Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA


MEDIS UROSEPSIS DI PAVILIUN G1 RUMKITAL
Dr. RAMELAN SURABAYA














OLEH:
VERRY EFRILIYANA
NIM 143.0090




PRODI PROFESI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2014/2015

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA
MEDIS UROSEPSIS DI PAVILIUN G1 RUMKITAL
Dr. RAMELAN SURABAYA







OLEH :
VERRY EFRILIYANA
NIM 143.0090












Surabaya, 6 Oktober 2014

Mengetahui,
Pembimbing Institusi Pembimbing Lahan






.......................................... ...............................................

UROSEPSIS

1. Pengertian
Urosepsis adalah infeksi sistemik yang berasal dari fokus infeksi di traktus
urinarius sehingga menyebabkan bakteremia dan syok septik. Insiden urosepsis
20-30 % dari seluruh kejadian septikemia dan lebih sering berasal dari komplikasi
infeksi di traktus urinarius.
Tabel 1. Kelainan struktur dan fungsi traktus urinarius yang berhubungan dengan
sepsis
Obstruksi Kongenital: striktur uretra, fimosis, ureterokel,
policystic kidney disease
Didapat: calkulus, hipertrofi prostat, tumor traktus
urinarius, trauma, kehamilan, radioterapi
Instrumentasi Kateter ureter, stent ureter, nephrostomy tube,
prosedur urologik.
Impaired voiding Neurogenic bladder, sistokel, refluk vesikoureteral
Abnormalitas metabolik Nefrokalsinosis, diabetes, azotemia
Imunodefisiensi Pasien dengan obat-obatan imunosupresif,
neutropenia.
Mortalitasnya mencapai 20-49 % bila disertai dengan syok. Oleh karena itu
pertolongan harus cepat dan adekuat untuk mencegah kegagalan organ dan
komplikasi lebih lanjut.

2. Anatomi Fisiologi
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana
terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh
tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan
berupa urin (air kemih).


Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria :
1. Ginjal
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di
belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat
langsung pada dinding abdomen. Bentuknya seperti biji buah kacang merah
(kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari
pada ginjal kanan. Pada orang dewasa berat ginjal 200 gram. Dan pada
umumnya ginjal laki laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap
tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler
terdiri atas pembuluh pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler
peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul
Bowman, serta tubulus tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus
kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada
medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan
lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar
dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel
yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah celah antara pedikel itu
sangat teratur. Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal,
bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus
kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok belok, kemudian menjadi
saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa
Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali
ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
Fungsi ginjal adalah mengekskresikan zat zat sisa metabolisme yang
mengandung nitrogennitrogen (misalnya amonia), mengekskresikan zat zat
yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya
(misalnya obat obatan, bakteri dan zat warna), mengatur keseimbangan air
dan garam dengan cara osmoregulasi, dan mengatur tekanan darah dalam arteri
dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
2. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang
0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian
terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari :Dinding luar
jaringan ikat (jaringan fibrosa), lapisan tengah otot polos, lapisan sebelah
dalam lapisan mukosa, lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan
peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam
kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh
ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis
masuk ke dalam kandung kemih. Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah
sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan
ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis
renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf
sensorik.
3. Vesikula Urinaria ( Kandung Kemih )
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet,
terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk kandung
kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan
ligamentum vesika umbikalis medius. Bagian vesika urinaria terdiri dari :
a. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah,
bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh
jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
b. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
c. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium
(lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan
mukosa (lapisan bagian dalam).
4. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih
yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada laki- laki uretra berjalan
berkelok kelok melalui tengah tengah prostat kemudian menembus lapisan
fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya 20 cm.
Uretra pada laki laki terdiri dari :Uretra Prostaria, Uretra membranosa,
Uretra kavernosa. Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan
paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring
sedikit kearah atas, panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri
dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus
dari vena vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra
pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan
uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.

3. Patofisiologi
Patogenesa dari gejala klinis urosepsis adalah akibat dari masuknya
endotoksin, suatu komponen lipopolisakarida dari dinding sel bakteri yang masuk
ke dalam sirkulasi darah. Lipopolisakarida ini terdiri dari komponen lipid yang
akan menyebabkan:
a. Aktivasi sel-sel makrofag atau monosit sehingga menghasilkan beberapa
sitokin, antara lain tumor necrosis factor alfa (TNF ) dan interlaukin I (IL I).
Sitokin inilah yang memacu reaksi berantai yang akhirnya dapat
menimbulkan sepsis dan jika tidak segera dikendalikan akan mengarah pada
sepsis berat, syok sepsis, dan akhirnya mengakibatkan disfungsi multiorgan
atau multi organs dysfunction syndrome (MODS).
b. Rangsangan terhadap sistem komplemen C3a dan C5a menyebabkan
terjadinya agregasi trombosit dan produksi radikal bebas, serta mengaktifkan
faktor-faktor koagulasi.
c. Perubahan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, dan oksigen.
Karena terdapatnya resistensi sel terhadap insulin maka glukosa dalam darah
tidak dapat masuk ke dalam jaringan sehingga untuk memenuhi kebutuhan sel
akan glukosa terjadi proses glukoneogenesis yang bahannya berasal dari asam
lemak dan asam amino yang dihasilkan dari katabolisme lemak berupa
lipolisis dan katabolisme protein.

4. Etiologi
Karena merupakan penyebaran infeksi, maka kuman penyebabnya sama
dengan kuman penyebab infeksi primer di traktus urinarius yaitu golongan kuman
coliform gram negatif seperti Eschericia coli (50%), Proteus spp (15%),
Klebsiella dan Enterobacter (15%), dan Pseudomonas aeruginosa (5%). Bakteri
gram positif juga terlibat tetapi frekuensinya lebih kecil yaitu sekitar 15%.
Penelitian The European Study Group on Nosocomial Infections (ESGNI-004
study) dengan membandingkan antara pasien yang menggunakan kateter dan non-
kateter ditemukan bahwa E.coli sebanyak 30,6% pada pasien dengan kateter dan
40,5% pada non-kateter, Candida spp 12,9% pada pasien dengan kateter dan 6,6%
pada non-kateter, P.aeruginosa 8,2% pada pasien dengan kateter dan 4,1% pada
non-kateter.
Pasien yang beresiko tinggi urosepsis adalah pasien berusia lanjut, diabetes
dan immunosupresif seperti penerima transplantasi, pasien dengan AIDS, pasien
yang menerima obat-obatan antikanker dan imunosupresan.
Sejumlah faktor meningkatkan risiko mengembangkan urosepsis. Tidak
semua orang dengan faktor risiko akan mendapatkan urosepsis. Faktor risiko
untuk urosepsis meliputi:
Tingkat lanjut usia
Sistem kekebalan tubuh berkompromi karena kondisi seperti HIV dan AIDS,
minum kortikosteroid, transplantasi organ, atau kanker dan pengobatan
kanker.
Diabetes
Tinja inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar)
Jenis kelamin perempuan
Imobilitas
Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau retensi urin
Penyakit ginjal polikistik
Kehamilan
Operasi atau prosedur yang melibatkan saluran kemih
Obstruksi saluran kemih oleh batu, pembesaran prostat, penyebab uretra
jaringan parut, atau lainnya.
Penggunaan kateter untuk mengalirkan urin.

5. Tanda dan Gejala
Urosepsis banyak gejala yang sama seperti jenis sepsis lain , termasuk detak
jantung yang cepat, napas cepat, denyut nadi lemah, berkeringat banyak,
kecemasan yang tidak biasa, perubahan status mental atau tingkat kesadaran, dan
penurunan atau output urin absen saham. Sebelum perkembangan gejala ini,
mungkin mengalami gejala infeksi saluran kemih.
Gejala umum dari infeksi saluran kemih. Gejala infeksi saluran kemih
bervariasi dari individu ke individu. Gejala infeksi saluran kemih yang umum
termasuk:
Nyeri perut, panggul atau punggung atau kram
Urin berdarah atau merah muda (hematuria)
Sulit atau buang air kecil sakit, atau rasa panas saat kencing (disuria)
Demam dan menggigil
Urin yang berbau busuk
Sering buang air kecil
Nyeri selama hubungan seksual
Mendesak kebutuhan untuk buang air kecil
Gejala infeksi saluran kemih tanpa komplikasi, termasuk rasa panas saat
buang air kecil, kebutuhan untuk pergi ke kamar mandi sering atau mendesak,
urin keruh, dan ketidaknyamanan perut panggul atau lebih rendah. Demam
mungkin ada. Jika pielonefritis (infeksi ginjal) hadir, punggung atau nyeri perut,
mual dan muntah, demam tinggi, menggigil, berkeringat di malam hari, dan
kelelahan juga dapat terjadi. Gejala-gejala tersebut bisa mendahului
pengembangan urosepsis.
Sepsis yang telah lanjut memberikan gejala atau tanda-tanda berupa gangguan
beberapa fungsi organ tubuh, antara lain gangguan pada fungsi kardiovaskuler,
ginjal, pencernaan, pernapasan dan susunan saraf pusat.
Kriteria urosepsis:
Kriteria I : Terbukti bakteremia atau dicurigai sepsis dari keadaan klinik.
Kriteria II : Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)
Suhu tubuh 38
o
C atau 36
o
C
Takikardia 90 detak per menit
Tacypnea 20 nafas per menit
Alkalosis respiratorik PaCO
2
32 mm Hg
Leukosit 12.000 /mm
3
atau 4000 /mm
3

Kriteria III : Multiple Organ dysfunction syndrome (MODS)
Jantung, sirkulasi
tekanan darah sistolik arteri 99 mm Hg atau mean arterial preasure 70 mm
Hg, selama 1 jam walaupun carian adekuat atau resusitasi agen vasopressure
diberikan.
Ginjal
Produksi urin < 0,5 Ml/kgBB/ jam wlalupun resusitasi cairan adekuat.
Paru-paru
Tekanan parsial O
2
arterial (PaO
2
) 75 mm Hg (udara ruangan) atau
Konsentrasi inspirasi O
2
(FiO
2
) 250 (pernapasan bantuan)
Platelet
Thrombosit < 80.000/ mm
3
atau berkurang 50 % dalam 3 hari
Asidosis metabolic
Ph darah 7,30 atau plasma laktat 1,5 kali normal.
Encephalopathy
Somnolen, kebingungan, bergejolak, coma.

6. Manifestasi Klinis
Diagnosis dari urosepsis dibuat berdasarkan dari anamnesa, pemeriksaan
fisik, laboratorium dan rontgenologik. Dari anamnesa, data yang positif adalah
adanya demam, badan panas dan menggigil dengan didahului atau disertai gejala
dan tanda obstruksi aliran urin seperti nyeri pinggang, kolik dan atau benjolan
diperut atau pinggang. Hanya 1/3 pasien yang mengeluh demam dan menggigil
dengan hipotensi. Keluhan febris yang terjadi setelah gejala infeksi saluran
kencing bagian bawah yaitu polakisuria dan disuria juga sangat mencurigakan
terjadinya urosepsis. Demikian pula febris yang menyertai suatu manipulasi
urologik.
Pada pemeriksaan fisik yang ditemukan dapat sangat bervariasi berupa
takipneu, takikardi, dan demam, kemerahan dengan gangguan status mental. Pada
keadaan yang dini, keadaan umum penderita masih baik, tekanan darah masih
normal, nadi biasanya meningkat dan temperatur biasanya meningkat antara 38-
40
0
C.

7. Penatalaksanaan dan Terapi
Penanganan penderita urosepsis harus cepat dan adekuat. Pada prinsipnya
penanganan terdiri dari:
1. Penanganan gawat (syok) ; resusitasi ABC
2. Pemberian antibiotika
3. Resusitasi cairan dan elektrolit
4. Tindakan definitif (penyebab urologik)
Pemberian antibiotik sebagai penanganan infeksi ditujukan unuk eradikasi
kuman penyebab infeksi serta menghilangkan sumber infeksi. Pemberian
antibiotik harus cepat dan efektif sehingga antibiotika yang diberikan adalah yang
berspektrum luas dan mencakup semua kuman yang sering menyebabkan
urosepsis yaitu golongan aminoglikosida (gentamisin, tobramisin atau amikasin)
golongan ampicilin yang dikombinasi dengan asam klavulanat atau sulbaktam,
golongan sefalosforin generasi ke III atau golongan florokuinolon. Sefalosforin
generasi ke-3 dianjurkan diberikan 2 gr dengan interval 6-8 jam dan untuk
golongan cefoperazone dan ceftriaxone dengan interval 12 jam. Penelitian oleh
Naber et al, membuktikan bahwa pemberian antibiotik injeksi golongan
florokuinolon dan piperacillin/tazobaktam direkomendasikan untuk terapi
urosepsis. Penelitian selanjutnya oleh Concia dan Azzini terhadap levofloksasin
membuktikan bahwa levofloksasin sebagai terapi tambahan memiliki efek pada
ekskresi renal dan tersedia dalam bentuk injeksi intravena dan oral.
Resusitasi cairan, elektrolit dan asam basa adalah mengembalikan keadaan
tersebut menjadi normal. Urosepsis adalah penyakit yang cukup berat sehingga
biasanya oral intake menurun. Keadaan demam/febris juga memerlukan cairan
ekstra. Kebutuhan cairan dan terapinya dapat dipantau dari tekanan darah, tekanan
vena sentral dan produksi urine. Bila penderita dengan hipotensi atau syok dan
diberikan larutan kristaloid dengan kecepatan 15-20 ml/menit.
Bila terdapat gangguan elektrolit juga harus dikoreksi. Bila K serum 7 meq/L
atau lebih perlu dilakukan hemodialisa. Hemodialisa juga diperlukan bila terdapat
Kreatinin serum > 10 mg%, BUN > 100 mg% atau terdapat edema paru. Drainase
yang segera perlu dikerjakan bila terdapat timbunan nanah misalnya pyonefrosis
atau hidronefrosis berat (derajat IV). Pyonefrosis dan hidronefrosis yang berat
menyebabkan terjadinya iskemia sehingga mengurangi penetrasi antibiotika.
Drainase dapat dikerjakan secara perkutan atau dengan operasi biasa (lumbotomi).
Penderita yang telah melewati masa kritis dari septikemia maka harus secepatnya
dilakukan tindakan definitif untuk kelainan urologi primernya.









8. Concept Map




9. SOP Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
A. Definisi
Merupakan cara untuk mendeteksi perubahan sistem tubuh. Tanda vital
meliputi suhu tubuh, denyut jantung, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah.
B. Tujuan
Mendeteksi perubahan status hemodinamik dalam tubuh.
Mengetahui nilai tekanan darah.
Mengetahui frekuensi, irama, kedalaman pernapasan.
Menilai kemampuan fungsi napas.
Mengetahui denyut nadi.
Menilai kemampuan fungsi kardiovaskuler.
C. Persiapan Alat
Suhu Denyut
Nadi
Frekuensi Nafas Tekanan
Darah
Termometer
Bengkok
Kertas
Tissue
Buku catatan
Pena
Hand scoen
Arloji
Buku
catatan
Pena
Hand scoen
Arloji
Buku catatan
Pena
Hand scoen
Tensimeter
Stetoskop
Buku catatan
Pena
Hand scoen

D. Prosedur Kerja:
Pengukuran Suhu:
Jelaskan prosedur, salam terapeutik.
Mencuci tangan.
Gunakan sarung tangan (hand scoen).
Atur posisi pasien.
Tentukan letak bawah lidah (jika dilakukan suhu oral). Anjurkan pasien
menutup mulut selama 3-5 menit.
Pakaian diturunkan di bawah gluteal jika dilakukan suhu rektum. Tentukan
manometer dan oleskan ujung termometer dengan alkohol.
Tentukan letak aksila dan bersihkan daerah axila dengan tissue jika dilakukan
suhu aksila. Letakkan termometer pada area axila den lengan pasien fleksi
diatas dadan pasien dan tahan selama 3-10 menit.
Bersihkan termometer dengan kertas tissue.
Cuci dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih lalu keringkan.
Lepas sarung tangan dan mencuci tangan.
Dokumentasikan.

Pengukuran Denyut Nadi:
Jelaskan prosedur, salam terapeutik.
Mencuci tangan.
Gunakan sarung tangan (hand scoen).
Atur posisi pasien.
Letakkan kedua tangan telentang di sisi tubuh.
Tentukan letak arteri.
Periksa denyut nadi dengan menggunakan jari telunjuk, tengah dan jari
manis. Tentukan frekuensi permenit, keteraturan irama, dan kekuatan
denyutan.
Lepas sarung tangan dan mencuci tangan.
Dokumentasikan.

Pengukuran Frekuensi Nafas:
Jelaskan prosedur, salam terapeutik.
Mencuci tangan.
Gunakan sarung tangan (hand scoen).
Atur posisi pasien.
Hitung frekuensi dan irama pernapasan.
Lepas sarung tangan dan mencuci tangan.
Dokumentasikan.

Pengukuran Tekanan Darah:
Jelaskan prosedur, salam terapeutik.
Mencuci tangan.
Gunakan sarung tangan (hand scoen).
Atur posisi pasien.
Letakkan lengan yang hendak diukur pada posisi telentang.
Lengan baju dibuka.
Pasang manset pada lengan kanan atau kiri atas diatas fossa cubiti. Jangan
terlalu ketat dan jangan terlalu longgar.
Tentukan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinistra.
Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba.
Pompa terus sampai manometer setinggi 20mmHg lebih tinggi dari titik
radialis tidak teraba.
Letakkan difragma stetoskop diatas nadi brakhialis dan dengarkan.
Kempeskan balon udara manset secara perlahan dan berkesinambungan
dengan memutar sekrup pada pompa udara berlawanan dengan jarum jam.
Catat tinggi air raksamanometer saat pertamakali terdengar kembali denyut.
Catat tinggi air raksa pada manometer
Suara Korotkof 1: menunjukkan besarnya tekanan sistolik secara auskultasi.
Suara Korotkof IV/V : menunjukkan besarnya tekanan diastolik secara
auskultasi.
Lepas sarung tangan dan mencuci tangan.
Dokumentasikan.

10. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian

1. Identitas
Cantumkan biodata klien secara lengkap yang mencakup umur, jenis
kelamin, suku bangsa.
2. Keluhan utama
Klien datang ke Rumah Sakit dengan keluhan menggigil, demam, nyeri
pinggang, kolik dan atau benjolan diperut atau pinggang, polisuria, disuria
dan penurunan kesadaran
3. Riwayat penyakit
Faktor predisposisi timbulnya terdiri dari infeksi bakteri non spesifik
(misalnya E coli, Pseudomonas, Proteus, Klebsiella), PMS (Penyakit
Menular Seksual), virus (misalnya Mumps), TB (Tuberculosis), penyakit
infeksi lain (seperti Brucellosis, Coccidioidomycosis, Blastomycosis,
Cytomegalovirus, Candidiasis, CMV pada HIV), obstruksi (seperti BPH,
malformasi urogenital), vaskulitis (seperti Henoch-Schnlein purpura pada
anak-anak), penggunaan Amiodarone dosis tinggi, prostatitis, tindakan
pembedahan seperti prostatektomi, kateterisasi dan instrumentasi, dan
blood borne infection.
4. Data fokus :
Data subjektif :
- Klien mengeluh demam dan menggigil.
- Klien mengatakan setiap berkemih dirasakan seperti ada rasa terbakar
dan perih.
- Klien mengatakan frekuensi berkemihnya meningkat
- Klien mengeluh nyeri ketika berkemih
- Klien mengeluh nyeri pada bagian pinggang dan terdapat benjolan di
perut atau pinggang
- Klien mengeluh nyeri saat melakukan hubungan seksual
- Klien mengungkapkan perubahan dalam respon seksual
- Klien mengungkapkan rendahnya batas kemampuan karena penyakit
- Klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya
Data objektif :
- Klien tampak meringis kesakitan
- Klien tampak gelisah
- Skala nyeri klien 1-10
- Suhu tubuh klien > 38
o
C
- Denyut nadi klien > 100 x/menit
- Klien tampak menggigil
- Kulit klien teraba hangat
- Frekuensi nafas > 20x/menit
- Terjadi penurunan status mental
5. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosa urosepsis adalah
adanya lekositosis dengan hitung deferensial ke kiri, lekosituria dan
bakteriuria.
Untuk menegakkan diagnosis urosepsis harus dibuktikan bahwa
bakteri yang berada dalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri
yang ada dalam saluran kemih (kultur urin).
Kultur urin disertai dengan test kepekaan antibiotika sangat penting
untuk menentukan jenis antibiotika yang diberikan.
Pemeriksaan rontgen yang sederhana yang dapat dikerjakan adalah
foto polos abdomen. Pemeriksaan ini membantu menunjukkan adanya
kalsifikasi, perubahan posisi dan ukuran dari batu saluran kemih yang
mungkin merupakan fokus infeksi. Yang diperhatikan pada hasil foto
adalah adanya bayangan radio opak sepanjang traktus urinarius,
kontur ginjal dan bayangan/garis batas muskulus psoas.
Pemeriksaan pyelografi intravena (IVP) dapat memberikan data yang
penting dari kaliks, ureter, dan pelvis yang penting untuk menentukan
diagnosis adanya refluk nefropati dan nekrosis papilar. Bila
pemeriksaan IVP tidak dapat dikerjakan karena kreatinin serum terlalu
meningkat, maka pemeriksaan ultrasonografi akan sangat membantu
menentukan adanya obstruksi dan juga dapat untuk membedakan
antara hidro dan pyelonefrosis.
Pemeriksaan CT scan dan MRI.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan kerusakan kontrol suhu sekunder akibat
epididimitis.
2. Nyeri akut berhubungan dengan adanya pus saat berkemih.
3. Infeksi
4. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh akibat
proses penyakit akibat epididimitis.
5. Kurang pengetahuan mengenai konsep penyakit dan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpapar informasi .

C. Intervensi
1) Hipertermia berhubungan dengan kerusakan kontrol suhu sekunder akibat
epididimitis.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan suhu
tubuh pasien kembali normal dengan kriteria hasil :
Suhu tubuh klien dalam rentang normal (36,5
o
C-37,5
o
C)
Klie tidak tampak menggigil
Klien melaporkan panas badannya turun
Tidak tampak pembengkakan pada skrotum klien
Tidak terdapat kemerahan di kulit sekitar skrotum klien
Nadi klien dalam batas normal (60-100 x/menit)
Intervensi:
a. Monitor suhu tubuh, tekanan darah, nadi, dan respirasi secara berkala
(minimal tiap 2 jam).
Suhu diatas 37,5
o
C menunjukkan proses penyakit infeksius akut.
Menggigil sering mendahului puncak suhu.
b. Pantau suhu lingkungan, batasi penggunaan selimut.
Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan
suhu mendekati normal.
c. Berikan kompres hangat.
Membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat membantu
mengurangi demam.
d. Anjurkan klien untuk mempertahankan asupan cairan adekuat.
Untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan cairan karena suhu tubuh
yang tinggi.
e. Berikan antipiretik dan antibiotic sesuai indikasi.
Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada
hipotalamus.

2) Nyeri akut berhubungan dengan adanya pus saat berkemih.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri
dapat terkontrol dengan kriteria hasil :
Klien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol
Klien tidak tampak meringis
Klien tidak tampak gelisah
Klien melaporkan skala nyeri berkurang (skala nyeri 1-3), hilang
(skala nyeri 0), atau dapat dikontrol
Nadi klien dalam rentang normal (60-100 x/menit).
Intervensi:
a. Kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi, waktu, frekuensi, kualitas,
faktor pencetus, dan intensitas nyeri
Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis
tindakannya.
b. Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk nyeri klien.
Dengan mengetahui faktor-faktor yang dapat memperburuk nyeri
klien, dapat mencegah terjadinya faktor pencetus dan menentukan
intervensi apabila nyeri terjadi.
c. Eliminasi faktor-faktor pencetus nyeri
Dengan mengeliminasi faktor-faktor pencetus nyeri, dapat
mengurangi risiko munculnya nyeri (mengurangi awitan terjadinya
nyeri)
d. Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya teknik relaksasi, guided
imagery, terapi music, dan distraksi) yang dapat digunakan saat nyeri
datang.
Dengan teknik manajemen nyeri, klien bisa mengalihkan nyeri
sehingga rasa nyeri yang dirasakan berkurang.
e. Kolaborasi pemberian analgetik.
Pemberian analgetik dapat memblok reseptor nyeri.

3) Infeksi
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak
ada tanda-tanda infeksi dengan kriteria hasil :
Tidak terjadi komplikasi infeksi.
Intervensi:
a. Pantau tanda dan gejala infeksi lanjut
Agar dapat memberikan intervensi yang tepat untuk klien
b. Pantau tanda-tanda vital klien secara berkala
Takikardia, takipnea, demam, nadi cepat dan lemah menunjukkan
terjadi sindroma peradangan sistemik.
c. Pantau tanda-tanda sepsis.
Sepsis menandakan radang sistemik dengan gejala demam, menggigil,
nadi lemah dan cepat, hipotensi, lemah serta gangguan mental.
d. Kolaborasi pemberian antibiotic
Agen antibiotik membantu mengeliminasi bakteri sebagai penyebab
penyakit klien

4) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh akibat
proses penyakit akibat epididimitis.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan fungsi
seksual klien efektif dengan kriteria hasil :
Fungsi seksual
Klien mengungkapkan penerimaan diri terhadap penyakit
Klien mengungkapkan percaya diri dengan fungsi seksualnya
Adaptasi terhadap ketidakmampuan fisik
Klien mampu beradaptasi terhadap keterbatasannya
Mengungkapkan penurunan stress akibat ketidakmampuan fungsi
seksual
Intervensi :
Konseling seksual
a. Bangun hubungan terapeutik dengan klien.
Hubungan terapeutik yang baik dapat membangun kepercayaan klien
terhadap perawat untuk mengungkapkan masalah seksual klien.
b. Berikan privasi dan pastikan kerahasiaan terhadap masalah klien.
Menjaga privasi klien sangat penting karena masalah seksual
merupakan masalah yang sensitive.
c. Mulailah dari topic yang kurang sensitive ke paling sensitive.
Pembicaraan dari topic yang kurang sensitive membantu agar klien
merasa nyaman mengungkapkan masalahnya.
d. Diskusikan efek penyakit terhadap respon seksual.
Pemberian penkes mengenai proses penyakit membantu klien
memahami penyebab disfungsi seksualnya.
e. Diskusikan pengobatan yang diperlukan klien.
Pengobatan pada penyakit klien atau pemilihan pengobatan masalah
seksual perlu didiskusikan agar klien merasa terlibat dan aktif dalam
pengobatannya.
Manajemen perilaku : seksual
a. Berikan sex education tentang hubungan fungsi seksual terhadap
fungsi penyakit.
Pemberian penkes mengenai proses penyakit membantu klien
memahami penyebab disfungsi seksualnya.
b. Diskusikan pada pasien secara privasi mengenai penerimaan kondisi
seksual.
Memfasilitasi klien untuk penerimaan kondisi seksual klien untuk
tidak terlalu stress dan meningkatkan percaya diri klien mengenai
masalh seksualnya.

5) Kurang pengetahuan mengenai konsep penyakit dan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai penyakit
epididimitis.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien
memiliki pengetahuan adekuat tentang epididimitis dengan kriteria hasil :
Klien dapat memahami dan menjelaskan kembali penyakit
epididimitis, tanda dan gejala epididimitis
Klien dapat menyebutkan penatalaksanaan termasuk pengobatan
epididimitis.
Intervensi:
a. Mulai memberikan penjelasan ketika klien menunjukkan kesiapan
untuk belajar.
Kesiapan klien untuk belajar mempermudah klien dalam proses
pembelajaran.
b. Memberikan klien informasi dasar tentang epididimitis.
Informasi yang diberikan dapat memberikan klien gambaran tentang
anatomi fisiologi serta komplikasi yang potensial terjadi.
c. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya dan diskusi.
Bertujuan untuk mengetahui informasi yang kurang dimengerti oleh
klien.
d. Jawab pertanyaan klien dengan singkat dan jelas.
Untuk mempermudah klien mengerti akan jawaban yang kita berikan.

D. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang tercantum
pada rencana keperawatan yang menetapkan waktu dan respon klien.

E. Evaluasi
Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses keperawatan semua tahap
proses keperawatan harus dievaluasi. Hasil asuhan keperawatan dengan sesuai
dengan tujuan yang telah di tetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil
yang di harapkan atau perubahan yang terjadi pada klien.

11. Daftar Pustaka
Budi, Kusuma. 2001. Ilmu Patologi..Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Juall. 1995. Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek
Klinik Edisi 6. Jakarta: EGC.
Ganong, F. William. 1998.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17. Jakarta:
EGC.
Marrilyn, E. Doengus. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Elizabet J. Corwin, 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
E, Oswari. 2000. Bedah dan Perawatanya. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
Gale,Danielle RN, MS. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta:
EGC.
Smelster, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 2.
Jakarta: EGC.