Anda di halaman 1dari 14

GEL dan MIKROGEL

I. GEL
1.1 Pengertian Gel
Gel merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari
partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh
suatu cairan (Departemen Kesehatan RI, 1995).
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
gel kadang kadang disebut jeli (FI IV, hal 7).
Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah
kecil senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing
terbungkus dan saling terserap oleh cairan (Formularium Nasional, hal 315).
Gel pada umumnya memiliki karakteristik yaitu strukturnya yang kaku. Gel
dapat berupa sediaan yang jernih atau buram, polar, atau non polar, dan
hidroalkoholik tergantung konstituennya. Gel biasanya terdiri dari gom alami
(tragacanth, guar, atau xanthan).

1.2 Sifat / Karakteristik Gel (Lachman, 496 499)
a) Sifat gel yang idela adalah
b) Aman dan inert (tidak bereaksi dengan komponen lain).
c) Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang
baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan
kekuatan atau daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan
tube, atau selama penggunaan topikal.
d) Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang
diharapkan.
e) Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM
besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan.
f) Karena mempunyai kadar air yang tinggi, maka gel dapat menghidrasi stratum
corneum dan mengurangi resiko timbulnya peradangan lebih lanjut akibat
menumpuknya minyak pada pori-pori.

1.3 Mekanisme Pembentukan Gel
Gel terbentuk karena ikatan hidogen antara gugus gugus karboksil bebas dan
gugus gugus hidroksil molekul pectin. Pada suasan larutan netral atau sedikit asam,
gugus karboksil pada pektin yang tidak teresterifikasi, terion. Ionisasi tersebut
bermuatan negative, dimana bersama dengan gugus hidroksil menarik lapisan air
sehingga terbentuk masa kental (gel).

1.4 Penggolongan Sediaan Gel
a) Berdasarkan sifat fasa koloid.
Gel Organik
Gel Anorganik
b) Berdasarkan sifat pelarut.
Hidrogel (pelarut air)
Hidrogel terbentuk dari molekul polimer hidrofilik yang berikatan melalui
ikatan kimia. Hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dibanding
cairan biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan
adhesi sel. Hidrogel merupakan gel yang mengandung polimer yang dapat menjerap
sejumlah air. Oleh karena itu, hidrogel bersifat lembut/lunak dan elastic, sehingga ia
juga dapat meminimalkan iritasi.

Gambar 1. Polimer hidrogel menjerat molekul air
Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik).
Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam
minyak mineral dan didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat
dalam minyak.
Xerogel.
Xerogel dihasilkan oleh evaporasi pelarut, sehingga yang tersisa hanya kerangka
gel. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen
yang mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan
acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.
c) Berdasarkan jenis fase terdispersi:
Gel fase tunggal
Terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu
cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang
terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik
(misal karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). Molekul organik larut dalam
fasa kontinu.


Gel sistem dua fasa
Terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah.
Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel
kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir
secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu.

1.5 Komponen Gel
Komposisi sediaan gel umumnya terdiri dari komponen bahan yang dapat
mengembang dengan adanya air, humektan, dan pengawet, adakalanya dibutuhkan
bahan yang dapat meningkatkan penetrasi bahan berkhasiat.
Untuk kompenen gel di bagi menjadi dua gilling agents dan bahan tambahan.
Disetiap sedian gel harus memilik kedua komponen seperti yang ada di bawah ini:
a) Gelling Agent.
Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan
yang merupakan bagian penting dari sistem gel. Termasuk dalam kelompok ini
adalah gom alam, turunan selulosa, dan karbomer. Kebanyakan dari sistem tersebut
berfungsi dalam media air, selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan non-
polar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel
karena terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan
non-ionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang
mengandung sampai 15% minyak mineral.
b) Bahan tambahan
Pengawet, meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan
mikroba, tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga
membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam pemilihan pengawet
harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent.
Penambahan bahan higroskopis, bertujuan untuk mencegah kehilangan
air. Contohnya gliserol, propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-
20 %.
Chelating agent, bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive
terhadap logam berat. Contohnya EDTA.

1.6 Penggolongan basis gel (Lachman, hal 496)
a) Basis gel hidrofobik
Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel-partikel anorganik (bentonit
magma), bila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi
antara kedua fase. Berbeda dengan bahan hidrofilik, bahan hidrofobik tidak secara
spontan menyebar, tetapi harus dirangsang dengan prosedur yang khusus (Ansel,
1989).
b) Basis gel hidrofilik
Dasaar gel hidrofilik umumnya terdiri dari molekul-molekul organik yang besar
dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Istilah
hidrofilik berarti suka pada pelarut. Umumnya daya tarik menarik pada pelarut dari
bahan-bahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya daya tarik menarik dari bahan
hidrofobik. Sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan memiliki
stabilitas yang lebih besar (Ansel, 1989). Gel hidrofilik umummnya mengandung
komponen bahan pengembang, air, humektan dan bahan pengawet (Voigt, 1994).


1.7 Bahan Pembentuk Gel (Gelling Agent)
Bahan pembentuk gel, biasanya sebuah polimer dengan konsentrasi beberapa
persen, memberikan konsistensi semisolid pada formulasi baik fisik ataupun cross-
linking (taut silang) kimia. Gelling agent bersifat hidrofilik dan hidrofobik.
Bahan pembentuk gel yang biasa digunakan adalah turunan selulosa seperti
CMC Na dan HPMC (hidroksipropilmetil selulosa). Basis ini dapat menghasilkan gel
yang netral, jernih, tidak berwarna dan tidak berasa, stabil pada pH 3 hingga 11 dan
punya resistensi yang baik terhadap serangan mikroba serta memberikan kekuatan
film yang baik bila mengering pada kulit.
Gom alam dan polimer berfungsi dengan membentuk lapisan tipis pada
permukaan partikel. Pada saat dikempa, partikel cenderung beraglomerasi. Bahan
sangat larut seperti gula, mengikat partikel bersama dengan membentuk jembatan
kristal. Pengikat untuk proses granulasi basah biasanya dilarutkan dalam air atau
suatu pelarut biasanya berupa alkohol dan larutan pengikat digunakan untuk
membentuk masa basah/granul.
Dalam pengikatan partikel bersama yang berperan adalah ikatan van der walls
dan ikatan hidrogen. Contoh : mikrokristalin selulosa, gom arab. Penggunaan gelling
agent dengan konsentrasi yang tinggi mengakibatkan viskositas dari gel meningkat
pula sehingga bisa mengakibatkan gel akan sulit dikeluarkan dari wadahnya.
Temperatur yang tinggi pada saat penyimpanan akan mengakibatkan konsistensi dari
basis berubah, misalnya pada hydrogel yang sebagian besar solvennya berupa air
maka temperature yang tinggi akan mengakibatkan sebagian dari solvennya akan
menguap sehingga akan mengakibatkan perubahan pada struktur gel.



1.8 Cara Memperoleh Polimer Gel
b)a Gel tautan silang secara kimia.
Masa gel dapat diperoleh dengan cara memodifikasi suatu polimer, misalnya
mencampur dua eksipien yang dapat berinteraksi tertaut-silang (cross-linked) secara
kovalen merupakan bentuk yang paling sederhana untuk penghantaran obat, karena
dapat diperbaiki secara permanen dengan menggunakan ikatan kimia yang stabil.
Parameter yang penting dalam aplikasi penghantaran obat dari sediaan gel terletak
pada derajat mengembang dari gel tersebut.
b)b Gel yang terbentuk oleh polimer polisakarida.
Kelompok yang penting dari polimer pembentuk gel adalah polisakarida.
Pembentukan gel dalam system polisakarida cair umumnya diinduksi oleh
pembentukan heliks, kadang diikuti dengan agregasi dari heliks. Karena pembentukan
heliks melibatkan transisi dari bentuk koil menjadi struktur heliks, selanjutnya
menjadi heliks ganda (heliks agregat).

1.9 Sifat dan karakteristik gel dalam system dispersi
a) Sweling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi
larutan sehinga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara
matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel
kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antara polimer didalam matriks gel yang
dapat menyebabkan kelarutan kompoen gel berkurang.
b) Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi didalam massa gel. Cairan
yang terjerat akan keluar dan berada diatas permukaan gel. Pada waktu pembentukan
gel terjadi tekanan yang elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme
terjadi kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis
pada saat terbentuknya gel. Adanya perubahan pada ketegaan gel aka mengakibatkan
jarak antar matrik berubah, sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju
permukaan sineresis dapat terjadi pada hidrogel maupun organogel.
c) Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan
temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu
tertentu.paa peningkaktan suhu larutan tersebut membentuk gel. Fenomena
pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut
thermogelation.
d) Efek elektrolit
Kosentrasi elektrolit yang tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana
ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid
digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit
kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu ntuk menyusun diri
sesudah pemberian tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan
adanya sejumlah konsentrasi ion kalsium yang disebabkan kerena terjadinya
pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium alginat yang tidak larut.
e) Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan kaateristi dari gel gelatin agar dan nitroselulosa,selama
transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan
peningkatan konsntrasi pemrasi pembentuk gel.
f) Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi
memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non
Newton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.
1.10 Evaluasi Sediaan
a) Organoleptis
Evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna,
tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden (dengan
kriteria tertentu) dengan menetapkan kriterianya pengujianya (macam dan item),
menghitung prosentase masing-masing kriteria yang di peroleh, pengambilan
keputusan dengan analisa statistik.
b) Homogenitas
Homogenitas sediaan gel ditunjukkan dengan tercampurnya bahan-bahan
yang digunakan dalam formula gel, baik bahan aktif maupun bahan tambahan secara
merata. Cara pengujian homogenitas yaitu dengan meletakkan gel pada objek glass
kemudian meratakannya untuk melihat adanya partikel-partikel kecil yang tidak
terdispersi sempurna.
c) Evaluasi pH
Evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan cara perbandingan 60 g :
200 ml air yang di gunakan untuk mengencerkan, kemudian aduk hingga homogen,
dan diamkan agar mengendap, dan airnya yang di ukur dengan pH meter, catat hasil
yang tertera pada alat pH meter.
d) Evaluasi daya sebar
Dengan cara sejumlah zat tertentu di letakkan di atas kaca yang berskala.
Kemudian bagian atasnya di beri kaca yang sama, dan di tingkatkan bebannya, dan di
beri rentang waktu 1-2 menit. Kemudian diameter penyebaran diukur pada setiap
penambahan beban, saat sediaan berhenti menyebar (dengan waktu tertentu secara
teratur).

1.11 Keuntungan sediaan gel
a) Efek pendinginan pada kulit saat digunakan
b) Penampilan sediaan yang jernih dan elegan
c) Pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang,
elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori
tidak terganggu
d) Mudah dicuci dengan air;
e) Pelepasan obatnya baik
f) Kemampuan penyebarannya pada kulit baik.

1.12 Kekurangan sediaan gel.
a) Gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan pedih pada
wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan
cahaya matahari.
b) Alkohol akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori
atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan zat
aktif.

1.13 Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pembuatan Gel.
a) Penampilan gel : transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang
terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel
koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi.
b) Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik
pada kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel
yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik
tersebut).
c) Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi
dengan komponen lain dalam formulasi.
d) Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab
polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba.
e) Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid tapi
sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah
dioleskan saat penggunaan topikal.
f) Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan
perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol.
g) Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat
penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat
menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel)
h) Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel, sebab bila daya adhesi
antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem gel
akan rusak.










II. Mikrogel
Mikrogel dikenal juga dengan hidrogel dalam ukuran mikro (micronized
hydrogels). Hidrogel merupakan aplikasi yang berpotensi luar biasa dalam ilmu
biologi dan farmasi. Hidrogel sintesis merupakan polimer polimer dari grup hidrofilik
yang mengandung rantai rantai yang mengembang dalam air.
Dalam pembuatan mikrogel, monomer yang sering digunakan adalah (poly N-
isopropylacrylamide) (pNIPAm).

Gambar 2. Sifat Fisika pNIPAm
Mekanisme sintesis pNIPAm


2.2 Contoh pembuatan mikrogel
a) Penyiapan bulk hidrogel
(3-Acrylamidopropyl)-trimethylammonium chloride (APTMACl), acrylamide
(AAm) dan 2-hydroxyethyl methacrylate (HEMA) digunakan sebagai monomer dan
siapkan seperti di bawah. Satu gram monomer dilarutkan dalam 0,5ml air yang
mengandung sejumlah cross-linker dan 100 mikro liter tetramethylethylenediamine
ditambahkan.0,5 ml dari 1 mol % ammonium perrsulfate ditambahkan ke campuran.
Setelah dicampur, larutan diinjeksi ke plastic straws (untuk mensintesis bulk).
Setelah itu ditunggu 24 jam untuk terjasinya polimerisasi/reaksi cross-linking dalalam
suhu ruang.

Gambar 3. Skema representasi dari formasi hidrogel a. struktur kimia dari sintesis
hidrogel kationi, b. Pengembangan monomer yang memiliki misel ke bentuk nanogel
dan melepaskan surfaktan

Hidogel disimpan dalam air destilasi selama dua hari.

b) Penyiapan microgel atau nanogel
Mikrogel kation disintesis dalam larutan lecithin dalam sikloheksana melalui
teknik iradiasi UV dari jumlah yang berbeda dari Xs yang mengandung larutan
APTMACI dan azobisisobutyronitrile (AIBN). Ketika mencampur 0,1 ml larutan
prekursor APTMACI dengan 15 ml, 0,1 M larutan lecithin, sebuah gel transparan
bewarna kekuningan seperti larutan terbentuk. Gel ini diiradiasi selama delapan jam,
yang diikuti dengan proses pencucian atau penghilangan surfaktan. Aceton dan etanol
dalam volume 1:1 dipilih sebagai pelarut surfaktan. Untuk penghilangan surfaktan,
selanjutnya disentrifus 2500rpm selama 10 menit. Pengulangan sentrifus dan
pencucian dengan aseton dilakukan berulang.