Anda di halaman 1dari 15

1 | P a g e

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada masa India dan Pakistan mencapai kemerdekaannaya oleh Inggris, terdapat
dua partai besar di India yang mewakili sebagian besar komunitas kaum beragama Hindu
dan satu partai besar lagi mewakili kaum muslim. Yang mana sebelumnya partai-partai
tersebut telah mengalami pertentangan mengenai kancah perpolitikan. Dalam hal tersebut,
persatuan Muslim India dipimpin oleh Mohammad Ali Jinnah menginginkan sebuah
wilayah yang terpisah. Akhirnya, Inggris menyetujui pembagian wilayah India menjadi
dua negara yang merdeka. Kashmir merupakan salah satu dari sekian banyak wilayah
yang merupakan dekolonisasi Inggris, kashmir memiliki kesempatan untuk memilih di
antara dua negara yang memiliki latar belakang agama yang berbeda. Dan lebih dari 500
princely state (negara kepangeranan) secara bebas boleh menentukan masa depannya
untuk bergabung diantara keduanya
1
. Akan tetapi, pada saat itu ada tiga wilayah yang
sulit untuk menentukan pilihan. Ketiga princely state tersebut diantaranya: Junagadh,
Hyderabad, dan Jammu-Kashmir. Junagadh merupakan negara yang kecil dengan 80 %
penduduknya beragama Hindu, tetapi penguasanya merupakan seorang Muslim yang
berpihak terhadap Pakistan
2
. Hyderabad berpenduduk mayoritas Hindu dengan penguasa
seorang Muslim tetapi tidak berkecenderungan untuk berpihak kepaa Pakistan maupun
India. Sedangkan Jammu-Kashmir memiliki penduduk mayoritas Muslim sebanyak 90 %
dan condong berpihak kepada Pakistan, tetapi penguasanya yang beragama Hindu
kemudian membawa Jammu-Kashmir ke dalam India
3
. Junagadh pada akhirnya bersatu
dengan India, sedangkan Hyderabad melalui pendudukan militer. Namun untuk wilayah
Jammu-Kashmir sendiri hingga sekarang tidak dapat terselesaikan.
Dalam sejarahnya wilayah kashmir dikuasai oleh Raja Gulab Singh yang
beragama Hindu sedangkan mayoritas warganya Muslim. Pada masa pemerintahannya
Singh, ia memiliki sikap yang sewenang-wenang terhadap warganya, dengan
memaksakan pembayaran pajak dan meluncurkan program Suddhi alias Hinduisasi, yang
mana gerakan ini merupakan upaya untuk mengembalikan kembali kaum Muslim
kepada agama asli nenek moyang mereka yakni Hindu.

1
. https://www.academia.edu/4154759/Kashmir_Dalam_Hubungan_India-Pakistan.html
2
. Ibid,.
3
. Ibid,.
2 | P a g e

Hal tersebut memunculkan suatu pemberontakan yang menentang peraturan tersebut.
Pemberontakkan tersebut didukung oleh suku-suku perbatasan Pakistan dengan semangat
keagamaannya. Kekhawatiran yang dialami oleh Singh membuatnya untuk meminta
bantuan pada India dalam mengatasi pemberontakkan yang terjadi. Kesepakatan pun
terjadi, dimana India akan membantu Kashmir untuk mengatasi persoalan ini namun
sebagai gantinya Singh bersedia untuk bergabung dengan India. Hal tersebut lah yang
menyebabkan perang pertama antara India dan Pakistan pada tahun 1947
4
.
Perang pertama yang berlangsung antara India dan Pakistan, akhirnya membuat
PBB ikut turut campur dalam menyelesaikan permasalahan yang berlangsung. Kemudian
PBB mengeluarkan resolusi 47 pada tahun 1948. Resolusi ini menyatakan bahwa
penyelesaian masalah ini akan diselesaikan melalui cara demokratis dengan plebisit yang
bebas bagi rakyat Kashmir untuk memilih bergabung dengan India ataupun Pakistan.
Dalam hal ini, India menanggapi bahwa pendudukannya di Kashmir hanya untuk
memulihkan keadaan dan bila keadaan sudah memungkinkan maka akan dilaksanakan
referendum sebagaimana yang tertulis pada resolusi PBB. Akan tetapi hal tersebut tidak
terjadi dan hanya suatu keputusan saja.
Di balik itu, India melakukan langkah-langkah politik yang mengarah pada upaya
penguasaan wilayah Kashmir atas India. Majelis konstituante Jammu-Kashmir hanya
merupakan sebuah pemerintahan boneka buatan India, dimana hal tersebut dapat dilihat
pada beberapa keputusan yang dibuat oleh Jammu-Khasmir, antara lain yaitu keputusan
pada tanggal 6 Februari 1954 meratifikasi pengintegrasian wilayah Kashmir kepada
India
5
. Selain itu keputusan pada tanggal 19 November 1956, dimana majelis
konstituante Jammu-Kashmir menyetujui konstitusi yang menyatakan bahwa negara
Kashmir merupakan bagian integral dari India
6
. Bahkan pada tanggal 26 Januari 1957,
India telah merumuskan ketentuan pemindahan kekuasaan dan secara sepihak
menyatakan bahwa ketentuan tersebut tidak dapat diganggu gugat apalagi untuk
dibatalkan
7
. Hal ini dilakukan India untuk menunjukkan kepada PBB bahwa Kashmir
sendirilah yang telah memilih untuk bergabung dengan India dibanding memilih untuk
bergabung dengan Pakistan. Tindakan yang dilakukan India ini merupakan suatu rekayasa
untuk menunjukkan bahwa konflik Kashmir telah selesai.

4
. Ibid,.
5
.Ibid,.
6
.Ibid,.
7
. Ibid,.
3 | P a g e

Tindakan tersebut merupakan hal yang tidak adil bagi Pakistan. Akhirnya,
Pakistan marah, terjadilah pertempuran di antara kedua belah pihak. Perang yang
berlangsung tahun 1965 ini ternyata tidak menghasilkan apapun bagi Pakistan. Pada saat
itulah, Kashmir masih berada dalam penguasaan India dan Pakistan mendapatkan
kekuasaan atas sepertiga dari wilayah tersebut. Konflik ini pun terus berlanjut dan belum
menemui jalan tengah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah peranan masing-masing aktor dalam sengketa wilayah Kashmir ini?
2. Bagaimanakah peranan bilateral atau multilateral diplomasi yang dilakukan untuk
menyelesaikan konflik ini?
1.3 KERANGKA PEMIKIRAN
1. Kepentingan Nasional atau National Interest
Kepentingan Nasional atau yang dikenal dengan istilah national interest pada
hakekatnya merupakan salah satu komponen yang penting dalam Hubungan
Internasional. Kepentingan Nasional adalah suatu kepentingan yang melibatkan suatu
nasional untuk mencapai tujuan bersama. Negara sebagai aktor utama dalam Hubungan
Internasional sangat memerlukan kepentingan nasional atau national interest dalam
melakukan interaksi antar Negara dalam lingkup yang global.
Kepentingan nasional yang utama dari setiap Negara di dunia sebenarnya adalah
sama, yaitu untuk tetap bisa mempertahankan eksistensi atau tetap survive. Sedangkan
dalam praktek nyatanya, kepentingan nasional setiap Negara selalu berjalan seiringan
dengan tujuan nasional dari Negara itu sendiri. Karena setiap Negara mempunyai tujuan
nasional yang beragam dan sangat kompleks, maka tidak akan ada Negara yang
mempunyai kepentingan nasional sama persis dengan kepentingan nasional Negara lain.
National Interest berasal dari tujuan negara, sehingga dapat dikatakan bahwa
terlebih dahulu adanya tujuan negara kemudian dari tujuan tersebut dibuatlah national
interest atau kepentingan negara, dan setelah itu dibuatlah hal-hal yang konkrit untuk
mengwujudkannya, yaitu lewat kebijakan luar negeri. Fungsi dasar dari national interest
adalah untuk mempertahankan keberlangsungan dan eksistensi suatu negara di berbagai
sektor, layaknya ekonomi, militer, politik dan lain-lain.
4 | P a g e

Dapat diambil kesimpulan bahwa definisi kepentingan nasional menurut Hans J
Morgenthau adalah sebagai suatu cita-cita atau harapan dari suatu negara untuk mencapai
tujuan negaranya dimata internasional.
2. Diplomasi Multilateral
Diplomasi multilateral merupakan suatu negosiasi dan diskusi untuk melakukan
tindakan kolektif dan kerjasama antara negara dan aktor non negara. Diplomasi
multilateral dilakukan oleh lebih dari dua negara dan dapat juga diikuti oleh aktor non
negara.Beberapa diplomasi multilateral yang berlangsung antara negara-negara yang
berdekatan atau dalam satu regional dapat dikatakan sebagai diplomasi regional.
Dalam sejarahnya, diplomasi multilateral telah muncul sejak akhir perang dunia
pertama yaitu pada saat mulai terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa. Dari pembentukan
Liga Bangsa-Bangsa tersebut, maka telah menunjukkan bahwa adanya keinginan untuk
berdiplomasi yang bersifat terbuka.Pada saat itu lah, diplomasi mengalami perkembangan
secara signifikan. Akhirnya, terciptalah kelompok-kelompok informal dari negara-negara
yang paling berkepentingan untuk berurusan dengan isu-isu yang ada didalamnya.
Diplomasi pada saat itu hanya membahas seputar permasalahan negara dan hanya
melibatkan tokoh negara dan bangsa, akan tetapi dikit demi sedikit menjadi berkembang.
Dikarenakanpada abad ke 21 telah melontarkan masalah atau isu-isu yang bersifat
universal secara alami seperti hak asasi manusia, pengawasan internasional terhadap
penyakit, arus modal dan informasi internasional, hak-hak buruh, perdagangan, isu
lingkungan nasional dengan perdebatan internasional, serta isu lingkungan yang bersifat
alamiah secara internasional. Dari isu tersebutlah, menuntut diplomasi untuk berkembang
menjadi multilateral. Keterlibatan tokoh non negara pun semakin tak terbendung
mengingat isu yang dibahas bersifat semakin spesifik dan menyangkut kepentingan aktor-
aktor non negara tersebut.
Tantangan utama dalam diplomasi multilateral adalah legitimasi. Hal ini terkait
dengan variasi aktor yang terlibat di dalam diplomasi multilateral. Yang mana setiap
aktor dan negara pasti memiliki sudut pandang dan ideologi yang berbeda-beda. Kekuatan
yang dimiliki oleh tiap pihak juga berbeda. Jadi, tidak dapat dipungkiri, bahwa negara
yang kecil dalam suatu konteks akan merasa tertekan apabila dihadapkan dengan negara
yang memiliki kekuatan besar atau superpower. Pemahaman tentang kesetaraan posisi
5 | P a g e

masing-masing pun memiliki perbedaan. Maka dari itu, tentu akan sering ditemui
keengganan suatu pihak untuk terlibat dalam diplomasi multilateral. Namun, untuk
menghadapi tantangan ini maka diperlukan adanya suatu bentuk aturan dan perjanjian
demi kepentingan bersama. Dalam konsep pemikiran ini harus ada konsesi, yangmana hal
ini harus berbentuk sesuatu yang mudah diterima untuk kepentingan yang lebih besar dari
kelompok. Jadi, dengan diplomasi multilateral, negara perlu untuk lebih
mempertimbangkan kepentingan masyarakat dunia secara bersama.
3. Diplomasi Bilateral
Diplomasi bilateral merupakan diplomasi yang paling sederhana dan tertua.
Karena memang sejak zaman tradisional, bentuk diplomasi bilateral ini memang sudah
sering digunakan. Diplomasi bilateral dilakukan antara dua pihak satu, biasanya
dilakukan oleh satu negara dengan negara lain. Diplomasi ini dilakukan secara tertutup
dan rahasia. Jadi, diplomasi bilateral diartikan sebagai hubungan dua pihak dalam
hubungan internasional merujuk kepada hubungan dua negara. Namun kontelasi
internasional yang sudah cukup ramai dan kompleks, tidak lagi mampu ditangani melalui
diplomasi bilateral. Diplomasi bilateral diantaranya seperti, perjanjian (traktat), saling
bertukar duta besar, dan kunjungan kenegaraan.
Pada bentuk diplomasi bilateral, terdapat situasi ketika keberadaan dan fungsi
Kedutaan Besar tidak mampu dipertahankan. Keputusan untuk menutup Kedutaan Besar
pun dapat terjadi ketika dua negara atau lebih berkonflik. Pemutusan hubungan
diplomatik seperti ini merupakan bagian dari masalah politik dan kekerasan, misalnya
menolak memberi pengakuan terhadap suatu negara, maupun menolak mengakui
pemerintahan negara lain yang sah. Yang mana mempertahankan komunikasi yang
berkualitas antarnegara-negara yang berkonflik merupakan hal yang krusial, karena tiap
negara tersebut pasti ingin meminimalisir dampak dari penurunan hubungan diplomatik
yang dialaminya. Dapat dikatakan, diplomasi bilateral ini merupakan sebagai usaha suatu
Negara bangsa untuk memperjuangkan kepentingan nasional di kalangan masyarakat
internasional, yang mana dalam diplomasi ini diadakannya perjanjian antara kedua belah
pihak agar bersifat terikat.

6 | P a g e

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 SENGKETA KASHMIR
Kashmir merupakan salah satu wilayah perebutan yang terkenal di dalam kancah
internasional, yang melibatkan Pakistan dan India. Sejarah Kashmir merupakan sejarah
yang mengandung pertikaian maupun peperangan. Konflik tersebut berawal semenjak
pasca kemerdekaan India dan Pakistan. Negara India dan Pakistan saling beranggapan
bahwa kedua negara ini memiliki hak kepemilikan atas wilayah Kashmir. Selain India
dan Pakistan, Cina juga merasa bahwa Kashmir merupakan wilayah kekuasaannya sebab
Kashmir sendiri berbatasan dengan Cina di bagian utara.
Persoalan ini muncul ketika India secara tegas mengklaim bahwa seluruh Kashmir
merupakan daerah territorial dari India itu sendiri. Pengeklaiman yang dilakukan India
tersebut membuat Pakistan merasa terganggu dan dengan tegas Pakistan menyuarakan
penolakannya. Penolakan yang dilakukan oleh Pakistan dilakukan dengan alasan karena
mayoritas dari penduduk Kashmir adalah muslim yang bertempat di daerah territorial
yang dikuasai India. Konflikpun menjadi lebih kompleks karena yang semula hanya
persoalan wilayah berkembang menjadi konflik antar agama dan konflik aliran.
Wilayah Kashmir yang subur dan dialiri oleh sungai-sungai utama, dan
mempengaruhi kondisi geografis Asia Selatan ini, merupakan termasuk beberapa
penyebab timbulnya konflik ini. Yang mana kepentingan-kepentingan kuat diantara kedua
negara inilah yang melandaskan terciptanya sengketa ini menjadi lebih rumit.

2.2 PROSES PERANG ANTARA INDIA DAN PAKISTAN
Perang diantara keduanya, merupakan perang yang terjadi sejak tahun 1947 pada
bulan Agustus. Peristiwa perang ini memiliki empat peristiwa perang, diantaranya ialah
tiga perang merupakan perang utama diantara keduanya. Dan penyebabnya ialah
perebutan wilayah Kashmir. Satu perang yang terjadi antara India Pakistan pada tahun
1971 disebabkan oleh wilayah Pakistan Timur.
Perang India dan Pakistan 1947
8

Pakistan merebut sepertiga wilayah Kashmir, secara tidak langsung Pakistan
mengklaim Kashmir sebagai wilayahnya dengan bantuan Pashtun Hindu. India membalas

8
. http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/01/130115_india_pakistan.shtml.
7 | P a g e

dengan mengirim pasukan ke Gurdaspur. Akibat perang ini ternyata masih memengaruhi
geopolitik diantara kedua negara.
Perang India dan Pakistan 1965
9

Pasukan Pakistan berusaha memasuki wilayah Kashmir India untuk memicu
pemberontakan. Rencana ini ternyata gagal, dengan kegagalan Pakistan dalam operasi
Gibraltar yang bertujuan untuk menyusupi dan menyerang Jammu dan Kashmir,
penyusupan pun dapat ditemukan. Perang ini diakhiri dengan gencatan senjata oleh PBB,
dan India dapat merebut sedikit wilayah Pakistan.Perang ini berakhir dengan ribuan
korban jiwa kedua belah pihak.
Perang India-Pakistan 1971
10

Perang ini berhubungan dengan Perang Kemerdekaan Bangladesh. Bangladesh
meminta kemerdekaan dari Pakistan. India membantu Bangladesh, akhirnya serangan
pun terjadi antara India dan Pakistan. Perang ini berakhir dengan kekalahan Pakistan.
Sehingga, Bangladesh pun merdeka.
Perang India dan Pakistan 1999
11

Perang Kargil, juga disebut Konflik Kargil, merupakan konflik bersenjata antara
India dan Pakistan yang terjadi di distrik Kargil, Kashmir. Penyebab perang ini adalah
masuknya pasukan Pakistan dan militan Kashmir ke wilayah India untuk merebut pos
tentara India. Akhirnya India membalas dan merebut kembali. Tekanan internasional
terhadap Pakistan membuatnya mundur. Perang berakhir dengan India merebut Kargil
dan isolasi diplomatik Pakistan.

2.3 AKTOR-AKTOR YANG TERLIBAT DALAM SENGKETA
Dalam sengketa perebutan wilayah Kashmir terdapat beberapa negara yang
terlibat di dalam sengketa ini, antara lain :
1. Pakistan
Pakistan merupakan salah satu aktor yang dominan dalam sengketa wilayah
Kashmir ini. Paskitan tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh India,
dimana pemerintah India mengklaim bahwa seluruh dari Kashmir adalah wilayah

9
.https://www.academia.edu/2187421/Bantuan_Republik_Rakyat_Tongkok_Terhadap_Militer_Pakistan_P
erang_India-Pakistan_1965_Alat_Utama_Sistem_Senjata_Gabungan_Dan_Nuklir.html
10
. http://apdforum.com/id/article/rmiap/articles/online/features/2012/10/04/bangladesh-war-
museum.html
11
. http://www.voa-islam.com/read/international-jihad/2012/06/09/19425/pejuang-islam-kasmir-ancam-
akan-perangi-pakistan.html
8 | P a g e

India, sedangkan Pakistan merasa bahwa mayoritas penduduk Kashmir adalah
muslim yang bertempat di wilayah India. Pakista berpendirian pada rencana
partisi yang diputuskan pada 3 Juni 1947, dimana Inggris menyatakan bahwa
mayoritas agama Hindu akan menjadi bagian dari India maka secara otomatis
mayoritas muslim akan masuk menjadi bagian dari Pakistan. Hal tersebut
merupakan salah satu alasan bagi Pakistan untuk merebut Kashmir dari India,
harapan untuk mendapatkan Kashmir pun tidak pernah pudar dari waktu ke waktu.
Selain letak Kashmir yang strategis dan mayoritas penduduk Kashmir yang
muslim, Kashmir juga memegang peranan penting bagi perekonomian Pakistan
Barat dimana sungai Indus, Jhelem, Chemab merupakan tiga sungai penting yang
mengatur persediaan air bagi Pakistan Barat sehingga sebisa mungkin Kashmir
dapat direbut dari kekuasaan India. Konflik antara India dan Pakistan pun terus
terjadi sampai menelan banyak korban.
2. India
India merupakan salah satu negara yang mengklaim dirinya sebagai pemilik dari
wilayah keseluruhan Kashmir. India dengan pendiriannya berlandaskan Instrumen
of Accession yang ditandatangani oleh Maharaja Hari Singh yang menjabat
sebagai pemimpin Kashmir pada saat itu. Dimana Instrumen of Accession ini
menunjukkan penggabungan secara sah antara Kashmir dan India. Perjanjian
tersebut dilakukan karena Maharaja merasa terancam dalam penyerbuan suku-
suku asing yang berasal dari perbatasan Pakistan. India berkonflik sejak lama
dengan Pakistan karena perebutan wilayah Kashmir ini sendiri, India pun
beranggapan bahwa Pakistan telah membantu dan melatih rakyat Kashmir untuk
melakukan pemberontakkan terhadap India. Kashmir merupakan wilayah yang
penting bagi strategi pertahanan India, dimana Kashmir berbatasan dengan
bangsa-bangsa besar dan juga letaknya yang terlindung oleh gunung menjadinya
tempat yang cocok bagi benteng pertahanan.
3. Amerika
Amerika berusaha memiliki perhatian besar terhadap masalah di Kashmir ini, dan
telah membicarakan masalah ini dengan para juru bicara dari Pakistan maupun
India agar dapat menyelesaikan permasalahan ini melalui dialog. Namun dalam
kenyataannya, Amerika malah mendampingi Russia untuk membantu India.
Ketika kelompok Islam yang dijadikan sasaran maka permainan politik Amerika
Serikat pun mulai bermain. Amerika Serikat sebagai suatu negara yang adidaya,
9 | P a g e

memiliki kemampuan untuk menundukkan mantan Perdana Menteri Pakistan,
Nawaz Sharif dan menyuruhnya untuk menarik mundur pasukan Pakistan. Semua
yang dilakukan Amerika tersebut untuk membantu India dan mendampingi Russia
dalam membantu India. Itu semua tidak lain hanyalah permainan politik Amerika
Serikat semata.
4. Russia
Russia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan India, dimana dalam
sejarahnya negara India selalu melakukan aliansi politik dengan Soviet (kini
menjadi Russia). Kedekatan dan aliansinya dengan Soviet ini menjadikan India
berada atau menjadi bagian dari pada Blok Timur (Komunisme) dan bersebrangan
dengan blok barat yaitu Amerika Serikat. Namun dengan runtuhnya Soviet setelah
perang dingin, dan menjadikan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara
Adikuasa, India pun berpindah haluan dengan berpihak pada Amerika Serikat.
Russia menjadi salah satu negara yang mendukung India dalam merebut
kekuasaan akan Kashmir karena kedekatan yang telah dimiliki kedua negara sejak
lama.
5. Indonesia
Indonesia sebagai sebuah negara dengan politik luar negeri bebas aktif selalu
berusaha menyelesaikan segala sesuatu lewat cara damai, termasuk masalah
sengketa Kashmir ini sendiri. Dimana Indonesia sangat mendukung upaya
penyelesaian sengketa lewat cara damai tanpa berpihak pada pihak mana pun.
Bahkan dalam sengketa Kashmir ini, Pakistan meminta Indonesia untuk
membujuk India agar menyelesaikan konflik ini, sehingga tidak menyebabkan
pertumpahan darah lagi.
6. RRC (China)
China merupakan salah satu negara yang turut terlibat dalam sengketa wilayah
Kashmir ini, dimana China juga merasa bahwa Kashmir merupakan wilayah
kekuasaannya sebab Kashmir sendiri berbatasan dengan Cina di bagian utara.
Namun China tidak bersikeras untuk mengklaim wilayah Kashmir sebagai bagian
dari negaranya. Hal tersebut disebabkan karena China berusaha untuk
memperbaiki hubungannya dengan India. China harus menjamin persahabatan
dengan India, karena permusuhan dengan India akan mengganggu invasi nya ke
Taiwan.

10 | P a g e

7. PBB
PBB merupakan organisasi internasional yang turut berperan sebagai aktor non
negara yang dominan dalam sengketa Kashmir ini. Dimana Pakistan mengangkat
sengketa Kashmir pada sidang PBB. Sengketa yang pada awalnya sebagai
sengketa internal berubah menjadi sebuah sengketa internasional yang diajukan
pada sidang PBB. PBB lewat Dewan Keamanannya telah mengeluarkan berbagai
resolusi termasuk tentang upaya gencatan senjata kedua belah pihak dan juga
pembentukan UNCIP. PBB berupaya menyelesaikan sengketa ini dengan
diplomasi melalui jalur second track diplomacy, dimana berdasarkan pada satu
kepentingan bersama yaitu menyelesaikan sengketa Kashmir dengan jalan damai

Dari beberapa tokoh seperti yang diuraikan diatas, diketahui bahwa banyaknya
aktor yang terlibat di dalam sengketa wilayah Kashmir ini. Namun ada beberapa aktor
yang lebih mendominasi dalam permasalahan ini, yaitu Pakistan, India dan juga PBB.
Pakistan dan India merupakan dua negara yang memperebutkan dan mengklaim bahwa
Kashmir termasuk dalam wilayah kekuasaan mereka, sedangkan PBB sendiri merupakan
Organisasi Internasional yang berusaha menyelesaikan sengketa ini sebab Pakistan
mengajukan sengketa ini pada sidang PBB dan PBB pun telah mengeluarkan berbagai
resolusi lewat Dewan Keamanannya.

2.4 NEGOSIASI DALAM UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA KASHMIR
DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI
1. Perang India dan Pakistan yang terjadi pada tahun 1947, menciptakan suatu
negosiasi antara Pakistan, India, dan PBB. Dimana PBB dalam menyelesaikan
permasalahan ini, mengeluarkan resolusi nomor 47 pada tahun 1948
12
. Resolusi
ini menyatakan bahwa penyelesaian masalah ini akan diselesaikan melalui cara
demokratis dengan plebisit yang bebas bagi rakyat Kashmir untuk memilih
bergabung dengan India ataupun Pakistan. Dalam hal ini, India menanggapi
bahwa pendudukannya di Kashmir hanya untuk memulihkan keadaan dan bila
keadaan sudah memungkinkan maka akan dilaksanakan referendum sebagaimana
yang tertulis pada resolusi PBB.
Hambatan dalam negosiasi ini :

12
. https://www.academia.edu/4154759/Kashmir_Dalam_Hubungan_India-Pakistan.html
11 | P a g e

Referendum yang diputuskan dan tertulis dalam resolusi PBB tidak pernah
dilaksanakan dan hanya menjadi suatu keputusan belaka. Karena India ternyata
telah melakukan langkah-langkah politik yang mengarah pada penguasaan
wilayah Kashmir atas India.
2. Pada 5 Januari 1949, PBB kembali mengeluarkan resolusi yang menyebutkan
bahwa "The question of accession of the state of Jammu and Kashmir to India or
Pakistan will be decided through the democratic method of a free and impartial
plebiscite
13
. Resolusi tersebut juga menyatakan untuk penarikan pasukan Pakistan
dari Kashmir dan segera melaksanakan referendum di Kashmir secara independen.
Setelah India dan Pakistan melakukan genjatan senjata di bawah naungan PBB,
maka melaui UNCIP melakukan berbagai pertemuan dan kesepakatan. Proses-
proses tersebut diantaranya ialah penarikan pasukan secara bertahap dan melalui
pengawasan proses genjatan senjata. PBB pun mengirimkan perwakilan ke India
dan Pakistan untuk mencari solusi yang dapat disepakati oleh kedua negara.
Perwakilan PBB yang pertama, yaitu Dewan Keamanan PBB Presiden Jenderal
AG L McNaughton yang membawa sebuah proposal yang menyarankan agar
kedua negara melakukan demiliterisasi Kashmir untuk memastikan bahwa proses
referendum tidak akan memihak salah satu negara. Perwakilan yang kedua, yaitu
Sir Owen Dixon bertemu dengan pejabat India dan Pakistan untuk memecahkan
solusi yang belum selesai. Ia juga membawa proposal yang menyarankan agar
pelaksanaan referendum hanya dilakukan di daerah yang bermasalah dan wilayah
lainnya menentukan keputusan sendiri untuk bergabung dengan India atau
Pakistan.
Hambatan dalam negosiasi ini :
Banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh kedua negara ini, dimana resolusi
PBB tidak dijalankan oleh India maupun Pakistan. Bukan hanya itu, tapi proposal
saran yang dibawa oleh utusan-utusan PBB pun ikut ditolak oleh India dan
Pakistan. Hambatan ini terjadi dikarenakan kepentingan nasional India dan
Pakistan yang begitu kuat sehingga semua resolusi yang dilakukan PBB tidak
dapat diseimbangkan dengan kekuatan kepentingan mereka.
3. Perhatian masyarakat internasional pada tahun 1990 berpusat kembali pada
masalah Kashmir, dimana terjadinya berbagai kerusuhan di wilayah Jammu dan

13
http://www.scribd.com/doc/53924163/KONFLIK-Perebutn-Kashmir-Antra-India-n-Pakistan.html
12 | P a g e

Kashmir yang dikuasai India sejak tahun 1990
14
. Terkait masalah ini, akhirnya
diadakanlah negosisasi yang dilakukan pemerintah Pakistan mengenai masalah
Jammu dan Kashmir yang masuk dalam beberapa resolusi-resolusi Konferensi
Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI) atau Gerakan Nonblok (GNB),
dalam upaya untuk membantu mencairkan masalah tersebut. India pun melakukan
negosiasi yang juga tidak kalah kuat pengaruhnya, baik di kalangan negara-negara
Nonblok maupun di negara-negara OKI, karena sesungguhnya sebagian besar
anggota OKI juga sekaligus anggota GNB.
Hambatan dalam negosiasi ini :
Organisasi-organisasi internasional setingkat OKI ataupun GNB dalam
kenyataannya tidak pernah mampu menyelesaikan konflik-konflik bilateral
maupun regional diantara kedua negara tersebut. Hambatan ini terjadi karena
organisasi internasional setingkat OKI maupun GNB, hanya sebatas melakukan
berbagai upaya untuk menghimbau, menekan atau menengahi kedua belah pihak
yang bertikai untuk menyelesaikan masalah secara damai. Pada akhirnya usaha-
usaha terebut tidak efektif karena baik OKI maupun GNB tidak mempunyai
kekuatan nyata untuk memaksa para pihak yang bertikai untuk menyelesaikan
masalah.
4. Konflik India antara Pakistan merupakan konflik yang sangat mengganggu di
kawasan Asia Selatan, karena konflik tersebut melibatkan negara India dan
Pakistan. Konflik ini pun berpengaruh buruk terhadap organisasi SAARC (South
Asian Association of Regional Cooperation). Yang mana konflik ini akan
mengganggu eksistensi SAARC di dalam program organisasi. Karena dua negara
tersebut merupakan anggota SAARC dan beberapa negara-negara dominan.
Akhirnya, SAARC membuat negosiasi antaara Pakistan dan India untuk segera
berdamai.Yang mana SAARC menjadi mediator diantara kedua negara tersebut.
Terbukti pada tanggal 5 Januari, sehari setelah dimulainya KTT SAARC, Perdana
Menteri Vajpayee dan Presiden Pakistan Pervez Musharraf melakukan pertemuan
bilateral. Hal ini merupakan pertemuan historis, yang termasuk langkah awal
dimulainya kembali usaha perdamaian di antara kedua negara tersebut. Pertemuan

14
. http://usum.co/arsip/read/tag/kashmir/page/5/India-Tuduh-Pakistan-Tewaskan-5-Tentara-di
Kashmir.html

13 | P a g e

ini menghasilkan kesepakatan di antara kedua pemimpin untuk memulai dialog
menyeluruh. Kedua pemimpin pun berkeyakinan bahwa proses perundingan itu,
akan menyelesaikan konflik Kashmir.
Hambatan dalam negosisasi ini :
Semua upaya dan usaha yang dilakukann SAARC ternyata belum bisa
menyelesaikan konflik tersebut. Yang mana SAARC hanya menjadi wadah bagi
diantara kedua negara untuk berunding dan mencoba menyelesaikan
permasalahan. Hambatan ini terjadi dikarenakan ketegangan antara kedua belah
pihak tidak dapat dihindarkan. Dimana jika para prajurit sudah saling bertemu dan
diliputi rasa benci diantara keduanya, maka tidak ada jalan lain, kecuali perang.

2.5 KEADAAN BILATERAL DAN MULTILATERAL DIPLOMASI DALAM
SENGKETA WILAYAH KASHMIR
Diplomasi bilateral antara India dan Pakistan tidaklah berjalan dengan baik atau
dalam kata lain tidak efektif, hal ini diakibatkan oleh kepentingan kedua negara tersebut.
Baik India maupun Pakistan memiliki national interest negaranya masing-masing,
keegoisan dari kedua negara membuat masalah ini sulit untuk diselesaikan. Diplomasi
bilateral yang dilakukan kedua negara ini terkadang malah berujung pada kegiatan saling
kecam diantara kedua belah pihak. Hal tersebut membuat negosiasi bilateral antara kedua
belah pihak selalu menemui jalan buntuh tanpa adanya kesepakatan yang berarti atau
dalam kata lain diplomasi yang dilakukan cenderung alot dan belum efektif.
Sedangkan diplomasi multilateral yang melibatkan India, Pakistan dan juga PBB,
dimana PBB sebagai aktor non state dalam sengketa wilayah Kashmir ini. Awalnya PBB
sangat berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dengan sangat giat, namun upaya PBB
dalam menyelesaikan sengketa wilayah Kashmir ini terlihat melemah ketika PBB
mengeluarkan resolusinya pada tahun 1964 yang manyatakan bahwa permasalahan
Kashmir yang terjadi kan oleh Pakistan antara India dan Pakistan ini sebaiknya
diselesaikan oleh kedua belah pihak secara bilateral terlebih dahulu. Berbagai resolusi
yang dikeluarkan oleh PBB pun tidak juga menyelesaikan masalah ini. Terbukti dengan
pecahnya perang terbuka antara India dan Pakistan pada tahun 1965 dan tahun 1971 yang
mengakibatkan ratusan ribu korban jiwa.
15


15
http://diplomacy945.blogspot.com/2010/06/peran-pbb-dalam-menyelesaikan-perebutan.html
14 | P a g e

Walaupun PBB telah berhasil meminta India dan Pakistan untuk melakukan
genjatan senjata beberapa kali pada tahun 1947, 1965 dan juga 1971.
16
Namun pada
kenyataannya, hingga akhir tahun tahun 1977 pelaksanaan referendum juga belum
dilakukan. Melihat keadaan seperti ini, maka kami berpendapat bahwa diplomasi
multilateral antara India, Pakistan dan juga PBB belum lah efektif. Bahkan sengketa
wilayah Kashmir ini dapat menjadi salah satu contoh bentuk kegagalan PBB dalam
menyelesaikan masalah yang di bawa pada sidang PBB, dimana kebijakan yang
dikeluarkan oleh PBB yang mengutamakan cara damai dalam berdiplomasi tidak dapat
memperbaiki kondisi hubungan kedua negara. Bahkan proposal saran yang dibawah oleh
utusan-utusan dari PBB pun ditolak oleh India dan Pakistan.

2.6 SOLUSI YANG DITAWARKAN
Jika menempatkan diri sebagai PBB, dimana keterlibatan PBB dalam sengketa ini
atas permintaan India dan dan Pakistan, maka PBB memiliki posisi lebih dalam sengketa
wilayah Kashmir ini. Resolusi yang dikeluarkan oleh PBB memiliki kekuatan yang kuat
diatas perjanjian Simla. Sebagai PBB, dengan menggunakan posisinya sebagai organisasi
internasional tertinggi dan dengan berlandaskan pada piagam PBB maka PBB harus dapat
menekan India dan Pakistan untuk melaksanakan referendum yang telah dikeluarkan oleh
dewan keamanan PBB. Pemberian sanksi Kepada India dan Pakistan pun dapat
dilakukan, misalnya pemblokadean India dan Pakistan ataupun pengucilan kedua negara
tersebut di mata internasional. Hal tersebut dapat dilakukan sebab PBB diminta oleh
kedua negara tersebut untuk membantu menyelesaikan sengketa wilayah Kashmir ini,
namun baik India ataupun Kashmir tidak melaksanakan referendum yang dikeluarkan
oleh PBB.
Dapat disimpulkan bahwa menurut pendapat kelompok kami, PBB harus bersikap
lebih tegas lagi dalam mengatasi sengketa wilayah Kashmir ini sebab jika tidak,
perperangan antara India dan Kashmir akan terus pecah dan berlanjut untuk puluhan
tahun yang akan datang. PBB pun dapat meminta aktor-aktor layaknya SAARC dan juga
UNHCR untuk dapat mendorong dan mendesak India dan Pakistan untuk membuka diri
dan menerima bantuan serta solusi yang diberikan oleh PBB.


16
Ibid,.
15 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/4154759/Kashmir_Dalam_Hubungan_India-Pakistan.html,
diakses pada 4 Desember 2013, pukul 12.35.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/01/130115_india_pakistan.shtml, diakses
pada 4 Desember 2013, pukul 18.43.
https://www.academia.edu/2187421/Bantuan_Republik_Rakyat_Tongkok_Terhadap_Mil
iter_Pakistan_Perang_India-
Pakistan_1965_Alat_Utama_Sistem_Senjata_Gabungan_Dan_Nuklir.html, diakses pada
6 Desember 2013, pukul 20.06.

http://apdforum.com/id/article/rmiap/articles/online/features/2012/10/04/bangladesh-war-
museum.html, diakses pada 7 Desember 2013, pukul 09.24.

http://www.voa-islam.com/read/international-jihad/2012/06/09/19425/pejuang-islam-
kasmir-ancam-akan-perangi-pakistan.html, diakses pada 7 Desember 2013, pukul 11.32.

http://www.scribd.com/doc/53924163/KONFLIK-Perebutn-Kashmir-Antra-India-n-
Pakistan.html, diakses pada 8 Desember 2013, pukul 08.13.

http://usum.co/arsip/read/tag/kashmir/page/5/India-Tuduh-Pakistan-Tewaskan-5-Tentara-
di Kashmir.html, diakses pada 8 Desember 2013, pukul 13.42.
http://diplomacy945.blogspot.com/2010/06/peran-pbb-dalam-menyelesaikan-
perebutan.html, diakses pada 8 Desember 2013, pukul 20.12.