Anda di halaman 1dari 2

Review :

EFEKTIVITAS JUZ MENTIMUN TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH TINGGI


PADA PENDERITA HIPERTENSI
Hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan melainkan hanya dapat
dikontrol. Penderita hipertensi memiliki tekanan darah yang lebih dari 140/90 mmHg pada saat
pengukuran pertama. Tekanan darah tinggi tidak menimbulkan tanda dan gejala yang spesifik
(silent diseases) sebelum menimbulkan komplikasi pada organ tubuh yang lain.
Mentimun mengandung mineral yaitu potassium, magnesium dan fosfor yang dapat
mengobati hipertensi. Selain mengandung mineral di atas mentimun juga rendah kalori dan
tinggi serat. Kandungan mentimun yang lain yaitu asam maloat yang dapat mencegah gula darah
berubah menjadi lemak.
Penelitian ini menunjukan keefektivitasan jus mentimun dalam menurunkan tekanan
darah pada penderita hipertensi. Penelitian di lakukan di Kelurahan Mangunsuman, Kecamatan
Siman, Kabupaten Ponorogo. Menggunakan 19 sampel penderita hipertensi, diantara sampel
tersebut 12 orang berusia <= 50 th dan 7 orang >7 orang; 10 laki-laki dan 9 perempuan; 10
orang obesitas, 8 orang normal dan 1 orang kurus; 14 diantara mempunyai riwayat hipertensi dan
5 diantaranya tidak.
Penelitian ini dilakukan dengan metode one group pre test post test yang mengungkan
sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Pengumpulan data menggunakan
metode pre-post eksperimental dan didapat melalui proses pengukuran / observasi. Data yang
didapat dianalisa dengan statistic descriptif dan disajikan dalam bentuk tabel frequency distribusi
yang merupakan strategi pertama untuk mengorganisasi data secara sistematis dalam bentuk
angka angka mulai dari yang paling rendah ke yang paling tinggi. Sedangkan untuk
mengetahui efektifitas jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi
diuji menggunakan SPSS for Windows dengan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test.
Pada mulanya tekanan darah dari 19 sampel tersebut di ukur, kemudian masing-masing
diberikan perlakuan berupa jus mentimun sejumlah 200 cc 2 kali sehari selama 3 hari berturut-
turut. Kemudian dilakukan pengukuran ulang terhadap tekanan darah, jika tekanan darah sudah
normal, maka pemberian jus mentimun dihentikan sehari, setelah itu kembali diberikan jus
mentimun satu kali sehari sebanyak gelas. Jika tekanan darah belum normal, pemberian jus
mentimun dapat dilanjutkan sampai satu minggu atau hingga tekanan darah responden stabil.
Hasilnya, tekanan darah semua responden mengalami penurunan. Kategori hipertensi
berat atau sangat berat mengalami penurunan ke kategori hipertensi sedang setelah diberikan jus
mentimun. Di liat dari usia, responden dengan usia dibawah 50 tahun tekanan darahnya turun ke
nilai normal. Sedangkan tekanan darah responden dengan usia lebih dari 50 tahun mengalami
penurunan, namun masih dalam kategori hipertensi sedang. Data-data yang diperoleh di uji
dengan uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0,000 yang artinya nilai p<0,05, dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian jus efektif terhadap penurunan tekanan darah
pada penderita hipertensi di kelurahan Mangunsuman, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo
Ini membuktikan bahwa meskipun hipertensi karena faktor usia, tekanan darahnya dapat
diturunkan dengan terapi nonfarmakologis Juz mentimun yang mengandung zat-zat yang
membantu tekanan darah turun mencapai normal.

Kritik :
1. Bahasa yang digunakan dalam jurnal kurang sesuai, seperti kata desaign yang
seharusnya ditulis desain atau design, penulisan silen diseases menjadi silent disease,
penulisan juz yang seharusnya ditulis jus.
2. Faktor determinan hipertensi yang dianalisis hanya yang terkait dengan intervensi
pemberian juz mentimun, tidak pemperhatikan faktor pengganggu yang lain seperti
jenis makanan lain yang diasup.
3. Dalam metode, tidak dicentumkan kapan peneliti mengukur tekanan darah sampel
setelah pemberian juz mentimun, seharusnya waktu berapa lama setelah pemberian
juz mentimun harus mengukur tekanan darah tercantum dalam metode, apakah
langsung diukur atau beberapa jam setelah pemberian jus.
4. Pustaka yang digunakan sebagai referensi kurang terpercaya dan kurang lengkap,
hanya terbatas dari sumber dalam negeri, serta kurang aktual karena referensi yang
digunakan paling baru berasal dari tahun 2008. Penggunaan website sebagai sumber
referensi kurang dapat dipercaya. Sumber pustaka berupa jurnal sangat sedikit, masih
terdapat sumber berupa blogspot yang belum teruji kebenarannya.