Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Caring adalah suatu tindakan atau kegiatan yang dilakukan
dengan tujuan untuk memberikan asuhan fisik dan memperhatikan
emosi serta menigkatkan rasa aman dan keselamatan klien. Potter &
Perry (2005) dalam kutipan Nindya (2014), mengemukakan bahwa
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada,
menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan
perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak
keperawatan.
Salah satu bentuk pelayanan keperawatan yang penting adalah
terlihatnya perilaku caring perawat yang merupakan inti dari praktek
keperawatan profesional. Perilaku caring dari seorang perawat sangat
mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan dan kepuasan klien di
rumah sakit, dimana sebagai penentu citra institusi pelayanan
(Saputri, 2010) dalam kutipan Layuk (2013). Dari perilaku caring
seorang perawat tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor
individu yang terdiri dari kemampuan dan keterampilan latar belakang
pendidikan dan demografis, faktor psikologis yang terdiri dari sikap
kepribadian belajar dan motivasi, faktor organisasi yang terdiri dari
sumber daya kepemimpinan imbalan struktur dan desain pekerjaan
(Prabowo, 2014).
Tidak mudah untuk membentuk sikap caring, perlu dilakukan
dukungan dan penguatan selama masa perkuliahan (Yulianti, 2012).
Latar belakang pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan
perawat dalam memahami konsep tentang caring. Semakin tinggi


pendidikan pengetahuan seorang perawat akan berhubungan positif
terhadap perilaku caring dan sebaliknya jika memiliki pengetahuan
rendah akan berhubungan negatif terhadap perilaku caring (Prabowo,
2014). Hal ini akan berdampak pada kepuasan klien, yaitu adanya
keluhan klien terhadap pelayanan dan sikap perawat, seperti judes,
kurang ramah, jarang senyum, dan jarang menyampaikan informasi
yang dibutuhkan klien.
Pendidikan keperawatan yang diselenggarakan di Perguruan
Tinggi untuk menghasilkan berbagai lulusan Ahli Madya Keperawatan,
Ners, Magister Keperawatan, Ners Spesialis, dan Doktor Keperawatan
(Produk, 2012). Lulusan dari perguruan tinggi keperawatan harus
memiliki profil sebagai care provider (pemberi pelayanan
keperawatan), community leader (pemimpin di komunitas), educator
(pendidik), manager (manejer), researcher (peneliti), communicator,
collaborator (kolaborasi) (narotama, 2011).
Kompetensi dalam seperangkat tindakan cerdas penuh
tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk
dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas
di bidang pekerjaan tertentu. Kompetensi terdiri atas kompetensi
utama, kompetensi pendukung, kompetensi lain yang bersifat khusus
dan gayut dengan kompetensi utama (SK Mendiknas No.
045/U/2002). Elemen-elemen kompetensi terdiri atas landasan
kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemampuan
berkarya, sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian
berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai, dan Pemahaman
kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian
dalam berkarya. Kompetensi perawat Indonesia terdiri dari kompetensi
perawat praktisi (perawat ahli madya dan ners spesialis), kompetensi
perawat manajer dan kompetensi perawat peneliti (Produk, 2012).
Ilmu keperawatan yang berkembang dimana perawat sebagai
suatu profesi ditantang untuk lebih tanggap terhadap kebutuhan klien


yang mempunyai implikasi terhadap kesehatan atau sistem pelayanan
kesehatan. Hal ini sesuai dengan tujuan akhir keperawatan, yaitu
membantu klien mencapai potensi kesehatan sepenuhnya. Dalam
membantu klien mencapai potensi kesehatan sepenuhnya perawat
harus mempunyai suatu pendekatan yang menyeluruh berupa
pendekatan yang komperhensif, yaitu pemberian asuhan keperawtan
secara bio-psiko-sosial-spiritual merupakan pendekatan yang
digunakan oleh perawat. Pendekatan ini menggunakan konsep dan
ilmu yang terkait dengan keperawatan, salah satunya adalah caring
(watson, 2003) dalam kutipan hafsyah (2012).
Lulusan mahasiswa keperawatan selain berkompeten juga
harus memiliki sikap atau perilaku caring untuk menjadi perawat yang
profesional yang dapat berdampak pada sikap caring yang negatif.
Dan dalam pelayanan kesehatan yang berkualitas selain dilihat dari
keterampilan dan pengetahuan juga dari perilaku pelayanan yang
diberikan.
(Begum & Slavin, 2012) dalam kutipan Layuk (2013), dalam
jurnal Perceptions Of Caring In Education by Pakistani Nursing
Students: An Exploratory konsep caring, pendikan keperawatan
memerlukan makna yang konseptual. Beberapa pendidikan juga
percaya bahwa caring adalah fenomena yang sangat kompleks dan
perlu dipraktekkan dalam pendidikan keperawatan sebagai bagian
dari kurikulum. Care pada mahasiswa dalam pendidikan keperawatan
sangat penting karena sebagai tempat pertama bagi mahasiswa untuk
belajar tentang nilai-nilai yang paling penting dan esensi dari profesi
mereka.
Pada penelitian yang juga dilakukan oleh yulianti (2002)
berjudul Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Caring
Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD, menunjukan
bahwa ada hubungan bermakna antara faktor pengalaman dengan
sikap caring mahasiswa, akan tetapi faktor lingkungan, media massa


dan emosional tidak memiliki hubungan bermakna dengan sikap
caring mahasiswa. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan
bahwa sebaiknya institusi pendidikan sebaiknya menambah materi
mengenai caring agar dapat meningkatkan kemampuan caring
mahasiswa.
Dari survei penelitian yang dilakukan oleh Depkes RI di
beberapa rumah sakit di Jakarta menunjukan bahwa 12,81% pasien
tidak puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan (Depkes RI,
2009).
Pada penelitian yang di lakukan oleh prabowo (2014) yang
berjudul Hubungan Tingkat Kognitif Perawat Tentang Caring Dengan
Aplikasi Praktek Caring di Ruang Inap RSU dr. H. Koesnadi
Bondowoso, menunjukan bahwa ada hubungan bermakna antara
tingkat kognitif perawat tentang caring dengan aplikasi praktek caring
di ruang rawat inap RSU. Dr. H. Koesnadi Bondowoso.
Dari data awal yang diperoleh berupa data primer yang
didapatkan langsung dari beberapa mahasiswa Diploma III Tinggkat II
STIK STELLA MARIS Makassar, beberapa dari mereka ada yang
mengatakan bahwa perilaku dan pengetahuan tentang caring yang
dimiliki kurang begitu baik dan lainnya mengatakan bahwa mereka
memiliki sedikit pengetahuan mengenai caring tetapi jarang
mengaplikasikannya.
Fenomena-fenomena yang terjadi di mahasiswa keperawatan
menunjukan bahwa pengetahuan dalam tingkat pendidikan belum
memiliki pengaruh yang bermakna dengan sikap atau perilaku caring
mahasiswa, sedangkan dari kajian dan temuan ilmiah menunjukan
bahwa faktor pengalaman dan tingkat kognitif memiliki pengaruh
terhadap perilaku caring. Terkait fenomena diatas, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Pendidikan Tentang
Caring Terhadap Perilaku Caring Pada Mahasiswa Diploma III Tingkat
II STIK Stella Maris Makassar


B. Rumusan Masalah
Menjadi seorang perawat yang berperilaku caring dapat
diperoleh dalam sebuah pendidikan. Fenomena yang ditemui di STIK
Stella Maris memperlihatkan belum optimalnya pengetahuan caring
mahasiswa dimana terlihat dari data awal yang memperlihatkan hasil
bahwa mahasiswa masih kurang dalam pengetahuan serta jarang
mengaplikasikannya. Terkait dengan perilaku caring mahasiswa
keperawatan saat ditempat praktek dan di kesehariannya dikampus
memperlihatkan sikap yang kurang ramah, judes, sombong, jarang
senyum serta kurang akrab dengan yang lainnya baik saat dikampus
maupun ditempat praktek. Hal ini dapat disebabkan oleh pendidikan
pengetahuan yang kurang dimiliki oleh mahasiswa.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan
pertanyaan penelitian sebagai berikut: apakah ada pengaruh
pengetahuan tentang caring terhadap perilaku caring pada mahasiswa
Diploma III Tinggkat II STIK STELLA MARIS Makassar

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pengetahuan tentang caring terhadap perilaku caring
pada mahasiswa/mahasiswi Diploma III Tingkat II STIK Stella
Maris Makassar.

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan tentang caring pada
mahasiswa.
b. Mengidentifikasi perilaku caring pada mahasiswa.
c. Menganalisis pengaruh pengetahuan tentang caring
terhadap perilaku caring pada mahasiswa.



D. Manfaat Penelitian
1. Bagi mahasiswa
Untuk dapat meningkatkan perilaku caring kepada setiap
pasien, teman dan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi institusi
Dapat digunakan untuk bahan masukan untuk menambah
literatur dalam ranah keperawatan.
3. Bagi peneliti
Untuk meningkatkan perilaku caring dalam asuhan
keperawatan kepada setiap pasien dan dalam kehidupan sehari-
hari.
4. Bagi Pengembangan Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk
pengembangan penelitian lebih lanjut, bagi yang berminat dalam
lingkup keperawatan anak.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data
awal untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.