Anda di halaman 1dari 13

1

I. PENDAHULUAN
Benzodiazepin merupakan suatu jenis obat yang memiliki lima efek
farmakologis utama yakni: anxiolitik, sedasi, antikonvulsan, relaksasi otot,
dan hipnosis.
1
Terdapat beberapa jenis obat yang termasuk ke dalam
golongan benzodiazepin, salah satunya adalah diazepam. Diazepam
merupakan obat utama dalam daftar obat-obat penting WHO. Obat ini
banyak digunakan untuk terapi berbagai kondisi, seperti ansietas,
insomnia, relaksan otot, dan mengontrol kejang epileptik. Diazepam juga
digunakan pada kasus withdrawal alkohol dan benzodiazepin jenis lainnya
karena obat ini memiliki waktu paruh 40-200 jam.
1,2

Pada awal produksi, benzodiazepin termasuk diazepam disambut
hangat oleh para dokter karena dianggap bahwa obat ini lebih aman
dibandingkan barbiturat, obat hipnotik dan anxiolitik paling populer di era
sebelum munculnya benzodiazepin. Akan tetapi, dewasa ini diketahui
bahwa pemakaian jangka panjang obat ini dapat menyebabkan
ketergantungan. Diazepam juga seperti halnya akohol, steroid anabolik,
dan kokain yang merupakan obat yang dapat disalahgunakan sehingga
dapat menyebabkan kekerasan dan tingkah laku yang tidak terkontrol
lainnya.
2,3
Adiksi (ketergantungan) adalah suatu kondisi patologis yang
disebabkan oleh karena penggunaan berulang suatu obat yang jika
dihentikan akan menyebabkan gejala-gejala tertentu. Adiksi dapat muncul
pada seseorang yang mengonsumsi obat adiktif dan ditandai dengan gejala
spesifik berupa toleransi dan withdrawal. Gejala toleransi terjadi ketika
pasien harus meningkatkan dosis obat untuk mendapatkan efek yang sama.
Gejala withdrawal terjadi setelah penghentian atau penurunan dosis
mendadak, meskipun hanya dengan penggunaan jangka pendek (tiga atau
empat minggu).
7
Masalah adiksi diazepam ini semakin meluas dan menjadi perhatian
dunia. Dari beberapa penilitian yang dilakukan, pengguna diazepam
tercatat masih terus mengonsumsi obat ini hingga berbulan-bulan karena
2

mereka merasakan adanya efek yang mengganggu ketika mereka berusaha
menghentikan pemakaiannya atau karena mereka sudah merasa sangat
tergantung pada obat ini.
3
Pada survei tahun 2008 di Amerikat Serikat,
tercatat 181.000 kasus penyalahgunaan diazepam.
2
Penemuan risiko tinggi
ketergantungan obat ini mendorong pengembangan penanganan untuk
membantu pasien mengurangi atau menghentikan penggunaannya.

II. DIAZEPAM
Diazepam merupakan salah satu obat golongan benzodiazepin yang
termasuk dalam golongan hipnotik-sedatif. Efeknya bergantung pada
dosis, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang dan kantuk,
menidurkan, hingga yang berat yaitu kehilangan kesadaran, keadaan
anestesi, koma, dan mati. Benzodiazepin diindikasikan sebagai
antiansietas, antiinsomnia, relaksan otot, antiepilepsi, dan sebagai terapi
gejala withdrawal obat-obatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan
kronik ethanol, barbiturat, benzodiazepin jenis lain dan obat-obat yang
memiliki efek depresan SSP lainnya.
1,5
II.1. KIMIA
Secara struktur, obat-obatan golongan benzodiazepin memiliki
bentuk dan metabolit yang serupa. Istilah benzodiazepine berasal dari
struktur kimia yang tersusun atas sebuah cincin benzen yang bersatu
dengan tujuh buah cincin diazepine. Karena semua benzodiazepin
selalu mengandung gugus 5-aril (cincin C) dan cincin 1,4-
benzodiazepin, maka istilah yang tepat untuk menjelaskan strukturnya
adalah 5-aril-1,4-benzodiazepin.
1

Gambar 1. Struktur Kimia Umum Benzodiazepin
3

Diazepam merupakan salah satu derivat benzodiazepin dengan
struktur kimia 7-chloro-1,3-dihydro-1-methyl-5-phenyl-2H1, 4-
benzodiazepin-2-one atau 7-Chloro-1-methyl-5-phenyl-3H-1,4-
benzodiazepin-2(1H)-one. Diazepam merupakan bahan kristal tanpa
warna, tidak dapat larut dalam air, dan memiliki berat molekul
284.47.
5,6


Gambar 2. Struktur Kimia Diazepam
II.2. FARMAKODINAMIK
Hampir semua efek benzodiazepin merupakan hasil kerja
golongan ini pada sistem saraf pusat dengan lima efek utama, yakni:
sedasi, hipnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas,
relaksasi otot, dan antikonvulsi. Hanya dua efek saja yang merupakan
kerja golongan ini pada jaringan perifer: vasodilatasi koroner setelah
pemberian dosis terapi benzodiazepin tertentu secara IV, dan blokade
neuromuskular yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi.
1
Diazepam dan benzodiazepin lainnya berikatan pada area
spesifik yang berlokasi di antara subunit dan reseptor GABA
A
.
Dari hasil penelitian, diketahui bahwa hanya reseptor GABA
A
1-, 2-
, -3, dan 5- yang sensitif terhadap diazepam, karena mereka
memiliki suatu residu histidine pada posisi homologous. Penelitian
yang menggunakan sampel tikus mengidentifikasi peran isoform ini
pada efek yang ditimbulkan oleh diazepam. Reseptor GABA
A
yang
mengandung subunit 1 menyebabkan efek sedasi, dan amnesia
retrograde. Reseptor GABA
A
yang mengandung subunit 2
menyebabkan aksi antikonvulsan. Anxiolitik, relaksasi otot, kelainan
4

motorik, dan efek potensial etanol disebabkan oleh subunit 2 dan 5
yang berada di sistem limbik.
2,7

Gambar 3. Ikatan Benzodiazepin
Diazepam dapat menimbulkan efek farmakologis dengan cara
memfasilitasi aksi gamma-aminobutyric acid (GABA), suatu
neurotransmitter inhibitor utama di SSP. Diazepam tidak
mengaktivasi reseptor GABA
A
namun memperkuat afinitas reseptor
untuk GABA sehingga kerja obat ini membutuhkan ikatan GABA
untuk mengekspresikan efeknya.
1,7
Akibat adanya peningkatan afinitas
reseptor GABA untuk neurotrasmisi inhibisi yang terinduksi oleh
diazepam, maka terjadi peningkatan jumlah gerbang saluran klorida
yang terbuka sehingga meningkatkan konduktansi klorida,
menghasilkan hiperpolarisasi membran sel postsinaptik, dan
mengubah neuron postsinaptik sehingga menjadi resisten terhadap
eksitasi.
1
Resistensi terhadap eksitasi dianggap sebagai mekanisme
yang berperan pada diazepam dalam menimbulkan efek anxiolitik,
sedasi, antikonvulsan dan relaksan otot rangka.
5


Gambar 4. Mekanisme Kerja Benzodiazepin
II.3. FARMAKOKINETIK
II.3.1. Absorpsi
Oral
Diazepam diabsorpsi secara cepat melalui oral, dengan konsentrasi
plasma puncak terjadi dalam 1 jam. Kecepatan absorpsi diperlambat
oleh makanan dan konsumsi antasida.
5
Parenteral
Absorpsi setelah pemberian injeksi intramuskular sangat lambat dan
konsentrasi plasma yang diperoleh hanya mencapai 60% dari
kosentrasi plasma melalui pemberian oral. Pemberian secara
intramuskular dapat dipertimbangkan apabila pemberian melalui cara
lain tidak dapat dilakukan.
5
Konsentrasi darah tercatat 400 ng/ml dan 1200 ng/ml 15 menit setelah
bolus intravena 10 dan 20mg diazepam.
5
II.3.2. Distribusi
Volume distribusi diazepam terukur kisaran 0.7-2.6 L/kg. Pada sampel
pasien, ikatan protein plasma diazepam lebih besar dari 95%.
Konsentrasi dalam cairan serebrospinal tampak hampir menyamai
fraksi bebas plasma. Dikarenakan tingkat kelarutannya dalam lemak
yang tinggi, diazepam dapat masuk ke dalam otak secara cepat, begitu
pula pada organ-organ dengan perfusi yang baik dan kemudian
didistribusi kembali ke otot dan jaringan lemak. Diazepam dapat
melewati barier plasenta ke janin dan ditemukan dalam ASI.
5

6

II.3.3. Waktu paruh
Waktu paruh eliminasi terminal diazepam tercatat sekitar 24 jam
hingga dua hari. Pada dosis kronik, konsentrasi stabil diazepam
tercapai antara 5 hari hingga 2 minggu. Waktu paruh memanjang pada
pasien tua dan pasien dengan sirosis atau hepatitis. Waktu paruh ini
memendek pada pasien yang mengonsumsi obat-obatan yang memicu
enzim hepatik, termasuk antikonvulsan. Metabolit aktif
desmethyldiazepam memiliki waktu paruh yang lebih panjang
dibandingkan diazepam, dan lebih lama mencapai konsentrasi stabil.
5
II.3.4. Metabolisme
Diazepam utamanya dimetabolisme oleh enzim hepatik, dengan
eliminasi yang sangat sedikit melalui urin. Enzim sitokrom hepatik
yang bertanggung jawab untuk polimorfisme hidroksilasi S-
mephenytoin merupakan jenis enzim hepatik yang bertanggung jawab
dalam metabolisme diazepan. Hepatic n-demethyldiazepam
menghasilkan metabolit aktif desethyldiazepam (disebut juga
nordiazepam). Metabolit ini dihidroksilasi membentuk oxazepam,
yang mana berkonjugasi pada glukuronid oxazepam. Suatu metabolit
aktif minor adalah temazepam. Metabolit utama yang ditemukan
dalam darah adalah diazepam dan demethyldiazepam, karena
oxazepam dan temazepam dikonjugasi dan diekskresi dengan
kecepatan yang sama dengan pembentukan mereka.
5

II.3.5. Eliminasi dan Eksresi
Eksresi urin diazepam utamanya dalam bentuk sulfat dan konjugasi
glukuronide dan tercatat sebagai dosis yang paling besar yang
tertelan.
5

II.4. EFEK SAMPING
Efek samping utama dari penggunaan diazepam merupakan
hasil sekunder aksi farmakologik diazepam dalam meningkatkan
aktivitas GABA. Kemampuan kognitif dan psikomotor dapat
terganggu pada pemberian dosis terapeutik. Efek samping tambahan
7

dapat berupa: kepala ringan, malas, lamban, inkoordinasi motorik,
ataksia, gangguan koordinasi, berpikir bingung, disartria, dan
anamnesis retrograde. Kemampuan motorik lebih dipengaruhi
dibandingkan kemampuan berpikir.
1,5
Pemberian diazepam secara
kronik tidak mempengaruhi tekanan darah sistemik, denyut jantung,
atau ritme jantung. Meskipun efek ventilasi bisa tidak ditemukan,
namun sebaiknya penggunaan obat ini tidak dilakukan pada pasien
yang mengalami penyakit paru-paru kronik dengan manifestasi gejala
berupa hipoventilasi dan/atau penurunan oksigenasi arterial.
1
Diazepam dapat menimbulkan efek paradoksal, seperti kadang-
kadang pasien menjadi banyak bicara (nyinyir), mudah tersinggung,
euforia, gelisah, halusinasi dan tingkah laku hipomaniak. Walaupun
demikian, insiden efek paradoksal dan reaksi diskontrol tersebut
sangat jarang terjadi dan bergantung kepada dosis.
1,5

Diazepam dan benzodiazepin jenis lain dapat menyebabkan
ketergantungan fisik dan psikologik ketika digunakan dalam dosis
tinggi untuk jangka waktu yang lama.
5

III. EPIDEMIOLOGI
Benzodiazepin termasuk diazepam merupakan obat yang paling
banyak diresepkan di dunia, tercatat 80% dari seluruh peresepan obat.
8,9

Sekitar 10% populasi menggunakan obat ini sebagai obat penenang dan
atau hipnotik, sepertiga sebagai pengobatan reguler, dan selebihnya
sebagai pengobatan jangka panjang. Survei di Amerika menemukan
bahwa pemberian obat ini pada pasien dengan gangguan mental hanya
sekitar 40%, sementara itu sekitar 20% pemberian obat ini tercatat sebagai
hipnotik atau obat penenang. Pada penelitian di kebanyakan negara
ditemukan bahwa sekitar 30% pasien non-psikiatrik diberikan obat ini.
9

Kebanyakan penelitian di seluruh dunia menunjukkan tren yang
sama bahwa jumlah wanita yang menggunakan diazepam tercatat hampir
dua kali dibandingkan pria, dan meningkat seiring usia hingga mencapai
8

usia 65 tahun. Tercatat peresepan obat ini sebagai terapi anxiolitik mulai
menurun untuk pasien di atas 65 tahun. Beberapa penelitian melaporkan
berbagai faktor sosiodemografi. Contohnya, prevalensi lebih tinggi terjadi
pada populasi yang tidak menikah, janda, atau cerai dibandingkan populasi
yang menikah. Pemakaian obat ini tercatat lebih tinggi pada kelompok
ekonomi rendah dibandingkan kelompok ekonomi menengah ke atas.
Semua penelitian menunjukkan penggunaan terbanyak tercatat pada grup
pensiunan, yang diikuti oleh grup pengangguran, dan terakhir adalah grup
pekerja.
9

IV. ADIKSI DIAZEPAM
Dewasa ini diketahui bahwa pemakaian jangka panjang diazepam
dapat menyebabkan adiksi.
1,6,7
Adiksi dapat muncul pada seseorang yang
mengonsumsi obat adiktif dan ditandai dengan gejala spesifik berupa
toleransi dan withdrawal. Gejala toleransi terjadi ketika pasien harus
meningkatkan dosis obat untuk mendapatkan efek yang sama. Gejala
withdrawal terjadi setelah penghentian atau penurunan dosis mendadak,
meskipun hanya dengan penggunaan jangka pendek (tiga atau empat
minggu).
7
Diagnosis ketergantungan diazepam hanya dapat
dipertimbangkan ketika beberapa masalah muncul seiring dengan adanya
gejala withdrawal yang dispesifikasi dalam ICD-10 atau DSM-IV.
Penentuan ada atau tidaknya sindrom ketergantungan ini penting dalam
menentukan apa terapi farmakologi dapat diberikan atau tidak.
10
Mekanisme Terjadinya Gejala Toleransi dan Withdrawal
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa mekanisme kerja obat
golongan benzodiazepin, termasuk diazepam, adalah meningkatkan
aktivitas neurotransmitter GABA. Oleh karena GABA merupakan suatu
transmitter inhibitor, yang bekerja memperlambat atau menghentikan kerja
neurotransmitter lain, maka dengan meningkatkan aktivitas GABA akan
9

dapat menenangkan level aktivitas otak. GABA merupakan sedatif natural
otak, dan benzodiazepin bekerja meningkatkan fungsinya.
11
GABA menekan kerja neurotransmitter eksitatori seperti
dopamine, serotonin, epinefrin (noradrenalin), dan asetilkolin. Transmitter
eksitatori ini memainkan peranan penting dalam memori, pergerakan otot,
kesadaran, regulasi emosi, denyut jantung dan tekanan darah, dan sekrei
hormonal. Ketika mengkonsumsi diazepam, maka seluruh level aktivitas
otak dihentikan. Hal ini mengurangi ansietas dan insomnia, tetapi juga
menyebabkan perubahan pada kebanyakan sistem-sistem penting tubuh.
Hal inilah yang menyebabkan, konsumsi kronik diazepam dosis tinggi
dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan kebanyakan pasien
mengalami berbagai gejala withdrawal setelah berhenti
mengkonsumsinya.
11
Pengguna benzodiazepin, termasuk diazepam, cepat mengalami
suatu toleransi dan mulai membutuhkan dosis yang lebih besar untuk
memperoleh efek yang diinginkan. Oleh karena itu, kebanyakan petunjuk
peresepan menganjurkan untuk tidak meresepkan benzodiazepin selama 3
atau 4 minggu berturut-turut.
11
Dengan adanya toleransi:
1. Reseptor GABA dan reseptor benzodiazepin mengkompensasi
adanya pengobatan yang berkelanjutan dengan menjadi kurang
rensponsif pada pengobatan (kurangnya GABA).
11

2. Sistem eksitatori yang secara natural diatur oleh GABA juga
beradaptasi dengan menjadi kurang rensponsif terhadap inhibisi
GABA (kurangnya GABA dan GABA yang tersisa tidak bekerja
dengan baik).
11

Oleh karena itu, ketika seseorang telah mengalami toleransi, maka orang
tersebut membutuhkan dosis diazepam yang lebih besar untuk
mendapatkan sistem GABA berfungsi pada level yang normal. Jika
seseorang dengan toleransi diazepam tiba-tiba berhenti mengkonsumsi
obatnya, maka aktivitas GABA akan menurun secara substansial dan
10

menyebabkan peningkatan substansial aktivitas sistem eksitatori otak
dopamine, serotonin, noradrenalin, dll.
11
Pada beberapa kasus, seiring dengan meningkatnya toleransi,
seseorang akan mulai mengalami gejala withdrawal pada dosis yang
stabil, sehingga orang tersebut akan membutuhkan peningkatan dosis
harian untuk menjaga peningkatan gejala withdrawal.
11
Sindrom withdrawal mulai dirasakan lebih cepat pada penggunaan
benzodiazepin short-acting, seperti alprazolam, dan lebih lama terasa
apabila pasien mengkonsumsi benzodiazepin long-acting, seperti
diazepam.
11
Gejala withdrawal umunya ditemukan setelah konsumsi
diazepam 30-45 mg/hari secara terus menerus selama 6 minggu atau lebih
lama lagi.
5
Gejala pada umumnya minimal diawal, dan menjadi semakin
parah setelah 2-10 hari pertama sejak pemberhentian konsumsi
diazepam.
5,11

Gejala withdrawal diazepam beragam dari yang ringan hingga yang
berat serupa dengan gejala withdrawal obat sedatif-hipnotik lainnya.
Waktu paruh yang lama dan adanya metabolit aktif menyebabkan onset
gejala yang tertunda.
5
Gejala nonspesifik termasuk depersonalisasi, mual,
anoreksia, sakit kepala persisten, tremor, palpitasi, keringat berlebih, dan
gejala mirip influenza. Sementara gejala yang berat dapat berupa kejang
epileptik, kejang mioklonik, gejala psikotik paranoid, delirium dan
halusinasi visual dan auditorik.
5,10,11

V. PENANGANAN ADIKSI DIAZEPAM
Dengan melihat betapa besar efek yang ditimbulkan dari adiksi
benzodiazepin, termasuk diazepam, dewasa ini banyak literatur yang
memaparkan metode-metode penanganan adiksi benzodiazepin, mulai dari
tahapan persiapan, penggunaan agen substitusi yang memiliki bersifat
long-acting, reduksi bertahap, dan terapi psikologis dan/atau farmakologis
tambahan.
12

11

Dalam penanganan adiksi diazepam, dokter menjadi salah satu
elemen penting. Dokter harus dapat menentukan diagnosis yang tepat
sebelum meresepkan diazepam dan mengetahui persis kondisi pasien.
Pada pasien yang sudah menjalani terapi diazepam dosis rendah,
sebaiknya tidak menghentikan pemberian obat ini secara mendadak. Pada
lansia atau pasien dengan tekanan hidup yang persisten diazepam dapat
dilanjutkan jika tidak terdapat efek samping yang signifikan. Pasien
dengan penyakit fisik kronik atau penyakit terminal membutuhkan terapi
jangka panjang diazepam. Dokter juga harus mengawasi tanda-tanda
ketergantungan seperti permintaan peningkatan dosis atau durasi,
kedatangan pasien untuk kontrol yang lebih cepat dari jadwal yang
seharusnya, mendatangi lebih dari satu klinik dengan resep yang sama.
7
Jika tanda-tanda ketergantungan mulai terlihat, maka dokter dapat
memberikan intervensi-intervensi minimal berupa surat berisikan lembar
informasi dan saran-saran untuk pasien, kosultasi, dan kursus singkat
relaksasi. Pendekatan-pendekatan ini tercatat dapat mencapai penghentian
diazepam pada 20% kasus.
9,10

Pengurangan Dosis Secara Bertahap
Apabila seorang pasien telah mengkonsumsi diazepam sehari-hari
dalam waktu lebih dari tiga minggu, maka obat ini tidak dapat dihentikan
secara mendadak-melainkan harus dilakukan pengurangan dosis secara
bertahap.
11
Tahapan ini dilakukan secara perlahan dan bertahap sesuai
dengan kondisi pasien. Pasien harus dimotivasi untuk bisa berhenti.
10
Dengan melakukan pengurangan dosis secara bertahap seorang
pasien dapat meminimalisir gejala withdrawal dengan menurunkan sampai
kadar yang sesuai untuk pasien. Rasio tapering yang direkomendasikan
untuk pasien yang mengonsumsi diazepam dosis terapi adalah penarikan
bertahap sekitar 10% dari dosis harian setiap 1-2 minggu sampai mencapai
20% dari dosis awal, lalu turunkan lagi sebanyak 5% setiap 2-4
minggu.
10,11
Atau dengan pendekatan yang lebih agresif, yang dikeluarkan
oleh The Oregon State College of Pharmacy: Turunkan dosis 25% tiap
12

minggu dalam 2 minggu pertama lalu mulai dengan reduksi 12,5% tiap
minggu untuk 6 minggu selanjutnya. (Catatan: pengurangan dosis
biasanya akan terasa semakin berat saat mulai memasuki dosis yang lebih
kecil). Pendekatan agresif ini tidak sesuai untuk seseorang yang telah
mencoba dan gagal sebelumnya. Untuk seseorang yang seperti ini
direkomendasikan pengurangan dosis selama 6 bulan.
11
Sebagai aturan umum, tidak masalah selambat apa seseorang
melakukan pengurangan dosis dan sebaiknya pasien sudah dalam dosis
yang stabil sebelum berlanjut ke tahapan dengan dosis yang lebih rendah.
Reduksi akan terasa lebih berat setelah memasuki pertengahan proses,
sehingga tidak masalah untuk semakin memperlambat proses sesuai
kebutuhan pasien hingga sampai ke tahap akhir.
11
Akan tetapi ada beberapa hal yang harus dihindari selama proses
ini berlangsung, yaitu:
1. Mengkonsumsi pil tambahan saat mengalami stress berat
2. Kembali ke dosis semula apabila dosis tersebut terasa berat
3. Menggunakan substansi lain yang memicu efek GABA (hal ini jelas
merusak proses pengurangan dosis)
Selama proses ini, pasien dianjurkan untuk menghindari alkohol
karena meminum alkohol dapat memperburuk gejala withdrawal. Hal ini
terjadi karena alkohol meningkatkan aktivitas GABA sehingga dengan
meminum alkohol berarti pasien akan memperlambat penyembuhan
otaknya dan jika pasien tersebut meminum alkohol sebagai kompensasi
dari ketidakmampuannya dalam menjalani proses pengurangan dosis
diazepam, maka lama kelamaan pasien tersebut juga akan kecanduan
alkohol.
11

Pasien harus diinformasikan tentang kemungkinan terjadinya
gejala withdrawal dan pentingnya untuk selalu berkonsultasi dan meminta
saran.
10
Ansietas merupakan gejala paling umum yang dialami pasien
dengan withdrawal symptom. Oleh karena itu dibutuhkan peran seorang
psikiater yang dapat membantu pasien untuk belajar teknik kognitif dan
13

tingkah laku untuk mengatasi ansietas yang dialaminya. Selain itu juga
perlu adanya grup atau komunitas yang memiliki pengalaman yang sama
dan saling berbagi informasi serta saling mendukung satu sama lain untuk
dapat sembuh dari adiksi diazepam ini.
11

Penggunaan Regimen Substitusi
Berdasarkan penelitian kasus yang dilakukan oleh Angelo dkk di
Italia, ditemukan adanya kemungkinan penanganan ketergantungan
benzodiazepin dengan menggunakan substitusi benzodiazepin slow-onset,
long acting seperti clonazepam. Clonazepam memiliki onset yang lambat,
waktu paruh 18-50 jam, potensi tinggi, metabolit aktif yang minimal.
Karena potensinya yang tinggi, clonazepam dapat menggantikan kerja
jenis benzodiazepin yang memiliki waktu paruh yang cepat tanpa
menginduksi onset gejala withdrawal ataupun mengurangi jumlah obat
yang diberikan.
13
Selain dari clonazepam, terdapat beberapa jenis obat lain yang
dapat digunakan sebagai alternatif dari benzodiazepin, diantaranya:
Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs), Monoamine Oxidase
Inhibitors (MAOIs), dan golongan hipnotik non-benzodiazepin seperti
zopiclone dan zolpidem.
10

Pemberian Obat-obatan untuk Mengurangi Gejala Withdrawal
Beberapa obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengurangi gejala
withdrawal, antara lain:
11

1. Propanolol untuk mengurangi tremor dan keringat berlebih (selama 3
minggu)
2. Sedatif non-benzodiazepine seperti antihistamin atau antidepressan
sedatif untuk mengurangi insomnia (durasi singkat, sekitar 2 minggu)
3. Carbamazepine (dan antikonvulsan lainnya) untuk mengurangi
resiko konvulsi