Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

Infeksi pada hidung dapat mengenai hidung luar yaitu bagian kulit hidung, dan
rongga dalam hidung, yaitu bagian mukosanya. Infeksi pada hidung luar bisa berbentuk
selulitis dan vestibulitis, sedangkan rinitis adalah terjadinya proses inflamasi mukosa
hidung yang dapat disebabkan oleh infeksi, alergi atau iritasi.
1,2,3
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, infeksi dapat berlangsung akut maupun
kronis, dengan batasan waktu kurang atau lebih dari 12 minggu. Mikroorganisme
penyebab infeksi terdiri dari virus, bakteri non spesifik, bakteri spesifik dan jamur.
Infeksi hidung dapat disebabkan oleh suatu mikroorganisme, atau beberapa
mikroorganisme dan mengakibatkan infeksi primer, sekunder atau infeksi multipel.
1,2,3

Rinitis spesifik yang akan dibicarakan antara lain : 1) Rinitis atrofi, 2) Rinitis
hipertrofi 3) Rinitis simpleks 4) Rinitis jamur, 5) Rinitis tuberkulosa, 6) Rinitis sifilis, 7)
Rinitis difteri 8) Rinoskleroma 9) Myiasis Hidung 10) Sinusitis

2

BAB II

A. ANATOMI HIDUNG
Hidung terdiri dari:
I. Hidung Luar
II. Hidung Dalam

Gambar. 1. Anatomi Hidung
Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah yaitu:
1,2,3,4

1. Pangkal Hidung (Bridge), dibentuk oleh os nasal kiri dan kanan
2. Dorsum nasi (batang hidung)
3. Puncak hidung
4. Ala nasi, bagian hidung yang dapat digerakkan
5. Kolumela; pembatas lubang hidung kanan dan kiri
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan dan
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang penyusun hidung luar terdiri dari:
1,2,3,4

1. Os nasalis (tulang hidung)
2. Prosesus frontalis os maxilla
3

3. Prosesus nasalis os frontal

Kerangka tulang rawan penyusun hidung luar terdiri dari :
1,2,3,4

1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor)
3. Beberapa pasang kartilago alar minor
4. Tepi anterior kartilago septum
Lubang hidung dan puncak hidung dibentuk oleh kartilago ala mayor, yang
berbentuk tipis dan fleksibel. Sedangkan kolumela yang memisahkan kedua lubang
hidung dibentuk oleh tepi bawah kartilago septum.
1,2,3,4

Hidung luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas, struktur hidung
luar dibedakan atas tiga bagian yaitu :
1,2,3,4

1. Yang paling atas, kubah tulang yang tidak dapat digerakkan. Belahan bawah
aperture piriformis kerangka tulang saja, memisahkan hidung luar dengan hidung
dalam. Disebelah superior, struktur tulang hidung luar berupa prosesus maxilla
yang berjalan keatas dan kedua tulang hidung semuanya disokong oleh prosesus
nasalis os frontalis dan suatu bagian lamina perpendikularis os etmoidalis. Spina
nasalis anterior merupakan prosesus maksilaris medial.
1,2,3,4

2. Dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan, dibentuk
oleh kartilago lateralis superior yang saling berfusi digaris tengah dan tepi atas
kartilago septum kuadrangularis.
1,2,3,4

3. Yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan dan
dipertahankan bentuknya oleh kartilago lateralis inferior. Lobulus menutup
vestibulum nasi dan dibatasi sebelah medial oleh kolumela. Sebelah lateral oleh
ala nasi dan anterosuperior oleh ujung hidung. Mobilitas lobulus hidung penting
untuk ekspresi wajah, gerakan mengendus dan besin. Otot ekspresi wajah yang
terletak subkutan diatas tulang hidung, pipi anterior dan bibir atas menjamin
mobilitas lobulus.
1,2,3,4

Jaringan ikat subkutan dan kulit juga ikut menyokong hidung luar. Jaringan lunak
diantara hidung luar dan dalam dibatasi disebelah inferior oleh kriptapiriformis dengan
4

kulit penutupnya, dimedial oleh septum nasi dan tepi bawah kartilago lateralis superior
sebagai batas superior dan lateral.
1,2,3,4


1. II. Hidung Dalam / Rongga Hidung / Cavum Nasi
Cavum nasi ( Rongga hidung ) adalah suatu rongga berbentuk terowongan tempat
lewatnya udara pernapasan, yang dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya
menjadi cavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk cavum nasi bagian depan
disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior ( koana ) yang
menghubungkan cavum nasi dengan nasofaring.
1,2,3,4

Batas-batas cavum nasi :
1,2,3,4

- Anterior : Nares anterior
- Posterior : Nares posterior (koana)
- Lateral : Konka-konka
- Superior : Lamina cribifom
- Inferior : Os maxilla dan Os palatum
Bagian bagian yang terdapat dalam cavum nasi :
1,2,3,4

1. Vestibulum
o Paling anterior, sejajar dengan ala nasi.
o Bagian yang masih dilapisi kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan
rambut-rambut panjang (vibrise)
2. Septum
o Merupakan dinding medial hidung, bagi cavum nasi sama besar, lurus mulai dan
anterior sampai posterior (koana).
o Dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, yaitu:
Bagian tulang :
1,2,3,4

- Lamina perpendikularis os etmoideus.
- Os Vomer.
- Krista nasalis os maxilla.
- Krista nasalis os palatina.
Bagian tulang rawan :
- Kartilago septum (lamina kuadrangularis).
5

- Kolumela.
- Dilapisi perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian
tulang , sedang bagian luarnya lagi dilapisi olaeh mukosa hidung.
3. Konka
o Terletak dilateral rongga hidung kanan dan kiri.
o Terdiri dari empat konka, dari atas ke bawah :
1. Konka suprema; biasanya rudimeter.
2. Konka superior; lebih kecil dari konka media.
3. Konka media; lebih kecil.
4. Konka inferior; terbesar dan letak paling bawah.
Merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maxilla dan labirin etmoid
sedangkan konka suprema, superior, dan media merupakan bagian dari labirin etmoid.
4. Meatus meatus
1,2,3,4

- Terletak diantara konka-konka dan dinding lateral hidung.
- Merupakan tempat bermuara dari sinus paranasal.
- Berdasarkan letaknya dibagi 3, yaitu :
1. Meatus inferior
Terletak antara konka inferior dengan dasar hidung dan dindinglateral rongga hidung,
tempat bermuara duktus nasoakrimalis.
2. Meatus medius
Celah yang terletak konka media dengan dinding lateral ronggahidung. Terdapat bula
etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris, dan infundibulum etmoid. Hiatus
semilunaris merupakan celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal,
maxilla, dan etmoid anterior.
3. Meatus superior
Terletak antara konka superior dan konka media. Disini terdapat muara sinus etmoid
posterior dan sinus sphenoid. Kerangka tulang tampaknya menentukan diameter yang
pasti dari rongga udara, struktur jaringan lunak yang menutupi hidung dalam cenderung
bervariasi tebalnya juga mengubah resistensi. Akibatnya tekanan dan volume aliran udara
inspirasi dan ekspirasi.
1,2,3,4


6

Diameter yang berbeda-beda disebabkan oleh kongesti dan dekongesti mukosa.,
perubahan badan vascular yang dapat mengembang pada konka dan septum atas. Ujung-
ujung saraf olfaktorius menempati daerah kecil pada bagian medial dan lateral dinding
hidung dalam dan ke atas hingga kubah hidung. Deformitas struktur demikian pula
penebalan atau oedem mukosa berlebihan dapat mencegah aliran udara untuk mencapai
daerah olfaktorius dan dengan demikian dapat sangat mengganggu penghidu.
1,2,3,4

Konka umumnya dapat mengkompensasi kelainan septum (bila tidak terlalu
berat), dengan memperbesar ukurannya pada sisi yang konkaf dan mengecil pada sisi
lainnya sedemikian rupa agar dapat mempertahankan lebar rongga udara yang optimum.
Jadi meskipun septum nasi bengkok, aliran udara masih akan ada dan masih normal.
Daerah jaringan erektil pada kedua sisi septum berfungsi mengatur ketebalan dalam
berbagai kondisi atmosfer yang berbeda.
1,2,3,4


B. Penyakit Penyakit Infeksi Pada Hidung

1. SELULITIS
Etiologi
Penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus atau oleh
keduanya disebut dengan pioderma. Penyebab utamanya ialah Staphylococcus Aureus,
Streptococcus B hemolyticus, sedangkan Staphylococcus epidermidis merupakan
penghuni normal di kulit dan jarang menyerang infeksi. Faktor predisposisi adalah
higiene yang kurang dan menurunnya daya tahan tubuh.
1,3

Selulitis seringkali mengenai puncak hidung dan batang hidung, dapat terjadi
sebagai akibat perluasan furunkel pada vestibulum. Pada pemeriksaan didapatkan tampak
hidung bengkak, berwarna kemerahan dan dirasakan sangat nyeri.
1,3

Terapinya adalah dengan pemberian obat antibiotika secara sistemik dalam dosis
tinggi.
1
7


Gambar.2. Selulitis

2. VESTIBULITIS
Vestibulitis adalah suatu peradangan atau infeksi pada kulit vestibulum.
Biasanya terjadi karena iritasi dari sekret dari rongga hidung (rinore) akibat inflamasi
mukosa yang menyebabkan hipersekresi sel goblet dan kelenjar seromusinosa. Bisa
juga akibat trauma karena sering dikorek-korek.
1,3

Vestibulitis dapat berupa infeksi pada pangkal akar rambut (folikulitis) atau
keropeng di sekitar lubang hidung. Infeksi yang lebih berat bisa menyebabkan
terjadinya bisul atau furunkel. Infeksi juga bisa menyebar ke lapisan jaringan di
bawah kulit (selulitis), bahkan adakalanya bisa sampai mengenai pembuluh darah
otak dan menyebabkan keadaan yang mengancam nyawa, karena bisa terjadi
sumbatan pada pembuluh darah otak (thrombosis sinus kavernosus) dan penyebaran
infeksi ke otak.
1,3

Gejala gejala yang dapat ditemukan antara lain ditemukan antara lain adanya
rasa nyeri, kemerahan, atau benjolan pada lubang hidung bagian depan. Jika infeksi
menyebar, maka kulit bisa menjadi sangat merah, membengkak, dan panas. Infeksi
yang mengenai sinus kavernosus bisa menyebabkan pembengkakan atau penonjolan
mata, penglihatan ganda, atau penurunan penglihatan.
1,3

Menjaga higiene dan pemberian antibiotika dosis tinggi harus dilakukan.
1,3

8


Gambar.3. Vestibulitis

3. RINITIS SIMPLEKS
Penyakit ini merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan pada manusia.
1,3

Etiologi
Penyebabnya ialah beberapa jenis virus dan yang paling penting ialah Rhinovirus.
Virus-virus lainnya adalah Myxovirus, virus Coxsackle dan virus ECHO.
1,3

Penyakit ini sangat menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya
kekebalan atau menurunnya daya tahan tubuh (kedinginan, kelelahan, adanya penyakit
menahun dan lain-lain)
1,3

Gejala
Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam, didapatkan rasa panas,
kering dan gatal didalam hidung. Kemudian akan timbul bersin berulang-ulang, hidung
tersumbat dan ingus encer, yang biasanya disertai dengan demam dan nyeri kepala.
Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak.
1,3

9

Selanjutnya akan terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, sehingga sekret menjadi
kental dansumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejala
kemudian akan berkurang dan penderita akan sembuh sesudah 5 10 hari.
1,3
Komplikasi yang mungkin ditemukan adalah sinusitis, otitis, media, faringtis,
bronkitis dan pneumonia.
1,3

Terapi
Tidak ada terapi yang spesifik untuk rinitis simpleks. Di samping istirahat
diberikan obat-obatan simtomatis, seperti analgetik, antipretik dan obat dekongestan.
Antibiotik hanya diberikan bila terdapat komplikasi.
1,3


4. Rinitis Hipertrofi
Rinitis hipertrofi dapat timbul akibat infeksi berulang dalam hidung dan sinus,
atau sebagai lanjutan dari rinitis alergi dan vasomotor.
1,3

Gejala
Gejala utama adalah sumbatan hidung. Sekret biasanya banyak, mukopurulen dan
sering ada keluhan nyeri kepala. Pada pemeriksaan akan ditemukan konka yang
hipertrofi, terutama konka inferior. Permukaannya berbenjol-benjol ditutupi oleh mukosa
yang juga hipertrofi. Akibatnya saluran udara sangat sempit. Sekret mukopurulen yang
banyak biasanya ditemukan di antara konka inferior dan septum, dan di dasar rongga
hidung.
1,3

Terapi
Harus dicari faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya rinitis hipertrofi dan
kemudian memberikan pengobatan yang sesuai. Untuk mengurangi sumbatan hidung
akibat konka hipertrofi dapat dilakukan kauterisasi konka dengan zat kimia (nitras argenti
atau asam triklor asetat) atau elektrokauter. Bila tak menolong, dilakukan luksasi konka
atau bila perlu dilakukan konkotomi.
1,3

5. Rinitis Atrofi
Rinitis atrofi merupakan infeksi hidung kronik, yang ditandai oleh adanya
atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka. Secara klinis mukosa hidung
10

menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering sehingga terbentuk krusta yang
berbau busuk.
1,3

Wanita lebih sering terkena, terutama usia dewasa muda. Sering ditemukan
pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah dan sanitasi lingkungan
yang buruk.
1,3

Pada pemeriksaan histopatologi tampak metaplasia epitl torak bersilia menjadi
epitel kubik atau epitel gepeng berlapis, silia menghilang, lapisan submukosa menjadi
lebih tipis, kelenjar-kelenjar berdegenarasi atau atrofi.
1,3

Etiologi
Banyak teori mengenai etiologi dan patogenesis rinitis atrofi dikemukakan,
antara lain : 1) Infeksi oleh kuman spesifik. Yang tersering ditemukan adalah spesies
Klebsiella, terutama Klebsiella Ozaena. Kuman lainnya yang juga sering ditemukan
adalah Stafilokokus, Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa. 2) Defisiensi FE, 3)
Defisiensi vitamin A, 4) Sinusitis Kronik, 5) Kelainan hormonal 6) Penyakit
Kolagen, yang termasuk penyakit autoimun. Mungkin penyakit ini terjadi karena
adanya kombinasi beberapa faktor penyebab tersebut diatas.
1,3

Gejala dan Tanda Klinis
Keluhan biasanya berupa napas berbau, ada ingus kental yang berwarna hijau,
ada kerak (krusta) hijau, ada gangguan penghidu, sakit kepala dan hidung merasa
tersumbat.
1,3

Pada pemeriksaan hidung didapatkan rongga hidung sangat lapang, konka
inferior dan media menjadi hipotrofi atau atrofi, ada sekret purulen dan krusta yang
berwarna hjau.
1,3

Pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis adalah
pemeriksaan histopatologik yang berasal dari biopsi konka media, pemeriksaan
mikrobiologi dan uji resistensi kuman dan tomografi komputer (CT scan) sinus
paranasal.
1,3

Terapi
Oleh karena etiologinya multifaktorial, maka pengobatannya belum ada yang
baku. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi etiologi dan menghilangkan gejala.
11

Pengobatan yang diberikan dapat bersifat konservatif, atau kalau tidak dapat
menolong dilakukan pembedahan.
1,3

Pengobatan konservatif. Diberikan antibiotika spektrum luas atau sesuai
dengan uji resistensi kuman, dengan dosis yang adekuat. Lama pengobatan bervariasi
tergantung dari hilangnya tanda klinis berupa sekret purulen kehijauan.
1,3

Untuk membantu menghilangkan bau busuk akibat hasil proses infeksi serta
sekret purulen dan krusta, dapat dipakai obat cuci hidung. Larutan yang dapat
digunakan adalah larutan garam hipertonik.
1,3

Pengobatan Operatif. Jika dengan pengobatan konservatif tidak ada perbaikan,
maka dilakukan tindakan operasi. Tekhnik operasi antara lain operasi penutupan
lubang hidung atau penyempitan lubang hidung dengan implantasi atau dengan jabir
osteoperioseal. Tindakan ini diharapkan akan mengurangi turbulensi udara
pengeringan sekret, inflamasi mukosa berkurang, sehingga mukosa akan kembali
normal. Penutupan rongga hidung dapat dilakukan pada nares anterior atau pada
koana selama 2 tahun. Untuk menutup koana dipakai flap palatum.
1,3

Akhir akhir ini bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF) sering dilakukan
pada kasus rinitis atrofi. Dengan melakukan pengangkatan sekat sekat tulang yang
mengalami osteomielitis, diharapkan infeksi tereradikasi, fungsi ventilasi dan drenase
sinus kembali normal, sehingga terjadi regenerasi mukosa.
1,3


6. Rinitis Difteri
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae, dapat terjadi
primer pada hidung atau sekunder dari tenggorok, dapat ditemukan dalam keadaan
akut maupun kronik. Dugaan adanya rintis difteri harus dipikirkan pada penderita
dengan riwayat imunisasi yang tidak lengkap. Penyakit ini emakin jarang ditemukan,
karena cakupan program imunisasi yang semakin meningkat.
1,3

Gejala rinitis difteri akut ialah demam, toksemia, terdapat limfadenitis dan
mungkin ada paralisis otot pernapasan. Pada hidung ada ingus yang bercampur darah,
mungkin ditemukan pseudomembran putih yang mudah berdarah, dan ada krusta
coklat di nares anterior dan rongga hidung. Jika perjalanan penyakitnya menjadi
kronik, gejala biasanya lebih ringan dan mungkin dapat sembuh sendiri, tetapi dalam
12

keadaan kronik, masih dapat menulari.
1,3
Diagnosis pasti ditegakkan dengan
pemeriksaan kuman dari sekret hidung.
1,3

Sebagai terapi diberikan ADS, penisilin lokal dan intramuskuler. Pasien harus
diisolasi sampai hasil pemeriksaan kuman negatif.
1,3


7. Rinitis Jamur
Dapat terjadi bersama dengan sinusitis dan besifat invasif atau non-invasif.
Rinits jamur nin invasif dapat menyerupai rinolit dengan inflamasi mukosa yang lebih
berat. Rinolit ini sebenarnya adalah gumpalan jamur (fungus ball). Biasanya tidak
terjadi destruksi kartilago dan tulang.
1

Tipe invasif ditandai dengan ditemukannya hifa jamur pada lamina propria.
Jika terjadi invasi jamur pada submukosa dapat mengakibatkan perforasi septum atau
hidung pelana. Jamur sebagai penyebab dapat dilihat dengan pemeriksaan
histopatologi, pemeriksaan sdiaan langsung atau kultur jamur, misalnya Aspergillus,
Candiida, Hystoplasma, Fussarium dan Mucor.
1,3

Pada pemeriksaan hidung terlihat adanya sekret mukopurulen, mungkin
terlihat ulkus atau perforasi pada septum disertai dengan jaringan nekrotik berwarna
kehitaman (black eschar).
1,3

Untuk rinitis jamur non-invasif, terapinya dengan mengangkat seluruh
gumpalan jamur.pemberian obat jamur sistemik maupun topikal tidak diperlukan.
Terapi untuk rinitis jamur invasif adalah mengeradikasi agen penyebabnya dengan
pemberian anti jamur oral dan topikal. Cuci hidung dan pembersihan hidung secara
rutin dilakukan untuk mengangkat krusta. Bagian yang terinfeksi dapat pula diolesi
dengan gentian violet. Untuk infeksi jamur invaif, kadang kadang diperlukan
debridement seluruh jaringan yang nekrotik dan tidak sehat. Kalau jaringan nekrotik
sangat luas, dapat terajdi destruksi yang memerlukan tindakan rekonstruksi.
1,3

8. Rinitis Tuberkulosa
Rinitis tuberkulosa merupakan kejadian infeksi tuberkulosa ekstra pulmoner.
Seiring dengan peningkatan kasus tuberkulosis (new emerging disease) yang
berhubungan dengan kasus HIV-AIDS, penyakit ini harus diwaspadai keberadaannya.
13

Tuberkulosis pada hidung berbentuk noduler atau ulkus, terutama mengenai tulang
rawan septum dan dapat mengakibatkan perforasi.
1,3

Pada pemeriksaan klinis terdapat sekret mukopurulen dan krusta, sehingga
menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya
basil tahan asam (BTA) pada sekret hidung. Pada pemeriksaan histopatologi
ditemukan sel datia Langhans dan limfositosis.
1,3

Pengobatan diberikan antituberkulosis dan obat cuci hidung.
1,3

9. Rinitis sifilis
Penyakit ini sudah jarang ditemukan. Penyebab rinitis sifilis adalah kuman
Treponema pallidum. Pada rinitis sifilis yang primer dan sekunder gejalanya serupa
dengan rinitis akut lainnya, hanya mungkin dapat terlihat adanya bercak/bintik pada
mukosa. Pada rinitis sifilis tersier dapat ditemukan gumma atau ulkus, yang terutama
mengenai septum nasi dan mengakibatkan perforasi septum.
1,3

Pada pemeriksaan klinis didapatkan sekret mukopurulen yang berbau dan
krusta. Mungkin terlihat perforasi septum atau hidung pelana. Diagnosis pasti
ditegakkan dengan pemeriksaan mikrobiologik dan biopsi.
1,3

Sebagai pengobatan diberikan penisilin dan obat cuci hidung. Dan krusta
harus dibersihkan secara rutin.
1,3

10. Rinoskelroma
Penyakit infeksi granulomatosa kronik pada hidung yang disebabkan
Klebsiella rhinoscleromatis. Penyakit ini endemis di beberapa negara termasuk
indonesia yang kasusnya ditemukan di Indonesia Timur.
1,3

Perjalanan penyakitnya terjadi dalam 3 tahapan ;
1

1) Tahap kataral atau atrofi.
2) Tahap granulomatosa
3) Tahap sklerotik
Diagnosis rinoskelroma mudah ditegakkan di daerah endemis, tapi
ditempat non endemis perlu diagnosis banding dengan penyakit granulomatosa
lainnya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan
bakteriologik dan gambaran histopatologi yang sangat khas dengan adanya sel
sel Mikulicz.
1,3

14

Penatalaksanaannya mencakup terapi antibiotik jangka panjang serta
tindakan bedah untuk obstruksi pernapasan. Antibiotik direkomendasikan antara
lain tetrasiklin, kloramfenikol, trimetropim-sulfametoksazol, siprofloksasin,
klindamisin, sefalosporin. Pemberian antibiotik palingkurang selama 4 minggu,
ada yang sampai berbulan bulan.
1,3

Operasi diperlukan untuk mengangkat jaringan granulasi dan sikatriks.
Seringkali juga perlu dilakukan operasi plastik untuk memperbaiki jalan napas
atau deformitas.
1,3

Penyakit ini jarang bersifat fatal kecuali bila menyumbat saluran napas,
tetapi rekurensinya tinggi, terutama bila pengobatan tidak tuntas.
1,3

Gambar.4. Rinosklerorma

11. Myiasis Hidung (Larva di dalam hidung)
Merupakan masalah umum untuk daerah tropis, ialah adanya infestasi larva lalat
dalam rongga hidung. Lalat Chrysomia Bezziana dapat bertelur di organ atau jaringan
tubuh manusia, yang kemudian menetas menjadi larva (ulat=belatung). Sering terjadi
pada luka yang bernanah, luka terbuka, terutama jaringan nekrotik dan dapat mengenai
setiap lubang atau rongga, seperti mata, telinga, hidung, mulut, vagina dan anus. Faktor
predisposisinya rhinitis atrofi dan keganasan.
1,3

15

Perubahan patologis yang terjadi tergantung dari kebiasaan makan ulat tersebut,
ulat membuat lubang sehingga dapat masuk ke dalam jaringan. Gejala klinis yang
terlihat, hidung dan muka menjadi bengkak dan merah, yang dapat meluas ke dahi dan
bibir. Terjadi obstruksi hidung sehingga bernapas melalui mulut dan suara sengau. Dapat
menjadi epitaksis dan mungkin ada ulat yang keluar dari hidung.
1,3

Pada pemeriksaan rinoskopi terlihat banyak jaringan nekrotik di rongga hidung,
adanya ulserasi membrane mukosa dan perforasi septum. Sekret purulen berbau busuk.
Pada kasus yang lanjut menyebabkan sumbatan duktus nasolakrimalis dan perforasi
palatum. Ulat dapat merayap ke dalam sinus atau menembus ke intrakranial.
1,3

Pemeriksaan nasoendoskopi memperlihatkan keadaan rongga hidung lebih jelas
tetapi seringkali ulatnya tidak terlihat karena larva cenderung menghindari cahaya. Pada
pemeriksaan tomografi computer dapat terlihat bayangan ulat yang bersegmen segmen
di dalam sinus.
1,3

Penderita myiasis sebaiknya dirawat di rumah sakit. Diberikan antibiotika
spectrum luas atau sesuai kultur. Untuk pengobatan local pada hidung, dianjurkan
pemakaian kloroform dan minyak terpentin dengan perbandingan 1:4, diteteskan ke
dalam rongga hidung, dilanjutkan dengan pengangkatan ulat secara manual menggunakan
cunam.
1,3

Komplikasi dapat terjadi hidung pelana, perforasi septum, sinus paranasal, radang
orbita dan perluasan ke intracranial. Kematian dapat disebabkan oleh sepsis dan
meningitis.
1,3


Gambar.5. Myiasis Hidung
16


DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi E,A. Iskandar,N. Bashiruddin,J. Restuti R,D. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ketujuh. 2012. Hal 139-144
2. Adams Boeis Higler. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT, Edisi 6. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta 1997.
3. Broek PVB, Feenstra L. alih bahasa : Hartono Arif. Editor alih bahasa : Iskandar,
Nurbaiti. Ilmu Kesehatan Tenggorok, Hidung dan Telinga edisi 12. Penerbit Buku
Kedokteran : EGC. 2010. Hal : 96-112.
4. Boeis, Higler, Priest. Fundamental of Otolaryngology, A textbook of Ear, Nose, and
Throat Disease, fourth Edition.