Anda di halaman 1dari 8

PERCOBAAN P-2 AKUSTIK

NOISE BARRIER AND DIRECTIVITY FACTOR



A. LATAR BELAKANG

Setiap sumber bunyi mempunyai pola keterarahan yang berbeda-beda. Suatu sumber
bunyi titik adalah sumber bunyi ideal yang mempunyai pola keterarahan seperti permukaan
bola. Sumber bunyi yang mempunyai pola keterarahan seperti permukaan bola adalah
sumber bunyi yang mempunyai intensitas sama pada jarak yang sama untuk arah (terhadap
sumbu sumber bunyi) berbeda. Pada umumnya, setiap sumber bunyi mempunyai intensitas
yang tidak sama pada jarak yang sama dan pada arah sudut yang berbeda.
Sumber bunyi yang mempunyai tingkat tekanan bunyi di atas rata-rata mengakibatkan
bising yang mengganggu kenyamanan aktivitas. Pada suatu bangunan seperti rumah,
gedung-gedung, ataupun plan industri sekalipun, sangat memerlukan suatu noise barrier
agar bising dari sumber bunyi di sekitarnya bisa dikendalikan.

B. TUJUAN

1. Mampu menganalisis pengaruh noise barrier terhadap pengukuran tingkat tekanan
bunyi.
2. Mampu membandingkan besar atenuasi bunyi pada grafik maekawa dengan hasil
pengukuran.
3. Mahasiswa mampu mengetahui pola keterarahan dari sumber bunyi speaker.

C. DASAR TEORI

I. Noise Barrier
Noise Barrier (Penghalang Dinding) merupakan suatu dinding atau partisi penghalang
yang digunakan untuk mengendalikan transmisi bising yang dirambatkan melalui udara (air-
bone noise), dimana dinding ini letaknya diantara sumber dan penerima. Fungsi dari
Penghalang Bising ini yaitu untuk memberikan zona bayangan (shadow zone) atau daerah
dimana mempunyai bising yang lebih senyap pada penerima.


Gambar 1. Ilustrasi Penghalang Bising Tampak Samping
Kinerja Akustik dari Penghalang dapat dinyatakan dalam IL (Insertion Loss) atau NR (Noise
Reduction).
a. Insertion Loss
Insertion Loss merupakan perbedaan antara tekanan bunyi (Sound Pressure Level)
pada suatu titik tertentu dalam kondisi sebelum dan setelah barrier (enclosure)
terpasang.

Gambar 2. Perbedaan TTB di Ruang Penerima tanpa (a) dan dengan Partisi (b)

Dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

dengan,
SPL
before
: Selisih tingkat tekanan bunyi sebelum ada barrier (dB)
SPL
after
: Selisih tingkat tekanan bunyi sesudah ada barrier (dB)
IL memberikan petunjuk langsung dari perbaikan yang diberikan oleh penyisipan
barrier antara sumber bising dan penerima.
b. Noise Reduction
Besaran berikutnya yang juga digunakan untuk menyatakan daya isolasi bahan
adalah reduksi bising (Noise Reduction). Reduksi bising terjadi antara ruang sumber
bunyi dengan ruang penerima bunyi. Reduksi bising merupakan selisih tingkat tekanan

bunyi dalam ruang sumber bunyi dengan tingkat tekanan bunyi dalam ruang penerima.
Secara matematis, reduksi bising dinyatakan dalam:

dengan,
NR : reduksi bising (dB)
SPL1 : tingkat tekanan bunyi dalam ruang sumber (dB)
SPL2 : tingkat tekanan bunyi dalam ruang penerima (dB)
Untuk mengurangi tingkat tekanan bunyi pada penghalang akustik, dipergunakan metode
maekawa
c. Maekawa
Metode maekawa biasa menggunakan metode grafik (kurva).Dengan menggunakan
metode maekawa ini, kita dapat menentukan nilai pengurangan tingkat tekanan bunyi,
tergantuk dari jarak dari sumber ke penghalang, dan tergantung pada frekuensi bunyi.

Gambar 3. Metode Maekawa
Untuk menentukan besarnya nilai atenuasi bunyi menggunakan persamaan :
B =10 log (3 +40

)
O =jarak dari titik kerja sampai puncak barrier
dengan,
= + - d


Gambar 4. Grafik Maekawa
Dimana, Fresnel Number (N) =
2



II. Directivity Factor (Faktor Keterarahan sumber bunyi)
Loudspeaker merupakan transduser yang berfungsi merubah energi listrik menjadi
energi bunyi. Di dalam perambatannya, loudspeaker memiliki arah penyebaran tertentu. Hal
inilah yang disebut sebagai faktor keterarahan (Q). Faktor keterarahan dari sebuah sumber
bunyi didefinisikan sebagai perbandingan antara intensitas bunyi pada suatu titik berjarak r
dari sumber bunyi dengan intensitas bunyi pada titik tersebut yang dipancarkan oleh sumber
titik dengan daya yang sama. Faktor keterarahan ini dapat dinyatakan sebagai berikut :

Dengan,
Ir : Intensitas bunyi pada jarak r dari sumber bunyi yang diamati.
Ist : Intensitas bunyi yang dipancarkan oleh sumber titik.

Intensitas I di sebuah titik yang berjarak r dari pusat sumber bunyi dalam ruang bebas
ditentukan oleh harga kuadrat tekanan bunyi dan dapat dinyatakan sebagai


Dengan
I
r
: Intensitas bunyi pada jarak r dari sumber bunyi
P
r
: Tekanan bunyi pada jarak r dari sumber bunyi

: Rapat jenis medium


c : Kecepatan rambat bunyi
Pref : 2 x 10
5
Pa
Karena data yang tertera pada SLM masih dalam bentuk SPL, perlu kita ubah menjadi
tekanan bunyi
SPL =20 log P
r
/Pref
Dengan
SPL : Tingkat Tekanan bunyi pada jarak r dari sumber bunyi (dB)
Banyak sumber bunyi, seperti misalnya pengeras suara (loudspeaker) yang tekanannya tidak
tergantung pada sudut , sehingga dapat digunakan persamaan :

Dengan
Pac : Tekanan bunyi yang diukur pada jarak r, sudut q =0 dan sudut f =0 sebagai
acuan.
P(q,f) : Tekanan bunyi yang diukur pada jarak, sudut q =0 dan sudut f =0
Pada pengukuran yang dilakukan, pengambilan titik ukur tidak kontinu (diskrit), sehingga
faktor keterarahan didapat dengan cara menjumlahkan (secara biasa) tekanan bunyi di titik
titik dengan sudut n q pada bidang horisontal yang mengelilingi sumber. Oleh karena itu
persamaan diatas menjadi :

Persamaan diatas berlaku untuk sumber bunyi yang mempunyai sifat tidak simetris terhadap
sumbu horisontal. Faktor keterarahannya menjadi :


Di bawah ini merupakan plot dari pola keterarahan setelah ditemukannya nilai Q :

Gambar 5. Plot pola keterarahan berdasarkan nilai Q yang didapat

D. METODOLOGI PERCOBAAN

I. ALAT DAN BAHAN
Pada praktikum kali ini diperlukan peralatan antara lain :
a. Laptop
b. Meteran
c. Speaker aktif
d. Barrier
e. Software Real Time Analyzer
f. Sound level meter 2 buah
g. Busur



II. LANGKAH - LANGKAH PERCOBAAN
Terdapat dua percobaan diantaranya :
a. Noise Barrier
1. Tentukan posisi sumber suara dan penerima, kemudian ukur jaraknya (jarak
sumber dan penerima tidak boleh lebih dari panjang barrier).
2. Buka aplikasi Real Time Analyzer, ketinggian sumber dan penerima harus sama.
3. Bangkitkan sinyal suara dengan frekuensi 130 Hz dan ukur SPL di posisi
penerima sebanyak 5 kali
4. Ubah frekuensi sumber bunyi menjadi 250Hz, 500Hz, 1000Hz, dan 2000Hz lalu
ukur SPL di posisi penerima sebnyak 5 kali pada setiap frekuensi.
5. Letakan barrier di antara sumber dan pendengar, lalu ukur jarak dari sumber ke
barrier dan barrier ke penerima
6. Ulangi langkah 3 dan 4

b. Keterarahan Bunyi
1. Mencari medan bebas untuk pengukuran
2. Membuat skema pengukuran seperti gambar 5.
3. Menempatkan speaker di tengah tengah area pengukuran.
4. Bangkitkan sinyal dengan software yoshimasa pada frekuensi 1000 Hz
5. Mencatat tingkat tekanan bunyi pada titik titik di sekeliling sumber bunyi pada
jarak 3 m dari sumber bunyi. Dipilih titik - titik berjarak sama setiap selisih sudut
10.
6. Lakukan langkah-langkah diatas untuk frekuensi suara yang berbeda (4000Hz)

Gambar 6. Titik Pengukuran pada J arak yang Sama dan Sudut Berbeda


Gambar 7. Untuk ploting hasil pengukuran. Lingkaran paling dalam merupakan nilai TTB
yang terbesar, lingkaran terluar nilai TTB yang terkecil. Garis-garis tengah garis yang
menunjukkan sudut.

III. TUGAS LAPRES
a. Noise Barrier
1. Cari nilai IL dan Fresnel Number !
2. Bandingkan besar atenuasi bunyi yang di dapat dari pengukuran (IL) dengan
atenuasi yang di dapat dengan menggunakan grafik maekawa !
3. Analisa data yang di dapat !

b. Keterarahan Bunyi
1. Plotkan data hasil pengukuran pada gambar 2, kemudian buatlah pola
keterarahan dengan cara menghubungkan masing-masing titik hasil plot
tersebut !
2. Carilah nilai Q dari speaker tersebut !
3. Apa yang terjadi jika frekuensi suara yang dibangkitkan berbeda?
4. Simpulkan hasil percobaan saudara (membandingkan nilai Q yang didapat saat
praktikum dengan teori) !