Anda di halaman 1dari 3

Nilai, Norma, Etika Demokrasi Yang Harus Dikembangkan

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan
olehpemerintah negara tersebut. Sejak pecahnya reformasi 1998 , dengan ditandai oleh
runtuhnya erzim orde baru. Era demokrasi pun lahir, Namun hingga sekarang bangsa ini
masih mencari bentuk demokrasi yang cocok. Demokrasi masih sering dimaknai hanya
sebatas lahirnya kebebasan dari yang sebelumnya dikekang oleh rezim otoriter. Oleh karena
itu harus ada nilai, norma dan etika yang harus dikembangkan, antara lain:
Tanggung Jawab
Demokrasi sejauh kebebasan, ya. Namun, itu pun belum seluruhnya aman secara hukum.
Kebebasan bergerak dan berteriak, lebih besar. Namun, kebebasan yang dikelola sedemikian
rupa sehingga efektif dan bertanggung jawab masih merupakan pergulatan dan perjuangan
bersama. Kontrol efektif dan tentu saja benar serta diikuti tanggung jawab itulah tantangan
kita bersama.
Apabila faham itu ditempatkan pada konteks yang lebih luas dan lebih mencakup, kita sampai
pada suatu kesimpulan, untuk selanjutnya kebebasan demokrasi bukan saja dituntut lebih
kualitatif, tetapi juga disertai tanggung jawab. Tanggung jawab itu ialah bahwa demokrasi
yang membebaskan warga secara individu dan secara sosial dalam lingkungan politik, harus
juga membebaskannya dari lingkungan-lingkungan kehidupan lainnya, seperti kemiskinan,
pengangguran, kecukupan, dan kemajuan.
Karena perlu juga diingat bahwa kedaulatan dalam sistem demokrasi adalah berada di tangan
rakyat, yang kemudian dilimpahkan kepada para elit politik dalam sebuah sistem pemilu.
Oleh karena itu tanggung jawab saat mengemban amanat rakyat haruslah diperhatikan,
bagaimana elit politik tersebut berusaha merealisasikan janji-janji mereka saat pemilu adalah
contoh dari bentuk tanggung jawab tersebut. Demikian juga dengan para rakyat yang telah
memilihnya harus memiliki rasa tanggung jawab untuk mengontrol dan mengawasi kinerja
wakil rakyat dan pemerintahan.
Demokrasi adalah tanggung jawab. Kita membangun demokrasi, kita juga membangun
tanggung jawab bersama. Tanggung jawab mewujudkan kondisi perikehidupan warga,
masyarakat, bangsa, dan negara yang lebih maju dan lebih sejahtera.
Keberagaman
Dalam konteks Indonesia sebagai negara majemuk. Demokrasi harus dimaknai sebagai
kemampuan menghargai yang lain secara adil, bukan hanya mengandalkan suara terbanyak
sebagai pemenang melalui mekanisme voting. Sebab hal itu berpotensi melahirkan tirani
mayoritas dengan mengatasnamakan suara terbanyak, karena kebenaran dan kebaikan tidak
selalu identik dengan suara terbanyak atau nyaringnya suara.
Kemajemukan bagi bangsa Indonesia adalah fakta. Mengelak dari realitas kemajemukan,
sama dengan menolak keberadaan Indonesia itu sendiri. Mengingat kemajemukan menjadi
bahan dasar dari demokrasi. Bangsa Indonesia harus tahu bagaimana mengelola demokrasi
tersebut. Tentu saja secara prosedural demokrasi sudah berjalan di Indonesia. Namun apakah
benar prinsip demokrasi sudah benar-benar dikembangkan?
Adapun prinsip-prinsip yang harus dikembangkan menurut Robert Hafner (Hafner, 2003)
adalah: Pertama, memusatkan perhatian bagaimana masyarakat yang terdiri dari berbagai
kelompok identitas yang berbeda dapat hidup bersama dalam ikatan negara-bangsa. Kedua,
negara harus mengembangkan prinsip kewarganegaraan yang setara, dan menganggap semua
orang atau kelompok masyarakatnya memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Prinsip di atas disebut sebagai Civic pluralism Yakni masyarakat bangsa yang setiap
anggotanya membuang segala upaya untuk menekan atau mengurangi keragaman dan
menjawab tantangan-tantangannya dengan cara yang lebih damai dan partisipatoris.
Pluralisme kewargaan akan tercapai manakala perbedaan terus tumbuh menjadi penerimaan
yang setiap keputusannya dihasilkan secara kolektif oleh semua warga yang berbeda. Tanpa
partisipasi dari setiap warga yang berbeda-beda, kemajemukan tidak lebih sebagai
kerumunan.
Malu
Banyak yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia, khususnya pemerintahanya sudah
kehilangan rasa malu. Rendahnya moralitas oknum pejabat publik merupakan salah satu
penyebab maraknya korupsi di negeri ini. Terkikisnya budaya malu di kalangan para pejabat
publik yang memiliki peran penting bagi tumbuh suburnya praktik haram itu seolah menjadi
tanda bahwa sangat tidak mudah untuk memberantasnya. Betapa sangat luar biasa, jika saja
para pejabat publik itu tidak hanya manis saat kampanye saja, akan tetapi perilaku mereka
harusnya juga mencerminkan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat umum, bukan
malah sebaliknya menilap uang rakyat demi untuk memperkaya diri dan kelompoknya tanpa
memperdulikan nasib rakyat yang dari hari ke hari semakin terhimpit oleh kebijakan yang
tidak berpihak pada mereka. termasuk kebijakan pembayaran pajak yang kian memberatkan.

Salah satu faktor yang memiliki peranan menyuburkan korupsi adalah adanya praktik
pemusatan kekuasaan yang hanya ditangani oleh segelintir elit saja. Bayangkan, jika
kekuasaan dijalankan dengan tangan besi, praktik ini akan mempermudah praktek korupsi
yang dilakukan atas nama kepentingan bersama. Pemusatan kekuasaan akan menyulitkan
publik untuk mengontrol kinerja pemerintah. Hal ini Sama persis dengan praktek kekuasaan
yang dilakukan oleh pemerintahan zaman Orde Baru, dimana atas nama pemerintah, mereka
dengan mudah merampas uang rakyat atas nama pajak untuk pembangunan. Warisan moral
dari pejabat pemerintah terdahulu ini yang sesungguhnya benar-benar bisa lenyap dari praktik
penyelenggaraan pemerintah di Indonesia, akibatnya sikap permisif pun bukan hal yang
langka bagi masyarakat ketika menyaksikan politisi atau pejabat publik dari partai tertentu
terbukti melakukan tindakan korupsi ini. Malah tak jarang ada kesan membela dan mengeluk-
elukan oknum yang dimaksud seolah-olah korupsi merupakan cobaan politik baginya.


Akbar Galih Kusuma
110910101033