Anda di halaman 1dari 16

BONUS DEMOGRAFI: Pentingnya Melihat Persoalan Migrasi Penduduk | Oleh: Agus H.

Hadna
07 Mar, 2014 596 View

Yogyakarta, PSKK UGM - Isu kependudukan menjadi sorotan banyak pihak belakangan ini.
Pemerintah, pengamat, akademisi, serta media massa ramai membincangkan soal laju
pertumbuhan penduduk, masih tersentralnya jumlah penduduk di Pulau Jawa hingga peluang
Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi.
Akhir Januari lalu, bertempat di Istana Negara, pemerintah meluncurkan buku Proyeksi Penduduk
Indonesia 2010-2035. Buku ini disusun mengingat pentingnya informasi tentang kependudukan
dalam penyusunan rencana pembangunan. Informasi tersebut, antara lain proyeksi jumlah
penduduk baik saat ini maupun yang akan datang, dan proyeksi parameter kependudukan seperti
struktur umur penduduk, angka kelahiran total (TFR), serta angka harapan hidup penduduk.
Proyeksi dalam buku ini menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia dalam kurun waktu 25 tahun
mendatang akan terus meningkat. Jumlah penduduk sebanyak 238,5 juta pada 2010 akan naik
menjadi 305,6 juta pada 2035. Meski begitu, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia
selama periode tersebut cenderung menurun. Di saat yang sama, Indonesia juga disebut sedang
menikmati bonus demografi, masa dimana jumlah dan proporsi penduduk usia produktif terus
meningkat. Namun, situasi ini dinilai kurang dipersiapkan oleh pemerintah.
Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Dr. Agus Heruanto
Hadna menilai, pemerintah memang agak terlambat dalam mempersiapkan prasyarat demi
memanfaatkan bonus demografi. Bukan hanya investasi di bidang kesehatan, pendidikan, tenaga
kerja, dan laju pertumbuhan penduduk, bagi Hadna, pemerintah perlu juga melihat persoalan
migrasi penduduk. Selengkapnya, berikut kutipan wawancaranya dengan Radio Idola FM
Semarang, Selasa (4/3) dalam program Panggung Civil Society.
Menkokesra RI, Agung Laksono mengatakan, besarnya penduduk usia produktif merupakan potensi bagi
pembangunan. Tapi di pihak lain, ada pendapat bahwa pemerintah terlambat menyiapkan prasyarat untuk
bonus demografi. Kalau menurut Anda, apa sebetulnya prasyarat yang harus kita persiapkan?
Jadi ada empat prasyarat utama agar bonus demografi itu bisa diwujudkan. Pertama, kualitas
pendidikan. Kedua, kualitas kesehatan. Lalu ketiga adalah tersedianya lapangan kerja, dan keempat
adalah pengendalian laju pertumbuhan penduduk. Saya sendiri menambahkan lagi satu prasyarat
ya, yakni migrasi. Migrasi yang merata karena Indonesia mempunyai wilayah yang luas ya, ada
begitu banyak pulau. Kelima prasyarat ini perlu dipersiapkan dari sekarang. Jangan sampai terjadi
bencana demografi ya melainkan bonus demografi yang kita harapkan.
Tadi Anda sempat menyebutkan salah satu prasyarat, yakni migrasi. Itu konkretnya seperti apa ya?
Saya melihat persebaran penduduk di Indonesia itu tidak merata. Fokusnya masih berada di Pulau
Jawa, bahkan proyeksi sampai 2035 masih menunjukkan konsentrasi penduduk masih di Pulau
Jawa. Nah, kondisi ini terlalu berat bagi Jawa. Daya dukung lingkungannya terus menurun.
Sementara untuk daerah lain, implikasinya pada pemerataan pendidikan, kesehatan, dan
sebagainya. Selalu saja tertinggal. Ini tidak baik bagi terwujudnya bonus demografi. Soal bonus
demografi, kita bicara tentang Indonesia, bukan bicara tentang Jawa atau satu provinsi saja.
Kita mengharapkan migrasi sukarela, begitu saya lebih suka mengatakannya. Jika ini bisa terwujud
maka pembangunan tidak hanya terfokus di Jawa tetapi juga di wilayah luar Jawa. Harapannya,
akan ada titik-titik pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh Indonesia. Baru saya kira,
masyarakat akan sukarela misalnya pergi ke Kalimantan, ke Sulawesi, bahkan mungkin ke Papua,
dan lain sebagainya.
Baik, lalu mengenai tingkat pendidikan serta keterampilan sumber daya manusia. Seberapa cepat menurut
Anda, upaya pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja terdidik yang memiliki keterampilan tinggi?
Saya menghargai, pemerintah sudah berupaya keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kita
bisa lihat angka partisipasi pendidikan itu semakin naik. Namun, di satu sisi saya merasa ragu,
apakah target-target yang telah ditetapkan pemerintah itu bisa tercapai. Ada persoalan pemerataan
di sini yang nampaknya menjadi masalah besar bagi Indonesia. Pemerintah sudah berupaya keras
tapi ini tidak diimbangi dengan aspek pemerataan. Saya kira ini masih terlalu berat.
Lalu bagaimana dengan usia produktif? J ika terjadi ledakan jumlah angkatan kerja, idealnya kan berbanding
lurus dengan ketersediaan lapangan kerja. Dalam pandangan Anda, langkah apa yang perlu dilakukan
pemerintah untuk mengonversi bonus demografi agar menjadi pengungkit kemakmuran kita?
Iya, ini salah satu variabel yang juga masih memprihatinkan. Saya bicara data berdasarkan
Sakernas dulu ya. Angka pengangguran terbuka per Agustus 2013 adalah 6,25 persen ya. Lalu
diprediksi pada 2035 akan naik menjadi 11,2 persen. Kok malah naik? Harapan kita kan angka
pengangguran bisa ditekan, jangan sampai di atas 6 persen. Hitung-hitungan kasar kita, pemerintah
paling tidak harus menyediakan lapangan kerja 50 persen dari yang ada sekarang. Itu minimal ya,
baru angka 11 persen itu akan turun.
Sekarang saya akan melangkah ke soal infrastruktur. Kita memahami, infrastruktur adalah salah satu faktor
kunci bagi pembangunan ekonomi. Akan tetapi, justifikasi yang kita dengar selama ini, dari pemerintah ya,
minim anggaran, terbatasnya kemampuan kita, dan masih banyak alasan ainnya. Kira-kira terobosan politik
anggaran seperti apa yang mungkin dilakukan agar persoalan infrastruktur bisa segera teratasi?
Jika pemerintah mengatakan ketersediaan anggaran tidak cukup, kurang, dan sebagainya, ya mari
kita berbicara dalam konteks lima tahun ke depan ini. Ini pikiran nakal saya ya, jika benar-benar
kurang, bisa tidak sekian persennya dialokasikan hanya untuk infrastruktur, dan mengorbankan
sektor yang lain? Saya sebenarnya tidak percaya dengan hal itu. Saya memang bukan ahli
keuangan tapi pada umumnya saya melihat kapasitas. Kita mampu kok misalnya, bikin jalan di
Papua, jalan yang bisa menghubungkan dari Jayapura ke Wamena, lalu ke Merauke. Saya kira bisa.
Tapi, kembali lagi ke political will pemerintah yang dalam kacamatanya melihat alokasi anggaran itu
harus diratakan untuk semua sektor. Bagi saya, dalam politik anggaran kita tidak selalu bisa bicara
tentang pemerataan. Kita bicara tentang visi ke depan.
Baik, lalu kira-kira persiapan lain apa saja yang perlu segara dilakukan agar kita tidak sampai kehilangan
momentum bonus demografi?
Salah satu yang utama adalah laju pertumbuhan penduduk. Saya mengharapkan, rezim pemerintah
ke depan mampu menekan laju pertumbuhan penduduk seminimal mungkin. Prediksi
pemerintah total fertility rate atau TFR capai 1,9 dan itu angka yang optimis. Saya sendiri termasuk
yang pesimis terhadap angka prediksi tersebut. Bisa saja naik menjadi 2 sekian persen. Nah, itu
yang menurut saya harus ditekan karena kunci dari semua sektor-sektor tadi, baik itu pendidikan,
kesehatan, lapangan kerja, dan sebagainya, ada pada laju pertumbuhan penduduk. Misalnya, ada
sekian puluh juta kelahiran maka ada sekian puluh juta pula yang perlu diberi pendidikan, makanan,
kesehatan, pekerjaan. Implikasinya bisa saja pada masalah sosial, bahkan lingkungan.
- See more at: http://www.cpps.or.id/content/bonus-demografi-pentingnya-melihat-persoalan-
migrasi-penduduk-oleh-agus-h-hadna#sthash.aDzLiG2v.dpuf
Manfaatkan Bonus Demografi : Pilar Produktivitas dan Pertumbuhan
Ekonomi
Sensus penduduk tahun 2010, dalam sepuluh tahun terakhir penduduk Indonesia bertambah 32,5 juta jiwa dengan
rata-rata anka Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 1,49% per tahun. Jika LPP tetap sebesar 1,49% maka
jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 diperkirakan akan mencapai 450 juta jiwa.

Jumlah penduduk yang besar ini akan menjadi beban pemerintah dalam pemenuhan hak-hak kependudukan.
Sementara daya dukung serta daya tamping alam dan lingkungan juga semakin tidak ideal, yang akan menimbulkan
banyak masalah antara lain banjir dan tanah longsor di musim hujan, serta kekeringan,gagal panen dan kesulitan air
bersih pada musim kemarau sampai isu perubahan iklim hingga berbagai bencana akibat perusakan alam. Dalam
sambutan tertulis Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono yang dibacakan Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armina Alisyahbana pada Pertemuan Koordinasi Nasional
dalam rangka Menyambut dan Memanfaatkan Bonus Demografi di Hotel Garden Palace Surabaya, 14 Juni 2013,
mengatakan,apabila jumlah penduduk yang besar ini,utamanya penduduk usia kerja/produktif (15-64 tahun)
mempunyai pendidikan dan ketrampilan yang memadai serta ketersediaan lapangan kerja yang diperlukan, akan
membuka peluang untuk memperoleh suatu bonus demografi, yakni suatu kondisi dimana rasio ketergantungan
kelompok usia non produktif (anak-anak dan lansia) dengan kelompok usia non produktif (usia 15-64 tahun)
mencapai angka terendah. Rasio ini sekaligus menggambarkan berapa banyak penduduk usia non produktif yang
hidupnya harus ditanggung oleh kelompok penduduk usia produktif. Semakin rendah angka rasio ketergantungan
suatu Negara, maka Negara tersebut semakin berpeluang mendapatkan bonus demografi.

Hadir dalam pertemuan ini dan memberikan sambutan selamat dating adalah Sekda Provinsi Jatim, Dr.Rasiyo,MSi.
Pertemuan diikuti oleh Bupati dan Walikota se-Provinsi Jawa Timur, Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur, Ketua DPRD
kab/kota se Jatim, Asda Kesra Provinsi seIndonesia, Kepala Perwakilan BKKBN se Indonesia, Kepala SKPD KB
Provinsi se Indonesia. Sebagai nara sumber dalam pertemuan ini selain Menteri PPN/Kepala Bappenas juga Deputi
KS PK BKKBN, Kepala Badan Latbang Kemenakertrans,Gubernur Jatim,Wakil ketua Apindo,Ketua Lembaga
Demografi Falkutas Ekonomi UI.

Pilar Pertumbuhan Ekonomi

Bonus Demografi akan menjadi pilar peningkatan produktifitas suatu Negara dan menjadi sumber pertumbuhan
ekonomi melalui pemanfaatan SDM yang produktif. Di Indonesia, fenomena ini terjadi karena proses transisi
demografi yang berkembang sejak beberapa tahun yang lalu, yang dipercepat oleh keberhasilan kita dalam
menurunkan tingkat fertilitas, meningkatkan kualitas di bidang pendidikan dan kesehatan serta suksesnya program-
program pembangunan sejak era Orde Baru hingga sekarang.

Ketika angka fertilitas menurun, pertumbuhan per kapita untuk memenuhi kebutuhan penduduk usia anak-anak dapat
dialihkan untuk peningkatan mutu manusia. Pada saat yang sama,jumlah anak yang sedikit membuka peluang
perempuan untuk masuk ke pasar kerja yang akanmeningkatkan produktifitas keluarga. Dari struktur penduduk yang
ada, rasio ketergantungan ini mulai menurun sejak tahun 1990 dan puncaknya akan dicapai sekitar tahun 2020,
dimana rasio ketergantungan ini ada pada angka terendah yaitu 43,7. Angka ini akan mulai dengan cepat pada
tahun-tahun setelah tahun 2030, dengan makin bertambahnya penduduk lansia akibat makin tingginya angka
harapan hidup penduduk Indonesia karena makin tinggi tingkat kesejahteraan mereka.

Pertanyaannya, apakah Bonus Demografi yang sudah Nampak di depan mata, kita biarkan berlalu tanpa melakukan
upaya-upaya yang kongkrit untuk mendapatkannya? Apakah penduduk usia produktif yang besar ini kita biarkan
bermalas-malasan? Atau mereka hanyalah SDM yang berkualitas rendah karena hanya berpendidikan SD atau
SLTP yang tidak mempunyai ketrampilan? Sekarang, tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri guna menyambut
dan memanfaatkan bonus demografi yang akan kita peroleh. Masih tersedia waktu untuk kita menyiapkan penduduk
usia produktif kita dengan meningkatkan kualitas mereka melalui peningkatan pendidikan,ketrampilan dan kesehatan
mereka serta yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan kita dalam menyiapkan lapangan pekerjaan bagi
tenaga-tenaga kerja tersebut,sesuai dengan kemampuan,pendidikan dan ketrampilan angkatan kerja kita,sehingga
mereka mampu memperoleh pendapatan yang dapat menopang kehidupan dirinya dan keluarganya,utamanya yang
masuk dalam kelompok usia non produktif, tandas Menkokesra Agung Laksono.

Usai membacakan sambutan Menkokestra, Armida S Alisyahbana menambahkan bahwa datangnya bonus
demografi di Indonesia yang diperkirakan akan datangnya bonus demografi di Indonesia yang diperkirakan akan
datang mulai tahun 2020, utnuk menyambut dan memanfaatkan harus disiapkan dari sekarang,agar kita bisa
memanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan bangsa kita dimasa mendatang. Bonus demografi merupakan
transisi demografi yang bisa digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan jumlah
usia produktif yang lebih tinggi ujar Menteri PPN.

Dicontohkan beberapa Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonominya, yakni Cina yang pertumbuhan ekonominya sebelum bonus demografi menjadi 9,2 persen,Korsel dari
7,3 menjadi 13,2, singapura dari 8,2 meningkat menjadi 13,6 dan Thailand dari 6,6 meningkat tajam menjadi 15,5.

Untuk Indonesia yang sekarang pertumbuhan ekonominya sekitar 6 persen bisa meningkat lebih tinggi lagi, apabila
mampu memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan datang mulai tahun 2020. Sudah barang tentu ada
prasyarat untuk bisa memanfaatkan bonus demografi tersebut antara lain bidang kesehatan masyarakat harus
bagus, penanganan kependudukan dan KB harus optimal, pendidikan harus baik dan ekonomi terkait dengan tenaga
kerja harus tersedia dengan cukup. Dan tidak kalah penting adalah masalah pendidikan yang sudah taka ada isu
dana, karena sudah tersedia 20 persen dari APBN, harus benar-benar mengangkat kualitas tenaga kerja,karena
sekarang ini tenaga kerja yang ada setengahnya hanya lulusan SDimbuhnya.

Sementara itu ketua penyelenggara Deputi III Menko Kesra Dr.Emil Agustino, dalam laporannya mengatakan latar
belakang diadakan pertemuan ini mengingat berbagai kalangan berpendapat Indonesia dapat menjadi Negara
dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia, jika dapat memanfaatkan potensi bonus demografi dengan
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia,penyiapan,lapangan pekerjaan,menjaga stabilitas ekonomi makro dan
keamanan,serta mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Laporan McKinsey Global Institutute yang dirilis September 2012 memprdiksi ekonomi Indonesia akan mengalahkan
Jerman dan Inggris pada 2030. Prediksi McKinsey berpatokan pada pemetaan demografi bahwa penduduk
Indonesia dalam usai produktif dengan daya beli lebih tinggi ditambah kenaikan jumlah penduduk kelas menengah
pada 2040, mencapai 80 persen dari jumlah penduduk.

Bonus Demografi di Indonesia dengan proporsi penduduk usia produktif sekitar 69 persen,sedangkan rasio angka
ketergantungan mencapai titik terendah. Artinya jumlah angkatan kerja sangat besar namun menanggung beban
kelompok usia anak dan lansia sangat kecil. Dengan demikian, bonus Demografi menjadi kesempatan jika usia
produktif tidak hanya potensial tapi actual, jika adanya ketersediaan lapangan kerja seimbang dengan pertumbuhan
pencari kerja.
Mereka yang memiliki ketrampilan,pengetahuan,kesehatan serta etos kerja akan mampu mengelola
produktivitas.sehingga terbentuk tabungan yang dapat dimanfaatkan untuk investasi selanjutnya.

Tetapi usia produktif ini akan menjadi boomerang ketika usia produktif tidak dibekali kemampuan untuk bisa bertahan
hidup dan mengembangkan diri yang pada akhirnya hanya akan menjadi beban pemerintah dalam menyediakan
lapangan kerja dan terciptanya angka pengangguran yang tinggi.

Kondisi saat ini jumlah penduduk Indonesia sesuai dengan sensus penduduktahun 2010 adalah sebanyak 237,6 juta
jiwa,yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118,3 jiwa dan di daerah
perdesaan sebanyak 119,7 juta jiwa. Sedang penduduk Indonesia usia produktif (usia 15 sampai 64 tahun)
menunjukan tren semakin meningkat,yaitu 53,5%(1980),59,6%(1990),65%(2000).(AT).

8 Rekomendasi Menyambut Bonus Demografi

Menindaklanjuti arahan Bapak Menko Kesra dan Ibu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ka.
Bappenas,serta memperhatikan paparan dari para Nara Sumber dan hasil Diskusi para peserta,disampaikan
Rumusan/Rekomendasi Hasil Pertemuan Koordinasi Nasional dalam rangka Menyambut dan Memanfaatkan Bonus
Demografi,sebagai berikut :
1. Bonus Demografi tidak serta merta datang dengan sendirinya,tetapi untuk menjadikan potensi
nasional,perlu dipersiapkan dan selanjutnya dimanfaatkan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat.
2. Syarat agar Bonus Demografi dapat dimanfaatkan dengan baik,adalah dengan mempersiapkannya sejak
perencanaan sampai dengan implementasinya di tingkat lapangan. Persiapan ini antara lain melalui :
1. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat;
2. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pendidikan;
3. Pengendalian Jumlah Penduduk;
4. Kebijakan Ekonomi yang mendukung fleksibilitas tenaga kerja dan pasar,keterbukaan
perdagangan dan saving nasional.
3. Besarnya anggaran bidang Pendidikan yang mencapai 20% dari nilai APBN,agar dapat dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk peningkatan kulitas SDM,utamanya SDM yang akan masuk dalam bursa kerja
dengan memperbanyak cakupan pendidikan kejuruan dan ketrampilan serta melalui Balai -balai Latihan
Kerja terutama di pusat-pusat pertumbuhan (koridor MP3EI) melalui pelibatan pihak Swasta
(Industri,perkebunan,pertambangan,dll) dengan system pemagangan.
4. Dalam Bidang Keluarga Berencana,upaya penurunan TFR tidak boleh terlalu rendah sehingga akan
mengurangi jumlah penduduk di masa depan,utamanya penduduk usia kerja/prduktif. Untuk itu TFR agar
dikendalikan dan dipertahankan pada angka 2,1.
5. Di samping menyiapkan pemanfaatan Bonus Demografi, juga sudah harus mulai dipikirkan permasalahan-
permasalahan yang timbul pasca berakhirnya masa Bonus Demografi,dimana jumlah lansia meningkat.
6. Diperlukan kebijakan revitalisasi pendidikan dunia kerja,guna memenuhi tantangan ketenagakerjaan dalam
menghadapi keterbukaan pasar kerja ASEAN 2015, dimana tenaga kerja asal Negara ASEAN dari luar
bebas bekerja di Indonesia.
7. Untuk menggairahkan masuknya investor dari luar ke daerah-daerah di seluruh wilayah
Indonesia,dipandang perlu dilakukan penyederhanaan perijinan (kepastian hokum,permasalahan
birokrasi,reformasi pertanahan) dan jaminan keamanan asset investor baik berupa asset fisik maupun
SDMnya,sehingga diperoleh iklim usaha yang kondusif.
8. Untuk memanfaatkan bonus demogarfi,dipandang perlu kebijakan guna mendorong menculnya wirausaha
muda,dan memberdayakannya untuk mendukung pembangunan nasional.

*) Sumber : Warta kependudukan Agustus 2013



Bonus Demografi Berpotensi Tumbuhkan
Ekonomi
Harus dipersiapkan dengan kebijakan yang concern di bidang kesehatan,
pendidikan dan ketenagakerjaan.

Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan, Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah ini
meningkat 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Armida S
Alisjahbana mengatakan, meningkatnya jumlah penduduk pada tahun 2035 tersebut
menyebabkan Indonesia menjadi negara kelima dengan jumlah penduduk terbanyak di
dunia.

Meski begitu, peningkatan jumlah penduduk Indonesia tersebut dibarengi dengan
meningkatnya penduduk berusia produktif (usia 15 tahun sampai 65 tahun). Menurut
Armida, Indonesia telah memasuki bonus demografi (rasio ketergantungan terhadap
penduduk tak produktif) sejak tahun 2012, yakni 49,6 persen. Atas dasar itu, penduduk
Indonesia yang produktif lebih banyak daripada penduduk yang tak produktif.

Pada tahun 2010, proporsi penduduk usia produktif adalah sebesar 66,5 persen.
Proporsi ini terus meningkat mencapai 68,1 persen pada tahun 2028 sampai tahun
2031. Meningkatnya jumlah penduduk usia produktif menyebabkan menurunnya angka
ketergantungan, yaitu jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh 100
orang penduduk usia produktif dari 50,5 persen pada tahun 2010 menjadi 46,9 persen
pada periode 2028-2031. Tetapi angka ketergantungan ini mulai naik kembali menjadi
47,3 persen pada tahun 2035.

Armida mengatakan, kontribusi penduduk berusia produktif ini telah terlihat dari
peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang stabil. Fenomena ini terlihat
juga di beberapa negara yang jumlah penduduknya turut meningkat dan kondisi
ekonominya sama seperti Brazil, Rusia dan India. Bahkan di sejumlah negara lain,
bonus demografi telah berkontribusi menumbuhkan ekonomi.

Thailand, Tiongkok, Taiwan dan Korea bonus demografi di sana berkontribusi dengan
pertumbuhan ekonomi antara 10-15 persen, kata Armida di Jakarta, Jumat (7/2).

Ia berharap, bonus demografi ini dapat dimanfaatkan secara baik oleh pemerintah baik
di pusat maupun di daerah. Manfaat bisa dilakukan dengan adanya kesiapan kebijakan
seperti memperkuat investasi di bidang kesehatan, pendidikan maupun
ketenagakerjaan. Ini (bonus demografi) tidak otomatis untungkan kita, harus ada
syaratnya, katanya.

Misalnya dalam bidang pendidikan, Armida menyarankan agar wajib belajar terus
diperpanjang menjadi 12 tahun. Lalu, jumlah drop out (DO) pelajar yang keluarganya
berpenghasilan rendah harus dikurangi dan kurikulum juga harus direvisi. Sekolah
Dasar (SD) betul-betul diubah supaya dari kecil diajarkan cara berpikir lebih kreatif,
katanya.

Dari sisi kesehatan, lanjut Armida, juga harus dimulai nutrisi 1000 hari pertama sejak
kelahiran. Menurutnya, dalam jangka waktu tersebut masa-masa untuk perkembangan
otak. Sedangkan dari sisi ketenagakerjaan, bila perlu pemerintah terus menggenjot
industri padat karya, pertanian, industri kreatif serta industri mikro, kecil dan
menengah.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan Buku Proyeksi
Penduduk Indonesia 2010-2035. Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyatakan
bahwa kependudukan merupakan topik yang sangat penting dalam pembangunan,
karena pembangunan manusia pada dasarnya ditujukan kepada manusia atau people-
centered development.

Menurutnya, pembangunan dilakukan pada saat manusia menjadi pelaku utama dari
pembangunan itu sendiri yang diukur dari human resource development atau kualitas
sumber daya manusia. Oleh karena itu, pembangunan manusia harus menjadi prioritas
dalam pembangunan. Presiden juga berharap pentingnya proyeksi penduduk sebagai
prasyarat untuk merumuskan perencanaan pembangunan di masa depan secara lebih
efektif dan efisien.








Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Energi Aditif di Indonesia
-
Pendahuluan
Merupakan suatu kenyataan bahwa kebutuhan akan energi, khususnya energi listrik di
Indonesia, makin berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari kebutuhan hidup
masyarakat sehari-hari seiring dengan pesatnya peningkatan pembangunan di bidang
teknologi, industri dan informasi. Namun pelaksanaan penyediaan energi listrik yang
dilakukan oleh PT.PLN (Persero), selaku lembaga resmi yang ditunjuk oleh pemerintah
untuk mengelola masalah kelistrikan di Indonesia, sampai saat ini masih belum dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik secara keseluruhan. Kondisi
geografis negara Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan kepulauan, tersebar dan
tidak meratanya pusat-pusat beban listrik, rendahnya tingkat permintaan listrik di
beberapa wilayah, tingginya biaya marginal pembangunan sistem suplai energi listrik
(Ramani,K.V,1992), serta terbatasnya kemampuan finansial, merupakan faktor-faktor
penghambat penyediaan energi listrik dalam skala nasional.
Selain itu, makin berkurangnya ketersediaan sumber daya energi fosil, khususnya
minyak bumi, yang sampai saat ini masih merupakan tulang punggung dan komponen
utama penghasil energi listrik di Indonesia, serta makin meningkatnya kesadaran akan
usaha untuk melestarikan lingkungan, menyebabkan kita harus berpikir untuk mencari
altematif penyediaan energi listrik yang memiliki karakter;
1. dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian energi fosil, khususnya
minyak bumi
2. dapat menyediakan energilistrik dalam skala lokal regional
3. mampu memanfaatkan potensi sumber daya energi setempat, serta
4. cinta lingkungan, dalam artian proses produksi dan pembuangan hasil
produksinya tidak merusak lingkungan hidup disekitarnya.
Sistem penyediaan energi listrik yang dapat memenuhi kriteria di atas adalah sistem
konversi energi yang memanfaatkan sumber daya energi terbarukan, seperti: matahari,
angin, air, biomas dan lain sebagainya (Djojonegoro,1992). Tak bisa dipungkiri bahwa
kecenderungan untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi sumber-sumber
daya energi terbarukan dewasa ini telah meningkat dengan pesat, khususnya di
negara-negara sudah berkembang, yang telah menguasai rekayasa dan teknologinya,
serta mempunyai dukungan finansial yang kuat. Oleh sebab itu, merupakan hal yang
menarik untuk disimak lebih lanjut, bagaimana peluang dan kendala pemanfaatan
sumber-sumber daya energi terbarukan ini di negara-negara sedang berkembang,
khususnya di Indonesia.
Ramalan Kebutuhan dan Ketersediaan Energi Listrik di Indonesia
Dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir, skenario
"export-import" dan pertumbuhan penduduk, pada tahun 1990 diramalkan bahwa
tingkat pertumbuhan kebutuhan energi listrik nasional dapat mencapai 8,2 persen rata-
rata per tahun, seperti ditunjukkan dalam tabel-1 berikut.
Tabel-1
Ramalan Kebutuhan Energi Listrik
Sektor
1990 2000 2010
GWh persen GWh persen GWh persen
Industri 35.305 68,0 84.822 69,0 183.389 70,0
Rumah tangga 9.865 19.00 22.2392 18.0 40.789 16.0
Fasilitas umum 3.634 7,0 6.731 6.0 12.703 5.5
Komersial 3.115 6.0 8.811 7,0 21.869 8.5
Total 51.919 100.0 122.603 100.0 258.747 100.0
Sumber: Djojonegoro, 1992
Kebutuhan energi listrik tersebut diharapkan dapat dipenuhi oleh pusat-pusat
pembangkit listrik, baik yang dibangun oleh pemerintah maupun non-pemerintah.
Sebagai ilustrasi, pada tahun 1990 kebutuhan energi listrik sebesar 51.919 GWh telah
dipenuhi oleh seluruh pusat pembangkit listrik yang ada dengan kapasitas daya
terpasang sekitar 22.000 MW. Sehingga pada tahun 2010 dari kebutuhan energi listrik,
yang diramalkan mencapai 258.747 GWh per tahun, diharapkan dapat dipenuhi oleh
sistem suplai energi listrik dengan kapasitas total sebesar 68.760 MW, yang komposisi
sumber daya energinya seperti diperlihatkan dalam tabel-2
Tabel-2
Prakiraan Penyedian Energi Listri di Indonesia
Sumber Energi
1990 2000 2010
MW persen MW persen MW persen
Batubara
Gas
Minyak
Solar
Panas Bumi
Air
Biomass
Lain-lain
(Surya Angin)
1.930
3.530
2.210
11.020
170
2.850
270
20
8.8
16.0
10.0
50.1
0.8
13.0
1.2
0.1
10.750
7.080
1.950
9.410
500
7.720
290
160
28.4
18.7
5.2
24.8
1.3
20.4
0.8
0.4
28.050
14.760
320
4.060
430
10.310
460
370
35.3
21.5
0.5
5.9
0.6
15.0
0.7
0.5
Total 22.000 100.0 37.860 100.0 68.760 100.0
Sumber: Djojonegoro, 1992 & Wibawa, 1996.
Dari tabel-2 ini tampak jelas terlihat, bahwa penggunaan minyak bumi, termasuk
solar/minyak disel, sebagai bahan bakar produksi energi listrik akan sangat berkurang,
sebaliknya pemanfaatan sumber-sumber daya energi baru dan terbarukan, seperti air,
matahari, angin dan biomas, mengalami peningkatan yang cukup tajam.
Kecenderungan ini tentu akan terus bertahan seiring dengan makin berkurangnya
cadangan minyak bumi serta batubara, yang pada saat ini masih merupakan primadona
banan bakar bagi pembangkit listrik di Indonesia.
Akan tetapi sejak tahun 1992 kebutuhan energi listrik nasional meningkat mencapai 18
persen rata-rata per tahun, atau sekitar dua kali lebih tinggi dari skenario yang dibuat
pada tahun 1990. Hal ini disebabkan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi nasional
kaitannya dengan pertumbuhan industri dan jasa konstruksi. Jika keadaan ini terus
bertahan, berarti diperlukan pula pengadaan sistem pembangkit energi listrik tambahan
guna mengantisipasi peningkatan kebutuhan tersebut. Dilema yang timbul adalah
bahwa di satu sisi, pusat-pusat pembangkit energi listrik yang besar tentu akan
diorientasikan untuk mencukupi kebutuhan beban besar, seperti industri dan komersial.
Di sisi lain perlu juga dipikirkan agar beban kecil, seperti perumahan dan wilayah
terpencil, dapat dipenuhi kebutuhannya akan energi listrik. Salah satu alternatif yang
dapat diupayakan adalah dengan membangun pusat-pusat pembangkit kecil sampai
sedang yang memanfaatkan potensi sumber daya energi setempat, khususnya sumber
daya energi baru dan terbarukan.
Peluang Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia
a. Menipisnya cadangan minyak bumi
Setelah terjadinya krisis energi yang mencapai puncak pada dekade 1970, dunia
menghadapi kenyataan bahwa persediaan minyak bumi, sebagai salah satu
tulang punggung produksi energi terus berkurang
Bahkan beberapa ahli berpendapat, bahwa dengan pola konsumsi seperti
sekarang, maka dalam waktu 50 tahun cadangan minyak bumi dunia akan habis.
Keadaan ini bisa diamati dengan kecenderungan meningkatnya harga minyak di
pasar dalam negeri, serta ketidak stabilan harga tersebut di pasar internasional,
karena beberapa negara maju sebagai konsumen minyak terbesar mulai
melepaskan diri dari ketergantungannya kepada minyak bumi sekaligus
berusaha mengendalikan harga, agar tidak meningkat. Sebagai contoh; pada
tahun 1970 negara Jerman mengkonsumsi minyak bumi sekitar 75 persen dari
total konsumsi energinya, namun pada tahun 1990 konsumsi tersebut menurun
hingga tinggal 50 persen (Pinske, 1993).
Jika dikaitkan dengan penggunaan minyak bumi sebagai bahan bakar sistem
pembangkit listrik, maka kecenderungan tersebut berarti akan meningkatkan
pula biaya operasional pembangkitan yang berpengaruh langsung terhadap
biaya satuan produksi energi listriknya. Di lain pihak biaya satuan produksi
energi listrik dari sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber daya
energi terbarukan menunjukkan tendensi menurun, sehingga banyak ilmuwan
percaya, bahwa pada suatu saat biaya satuan produksi tersebut akan lebih
rendah dari biaya satuan produksi dengan minyak bumi atau energi fosil lainnya.
b. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan
Dalam sepuluh tahun terakhir ini, pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan
pelestarian lingkungan hidup menunjukkan gejala yang positif. Masyarakat makin
peduli akan upaya penanggulangan segala bentuk potusi, mulai dari sekedar
menjaga kebersihan lingkungan sampai dengan mengontrol limbah buangan dan
sisa produksi. Banyak pembangunan proyek fisik yang memperhatikan faktor
pelestarian lingkungan, sehingga perusakan ataupun pengotoran yang
merugikan lingkungan sekitar dapat dihindari, minimal dikurangi. Setiap bentuk
produksi energi dan pemakaian energi secara prinsip dapat menimbulkan
bahaya bagi manusia, karena pencemaran udara, air dan tanah, akibat
pembakaran energi fosil, seperti batubara, minyak dan gas di industri, pusat
pembangkit maupun kendaraan bermotor. Limbah produksi energi listrik
konvensional, dari sumber daya energi fosil, sebagian besar memberi kontribusi
terhadap polusi udara, khususnya berpengaruh terhadap kondisi klima.
Pembakaran energi fosil akan membebaskan Karbondioksida (CO
2
) dan
beberapa gas yang merugikan lainnya ke atmosfir. Pembebasan ini merubah
komposisi kimia lapisan udara dan mengakibatkan terbentuknya efek rumah
kaca (treibhouse effect), yang memberi kontribusi pada peningkatan suhu bumi.
Guna mengurangi pengaruh negatif tersebut, sudah sepantasnya dikembangkan
pemanfaatan sumber daya energi terbarukan dalam produksi energi listrik.
Sebagai ilustrasi, setiap kWh energi listrik yang diproduksi dari energi terbarukan
dapat menghindarkan pembebasan 974 gr CO
2
, 962 mg SO
2
dan 700 mg NOx
ke udara, dari pada Jlka diproduksi dari energi fosil. Bisa dihitung, jika pada
tahun 1990 yang lalu 85 persen dari produksi energi listrik di Indonesia (sekitar
43.200 GWh) dihasilkan oleh energi fosil, berarti terjadi pembebasan 42 juta ton
CO
2
, 41,5 ribu ton SO
2
serta 30 ribu ton NOx. Kita tahu bahwa CO
2
merupakan
salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca, SO
2
mengganggu proses
fotosintesis pada pohon, karena merusak zat hijau daunnya, serta menjadi
penyebab terjadinya hujan asam bersama-sama dengan NOx. Sedangkan NOx
sendiri secara umum dapat menumbuhkan sel-sel beracun dalam tubuh mahluk
hidup, serta meningkatkan derajat keasaman tanah dan air jika bereaksi dengan
SO
2
.
Kendala pengembangan Energi terbarukan di Indonesia
Pemanfaatan sumber daya energi terbarukan sebagai bahan baku produksi energi
listrik mempunyai kelebihan antara lain;
1. relatif mudah didapat,
2. dapat diperoleh dengan gratis, berarti biaya operasional sangat rendah,
3. tidak mengenal problem limbah,
4. proses produksinya tidak menyebabkan kenaikan temperatur bumi, dan
5. tidak terpengaruh kenaikkan harga bahan bakar (Jarass,1980).
Akan tetapi bukan berarti pengembangan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan
ini terbebas dari segala kendala. Khususnya di Indonesia ada beberapa kendala yang
menghambat pengembangan energi terbarukan bagi produksi energi listrik, seperti:
1. harga jual energi fosil, misal; minyak bumi, solar dan batubara, di Indonesia
masih sangat rendah. Sebagai perbandingan, harga solar/minyak disel di
Indonesia Rp.380,-/liter sementara di Jerman mencapai Rp.2200,-/liter, atau
sekitar enam kali lebih tinggi.
2. rekayasa dan teknologi pembuatan sebagian besar komponen utamanya belum
dapat dilaksanakan di Indonesia, jadi masih harus mengimport dari luar negeri.
3. biaya investasi pembangunan yang tinggi menimbulkan masalah finansial pada
penyediaan modal awal.
4. belum tersedianya data potensi sumber daya yang lengkap, karena masih
terbatasnya studi dan penelitian yang dilkakukan.
5. secara ekonomis belum dapat bersaing dengan pemakaian energi fosil.
6. kontinuitas penyediaan energi listrik rendah, karena sumber daya energinya
sangat bergantung pada kondisi alam yang perubahannya tidak tentu.
Potensi sumber daya energi terbarukan, seperti; matahari, angin dan air, ini secara
prinsip memang dapat diperbarui, karena selalu tersedia di alam. Namun pada
kenyataannya potensi yang dapat dimanfaatkan adalah terbatas. Tidak di setiap daerah
dan setiap waktu; matahari bersinar cerah air jatuh dari ketinggan dan mengailr deras
serta angin bertiup dengan kencang Di sebabkan oleh keterbatasan-keterbatasan
tersebut, nilaii sumber daya energi sampal saat ini belum dapat begitu menggantikan
kedudukan sumber daya energi fosil sebagai bahan baku produksi energi listrik. Oleh
sebab itu energi terbarukan ini lebih tepat disebut sebagai energi aditif, yaitu sumber
daya energi tambahan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energi listrik, serta
menghambat atau mengurangi peranan sumber daya energi fosil.
Strategi Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia
Berdasar atas kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya mengembangkan dan
meningkatkan peran energi terbarukan pada produksi energi listrik khususnya, maka
beberapa strategi yang mungkin diterapkan, antara lain:
1. meningkatkan kegiatan studi dan penelitian yang berkaitan dengan; pelaksanaan
identifikasi setiap jenis potensi sumber daya energi terbarukan secara lengkap di
setiap wilayah; upaya perumusan spesifikasi dasar dan standar rekayasa sistem
konversi energinya yang sesuai dengan kondisi di Indonesia; pembuatan
"prototype" yang sesuai dengan spesifikasi dasar dan standar rekayasanya;
perbaikan kontinuitas penyediaan energi listrik; pengumpulan pendapat dan
tanggapan masyarakat tentang pemanfaatan energi terbarukan tersebut.
2. menekan biaya investasi dengan menjajagi kemungkinan produksi massal
sistem pembangkitannya, dan mengupayakan agar sebagian komponennya
dapat diproduksi di dalam negeri, sehingga tidak semua komponen harus
diimport dari luar negeri. Penurunan biaya investasi ini akan berdampak
langsung terhadap biaya produksi.
3. memasyarakatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengadakan
analisis dan evaluasi lebih mendalam tentang kelayakan operasi sistem di
lapangan dengan pembangunan beberapa proyek percontohan .
4. meningkatkan promosi yang berkaitan dengan pemanfaatan energi dan upaya
pelestarian lingkungan.
5. memberi prioritas pembangunan pada daerah yang meliki potensi sangat tinggi,
baik teknis maupun sosio-ekonomisnya.
6. memberikan subsidi silang guna meringankan beban finansial pada tahap
pembangunan. Subsidi yang diberikan, dikembalikan oleh konsumen berupa
rekening yang harus dibayarkan pada setiap periode waktu tertentu. Dana yang
terkumpul dari rekening tersebut digunakan untuk mensubsidi pembangunan
sistem pembangkit energi listrik di wilayah lain.
Pembangunan sistem pembangkit energi listrik yang memanfaatkan sumber daya
energi terbarukan, terutama air, sudah banyak dilaksanakan di Indonesia. Pemanfaatan
energi angin banyak diterapkan di daerah pantai, seperti di Jepara, pulau Lombok,
Sulawesi dan Bali. Sementara energi matahari telah dimanfaatkan di beberapa wilayah
di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan wlayah timur Indonesia. Sebagian besar
dari pembangunan tersebut berupa proyea-proyek percontohan.
Daftar Pustaka
Djojonegoro,W., 1992, Pengembangan dan penerapan energi baru dan
terbarukan, Lokakarya "Bio Mature Unit" (BMU) untuk pengembangan
masyarakat pedesaan, BPPT, Jakarta.
Fritzler,M., 1993, Stichwort-Umweltgiffe, Wilhelm Heyne Verlag, Moenchen,
Germany.
Jarass, 1980, Strom aus Wind - Integration einer regenerativen EnergieQuelle,
Springer-Verlag, Berlin. Pinske,J.D., 1993, Elektrische Energieerzeugung,
2.vollst. ueberarb. Aufl., BG.Teubner, Stuttgart
Ramani,K.V., 1992, Rural electnEcation and rural development, Rural
electrification guide book for Asia & Pacific, Bangkok.
Soetendro,H.,Soedirman,S.,Sudja,N., 1992, Rural Electnfication in Indonesia,
Rural Electrification Guide book for Asia & the Pacific, Bangkok.
Schleswag (Hrsg.), 1993, Additive Energien-intelligent genutzt, Flensburg,
Germany.
Wibawa,U., 1996, Effahrung mit dem Betneb Kleinwindhybrid Eanlage in
Ciparanti-Ciamis, ARTES-lnstitu, Flensburg
Zuhal,1995, Policy & Development Programs on Rural ElectriScation for next 10
years, Ditjen.Listrik & Pengembangan Energi, Departemen Pertambangan dan
Energi, Jakarta.
10 Potensi energi terbarukan di
Indonesia
Posted by cinta indonesiaMinggu, 08 Desember 20130 komentar


Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Sumber daya alamnya sangat melimpah. Beberapa di
antaranya bisa dikembangkan menjadi energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar
minyak yang terus menurun dan menyusut.

Sejumlah negara masih mengandalkan minyak bumi, batu bara, dan gas alam untuk
memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya. Padahal, stok bahan bakar fosil sebagai
sumber energi saat ini terus berkurang. Dalam banyak studi, Indonesia menyimpan ribuan
energi terbarukan (renewable energy).

Berikut 10 energi terbarukan yang dimiliki Indonesia dan berpotensi besar untuk menyediakan
sumber energi berlebih.

1. Energi matahari

PT PLN (Persero) memanfaatkan energi ini untuk menerangi 1.000 pulau terpencil pada 2012.

2. Energi biomasa (biomass energy)
Sektor perkebunan menyumbang 64 juta ton limbah untuk energi ini.


3. Hydropower (sumber daya air)
Sungai-sungai dan air terjun di Indonesia sangat potensial bagi energi ini.

4. Energi dari laut (ocean energy)
Masih seputar lautan. Lautan menyediakan energi terbarukan (renewable energy), seperti
energi gelombang atau pemanfaatan pasang surut air laut dapat digunakan untuk
membangkitkan energi listrik dan energi panas air laut (ocean thermal energy)yang berasal
dari panas yang tersimpan dalam air laut.


5. Energi angin
Sepertiga luas Indonesia adalah lautan. Potensi angin sebagai energi terbarukan dengan
menggunakan turbin angin untuk menghasilkan listrik.

6. Energi geothermal
Di dalam perut negeri ini, tersimpan 40 persen cadangan panas bumi di dunia. Mayoritas
masih tidur di bumi Andalas atau Sumatra. Cadangan panas bumi di Sumatra sebesar 6.645
Megawatt electric (MWe) atau hampir 50 persen dari total cadangan nasional, sebesar 15.882
MWe.

7. Hidrogen
Hidrogen memiliki potensi yang amat besar sebagai bahan bakar dan sumber energi.


8. BiodieselSaat ini, pengembangan biodiesel yang bersumber dari tanaman jarak (Jatropha)
terus dilakukan. Sayang, energi ini belum dikembangkan secara maksimal.

9. Bioetanol
Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di
samping biodiesel. Bisa berbahan baku dari singkong, jagung, kelapa sawit.

10. Gasifikasi batu bara (gasified coal)
Beberapa perusahaan sudah mengembangkan dan memanfaatkan energi ini.
- See more at: http://bloggbebass.blogspot.com/2013/12/10-potensi-energi-terbarukan-
di.html#sthash.V8nxfrl8.dpuf