Anda di halaman 1dari 8

Kelompok 2 :

1. Elfira Maya Adiba (091414553001)


2. Aishanafi Khadifya S. (091414553016)
3. Rahmah Yulisa Kalbarini (091414553019)

PENDAHULUAN
Al-Qawaid bentuk jamak dari kata qaidah (kaidah). Para ulama mengartikan qaidah
secara etimologis dan terminologis. Dalam arti bahasa, qaidah bermakna asas, dasar atau
fondasi, baik dalam arti yang konkret maupun yang abstrak, seperti kata-kata. Sebagaimana
dalam ayat Al-Quran surat Al Baqarah: 127
^O)47O4COg-4O)EgN-4O^-=}
g`ge^O4l^-N1gEc)44L+4O*l
>.E4g`WElE^)=e^71gOO-O1)UE^
-^g_
Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail...
Dan Q.S An-Nahl ayat 26 yang berbunyi,
...+.-_4L41^[+;g)`ggN-4O^-...^g
g
...Allah menghancurkan bangunan mereka dari fondasi-fondasinya...
Dari kedua ayat tersebut bisa disimpulkan arti kaidah adalah dasar, asas atau fondasi, tempat
yang diatasnya berdiri bangunan.
Manfaat dari adanya kaidah fikih adalah memberi kemudahan di dalam menemukan
hukum-hukum untuk kasus-kasus hukum yang baru dan tidak jelas nash-nya dan
memungkinkan menghubungkannya dengan materi-materi fikih yang lain yang tersebar di
berbagai kitab fikih serta memudahkan di dalam memberi kepastian hukum. Orang yang
ingin tafaqquh (mengetahui, mendalami, menguasai) ilmu fikih, akan mencapainya dengan
mengetahui kaidah-kaidah fikih, oleh karena itu ulama berkata: barang siapa menguasai
ushul fiqh, tentu dia akan sampai kepada maksudnya, dan barang siapa yang menguasai
kaidah-kaidah fikih pasti dialah yang pantas mencapai maksudnya
.

PEMBAHASAN
Kebutuhan vital yang bersifat umum ataupun khusus, mempunyai pengaruh dalam
perubahan ketetapan hukum, sebagaimana halnya darurat. Meskipun demikian darurat lebih
kuat daripada kebutuhan dalam menyebabkan perubahan hukum asal, karena darurat
merupakan suatu keadaan yang jika dilawan akan berakibat bahaya dan kemudaratan bagi
keselamatan jiwa dan yang lainnya.
Darurat secara bahasa adalah berasal dari kalimat "adh dharar" yang berarti sesuatu
yang turun tanpa ada yang dapat menahannya. Makna idhtirar ialah ihtiyaj ilassyai' yaitu
membutuhkan sesuatu. Dalam mu'jamul wasith disebutkan bahwa kalimat idhtiraru ilaihi
bermakna seseorang sangat membutuhkan sesuatu. Jadi darurah adalah sebuah kalimat yang
menunjukkan atas arti kebutuhan atau kesulitan yang berlebihan.
Para ulama Fiqh telah meletakkan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sebelum
keringanan diambil atas dasar kebutuhan yang memaksa. Syarat-syarat ini adalah:
1. Kondisi bahaya besar itu telah benar-benar terjadi atau belum terjadi, namun diyakini atau
diprediksi kuat akan terjadi. Maknanya, sesuatu yang membahayakan lima pokok dasar
(maqashid syariah) secara yakin atau prediksi kuat telah atau akan terjadi. Di mana kalau
tidak memakan yang haram, maka akan membinasakannya atau minimalnya mendekati
kebinasaan. Atas dasar ini, sesuatu yang hanya prasangka belaka atau masih diragukan,
tidak bisa dijadikan dasar dalam menentukan kondisi darurat. Contohnya, tidak
dibenarkan mengambil bunga bank melalui pinjaman utang ke bank untuk memperluas
usaha bisnis atau untuk melipatgandakan keuntungan dengan alasan bahwa perlindungan
harta juga dibolehkan dalam syariah.
2. Tidak ada solusi lain yang ditemukan untuk mengatasi masalah tersebut kecuali dengan
adanya keringanan tersebut. Sehingga hal yang haram menjadi halal untuk dilakukan.
Meskipun begitu seorang Muslim harus senantiasa mencari solusi agar dapat
menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan halal. Misalnya, seseorang tidak
diperbolehkan memiliki asuransi dagang dengan tujuan untuk melindungi hartanya.
Meskipun diketahui bahwa asuransi itu perlu, namun syariah masih memiliki jalan lain
dengan cara takaful. Begitu juga tidak diperbolehkan meminjam uang dengan sistem
bunga ke bank untuk membeli rumah bagi tempat tinggal keluarganya dengan alasan
menyelamatkan keluarga, karena tujuan ini dapat dicapai dengan menyewa.
3. Solusi tidak dapat menyalahi aturan-aturan sakral yang memicu pembunuhan,
pemurtadan, perampasan harta atau bersenang-senang dengan sesama jenis. Atas alasan
apapun seseorang dalam keadaaan tertekan tidak dibenarkan membunuh orang lain.
4. Ukuran melanggar larangan saat kondisi terpaksa itu harus dilakukan sekadarnya
saja.Maksudnya bolehnya melakukan yang terlarang saat kondisi darurat tersebut, hanya
sekadar untuk menghilangkan bahaya yang menimpa dirinya saja. Jika bahaya tersebut
sudah hilang maka tidak boleh lagi melakukannya. Allah berfirman:
...^}EO7C;-4OOEN^44l14NE=^
)gO^OU4N_Ep)-.-EOOENv1gOO^_@
Artinya : ...Barangsiapa dalam keadaan terpaksa [memakannya] sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak [pula] melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 2: 173)

Atas dasar ini, orang kelaparan yang kalau tidak makan bangkai akan meninggal
dunia maka boleh makan sekadar untuk menyambung hidupnya saja. Tidak boleh sampai
kenyang.
5. Dalam pandangan pakar, solusi tersebut merupakan satu-satunya solusi yang tersedia.
Misalnya dalam pengobatan medis, hanya seorang dokter ahli yang mengatakan bahwa
hanya pengobatan dengan minuman keras tertentu yang dapat mengobati suatu penyakit
dan tidak ada jalan lain yang lebih efektif.
Kaidah fiqih ini memuat kata al-hajjah dan ad-dharurat. Al-hajjah adalah suatu
keadaan yang menghendaki agar seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak menurut
hukum yang seharusnya berlaku, karena adanya kesulitan dan kesukaran. Perbedaan al-hajjah
dan ad-dharura tadalah dalam kondisi ad-dharurat, ada bahaya yang muncul sedangkan
dalam al-hajjah hanya kesukaran atau kesulitan dalam melaksanakan hukum. Contoh al-
hajjah dalam jual beli adalah adanya obyek yang dijual wujud, akan tetapi demi kelancaran
transaksi boleh menjual barang yang belum wujud asal sifat-sifatnya atau contohnya telah
ada.
Kaidah Fiqh ini kemudian menjadi salah satu dasarpengambilan fatwa Dewan Syariah
Nasional dalam berbagai praktek antara lain sebagaimana fatwa Dewan Syariah Nasional
antara lain:


1. Fatwa DSN nomor 22 tentang Jual Beli Istishna Paralel
Kaidah fiqh ini digunakan pada fatwa DSN nomor 22 karena ada kebutuhan lembaga
keuangan syariah (LKS) bekerja sama dengan pihak lain sebagai Shani untuk memenuhi
kewajibannya kepada nasabah.
2. Fatwa DSN nomor 29 tentangPembiayaanPengurusan Haji LembagaKeuanganSyariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 29 karena ada kebutuhan masyarakat
dalam pengurusan Haji dan talangan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH),
sehingga lembaga keuangan syariah (LKS) perlu untuk menyediakan jasa pelayanan
keuangan khusus dibidang tersebut.
3. Fatwa DSN nomor 30 tentangPembiayaanRekening Koran Syariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 30 karena ada kebutuhan masyarakat
untuk mendapatkan pembiayaan sehingga lembaga keuangan syariah perlu memberikan
fasilitas pembiayaan rekening koran, yaitu fasilitas pinjaman atau pembiayaan dari
rekening koran dengan ketentuan yang disepakati.
4. Fatwa DSN nomor 31 tentangPengalihanUtang
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 31 karena perlunya membantu
masyarakat mengalihkan transaksi non-syariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang
sesuai dengan syariah.
5. Fatwa DSN nomor 32 tentangObligasiSyariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 32 karena obligasi yang telah
diterbitkan selama ini masih belum sesuai dengan ketentuan syariah sehingga belum
dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat akan obligasi yang sesuai syariah. Pemegang
Obligasi berkewajiban membayar bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok pada
saat jatuh tempo kepada pemegang obligasi.
6. Fatwa DSN nomor 33 tentangObligasiSyariahMudharabah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 33 karena obligasi yang telah
diterbitkan selama ini masih belum sesuai dengan ketentuan syariah sehingga belum
dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat akan obligasi yang sesuai syariah.
7. FatwaDSNnomor 34 tentang Letter Of Credit (L/C) Impor Syariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 34 karena transaksi L/C impor yang
berlaku selama ini belum sesuai dengan ketentuan syariah, oleh karena itu dibutuhkan
layanan jasa perbankan dengan memberikan fasilitas transaksi impor.
8. Fatwa DSN nomor35tentangLetter Of Credit (L/C) EksporSyariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 35 karena transaksi L/C ekspor yang
berlaku selama ini belum sesuai dengan ketentuan syariah, oleh karena itu dibutuhkan
layanan jasa perbankan dengan memberikan fasilitas transaksi ekspor.
9. Fatwa DSN nomor 36 tentangSertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI)
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 36 karena dibutuhkan instrumen
pengendalian moneter yang diterbitkan bank sentral yang berdasarkan prinsip syariah
sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kelebihan likuiditas bank syariah.
10. Fatwa DSN nomor 39 tentangAsuransi Haji
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 39 karena perjalanan haji
mengandung risiko berupa kecelakaan atau kematian, untuk meringankan beban risiko
tersebut perlu adanya asuransi yang sesuai dengan syariah.
11. Fatwa DSN nomor 42 tentangSyariah Charge Card
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 42 karena ada kebutuhan nasabah
dalam hal kemudahan, keamanan, dan kenyamanan dalam melakukan transaksi dan
penarikan tunai, sehingga diperlukan charge card.
12. Fatwa DSN nomor 45tentangLine Facility
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 45 karena ada kebutuhan masyarakat
dalam hal mendapatkan fasilitas plafon pembiayaan dalam jangka waktu tertentu untuk
nasabah tertentu dengan ketentuan yang disepakati dan mengikat secara moral. Oleh
karena itu, Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat
tersebut dalam berbagai produknya.
13. Fatwa DSN nomor 54 tentangSyariah Card
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 54 karena adanya kebutuhan untuk
memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan
transaksi dan penarikan tunai. Bank Syariah dipandang perlu menyediakan sejenis Kartu
Kredit, yaitu alat pembayaran dengan menggunakan kartu yang dapat digunakan untuk
melakukan pembayaran atas kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi,
termasuk transaksi pembelanjaan dan atau untuk melakukan penarikan tunai, dimana
kewajiban pembayaran pemegang kartu dijamin dan dipenuhi terlebih dahulu oleh
acquirer atau penerbit, dan pemegang kartu berkewajibanmelakukan pelunasan
kewajiban pembayaran tersebut kepadapenerbit pada waktu yang disepakati secara
angsuran. Kartu Kredit yang ada saat ini menggunakan sistem bunga (interest) sehingga
tidak sesuai dengan prinsip syariah.

14. Fatwa DSN nomor 55 tentangPembiayaan Rekening Koran Syariah Musyarakah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 55 karena adanya kebutuhan
masyarakat untuk mendapatkan pembiayaan sehingga lembaga keuangan syariah perlu
memberikan fasilitas pembiayaan rekening koran, yaitu fasilitas pinjaman atau
pembiayaan dari rekening koran dengan ketentuan yang disepakati. Fatwa yang telah
diterbitkan mengenai pembiayaan rekening koran syariah belum meliputi akad
Musyarakah.
15. Fatwa DSN nomor 59 tentang Obligasi Syariah Mudharabah Konversi
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 59 karena obligasi yang telah
diterbitkan selama ini masih belum sesuai dengan ketentuan syariah sehingga belum
dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat akan obligasi yang sesuai syariah. Obligasi
syariah dimungkinkan untuk dikonversi ke saham syariah yang diperjanjikan di depan
pada saat penerbitan obligasi syariah.
16. Fatwa DSN nomor 60 tentang Penyelesaian Piutang dalam Ekspor
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 60 karena ketentuan tentang
penyelesaian piutang dalam transaksi ekspor diperlukan oleh LKS guna memenuhi
kebutuhan objektif dalam rangka memberikan pelayanan terhadap nasabah.
17. Fatwa DSN nomor 61 tentang Penyelesaian Utang dalam Impor
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 61 karenaketentuan tentang
penyelesaian utang dalam transaksi impor diperlukan oleh LKS guna memenuhi
kebutuhan objektif dalam rangka memberikan pelayanan terhadap nasabah.
18. Fatwa DSN nomor 63 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 63 karena pelaksanaan pengendalian
moneter berdasarkan prinsip syariah diperlukan instrumen yang sesuai dengan syariah
yang diterbitkan bank sentral, dengan tidak mengabaikan salah satu misi utama perbankan
syariah yaitu untuk menggerakkan sektor riil. Instrumen pengendalian moneter yang telah
diterbitkan oleh Bank Indonesia berdasarkan prinsip syariah dengan
menggunakan wadiah berupa Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) dipandang
belum sepenuhnya dapat menjadi instrumen pengendalian moneter secara optimal.
19. Fatwa DSN nomor 64 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah Jualah (SBIS Jualah)
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 64 karena pelaksanaan pengendalian
moneter berdasarkan prinsip syariah diperlukan instrumen yang sesuai dengan syariah
yang diterbitkan bank sentral, dengan tidak mengabaikan salah satu misi utama perbankan
syariah yaitu untuk menggerakkan sektor riil. Instrumen pengendalian moneter yang telah
diterbitkan oleh Bank Indonesia berdasarkan prinsip syariah dengan menggunakan
wadiah berupa Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) dipandang belum sepenuhnya
dapat menjadi instrumen pengendalian moneter secara optimal. Penerbitan instrumen
berdasarkan akad jualah dipandang lebih dapat mengoptimalkan pengendalian moneter
dan pengelolaan likuiditas perbankan syariah.
20. Fatwa DSN nomor 67 tentang Anjak Piutang Syariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 67 karena masyarakat memerlukan
kegiatan pembelian piutang jangka pendek untuk kegiatan usahanya selain itu, anjak
piutang saat ini tidak sesuai dengan syariah karena mengandung riba, gharar.
21. Fatwa DSN nomor 68 tentang Rahn Tasjily
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 68 karena kebutuhan masyarakat akan
pinjaman atau transaksi yang menimbulkan utang piutang dengan memberikan jaminan
barang dengan ketentuan barang tersebut masih dikuasai dan digunakan oleh pihak
berutang.
22. Fatwa DSN nomor 74 tentang Penjaminan Syariah
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 74 karena kebutuhan masyarakat akan
penjaminan atas segala transaksi yang dilakukannya.
23. Fatwa DSN nomor 87 tentang Income Smoothing Dana Pihak Ketiga
Kaidah fiqh ini digunakan pada Fatwa DSN nomor 87 karena adanya kondisi yang diduga
kuat akan menimbulkan risiko pengalihan/penarikan dana nasabah dari LKS akibat
tingkat imbalan yang tidak kompetitif dan wajar sehingga LKS membuat kebijakan
perataan pendapatan (income smoothing).

Dari fatwa-fatwa diatas dapat disimpulkan bahwa kaidah fiqih ini digunakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat darurat seperti pengalihan utang, obligasi
syariah, L/C impor dan ekspor dan lain sebagainya.








DAFTAR PUSTAKA

Teori Dharurah dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Status Hukum Abdul Qodir Salam, Lc.
http://pcinu-mesir.tripod.com/ilmiah/jurnal/isjurnal/nuansa/Jan96/6.htmdiakses pada
tgl 14 Oktober pukul 14.30
http://www.referensimakalah.com/2012/06/kaidah-fikih-tentang-kondisi-darurat.html diakses
tanggal 15 oktober 2014 pukul 13.17
Djazuli, A. 2010. Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan
Masalah-masalah Praktis. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Khairunnisa, dkk. 2012. Kesulitan Mendatangkan Kemudahan. Bogor: Program
Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor.