Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH TATA KELOLA PERUSAHAAN

Komite Audit dan Komite Lainnya :


Peran, Tanggung Jawab, Komposisi, Keefektifan





Kelompok 7:
Dhestha Sufian Mardiana - 1306484274
Ivan Julio - 1306484633
Maria Virginia Melati - 1306484785
Sintia Resmi Januarini - 1306485352

Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia
Depok
2014
2
Daftar Isi

Daftar Isi ................................................................................................................................... 2
Statement of Authorship ......................................................................................................... 3
Bab 1. Pendahuluan ................................................................................................................. 4
Bab 2. Pembahasan .................................................................................................................. 5
Bab 3. Daftar pustaka ............................................................................................................ 28




3
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Saya/kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas
terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain
yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa
saya/kami menyatakan dengan jelas menggunakannya.
Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak
dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata ajaran : Tata Kelola Perusahaan
Judul tugas : Komite Audit dan Komite Lainnya : Peran, Tanggung Jawab, Komposisi,
Keefektifan
Tanggal : 15 Oktober 2014
Dosen : Desi Adhariani S.E., Ak., M.Si


Nama NPM TTD
Dhestha Sufian Mardiana 1306484274
Ivan Julio 1306484633
Maria Virginia Melati 1306484785
Sintia Resmi Januarini 1306485352
4
BAB 1
PENDAHULUAN

Di Indonesia saat ini telah diterapkan peraturan OECD CG dalam membentuk
komite audit melalui peraturan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.I.5 Tentang
Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit. Komite Lainnya selain
komite audit di Indonesia belum ada peraturan yang mengatur hal tersebut. Selain itu
dalam makalah ini juga akan dibahas tentang Audit Committee Effectiveness yang
dikeluarkan oleh PwC, Peraturan BI No. 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good
Corporate Governance pada Bank Umum, dan Pembahasan Kasus Telkomsel yang
terkait dengan Komite Audit dan peraturan yang mengaturnya.
5
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Kajian Mengenai OECD CG Principle 6 Mengenai Komite Audit dan
Komite Lainnya
Sub prinsip a dari prinsip OECD CG keenam menerangkan bahwa anggota dewan
harus bertindak berdasarkan informasi yang jelas, dengan itikad yang baik,
berdasarkan due diligence dan kehati-hatian, serta demi kepentingan perusahaan dan
pemegang saham. Sedangkan sub prinsip d bagian 1 menerangkan tentang menelaah
dan mengarahkan strategi perusahaan, rencana utama, kebijakan mengenai resiko,
anggaran tahunan, dan rencana usaha; menetapkan sasaran kinerja, memonitor
penerapan dan kinerja perusahaan serta memantau belanja modal yang besar, akuisisi
dan divestasi.
Pencerminan kedua prinsip ini terdapat dalam ketentuan mengenai kewajiban
pembentukan komite audit bagi emiten dan perusahaan publik yang bertugas
membantu dewan komisaris untuk mengakses informasi dalam melakukan fungsi
pengawasan (Peraturan Bapepam Nomor IX.I.5).
PERATURAN NOMOR IX.I.5 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PEDOMAN
PELAKSANAAN KERJA KOMITE AUDIT
1. Ketentuan Umum
a. Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1) Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab
kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan
fungsi Dewan Komisaris.
2) Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang berasal
dari luar Emiten atau Perusahaan Publik dan memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf c.
b. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki Komite Audit.
c. Komite Audit bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya.
6
d. Anggota Komite Audit diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Komisaris.
e. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki piagam Komite Audit (audit
committee charter).
f. Piagam Komite Audit (audit committee charter) paling kurang memuat:
1) tugas dan tanggung jawab serta wewenang;
2) komposisi, struktur, dan persyaratan keanggotaan;
3) tata cara dan prosedur kerja;
4) kebijakan penyelenggaraan rapat;
5) sistem pelaporan kegiatan;
6) ketentuan mengenai penanganan pengaduan atau pelaporan
7) sehubungan dugaan pelanggaran terkait pelaporan keuangan; dan
8) masa tugas Komite Audit.
g. Piagam Komite Audit (audit committee charter) sebagaimana dimaksud dalam
huruf f wajib dimuat dalam laman (website) Emiten atau Perusahaan Publik.
2. Struktur dan Keanggotaan Komite Audit
a. Komite Audit paling kurang terdiri dari 3 (tiga) orang anggota yang berasal
dari Komisaris Independen dan Pihak dari luar Emiten atau Perusahaan
Publik.
b. Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen.
c. Komisaris Independen wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu
6 (enam) bulan terakhir;
2) tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada
Emiten atau Perusahaan Publik tersebut;
3) tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau Perusahaan
Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau Pemegang
Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut; dan
4) tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut.
7
3. Persyaratan Keanggotaan Komite Audit
a. wajib memiliki integritas yang tinggi, kemampuan, pengetahuan, pengalaman
sesuai dengan bidang pekerjaannya, serta mampu berkomunikasi dengan
baik;
b. wajib memahami laporan keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang terkait
dengan layanan jasa atau kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik,
proses audit, manajemen risiko, dan peraturan perundang-undangan di bidang
Pasar Modal serta peraturan perundang-undangan terkait lainnya;
c. wajib mematuhi kode etik Komite Audit yang ditetapkan oleh Emiten atau
Perusahaan Publik;
d. bersedia meningkatkan kompetensi secara terus menerus melalui pendidikan
dan pelatihan;
e. wajib memiliki paling kurang satu anggota yang berlatar belakang pendidikan
dan keahlian di bidang akuntansi dan/atau keuangan;
f. bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik, Kantor Konsultan
Hukum, Kantor Jasa Penilai Publik atau pihak lain yang memberi jasa
assurance, jasa non-assurance, jasa penilai dan/atau jasa konsultasi lain kepada
Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan dalam waktu 6 (enam)
bulan terakhir;
g. bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu 6
(enam) bulan terakhir kecuali Komisaris Independen;
h. tidak mempunyai saham langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau
Perusahaan Publik;
i. Dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham Emiten atau Perusahaan
Publik baik langsung maupun tidak langsung akibat suatu peristiwa hukum,
maka saham tersebut wajib dialihkan kepada pihak lain dalam jangka waktu
paling lama 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut.
j. tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan anggota Dewan Komisaris,
anggota Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut; dan
8
k. tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang
berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
4.Masa Tugas
Masa tugas anggota Komite Audit tidak boleh lebih lama dari masa jabatan Dewan
Komisaris sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan dapat dipilih kembali
hanya untuk satu periode berikutnya.
5. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
a. melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten
atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain
laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
b. melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundangundangan
yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara
manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan
Akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang lingkup penugasan, dan
fee;
e. melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor
internal;
f. melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang
dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki
fungsi pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan
adanya potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik; dan
i. menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik.

9
6. Wewenang Komite Audit
a. mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik
tentang karyawan, dana, aset, dan sumber daya perusahaan yang diperlukan;
b. berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang
menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan Akuntan terkait
tugas dan tanggung jawab Komite Audit;
c. melibatkan pihak independen di luar anggota Komite Audit yang diperlukan
untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan); dan
d. melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.
7. Rapat Komite Audit
a. Komite Audit mengadakan rapat secara berkala paling kurang satu kali dalam
3 (tiga) bulan.
b. Rapat Komite Audit hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh lebih dari
1/2 (satu per dua) jumlah anggota.
c. Keputusan rapat Komite Audit diambil berdasarkan musyawarah
untukmufakat.
d. Setiap rapat Komite Audit dituangkan dalam risalah rapat, termasuk apabila
terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinions), yang ditandatangani oleh
seluruh anggota Komite Audit yang hadir dan disampaikan kepada Dewan
Komisaris.
8. Pelaporan
a. Komite Audit wajib membuat laporan kepada Dewan Komisaris atas setiap
penugasan yang diberikan.
b. Komite Audit wajib membuat laporan tahunan pelaksanaan kegiatan Komite
Audit yang diungkapkan dalam Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan
Publik.
c. Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan kepada Bapepam dan
LK informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian Komite Audit
dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja setelah pengangkatan atau
pemberhentian.
10
d. Informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian sebagaimana dimaksud
dalam huruf c wajib dimuat dalam laman (website) bursa dan/atau laman
(website) Emiten atau Perusahaan Publik.
9. Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Bapepam dan
LK berwenang mengenakan sanksi terhadap setiap pelanggaran ketentuan
peraturan ini, termasuk pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran
tersebut.
Sub prinsip D bagian 4 menerangkan tentang kewajiban dewan komisaris untuk
menyelaraskan remunerasi manajemen dan dewan komisaris dengan kepentingan
jangka panjang dari perusahaan dan pemegang saham. Di Indonesia belum terdapat
ketentuan dalam peraturan perundangan di pasar modal yang mewajibkan emiten dan
perusahaan publik serta perusahaan efek memiliki komite remunerasi agar dewan
komisaris dapat melaksanakan tanggung jawab ini. Dalam ketentuan Peraturan
Bapepam No.III.A.3 tentang Komisaris dan Direktur Bursa hanya dinyatakan bahwa
direksi Bursa Efek dalam menjalankantugasnya dapat membentuk komite remunerasi.
Sub prinsip D bagian 5 yang menerangkan tentang kewajiban dewan komisaris untuk
memastikan proses nominasi dan pemilihan dewan secara transparan dan formal.
UUPT mewajibkan perusahaan untuk memuat susunan, tata cara pemilihan,
pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota direksi dan komisaris dalam
anggaran dasarnya. Namun demikian, dalam peraturan pelaksananya belum ada
ketentuan yang mewajibkan perusahaan memiliki suatu komite nominasi yang akan
memastikan terlaksananya fungsi dewan ini dengan baik. Khusus mengenai nominasi
dan pemilihan direksi dan komisaris Bursa Efek, telah diatur prosedur yang
memastikan proses nominasi direksi dan komisaris bursa efek berjalan formal dan
transparan (Peraturan Bapepam No.III.A.3).
Komite audit menurut Pedoman Good Corporate Governance antara lain bertugas
untuk:
a. Mendorong terbentuknya struktur pengawasan internal yang memadai;
b. Meningkatkan kualitas keterbukaan dan pelaporan keuangan;
c. Mengkaji ruang lingkup dan ketepatan external audit, ketepatan biaya external
audit serta kemandirian dan obyektivitas external auditor;
d. Mempersiapkan surat (yang ditandatangani oleh ketua Komite Audit) yang
menguraikan tugas dan tanggung jawab Komite Audit selama tahun buku yang
sedang diperiksa oleh external auditor, surat tersebut harus disertakan dalam laporan
tahunan yang disampingkan kepada pemegang saham.

11
2.2 Komite Lainnya Menurut KNKG
Komite Nominasi dan Remunerasi
a. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta
sistem remunerasinya;
b. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan mengusulkan
besaran remunerasinya:. Dewan Komisaris dapat mengajukan calon tersebut dan
remunerasinya untuk memperoleh keputusan RUPS dengan cara sesuai ketentuan
Anggaran Dasar;. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan
negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas,
serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan,
Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris Independen dan
anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi dari luar perusahaan;
d. Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya dilaporkan
dalam RUPS.
Komite Kebijakan Risiko
a. Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam mengkaji
sistem manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta menilai toleransi risiko yang
dapat diambil oleh perusahaan;
b. Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari anggota Dewan Komisaris, namun
bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar perusahaan.
Komite Kebijakan Corporate Governance
a. Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang disusun oleh Direksi serta
menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang bertalian dengan etika bisnis dan
tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility);
12
b. Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota Dewan
Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar
perusahaan;
c. Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate Governance dapat digabung
dengan Komite Nominasi dan Remunerasi]



2.3 Struktur dan Keanggotaan Komite Audit Menurut Peraturan BI

1. Anggota Komite Audit minimal terdiri dari:
a. seorang Komisaris Independen;
b. seorang dari Pihak Independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan atau
akuntansi; dan
c. seorang dari Pihak Independen yang memiliki keahlian di bidang hukum atau
perbankan.
2. Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen.
3. Anggota Direksi dilarang menjadi anggota Komite Audit.
4. Komisaris Independen dan Pihak Independen yang menjadi anggota Komite Audit
minimal 51% (lima puluh satu perseratus) dari jumlah anggota Komite Audit.
5. Anggota Komite Audit wajib memiliki integritas, akhlak, dan moral yang baik.

Struktur dan Keanggotaan Komite Pemantau Resiko
1. Anggota Komite Pemantau Risiko minimal terdiri dari:
a. seorang Komisaris Independen;
b. seorang Pihak Independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan; dan
c. seorang Pihak Independen yang memiliki keahlian di bidang manajemen risiko.
2. Komite Pemantau Risiko diketuai oleh Komisaris Independen.
3. Anggota Direksi dilarang menjadi anggota Komite Pemantau Risiko.
13
4. Komisaris Independen dan Pihak Independen yang menjadi anggota Komite
Pemantau Risiko minimal 51% (lima puluh satu perseratus) dari jumlah anggota
Komite Pemantau Risiko.
5. Anggota Komite Pemantau Risiko wajib memiliki integritas, akhlak, dan moral
yang baik.

Struktur dan Keanggotaan Komite Remunerasi dan Nominasi
1. Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi minimal terdiri dari:
a. seorang Komisaris Independen;
b. seorang Komisaris; dan
c. seorang Pejabat Eksekutif.
2. Komite Remunerasi dan Nominasi diketuai oleh Komisaris Independen.
3. Anggota Direksi dilarang menjadi anggota Komite Remunerasi dan Nominasi.
4. Dalam hal anggota Komite Remunerasi dan Nominasi ditetapkan lebih dari 3 (tiga)
orang maka anggota Komisaris Independen minimal berjumlah 2 (dua) orang.

Jabatan Rangkap Ketua Komite
Ketua komite hanya dapat merangkap jabatan sebagai ketua komite paling banyak
pada 1 (satu) komite lainnya.

Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
1. Komite Audit melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan
pelaksanaan audit serta pemantauan atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka
menilai kecukupan pengendalian intern termasuk kecukupan proses pelaporan
keuangan.
2. Dalam rangka melaksanakan tugas Komite Audit paling kurang melakukan
pemantauan dan evaluasi terhadap:
a. pelaksanaan tugas Satuan Kerja Audit Intern;
b. kesesuaian pelaksanaan audit oleh Kantor Akuntan Publik dengan standar audit
yang berlaku;
c. kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi yang berlaku;
d. pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas hasil temuan Satuan Kerja Audit
Intern, akuntan publik, dan hasil pengawasan Bank Indonesia, guna memberikan
rekomendasi kepada dewan Komisaris.
14
3. Komite Audit wajib memberikan rekomendasi mengenai penunjukan Akuntan
Publik dan Kantor Akuntan Publik kepada dewan Komisaris untuk disampaikan
kepada Rapat Umum Pemegang Saham.

Tugas dan Tanggung Jawab Komite Pemantau Resiko
a. evaluasi tentang kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dengan
pelaksanaan kebijakan tersebut;
b. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tugas Komite Manajemen Risiko dan Satuan
Kerja Manajemen Risiko, guna memberikan rekomendasi kepada dewan
Komisaris.

Tugas dan Tanggung Jawab Komite Remunerasi dan Nominasi
a. terkait dengan kebijakan remunerasi:
1. melakukan evaluasi terhadap kebijakan remunerasi ; dan
2. memberikan rekomendasi kepada dewan Komisaris mengenai:
a. kebijakan remunerasi bagi dewan Komisaris dan Direksi untuk disampaikan
kepada Rapat Umum Pemegang Saham;
b. kebijakan remunerasi bagi Pejabat Eksekutif dan pegawai secara keseluruhan
untuk disampaikan kepada Direksi;
b. terkait dengan kebijakan nominasi:
1. menyusun dan memberikan rekomendasi mengenai sistem serta prosedur
pemilihan dan/atau penggantian anggota dewan Komisaris dan Direksi kepada
dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang Saham;
2. memberikan rekomendasi mengenai calon anggota dewan Komisaris dan/atau
Direksi kepada dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum
Pemegang Saham;
3. memberikan rekomendasi mengenai Pihak Independen yang akan menjadi
anggota Komite kepada dewan Komisaris.

Komite Remunerasi dan Nominasi wajib memastikan bahwa kebijakan remunerasi
paling kurang sesuai dengan:
a. kinerja keuangan dan pemenuhan cadangan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
b. prestasi kerja individual;
15
c. kewajaran dengan peer group; dan
d. pertimbangan sasaran dan strategi jangka panjang Bank.

Rapat Komite
1. Rapat Komite diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan Bank.
2. Rapat Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko hanya dapat dilaksanakan
apabila dihadiri oleh paling kurang 51% (lima puluh satu perseratus) dari jumlah
anggota termasuk seorang Komisaris Independen dan Pihak Independen.
3. Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri
oleh minimal 51% (lima puluh satu perseratus) dari jumlah anggota termasuk seorang
Komisaris Independen dan Pejabat Eksekutif.
a. Keputusan rapat komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
b. Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat, pengambilan keputusan dilakukan
berdasarkan suara terbanyak.
c. Hasil rapat komite wajib dituangkan dalam risalah rapat dan didokumentasikan
secara baik.
d. Perbedaan pendapat (dissenting opinions) yang terjadi dalam rapat komite, wajib
dicantumkan secara jelas dalam risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat
tersebut.

Soal Kasus :
Mengapa komite audit harus diketuai oleh komisaris independen?
Karena komite audit berfungsi membantu komisaris dalam bidang pengawasan dan
pengendalian agar perusahaan dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip GCG,
serta membantu meningkatkan efektivitas, akuntabilitas, transparasi dan obyektifitas
dalam pengelolaan perusahaan oleh Karen itu komite audit harus bekerja secara
independen dan bertanggung jawab kepada komisaris.

2.3 Analisis faktor-faktor yang berkontribusi dalam membentuk komite
audit yang efektif.
1. Tujuan dan Manfaat dibentuknya Komite Audit
1.1 Tujuan dibentuknya Komite Audit adalah:
a. Pelaporan Keuangan
16
Meksipun Direksi dan Dewan Komisaris bertanggungjawab terutama
atas laporan keuangan dan auditor eksternal bertanggungjawab hanya
atas laporan keuangan audit ekstern, Komite Audit melaksanakan
pengawasan independen atas proses laporan keuangan dan audit
ekstern.
b. Manajemen risiko dan kontrol
Meksipun Direksi dan Dewan Komisaris terutama bertanggungjawab
atas manajemen risiko dan kontrol, Komite Audit memberikan
pengawasan independen atas proses risiko dan kontrol.
c. Corporate Governance
Meksipun Direksi dan Dewan Komisaris terutama bertanggungjawab
atas pelaksanaan Corporate Governance, komite audit melaksanakan
pengawasan independen atas proses tata kelola perusahaan.
1.2 Komite Audit yang efektif bekerja sebagai suatu alat untuk meningkatkan
efektifitas, tanggungjawab, keterbukaan dan objektifitas Dewan Komisaris
dan memiliki fungsi untuk:
a. memperbaiki mutu laporan keuangan dengan mengawasi laporan
keuangan atas nama Dewan Komisaris,
b. menciptakan iklim disiplin dan kontrol yang akan mengurangi
kemungkinan penyelewengan-penyelewengan,
c. memungkinkan anggota yang non-eksekutif menyumbangkan suatu
penilaian independen dan memainkan suatu peranan yang positif,
d. Membantu Direktur Keuangan, dengan memberikan suatu
kesempatan di mana pokok-pokok persoalan yang penting yang
sulit dilaksanakan dapat dikemukakan,
e. Memperkuat posisi auditor eksternal dengan memberikan suatu
saluran komunikasi terhadap pokok-pokok persoalan yang
memprihatinkan dengan efektif,
f. Memperkuat posisi auditor internal dengan memperkuat
independensinya dari manajemen,
g. Meningkatkan kepercayaan publik terhadap kelayakan dan
objektifitas laporan keuangan serta meningkatkan kepercayaan
terhadap kontrol internal yang lebih baik.

17
2. Peranan dan Tanggung Jawab Komite Audit
Peranan dan tanggungjawab Komite Audit harus dengan jelas tercantum
dalam ketentuan-ketentuan Audit Committee Charter. Peran dan
tanggungjawab Komite Audit akan berlainan tergantung kondisi suatu
perusahaan tertentu, namun, pada dasarnya akan mengarah pada pemberian
bantuan kepada Dewan Komisaris dalam melaksanakan tugasnya tentang
kontrol intern dan pelaporan keuangan dan manajemen.
Dalam peran dan tanggunjawab komite audit harus termasuk:
a. Pelaporan keuangan
Dalam hal pelaporan keuangan, peran dan tanggungjawab Komite Audit
adalah:
1. Pengawasan atas proses pelaporan keuangan dengan menekankan
agar standar dan kebijaksanaan keuangan yang berlaku terpenuhi,
2. Memeriksa ulang laporan keuangan apakah sudah sesuai dengan
standar dan kebijksanaan tersebut dan apakah sudah konsisten
dengan informasi lain yang diketahui oleh anggota Komite Audit,
dan
3. Mengawasi audit laporan keuangan eksternal dan menilai mutu
pelayanan dan kewajaran biaya yang diajukan auditor eksternal.
b. Manajemen Risiko dan Kontrol
Dalam hal manajemen risiko dan kontrol, peran dan tanggung jawab
Komite Audit adalah:
1. Mengawasi proses manajemen risiko dan kontrol, termasuk
identifikasi risiko dan evaluasi kontrol untuk mengecilkan risiko
tersebut,
2. Mengawasi laporan auditor internal dan auditor eksternal untuk
memastikan bahwa semua bidang kunci risiko dan kontrol
diperhatikan,
3. Menjamin bahwa pihak manajemen melaksanakan semua
rekomendasi yang terkait dengan risiko dan kontrol, yang dibuat
oleh auditor internal dan auditor eksternal.

c. Corporate Governance
18
Tanggungjawab Komite Audit di bidang Corporate Governance adalah
memberikan kepastian, bahwa perusahaan tunduk melaksanakan
urusannya dengan pantas dan mempertahankan kontrol yang efektif
terhadap benturan kepentingan dan manipulasi terhadap pegawainya.
Dalam hal Corporate Governance peran dan tanggungjawab Komite
Audit harus termasuk juga:
1. Mengawasi proses Corporate Governance,
2. Memastikan bahwa manajemen senior membudayakan Corporate
Governance,
3. Memonitor bahwa perusahaan tunduk pada Code of Conduct,
4. Mengerti semua pokok persoalan yang mungkin dapat mempengaruhi
kinerja finansial atau non-finansial perusahaan,
5. Memonitor bahwa perusahaan tunduk pada tiap undang-undang dan
peraturan yang berlaku,
6. Mengharuskan auditor internal melaporkan secara tertulis hasil
pemeriksaan Corporate Governance dan temuan lainnya.

3. Hubungan kerja
Hubungan kerja Komite Audit termasuk antara lain dengan:
a. Auditor eksternal
Auditor eksternal biasanya akan melapor kepada direktur yang
bertanggungjawab atas aktivitas keuangan perusahaan. Namun
sehubungan dengan perannya untuk mengadakan pengawasan eksternal
audit, maka Komite Audit harus:
1. Memberikan rekomendasi tentang pengangkatan dan/atau
penggantian auditor eksternal,
2. Meninjau surat pengangkatan auditor eksternal,
3. Meninjau biaya untuk eksternal audit,
4. Meninjau lingkup dan perencanaan audit eksternal,
5. Meninjau laporan audit eksternal,
6. Meninjau management letters audit eksternal,
7. Memonitor kinerja auditor eksternal,
19
8. Memastikan, bahwa auditor eksternal bekerja sesuai dengan
standar profesional yang bersangkutan, khususnya dalam
hubungan dengan independensi.

b. Auditor internal
Institute Internal Auditors (IIA) menganggap bahwa Komite Audit dan
auditor internal mempunyai tujuan yang sama. Suatu hubungan kerja
yang baik dengan auditor internal dapat membantu Komite Audit dalam
pelaksanaan tanggungjawabnya kepada Dewan Komisaris, para
pemegang saham dan pihak luar lainnya.
1. Walau Kepala Auditor internal adalah bagian dari manajemen dan
harus melapor kepada Direktur Utama, namun Kepala Auditor
internal harus juga dapat melapor (garis putus-putus) kepada
Komite Audit.
2. Oleh karena itu, sehubungan dengan perannya untuk mengawasi
fungsi auditor internal, Komite Audit dapat:
I. Memberikan rekomndasi terhadap pengangkatan
dan/atau penggantian kepala auditor internal yang
ditunjuk oleh Direktur Utama;
II. Meninjau internal audit charter;
III. Meninjau struktur fungsi audit internal,
IV. Meninjau rencana tahunan audit intern,
V. Memastikan bahwa fungsi audit intern mempunyai
metodologi, alat dan sumber yang memadai untuk
memenuhi charter audit internal audit charter dan
mengerjakan rencana tahunan audit intern,
VI. Meninjau semua laporan audit internal,
VII. Memonitor kinerja fungsi audit internal, dan
VIII. Memastikan bahwa fungsi audit internal memenuhi
standar profesional yang bersangkutan.
c. Manajemen.
Disamping bidang khusus keuangan, risiko dan kontrol, dan Corporate
Governance, Komite Audit dapat mempertimbangkan suatu rangkaian
20
pokok persoalan yang lebih luas, dan ini dapat diserahkan secara khusus
oleh Dewan Komisaris, yaitu :
1. Manajemen harus mempergunakan Komite Audit untuk membantu
mereka dalam pelaksanaan peran dan tanggungjawab
sebagaimana ketentuan yang berlaku.
2. Karenanya, sehubungan dengan perannya untuk mengawasi
Corporate Governance, Komite Audit harus mengadakan
pertemuan dengan manajemen secara berkala untuk
membicarakan secara terbuka semua pokok-pokok persoalan,
yang dapat mempengaruhi kinerja finansial atau non-finansial
organisasi.
a.

2.5 Analisa Kasus PT Telkomsel
2.5.1 Latar Belakang Perusahaan
PT. Telekomunikasi Seluler adalah sebuah perusahaan operator
telekomunikasi seluler nasional terbesar di Indonesia dengan 51,3 juta pelanggan dan
market share sebesar 51% pada tahun 2008. Dengan menyediakan beragam layanan
dengan berbasis teknologi jaringan GSM Dual Band (900 & 1800), GPRS, WiFi,
EDGE, 3G, HSDPA dan HSPA di seluruh Indonesia. Layanan paskabayarnya yang
diluncurkan pada tahun 1995 merupakan part subsidiary dari PT Telkom Indonesia.
Pada saat itu kepemilikan saham Telkomsel adalah PT Telkom (51%) dan PT
Indosat (49%). Kemudian pada 1997 Telkomsel menjadi operator seluler pertama di
Asia yang menawarkan layanan prabayar GSM. Saat ini saham Telkomsel dimiliki
oleh PT Telkom (65%) dan perusahaan telekomunikasi Singapura SingTel (35%). PT
Telkom merupakan BUMN Indonesia yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh
Pemerintah Republik Indonesia, sedang SingTel merupakan perusahaan yang
mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Singapura. Di pasar internasional,
jaringan Telkomsel telah mencakup untuk jaringan internasional, Telkomsel telah
berkolaborasi dengan 362 roaming partners di 196 negara.
Perusahaan berdiri dengan visi dan misi berikut :
Visi :
Menjadi penyedia layanan dan solusi mobile digital lifestyle kelas dunia yang
terpercaya.
21
Misi :
Memberikan layanan dan solusi mobile digital yang melebihi ekspektasi pelanggan,
memberikan nilai tambah kepada para stakeholders, dan mendukung pertumbuhan
ekonomi bangsa.

Board of Commissioners
Komisaris Utama : Arief Yahya
Komisaris : Rizkan Chandra
Komisaris : Priyantono Rudito
Komisaris : Muchlis Moechtar
Komisaris : Paul O' Sullivan
Komisaris : Yuen Kuan Moon

Board of Directors
Direktur Utama : Alex J Sinaga
Direktur Sales : Masud Khamid
Direktur Finance : Heri Supriadi
Direktur Human Capital Management : Herdy Harman
Direktur Network : Abdus Somad Arief
Direktur Marketing : Alistair Johnston
Direktur Information Technology : Ng Soo Kee
Direktur Planning & Transformation : Edward Ying

Sebagai pemilik saham terbesar PT Telkom memiliki Dewan Komisaris dan Komite
Audit. Berikut adalah Susunan komposisi Dewan Komisaris per tanggal 19 April
2013, terdiri dari:
1. Jusman Syafii Djamal, Komisaris Utama.
2. Hadiyanto, Komisaris.
3. Parikesit Suprapto, Komisaris.
4. Johnny Swandi Sjam, Komisaris Independen.
5. Virano Gazi Nasution, Komisaris Independen.
6. Gatot Trihargo, Komisaris

Susunan Komite Audit per 31 Desember 2013 dan sampai saat ini terdiri dari:
22
Ketua : Johny Swandi Sjam (Komisaris Independen)
Sekertaris : Agus Yulianto (Independen)
Anggota : - Virano Gazi Nasution (Komisaris Independen)
- Parkesit Suprapto (Komisaris)
- Sehat Pardede (Independen)

2.5.2 Kasus Whistle blower
Kasus dugaan korupsi terkait pengadaan perangkat telekomunikasi berawal
dari surat terbuka atas nama HM Sukarni, GM Special Audit PT Telkomsel ditujukan
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam surat tersebut menyebutkan
alasan menyurati Presiden, karena Komite Audit tidak menindaklanjuti permintaan
dari "whistle blower", agar dilakukan evaluasi terhadap sejumlah kasus yang terjadi di
Telkom dan Telkomsel.
Ada tiga indikasi korupsi yang terjadi di Telkom dan Telkomsel, yakni proyek
renovasi gedung senilai Rp35 miliar, proyek swap BTS Telkomsel, serta pengadaan
SIM Card RF untuk Telkomsel Cash (T-Cash).
Proyek renovasi gedung tersebut dimenangi salah satu perusahaan dimiliki
oleh "Mr R", yang disebut-sebut penyokong dana agar direksi Telkom dan Telkomsel
tetap bisa mempertahankan jabatannya. Pada proyek itu diduga terjadi penyelewengan
uang negara hingga sebesar Rp10 miliar. Selain itu, dugaan korupsi terjadi pada
proyek penggantian jaringan perangkat BTS Telkomsel. Proyek pergantian perangkat
BTS Telkomsel, dimana BTS berkualitas tinggi diganti menjadi produk berkualitas
rendah yang diotaki oleh dua direksi di perusahaan itu. Hasil penyelewengan dana itu
digunakan untuk upeti kepada pejabat di Kementerian Negara BUMN dan Direksi
Telkom.
Kecurangan juga terjadi pada pengadaan SIM Card RF untuk layanan mobile
wallet Telkomsel Cash (T-Cash). Biaya produksi 1 unit SIM card seharusnya kurang
dari US$1, namun harganya ditetapkan sampai US$ 12 per unit. Kasus tersebut
dikabarkan nomor-nomor yang sudah diinjeksi tidak bisa digunakan karena platform
untuk uang digital berbasis RFID itu belum ada. Akhirnya, kartu yang sudah dibeli
nomor-nomornya terpaksa di-recycle. Seluruh kasus ini disebut-sebut melibatkan
direksi Telkom-Telkomsel dan mantan Komisaris Utama Telkom yang juga seorang
mantan Menteri BUMN.
23
Menurut Ketua Tim Audit PT Telkom Rudiantara, pada saat itu informasi
yang disampaikan melalui whistle blower tersebut belum diterima oleh Komite Audit
PT Telkom. Namun, Komite Audit Telkom telah mendalami dan menindaklanjutinya
kasus tersebut. Salah satunya dengan melakukan `check and re-check` untuk
memastikan benar tidaknya informasi yang beredar bahwa terjadi pengambilan
keputusan di Telkom dan Telkomsel. Komite audit Telkom juga telah melakukan
audit investigasi dan audit forensic pada setiap laporan dari Whistle blower tersebut
untuk memastikan benar tidaknya informasi tersebut bahwa terjadi pengambilan
keputusan di PT Telkom dan PT Telkomsel yang merugikan Negara.
Berdasarkan hasil penyelidikan oleh Komite Audit diperoleh beberapa
keterangan :
1. Vice President Public and Marketing Communications PT Telkom Eddy
Kurnia menyatakan, kasus itu tidak benar. Menurutnya, Telkom tidak pernah
menulis surat tersebut. Dia menuding ada penyalahgunaan kop surat yang
mengatasnamakan Telkom oleh pihak yang tidak bertang-gung jawab, demi
mencoreng citra perusahaan dan kepentingan kelompok semata. Sementara itu,
Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno juga membantah telah
terjadi korupsi di Telkomsel. Ia menyatakan, semua proses pengadaan telah
dilakukan audit secara transparan. Tidak ada yang ditutup-tutupi, karena
Telkomsel merupakan BUMN yang terbuka untuk publik.
2. Komite sudah memanggil langsung HM Sukarni, untuk meminta klarifikasi.
Surkarni dimintai keterangan, dan mengatakan bahwa dirinya bukan orang
yang membuat surat tersebut.
3. Komite Audit tidak bisa melakukan penyelidikan untuk surat kaleng yang
dikirimakan karena link menuju ke surat itu sudah diblokir oleh pengelola
forum.
Komite Audit PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akan
mengklarifikasi isu kasus korupsi yang terjadi di anak usahanya, Telkomsel, untuk
menghindari fitnah yang merugikan perseroan secara grup. Komite Audit tidak hanya
akan terpaku pada asli atau tidaknya surat terbuka yang dibuat oleh whistle
blower. Namun, pada substansi masalah yang diinformasikan. Diketahui terjadinya
isu terkait dugaan korupsi tersebut disebabkan oleh benturan kepentingan menjelang
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang membahas tentang penambahan
anggota Dewan Direksi.
24

2.5.3 Analisa Kasus Perusahaan
Komite Audit PT Telkom menjalankan tugas berdasarkan mandat Audit
Committee Charter yang ditetapkan dengan Keputusan dewan Komisaris. Audit
Committee Charter dievaluasi secara berkala dan apabila diperlukan dilakukan
amandemen untuk memastikan kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan Bapepam-
LK dan SEC serta peraturan terkait lainnya.
Berikut ini adalah penerapan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.I.5 Tentang
Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit terkait kasus pada PT
Telkom dan Telkomsel:
Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan
Emiten atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara
lain laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
Komite Audit PT Telkom perlu mengawasi pelaporan keuangan
untuk proyek renovasi gedung, proyek swap BTS Telkomsel, serta
pengadaan SIM Card RF untuk Telkomsel Cash (T-Cash) agar jelas
asal usul dana dan pemakaiannya.
Setiap rapat Komite Audit dituangkan dalam risalah rapat, termasuk apabila
terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinions), yang ditandatangani oleh
seluruh anggota Komite Audit yang hadir dan disampaikan kepada Dewan
Komisaris.
Karyawan Telkom Group ataupun pihak ketiga dapat menyampaikan
pengaduan secara tertulis mengenai permasalahan akuntansi dan
auditing, pelanggaran peraturan, dugaan kecurangan dan/atau dugaan
korupsi dan pelanggaran kode etik langsung kepada Komisaris Utama
atau kepada Ketua Komite Audit PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
melalui e-mail, fax atau surat. Informasi yang dilaporkan harus
didukung dengan bukti-bukti yang cukup memadai dan dapat
diandalkan sebagai data awal untuk melakukan pemeriksaan lebih
lanjut. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi, menginvestigasi, dan
menindaklanjuti pengaduan dari karyawan Telkom Group dan dari
pihak ketiga dengan tetap menjaga kerahasiaan pelapor.
25
Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor
internal;
Telkom juga telah membangun suatu mekanisme kerja antara Komite
Audit dengan Internal Audit dan Komite Investigasi termasuk
protokol dengan Telkomsel untuk menindaklanjuti pengaduan yang
diterima. Penerapan program whistleblower yang dikelola oleh
Komite Audit ditetapkan dengan Keputusan dewan Komisaris dan
diratifikasi dengan Keputusan direksi.


Menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik.
Setiap ada laporan akan dimasukkan ke sistem audit. Komite audit
menerima informasi mengenai kasus tersebut dan telah mendalami
kasus tersebut dengan melakukan `check and re-check` untuk
memastikan benar tidaknya informasi yang beredar bahwa terjadi
pengambilan keputusan di Telkom dan Telkomsel yang merugikan
negara dan menindaklanjutinya dengan melakukan audit investigasi
dan audit forensik atas setiap laporan dari whistle blower.
Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang
menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan Akuntan terkait
tugas dan tanggung jawab Komite Audit;
Komite sudah memanggil langsung HM Sukarni, untuk meminta
klarifikasi dan keterangan terkait kasus tersebut.
Keputusan rapat Komite Audit diambil berdasarkan musyawarah untuk
mufakat.
Keputusan Komite Audit PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
(Telkom) yang akan mengklarifikasi isu kasus korupsi yang terjadi di
anak usahanya telah berdasarkan kesepakatan dan musyawarah yang
dilakukan dengan dewan direksi dan komisaris.
Komite Audit sedikitnya terdiri dari tiga orang anggota, satu diantaranya
adalah Komisaris Independen yang bertindak sebagai ketua, sementara dua
26
anggota lainnya harus merupakan pihak yang independen dan tidak
mempunyai hubungan Afiliasi dengan anggota Dewan Komisaris, anggota
Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut;
Untuk masa tugas saat ini PT Telekomunikasi Indonesia memiliki
Komite Audit yang terdiri dari lima anggota: dua Komisaris
Independen, satu Komisaris, dan dua anggota eksternal independen
yang tidak terafiliasi dengan Telkom.
Berikut ini adalah kepatuhan Telkomsel terhadap OECD: Peraturan terkait
penerapan Good Corporate Governance juga menyarankan pembentukan Komite
Audit oleh Dewan komisaris. PT Telkom telah membentuk Komite Audit yang
merupakan salah satu komite penunjang Dewan komisaris yang dibentuk untuk
membantu proses pengawasan terutama terkait dengan pengendalian internal,
manajemen risiko, pelaporan keuangan, dan aktivitas audit.
Menurut Peraturan OECD CG dari kajian BAPEPAM belum ada peraturan
yang mengikat tentang whistle blower di Indonesia. Tetapi Telkom dan Telkomsel
telah menerapkan ketentuan syarat seseorang jika ingin melakukan whistle blower dan
tata cara penanganan whistle blower tersebut.
Sedangkan menurut Audit Committee PwC menyebutkan tentang Complience
and Ethics Program, pada poin satu tentang Codes of Conduct seharusnya komite
audit telah secara efektif mengkomunikasikan kode etik perusahaan dan mampu
melatih sehingga mereka memiliki sertifikasi mengenai kode etik tersebut. PT
Telkomsel harus lebih dalam mengkomunikasikan tentang peraturan tersebut
sehingga dapat menghindari pelanggaran etik. Terkait whistle blower, komite audit
dapat menyimpan informasi sebagai data perilaku karyawannya.

27

BAB 3
DAFTAR PUSTAKA

http://www.telkomsel.com
http://www.telkom.co.id/en/komite-audit.html
http://www.antaranews.com/berita/257082/kementerian-bumn-dukung-komite-audit-
telkom-usut-korupsi
http://www.kabarbisnis.com/read/2820077
http://irvansaragih.blogspot.com/2008/06/pertarungan-auditor-firm-dalam-kasus.html
http://doniismanto.wordpress.com/2011/05/04/040511-komite-audit-telkom-dalami-
isu-korupsi-di-telkomsel/
What World Best Audit Committee PwC
PERATURAN BAPEPAM NOMOR IX.I.5 TENTANG PEMBENTUKAN DAN
PEDOMAN PELAKSANAAN KERJA KOMITE AUDIT
Peraturan BI No. 8/4/PBI/2006










28