Anda di halaman 1dari 52

i

ii

iii

Kumpulan Cerpen Bukti Cinta











Endik Koeswoyo 2010









iv

KATA PENGANTAR

Sebuah kumpulan cerpen yang begitu jujur, dikemas dengan gaya
tersendiri. Unik layaknya seseorang yang sedang curhat. J ika kita tidak
jeli, bisa jadi kita terjebak ke dalam alam kenyataan bahwasanya,
itulah kenyataan. Fiksi yang unik dan ekspresif ini terkadang begitu
kaku, lugu namun acapkali muncul sastra yang menggebu. J ika anda
belum yakin dengan pasangan anda, sebaiknya anda segera membaca
kumpulan cerpen ini, bagaimana penulis membuktikan cintanya? Benarkah
ketika seorang mencintai pasangannya dia tidak akan mendua?
Harike51

HARI KE 51
#Bukti Cinta

Lama, bahkan bisa dikatakan lama sekali dan layak pula disebut lama
banget rasanya. Walau kata banget sebenarnya tidak aku suka. 15 J uni aku
meninggalkan J ogja dengan segala keindahannya, sahabat, teman, kekasih
hingga mobil kesayangan itu harus ditinggalkan begitu saja. Tanpa persiapan
yang matang, tanpa perhitungan yang jeli, langsung berangkat begitu saja
meninggalkan semua yang tercinta. Apa yang terjadi, terjadilah. Semua
kejadian, baik itu indah, pahit, sedih dan emosi muncul silih berganti. Dari
kehujanan malam hari, sampe kebanjiran menjelang subuh hingga laptop, bb
dan handphone mati total. But. O yeah itulah hidup kawan, itu dilakukan
demi cinta. Tidak hanya aku sendiri yang mengalami hal itu, banyak
sahabatku di sini yang sering kusebut sebagai pejuang cinta mengalami hal
yang sama. Memendam rindu untuk keluaraga tercinta, untuk anak tercinta,
untuk ibu tercinta, keluarga tercinta bahkan tetangga tercinta. Oh ya satu lagi,
ada yang meninggalkan Tiga istri tercintanya, aw aw aw.
Samarinda sebulan penuh, dari tanggal 15 J uni hingga tanggal 15 J uli,
tanpa kenangan indah, kecuali 5 menit di depan ATM BNI (Lihat catatan
sebelumnya. Red). Bontang dari tanggal 16 J uni hingga 27 J uni, pahit baik
dari segi lahir dan batin. Balikpapan, kota ketiga ini sudah mulai
menyenangkan ada pantai di belakang rumah kontrakan walau kalau pagi
kadang-kadang takut karena ombaknya sampai di bawah rumah ketika
pasang. Ya indah, lampu-lampu kapal begitu indah dengan pantulannya ke air
laut yang bergelombang kecil. Bintang, rembulan dan matahari sore tak perlu
lagi aku melukiskan keindahannya.
Tiket pulang ke J ogja belum jadi terpegang hari ini karena uang yang
masuk baru malam hari dan aku tidak sempat ke Bank. Tentang cinta? Ah
Harike51

masih sama, hanya rasa rindu yang menjadi raja dalam hati. Oh maaf, saya
kok malah curhat? OK OK, kita mulai kisah ini dengan tema sebuah kaos
putih. Ada apa dengan kaos putih itu? Begini kisahnya.
Mal Matahari Balikpapan, aku berjalan dengan tenang, dengan senyum
dan tatapan mata ramah. Tapi aku tidak sendiri, ada lelaki tegap yang
layaknya Bodyguard berjalan di sampingku. Bukan-bukan, dia bukan
Bodyguardku kok, aku bukan artis atau pejabat yang butuh pengawalan. Hem
coklat, celana kain hitam itu aku padu dengan spatu kulit coklat baru yang aku
dapat dari seorang penggemar novelku. Mungkin karena tubuh sahabatku itu
atletis yang membuat dirinya layak disebut bodyguard.
Asem, aku koyok bodyguardmu wae! kata temanku tiba-tiba sambil
mempercepat langkahnya dan kini benar-benar sejajar denganku.
Aku diam, hanya meliriknya sambil tersenyum. Tujuan kami hanyalah
melepas penat setelah seharian di lokasi pameran. Cuci mata, atau
barangkali memang ingin jalan-jalan biar tau kota Balikpapan lebih jauh. Mal
menjadi tujuan utama karena yang kami tau hanya mall itu yang terdekat.
Escalator demi escalator kami naiki, hingga sampai ke Matahari yang entah
itu lantai berapa.
Aneh memang malam ini, tiba-tiba saja aku ingin membeli celana jeans,
rompi pesanan kekasih dan entah juga tiba-tiba aku menjuhut dua buah kaos
putih bertuliskan LO dan VE jadi kalau digabung jadi LOVE. Pret! gumanku
dalam hati ketika menyandingkannya dan membentuk kalimat LOVE. Bukan
kalimat itu yang membuatku tertarik membelinya, tapi karena harganya hanya
19.000,- perpotong. Bukan soal LOVE atau apalah artinya. Loh ke mana
Bodyguard-ku? Eh Kemana temanku tadi? Hilang ke mana dia? aku
tengok kanan dan kiri. Sementara wanita cantik di depanku masih sibuk
melayani seorang pembeli lagi.
Maaf kak, bayarnya pakai kartu atau cash? suara itu mengagetkanku.
Harike51

Kartu debit bisa? gayaku berlagak walau saldo atmku tinggal 150.000.
Maaf kak, sudah offline karena 5 menit lagi kita sudah tutup, sahutnya
meminta maaf sambil melontarkan sisa-sisa senyum manisnya yang sudah
mulai getir. Capek seharian tersenyum dengan ratusan orang, dan itu senyum
tak tulus.
Oh cash juga taka pa-apa, tapi kalau cashnya ga cukup, ga papakan
kalau tidak dibeli semua? aku menunjuk 5 item yang sudah mulai
dihitungnya.
Iya Kak, sahutnya ramah, sekali lagi ramah yang dibuat-buat.
Aku masih celingukan mencari sahabatku yang tak kelihatan batang
hidupnya. Di mana? Ke mana? Ngapain sih?
Oh itu dia datang, dengan langkah tegapnya menghampiriku. Tubuhnya
atletis, otot-ototnya kelihatan macho dengan kaos ketat yang pakainya. Kalau
dari jauh dia mirip-mirip Fauzi Baadilah. Sumpah.
Koas? tanyaku padanya.
Sahabatku tak menjawab, dia memilih-milih kaos yang harganya
19.000,- tadi. Sebuah kaos dipilihnya lalu diberikan padaku dan aku teruskan
ke kasir yang sama. Satu lagi mbak, lanjutku.
Gadis itu menatapku tajam, seperti mengingat-ingat seseorang, atau
dia lebih tertarik dengan sahabatku yang pendiam itu? Entahlah. Kini aku
tinggal berhadapan dengannya sendiri, sahabatku sudah mundur beberapa
langkah, menepi pada jarah yang pas untuk tetap mengamatiku.
Itu pengawalnya ya mas? Tanya mbak kasir itu tiba-tiba.
Aku menoleh kanan kiri, tidak ada orang lain. Masak dia memangilku
mas? Bukankah matahari identi memanggil kosumen mudanya dengan
panggilan Kakak. Sekali lagi aku memastikan.
Harike51

Ehmm saya? aku menunjuk diriku sendiri.


Iya mas, kayaknya wajah mas ga asing deh, lanjutnya mulai berani.
Aku sekali lagi menengok kanan-kiri. Sepi, mungkin sudah mulai diusir
oleh security mall. Karena jam tangan TEC bajakan yang aku kenakan sudah
menunjukkan puluk 22.02 WITA. Mall seharusnya sudah tutup dan wajar jika
mbak kasir berani memanggilku mas kami sekarang sudah diluar jam kerja.
Teman, bukan bodyguard, sahutku pelan sembari menatapnya
sesaat. Cantik.
Senyumnya kini lebih tulus, wajah lelahnya mulai merona merah ketika
mata kami beradu pandang.
Itu dari tadi mengamati mas terus, katanya sekali lagi.
Oh ya ga papa to? sahutku sekenanya.
460.500 mas, adakan cashnya? dia memastikan sekali lagi sebelum
menekan tombol enter sebagai tanda setuju.
Insyaallah, aku membuka tas notebook kecilku, lalu mengambil uang
sekenanya, lalu menyodorkan padanya.
Satu, dua, tiga, empat, lima. Limaratus ya mas uangnya, katanya
penuh pasti.
Tombol enter ditekannya dengan pasti. Bunyi mesin printer khas mall
itu menjadi pertanda usainya transaksi kami.
Maaf mas, kembaliannya tidak ada! dia tampak bingung karena uang
yang tersisa semuanya pecahan 50 dan 100 ribuan.
Lets go Broo, kita pulang! kata sahabatku yang mungkin sudah tak
sabar menunggu.
Harike51

Aku tak menjawab, langsung saja kusahut tas palstik warna hijau tua
itu. Dan aku ikuti langkah sahabatku yang mirip bodyguard itu.
Kak? Kak?
Panggilan itu tidak aku hiraukan, kami terus melangkah menuju pintu
keluar, menuruni eskalator hingga sampai dilantai bawah. Melangkah menuju
ke jalan raya, menunggu angkutan.
Melawai Pak? Tanya sahabatku pada sopir angkot yang berhenti
karena kami melambaikan tangan. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan
anggukan.
Tak lebih dari 10 menit kami sudah tiba di tujuan.
Ngopi dulu deh! gumanku pelan setelah turun dari angkot.
Boleh, sahutnya antusias.
Sudut agak remang, kursi plastik dan alunan musik agak keras
melantun dari gerobak kecil di trotoar jalan itu. Rame juga, cukup untuk
hiburan tambahan. Kopi dan Capucino kami pesan. Belum datang pesanan
itu, seorang gadis berseragam putih tulang tiba-tiba berdiri tepat disampingku.
Menyodorkan sesuatu padaku. Belum sempat hilang rasa kagetku, sahabatku
yang tadi sudah mendahului untuk menerima sodoran gadis itu.
Apa ini? Tanya sahabatku.
Uang kembalian yang tadi, maaf mengganggu, saya permisi. Dia
langsung menjauh, menuju sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempat
duduk kami.
Apa tuh? tanyaku setelah mobil Avansa hitam itu menghilang pada
tikungan berikutnya.
Nota sama uang kembalian, memang tadi kurang kembaliannya?
Tanya sahabatku memastikan.
Harike51

Iya, sahutku sembari menghitung uang kembalian itu. Satu, dua


39.500.- kemudian kuletakkan uang itu di meja plastik.
Hei, ada nomer HP! sahabatku menjuhut nota belanja itu.
Di balik nota itu ada sebait nama dan sebaris angka-angka, nomer
handphone. Kuamati sekali lagi, benar, nama dan nomer handphone. Pasti ini
milik gadis itu. Perang batin berkecamuk, jika aku ambil ponsel dan aku
menelphonenya, pasti lumayan bisa buat teman ngobrol. Dan tidak menutup
kemungkinan aku bisa makan malam dengannya, atau malah. Ah tidak. Aku
punya kakekasih hati. Aku tadi membelikannya kaos putih dan rompi sebagai
oleh-oleh. Tidak-tidak, aku tidak boleh mendua. Walau aku tau, mencintai
bukan berarti tak menduakan. Mencintai itu mudah, tapi yang sulit itu menjadi
setia. Mencintai itu gampang, tapi yang sulit adalah tidak tertarik kepada
wanita lain. Aku remas nota itu, lalu melemparnya ke laut.


EtikaLautSurut

ETIKA LAUT SURUT


#Bukti Cinta

Gelombang laut mulai menyurut dengan dengan pelan namun pasti.
Batu-batu karang mulai kelihatan pelan-pelan semakin jelas. Secangkir kopi
masih menjadi sahabat setia pagi ini. Kangen. Mataku jauhmemandang, kea
rah sebuah pulau kecil dengan pohon-pohon yang lebat, sendiri, dan aku tak
pernah mengetahui apa nama pohon itu. Sepertinya dia sendiri, sepertinya
juga tidak. Ada pohon lain di pulau itu. Langit biru membentul landscape yang
indah, dengan sesekali pesawat melintas dengan deru yang cukup kencang.
Sesekali gelombang itu membesar dengan tiba-tiba dengan melintasnya
sebuah kapan nelayan. Mataku berganti arah, menuju ke seorang pria
dengan jala yang disandangnya dibahu. Sendari tadi belum juga dia
melemparkan jalanya ke laut. Matanya masih nanar, entah melihat apa.
Mungkin dia masih malas untuk melemparkan jalanya, atau dia masih takut
dingin air laut pagi ini. Dia masih berdiri di tepi pantai ini.
Masih terus aku amati pria nelayan yang tak juga bergerak itu. Pelan
namun pasti aku mendekat, mencoba mencari celah untuk menyepanya.
Rasa penasaran di hati membuatku mau-tak mau ikut mendekatkan diri ke air
yang memang dingin itu. Angin membelaiku semakin penuh nafsu, dingin
membuat bulu-bulu tanganku meregang tegang.
Dapat banyak Pak? tanyaku tiba-tiba dan itu membuatnya terkejut.
Belum Mas, basah saja belum, sahutnya sembari mengangkat sepatu
Boot-nya.
Gaya bicaranya kalem namun tegas dan penuh wibawa. Senyumnya
tulus. Aku memperhatikannya sekali lagi. Lalu membalas senyum itu. Aku
bingung harus bicara apa lagi, tak ada tema yang menarik untuk dibahas.
EtikaLautSurut

Tidak mungkin aku membahas soal Bank Century, tidak mungkin juga aku
dengan tiba-tiba membahas soal bencana Lapindo apalagi soal video prono
Luna dan Ariel.
Pernah dapet keong racun nggak pak? tiba-tiba kalimat itu meluncur
dari mulutku.
Hahahhaha kamu bisa saja mas! Kalau kerang racun ada! sahutnya
sembari tertawa lepas.
Garing. Obrolan kami yang belum sempet memperkenalkan diri masing-
masing itu semakin garing. Tak ada tema yang bisa aku luncurkan. Bahkan
keong racun yang lagi menjadi pembicaraan hangat hanya disahutnya dengan
tawa.
Sudah lama jadi nelayan? tanyaku garing.
Belum lama, setahun yang lalu. Sahutnya.
Sebelumnya? tanyaku lagi.
Saya 18 tahun menjadi anggota Polri, dari Prajurit Dua, Sersan Dua,
Sersan Satu hingga jabatan saya Ajun Inspektur Polisi Satu. sahutnya
sembari menghela nafas.
Wow, sahutku kagum namun tak percaya begitu saja.
Dan 18 tahun itu saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia
ini. Lanjutnya sembari mengembalikan pandangannya ke laut.
Biaya untuk masuknya dengan gaji yang saya dapat selama 18 tahun
tidak balik modal! Walau saya tau itu kesalahan saya sendiri. Betapa tidak
bodohnya saya? Harus membayar mahal untuk mendapatkan seragam coklat
itu! Lalu melakukan aktifitas yang sama, berangkat pagi, duduk-duduk, pulang
sore. Telat sedikit langsung dihardik atasan, walau kadang-kadang atasan
saya jauh lebih sering telat ketimbang saya. Bodohkan saya? Sudah bayar
mahal-mahal eh masih saja diperintah sana-sini. Enak jadi nelayan, liat laut,
EtikaLautSurut

berangkat sesuka hati, pulang sesuka hati. Siapa yang mau marah? Dan
nelayan tidak pernah mendapat tatapan sinis dan penuh kecurigaan dari
tetangga sebelah rumah. Beda dengan menjadi polisi, beli tv baru saja
tetangga sudah menyindir lebih seratus kali, itu yang membuat saya
mengundurkan diri. Ceritanya panjang lebar.
Betul juga penjelasannya. Aku juga takbegitu suka polisi, berbicarapun
malas, apalagi motorku yang hilang dulu juga takpernah kembali walau sudah
aku laporkan ke kepolisian terdekat.
J angan mau jadi PNS! Kerjanya pagi, pulang sore, melakukan hal yang
sama setiap hari! Mending bikin usaha sendiri! lanjutnya sambil tetap tak
bergerak.
Aku diam, tak lagi mampu berkata-kata apalagi. Laut masih surut,
gelombang masih susul-menyusul beriringan membelai pasir yang membisu.
Batu-batu karang masih menyimpan sejuta misteri. Sepasang kepiting masih
berkejaran di atas pasir dekat batu karang. Aku tak bisa menolak apa yang
dikatakannya, dan aku juga tak bisa menerima begitu saja dengan kalimatnya.
Aku diam, meliriknya sekali lagi.
Aku memilih ini karena aku ingin lebih sering bersama orang-orang
yang aku cintai! Pelan lelaki yang mengaku mantan anggota Polri itu
melangkahkan kakinya menuju air lain, masuk semakin dalam. Aku masih
terdiam pada posisi yang sama ketika dia mulai melemparkan jala. Lemparan
demi lemparan membuahkan hasil walau satu atau dua ekor saja ikan yang
dia dapatkan. Terus, terus dia menuju ke arah selatan, menelusuri tepi pantai
yang masih surut. Aku terdiam, membisu pada titik yang sama.
Tak ada lagi sahabat untuk berbagi cerita, dia sudah menjauh. Tak ada
lagi teman untuk bicara, dia telah menjauh. Namun kalimat terakirnya begitu
menusuk ke dalam hatiku. Aku memilih ini karena aku ingin lebih sering
bersama orang-rang yang aku cintai!
EtikaLautSurut

10

Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku. Saat ku harus


bersabar dan trus bersabar. Menantikan kehadiran dirimu. Entah sampai
kapan aku harus menunggu. Sesuatu yang sangat sulit tuk ku jalani. Hidup
dalam kesendirian sepi tanpamu. Kadang ku berfikir cari penggantimu. Saat
kau jauh disana. Aku tersenyum mendengar lirik lagu Aishiteru itu. Kubiarkan
saja ponsel kecil di saku celana pendekku itu terus berbunyi berkali-kali. Tak
ingin aku menerima panggilan masuk yang entah dari siapa. Malas aku kalau
harus berbicara tak jelas pagi-pagi gini. Pagi hari enaknya itu menikmati
secangkir kopi.
Besok aku akan kembali ke J ogja lagi setelah 2 bulan berada di pulau
Kalimantan bagian timur ini. Banyak sudah yang aku dapatkan, pelajaran
hidup dan tentu saja rasa kangen yang begitu menggebu. Kangen itu mahal
harganya, kangen itu tak bisa ternilai. Bahkan samudra luas ini tak mampu
membayar rasa kangenku. Kuamati sekali lagi pulau kecil dengan pohon lebat
di atasnya. Kuamati sekali lagi batu karang dan gelombang yang membelai
pasir dengan tulus. Apakah cinta itu sepeti gelombang laut yang akan selalu
pasang dan surut pada waktunya? Apakah cinta itu seperti seperti batu
karang? Yang akan kelihatan ketika surut dan akan terendam air laur ketika
pasang? Apakah cinta itu setulus pasir pantai, yang akan dibelai sang air
ketika pasang dan ditinggalkan begitu saja ketika surut? Entahlah
J ika aku bisa memilih aku akan memilih menjadi air, yang bisa pasang
dan surut. Tidak menjadi karang yang diam mebisu, tidak juga menjadi pasir
yang didatangi dan ditinggalkan begitu saja oleh gelombang. Tapi semua
punya pilihan, seperti apa yang dilakukan nelayan itu, tak salah jika dia
memilih menjadi nelayan ketimbang menjadi PNS tak jelas. Kau benar
dengan pendapatmu pak! aku berbalik arah, menuju tempatku semula. Kursi
plastik di belakang rumah dan secangkir kopi yang mulai dingin. Kembali
kunikmati pemandangan indah ketika laut surut.
EtikaLautSurut

11

Oh ya, jangan salahkan pasanganmu ketika cintanya tiba-tiba begitu


menggebu, atau ketika cintanya tiba-tiba menyurut. Ini hidup kapan, waktu
berpengaruh terhadap apa yang ada di hati. Selamat pagi!













MalamKetikaAkuUlangTahun

12

MALAM KETIKA AKU ULANG TAHUN


#Bukti Cinta

Aku masih terdiam, dalam sudut kamar kesayangan ini. Bentuk kamar
ini unik, tidak kotak seperti kamar pada umumnya, ada salah satu sisi yang
mempunyai sudut 45 derajat, 75 derajat dan 15 derajat, unik. Tapi tidak susah
di bayangkan. Sedari sore aku memilih memejam mata karena beberapa hari
ini gigi kesayanganku rasanya kurang bersahabat. Untung masih ada puyer
16 yang mampu meredakan nyeri dan mengantarku ke alam mimpi, sebelum
aku terbangun kembali entah karena apa.
Aku jadi teringat masa lalu, yang sudah lama sekali. Dulu, ketika aku
hendak ulang tahun, Mak Tua Almarhum selalu menyuruhku berpuasa, beliau
menyebutnya Poso Hari Lahir, hukumnya wajib. Diawali sejak Subuh sehari
sebelum aku ulang tahun, hingga Magrib setelah aku ulang tahun. Lama
memang, sekitar 30 jam aku tidak boleh makan, minum dan tidak boleh
membunuh seekor binatangpun. Tapi itu dulu, sebelum malaria akut
menyerangku. Setelah malaria itu, aku tak lagi kuat berpuasa selama itu.
Lambung bengkak, dan jika tak terisi makanan sakitnya bukan kepalang. Aku
juga tak tahu apakah penderita malaria lain mengalaminya sepertiku? Tapi ini
bukan soal malaria atau tentang ulang tahun, aku ingin menceritakan tentang
pengalaman masa kecilku yang selalu ingin meniup lilin, seperti anak-anak
tetanggaku yang lain. Tapi sekalipun aku takpernah mendapatkan lilin,
dengan sebuah alasan dari Mak Tua Ulang tahun itu bertambahnya usia
berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan, kata Mak Tua
setiap kali aku meminta lilin. Dan bukan lilin yang aku dapatkan keesokan
harinya. Melainkan kembang telon dua bungkus yang dibungkus daun pisang,
lalu ketika Magrib tiba, mak tua mengajakku ke sudut halaman rumah
kecilnya. Dia membuka kembang itu, mengucapkan doa-doa dalam bahasa
MalamKetikaAkuUlangTahun

13

jawa dan arab yang campur aduk. Dan hingga kini aku tak tau pasti apa doa
yang beliau ucapkan. Aku tak pernah mencatatnya sampai Mak Tua dipanggil
Tuhan.
Dulu, sempat sekali ketika aku masih duduk di bangku SMU, kakaku
merayakan ulang tahunnya di rumah, itupun ketika Mak Tua tidak di rumah.
Alih-alih tiupan lilin, kami malah berpesta dengan minum Bir bersama-sama.
Rasanya pahit, aku tidak suka. Tentu saja, keesokan harinya Mak Tua Marah-
marah pada kakakku itu. Kakaku hanya tersenyum kecut, sambil
ngedumel.Pacen awake dewe iki wong kere! Ra kuat tuku kue tar! Dadi nek
ulang tahun yo mung di tukokne kembang 500! Cukup! omel kakaku yang
memang orangnya agak kaku itu. Aku menghela nafas jika ingat kalimat
kakaku itu. Ya, memang kita lahir di keluarga miskin, tak mampu beli kue tar,
jadi kalau ada yang ulang tahun Mak Tua yang sebenarnya adalah nenekku
itu hanya membelikan kami bunga tiga warna seharga 500 rupiah.
Tapi ini bukan soal kecewa pada keadaan, aku selalu bersyukur
dengan apa yang kami terima, kehidupan masa lalu adalah satu hal yang
memacuku untuk selalu menjadi yang terbaik, lebih baik, lebih baik dan selalu
menjadi lebih baik. Bukan soal kemiskinan yang ingin aku ceritakan, tapi
hikmah di balik pesta ulang tahun. Benar, aku setuju dengan kalimat Mak Tua,
Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau
rayakan, tapi direnungkan. J adi salah jika kita merayakan berkurangnya
umur, memang sebaiknya kita merenung, apa saja yang telah kita lakukan
selama ini? Dan apa yang terjadi sejak aku kecil itu menjadi kebiasaan,
bahkan ketika Mak Tua telah tiada, ketika aku benar-benar harus hidup
sendiri tanpa ada petuah dari beliau. Ketika hari ulang tahunku tiba, aku
menyambutnya dengan renungan. Mak tua benar dengan petuahnya, Ulang
tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi
direnungkan.
Seperti halnya malam ini, bunga tiga warna, aroma dupa dan lantunan
tembang Sinom Parijotho menjadi sebuah aroma mistis, menjadi sebuah
MalamKetikaAkuUlangTahun

14

suasana romantis menyambut malam, menyambut pagi ketika aku dilahirkan


28 tahun yang lalu. Buat sahabat, teman, saudara, rekan-rekan dan siapa
saja yang mengenal saya. Mohon maaf jika hari ini tidak ada pesta meriah,
tidak ada kue tar, tidak ada makan-makan. Bukan saya pelit, tapi karena itu
sudah menjadi kenangan masa lalu. Bahwasannya Ulang tahun itu
bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi
direnungkan. So, makan-makannya besok ya jika ada moment yang lebih
tepat. Bukan moment ulang tahun. Terimakasih untuk semua yang telah sudi
dan berkenan memberi ucapan itu. Terimaksih untuk doa-doa yang anda
kirimkan, semoga Allah membalas doa-doa anda dengan kebaikan,
kebahagian dan kesuksesan kita bersama. Amien.
Ketika aku menyelesaikan tulisan ini, kakaku yang tertua mengirim
sebuah sms dari kota Sampit. Begini sms itu Met Ultah adikkuTiada apa
yang dapat aku berikan untukmu selain Doa tulusku yang kukirim bersama
merdunya Tadarus di Surau tua. Moga Dia yang di atas sana melimpahkan
rahmadNya padamu. Walau raga tak selalu bersama, tapi hati kita kan selalu
bersama dalam suka maupun duka. Dan sabarlah di dalam keluarga yang
langka akan kebersamaan.Moga sukses


NB: Kini, aku tidak sendiri, ada sahabat-sahabat yang selalu mendukung,
berdiskusi, bercerita, bekerja dan mereka adalah keluargaku. Tapi kebiasaan
itu masih sama, tidak ada pesta. Karena bulan ini bulan puasa, maka agenda
yang tepat adalah sahur bersama. Yang mau sahur bersama, silahkan datang
ke Lookout Picture Indonesia J l. Swadaya 604 MJ /I Gedong Kiwo, ketika
waktu menunjukkan pukul 02.30 WIB. Akan ada makanan yang di sediakan di
sana oleh panitia.
SecangkirKopidiAntaraGerimis

15

Secangkir Kopi di Antara Gerimis


#Bukti Cinta#

Bontang, kota ke dua aku mengadu nasib! Di kota ini berdiri tiga
perusahaan besar di bidang yang berbeda-beda, Badak NGL (gas alam),
Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak), dan Indominco Mandiri
(batubara) serta memiliki kawasan industri petrokimia yang bernama Kaltim
Industrial Estate. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan
di bidang industri, jasa serta perdagangan. Bontang, sebuah kota dengan dua
kota besar di dalamnya. Pertama, kota PKT dan kota Badak. Yang menarik
adalah Badak, atau lebih tepatnya PT. BadakNGL. Kenapa nama itu begitu
unik? Apakah banyak badak di sana? Tidak, bahkan kepanjangan juga tak
ada, hanya Badak. Konon kota Badak dihuni oleh orang-orang dengan
dompet tebal, bahkan ada yang bilang, jika mereka keluar dari lingkungan
Badak, mereka akan bilang J alan-jalan ke kampung dulu!
Awawawawsegitunyakah mereka menganggap lingkungan luar Badak
adalah kampung? Kumuh? Tapi itu masih katanya, kata masyarakat Bontang
yang tinggal di luar Badak?
Ah jadi penasaran aku dengan kota ini. Kutelisik lagi lebih dalam, kugali
informasi lagi lebih mendalam, semakin dalam hingga aku menemukan
sebuah kisah yang cukup unik tentang sejarah kota ini. Begini kisahnya;
Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan
perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami
perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari
wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Pada awalnya, sebagai
kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat
sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar
Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-
SecangkirKopidiAntaraGerimis

16

nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad


Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng,
dan Haji Amir Baida alias Bedang. Bontang terus berkembang sehingga pada
1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu
kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani
oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh
Tetua Adat J auh sebelum menjadi wilayah Kota Administratif, sejak 1920,
Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut
Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana
yang bergelar Kiyai. Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan
masih lekat dalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng,
Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman,
dan Kiyai Saleh. Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat
menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam
Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX
(1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang
pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timur dengan menghapus status
Pemerintahan Swapraja.
Dari mana asal kata kota Bontang? Dalam perbendaharaan asli
Kalimantan, tidak dikenal kata "bontang". Menurut cerita turun-temurun,
"bontang" merupakan akronim Bahasa Belanda bond yang berarti kumpulan
atau Bahasa Inggris yang artinya ikatan persaudaraan, serta tang dari kata
pendatang. Sebutan ini diberikan, karena cikal bakal kampung Bontang tidak
lepas dari peran pendatang.
Ah sudahlah, bukan soal asal-usul atau sejarah kota ini yang ingin aku
tuliskan. Aku hanya ingin curhat sedikit tentang secangkir kopi yang ada di
sampingku dan kini sudah mulai beku. Sudah 5 hari ini, makanpun rasanya
tak enak. Sudah 5 hari ini kulihat tatapan hampa pedagang buku dan
pedagang UKM yang berkumpul penuh harapan datangnya rejeki di lapangan
Parikesit yang dulu dibangung untuk MTQ. Sepi, mungkin itu yang kalimat
SecangkirKopidiAntaraGerimis

17

yang tepat, apalagi jika hujan datang, setanpun seakan ikut menghilang.
Bahkan kuntilanak juga tak menampakkan batang hidungnya. Betapa tidak,
mau makan apa jika omset itu Nol Rupiah? Tidak! teriakku tapi dalam hati.
Piye iki mas? (Gimana ini mas?) pertanyaan itu begitu menohok,
menuduk hingga ketulang sumsum paing dalam. Dingin, mencabik-cabik hati,
mengiris jantung dan merobek semua rasa yang ada. Aku yang mendapat
sodoran pertanyaan itu hanya bisa tersenyum dengan senyum paling pahit
yang bisa terlontar. Siapa yang mengantar kami kesini? tidak ada yang bisa
dipersalahkan, tidak juga kau!? Kau siapa? Entahlah.
Hari ke lima, tagihan-tagihan mulai mengalir, tagihan tenda yang bocor
sana-sini, tagihan venue yang kata Wakil Walikota Gratis, tagihan genset,
tagihan perijinan, tagihan listrik pln yang mota-mati itu, tagihan air yang
sebentar saja habis sampai-sampai kalau pagi bingung cari masjid terdekat
untuk buang hajat, tagihan flooring dan tagihan yang lain-lain yang totalnya 40
jutaan. Aku yang ditagih, sekali lagi hanya tersenyum sepahit madu, karena
aku belum mampu menagih peserta pameran. J angan menagih, menyapa
merekapun aku tak mampu. Aku sudah layaknya orang gila yang berjalan hilir
mudik diantara gerimis yang tak henti-hentinya mengancam dagangan.
Ponsel kecil yang aku beli 200 ribu itu bordering, ya, kekasih hatiku
menghubungiku. Dialah kekuatan terbesar untuk tetap bertahan dan tidak
pulang. Ahh tidak juga, masih banyak hal yang membuatku bertahan di sini, di
kota unik yang menyiman sejuta pertanyaan. Ke mana perginya orang PKT?
Ke mana hilangnya orang Badak yang konon pesangonnya mencapai 2 Milyar
itu? Aku memilih diam seribu kata, diam membisu tanpa sebait kalimat.
Kurebahkan tubuhku di lantai keramik yang hanya beralaskan kain-kain bekas
spanduk dan tumpukan kardus Aqua yang panjangnya hanya sampai
pinggang. Di luar hujan masih turun, diluar kilat masih menyambar sesekali,
diluar masih ada gelisah. Gelisah takut di marahi Pak Bos, gelisah mikirin
anak istri dirumah, dan gelisah-gelisah lainnya masih bergelayutan di hati
masing-masing, tidak juga kau!
SecangkirKopidiAntaraGerimis

18

Secangkir kopi yang mulai dingin itu aku teguk sekali, lalu aku letakkan
lagi. Kulupakan semua masalah ini, aku ingin tidur walau tanpa bantal, tanpa
kasur, apalagi guling empuk. Sebenarnya aku ingin beli bantal cinta (bantal
panjang untuk berdua itu) tapi apa daya? Uang di dompet tinggal selembar
Satu Riyal dan selembar Dua Ribu Rupiah, dan itupun asli uang dari tanah
Arab. Ala Mak J ang! Sudah dua kali aku makan dengan cara cashbon pada
warung Make disebelah bascam ini.
Ya Rabb kutulis ini bukan sebagai sebuah keluhan, bukan sebuah
protes, tapi aku tulis ini sebagai sebuah harapan. Harapan dan doa untuk Kau
datangkan para pecinta buku dan produk-produk UKM yang saat ini sedang
berdoa agar dagangan mereka lalu Ya Rabb. Terimakasih atas semua yang
Engkau berikan ke pada kami
Sekali lagi kuteguk secangkir kopi dingin itu di antara gerismis.

Bontang 23 J uli 2010 pada saat Dini dalam hujan yang tak kunjung
reda.

5MenitdiATMBNISamarinda

19

5 menit di ATM BNI Samarinda


#BuktiCinta#

Aku menghambur secepat kilat dari Mobil Strada merah yang aku parkir
tiba-tiba di tepi J l. J uanda Samarinda. Hujan rintik-rintik membuatku begitu
takut akan hujan yang tentunya akan membasahi rambutku yang baru saja
aku Bonding di salon kesayanganku. Oh ya, ngomong-ngomong soal Strada
Merah, mobil itu milik Kakakku yang lagi entah kemana? Kusamber aja,
karena aku emmang suka mobil itu, keren, gagah kayak kuda poni. Mitshubisi
L200 itu mobil kakakku dari kantor, maklum kakakku salah satu petinggi
tambang batu bara di kota ini. Ganteng kalo kakakku yang memakainya kala
pagi. Keren, sampe-sampe kalo dia bukan kakakku aku akan mengucapkan I
Lope You Bang! Tapi dia kakaku dan aku sering menciumnya karena dia
emang keren, pendiam dan suka senyum, walau banyak yang bilang dia biasa
aja, ga cakep-cakep banget, tapi senyumnnya itu lochhhh! Ya ampun
tuhanbikin keblinger, bikin ngiler saking kangennya kalo seminggu aja ga
liat senyum itu. Sayang seribu sayang dia kakaku, dan satu lagi, dia cukup
unik dan menarik, kadang diem, kadang bawelnya minta keramas!
Kembali ke hujan gerimis dan ATM BNI.
Aku harus beli baju baru, di distro yang namanya kalo ga salah Orin, ga
jauh dari ATM BNI depan Swalayan Pelangi ini. Aku harus ambil uang karena
distro di sini tak ada yang bisa gesek, jadi harus ambil uang banyak-banyak
biar bisa beli baju yang kemarin sudah aku incer-incer pake keker. Aku berlari
secepat kilat, walau ga pake nyambar-nyambar. Ampun, ujan-ujan gini masih
ada pada ngantri ambil uang. Dasar! Gumamku sembari melanjutkan
langkahku mencari sudut paling aman. Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima! Haduh
ada lima orang didepanku, mana sempit lagi tempatnya. Aduh nasib.
5MenitdiATMBNISamarinda

20

Aku menunduk, melihat kearah kakiku yang mengenakan sandal merek


ternama yang dibelikan Papi waktu di Singapura sebulan yang lalu, kotor deh
kena lumpur dan air hujan. Tapi ga apa, nanti sampe rumah biar disikat sama
Bi Inem.
Deg J antungku terhenti sesaat, bahkan beberapa saat. Di hadapanku,
ya, di hadapanku tiba-tiba muncul seorang lelaki muda, rompi parasitnya, ada
penutup kepala pelindung hujan. Di dadanya tersangkut sebuah tas besar
yang seharusnya itu naruhnya di punggung. Ah siapa lagi ini manusia?
Cuek bebek, senyumpun tidak, menatapkupun tidak, dia malah menatap lurus
kedepan, tepat kearah roda Stradaku yang aku ceritakan tadi. Dasar cowok
bego! He, lihat sini, yang punya di sini. Bilang cinta padaku, aku kasih deh
jiwa ragaku ke kamu plus nanti tak pinjemin mobil kakakku itu. Gila! gerutuku
sendiri dengan suara hatiku yang tiba-tiba. Bagaimana aku tak gila, itu
pemuda manis, aku tak mau mengatakan ganteng, karena lebih gantengan
Nikolas Saputra, Ariel juga lebih ganteng tapi sebelum aku mendownload
Videonya yang dengan Luna Maya dan Cut Tari. Seteleh mendownload video
itu, aku meresa Ariel jadi jelek. Cemburu kali ya, kenapa bukan aku saja yang
jadi aktor wanitanya. Eh belum selesai tuh Luna Maya dan Cut Tari, seorang
teman di Manado kirim link download Ariel VS BCL. Hufff.. J adi jelek deh
Ariel, gantengan mas yang ini. Cool Coy! Sumpah, pria segede ini dengan
pedenya nyedot sekotak susu coklat, lucunya lagi merknya Ultra Milk, enak
Susu Bendera Mas! Dodol! Guman hatiku untuk kesekian kalinya. Sayang ini
cowok tak mau melihat kearahku, padahal kalau dia melirik saja ketubuhku,
pasti deh ga mau lepas. Rok mini ini aku pakai untuk dilihat pahanya Mas!
Bukan untuk makan nyamuk pahaku ini. Dasar cowok bego! Umpatku sekali
lagi. Ah sudahlah, antrian tinggal seorang lagi. Tapi aku masih menyempatkan
diri untuk melihatnya lebih lama, lumayan, cool dan pasti orang ini
menyenangkan. Satu yang aku belum mengerti, kok dia suka susu kotak itu
ya? Aneh, itu kan minuman anak-anak. Adikku yang SD aja malu minum itu,
eh dia dengan cueknya menikmati.
5MenitdiATMBNISamarinda

21

Mbak, sapa pria itu tiba-tiba.


Gubrak! Malu!Malu! Aku Maluuuuuu! eh iya mas! sahutku gagap
sambil buru-buru masuk ke ruang ATM BNI itu. Gila, menunggu, satu hal yang
paling aku benci menjadi begitu cepat kali ini. Menunggu diantara gerimis
mala mini menjadi begitu hangat dengan keunikan pria itu. Menunggu
membuatku menjadi malu. Aku belum mengeluarkan dompetku, aku
mengintipnya dari dalam bilik ATM ini, sekilas dia tersenyum tadi. Oh My
Gooooood! Seyum kakakku lewat!
Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan! ucapku sembari memasukkan kartu
ATM.
Kuambil uang sejuta, bercermin sejenak, merapikan rambut, lalu aku
buru-buru keluar. Pria itu belum pindah posisi, tatapan matanya masih menuju
arah yang sama. Roda Mobilku.
Silahkan Mas, ucapku sembari melempar senyum paling manis.
Dia mengangguk, lalu tersenyum padaku. Manis nian. Aku
mengamatinya hingga dia menghilang di balik pintu dan terlihat bayangannya
saja samar-samar. Aku tak ingin beranjak, aku ingin menunggunya, lalu
mengajaknya kenalan. Itu kalau aku tak punya rasa malu.

***
Hujan tiba-tiba saja turun, kutup kepalaku dengan kerudung rompi
parasit yang baru aku beli kemarin. Aku terdiam sejenak di depan Swalayan
pelangi. Kuambil sekotak susu Ultra Milk yang barusan aku beli, lalu aku
menikmatinya. Alhamdulilah, nikmat sekali susu ini. Tubuhku begitu letih,
seharian ini berjalan ngalor-ngidul untuk mengurusi event di kota ini. Sudah
hampir dua minggu aku disini, sendiri tanpa teman, kehujanan dan tentunya
5MenitdiATMBNISamarinda

22

malariaku kambuh. Menggigil kedinginan, hingga tulang belulang dan isi


perut. Tapi tak apalah, aku harus bekerja keras, aku ingin segera menikah.
Aku melangkah agak cepat menuju ke ATM BNI yang ada di depan
Swalayan. Ngantri, satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Ya enam orang yang
ngantri, satu orang yang menjadi tumpuan pandanganku, tak berkedip aku
dibuatnya. Bening, cantik, wangi aroma tubuhnya tercium khas dari jarak 2
meter. Anak siapa gerangan itu? Sibuk dia mengamati kaki yang juga aku
amati, astagfirrullah. Ku gigit sedotan susu ini untuk menahan semua rasa
yang ada di hati. Dasar pria aku mengalihkan pandangan, mengamati roda
mobil Strada L200 yang aku impikan sejak dulu. Bagus, keren dan
menyenangkan tentunya. Tapi tak apalah jika kini aku belum memilikinya, toh
aku sudah punya Corona TT 81 yang sangat keren itu. Sesekali aku masih
menyempatkan diri melirik kearah gadis itu sembari menikmati wangi
tubuhnya.
Aku tersenyum dalam hati, ingat kata-kata sahabatku di J ogja. Gadis
Samarinda cantik-cantik loch, apalagi yang asli Dayak, Luna Maya? Lewat
Bro! Tapi awas jangan main-main! Tak bisa pulang kau ke J ogja! sekali lagi
aku tsernyum mendengar kalimat itu dua minggu yang lalu.
Antrian telah berlalu, aku mendongak, melihat kearahnya. Ya ampun,
memang cantik. Tapi bengong saja! Mbak! aku menyapanya, bermaksud
member tau kalau antrian sudah sampai padanya. Tanpa senyum dia buru-
buru masuk ke bilik ATM BNI. Aku menarik nafas panjang-panjang. Kalau saja
aku tidak punya pacar! Sudah langsung kususul dia ke bilik ATM. Aku bisa
pinjam HP, Bolpoin, atau aku bisa pinjam Obeng sebagai alasan. Aku
menghembuskan nafas panjang sekali lagi, lalu kembali mengamati roda
mobil Strada itu. Membuang semua pikiran mesum di hati.
Silahkan Mas, ucapnya sembari melempar senyum paling manis.
Aku mengangguk, lalu tersenyum padanya. Manis nian. Aku
mengamatinya sejenak lalu berpaling masuk ke bilik ATM BNI. Mengambil
5MenitdiATMBNISamarinda

23

uang, lalu keluar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap dia masih ada
disekitarku. Ah, sudah menghilang dia. Kembali kusedot pelan sisa susu yang
ada di kotak kecil ini, aku melangkah menembus gerimis. Masih sempat sekali
kulemparkan pandangan pada modil Strada merah yang masih terparkir di
tempat yang sama. Kuambil BB kesangan hadiah dari kekasihku tercinta.
Klik! ku ambil sedikit bagian depan mobil itu. Lalu aku pulang ke Wisma di
mana aku menginap malam ini.













KetikaHujandanPanasDipertemukandiKotaBogor

24

Ketika Hujan dan Panas Dipertemukan di Kota


Bogor
#Bukti Cinta#

Tengah hari baru saja terlewatkan. Aku masih terdiam, mengamati
hujan yang tiba-tiba dating tak di Undang. Nyelonong tanpa permisi. Aku
terdiam, duduk disudut masjid, mengamati titik hujan dan gemericiknya yang
begitu indah secara tiba-tiba. Langit tak mendung, tak juga pekat apalagi
hitam. Langit indah kebiruan, tepat di tanggal 1 J uni. Aku jadi teringat, pidato
Soekarno, bukan soal pancasila yang aku ingat, tapi soal perkawinan, begini
petikan pidato itu:
-----Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbeaan antara Sovyet
Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dan lain-lain tentang isinya: tetapi ada
satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan
negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya.
Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris
sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis.
Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala
sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negaranya dengan
darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah
masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan
bambu runcing, saudara-saudara, semua siap-sedia mati, mempertahankan
tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia,
masak untuk Merdeka. (Tepuk tangan riuh)
Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan
manusia. Manusia pun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan
saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani
kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata Ah, saya belum berani kawin,
KetikaHujandanPanasDipertemukandiKotaBogor

25

tunggu dulu gaji f500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah
ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang
mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi, yang selengkap-lengkapnya,
sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah mempunyai ini dan itu,
bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.
Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya
sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu meja makan, lantas satu
sitje, lantas satu tempat tidur.
Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara
Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan
satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang
klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: kawin.
Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat,
tempat tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih
gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat-
tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya
mempunyai satu tikar dan satu periuk, saudara-saudara! (tepuk tangan, dan
tertawa).
Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu
tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau
sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet, buat 3 tahun
lamanya! (tertawa)
Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: kita ini berani merdeka
atau tidak? Inilah, saudara-saudara sekalian. Paduka tuan Ketua yang mulia,
ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-
hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar
uraian PT Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang
dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam
hatinya telah merdeka, itulah kemerdekan. Saudara-saudara, jika tiap-tiap
KetikaHujandanPanasDipertemukandiKotaBogor

26

orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam
hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi,
sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka! (tepuk tangan riuh)-
---
Di depan sidang BPUPKI, Sang Proklamator muda itu menyinggung
tentang perkwaninan, mengibaratkannya dengan begitu indah. Aku suka gaya
bicaranya. Aku suka tutur katanya, dan kadang kala aku tersenyum membaca
teks-teks pidato Bung Karno yang begitu menggelitik, menusuk dan kadang
kala menohok namun sering kali bikin tersenyum. Kenapa saya suka bagian
perkawinan ketimbang pidato tentang Pancasila? Entahlah, yang jelas hati ini
sedang rindu. Merindukanmu.
Hujan masih sama, turun rintik-rintik. Hati ini begitu gelisah, menggebu
untuk segera bertemu. Ah sudahlah aku mencintaimu, kamu tau itu. Aku
sayang padamu, kamu juga tau. J aga cinta ini jauh di dalam hatimu karena
aku juga menjaga cinta ini rapat di dalam hati, tak perlu aku ungkapkan
karena engkau telah tau. Tak perlu aku ucapkan karena engkau telah
mendengar hati kecilku mengatakannya padamu. Terkadang cinta tak jauh
berbeda dengan hujan, bisa saja dia bersanding dengan panas. Terkadang
cinta seperti rubik, bisa begitu mudah menemukan rumus-rumus pada setiap
sisi, namun kadang begitu sulit jika kita tak mau belajar tentang rubik itu
sendiri. J angan takut kehilangan, karena cintaku tak jauh beda dengan rubik,
walau kadang tak sama warnanya, engkau sudah bisa merubahnya dan
engkau telah tau rumus rubik itu. Cintaku padamu tak beda dengan hujan,
walau panas datang hujan masih juga tetap bisa turun dan kau tau? Ketika
hujan dan panas bersamaan? Ohhhh begitu indahnya alam ini
Kembali aku kutip pidato Bung Karno ---Ada orang lain yang berkata:
saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi
empat, yaitu meja makan, lantas satu sitje, lantas satu tempat tidur.--- sekali
lagi bukan tentang rumusan Pancasila, tapi lebih kepada perkawinan yang
diungkapkannya. Unik bukan? Tapi aku lebih berani dari Marhaen, aku akan
KetikaHujandanPanasDipertemukandiKotaBogor

27

menikahi tanpa harus menunggu punya gubuk dan tikar satu dan periuk. ---
Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen!
Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu
periuk: dia kawin.--- Tanpa gubug, tanpa tikar dan tak perlu periuk, cukuplah
sudah modal aku untuk menikahimu dengan apa yang dianugrahkan tuhan
kepada kita sebagai umat, tak perlu periuk karena kita bisa beli makan di
luar tak perlu gubuk karena bisa beli rumah yang indah seperti apa yang
kita impikan. Tak perlu tikar, karena sekarang sudah ada Spring Bed 4 x 4
yang empuk mendut-mendut walau kadang berisik. Tapi aku suka kasur
kapuk, ga berisik. (Hahhahahahah)

SebuahCerpenBerjudulTerserah

28

Sebuah Cerpen Berjudul TERSERAH


#Bukti Cinta#


Lagu dangdut Koplo itu mengalun lantang dari speaker laptop 12 inci.
Tidak kedengaran memang khas kendangnya. Tapi lumayan, telingaku sudah
begitu hafal dengan nada-nada khas musik yang katanya pinggiran itu, musik
ndeso itu. Tapi aku suka, terserah kata orang. Aku lebih suka Dangdut, aku
lebih suka Koplo, aku lebih suka Roma Irama, apalagi Ridho, wah musiknya
keren, J azz Ndut banget. Penggabungan antara gedongan kelas atas dengan
musik dangdut yang katanya ndeso itu. Ah terserahlah, orang mau bilang apa.
Toh itu hanya masalah selera dalam pendengaran saja. Mungkin saja selera
yang lain sama. Masih suka nasi rawon yang sama, ayam goreng yang sama,
nasi yang sama. Lebih mending dangdut dari pada lagu barat yang cas, cis,
cas, cus ndak jelas itu.
Pagi menjelang, subuhpun telah berkumandang. Aku membuka twitter
setelah menyalakan sebatang Sampoerna Mild. Sampoerna Mild adalah
rokoknya tidak enak menurutku, aku biasa menghisap Djarum soalnya, tapi
kata dokter aku harus mengurangi nikotin. Aku disarankan mencari rokok
Herbal yang resepnya dari kerajaan Majapahit, rendah nikotin bahkan hampir
tanpa tembakau, tapi itu rokok MLM. Tidak apa-apa, aku suka MLM kok.
Santai saja, saya orang cerdas yang mau membuka pikiran untuk semua jenis
usaha. Apalagi ini menyangkut kesehatan dan nikotin, apa lacur orang kata
MLM, saya akan mencarinya. Dokter lagi yang bilang rokoknya bagus.
Apalagi resepnya dari Majapahit. Wuih keren Man! Oh ya, soal nikotin nanti
dibahas lagi. Ini soal twitter dan musik dangdut dulu. Aku buka twitter, dan
pukul 4.33 pagi ini, satu status yang aku baca berbunyi seperti ini (Copy Paste
3/29/2010 Red) montytiwa Entering Cikampek. On our way. Pantura ahead.
SebuahCerpenBerjudulTerserah

29

Koplo blasting from the speakers. J arpul is on the wheel. I smell trouble.
Goodbye J akarta. 12 minutes ago via UberTwitter
Wah wah, Sutradara kenamaan saja mendengarkan lagu Koplo,
dangdut man! gumanku dalam hati pagi ini.
Ah yang bener? Salah mengartikan kali kamu! Bahasa ingrismu kan
dapat 6 ga genep! kata hatiku yang lain.
Enggak bener kok, sudah aku google translate! Gini kata Mbah google
-Entering Cikampek. On our way. Pantura ahead. Koplo blasting from the
speakers. J arpul is on the wheel. I smell trouble. Goodbye J akarta. (Copy
Paste dari google transalte. Red.) hardikku meyakinkan.
Ah sudahlah! Terserah! Ndak usah ribut! Gitu aja Kok repot! kataku
lagi sembari menaruh batang rokok di atas asbak itu.
Loch? Kamu sudah pindah NU? tanya hatiku yang lain.
Sudah! jawabku singkat dan mantab.
Kapan? tanya hatiku yang lain sekali lagi.
Sejak Muhammadyah mengharamkan rokok! sahutku yakin.
Caranya? tanya hatiku semakin penasaran.
Tinggal mengucapkan kalimat Gituh Aja Kok repot! udah deh pindah
aliran dan rokok tetap hahal!
Terserah deh! hatiku tampaknya putus asa.
Menyerah? tanyaku sinis.
Nggak penting, mending ngomongin hati man! Ngomongin cinta!
Ngomongin pacar! kata hatiku memberikan sebuah alternatif tambahan.
SebuahCerpenBerjudulTerserah

30

Hahhaha bosen ah! Tiap hari cinta-cinta melulu. Ayat-ayat Cinta,


Cinta Fitri, Cinta Mati, Cinta 2 hati, Cinta apalagi? Oh itu yang novel judulnya
Hijrahnya Cinta! Huhh apaan tuh? ucapku pelan.
Ya namanya juga tren man! Sudah jamak di negeri ini, negerinya para
pengikut!balas hatiku.
Terserah kamu deh! Sahutku malas.
Menyerah? tanya hatiku sinis.
Sorry Man, gue kagak bakalan mau menyerah, palagi cuman sama
elo? sahutku sok J akartaentris.
Aku diam, sepi. Hatiku tak lagi mau menjawab ataupun menyela
ucapanku. Dia menyerah, memilih untuk tidur tengkurap, memeluk entah apa
yang dipeluknya. Aku diam sekali lagi, tak juga membuka twitter apalagi
pesbuk! Ah aku benci sendiri! Aku ingin berlari! Kemana? kataku lagi.
Tiba-tiba lagu di laptop Ausus ini berubah, dari koplo menjadi melo. Dari
Palapa menjadi Kangen Band. Haduh, -Pujaan Hati- mendayu lirih, menyayat
hati-hati yang tak bahagia. Loch, itu tagline novel dunk? Doa Untuk Dinda,
penyejuk Hati-hati yang tak bahagia. Ah Ah Ah sudahlah. Yang kangen
biarkan kangen, toh nantinya juga hilang. Masak seumur hidup mau kangen?
Dulu aja kayaknya Koes Plus ga ada gantinya, sekarang juga lebih seneng
sama ST 12, Dewa 19, terus band apa lagi ya yang pake angka?
Pagi semakin menusuk, aku sudah lama tak menulis. Aku bingung mau
menulis apa lagi. Sejarah sudah, novel juga sudah, cinta sudah, perjuangan
hidup juga sudah. Terserah nanti mau di bawa ke mana. Aku tidak suka
Armada, karena lagunya ga jelas, -mau di bawa kemana hubungan kita?-
hahhahaha. Bawa saja kemana kau suka membawanya. Bawa saja sema
lalu dekap erat, tapi jangan selamanya. Dia ada yang punya. Yang punya,
yang bertanya yang manis, siapa yang punya? Yang punya yang
bertanya. Aku milikMU.
SebuahCerpenBerjudulTerserah

31

J ogjakarta, 4.52 Subuh. 3/29/2010 (J angan salah mengartikan, bukan


cinta, bukan politik, bukan pula SARA. Ini hanya tentang rasa) Di tulis sambil
tiduran, dengan Back Sound: Ora Prawan Ora Rondho, aku kowe sopo!? Ora
J ok Ora Dudo, aku kowe jane Podho! (Brodin: Arjosari Denpasar: Live OM:
Palapa)

SebuahCerpenBerjudulKeris

32

Sebuah Cerpen Berjudul Keris


#Bukti Cinta#


Malam semakin mejelang, para Gus itu mulai muncul dengan senyum
masing-masing. Kalimat salam muncul lalu diikuti dengan jabat erat dilanjut
dengan jabat tangan dan peluk erat. Tujuh remaja itu sepertinya telah lama
tak bersua, rasa rindu membuncah untuk melepas dahaga perkasa yang
mejelma dalam hati masing-masing pria muda itu. J arak telah memisahkan
persahabatan mereka.
Kisah-kisah lama teruri dalam bingkai malam yang menusuk dengan
dinginnya. Mereka berjibaku dalam pengalaman lama yang belum terungkap
satu sama lain. Mengalir dingin dengan cangkir-cangkir kopi yang panas
mengepul dalam bisikan semilir angin.
Hahahha Kenapa? Putus cinta lagi? Haram bagimu mencitai yang
bukan istrimu!
Loch.. ini jaman modern Gus! Sudah tidak jaman menikah dengan
wanita yang belum kita kenal! sahut Gus satunya dengan argumen
sepihaknya.
Ya Ampyun, kalian kok ngomongin agama lagi to? Sudah ganti topik,
bosan aku dengan itu! Seiap hari sudah bosan aku di jekoki Kitab Kuning!
sahut Gus yang lain tiba-tiba protes.
Lalu kita harus ngapain lagi kalau tidak membicarkan cinta? Kita masih
muda!
Diam, masing-masing seakan tertohok oleh sepatah kalimat itu. Aneh,
remja-remaja itu seakan menjadi patung.
SebuahCerpenBerjudulKeris

33

Aku mau menikah! ucap salah Gus yang sedari tadi hanya diam.
Oh ya? Kapan?
Secepatnya! Terlalu lama aku sembunyi dari kenyataan!
Pake adat apa? Tanya salah satunya lagi.
J awa, karena aku orang jawa!
Di mana kamu akan menikah? Tanya yang lain pula.
J awa Tengah! Di sana aku memilih untuk menikah dan melanjutkan
sisa usiaku!
Adat jawa? Pake keris ya? Tanya seorang Gus yang paling ujung.
Iya, aku suka keris sejak dulu, ingin aku menyandangnya di kala
pernikahan nanti! sahutnya pelan namun mampu memecah keheningan
malam.
Oh ya, mari kita ambilkan sebilah keris untuk pesta pernikahannya
nanti!
Di mana?
Di Majapahit! sahutnya mantab.
Hahhahaha. Lanjut yang lain tertawa.

***

Tujuh pemuda itu kini duduk bersila pada satu tempat diantah berantah.
Dingin membeku, -mencekam sepi hening. Mulut mereka tampak komat-
kamit.
SebuahCerpenBerjudulKeris

34

Bismillahirrahmannirrahim. Gedonge sukma pasebani sukma. Nur


sukma mulya talirosoku tunggal. Nguling-nguling kapangeran Mantra Ghaib
itu terdengar hamper bersamaan dan berulang.
Angin malam masih mengalun membawa kerinduan. Semacam reuni
akbar mereka menjadi satu dalam ketenangan dan doa. Angin berhembus
semakin kencang, aroma mistis muncul dengan tiba-tiba.
Seorang Gus berdiri dengan cepat, tangannya merapat di depan dada
Bismillaahirramaanirrahiim. Shalallaahualaihi wasallam. Allahumma
kulhuaallah. Zat gumilang tanpa sangkan, liyep cut-prucut sukmaningsun
metu saka raga gampang sarining gampang sak niatku, slamet saka kersane
Allah. Laailallaillallah Muhammadarrasuulullah"
Lalu angin berhembus semakin kencang. Dia terhuyung-huyung lalu
memasang kuda-kuda untuk menahan diri. Gus yang lain masih komat-kamit,
duduk bersila membaca doa, seakan memberi bantuan kekuatan pada
sahabatnya. Cahaya kebiruan mucul dengan tiba-tiba. Direngkuhnya dengan
cepat dan dia kembali bersila.
Ini hadiah dari kami untuk kau gunakan dalam acara pernikahanmu,
keris Nogo Sosro Sabuk Inten, lanjutnya sambil menjulurkan tangannya yang
sudah memegang sebuah keris usang Tangguh Majapahit.
Hening, semua kembali diam melanjutkan sebuah ritual yang entah apa
namanya. Ada senyum yang mengembang diantara mereka, ada
persahabatan serat diantara mereka ada nada banyak kenangan lama yang
mereka ualng kembali setelah sekian lama tak bersua. Persahabatan mereka
unik, tak terbatas waktu dan usia. Walau jika mereka berjumpa, secangkir
kopi seakan menyatukan mereka.
(Keris yang di ambil malam itu, Konon bernama Keris Nogososro Sabuk
Inten karya besar Empu Supo dari jaman Majapahit)
SebuahCerpenBerjudulAnjing

35

Sebuah Cerpen Berjudul Anjing


#Bukti Cinta#

Entah telah berapa lama aku tidak menulis cerpen. Dan hari ini
seseorang memintaku menulis cerpen untuk hadiah ulang tahunnya
Selamat ulang tahun sobat. Hanya sebait kalimat ini yang aku berikan untuk
ulang tahunmu, dan semoga apa yang engkau cita-citakan tercapai dan hidup
bahagia dengan kelurga tercintamu.
Ku awali dengan kalimat Bismillah.
Mendung itu tampak majemuk, ada warna biru, kekuningan jingga dan
sedikit pekat. Mungkin sama dengan cinta, cinta juga majemuk seperti
mendung terkadang ada hitam terkadang ada putih. Namun ada juga yang
mengatakan cinta itu biasa saja, dan wajar-wajar saja. Sudahlah, ini bukan
soal cinta, ini bukan soal mendung, ini hanya soal anak anjing.
Haram katanya memakan daging Anjing, najis katanya jika terkena liur
anjing. Lalu kenapa anjing itu ada ke muka bumi?
Mungkin sama dengan penciptaan nyamuk oleh Sang Tuhan. Nyamuk
itu menjijikkan dan mengganggu tidur plus membawa banyak penyakit.
Kenapa Sang Tuhan menciptakan nyamuk? Sederhana saja jawabnya, dari
adanya nyamuk ribuan pekerja bisa menghidupi keluarganya dari pabrik-
pabrik yang membuat obat nyamuk, dokter dan ratusan pekerja lainnya,
memnghidupi keluarganya dengan menjadi musuh nyamuk,
Aku diam, menatap jauh ke depan, kepada seekor anak Anjing yang
masih menyusu pada induknya yang lelap. Anjing memang majemuk,
terutama warnanya. Ada yang putih, pink, orange dan jenisnya juga majemuk,
besar, kecil, dan jenisnya juga majemuk dari jenis anjing Shih Tzu, Rottweiler
, Pug, Pomeranian hingga anjing hutan yang tidak jelas jenisnya apa. Tapi ini
SebuahCerpenBerjudulAnjing

36

bukan soal warna, jenis atau apapun. Ini soal halal dan haramnya anjing dan
sebuah pertanyaan kenapa Sang Tuhan mengharamkan ciptaan-Nya?
Sebaliknya, seandainya tuhan bilang air liur anjing itu tidak najis, suci,
baik buat kesehatan, menambah tenaga, penuh berkah, bisa menambah
rejeki dan melariskan dagangan, atau bisa mengobati kadas, kudis, kurap dan
seterusnya, apakah kita akan minum air liur anjing ?
Sekali lagi aku tertohok oleh argument itu.
Entahlah!
Aku lebih memilih menikmati secangkir kopi dari pada membahas soal
anjing. Aku lebih suka memandang langit yang majemuk dari pada membahas
anak anjing jadi maaf, aku tidak tertarik untuk membahasa soal anjing itu,
karena aturannya sudah jelas. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh
kali.(HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah
minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali
dan salah satunya dengan tanah.(HR Muslim dan Ahmad).
Dan sudahlah, sebaiknya aku tidak membawa masalah anjing ini ke
dalam mimpi, biarkan dia menjadi anjing dan aku menjadi manusia. Biarkan
saja banyak nyamuk dan aku tetap manusia.
Sore semakin menjelang, warung di pinggir pantai itu sunyi. Hanya ada
aku sendiri, yang telah di tinggal pergi oleh sobatku yang tadi. Mungkin dia
kecewa karena aku tidak menanggapi komentarnya soal anjing. Tapi aku
memang tidak suka dan aku punya tidak mau. Kubiarkan dia pergi dengan
rasa dongkol dihatinya, kubiarkan dia pergi dengan kecewa di hatinya. Aku
egosi kok. Semua orang tau itu.
Anak-anak anjing itu masih saja terus menyusu, mencari isi perut dari
isi perut ibunya yang lelap dalam tidurnya, tidak terganggu. Walau aku
melihatnya dari seberang jalan, aku bisa melihatnya dengan jelas, mereka
SebuahCerpenBerjudulAnjing

37

bahagia. Mereka hidup rukun dan mereka bahagia. Walau aku hanya
melihatnya dari jauh, aku tau kalau mereka tidak sadar ada jutaan umat yang
membenci mereka namun ada juga jutaan manusia yang menyukai anjing.
Hidup memang tidak seperti nasib anjing, disukai kadang juga dibenci.
Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Cieettt..Bruak!
Anjing! Apa kamu ndak punya mata?
Hardik seorang pria yang terjatuh dari motornya.
Astagfirullah! aku segera berlari mendekati pria itu.
Anda tidak apa-apa? sapaku sembari membantunya berdiri lebih
tegak.
Tidak apa-apa! sahutnya ketus.
Tempat yang sepi itu tiba-tiba menjadi gaduh dengan kemunculan
banyak warga. Aku menatap sekelilingku, apa sebenarnya yang terjadi?
Mataku terlalu fokus pada anak-anak anjing yang tadi.
Pada sudut yang lain, sekerumuman warga tampak gelisah dan mulai
gaduh. Aku mendekat, seorang anak kecil tampak terkulai pada pelukan
seorang pria tua. Siapa dia? Apakah pria itu tadi menabrak anak kecil itu
dengan motornya? Bisa jadi demikian.
Tidak apa-apa, dia tidak apa-apa, hanya lecet saja. Sahut pria itu
menjawab pertanyaan bertubi dari warga yang entah datang dari mana.
Maafkan cucu saya, dia tidak melihat jalan saat menyebrang, ucap
pria tua kepada pengendara motor yang berdiri tak jauh darinya.
Pria itu tak menjawab, dia berdiri dengan angkuhnya, layaknya manusia
tanpa dosa yang begitu mudah mengumpat kata anjing. Sudahlah, anak itu
SebuahCerpenBerjudulAnjing

38

juga tidak apa-apa, menangispun tidak karena dia hanya kaget lalu terjatuh di
jalan aspal sore itu.
Kembali hening, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. Tidak ada
yang menarik sore ini, hanya anak-anak anjing yang menyusu pada ibunya,
hanya seorang teman yang ingin sekali membahas soal anjing, dan hanya
seorang pria yang mengumpat dengan kata anjing.
Hidup ini tidaklah kaku, hidup ini fleksibel seperti air, di masukkan ke
mana saja, di tempatkan ke mana saja toh bentuknya juga akan mengikuti
wadahnya. Sang Tuhan selalu punya rencana untuk umat-Nya, seperti Dia
telah menciptakan nyamuk dan anjing, dua binatang yang berbeda yang
dianggap hina namun juga punya manfaat. Begitu juga dengan cinta, kata itu
ada karena memang mempunyai makna, begitu juga dengan mendung,
kemajemukan warnanya juga punya makna. Begitu juga dengan kita, manusia
hadir dengan segala bentuk dan keunikannya juga punya makna.

Yogyakarta, 9 Maret 2009

DagDigDug...DagDig...Dug...

39

Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....


#Bukti Cinta#

Kemunculannya ketika sedang gelisah "Dag Dig Dug...Dag
Dig...Dug...."
Itulah suara hatinya, ketika malam benar-benar datang dia tidak muncul
lagi, tidak ada lagi Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug.....
Kenapa kamu diam saja? Alimin menunduk lesu melihat kekasihna
yang terdiam membisu pula.
Entahlah, hatiku selalu Selalu Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....jika aku
di dekatmu," sahutnya sesaat kemudian.
Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug.... gimana maksudnya? lanjut Alimin
sembari menatapnya penuh kasih.
Ya Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug..... Kalau Dag Dig Dug...Dag
Dig...Dug.... ya tetep Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug...." sahutnya manja, malu-
malu tai ayam.
Malam semakin manjalar, ada yang aneh dengan obrolan itu. Tidak
seperti biasanya, yang penuh dengan canda dan tawa. Sepasang kekasih itu
memilih untuk tetap dia, pada sudut taman kota Malioboro. Hanya detak Dag
Dig Dug...Dag Dig...Dug...yang terasa di hati mereka masing-masing.
Gimana kalau kita putus saja, ucap gadis dengan pelan.
Apa? Putus? Tidak! Tidak! Alimin berdiri.
Kenapa? Apa jantungmu juga Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....?" gadis
itu membetulkan kepang rambutnya.
DagDigDug...DagDig...Dug...

40

Alimin terdiam.
Pengamen kecil menyodorkan tangan lusuhnya dengan melas, setelah
menyanyikan lagunya Mbah Surip. Alimin merogoh kantongnya, menyodorkan
selembar uang 200 perak, kita kemana malam ini? lanjut Alimin.
Makan gudeg saja, menghilangkan Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....ini!"
gadis itu berdiri.
Alimin menggandeng tangannya dengan mesra. Mereka berjalan pelan,
lalu melambaikan tangan kea rah sebuah taksi.
Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....
Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....
Masih nada yang sama, nada-nada gelisah.
Kita jadi putus? kata Alimin sesaat kemudian setelah meletakkan
gudeg cekernya.
Baiklah, kita putus! sahut gadis itu dengan tesrenyum.
Berakhirlah hubungan kedua manusia itu. Entah karena apa, tidak ada
keributan, tidak ada isak tangis. Biasa-biasa saja.
***
Sebulan setelah Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....itu, Alimin makan
gudeg di tempat yang sama, depan Shapir. Gudeg batas kota. Kini di
sampingnya bukan lagi gadis yang suka mengepang rambutnya, tapi seorang
gadis super seksi yang memakai baju minim, seperti kebanyakan remaja
jaman sekarang. Angin bebas membelai hampir semua tubuhnya. Baju tanpa
lengan, rok super mini. Dan itu sebenarnya tidak layak untuk di lihat public,
alih-alih tukang parker itu juga melotot ketika gadis seksi duduk di lesehan.
Mata-mata menatap tajam, Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug..., jantung
Alimin dengan kencang terbakar cemburu.
DagDigDug...DagDig...Dug...

41

Say! Kita putus saja! ucap Alimin yang sering kali marah ketika
kekasih barunya selalu memakai baju minim di tempat umum.
Apa? Putus? Tidak! Tidak! Gadis seksi itu berdiri.
Ya, aku tidak tahan! Semua mata melotot kepadasmu! Ingin
menjamahmu! Kita putus saja, aku mau jadi homo! Biar ndak cemburu terus!
Apa? Putus? Tidak! Tidak! Gadis itu mengambil piring, memukul
kepala Alimin sekeras-kerasnya, belum puas, gelas berisi es jeruk juka di
hantamkan ke kepala Alimin.
Aduh! Aduh! Aduh! Alimin hanya bisa mengaduh dengan memegangi
kepalanya yang bocor dan mencoba menghindar.
Tidak cukup puas dengan itu semua, gadis seksi yang cantik namun
tidak layak pandang itu semakin kesurupan saja. Piring orang yang sedang
makan di sebelahnya direbut dengan paksa dan di pukulkan ke arah kepala
Alimin yang sudah bocor sejak pukulan pertama. Pengunjung bubar, gaduh
tak terkendali.
Yang tadinya enak-enak makan menjadi gelisah Dag Dig Dug...Dag
Dig...Dug....bingung mau ngapain. Hanya jantung mereka yang Dag Dig
Dug...Dag Dig...Dug....
Alimin juga tersu menghindar, hingga sebuah piring penuh nasi sekali
lagi menghantam kepalanya. Brak!
Alimin terjengkang, tidak bergerak. Dia terjatuh dan kepalanya yang
pusing berdarah itu menghantam trotoar jalan.
Gadis itu diam, puas sudah rasanya.
Tukang parkir, masih dengan sesekali melirik gadis seksi itu mendekati
Alimin yang diam trbujur lemas.
Mati Kang? tanya seorang ibu yang kini berani mendekat.
DagDigDug...DagDig...Dug...

42

Masih ada! Dag Dig Dug...Dag Dig...Dug....J antungnya masih Dag Dig
Dug...Dag Dig...Dug.... sahut tukang parkir.
Gadis itu lalu berlalu, berjalan entah kemana. Mungkin menjual diri.
Dalam amarahnya yang memuncak, jantungnya berdetak Dag Dig Dug...Dag
Dig...Dug....
***
Sebulan setelah peristiwa itu
Di perempatan dkat Gudeg batas Kota.
"Koran! Koran! KR! KR! Seorang gadis seksi tewas mengenaskan! Di
perkosa 4 orang kakek-kakek! Koran-Koran! KR! KR! 4 Orang kakek perkosa
gadis cantik! Koran-koran!" dadanya Dag Dig dug... leleh berjalan hilir
mudik....Bolak-balik...


AkuMencintaimuTapiTerkadangAkuMenduakanmu

43

Aku Mencintaimu Tapi Terkadang Aku


Menduakanmu II
#Bukti Cinta#

Angin semilir masih meronta-meronta untuk selalu bisa menjamah
tubuhku yang mulai tak altetis lagi. Angin semilir masih terus berontak untuk
bisa menelusuri lekuk tubuhku yang tidak ngartis lagi. Tapi aku terima itu
dengan senyum, dan selalu senyum, karena memang begitulah angin. Tak
berbentuk, tak terlihat, tapi nyata-nyata angin ada, seperti itu pula dengan
cinta. Cinta ada namun tak terbentuk, cinta ada namun tak berwujud, cinta
nyata namun mistis, cinta ada dan bisa dirasakan.
Kemana kamu tak pulang? Tanya Istriku pagi itu.
Ada kerjaan yang harus diselesaikan, sahutku lirih sembari
merebahkan tubuh remuk ini ke sofa yang baru dibeli sebulan yang lalu.
Ini aroma apa? Aroma parfum wanita? tanyanya sembari mengendus
seperti anjing pengendus milik FBI yang terkenal ahli dalam segala macam
aroma.
Aku malah tak tau kalau ada aroma lain selain keringatku yang bau,
sahutku bingung, karena memang aku tak suka memakai parfum.
Hening, semua kembali hening. Namun hanya sepersekian detik saja.
Karena pertanyaan selanjutnya sudah meluncur.
Kamu tau nggak sih mas? Aku juga kerja, tapi aku tak pernah pulang
sampai pagi? Kamu ini enak-enakan saja, siang tidur malam keluyuran! lanjut
istriku setengah menghardik.
AkuMencintaimuTapiTerkadangAkuMenduakanmu

44

Ya kan pekerjaanku malam, kenapa harus diperdebatkan? Atau kamu


tidak usah kerja saja? Di rumah saja?
Bosen aku di rumah, aku mau kerja! Lagian ini jaman emansipasi
wanita! Wanita tidak bisa di jajah! Wanita harus merdeka! lanjutnya dengan
nada semakin meninggi, menderu seperti kereta Argo Bromo.
Oh ya sudahlah, aku tak suka rebut-ribut, aku istirahat dulu ya, aku
berusaha beranjak untuk segera mandi dan merebahkan tubuh di kasur.
Apa? J Awab dulu ini aroma parfum siapa?
Aku benar-benar tak bisa memberikan sebuah jawaban. Aku benar-
benar bingung karena memang aku tak pernah tahu ini aroma apa? Parfum
siapa? Dan aku memang tak pernah tau.
Dan begitulah, selalu saja parfum, wanita, wanita lain, selalu menjadi
masalah yang tidak jelas pangkal dan ujungnya. Sms siapa? BBM siapa? YM
siapa? Email siapa? Facebook siapa? Semua ditanyakan. Makan dengan
siapa? Tidur dimana? Pertanyaan itu seperti jarum yang menusuk-nusuk
kedalam hati. Perih, ngilu, nyeri dan menyakitkan.
Aku lelaki, aku tak bisa hidup sendiri hanya untuk menemanimu, maaf.
Walau dengan alasan apapun, aku lelaki. Emansipasi wanita? Itu salah
kaparah, wanita emansipasi? Bukanlah wanita yang suka mengintrogasi.
Emansipasi wanita yang diperjuangkan Kartini adalah emansipasi pendidikan
untuk wanita, bukan emansipasi wanita untuk menguasai pria. Tanya saja Ibu
Kartini kalau tak percaya. Banyak sekali wanita yang memenjarakan
pasangannya dengan dalih emansipasi, dan begitu pula sebaliknya, banyak
pria memenjarakan istrinya dengan dalih agama. Bukankan manusia adalah
makhluk sosial yang mempunyai hak dan kewajiban? Bukankan kita di
ciptakan untuk berhubungan dengan orang lain? Bukankan kita diciptakan
dengan sebuah pikiran yang bisa memilih, mana itu yang benar dan mana itu
yang kurang benar?
AkuMencintaimuTapiTerkadangAkuMenduakanmu

45

Malam ini aku memilih sendiri, tak juga pulang, tak juga pergi. Hanya
terdiam pada satu sisi, antara pagi dan ujung malam. Pada sudut ini aku
sendiri, menatap bintang bintang di langit yang semakin redup. Kurogoh saku
celanaku lalu kujuhut ponselku.
Halo, bisa ketemu sekarang? Aku jemput ya? Aku? Lagi malas aku
pulang! Istriku? Aku lagi bosan dengan pertanyaannya, aku jenuh dengan
omelannya. Boleh aku menginap dirumahmu? OK, OK.
Sekali lagi maaf sayang, aku sungguh-sungguh mencintai dengan
senyummu, aku sungguh-sungguh mencintaimu dengan ramahmu, namun
sekali lagi aku katakan, bahwasannya aku mencitaimu, namun bukan berarti
aku takmenduakanmu, ucap batinku lirih seakan teriris oleh gerimis yang
mulai turun.
Aku melangkah pergi, namun aku tak ingin pulang. Aku ingin terbebas
dari penjara emansipasi karena aku bukan Anjing peliharaan yang bisa dikat
atau dilepas semau Sang Empunya anjing. Aku adalah gelompang pasang.
J iwaku adalah gelombang pasang yang tak pernah bisa terhentikan. Semut-
pun kan marah bila terlalu.
---------------(SELESAI)--------------------------

46

TENTANG PENULIS

Endik Koeswoyo, lahir di J ombang 15 agustus 1982. Kini pemuda yang
masih tercatat sebagai Mahasiswa Akindo Yogyakarta itu semakin
meyakinkan dirinya untuk memilih jalur kepenulisan sebagai sebuah pilihan di
antara sekian banyak pilihan hidup lainnya. Cowok Yang Terobsesi Melati,
Cinta Selebar Kerundung, Tersesat Disurga, Hijrahnya Cinta dan tentunya
Kerudung Merah Putih adalah karya-karya fiksi yang telah ditulisnya.
Saat ini penulis sedang menyelesaikan S1 Yogyakarta. Endik
Koeswoyo, tinggal di Yogyakarta sejak tahun 2003. Saat ini menjadi bagian
dari Lookout Picture Indonesia dan Syakaa Organizer serta merupakan
penggagas lahirnya J aringan Penulis Indoensia. http://endik.seniman.web.id
adalah sarananya untuk membuang kejenuhan.
www.facebook.com/endikkoeswoyo adalah alamat termudah untuk
menemukannya. Karya tulis lainnya tersebar di berbagai milis internet.


Karya Cetak::
1. Cowok Yang Terobsesi Melati (Teenlet: Penerbit Diva Press
Yogyakarta)
2. Cinta Selebar Kerudung (Novel Remaja Islami: Penerbit Sketsa
Yogyakarta)
3. Tersesat Di Surga (Novel Remaja Islami: Penerbit Sketsa
Yogyakarta)
4. Pak Gempa (Kumpulan Komik Pendek: Penerbit ArusKata Press
J akarta)

47

5. Siapa Memanfaatkan Letkol Untung? (Buku Sejarah Popular:


Penerbit Media Pressindo Yogyakarta)
6. Hijrahnya Cinta (Novel Islami: Pustaka Fahima Yogyakarta)
7. Kaldera: Ketika Cinta Bicara Cinta (Sebuah Novel dalam bentuk POD
dan Ebook: Penerbit: Bisnis2030, J akarta)
8. Doa Untuk Dinda (Sebuah Novel. Penerbit: Gara Ilmu 2009,
Yogyakarta)
9. Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara (Penerbit: Gara Ilmu 2009,
Yogyakarta)
10. Debt : Ketika Hidup Harus Berbagi (Sebuah Novel, Penerbit:
Kembang Pustaka 2010, Yogyakarta)




Karya E-Book::
1. Love From My Heart (Novel: Penerbit BBB Lini Penerbit Independen
Online)
2. Ketika Cermin Tak Lagi J ujur (Antalogi Puisi: Penerbit PiON Lini
Penerbit Indepanden Online)
3. Psikodramatis (Novel Surealis Ekpresive: Penerbit PiON Lini Penerbit
Independen Online)
4. 10 Langkah Mudah Menjadi Penulis untuk Pemula (Buku Panduan
Singkat: Penerbit PiON Lini Penerbit Independen Online)

48

5. Miskin Itu Kewajiban (Buku Umum: Penerbit PiON Lini Penerbit


Independen Online)
6. Detak Dalam Detik (Sebuah Kumpulan Cerpen: Penerbit PiON Lini
Penerbit Independen Online)