Anda di halaman 1dari 12

Konfrontasi Peristiwa Madiun 1948,

Peristiwa Sumatera 1956


D.N. Aidit (1957)

Dimuat ke HTML oleh anonim di Homepage Mengerti PKI. Diedit supaya sesuai dengan
ejaan yang baru oleh Arief Chandra (April 2007)

Ini adalah diktat untuk KPS dan KPSS tentang "Pembangunan Partai" disusun oleh
Depagitprop (Departemen Agitasi dan Propaganda) CC PKI, 1958.

Tulisan ini adalah pidato Kawan D.N. Aidit di dalam Sidang DPR tanggal 11 Februari 1957
menjawab keterangan anggota DPR Udin Sjamsudin (Masyumi) yang mencoba menutupi
maksud-maksud kontra-revolusioner dari "dewan-dewan partikelir" di Sumatera dengan
menyinggung-nyinggung soal Peristiwa Madiun.

Dengan pidato Kawan D.N. Aidit ini masyarakat dapat mengetahui dengan lebih jelas lagi
hakekat Peristiwa Madiun, suatu provokasi reaksi yang dilancarkan oleh Hatta dan arti
pemberontakan kontra-revolusioner gerombolan Simbolon dan Ahmad Husein yang satu
tahun kemudian mencapai puncaknya dengan diproklamasikannya "Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia" di Padang oleh gembong-gembong Masyumi-PSI seperti
Syafruddin Prawiranegara dan Sumitro Jojohadikusumo.

Dengan tulisan ini Rakyat Indonesia sampai sekarang mempunyai tiga dokumen penting
tentang Peristiwa Madiun yaitu : Buku Putih tentang Peristiwa Madiun yang diterbitkan oleh
Departemen Agitprop CC PKI, Menggugat Peristiwa Madiun dan Konfrontasi Peristiwa
Madiun 1948 -- Peristiwa Sumatera (1956)

Komisi Pilihan Tulisan

D.N. Aidit dari CC PKI.

Terlebih dulu saya ingin menyatakan bahwa Pemerintah Ali-ldham dalam keterangannya
pada tanggal 21 Januari dan dalam jawabannya pada pandangan umum babak pertama pada
tanggal 4 Februari jl. bisa membatasi diri pada persoalannya, yaitu tentang kejadian-kejadian
di Sumatera dalam bulan Desember 1956. Hal ini dapat saya hargai dan tentang ini kawan-
kawan sefraksi saya sudah menyatakan pendapat Fraksi PKI.

Pada pokoknya pendapat kami mengenai kejadian-kejadian di Sumatera dalam bulan


Desember tahun jl. Adalah sbb. :
Pertama : Kejadian-kejadian di Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan
adalah rentetan kejadian yang sengaja ditimbulkan oleh sebuah partai kecil yang kalah dalam
pemilihan umum jl. yang berhasil mendalangi sebuah partai besar dan oknum-oknum liar,
yang tidak melihat kemungkinan dengan jalan demokratis dapat duduk kembali dalam
kekuasaan sentral, dan yang hanya melihat kemungkinan dengan jalan menggunakan saluran
partai-partai lain, dengan jalan mempertajam pertentangan antara partai-partai agama dengan
PKI dan PNI, dengan bikin-bikinan menimbulkan kemarahan Rakyat di daerah-daerah
supaya memberontak terhadap Pemerintah Pusat, dengan jalan mengadudomba suku satu
dengan suku lainnya dan dengan jalan menghasut orang-orang militer supaya memberontak
kepada atasannya.
Kedua : Kejadian-kejadian tersebut terang sejalan dan berhubungan dengan rencana kaum
imperialis, yang dipelopori oleh Amerika Serikat untuk menarik Indonesia kedalam pakt
militer SEATO. Rencana-rencana dari pemberontak di Sumatera untuk memisahkan
Sumatera dan Kalimantan dari Pemerintah Pusat dan untuk mendirikan negara sendiri yang
mempunyai peralatan sipil dan militer sendiri, yang mempunyai hubungan luar negeri sendiri,
adalah sepenuhnya sejalan dengan rencana Amerika Serikat yang diatur oleh Pentagon
(Kementerian Pertahanan) dan State Department (Kementerian Luar Negeri) Amerika
Serikat, oleh "jendral-jendral" DI-TII dan oleh aparat-aparat serta kakitangan-kakitangan
Amerika Serikat yang ada di Indonesia.

Jadi, persoalannya adalah jelas, yaitu kepentingan vital Rakyat Indonesia di satu pihak
berhadapan langsung dengan kepentingan kaum imperialis asing di pihak lain. Dalam hal
ini Pemerintah Ali-Idham menyatukan diri dengan kepentingan Rakyat Indonesia, dan oleh
karena itu PKI tidak ragu-ragu berdiri di pihak Pemerintah dan melawan kaum pemberontak
serta aktor-aktor intelektualisnya.

Demikianlah, kalau mengenai persoalannya. Jelas dimana kami berdiri, dan jelas pula dimana
pihak lain berdiri. Tetapi, disamping pemerintah dapat membatasi diri pada persoalan yang
sedang dihadapi, anggota yang terhormat Udin Syamsudin telah membawa-bawa Peristiwa
Madiun, dengan maksud mengaburkan persoalan.

Dalam Soal Peristiwa Madiun Kaum Komunis Adalah Pendakwa

Anggota tersebut telah menyebut-nyebut Peristiwa Madiun dalam hubungan dengan


Peristiwa Sumatera, antara lain dikatakannya "pelopor pemberontakan di Indonesia ini
setelah Indonesia Merdeka adalah Partai Komunis Indonesia", selanjutnya "kaum
Komunislah yang menjadi mahaguru pemberontakan" dan "bibitnya sudah menular ke
seluruh Indonesia". Maksud pembicara tersebut jelas, yaitu supaya dalam soal
pemberontakan Kolonel Simbolon dan Letnan Kolonel Ahmad Husein juga PKI yang
disalahkan. Lihatlah, betapa tidak tahu malunya orang mencari kambing hitamnya, sama
dengan tidak tahu malunya mereka menyalahkan PKI dalam hubungan dengan Peristiwa
Madiun.

Saya tidak membantah, bahwa baik Peristiwa Madiun maupun Peristiwa Sumatera
mempunyai satu sumber dan satu tujuan, yaitu bersumber pada imperialisme Amerika dan
Belanda dan bertujuan untuk meletakkan Indonesia sepenuhnya di bawah telapak kaki
mereka.

Berhubung dengan sebuah statement Politbiro CC PKI tanggal 13 September 1953 saya
pernah dihadapkan kemuka pengadilan. Dalam sidang pengadilan tanggal 27 Januari 1955,
dengan berpegang pada ayat 3 pasal 310 KUHP yang ditimpakan pada saya, sudah saya
nyatakan kesediaan saya kepada pengadilan untuk membuktikan dengan saksi-saksi bahwa
Peristiwa Madiun memang provokasi dan bahwa dalam Peristiwa Madiun tersebut tangan
Hatta-Sukiman-Natsir cs. memang berlumuran darah. Dengan ini berarti bahwa Hatta, ketika
itu masih wakil Presiden, harus tampil sebagai saksi berhadapan dengan saya. Kesediaan saya
ini, yang juga diperkuat oleh advokat saya, Sdr. Mr. Suprapto, tidak mendapat persetujuan
pengadilan. Jaksa menyatakan keberatannya akan pembuktian yang mau saya ajukan dengan
saksi-saksi. Oleh karena jaksa menolak pembuktian yang mau saya ajukan, maka jaksa
terpaksa mencabut tuduhan melanggar pasal 310 dan 311 KUHP. Jelaslah, bahwa ada orang-
orang yang kuatir kalau Peristiwa Madiun ini menjadi terang bagi Rakyat.

Jadi, mengenai Peristiwa Madiun kami sudah lama siap berhadapan di muka pengadilan
dengan arsiteknya Moh. Hatta. Ini saya nyatakan tidak hanya sesudah Hatta berhenti sebagai
wakil Presiden, tetapi seperti di atas sudah saya katakan, juga ketika Hatta masih Wakil
Presiden. Saya tidak ingin menantang siapa-siapa, tetapi kapan saja Hatta ingin Peristiwa
Madiun dibawa ke pengadilan, kami dari PKI selarnanya bersedia menghadapinya. Kami
yakin, bahwa jika soal ini dibawa ke pengadilan bukanlah kami yang akan menjadi terdakwa,
tetapi kamilah pendakwa. Kamilah yang akan tampil ke depan sebagai pendakwa atas nama
Amir Syarifuddin, putera utama bangsa Indonesia yang berasal dari tanah Batak, atas nama
Suripno, Maruto Darusman, Dr. Wiroreno, Dr. Rustam, Harjono, Jokosujono, Sukarno,
Sutrisno, Sarjono dan beribu-ribu lagi putera Indonesia yang terbaik dari suku Jawa yang
menjadi korban keganasan satu pemerintah yang dipimpin oleh borjuis Minangkabau,
Mohammad Hatta. Demikian kalau kita mau berbicara dalam istilah kesukuan, sebagaimana
sekarang banyak digunakan oleh pembela-pembela kaum pemberontak di Sumatera, hal yang
sedapat mungkin ingin kami hindari. Ya, kami juga akan berbicara atas nama perwira-
perwira, bintara-bintara, dan prajurit-prajurit TNI yang tewas dalam "membasmi Komunis"
atas perintah Hatta, karena mereka juga tidak bersalah dan mereka juga adalah korban
perang-saudara yang dikobarkan oleh Hatta.

Dalam pembelaan saya di muka pengadilan tanggal 24 Februari 1955 telah saya katakan
"bahwa di antara orang-orang yang karena tidak mengertinya telah ikut dalam pengejaran
'terhadap kaum Komunis', tidak sedikit sekarang sudah tidak mempunjai purbasangka lagi
terhadap PKI dan sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menjadi alat perang-
saudara dari kaum imperialis dan kakitangannya". Alat-alat negara sipil maupun militer
sudah mengerti bahwa dalam Peristiwa Madiun mereka telah disuruh memerangi saudara-
saudara dan teman-temannya sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa dalam pemiiihan umum untuk Parlemen maupun untuk
Konstituante lebih 80% daripada anggota-anggota Angkatan Perang memberikan suaranya
kepada partai-partai demokratis, dan 30% daripada suara yang diberikan anggota Angkatan
Perang adalah diberikan kepada PKI. PSI dan Masyumi hanya mendapat kurang dari 20%,
jadi kurang dari suara yang didapat oleh PKI sendiri atau PNI sendiri. PSI yang mempunyai
pengaruh di sejumlah opsir tinggi adalah partai kelima di dalam Angkatan Perang, sedangkan
Masyumi, karena politik pro DI-nya, adalah partai keenam. Dengan ini, saya hanya hendak
membuktikan bahwa memukul PKI dengan menyembar-nyemburkan Peristiwa Madiun
adalah tidak merugikan PKI, malahan memberi alasan pada kami untuk berbicara dan
menjelas-jelaskan tentang Peristiwa Madiun.

Apalagi sekarang, sesudah terjadi pemberontakan kolonel Simbolon di Sumatera Utara dan
pemberontakan "Dewan Banteng" di Sumatera Barat, menggunakan Peristiwa Madiun untuk
memukul PKI adalah seperti menepuk air didulang, bukan muka PKI yang kena, tetapi muka
Masyumi dan PSI sendiri yang sekarang membela pemberontak-pemberontak di Sumatera itu
dengan mati-matian.
Hatta Bertanggungjawab Atas Penculikan, Pembunuhan Dan Perang-Saudara Tahun
1948

Mari, dalam menilai kebijaksanaan pemerintah Ali-Idham sekarang, kita perbandingkan


antara kebijaksanaan pemerintah Hatta tahun 1948 mengenai Peristiwa Madiun dengan
kebijaksanaan pemerintah Ali-ldham sekarang. Dari hasil penilaian ini saya akan rnenentukan
sikap saya terhadap kebijaksanaan pemerintah sekarang.

Peristiwa Madiun didahului oleh kejadian-kejadian di Solo, mula-mula dengan pembunuhan


atas diri kolonel Sutarto, Komandan TNI Divisi IV, dan kemudian pada permulaan
September 1948 dengan penculikan dan pembunuhan terhadap 5 orang perwira TNI, yaitu
major Esmara Sugeng, kapten Sutarto, kapten Sapardi, kapten Suradi dan letnan Muljono.
Juga diculik 2 orang anggota PKI, Slamet Wijaja dan Pardijo. Kenyataan bahwa saudara yang
diculik ini pada tanggal 24 September dimasukkan ke dalam kamp resmi di Danurejan,
Jokjakarta, membuktikan bahwa pemerintah Hatta langsung campurtangan dalam soal
penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di atas. Ini tidak bisa diragukan lagi !

Dalam pidatonya tanggal 19 September 1948 Presiden Sukarno mengatakan bahwa Peristiwa
Solo dan Peristiwa Madiun tidak berdiri sendiri. Ini sepenuhnya benar! Sesudah penculikan-
penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di Solo yang diatur dari Yogya, keadaan di
Madiun menjadi sangat tegang sehingga terjadilah pertempuran antara pasukan-pasukan
dalam Angkatan Darat yang pro dan yang anti penculikan-penculikan serta pembunuhan-
pembunuhan di Solo, yaitu pertempuran pada tanggal 18 September 1948 malam. Dalam
keadaan kacau balau demikian ini Residen Kepala Daerah tidak ada di Madiun, Wakil
Residen tidak mengambil tindakan apa-apa sedangkan Walikota sedang sakit. Untuk
mengatasi keadaan ini maka Front Demokrasi Rakyat, dimana PKI termasuk di dalamnya,
mendesak supaya Kawan Supardi, Wakil Walikota Madiun bertindak untuk sementara
sebagai penjabat Residen selama Residen Madiun belum kembali. Wakil Walikota Supardi
berani mengambil tanggung jawab ini. Pengangkatan Kawan Supardi sebagai Residen
sementara ternyata juga disetujui oleh pembesar-pembesar militer dan pembesar-pembesar
sipil lainnya. Tindakan ini segera dilaporkan ke pemerintah pusat dan dimintakan instruksi
dari pemerintah pusat tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya.

Nah, tindakan inilah, tindakan mengangkat Wakil Walikota menjadi Residen sementara inilah
yang dinamakan oleh pemerintah Hatta tindakan "merobohkan pemerintah Republik
Indonesia", tindakan "mengadakan kudeta" dan tindakan "mendirikan pemerintah Soviet".

Kalau dengan mengangkat seorang Wakil Walikota menjadi Residen sementara bisa
dinamakan merobohkan pemerintah Republik Indonesia, bisa dinamakan kudeta dan bisa
dinamakan mendirikan pemerintah Soviet, nama apakah lagi yang bisa diberikan kepada
tindakan komplotan Simbolon dan "Dewan Banteng" di Sumatera? Selain daripada itu, jika
memang demikian halnya, alangkah mudahnya merobohkan pemerintah Republik Indonesia,
alangkah mudahnya mengadakan kudeta dan alangkah mudahnya mendirikan pemerintah
Soviet! Jika memang demikian mudahnya, saya kira sekarang sudah tidak ada lagi Republik
kita, karena nafsu merobohkan Republik sekarang, begitu dikobar-kobarkan dan begitu
besarnya di sementara golongan, terutama di kalangan sebuah partai kecil yang kalah dalam
pemilihan umum yang lalu. Tetapi saya kira, merobohkan Republik Indonesia tidaklah begitu
mudah sebagaimana sudah dibuktikan oleh kegagalan Simbolon dan oleh makin merosotnya
pamor "Dewan Banteng", disamping Republik Indonesia tetap berdiri tegak. Apalagi
mendirikan pemerintah Soviet, tidaklah semudah mengangkat seorang Wakil Walikota
menjadi Residen sementara. Rakyat Tiongkok dan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok
yang sudah berjuang mati-matian selama berpuluh-puluh tahun di bawah pimpinan Partai
Komunis Tiongkok hingga sekarang belum sampai ke taraf mendirikan pemerintah Soviet,
artinya pemerintah sosialis di Tiongkok. Jadi, alangkah bebalnya, atau alangkah mencari-
carinya orang-orang yang menuduh PKI merobohkan Republik dan mendirikan pemerintah
Soviet di Madiun dengan mengangkat Wakil Walikota Supardi menjadi Residen sementara.

Berdasarkan kejadian pengangkatan Wakil Walikota Supardi menjadi Residen sementara dan
atas tanggung jawab sepenuhnya dari pemerintah Hatta, maka pada tanggal 19 September
1948 oleh Presiden Sukarno dadakan pidato yang berisi seruan kepada seluruh Rakyat
bersama-sama membasmi "kaum pengacau", maksudnya membasmi kaum Komunis dan
kaum progresif lainnya secara jasmaniah. Saya katakan sepenuhnya tanggung jawab
pemerintah Hatta, karena Hattalah yang menjadi Perdana Menteri ketika itu. Tapi karena
Hatta tahu bahwa pengaruhnya sangat kecil di kalangan Angkatan Perang dan alat-alat negara
lainnya, apalagi di kalangan masyarakat, maka Hatta menggunakan mulut Sukarno dan
meminjam kewibawaan Sukarno untuk membasmi Amir Syarifuddin dan beribu-ribu putera
Indonesia asal suku Jawa. Ini, sekali lagi, kalau kita mau berbicara dalam istilah kesukuan
yang sekarang banyak dilakukan oleh pembela-pembela kaum pemberontak di Sumatera,
sesuatu yang sedapat mungkin ingin kami hindari.

Demikianlah, "kebijaksanaan" Hatta sebagai Perdana Menteri dalam menghadapi persoalan-


persoalan masyarakat dan persoalan politik yang kongkrit. Karena kepicikannya dari
kesombongannya sebagai borjuis Minang yang ingin melonjak cepat sampai ke angkasa,
karena kehausannya akan kekuasaan, karena kepala batunya, karena ketakutannya yang
keterlaluan kepada Komunisme, maka Hatta sebagai Perdana Menteri dengan secara gegabah
mengerahkan alat-alat kekuasaan negara untuk menculik, membunuh dan mengobarkan
perang saudara. Orang sering salah kira dengan menyamakan sifat kepala batu Hatta dengan
"kemauan keras" atau sikap yang "konsekwen". Tetapi saya yang juga mengenal Hatta dari
dekat berpendapat, bahwa sifat kepala batu Hatta adalah disebabkan karena sempit
pikirannya, dan karena sempit pikirannya ia tidak bisa bertukar pikiran secara sehat, tidak
pandai bermusyawarah dan tahunya hanya main "ngotot", "mutung", "basmi" dan "tangan
besi". Dan apa akibatnya permainan "basmi" dan "tangan besi" Hatta? Beribu-ribu pemuda
dan Rakyat dari kedua belah pihak yang berperang mati karenanya. Seluruh Rakyat sudah
mengetahui dari pengalamannya sendiri bahwa semua ini dilakukan hanya untuk
melapangkan jalan bagi Hatta buat pelaksanaan Konferensi Meja Bundar dengan Belanda
yang langsung diawasi oleh Amerika Serikat, untuk membikin perjanjian KMB yang khianat
dan yang sudah kita batalkan itu.

Sifat gegabah dari tindakan Hatta lebih nampak lagi ketika ia meminta kekuasaan penuh dari
BPKNIP, dimana di dalam pidatonya dinyatakan bahwa "Tersiar pula berita -- entah benar
entah tidak -- bahwa Musso akan menjadi Presiden Republik rampasan itu dan Mr. Amir
Syarifuddin Perdana Menteri". Lihatlah betapa tidak bertanggungjawabnya tindakan Hatta. la
bertindak atas dasar berita yang sifatnya "entah benar entah tidak" bahwa sesuatu "akan"
terjadi. Ya, Hatta bertindak atas berita yang masih diragukan tentang akan terjadinya sesuatu.
Tetapi, adalah tidak diragukan lagi bahwa tindakan Hatta sudah berakibat dibunuhnya ribuan
orang yang tidak berdosa tanpa proses.
Hatta lngin Berkuasa Sewenang-wenang Lagi

Berdasarkan pengalaman dengan Peristiwa Madiun, dimana Hatta menelanjangi dirinya


sebagai manusia yang tidak berperikemanusiaan, maka saya seujung rambutpun tidak ragu
bahwa Hatta, seperti belum lama berselang dimuat dalam koran-koran pemah mengucapkan
kepada Firdaus A. N., hanya bersedia berkuasa jika tidak bisa dijatuhkan oleh Parlemen.
Kalau mau tahu tentang Hatta, inilah dia! lnilah politiknya, inilah moralnya, inilah segala-
galanya! Yaitu, seorang yang mau berkuasa secara sewenang-wenang.

Hatta sama sekali tidak menghargai jerih payah Rakyat yang kepanasan dan kehujanan antri
untuk memberikan suaranya untuk Parlemen kita sekarang. Lebih daripada itu, ia juga tidak
menghargai suaranya sendiri yang diberikannya ketika memilih Parlemen ini. Orang yang
tidak menghargai orang lain sering kita temukan di dunia ini. Tetapi orang yang tidak
menghargai suaranya sendiri, ini keterlaluan.

Hatta ingin berkuasa kembali tanpa bisa dijatuhkan oleh Parlemen, ia memimpikan masa
keemasannya di tahun 1948. Kali ini yang mau dijadikannya mangsa bukan hanya putera-
putera Indonesia asal suku Jawa dan Batak, tetapi juga putera-putera suku lain, termasuk
putera-putera suku Minangkabau, karena PKI sekarang sudah tersebar di seluruh Indonesia
dan di semua suku. Tetapi, sebelum Hatta sampai ke situ, perlu saya peringatkan bahwa
dalam tahun 1948 ia hanya berhadapan dengan 10.000 Komunis yang hanya tersebar secara
sangat tidak merata di pulau Jawa dan Sumatera, karena PKI ketika itu dilarang berdiri di
daerah pendudukan Belanda. Tetapi sekarang, Hatta harus berhadapan dengan lebih satu juta
Komunis yang tersebar di semua pulau dan di semua suku. Saya perlu menyatakan ini, hanya
untuk menerangkan betapa besar akibatnya kalau Hatta bermain "tangan besi" lagi. Dan ....
besipun bisa patah !

Saya yakin, bahwa tiap-tiap orang yang mempunyai peran tanggung jawab tidak ingin
terulang kembali tragedi nasional seperti Peristiwa Madiun itu. Dari pihak Partai Komunis
Indonesia, seperti sudah berulang-ulang kami nyatakan, dan sudah menjadi pelajaran di
dalam Sekolah-Sekolah Kursus-Kursus Partai kami, kami ingin dan kami yakin bisa
mencapai tujuan-tujuan politik kami secara parlementer. Kami akan menghindari tiap-tiap
perang-saudara selama kepada kami dijamin hak-hak politik untuk memperjuangkan cita-
cita kami. Tetapi, kalau kepada kami disodorkan bayonet dan didesingkan peluru seperti
dalam peristiwa Madiun, juga seperti selama peristiwa itu, kami tidak akan memberikan
dada kami untuk ditembus bayonet dan ditembus peluru kaum kontra-revolusioner.

Kami kaum Komunis tidak ingin menggangu siapa-siapa selama kami tidak diganggu. Kami
ingin bersahabat dengan semua orang, semua golongan dan semua partai yang mau
bersahabat dan bekerja sama dengan kami untuk hari depan yang lebih baik bagi tanah air
dan Rakyat Indonesia. Walaupun di hadapan kantor pusat Masyumi di Kramat Raja 45,
Jakarta, terpancang dengan jelas papan "Front Anti-Komunis", jadi anti kami, anti saya dan
anti kawan-kawan saya, tetapi kami kaum Komunis tidak akan ikut gila untuk juga
memancangkan papan "Front Anti-Masyumi"', apalagi "Front Anti-lslam". Kami tidak akan
membiarkan diri kami terprovokasi oleh pemimpin Masyumi ini. Saya pribadi tidak mau
diprovokasi oleh kenalan lama saya, Sdr. Mohamad Isa Anshari, pemimpin akbar "Front
Anti-Komunis".

Berangsur-angsur Rakyat Indonesia berdasarkan pengalamannya sendiri menjadi makin


yakin bahwa bukanlah kaum Komunis yang anti-agama, tetapi sebaliknya, sejumlah
pemimpin partai-partai agamalah yang anti-Komunis dan menghasut anggota-anggotanya
supaya anti-Komunis.

Rakyat Indonesa sudah mengetahui bahwa dalam soal pemerintahan kami menginginkan
terbentuknya pemerintah persatuan nasional dimana didalamnya duduk 4-Besar, jadi
termasuk PKI dan Masyumi, bersama-sama dengan partai-partai lain. Ini akan kami
perjuangkan terus walaupun sampai ini hari saya kira Masyumi belum mau, karena masih
mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin Masyumi Sdr. Moh. Natsir dalam muktamar
Masyumi di Bandung bulan Desember 1956. Dalam muktamar tersebut Sdr. Moh. Natsir
mengatakan antara lain bahwa pimpinan partai Masyumi "meletakkan strateginya
menghadapi pembentukan kabinet kepada dua pokok pikiran yaitu (a) Memulihkan
kerjasama antara partai-partai Islam (b) Menggabungkan tenaga-tenaga non-Komunis
dalam kabinet, Parlemen dan masyarakat serta mengisolir PKI atau para crypto-Koi-ntinis
dari kabinet". (Halaman 22 "Laporan Beleid Politik Pimpinan Partai Masyumi"). Cobalah
renungkan, bukan persatuan nasional yang mereka ajarkan dan amalkan, tetapi perpecahan
nasional. Mengisolasi PKI adalah identik dengan mengisolasi berjuta-juta Rakyat Indonesia.
Bagaimana persatuan nasional akan bisa tercapai dengan sikap yang a-priori semacam ini.
Sikap semacam ini hanya mempertegas keadaan politik di negeri kita, dan yang untung bukan
bangsa Indonesia, tetapi kaum imperialis asing, yang memang menginginkan peruncingan
keadaan dan perpecahan di dalam tubuh bangsa kita.

Jadi, kapankah semua pemuka bangsa kita akan belajar dari pengalaman Peristiwa Madiun
yang tragis itu, supaya tidak lagi mengulangi kesalahan tindakan dan kebijaksanaan agar
persatuan bangsa kita terpelihara baik, supaya kita tidak gegabah dalam mengambil tindakan-
tindakan, apalagi tindakan-tindakan yang bisa berakibat luas? Saya berusaha dan terus akan
berusaha untuk menarik pelajaran sebanyak-banjyaknya dari pengalaman sejarah itu.

Kabinet Ali-ldham Ber-puluh2 Kali Lebih Bijaksana Daripada Kabinet Hatta

Dibanding dengan kebijaksanaan pemerintah Hatta dalam menghadapi kejadian di Madiun


dalam bulan September 1948, kabinet Ali-ldham sekarang berpuluh-puluh kali lebih
bijaksana. Padahal kalau melihat kejadiannya, pengangkatan seorang Wakil Walikota
menjadi Residen sementara karena dipaksa oleh keadaan, belumlah apa-apa kalau dibanding
dengan pengoperan pimpinan pemerintah daerah Sumatera Tengah oleh orang-orang "Dewan
Banteng", yang terang-terangan direncanakan terlebih dulu dalam reuni ex-divisi Banteng
bulan November 1956, dan yang terang-terangan sudah pernah menolak dan menghina
perutusan pemerintah pusat yang datang untuk berunding. Apalagi kalau dibanding dengan
perbuatan komplotan kolonel Simbolon pada tanggal 22 Desember 1956, yang terang-
terangan menyatakan tidak lagi mengakui pemerintah yang sah sekarang. Apalagi, kalau kita
ingat bahwa maksud yang sesungguhnya dari semua tindakan itu ialah untuk memisahkan
Sumatera dan Kalimantan dari Pemerintah Pusat, mendirikan negara Sumatera dan
Kalimantan serta mengadakan hubungan luar negeri sendiri. Apalagi kalau diingat bahwa ada
maksud-maksud untuk menyerahkan pulau We di Utara Sumatera kepada negara besar
tertentu untuk dijadikan pangkalan-perang. Apalagi kalau diingat bahwa semua rencana itu
sesuai sepenuhnya dengan apa yang direncanakan oleh Pentagon dan State Department
Amerika Serikat, oleh "jendral-jendral" DI-TII dan aparat-aparat serta kakitangan-kakitangan
Amerika lainnya yang ada di Indonesia. Jika diingat semuanya ini, maka pengangkatan Wakil
Walikota Supardi menjadi Residen sementara Madiun adalah hanya "kinderspel" (permainan
kanak-kanak).
Tetapi penamaan apa yang diberikan oleh Hatta kepada kejadian-kejadian di Madiun bulan
September 1948 dan penamaan apa pula yang, diberikan orang kepada perbuatan-perbuatan
kaum pemberontak di Sumatera pada bulan Desember 1956? Peristiwa Madiun dinamakan
"merobohkan Republik Indonesia", dinamakan "kudeta", tetapi pemberontakan di Sumatera
yang sepenuhnya dan secara terang-terangan disokong oleh kaum imperialis asing, terutama
kaum imperialis Amerika dan Belanda, mereka namakan "tindakan konstruktif" demi
"kepentingan daerah". Saya bertanya : Konstruktif untuk siapa? Untuk kepentingan daerah
mana? Memang konstruktif sekali tindakan kaum pemberontak di Sumatera, konstruktif
dalam rangka membangun pangkalan-pangkalan perang SEATO! Memang untuk
kepentingan daerah, kepentingan perluasan daerah SEATO! Jadi, sama sekali tidak
konstruktif untuk Rakyat Indonesia dan sama sekali bukan untuk kepentingan daerah
Indonesia !

Demikianlah, apa sebabnya saya katakan bahwa mengemukakan Peristiwa Madiun dalam
keadaan sekarang untuk memukul PKI adalah seperti menepuk air didulang. Bukannya PKI
yang kecipratan, tetapi justru si penepuk air yang sial itu. Mengemukakan soal Peristiwa
Madiun dalam menghadapi Peristiwa Sumatera sekarang berarti memberi alasan yang kuat
untuk mengkonfrontasikan kebijaksanaan yang memang bijaksana dari kabinet Ali-ldham
sekarang dengan kebijaksanaan yang tidak bijaksana dari Kabinet Hatta dalam tahun 1948.
Jika sudah dikonfrontasikan, maka akan merasa berdosalah orang-rang yang berteriak-teriak
ingin melihat naiknya Hatta kembali, kecuali kalau orang-orang itu memang ingin melihat
Hatta sekali lagi mempermainkan nyawa umat Indonesia sebagai mempermainkan nyawa
anak ayam.

Kebijaksanaan kabinet Ali-ldham dalam menghadapi Peristiwa Sumatera sekarang tidak


disebabkan terutama karena Ali Sastroamijojo seorang Indonesia dari suku Jawa yang
toleran, tidak, tetapi karena pimpinan kabinet sekarang terdiri dari orang-orang yang
mempunyai perasaan tanggung jawab yang besar. Syukurlah, bahwa ketika terjadi Peristiwa
Sumatera Hatta tidak memegang fungsi dalam pimpinan negara, walaupun saya tidak ragu
adanya sangkut paut Hatta dengan kejadian-kejadian itu. Kalau Hatta memegang fungsi
penting, apalagi kalau Hatta memegang tampuk pemerintahan, entah berapa banyak lagi
korban yang dibikinnya.

Dalam usaha menyelesaikan Peristiwa Sumatera ada orang-orang yang ingin supaya soal
kolonel Simbolon "diselesaikan secara adat", supaya soal "Dewan Banteng" diselesaikan
"secara musyawarah", secara "potong kerbau" dan dengan "menggunakan pepatah dan
petitih". Pendeknya, adat, kerbau serta pepatah dan petitih mau dimobilisasi untuk
menyelesaikan soal kolonel Simbolon dan soal "Dewan Banteng". Sampai-sampai orang-
orang, yang tidak beradat juga berbicara tentang "penyelesaian secara adat".

Tetapi, orang-orang ini pada bungkam semua ketika Amir Syarifuddin dengan tanpa proses
ditembus oleh peluru atas perintah Hatta. Ketika Amir Syarifuddin masih ditahan di penjara
Yogya sebelum dibawa ke Solo dan digiring ke desa Ngalian untuk ditembak, tidak ada
seorang Batak atau siapapun yang tampil ke depan, dan mengatakan: "Mari soal Amir
Syarifuddin kita selesaikan secara adat tanah Batak", atau "Mari soal Amir Syarifuddin kita
selesaikan secara Kristen".

Saya hanya ingin bertanya: Apakah Amir Sjarifuddin yang bermarga Harahap itu kurang
Bataknya daripada kolonel Simbolon sehingga adat Batak menjadi tidak berlaku bagi
dirinya? Saya kira Amir Syarifuddin tidak kalah Bataknya daripada orang Batak yang mana
jua pun, malahan ia tidak kalah Kristennya dari pada kebanyakan orang Kristen. Amir
Syarifuddin meninggal sesudah ia menyanyikan lagu Internasionale, lagu Partainya, lagu
kesayangannya, dan ia meninggal dengan Kitab Injil di tangannya. Amir Syarifuddin adalah
putera Batak yang baik, yang patriotik, dan karena itu juga ia adalah seorang putera Indonesia
yang baik. Jadi tidak sepantasnya adat tanah Batak tidak berlaku baginya.

Bagaimana pula halnya ribuan orang Jawa yang didrel tanpa proses atas perintah Hatta itu?
Apakah suku Jawa yang menderita dari abad ke abad tidak mengenal musyawarah dan tidak
mengenal pepatah dan petitih sehingga ketika dilancarkan kampanye pembunuhan terhadap
orang-orang Jawa selama Peristiwa Madiun tidak ada orang Jawa yang beradat dan tidak ada
cerdik-pandai Jawa yang tampil ke depan untuk menyelesaikan persoalan ketika itu secara
rembugan (musyawarah), secara adat, dan dengan berbicara menggunakan banyak paribasan
(peribahasa), dengan potong sapi, potong kerbau, dan dengan mbeleh wedus (potong
kambing)? Ataukah karena pulau Jawa sudah kepadatan penduduk maka pembunuhan atas
orang-orang Jawa oleh tangan besi borjuis Minang Mohammad Hatta boleh dibiarkan? PKI
tampil ke depan untuk kepentingan, "de zwijgende Javanen" ("Orang2 Jawa Yang Berdiam
Diri") ini, baik mereka Komunis atau pun bukan-Komunis. Ya, jika soal ini dibawa ke
pengadilan, PKI juga akan berbicara atas nama prajurit-prajurit, bintara-bintara dan perwira-
perwira dari suku Jawa yang mati karena melakukan tugas "membasmi Komunis" yang
diperintahkan oleh Hatta. Prajurit-prajurit, bintara-bintara dan perwira-perwira yang mati
dalam pertempuran melawan Komunis ketika itu adalah tidak bersalah, sama tidak
bersalahnya dengan Komunis-Komunis yang mereka tembak. Mereka semuanya adalah
korban permainan politik perang-saudara Hatta. Tidak hanya kami, sebagai pewaris-pewaris
dari pahlawan-pahlawan Komunis dalam Peristiwa Madiun, tetapi juga keluarga para prajurit,
bintara dan perwira TNI yang disuruh "membasmi Komunis" berhak untuk mendakwa Hatta
sebagai pembunuh sanak-saudara mereka, jika soal ini dibawa ke pengadilan.

Mari sekarang kita lihat bagaimana sikap pemerintah Hatta terhadap perwira yang belum
tentu bersalah dalam Peristiwa Madiun, dan bagaimana sikap pemerintah Ali-ldham sekarang
terhadap opsir-opsir yang sudah terang bersalah dalarn pemberontakan-pemberontakan di
Sumatera.

Pemerintah Hatta dengan tanpa memeriksa lebih dulu kesalahan mereka terus saja memecat
perwira-perwira, antara lain yang masih hidup sekarang bekas Jenderal Major Ir. Sakirman,
bekas Letnan Kolonel Martono, bekas Major Pramuji, dan banyak lagi. Padahal perwira-
perwira ini belum pernah dipanggil untuk menghadap, apalagi diperiksa; jadi sama sekali
tidak ada dasar untuk memecat mereka. Para perwira yang belum tentu bersalah tidak hanya
dipecat, tetapi banyak juga yang disiksa di luar perikemanusiaan dan dibunuh tanpa
dibuktikan kesalahannya terlebih dahulu.

Sekedar untuk mengetahui bagaimana pembunuhan-pembunuhan kejam oleh alat-alat resmi


ketika itu, bersama ini, saya lampirkan 3 buah turunan laporan resmi dan pengakuan resmi
tentang pembunuhan terhadap diri Sidik Aslan dkk. dan terhadap letnan kolonel Dakhlan dan
major Mustoffa. Untuk menghemat waktu tidak saya bacakan lampiran-lampiran ini.
Lampiran-lampiran ini, saya sampaikan lepas dari penilaian siapa dan bagaimana major
Sabarudin, pembuat pengakuan-pengakuan tersebut. Yang sudah terang major Sabarudin
bukan simpatisan PKI, apalagi anggota PKI.

Kekejaman pemerintah Hatta selama Peristiwa Madiun adalah berpuluh-puluh kali lebih
kejam dari pada pemerintah kolonial Belanda ketika menghadapi pemberontakan Rakyat
tahun 1926. Pemerintah kolonial Belanda masih memakai alasan-alasan hukum untuk
membunuh, memenjarakan dan mengasingkan kaum pemberontak, tetapi Hatta sepenuhnya
mempraktekkan hukum rimba. Semuanya ini mengingatkan saya kembali pada tulisan Hatta
yang berkepala "14 Juli", dimuat dalam harian "Pemandangan" pada 14 Juli 1941 dimana
antara lain ia menulis tentang Petain, seorang Prancis boneka Hitler, sebagai "seorang
serdadu yang berhati lurus dan jujur". Hanya serigala mengagumi serigala, hanya fasis
mengagumi fasis !

Bandingkanlah sikap pemerintah Hatta terhadap kejadian di Madiun dengan sikap pemerintah
sekarang terhadap kolonel Simbolon yang sudah terang bersalah karena merebut kekuasaan
di sebagian wilajah Republik Indonesia, yang sudah terang melanggar disiplin militer atau
yang oleh Presiden Sukarno/Panglima Tertinggi dalam amanatnya tanggal 25 Desember 1956
dirumuskan telah berbuat yang "menggoncangkan sendi-sendi ketentaraan dan kenegaraan
kita, dan yang membahayakan keutuhan tentara dan negara kita pula". Kolonel Simbolon
hanya diberhentikan sementara sebagai Panglima Tentara dan Teritorium I. Sedangkan
terhadap pemimpin-pemimpin pemberontakan militer di Sumatera Tengah sampai sekarang
belum diambil tindakan apa-apa.

Tentu ada orang-orang yang mengatakan: ya, karena Panglima Tertinggi, Pemerintah dan
Gabungan Kepala Staf Angkatan Perang sekarang tidak mempunyai kewibawaan, maka
mereka tidak menghukum perwira-perwira tersebut seperti Hatta dulu menghukum perwira-
perwira yang disangka tersangkut dalam Peristiwa Madiun.

Istilah "wibawa" pada waktu belakangan ini banyak dipergunakan orang dengan masing-
masing mempunyai interpretasinya sendiri-sendiri. Kalau dengan istilah "wibawa" yang
dimaksudkan ialah kemampuan pemerintah untuk bertindak, maka terang bahwa pemerintah
sekarang sanggup bertindak, sanggup memerintah, artinya mempunyai kewibawaan. Apakah
bukan tanda wibawa dari pemerintah sekarang dengan dapatnya digulingkan kerajaan sehari
komplotan kolonel Simbolon dalam waktu yang sangat singkat?

Tanggal 22 Desember 1956 pemerintah memutuskan dan mengumumkan pemberhentian


sementara kolonel Simbolon sebagai Panglima TT I dan menyerahkan tanggung jawab TT I
kepada letnan-kolonel Jamin Gintings atau letnan-kolonel A. Wahab Macmour. Dalam waktu
hanya empat hari, yaitu pada tanggal 27 Desember 1956 komplotan kolonel Simbolon sudah
dapat diturunkan dari kerajaan seharinya. Ini artinya bahwa seruan pemerintah dipatuhi, ini
artinya pemerintah mempunjai kewibawaan.

Tentu ada orang-orang yang berkata lagi: ya, tetapi itu mengenai Sumatera Utara. Mengenai
Sumatera Tengah pemerintah tidak mempunyai kewibawaan. Mengenai ini saya jawab sbb. :
Tiap-tiap orang yang tahu imbangan kekuatan di dalam negeri tidak sukar memahamkan,
bahwa kalau pemerintah pusat sekarang mau bertindak, apalagi kalau mau bertindak
serampangan seperti Hatta, maka dengan pengerahan serentak seluruh kekuatan Angkatan
Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dengan dibantu oleh massa Rakyat, maka
kerajaan "Dewan Banteng" juga hanya akan merupakan kerajaan sehari.

Soalnya bukanlah hanya menunjukkan kemampuan menggunakan kekuatan seperti yang


pernah dilakukan oleh Hatta, tetapi juga kebijaksanaan. Pada pokoknya kami setuju bahwa
pemerintah sekarang mengkombinasi kekuatan riilnya dengan kebijaksanaan. Sikap ini
merupakan dasar yang kuat bagi pemerintah, jika pada satu waktu pemerintah harus bertindak
keras, karena jalan perundingan sudah tidak mempan lagi.
Walaupun kami kaum Komunis pernah diperlakukan secara kejam oleh pemerintah Hatta
selama Peristiwa Madiun, tetapi kami tidak menyetujui jika pemerintah sekarang mencontoh
perbuatan Hatta yang gegabah dan tidak bertanggungjawab itu. Kita semua mengetahui
bahwa politik "tangan besi" Hatta sepenuhnya menguntungkan kepentingan kaum imperialis
asing. Ya, walaupun banyak perwira penganut cita-cita PKI yang dibasmi secara jasmaniah
dalam Peristiwa Madiun, tetapi kami tidak menuntut supaya kolonel Simbolon, letnan
kolonel Abmad Husein dll. dibasmi secara jasmaniah. Apalagi kami tahu bahwa banyak
opsir-opsir yang tersangkut dalam pemberontakan-pemberontakan di Sumatera adalah karena
hasutan-hasutan sebuah partai kecil yang keok dalam pemilihan umun, jl. Kami tidak
menghendaki penumpahan darah yang disebabkan oleh kehampaan kebijaksanaan.

Jadi apakah yang kami inginkan ?

Kami hanya ingin, supaya disiplin militer berjalan sebagaimana mestinya, supaya hirarki
ketentaraan ditaati dengan patuh, supaya Angkatan Perang tetap setia kepada cita-cita
Revolusi Agustus 1945, karena hanya dengan demikian kita dapat membangun Angkatan
Perang yang mampu membantu menyelesaikan semua tuntutan Revolusi Agustus 1945.
Hanya dengan penegakan tata tertib hukum dalam ketentaraan yang berjiwa Revolusi
Agustus 1945 Angkatan Perang kita akan setia kepada sumbernya, yaitu Revolusi dan
Rakyat.

Sebagaimana sudah saya katakan di atas, ada sementara orang berteriak supaya diadakan
penyelesaian "secara adat", "dengan potong kerbau" dan "dengan menggunakan pepatah dan
petitih". Tetapi, jika kita tidak waspada, apakah yang tersembunyi di belakang kata-kata ini
semuanya? Tidak lain ialah untuk mencairkan disiplin dalam Angkatan Perang kita, untuk
mengacau-balaukan hirarki dan tata tertib hukum di dalam ketentaraan kita. Saya tidak
berkeberatan jika juga ditempuh jalan secara adat, kerbau-kerbau dipotongi dan segala
macam pepatah dan petitih nenek moyang digali dan dipakai, karena semuanya ini memang
warisan dan milik kita sendiri. Tetapi jangan lupa, bahwa semuanya ini hanyalah faktor
tambahan. Yang primer bagi orang-orang militer ialah tata tertib hukum di dalam ketentaraan.
Kalau tidak demikian lebih baik perwira-perwira yang bersangkutan menanggalkan epoletnya
dan kembali ke kampung untuk duduk dalam lembaga-lembaga adat dikampung. Disanalah
barangkali mereka akan menemukan ketenteraman jiwanya.

Sesudah mengkonfrontasikan Peristiwa Madiun 1948 dengan Peristiwa Sumatera 1956,


maka sampailah saya pada kesimpulan, bahwa pemerintah Ali-ldham sekarang berpuluh-
puluh kali lebih bijaksana daripada pemerintah Hatta ketika menghadapi kejadian-kejadian
di Madiun dalam bulan September 1948. Ini dilihat dari sudut kebijaksanaan. Dilihat dari
sudut kewibawaan pemerintah Ali-Idham mempunyai kewibawaan, dibuktikan oleh ketaatan
alat-alatnya pada umumnya. Yang tidak mentaati pemerintah sekarang hanya minoritas
yang sangat kecil yang sudah diracuni oleh sebuah partai kecil dan oknum-oknum liar yang
tidak melihat hari depannya dalam demokrasi, tetapi dalam sesuatu kekuasaan militeris-
fasis. Adalah janggal dan tidak bertanggungjawab jika pemerintah Ali-Idham menyerah
kepada ambisi partai kecil dan oknum-oknum liar ini.

Selanjutnya dapat pula ditarik kesimpulan, bahwa adalah perbuatan yang tidak
bertanggungjawab untuk memberi kans sekali lagi kepada Mohamad Hatta, bapak perang-
saudara, seorang yang karena haus kekuasaan dan pendek akal telah menewaskan beribu-
ribu Rakyat dan pemuda baik orang-orang sipil maupun orang-orang militer kita yang baik-
baik.
Dwitunggal Tidak Pernah Ada

Sementara orang tentu akan bertanya: Tetapi bagaimana dengan "dwitunggal"? Pertama-tama
perlu saya nyatakan bahwa dwitunggal tidak pernah ada, bahwa dwitunggal hanya ada dalam
dunia impian orang-orang yang tidak mengerti seluk-beluk sejarah perjuangan kemerdekaan
dan sejarah pencetusan Revolusi Agustus 1945.

Kalau orang mau tenang dan mau mengingat-ingat kembali pada pertentangan pendapat yang
sengit antara Sukarno dengan "Partai Indonesia" (Partindo) di satu pihak dan Hatta-Sjahrir
dengan apa yang dinamakan "Pendidikan Nasional Indonesia" di pihak lain, maka orang akan
sependapat bahwa dwitunggal yang sungguh-sungguh memang tidak pernah ada. Untuk
pertama kali, pada kesempatan ini ingin saya nyatakan, bahwa saya sudah lama merasa ikut
berdosa karena sudah ambil bagian aktif dalam gerakan memaksa Hatta menandatangani
Proklamasi 17 Agustus 1945. Hatta sudah sejak semula secara ngotot menentang pencetusan
Revolusi Agustus. la menggantungkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya pada rakhmat
Saikoo Sikikan (Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Indonesia) yang tidak kunjung tiba itu.

Saya merasa lebih-lebih ikut berdosa lagi ketika membaca pidato Hatta waktu menerima
gelar Dr. HC dari Universitas "Gajah Mada" dimana dengan tegas dikatakannya bahwa
revolusi harus dibendung. Kalau saya tidak salah Universitas "Gajah Mada" sudah tiga kali
memberikan gelar kehormatan, pertama kepada Presiden Sukarno, kedua kepada Hatta dan
ketiga kepada Ki Hajar Dewantara. Pemberian yang pertama dan ketiga, menurut pendapat
saya, adalah tepat, karena Universitas "Gajah Mada" yang dilahirkan oleh revolusi
memberikan gelar kehormatan kepada orang-orang revolusioner, pengabdi-pengabdi revolusi.
Tetapi pemberian yang kedua, yaitu pada Hatta, maaf, adalah satu kekeliruan yang mungkln
tidak disengaja. Betapa tidak keliru, sebuah universitas yang dilahirkan oleh revolusi
memberikan gelar kehormatan kepada seorang yang ingin membendung revolusi, kepada
seorang kontra-revolusioner.

Dwitunggal yang terdiri dari seorang revolusioner dan yang seorang lagi kontra-revolusioner
sama sekali bukan dwitunggal. Oleh karena itulah saya katakan, dwitunggal tidak pernah ada,
kecuali di dalam dongengan dan impian. Dongengan tentang dwitunggal inilah yang antara
lain telah membikin revolusi kita menjadi macet, karena dwitunggal yang dibikin-bikin itu,
yang heterogen itu, telah membikin kita terjepit di antara dua kutub, kutub revolusi dan kutub
kontra-revolusi. Selama lebih sebelas tahun Rakyat Indonesia sudah ditipu dengan apa yang
dinamakan dwitunggal.

Revolusi kita berjalan terus, semua kekuatan revolusioner harus dipersatukan dan
dimobilisasi untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner.

Demikianlah, penilaian saya mengenai kebijaksanaan pemerintah sekarang, sesudah saya


mengkonfrontasikan kebijaksanaan pemerintah sekarang dengan kebijaksanaan pemerintah
Hatta ditahun 1948. Saya dipaksa untuk memberikan penilaian secara ini, karena ada salah
seorang anggota Parlemen kita yang dalam pemandangan umumnya membawa-bawa
Peristiwa Madiun.

Anda mungkin juga menyukai