Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Anastesi adalah usaha menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan
menggunakan obat Telah dilakukan sejak zaman dahulu termasuk pemberian
alcohol dan opodium secara oral. Tahun 1846, wiiliam morton, di bostom,
pertama kali menggunakan obat anestesi dietil eter untuk menghilangkan
nyeri operasi. Pada tahun yang sama, james simpsom, diskotlandia,
menggunakan kloroform yang 20 tahun kemudian diikuti dengan penggunaan
nitrogen oksida, yang diperkenalkan oleh Davy pada era tahun 1890 an.
Anestetik modern mulai dikenal pada era tahun 1930 an. Dengan pemberian
barbiturate thiopental secara intra vena. Beberapa puluh tahun yang lalu,
kurare pun pernah diperkenalkan sebagai anestesi umum untuk merelaksasi
otot skelet selama operasi berlangsung. Tahun 1956, hidrokarbon halogen
yang dikenal dengan nama halotan mulai dikenal sebagai obat anestetik
secara inhalasi dan menjadikannya sebagai standar pembanding untuk obat-
obat anestesi lainnya yang berkembang sesudah itu.
Stadium anestesi umum meliputi analgesia, amnesia, hilangnya
kesadaran, terhambatnya sensorik dan reflex otonom, dan relaksasi otot
rangka. Untuk menimbulkan efek ini, setiap obat anestesi mempunyai variasi
tersendiri bergantung pada jenis obat, dosis yang diberikan, dan keadaan
secara klinis. Anestetik yang ideal akan bekerja secara tepat dan baik serta
mengembalikan kesadaran dengan cepat segera sesudah pemberian
dihentikan. Selain itu, batas keamanan pemakaian harus cukup lebar dengan
efek samping yang sangat minimal. Tidak satu pun obat anestetik dapat
memberikan efek yang diinginkan tampa disertai efek samping, bila diberikan
secara tunggal. Oleh karena itu, pada anestetik modern selalu digunakan
anestetik dalam bentuk kombinasi untuk mengurangi efek samping yang tidak
diharapkan.



2

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mengenal anastesi umum.
2. Tujuan khusus
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari anastesi umum.
b. Agar mahasiswa dapat mengetahui tanda dan stadium anastesi
c. Agar mahasiswa mengetahui jenis anastesi umum menurut cara
pemberiannya
d. Agar mahasiswa mengetahui macam-macam obat anastesi menurut
bentuknya
e. Agar mahasiswa mengetahui tahapan pemberian anastesi





















3

BAB II
ANESTESI UMUM
A. pengertian anastesi umum
Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan
aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah
anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun
1846.
Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat irreversible. Anestesi umum yang sempurna
menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaxasi otot tanpa menimbulkan
resiko yang tidak diinginkan dari pasien.
keadaan anastetik adalah sekumpulan perubahan komponen perilaku
atau persepsi. Komponen keadaan anastetik meliputi amnesia, imobilitas,
dalam merespon stimulasi berbahaya, pengurangan respon autonom terhadap
stimulasi berbahaya, analgesia, dan ketidaksadaran. (Goodman & Gilman).
Anestesi umum atau pembiusan artinya hilang rasa sakit di sertai hilang
kesadaran. Ada juga mengatakan anestesi umum adalah keadaan tidak
terdapatnya sensasi yang berhubungan dengan hilangnya kesdaran yang
reversibel
Anestesi Umum adalah obat yang dapat menimbulkan anestesi yaitu
suatu keadaan depresi umum dari berbagai pusat di sistem saraf pusat yang
bersifat reversibel, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan
sehingga lebih mirip dengan keadaan pinsan. Anestesi digunakan pada
pembedahan dengan maksud mencapai keadaan pingsan, merintangi
rangsangan nyeri (analgesia), memblokir reaksi refleks terhadap manipulasi
pembedahan serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi). Anestesi umum
yang kini tersedia tidak dapat memenuhi tujuan ini secara keseluruhan, maka
pada anestesi untuk pembedahan umumnya digunakan kombinasi hipnotika,
analgetika, dan relaksasi otot.
4

B. Tanda dan stadium anestesi ( Antony J. Trevor, Ph. D., dan Ronald D.
Miller, M. D.)
Sejak obat anestesi umum di perkenalkan, telah diusahakan
mengkorelasikan efek dan tandanya untuk mengetahui dalamnya anestesi.
Gambaran tradisional tanda dan stadium anestesi (tanda guedel) berasal
terutama dari penilitian efek diatil eter, yang mempunyai mula kerja sentral
yang lambat karena kelarutannya yang tinggi didalam darah. Stadium dan
tanda ini mungkin tidak mudah terlihat pada pemakaian anestetik modern dan
anestetik intravena yang bekerja cepat. Karenanya, pemakaian anestetik
dipergunakan dalam bentuk kombinasi antara anestetik inhalasi dengan
anestetik intravena. Namun tanda-tanda anesthesia dietil eter masih
memberikan dasar untuk menilai efek anestetik untuk semua anestetik umum.
Banyak tanda-tanda anestetik ini menunjukkan pada efek obat anestetik
pernafasan, aktivitas refleks, dan tonus otot.
Secara tradisional, efek anestetik dapat dibagi 4 stadium peningkatan
dalamnya depresi susunan saraf pusat, yaitu :
1. I Stadium analgesi
Pada stadium awal ini, penderita mengalami analgesi tampa disertai
kehilangan kesadaran. Pada akhir stadium 1, baru didapatkan amnesia
dan analgesi
2. II Stadium terangsang
Pada stadium ini, penderita tampak delirium dan gelisah, tetapih
kehilangan kesadaran. Volume dan kecepatan pernafasan tidak teratur,
dapat terjadi mual. Inkontinensia urin dan defekasi sering terjadi. Karena
itu, harus diusahakan untuk membatasi lama dan berat stadium ini, yang
ditandai dengan kembalinya pernafasan secara teratur.
3. III Stadium operasi
Stadium ini ditandai dengan pernafasan yang teratur. Dan berlanjut
sampai berhentinya pernafasan secara total. Ada empat tujuan pada
stadium III digambarkan dengan perubahan pergerakkan mata, dan
ukuran pupil, yang dalam keadaan tertentu dapat merupakan tanda
peningktan dalamnya anestesi.
5

4. IV Stadium depresi medula oblongata
Bila pernafasan spontan berhenti, maka akan masuk kedalam stadium IV.
Pada stadium ini akan terjadi depresi berat pusat pernafasan dimedula
oblongata dan pusat vasomotor. Tampa bantuan respirator dan sirkulasi,
penderita akan cepat meninggal.

Pada praktek anestesi modern, perbedaan tanda pada masing-masing
stadium sering tidak jelas. Hal ini karena mula kerja obat anestetik modern
relatife lebih cepat dibandingkan dengan dietil eter disamping peratan
penunjang yang dapat mengontrol ventilasi paru secara mekanis cukup
tersedia. Selain itu, adanya obat yang diberikan sebelum dan selama operasi
dapat juga berpengaruh pada tanda-tanda anestesi. Atropin, digunakan untuk
mengurangi skresi, sekaligus mendilatasi pupil; obat-obatnya seperti
tubokurarin suksinilkolin yang dapat mempengaruhi tonus otot; serta obat
analgetik narkotik yang dapat menyebabkan efek depresan pada
pernafasan.tanda yang paling dapat diandalkan untuk mencapai stadium
operasi adalah hilangnya refleks kelopak mata dan adanya pernapasan yang
dalam dan teratur.
C. Jenis anestesi umum menurut cara pemberian.( Katzung, Bertram G)
Umumnya obat anestesi umum diberikan secara inhalasi atau suntikan
intravena.
1. Anestetik inhalasi
Nitrogen oksida yang stabil pada tekanan dan suhu kamar
merupakan salah satu anestetik gas yang banyak dipakai karena dapat
digunakan dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya. Halotan,
enfluran, isofluran, desfluran dan metoksifluran merupakan zat cair yang
mudah menguap. Sevofluran merupakan anestesi in halasi terbaru tetapih
belum diizinkan beredar di USA. Anestesi inhalasi konvensional seperti
eter, siklopropan, dan kloroform pemakaiannya sudah dibatasi karena eter
dan siklopropan mudah terbakar sedangkan kloroform toksik terhadap
hati.

6


2. Anestetik intravena
Beberapa obat anestetik diberikan secara intravena baik tersendiri
maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya untuk
mempercepat tercapainya stadium anestesi atau pun sebagai obat
penenang pada penderita gawat darurat yang mendapat pernafasan untuk
waktu yang lama, Yang termasuk :
a. Barbiturat (tiopental, metoheksital)
b. Benzodiazepine (midazolam, diazepam)
c. Opioid analgesik dan neuroleptik
d. Obat-obat lain (profopol, etomidat)
e. Ketamin, arilsikloheksilamin yang sering disebut disosiatif anestetik.
D. Macam-Macam Obat Anestesi Umum Menurut Bentuknya (Arif
Mansjoer dan Junaidi Iskandar)
Obat anestesi umum dibagi menurut bentuk fisiknya dibagi terdiri dari 3
golongan: Obat Anestetika gas,Obat Anestetika yang menguap, Obat
Anestetika yang diberikan secara intravena
1. Anestetik gas
Pada umumnya anestetik gas berpotensi rendah, sehingga hanya
digunakan untuk induksi dan operasi ringan. Anestetik gas tidak mudah
larut dalam darah sehingga tekanan parsial dalam darah cepat meningkat.
Batas keamanan antara efek anesthesia dan efek letal cukup lebar.
Contoh :
a. Nitrogen monoksida (N2O)
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa dan lebih berat daripada udara. N2O biasanya
tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan
penguapan pada suhu kamar 50 atmosfir. N2O mempunyai efek
analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen
efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar optimum untuk
mendapatkan efek analgesic maksimum 35% . gas ini sering
digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu
7

kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan
kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah
terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O digunakan secara
intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan
dan Pencabutan gigi. H2O digunakan secara umum untuk anestetik
umum, dalam kombinasi dengan zat lain.
b. Siklopropan
Siklopropan merupakan anestetik gas yang kuat, berbau spesifik, tidak
berwarna, lebih berat daripada udara dan disimpan dalam bentuk
cairan bertekanan tinggi. Gas ini mudah terbakar dan meledak karena
itu hanya digunakan dengan close method. Siklopropan relative tidak
larut dalam darah sehingga menginduksi dengan cepat (2-3 menit).
Stadium III tingkat 1 dapat dicapai dengan kadar 7-10% volume,
tingkat 2 dicapai dengan kadar 10-20% volume, tingkat 3 dapat
dicapai dengan kadar 20-35%, tingkat 4 dapat dicapai dengan kadar
35-50% volume. Sedangkan pemberian dengan 1% volume dapat
menimbulkan analgesia tanpa hilangnya kesadaran. Untuk mencegah
delirium yang kadang-kadang timbul, diberikan pentotal IV sebelum
inhalasi siklopropan. Siklopropan menyebabkan relaksasi otot cukup
baik dan sedikit sekali mengiritasi saluran nafas. Namun depresi
pernafasan ringan dapat terjadi pada anesthesia dengan siklopropan.
Obat ini tidak menghambat kontraktilitas otot jantung, curah jantung
dan tekanan arteri tetap atau sedikit meningkat sehingga siklopropan
merupakan anestetik terpilih pada penderita syok. Siklopropan dapat
menimbulkan aritmia jantung yaitu fibrilasi atrium, bradikardi sinus,
ekstrasistole atrium, ritme atrioventrikular, ekstrasistole ventrikel dan
ritme bigemini. Aliran darah kulit ditinggikan oleh siklopropan
sehingga mudah terjadi perdarahan waktu operasi. Siklopropan tidak
menimbulkan hambatan terhadap sambungan saraf otot. Setelah waktu
pemulihan sering timbul mual, muntah dan delirium. Absorpsi dan
ekskresi siklopropan melalui paru. Hanya 0,5% dimetabolisme dalam
badan dan diekskresi dalam bentuk CO2 dan air. Siklopapan dapat
8

digunakan pada setiap macam operasi. Untuk mendapatkan efek
analgesic digunakan 1,2% siklopropan dengan oksigen. Untuk
mencapi induksi siklopropan digunakan 25-50% dengan oksigen,
sedangkan untuk dosis penunjang digunakan 10-20% oksigen.
2. Anestetik yang menguap
Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai 3 sifat
dasar yang sama yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sfat
anestetik kuat pada kadar rendah dan relative mudah larut dalam lemak,
darah dan jaringan. Kelarutan yang baik dalam darah dan jaringan dapat
memperlambat terjadinya keseimbangan dan terlawatinya induksi, untuk
mengatasi hal ini diberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan.
Bila stadium yang diinginkan sudah tercapai kadar disesuaikan untuk
mempertahankan stadium tersebut. Untuk mempercepat induksi dapat
diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian baru diberikan
anestetik yang menguap.
Umumnya anestetik yang menguap dibagi menjadi dua golongan
yaitu golongan eter misalnya eter (dietileter) dan golongan hidrokarbon
halogen misalnya halotan, metoksifluran, etil klorida, trikloretilen dan
fluroksen. Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap,
berbau mudah terbakar, mengiritasi saluran nafas dan mudah meledak.
Eter merupakan anestetik yang sangat kuat sehingga penderita dapat
memasuki setiap tingkat anesthesia. Sifat analgesic kuat sekali, dengan
kadar dalam darah arteri 10-15 mg % sudah terjadi analgesia tetapi
penderita masih sadar.
Eter pada kadar tinggi dan sedang menimbulkan relaksasi otot
karena efek sentral dan hambatan neuromuscular yang berbeda dengan
hambatan oleh kurare, sebab tidak dapat dilawan oleh neostigmin. Zat ini
meningkatkan hambatan neuromuscular oleh antibiotic seperti neomisin,
streptomisin, polimiksin dan kanamisin. Eter dapt merangsang sekresi
kelenjar bronkus. Pada induksi dan waktu pemulihan eter menimbulkan
salvias, tetapi pada stadium yang lebih dalam, salvias akan dihambat dan
terjadi depresi nafas.
9

Eter diabsorpsi dan disekresi melalui paru dan sebagian kecil
diekskresi juga melalui urin, air susu, keringat dan difusi melalui kulit
utuh.
a. Efluran merupakan anestetik eter berhalogen yang tidak mudah
terbakar dan cepat melewati stadium induksi tanpa atau sedikit
menyebabkan eksitasi. Kecepatan induksi terhambat bila penderita
menahan nafas atau batuk. Sekresi kelenjar saliva dan bronkus hanya
sedikit meningkat sehingga tidak perlu menggunakan medikasi
preanestetik yaitu atropin. Kadar yang tinggi menyebabkan depresi
kardiovaskuler dan perangsangan SSP, untuk menghindari hal ini
enfluran diberikan dengan kadar kadar rendah bersama N2O. Efluran
kadar rendah tidak banyak mempengaruhi system kardiovaskuler,
meskipun dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan
frekuensi nadi. Efluran menyebabkan sensitisasi jantung terhadap
ketekolamin yang lebih lemah dibandingkan dengan halotan tetapi
efluran membahayakan penderita penyakit ginjal. Pada anestesi yang
dalam dan hipokapnia, efluran dapat menyebabkan kejang tonik-
klonik pada otot muka dan ekstremitas. Hal ini dapat dihentikan tanpa
gejala sisa dengan mengganti obat anestesi, melakukan anestesi yang
tidak terlalu dalam dan menurunkan ventilasi semenit untuk
mengurangi hipokapnia. Efluran jangan digunakan pada anak dengan
demam berumur kurang dari 3 tahun.
b. Isofluran merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar.
Secara kimiawi mirip dengan efluran, tetapi secara farmakologi
berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga membatasi kadar obat dalam
udara yang dihisap oleh penderita karena penderita menahan nafas dan
batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat
dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O
dan O2. isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi.
Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak
menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. Peningkatan
frekuensi nadi dan takikardi adihilangkan dengan pemberian
10

propanolol 0,2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau
0,1 mg fentanil), sesudah hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih
dulu. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis.
Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan
SSP seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran
darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar
Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.
c. Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah
terbakar dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan
oksigen. Halotan bereaksi dengan perak, tembaga, baja, magnesium,
aluminium, brom, karet dan plastic. Karet larut dalam halotan,
sedangkan nikel, titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian
obat ini harus dengan alat khusus yang disebut fluotec. Efek analgesic
halotanlemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. Dengan
kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga
mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Kadar minimal
untuk anestesi adalah 0,76% volume.
d. Metoksifluran merupakan cairan jernih, tidak berwarna, bau manis
seperti buah, tidak mudah meledak, tidak mudah terbakar di udara
atau dalam oksigen. Pada kadar anestetik, metoksifluran mudah larut
dalam darah. Anestetik yang kuat dengan kadar minimal 0,16 volume
% sudah dapat menyebabkan anestesi dalam tanpa hipoksia.
Metoksifluran tidak menyebabkan iritasi dan stimulasi kelenjar
bronkus, tidak menyebabkan spasme laring dan bronkus sehingga
dapat digunakan pada penderita asma. Metoksifluran menyebabkan
sensitisasi jantung terhadap ketokolamin tetapi tidak sekuat
kloroform, siklopropan, halotan atau trikloretilan. Metoksifluran
bersifat hepatoksik sehingga sebaiknya tidak diberikan pada penderita
kelainan hati.
e. Etilklorida merupakan cairan tak berwarna, sangat mudah menguap,
mudah terbakar dan mempunyai titik didih 12-13C. Bila
disemprotkan pada kulit akan segera menguap dan menimbulkan
11

pembekuan sehingga rasa sakit hilang. Anesthesia dengan etilklorida
cepat terjadi tetapi cepat pula hilangnya. Induksi dicapai dalam 0,5-2
menit dengan waktu pemulihan 2-3 menit sesudah pemberian
anesthesia dihentikan. Karena itu etilkloretilen sudah tidak dianjurkan
lagi untuk anestetik umum, tetapi hanya digunakan untuk induksi
dengan memberikan 20-30 tetes pada masker selama 30 detik.
Etilkloroda digunakan juga sebagai anestetik local dengan cara
menyemprotkannya pada kulit sampai beku. Kerugiannya, kulit yang
beku sukar dipotong dan mudah kena infeksi Karena penurunan
resistensi sel dan melambatnya penyembuhan.
f. Trikloretilen merupakan cairan jernih tidak berwarna, mudah
menguap, berbau khas seperti kloroform, tidak mudah terbakardan
tidak mudah meledak. Induksi dan waktu pemulihan terjadi lambat
karena trikloretilen sangat larut dalam darah. Efek analgesic
trikloretilen cukup kuat tetapi relaksasi otot rangka yang
ditimbulkannya kurang baik , maka sering digunakan pada operasi
ringan dalam kombinasi dengan N2O. untuk anestesi umum, kadar
trikloretilen tidak boleh lebih dari 1% dalam campuran 2:1 dengan
N2O dan oksigen. Trikloretilen menimbulkan sensitisasi jantung
terhadap katekolamin dan sensitisasi pernafasan pada stretch receptor.
Sifat lain trikloretilen tidak mengiritasi saluran nafas.
3. Anestetik yang diberikan secara intravena (anestetik perenteral)
Pemakaian obat anestetik intravena, dilakukan untuk : induksi
anesthesia, induksi dan pemeliharaan anesthesia bedah singkat,
suplementasi hypnosis pada anesthesia atau analgesia local, dan sedasi
pada beberapa tindakan medic. Anestesi intravena ideal membutuhkan
criteria yang sulit dicapai oleh hanya satu macam obat yaitu cepat
menghasilkan efek hypnosis, mempunyai efek analgesia, disertai oleh
amnesia pascaanestesia, dampak yang tidak baik mudah dihilangkan oleh
obat antagonisnya, cepat dieliminasi dari tubuh, tidak atau sedikit
mendepresi fungsi restirasi dan kardiovasculer, pengaruh farmakokinetik
tidak tergantung pada disfungsi organ. Untuk mencapai tujuan di atas, kita
12

dapat menggunakan kombinasi beberapa obat atau cara anestesi lain.
Kebanyakan obat anestetik intravena dipergunakan untuk induksi.
Kombinasi beberapa obat mungkin akan saling berpotensi atau efek salah
satu obat dapat menutupi pengaruh obat yang lain.
a. Barbiturate menghilangkan kesadaran dengan blockade system
sirkulasi (perangsangan) di formasio retikularis. Pada pemberian
barbiturate dosis kecil terjadi penghambatan system penghambat
ekstra lemnikus, tetapi bila dosis ditingkatkan system perangsang juga
dihambat sehingga respons korteksmenurun. Pada penyuntikan
thiopental. Barbiturate menghambat pusat pernafasan di medulla
oblongata. Tidal volume menurun dan kecepatan nafas meninggi
dihambat oleh barbiturattetapi tonus vascular meninggi dan kebutuhan
oksigen badan berkurang, curah jantung sedikit menurun. Barbiturate
tidak menimbulkan sensitisasi jantung terhadap
katekolamin.Barbiturate yang digunakan untuk anestesi adalah
b. Natrium thiopental dosis yang dibutuhkan untuk induksi dan
mempertahankan anestesi tergantung dari berat badan, keadaan fisik
dan penyakit yang diderita. Untuk induksi pada orang dewasa
diberikan 2-4 ml larutan 2,5% secara intermitten setiap 30-60 detik
sampai tercapai efek yang diinginkan. Untuk anak digunakan larutan
pentotal 2% dengan interval 30 detik dengan dosis 1,5 ml untuk berat
badan 15 kg,3 ml untuk berat badan 30 kg, 4 ml untuk berat badan 40
kg dan 5 ml untuk berat badan 50 kg. Untuk mempertahankan
anesthesia pada orang dewasa diberikan pentotal 0,5-2 ml larutan
2,5%, sedangkan pada anak 2 ml larutan 2%. Untuk anesthesia basal
pada anak, biasa digunakan pentotal per rectal sebagai suspensi 40%
dengan dosis 30 mg/kgBB.
c. Natrium tiamilal dosis untuk induksi pada orang dewasa adalah 2-4
ml larutan 2,5%, diberikan intravena secara intermiten setiap 30-60
detik sampai efek yang diinginkan tercapai, dosis penunjang 0,5-2 ml
larutan 2,5% a tau digunakan larutan 0,3% yang diberikan secara terus
menerus (drip)
13

d. Natrium metoheksital dosis induksi pada orang dewasa adalah 5-12
ml larutan 1% diberikan secara intravena dengan kecepatan 1 ml/5
detik, dosis penunjang 2-4 ml larutan 1% atau bila akan diberikan
secara terus menerus dapat digunakan larutan larutan 0,2%.
e. Ketamin merupakan larutan larutan yang tidak berwarna, stabil pada
suhu kamar dan relatif aman. Ketamin mempunyai sifat analgesic,
anestetik dan kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya
sangat kuat untuk system somatik, tetapi lemah untuk sistem visceral.
Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang
tonusnya sedikit meninggi. Ketamin akan meningkatkan tekanan
darah, frekuensi nadi dan curah jantung sampai 20%. Ketamin
menyebabkan reflek faring dan laring tetap normal. Ketamin sering
menimbulkan halusinasi terutama pada orang dewasa. Sebagian besar
ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam hati, kemudian
diekskresi terutama dalam bentuk utuh. Untuk induksi ketamin secara
intravena dengan dosis 2 mm/kgBB dalam waktu 60 detik, stadium
operasi dicapai dalam 5-10 menit. Untuk mempertahankan anestesi
dapat diberikan dosis ulangan setengah dari semula. Ketamin
intramuscular untuk induksi diberikan 10 mg/kgBB, stadium operasi
terjadi dalam 12-25 menit.
f. Droperidol dan fentanil tersedia dalam kombinasi tetap, dan tidak
diperguna-kan untuk menimbulkan analgesia neuroleptik. Induksi
dengan dosis 1 mm/9-15 kg BB diberikan perlahan-lahan secara
intravena (1 ml setiap 1-2 menit) diikuti pemberian N2O atau O2 bila
sudah timbul kantuk. Sebagai dosis penunjang digunakan N2O atau
fentanil saja (0,05-0,1 mg tiap 30-60 menit) bila anesthesia kurang
dalam. Droperidol dan fentanil dapat diberikan dengan aman pada
penderita yang dengan anestesi umum lainnya mengalami
hiperpireksia maligna.
g. Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai
nistagmus dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Juga tidak
menimbulkan potensiasi terhadap efek penghambat neuromuscular
14

dan efekanalgesik obat narkotik. Diazepam digunakan untuk
menimbulkan sedasi basal pada anesthesia regional, endoskopi dan
prosedur dental, juga untuk induksi anestesia terutama pada penderita
dengan penyakit kardiovascular. Dibandingkan dengan ultra short
acting barbiturate, efek anestesi diaz-epam kurang memuaskan karena
mula kerjanya lambat dan masa pemulihannya lama. Diazepam juga
digunakan untuk medikasi preanestetik dan untuk mengatasi konvulsi
yang disebabkan obat anestesi local.
h. Etomidat merupakan anestetik non barbiturat yang digunakan untuk
induksi anestesi. Obat ini tidak berefek analgesic tetapi dapat
digunakan untuk anestesi dengan teknik infuse terus menerus bersama
fentanil atau secara intermiten. Dosis induksi eto-midat menurunkan
curah jantung , isi sekuncup dan tekanan arteri serta meningkat-kan
frekuensi denyut jantung akibat kompensasi. Etomidat menurunkn
aliran darah otak (35-50%), kecepatan metabolism otak, dan tekanan
intracranial, sehingga anestetik ini mungkin berguna pada bedah
saraf.Etomidat menyebabkan rasa nyeri ditempat nyeri di tempat
suntik yang dapat diatasi dengan menyuntikkan cepat pada vena besar,
atau diberikan bersama medikasi preanestetik seperti meperidin.
i. Propofol secara kimia tak ada hubungannya dengan anestetik
intravena lain. Zat ini berupa minyak pada suhu kamar dan disediakan
sebagai emulsi 1%. Efek pemberian anestesi umum intravena propofol
(2 mg/kg) menginduksi secara cepat seperti tiopental. Rasa nyeri
kadang terjadi ditempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan
thrombosis. Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira
80% tetapi efek ini lebih disebabkan karena vasodilatasi perifer
daripada penurunan curah jantung. Tekanan sistemik kembali normal
dengan intubasi trakea. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal.
Aliran darah ke otak, metabolism otak, dan tekanan intracranial akan
menurun. Biasanya terdapat kejang.


15

E. Tahapan Anastesi
1. Persipan Praanestesi
Keadaan fisis pasien telah dinilai sebelumnya. Dilakukan penilaian
praoperasi. Keadaan hidrasi pasien dinilai, akses intravena dipasang untuk
pemberian cairan infus, transfusi dan obat-obatan. Dilakukan pemantauan
elektrografi, tekanan darah, saturasi Cb, kadar CO
2
dalam darah (kapnograf),
dan tekanan vena sentral (CVP). Premedikasi dapat diberikan. oral, rektal,
intramuskular, atau intravena.
2. Induksi Anestesi
Pasien diusahakan tenang dan diberikan O
2
melalui sungkup muka.
Obat-obat induksi diberikan secara intravena seperti tipental, ketamin,
diazepam, midazolam, dan profol. Jalan napas dikontrol dengan sungkup
muka atau napas orofaring/nasofaring. Setelah itu dilakukan intubasi
trakhea. Setelah kedalaman anestesi tercapai, posisi pasien disesuaikan.
3. Rumatan Anestesi
Selama operasi berlangsung dilakukan pemantauan anestesi. Hal-hal
yang dipantau adalah fungsi vital (pernapasan, tekanan darah, nadi, dan
kedalaman anestesi, misalnya adanya gerakan, batuk, mengedan,
perubahan pola napas, takikardi, hipertensi, keringat, air mata, midriasis.
Ventilasi pada anestesi umum dapat secara spontan, bantu, atau
kendali tergantung jenis, lama, dan posisi operasi. Cairan infus diberikan
dengan memperhitungkan kebutuhan puasa, rumatan, perdarahan, evaporasi,
dan lain-lain
Selama pasien dalam anestesi dilakukan pemantauan frekuensi nadi
dan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah dan dan frekuensi nadi
terjadi bila anestesi kurang dalam. Hal ini disebabkan karena terjadi sekresi
adrenalin. Diatasi dengan membuat anestesi lebih dalam, yaitu dengan
meningkatkan konsentrasi halotan atau suntikan barbiturat. Penurunan
tekanan darah dan nadi halus sebagai tanda syok dapat disebabkan karena
kehilangan banyak darah. Hal ini diatasi dengan pemberian cairan pengganti
plasma atau darah. Penurunan tekanan darah dan frekuensi nadi dapat
disebabkan karena anestesi terlalu dalam atau terlalu ringan serta kehilangan
16

banyak darah atau cairan. Peningkatan tekanan darah dan tekanan nadi serta
penurunan frekuensi nadi disebabkan transfusi yang berlebihan. Diatasi
dengan penghentian transfusi.
4. Pemulihan Pasca-Anestesi
Setelah operasi selesai pasien dibawa ke ruang pemulihan (recovery
room) atau keruang perawatan intensif (bila ada indikasi). Secara umum,
ekstubasi terbaik dilakukan pada saat pasien dalam anestesi ringan atau
sadar. Di ruang pemulihan dilakukan pemantauan keadaan umum,
kesadaran, tekanan darah, nadi, pemapasan, suhu, sensibilitas nyeri,
perdarahan dari drain, dan lain-lain
Kriteria yang digunakan dan umumnya yang dinilai adalah warna
kulit, kesadaran, sirkulasi, pemapasan dan aktivitas motorik, seperti Skor
Aldrette. Idealnya pasien baru boleh dikeluarkan bila jumlah skor total
adalah 10. namun bila skor total telah diatas 8 pasien boleh dipindahkan
dari ruang pemulihan.
Skor Pemulihan Pasca-Anestesi






Penilaian Nilai
Warna
Merah muda
Pucat
Sianotik
2
1
0
Pernapasan
Dapat bernafas dalam dan batuk
Dangkal namun pertukaran udara adekuat
Apnea atau obstruksi
2
1
0
Sirkulasi
Tekanan darah menyimpang <20%>
Tekanan darah menyimpang 20-50% dari normal
Tekanan darah menyimpang >50% dari normal
2
1
0
Kesadaran
Sadar, siaga, dan orientasi
Bangun namun cepat kembali tertidur
Tidak berespon
2
1
0
Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan
Dua ekstremitas dapat digerakkan
Tidak bergerak
2
1
0
17

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
keadaan anastetik adalah sekumpulan perubahan komponen perilaku
atau persepsi. Komponen keadaan anastetik meliputi amnesia, imobilitas,
dalam merespon stimulasi berbahaya, pengurangan respon autonom terhadap
stimulasi berbahaya, analgesia, dan ketidaksadaran. (Goodman & Gilman).
Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat irreversible. Anestesi umum yang sempurna
menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaxasi otot tanpa menimbulkan
resiko yang tidak diinginkan dari pasien.
Anestesi umum atau pembiusan artinya hilang rasa sakit di sertai hilang
kesadaran. Ada juga mengatakan anestesi umum adalah keadaan tidak
terdapatnya sensasi yang berhubungan dengan hilangnya kesdaran yang
reversibel (Neal, 2006).
Umumnya obat anestesi umum diberikan secara inhalasi atau suntikan
intravena.
Tahapan anastesi ada 4 yaitu: Persipan Praanestesi,Induksi Anestesi,
Rumatan Anestesi dan Pemulihan Pasca-Anestesi
Secara tradisional, efek anestetik dapat dibagi 4 stadium peningkatan
dalamnya depresi susunan saraf pusat, yaitu :
1. Stadium analgesik
2. Stadium terangsang
3. Stadium operasi
4. Stadium depresi medula oblongata

B. Saran
Alangkah baiknya jika perawat juga mengetahui tentang anastesi dan jenis-
jenisnya agar dapat memilih anastesi mana yang akan dipilih agar pasien
tidak terlalu mengalami efek samping berlebih.


18

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer.2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Media Aesculapius:
Jakarta
Goodman & Gilman.2012. Dasar Farmakologi Terapi. Tim alih bahasa sekolah
farmasi ITB. EGC: Jakarta.
Ganiswara, Silistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy
Pharmacology). Alih Bahasa Bagian Farmakologi F K U I: Jakarta.
Junaidi, Iskandar.2012.O.I Pedoman Praktis Obat Indonesia.Bhuana Ilmu
Populer: Jakarta.
Katzung, Bertram G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik (Basic Clinical
Pharmacology). Alih Bahasa Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Salemba Medika: Jakarta