Anda di halaman 1dari 5

1).

Isoniazid
INH adalah obat antituberkulosis yang efektif saat ini bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap
kuman dalam keadaan metabolit aktif yaitu kuman yang sedang berkembang dan bersifat
bakteriostatik terhadap kuman yang diam. Obat ini efektif pada intrasel dan ekstrasel kuman, dapat
berdifusi kedalam seluruh jaringan dan cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal (CSS), cairan
pleura, cairan asites, jaringan caseosa dan angka timbulnya reaksi simpang (adverse reaction) sangat
rendah. Dosis harian INH biasa diberikan 5-15 mg/kgBB/hari, max 300 mg/hari, secara peroral,
diberikan 1x pemberian. INH yang tersedia umumnya dalam bentuk tablet 100 mg dan 300 mg dan
dalam bentuk sirup 100 mg/5 ml.
INH mempunyai 2 efek toksik utama yaitu hepatotoksik dan neuritis perifer, tetapi keduanya jarang
terjadi pada anak, tetapi frekuensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Hepatotoksik mungkin
terjadi pada remaja atau anak-anak dengan tuberkulosis berat. Idealnya perlu pemantauan kadar
transaminase pada 2 bulan pertama. Hepatotoksik akan meningkat apabila INH diberikan bersama
dengan Rifampisin dan PZA. Penggunaan INH bersama dengan fenobartbital atau fenitoin dapat
meningkatkan resiko hepatotoksik. INH tidak dilanjutkan pemberiannya pada keadaan kadar
transaminase serum naik lebih dari 3x harga normal atau terjadi manifestasi klinik hepatitis, berupa
mual, muntah, nyeri perut dan kuning.
Neuritis perifer timbul akibat inhibisi kompetitif karena metabolisme piridoksin. Kadar piridoksin
berkurang pada anak yang menggunakan INH tetapi manifestasi klinisnya jarang sehingga tidak
diperlukan piridoksin tambahan. Manifestasi klinis neuritis perifer yang paling sering adalah mati
rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki. Piridoksin diberikan 1x sehari 25-50 mg atau 10 mg
piridoksin tiap 100 mg INH.
Manifestasi alergi atau hipersensitivitas yang disebabkan INH jarang terjadi. Efek samping yang
jarang terjadi antara lain pelagra, anemia hemolitik pada pasien dengan defisiensi enzim G6PD, dan
reaksi mirip lupus yang disertai ruam dan artritis.
2). Rifampisin
Rifampisin bersifat bakteriosid pada intrasel dan ekstrasel, dapat memasuki semua jaringan, dapat
membunuh kuman semi-dormand yang tidak dapat dibunuh oleh INH. Rifampisin diabsorpsi dengan
baik melalui sistem gastrointestinal pada saat perut kosong, dan kadar serum puncak tercapai dalam
2 jam. Saat ini rifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan dosis 10-20mg/kgbb/hari, maksimal
600mg/hari dengan dosis 1 kali pemberian perhari. jika diberikan bersama INH, dosis rifampisin tidak
melebihi 15mg/kgbb/hari dan dosis INH tidak melebihi 10mg/kgbb/hari. Seperti halnya INH,
rifampisin didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan tubuh, termasuk CSS. Ekskresi rifampisin
terutama terjadi melalui traktus biliaris. Kadar yang efektif juga dapat ditemukan diginjal dan urin.
Efek samping rifampisin lebih sering terjadi daripada INH.
Efek samping rifampisin adalah gangguan gastrointestinal (mual dan muntah) dan hepatotoksisitas
(ikterus atau hepatitis) yang biasanya ditandai oleh peningkatan kadar transaminase serum yang
asimptomatik. Rifampisin dapat menyebabkan trombositopenia. Rifampisin umumnya tersedia
dalam sediaan kapsul 150 mg, 300 mg dan 450 mg. sehingga kurang sesuai untuk digunakan pada
anak-anak dengan berbagai kisaran berat badan.
3). Pirazinamid
Pirazinamid adalah derivat dari nikotinamid berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh
termasuk SSP, cairan serebrospinal, bakterisid hanya pada intrasel pada suasana asam, diresorbsi
baik pada saluran pencernaan. Pemberian PZA secara oral dengan dosis 15-30mb/kgbb/hari dengan
dosis maksimal 2g/hari. Pirazinamid tersedia dalam bentuk tablet 500mg. efek samping PZA adalah
hepatotoksisitas, anoreksia, dan iritasi saluran cerna. Reaksi hipersensisitivitas dan hiperurisemia
jarang timbul pada anak.
4). Etambutol
Etambutol jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada mata. Dosis etambutol
(EMB) 15-20mg/kg/hari. Maksimal 1,25g/hari dengan dosis tunggal. Ekskresi terutama lewat ginjal
dan saluran cerna. EMB tersedia dalam tablet 250mg dan 500mg. Memiliki aktivitas bakteriostatik
dan berdasarkan pengalaman, dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat-obat lain. EMB
dapat bersifat bakteriosid, jika diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten. EMB tidak
berpenetrasi baik pada SSP, demikian juga pada keadaan meningitis. EMB ditoleransi dengan baik
pada dewasa dan anak-anak pada pemberian oral dengan dosis 1 atau 2 kali sehari. Kemungkinan
toksisitas utama adalah neuritis optik dan buta warna merah-hijau. Tidak terdapat laporan toksisitas
optik pada anak-anak.
5). Streptomisin
Streptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik. Kuman ekstraseluler pada keadaan basa atau
netral, jadi tidak efektif membunuh kuman intraseluler. Streptomisin dapat diberikan secara IM
dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari, maksimal 1 gram perhari, kadar puncak 40-50 mikrogram
permilliliter dalam waktu 1-2 jam. Streptomicin sangat baik melewati selaput otak yang meradang,
tetapi tidak dapat melewati selaput otak yang tidak meradang. Streptomisin berdifusi dengan baik
pada jaringan dan cairan pleura, dieksresi melalui ginjal. Toksisitas utama streptomisin terjadi pada
nervus kranial VIII yang mengganggu keseimbangan dan pendengaran berupa telinga berdengung
(tinismus) dan pusing.
b. Panduan obat TB
Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 2 macam obat dan diberikan dalam waktu relatif lama
(6-12 bulan). Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya
sebagai fase lanjutan. Pemberian paduan obat ini ditujukan untuk mencegah terjadinya resistensi
obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler. Sedangkan pemberian obat jangka
panjang selain untuk membunuh kuman, juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps.
Pengobatan tetap dibagi dalam dua tahap yakni
1). Tahap intensif ( initial ), dengan memberikan 4 5 macam obat anti TB per hari dengan
tujuan :
- Mendapatkan konversi sputum dengan cepat ( efek bakterisidal )
- Menghilangkan keluhan dan mencegah efek penyakit lebih lanjut
- Mencegah timbulnya resistensi obat
2). Tahap lanjutan ( continuation phase ), denga hanya memberikan 2 macam obat per hari
atau secara intermitten dengan tujuan :
- Menghilangkan bakteri yang tersisa (efek sterilisasi )
- Mencegah kekambuhan
Pemberian dosis diatur berdasarkan berat badan yakni kurang dari 33 kg, 33 50 kg dan
lebih dari 50 kg.
Pengobatan dibagi atas 4 katagori yakni :
a). Katagori I
Ditujukan terhadap :
- Kasus baru dengan sputum negative
- Kasus baru dengan bentuk TB berat seperti meningitis, TB diseminata, perikarditis,
peritonitis, pleuritis, spondilitis dengan gangguan neurologis, kelainan paru yang luas dengan
BTA negatif, TB usus, TB genito urinarius.
Pengobatan tahap intensif adalah dengan paduan 2RHZS ( E ). Bila setelah dua bulan
BTA menjadi negatif, diteruskan dengan tahap lanjutan. Bila setelah dua bulan masih positif,
tahap intensif diperpanjang lagi selama 2 4 minggu dengan 4 macam obat. Pada populasi
dengan resistensi primer terhadap INH rendah pada tahap intensif cukup diberikan 3 macam
obat yakni RHZ.
Pengobatan tahap lanjutan adalah dengan paduan 4 RH atau 4R3H3. Pasien dengan TB
berat ( meningitis, TB diseminata, spondilitis dengan kelainan neurologis ), R dan H harus
diberikan setiap hari selama 6 7 bulan. Paduan obat alternatif adalah 6 HE ( T ).
b). Kategori II
Ditujukan terhadap :
- Kasus kambuh
- Kasus gagal dengan sputum BTA positif
Pengobatan tahap intensif selama 3 bulan dengan 2 RHZE/1RHZE. Bila setelah tahap
intensif BTA menjadi negatif, maka diteruskan dengan tahap lanjutan. Bila setelah 3 bulan
tahap intensif BTA tetap positif, maka tahap intensif tersebut diperpanjang lagi 1 bulan
dengan RHZE. Bila setelah 4 bulan BTA masih juga positif pengobatan dihentikan selama 2
3 hari, lalu diperiksa biakan dan resistensi terhadap BTA dan pengobatan diteruskan dengan
tahap lanjutan. Bila pasien masih mempunyai data resistensi BTA dan ternyata BTA masih
sensitif terhadap semua obat dan setelah tahap intensif BTA menjadi negatif, maka tahap
lanjutan harus diawasi dengan ketat di RS rujukan. Kemungkinan konversi sputum masih
cukup besar. Bila data menunjukkan resiten terhadap R dan H, maka kemungkinan
keberhasilan menjadi kecil.
Pengobatan tahap lanjutan adalah dengan paduan 5 RHE atau paduan 5 R3H3E3 yang
perlu diawasi dengan ketat. Bila sputum BTA masih tetap positif setelah selesai tahap
lanjutan, maka pasien tidak perlu diobati lagi.
c). Kategori III
Ditujukan terhadap :
- Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas.
- Kasus TBC ekstra paru selain yang disebut dalam kategori I
Pengobatan tahap intensif dengan panduan 2 RHZ atau 2 R3H3Z3
Pengobatan tahap lanjutan dengan panduan 2RH atau 2 R3H3. Bila kelainan paru lebih luas
dari 10 cm2 atau pada TB ekstra paru yang belum remisi sempurna, maka tahap lanjutan
diperpanjang lagi dengan H saja selama empat bulan lagi. Paduan obat alternatif adalah 6 HE
( T )
d). Kategori IV
Ditujukan terhadap kasus TB kronik.
Prioritas pengobatan disini rendah, terdapat resistensi terhadap obat-obat anti TB (sedikitnya
R dan H), sehingga masalahnya jadi rumit. Pasien mungkin perlu dirawat beberapa bulan dan
diberikan obat-obat anti TB tingkat dua yang kurang begitu efektif, lebih mahal dan lebih
toksis.
Di negara yang maju dapat diberikan obat-obat anti TB eksperimental sesuai dengan
sensitivitasnya, sedangkan di negara yang kurang mampu cukup dengan pemberian H seumur
hidup dengan harapan dapat mengurangi infeksi dan penularan
c. Evaluasi hasil pengobatan
Evaluasi pengobatan dilakukan setelah 2 bulan. Diagnosis TB pada anak sulit dan tidak jarang terjadi
salah diagnosis. Apabila berespon pengobatan baik yaitu gejala klinisnya hilang dan terjadi
penambahan berat badan, maka pengobatan dilanjutkan. Apabila respon setelah 2 bulan kurang
baik, yaitu gejala masih ada, tidak terjadi penambahan berat badan, maka obat anti TB tetap
diberikan dengan tambahan merujuk ke sarana lebih tinggi atau ke konsultan paru anak.
Apabila setelah pengobatan 6-12 bulan terdapat perbaikkan klinis, seperti berat badan mengingkat,
napsu makan membaik, dan gejala-gejala lainnya menghilang, maka pengobatan dapat dihentikan.
Jika masih terdapat kelainan gambaran radiologis maka dianjurkan pemeriksaan radiologis ulangan.

d. Pengobatan dengan non medika mentosa
1). Pendekatan DOTS
DOTS adalah strategi yang telah direkomendasi oleh WHO dalam pelaksanaan program
penanggulangan TB. Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan
yang tinggi. Sesuai dengan rekomendasi WHO, maka strategi DOTS terdiri atas 5 komponen, yaitu
sebagai berikut.
- komitmen politis dari para pengambil keputusan termasuk dukungan dana.
- Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
- Pengobatan dengan panduan OTA jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas
menelan obat (PMO)
- Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin
- Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program
penganggulangan TBC
2). Sumber penularan dan case finding
Sumber penularan adalah orang dewasa yang menderita TB aktif dan melakukan kontak erat dengan
anak tersebut. Pelacakan dilakukan dengan cara pemeriksaan radiologis dan BTA sputum (pelacakan
sentripetal). Selain itu perlu dicari pula anak lain di sekitarnya yang mungkin tertular dengan uji
tuberkulin. Pelacakan tersebut dilakukan dengan cara anamnestik, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang, yaitu uji tuberkulin.
3). Aspek sosial ekonomi
Pengobatan tuberkulosis tidak terlepas dari masalah sosio ekonomi, karena pengobatan TB
memerlukan kesinambungan pengobatan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka
memerlukan biaya yang cukup besar. Edukasi ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar
mengetahui tentang tuberkulosis. Pasien TB anak tidak perlu diisolasi. Aktifitas fisik pasien
TB anak tidak perlu dibatasi, kecuali pada TB berat.