Anda di halaman 1dari 11

NIKAH ATAU PERKAWINAN

Nikah dalam arti bahasa adalah bercampur, sedangkan berdasarkan


istilah Fiqih adalah akad antara seorang calon suami dengan seorang
wali nikah yang menjamin halalnya bersetubuh antara isteri dan Suami
nya dengan kalmiat nikah/kawin (Ianatuttholibiin hal.255 juz III).
Definisi nikah menurut UU No.1/74 ialah ikatan lahir ba-thin antara
seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasakan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1)

Hukum Nikah

Asal hukum nikah adalah sunnah berdasarkan hadits Nabi SAW.,
tetapi hal ini dapat berubah menjadi :
+ WAJIB, bagi orang yang telah mampu (fisik & materi) dan bila ia tidak
nikah dikhawatirkan akan berbuat zina.
+ HARAM, bagi orang yang tahu bahwa dirinya tidak mampu melaksanakan
hidup berumah tangga (lahir atau bathin).
+ MUBAH, bagi orang yang tidak ada halangan untuk kawin dan dorongan
kawin belum membahayakan dirinya.
+ MAKRUH, bagi orang yang mampu fisik maupun materi te-tapi ia tidak
berhajat (berkeinginan) sama sekali untuk nikah karena tidak percaya
akan dirinya mampu melaksanakan ketentuan nilah serta tidak akan
terjebak pada perzi-nahan.

Beberapa ayat anjuran untuk menikah :


;WEE_4E_^1)
-EONL7O4g~w}4^e
7O^}g)`7
4-UEupgOg-4C-47}g`4

^g pNO-E4-4C Og e4CE
lgOO)
Ep)OE;O4O4EE14OE`:4LuO4

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir (Ar-Rum : 21).

_ :j*.4`)4 7g14:gN ;}g`
4-)UO-4
7Lg`OE4C--O^4 _
_ ^@g 1)U4 77c4 +.-4 g)-;_
}g` +.- N)_g4^NC 47.-4O
-O+^O74Cp)

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka
dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui
(An-Nur : 32).







Hukum Nikah
Menurut Para Ulama Madzhab

perbedaan pandangan diantara para ulama dalam memberikan syarat dan kriteria
hukum nikah.

Versi Imam Maliki
a. Wajib
Hukum menikah menjadi wajib apabila memenuhi tiga syarat, yaitu:
1. Hawatir melakukan zina
2. Tidak mampu berpuasa atau mampu tapi puasanya tidak bisa mencegah terjadinya
zina.
3. Tidak mampu memiliki budak perempuan (amal) sebagai pengganti isteri dalam
istimta.
b. Haram
Hukum menikah menjadi haram apabila tidak hawaatir zina dan tidak mampu memberi
nafkah dari harta yang halal atau atau tidak mampu jima, sementara isterinya tidak ridlo.
c. Sunnah
Hukum menikah menjadi sunnah apabila tidak ingin untuk menikah dan ada
kekhawatiran tidak mampu melaksanakan hal-hal yang wajib baginya.
d. Mubah
Hukum menikah menjadi mubah apabila tidak ingin menikah dan tidak mengharap
keturunan, sedangkan ia mampu menikah dan tetap bisa melakukan hal-hal sunnah.[5]


Lanjutan hukum nikah, Menurut Imam Maliki
Imam Maliki mengharuskan izin dari wali atau wakil
terpandang dari keluarga atau hakim untuk akad nikah. Akan
tetapi tidak dijelaskan secara tegas apakah wali harus hadir
dalam akad nikah atau cukup sekedar izinnya. Meskipun
demikian imam malik tidak membolehkan wanita menikahkan
diri-sendiri, baik gadis maupun janda.
Mengenai persetujuan dari wanita yang akan menikah,
imam maliki membedakan antara gadis dengan janda. Untuk
janda, harus terlebih dahulu ada persetujuan secara tegas
sebelum akad nikah. Sedangkan bagi gadis atau janda yang
belum dewasa dan belum dicampuri suami, maka jika bapak
sebagai wali ia memiliki hak ijbar. Sedangkan wali diluar bapak, ia
tidak memilki hak ijbar.

Versi Imam SyafiI

a. Wajib
Hukum menikah menjadi wajib apabila:
1. Ada biaya (mahar da nafkah)
2. Hawatir berbuat zina bila tidak menikah.
b. Haram
Hukum menikah menjadi haram apabila memiliki keyakinan bahwa dirinya
tidak bisa untuk menjalankan kewajiban-kewajiban yang ada di dalam
pernikahan.
c. Sunnah
Hukumnya menikah menjadi sunnah apabila ada keinginan menikah dan ada
biaya (mahar dan nafkah) dan mampu untuk melaksanakan hal-hal yang ada di
dalam pernikahan.
d. Makruh
Hukum menikah menjadi makruh apabila tidak ada keinginan untuk menikah,
tidak ada biaya dan ia hawatir tidak bisa melaksanakan hal-hal yang ada dalam
pernikahan.
e. Mubah
Hukum menikah menjadi mubah apabila ia menikah hanya semata-mata
menuruti keinginan syahwatnya saja.

Lanjutan hukum nikah, Menurut
Imam Maliki
Menurut imam Syafii, kehadiran wali menjadi salah satu rukun
nikah, yang berarti tanpa kehadiran wali ketika melakukan akad nikah
perkawinan tidak sah. Bersamaan dengan ini, Imam Syafii juga
berpendapat wali dilarang mempersulit perkawinan wanita yang ada di
bawah perwaliannya sepanjang wanita mendapat pasangan yang
sekufu. Dasar yang digunakan imam Syafii adalah :

Surat Al-Baqarah
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya,
Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi
dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara
mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada
orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari
kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 232)

Surat An-Nisa:
Dan Barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup
perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh
mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah
mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain,
karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin
mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang
memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-
laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan
kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas
mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.
(Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada
kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan
kesabaran itu lebih baik bagimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Q.S.An-Nisa : 25)
Surat An-Nisa:
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan
masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (Q.S. An-Nisa : 34)

Rukun dan Syarat Nikah
Versi Imam Maliki
- Shighat (ijab dan qobul)
- Wali
- Pihak laki-laki
- Pihak Perempuan
- Mahar
- Dua saksi
Versi Imam Syafii
- Shighat (ijab dan qobul)
- Wali
- Pihak laki-laki
- Pihak perempuan
- Dua saksi

.
.