Anda di halaman 1dari 14

i

Rombel 004. 11.00-12.40


PENGGUNAAN PESTISIDA ORGANIK
PENGGANTI PESTISIDA KIMIA SEBAGAI
UPAYA PENYEIMBANGAN EKOSISTEM SAWAH

Disusun oleh :
Kelompok 4
1. Hengky Fransiska (4301413019)
2. Agung Dono Sambodo (4301413031)
3. Nadlifatul Fuadiyah (4201413042)

ABSTRAK
Bertani merupakan salah satu mata pencaharian terbesar masyarakat di
negara yang beriklim tropis, salah satunya Indonesia. Masalah yang
menghinggapi para petani adalah serangan hama. Yang jadi masalah disini
adalah banyak dari petani menggunakan pestisida kimia yang mencemari
lingkungan untuk memberantas hama. Pestisida kimia ini mengandung senyawa
dioxin dan dioxin like, senyawa tersebut adalah polutan yang sangat susah
terurai, senyawa ini baru terurai dalam jangka waktu 10-30 tahun.
Penggunaan pestisida kimia secara tidak terkontrol membuat lingkungan
akan tercemar dan rusak, terutama ekosistem sawah akan tidak seimbang karena
suatu senyawa yang terkandung dalam pestisida kimia tersebut. Solusi yang
paling tepat adalah dengan mengganti penggunaan pestisida kimia yang
mencemari lungkungan dan menggantinya dengan pestisida yang lebih ramah
lingkungan yaitu pestisida organik. Tujuannya adalah agar pencemaran
lingkungan akibat pestisida kimia berkurang dan selain itu hasil dari pertanian
juga akan lebih steril.
Ini akan terlaksana jika pihak yang mengimplementasi gagasan bisa
bekerjasama dan bisa sadar tentang hasil positif yang akan didapat. Pihak yang
mengimplementasi ini diantaranya Mahasiswa dengan memberi arahan kepada
petani tentang bahaya penggunaan pestisida kimia, petani dengan mulai
menggunakan pestisida organik yang ramah lingkungan, peneliti dengan
menemukan bahan-bahan organik yang dapat dijadikan pestisida, dan produsen
pestisida dengan menghentikan produksi pestisida kimia dan menggantinya
dengan memproduksi pestisida organik.
Kata kunci : Dampak Pestisida Kimia, Pestisida Alami, Ekosistem Pertanian
Pendahuluan
Bertani merupakan salah satu mata pencaharian terbesar masyarakat di
negara yang beriklim tropis, salah satunya indonesia. Berbagai upaya dilakukan
petani untuk memperoleh hasil panen yang banyak dan berkualitas tinggi. Salah
ii

satunya adalah membasmi hama perusak tanaman dengan menggunakan pestisida.
Beberapa jenis pestisida dan merk pestisida yang digunakan oleh petani, namun
yang terbanyak dipakai petani pada saat ini adalah pestisida kimia.
Pestisida kimia yang digunakan petani secara tidak bijaksana dapat
merusak ekosistem dari sawah itu sendiri. Ekosistem menjadi tidak seimbang
karena musnahnya predator hama tertentu sehingga hama tersebut mengalami
ledakan pertumbuhan. Pestisida Kimia juga membuat dampak negatif bagi
manusia yang mengkonsumsi dari hasil pertanian tersebut. Dampak negatif
tersebut diantaranya menimbulkan penurunan ketahanan tubuh, tingkat kematian
bayi, keracunan, kelahiran cacat, dan lain-lain.(www.caramenanam.com)
Dampak lain dari pestisida kimia adalah ikut andil dalam pencemaran
lingkungan. Residu pestisida kimia pada tanaman yang berbahaya bagi konsumen
adalah seperti organochlorin. Berbagai kasus serius pada kesehatan masyarakat
disebabkan oleh dioxin dan dioxin like. Dioksin adalah nama umum sekelompok
bahan kimia2,3,7,8 tetrachlorodibento p-dioxin (TCDD). Sedangkan dioxin like
seperti furan dan beberapa poly chlorinated bi phenyls (PBC). Dioxin dan dioxin
like adalah salah satu residu dari pestisida Kimia. Dioxin bersifat sangat stabil.
Polutan ini baru bisa terurai dalam jangka waktu 10-30 tahun. Bisa dibayangkan
betapa bahayanya bila akumulasi dioxin ini masuk ke dalam tubuh hewan atau
manusia. Untuk itulah, dibutuhkan pestisida alami yang dapat mengendalikan
hama tanaman dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di alam.
Jarang petani yang mengenal pestisida alami ini, mereka lebih mengenal
pestisida yang dibuat dari bahan-bahan kimia. Padahal penggunaan pestisida
alami ini jauh lebih baik dari penggunaan pestisida kimia. Selain lebih aman
untuk konsumen dari hasil pertanian, pestisida alami juga tidak merusak
ekosistem sawah dan juga tidak mencemari lingkungan. Banyak bahan dari alam
yang bisa petani gunakan untuk membuat pestisida. Petani juga dapat membuat
pestisida sendiri dengan memanfaatkan sesuatu yang disediakan oleh alam. Selain
aman pestisida alami juga lebih murah daripada pestisida buatan.
1

Dibuatnya makalah ini bertujuan agar para petani dapat mengurangi
penggunaan pestisida kimia yang mencemari lingkungan dan beralih ke pestisida
alami yang lebih aman. Untuk itu, butuh kesadaran dari petani untuk mengganti
penggunaan pestisida kimia dengan pestisida alami. Hal ini demi terciptanya
keseimbangan ekosistem juga mengurangi pencemaran lingkungan. Karena jika
kita sendiri yang tidak dapat menjaga lingkungan ini, lalu siapa lagi yang
menjaganya. Pencemaran lingkungan juga menimbulkan dampak negatif bagi kita
sendiri. Seperti kata pepatah lingkungan yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Makalah ini bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat
dari pestisida kimia yang digunakan secara tidak terkontrol oleh petani dengan
cara menunjukkan pada petani bahaya dari pestisida kimia dan mengarahkan
petani untuk menggunakan pestisida organik sebagai pengganti pestisida kimia.
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan bermanfaat bagi para petani yang
mana kualitas hasil pertaniannya meningkat dan juga bagi lingkungan persawahan
dengan menghentikan pencemaran. Ini juga diharapkan bermanfaat bagi
konsumen hasil pertanian dengan menghasilkan hasil pertanian yang steril dari
bahan-bahan kimia yang berbahaya.
Pembahasan
Kondisi Pertanian di Indonesia
Indonesia terkenal dengan negara tropis sehingga ini sangat menguntungkan
untuk bercocok tanam, selain itu kondisi tanah yang sangat subur memungkinkan
Indonesia untuk ditanami berbagai macam jenis tanaman, mulai dari makanan
pokok seperti padi, jagung, ketela pohon, kentang, sagu dan lain sebagainya,
sayur-sayuran seperti tokat, wortel, bayam, kangkung dan lain-lain, buah-buahan.
Setiap daerah memiliki produk pertanian yang berbeda-beda sesuai dengan jenis
tanah yang ada. Banyak tanaman dengan nilai jual yang tinggi tumbuh dengan
mudahnya di wilayah Indonesia. Suatu keuntungan bagi para petani di indonesia.
Mereka diuntungkan dengan iklim tropis Indonesia. Dengan iklim yang tropis,
membuat Indonesia memiliki banyak lahan pertanian, seperti sawah.
2

Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan
pokok mereka. Sebagai negara yang makanan pokoknya nasi, membuat banyak
lahan pertanian Indonesia berupa persawahan yang menghasilkan beras (nasi). Hal
ini karena permintaan pasar terhadap beras sangatlah besar, hampir semua orang
di Indonesia makan nasi. Padi yang ditanam petani tidak terlepas dari masalah.
Satu-satunya masalah yang sering mengganggu para petani adalah hama. Hama
terus menyerang lahan pertanian dan sering merusak tanaman yang ditanam.
Jenis-jenis hama yang menyerang tanaman padi:
1. Virus Tungro
Tungro merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi
karena menjadi penghambat dalam upaya peningkatan produksi padi
nasional dan ancaman bagi ketahanan pangan berkelanjutan. Penyakit
tungro disebabkan oleh dua jenis virus, yaitu Rice tungro bacilliform virus
(RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV) dan ditularkan secara
semi persisten oleh wereng hijau, terutama Nephotettix virescens Distant
(Hibino dan Cabunagan, 1986). Gejala berat yang ditimbulkan adalah
tanaman tampak kerdil, anakan sedikit, terjadi diskolorasi daun yang
bergradasi dari kuning hingga jingga, pertumbuhan akar terhambat, dan
menghasilkan bulir gabah kecil dan kosong. (pangan.litbang.deptan.go.id)
2. Hama Sundep (Scirpophaga innotata)
Hama endemis ini berkembang dari pantai hingga daerah
pedalaman dengan ketinggian 200 meter diatas permukaan laut, dengan
curah hujan (kurang dari 200 mm) terjadi bulan October-November.
Tanda-tanda hama ini dimulai dengan melakukan invasi (terbangnya
ribuan kupu-kupu kecil berwarna putih pada sore dan malam hari) setelah
35 hari masa hujan. Kupu-kupu ini melakukan terbang sekitar dua minggu,
menuju daerah- daerah persemaian tanamaan padi. Selanjutnya telur-telur
(170-240 telur) diletakkan dibawah daun padi yang masih muda dan akan
menetes menjadi ulat perusak tanaman padi setelah seminggu.
Penyerangan ini dikenal dengan nama Hama Sundep dan Hama
Beluk, Perbedaan keduanya dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perbedaan Hama Sundep dan Hama Beluk.
3

Hama Sundep Hama Beluk

Menyerang daun padi muda,
menguning dan mati. Walaupun
batang padi bagian bawah masih
hidup atau membentuk anak
tanaman baru tapi pertumbuhan
daun baru tidak terjadi.


Menyerang titik tumbuh tanaman
padi yang sedang bunting sehingga
buliarn padi keluar, berguguran,
gabah-gabah kosong dan berwarna
keabu-abuan.

Sumber: (Siregar:2007)
3. Ulat Penggerek (Scahunobius bipunctifer)
Gangguan dan kerusakan pada tanaman padi gandu, terutama
daerah pegunungan, daya pengrusakannya tertuju pada bagian-bagian
pucuk tanamaan sehingga mematikan tanaman padi. Daur hidup mirip
dengan S. innotata, biasanya 30 hari tetapi tidak memiliki diapause
sehingga meningkatkan kupu-kupu betina (warna kuning muda) dan jantan
(warna sawo matang) dengan jumlah telur (150 butir) yang diletakkan di
bagian bawah daun padi muda yang ditutupi oleh lapisan bulu. Ulat akan
menggerek batang padi yang muda menuju titik tumbuh yang masih lunak.
Pemberantasan dilakukan menggunakan insektisida yang tidak tahan lama
atau crop rotation (berselang-seling dengan menanam palawija).
4. Hama Putih (Nymphula depunctalis)
Menyerang dan bergelantungan pada daun padi sehingga berwarna
keputih-putihan, bersifat semi aquatil (menggantungkan hidup pada air
untuk bernafas dan udara). Kerusakan yang ditimbulkannya dapat
mematikan tanaman padi disebabkan:
a. Gerakan invasi melibatkan banyak hama yang menyerang tanaman
padi sebagai sumber makanannya.
b. Tanaman padi yang diserang kebanyakan berasal dari bibit-bibit
lemah.
Hama putih akan menjadi kepompong, sarung/kantong yang selalu
4

dibawanya akan ditanggalkan dan dilekatkan pada abtang padi, kemudian
dimasukinya lagi dan tidak keluar sampai menjadi kepompong (sekitar
2 minggu).
Pembasmian hama ini dapat dilakukan dengan mempelajari siklus
hidup, mengeringkan petakan-petakan sawah, membiarkan petak sawah
berair dan diberi minyak lampu atau penggunaan insektisida ramah
lingkungan. (Siregar:2007)

5. Hama Wereng Coklat (Nilapervata lugens)
Hama ini selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda
atau bulir-bulir buah muda yang lunak, dapat meloncat tinggi dan tidak
terarah, berwarna coklat, berukuran 3-5 mm, habitat ditempat lembab,
gelap dan teduh. Telur banyak yang ditempatkan dibawah daun padi yang
melengkung dengan masa ovulasi 9 hari menetas, 13 hari membentuk
sayap dan 2 minggu akan bertelur kembali. Hama ini meluas serangannya
dilihat dari bentuk lingkaran tanaman petakan padi.

6. Wereng Hijau
Merusak kelopak-kelopak dan urat-urat daun padi dengan alat
penghisap pada moncong yang kuat. Bertelur (sebanyak 25 butir) yang
ditempatkan di bawah daun padi selama tiga kali sampai dia mati.
7. Walang Sangit
Binatang ini berbau, hidup bersembunyi di rerumputan, tuton,
paspalum, alang-alang sehingga pada tanaman padi muda ketika berbunga
atau berbuah. Walang sangit menempatkan telurnya (14-16 telur hingga
360 butir telur sepanjang hidupnya) secara berjajaran pada daun.
8. Lembing Hijau
Berkembang pada iklim tropis, hidupnya berkoloni, betina
berukuran kecil (16 mm) dengan 1100 telur selama hidupnya, lama
penetasan 6-8 minggu, jantan berumur 6 bulan. Serangannya tidak sampai
menghampakan padi, tetapi menghasilkan padi dengan kualitas jelek
5

(goresan-goresan membujur pada kulit gabah dan pecah apabila dilakukan
penggilingan/penumbukan). (Siregar:2007)
9. Tikus
Tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)) merusak tanaman padi
pada semua tingkat pertumbuhan, dari semai hingga panen, bahkan di
gudang penyimpanan. (cybex.deptan.go.id)
Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase
generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru.
Tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, kemudian meluas ke
arah pinggir. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari,
tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan
sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode
tertentu, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat
sawah dan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang fase
generatif.(pangan.litbang.go.id)

Penggunaan Peptisida Kimia
Petanipun mencoba berbagai cara untuk memberantas hama tersebut. Cara
yang paling sering digunakan petani adalah dengan menggunakan pestisidania.
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus
yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di
sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit
tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian
nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus,
burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.(Zulaiha:2011)
Ada beberapa jenis pestisida, diantaranya yang familiar adalah pestisida
kimia dan pestisida organik. Yang paling familiar dan paling sering digunakan
petani diantara beberapa jenis pestisida adalah pestisida kimia. Padahal pestida
kimia itu mengandung senyawa yang berbahaya bagi manusia, ekosistem,bahkan
mencemari lingkungan. Banyak kerugian penggunaan pestisida kimia yang tidak
diketahui petani. Maka dari itu petani dengan tidak terkontrol terus menggunakan
6

pestisida kimia ini. Akibat dari penggunaan pestisida kimia secara tidak terkontrol
ini adalah :
- Bila terkonsumsi akan menimbulkan penurunan ketahanan tubuh, tingkat
kematian bayi, keracunan, kelahiran cacat, dan lain-lain.
- ikut andil dalam pencemaran lingkungan.
- Ekosistem menjadi tidak seimbang karena musnahnya predator hama
tertentu sehingga hama tersebut mengalami ledakan
pertumbuhan.(wikipedia.org)
Itulah segelintir bahaya yang ditimbulkan jika menggunakan pestisida kimia
secara tidak terkontrol.
Selain bahaya tersebut diatas ada lagi hal negatif lain dari penggunaan
pestisida kimia bagi petani itu sendiri yaitu bahwa pestisida kimia dijual dengan
harga yang lumayan mahal. Selain itu sayuran atau buah yang dihasilkan dari
penggunaan pestisida kimia akan kelihatan tampak kurang segar dan tidak bersih
dari bahan-bahan kimia. Dari kualitas hasil pertanian yang turun, harga hasil
pertanian pun akan sedikit lebih murah.
Pestisida Organik
Untuk menghadapi masalah tersebut diatas, petani dianjurkan mulai
menggunakan pestisida organik pengganti dari pestisida kimia. Banyak
keunggulan yang didapat dari penggunaan pestisida organik ini. Beberapa
keunggulan dari pestisida organik dibawah ini. Diantaranya :
Petama, dari segi biaya. Harga pestisida organik lebih murah. Jika harga
pestisida kimia Rp. 50.000 sedangkan untuk harga pestisida organik Cuma Rp.
15.000. Sebagai gambaran, untuk luas persawahan 1 ha dari tanaman buncis
petani harus mengeluarkan biaya Rp. 2000.000 untuk membeli pestisida kimia.
Sedangkan kalau menggunakan pestisida organik petani hanya mengeluarkan
biaya Rp. 100.000 dengan luas lahan yang sama. Hasil panen pun sama yaitu
sekitar 8 ton.
7

Kedua, menggunakan pestisida alami juga tentu lebih sehat. Karena tidak
menimbulkan pencemaran lingkungan. Pestisida kimia yang mengadung dioxin
dan dioxin like tentu sangat mencemari lingkungan. Hasil produksi dari tanaman
yang dihasilkan dari lahan yang menggnakan pestisida organik juga lebih sehat
dikonsumsi, karena tidak terkontaminasi zat-zat kimia yang membahayakan tubuh
jika dikonsumsi.
Ketiga, hasil dari lahan yang menggunakan pestisida organik ini terlihat
tampak lebih segar, lebih bersih dan steril dari bahan-bahan berbahaya yang sulit
larut dalam air, sehingga harga dari hasil pertanian inipun lebih tinggi daripada
dengan harga tanaman dari lahan pertanian yang menggunakan pestisida kimia.
Petani pun akan menghasilkan keuntungan yang lebih banyak.(Sukorini:2003)
Jenis-jenis Peptisida Organik
Jenis-jenis Pestisida organik ramah lingkungan yang telah ditemukan oleh
Fuad Affandi seorang kiai yang mengasuh 300 santri. (www.jaist.ac.jp)
Innabat adalah pestisida yang terbuat dari kacang babi dicampur dengan
bawang putih, bawang merah, cabe rawit, dan temulawak. Semua bahan itu
digiling menjadi satu dan dicampur dengan air beras. Campuran tersebut
kemudian didiamkan selama 14 hari sebelum disemprotkan ke tanaman. Ketika
diuji, ramuan ini ampuh untuk membasmi berbagai jenis ulat, ngengat, dan lalat
yang sering menyerbu tanaman sayuran.
Sedangkan Ciknabat, yang terbuat dari cikur (kencur) dicampur dengan
bawang putih, ampuh sebagai fungisida (pembasmi jamur tanaman). Selain
membasmi jamur, Ciknabat juga berfungsi ganda sebagai insektisida. Kencur dan
bawang putih ini tidak mematikan hama, tapi baunya membuat hama enggan
mendekat. Lain lagi dengan Sirnabat, yang terbuat dari gilingan biji sirsak,
merupakan formula paling keras yang dibuat Fuad. Ramuan ini disemprotkan jika
Innabat dan Ciknabat sudah tak mempan lagi mengusir hama.
Ada beberapa jenis tanaman lain yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida
organik. Salah satu tanaman yang digunakan untuk mengendalikan hama tikus
8

pada padi sawah adalah menggunakan tanaman cabai (Capsicum annum), buah
jengkol (Phitecellobium lobatum) dan buah papaya tua (Carica papaya). Buah
papaya tua langsung diberikan pada tikus hasilnya mati, sedangkan jengkol dan
cabai menggunakan air hasil rendaman dari kedua jenis tanaman ini yang
kemudian disemprotkan sehingga hama tikus menjadi berkurang nafsu makannya
Pestisida organik untuk mengendalikan hama tikus menggunakan cabai, buah
jengkol dan papaya. Buah jengkol mengandung minyak atsiri, saponin, alkaloid,
terpenoid, steroid, tannin, glikosoda, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor dan
vitamin. Cabai mengandung minyak atsiri, piperin dan piperidin yang berfungsi
sebagai repellent dan mengganggu preferensi makan hama. Sedangkan buah
papaya tua sebagai racun (enzim albuminose) atau kaloid carpine dalam
mengendalikan tikus dengan potensi yang cukup besar karena buah papaya
mengandung bahan aktif papain yang dapat digunakan sebagai rodentisida.
Pembuatan pestisida organik dengan bahan jengkol yaitu:
1) Buah jengkol dikupas kulit luarnya maupun kulit arinya.
2) Kemudian kupasan jengkol direndam dengan air, perbandingan 1 kg : 10
liter air selama 24 sampai 36 jam sehingga air rendaman mengeluarkan
aroma yang sangat menyengat yang dapat mengusir hama tikus
3) Meletakkan atau menyemprotkan larutan jengkol pada tanaman padi.
Bukan hanya berlaku bagi tikus tetapi dapat mengusir burung yang
menyerang tanaman padi.
Pembuatan pestisida organik dengan cabai yaitu:
1) Cabai ditumbuk halus kemudian direndam selama semalam.
2) Kemudian disaring dan dapat langsung disemprotkan pada tanaman padi.
Pembuatan pestisida organik dengan bahan buah pepaya tua yaitu:
1) Buah papaya tua yang belum masak dikupas
2) Buah dipotong kecil-kecil sebesar dadu.
3) Kemudian disebarkan pada tempat yang biasa dilewati tikus.
9

Dalam proses pembuatan rodentisida organik buah papaya, mulai dari
pengupasan sampai penyebarannya harus menggunakan sarung tangan
karena indera penciuman tikus sangat tajam terhadap bau dan sentuhan
tangan manusia, sehingga kemungkinan tikus tidak akan memakan
potongan buah papaya tua yang diberikan.
Pembuatan peptisida organik dengan umbi gadung, biji jarak dan
babadotan:
Disiapkan umbi gadung, biji jarak yang sudah matang dan daun
babadotan yang masih segar masing-masing 40, 80 dan 120 g. Umbi
gadung dan biji jarak dikupas sedangkan daun babadotan dijemur pada
panas matahari hingga kering. Selanjutnya, ketiga bahan tersebut masing-
masing diblender hingga halus dan ditambah air sebanyak 1 liter dan
etanol 10 ml. (Butarbutar:2013)

Diharapkan para petani bisa menggunakan pestisida organik yang ramah
lingkungan dan berhenti menggunakan pestisida kimia yang mencemari
lingkungan. Banyak petunjuk untuk membuat pestisida organik sendiri, salah
satunya adalah temuan dari Bapak Fuad Affandi. Penulis juga ingin menunjukan
pada petani bahwa penggunaan pestisida organik akan menghasilkan hasil
pertanian yang lebih unggul dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Gagasan ini dapat terwujud jika beberapa pihak dapat berkontribusi
menurut peran masing-masing :
1. Mahasiswa
Melalui pengetahuan dan pandangan masyarakat kepada mahasiswa,
diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan kepada para petani bahaya
penggunaan pestisida kimia bagi lingkungan dan keuntungan mengggunakan
pestisida organik.
2. Petani
10

Petani diharapkan sadar tentang bahaya penggunaan pestisida kimia dan
diharapkan mau mengganti penggunaan pestisida kimia dengan pestisida
organik yang lebih menguntungkan dan ramah lingkungan.
3. Peneliti
Peneliti diharapkan mampu menemukan ide-ide baru tentang bahan-
bahan organik apa saja yang dapat memberantas hama dan menciptakan
varian pestisida organik baru yang lebih murah dan lebih sederhana (gampang
dibuat sendiri oleh petani).
4. Produsen pestisida
Produsen pestisida yang memproduksi pestisida kimia diharapkan agar
mulai beralih memproduksi pestisida organik.
Langkah-langkah strategis yang dilakukan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam hal ini, diantaranya :
1. Sosialisasi ke petani
Petani diberi penjelasan tentang bagaimana keuntungan dari
penggunaan pestisida organik dan bahaya yang ditimbulkan dari penggunaan
pestisida kimia secara tidak terkontrol. Petani juga dijelaskan dengan
bagaimana cara membuat pestisida organik sederhana sendiri dengan bahan-
bahan yang murah dan mudah digunakan.
2. Praktik di lapangan
Petani dibimbing bagaimana mengolah pestisida organik yang telah
dibuat sampai bisa disemprotkan ke tanaman di sawahnya.
3. Mengamati hasil
Setelah penyemprotan pestisida organik pada tanaman di sawah.
Langkah selanjutnya adalah mengamati hasil dari penggunaan pestisida ini.
Hal-hal yang diamati adalah : Kemampuan pestisida dalam memberantas
hama, hasil pertanian, dan keseimbangan ekosistem sawah.
KESIMPULAN
Gagasan Yang diajukan
11

Gagasan ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan dari pestisida kimia
yang sangat tidak terkontrol. Keprihatinan penulis terhadap tercemarnya
lingkungan persawahan dan rusaknya ekosistem yang ada dipersawahan karena
pestisida kimia membuahkan pikiran cara menanggulangi hal tersebut yaitu
mengganti pestisida yang mencemari lingkungan dengan pestisida yang aman
untuk lingkungan dan pestisida tersebut adalh pestisida organik.
Teknik Implementasi Yang Akan Dilakukan
Untuk mewujudkan gagasan Penggunaan Pestisida Organik Pengganti
Pestisida Kimia Sebagai Upaya Penyeimbangan ekosistem Sawah dilakukan
langkah-langkah implementasi berikut berikut :
1. Mencari bahan-bahan organik yang bisa digunakan untuk membuat pestisida.
2. Mencari bahaya dari penggunaan pestisida kimia.
3. Mencari daerah tempat sosialisasi bagi petani.
4. Mencari lingkungan persawahan yang digunakan untuk percobaan.
Prediksi Hasil Yang Akan Diperoleh
Gagasan yang bertujuan untuk menyelamatkan ekositem sawah dari
bahaya penggunaan pestisida kimia ini dibuat untuk meminta petani
menghentikan penggunaan pestisida kimia secara berlebihan dan mengganti
penggunaan pestisida dengan pestisida organik. Pestisida organik akan membuat
lingkungan sawah tidak tercemar, seimbangnya ekosistem sawah, dan hasil
pertanian akan lebih steril dan segar.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.caramenanam.com/2013/07/bahaya-pestisida-kimia-bagi-manusia-
dan.html diakses pada 9 Maret 2014
http://id.wikipedia.org/wiki/Dampak_lingkungan_dari_pestisida diakses pada 9
Maret 2014
https://www.jaist.ac.jp/~rac/pub/kanigara/id/Home/fuad.htm diakses pada 14
Maret 2014
12

Hamzah, F. (2008) Aplikasi Pestisida Nabati Pada Tanaman. Jurnal Agrisistem.
1, (4).
Sukorini, H. (2003). Pengaruh Pestisida Organik dan Interval Penyemprotan
Terhadap Hama plutellaxylostella pada Budidaya Tanaman Kubis Organik.
Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Butarbutar, Resfin, Maryani Cyccu Tobing, Mena Uly Tarigan. (2013). Pengaruh
Beberapa Jenis Pestisida Nabati untuk Mengendalikan Ulat Grayak Spdoptera
litura F. (Lepidoptera: Nocktuidae) pada Tanaman Tembakau Deli di Lapangan.
Jurnal Online Agroteknologi,1,(4)
Zulaiha, Siti. (2011). Penggunaan pestisida Nabati Ramah Lingkungan
Penyelamat Jaring-jaring (Rantai) Makanan dalam Ekosistem Pertanian.
http://repository.usu.ac.id_ Ameilia Zuliyanti Siregar : Hama-Hama Tanaman
Padi, 2007
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1118/1/07004376.pdf)
http://disperta.cianjurkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id
=71:5-lima-jenis-hama-dan-penyakit-utama-padi-sawah&catid=78:berita-dan-
informasi&Itemid=472 diposting pada 23 Oktober 2013
http://pangan.litbang.deptan.go.id diposting pada 4 April 2014
http://cybex.deptan.go.id/hama-sawah diakses pada tanggal 5 April 2014

Anda mungkin juga menyukai