Anda di halaman 1dari 17

TUGAS PETROKIMIA

PROSES PEMBUATAN STIRENA












DISUSUN OLEH:


ANDRE TIOFAMI 03111003073

DOSEN PEMBIMBING : LIA CUNDARI, S.T, M.T.





JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan dewasa ini tertuju pada terwujudnya sektor industri yang kuat
dan maju, sehingga mampu menunjang terciptanya perekonomian yang mandiri
dan handal. Kebijakan sektor industri yang meliputi arah dan tujuan pembangunan
industri, pengembangan industri dengan nilai tambah yang tinggi dan strategis,
makin memperdalam struktur industri secara efisien dan mampu bersaing dengan
industri luar negeri.
Pembangunan sektor industri ditujukan untuk meningkatkan industri yang
mengolah bahan mentah atau setengah jadi menjadi bahan setengah jadi untuk
keperluan industri selanjutnya, dan menjadi bahan jadi yang mempunyai nilai
ekonomi yang lebih tinggi.
Menanggapi situasi tersebut dan dalam upaya untuk mengurangi
ketergantungan import produk petrokimia, pemerintah menetapkan peraturan yang
mendorong perkembangan industri tersebut. Sejalan dengan itu, industri
petrokimia di Indonesia seperti industri styrene monomer, juga turut berkembang.
Hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya permintaan produkproduk plastik
yang menggunakan bahan dasar styrene monomer
Styrene dengan rumus Kimia C
6
H
5
CH = CH
2
merupakan salah satu bahan
Kimia dasar yang sangat penting yang kebutuhannya masih didatangkan dari luar
negeri. Sampai saat ini kebutuhan akan Styrene didatangkan dari Jepang, USA,
Australia dan Negara Timur tengah. Styrene merupakan produk yang digunakan
sebagai senyawa penyusun utama polymer polymer penting seperti :
Acrylonitrile Butadiene Styrene Polymer (ABS), Styrene Acrylonitrile
Copolymer (SAN) dan Styrene Butadiene Rubber (SBR).
Perencanaan Pabrik Kimia Styrene diharapkan dapat dilaksanakan di
Indonesia dengan Sumber daya alam yang tak terbatas dan bahan baku yang
tersedia dan diharapkan dengan kehadiran pabrik styrene ini akan dapat memacu
perekonomian, memperkecil ketergantungan terhadap impor styrene, membuka
lapangan kerja baru, dan memeberikan devisa bagi negara.
1.2. Permasalahan
1) Apa saja bahan baku dan bahan penunjang dalam produksi stirena
2) Bagaimana proses pembuatan stirena
3) Katalis jenis apa yang digunakan dalam produksi stirena
1.3. Tujuan
1) Mengetahui berbagai metode dalam memproduksi stirena
2) Mengetahui bahan baku dan bahan penunjang dalam produksi stirena dengan
dehidrogenasi katalitik
3) Mengetahui katalis yang digunakan dalam pembuatan stirena dengan
dehidrogenasi katalitik
1.4. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah tersedianya informasi
mengenai pabrik stirena sebagai intermediet sehingga dapat menjadi referensi
untuk pendirian suatu pabrik stirena.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Stirena
Stirena yang merupakan senyawa kimia yang memiliki rumus molekul C
8
H
8
,
telah dikenal oleh manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Perkembangannya
sampai saat ini sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi, terutama
dalam bidang proses pembuatannya sampai dengan aspek katalis yang berperan
dalam reaksi pembuatan. Semakin tinggi tingkat kemurnian styrene yang
dihasilkan, maka semakin tinggi pula harga jual yang akan didapatkan
Produksi stirena berkembang secara pesat terutama di Amerika Serikat dari
tahun 1940 an sejak diperkenalkannya stirena sebagai bahan baku utama untuk
produksi karet sintetis. Adanya kandungan grup vinil memungkinkan stirena
untuk berpolimerisasi. Produk produk komersial dari stirena antara lain
polistirena, Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS), resin Styrene Acrylonitrile
(SAN), lateks Styrene Butadiene, Styrene Butadiene Rubber (SBR), SIS
(Styrene Isoprene Stirena), SEBS (Styrene Ethylene / Butylene Styrene),
SDVB (Styrene Divinylbenzene) dan resin poliester tidak jenuh. Material
material ini digunakan secara komersil dalam produksi karet, plastik, insulasi,
fibreglass, pipa, peralatan kapal dan otomotif, tempat / wadah makanan, dan lain
lain.
Pembuatan senyawa stirena dilakukan melalui proses dehidrogenasi
etilbenzen. Reaktor yang digunakan adalah reaktor multi bed dengan suhu operasi
600C dan tekanan 1 bar (Chaniago, 2009).
Reaksinya dehidrogenasi stirena :
C
6
H
5
CH2CH3 C
6
H
5
CHCH
2
+ H
2

Etil benzene stirena hidrogen
Reaksi samping:
C
6
H
5
CH
2
CH
3
C
6
H
6
+ C
2
H
4

Etil benzene benzen etilen
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ H
2
C
6
H
5
CH
3
+ CH
4

Etil benzene hidrogen toluene metana
Fe
2
O
3
2H
2
O + C
2
H
4
2CO + 4H
2

Air etilen karbon monoksida hidrogen
H2O + CH4 CO + 3H2
Air metana karbon monoksida hidrogen
H2O + CO CO2 + H2
Air karbon monoksida karbon dioksida hidrogen
Pemurnian stirena harus dilakukan melalui proses destilasi fraksionasi dalam
kolom destilasi. Hal ini dikarenakan stirena dan etilbenzen memiliki titik didih
yang hampir berdekatan yaitu 145C untuk stirena dan 136C untuk etilbenzen.
2.2. Kegunaan Stirena
Stirena secara luas digunakan untuk polimerisasi menghasilkan beragam
polimer antara lain polistirena yang dikenal juga dengan nama Expanded
Polystyrene Foam (EPS), Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS), resin Styrene
Acrylonitrile (SAN), lateks Styrene Butadiene, Styrene Butadiene Rubber
(SBR), SIS (Styrene Isoprene Stirena), SEBS (Styrene Ethylene /
Butylene Styrene), SDVB (Styrene Divinylbenzene) dan resin poliester tidak
jenuh. Polimer dari bahan stirena bahan digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan karet, plastik, insulasi, fibreglass, pipa, peralatan kapal dan otomotif,
tempat / wadah makanan, pelapis kertas, matras busa, dan lain lain. Akan tetapi,
penggunaan polimer dari stirena pada industri makanan mulai berkurang seiring
dengan penemuan dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat yang
mengindikasikan bahwa stirena mempunyai efek karsinogenik terhadap tubuh
manusia dan dalam jumlah banyak beracun terhadap saluran pencernaan, ginjal,
dan saluran pernafasan manusia.
Adapun beberapa kegunaan polimer dari stirena dalam industri adalah sebagai
berikut :
Tabel 2.1. Kegunaan polimer stirena dalam industri
Polimer Kegunaan
Polystirena



- Bahan pembuatan foam
- Bahan packaging pada industri
makanan
- Bahan pengerat pada kertas
- Bahan pembuatan piringan CD
Acrylonitrile Butadiene Stirena
(ABS)


- Bahan pembuatan pipa
- Bahan pembuatan komponen elektronik
- Bahan pembuatan komponen otomotif
Stirena Acrylonitrile (SAN)

- Bahan pembuatan keperluan rumah
tangga
- Bahan packaging kosmetik
- Bahan pembuatan komponen otomotif
Lateks Stirena Butadiene

- Bahan pembuatan carpet backing
- Bahan pembuatan paper coating
- Bahan pembuatan foam matress
- Bahan adhesif (pengerat)
Stirena Butadiene Rubber (SBR) - Bahan pembuatan ban
- Bahan pembuatan selang
- Bahan pembuatan sepatu
- Bahan adhesif (pengerat)
Resin poliester tidak jenuh

- Bahan pembuatan plastik fibreglass
- Bahan pembuatan alat alat perkapalan
- Bahan pembuatan alat alat konstruksi
- Bahan pembuatan komponen otomotif

2.3. Sifat Sifat Bahan Baku, Bahan Pembantu dan Produk
2.3.1. Sifat-Sifat Bahan Baku (Etilbenzen)
Etilbenzen merupakan sumber utama bagi produksi stirena secara komersil.
Hampir semua pabrik penghasil stirena di dunia menggunakan etilbenzen sebagai
bahan bakunya.
Proses pembuatan stirena dari etilbenzen dalam skala besar dilakukan melalui
proses dehidrogenasi etilbenzen dengan menggunakan katalis Shell 105
(campuran Fe
2
O
3
, Cr
2
O
3
, dan K
2
CO
3
) dalam kondisi isothermal di dalam reaktor
multi bed (Ullman, 2005).
Sifat sifat fisika etilbenzen :
1) Berat molekul : 106,167 gr/gmol
2) Densitas pada 25 C : 0,8671 gr/ml
3) Titik didih pada 1 atm : 136,19 C
4) Titik beku pada 1 atm : -94,975 C
5) Spesifik graviti : 1,00 (4C)
6) Indeks bias pada 20C : 1,4959
7) Viskositas pada 25 C : 0,64 cP
8) Panas pembentukan pada 25 C : -12,456 J/mol. K
9) Panas penguapan pada 25 C : 42,226 J/mol. K
10) Entropi pembentukan : 255,2 J/mol. K
11) Temperatur kritis : 343,05 C
12) Tekanan kritis : 3,701 MPa
13) Volume kritis : 374 ml/mol
Sifat sifat kimia etilbenzen:
1) Reaksi dehidrogenasi dengan katalis Fe
2
O
3
pada suhu tinggi menghasilkan
stirena.
C
6
H
5
CH
2
CH
3
C
6
H
5
CHCH
2
+ H
2

etilbenzen stirena hidrogen
2) Reaksi hidrogenasi dengan bantuan katalis Ni, Pt, atau Pd menghasilkan
etil sikloheksan.
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ 3H
2
C
6
H
11
C
2
H
5

etilbenzen hidrogen etil sikloheksan
3) Reaksi oksidasi dengan bantuan katalis KMnO
4
dan K
2
Cr
2
O
7
membentuk
asam benzoat.
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ On C
6
H
5
COOH + CO
2

etilbenzen oksigen asam benzoat karbon dioksida
4) Mengalami proses halogenasi dengan bantuan panas atau cahaya.
2 C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ Cl
2
C
6
H
5
CH-ClCH
3
+ C
6
H
5
CH
2
Cl
etilbenzen klorin 2-kloro-2-feniletana 1-kloro-feniletana
2.3.2. Sifat-Sifat Bahan Pembantu (Katalis Shell 105)
Katalis Shell 105 adalah katalis yang berwujud padat dan berbentuk pelet.
Katalis Shell 105 merupakan campuran Fe
2
O
3
, Cr
2
O
3
, dan K
2
CO
3
dengan
komposisi 84,3 % Fe
2
O
3
, 2,4 % Cr
2
O
3
, 13,3 dan % K
2
CO
3

Sifat sifat katalis Shell 105 :
1) Wujud : padat
2) Bentuk : pelet
3) Komposisi : 84,3 % Fe
2
O
3
, 2,4 % Cr
2
O
3
, 13,3 % K
2
CO
3

Fe
2
O
3
Ni

KMnO
4
/ K
2
Cr
2
O
7
4) Bulk Density : 2146,27 kg/cm3
5) Diameter : 4,7 mm
6) Porositas : 0,35
2.3.3. Sifat-Sifat Produk
Stirena adalah senyawa organik aromatis yang mempunyai rumus kimia
C
6
H
5
CH=CH
2
dan mempunyai massa molar 104,15 gram/mol. Stirena merupakan
hidrokarbon siklik berbentuk cair, tidak berwarna, beraroma dan dapat menguap
dengan cepat. Stirena monomer dipolimerisasi untuk menghasilkan beberapa
polimer antara lain polystirena, Acrylonitrile Butadiene Stirena (ABS), resin
Stirena Acrylonitrile (SAN), lateks Stirena Butadiene, Stirena Butadiene
Rubber (SBR), SIS (Stirena Isoprene Stirena), SEBS (Stirena Ethylene /
Butylene Stirena), SDVB (Stirena Divinylbenzene) dan resin poliester tidak
jenuh.
Sifat-sifat fisika stirena :
1) Berat molekul : 104,15 gr/mol
2) Titik didih : 145 C
3) Titik beku : 30,6 C
4) Densitas pada 20 C : 0,9059 gram/ml
5) Indeks bias : 1,5467
6) Temperatur kritis : 369 C
7) Tekanan kritis : 3,81 MPa
8) Viskositas pada 20 C : 0,763 cP
9) Tekanan uap pada 20 C : 5 mmHg
Sifat-sifat kimia stirena :
1) Reaksi polimerisasi membentuk polystyrene terjadi dengan cepat.
2) Reaksi dengan bantuan katalis AlCl
3
, styrene bereaksi dengan phosgene
3) Teroksidasi dengan oksidator natrium dikromat menjadi asam benzoat
4) Teroksidasi dengan oksidator ozon membentuk benzaldehyde
5) Teroksidasi dengan oksidator asam hektanoat membentuk styrene oxide
6) Teroksidasi dengan oksidator caustic soda dan kalium permanganat
membentuk asam phenylglyoxylic
7) Teroksidasi dengan oksidator dan asam peroxide membentuk
phenylglycol
8) Reaksi dengan halogen membentuk halostyrene
9) Bereaksi dengan methanol membentuk methyl ether dengan katalis [H+]
10) Pemanasan styrene dengan Sulfur pada suhu tinggi menghasilkan
hydrogen sulfide, styrene sulfide dan Diphenylthiophenes
11) Membentuk senyawa padat yang kompleks dengan garam tembaga dan
garam perak pada suhu rendah
12) Dengan senyawa alkena akan dapat membentuk senyawa siklik
13) Akan bereaksi dengan benzena dengan bantuan katalis alumunium
chloride akan membentuk olefin
Sifat fisika toluen :
1) Berat molekul : 92,13
2) Density pada 20
o
C (gr/cm3) : 0,8631
3) Titik didih (
o
C) pada 1 atm : 110,62
4) Titik leleh (
o
C) pada 1 atm : -94,99
5) Temperatur kritis (
o
C) : 320,8
6) Tekanan kritis (Bar) : 4,133
7) Density kritis (gr/cm3) : 0,32
8) Refractive index : 1,5019
9) Viskositas pada 20
o
C (mPa.s) : 0,5864
10) Panas Penguapan pada 25
o
C (J/g.
o
K) : 32,786
11) Spesific heat (l) pada 20
o
C (J/g.
o
K) : 0,1438
12) Spesific heat (g) pada 20
o
C (J/g.
o
K) : 1,114
Sifat kimia toluen :
1) Reaksi dengan udara atau oksigen menjadi benzaldehyde dan kemudian
menjadi asam benzoat
2) Reaksi substitusi toluen dengan gugus nitro menjadi nitrotoluen
3) Reaksi substitusi dengan chloride menjadi chlorotoluen
4) Reaksi substitusi toluen dengan asam sulfonat menjadi toluen sulfonat
5) Reaksi Alkilasi dengan propylene menjadi methylcumene isomer
(cymenes).
Sifat fisika benzen :
1) Berat molekul : 78,11
2) Density pada 20 C (gr/cm3) : 0,87901
3) Titik didih (C) pada 1 atm : 80,099
4) Titik beku (C) pada 1 atm : 5,5
5) Temperatur kritis (C) : 288,9
6) Tekanan kritis (Bar) : 48,9
7) Density kritis (gr/cm3) : 0,309
8) Tekanan uap pada 20C : 9,97
9) Refractive index : 1,5019
10) Viskositas pada 20 C (mPa.s) : 0,654
11) Hv (25C) (J/g.K) : 125,9
12) Spesific heat pada 20C (J/g.K) : 1,708
13) Spesific heat (g) pada 20C (J/g.K) : 1,114
Sifat kimia benzen :
1) Reaksi oksidasi dengan udara atau oksigen dengan katalis V-Mo pada
suhu 350 450C menjadi maleic anhydride
2) Reaksi subtitusi benzene dengan nitro menjadi nitrobenzene
3) Reaksi subtitusi benzene dengan chloride menjadi chlorobenzene atau
bromobenzena
4) Reaksi subtitusi benzene dengan hydroxyl group menjadi phenol
5) Reaksi subtitusi benzene dengan asam sulfonat menjadi benzene sulfonat
2.4. Proses Pembuatan Stirena
Secara umum terdapat dua proses pembuatan stirena yaitu :
1) Dehidrogenasi Katalitik
Dehidrogenasi katalitik adalah reaksi langsung dari etilbenzen menjadi
stirena, cara ini adalah proses pembuatan stirena monomer yang banyak
dikembangkan dalam produksi komersial. Reaksi terjadi pada fase uap dimana
steam melewati katalis padat. Katalis yang digunakan adalah Shell 105, yang
terdiri dari campuran besi sebagai Fe
2
O
3
, kromium sebagai Cr
2
O
3
dan potasium
sebagai K
2
CO
3
. Reaksi bersifat endotermis dan merupakan reaksi kesetimbangan.
Sedangkan reaktornya dapat bekerja secara adiabatis dan isothermal.
Reaksi yang terjadi :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
C
6
H
5
CH = CH
2
+ H
2

Yield rendah jika reaksi ini tanpa menggunakan katalis. Temperatur reaktor
580 620C pada tekanan atmosfer. Pada saat kesetimbangan konversi etilbenzen
berkisar antara 50 70% dengan yield 88 89 % (Ullman, 2005).
2) Oksidasi Etilbenzen
Proses ini ada 2 macam yaitu dari Union Carbide dan Halogen International.
Proses dari Union Carbide mempunyai 2 produk yaitu stirena dan acetophenon.
Proses ini menggunakan katalis asetat diikuti dengan reaksi reduksi menggunakan
katalis kromium besi tembaga kemudian dilanjutkan reaksi hidrasi alkohol
menjadi stirena dengan katalis titania pada suhu 250C.
Reaksi yang terjadi berturut turut adalah sebagai berikut :
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ O
2
C
6
H
5
COCH
3
+ H
2
O
C
6
H
5
COCH
3
+ H
2
O C
6
H
5
CH (OH )CH
3

C
6
H
5
CH(OH)CH
3
C
6
H
5
CH = CH
2
+ H
2
O
Kehilangan proses ini adalah terjadinya korosi pada tahap oksidasi dan
produk yang dihasilkan 10% lebih kecil dibandingkan reaksi dehidrogenasi.
Proses Halogen International menghasilkan stirena dan Propyleneoxide, yaitu
proses mengoksidasi etilbenzen menjadi Ethylbenzene Hidroperoxide kemudian
direaksikan dengan propylene membentuk propyleneoxide dan -phenil-
ethylalkohol kemudian didehidrasi menjadi stirena.
Tabel 2.1. Perbandingan antara proses dehidrogenasi katalitik dan oksidasi etilbenzen
Parameter Proses Dehidrogenasi
katalitik
Proses oksidasi
Ethylbenzene
Suhu reaksi
Tekanan
Hasil konversi
Yield
580 650
0
C
0,7 1,5 atm
35 45 %
88 95 %
135 160
0
C
120 220 psi
25 30 %
80 85 %
Selektivitas
Katalis yang digunakan

Jenis reaktor
Kebutuhan bahan pembantu
95 %
Fe
2
O
3
, Cr
2
O
3
, K
2
CO
3

Reaktor tunggal
Steam dan katalis
70 %
Acetone, krom, besi,
tembaga, dan titania
Reaktor seri
Propilen, oksigen,
hidrogen, dan
bermacam-macam
katalis

2.5. Deskripsi Proses
Dari beberapa uraian proses pembuatan stirena tersebut diatas, maka akan
dipilih pembuatan stirena monomer melalui proses dehidrogenasi katalitik
menggunakan katalis Shell 105 dengan alasan sebagai berikut :
1) Proses dehidrogenasi adalah proses yang paling sederhana.
2) Proses dehidrogenasi katalitik yang paling banyak dipakai secara komersial.
3) Tidak menimbulkan korosi.
4) Hasil samping berupa toluen dan benzen bisa dijual sehingga dapat
menambah keuntungan.
Deskripsi proses dalam proses pembuatan stirena yaitu sebagai berikut :












Produk stirena

Tanki
Penampung
Mixer Reaktor
Drum
Separator
Vaporizer Furnace
Dekanter
Kolom
Destilasi I
Kolom
Destilasi II
Gas inert H
2

dan CO
2
H2O
Recycle feed

Kolom
Destilasi III
Toluen

Benzen

Gambar 2.1. Diagram alir pembuatan stirena
Bahan baku etilbenzen dipompakan ke dalam mixer (M 01) dan bercampur
dengan etilbenzen recycle dari kolom destilasi. Kemudian etilbenzen dipompakan
ke dalam unit vaporizer (V 01) bertekanan 1 atm. Suhu keluaran dari vaporizer
adalah 424,1 K. Dari vaporizer, bahan baku diumpankan ke dalam furnace (F
01) untuk mengubah uap jenuh etilbenzen menjadi gas etibenzen pada suhu 873
K. Steam bertekanan rendah yang dihasilkan dalam boiler juga diumpankan ke
dalam furnace dan keluar dari furnace pada suhu 993 K dan tekanan 1,5 atm.
Setelah itu, umpan etilbenzen dialirkan ke dalam reaktor (R 01) dan
dicampurkan dengan steam. Steam pada proses ini berfungsi untuk mencegah
terjadinya kerak pada reaktor dan menggeser kesetimbangan reaksi ke arah
produk. Reaktor yang digunakan adalah reaktor dengan dua buah bed dimana
katalis Shell 105 berbentuk pelet tersusun pada bagian bed reaktor. Proses
dehidrogenasi dari etilbenzen berlangsung pada temperatur 873 K dan tekanan 1
atm.
Reaksi yang terjadi di dalam reaktor (R 01) adalah sebagai berikut :
C
6
H
5
CH2CH3 C
6
H
5
CHCH
2
+ H
2

Etil benzene stirena hidrogen
Reaksi samping:
C
6
H
5
CH
2
CH
3
C
6
H
6
+ C
2
H
4

Etil benzene benzen etilen
C
6
H
5
CH
2
CH
3
+ H
2
C
6
H
5
CH
3
+ CH
4

Etil benzene hidrogen toluene metana
2H
2
O + C
2
H
4
2CO + 4H
2

Air etilen karbon monoksida hidrogen
H2O + CH4 CO + 3H2
Air metana karbon monoksida hidrogen
H2O + CO CO2 + H2
Air karbon monoksida karbon dioksida hidrogen
Keluaran dari reaktor akan menghasilkan produk utama stirena, produk
samping berupa benzen, toluen, karbon dioksida, dan hidrogen serta etilbenzen
sisa reaksi dan air dalam fasa gas pada suhu 780,8 K dan tekanan 1 atm.
Campuran ini kemudian dilewatkan ke WHB dan vaporizer hingga suhu produk
menjadi 489,5 K. Setelah itu, produk dialirkan ke cooler IV (CL 04) untuk
Fe
2
O
3
mengurangi beban panas drum separator. Drum separator (DS 01) digunakan
untuk memisahkan campuran dari gas hidrogen dan karbon dioksida. Keluaran
drum separator menyisakan produk stirena, benzen, etilbenzen sisa reaksi, toluen,
dan air pada suhu 373,8 K. Setelah dari drum separator, produk diumpankan ke
dalam dekanter (DK 01) untuk mengeluarkan semua air dari campuran.
Kemudian campuran benzen, toluen, stirena dan etilbenzen ini didestilasi melalui
3 tahapan destilasi. Pada kolom destilasi 1 (D 01), akan didapatkan stirena
dengan kemurnian 99,81 % pada produk bawah kolom destilasi. Etilbenzen yang
didapatkan pada produk bawah kolom destilasi 2 (D 02) kemudian diumpankan
kembali ke dalam mixer. Sedangkan, pada kolom destilasi 3 (D 03) akan
didapatkan benzen pada produk atas kolom dan toluen pada produk bawah kolom.



















































BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
1) Pembuatan stirena dapat dilakukan dengan dehidrogenasi katalitik dan
oksidasi etilbenzen.
2) Bahan baku yang digunakan pada pembuatan stirena dengan dehidrogenasi
katalitik adalah etilbenzene dengan bahan penunjang berupa steam dan
katalis.
3) Katalis yang digunakan adalah shell 105 dengan komposisi 84,3 % Fe
2
O
3
, 2,4
% Cr
2
O
3
, 13,3 % K
2
CO
3
.
4) Proses dehidrogenasi memiliki keuntungan berupa proses yang paling
sederhana, paling banyak dipakai secara komersial, tidak menimbulkan
korosi, dan hasil samping berupa toluen dan benzen bisa dijual sehingga
dapat menambah keuntungan.
















DAFTAR PUSTAKA

Arias, Genta. dkk. 2011. Pabrik Styrene Monomer Dari Ethylbenzene
Menggunakan Proses Dehidrogenasi Katalitik. (online). (http:
//digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree-16873-2308030084-Chapter1.pdf,
diakses pada 8 september 2014).
Manurung, renitaita Iriany. 2011. Pra Rancangan Pabrik Stirena Dari Etilbenzen
Melalui Proses Dehidrogenasi Katalitik Menggunakan Katalis Shell 105
Dengan Kapasitas 100.000 Ton / Tahun. (online). (http://digilib.its.ac.id/
public/ITS-NonDegree-16873-2308030084-Chapter1.pdf, diakses pada 8
september 2014).
Teknik Kimia. 2010. Pra Rancangan Pabrik Styrene Monomer proses
dehidrogenasi Katalitik Kapasitas 80.000 ton / tahun. (online).
(http://tugasakhirgratis.blogspot.com/2010/03/pra-rancangan-pabrik-styrene-
monomer.html, diakses pada 8 september 2014).