Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di masa lalu Bengawan Solo mempunyai peranan yang sangat penting sebagai
prasarana transportasi penghubung daerah pedalaman (bagian hulu) dan pelabuhan di
Pantura Gresik (bagian hilir), sehingga berkembang desa-desa penambangan yang
merupakan cikal bakal permukiman di sepanjang Sungai Bengawan Solo.
Sungai Bengawan Solo menjadi sumber air baku yang sangat penting bagi
masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Curah hujan tahunan rata-rata di WS
Bengawan Solo sebesar 2.100 mm, namun distribusinya sangat tidak menguntungkan,
umumnya 80% turun pada musim hujan (Oktober - April). Dengan terjadinya
fenomena perubahan iklim global (global climate change), distribusi dan intensitas
curah hujan tersebut menjadi lebih ekstrem.
Selain menjadi sumber air untuk memenuhi berbagai kebutuhan, baik untuk
keperluan rumah tangga, industri, perkotaan, maupun pertanian, hampir setiap tahun
sungai Bengawan Solo menimbulkan bencana banjir yang sangat merugikan
masyarakat.
Setelah banjir besar pada tahun 1966 yang menenggelamkan sebagian besar Kota
Solo, Pemerintah mulai menangani pembangunan infrastruktur pengendali banjir
Bengawan Solo. Dengan bantuan teknis Pemerintah Jepang (OTCA) pada tahun 1974,
dirumuskan Master Plan Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo.
Untuk mengendalikan banjir dan mendukung pengembangan wilayah, Master
Plan WS Bengawan Solo (1974), antara lain merekomendasikan pem-bangunan 4
waduk serbaguna, yakni : (i) Waduk Wonogiri, (ii) Waduk Jipang, (iii) Waduk Bendo
dan (iv) Waduk Badegan. Master Plan juga mereko-mendasikan 25 lokasi waduk-
waduk irigasi di anakanak sungai Bengawan Solo yang potensial untuk dibangun.
Disamping itu, Master Plan merekomendasikan pekerjaan perbaikan dan
pengaturan sungai Bengawan Solo Hulu ruas Nguter Jurug, Kali Madiun ruas Catur
Kwadungan dan Bengawan Solo Hilir ruas Cepu Tanjung Kepolo.
2
BAB II
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
2.1 Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Sungai Bengawan Solo
Definisi Pola Pengelolaan Sumber Daya Air menurut UU No 7/2004 adalah
kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi
kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan
pengendalian daya rusak air. Undang-undang tersebut (Peraturan Pemerintah yang
terkait) mencerminkan arah pemikiran yang berkembang saat ini berkaitan dengan
penataan ulang tanggung jawab dalam sector sumber daya air.
Undang-undang tersebut mengungkapkan sejumlah aspek pengelolaan sumber
daya air di wilayah sungai dapat ditingkatkan lebih lanjut, antara lain dimuatnya pasal-
pasal tentang perencanaan pengelolaan sumber daya air. Dengan berlakunya UU No. 7
tahun 2004 tentang Sumber Daya Air tersebut di atas, jelas bahwa tahapan pengelolaan
Sumber Daya Air Wilayah Sungai adalah sebagai berkut : Sebelum dilakukannya
penyusunan Rencana nduk (master plane) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah
Sungai, terlebih dahulu perlu dilakukan penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya
Air Wilayah Sungai yang berisi tentang :
1. Tujuan umum pengelolaan Sumber Daya Air.
2. Dasar-dasar pengelolaan Sumber Daya Air.
3. Prioritas dan strategi dalam mencapai tujuan.
4. Konsepsi kebijakan-kebijakan dasar pengelolaan Sumber Daya Air.
5. Rencana pengelolaan strategis.
Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Bengawan Solo disusun dengan acuan
sebagai berikut :
1. Master Plan Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo (1974).
2. Rencana Induk (2001) Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Air WS
Bengawan Solo yang disusun dari CDMP (Comprehensive Development and
Management Plan).
3
3. Matriks Kesepakatan Antar Pemerintahan dalam rangka Penanganan Banjir DAS
Bengawan Solo (2008).
Substansi Pola Pengelolaan SDA ini telah disepakati bersama Tim Koordinasi
Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Bengawan Solo. Dalam
Pola Pengelolaan SDA diusulkan pembangunan Waduk Serbaguna Jipang yang
berlokasi di sebelah hulu Kota Cepu guna pengendalian banjir Bengawan Solo Hilir
dan penyediaan air baku untuk berbagai kebutuhan masyarakat di Kabu-paten Blora,
Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik.
Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo Program 2010-
2014 direncanakan dengan 2 (dua) alternatif, yaitu :
Alternatif 1 : Dengan Waduk Serbaguna Jipang.
Alternatif 2 : Tanpa Waduk Serbaguna Jipang.
1. Alternatif I :
Pembangunan Waduk Serbaguna Jipang dengan tampungan total sebesar 800 juta
m
3
akan sangat efektif untuk pengendalian banjir Bengawan Solo Hilir, namun
konsekuensinya sangat besar terutama dalam aspek pembebasan lahan seluas
13.000 Ha dan pemindahan penduduk sebanyak 84.000 orang, yang
pembangunannya memerlukan waktu 15 tahun.
2. Alternatif II :
Tanpa Waduk Serbaguna Jipang, masyarakat harus dapat menerima kenyataan
banjir Bengawan Solo Hilir akan berulang setiap tahun, sehingga perlu
disosialisasikan perilaku living harmony with floods, khususnya untuk
masyarakat yang tinggal di wilayah banjir routine Bengawan Solo Hilir.
4
Berikut ini adalah skema dari Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai
Bengawan Solo :
5
6
7
8
2.2 Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 21/PRT/M/2010
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di
Lingkungan Ditjen Sumber Daya Air, maka berikut ini akan diuraikan Kedudukan,
Tugas pokok dan Fungsi BBWS Bengawan Solo adalah sebagai berikut :
a. Kedudukan :
1. Balai Besar Wilayah Sungai berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Direktur Jenderal Sumber Daya Air.
2. Balai Besar dipimpin oleh seorang Kepala.
b. Tugas :
Balai Besar Wilayah Sungai mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber
daya air di wilayah sungai yang meliputi perencanaan, pelaksanaan konstruksi,
operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi dan pendayagunaan sumber
daya air dan pengendalian daya rusak air pada sungai danau, waduk, bendungan
dan tampungan air lainnya, irigasi, air tanah, air baku, rawa, tambak dan pantai.
c. Fungsi :
1. Penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah
sungai;
2. Penyusunan rencana dan program, studi kelayakan dan perencanaan
teknis/desain/pengembangan sumber daya air;
3. Persiapan, penyusunan rencana dan dokumen pengadaan barang dan jasa;
4. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa sertapenetapan pemenang selaku Unit
Layanan Pengadaan (ULP);
5. Pengendalian dan pengawasan konstruksi pelaksanaan pembangunan sumber
daya air;
6. Penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air
pada wilayah sungai;
7. Pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi dan pendayagunaan
sumber daya air serta pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai;
8. Pengelolaan sistem hidrologi;
9. Pengelolaan sistem informasi sumber daya air;
9
10. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air pada wilayah sungai;
11. Pelaksanaan bimbingan teknis pengelolaan sumber daya air yang menjadi
kewenangan provinsi dan kabupaten/kota;
12. Penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan,
peruntukan, penggunaan dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah
sungai;
13. Fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah
sungai;
14. Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air;
15. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang
milik negara selaku Unit Akuntansi Wilayah;
16. Pelaksanaan pemungutan, penerimaan dan penggunaan biaya jasa pengelolaan
sumber daya air (BJPSDA) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
17. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai serta koordinasi dengan
instansi terkait.
d. Struktur Organisasi
Secara organisasi, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dimulai
sejak terjadi banjir besar pada tahun 1966 yang mengenangi hampir seluruh kota
Surakarta, dibentuklah Proyek Penanggulangan Bencana alam yang selanjutnya
pada tahun 1969 berdasarkan Kepmen PUTL No : 135/KPTS/1969 berubah
menjadi Badan Pelaksana Proyek Bengawan Solo (PBS).
Seiring dengan perjalanan waktu PBS ini, setelah berganti-ganti nama dan
tugas serta funsinya, saat ini menjadi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo
berdasarkan Peraturan menteri Pekerjaan Umum No : 12/PRT/M/2006 tentang
Organisasi dan Tata kerja Balai Besar Wilayah Sungai. Peraturan tersebut pada
tahun 2010 diperbaharui menjadi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :
21/PRT/M/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai
(BBWS) di Lingkungan Ditjen Sumber Daya Air.
10
Disamping organisasi struktural tersebut, BBWS Bengawan Solo juga
dilengkapi dengan organisasi fungsional, yaitu :
1. Satuan Kerja BBWS BS
PPK Ketatalaksanaan
PPK Pengelolaan BMN
PPK Perencanaan& Program
PPK O&P SDA I
PPK O&P SDA II
PPK O&P SDA III
2. Satuan Kerja NVT PJPA
PPK IrigasidanRawa I
PPK Irigasi dan Rawa II
PPK Penyedia Air Baku
PPK Pendayagunaan Air Tanah
3. Satuan Kerja NVT PJSA
PPK Sungai danPantai I
PPK Sungai danPantai II
PPK Sungai danPantai III
PrasaranaKonservasi I
PrasaranaKonservasi II
Adapun jumlah sumber daya yang ada di BBWS Bengawan Solo adalah sebagai
berikut :
PNS : 395 Orang
Non PNS : 143 Orang
PHL : 168 Orang
11
Struktur Organisasi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo
(Fungsional)
12
Struktur Organisasi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo
(Struktural)
13
BAB III
RENCANA INDUK
3.1 Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo
Rencana Induk Pengambangan Wilayah Sungai Bengawan Solo sampai dengan
saat ini telah disusun pada tahun 1974 (master plan 1974, OCTA) dan Rencana Induk
Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Air SWS Bengawan Solo tahun 2001
(CDMP tahun 2001). Menurut UU No.7/2004, Pola Pengelolaan Sumber Daya Air
Wilayah Sungai Bengawan Solo disusun pada tahun ini dan sudah dimasukkan dalam
DIPA tahun anggaran 2007.
Rencana Induk (2001) pengembangan dan pengelolaan sumber daya air terdiri
dari 5 komponen rencana, yang didukung oleh 29 kegiatan seperti pada tabel di bawah
ini :
Komponen 1 : Usulan Pengembangan Sumber Daya Air
A. Rencana Penyediaan Air Domestik dan Industri :
1. Tampungan Memanjang (Long-chanel Storage) Bengawan Solo Hilir.
2. Penyediaan air PDAM di Wilayah Surakarta.
3. Penyediaan air untuk sistem pengembangan PDAM.
4. Penyediaan air untuk daerah Rembang.
B. Rencana Rehabilitasi dan Pengembangan Irigasi :
5. Solo Vallei Werken.
6. 9 (Sembilan) waduk irigasi pada anak sungai Bengawan Solo hulu.
7. 3 (tiga) waduk irigasi pada anak sungai Kali Madiun.
8. 16 (enambelas) waduk irigasi pada anak sungai Bengawan Solo hilir.
9. Waduk Irigasi Kedung Bendo.
10. Rehabilitasi & Peningkatan Sistem Irigasi.
11. Waduk Serbaguna Bendo.
12. Waduk Serbaguna Badegan.
14
13. Waduk Pidekso.
14. Rehabilitasi Telaga Ngebel.
Komponen 2 : Memantapkan Pengelolaan Daerah Tangkapan Air
A. Rencana Konservasi dan Pengelolaan Daerah Tangkapan Air :
1. Penanganan Mendesak Sedimentasi Waduk Wonogiri.
2. Rehabilitasi Waduk dan Pengelolaan Daerah Tangkapan Air Waduk Wonogiri.
3. Rehabilitasi dan Pengelolaan Lahan Kritis di 6 (enam) Lokasi Daerah Tangkapan
Air.
Komponen 3 : Memantapkan Pengelolaan Kualitas Air
A. Rencana Pengelolaan Kualitas Air :
1. Peningkatan Kerangka Peningkatan Kualitas Air di SWS Bengawan Solo.
2. Studi Mengenai Buangan Air Limbah di SWS Bengawan Solo.
Komponen 4 : Memantapkan Pengelolaan Pengendalian Air
A. Rencana Pengelolaan Pengendalian Banjir :
1. Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir Fase II.
2. Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu Fase II.
3. Perbaikan Sungai Kali Madiun Fase II & III.
4. Studi Perbaikan Kali Grindulu.
5. Studi Perbaikan Kali Lamong.
6. Pengembangan Bengawan Jero.
7. Studi Perbaikan Drainasi Kota.
8. Rehabilitasi Bangunan-bangunan Sungai yang Sudah Ada.
9. Bengawan Solo FFWS.
Komponen 5 : Memantapkan Kelola Institusi Pengelola Sumber Daya Air
A. Rencana Memantapkan dan Peningkatan Kerangka Institusi Pengelola Sumber Daya
15
Air :
1. Pemberdayaan Institusi Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di SWS Bengawan
Solo.
Realisasi Rencana Induk pengembangan dan pengelolaan SDA Wilayah Sungai
Bengawan Solo (Master Plan Th 1974) :
1. Bendungan serbaguna Wonogiri.
2. Bendungan Irigasi Nekuk, Pondok, Sangiran dan Gondang (Kedung Brubus dan
Gonggang).
3. Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu (USRIP).
4. Perbaikan Sungai Kali Madiun (MRUF)
5. Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir (LSRIP)
6. Modifikasi / rehabilitasi beberapa bangunan seperti :
bendungan irigasi, modifikasi bendung, waduk-waduk lapangan/embung,
perbaikan pada beberapa anak-anak sungai, floodway, dll
Pelaksanaan COMPREHENSIVE DEVELOPMENT and MANAGEMENT PLAN
(CDMP/Review Master Plan Th. 2001) sampai dengan saat ini :
1. Babat Barrage, Floodway (LSRP Phase 1).
2. Rehabilitasi prasarana pengairan (USRIP).
3. Rehabilitasi pembangunan Embung.
4. Pengembangan prasarana air baku Sumber Maron.
5. O&P Irigasi, Sungai dan Waduk.
6. Urgent Countermeasure Wonogiri Reservoir (Grant Jepang).
7. Studi Penanganan Sedimentasi Waduk Serbaguna Wonogiri (Grant Jepang).
16
8. Penyusunan Rancangan Pola Pengelolaan SDAWilayah Sungai Bengawan Solo
(dalam proses).
9. Pembentukan TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo (dalam proses).
10. Pelaksanaan GNKPA.
3.2 Identifikasi Waduk Sungai Bengawan Solo
Waduk atau reservoir (etimologi: rservoir dari bahasa Perancis berarti "gudang"
[
adalah danau alam atau danau buatan, kolam penyimpan atau pembendungan sungai
yang bertujuan untuk menyimpan air. Waduk dapat dibangun di lembah sungai pada
saat pembangunan sebuah bendungan atau penggalian tanah atau teknik konstruksi
konvensional seperti pembuatan tembok atau menuang beton.
Berdasarkan fungsinya waduk dibagi menjadi 2 macam (Hadihardjaja, J., 1997),
yaitu :
1. Waduk Tunggal Guna (Single Purpose)
Waduk tunggal guna merupakan waduk yang fungsinya hanya digunakan
untuk satu manfaat, misalnya :
a) Waduk untuk irigasi.
b) Waduk untuk pembangkit listrik tenaga air.
c) Waduk untuk pengendalian air.
2. Waduk Serba Guna (Multi Purpose)
Waduk serba guna merupakan waduk yang dapat digunakan untuk memenuhi
berbagai keperluan sekaligus secara bersamaan antara lain untuk keperluan :
a) Irigasi
b) Pembangkit listrik tenaga air
c) Pengendalian banjir
d) Rekreasi
e) Perikanan
f) Penggelontoran
17
g) Air minum
h) Dan lain-lain.
Bangunan waduk perlu memperhatikan bendungan (termasuk bangunan
spillway), kapasitas tampungan waduk, sedimentasi waduk dan pengoperasian waduk
(Hadihardjana, 1997).
Waduk yang terdapat pada Sungai Bengawan Solo adalah Waduk gajah
Mungkur. Waduk Gajah Mungkur terletak di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa
Tengah. Waduk Gajah Mungkur adalah sebuah waduk yang terletak 3 km di selatan
Ibu Kota Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Perairan danau buatan ini
dibuat dengan membendung sungai terpanjang di Pulau Jawa yaitu Sungai Bengawan
Solo. Waduk tersebut merupakan waduk terbesar di Asia Tenggara.
Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dibangun dengan membendung Sungai
Bengawan Solo. Waduk Gajah Mungkur dibangun dari tahun 1976 - 1981 berlokasi 7
km arah selatan Kota Wonogiri tepat di bagian hilir pertemuan Kali Keduang. Luas
daerah genangan lebih dari 8.800 ha dan luas daerah yang dibebaskan 90 km
2
yang
terdiri dari 51 desa di 7 kecamatan. Pada saat pembebasan daerah genangan ini
mengorbankan 12.525 kepala keluarga (KK) terdiri dari + 68.750 jiwa yang secara
sukarela melakukan Program Bedhol Desa dengan bertransmigrasi ke berbagai daerah
di Indonesia. Pengerjaan waduk ini dilakukan secara swakelola dengan bantuan
konsultan dari Nippon Koei Co, Ltd Jepang.
Gambar 3.1 Waduk Gajah Mungkur
18
Kondisi Waduk Gajah Mungkur secara umum :
1. Luas daerah tangkapan air seluas kurang lebih 1.350 km
2
;
2. Waduk Gajah Mungkur memiliki 6 (enam) Daerah Aliran Sungai / DAS
seluas 1.260 km
2
yaitu Sub DAS Keduang, Tirtomoyo, Temon, Bengawan
Solo Hulu, Alang, dan Ngunggahan;
3. 74 % daerah tangkapan air masuk wilayah Kabupaten Wonogiri;
4. Daerah pasang surut seluas kurang lebih 6.000 Ha, dan yang digunakan oleh
masyarakat untuk budidaya pertanian seluas kurang lebih 804 Ha;
5. Luas daerah sabuk hijau atau Green Belt kurang lebih 996 Ha.
Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dalam pemanfaatannya dibagi dalam 5 zonasi
yaitu Zona Bahaya, Zona Wisata, Zona Suaka, Zona Bebas, dan Zona Usaha
Perikanan (SK Bupati Wonogiri No. 133. Tanggal 5 Juni 1986).
Zona Bahaya adalah kawasan yang dinyatakan tertutup untuk umum, dengan
pertimbangan keamanan bangunan bendungan dan keselamatan pengunjung.
Zona Wisata adalah kawasan pengembangan rekreasi dengan kegiatannya berupa,
pengoperasian perahu motor, olah raga jet ski, kebun binatang, taman rekreasi,
rumah makan, dan kolam renang.
Zona suaka ditujukan pada perlindungan, terutama populasi ikan. Diharapkan
ikan dapat berkembang biak di tempat tersebut, dan menjamin kelangsungan dan
kelestarian populasinya.
Zona bebas adalah kawasan produksi ikan tambahan dari Waduk Gajah Mungkur
Wonogiri. Penangkapan ikan dalam kawasan ini tidak terlalu membutuhkan
pengawasan ketat.
Zona Usaha dinyatakan sebagai kawasan produktif perikanan utama. Di kawasan
itu, dapat dilaksanakan usaha penangkapan ikan sesuai dengan batas batas
pengaturan dan membutuhkan pengawasan ketat. Di zona ini dibudidayakan
perikanan berupa karamba jaring apung. Aktivitas tersebut secara langsung
maupun tidak langsung akan mempengaruhi tingkat kesuburan waduk. Sisa
pemberian pakan setelah terjadi perombakan secara aerob akan berupa
pemupukan tambahan dan memberikan pengaruh yang paling penting pada
19
komponen fisik, kimia, dan biologi perairan. Zona usaha perikanan dibagi
menjadi 3 yaitu produksi, terarah, dan terpadu (karamba).
Waduk Gajah Mungkur dibangun dengan fungsi utama sebagai pengendali banjir
(Flood Control). Selain itu, Waduk Gajah Mungkur juga menghasilkan listrik dari
PLTA sebesar 12,4 MegaWatt. Waduk Gajah Mungkur juga dimanfaatkan warga
untuk menyediakan air irigasi bagi 33.200 ha sawah, budidaya perikanan air tawar,
serta menjadi obyek pariwisata bagi masyarakat. Daerah pinggiran waduk selama
musim kemarau dimanfaatkan warga untuk menanami tanaman semusim, misalnya
jagung.
Gambar 3.2 Karamba di Waduk Gajah
Mungkur