Anda di halaman 1dari 5

Nama : AHMAD SURKANI

NIM : 1104105010043
Tugas : Etika Profesi dan Bisnis

1. Apa definisi (A) etika, (B) moral dan (C) akhlaq.
2. Cari contoh kasus yang menyangkut (A) etika, (B) moral dan (C) akhlaq. Beri komentar
anda dari sudut pandang psikologi, agama, budaya atau lainnya.
Jawab.
1. A. Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu
ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu :
tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak,
perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh
Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis,
etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat
kebiasaan (K.Bertens, 2000).
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ipem4430/etika21.htm
B. Secara etimologis, kata moral berasal dari kata mos dalam bahasa Latin, bentuk
jamaknya mores, yang artinya adalah tata-cara atau adat-istiadat. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (1989: 592), moral diartikan sebagai akhlak, budi pekerti, atau susila.
Secara terminologis, terdapat berbagai rumusan pengertian moral, yang dari segi
substantif materilnya tidak ada perbedaan, akan tetapi bentuk formalnya berbeda. Widjaja
(1985: 154) menyatakan bahwa moral adalah ajaran baik dan buruk tentang perbuatan dan
kelakuan (akhlak). Al-Ghazali (1994: 31) mengemukakan pengertian akhlak, sebagai
padanan kata moral, sebagai perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa
manusia dan merupakan sumber timbulnya perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah
dan ringan, tanpa perlu dipikirkan dan direncanakan sebelumnya.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/DASARDASAR%20PENGERTIAN%20MORAL.
pdf
C. Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu
keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan
bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah
laku, atau tabiat.
Pengertian akhlak menurut para ahli:
Pengertian Akhlak Menurut Abu Hamid Al Ghazali: Akhlak adalah satu sifat yang
terpatri dalam jiwa yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa
memikirkan dirinya dan merenung terlebih dahulu.
Pengertian Akhlak Menurut Muhammad bin Ali Asy Syariif Al Jurjani: Akhlak
adalah sesuatu sifat (baik atau buruk) yang tertanam kuat dalam diri yang darinya
terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa perlu berpikir dan
merenung.
Pengertian Akhlak Menurut Ahmad bin Mushthafa: Akhlak adalah ilmu yang darinya
dapat diketahui jenis-jenis keutamaan dan keutamaan itu adalah terwujudnya
keseimbangan antara tiga kekuatan; kekuatan berpikir, kekuatan marah, dan kekuatan
syahwat.
Pengertian Akhlak Menurut Ibnu Maskawaih: Akhlak adalah 'hal li an-nafsi
daa'iyatun lahaa ila af'aaliha min goiri fikrin walaa ruwiyatin' yakni sifat yang
tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
http://www.pengertianahli.com/2013/10/pengertian-akhlak-menurut-para-ahli.html

2. Contoh kasus yang menyangkut:
A. Kasus Etika, (Mulyana W Kusuma)
Kasus ini terjadi sekitar tahun 2004. Mulyana W Kusuma sebagai seorang anggota KPU
diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan berkaitan
dengan pengadaan logistic pemilu. Logistic untuk pemilu yang dimaksud yaitu kotak
suara, surat suara, amplop suara, tinta, dan teknologi informasi. Setelah dilakukan
pemeriksaan, badan dan BPK meminta dilakukan penyempurnaan laporan. Setelah dilaku
kan penyempurnaan laporan, BPK sepakat bahwa laporan tersebut lebih baik dari pada
sebelumnya, kecuali untuk teknologi informasi. Untuk itu, maka disepakati bahwa
laporan akan diperiksa kembali satu bulan setelahnya. Setelah lewat satu bulan, ternyata
laporan tersebut belum selesai dan disepakati pemberian waktu tambahan. Di saat inilah
terdengar kabar penangkapan Mulyana W Kusuma. Mulyana ditangkap karena dituduh
hendak melakukan penyuapan kepada anggota tim auditor BPK, yakni Salman
Khairiansyah. Dalam penangkapan tersebut, tim intelijen KPK bekerja sama dengan
auditor BPK. Menurut versi Khairiansyah ia bekerja sama dengan KPK memerangkap
upaya penyuapan oleh saudara Mulyana dengan menggunakan alat perekam gambar pada
dua kali pertemuan mereka. Penangkapan ini menimbulkan pro dan kontra. Salah satu
pihak berpendapat auditor yang bersangkutan, yakni Salman telah berjasa mengungkap
kasus ini, sedangkan pihak lain berpendapat bahwa Salman tidak seharusnya melakukan
perbuatan tersebut karena hal tersebut telah melanggar kode etik akuntan.
Komentar:
Dalam kasus ini, dapat dinyatakan adalah bahwa tindakan
kedua belah pihak, pihak ketiga
(auditor), maupun pihak penerima kerja, yaitu KPU, sama-sama tidak etis. Tidak etis
seorang auditor melakukan komunikasi kepada pihak yang diperiksa atau pihak penerima
kerja dengan mendasarkan pada imbalan sejumlah uang sebagaimana terjadi pada kasus
Mulyana W Kusuma, walaupun dengan tujuan mulia, yaitu untuk mengungkapkan
indikasi terjadinya korupsi di tubuh KPU. Dari sudut pandang etika profesi, auditor
tampak tidak bertanggung jawab, yaitu dengan menggunakan jebakan imbalan uang
untuk menjalankan profesinya. Auditor juga tidak punya integritas ketika dalam benaknya
sudah ada pemihakan pada salah satu pihak, yaitu pemberi kerja dengan
berkesimpulan bahwa telah terjadi korupsi. Dari sisi independensi dan objektivitas,
auditor BPK sangat pantas diragukan. Berdasar pada prinsip hati-hati, auditor BPK telah
secara serampangan menjalankan profesinya. Sebagai seorang auditor BPK seharusnya
yang dilakukan adalah bahwa dengan standar teknik dan prosedur pemeriksaan, auditor
BPK harus bisa secara cermat, objektif, dan benar mengungkapkan bagaimana aliran dana
tersebut masuk ke KPU dan bagaimana dana tersebut dikeluarkan atau dibelanjakan.
Dengan teknik dan prosedur yang juga telah diatur
dalam profesi akuntan, pasti akan terungkap hal-hal negatif,
termasuk dugaan korupsi kalau memang terjadi. Tampak sekali bahwa auditor BPK tidak
percaya terhadap kemampuan profesionalnya, sehingga dia menganggap untuk
mengungkap kebenaran bisa dilakukan segala macam cara, termasuk cara-cara tidak etis,
sekaligus tidak moralis sebagaimana telah terjadi, yaitu dengan jebakan. Dalam kasus ini
kembali lagi kepada tanggung jawab moral seorang auditor di seluruh Indonesia,
termasuk dari BPK harus sadar dan mempunyai kemampuan teknis bahwa betapa berat
memegang amanah dari rakyat untuk meyakinkan bahwa dana atau uang dari rakyat yang
dikelola berbagai pihak telah digunakan sebagaimana mestinya secara benar, akuntabel,
dan transparan, maka semakin lengkap usaha untuk memberantas korupsi di negeri ini.
http://www.academia.edu/5861505/5_Kasus_Pelanggaran_Etika_Profesi

B. Kasus Moral (Demo Mahasiswa Tuntut SBY - Boediono Turun Tahta)
Jakarta, 28 Januari 2010 ribuan massa terus memadati halaman luar istana merdeka,
mereka terus merengsek menuju gedung megah tersebut dari tiga penjuru, Jl.
Medan Merdeka utara, Jl. Medan merdeka Barat dan Jl. Majapahit. Jalan dari arah Jl.
Medan Merdeka Utara di tutup oleh massa dengan berdiri membentuk Blokade menutup
jalan tesebut. Demikian juga massa menutup jalan dari arah harmoni menuju Medan
merdeka barat dengan membentuk blokade juga.
Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (G I B) terlibat aksi dorong - dorongan
dengan aparat kepolisian di depan kantor memko kesra, massa yang mengusung SBY
GAGAL ini terus berusaha menerobos istana Negara.
Selain itu, demonstran komite aksi pemuda anti korupsi (KAPAK) akhirnya bergerak
menuju depan istana untuk bergabung bersama massa GIB. Kemudian dua buah peti mati
imitasi yang bertuliskan Alm Boediono dan Alm. Sri mulyani mereka lempar besama
enam ekor tikus putih yang terdapat dalam sangkar melewati brikade brimob di depan
istana. Dalam aksi ini seorang polisi yang sedang menghalau massa terkena pukulan kayu
dari demonstran di bagian pelipis sebelah kanan. Kemudian dia langsung di larikan ke
RS. Terdekat.
Komentar:
Dari kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa seharusnya hal-hal seperti itu tidak harus
terjadi. Seharusnya seorang Mahasiswa harus berpikir dengan matang, jangan asal demo
dan menyebabkan kekerasan dalam berdemo. Alangkah baiknya jika dalam
menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik-baik. Tidak perlu menerobos istana negara
atau menghancurkan bangunan, masih ada opsi lain untuk menyampaikan aspirasi
masyarakat contohnya dengan menulis artikel di surat kabar.
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-45422-Esay-
KERUSAKAN%20MORAL%20DAN%20GAYA%20HIDUP%20REMAJA%20INDO
NESIA%20DI%20ERA%20GLOBALISASI.html

C. Kasus Akhlak
Pada tahun 2006, pasien narkoba remaja di Rumah Sakit yang khusus menangani kasus
ketergantungan narkoba hanya 2000-an orang. 5 tahun kemudian, yakni pada tahun 2011,
jumlahnya sudah naik empat kali lipat. Parahnya, rata-rata pecandu narkoba berusia di
bawah 19 tahun. Tak heran jika tahun 2006, Badan Narkotik Nasional (BNN)
mengumumkan bahwa 80% dari 3,2 juta pecandu narkoba adalah remaja dan pemuda.
Sementara itu, angka siswa sekolah yang terjerat narkoba juga terus meningkat dan dalam
situasi memprihatinkan. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat sebanyak 110.870
pelajar SMP dan SMA menjadi pengguna Narkotika. BNN juga melaporkan 12.848 anak
siswa SD di Indonesia terindentifikasi mengkonsumsi Narkoba.
Komentar:
Dari kasus ini, sungguh sangat disayangkan remaja di Indonesia yang telah mengalami
krisis akhlak. Jika ditahun 2006 pasien remaja narkoba sebanyak 2000-an orang dan lima
tahun kemudian pasien mencapai empat kali lipat, ini menandakan akhlak remaja semakin
menipis. Mungkin hanya beralaskan ingin coba-coba sehingga menjadi pecandu, dan
akhirnya memperkenalkan kepada teman-temannya dan begitu seterusnya. Sehingga
remaja sekarang sangat rentan menjadi pecandu narkoba.
Seharusnya orang tua dan guru juga harus menasehati dan memberi waktu lebih kepada
anak agar tidak terpengaruh oleh teman-temannya, dan akhlak anak akan semakin baik.
http://arasirait.blogspot.com/2013/03/kemrosotan-akhlak-anak-bangsa.html