Anda di halaman 1dari 66

MACAM-MACAM

ABNORMALITAS GIGI
Terbagi menjadi 2 macam faktor penyebab
1. Faktor lingkungan
2. Faktor perkembangan
FAKTOR LINGKUNGAN
Memberikan efek terhadap:
1. Perkembangan struktur gigi secara lokal
dan sistemik
2. Gangguan struktur
3. Discolorasi gigi
4. Gangguan erupsi
ANOMALI
I. Kelainan Jumlah Gigi
1. Anodonsia/Hipodonsia
2. Supernumerery

KELAINAN JUMLAH GIGI
Etiologi:
1. Bersifat herediter (ras dan tendensi keluarga)

2. Faktor Lingkungan: radiasi, trauma, infeksi,
gangguan nutrisi dan hormonal
ANODONSIA/HIPODONSIA
Arti anodonsia : tidak dijumpai seluruh gigi-geligi
dalam rongga mulut.

Arti hipodonsia/oligodonsia : tidak adanya satu atau
beberapa elemen gigi.


ANODONSIA/HIPODONSIA
Perbandingan perempuan dan laki-laki = 1,5 : 1
Jarang terjadi pada gigi sulung (hanya < 1%)
Paling sering terjadi pada gigi molar ketiga (20-23%),
kemudian premolar kedua dan gigi insisiv kedua

Hypodontia-
Total Anodonsia
Oligodonsia
SUPERNUMERER
Adanya satu atau lebih gigi yang melebihi jumlah
normal.
Bisa mengenai gigi sulung dan gigi tetap.
Akibat : malposisi, crowded, gigi lain tidak erupsi,
persistensi gigi sulung, rotasi, impaksi, resorbsi akar,
kista.
TANDA-TANDA ADANYA
SUPERNUMERERY
Terhambatnya gigi sulung erupsi.
Terhambatnya gigi pengganti erupsi.
Perubahan posisi gigi sekitar
Bila lokasi di anterior rahang ats maka gigi insisivus
tetap menjadi rotasi
Berdasarkan Lokasi Gigi Supernumerer
1. Mesiodens
Lokasinya di dekat garis median diantara kedua gigi
insisivus sentral terutama gigi tetap rahang atas.
Bisa erupsi atau tidak.
Mesiodens
2. Laterodens/paramolar
Berada di daerah interproksimal atau bukal
dari gigi-gigi selain insisivus sentral.


3. Distomolar
Berada di sebelah distal gigi molar ketiga.
Paramolar pada Rahang Atas
DISTOMOLAR
Kelainan Ukuran Gigi
1. Makrodonsia / Megadonsia
Ukuran gigi lebih besar dari normal.
Harus dibedakan dengan Fusion Teeth.
Sering dialami oleh gigi insisiv pertama atas.
Dialami oleh penderita dengan diagnosa
pituitary gigantism dan hemifacial hyperplasia

Makrodonsia
2. Mikrodonsia
Ukuran gigi lebih kecil dari normal.
Bentuk mahkota konus atau peg shaped.
Sering didapatkan pada gigi insisiv kedua atas
dan molar ketiga.
Akibat : adanya diastema
Mikrodonsia
KELAINAN BENTUK GIGI
1. Fusi
Merupakan penyatuan dua atau lebih benih gigi.
Penyebab pasti belum diketahui, diduga akibat dua
benih gigi yang berada pada lokasi yang berdekatan
dan terjadi penyatuan. Selain itu adanya tekanan fisik
sehingga menyebabkan penyatuan pada benih gigi.
Penyatuan dapat terjadi pada beberapa tingkatan.
Terjadi sebelum proses kalsifikasi
Gigi Fusi
GEMINASI
Gigi terlihat terbelah menjadi dua.
Terlihat 2 buah mahkota tetapi hanya terdiri dari 1
akar dan 1 saluran akar.
Kamar pulpa dapat terbagi dua atau tunggal dan
berukuran besar.
Geminasi
CONCRESENCE
Terjadi setelah pembentukan akar selesai.
Penyatuan terjadi pada sementum.
Terjadi pada saat pembentukan benih gigi.
Gigi yang mengalami concresence dapat erupsi
sebagian atau dapat pula tidak erupsi.
Sering terjadi pada gigi molar kedua dan ketiga atas.
Concresence
DENS IN DENTE
Dikenal pula sebagai Dens Invaginatus.
Terjadi akibat invaginasi lapisan kalsifikasi gigi
terhadap bagian utama gigi.
Pada mahkota invaginasi terlihat sebagai garis email
yang menembus pulpa.
Gigi insisiv lateral merupakan gigi yang paling sering
mengalami dens invaginatus.
Bisa bilateral dan simetris.
Prevalensi 1-10%
DENS IN DENTE
DENS EVAGINATUS
Terjadi pada gigi premolar
Khas hanya terjadi pada ras Mongoloid
Tuberkel tambahan akan terlihat pada pusat
permukaan oklusal.
DENS EVAGINATUS
TALON CUSP
Merupakan cusp tambahan yang terletak pada
permukaan lingual gigi rahang atas atau rahang
bawah.
Sering terkena insisiv sentral dan lateral rahang atas.
Cusp akan muncul pada daerah singulum dan
menyebabkan disharmoni oklusi.
TALON CUSP
TAURODONTISM
Ukuran mahkota normal
Terjadi pembesaran pada kamar pulpa dalam arah apiko
oklusal.
Sering mengenai gigi molar.
Dapat terjadi pada satu gigi baik unilateral atau bilateral.
Banyak terjadi pad suku Eskimo dan populasi timur
tengah.
Bisa terjadi bersamaan dengan amelogenesis imperfekta,
tricho dento osseous syndrome, dan Klinefelters
syndrome.
Secara klinis tidak tampak, akan terlihat pada gambaran
radiografi
TAURODONTISM
DILACERATION
Merupakan kelainan pada bentuk akar.
Penyebab pasti belum diketahui, namun sering
terjadi akibat adanya trauma saat perkembangan gigi.
Sering terjadi kesulitan saat mencabut gigi dan
perawatan saluran akar.

DILACERATION
HIPERSEMENTOSIS
Merupakan pembentukan jaringan sementum
berlebih di sekitar akar gigi.
Pada gambaran rontgen foto terlihat membran
periodontal dan lamina dura dalam batas normal.
Penyebab pasti belum diketahui, namun sering
terjadi pada gigi yang mengalami inflamasi
periapikal, tooth repair, dan gigi yang mengalami
oklusi abnormal.
Sering muncul bersamaan dengan Pagets disease,
acromegaly, dan pituitary gigantism.
HIPERSEMENTOSIS
ENAMEL PEARL
Dikenal dengan nama enameloma.
Merupakan pertumbuhan berlebih email pada daerah
akar umumnya pada daerah furkasi.

ENAMEL PEARL
ATRISI, ABRASI, EROSI
Atrisi: hilangnya struktur gigi sebagai akibat pemakaian
gigi secara fisiologis , terjadi pada permukaan insisal dan
oklusal.

Abrasi : hilangnya struktur gigi akibat proses patologis.
Umumnya akibat penyikatan gigi.

Erosi : hilangnya struktur gigi akibat aksi mekanis yang
tidak melibatkan bakteri.
Sering terjadi pada penderita dengan kadar asam yang
tinggi di rongga mulut.
Atrisi Abrasi
Erosi
KELAINAN STRUKTUR GIGI
1. Hipoplasia
Terlihat gambaran hilang atau berkurangnya
struktur email secara lengkap pada gigi.
Terdiri dari 2 bentuk yaitu hipoplasia email dan
hipokalsifikasi email.
Hipoplasia email: terjadi akibat gangguan saat
pembentukan matriks email dan defisiensi jumlah
jaringan email.
Hipokalsifikasi : matriks email memiliki jumlah
yang normal namun tidak terkalsifikasi sempurna
PENYEBAB HIPOPLASIA
1. Faktor Lokal : trauma dan infeksi (Turners Tooth)

2. Faktor Umum :
a. Herediter : Dentinogenesis imperfekta dan amalogenesis
imperfekta
b. Penyakit genetik atau idiopatik : epidermolysis bullosa
dystropica, cleido craniol dysostosis, osteogenesis
imperfekta.
c. Prenatal atau sifilis kongenital
d. Kelainan Torpis : gangguan GIT, Infantile tetany,
defisiensi vitamin D, kalsium, dan fosfor, defisiensi
vitamin C, penyakit exanthematous (measles, chicken
pox, scarlet fever).
e. Fluorisis endemik

TURNERS TOOTH
Hipoplasia email yang mengenai gigi permanen
terutama gigi premolar rahang bawah dan insisiv
permanen tetap rahang atas
Penyebab gigi molar sulung sering terkena infeksi
sehingga berakibat pada gigi tetapnya.
Turnerss Tooth
AMELOGENESIS IMPERFEKTA
Penyebab gangguan saat pembentukan lapisan
ektodermal.
Sering terjadi secara herediter.
Permukaan yang terkena bisa tetap licin dan terlihat
lubang-lubang kecil.
Warna dentin terlihat kuning kecoklatan
Bisa terlihat dalam 2 tipe yaitu hipoplasia email dan
tipe hipokalsifikasi email (hipomineralisasi).
Amelogenesis Imperfecta tipe Hipoplastik
Amelogenesis Imperfecta tipe Hipokalsifikasi
DENTINOGENESIS IMPERFECTA
Merupakan gangguan pembentukan dentin.
Gambaran klinis gigi akan terlihat berwarna abu-abu
kecoklatan sampai kuning kecoklatan.
Fraktur mahkota mudah terjadi karena struktur
dentinoenamel junction mengalami gangguan dan
dentin terbuka mudah terkena atrisi.
Secara radiografi, gigi akan lebih tipis, akar lebih
pendek dengan konstriksi daerah servikal.
Pada sindroma akan terlihat pada penderita
osteogenesis imperfecta
Diturunkan secara autosomal dominan
Dentinogenesis Imperfecta
Environmental discoloration
I. Ekstrinsik
Bacteria
Iron
Tobacco
Food and beverage
Restorative materials
Medications
Iron stain
Environmental discoloration
II. Intrinsic
Erythropoietic Porphyria
Hyperbilirubinemia
Trauma
Medications
Erythropoietic porphyria
Autosomal recessive disorder of porphyrin metabolism
that results in increased synthesis and excretion of
porphyrins
Diffuse discoloration of dentition results
Teeth appear red-brown and exhibit a red fluorescence
when exposed to UV light
Prophyrin present in enamel and dentin of deciduous
teeth so discoloration worse
Only dentin of permanent teeth affected
Erythropoietic porphyria
Hyperbilirubinemia
Excess levels of bilirubin in blood
Bilirubin can accumulate in interstitial fluid,
mucosa, skin and developing teeth
Causes include:
Erythroblastosis fetalis
A hemolytic anemia of newborns secondary
to blood incompatibility
Biliary atresia
A sclerosing process of the biliary tree
Premature birth
Internal hemorrhage
Hyperbilirubinemia
Trauma
Tetracycline stain
Fluorosis
I. Ankilosis

II. Natal teeth
Ankilosis
Gigi tidak dapat erupsi akibat menempel
dengan sementum
Etiologi trauma, gangguan metabolisme, iritasi
termal, dan genetik
Prevalensi 1,5 9% terjadi pada usia 8-9 tahun.
Sering terjadi pada gigi molar pertama tetap
rahang bawah

Ankylosis
Ankylosis
Ankylosis
Natal teeth