Anda di halaman 1dari 14

Pengertian waris diatur dalam pasal 833 KUH Perdata yakni pewarisan sebagai suatu proses

perpindahan hak milik dari seseorang kepada orang lain atas segala barang, segala hak dan
segala piutang dari seseorang yang meninggal dunia kepada para ahli warisnya. Pada dasarnya
pewarisan adalah suatu perpindahan segala hak dan kewajiban seseorang yang meninggal kepada
para ahli warisnya. Dan secara singkat dapat juga dikatakan bahwa definisi dari hukum waris
menurut KUH.Perdata ini adalah perpindahan harta kekayaan dari orang yang meninggal kepada
orang yang masih hidup, jadi bukan hanya ahli waris dalam pengertian keluarga dekat
(sebagaimana hukum Islam), namun juga orang lain yang ditunjuk oleh orang yang meninggal
dunia sebagai ahli warisnya.
Pada dasarnya dalam sistem kewarisan dalam KUH.Perdata adalah pewarisan sebagai proses
perpindahan harta peninggalan dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya, akan
tetapi proses tersebut tidak dapat terlaksana apabila unsurnya tidak lengkap. Adapun unsur-unsur
tersebut adalah:
1. 1)Orang yang meninggalkan harta (erflater). Erflater adalah orang yang meninggal dunia
yang meninggalkan harta untuk orang-orang (ahli waris) yang masih hidup.
2. 2)Harta warisan (erfenis). Mengenai harta warisan ini dalam KUH Perdata dikategorikan
menjadi:
a. a.Harta kekayaan yang berwujud dan dapat dinilai dengan uang termasuk di
dalamnya piutang yang hendak ditagih yang disebut dengan istilah activa;
b. b.Harta kekayaan yang merupakan hutang-hutang yang harus dibayar pada saat
meninggal dunia atau passiva;
c. c.Harta kekayaan yang masih bercampur dengan harta bawaan masing-masing
suami isteri, harta bersama dan sebagainya.
d. 3)Ahli Waris (erfegnaam). Ahli waris adalah anggota keluarga yang masih hidup
yang menggantikan kedudukan pewaris dalam bidang hukum kekayaan karena
meninggalnya pewaris. Ahli waris dalam sistem kewarisan Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata secara garis besar terbagi menjadi dua macam yakni:
e. a.Ahli waris menurut undang-undang (ab intestato) adalah ahli waris yang
mempunyai hubungan darah dengan si pewaris. Mewaris berdasarkan undang-
undang ini adalah yang paling diutamakan mengingat adanya ketentuan legitime
portie yang dimiliki oleh setiap ahli waris ab intestato ini. Dalam pasal 832 kuh
perdata, dinyatakan bahwa yang berhak menjadi ahli waris adalah keluarga
sederajat baik sah maupun di luar kawin yang diakui, serta suami isteri yang
hidup terlama.[23]
f. b.Berdasarkan penggantian (bij plaatvervuling) ahli waris yang menerima ahli
waris dengan cara menggantikan, yakni ahli waris yang menerima warisan
sebagai pengganti ahli waris yang berhak menerima warisan yang telah meninggal
dunia terlebih dahulu dari pewaris. Ahli waris bij plaatvervuling ini diatur dalam
pasal 841 sampai pasal 848 kuh perdata.[24]
I. 3.Pengakuan Terhadap Anak di Luar Perkawinan
Anak yang lahir diluar kawin perlu diakui oleh ayah atau ibunya supaya ada hubungan
hukum.Sebab kalau tidak ada pengakuan maka tidak terdapat hubungan hukum. Meskipun
seorang anak itu dilahirkan oleh seorang ibu, ibu itu harus tegas mengakui anak itu.Kalau tidak
maka tidak ada hubungan hukum antara ibu dan anak. Pengakuan ini adalah suatu hal yang lain
sifat dari pengesahan. Dengan pengakuan seorang anak itu tidak menjadi anak sah.Anak yang
lahir di luar perkawinan itu, baru menjadi anak sah jika kedua orang tuanya kemudian kawin,
setelah kedua orang tua itu mengakuinya, atau jika pengakuan itu dilakukan dalam akta
perkawinan sendiri.[25]
Menurut pendapat R. Soebakti bahwa hubungan tali kekeluargaan beserta dengan segala akibat-
akibatnya terutama hak mewarisi antara anak dan orang tuanya baru bisa terjadi apabila ada
pengakuan dari orang tuanya. Sebagaimana yang tertuang dalam pasal 272 KUH Perdata yang
berbunyi[26], Kecuali anak-anak yang dibenihkan dalam zina, atau dalam sumbang, tiap-tiap
anak yang diperbuahkan diluar perkawinan, dengan kemudian kawinnya bapak dan ibunya akan
menjadi sah, apabila kedua orang tua itu sebelum kawin telah mengakuinya menurut ketentuan
Undang-Undang, atau apabila pengakuan itu dilakukan dalam akta perkawinan sendiri.
Berkenaan dengan pasal diatas, dapat ditegaskan bahwa pengakuan yang dilakukan oleh kedua
orang tuannya dari anak luar kawin, yang dapat diakui adalah anak yang dilahirkan oleh seorang
ibu, akan tetapi ia tidak dibenihkan oleh seorang pria yang berada dalam ikatan perkawinan yang
sah dan tidak termasuk anak zina dan anak sumbang. Dan pasal diatas dipertegas dalam pasal
280 KUH Perdata yang berbunyi, dengan pengakuan yang dilakukan terhadap anak luar kawin,
timbulah hubungan perdata antara si anak dan bapak atau ibunya.
Dalam hal status hukum anak yang dilahirkan dari perbuatan zina dan penodaan darah tidak
diperkenankan untuk diakui orang tuanya. Kecuali anak penodaan darah dapat diakui apabila
orang tunya mendaptkan dispensasi untuk menikah, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 273
KUH.Perdata.
Menurut KUH Perdata ada tiga tingkatan status hukum dari anak luar kawin yaitu:
I. 1.Anak di luar perkawinan, anak ini belum diakui oleh kedua orang tuanya.
II. 2.Anak di luar perkawinan yang telah diakui oleh salah satu atau kedua orang tuanya.
III. 3.Anak di luar perkawinan itu menjadi anak sah, sebagai akibat kedua orang tuanya
melangsungkan perkawinan sah.[27]

Sesuai dengan Klasifikasi di atas dapat di pahami bahwa untuk menjadikan seorang anak luar
kawin sah di mata hukum dan memperoleh haknya selaku anak dalam hal waris, maka anak luar
kawin perlu mendapat sebuah pengakuan dari salah satu atau kedua orang tuanya. Jika kedua
orang tuannya melangsungkan perkawinan belum memberikan pengakuan terhadap anaknya
yang lahir sebelum perkawinan, maka pengesahan anak hanya dapat dilakukan dengan surat
pengesahan dari Kepala Negara.
Pengakuan ini adalah suatu hal pengesahan orang tua terhadap anak yang lahir di luar
perkawinan, dan pengesahan ini hanya dapat dilakukan dengan ketentuan Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (B.W.) pasal 272, sedang untuk pengakuan terhadap anak luar kawin dimuat
dalam pasal 281, Pengakuan terhadap anak luar kawin dapat dilakuakan melalui:
I. 1.Dalam akta kelahiran si anak.
II. 2.Dalam akta perkawinan ayah dan ibu kalau kemudian kawin.
III. 3.Dalam akta yang dibuat oleh Pegawai Catatan Sipil dan kemudian dibukukan dalam
daftar kelahiran menurut tanggal dibuatnya akta tadi.
IV. 4.Dalam akta otentik lain. Dalam hal ini tiap-tiap orang yangberkepentingan dapat
menuntut supaya pengakuan ini dicatat dalamakta kelahiran anak.[28]

Anak yang lahir dari perkawinan wanita hamil adalah anak sah dari kedua orang tuanya,
sehingga ia memiliki hak-hak yang wajib dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Hal ini diatur dalam
Pasal 42 s/d 44 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Maka dari itu anak luar kawin yang dapat mewarisi adalah anak yang diakui dengan sah oleh
kedua ibu bapaknya, karena menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (B.W.) asasnya
adalah, bahwa mereka mempunyai hubungan hukum dengan pewaris yang berhak menerima
harta warisan menurut undang-undang dan hubungan hukum tersebut karena adanya pengakuan
dari kedua orang tuanya. Pengakuan dari ibu dan bapak sebagai anak yang sah dan hanya dapat
dibuktikan dengan akta otentik.
a. 4.Mahkamah Konstitusi Dan Kewenanganya
b. a.Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu pelaku kekuasaan kehakiman disamping Mahkamah
Agung sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Hal ini berarti Mahkamah Konstitusi terikat pada prinsip
umum penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan
lembaga lainnya dalam menegakkan hukum dan keadilan. Keberadaan MK sebagai salah satu
kekuasaan kehakiman, selain ditegaskan pada pasal 24 ayat (2) UUD 1945, juga disebut pada
pasal 2 UU No. 4 tahun 2003 yang berbunyi, Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman sebagai di
maksud dalam pasal 1 dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi.[29]
Bertitik Tolak dari ketentuan pasal-pasal diatas, keberadaan dankedudukan MK sebagai satu
pelaku kekuasaan kehakiman ditegaskan dalam pasal 1 angka 1 UU No. 24 tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (UU MK) yang berbunyi, Mahkamah Konstitusi adalah salah satu
pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
Desain keberadaan dan wewenang Mahkamah Konstituai di gariskan pada pasal 24C ayat (1)
UUD 1945 yang berbunyi, Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-
Undang Dasar Tahun 1945.
Desain itu pula yang di gariskan pada pasal 10 ayat (1) UU MK pada penjelasan pasal ini di
jelaskan, Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final, yakni putusan Mahkamah Konstitusi
langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak di ucapakan dan tidak ada upaya hukum yang
dapat di tempuh.[30]
Mahkamah Konstitusi berdasarkan pasal 24C ayat (1) dan Pasal 10 ayat 1 UU MK ,mempunyai
empat wewenang.Adapun kewenangannya adalah :
I. a.Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
II. b.Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar 1945.
III. c.Memutus pembubaran partai politik.
IV. d.Memutus perselisihan hasil pemilihan umum.

Sedangkan dalam pasal 24C ayat (2) dan pasal 10 ayat (2) UU MK memuat tentang kewajiban
Mahkamah Konstitusi yaitu memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa presiden dan/atau
wakil presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap
Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela dan/atau tidak
lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar 1945.[31]
Dalam perkembangannya kewenangan Mahkamah Konstitusi sekarang bertambah satu lagi yaitu
memutus sengketa PILKADA, yang sebelumnya menjadi kewenangan Mahkamah Agung.
Peralihan kewenangan dari Mahkamah Agung kepada Mahkamah Kostitusi didasarkan pada
ketentuan pasal 236 C Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Dalam pasal 236 C Undang-
Undang Nomor 12 tahun 2008 disebutkan bahwa, penanganan sengketa hasil perhitungan
suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan
kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini
diundangkan.[32]
Kewenangan konstitusional Mahkamah Konstitusi melaksanakan prinsip checks and
balancesyang menempatkan semua lembaga Negara dalam kedudukan setara sehingga terdapat
keseimbangan dalam penyelenggaraan Negara. keberadaan Mahkamah Kostitusi merupakan
langkah nyata untuk dapat saling mengoreksi kinerja antar lembaga Negara.Undang-Undang ini
merupakan pelaksanaan pasal 24C ayat (6) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan
bahwa pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitus, hukum acara serta ketentuan lainnya
tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan Undang-Undang.
Untuk mendapatkan hakim konstitusi yang memiliki integritas dan kepribadian yang tidak
tercela, adil, dan negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan sebagaimana
diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar, Undang-Undang ini mengatur mengenai syarat calon
hakim kostitusi secara jelas. Disamping itu diatur pula ketentuan pengangkatan dan
pemberhentian, cara pencalonan secara transparan dan partisipatif, dan pemilihan hakim kostitusi
secara obyektif dan akuntabel.
Hukum acara yang diatur dalam Undang-Undang ini memuat aturan umum beracara dimuka
Mahkamah Kostitusi dan aturan khusus sesuai dengan karakteristik masing-masing perkara yang
menjadi kewenangan Mahkamah Kostitusi.Untuk kelancara pelaksanaan tugas dan
wewenangannya, Mahkamah Kostitusi diberi kewenangan untuk melengkapi hukum acara
menurut Undang-Undang ini.
Mahkamah Konstitusi dalam menyelenggarakan peradilan untuk memeriksa, mengadili dan
memutuskan perkara tetap mengacu pada prinsip penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yakni
dilakukan secara sederhana dan cepat. Dalam pasal III aturan peralihan Undang-Undang 1945
ditetapkan bahwa Mahkamah Kostitusi dibentuk selambat-lambatnya pada tanggal 17 agustus
2003 dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung, sehingga
Undang-Undang ini mengatur pula peralihan dari perkara yang ditangani Mahkamah Agung
setelah terbentuknya Mahkamah Konstitusi.[33]
I. b.Wewenang Hak Uji Mahkamah Konstitusi.
Berdasarkan pasal 24C ayat (1) UUD 1945, kepada Mahkamah Konstitusi diberikan hak menguji
UU terhadap UUD 1945.Kewenangan itu merupakan kekuasaan mengadili MK pada tingkat
pertama dan terakhir (the first and the last instance), sehingga putusan yang dijatuhkannya
bersifat final. Ketentuan yang di gariskan pasal 24C ayat (1) UUD 1945 tersebut di ulang
kembali pada pasal 12 ayat (1) huruf a UU No. 4 tahun 2004, bahwa MK berwenang mengadili
pada tingkat pertama dan terkhir untuk menguji UU terhadap UUD 1945. Ketentuan yang sama
dijelaskan lagi pada Bab III UU No. 24 Tahun 2003 tentang MK ( selanjutnya disebut UU
MK).[34]
Melalui wewenang menguji UU terhadap UUD 1945, MK berperan memastikan bahwa
ketentuan Undang-Undang yang di buat pembentuk Undang-Undang benar-benar sesuai dan
tidak bertentangan UUD 1945. Dengan demikian dasar-dasar konstitusional demokrasi yang
diatur dalam UUD 1945, baik terkait dengan hak asasi manusia dan hak konstitusional warga
Negara, pengaturan kelembagaan Negara, serta mekanisme demokrasi benar-benar benar-benar
di operasionalkan dalam bentuk Undang-Undang.[35]
Perkara mengenai pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 diatur
secara khusus dalam pasal 50 samapai 60 UU Mahkamah Konstitusi. Berdasarkan pasal 50,
Undang-Undang yang dapat di mohonkan untuk di uji adalah Undang-Undang yang
diundangkan setelah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Selama Undang-Undang tersebut
di uji oleh Mahkamah Konstitusi masih tetap berlaku, sebelum ada putusan yang menyatakan
bahwa Undang-undang tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.[36]
Selanjutnya dalam pasal 51 ayat (1) UU Mahkamah Konstitusi di sebutkan bahwa, Pemohon
adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh
berlakunya Undang-Undang. Selanjutnya dalam pasal itu diatur mengenai kedudukan hukum
(legal standing) dari Pemohon, yaitu:
I. a.Perorangan warga Negara.
II. b.Kesatuan masyrakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Indonesia.
III. c.Badan hukum public atau privat.
IV. d.Lembaga Negara.
Dalam perkara permohonan pengujian Undang-Undang apabila ternyata permohonan tersebut
dikabulkan, Mahkamah Konstitusi menyatakan dengan tegas materi muatan ayat, pasal, dan/
bagian dari Undang-Undang yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Putusan
Mahkamah Konstitusi yang amar putusannya menyatakan bahwa materi muatan ayat, pasal, dan/
atau bagian Undang-Undang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, materi muatan
ayat, pasal dan/ atau bagian Undang-Undang tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum yang
mengikat. Demikian pula putusan Mahkamah Konstitusi yang amar putusannya menyatakan
bahwa pembentukan Undang-Undang dimaksud tidak memenuhi ketentuan pembentukan
Undang-Undang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang tersebut tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat.[37]

1. 5.Dasar Pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010
Jenis putusan yang disimpulkan dari amarnya dapat dibedakan antara putusan yang bersifat
declaratoir, constitutief dan condemnatoir. Putusan declaratoir adalah putusan di mana hakim
menyatakan apa yang menjadi hukum. Putusan constitutief adalah putusan yang meniadakan satu
keadaan hukum atau menciptakan satu keadaan hukum yang baru. Sedangkan putusan
condemnatoir adalah putusan yang berisi penghukuman terhadap tergugat atau termohon untuk
melakukan satu prestasi.[38]
Amar putusan dalam putusan mahkamah konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 menyatakan bahwa
mahkamah menerangkan apa yang menjadi hukum (declaratoir) Pasal 43 ayat (1) UU No. 1/1974
yang berbunyi, anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata
dengan ibunya dan keluarga ibunya, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945
sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata laki-laki yang dapat dibuktikan
berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai
hubungan darah sebagai bapaknya.
Kemudian Mahkamah meniadakan hukum tersebut dan menciptakan hukum yang baru
(constitutief), anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan
ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan
berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai
hubungan darah, termasuk dengan keluarga ayahnya.
Putusan ini bersifat declaratoir constitutief yang artinya menegaskan bahwa pasal 43 ayat (1)
UU No. 1/1974 bertentangan dengan UUD 1945 dan kemudian meniadakan serta menciptakan
hukum baru tentang permasalahan kedudukan anak di luar perkawinan.
Penciptaan hukum baru tentang permasalahan hukum kedudukan anak di luar perkawinan
memberikan payung hukum terhadap anak tersebut, sehingga kewajiban orang tua, dalam hal ini
adalah bapak biologisnya, akan sampai kepada pemenuhan hak-hak anak. Keadilan yang diambil
majelis hakim konstitusi dalam hal ini didasarkan pada keadilan rasional, yang mana hubungan
perdata anatara bapak dan anak bukan hanya dapat diwujudkan melalui hubungan perkawinan
namun juga melalui hubungan darah.
Secara garis besar, putusan Mahkmah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 terdiri atas enam
poin, identitas pemohon, duduk perkara, pertimbangan hukum, konklusi, amar putusan dan
alasan berbeda (concurring opinion).
Permohonan para pemohon pada intinya menganggap bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 Pasal 2 ayat (2) yang menyatakan, tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan Pasal 43 ayat (1) yang menyatakan, anak yang
dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan ibunya,
bertentangan dengan Udang-Undang Dasar 1945 Pasal 28B ayat (1) yang menyatakan, setiap
orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah
dan ayat (2) yang menyatakan, setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, serta Pasal 28D
ayat (1) yang menyatakan, Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
Hal pertama yang yang menjadi perhatian Majelis Hakim Konstitusi dalam menimbang
permasalahan hukum mengenai anak yang dilahirkan di luar perkawinan adalah mengenai makna
hukum (legal meaning) frasa yang dilahirkan di luar perkawinan. Dalam kalimat selanjutnya
diperoleh keterangan, untuk memperoleh jawaban dalam prespektif yang lebih luas perlu
dijawab pula permasalahan terkait, yaitu permasalahan tentang sahnya anak.
Makna yang terkandung dalam frasa yang dilahirkan di luar perkawinan, merujuk pada tentang
kedudukan anak di luar perkawinan, yang pada umumnya membahas permasalahan status
keperdataan anak. Pasal 42 UU No. 1/1974 memberikan pengertian bahwa anak yang sah adalah
anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Kemudian Pasal 2 ayat (1)
UU No. 1/1974 menjelaskan, bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agama dan kepercayaanya itu dan pasal 2 ayat (2) UU No. 1/1974 menyatakan,
tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Merujuk pada pertimbangan Majelis Hakim Konstitusi mengenai pencatatan perkawinan bahwa,
pokok permasalahan hukum mengenai pencatatan perkawinan menurut peraturan perundang-
undangan adalah mengenai makna hukum (legal meaning) pencatatan perkawinan. Mengenai
permasalahan tersebut, Penjelasan Umum angka 4 huruf b UU No. 1/1974 tentang asas-asas atau
prinsip-prinsip perkawinan menyatakan:
bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu dan di samping itu tiap-tiap
perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan
peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran,
kematian yang dinyatakan dalam surat keterangan, suatu akte yang juga dimuat
dalam daftar pencatatan.

Berdasarkan penjelasan UU No. 1/1974 di atas nyatalah bahwa (i) pencatatan perkawinan
bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan; (ii) pencatatan merupakan
kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Pelurusan yang diberikan Majelis Hakim Konstitusi ini memberikan pandangan bahwa faktor
yang menetukan sahnya perkawinan adalah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama dari
masing-masing pasangan calon mempelai. Diwajibkannya pencatatan perkawinan oleh negara
melalui peraturan perundang-undangan merupakan kewajiban administratif.
Pada uraian selanjutnya, Majelis Hakim Konstitusi memandang bahwa, hubungan anak dengan
seorang laki-laki sebagai bapak, tidak semata-mata karena adanya ikatan perkawinan dengan
ibunya, akan tetapi dapat juga didasarkan pada pembuktian adanya hubungan darah antara anak
dengan laki-laki tersebut sebagai bapak.
Hal ini berlandaskan, karena menurut majelis Hakim Konstitusi, akibat hukum dari peristiwa
kelahiran karena kehamilan, yang didahului dengan hubungan seksual antara seorang
perempuan dengan seorang laki-laki, adalah hubungan hukum yang di dalamnya terdapat hak
dan kewajiban secara bertimbal balik, yang subjek hukumnya meliputi anak, ibu dan bapak.
Maka tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak yang lahir dari karena
hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan ibunya dan
membebaskan laki-laki yang menggauli ibunya dari tanggung jawab seorang bapak serta
meniadakan hak-hak anak terhadap laki-laki tersebut.
Jadi dalam kata lain, hubungan perdata antara anak dengan bapak biologisnya tidak berkaitan
dengan perkawinan laki-laki tersebut dengan ibunya, karena kewajiban laki-laki tersebut sebagai
bapak harus dipenuhi untuk menjaga hak-hak anak
Pertimbangan Majelis Hakim Konstitusi berikutnya adalah berkaitan tentang eksistensi seorang
anak. Anak yang dilahirkan pada dasarnya tidak patut untuk dirugikan dengan tidak terpenuhinya
hak-haknya, karena kelahirannya di luar kehendaknya. Mengenai hal ini Pasal 2 KUH.Perdata
menjelaskan bahwa, anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap telah
dilahirkan, bilamana juga kepentingan si anak menghendaki. Jelaslah bahwa seorang anak,
walaupun dalam kondisi janin, mempunyai hak-hak keperdataan yang harus dipenuhi.
Selain itu, anak yang dilahirkan tanpa kejelasan status bapaknya, seringkali mendapat perlakuan
tidak adil dan stigma di tengah masyarakat. Oleh karenanya hukum harus memberikan
perlindungan dan kepastian terhadapa anak yang dilahirkan.
Hakim Konstitusi, Maria Farida Indrati dalam alasan berbeda (concurring opinion) menyatakan
bahwa[39],
Perkawinan yang tidak didasarkan pada UU 1/1974 juga memiliki potensi untuk
merugikan anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut. Potensi kerugian bagi
anak yang terutama adalah tidak diakuinya hubungan anak dengan bapak kandung
(bapak biologis)-nya, yang tentunya mengakibatkan tidak dapat dituntutnya
kewajiban bapak kandungnya untuk membiayai kebutuhan hidup anak dan hak-hak
keperdataan lainnya. Selain itu, dalam masyarakat yang masih berupaya
mempertahankan kearifan nilai-nilai tradisional, pengertian keluarga selalu
merujuk pada pengertian keluarga batih atau keluarga elementer, yaitu suatu
keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak (anak-anak). Keberadaan anak
dalam keluarga yang tidak memiliki kelengkapan unsur keluarga batih atau tidak
memiliki pengakuan dari bapak biologisnya, akan memberikan stigma negatif,
misalnya, sebagai anak haram. Stigma ini adalah sebuah potensi kerugian bagi
anak, terutama kerugian secara sosial-psikologis, yang sebenarnya dapat dicegah
dengan tetap mengakui hubungan anak dengan bapak biologisnya. Dari perspektif
peraturan perundang-undangan, pembedaan perlakuan terhadap anak karena
sebab-sebab tertentu yang sama sekali bukan diakibatkan oleh tindakan anak
bersangkutan, dapat dikategorikan sebagai tindakan yang diskriminatif.
Potensi kerugian tersebut dipertegas dengan ketentuan Pasal 43 ayat (1) UU
1/1974 yang menyatakan, anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya
mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, menutup
kemungkinan bagi anak tersebut untuk memiliki hubungan keperdataan dengan
bapak biologisnya. Hal ini adalah resiko dari perkawinan yang tidak dicatatkan
atau perkawinan yang tidak dilaksanakan menurut UU No. 1/1974, tetapi tidaklah
pada tempatnya jika anak harus ikut menanggung kerugian yang ditimbulkan oleh
tindakan (perkawinan) kedua orang tuanya. Jika dianggap sebagai sebuah sanksi,
hukum negara maupun hukum agama (dalam hal ini agama Islam) tidak mengenal
konsep anak harus ikut menanggung sanksi akibat tindakan yang dilakukan oleh
kedua orang tuanya, atau yang dikenal dengan istilah dosa turunan. Dengan
kata lain, potensi kerugian akibat perkawinan yang dilaksanakan tidak sesuai
dengan UU 1/1974 merupakan risiko bagi laki-laki dan wanita yang melakukan
perkawinan, tetapi bukan risiko yang harus ditanggung oleh anak yang dilahirkan
dalam perkawinan tersebut. Dengan demikian, menurut saya, pemenuhan hak-hak
anak yang terlahir dari suatu perkawinan, terlepas dari sah atau tidaknya
perkawinan tersebut menurut hukum negara, tetap menjadi kewajiban kedua orang
tua kandung atau kedua orang tua biologisnya.

Uraian alasan yang dikemukakan Hakim Maria Farida, berpusat pada potensi kerugian yang
timbul dari perkawinan yang tidak didasarkan pada Undang-Undang No. 1 Tahun 1974. Pada
anak luar kawin, kerugian utama yang didapat adalah tidak diakuinya hubungan anak tersebut
dengan ayah biologisnya. Sehingga mengakibatkan adanya kerugian sosial-psikologis terhadap
anak karena adanya sikap diskriminatif dan stigma di tengah masyarakat.
Pada dasarnya, Hakim Maria Farida menyadari bahwa ini adalah resiko dari perkawinan yang
tidak dicatatkan, namun tidaklah pada tempatnya jika si anak juga harus menanggung kerugian
akibat perbuatan orang tuanya. Jika dianggap sebuah saksi, maka harusnya resiko ini
ditanggaung oleh laki-laki dan wanita yang melakukan perkawinan, bukan anak yang dilahirkan
dari perkawinan tersebut.
Perbedaan yang mendasar antara pertimbangan Majelis Hakim Konstitusi dengan pertimbangan
Hakim Maria Farida Indrati adalah mengenai makna anak yang dilahirkan di luar perkawinan.
Majelis Hakim Konstitusi, cenderung mengarah kepada anak yang dilahirkan di luar perkawinan
secara luas, yaitu tidak hanya menyangkut anak yang lahir dari perkawinan yang tidak
dicatatkan, namun juga melingkupi anak zina dan anak sumbang. Hal ini didasarkan karena
dalam pertimbangannya Majlis Hakim berpendapat bahwa hubungan keperdataan anatara anak
luar kawin dan ayah biologisnya bisa ditimbulkan melalui hubungan darah.
Sedangkan alasan yang diutarakan oleh Hakim Maria Farida, mengarah kepada anak luar kawin
dalam arti sempit, yaitu anak yang terlahir dalam suatu perkawinan yang tidak dicatatkan. Hal ini
terlihat dalam kalimat terakhir alasan beliau yang menyatakan, pemenuhan hak-hak anak yang
terlahir dari suatu perkawinan, terlepas dari sah atau tidaknya perkawinan tersebut menurut
hukum negara, tetap menjadi kewajiban kedua orang tua kandung atau kedua orang tua
biologisnya.
Dapat ditarik penjelasan bahwa dasar pertimbangan Majelis hakim Konstitusi dalam
permasalahan hukum mengenai anak yang dilahirkan di luar perkawinan adalah:
I. 1.Tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak di luar perkawinan
hanya memiliki hubungan dengan ibunya serta melepaskan laki-laki yang menggauli
ibunya lepas dari tanggung jawab sebagai seorang bapak dan bersamaan dengan itu
meniadakan hak-hak anak terhadap laki-laki tersebut sebagai bapaknya.
II. 2.Akibat hukum dari peristiwa hukum kelahiran yang didahului hubungan seksual adalah
hubungan hukum yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban secara bertimbal balik,
yang subjek hukumnya meliputi anak, ibu dan bapak.
III. 3.Anak yang dilahirkan harus mendapatkan perlindungan hukum, agar hak-haknya dapat
terpenuhi, termasuk anak yang dilahirkan dari perkawinan yang keabsahaannya masih
dipersengketakan. Karena tidaklah pada tempatnya jika anak harus ikut menanggung
kerugian yang ditimbulkan oleh tindakan (perkawinan) kedua orang tuanya.

1. 6.Ketentuan Hukum Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasca
Putusan Mahakamh Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Ditinjau Dari
KUH.Perdata
Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, membuka peluang bagi anak luar kawin
untuk dapat mempunyai hubungan keperdataan dengan bapak biologisnya. Pasal tersebut yang
semula berbunyi, Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, harus yang dibaca, Anak yang dilahirkan di luar
perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan
laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi
dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan
perdata dengan keluarga ayahnya,
Cita hukum yang terkadung dalam pasal 43 ayat (1) UU No. 1/74, adalah berupaya untuk
memberikan perlindungan hukum terhadap hak anak. Selain itu juga berupaya untuk
memulihkan kerugian yang timbul dari kelahiran anak di luar perkawinan.
Seperti yang diutarakan oleh Hakim Maria Farida, bahwa potensi kerugian terhadap anak dalam
perkawinan yang tidak didasarkan UU No. 1/74, adalah tidak ada pengakuan dari bapak
biologisnya yang berhubungan dengan tidak dapat dituntutnya kewajiban bapak biologisnya
untuk membiayai kebutuhan hidup anak dan hak-hak keperdataan lainya, serta kerugian sosial-
psikologis di tengah masyarakat yang bisa berujung pada tindakan diskriminatif.
Pengambilan hubungan darah sebagai patokan untuk adanya hubungan keperdataan antara anak
luar kawin dengan bapak biologisnya, dapat melindungi hak-hak keperdataan yang dimiliki anak
tersebut. Namun kerugian sosial-psikologis yang diderita anak luar kawin tersebut belum tentu
dapat dipulihkan. Harapan seorang anak yang dilahirkan di luar perkawinan, tentu saja adanya
perubahan status dari tidak sah menjadi sah serta mempunyai kelengkapan keluarga, dalam artian
mempunyai ayah kandung yang menjadi suami ibunya.
Namun di sisi lain, Pasal 43 ayat (1) UU No. 1/74 hanya mengatur tentang hubungan perdata
antara anak luar kawin dengan ibu dan bapak biologisnya. Hubungan perdata ini tidak serta
merta memberikan ketentuan tentang pengesahan anak, hanya penetapan bahwa anak luar kawin
dapat mempunyai hubugan dengan bapak biologisnya sehingga dapat dituntut hak anak luar
kawin terhadap bapak biologisnya. Dengan demikian status anak luar kawin tersebut tetap
menjadi anak tidak sah, namun dengan hak-hak yang setara dengan anak yang sah. Jadi pasal ini
mengatur tentang pengakuan terhadap seorang anak anak luar, bukan pengesahannya.
Pengakuan anak luar kawin yang ditmbulkan dari Pasal 43 ayat (1) UU No. 1/74 adalah
perbuatan hukum yang menciptakan akibat-akibat hukum yang berlandaskan atas keturunan
(afstamming) seorang anak. Pengakuan ini adalah gabungan dari tori pembuktian hukum
(bewijsrechtelijke theorie) dan teori hukum materiil (materieelrectelijke theorie).
Teori pembuktian hukum adalah pengakuan yang tidak menciptakan keadaan baru, melainkan
hanya menetapkan keadaan yang sudah ada dan berperan terbatas sebagi pembuktian atas
keturunan anak. Sedangkan teori hukum materiil adalah pengakuan yang berupa suatu perbuatan
hukum yang menciptakan akibat-akibat hukum.[40]
Sebagai pedoman hukum yang bersifat lex generalis, KUH.Perdata mengenal dua jenis
pengakuan anak, yaittu:
1. 1.Pengakuan dengan sukarela. Pengakuan adalah suatu pernyataan kehendak yang
dilakukan oleh seorang menurut cara-cara yang ditentukan oleh undang-undang bahwa ia
adalah ayah (ibu) dari seorang anak yang dilahirkan di luar perkawinan.
2. 2.Pengakuan dengan paksaan. Pengakuan dengan paksaan yang dimaksud di sini adalah
putusan Pengadilan yang menetapkan perihal ibu atau ayah seorang anak luar kawin.[41]
Jadi pembuktian yang dimaksud dalam kalimat, yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan
darah, dapat dilakukan secara sukarela ataupun dengan paksaan dari Pengadilan.
Adapun mengenai persoalan pengesahan anak, dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang
terdapat dalam KHU.Perdata. menurut KUH.Perdata pengesahan anak hanya dapt terjadi dengan
dua macam cara, yaitu:
1. 1.Dengan perkawinan orang tuanya. Pasal 272 KUH.Perdata menyatakan bahwa anak-
anak yang dibenihkan di luar perkawinan akan menjadi sah bila:
a. a)Orang tunaya kawin
b. b)Sebelum mereka kawin, terlebih dahulu telah mengakui anaknya atau
pengakuan tersebut dilakukan dalam akte perkawinan.[42]
c. 2.Adanya surat-surat pengesahan. Pengesahan dengan surat-surat pengesahan
dapat dilakukan karena dua hal, yaitu:
a. a)Bilamana orang tuanya lalai untuk mengakui anak-anaknya sebelum
perkawinan dilangsungkan atau pada saat perkawinan dilangsungkan
(Pasal 274 KUH.Perdata)
b. b)Bilamana terdapat masalah hubungan intergentil, misalnya sang ibu
termasuk golongan Bumi Putera atau yang dapat dipersamakannya, maka
terdapat alasan-alasan penting menurut pertimbangan Menteri Kehakiman
yang bersifat menghalang-halangi perkawinan orang tua itu.[43]
Menilik persoalan pembuktian dalam pasal 43 ayat (1) UU No. 1/1974, untuk membuktikan
keabsahan dari laki-laki yang merupakan bapak biologis dari anak luar kawin, maka dapat
dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain. Dalam hal ini
yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pembuktian melalui DNA.
Meskipun pada wujudnnya nanti hasil tes DNA merupakan bukti tertulis yang diwujudkan dari
keterangan ahli, namun esekusi terhadap pelaksanaan tes DNA masih diragukan. Keraguan
dalam hal ini bukan pada hasil tesnya, namun pada proses pelaksanaan tes DNA, yakni kesediaan
laki-laki yang diduga adalah bapak biologis untuk melaksanakan tes DNA, mengingat bahwa
eksekusi terhadap badan dalam bidang perdata dalam peraturan di Indonesia belum ada.
Sehingga walaupun ada putusan pengadilan yang mengharuskan laki-laki yang diduga bapak
biologis dari anak luar kawin untuk melaksanakan tes DNA, tetapi tidak ada peraturan yang
memaksanya, maka dapat dipastikan masalah pembuktian akan berlarut-larut bahkan mungkin
tidak akan pernah terbukti.
Terkait dengan masalah pembuktian anak luar kawin dengan menggunakan tes DNA tersebut,
dapat dilengkapi atau dapat dibuktikan dengan alat bukti lain yang ditentukan oleh Undang-
Undang.

1. 7.Penutup
Mahkamah konstitusi melalui putusan nomor 46/PUU-VIII/2010 telah melakukan sebuah
penciptaan hukum yang baru mengenai status hukum anak di luar perkawinan. Adapun inti
pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam putusan tersebut adalah:
a. a)Hubungan anak dengan seorang laki-laki sebagai bapak, tidak semata-mata karena
adanya ikatan perkawinan dengan ibunya, akan tetapi dapat juga didasarkan pada
pembuktian adanya hubungan darah antara anak dengan leki-laki tersebut sebagai bapak.
b. b)Hak seorang anak, tanpa memandang status perkawinan kedua orang tuanya, harus
mendapatkan perlindangan dan kepastian hukum yang adil, karena pada dasarnya, hukum
tidak mengenal istilah dosa turunan
Sedangkan ketentuan hukum yang terkandung dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah:
I. a)Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 mengatur tentang pengakuan
terhadap anak luar kawin.
II. b)Kerugian sosial-psikologis yang diterima anak luar kawin belum dapat sepenuhnya
dipulihkan dengan adanya ketentuan hubungan perdata dengan bapak biologisnya, karena
stigma anak luar kawin masih melekat pada diri anak tersebut.
III. c)Pembukatian hubungan antara anak luar kawin dengan bapak biologisnya melalui tes
DNA, dapat dilengkapi atau dapat dibuktikan dengan alat bukti lain yang telah diatur oleh
Undang-Undang.

Daftar Pustaka
al-Khaq, M. NahyaSururi. Kedudukan Anak Diluar Nikah Menurut Kompilasi Hukum Islam
(KHI) dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (B.W), Skripsi. Malang : UIN Malang.
2007.
Afandi, Ali. Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian, Jakarta: PT. Reneka Cipta.
1997.
As-Syiddiqi, Hasbi, PengantarHukum Islam. Semarang: Rizki Putra. 1997.
Djubaedah, Neng. Pencatatan Perkawinan Dan Perkawinan Tidak Di Catat Menurut Hukum
Tertulis Di Indonesia Dan Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika. 2010.
Fajar, MuktidanYulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris.
Yogyakarta: PustakaPelajar.
Harahap, Yahya. Kekuasaan Mahkamah Agung Pemeriksaan Kasasi dan Peninjauan Kembali
Perkara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika. 2008.
Ibrahim, Johnny. Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Malang: Bayumedia
Publishing. 2007.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi.
Mahfud MD, Moh. Peran Mahkamah Konstitusi Dalam Penegakan Hukumdan Demokrasi di
Indonesia. Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. 2009.