Anda di halaman 1dari 6

LABORATORIUM TEKNIK LINGKUNGAN

ANALISIS SAMPAH & LUMPUR SERTA PENGELOLAANNYA



Nama : Suhendra Amka Putra
NIM : H1E111048
Dosen Pengajar : Nova Annisa, S.Si, M.S


Sampah merupakan bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk
maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat
dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan.
Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat
telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik
sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan
hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan
ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan
kualitas sampah yang dihasilkan.
Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan
sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengelolaan sampah
dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan
yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Berdasarkan sifat fisik dan
kimianya sampah dapat digolongkan menjadi:
1. sampah ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti sisa
sayuran, sisa daging, daun dan lain-lain
2. sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastik, kertas, karet, logam, sisa
bahan bangunan dan lain-lain
3. sampah yang berupa debu/abu, dan
4. sampah yang berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari industri
dan rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang
berbahaya.
Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan
sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah
lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan juga
akan sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungam pemukiman,
hutan, persawahan, sungai dan lautan. Sampah yang harus dikelola tersebut meliputi
sampah yang dihasilkan dari:
1. Rumah tangga
2. Kegiatan komersial: pusat perdagangan, pasar, pertokoan, hotel, restoran, tempat
hiburan.
3. Fasilitas sosial: rumah ibadah, asrama, rumah tahanan/penjara, rumah sakit, klinik,
puskesmas
4. Fasilitas umum: terminal, pelabuhan, bandara, halte kendaraan umum, taman,
jalan,
5. Industri
6. Hasil pembersihan saluran terbuka umum, seperti sungai, danau, pantai.



Analisis Sampah dan Dampaknya
Sampah padat pada umumnya dapat di bagi menjadi dua bagian : Sampah
Organiksampah organik (biasa disebut sampah basah) dan sampah anorganik (sampah
kering). Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang
diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain.
Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga
sebagian besar merupakan bahan organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung,
sayuran dll.Sampah Anorganik Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak
terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri.
Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium.
Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang
sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis
ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol, tas plsti. Dan botol kaleng
Kertas, koran, dan karton merupakan pengecualian. Berdasarkan asalnya, kertas, koran,
dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran, dan karton dapat
didaur ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas, kaleng, dan plastik), maka
dimasukkan ke dalam kelompok sampah anorganik.
Pencemaran lingkungan akibat perindustrian maupun rumah tangga sangat
merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kegiatan
perindustrian dan teknologi diharapkan kualitas kehidupan dapat lebih ditingkatkan.
Namun seringkali peningkatan teknologi juga menyebabkan dampak negatif yang tidak
sedikit. Dampak bagi kesehatan Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai
(pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi
beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang
dapat menimbulkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah
sebagai berikut:
Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari
sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit
demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah
yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya
adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini
sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya
yang berupa sisa makanan/sampah.
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai
saat ini masih tetap menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor
pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang
berbahaya dan sulit dikelola. Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk
membuat sampah bekas kantong plastik itu benar-benar terurai. Namun yang menjadi
persoalan adalah dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya juga.
Dampak dari maraknya sampah plastic antara lain memicu penyakit kanker,
hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu depresi. Kantong
plastik juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran air, tanggul. Sehingga
mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk. Diperkirakan, 500
juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-
sampah ini dibentangkan maka, dapat membukus permukaan bumi setidaknya hingga
10 kali lipat.
Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan
kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Dari sudut pandang
kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah tersebut tidak
menjadi media berkembang biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi
medium perantara menyebarluasnya suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus
dipenuhi, yaitu tidak mencemari udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (tidak
mengganggu nilai estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan yang lainnya
Pengolahan limbah padat seperti sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara
yang tentunya dapat menjadikan sampah tersebut tidak berdampak buruk bagi
lingkungan ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan sampah dapat dibagi
menjadi dua cara yaitu pengolahan sampah tanpa pengolahan dan pengolahan sampah
dengan pengolahan.
Faktor faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlah Limbah
Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri. Banyak dapat membutuhkan
penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan.
2. Sifat fisik dan kimia limbah
Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana penggankutan dan
pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari
lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran, maka perlu
kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan terkena, dan
tingkat pencemaran yang akan timbul.
4. Tujuan akhir dari pengolahan
Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat ekonomis dan bersifat non-
ekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan meningkatkan
efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih
berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain. Sedangkan tujuan pengolahan
yang bersifat non-ekonomis adalah untuk mencegah pencemaran dan kerusakan
lingkungan.
Beberapa pendekatan dan teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah yang
telah dilaksanakan antara lain adalah:
1. Teknologi Komposting
Pengomposan adalah salah satu cara pengolahan sampah, merupakan proses
dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup
stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Haug,
1980). Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu (2008) menemukan bahwa
pengomposan dengan menggunakan metode yang lebih modern (aerasi) mampu
menghasilkan kompos yang memiliki butiran lebih halus, kandungan C, N, P,
K lebih tinggi dan pH, C/N rasio, dan kandungan Colform yang lebih rendah
dibandingkan dengan pengomposan secara konvensional. Teknologi pengomposan
sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa
bahan tambahan. Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-
bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan
hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Kompos
yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan
struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan
kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai
pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan
pupuk kimia. Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang
mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah
kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian.

2. Pengolahan sampah menjadi listrik
Dalam hal ini, teknologi yang direncanakan yaitu teknologi GALFAD (gasifikasi
landfill dan anaerobic digestion). Pengelolaan sampah dengan pendekatan
teknologi diharapkan penanganan sampah lebih cepat, efektif dan efisien serta
dapat memberikan manfaat lain.

3. Teknologi landfill
Teknologi landfill yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah lingkungan
akibat sampah, justru memberikan permasalahan lingkungan yang baru. Kerusakan
tanah, air tanah, dan air permukaan sekitar akibat air lindi, sudah mencapai tahap
yang membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya dari segi sanitasi
lingkungan. Gambaran yang paling mendasar dari penerapan teknologi lahan urug
saniter (sanitary landfill) adalah kebutuhan lahan dalam jumlah yang cukup luas
untuk tiap satuan volume sampah yang akan diolah.

4. Daur Ulang
Teknologi daur ulang, khususnya bagi sampah plastik, sampah kaca, dan sampah
logam, merupakan suatu jawaban atas upaya memaksimalkan material setelah
menjadi sampah, untuk dikembalikan lagi dalam siklus daur ulang material
tersebut. Replace (Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah
barang-barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan
lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah
lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja,
dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi
secara alami.


Analisis Lumpur dan Pengelolaannya
Lumpur adalah campuran cair atau semi cair antara air dan tanah, lumpur
merupakan salah satu hasil buangan yang cukup berbahaya jika dibuang tanpa
dilakukan proses pengolahgan terlebih dahulu. Tujuan utama pengolahan lumpur ialah
untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik,
padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan
oleh mikroorganisme yang terdapat di alam.
Pada pengolahan lumpur dimaksudkan untuk mengurangi polutan yang
terkandung didalamnya sebelum dibuang langsung ke lingkungan dan juga untuk
mengurangi volume sehingga memudahkan dalam melakukan pengangkutan ke tempat
pembuangan. Karakteristik Lumpur berdasarkan asal dapat dibagi menjadi 2 yaitu
lumpur kimia dan lumpur biologi.
Terdapat beberapa teknologi dalam pengelolaan lumpur. Teknologi tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Sludge Thickener
Proses ini bisa dengan teknik pengapungan (floating) atau juga dengan teknik
pengendapan gravitasi (gravity thickening). Pengapungan dilakukan dengan
menginjeksikan udara bertekanan 40 80 psi (2,8 - 5,5 kg/cm2) kedalam lumpur.
Udara akan melarut kedalam lumpur sehingga lumpur akan terangkat dan
terapung. Pengendapan gravitasi dilakukan seperti pada proses sedimentasi. Disini
lumpur akan bertambah pekat, pemekatan b isa mencapai 3 10%.

b. Sludge Digester
Sludge stabilization pada dasarnya adalah penguraian bahan organik
biodegradeable dalam lumpur dengan memanfaatkan kerja mikroorganisme. Pada
proses ini hakikatnya sama dengan pengolahan limbah secara biologi, yakni dengan
cara aerobik atau cara anaerobik. Untuk stabilisasi lumpur dipandang lebih murah
menggunakan cara anaerobik. Lumpur dimasukkan dalam kontainer kedap udara
(sludge digester) dan dibiarkan beberapa waktu sehingga terjadi proses penguraian
oleh mekroorganisme. Pada proses ini akan dihasilkan gas methane (gas bio).
Lazimnya sludge digester dibuat dua buah (untuk dua tahap). Effluent dari digester
pertama masuk menjadi influent digester kedua. Pengolahan cara aerobik
prinsipnya sama dengan instalasi lumpur aktif, yakni meamasukkan udara kedalam
lumpur, sehingga akan terjadi peningkatan oksigen terlarut dalam air lumpur.
Banyaknya oksigen tersebut merangsang bakteri aerob untuk beraktivitas
menguraikan / memecahkan bahan organik yang ada pada lumpur dimaksud.
Lumpur hasil dari proses aerobik atau anaerobik berupa lumpur stabil yang dapat
digunakan untuk pupuk.
c. Sludge Conditioning
Sludge conditioning dapat dilakukan melalui penggumpalan dengan bahan kimia
koagulan seperti pada proses koaglasi-flokulasi. Bahan koagulan yang digunakan
juga sama yakni Tawas, feri klorida, PAC atau kadang menggunakan kapur tohor
atau abu dapur / incenerator. Teknik yang lain adalah dengan cara pemanasan dan
pengepresan lumpur. Panas yang digunakan sekitar 350 450 oF (177 232 oC)
dan tekanan pengepresan 150 300 psi (10,5 21,0 kg/cm2).
d. Sludge Dewatering
Proses ini adalah untuk mengurangi kadar air dalam lumpur, dapat dilakukan
dengan mengalirkan air pada saringan pasir (Sludge Drying Bed). Tebal pasir 10
25 cm yang didasari kerikil setebal 10 45 cm mampu memadatkan lumpur hingga
95% dalam 6 minggu bila cuaca baik. Pengurangan air dalam lumpur dapat juga
dilakukan dengan teknik vacum filter, pressure filter, Compactor, Centrifuge.
Sludge Drying Bed didesain berdasarkan lama waktu pengeringan (kurang lebih 2
minggu per cycle) dengan asumsi ketinggian lumpur diatas bed adalah 20-30 cm.
Lapisan filter dibagian dasar berfungsi untuk menahan suspended solid / kadar solid
pipa perforasi dibagian bawah berfungsi untuk mengumpulkan filtrat yang harus
dikembalikan ke bagian hulu dari IPAL Mekanikal Dewatering. Alat dewatering
yang umum dipergunakan adalah Filter Belt Press yang secara kontinu dapat
melakukan proses dewatering, serta Plate Press yang berfungsi secara semi kontinu.