukung yang terkait dengan Perang Teluk I.

I. Pendahuluan
Setelah perang selama delapan tahun dengan Iran pada tahun 1980-1988, Irak
mengalami kemerosotan ekonomi. Perekonomian dan infrastruktur Irak mengalami
kehancuran yang membutuhkan dana sangat besar untuk memulihkan dan
merekonstruksinya. Perang telah mengubah Irak dari negara yang stabil dan kaya menjadi
negara yang miskin. Pada tahun 1980 Irak memiliki cadangan devisa sebesar 30 Milyar US
Dollar, namun pada tahun 1988 Irak justru menjadi negara yang memiliki hutang luar negeri
yang sangat besar yakni berkisar antara 100-120 Milyar US Dollar.
1

Negara yang dipimpin oleh Presiden Saddam Husein ini sangat membutuhkan
petro dolar sebagai pemasukan ekonominya. Namun, rendahnya harga petro dolar akibat
kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab dianggap Sadam Hussein
sebagai perang ekonomi. Khusus kepada Kuwait dan Arab Saudi, Irak meminta agar kedua
negara itu bekerjasama memelihara harga minyak yang tinggi dengan mengurangi produksi
minyaknya. Irak juga meminta berulang kali agar pinjaman sebesar 40 Milyar Dollar selama
perang dengan Iran dinyatakan sebagai bantuan gratis, bukan sebagai pinjaman. Irak juga
meminta agar Kuwait dan Arab Saudi membantu dan memberikan kontribusi besar terhadap
rekonstruksi perekonomian Irak. Presiden Saddan Hussein menegaskan, apabila mereka tidak
memberikan bantuan dana kepada Irak, maka Irak mengetahui bagaimana untuk
memperolehnya.
2


1
Finlan dalam Yusuf Solichien. Kerjasama PBB-Amerika Serikat Dalam Penyelesaian Kasus Invansi Irak
Terhadap Kuwait (Tahun 1990-199). (Jakarta: Universitas Indonesia, 2008) Diperoleh dari
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/127056-T%2023483-Kerjasama%20PBB-Literatur.pdf pada 11 Oktober 2014
pukul 05.25 WIB, hlm. 6
2
Con Coughlin dalam Yusuf Solichien, ibid., hlm. 8
2


Namun, baik Kuwait maupun Arab Saudi menolak permintaan Saddam Hussein.
Penolakan tersebut mengakibatkan Saddam Hussein marah dan mengancam kedua negara itu
dengan ancaman kekerasan. Apabila Kuwait dan Arab Saudi tidak memberikan bantuan yang
diminta, maka Irak akan menggunakan segala cara untuk memaksa mereka (Iraq might use
other means to extract them).
3
Kesulitan ekonomi tersebut mendorong Irak untuk berupaya
meminta bantuan dukungan kepada negara-negara Arab khususnya Kuwait dan Arab Saudi.
Ketika kedua negara tersebut ternyata tidak bersedia membantu, bahkan justru melawannya,
hal inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu keinginan Irak untuk menginvasi Kuwait.
Lima penyebab yang memotivasi Irak melakukan invasi ke Kuwait, yaitu:
1. Irak tidak mampu membayar utang sebesar 80 Milliar Dolar yang digunakan
untuk membiayai peperangan dengan Iran. 65 Milliar Dolar di antaranya
dipinjam dari Kuwait.
2. Akses terhadap kekayaan Kuwait akan memecahkan masalah utang Irak.
3. Kuwait melakukan pengeboran di ladang minyak Rumaila yang berada di
daerah perbatasan yang disengketakan antara Iraq dan Kuwait.
4. Kelebihan minyak Kuwait memperburuk harga minyak di pasar dunia.
5. Ketika Saddam Husein mengusulkan perdamaian, Kuwait menolak melakukan
pembicaraan tatap muka mendukung meditasi yang difasilitasi Liga Arab.
4


Keberanian Presiden Saddam Husein dalam invasinya ke Kuwait juga didasarkan atas
beberapa asumsi yang masih berkaitan dengan Amerika Serikat, yaitu:
1. Irak percaya bahwa koalisi multinasional Amerika Serikat kesemuanya secara
politik rentan dan akan kolaps jika tekanan terjadi pada hubungan mereka
terutama koalisi anggota negara Arab. Presiden Saddam Husein dan para
penasehatnya percaya bahwa banyak negara Arab tidak mendukung keberadaan
Amerika Serikat atas Israel yang bersifat imperialis di wilayah Timur Tengah.
2. Presiden Saddam Husein yakin bahwa Amerika Serikat tidak akan mentoleransi
harga minyak Kuwait yang sewaktu-waktu meningkat dan kemudian Amerika
Serikat akan meliberalisasi Kuwait. Ia percaya Kuwait tidak begitu penting bagi
Barat dan hanya memfokuskan aliran minyak yang terus berjalan serta percaya
bahwa pelajaran yang dialami Amerika Serikat di Vietnam dan Lebanon di mana

3
Tripp dalam Yusuf Solichien, ibid.,
4
David V. Nowlin & Ronald J. Stupak. War as an Instrument of Policy. Past, Present, and Future. (Boston:
University Press of America, 1998), hlm. 100.
3


Amerika akan angkat tangan jika unit Amerika mengalami korban yang sangat
banyak.
3. Presiden Saddam Husein percaya diri dalam perang Irak ke Kuwait, Amerika
Serikat akan mengalami kekalahan yang serius sehingga mampu memaksa mereka
ke meja perundingan. Sayangnya, ia gagal memperhitungkan besarnya jurang
perbedaan kualitas perlengkapan, taktik, dan personel antara militer Irak dan
Amerika Serikat.
4. Presiden Saddam Husein percaya bahwa kekuatan udara akan berperan sedikit
dalam perang dengan koalisi. Dalam sebuah siaran radio, Presiden Saddam Husein
meyakinkan rakyatnya bahwa Amerika Serikat bergantung pada pasukan udara.
Dalam sejarah peperangan, pasukan udara tidak pernah menentukan perang.
Mereka memiliki setidaknya 600 pasukan udara yang semuanya buatan Amerika
Serikat dan pilotnya mendapatkan pelatihan di Amerika Serikat. Negara Adidaya
tersebut bisa saja menghancurkan kota, pabrik, dan membunuh. Namun, tidak
menentukan hasil akhir peperangan dengan angkatan udara.
5. Pernyataan Diplomat Amerika Serikat April Glaspie dalam lawatannya ke Irak
yang berbunyi, kita tidak ingin berkomentar terkait konflik negara-negara Arab
sebagaimana masalah perbatasan Anda dengan Kuwait, semakin menguatkan
asumsi Irak bahwa Amerika Serikat tidak akan mengambil tindakan jika militer
Irak menyerang Kuwait. Oleh sebab itu, Presiden Saddam Husein begitu percaya
diri dengan asumsi-asumsinya untuk menjalankan invasi ke Kuwait.
Pada tanggal 2 Agustus 1990 tengah malam, Irak secara resmi menginvasi Kuwait
dengan membombardir ibu kota Kuwait dari udara. Selama 24 jam Irak mempecundangi
perlawanan Kuwait dan mengamankan ibu kota Kuwait City. Meskipun angkatan bersenjata
Kuwait baik kekuatan darat maupun udara berusaha mempertahankan negara, mereka dengan
cepat kewalahan. Namun, mereka berhasil memperlambat gerak Irak untuk memaksa
keluarga kerajaan Kuwait meloloskan diri ke Arab Saudi beserta sebagian besar tentara yang
masih tersisa.
Invasi Irak terhadap Kuwait menimbulkan reaksi keras dunia internasional dan Dewan
Keamanan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Irak dipandang telah melanggar peraturan dan
ketentuan Piagam PBB. Oleh karena itu, PBB dan sebagaian besar anggotanya yang memiliki
komitmen kuat terhadap keamanan dan perdamaian internasional mengecam keras tindakan
tersebut. Upaya internasional yang dilakukan oleh negara-negara Arab terus dilakukan agar
4


Irak mau mundur dari Kuwait, namun hal tersebut tidak mendatangkan hasil. PBB yang
bertanggung jawab atas keamanan dan perdamaian internasional berupaya menekan Irak agar
mundur dari Kuwait. Atas dukungan Amerika Serikat, akhirnya Dewan Keamanan PBB
mengeluarkan Resolusi 678
5
yang memberikan mandat penggunaan kekuatan militer untuk
mengusir Irak dari Kuwait.
Pada tanggal 17 Januari 1991, pasukan sanksi sekutu yang dipimpin oleh Amerika
Serikat memulai peperangan misil dan pertahanan udara sebulan penuh melawan Irak di
Kuwait. Hal ini menandakan dilakukannya Operasi Badai Gurun (Desert Storm Operation).
Tujuan operasi ini adalah untuk memukul pasukan Irak yang menyerang Kuwait.

II. Deskripsi Singkat Perang Teluk I
Misi diplomatik yang dilakukan antara Diplomat Amerika Serikat James Addison
Baker dengan Menteri Luar Negeri Irak Tareq Aziz tanggal 9 Januari 1991 agar menarik
pasukannya dari Kuwait gagal. Penolakan Irak terhadap permintaan Dewan Keamanan PBB
tersebut menjadi awal dimulainya Perang Teluk 1. Pada tanggal 12 Januari 1991, setelah
memperoleh izin untuk menyatakan perang oleh Kongres Amerika Serikat dengan segera
Presiden Amerika Serikat George H. W. Bush mengambil tindakan tegas terhadap Irak.
Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul
negara-negara lain, baik negara-negara Arab dan Afrika Utara kecuali Syria, Libya, Yordania
dan Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat, seperti
Inggris, Perancis, dan Jerman Barat, ditambah negara-negara Eropa Utara dan Eropa Timur.
Negara-negara dari Asia yang bergabung dalam koalisi tersbut yakni Bangladesh dan Korea
Selatan, sedangkan dari Afrika yang turut berkoalisi yaitu Nigeria.
Pasukan Amerika Serikat dan Eropa di bawah komando gabungan dipimpin oleh
Jenderal Norman Schwarzkopf serta Jenderal Collin Powell. Norman Schwarzkopf bertugas
sebagai Kepala Pusat Komunikasi atau Cencom Amerika untuk membuat langkah-langkah
dalam pembebasan Kuwait dari pasukan Irak. Collin Powell menjabat sebagai Kepala Staf
gabungan angkatan perang Amerika. Pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen
Khalid bin Sultan yang menjawab sebagai Wakil Menteri Pertahanan.

5
Resolusi 678 dikeluarkan pada 29 November 1990 yang memberikan mandat kepada negara anggota PBB
untuk menggunakan segala cara (to use all necessary means) agar Irak keluar dari Kuwait dan apabila Irak tidak
melakukannya hingga 15 Januari 1991, maka resolusi menyatakan Irak telah melakukan pelanggaran nyata
(flagrant contempt) terhadap Dewan Keamanan PBB. Batas waktu yang diberikan adalah untuk memberikan
kesempatan terakhir bagi Irak untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari Kuwait.
5


Operasi Badai Gurun pun dimulai tanggal 17 Januari 1991 pukul 02:30 waktu
Baghdad yang diawali serangan-serangan udara masiv atas Baghdad dan beberapa wilayah
Irak lainnya. Terdapat empat fase serangan udara yang disusun oleh Amerika untuk
mengalahkan Irak, yaitu:
Fase I strategic air campaign (kampanye udara strategis)
Fase II air supremacy in KTO (supremasi udara di KTO)
Fase III battlefield preparation (persiapan medan perang)
Fase IV offensive ground campaign (kampanye serangan darat)
6


Pesawat-pesawat koalisi melancarkan serangan udara hebat ke wilayah Irak. Operasi
pun berubah menjadi sebuah perang yang tidak imbang antara sekutu Amerika Serikat
dengan tentara Irak. Berikut gambaran urutan pertempuran antara koalisi dan pasukan Irak
ketika aksi militer pada Operasi Badai Gurun, 17 Januari 1991.
7


Air Forces 1.796 Combat aircraft
Ground Forces 540.000 Troops
1.200 Tanks
2.200 APCs
1.700 Helicopters
Naval Forces 100+ Ships
6 Carrier battle groups
2 Battleship surface action groups
13 Submarines
4 Amphibious formations
Tabel 1. Coalition Order of Battle

Air Forces 591 Combat aircraft
Ground Forces 540.000 Troops
4.200 Tanks
2.800 APCs
3.100 Artillery pieces
Naval Forces 10 Missile attack boats
3 Subchasers
7 Patrol boats
8 Minesweepers
Tabel 2. Estimate Iraqi Order of Battle

Target utama koalisi adalah menghancurkan kekuatan Angkatan Udara Irak dan
pertahanan udara yang diluncurkan dari Arab Saudi, serta kekuatan kapal induk koalisi di

6
David V. Nowlin & Ronald J. Stupak. Op.cit., hlm. 111
7
David V. Nowlin & Ronald J. Stupak. op. cit., hlm. 109-110
6


Laut Merah dan Teluk Persia. Target berikutnya adalah pusat komando dan komunikasi.
Presiden Saddam Hussein yang merupakan titik sentral komando Irak dan inisiatif di level
bawah tidak diperbolehkan. Koalisi berharap jika pusat komando rusak, maka semangat dan
koordinasi tempur Irak akan langsung kacau dan lenyap. Target ketiga dan yang paling utama
adalah instalasi rudal jelajah terutama rudal Scud.
Operasi pencarian rudal ini juga didukung oleh pasukan komando Amerika dan
Inggris yang mengadakan operasi rahasia di daratan untuk mencari dan bila perlu
menghancurkan instalasi rudal tersebut. Pendaratan pasukan darat pada tanggal 30
Januari 1991 tersebut menandakan puncak dari operasi badai gurun dengan tujuan untuk
memukul pasukan Irak yang menyerang Kuwait. Kedua pihak memiliki senjata modern dan
tank yang sangat akurat digunakan dalam perang darat. Badai gurun merupakan suatu
tantangan tersendiri dari perang ini. Apabila perang berhasil, maka dapat mengembalikan
keutuhan hukum internasional atas negara yang dipimpin oleh sebuah kediktaron Saddam
Hussein. Namun, jika gagal maka ini merupakan awal terjadinya anarki global dan
kehancuran fundamental dari sebuah tatanan dunia baru.
Irak melakukan serangan balasan dengan memprovokasi Israel dengan menghujani
Israel terutama Tel Aviv, Haifa, dan Arab Saudi di Dhahran melalui serangan rudal Scud B
buatan Uni Soviet rakitan Irak yang bernama Al Hussein. Untuk menangkal ancaman Scud,
koalisi memasang rudal penangkis Patriot serta memaksimalkan sortir udara untuk memburu
rudal-rudal tersebut sebelum diluncurkan. Irak juga melakukan perang lingkungan dengan
membakar sumur-sumur minyak di Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia.
Pada tanggal 19 Februari 1991, sempat terjadi tawar-menawar perdamaian antara Uni
Soviet dengan Irak yang dilakukan atas diplomasi Yevgeny Primakov dan Presiden Uni
Soviet Mikhail Gorbachev, namun ditolak oleh Presiden Amerika Serikat George H. W.
Bush. Uni Soviet akhirnya tidak melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB,
meskipun Uni Soviet pada saat itu dikenal sebagai sekutu Irak terutama dalam hal suplai
persenjataan. Selanjutnya, Amerika Serikat meminta Israel untuk tidak mengambil serangan
balasan atas Irak untuk menghindari berbaliknya kekuatan militer negara-negara Arab yang
dikhawatirkan akan mengubah jalannya peperangan. Pada tanggal 27 Februari 1991, pasukan
koalisi berhasil membebaskan Kuwait dari invasi Irak dan Presiden Amerika Serikat George
H. W. Bush menyatakan perang telah usai.
7


Kronologi Perang Teluk I
8

Januari 1991
17 Januari Serangan Sekutu dimulai dengan serangan Apache pada pukul 02:38 (waktu setempat)
18 Januari
Scud pertama menghantam Israel. Kerugian pesawat Angkatan Laut selama serangan di
situs Scud menyebabkan saling tuding tentang tinggi-rendah taktik pengeboman. Serangan
udara Amerika pertama diluncurkan dari Turki.
19 Januari David Eberly dan Thomas Griffith (American POW/ Prisoner of War) ditembak
20 Januari Lawrence Eagleburger dan Paul Wolfowitz tiba di Tel Aviv
22 Januari
Angkatan Laut menyerang tanker minyak Irak, memicu ancaman Schwarzkopf dari
pengadilan militer. Komando tinggi Inggris khawatir pada kerugian pesawat sehingga
serangan terhadap lapangan udara ditinggalkan
23 Januari Serangan intens terhadap tempat penampungan pesawat Irak dimulai
26 Januari
Marinir AS di Oman berpartisipasi dalam Sea Soldier IV, latihan untuk pendaratan amphibi di
pantai Kuwait. F-111s menyerang manifold minyak di Al Ahmadi dalam upaya untuk
melawan sabotase Irak
29 Januari
Irak menyerang Khafji dan posisi perbatasan lainnya. Sekutu pilot mulai menerbangkan
patroli tempur udara untuk menggagalkan penerbangan Irak ke Iran
30 Januari Richard Cheney mengirimkan Delta Force ke Arab Saudi untuk memburu Scud
31 Januari Khafji direbut kembali. David Eberly dipindahkan ke penjara baru, Biltmore
Februari 1991
1 Februari Rudal Tomahawk terakhir yang diluncurkan dalam serangan di lapangan udara Baghdad
2 Februari Schwarzkopf resmi memutuskan melawan pendaratan amphibi di Kuwait
3 Februari Tembakan kapal perang pertama terhadap sasaran-sasaran di Kuwait
5 Februari Misi tank-plinking pertama diterbangkan
6 Februari
Korps VII selesai mendekat di medan perang dengan kedatangan terakhir dari peralatan
Divisi Lapis Baja ketiga
7 Februari
CIA mencatat perbedaan besar antara Washington dan Riyadh mengenai penghancuran
armor Irak dalam serangan udara
8 Februari Cheney dan Powell terbang ke Riyadh untuk meninjau akhir rencana perang darat
11 Februari
Al firdos bunker (bangunan pertahanan militer) ditambahkan di pinggiran Baghdad untuk
menguasai rencana serangan. Moshe Arens di Washington mengeluh tentang tidak
efektifnya rudal Patriot terhadap Scud. Yevgeni Primakov tiba di Baghdad untuk mendesak
penarikan Irak
13 Februari
Serangan di Al firdos bunker membunuh lebih dari dua ratus warga sipil dan menyebabkan
pembatasan kampanye pengeboman strategis
15 Februari Radio Baghdad menyarankan Irak agar bersedia menarik diri. Bush menolak usulan sebagai

8
Berdasarkan tulisan Rick Atkinson yang berjudul Crusade: The Untold Story Of The Persian Gulf War
tahun1993. Diperoleh dari http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/gulf/cron/ pada 13 Oktober 2014 pukul
19.47WIB.
8


cruel hoax
16 Februari Korps VII bergerak ke posisi serangan terakhir
18 Februari
U.S.S. Tripoli dan U.S.S. Princeton Tambang mogok. Angkatan Darat mengeluhkan tidak
cukupnya dukungan udara untuk konfrontasi dengan Angkatan Udara
20 Februari
Divisi Kavaleri pertama melakukan tipuan atas Wadi al Batin; menarik kembali dengan tiga
orang tewas dan sembilan terluka
21 Februari
Pejabat CIA dan Pentagon bertemu di Gedung Putih untuk udara perbedaan atas penilaian
kerusakan-pertempuran. Bush menetapkan batas waktu tengah hari, 23 Februari, untuk
penarikan Irak
22 Februari Marinir mulai merangsek ke bootheel Kuwait
23 Februari
Pejuang Stealth menyerang markas intelijen Irak, mereka tidak menyadari bahwa tawanan
perang sekutu berada di dalam. Tim Pasukan Khusus Tentara dimasukkan ke dalam Irak
24 Februari
Serangan darat dimulai. Schwarzkopf memutuskan untuk mempercepat serangan utama
Korps VII dalam lima belas jam
25 Februari
Schwarzkopf meledakan dengan kecepatan lambat dari Korps VII. Divisi Airborne ke 101
memotong Highway 8 di Lembah Efrat. Irak melakukan serangan balasan pada Divisi Marinir
pertama. Scud menghancurkan barak di Al Khobar, menewaskan 28 orang Amerika dan
melukai sembilan puluh delapan lainnya
26 Februari
Pasukan Irak melarikan diri ke Kuwait City. Korps VII memukul Garda Republik di
Pertempuran 73 Easting
27 Februari
Pasukan koalisi berhasil membebaskan Kuwait dari invasi Irak. Bush menyatakan perang
telah berakhir
28 Februari
Elemen pemimpin dari Angkatan Darat ke-7 Amerika memasuki kota perbatasan Basra di
Iraq. Gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 08.00 (waktu setempat). Marinir Amerika,
Kuwait, dan pasukan Arab lainnya memasuki Kuwait City dengan kemenangan.

III. Analisis Pelaksanaan Perang Sesuai Teori Sun Tzu dan Teori OODA Loop
Sun Tzu merupakan penulis teori Art of War (Seni Perang), sebuah karya militer
klasik tertua dalam literatur Cina yang di dalamnya terdapat berbagai strategi perang. Ahli
sejarah sependapat bahwa Seni Perang Sun Tzu ditulis sekitar 400-300 tahun sebelum masehi
atau 100 tahun setelah kelahiran dua filsuf terkenal Kong Hu Cu dan Lao Tze.
9
Sedangkan
OODA merupakan singkatan dari Observe, Orient, Decide, Act (amati, orientasi, putuskan,
lakukan). Konsep ini diperkenalkan oleh Kolonel John Richard Boyd, seorang pilot pesawat
tempur United State Air Force (USAF).
10


9
William Tanuwidjadja. 101 Intisari Seni Perang Sun Tzu. (Yogyakarta: MedPress, 2009), hlm. iii
10
Nurochman. OODA (Observe, Orient, Decide, Act). (Bandung: Institut Teknologi Bandung, 2012), hlm. 2
9


Pemimpin pasukan perang Amerika Jenderal Norman Schwarzkopf menerapkan teori
Sun Tzu dalam Perang Teluk I. Demikian pula dengan Boyd yang juga menganut teori Sun
Tzu dan telah menghabiskan beberapa tahun untuk meneliti strategi dan cara kerja seni
perang tersebut. Berpijak pada teori Sun Tzu, Boyd konsisten mengembangkan OODA Loop
untuk mengatasi penekanan yang berlebihan oleh Clausewitz
11
dalam mencapai penentuan
perang dengan mengatasi pergesekan dan tekanan dalam manuver strategis. Pemikiran Boyd
tentang seni perang Sun Tzu dan konsep OODA Loop memberikan pengaruh yang tepat dan
telah diterapkan dalam militer US dan Pentagon.

A. The Art of War Sun Tzu
Teori Sun Tzu yang utama yang diterapkan Amerika dalam Perang Teluk I adalah
know your enemy and your self. Amerika tidak hanya mengandalkan kemampuan alat
utama sistem senjata yang mutakhir, tetapi juga mempertimbangkan kekuatan musuh dan
faktor lainnya, seperti medan tempur, budaya, tabiat, dan kebiasaan lawan. Sebagaimana
pemikiran Schwarzkopf yang mengemukakan bahwa strategi perang merupakan suatu seni
yang merupakan ramalan atau tujuan intelijensia manusia, dibandingkan hanya informasi
teknikal.
Beberapa perspektif Sun Tzu yang diaplikasikan Jenderal Schwarzkopf untuk
menyerang Irak pada Perang Teluk I, di antaranya:

The more planning, the more chances of winning (semakin banyak
perencanaan, semakin banyak peluang untuk menang).
12


Penerapan teori Sun Tzu oleh Jenderal Schwardzkopf tercermin dari berbagai
perencanaan yang dia lakukan. Rencana tersebut terlihat dari persiapan yang dilakukan
Schwardzkopf, tidak hanya dari segi strategi, namun juga persenjataan, kekuatan tentara, dan
memperhitungkan kekuatan lawan. Schwardzkopf juga menimbang masalah waktu
pelaksanaan perang terkait dengan cuaca di medan perang, bahkan kebiasaan dari masyarakat
setempat. Kesemua aspek tersebut difikirkan oleh Schwardzkopf, sehingga pihaknya
memiliki peluang menang yang lebih besar ketika berperang melawan Irak.
Sebelum melancarkan serangan ke Irak, Jenderal Schwarzkopf menyusun rencana
penyerangan cepat ke Kuwait. Padang pasir adalah daerah perang yang sangat berbeda

11
Carl Von Clausewitz (1780-1831) adalah seorang perwira Angkatan Darat Prusia (Jerman) yang terkenal
dengan teori perang On War. Pandangan Clausewitz lebih berorientasi pada aspek pertempuran. Baginya
perang adalah semata-mata kegiatan militer.
12
William Tanuwidjadja. op. cit., hlm. 77
10


sehingga membutuhkan strategis khusus guna memenangkan peperangan tersebut. Beberapa
hal yang menjadi pertimbangannya, yakni awal Maret akan terjadi hujan deras dan badai
gurun, serta tanggal 25 Maret adalah awal Ramadhan bagi umat Muslim. Oleh karena itu,
Schwarzkopf harus membebaskan Kuwait paling lambat akhir Februari.
Schwarzkopf memiliki tiga rencana untuk menyerang Irak, yakni serangan frontal
dilakukan dari arah utara perbatasan Kuwait dan Arab Saudi, pendaratan Amphibi pasukan
marinir Amerika Serikat dari perairan Kuwait, atau perjalanan panjang melalui perbatasan
Saudi-Irak yang kemudian melambung ke timur arah Kuwait. Pasukan koalisi juga
melakukan pelatihan berat untuk melakukan penyerangan utamanya bagi pasukan Amerika
dan Inggris sebagai pasukan penyerang utama.
Dalam memandang lawannya, Schwardzkopf tidak serta-merta menganggap lemah
Irak meskipun pihaknya didukung oleh banyak negara sekutu. Pada konteks ini,
Schwardzkopf menerapkan teori Sun Tzu, yaitu:

Jika kita menghormati kekuatan lawan dan dengan tekun mempelajari
gerakannya, kita akan menang. Jika kita meremehkan lawan dan tidak
memperhatikan arti gerakan-gerakannya, kita akan kalah.
13


Penerapan dari teori ini terlihat ketika Schwardzkopf membuat tiga rencana untuk
menyerang Irak. Namun, dari ketiga opsi tersebut Schwardzkopf membatalkan pendaratan
Amphibi karena dia mengetahui pertahanan pantai dari pihak musuh sangat kuat. Keputusan
ini diambil karena Schwardzkopf mempelajari kekuatan Irak dan tidak meremehkan kekuatan
pertahanan pihak Saddam Hussein tersebut. Bahkan, untuk membangun kekuatan yang besar,
marinir Amerika pun tetap melakukan latihan pendaratan secara besar-besaran sesuai
rencana.
Pemerintah Amerika dan Inggris juga menurunkan pasukan khusus yang bertugas
mengumpulkan informasi intelijen di wilayah Irak. Hal ini bertujuan untuk melakukan
pengamatan, orintasi terhadap budaya, kebiasaan, kelemahan musuh, dan informasi lainnya
yang dapat dijadikan masukan dalam pengambilan keputusan, yang selanjutnya akan
diujicobakan melalui aksi. Kegiatan ini juga mencerminkan penerapan teori Sun Tzu, yang
berbunyi,


13
Ibid., hlm. 102
11


Mata-mata merupakan elemen penting dalam perang, karena di pundak
mereka bergantung kemampuan pasukan untuk bergerak.
14


Berdasarkan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa inteligen menjadi faktor penting di
dalam perang karena hal tersebut menjadi andalan bagi pasukan dalam setiap gerakan
mereka. Selain itu, pengetahuan awal merupakan syarat bagi seorang komandan/jenderal
untuk menaklukan musuhnya. Teori Sun Tzu selanjutnya yang digunakan oleh
Schwardzkopf, yakni:

Attack where he is unpreapared, sally out when he does not expect
you.
15
Jenderal yang baik menghindari musuh yang semangatnya tinggi.
la menyerang musuh pada saat mereka lelah.
16


Penggunaan teori ini tercermin saat dimulainya Operasi Badai Gurun. Pada tanggal
16 Januari 1991, Jenderal Schwardzkopf mengatakan bahwa Operasi Badai Gurun sudah
dimulai. Selanjutnya, 17 Januari dini hari di mana pada saat itu pasukan Irak sedang istirahat,
sekutu pun memulai serangan dengan Apache dalam misi penguasaan wilayah udara Irak.
Sasaran utama adalah menghancurkan pertahanan udara Irak, Pusat Komando Kontrol dan
Komunikasi, serta penyerangan ibukota Irak secara bersamaan.
Pada waktu yang bersamaan, rudal Cruise Misil Tomahawk diluncurkan dari kapal
tempur Amerika di teluk Persia. Tornado Inggris, Pesawat GR-1 berangkat menuju ke
pangkalan udara Irak dan menyerang pada ketinggian minimum dengan menggunakan bom
JP-223. Pasukan koalisi kemudian mulai menyerang pangkalan udara Irak yang telah
diperkuat dengan menggunakan bom konvensional guna memaksa Saddam keluar dari
Kuwait. Akibatnya, Saddam Hussein memerintahkan beberapa pilot pesawatnya untuk
mencari perlindungan di Iran.
Serangan udara Schwarzkopf tidak dapat ditahan oleh Irak. Target utama lainnya
seperti gedung pemerintah, listrik, dan jalur logistik, semua dihancurkan. Instalasi senjata
kimia dan nuklir tidak luput dari sasaran serangan. Alat penglihatan malam (night vision
instrument) sekutu juga sangat membantu dalam melakukan serangan di malam hari yang
didukung serangan udara telah membuat pasukan Irak menyerahkan diri tanpa melakukan
perlawanan berarti.

14
Ibid., hlm. 89
15
Sun Tzu. The Art of War (United State of America: Oxford University Press, 1963), hlm. 69
16
Ibid., hlm. 93
12


Kekalahan yang dialami oleh Irak dalam melawan Amerika dan sekutunya disebabkan
oleh beberapa faktor, salah satunya karena Saddam Husein memandang kesiapan peralatan
tempur dan moral tinggi pasukan Irak dapat menjadi modal besar menghadapi pasukan
koalisi. Padahal, dalam teori Sun Tzu dijelaskan,

Dalam pertempuran memiliki banyak tentara tidak menjamin
kemenangan. Jangan maju bertempur hanya semata-mata mengandalkan
kekuatan militer. Setiap orang yang kurang perhitungan dan menganggap
enteng musuh dengan menghina dan meremehkan pada akhirnya akan
tertawan sendiri.
17


Tingkat kepercayaan diri yang tinggi dari Presiden Saddam Hussein tanpa
memperhitungkan dengan akurat kekuatan tempur Amerika dan sekutunya menyebabkan
kekalahan yang fatal bagi pihaknya.

B. OODA Loop John Richard Boyd
OODA merupakan singkatan dari Observe (pengamatan), Orient (orientasi), Decide
(keputusan), dan Act (tindakan). Konsep OODA Loop John Boyd merupakan interpretasi
terhadap cheng/chi, salah satu pemikiran dari teori The Art of War Sun Tzu. Cheng/chi
dikenal dengan konsep deception, flexibility, speed, dan amongst others. OODA Loop adalah
sebuah proses pengambilan keputusan yang dihasilkan dari konstruksi berpikir dengan
memberdayakan semua panca indra. Kunci dari OODA Loop adalah proses di mana suatu
entitas (baik individu atau organisasi) bereaksi terhadap suatu peristiwa.
Boyd dipercaya menjadi arsitek perang pada Perang Teluk I mengembangkan teori
OODA sebagai strategi untuk melumpuhkan Irak. Konsep Boyd yang paling terkenal, yakni:

Mesin tidak dapat berperang. Manusialah yang melakukannya dan
mereka menggunakan pikiran mereka. Anda harus masuk dalam
pemikiran manusia, maka peperangan dapat dimenangkan (machines
dont fight wars. People do and they use their minds. You must get into the
minds of humans. Thats where battles are won).




17
Ibid., hlm. 76
13


Konsep OODA Loop Boyd dapat disimak pada bagan di bawah ini.


Gambar 1. OODA Loop John Boyd

1. Observasi
Observasi merupakan proses awal yang akan membentuk orientasi, kemudian
menghasilkan keputusan yang akan dijadikan dasar untuk melakukan tindakan. Observasi
harus dilakukan secara terus-menerus terhadap berbagai sumber informasi yang ada. Hal ini
diperlukan untuk menjamin bahwa setiap perubahan yang terjadi dapat segera disikapi
dengan tepat dan cepat. Observasi merupakan proses yang aktif karena musuh akan selalu
berusaha mencari peluang dan mengintip kekuatan dan kelemahan, sehingga kemampuan
untuk selalu melakukan improvisasi sangat menentukan keberhasilan dalam peperangan.
Dalam melakukan observasi ini, Amerika dan Inggris menurunkan pasukan khusus
yang bertugas mengumpulkan informasi intelijen di wilayah Irak. Hal ini bertujuan untuk
melakukan pengamatan terhadap budaya, kebiasaan, kelemahan, dan informasi Irak lainnya
untuk kepentingan dalam penyerangan. Hasil yang diperoleh dari observasi ini salah satunya
adalah masyarakat Arab menghabiskan waktu istirahatnya pada malam hari. Irak juga
memiliki pasukan pertahanan pantai yang kuat, dan berbagai informasi lainnya.

2. Orientasi
Orientasi merupakan sebuah proses untuk membangun traktor salju, yaitu sebuah
konsep dan ide baru dalam mengimprovisasi strategi. Orientasi dilakukan dengan
menggunakan analisa dan sintesa terhadap hasil observasi yang telah dilakukan sebelumnya,
serta dengan melihat apa yang terjadi saat ini. Orientasi akan menghasilkan seperangkat
strategi, rencana, aksi yang tepat, dan memberikan solusi terbaik atas kondisi yang terjadi.
14


Setelah fakta-fakta di lapangan diperoleh, Amerika dan sekutunya menyusun
beberapa strategi perang untuk mengalahkan Irak. Strategi perang tersebut terdiri dari empat
fase, yaitu strategic air campaign (kampanye udara strategis), air supremacy in KTO
(supremasi udara di KTO), battlefield preparation (persiapan medan perang) dan offensive
ground campaign (kampanye serangan darat). Selain itu, mereka juga menyusun tiga opsi
strategi penyerangan, yaitu serangan frontal dari arah utara perbatasan Kuwait-Arab Saudi,
pendaratan Amphibi pasukan marinir Amerika Serikat dari perairan Kuwait, atau perjalanan
panjang melalui perbatasan Saudi-Irak yang kemudian melambung ke timur arah Kuwait.

3. Keputusan
Fase ini merupakan tahap pengambilan keputusan dan merupakan langkah eksplisit
sebagai kelanjutan dari hasil orientasi. Setelah mendapatkan gambaran permasalahan yang
terjadi di lingkungan secara jelas dan kemudian dilakukan orientasi/inventarisasi
alternatif solusi yang ada, maka harus segera mengambil keputusan yang akan dilakukan.
Pertimbangan kesesuaian/ketepatan antara strategi yang akan diambil dengan kondisi
lingkungan musuh harus diperhatikan. Selain itu, kecepatan pengambilan keputusan juga
harus jadi prioritas karena keputusan yang tepat namun terlambat diambil juga tidak akan
menghasilkan kemenangan dalam peperangan.
Setelah mempertimbangkan berbagai aspek yang berasal dari hasil observasi, salah
satu keputusan yang diambil dari tiga opsi perencanaan perang yang telah dilakukan pada
tahap orientasi adalah membatalkan pendaratan Amphibi karena Amerika mengetahui
pertahanan pantai dari pihak musuh sangat kuat. Penyerangan pun diputuskan akan dilakukan
pada malam hari. Selain itu, hasil observasi terkait kondisi di medan perang adalah awal
Maret akan terjadi hujan deras dan badai gurun, serta tanggal 25 Maret adalah awal
Ramadhan bagi umat Muslim. Oleh karena itu, dalam tahap keputusan ditetapkan bahwa
pembebasan Kuwait paling lambat harus terlaksana pada akhir Februari 1991.

4. Tindakan
Tahap ini merupakan langkah nyata yang paling berpengaruh karena keputusan yang
diambil akan berdampak pada situasi baru yang akan muncul. Pada tahap ini, situasi akan
cenderung mengalami perbedaan dengan kenyataan dan fakta-fakta baru. Oleh sebab itu, kita
dapat segera melakukan langkah orientasi ulang atas situasi dan fakta baru tersebut. Ini
merupakan siklus alami dari metode OODA ini.
15


Setelah melalui tahap observasi, orientasi, dan telah menemukan keputusan yang
dianggap tepat, Amerika dan sekutunya mengeksekusi keputusan yang telah ditetapkan
tersebut. Tindakan pertama yang dilakukan Amerika dan sekutunya adalah menyerang pada
waktu malam hari melalui serangan udara masiv atas Baghdad dan beberapa wilayah Irak
lainnya. Keputusan tersebut memperoleh hasil yang memuaskan karena Irak terbukti
kewalahan menghadapi Amerika dan sekutunya. Kondisi tersebut juga diperburuk karena
peralatan tempur Amerika dan sekutu jauh lebih canggih dibanding Irak.

IV. Teori Perang Pendukung Terkait dengan Perang Teluk I
Teori perang yang mendukung praktik Perang Teluk I adalah teori On War dari Carl
Von Clausewitz. Salah satu konsep yang dikemukakan oleh Clausewitz yaitu Center Of
Gravity (CoG) yang diartikan sebaga pusat dari semua kegiatan dan gerakan di mana semua
tenaga dan upaya diarahkan. Mengidentifikasi CoG merupakan tugas utama para pemimpin
militer jika ingin memperoleh kemenangan.
Terkait dengan Perang Teluk I, perencanaan serangan untuk memaksa pasukan Irak
keluar dari Kuwait menjadi prioritas utama Amerika yang dimulai pada awal November.
Oleh karena itu, salah satu langkah awal yang dilakukan Amerika adalah mengidentifikasi
pusat gravitasi Irak dan mengkonsentrasikan seluruh kekuatan pada beberapa titik, seperti:
Komando, kontrol, dan kepemimpinan rezim Saddam Hussein
Senjata pemusnah massal Irak, termasuk fasilitas produksi perang berpotensi
nuklir, biologi, dan kimia (Nuclear, Biological, Chemical/NBC), serta sebagai
sarana untuk membebaskan mereka.
Setelah pusat gravitasi diidentifikasi, perencanaan menjadi langkah-demi-langkah
proses, setiap bangunan fase berikutnya pada hasil sebelumnya. Sesuai pedoman
Menteri Pertahanan, Commander-in-Chief, Central Command's (CINCCENT)
diuraikan dalam Mission Statement. Tujuan CINCENT yakni akan melakukan
operasi ofensif untuk:
menetralisir Otoritas Kekuasaan Nasional Irak
mengeluarkan angkatan bersenjata Irak dari Kuwait
menghancurkan Garda Republik
sedini mungkin, menghancurkan rudal balistik, kemampuan NBC Irak
membantu dalam pemulihan pemerintah yang sah dari Kuwait
18


18
David V. Nowlin & Ronald J. Stupak, hlm. 110
16


Dalam teorinya, Clausewitz juga mengembangkan konsep strategi. Clausewitz
menyatakan, strategy is the use of the engagement for the purpose of the war.
19
Menurut dia
dalam perang terdapat dua tindakan yang secara hakiki berbeda. Tindakan pertama adalah
pelaksanaan dalam setiap pertempuran, sedangkan tindakan kedua adalah kombinasi atau
gabungan dari setiap pertempuran sehingga tujuan perang tercapai. Tindakan pertama disebut
taktik dan tindakan kedua disebut Strategi. Konsep ini tercermin dalam strategi Amerika dan
sekutunya. Bersama Joint Force Air Component Commander (JFACC) staf mengidentifikasi
lima tujuan utama kampanye udara badai gurun (taktik), beserta 12 sasaran (strategi) untuk
mencapainya. Tujuan dan sasaran JFACC tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

No. Tujuan Utama Sasaran/Target
1.
Mengisolasi dan melumpuhkan
rezim Irak
- Fasilitas perintah kepemimpinan.
- Aspek-aspek penting dari fasilitas produksi listrik yang
berkekuatan militer dan sistem industri yang berhubungan
dengan militer.
- Telekomunikasi dan sistem komando, kendali, dan
komunikasi (Command, Control, Communication/C3).
2.
Mendapatkan dan mempertahankan
supremasi udara untuk mengizinkan
operasi udara tanpa hambatan
- Strategis Sistem Pertahanan Udara Terpadu (Integrated
Air Defense System/IADS), termasuk situs radar,
Permukaan untuk Misil Udara (Surface to Air
Missile/SAM), dan pusat-pusat kontrol IADS.
- Pasukan udara dan lapangan udara.
3.
Menghancurkan kemampuan
perang NBC
- Mengenali penelitian, fasilitas produksi, dan penyimpanan
NBC
4.
Menghilangkan kemampuan
serangan militer Irak dengan
menghancurkan bagian utama dari
produksi kunci militer, infrastruktur,
dan kemampuan proyeksi kekuatan.
- Produksi dan penyimpanan situs militer.
- Rudal dan peluncur Scud, fasilitas produksi, dan
penyimpanan.
- Penyulingan minyak dan fasilitas distribusi sebagai
penentangan untuk kemampuan produksi jangka panjang.
- Angkatan laut dan fasilitas pelabuhan.
5.
Membuat tentara Irak dan peralatan
mekanik di Kuwait tidak efektif,
sehingga menyebabkan mereka
runtuh
- Rel kereta api dan jembatan yang menghubungkan
kekuatan militer untuk sarana pendukung.
- Unit Angkatan Darat untuk termasuk Republican Guard
Forces Command (RGFC) di Kuwait Theater of
Operations (KTO).


19
Carl von Clausewitz. On War. (New York: Oxford University Press, 1984), hlm. 133
17


Strategi dalam Perang Teluk I juga dapat dikaitkan dengan teori Giulio Douhet.
Douhet merupakan seorang jenderal Italia yang ahli dalam teori strategi kekuatan udara dan
terkenal dengan bukunya The Command of The Air. Salah satu pemikiran Douhet yang sesuai
dengan strategi perang Amerika bersama sekutunya untuk menyerang Irak, berbunyi:

Salah satu metode efektif dalam mempertahankan wilayah sendiri dari
serangan melalui udara adalah menghancurkan kekuatan udara musuh
dengan kemungkinan kecepatan terbesar (The one effective method of
defending one's own territory from an offensive by air is to destroy the
enemy's air power with the greatest possible speed).
20


Konsep Douhet tersebut sesuai dengan strategi yang dilakukan Amerika dan
sekutunya di mana mereka mengawali pertempuran dengan serangan-serangan udara masiv
atas Baghdad dan beberapa wilayah Irak lainnya.

V. Kesimpulan
Melemahnya kekuatan ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab Irak melakukan
invansi ke Kuwait. Invansi tersebut mendapat kecaman keras dari dunia internasional
termasuk Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Meski telah mendapatkan tawaran
perdamaian, Presiden Saddam Hussein tetap melanjutkan invasinya ke negara kecil tersebut.
Hal ini menjadi penyebab terjadinya Perang Teluk 1 antara Irak dan Amerika bersama
sekutunya. Terdapat beberapa teori perang yang diaplikasikan dalam Perang Teluk I, seperti
teori Art of War dari Sun Tzu yang diaplikasikan oleh Jenderal Norman Schwarzkopf yang
bertugas sebagai Kepala Pusat Komunikasi atau Cencom, teori OODA Loop yang
diperkenalkan dan diterapkan oleh Kolonel John Richard Boyd, seorang pilot pesawat tempur
United State Air Force (USAF). Sementara itu, teori perang lain yang berkaitan dengan
Perang Teluk I adalah konsep Center of Grafity (CoG) dan Strategy dari teori On War Carl
Von Clausewitz, serta teori dari Giulio Gouhet dalam karyanya The Command of The Air.


20
Giulio Douhet. The Command of The Air. (Washington D.C: Air Force History and Museums Program, 1998),
hlm. 111.



DAFTAR PUSTAKA

Clausewitz, Carl von. 1984. On War. Terj. Michael Howard dan Peter Paret. New York:
Oxford University Press.

Douhet, Giulio. 1998. The Command of The Air. Terj. Dino Ferrari. Washington D.C: Air
Force History and Museums Program.

Harahap. Usra U. 2014, Oktober. Theory of War From The Gulf War To Global War On
Terror: A Distorted Sun Tzu In Us Strategic Thinking. Materi dipresentasikan pada kuliah
Filsafat dan Teori Perang di kelas Manajemen Bencana Universitas Pertahanan, Sentul.

Nowlin, David V. & Stupak, Ronald J. 1998. War as an Instrument of Policy. Past, Present,
and Future. Boston: University Press of America.

Tanuwidjadja, William. 2009. 101 Intisari Seni Perang Sun Tzu. Yogyakarta: MedPress.

Tzu, Sun. 1963. The Art of War. Terj. Samuel B. Griefith. New York: Oxford University
Press

Bangmo, Anto. 2013. Irak Kuwait. Diperoleh dari https://id.scribd.com/doc/148301290/Irak-
Kuwait pada tanggal 11 Oktober 2014 pukul 05:14 WIB.

Kurnia N. M, Erwin. 2014. Analisa Perang Teluk Irak VS Kuwait. Jakarta: Universitas
Pertahanan Indonesia. Diperoleh dari https://www.academia.edu/7289628/Analisa_Perang
Teluk_Irak_Vs_Kuwait pada tanggal 12 Oktober2014 pukul 21:11 WIB.

Nurochman. 2012. OODA (Observe, Orient, Decide, Act). Bandung: Institut Teknologi
Bandung. Diperoleh dari http://blogs.itb.ac.id/nurochmangunkids/files/2012/02/
Tugas1_23511070_Nurochman.pdf pada tanggal 13 Oktober 2014 pukul 13:01 WIB

Solichien M, Yussuf. 2008. Kerjasama PBB-Amerika Serikat Dalam Penyelesaian Kasus
Invansi Irak Terhadap Kuwait (Tahun 1990-199). Jakarta: Universitas Indonesia. Diperoleh
dari http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/127056-T%2023483-Kerjasama%20PBB-Literatur.pdf
pada tanggal 11 Oktober 2014 pukul 05.25 WIB.

NN. The Gulf War. Diperoleh dari http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/gulf/cron/ pada
tanggal 13 Oktober 2014 pukul 19.47 WIB.